ANALISIS BUKU BANDUNG AWAL REVOLUSI 1945-1946 Nama: Abdul Aziz Kelas: 2A Jurusan: Pendidikan Sejarah PENDAHULUAN Alsan memilih buku Menyediakan Informasi Mendalam adalah alasan saya memilih buku ini menawarkan wawasan yang mendalam tentang peristiwa penting yang terjadi di Bandung pada awal periode Revolusi Indonesia antara tahun 1945 dan 1946. Pembaca akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang latar belakang sejarah, peristiwa penting, dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di Bandung. PEMBAHASAN Resensi Buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan dengan ejaan lama yang sudah diganti dengang ejaan yang telah disempurnakan agar mempermudah bagi pembacanya. Sebagian besar data dalam buku ini merupakan penelitian hasil wawancara dan penelitian di lapangan yang dilakukan di Bandung Selatan tahun 1959-1961. Buku ini terdiri 6 bab. Inti dari buku ini ada pada bab III sampai dengan bab VI, sedangkan bab I dan II berisi cerita kehidupan Kota Bandung dan Jakarta pada masa Kolonial Belanda dan Pendudukan Jepang. Judul Bandung Awal Revolusi mengundang keingintahuan pembaca untuk mengetahui apa isi buku tersebut. Buku ini fokus mengambil Bandung sebagai lokus peristiwa. Dengan membaca buku ini kita dapat pemahaman kembali mengenai peristiwa sosial yang berkecamuk pada masa revolusi itu. Peristiwa itu tentu tidak muncul serta merta, melainkan keberlanjutan dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Akumulasi kekecewaan masyarakat atas tekanan sosial yang demikian kuat. Keresahan sosial yang timbul akibat tekanan Kolonial Belanda secara alamiah mendorong munculnya gerakan sosial. Kondisi ini semakin meningkat selama periode Pendudukan Jepang yang menjadikan masyarakat pribumi semakin terperosok ke kubangan penderitaan dan konfrontasi pergulatan identitas sebuah bangsa. Revolusi kemerdekaan yang terjadi di Kota Bandung berwujud pada konstruksi tersendiri yang hadir dalam keunikannya dari masa lalu. Melalui buku inilah kita bisa menemukan sepenggal aktualitasnya.
Metode historis Pengumpulan Sumber Primer: Metode ini melibatkan pengumpulan dokumen dan sumber- sumber langsung dari periode tersebut, seperti surat kabar, laporan pemerintah, pidato, memo, dan dokumen-dokumen resmi lainnya yang dikeluarkan pada saat itu. Sumber-sumber primer ini memberikan wawasan langsung tentang peristiwa-peristiwa dan pemikiran yang berkembang pada masa itu. Profile penulis John R.W. Smail menerima gelar B.A. dari Harvard University pada tahun 1951 dan M.A. pada tahun 1952, keduanya dalam bidang Sejarah Inggris. Ketertarikannya pada sejarah Indonesia muncul ketika ia mengelilingi Asia Tenggara dan India. Setelah kembali ke Amerika Serikat pada 1956, ia bergabung dalam program Southeast Asian Studies di Cornell University. Setelah menikah, ia dan istrinya melalukan penelitian lapangan selama dua tahun di Bandung. Setelah kembali dari Bandung, ia menjadi pengajar di Departemen Sejarah University of Wisconsin pada 1962 dan memperoleh gelar Ph.D. dari Cornell University pada 1964. Di University of Wisconsin ia mendirikan program sejarah Asia Tenggara, Center for Southeast Asian Studies, dan Comparative Tropical History Program. Informasi singkat buku Buku Bandung Awal Revolusi 1945 – 1946 ini memuat kejadian-kejadian di dalam dan sekitar Kota Bandung, Jawa Barat, selama tujuh atau delapan bulan pertama Revolusi Indonesia, sebuah periode historis yang dimulai dari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 hingga evakuasi dan penghancuran sebagian Kota Bandung oleh orang-orang Indonesia pada malam 24 Maret 1946. Revolusi nasional yang membuat Indonesia memperoleh kemerdekaannya dari Belanda diikuti dengan serangkaian langkah berkelanjutan yang dimulai sejak proklamasi kemerdekaan pada 1945 hingga transfer kedaulatan di akhir 1949, yaitu dua perjanjian politik pada 1946 dan 1948 dan dua sisi aksi militer besar pada 1947 dan 1948-1949. Meskipun demikian, revolusi sosial yang menggiringinya menjalani pola yang sangat berbeda. Hasil terpenting revolusi sosial diperoleh pada kurang lebih setengah tahun pertama setelah proklamasi kemerdekaan, yaitu periode yang diulas dalam buku ini. Periode ini merupakan masa yang penuh kekacauan dan bahkan anarki, baik di Bandung maupun di sebagian besar daerah Jawa dan Sumatera. Dalam kondisi seperti itu tatatanan masyarakat Hindia Belanda lama yang telah dimodifikasi oleh pemerintahan peralihan Jepang hancur dan pecahan-pecahannya mulai berubah menjadi tatanan baru Indonesia. GAYA PENULISAN Latar belakang Buku ini disebut sebagai karya klasik tentang Bandung. Sebagai penelitian pertama mengenai sejarah lokal dalam periode revolusi Indonesia, Smail mampu menguak peristiwa-peristiwa di
dalam dan sekitar Kota Bandung selama periode Agustus 1945-Maret 1946. Smail membeberkan cerita-cerita unik pada awal masa Revolusi di Bandung mulai dari rivalitas orang Sunda dan orang non-Sunda, “camat perjuangan” yang berambut panjang dan selalu berpakaian nyeleneh, hingga bungkusan-bungkusan dari daun yang dibawa berperang untuk menyimpan mayat-mayat prajurit Gorkha. Gerak sejarah Gerak sejarah Bandung pada awal Revolusi Indonesia, yang dimaksudkan di sini sebagai periode perjuangan kemerdekaan Indonesia dari tahun 1945 hingga 1946, melibatkan berbagai kegiatan politik, militer, dan sosial yang berperan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Berikut adalah beberapa gerakan sejarah yang terkait dengan Bandung pada awal Revolusi: 1. Konferensi Bandung: Pada tanggal 23 Maret 1946, diadakan Konferensi Bandung yang bertujuan untuk membahas upaya mempersatukan bangsa Indonesia dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. Konferensi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasionalis terkemuka seperti Soekarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir. 2. Peristiwa Rengasdengklok: Pada tanggal 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda yang tergabung dalam BPRI (Badan Permusyawaratan Rakyat Indonesia) melakukan rapat di Rengasdengklok, dekat Bandung. Mereka memutuskan untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia yang seharusnya diumumkan pada tanggal 17 Agustus. Akibatnya, Soekarno dan Hatta dibawa dari Jakarta ke Rengasdengklok dan diberikan ultimatum untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. 3. Pertempuran Bandung Lautan Api: Pada tanggal 24 Maret 1946, pasukan Belanda yang didukung oleh pesawat terbang melakukan serangan ke kota Bandung dengan intensitas bom yang tinggi. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Indonesia dengan pasukan Belanda di sekitar Bandung, yang menyebabkan kerugian besar di kedua belah pihak. 4. Operasi Lombok I dan II: Operasi Lombok I diluncurkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada bulan Februari 1949 untuk merebut kembali Bandung yang telah dikuasai oleh Belanda. Namun, operasi ini gagal. Operasi Lombok II dilakukan pada bulan Maret 1949, dan kali ini TNI berhasil merebut kembali Bandung dari pasukan Belanda. 5. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI): Setelah Belanda memproklamirkan Renville Agreement pada tanggal 17 Januari 1948, yang membagi Indonesia menjadi tiga wilayah, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, di Bandung didirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. Pemerintahan ini bertujuan untuk mengkoordinasikan perlawanan terhadap Belanda dan mempertahankan kemerdekaan. Inilah beberapa gerakan sejarah yang terkait dengan Bandung pada awal Revolusi Indonesia. Perjuangan dalam menghadapi penjajah Belanda di Bandung, baik secara politik maupun militer,
berperan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. KESIMPULAN Bandung memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kota ini menjadi pusat kegiatan politik, militer, dan sosial dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Konferensi Bandung pada tahun 1946 menjadi momen penting dalam menyatukan pemimpin nasionalis Indonesia dan merumuskan strategi untuk melawan Belanda. Konferensi ini menegaskan komitmen untuk mencapai kemerdekaan Indonesia secara keseluruhan. Peristiwa Rengasdengklok menunjukkan keberanian dan keberanian pemuda dalam mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tindakan ini memperlihatkan semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah. Pertempuran Bandung Lautan Api menjadi bukti nyata ketahanan dan semangat juang pasukan Indonesia dalam menghadapi serangan Belanda. Pertempuran ini juga memperlihatkan kerugian besar yang dialami di kedua belah pihak. Meskipun terjadi perlawanan dan upaya untuk merebut kembali Bandung, pada akhirnya Belanda berhasil menguasai kota ini setelah operasi militer yang intensif. Namun, semangat perlawanan tidak pernah padam, dan Bandung tetap menjadi pusat perjuangan dalam melawan penjajah. DAFTAR PUSTAKA https://www.pustaka-bpnbkalbar.org/pustaka/bandung-awal-revolusi-1945-%E2%80%93-1946 https://lib.ummetro.ac.id/index.php?p=show_detail&id=6440 https://www.goodreads.com/id/book/show/11511570 https://komunitasbambu.id/product/bandung-awal-revolusi-1945-1946/