The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Panduan ini berisi tentang kegiatan-kegiatan literasi di sekolah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ALFIANA IZZATI, 2024-05-16 10:04:05

BUKU PANDUAN LITERASI

Panduan ini berisi tentang kegiatan-kegiatan literasi di sekolah

Keywords: panduan,literasi

BUKU PANDUAN KEGIATAN LITERASI DI SEKOLAH KEGIATAN LITERASI DI SEKOLAH Disusun Oleh: Alfiana Izzati 2498010309


Buku Panduan Kegiatan Literasi di Sekolah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Literasi Dasar. Dalam rangka membudayakan kebiasaan membaca, Direktorat Pembinaan memprogramkan pembinaan peningkatan minat membaca siswa SD melalui gerakan literasi sekolah. Pada program tersebut, sekolah bersama dengan pemangku kepentingan lainnya memfasilitasi dan menggerakkan budaya membaca siswa. Panduan ini berisi tentang kegiatan-kegiatan literasi di sekolah. Substansi dari panduan ini akan terus dikembangkan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari warga sekolah dan pemangku kepentingan sangat diperlukan. Semoga panduan ini dapat memberikan inspirasi dan inovasi bagi sekolah untuk melaksanakan program literasi dan menumbuhkembangkan budaya minat baca. KATA PENGANTAR Semarang, 13 Mei 2024 Alfiana Izzatu Penyusun


KATA PENGANTAR ………………………………………….. 2 DAFTAR ISI ………………………………………….. 3 PENDAHULUAN ………………………………………….. 4 LATAR BELAKANG ………………………………………….. 4 PENGERTIAN …………………………………………… 5 TUJUAN …………………………………………… 5 SASARAN …………………………………………… 5 KEGIATAN LITERASI DI SEKOLAH …………………………………………… 6 TAHAP PEMBIASAAN …………………………………………… 6 PENUTUP …………………………………………… 12 REFERENSI …………………………………………… 13 DAFTAR ISI


A. LATAR BELAKANG Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Pada tingkat sekolah dasar pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD— Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA). PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke- 57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Dari kedua hasil ini dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca untuk mendukung mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat. Selain itu, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Peraturan ini dikuatkan dengan ditetapkannya program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai sebuah gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkembang- kan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah. Hasil dari GLS diharapkan mampu membekali peserta didik dengan kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Menindaklanjuti amanat UUD 1945 dan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 di atas, SMA di Indonesia wajib melaksanakan program GLS. Gerakan ini membina dan mengembangkan budaya baca di sekolah dengan program yang melibatkan seluruh warga sekolah (whole-school). Selanjutnya, diharapkan terbentuk masyarakat literat yang melibatkan rumahsekolahmasyarakat (home-schoolcommunity partnership). Pada perkembangan selanjutnya, ditetapkan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Kegiatan GLS tidak lepas dari penguatan pendidikan karakter dan pembelajaran Abad XXI sebagai upaya mewujudkan PENDAHULUAN


profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, memiliki sikap bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri. B. PENGERTIAN 1.PENGERTIAN LITERASI Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/ atau berbicara. 2. GERAKAN LITERASI SEKOLAH GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. C. TUJUAN Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. D. SASARAN Panduan ini ditujukan bagi guru sebagai pendidik dan pustakawan sebagai tenaga kependidikan untuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SD. Selain itu, kepala sekolah perlu mengetahui isi panduan ini guna memfasilitasi guru dan pustakawan untuk menjalankan peran mereka dalam kegiatan literasi sekolah.


Panduan kegiatan literasi di SD ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SD yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran Salah satu upaya penumbuhan budi pekerti dapat dilakukan dengan cara membaca berbagai materi baca yang berisikan nilai-nilai moral dalam konteks kebangsaan dan kenegaraaan Indonesia seperti yang terkandung dalam butir-butir Nawacita: nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. A. KOMPONEN LITERASI 1. LITERASI DASAR 2. LITERASI PERPUSTAKAAN 3. LITERASI MEDIA 4. LITERASI TEKNOLOGI 5. LITERASI VISUAL Kegiatan membaca tersebut dapat dilakukan 15 menit setiap hari pada saat pelajaran di kelas dimulai, atau disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Hal ini merupakan salah satu dasar dalam tahap pembiasaan sebelum masuk ke tahap pengembangan dan pembelajaran. Kegiatan membaca ini sebenarnya ada dalam semua komponen literasi. B. KEGIATAN PADA TAHAP PEMBIASAAN Kegiatan literasi di tahap pembiasaan, yakni membaca dalam hati. Secara umum, kegiatan membaca ini memiliki tujuan, antara lain: a. meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran; b. meningkatkan kemampuan memahami bacaan c. meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik; dan d. menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan. KEGIATAN LITERASI DI SEKOLAH


A. 15 MENIT BERSAMA PERPUSTAKAAN o Deskripsi kegiatan Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca rutin secara bergilir di perpustakaan sekolah ketika jam istirahat. o Strategi yang digunakan Dengan pendekatan melalui pendampingan oleh masing-masing wali kelas o Alat dan bahan yang digunakan Buku, meja, kursi, atk dan sarana prasarana perpustakaan yang ada o Langkah-langkah 1. Mendengarkan arahan pustakawan 2. Membaca dan mengingat isi bacaan 3. Menulis point point penting dari bacaan yang dibaca o Indikator Ketercapaian 1. Peseta didik menuliskan point-point penting dari bacaan yang di baca di buku literasi dan ditanda tangani wali kelas. 2. Peserta didik mampu menyampaikan point-point penting dari bacaan yang di abaca di buku literasi didepan kelas. o Penilaian Untuk menilai indikator ketercapaian tersebut, berikut adalah bentuk penilaiannya: 1. Menuliskan Poin-Poin Penting dari Bacaan Indikator: Peserta didik menuliskan poin-poin penting dari bacaan yang dibaca di buku literasi dan ditandatangani oleh wali kelas. Rubrik Penilaian: Ketepatan Poin-Poin Penting (1-4) 1: Poin-poin yang ditulis tidak relevan atau tidak sesuai dengan isi bacaan. 2: Poin-poin yang ditulis sebagian relevan tetapi ada beberapa yang tidak sesuai. 3: Poin-poin yang ditulis umumnya sesuai dengan isi bacaan tetapi ada beberapa detail yang kurang tepat. 4: Poin-poin yang ditulis sangat sesuai dan mencakup inti dari bacaan dengan baik. JENIS KEGIATAN PADA TAHAP PEMBIASAAN YANG SAYA SUSUN


Kejelasan Penulisan (1-4) 1: Poin-poin tidak jelas dan sulit dipahami. 2: Poin-poin kurang jelas dengan beberapa kesalahan penulisan. 3: Poin-poin jelas dengan sedikit kesalahan penulisan. 4: Poin-poin sangat jelas dan mudah dipahami tanpa kesalahan penulisan. Kelengkapan (1-4) 1: Hanya sedikit poin-poin penting yang dicatat. 2: Beberapa poin penting tidak dicatat. 3: Hampir semua poin penting dicatat. 4: Semua poin penting tercatat lengkap. Total Skor Maksimum: 12 Prosedur: o Setelah peserta didik menulis poin-poin penting, wali kelas menandatangani dan memeriksa kesesuaian dengan bacaan. o Nilai diberikan berdasarkan rubrik di atas. 2. Menyampaikan Poin-Poin Penting di Depan Kelas Indikator: Peserta didik mampu menyampaikan poin-poin penting dari bacaan yang dibaca di buku literasi di depan kelas. Rubrik Penilaian: Ketepatan Isi (1-4) 1: Informasi yang disampaikan tidak relevan atau salah. 2: Sebagian informasi relevan tetapi ada beberapa kesalahan. 3: Informasi umumnya tepat tetapi ada beberapa detail yang kurang tepat. 4: Informasi sangat tepat dan sesuai dengan bacaan. Kejelasan Penyampaian (1-4) 1: Penyampaian tidak jelas dan sulit dipahami. 2: Penyampaian kurang jelas dengan beberapa kesalahan. 3: Penyampaian cukup jelas dengan sedikit kesalahan. 4: Penyampaian sangat jelas dan mudah dipahami tanpa kesalahan.


Kepercayaan Diri (1-4) 1: Tampak sangat tidak percaya diri dan gugup. 2: Tampak sedikit tidak percaya diri tetapi mampu menyampaikan. 3: Tampak cukup percaya diri dengan sedikit tanda gugup. 4: Tampak sangat percaya diri dan tenang. Interaksi dengan Pendengar (1-4) 1: Tidak ada interaksi dengan pendengar. 2: Sedikit interaksi tetapi tidak efektif. 3: Cukup interaksi dengan pendengar. 4: Interaksi sangat baik dan menarik perhatian pendengar. Total Skor Maksimum: 16 Prosedur: ·Setiap peserta didik diberi waktu untuk menyampaikan poin-poin penting di depan kelas. ·Penilaian dilakukan oleh guru dengan menggunakan rubrik di atas selama presentasi berlangsung. Evaluasi Keseluruhan Kriteria Kelulusan: Peserta didik harus mencapai minimal 75% dari total skor maksimum pada kedua indikator untuk dianggap mencapai ketercapaian. Total Skor Maksimum: ·Menuliskan Poin-Poin Penting: 12 ·Menyampaikan Poin-Poin Penting: 16 Total: 28 Skor Minimum untuk Lulus (75%): 21 Dengan penilaian ini, guru dapat menilai ketercapaian peserta didik secara objektif dan terstruktur, memastikan bahwa mereka memahami dan dapat menyampaikan poin-poin penting dari bacaan dengan baik.


A. KELOMPOK MEMBACA TERPADU Ø Deskripsi kegiatan Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca dalam kelompok kecil yang dipandu oleh guru. Kelompok ini dapat dibentuk oleh peserta didik sendiri. Ø Stratetgi yang digunakan Dengan pendekatan melalui pendampingan oleh masing-masing wali kelas. Ø Alat dan bahan yang digunakan Buku, meja, kursi, atk dan pojok baca kelas yang memadai. Ø Langkah-langkah Kegiatan 1. Memilih buku yang sesuai 2. Membaca dan menceritakan kembali 3. Membuat bingkai cerita Ø Indikator ketercapaian kegiatan INDIKATOR Peserta didik memiliki jurnal membaca harian Ada kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati, membacakan nyaring) yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir pelajaran). Ada perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan koleksi buku nonpelajaran Ada poster-poster kampanye membaca di kelas, koridor, dan/atau area lain di sekolah. Kegiatan 15 menit membaca telah berjalan selama minimal 1 semester. Ada bahan kraya teks yang terpampang di tiap kelas. Sekolah berupaya melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen masyarakat) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah. Kepala sekolah dan jajarannya berkomitmen melaksanakan dan mendukung gerakan literasi sekolah Penilaian Kegiatan SUDAH BELUM


Kedua kegiatan pada tahap pembiasaan merupakan satu kesatuan. sistem yang dilaksanakan pada kedua kegiatan adalah bersfifat rotasi bergilir. untuk kegiatan 15 menit bersama perpustakaan dilakukan 1 kelas per hari. dan kelas yang lain akan melaksanakan kegiatan kelompok membaca terbimbing di kelas masing masing. Di luar dari tahap yang ada. Kegiatan literasi tidak hanya terpaku pada lingkup itu saja. Kegiatan literasi juga masih dapat dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti: 1.Tim mading 2.Tim menulis Kegiatan – kegiatan diatas merupakan kegiatan yang bisa mengembangkan minat dan bakat sekaligus selaras dengan peningkatan mutu literasi yang digaungkan. “ KEWAJIBAN KITA TIDAK HANYA MEMBUAT ANAK-ANAK KITA PINTAR MEMBACA, TETAPI BAGAIMANA ANAK-ANAK KITA MENCINTAI MEMBACA. ”


Panduan literasi ini diharapkan dapat memberikan inovasi untuk memahami bagaimana sebaiknya gerakan literasi dilaksanakan di satuan pendidikan. Panduan Umum ini terbuka untuk dikembangkan secara kreatif dan inovatif, baik oleh pemangku kebijakan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota maupun masyarakat pegiat literasi agar Gerakan Literasi Sekolah dapat mencapai hasil yang diharapkan. Panduan Kegiatan Literasi di Sekolah ini merupakan hasil modifikasi dari berbagai sumbar yang saya peroleh. Akhir kata, tersusunnya Panduan Kegiatan Literasi di Sekolahini diharapkan memberikan informasi yang jelas kepada semua pihak terkait dalam memberikan dukungan dan melaksanakan perannya dalam menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah. “ BUKU DAN PINTU ADALAH HAL YANG SAMA. KETIKA MEMBUKANYA KAMU AKAN MENEMUKAN SESUATU YANG BARU “ PENUTUP


Sutrianto, dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ario, Foy, dkk. 2020. GERAKAN LITERASI SEKOLAH DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER. Jakarta : Direktorat Sekolah Menengah Atas Tim Satgas GLS. 2016. PANDUAN PRAKTIS GERAKAN LITERASI SEKOLAH. Jakarta : Direktorat Sekolah Menengah Atas 21 REFERENSI


Click to View FlipBook Version