Bagian ke Sebelas
Di Persimpangan
Malam ini aku tidak bisa tidur. Pertemuan tadi
membuat pikiranku bercabang. Aku berada di posisi yang sulit.
Awalnya aku memang bahagia karena apa yang selama ini
hilang kutemukan kembali bersama Zuno. Namun, pesan
singkat dari Mas Wily membuat kebahagiaan itu berganti
menjadi rasa bersalah. Entah mengapa malam ini dia berkirim
pesan, apakah dia merasakan sesuatu? Apakah nalurinya
sebagai suami berbicara dan mengira-ngira?
“Maafkan aku Mas,” aku membatin.
Segera kubalas pesan Mas Wily. Aku tetap berharap
bahwa ia berpikir positif karena jadwal pelatihanku bisa ia
lihat. Kegiatan yang kuikuti sampai pukul sepuluh malam.
"Maaf Mas baru bisa balas. Kebetulan kegiatan hari ini
padat. Ada tugas yang harus diselesaikan segera dan
mendesak. Sehingga aku lebih fokus dengan tugas yang harus
kukumpulkan segera. Mas apa kabar?"
Ternyata Mas Wily belum tidur, seketika chat-ku
dibalasnya.
"O, ya udah. Mas, alhamdullillah baik. Dek jaga diri dan
kesehatannya ya."
Di akhir obrolan Mas Wily menyisipkan gambar dua
hati. Ia berharap aku mampu menginterpretasikan ekspresi
tersebut. Aku pun hanya membalas "terima kasih sayang."
Aku sedikit lega telah membuat Mas Wily tenang
karena sudah kukabari. Setelah kurasa tidak ada lagi obrolan
di WA, kulihat Desta sudah duluan ke pulau kapuk, negeri
40 | C J K P | N o v e l
impian, hanyut di bawah selimut yang menutupinya. Aku pun
sudah merasakan kantuk, kegalauan tadi sedikit mereda.
Semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini. Namun, baru saja
akan merebahkan badan, hp-ku berdering kembali. Sepertinya
ada pesan lagi yang masuk. Aku mengira, pasti itu masih
pesan dari Mas Wily. Namun, ketika membuka notifikasi,
ternyata pesan dari Zuno.
"Ais, terima kasih sudah meluangkan waktu untukku.
Ada kebahagian yang kudapatkan ketika duduk bersamamu.
Meskipun saat kita berdua banyak gangguan yang datang,
bunyi telepon dan pesan masuk di ponselmu. Tetapi aku
berusaha malam kita tidak rusak hanya karena gangguan kecil
itu."
-Have a Nice Dream-
ZUNO
Kehadiran pesan dari Mas Wily sedikit banyak ikut
memengaruhi perasaanku pada Zuno. Maka pesannya malam
ini kubalas saja dengan sticker dua tangan mengatup sebagai
ucapan terima kasih dan meminta maaf.
Tibalah hari terakhir pelatihan. Zuno, tetap
menyediakan satu kursi kosong untukku. Hal itu membuatku
risih dan khawatir teman-teman lain berpikir buruk tentangku,
khususnya Desta teman satu kamar yang sudah tahu bahwa
aku sudah memiliki keluarga dan anak.
Tanpa malu-malu Zuno pun menyapaku layaknya
seorang pelayan supermarket yang menyapa pelanggan,
"Selamat datang Ais!"
"Terima kasih," balasku sekenanya pada Zuno.
41 | C J K P | N o v e l
"Nanti malam ada acara Ais?" tanya Zuno setelah aku
duduk di sampingnya. “Soalnya pelatihan kita hari ini sampai
pukul empat sore. Berarti kita masih bisa bertemu untuk
bicara di malam terakhir,” lanjutnya.
"Jika Ais bisa, kutunggu di lobi pukul tujuh ba‟da
maghrib ya?"
"Kebetulan tidak ada. Insya Allah saya usahakan,"
balasku sambil sibuk dengan catatan yang kubawa untuk
menuliskan poin penting dalam setiap penjelasan nara
sumber.
Selanjutnya aku sibukkan mendengar dan menulis
materi yang disampaikan oleh narsum hingga di seksi
penutupan.
Saat acara penutupan semua pemateri dan panitia
hadir. Ada penyampaian khusus terkait kegiatan yang
dilaksanakan. Setiap guru inti yang hadir dalam kegiatan ini
memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan melatih para
guru agar bisa memahami tugasnya. Bukan hanya itu, mereka
juga memiliki tanggungjawab yang tinggi dalam memberikan
pemahaman dan pelatihan kepada guru lainnya terutama guru
yang secara status ditunjuk oleh sistem. Oya, ada satu lagi
yang tidak pernah terlewatkan saat pelatihan berakhir, yaitu
foto bersama. Dalam kesempatan ini aku Zuno pun selalu
berdampingan.
"Jangan lupa nanti malam ya Ais,” Zuno kembali
mengingatkanku.
"Insya Allah siap."
Malam ini aku menepati janji untuk bertemu kembali
dengan Zuno. Sehelai gaun sederhana berwarna hijau fuji ikut
menamani karena memang tidak ada pilihan karena sudah
42 | C J K P | N o v e l
berada pada hari terakhir pelatihan. Aku juga sudah
mempersiapkan jawaban atas pertanyaannya ketika itu.
"Kamu malam ini sangat anggun Ais. Beruntung laki-
laki yang mendapatkanmu."
Aku hanya membalas dengan senyuman.
Kami pun berlalu dari ruang lobi menuju mobil yang
sudah terparkir di depan.
"Silakan masuk Ais!”
Sepanjang perjalanan aku dan Zuno lebih banyak
bercerita tentang pengalaman menjadi seorang pendidik.
Membangun mimpi di tengah kondisi yang terbatas. Bahkan ia
pernah diancam oleh orangtua dengan senjata saat
menegakkan disiplin sekolah. Cerita mengalir disertai canda
yang membuat suasana berbeda dengan sebelumnya. Malam
ini aku lebih rileks. Begitu pun Zuno. Aku berharap malam ini
tidak ada yang mengganggu kebahagian kami, termasuk
telepon dari Mas Wily.
Ternyata Zuno seorang laki-laki yang humoris. Aku tak
bisa menahan tawa saat dia bercerita bahwa ia pernah dikejar
anjing pemburu dan merelakan sepatu larasnya tertinggal di
hutan. Saat aku tertawa, seketika mata Zuno melirik ke
arahku. Saat itu ada hasrat ingin membalas tatapan itu. Ingin
aku berlama-lama di mata itu, mata yang memberiku suasana
lain, suasana keromantisan dan kasih sayang. Zuno segera
meraih tanganku, tetapi dengan cepat kutepis.
“Kenapa?” Zuno bertanya lembut.
Aku hanya menggeleng dan tersenyum.
Nampaknya laki-laki ini tak memaksa, malah dia
meminta maaf. Suasana berubah kaku. Untuk mencairkannya
Zuno memutar sebuah lagu. Kudengarkan tiap larik lagu itu
dengan saksama. Rasanya aku belum pernah mendengar.
43 | C J K P | N o v e l
Di sini. Memikirkanmu
Cintaku tak berhenti hanya untukmu kasih
Walau seringkali hati tersakiti
Saat kau tak peduli
Aku pun tak mengerti
Namun satu yang pasti telah kujatuhkan hati kepadamu selalu
selamanya...
Cinta takkan pernah berhenti
Karena hati telah memilih...
Sadarkan dirimu kubertahan untukmu
Cinta tak pernah memudar
Segenap hatiku mengharap
Hanya kepadamu... cinta takkan berakhir
Betapa... hati telah berjanji
Kubawa sampai mati.
Karena satu yang pasti...
Telah ku… .
Lirik lagu ini membuatku langsung terbawa perasaan.
Ada rasa yang tak mungkin bisa kuhilangkan, meski waktu
semakin berlalu pergi. Kenangan dengannya menjadikan
sesuatu hal yang indah. Setiap jengkal dan nafasku selama
bersamanya tidak bisa kuhapus begitu saja. Perasaan itu pula
akhirnya mengingatkanku kepada mas Wily.
"Zun, ini lagu siapa?" tanyaku.
"Kenapa Ais, kamu suka?" ucapnya.
"Liriknya bagus, membuat perasaanku tak mampu
menolaknya. Setiap bait yang dinyanyikan benar-benar
membuatku lemah."
44 | C J K P | N o v e l
"judul lagunya “Cinta Tak Pernah Berakhir” vokalis dari
Malaysia."
"Siapa Zun penyanyinya?"
"Anuar Zain, lagu-lagunya hits banget di negeri Jiran.
Setiap lirik lagunya kebanyakan membuat baper bagi yang
sedang jatuh hati ataupun yang dalam kondisi kesendirian
apalagi lagi putus cinta." Zun menjelaskan secara detail
meskipun aku sudah tahu maknanya. Namun lirik lagu ini
membuatku akhirnya merasakan sedih.
"Alhamdullillah, Ais, kita sudah sampai.”
Ternyata malam ini Zuno mengajakku ke Waroeng
Steak.
"Ais pesan apa? Kalau aku steak original saos
blackpaper plus es lemon tea."
Aku pun menuliskan pesan Zuno. Kemudian baru aku
menuliskan pesananku sendiri. Pilihanku jatuh pada chicken
blackpaper, strawberry smoothy, aqua botol. Daftar pesanan
pun segera kuberikan kepada pramusaji.
Sembari menunggu pesanan datang, lagi-lagi Zuno
memandangi wajahku. Kemudian ia berucap seperti seorang
detektif menanyakanku, "Ais, lahir di mana?"
"Batam," jawabku singkat.
“Pantas saja Ais.”
"Maksudnya apa Zuno?"
"BATAM itu adalah “Bila Anda Tiba Akan Merindukan”.
Seperti aku akan selalu merindukan saat-saat bersamamu."
Godaan kecilnya itu seperti si Andre Taulani saat lagi
manggung.
"Kamu jago juga ya ngegombal. Wajar aja banyak
wanita bertekuk lutut di hadapanmu," membalas candaannya.
45 | C J K P | N o v e l
"No, no, kalau banyak wanita bertekuk lutut. Buktinya
aku masih sendiri sampai saat ini."
"Itu karena kamu banyak pilih-pilih yang sempurna!"
"Ais, aku hanya ingin dirimu saat ini, bukan yang lain.
Lagi-lagi aku membalasnya dengan senyuman.
“Bagaimana, sudah ada jawaban?”
“Jawaban apa?” tanyaku pura-pura bego.
“Hmmm, kamu mempermainkan hatiku Ais.”
Aku kaget dengan jawaban yang Zuno ucapkan.
Sempatku terdiam beberapa saat sebelum menjawab
pertanyaannya. Aku tak menyangka kata-kata itu yang
diucapkannya.
"Zun, kamu lelaki yang sudah mapan dan gagah. Aku
yakin tidak seorang perempuan pun akan menolak
keinginanmu. Semua ada pada dirimu Zun. Dirimu begitu
sempurna. Ganteng, mapan, tinggi, putih, manly, smart, unik,
humoris, gentle. Semua sudah ada dalam dirimu. Hanya saja
mungkin kamu banyak memilih dari setiap wanita yang
datang. Mungkin kamu memiliki standar yang tinggi terkait
wanita yang akan mendampingimu. Tidak ada yang kurang
dalam dirimu," ujarku menjelaskan.
"Tidak Ais, kamu salah menilaiku, kalau semua wanita
yang datang kutolak, buktinya sampai saat ini aku masih
sendiri."
"Kesendirian itu karena penilaianmu tak seorang pun
wanita yang indah. Standarnya juga terlalu tinggi. Padahal
kamu tahu setiap orang punya kekurangan sebagaimana laki-
laki pasti memiliki keterbatasan."
"Justru kekurangan itu yang aku ingin ada yang
melengkapinya Ais!"
46 | C J K P | N o v e l
"Lantas, menurutmu wanita seperti apa yang tepat dan
pantas melengkapi kekuranganmu?"
"Wanita seperti kamu Ais!" jawab Zuno tegas.
"Aku?”
"Ya, Ais. Kamulah yang tepat bersamaku."
"Kau salah Zuno, kau kan sudah tahu tentangku?"
"Ya, aku tahu Ais semua tentangmu. Wanita tangguh
dengan tiga orang anak yang sibuk dengan segudang
aktivitas, tetapi tidak mengabaikan tugasmu sebagai istri dan
anak-anakmu. Wanita smart dan santun setiap berkata. Tidak
ada yang cacat dari dirimu bagiku Ais."
"Zun, kau tahu statusku, kan?"
"Aku tahu, kau sudah memiliki ikatan yang sah sebagai
seorang istri anggota dewan. Aku sangat tahu."
"Lantas, kenapa kau masih menginginkanku?"
"Aku mengikuti kata hatiku. Rasa sayang dan cintaku
padamu yang kian besar. Semenjak awal bertemu sampai
detik ini, aku tak bisa mengabaikan pikiranku dari dirimu. Tak
bisa aku mengalihkan hatiku selain dirimu, Ais."
"Zun, berat bagiku untuk melanjutkan ini semua.
Meskipun perasaanku kepadamu tumbuh dan bersemi. Namun
aku harus realistis dalam menyikapi semua. Aku sadar Zun.
Aku bukan wanita terbaik bagimu. Aku sudah memiliki
keluarga. Aku juga bukan wanita seperti gadis lainnya yang
tanpa ikatan. Banyak wanita yang lain cantik dan sesuai
keinginanmu Zun. Tapi itu bukan aku!"
Kulihat wajah Zuno sedih bercampur emosi. Ia
menatapku dengan tajam seakan ia ingin mengatakan bahwa
akulah pilihan baginya tidak ada yang lain.
"Ais, aku bersedia menunggumu sampai kapanpun.
Bukan karena kecantikan atau posisimu yang ingin aku pilih.
47 | C J K P | N o v e l
Tetapi bahasa hatiku bahwa kaulah wanita yang tepat untuk
hidupku."
"Maafkan aku Zun, aku tak bisa. Perasaan ini kusadari,
aku salah. Aku menyambut perasaanmu yang seharusnya dari
awal tidak kulakukan. Tetapi jujur kehadiranmu membuat
warna dalam hidupku berubah. Bukan aku tidak menerima
kehadiranmu, tetapi kondisiku bukanlah wanita yang tanpa
ikatan. Aku yakin Zun, banyak wanita lain yang mengharapkan
kehadiranmu."
"Apapun alasanmu Ais, tidak bisa menghancurkan
tekadku untuk bisa bersamamu. Aku akan selalu
menunggumu, kapanpun. Maafkan aku Ais, aku benar-benar
mencintaimu melebihi dari yang kau tahu."
Percakapan kami terputus saat pramusaji datang
membawakan pesanan.
"Silakan dinikmati Mbak, Mas!" ucapnya santun.
Aku segera mengambil makanan dan mencoba makan
dengan biasa tanpa ada kejadian apapun. Suasana semakin
terasa kaku. Zuno dan aku hanya diam dan menikmati
hidangan masing-masing. Sampai selesai makan pun suasana
masih belum mencair.
"Zun, yuk kita balik, sudah malam."
Zuno hanya mengangguk. Kami pun segera menuju
parkiran tanpa berbicara. Ia tetap membukakan pintu
untukku. Sepanjang perjalanan suasana tetap belum berubah.
Untung saja ada musik yang mengiringi perjalanan.
"Ais, aku mencintaimu melebihi apa yang kau tahu.
Aku tetap menunggumu sampai kau sadar bahwa aku juga
lelaki yang pantas untuk mencintaimu."
48 | C J K P | N o v e l
Ucapan terakhirnya hanya bisa kubalas dengan
pandangan isyarat bahwa aku juga tak bisa membohongi
perasaanku kepadanya.
"Terima kasih Zun, jaga dirimu. Assalamu'alaikum."
Aku berusaha untuk tidak menoleh walaupun kuyakin,
dia masih di sana berdiri memandangku, dan aku berhasil
hingga aku sampai kembali di kamar. Namun, keberhasilanku
itu hanya sementara dan secara fisik, tetapi tidak di hati.
Malam ini meski tak ada lagi dia di samping, bayangan
tentangnya masih bermain di pelupuk mata. Jawaban yang
kuberikan kepadanya tadi itu bukanlah jawaban yang jujur.
Sesungguhnya aku ingin sekali menerima, tetapi apa daya,
aku juga tak sanggup melakukannya. Kini aku berada di dua
hati yang sulit untuk kupilih. Oh, inilah cinta. Benar kata Agnes
Monica bahwa cinta itu tak mengenal logika. Aku memang
kehilangan kelogisan berpikir dan kecerdasan bertindak.
Besok aku takkan lagi melihat dia, takkan lagi ada kursi
kosong yang disediakannya untukku. Tak ada acara makan
malam berdua, tak kudengar lagi sanjungan darinya. Besok
aku akan kembali ke status asliku sebagai seorang ibu,
sebagai seorang istri yang kesepian. Pasti ada nanti kerinduan
yang bakal kutanggung, bakal ada air mata setiap kali ingat
dia. Ya pasti. Saat ini saja aku sudah dirundung rindu.
Ingin rasanya kukirim sebuah kalimat indah untuknya
tentang rindu dan cinta, tetapi kalimat itu segera kuhapus
kembali. Aku masih mempertimbangkan. Begitu seterusnya,
tulis hapus, tulis hapus, tulis hapus. Namun, di saat yang
bersamaan, dia mengirimkan pesan juga untukku. Ah, apakah
ini chemistry itu, bahwa jika ada kedekatan hati maka orang
yang kita tuju akan merasakan hal sama?
49 | C J K P | N o v e l
Terima kasih Ais. Kehadiranmu mengubah duniaku.
Ekspektasiku terhadapmu begitu besar. Bukan hanya sekadar
pilihan untuk mendapatkanmu tetapi bagiku dirimu adalah
satu tujuan hidupku' -Zuno-
Ya Allah, apakah aku bahagia atau makin tersiksa?
Hatiku hanya satu ya Allah dan di sana sudah diisi oleh orang-
orang yang lebih dahulu hadir. Ada memang sekarang satu sisi
tempat yang ditinggal pergi oleh pemiliknya. Namun, dia pergi
dan pulang tak tahu kapan. Semua memang salahku, seorang
penghuni itu belum pasti meninggalkan hatiku tetapi aku
sudah memberi harapan pada penumpang yang baru. Bantu
aku ya Allah.
Aku masih gelisah hingga malam makin larut, jam di
hp-ku sudah menunjukkan pukul 23.45. Sebentar lagi
pertukaran hari. Aku harus segera tidur agar besok bisa fit
saat kembali ke daerah. Aku hanya bisa istigfar agar hatiku
bisa tenang dan dapat tidur dengan nyenyak.
50 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Dua belas
Kerinduan
"Pertemuan denganmu adalah anugerah terindah yang
kurasakan. Walau hanya sesaat tetapi sangat berarti dalam
membangun rasa bersamamu. Tidak mudah memang
melupakanmu, meskipun telah kau jelaskan dengan baik
posisimu Ais. Hati dan pikiranku selalu tertuju padamu.
Maafkan aku, bukan aku merusak hubunganmu tetapi inilah
takdir bagiku yang harus aku jalani. Mengenal seseorang yang
sangat berarti, meskipun ia sudah ada yang memiliki. Ais, aku
pamit berangkat duluan ya. Salam rindu selalu untukmu. Aku
akan selalu menunggumu"
Salam Rindu
ZUNO
Itulah pesan yang kudapatkan pagi ini via WhatApp.
Pesan yang teramat berat untuk diterima. Aku tak
membalasnya meskipun keinginan itu ada. Saat ini bagiku
pertemuan dan perpisahan sudah kehendak Allah. Aku pun
tidak bisa menolak setiap hal yang dihadirkan untukku. Pagi ini
aku harus segera balik. Kulihat bagian lobi tempat di mana
sering kami bertemu. Mataku mengitari setiap sudut ruang
yang ada di sana. Semua kenangan itu pun berputar bagai
menyaksikan setiap episode yang ditayangkan. Hatiku teramat
sedih mengingat semua kenangan itu.
“Uh, sudahlah,” gumam hatiku. “Tidak ada yang perlu
disesali, semua sudah terjadi. Saat ini aku harus bisa
51 | C J K P | N o v e l
menerima dan melakukan sesuatu yang ada di depanku. Mau
tidak mau inilah konsekuensi yang harus aku terima.”
Tidak berapa lama travel pun menjemput untuk
mengantarkan ke bandara. Aku pun segera membenahi semua
barang bawaan untuk dimasukkan di bagasi.
"Bu, masih ada lagi barangnya?" tanya supir yang akan
mengantarkanku ke bandara.
"Sudah Mas, sudah semua," jawabku singkat.
Travel pun segera menuju bandara. Dalam perjalanan
mataku hanya menatap kosong ke luar jendela. Banyangan
Zuno sangat membekas dalam ingatan. Bagaimana sikap dan
perhatiannya tidak bisa kulepaskan dan abaikan.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup menguras
tenaga, akirnya aku pun sampai di rumah orang tua. Dengan
penuh kerinduan disambut oleh anak-anak. Mereka
menghambur ke pelukanku. Begitu pun aku, kudekap mereka
satu per satu. Sheila, si bungsu malah tak mau lepas dari
pangkuanku.
"Bu, bagaimana mereka selama kutinggalkan, apakah
mereka merepotkan Ibu?" tanyaku pada ibu yang
menunjukkan wajah gembira karena kepulanganku.
"Ndak Ais, mereka anak-anak yang baik dan penurut,"
kata ibuku menjelaskan.
Syaiful dan Viola pun tersenyum bangga dengan apa
yang ibu utarakan kepadaku.
"Kan kami anak hebat Ma. Anak hebat harus patuh dan
selalu membahagiakan buat siapapun," ucap mereka
bersamaan.
"Good Honey, Mama bangga pada kalian. Tidak salah
Mama mempercayakan kalian pada nenek."
"Ma, oleh-oleh buatku mana?" tanya Viola tidak sabar.
52 | C J K P | N o v e l
“Semua oleh-oleh buat anak Mama, sudah Mama
persiapkan dengan baik. Kalian bisa ambil di sana,” kataku
menjelaskan sambil menunjukkan di mana oleh-oleh yang
kubelikan untuk mereka.
"Nak, ayo cepat beresin semua barang-barang kalian.
Kita akan balik ke rumah sekarang," Ucapku menjelaskan pada
anak-anak.
“Ma, kok cepat banget pulang ke rumah? Kita kan
belum main di tempat nenek,” ucap Viola dan diiyakan oleh
Syaiful.
“Hari ini, ayah kalian akan pulang. Jadi Mama harus
beres-beres rumah yang sudah lama nggak dibersihin,”
kataku.
“Ooo,“ mereka memasang wajah cemberut bersamaan.
Sementara anakku bungsu sibuk dengan permainan barunya,
boneka Barbie yang sengaja kubelikan khusus untuknya.
"Bu, aku harus pamit sekarang, ya Bu," ucapku saat
ibu masih sibuk dengan kerjaannya.
"Apa tak sebaiknya kau istirahat dulu di sini, kan masih
capai setelah kegiatan," ujar ibuku.
"Nggak Bu, aku harus balik, karena rumah belum
dibersihkan. Besok juga aku harus masuk kerja, karena
banyak tugas yang sudah menumpuk. Kasihan juga dengan
Mas Wily kalau dia balik tidak ada aku," kataku mencoba
memberikan pengertian pada ibu agar ibu bisa menerima
alasanku dan tidak berpikir macam-macam.
"Iya Nak. Nah seharusnya begitulah seorang istri.
Harus mengerti tugas dan posisinya terhadap suami dan anak-
anak. Ibu bangga padamu Ais."
Ada rasa bersalah ketika ungkapan ibu menunjukkan
kebanggaan padaku. Sementara aku tidak mampu menjadi
53 | C J K P | N o v e l
istri sesuai apa yang ibu katakan. Seketika itu juga perasaanku
merasa bersalah atas tindakanku.
"Terima kasih Bu, do'akan terus anakmu dan bisa
menjadi anak yang Ibu harapkan."
"Pasti Ais, Ibu selalu mendoakan semua anak ibu agar
menjadi anak-anak yang sholeh."
Kupeluk dan kucium pipi ibuku dengan rasa bangga
karena memiliki ibu yang luar biasa.
54 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Tiga belas
Keluarga
"Dek, sebentar lagi Mas balik. Dek sudah di mana?"
ponselku berbunyi sepertinya ada pesan masuk.
Langsung kubuka ponselku segera. Ternyata pesan
dari mas Wily.
"Alhamdullillah Mas, Ais sudah di rumah sekarang!.
Mas di mana? Sudah mau jalan pulangnya, Mas?" Aku sangat
berharap ia segera cepat tiba di rumah.
"Ia dek. Insya Allah sebelum magrib Mas akan segera
tiba di rumah," balasnya segera.
Ada rasa bahagia chatku di balasnya dengan cepat.
Mudahan saja kondisi ini bisa bertahan lama dan dapat
diperbaiki dengan baik. Ucap batinku berharap.
"Ma, ayah sudah di mana? Kok belum tiba juga sampai
jam sekarang, katanya satu jam lagi," tanya Viola manja.
"Emang ayah pake pesawat apa Ma? Pasti pakai si
merah! Kan sudah tahu sering delay, ayah kok masih juga
betah ngambil pesawat itu Ma." Syaiful pun ikut
mengomentari.
"Insya Allah, ayah akan tiba sebelum magrib. Baru saja
ayah menghubungi Mama. Jadi sabar sajanya anak Mama
yang ganteng dan cantik," rayuku untuk mengobati rasa rindu
mereka.
Tak lama terdengar klakson dari pekarangan rumah.
"Ful, coba lihat di depan. Sepeŕtinya ayah sudah
pulang. Mana tahu ayah butuh bantuanmu."
"Baik Ma. Syaiful akan lihat segera."
55 | C J K P | N o v e l
Syaiful pun segera berlari ke depan pekarangan. Di
lihatnya mobil avanza putih terparkir tepat di tempat biasanya.
Pintu mobil pun segera terbuka. Ayah menatap Syaiful dengan
wajah bahagia. Syaiful menatap ayahnya yang kelihatan lelah.
Kantong mata yang menghias di wajahnya tak mampu ia
sembunyikan.
"Yah, sini Syaiful bantu angkat barangnya."
Mas Wily bukannya memberikan tas tersebut, tetapi
merangkul dan memeluk Syaiful dengan erat.
"Yah, sudah lama ayah tidak melakukan ini. Syaiful
rindu Yah. Kesibukan Ayah membuat waktu bermain dengan
kami terabaikan," kata Saiful mempererat pelukannya.
"Maafkan Ayah Nak. Ayah akan berusaha untuk
memberikan waktu kita seperti dulu."
"Ia Ayah,” jawab Syaiful singkat.
"Mamamu mana, kok dari tadi nggak kelihatan
menjemput ayah ke luar.
"Mama lagi beres-beres ayah. Rumah kita seperti kapal
pecah, karena ayah dan mama hampir satu minggu
meninggalkan rumah," ujar Syaiful menjelaskan.
56 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Empat belas
My Heart
Sebelum beraktivitas kusiapkan semua kebutuhan
anak-anak dan suami. Kebetulan hari ini anak-anak lebih cepat
berangkatnya jadi ada waktu santai berdua dan bisa
mengobrol dengan suami lebih banyak.
"Mas, sarapan sudah siap. Yuk kita makan bersama,
mumpung masih hangat."
"Iya, sebentar Dek, bentar lagi."
Sekitar sepuluh menit, Mas Wily pun tiba di ruang
makan. Wajahnya nampak terlihat lelah.
"Mas, ayo duduk!" aku mencoba menghangatkan
suasana yang selama ini sudah sangat jarang bisa ngobrol.
Mas Wily pun duduk di sampingku. Kupandangi
wajahnya. Ada perubahan dari penampilannya. Khususnya
rambutnya yang sudah terlihat beberapa helai memutih.
Kantung matanya yang semakin membesar seperti mata
panda. Kupandangi terus wajahnya. Hingga Mas Wily pun
bertanya.
"Ada apa Dek, kok ngelihatnya beda banget pagi ini?"
"Nggak apa-apa. Kangen saja dengan Mas. Kita sudah
lama nggak menikmati masa-masa berdua seperti ini," ucapku
lirih.
"O, Mas kira ada apa. Tumben banget gitu Dek. By The
Way, Dek makin cantik aja sayang," goda suamiku sambil
menggenggam erat tanganku. Ada kehangatan yang mengalir.
“Oh ya, anak-anak pada ke mana?”
“Mereka sudah pergi ke sekolah masing-masing. Sheila
sudah kuantar juga ke tempat Bunda Faiza.
57 | C J K P | N o v e l
“Alhamdullillah, kamu memang istri yang luar biasa
hebat. Tidak salah aku memilihmu, setelah do‟a panjangku
Allah hadirkan wajahmu.”
“Mas bisa saja. Aku banyak kurangnya Mas
dibandingkan dengan wanita lain,” kataku menutupi rasa
bangga.
"Mas, Adek, boleh tanya nggak. Adek ingin bertanya
sesuatu kepada Mas, tetapi syaratnya Mas nggak boleh marah
ya!"
"Tanya apa Sayang, kok serius banget hingga harus
pakai syarat gitu. Pertanyaannya nggak sulitkan? Mas takutnya
nggak bisa jawab. Ntar kalau nggak terjawab, PR saja ya
Dek," candanya padaku. Tangannya masih menggengam erat
tanganku.
"Mas, apakah Mas masih sayang Adek?" tanyaku hati-
hati.
"Kok nanyanya gitu Dek. Ada apa dengan perasaan
dan pikiran Adek?" tanyanya balik membuatku jadi kikuk dan
tak berani menatap matanya. Justru Mas Wily semakin tajam
menatapku.
"Kalau Adek perhatikan belakangan ini, kita sudah
semakin menjauh. Komunikasi dan intensitas tidak seperti
biasanya. Apakah Adek ada salah dengan Mas?" tanyaku agar
ada jawaban yang mampu menguatkan hatiku.
"Dek, itu perasaan kamu saja yang dipenuhi dengan
berbagai pikiran buruk. Sampai saat ini Mas masih seperti
biasa dan tetap menjadikan Adek bagian terindah dalam hidup
Mas."
"Bukan begitu Mas. Adek masih penasaran kata-kata
maaf Mas saat Adek masih di pelatihan," sanggahku, berharap
ada penjelasan yang bisa memuaskan perasaanku.
58 | C J K P | N o v e l
"O, itu ternyata yang membuatmu kepikiran. Mas kira
apa yang membuat hati istri Mas sampai bertanya perasaan.
Sekarang coba lihat mata Mas baik-baik," goda suamiku
dengan serius. Tetapi aku tetap tidak bisa menatap wajahnya.
Yang ada ketika mataku bertemu matanya, aku hanya bisa
mengalihkan pandanganku darinya.
"Mas, maafkan Adek ya. Akhir-akhir ini komunikasi kita
semakin berkurang. Kesibukan Mas membuatku mencoba
untuk memahami kondisi. Ternyata Mas, kondisi ini memang
tidak mudah untukku bisa membangun komunikasi di tengah
kesibukan jadwal Mas yang padat. Meskipun di awal kita
sudah berkomitmen saat Mas terpilih kita bisa menjaga
komunikasi dan hubungan dengan baik. Tetapi ketika waktu
berjalan, intensitas pertemuan kita berkurang dan komunikasi
kita juga semakin jarang."
Aku berusaha mencoba menjelaskan perasaan dan
kondisi yang semakin terasa berbeda. Saatku terus
menjelaskan panjang lebar, jari telunjuk Mas Wily menutup
bibirku. Tatapannya menembus relung kalbuku, tajam dan
masuk ke dalam ruang hatiku.
"Cukup Dek! Tidak ada sama sekali Mas mengabaikan
hati dan anak-anak kita. Kau tetap menjadi wanita teristimewa
dalam hati Mas. Jangan biarkan setiap prasangkamu Dek
merusak suasana hati dan sikapmu terhadap Mas.
Istimewanya dirimu tetap menjadi yang terbaik dalam hatiku.
Jangan pernah berpikir aku akan mengabaikan apalagi
meninggalkanmu."
Sontak mataku berkaca-kaca. Akhirnya mengalir tanpa
bisa kutahan. Beruntungnya aku menjadi teristimewa dalam
hatinya. Mas Wily pun langsung menghapus airmataku yang
59 | C J K P | N o v e l
tumpah. Penjelasan Mas Wily membuat hatiku terharu. Ada
nada cinta yang mengiringi setiap kata-kata yang diucapkan.
"Terima kasih Mas sudah menjadikanku bagian
teristimewa dalam hidup Mas. Aku akan tetap berusaha
menjadi yang terindah juga dalam hidupmu," ucapku
menjawab kata-kata Mas Wily.
"Dek, Rabu depan, Mas akan studi banding ke luar
negeri. Mas titip anak-anak ya. Jaga mereka menjadi pribadi
yang hebat dan tangguh."
Mendengar Mas Wily akan ke luar negeri selama satu
minggu, tiba-tiba bayangan Zuno hadir di depan mataku. Ya
Allah ini yang aku khawatirkan. Hatiku belum kuat untuk
melupakannya sepenuh hati. Rasa itu masih membersamai
akan kenangan yang sudah dibangun meskipun singkat tetapi
berkesan. Kucoba menipiskan pikiranku dari bayangan Zuno.
"Insyaa Allah Mas, do'akan aku menjadi istri yang Allah
ridho'i."
Mas Wily pun berdiri dan menarik tanganku dan tiba-
tiba memeluk erat serta mencium keningku.
"Terima kasih Dek, telah menjadi warna berbeda
dalam hidup Mas. Jaga selalu hatimu, jangan biarkan ia pudar
sebagaimana cahaya yang akhirnya redup. Tetaplah menjadi
wanita hebat buat anak-anak kita, karena kau adalah
madrasyah terbaik dan pertama dalam hidup mereka," bisik
suamiku mesra.
60 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Lima belas
MESSAGE
Aku pun melepaskan kepergian Mas Wily untuk menunaikan
tugasnya sebagai wakil rakyat. Sebelum berangkat, ia
senantiasa mencium kening dan memberikan pelukan hangat
untukku.
"Dek Ais, jaga cinta kita. Berikan yang terbaik untuk
anak-anak kita," bisiknya lirih di telingaku. Matanya kurasakan
penuh cinta dengan senyuman indah terpancar di wajahnya.
"Maafkan Mas, jika selama ini mengabaikan
tanggungjawab dan kurangnya perhatian pada anak-anak."
Hatiku berdesir, merasakan kesalahan besar yang
pernah kulakukan terhadapnya.
"Iya Mas, aku akan berusaha menjaga diri dan
memberikan perhatian lebih buat buah hati kita. Mas jangan
takut, tetaplah fokus dengan tugas Mas di sana," balasku
meyakinkannya.
"Assalamu'alaikum," sapa terakhirnya sebelum
meninggalkanku. Senyumannya masih terpancar ketika
langkah kakinya meninggalkanku.
Aku terus memandanginya dengan senyuman, tetapi
hati terasa sedih karena adanya sesuatu yang masih
mengganjal. Kulepaskan kepergiannya sampai ia menghilang
dari pandanganku. Andai saja, aku bisa mengatakan
sejujurnya apa yang kurasakan tentu ganjalan ini tidak seberat
rasa bersalah yang menggerogoti jiwaku. Aku belum mampu
mengatakan dan meminta maaf sepenuhnya pada suamiku.
61 | C J K P | N o v e l
Di saat pikiranku tertuju karena sesuatu kesalahan,
saat yang sama Zuno tidak pernah absen menyapaku. Seperti
pagi ini, meskipun ia hanya menanyakan kabar, tetapi
ucapannya sudah mengusik hatiku.
"Apa kabar Ais, semoga cerahnya hari ini secerah
wajahmu menyambut pagi."
Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri
membayangkan hari yang cerah disamakan dengan wajahku.
Dasar lelaki gombal pikirku. Kudiamkan pesannya, meskipun
jari ini gatal ingin membalasnya. Tetapi aku berusaha
menahan.
"Sekalipun kau ingin menjauh dariku, tetapi rasa di
hatiku tetap sama saat pertemuan awal kita Ais. Tidak pernah
kusam dan pudar rasaku terhadapmu. Tetapi aku memahami
di posisimu memang tidaklah mudah," pesannya kembali
masuk di ponselku.
Kubaca dengan pelan. Ada getir yang tak mampu
kusembunyikan. Rasa yang tak seharusnya hadir. Sebuah
kesalahan yang kulakukan di saat peluang itu muncul karena
kehampaan. Duh gusti Allah, bagaimana aku harus bersikap
dengannya. Sementara aku juga tidak bisa membohongi rasa
ini yang tidak mudah untuk kubuang begitu saja. Meskipun
aku berupaya untuk bisa menyikapi perasaan ini yang
terkadang hadir tanpa diundang.
"Ais, Rabu depan, di grup teman-teman alumni
mengadakan pertemuan untuk membahas kegiatan tahunan
pasca bimtek. Apakah Ais bisa datang?” tanya Zuno lewat
chat-nya yang kembali masuk.
Aku masih tetap tidak menjawab. Aku berharap ia pun
dengan sendirinya akan melepaskan dan melupakanku. Pesan
di grup, aku hanya membaca saja tanpa berkomentar. Ingin
62 | C J K P | N o v e l
rasanya keluar saja dari grup itu, tetapi alasan apa yang tepat
bisa kuungkapkan. Aku tidak ingin hanya alasan klasik yang
akan kusampaikan. Hp lemot, hang, banyak grup, dan
sebagainya. Sementara di grup lain aku masih bertahan dan
banyak grup yang juga kuikuti. Bagiku alasan-alasan seperti
ini sulit untuk kuterima, sehingga jika aku melakukannya, apa
bedanya aku dengan yang lainnya. Padahal semua bisa
dipantau jika alasan itu yang menjadi penyebabnya.
Makin rumit aku memikirkannya. Sementara hati terus
terusik dan pikiran bercabang-cabang. Benar saja, segala
sesuatu yang berhubungan dengan hati tidak semudah
mengatakannya apalagi masalah rasa cinta yang tumbuh.
"Jangan lupa hadir, kehadiranmu menjadi jalan untuk
menyukseskan kegiatan yang akan teman-teman lakukan.
Jangan jadikan masalah pribadi menjadi masalah dalam
pertemuan bersama teman-teman untuk melakukan
perubahan. Aku masih ingat kata-kata kamu Ais. 'Jangan
libatkan hati, ketika satu tujuan harus kita tempuh bersama
untuk perubahan' itulah kata-katamu yang sampai hari ini
tetap aku pegang. Semoga kamu masih ingat Ais."
Pesan Zuno kali ini langsung menyentil hati. Kata-kata
yang kuucapkan, tidak kusangka ia masih ingat. Tentu aku
tidak bisa melupakannya ketika Zuno mengingatkan itu. Aku
menjadi dilema dengan keputusan yang harus aku ambil.
Akhirnya aku pun membalas pesan terakhirnya Zuno.
"Terima kasih sudah mengingatkan," jawabku singkat.
"Kutunggu kehadiranmu. Assalamu'alaikum.”
Bersamaan dengan pesan Zuno terakhir, pesan
suamiku juga masuk.
63 | C J K P | N o v e l
"Alhamdullillah Dek, Mas sudah sampai di hotel. Jaga
diri, jaga hati, jaga kesehatan," tiga rangkaian pesan Mas Wily
kembali menyentil hatiku.
Memang pesannya singkat, tetapi penuh makna yang
dalam. Serangkaian kata yang berisikan untuk menjaga
tentulah bukan pesan sembarangan. Kepercayaan yang Mas
Wily berikan itulah penjagaan yang terberat harus kutunaikan
sebagai seorang istri. Menjaga hati inilah yang terus
mengusikku karena ketidakmampuanku dalam menyikapinya.
Aku terus berupaya melakukannya, meskipun masih terlalu
jauh dari kata sempurna.
"Alhamdullillah, Mas, di sana baik-baik, semoga sukses
kegiatan Mas ya," jawabku singkat.
Pikiranku memang lagi tidak kompromi saat hati juga
lagi bermasalah. Sosok Zuno tidak bisa kuhilangkan begitu
saja. Tetapi aku berupaya untuk bisa melepaskannya agar ini
tidak menjadi bumerang bagiku.
64 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Enam belas
Kesalahan
Memang tidak mudah melakukan dengan apa yang
dikatakan. Itulah yang kurasakan saat perasaan tak mampu
mengabaikan dua orang yang mengisi hati. Aku berupaya
melepaskan jerat Zuno yang setiap saat selalu menyapa.
Andaikan aku tidak membuka peluang itu, tentu perasaan ini
tidak terjerat. Aku tidak bisa menyalahkan Zuno. Aku telah
salah melangkah dengan mengisi ruang hatinya yang masih
sendiri. Jujur ini kesalahan terbesar yang telah membuat
orang lain salah dalam berlabuh. Jika ingin disalahkan maka
akulah yang patut untuk disalahkan dengan posisi yang sudah
memiliki suami, tetapi masih membuka peluang untuk yang
lain.
"Ais, masihkah ada kesempatan untukku bisa bertemu
denganmu, kali ini saja?” pesan Zuno pagi ini lagi-lagi
menyapaku.
"Untuk apa!" jawabku ketus.
"Aku ingin melihatmu, bisa berbicara denganmu, kali
ini saja yang terakhir," balas Zuno memelas.
"Dek, lagi di mana?"
"Di rumah, memang ada apa Zuno?" balasku ketus.
"Maksudnya Dek?"
"Ya, aku di rumah Zuno, bersama anak-anakku. Mau
apa!" tegasku membalas pesannya.
"Zuno? Maksudnya siapa Dek?"
Aku baru sadar, pesan yang kubalas adalah pesan
masuk dari suamiku, yang juga masuk bersama dengan pesan
65 | C J K P | N o v e l
Zuno. Tiba-tiba wajahku langsung berubah dan pikiranku
semakin runyam. Ada kekhawatiran yang akhirnya seketika
hinggap dalam pikiranku. Ketidaktenangan akan apa yang
dipikirkan suamiku bakal membuatku terpojok dan bersalah.
Aku sudah terbayang ke depannya, jika ini akan menjadi
masalah besar. Hatiku berdebar dan jantungku bekerja lebih
cepat. Aliran darahku seakan terus terpompa dengan apa yang
hari ini kurasakan.
Duh, kenapa aku tidak memperhatikan dulu sebelum
membalasnya. Inilah kebiasaan burukku saat balas WA tidak
tahu ternyata nomor yang dituju bukan nomor yang dijawab.
Ketakutan semakin besar dengan kondisi saat ini. Bagaimana
aku harus menjawab apa yang akan ditanyakan oleh suami.
Dari mana aku harus memulai menjelaskan semuanya. Tentu
pertanyaan akan runtut ditanya Mas Wily tentang siapa Zuno.
"Dek, siapa Zuno?"
Pesan Mas Wily masuk lagi. Bagaimana aku harus
jelaskan. Pasti ia akan merasa tersakiti, bahwa istri yang
selama ini ia percaya tega berkhianat. Apakah aku harus
diamkan saja pesannya. Mas Wily baru memasuki hari ke
empat dari kegiatan yang ia lakukan. Akhirnya aku pun
membiarkan pesan mas Wily masuk berantai tanpa kubalas
sama sekali.
"Dek, apa yang terjadi, siapa Zuno?"
Aku pun tak bisa lebih lama lagi ditanya tentang Zuno.
Akhirnya kubalas pesannya. "Mas, nanti kujelaskan ketika Mas
sudah di rumah," balasku. Berharap ia memahaminya.
"Ais, this is my last chance to meet you?”
Di saat aku masih sibuk dengan pikiranku, Zuno pun
seakan tidak mau tahu apa yang terjadi. Pesan-pesan
mengalir deras di ponselku dari dua orang yang berbeda.
66 | C J K P | N o v e l
"Zun, kali ini aku tak bisa. Nanti akan kukabari jika
waktuku bisa kuatur."
Hanya itu yang bisa kujawab untuknya, agar tidak ada
lagi pertanyaan berikutnya. Sekarang aku ingin fokus dan
mempersiapkan akan apa yang terjadi nantinya dengan
keluargaku. Aku tahu bagaimana karakter Mas Wily, meskipun
ia pendiam tetapi ia sangat tegas terkait dengan hal-hal
seperti ini. Pikiranku, kusibukkan dengan aktivitas lain untuk
mengabaikan masalah yang baru saja timbul akibat kesalahan
dan ketidakfokusanku. Sekarang aku lebih baik diam dan
menunggu Mas Wily bagaimana sikapnya.
67 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Tujuh belas
Galau
Jika ada yang harus disalahkan, akulah orang tepat
disalahkan karena sudah bermain api. Inilah yang tepat
menggambarkan bagaimana yang aku rasakan karena
kesalahanku yang sudah membuka peluang sehingga cinta
yang tak seharusnya pun mengisi ruang yang lain di hati yang
sama.
"Ais, coba lihat kisah rahasia Illahi itu. Ngeri banget
akibat ulah istrinya yang selingkuh, Allah tunjukkan di akhir
cerita," hatiku seakan menjelaskan tontonan yang baru saja
aku saksikan di layar kaca. Saat itu juga aku bagai disentil
oleh Tuhan melalui kisah itu. Pikiranku kacau dan jantungku
semakin cepat bekerja. Tentu aku tidak ingin semua berakhir
seperti tayangan tersebut. Aku ingin semua baik-baik saja dan
aku harus meminta maaf. Tidak tahu apa yang akan terjadi
sekembalinya Mas wily nantinya. Yang kutahu saat ini semua
bercampur menjadi satu, 'galau'.
"Pagi Ais, apa kabarmu? Sudahkah ada waktu untuk
bisa bertemu denganmu! Andaikan waktu bisa terulang
kembali... .'
Ada pesan masuk. Pikirku wa dari suami. Aku pun
segera membukanya. Tertulis Zuno di pesan tersebut. Duh,
ini orang getol banget menyapa tanpa absen. Sudah saat ini
pikiranku lagi bercabang ditambah lagi Zuno seakan tidak mau
tahu apa yang terjadi denganku. Aku pun tidak mungkin
menjelaskan apa yang terjadi. Dadaku semakin bergemuruh
saat pesan lain masuk lagi.
68 | C J K P | N o v e l
"Ais, jika kau tak sempat bertemu denganku di luar.
Aku saja yang akan ke rumahmu! Aku tahu di mana
alamatmu."
Aduh, Zuno makin berani. Semakin takut aku dengan
pesan yang dikirim oleh Zuno. Akankah semua harus berakhir
dengan buruk. Pikiran itu melintas dalam otakku. Bagaimana
kalau Zuno nekat melakukannya, jika aku tak memberikan
kesempatan kepadanya untuk bertemu. Bagaimana nasib
rumah tanggaku nantinya. Jika Zuno tetap tak peduli dengan
semua itu. Bayangan ketakutan hinggap dalam pikiranku. Apa
yang akan ia lakukan jika itu terjadi. Aku larut dengan
bayangan ketakutan Zuno dan Mas Wily.
"Ais, tolong dijawab pesanku. Apa aku harus ke
tempatmu, agar aku bisa bertemu denganmu!" pesannya yang
tegas semakin membuatku ketakutan.
"Ma, ada apa?" tiba-tiba Syaiful mengkhawatirkanku
karena wajahku yang tidak seperti biasanya. Ada pertanyaan
besar dalam pikirannya saat ekspresiku datar melihatnya
tanpa menjawab pertanyaannya.
"Dek, hari ini, Mas pulang. Jika sekuntum bunga sudah
layu, akan kemana kumbang ingin hinggap. Jika sebuah
pelabuhan menjadi tempat singgahnya berbagai kapal,
siapakah satu sang pemilik dermaga? Hidup memang tak
seindah ekspektasi tetapi tak seburuk dalam pikiran.”
Aneh, mengapa Mas Wily menyelipkan kalimat itu
dalam pesannya. Baru kali ini dia menuliskan kata-kata yang
puitis. Pesan yang dituliskan darinya terselipkan makna yang
dalam dan sebuah sindiran. Jantungku semakin berdegup
kencang, sementara pikiranku pun tak mampu menopang
semua kata yang masuk bersamaan. Kenapa Tuhan mengujiku
dalam satu waktu yang bersamaan. Duh Allah, ini kesalahanku
69 | C J K P | N o v e l
yang kubangun sendiri dalam puing-puing kehampaan, di saat
itu ternyata aku lengah dan terbuai dengan tatapan indah di
mata. Saat itulah aku terhempas karena kekosongan jiwa. Apa
yang harus kulakukan saat ini. Apa yang harus kusampaikan
dan jelaskan kepada Mas Wily bahwa aku masih tetap sayang
padanya.
Ponselku berdering kembali. Beberapa panggilan tidak
terjawab. Aku masih disibukkan dengan pikiranku yang larut
dengan masalah. Kulihat panggilan dari Zuno. Apa aku harus
menegaskan dengannya untuk tidak menggangguku lagi.
"Ais, sampai kapan kau diam tak membalas pesanku.
Apa aku harus datang ke rumahmu agar aku bisa bertemu
denganmu? Jangan kau biarkan aku bermain dengan
perasaanku sendiri. Jika tetap juga kau tak membalas, jangan
salahkan aku jika suatu saat aku datang ke rumahmu hanya
untuk bertemu dan berbicara denganmu!"
Pesan tegasnya semakin membuat hatiku takut. Ingin
kulepaskan semua rantai yang membelenggu pikiranku.
Kemana aku harus menemukan kunci yang tepat agar semua
belenggu ini bisa kulepaskan dengan baik tanpa melukai dan
merusak bangunan yang sudah ada.
70 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Delapan belas
My Time
“Ini adalah perintah dari Allah Ta‟ala kepada hamba-hamba-
Nya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan
mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka
janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal
yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah
pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu
Katsir, 6/41)"
Hatiku untuk kesekian kalinya kembali disentil oleh
Allah ketika pagi ini aku duduk di depan TV. Sepertinya Allah
ingin aku sadar bahwa apa yang aku lakukan adalah sebuah
kesalahan yang besar. Tausyah seorang ustadzah terkenal
menyampaikan dengan tegas dan tajam langsung menghujam
hatiku sebagai manusia yang bersalah.
"Bapak dan Ibu. Menundukkan pandangan mata
merupakan dasar dan sarana untuk menjaga kemaluan. Oleh
karena itu, dalam ayat ini Allah Ta‟ala terlebih dulu
menyebutkan perintah untuk menahan pandangan mata dari
pada perintah untuk menjaga kemaluan. Jika seseorang
mengumbar pandangan matanya, maka dia telah mengumbar
syahwat hatinya. Sehingga mata pun bisa berbuat durhaka
karena memandang, dan itulah zina mata," penyampaian yang
detail dan tegas dari ustadzah.
Mendengar tausyah tersebut ada rasa malu dan
menghinggap perasaanku. Kesalahanku memang berawal dari
pandangan yang tak terjaga. Padahal menundukkan
71 | C J K P | N o v e l
pandangan adalah suatu syarat dan cara Allah menjaga
seorang hamba agar setiap diri mampu menahan syahwatnya.
Airmataku pun tiba-tiba mengalir, sadar akan kesalahan yang
aku lakukan. Namun semua sudah terjadi. Hari ini aku harus
mampu melewati dan memperbaiki kesalahan yang sudah
kulakukan. Apapun resikonya aku harus terima segala
konsekuensinya.
Tidak berapa lama ponselku pun berbunyi. Kulihat
ternyata pesan dari Zuno.
"Lagi apa Ais? Ntar siang aku ke rumah ya. Mumpung
lagi libur. Aku hanya ingin bertemu saja dan komunikasi
denganmu. Tidak lebih!” pesannya.
Kali ini tanganku pun segera membalasnya.
"Maaf Zuno. Kita akhiri saja hubungan terlarang ini
mulai dari sekarang. Aku ingin fokus pada anak dan suamiku.
Maafkan aku jika melukai hatimu. Bukan maksudku merusak
suasana hatimu, tetapi aku sadar apa yang aku lakukan
selama ini salah dan akan merusak semuanya. Aku sudah
memiliki anak-anak dari Mas Wily dan ini harus aku jaga.
Maafkan aku karena sudah membuat hubungan yang salah.
Cukup sampai di sini saja komunikasi kita Zuno. Terima kasih!
Assalamu'alaikum wr wb."
"Ais, semudah itu kau lepaskan dan pergi
meninggalkan luka di hatiku. Aku tidak pernah menyakitimu
apalagi membuatmu menangis. Aku selalu menjadi pendengar
terbaikmu setiap kali kau punya masalah dengan suamimu.
Aku tidak bisa terima keputusanmu Ais, setelah kau buka
lembaran kisah denganku. Aku tidak menginginkan materi
apapun darimu kecuali hatimu. Aku terlanjur mencintaimu Ais.
Jangan kau anggap aku hanya pelabuhan sesaat dan pelarian
72 | C J K P | N o v e l
di saat kau dalam kehampaan, tetapi ketika semua kondisimu
sudah pulih kau campakkan aku dengan begitu mudahnya."
Balasan Zuno mengusik pikiranku. Aku memang
bersalah dan itu kuakui. Namun saat ini aku sadar bahwa
tindakanku adalah salah. Aku tidak ingin kesalahan ini terus
kulakukan dan akan semakin besar. Cukuplah sampai di sini,
tidak akan aku biarkan lebih dalam lagi kesalahanku.
"Zun, jangan ganggu lagi kehidupanku. Kau bisa
mencari wanita yang terbaik dalam hidupmu. Wanita yang
benar-benar masih sendiri bukan seperti aku yang sudah
memiliki suami dan anak!. Lupakan aku detik ini sampai
seterusnya. Kau patut mendapatkan wanita peduli denganmu.
Assalamu'alaikum wr wb."
"Ma, ada apa? Kok sedih gitu. Apa ada yang salah
dengan Viola?" tanya anakku saat melihat ekspresi wajahku
menyambutnya. Memang akhir-akhir ini pikiranku lagi kacau
dan tak bersahabat. Tetapi semua harus aku jalani dengan
semangat. Aku pun tidak bisa menolak sesuatu yang hadir
akibat perbuatanku. Aku harus siap atas semua yang terjadi
batinku mengatakannya.
"Gak apa-apa Nak. Ntar sore kita jalan ya ke taman.,
sambil wisata kuliner nanti kita, ya."
"Siap Ma, Viola tunggu. Jangan lupa Mama ajak juga
nenek. Sudah kangen juga dengan nenek," ucap anakku.
"Insya Allah, kita akan jemput nenek dulu, kemudian
baru kita jalan dan kuliner bersama nenek."
73 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Sembilan belas
Nasihat Ibu
"Ais, apa yang kau pikirkan sekarang. Ibu lihat ada
beban yang saat ini kau derita. Ada apa sebenarnya? Ceritalah
dengan Ibu," ucap ibuku karena waktu dalam perjalanan aku
lebih banyak diam.
"Nggak ada apa-apa Bu. Ais hanya lelah saja beberapa
hari ini sibuk dengan kegiatan yang tidak bisa Ais tinggal,"
jawabku menjelaskan agar ibu tidak berpikir macam-macam
denganku. Akan tetapi justru pandangan ibu terhadapku
justru penuh tanda tanya.
"Ibu sangat paham betul dengan sifatmu Ais. Sekalipun
kau sembunyikan masalahmu dari Ibu, Ibu tahu."
Aku hanya bisa memandang ibu dengan lirih.
"Kau masih ingat saat ada masalah dengan pacarmu
Andi, waktu kuliah dulu. Kau simpan rapat semua masalah
tersebut. Tetapi Ibu tahu karena sifatmu tidak bisa kau
sembunyikan. Ibu adalah ibumu, yang mengandungmu,
melahirkan, dan membesarkanmu Ais, jadi ibu sangat tahu
dengan sifatmu."
Ibu masih terus ngomong, sementara aku hanya bisa
tertunduk.
"Ceritalah Nak, jangan kau sembunyikan. Apa ada
masalah dengan Mas Wily?" Ibu langsung menembakku. Aku
pun kaget, ternyata benar hati seorang ibu sangat peka apa
yang dirasakan anak-anaknya.
Aku hanya bisa tertunduk dan diam. Tiba-tiba ibu
mengelus kepalaku dengan lembut.
74 | C J K P | N o v e l
"Ais, ada apa Nak? Masalah tidak baik dipendam terus,
justru akan merusak suasana hati dan menguras energimu.
Bahkan akan menjadi bom yang akan menghancurkan
semuanya."
"Bu... ."
Airmataku mengalir, aku terisak saat belaian tangan
lembut ibu mengelus kepalaku. Ibu memandangku dengan
kasih sayang dan matanya yang teduh tidak bisa menolakku
untuk memendam masalah yang aku rasakan. Bersyukur
anak-anak lagi sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Kupandangi gelombang air laut yang berkejar-kejaran. Angin
pantai yang menyapa setiap yang ada di dekatnya. Lambaian
daun kelapa menyiratkan ketenangan, tetapi kali ini tidak
dengan perasaanku. Pikiranku seakan berlari, ingin
melepaskan semua yang kurasakan. Airmataku akhirnya
tumpah di pelukan dan dekapan ibu.
"Iya Bu, saat ini Ais ada masalah dengan Mas Wily. Ais
yang salah Bu, karena sudah membuka hati dengan yang lain
di saat kesendirian dan kehampaan yang Ais rasakan sedang
menghimpit."
Ibu akhirnya memutar badanku agar ia bisa melihat
wajahku. Airmataku diusapkan ibu dengan lembut. Sorot mata
ibu yang begitu teduh akhirnya terlihat lebih tegas di mataku.
Ia pandangi wajahku dengan sorot mata yang tajam.
"Nak, sudah berapa lama kejadiannya? Apa Wily belum
tahu?."
"Sudah hampir 1 tahun Bu. Saat ini Mas Wily hanya
curiga karena ada sms yang salah kirim dariku, terkait nama
Zuno yang kukirimkan. Aku belum bisa menjelaskannya, dan
75 | C J K P | N o v e l
akan aku jelaskan kepadanya ibu sampai ia balik ke rumah.
Aku ingin dia fokus dulu dengan kerjaannya."
"Astagfirullah Ais, kenapa ini bisa terjadi? Kepercayaan
seorang suami dan ketaatan seorang istri adalah hal yang
wajib kau jaga dengan baik. Kepatuhan dan kehormatan
seorang istri tetap dijaga sekalipun suamimu tidak di tempat.
Begitu mulia Allah tinggikan derajat seorang wanita, ketika ia
mampu menjaga kehormatan diri serta kepercayaan suami
untuknya. Istri pun harus meminta izin setiap keluar rumah
kepada suaminya. Begitulah Islam mengatur bagaimana
seorang istri terhadap suami."
Mata ibuku semakin tajam dan sikap tegasnya tak
mampu untuk aku melihat matanya.
"Iya Bu, aku benar-benar salah dengan yang
kulakukan. Aku menyesal Bu atas sikap yang kulakukan. Aku
akan terbuka dengannya Bu dan meminta maaf atas
kesalahan dan khilafku. Namun, aku takut Bu jika Mas Wily
nanti menceraikanku,” kuusap airmataku atas penyesalan.
"Hus, ngomong apa kamu Ais. Ini sebagai
tanggungjawabmu, jadi kau memang harus meminta maaf
dan tidak melakukan kesalahan lagi," Ibu memegang
tanganku untuk menguatkan.
"Iya Bu, tetapi aku tetaplah takut."
"Apapun reaksi suamimu itu sangat wajar. Kau pun
harus siap menerimanya. Pandai bemain api maka harus bisa
terima saat terbakar."
Kupeluk ibu dengan erat untuk mendapat ketenangan
dan kekuatan.
"Ibu mendidikmu bagaimana menjadi seorang istri
yang baik dalam menjaga kehormatan diri dan kehormatan
suamimu. Tugas seorang istri tidak hanya mempersiapkan
76 | C J K P | N o v e l
segala kebutuhannya tetapi juga menaati dan patuh
kepadanya selama ia tidak mengarahkanmu kepada
keburukan dan mengabaikan perintah Allah. Maka seorang
istri harus patuh padanya," tegas ibu lagi.
"Maafkan anakmu ibu." Ku pegang erat tangan ibuku
dan mencium tangannya.
"Ya sudah, nanti kau harus berani mengakuinya
kepada suamimu. Apapun resikonya itulah sebagai wujud
bahwa kau bersalah. Ibu yakin ia bisa terima dengan
pengakuanmu."
"Terima kasih Bu."
"Ayok kita makan lagi, sudah lapar. Panggil anak-
anakmu agar kita makan bersama.
77 | C J K P | N o v e l
Bagian ke Dua puluh
Surat Terakhir
"Dek, hari ini Mas selesai acara. Tunggu Mas di rumah
ya."
Tidak terasa, ternyata sudah satu minggu Mas Wily
berada di luar negeri. Alhamdullillah, hari ini dia balik. Meski
ada rasa yang berbeda dengan kepulangan Mas Wily kali ini.
Karena aku harus menjelaskannya semua dan meminta maaf
kepadanya. Aku pun langsung membalas pesannya.
"Iya Mas. insya Allah Ais akan menunggu Mas di
rumah."
Pesan berikutnya pun masuk lagi dari Mas Wily.
"Kabar anak kita bagaimana? Dijaga dengan baik ya
Dek. Mas kangen dengan mereka. Ibu ajak juga ke rumah
kita, karena Mas ada sesuatu untuk ibu."
"Mereka alhamdullillah baik Mas. Selalu kujaga pesan
Mas dengan baik," balasku lagi.
Walaupun hatiku ada rasa takut akan pertanyaan
nantinya tentang Zuno. Tetapi aku sudah bertekad untuk
berterus terang dan meminta maaf padanya.
"Bu, Mas Wily sore ini balik dari luar negeri. Ia
berharap juga Ibu bisa berada di rumah kami, malam ini," aku
menyampaikan pesan Mas Wily.
"Tumben Ibu diajak ke rumah juga. Apa ada oleh-oleh
buat Ibu?" canda ibuku.
***
78 | C J K P | N o v e l
"Ais, ponselmu berdering. Sudah tiga kali panggilan tak
terjawab," kata Ibu.
"Angkat saja Bu. Ais masih di dalam kamar mandi mau
bersih-bersih dulu. Bilang aja Ais lagi di kamar mandi."
teriakku dari dalam kamar mandi.
Ponsel Ais pun berdering kembali. Kali ini ibu pun
mengangkat ponsel Ais. Di layar tertulis Mas Wily.
"Assalamu'alaikum wr wb... Wil... Ais lagi mandi," ucap
ibu menjelaskan.
"Maaf, ini no hp Mbak Ais? Saya dari pihak rumah
sakit. Beliau sedang terbaring di rumah sakit. Mohon
sampaikan pesan ini kepada Mbak Ais."
"Iya, saya ibunya Ais, mertuanya Wily."
Telpon pun langsung diputus. Belum sempat ibu
bertanya apa yang terjadi dengan Wily.
"Ais, cepat kamu selesaikan mandi segera!”
"Ia Bu, telepon dari siapa tadi Bu?" tanyaku penasaran.
Lama kudapatkan jawaban dari ibu.
"Kamu segera selesaikan mandi Ais. Cepat!"
"Iya Bu, ada apa Bu, sepertinya ada sesuatu. Memang
telepon dari siapa tadi Bu?" kutanya kembali karena
penasaran.
Ternyata tidak ada jawaban dari ibu. Aku pun bergegas
menyelesaikan mandiku karena ada perasaan yang
mengganjal dengan perintah ibu. Ketika kukeluar dari kamar
mandi. Kulihat ibu sudah berderai airmata, wajah kecemasan
terlihat dari raut wajahnya. Kuhampiri dirinya.
"Bu, ada apa, siapa yang telepon tadi?" aku
mengguncang bahu Ibu yang sedang menangis.
79 | C J K P | N o v e l
"Tadi pihak rumah sakit telepon. Ia mengatakan bahwa
Wily sedang terbaring di sana. Namun ibu belum sempat
bertanya, apa yang terjadi dengan Wily telpon sudah
dimatikan."
Wajahku seketika pucat dan jantungku berdetak lebih
kencang. Aliran darahku berpacu seperti kecepatan nafasku
yang tak beraturan. Ada butiran bening yang mulai menetes
dari bola mataku.
"Ais, kamu segera berpakaian dulu. Kemudian telepon
nomor suamimu. Tanyakan dengan jelas apa yang terjadi."
Ibuku mencoba menenangkan suasana. Aku pun
langsung masuk ke kamar dan mempersiapkan pakaian yang
akan kupakai. Langsung kuambil telepon untuk menghubungi
Mas Wily. Tanganku gemetar saat menekan tombol keypad
untuk mencari nama suamiku di phonebook. Kucoba
tenangkan diri, meskipun jantung dan getaran dari tubuhku
belum mampu untuk kukondisikan. Justru yang ada airmataku
langsung mengalir dan pikiran burukku pun berkelana.
Panggilan ke nomor suamiku pun masuk.
"Assalamu'alaikum, apa yang terjadi dengan suamiku?"
Aku langsung menanyakan kondisi suamiku. Kudengar
seorang laki-laki mengangkat telpon suamiku.
"Wa'alaikumsalam, iya Bu. Saya Andri, perawat yang
menangani kondisi suami Ibu. Suami Ibu dalam keadaan tidak
sadarkan diri," Ia menjelaskan.
"Terus, sekarang suami saya dirawat di mana? Apa
yang terjadi dengan suami saya?"
Airmataku langsung tumpah saat informasi yang
kudapatkan benar-benar buruk.
"Saya belum bisa menjelaskan. Ibu langsung saja
datang ke UGD RSUD Arifin Ahmad."
80 | C J K P | N o v e l
"Baik Pak, terima kasih atas informasinya." ujarku
mengakhiri pembicaraan.
"Apa yang terjadi dengan Wily, Ais?" Ibuku juga
menanyakan kondisi Mas Wily.
"Aku belum tahu Bu. Hanya informasi bahwa Mas Wily
sedang terbaring di RSUD dalam keadaan tidak sadarkan diri."
Sambil kupersiapkan segala kebutuhan selama di RSUD sebisa
yang kumampu.
“Bu, anak-anak di mana? Mohon, Ibu ajak anak-anak
juga segera ikut ke rumah sakit," pintaku.
"Iya Ais."
Ibuku segera mencari anak-anak yang sibuk masih
bermain di luar.
"Viola, Syaiful, ayo beres-beres. Kita harus ke rumah
sakit sekarang melihat ayahmu."
"Ayah kenapa Nek?" tanya Viola.
"Nenek belum tahu apa yang terjadi, makanya kita
segera menyusul.
Setelah semua merasa beres. Aku pun bergegas
mengambil kunci mobil.
"Yuks Bu, Viola, Syaiful, kita harus cepat sampai ke
rumah sakit."
Sementara Sheila sudah ada dalam gendonganku.
Perjalanan dari rumah menuju RSUD Arifin Ahmad hanya
sekitar empat puluh lima menit jika kondisi jalan tidak macet.
Namun jika macet bisa memakan waktu satu jam. Segera
kubawa mobil dengan kecepatan tinggi berharap bisa segera
bertemu dengan Mas Wily.
"Ais, yang pelan saja bawa mobilnya. Jangan sampai
terburu-buru malah nanti kita juga celaka," Ibu mengingatkan.
81 | C J K P | N o v e l
"Iya Bu, Ais tidak tahu lagi bagaimana Bu."
Airmataku mengalir dan tak tertahan lagi. Aku tak bisa
menutupi kesalahan terhadap Mas Wily. Ketakutan dan
kekhawatiran tiba-tiba muncul dalam pikiranku kenapa-kenapa
dengan Mas Wily. Pikiranku semakin terbayang, kalau Mas
Wily pergi, aku harus bagaimana lagi. Aku belum sempat
meminta maaf padanya. Semua pikiran buruk bermain dalam
otakku. Ya Allah, jangan kau ambil nyawa suamiku disaat aku
masih belum mampu membahagiakannya dan menjadi istri
yang baik untuknya. Mataku berkaca-kaca, pikiranku
menerawang jauh.
"Ais, sabar dan istigfar. Wily, insya allah baik-baik saja.
Jangan sampai pikiranmu justru juga membuat kita semua di
dalam kecelakaan." Ibuku segera menggenggam tanganku
menguatkanku.
"Percayalah, Wily akan baik-baik saja."
Perjalananku hanya diliputi kabut duka nestapa dan
uraian airmata yang tidak tahu bagaimana kondisi Mas Wily
saat ini. Panggilan teleponku tidak diangkat oleh siapapun.
Kondisi ini semakin membuatku panik.
"Ais, kamu harus percaya pada Allah bahwa semua
akan baik-baik saja."
Tit... titt... tiitttt... klakson kendaraan kubunyikan
terus. Melihat jalan yang semakin padat dengan arus
kendaraan. Aku tidak sabar ingin segera sampai ke RSUD.
Namun perjalananku harus terganggu diakibatkan macet di
ruas jalan tertentu karena adanya perbaikan jalan. Aku pun
tak mungkin menyelip jalan yang memang menyempit. Hatiku
terasa dongkol melihat situasi yang saat ini kualami.
82 | C J K P | N o v e l
"Ais, kamu sabar Nak. Marah pun kamu tak akan bisa
mengubah kondisi jalan saat ini."
Setelah tertahan lebih kurang dua puluh menit-an,
akhirnya perjalananku baru bisa kumulai lagi. Pikiranku masih
dibayangi rasa takut dan cemas yang tinggi. Sepanjang
perjalanan pikiran dan hatiku kacau. Semua tertuju dan
mengingat Mas Wily bagaimana kondisinya.
Kami pun akhirnya sampai ke RSUD lebih kurang satu
jam perjalanan karena kondisi jalan ada beberapa ruas jalan
yang mengalami kemacetan. Langsung kuparkirkan mobil di
parkiran RSUD. Parkiran pun nampak padat, sampai dua kali
putaran kumencari parkiran yang kosong.
Aku pun bergegas membuka pintu mobil setelah mobil
kurasa sudah pas dan aman parkirnya.
"Bu, Viola, dan Syaiful, bawa seperlunya saja yang ada
dulu," ujarku menyampaikan pada ibu dan anak-anakku.
Sheila pun segera kugendong agar cepat bisa melihat kondisi
Mas Wily.
Aku, ibu, dan anak-anakku bergegas menuju UGD
seperti yang disampaikan oleh pihak rumah sakit tersebut.
Sampai di UGD aku pun langsung mempertanyakan kondisi
suamiku.
"Dok, bagaimana kondisi suamiku?" aku tidak sabar
menanyakan dan melihat Mas Wily.
"Ibu, keluarga dari siapa?" tanya salah satu perawat
yang ada di ruangan tersebut.
"Saya istri dari Wily. Tadi dari pihak RS sudah ada
telepon saya," kujelaskan semua.
"Ooo, Ibu Ais ya?" tenaga medis meyakinkan kembali.
"Iya Dok."
83 | C J K P | N o v e l
Kusapu airmataku yang mengalir. "Apa yang terjadi
Dok dengan suamiku?"
"Suami Ibu kecelakaan. Saat mobil yang
ditumpanginya mengelakkan penyeberang jalan kaki. Mobilnya
menghantam salah satu tiang listrik yang ada di lokasi
tersebut. Kondisinya saat ini kritis dan tidak sadarkan diri.
Kalau pun selamat kondisinya tidak bisa pulih seperti biasa.
Tulang kaki dan matanya yang kondisinya sangat parah serta
pendarahan di kepala. Kalau pun selamat hanya mukzizat
Allah saja yang mampu menyelamatkannya.” ujar dokter
menjelaskan.
Airmataku tak terbendung, mengalir dengan deras.
Semakin perasaan takut itu menyergapku. Tiba-tiba kepalaku
pun berkunang-kunang. Akhirnya aku pun tak tahu lagi apa
yang terjadi.
Semua tanggung jawab akhirnya ibu yang mengambil
alih bersama kakakku laki-laki, yang sebelumnya sudah ibu
telepon untuk membantuku.
Mas Wily nyawanya tidak terselamatkan lagi. Karena
mengalami pendarahan hebat. Untung tak dapat diraih,
malang tak dapat ditolak. Allah tahu apa yang terbaik untuk
ummat-Nya, begitu juga dengan Mas Mily dan aku. Ingin aku
menjerit agar Mas Wily kembali. Ingin juga aku memeluk dan
bersujud di kakinya untuk mohon ampunan atas dosa yang
pernah kulakukan. Kepedihanku makin menjadi karena saat
Mas Wily dikebumikan aku tidak bisa mengantarkannya.
Keluarga tidak mengizinkan karena kondisi tubuhku yang
lemah. Hanya air mata dan penyesalan yang menghantuiku.
Beberapa hari setelah berpulangnya Mas Wily, aku
memeriksa barang-barangnya yang diserahkan oleh polisi.
Semua masih lengkap. Di antara barang-barang tersebut, ada
84 | C J K P | N o v e l
dompet milik Mas Wily. Dalam dompet itu, bukan hanya uang
tetapi terselip sebuah amplop. Saat kubaca tertera dengan
jelas namaku di sana.
My Dear 'Dek Ais'
Di-
Bumi Allah
Sedangkan pada bagian belakang bertulis Ur Lovely „Mas Wily‟
Tak sabar kubuka segera amplop tersebut. Nampak
sepucuk kertas berwarna pink dengan tulisan tangan yang
sangat rapi
My Dear "Dek Ais"
di-
Bumi Allah
Apa kabar sayangku? Aku berharap saat kau membuka dan
menerima surat ini, sayang dalam keadaan sehat dan kuat.
Aku tidak pernah meragukan cinta dan ketulusanmu saat
kujadikan kau sebagai istriku satu-satunya.
Dari awal, cintaku padamu tidak pernah surut meskipun waktu
terus berlalu dan fisik kita semakin menua. Namun rasa di
hatiku tidak sekalipun pudar tehadapmu kekasih hatiku. Aku
sadar, aku bukanlah lelaki yang sempurna dalam hidupmu,
tetapi aku selalu memosisikan dirimu sebagai orang yang
teristimewa di hatiku.
85 | C J K P | N o v e l
Aku selalu berupaya menjauhkan pikiran dan hatiku dari
segala godaan yang setiap saat datang menghampiri. Azamku
sudah kukuatkan bahwa kaulah pilihan terbaik yang Allah
hadirkan bukan yang lain. Kehadiranmu dan buah hati kita
menanamkan benih cinta di hatiku semakin bersemi.
Ais yang terkasih,
Di setiap tatapanmu membuat keteduhan di hatiku. Di setiap
senyumanmu menguatkanku, bahwa aku beruntung
mendapatkanmu. Kau hadir di saat Tuhan sedang menyapaku
dengan cinta. Aku yakin dari awal kehadiranmu bukanlah
kebetulan tetapi Tuhan sudah mempersiapkan keindahan
untukku bisa mengarungi kehidupan bersamamu dengan
cinta. Tidak perlu lagi kau pertanyakan dan ragukan
bagaimana rasa cintaku padamu. Seorang lelaki terkadang
tidak mengungkapkan dengan keromantisan seperti yang
ditayangkan dalam film atau sinetron. Cintanya seorang suami
terkadang tidak ditunjukkannya dengan keromantisan di
medsos ataupun kata-kata pujangga, agar semua telinga
mendengar dan setiap mata bisa melihat romantisme yang
kita buat. Sekali pun tidak sayangku.
Laki-laki termasuk suamimu bukanlah tipe laki-laki yang
romantis. Aku tidak pernah membuat kata-kata puitis untukmu
tetapi bukan berarti aku tidak cinta dan sayang padamu.
Cintaku tidak ditunjukkan pada setiap kata puitis yang biasa
diucapkan oleh banyak lelaki. Hidupku bukanlah sebuah roman
picisan.
86 | C J K P | N o v e l
Sayangku Ais,
Aku tahu, saat ini kau merasa sepi dan hampa di saat
kesibukanku menguras energi. Intensitas pertemuan kita yang
semakin berkurang bahkan sangat berkurang. Komunikasi kita
yang semakin terbatas dan kebersamaan kita yang semakin
tawar. Percayalah padaku. Di setiap pikiranku tidak pernah
terlintas sekalipun untuk menduakanmu. Tetap kaulah
terindah dan terbaik dalam hidupku. Hanya saja kita diuji
dengan aktivitas kita yang tinggi sehingga mengurangi kadar
kebersaan kita. Tetapi bukan berarti Mas mengabaikan hatimu
sedikit pun.
Sayangku Ais,
Ketika Mas menuliskan surat ini, Mas sudah bersihkan hati
sepenuhnya. Semua kesalahanmu sudah mas maafkan. Tidak
sedikitpun Mas menginginkan ada kata penghianatan dalam
mahligai cinta yang kita bangun. Tetapi Mas menyadari bahwa
emas tidak akan bernilai jika tidak diproses dengan benar.
Begitu juga cinta yang kita bangun akan bernilai ibadah
dengan baik, ketika kita mampu menjalani dan menempatkan
serta menjaga kepercayaan di masing-masing kita.
Kualitas emas akan lebih tinggi lagi ketika ia sudah melalui
berbagai proses yang sulit. Makanya Mas menyadari ketika
ada nama seorang Zuno, hati mas berdesir dan darah Mas
mendidih. Begitulah laki-laki ketika ada sesuatu hal yang
merusak ia akan cepat bereaksi. Tetapi Mas mencoba
menyikapi dan memposisikan hati mas dengan sabar sampai
Mas bisa dan tahu bahwa inilah ujian untuk menjadi emas
87 | C J K P | N o v e l
bernilai. Tetapi bukan Mas membiarkan keburukan itu terus
berkembang.
Sayangku Ais,
Mas yakin, kau pasti sudah tahu dan sudah memutuskan
bersikap seperti apa dengan kondisi tersebut. Karena Adek
orang yang cerdas dan tahu harus berbuat apa. Mas tidak
perlu menjelaskan dengan panjang, semua sudah Mas
yakinkan bahwa Adek mampu bersikap. Maafkan Mas jika
selama ini membuatmu menderita dengan kehidupan mas
yang terbatas. Tidak ada sama sekali keinginan membuatmu
bersama Mas, harus melalui jalan yang pahit. Tetapi inilah
takdir Tuhan yang harus Mas jalani dengan sabar dan terus
berupaya menjemput rezkinya sampai akhirnya Tuhan pun
membuka tangannya untuk kita.
Sayangku Ais,
Malam ini rasanya apa yang Mas tulis sudah ke mana-mana.
Rasa kantuk sudah hinggap dalam diri Mas. Mas ingin segera
pulang bertemu dengan permaisuri Mas dan anak-anak Mas
yang hebat, di bawah sentuhan bidadari terindah yang Allah
hadirkan untuk Mas.
Maafkan Mas ya saying, Mas mau pergi dulu. Sampai bertemu
lagi di tempat yang Tuhan janjikan untuk kita.
Yang mencintaimu,
Mas Wily.
88 | C J K P | N o v e l
Airmataku tak mampu kubendung lagi. Uraian airmata dan
perihnya hati kurasakan. Sakit ini harus kuterima. Rasa
bersalah ini pun harus bersamaku. Kucium surat berwarna
pink sebagai kata-kata terakhir Mas Wily untukku. Sampai
surat yang kupegang basah dengan airmataku. Hatiku perih
dan tercabik-cabik. Rasa bersalah menghimpit perasaaanku.
Andaikan saja aku bisa menyusulmu dengan cepat, mungkin
itu pilihan yang terbaik yang akan aku lakukan.
Kulipat surat yang penuh dengan linangan airmata
yang sudah basah. Kurapikan kertas ini sebagai kata-kata
terakhir dari Mas Wily. Kucium kertas tersebut dengan
perasaan bersalah. Kuucapkan dengan lirih. "Mas, maafkan
aku, aku mencintaimu.”
---TAMAT---
89 | C J K P | N o v e l