The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Nanda Putri, 2020-11-13 06:44:05

KLASIFIKASI JEMBATAN

KLASIFIKASI JEMBATAN

KLASIFIKASI JEMBATAN

NANDA PUTRI M
X KJIJ 2 / 23

BAB I
DITINJAU DARI MATERI YANG DIGUNAKAN
1) Jembatan Kayu (Log Bridge)

Jembatan ini sudah sangat dikenal oleh manusia. Pada masa lampau,
untuk menghubungakn cukup menggunakan kayu, entah pohon
tumbang atau memang sengaja dirancang dari kayu. Salah satu ahli
mengatakan bahwa jembatan yang trbuat dari kayu merupakan
jembatan yang mudah untuk diperbarui. Dari segi meterialnya, kayu
memiliki beberapa keuntungan antara lain :
a) Kayu relatif ringan, biaya transportasi dan konstruksinya juga

relatif murah, serta kayu dapat dikerjakan dengan alat yang lebih
sederhana.
b) Kayu tidak mudah mengalami korosi seperti pada baja atau beton.
c) Bila di desain dengan benar, kayu dapat menjadi bahan yang
estetik.
2) Jembatan Baja (Steel Bridge)

Jembatan rangka baja adalah strukur jembatan yang terdiri dari
rangkaian batang-batang baja yang dihubungkan satu dengan yang
lainnya.

3) Jembatan Beton (Concrete Bridge)

Jembatan yang terbuat dari material beton pertama kali digunakan
pada abad ke 19. Beton banyak digunakan untuk jembatan lengkung
dan konstruksi bagian bawah. Jembatan beton bertulang pertama kali
dibangun setelah ditemukannya teknik pembuatan beton bertulang
untuk struktur, yaitu di Prancis pada tahun 1875. Selama beberapa
dekade jembatan beton bertulang dibangun untuk jembatan dengan
bentang pendek, terutama pada awal tahun 1890 dan semakin
meningkat pada abad ke 20.
4) Jembatan Beton Prategang (Prestressed Concrete Bridge)

Pada tahun 1928, penggunaan beton prategang modern dikemukakan
pertama kali di Prancis. Lalu pada tahun 1950, dikembangkan
jembatan beton prategang segmental yang biasanya disebut juga
pracetak, dengan menggunakan metode konstruksi kantilever yang
dikerjakan bentang demi bentang, dipasang tahap demi tahap atau
dipasang dengan system incremental launching.
Konstruksi jembatan beton prategang segmental dapat mencapai
panjang bentang 800 ft atau 250 meter dan bentang seri 1000 ft atau
300 meter.
5) Jembatan Komposit (Composite Bridge)

Jembatan komposit merupakan jembatan yang mengkombinasikan
dua material atau lebih dengan sifat bahan yang berbeda dan

membentuk satu kesatuan sehingga menghasilkan sifat gabungan
yang lebih baik.
Jembatan komposit yang umum digunakan adalah kombinasi antara
bahan konstruksi baja dengan beton bertulang, yaitu dengan
mengkombinasikan baja sebagai deck (gelagar) dan beton bertulang
sebagai plat lantai jembatan.

6) Jembatan Bambu

Jembatan bambu merupakan jembatan sederhana yang materialnya
terbut dari bambu. Sama seperti jembatan kayu, pada pembuatannya
juga tidak memerlukan peralatan modern sehingga mudah dirancang
oleh manusia dengan peralatan yang seadanya.

7) Jembatan Pasangan Batu Kali/Bata
Pada jembatan jenis ini, seluruh struktur baik struktur atas maupun
bawah dibuat dari pasangan batu kali atau bata merah yang
merupakan jenis jembatan dengan sistem gravitasi yang kekuatannya
mengandalkan dari dari berat struktur. Bentuk dari jembatan ini
sebagian besar berbentuk struktur lengkung dibagian bentang yang
harus menahan beban utama.

BAB II
DITINJAU DARI ANALISA STRUKTUR KONSTRUKSI

1) Jembatan Statis Tertentu
Jembatan ini disebut statis tertentu karena bangunan tersebut
menggunakan sistem yang paling sederhana. Suatu konstruksi disebut
statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syarat-syarat
keseimbangan yaitu :
a) -ΣV = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi
harus sama dengan nol)
b) -ΣH = 0 (jumlah gaya-gaya horizontal antara aksi (beban) dan
reaksi harus sama dengan nol)

c) -ΣM = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi
harus sama dengan nol)

2) Jembatan Statis Tak Tentu
Dikatakan statis tak tentu ialah jika suatu struktur tidak bisa
diselesaikan hanya dengan petolongan persamaan keseimbangan,
dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan, apabila sebuah struktur
yang mempunyai reaksi perletakan lebih dari tiga, maka reaksi-reaksi
perletakan tersebut tidak bisa dihitung hanya dengan 3 persamaan
keseimbangan.

BAB III
DITINJAU DARI FUNGSI ATAU KEGUNAANNYA

1) Jembatan Untuk Lalu Lintas Kereta Api
Jembatan yang digunakan untuk menghubungkan rel yang melintasi
rintangan seperti sungai untuk dilintasi kereta api.

2) Jembatan Untuk Lalu Lintas Biasa Atau Umum
Jembatan yang digunakan untuk menghubungkan jalan raya yang
melintasi sungai atau jalan lain dengan tujuan agar bisa dilintasi oleh
kendaraan darat.

3) Jembatan Berfungsi Ganda
Jembatan ini dimana sisi atas dan bawah digunakan untuk melintasi
objek yang berbeda. Biasanya pada bagian atas digunakan untuk
lintasan kereta api sedangkan yang bagian bawah untuk kendaraan
biasa atau umum.

4) Jembatan Khusus
Jembatan khusus ini dibuat untuk pipa-pipa perusahaan minyak dari
satu derah ke daerah lainnya.

BAB IV
DITINJAU DARI SIFAT JEMBATAN

1) Jembatan Sementara Atau Darurat
Jembatan ini dikatakan jembatan sementara atau darurat karena
jembatan tersebut diperuntukan dan dibangun pada keadaan tertentu,
misalnya pada jembatan yang sedang di renovasi kemudian dibuatkan
jembatan sementara dari yang terbuat dari potongan pohon dengan
tujuan agar jembatan tersebut masih dapat digunakan.

2) Jembatan Tetap Atau Permanen
Jembatan ini dirancang agar keberadaannya dapat dimanfaatkan terus
atau sesuai umur rencana jembatan atau tidak terikat waktu,
contohnya jembatan baja dan jembatan beton bertulang.

3) Jembatan Bergerak
Disebut jembatan bergerak karena jembatan tersebut dirancang dapat
dipindahkan atau dapat dibuka untuk jalur air atau watercrafts atau
jembatan dapat diputar, dibuka, dan ditutup seperti jembatan yang
melintasi sungai atau lautan yang bisa dibuka untuk kapal lewat.
Jembatan bergerak biasanya dibuat pada sungai dimana kapal besar
yang lewat memerlukan ketinggian yang cukup tetapi pembuatan
jembatan dengan pilar sangat tinggi dianggap tidak ekonomis.
Jembatan bergerak memiliki 3 macam tipe, yaitu :
a. Jembatan terbuka (bascule bridges);
b. Jembatan terangkat vertikal (verticalift bridges); dan
c. Jembatan berputar (swing bridges).

BAB V
DITINJAU DARI BENTUK STRUKTUR KONSTRUKSI

1) Jembatan Gelagar Biasa
Jembatan ini digunakan pada jembatan bentang pendek sampai sedang
dan beban yang relatif kecil seperti jembatan penyebrang orang dan
sebagainya.
Gelagar induk jembatan ini merupakan struktur balok biasa yang
menumpu pada kedua abutment dengan susunan struktur seperti pada
jembatan gelagar biasa dengan material kayu baja atau beton.

2) Jembatan Portal
Merupakan jembatan rangka baja yang sisi kiri, kanan, dan atasnya
memiliki konstruksi yang menyambung dari batang satu ke batang
lainnya. Struktur portal adalah suatu sistem yang terdiri dari
bagian-bagian struktur yang saling berhubungan yang berfungsi
menahan beban sebagai suatu kesatuan lengkap yang berdiri sendiri
dengan atau tanpa dibantu oleh diafragma-diafragma horizontal atau
sistem-sistem lantai.

3) Jembatan Rangka
Jembatan rangka batang mempunyai tipe rangka yang banyak
jenisnya. Struktur jembatan jenis ini terbuat dari material baja
digunakan untuk bentang jembatan yang relatif panjang. Biasanya
yang umum ditemukan struktur rangka batang dipasang di bagian kiri
- kanan.
Jembatan rangka dibuat dari struktur rangka yang biasanya terbuat
dari bahan baja dan dibuat dengan menyambung beberapa batang
dengan las atau baut yang membentuk pola-pola segitiga. Jembatan
rangka biasanya digunakan untuk bentang 20 m sampai 375 m.

4) Jembatan Gantung
Jembatan gantung merupakan struktur jembatan yang terdiri dari
struktur penopang yang berupa tiang, pilar atau menara, struktur
jembatan berupa gelagar induk dan gelagar melintang, lantai
kendaraan, pejangkar kabel dan kabel penggantung yang membentang
sepanjang bentang sejajar dengan arah memanjang jembatan, dimana
kabel sebagai struktur utama yang mentransfer seluruh beban ke
bagian bawah jembatan yang berupa abument, penjangkar kabel dan
tiang penopang.
Jembatan gantung terdiri dari dua kabel besar atau kebel utama yang
menggantung dari dua pilar atau tiang utama dimana ujung-ujung

kabel tersebut diangkurkan pada fondasi yang biasanya terbuat dari
beton.

5) Jembatan Kabel Penahan
Jembatan kabel merupakan suatu pengembangan dari jembatan
gantung dimana terdapat juga dua pilar atau tower. Akan tetapi pada
jembatan kabel dek jembatan langsung di hubungkan ke tower dengan
menggunakan kabel-kabel yang membentuk formasi diagonal.
Jembatan kabel ini juga digunakan untuk bentang-bentang besar tetapi
tidak sebesar bentang pada jembatan gantung. Besar bentang
maksimum untuk jembatan kabel sekitar 500 m sampai 900 m.

6) Jembatan Pelengkung/Busur
Merupakan suatu tipe jembatan yang menggunakan prinsip kestabilan
dimana gaya-gaya yang bekerja di atas jembatan di transformasikan
ke bagian akhir lengkung atau abutment. Jembatan lengkung ini dapat
dibuat dari bahan batu, bata, kayu, besi cor, baja, maupun besi
bertulang dan dapat digunakan untuk bentang yang kecil maupun
bentang yang besar.

7) Jembatan Pelat
Jembatan ini merupakan beton bertulang yang diantara gelagar induk
dan pelat lantai kendaraan dicor bersamaan dan menyatu sebagai
balok T.

8) Jembatan Kantilever (Cantilever Bridges)
Jembatan kantilever merupakan pengembangan jembatan balok. Tipe
jembatan ini ada dua macam yaitu tipe cantilever dan tipe cantilever
with suspended span. Pada jembatan kantilever, sebuah pilar atau
tower dibuat di masing-masing sisi bagian yang akan diseberangi dan
jembatan dibangun menyamping berupa kantilever dari
masing-masing pilar atau tower.

9) Jembatan Terapung (Floating Bridges)
10) Jembatan Kombinasi (Combination Bridges)

BAB VI
MENURUT KELAS BINA MARGA

1) Jembatan Kelas Standar (A/I)
Merupakan jembatan kelas standar dengan perencanaan 100%
muatan “T” dan 100%muatan “D”. Dalam hal ini lebar jembatan
adalah (1,00 + 7,00 + 1,00) meter.

2) Jembatan Kelas Sub Standar (B/II)
Merupakan jembatan kelas standar dengan perencanaan 70% muatan
“T” dan 70% muatan “D”. Dalam hal ini lebar jembatan (0,50 + 6,00
+ 0,50) meter.

3) Jembatan Kelas Low Standar (C/III)
Merupakan jembatan kelas standar dengan perencanaan 50% muatan
“T” dan 50% muatan “D”. Dalam hal ini lebar jembatan adalah (0,50
+ 3,50 + 0,50) meter.


Click to View FlipBook Version