hamil trimester I, keluhan ini biasanya akan timbul 6 minggu setelah hari
pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu
(Prawirohardjo, 2010).
Hampir 50% wanita hamil mengalami mual dan biasanya mual ini
mulai dialami sejak awal kehamilan. Mual muntah saat hamil muda sering
disebut morning sickness tetapi kenyataannya mual muntah ini dapat terjadi
setiap saat. Pada beberapa kasus dapat berlanjut sampai kehamilan trimester
kedua dan ketiga, tapi ini arang terjadi (Ratna, 2011).
2. Etiologi
Penyebab terjadinya emesis gravidarum sampai saat ini tidak dapat
diketahui secara pasti. Ada yang mengatakan bahwa perasaan mual
disebabkan oleh karena meningkatnya hormon estrogen dan HCG (Human
Chorionic Gonadotropin) dalam serum (Wiknjosastro, 2009). Kadar hormon
estrogen yang tinggi saat hamil, mungkin merupakan penyebabnya, wanita
yang hamil untuk pertama kalinya dan wanita yang bertubuh besar, memiliki
hormon estrogen yang bersirkulasi lebih tinggi dan cenderung mengalami
gangguan kehamilan. Dalam kehamilan terjadi relaksasi jaringan otot dalam
sistem pencernaan sehingga pencernaan menjadi kurang efisien, dan
kelebihan asam lambung. Akan tetapi, tidak semua ibu hamil mengalaminya
(Kusmiyati, Yuni, 2009). Pola makan calon ibu sebelum maupun pada
minggu-minggu awal kehamilan, serta gaya hidup juga berpengaruh terhadap
terjadinya emesis gravidarum ini. Studi membuktikan bahwa calon ibu yang
makan-makanan yang berprotein tinggi namun berkarbohidrat dan
mengandung Vitamin B6 berpeluang lebih rendah mengalami mual.
Keparahan mual pun berkaitan dengan gaya hidup calon ibu, kurang makan,
kurang tidur, atau istirahat dan stress dapat memperburuk rasa mual (Niven,
2013).
3. Tanda dan Gejala
Menurut Manuaba tahun 2012, tanda-tanda emesis gravidarum adalah :
a) Rasa mual, bahkan dapat sampai muntah
b) Mual dan muntah ini terjadi 1-2 kali sehari, biasanya terjadi dipagi hari
tetapi dapat pula terjadi setiap saat
c) Nafsu makan berkurang
d) Mudah lelah
e) Emosi yang cenderung tidak stabil.
4. Pengaruh Emesis Gravidarum pada Ibu
Keluhan mual dan muntah ini merupakan suatu yang normal, akan
tetapi dapat menjadi tidak normal apabila mual dan muntah ini terjadi terus-
menerus sehingga mengganggu keseimbangan gizi, cairan, dan elektrolit
tubuh.
Pengaruh emesis gravidarum bagi ibu adalah :
a) Mual dan muntah yang berlebihan menyebabkan cairan tubuh berkurang,
sehingga darah menjadi kental (hemokonsentrasi)
b) Sirkulasi darah ke jaringan terhambat, jika hal ini terjadi makan konsumsi
O2 dan makanan ke jaringan juga ikut berkurang. Kekurangan makanan
dan O2 ke jaringan akan menimbulkan keruskaan jaringan yang dapat
mempengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin yang dikandungnya
(Admin, 2010).
c) Lemas, apatis, kulit mulai jelek, lidah kotor dan kering
d) Dapat terkena dehidrasu sehingga akan menimbulkan gangguan pada
kehamilannya
e) Kekurangan cadangan karbohidrat dan lemak dalam tubuh, dapat pula
terjadi robekan kecil pada selaput lendir esofagus dan lambung atau
syndrome mallary weiss akibat perdarahan gastrointestinal (Wiknjosastro,
2009).
Menurut Yuni tahun 2009, tanda–tanda dehidrasi adalah :
a) Berat badan menurun
b) Denyut nadi meningkat (120x/menit dan terus naik)
c) Tekanan darah menurun (diastolik 50 mmHg dan terus turun)
d) Mata cekung
e) Elastisitas kulit menghilang
Apabila ditemukan tanda-tanda dehidrasi pada ibu hamil maka harus
segera mendapatkan pertolongan bidan atau tenaga kesehatan lainnya.
Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan
gejala yang fisiologi pada awal kehamilan muda dan akan hilang setelah
kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil tetapi sering (Kusmiyati, Yuni, 2009).
5. Patofisiologi
Peningkatan kadar progesteron, estrogen, dan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) dapat menjadi faktor pencetus mual dan muntah. Peningkatan
kadar hormon progesteron menyebabkan otot polos pada sistem
gastrointestinal mengalami relaksasi sehingga motilitas lambung menurun
dan pengosongan lambung melambat. Refluks esofagus, penurunan motilitas
lambung dan penurunan sekresi asam hidroklorid juga berkonstribusi
terhadap terjadinya mual dan muntah. Manifestasi klinis yang timbul apabila
emesis gravidarum ini tidak mendapatkan penanganan yang sesuai akan
menimbulkan hiperemesis gravidarum.
Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi pada hamil muda, bila
terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan
elektrolit disertai alkalosis hipokloremik, serta dapat mengakibatkan
cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi.
Oksidasi lemak yang tidak sempurna menyebabkan ketosis dengan
tertimbunnya asam asetoasetik, asam hidroksi buturik, dan aseton dalam
darah.
Kekurangan intake dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan
dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan
klorida dalam darah maupun dalam urine turun, selain itu dehidrasi
menyebabkan hemokonsentrasi sehingga menyebabkan aliran darah ke
jaringan berkurang. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan
bertambahnya ekskresi lewat ginjal berakibat frekuensi muntah bertambah
banyak, sehingga dapat merusak hati.
Keadaan dehidrasi dan intake yang kurang mengakibatkan penurunan
berat badan yang terjadi bervariasi tergantung durasi dan beratnya penyakit.
Pencernaan serta absorbsi karbohidrat dan nutrisi lain yang tidak adequat
mengakibatkan tubuh membakar lemak untuk mempertahankan panas dan
energi tubuh. Jika tidak ada karbohidrat maka lemak akan digunakan untuk
menghasilkan energi, akibatnya beberapa hasil pembakaran dari metabolisme
lemak terdapat dalam darah dan urine (terdapat atau kelebihan keton dalam
urine).
Pada beberapa kasus berat, perubahan yang terjadi berhubungan
dengan malnutrisi dan dehidrasi yang menyebabkan terdapatnya nonprotein
nitrogen, asam urat, urea, dan penurunan klorida dalam darah. Kekurangan
vitamin B1, B6, dan B12 mengakibatan terjadinya neuropati perifer dan
anemia, dan pada kasus berat kekurangan vitamin B1 dapat mengakibatkan
terjadinya wernicke enchephalopati (Manuaba, 2012; Niven, 2013).
Pernyataan tersebut didukung oleh Manuaba tahun 2012 dan Wiknjosastro
2009 yang menyatakan bahwa wernicke enchepalopati dapat timbul akibat
defisiensi tiamin (Wiknjosastro, 2009; Manuaba, 2012).
6. Penatalaksanaan
Penanganan Emesis Gravidarum menurut Yuni tahun 2009 adalah :
a) Hal-hal yang harus dilakukan dalam mengatasi emesis gravidarum
(Nonfarmakologis)
1) Makanlah sesering mungkin dalam porsi kecil, siang hari untuk porsi
besar dan malam hari cukup porsi kecil.
2) Lebih banyak istirahat, hal ini akan membantu mengurangi keletihan
yang dapat menimbulkan rasa mual
3) Simpanlah beberapa makanan kecil seperti coklat atau cracker untuk
dimakan sebelum turun dari tempat tidur di pagi hari.
4) Bangun tidur perlahan-lahan, luangkan waktu untuk bangkit dari
tempat tidur secara perlahan-lahan.
5) Berolahraga dan hiruplah udara segar dengan melakukan olahraga
ringan, berjalan kaki atau berlari-lari kecil akan membantu mengurangi
rasa mual dan muntah di pagi hari.
b) Menu makanan yang banyak mengandung protein juga memiliki efek
positif karena bersifat eupeptic dan efektif meredakan mual (Niebyl,
2010).
c) Manajemen stres juga dapat berperan dalam menurunkan gejala mual
(Lacasse et al., 2008; Jueckstock, Kaestner and Mylonas, 2010; Niebyl,
2010).
d) Terapi alternatif seperti akupunktur dan jahe telah diteliti untuk
penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan. Akar jahe (Zingiber
officinale Roscoe) adalah salah satu pilihan nonfarmakologik dengan efek
yang cukup baik. Bahan aktifnya, gingerol, dapat menghambat
pertumbuhan seluruh galur H. pylori, terutama galur Cytotoxin associated
gene (Cag) A+ yang sering menyebabkan infeksi. Empat randomized trials
menunjukkan bahwa ekstrak jahe lebih efektif daripada plasebo dan
efektivitasnya sama dengan vitamin B6. Efek samping berupa refluks
gastroesofageal dilaporkan pada beberapa penelitian, tetapi tidak
ditemukan efek samping signifikan terhadap keluaran kehamilan
(Fantasia, 2013; Maltepe and Koren, 2013). Hasil penelitian ini juga
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wiraharja, dkk tahun 2011
yang menyatakan bahwa jahe dapat digunakan untuk mengurangi gejala
mual dan muntah dalam kehamilan. Selain itu, berdasarkan kepustakaan
yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penggunaan jahe yang aman dan
efektif untuk mengatasi mual dan muntah dalam kehamilan adalah 1 gram
per hari, serta bentuk sediaan yang dapat digunakan bervariasi tergantung
keinginan dan kondisi ibu hamil.
f) Penatalaksanaan Farmakologis
Pada emesis gravidarum, obat-obatan diberikan apabila perubahan
pola makan tidak mengurangi gejala, sedangkan pada hiperemesis
gravidarum, obat-obatan diberikan setelah rehidrasi dan kondisi
hemodinamik stabil (Niebyl, 2010). Pemberian obat secara intravena
dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk.Obat-obatan yang
digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin), antihistamin dan
agen-agen prokinetik. American College of Obstetricians and
Gynecologists (ACOG) merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah
12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai farmakoterapi lini
pertama yang aman dan efektif (Niebyl, 2010). Dalam sebuah randomized
trial, kombinasi piridoksin dan doxylamine terbukti menurunkan 70%
mual dan muntah dalam kehamilan. Suplementasi dengan tiamin dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berat hiperemesis, yaitu
Wernicke’s encephalopathy. Komplikasi ini jarang terjadi, tetapi perlu
diwaspadai jika terdapat muntah berat yang disertai dengan gejala okular,
seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan ekstraokular (Maltepe
and Koren, 2013).
g) Sementara hal-hal yang harus dihindari adalah :
1) Hindari mengkonsumsi makanan berminyak atau digoreng karena lebih
sulit untuk dicerna.
2) Hindari minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan minuman
bersoda (cola).
3) Hindari menyikat gigi begitu selesai makan, bagi beberapa ibu hamil
menyikat gigi menjadi hal yang problematik karena hanya dengan
memasukkan sikat gigi dalam mulut membuat mereka muntah,
sehingga pilihlah waktu yang tepat untuk menggososk gigi.
4) Hindari bau-bau yang tidak enak atau sangat menyengat, bau
menyengat akan menimbulkan rasa mual dan muntah.
5) Hindari mengenakan pakaian ketat, pakaian yang terlalu ketat dapat
memberikan tekanan yang tidak nyaman pada perut dan dapat
memperburu rasa mual itu sendiri.
C. Tinjauan Teori Asuhan Kehamilan
1. Data Subyektif
a. Alasan Kunjungan
Dikaji untuk mengetahui alasan wanita datang ke tempat bidan/ klinik,
yang diungkapkan dengan kata-katanya sendiri (Hani,Ummi, dkk, 2010).
Tujuan kunjungan biasanya untuk mendapatkan diagnosis
ada/tidaknya kehamilan, mendapatkan perawatan kehamilan, menentukan
usia kehamilan dan perkiraaan persalinan, menentukan status kesehatan
ibu dan janin, menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan lainnya.
(Walyani, Elisabeth, 2015)
b. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah alasan kenapa klien datang ke tempat bidan.
Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh klien serta menanyakan
sejak kapan hal tersebut dikeluhkan klien. Mendengarkan keluhan klien
sangat penting untuk pemeriksaan. (Walyani dan Elisabeth, 2015)
c. Riwayat kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penanda
(warning akan adanya penyulit masa hamil). Adanya perubahan fisik dan
fisiologis pada masa hamil yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh
akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan.
Riwayat kesehatan meliputi :
1) Riwayat kesehatan sekarang
a) Penyakit menular
(1) TBC
Pada kehamilan dengan infeksi TBC risiko prematuritas,
IUGR dan berat badan lahir rendah meningkat, serta resiko
kematian perinatal meningkat 6 x lipat. Keadaan ini terjadi akibat
diagnosa yang terlambat, pengobatan yang tidak teratur dan
derajat keparahan lesi di paru maupun infeksi ekstrapulmoner.
Infeksi TBC dapat menginfeksi janin yang dapat menyebabkan
tuberculosis congenital (Saifuddin, 2011).
(2) Hepatitis
Jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa
mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminant yang dapat
menimbulkan mortalitas tinggi pada ibu dan bayi. Pada ibu dapat
menimbulkan abortus dan terjadi perdarahan pascapersalinan
karena adanya gangguan pembekuan darah akibat gangguan
fungsi hati (Saifuddin, 2011).
(3) Malaria
Komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan ada
hipoglikemia sebagai gejala klinik malaria karena takikardia,
berkeringat, an pusing. Hipoglikemia pada ibu hamil dapat
menyebabkan terjadinya gawat janin tanpa diketahui
penyebabnya, edema paru lebih sering terjadi pada trimester II
dan III, tetapi bisa juga terjadi segera pasca persalinan, anemia
berat sering terjadi pada malaria dalam kehamilan. (Saifuddin,
2011)
Selain itu, resiko malaria terhadap janin adalah fungsi
plasenta menurun, abortus, prematuritas, lahir mati,dan
pertumbuhan janin terlambat. (Saifuddin, 2011 )
(4) HIV / AIDS
Transmisi HIV dari ibu ke janin dapat terjadi intrauterin (5-
10%), saat persalinan (10-20 %) dan pasca persalinan (5-20 %).
Kelainan yang dapat terjadi pada janin adalah berat badan lahir
rendah, bayi lahir mati, partus preterm, dan abortus spontan.
(Saifuddin, 2011)
b) Penyakit menurun
(1)Jantung
Penyakit jantung memberi pengaruh tidak baik kepada
kehamilan dan janin dalam kandungan. Apabila ibu menderita
hipoksia dan sianosis, hasil konsepsi dapat menderita pula dan
mati, kemudian disusul oleh abortus. Apabila konseptus lahir
terus, anak dapat lahir premature atau lahir cukup bulan akan
tetapi dengan berat badan rendah (dismatiritas). Selain itu janin
dapat menderita hipoksia dan gawat janin dalam persalinan,
sehingga neonates lahir mati atau dengan nilai Apgar rendah.
Ditemukan komplikasi prematuritas dan BBLR pada penderita
penyakit jantung pada kehamilan 32 minggu dan partus kala I
yang lebih rendah (Sinclair, 2009)
(2) Hipertensi
Ibu hamil yang mempunyai riwayat hipertensi atau sedang
menderita hipertensi kronik berisisko terjadi sousio plasenta, dan
risisko terjadinya solusio plasenta 2 – 3 kali dan superimposed
preeklamsi. Sedangkan dampak pada janin ialah pertumbuhan
janin terhambat atau fetal growth restriction, intra uterine growth
restriction (IUGR) (Saifuddin, 2011).
(3) Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus pada ibu hmil dapat menyebabkan resiko
terjadinya preeklampsia, seksio sesarea sedangkan pada janin
meningkatkan terjadinya makrosomia, hiperbilirubinemia,
hipokalsemia, polisitemia, hiperbilirubinemia neonatal, sindrom
distress respirasi (RDS) serta mortalitas atau kematian janin.
(Saifuddin, 2011)
(4) Asma
Ada hubungan antara keadaan asma sebelum hamil dan
morbiditasnya pada kehamilan. Pada asma ringan 13 %
mengalami serangan pada kehamilan, pada asma moderat 26 %,
dan asma berat 50 %. Sebanyak 20 % daari ibu dengan asma
ringan dan asma moderat mengalai serangan inpartu, serta
peningkatan risiko serangan 18 kali lipat setelah persalinan
dengan seksio sesarea jika dibandingkan dengan persalinan
pervaginam. Terdapat komplikasi preeklamsi 11 % IUGR 12 %,
dan prematuritas 12 % pada kehamilan dengan asma. Pada asma
berat hipoksia janin dapat terjadi sebelum hipoksia pada ibu
terjadi. (Saifuddin, 2011 )
2) Riwayat kesehatan yang lalu
a) Riwayat yang pernah atau sedang diderita
(1) Jantung
Penyakit jantung memberi pengaruh tidak baik kepada
kehamilan dan janin dalam kandungan. Apabila ibu menderita
hipoksia dan sianosis, hasil konsepsi dapat menderita pula dan
mati, kemudian disusul oleh abortus. Apabila konseptus lahir
terus, anak dapat lahir premature atau lahir cukup bulan akan
tetapi dengan berat badan rendah (dismatiritas). Selain itu janin
dapat menderita hipoksia dan gawat janin dalam persalinan,
sehingga neonates lahir mati atau dengan nilai Apgar rendah.
Ditemukan komplikasi prematuritas dan BBLR pada penderita
penyakit jantung pada kehamilan 32 minggu dan partus kala I
yang lebih rendah (Saifuddin, 2011).
(2) Hipertensi
Ibu hamil yang mempunyai riwayat hipertensi atau sedang
menderita hipertensi kronik berisisko terjadi sousio plasenta,
dan risisko terjadinya solusio plasenta 2 – 3 kali dan
superimposed preeklamsi. Sedanagkan dampak pada janin ialah
pertumbuhan janin terhambat atau fetal growth restriction, intra
uterine growth restriction (IUGR) (Saifuddin, 2011)
(3) Diabetes mellitus
Diabetes mellitus pda ibu hamil dapat menyebabkan resiko
terjadinya preeklampsia, seksio sesarea sedangkan pada janin
meningkatkan terjadinya makrosomia, hiperbilirubinemia,
hipokalsemia, polisitemia, hiperbilirubinemia neonatal, sindrom
distress respirasi (RDS) serta mortalitas atau kematian janin.
(Saifuddin, 2011)
(4) Asma
Ada hubungan antara keadaan asma sebelum hamil dan
morbiditasnya pada kehamilan. Pada asma ringan 13 %
mengalami serangan pada kehamilan, pada asma moderat 26 %,
dan asma berat 50 %. Sebanyak 20 % daari ibu dengan asma
ringan dan asma moderat mengalai serangan inpartu, serta
peningkatan risiko serangan 18 kali lipat setelah persalinan
dengan seksio sesarea jika dibandingkan dengan persalinan
pervaginam. Terdapat komplikasi preeklamsi 11 % IUGR 12 %,
dan prematuritas 12 % pada kehamilan dengan asma. Pada asma
berat hipoksia janin dapat terjadi sebelum hipoksia pada ibu
terjadi. (Saifuddin, 2011)
(5) Hepatitis
Jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa
mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminant yang dapat
menimbulkan mortalitas tinggi pada ibu dan bayi. Pada ibu
dapat menimbulkan abortus dan terjadi perdarahan
pascapersalinan karena adanya gangguan pembekuan darah
akibat gangguan fungsi hati. (Saifuddin, 2011)
(6) Epilepsi
Seorang wanita penderita epilepsy idiopatik lebih besar
kemungkinannya melahirkan anak dengan epilepsy. Pada
umumnya frekuensi cacat bawaan, termasuk penyakit jantung,
bibir sumbing, dan mikrosefalia, lebih tinggi diantra bayi – bayi
yang dilahirkan dari ibu – ibu penderita epilepsy. Juga angka
kematian perinatal lebih tinggi. Penderita epilepsy dapat
menderita pre-eklamsi dalam kehamilan (Saifuddin, 2011).
(7) Penyakit Menular seksual
Hasil konsepsi yang tidak sehat sering kali terjadi akibat
PMS, misalnya kemtian janin (abortus spontan atau lahir mati).
Bayi berat lahir rendah (akibat prematuritas atau retardasi
pertumbuhan janin dalam rahim) dan infeksi congenital atau
perinatal (kebutaan, pneumonia neonatus, dan retardasi mental)
(Saifuddin, 2011).
3) Riwayat kesehatan keluarga
Mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga
terhadap gangguan kesehatan. Apakah dari keluarga ibu, suami /orang
yang tinggal bersama ibu hamil itu ada yang sakit. Mencangkup penyakit
kanker, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, penyakit
jiwa, kelainan bawaan, kehamilan ganda, TBC, epilepsi, penyakit darah,
alergi, dan riwayat kehamilan kembar.) (Hani, Ummi dkk, 2011)
d. Riwayat Obstetri
1) Riwayat Haid
Data ini diperoleh untuk mempunyai gambaran tentang keadaan
dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang harus kita peroleh dari
riwayat haid anatara lain sebagai berikut :
a) Menarche
Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi.
Wanita haid pertama kali umumnya sekitar 12-16 tahun.
(Sulistyawati, 2011). Hal ini dipengaruhi oleh keturunan, keadaan
gizi, bangsa, lingkungan, iklim, dan keadaan umum. (Walyani dan
Elisabeth, 2015)
b) Siklus haid
Siklus haid adalah jarak antara haid yang dialami dengan haid
berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23-32 hari.
(Sulistyawati, 2011). Siklus normal haid biasanya 28 hari. (Walyani
dan Elisabeth, 2015)
c) Lamanya
Lamanya haid yang noral adalah ± 7 hari. Apabila sudah
mencapai 15 hari berarti sudah abnormal dan kemungkinan adanya
gangguan ataupun penyakit yang mempengaruhi. (Walyani, Elisabeth,
2015: 120)
d) Volume/Banyaknya
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah yang dikeluarkan.
Sebagai acuan biasanya digunakan kriteria banyak, sedang, dan
sedikit. Biasanya untuk menggali lebih dalam pasien ditanya sampai
berapa kali ganti pembalut dalam sehari (Sulistyawati, 2011). Apabila
darahnya terlalu berlebih, itu berarti telah menunjukan gejala kelainan
banyaknya darah haid. (Walyani dan Elisabeth, 2015)
e) Dismenorea
Nyeri haid ditanyakan untuk mengetahui apakah klien
menderitanya atau tidak ditiap haidnya. Nyeri haid juga menjadi tanda
bahwa kontraksi uterus klien begitu hebat seingga menimbulkan nyeri
haid. (Walyani dan Elisabeth, 2015)
Gangguan yang berkenaan dengan masa haid berupa
dismenorea (rasa nyeri saat menstruasi). Perasaan nyeri pada waktu
haid dapat berupa kram ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi
gangguan dalam tugas sehari-hari. Gangguan ini ada dua bentuk yaitu
dismenore primer dan sekunder. Dismenorea primer yaitu nyeri haid
yang terjadi tanpa terdapat kelainan anatomis alat kelamin.
Dismenorea sekunder yaitu nyeri haid yang berhubungan dengan
kelainan anatomis yang jelas, kelainan ini kemungkinan adalah haid
disertai infeksi, endometritis, mioma uteri, polip serviks, polip
endometrial, pemakai IUD atau AKDR (alat kontrasepsi dalam
rahim). (Manuaba,2012)
f) Leukorea
Leukorea (keputihan) yaitu cairan putih yang keluar dari liang
senggama secara berlebihan. Leukorea normal dapat terjadi pada masa
menjelang dan sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara
hari ke 10-16 menstruasi, juga terjadi melalui rangsangan seksual.
Leukorea abnormal dapat terjadi pada semua infeksi alat kelamin
(infeksi bibir kemaluan, liang senggama, mulut rahi, rahim dan
jaringan penyangganya, dan pada infeksi penyakit hubungan
kelamin). (Manuaba,2012)
2) Riwayat Kehamilan Sekarang
Dikaji :
a) Gravida/Para
b) Usia Kehamilan
Menentukan usia kehamilan sangat penting untuk
memperkirakan persalinan (Manuaba,2012). Umur kehamilan dan
tafsiran persalinan dihitung dengan menggunkan rumus Neagle. HPL
(hari perkiraan lahir) = HPHT (hari pertama haid terakhir) + 7 dan
bulan haid terakhir - 3. Tahun HPHT ditambahkan 1 (jika bulan lSebih
dari 1- 3). (Hani, Ummi,dkk, 2010)
c) HPHT
HPHT adalah hari haid pertama terakhir seorang wanita
sebelum hamil. Cara menentukan HPHT adalah dengan melakukan
anamnesis pada ibu secara tepat karena apabila terjadi kesalahan,
maka penentuan usia kehamilan juga menjadi tidak tepat. Haid terkhir
tersebut harus normal, baik dari lamanya maupun dari banyaknya.
HPHT yang tepat adalah tanggal dimana ibu baru mengeluarkan darah
menstruasi dengan frekuensi dan lama menstruasi seperti biasa.
(Hani,Ummi, dkk, 2010)
d) HPL
HPL adalah tanggal taksiran perkiraan persalinan ibu. Bisa
ditentukan setelah HPHT didapatkan. HPL = tanggal HPHT
ditambahkan 7, bulan HPHT dikurangi 3, Tahun HPHT ditambahkan
1 (jika bulan lebih dari 4-12) HPL= tanggal HPHT ditambahkan 7,
bulan HPHT dikurangi 3, Tahun HPHT dikurangi 1 (jika bulan lebih
dari 1-3) (Hani, Ummi, dkk, 2010)
e) Gerakan Janin
Diperkirakan terjadi gerakan pertama fetus pada usia kehamilan
16 minggu terdapat perbedaan. Pada primigravida biasanya dirasakan
pada usia 18 minggu, sedangkan pada multigravida sekitar 16 minggu.
Dengan mengetahui gerakan janin maka perkiraan umur kehamilan
dapat ditetapkan. Gerakan janin juga diperlukan untuk mengetahui
keadaan janin (masih hidup/mati). Berupa positif jika ada, dan negatif
jika belum ada(Hani,Ummi, dkk, 2010). Gerakan janin juga bermula
pada usia kehamilan mencapai 12 minggu, tetapi baru dapat dirasakan
oleh ibu pada usia kehamilan 16 – 20 minggu karena diusia kehamilan
tersebut, dinding uterus mulai menipis dan gerakan janin lebih kuat.
(Saifuddin, 2011). Gerakan menendang atau tendangan janin (10
gerakan/12 jam ) (Saifuddin, 2011)
f) Masalah-masalah
Menanyakan kepada klien apakah ada masalah pada kehamilan
trimester I (hiperemesis gravidarum, anemia,dll), pada trimester II dan
trimester III tanyakan masalah apa yang pernah dirasakan pada
kehamilan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan kalau-
kalau kehamilan sekarang akan terjadi hal seperti itu lagi. (Walyani,
Elisabeth, 2015)
g) Riwayat ANC
Menanyakan kepada klien asuhan kehamilan apa saja yang
pernah ia dapatkan selama kehamilan trimester I, trimester II dan
trimester III. Menanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia
dapatkan pada kehamilan sebelumnya dan menanyakan bagaimana
pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik, bidan bisa
memberikan lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan
sekarang. Tempat ANC juga ditanyakan untuk mengetahui dimana
tempat klien mendapatkan asuhan kehamilan tersebut. (Walyani,
Elisabeth, 2015)
3) Riwayat Kebidanan yang lalu
Menanyakan:
a) Jumlah Kehamilan (Gravida/G)
Ditanyakan untuk mengetahui seberapa besar pengalaman klien
tentang kehamilan. Apabila klien mengatakan ini merupakan
kehamilan pertama, maka bidan harus secara maksimal memberikan
pengetahuan kepada klien tentang bagaimana merawat kehamilannya
dengan maksimal. (Walyani, Elisabeth, 2015)
b) Jumlah anak yang hidup
Untuk mengetahui pernah tidaknya klien mengalami keguguran,
apabila pernah maka pada kehamilan berikutnya beresiko mengalami
keguguran kembali. Serta apabila jumlah anak yang hidup hanya
sedikit dari kehamilan yang banyak, berarti kehamilan ini sangat
diinginkan. (Walyani, Elisabeth, 2015)
c) Jumlah kelahiran Premature
Untuk mengidentifikasi apakah pernah mengalami kelahiran
premature sebelumnya, jika ia maka dapat beresiko menimbulkan
persalinan premature berikutnya (Walyani, Elisabeth, 2015)
d) Jumlah keguguran
Menanyakan kepada klien apakah pernah mengalami keguguran
atau tidak. Sebab apabila pernah mengalami keguguran dalam riwayat
persalinan sebelumnya maka beresiko mengalami keguguran
berulang. (Walyani, Elisabeth, 2015)
e) Persalinan dengan tindakan (operasi sesar, vakum, forcep)
Untuk mengetahui catatan kelahiran terdahulu, apakah
pervaginam, melalui bedah sesar, dibantu forcep atau vakum.
(Walyani, Elisabeth, 2015)
f) Riwayat perdarahan pada persalian atau pasca persalinan
Ditanyakan untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami
perdarahan pascapersalinan, perdarahan antepartum, atau intrapartum
sebelumnya. (Walyani, Elisabeth, 2015)
g) Berat bayi
Dikaji untuk mengidentifikasi berat bayi yang dilahirkan pada
kehamilan sebelumnya, apakah berat bayi kecil untuk masa kehamilan
(BKMK) atau bayi besar untuk masa kehamilan (BBMK), karena
kondisi ini biasanya berulang. Apabila persalinan pervaginam, berat
lahir mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran tertentu berhasil
memotong pelvis maternal. (Walyani, Elisabeth, 2015)
h) Masalah lain
Untuk mengetahui apakah sebelumnya kehamilannya
mengalami komplikasi sehingga dapat diketahui antisipasi terhadap
komplilasi berulang. (Walyani, Elisabeth, 2015)
4) Riwayat KB
Ditanyakan untuk mengetahui metode KB yang selama ini
digunakan, lama pemakaian kontrasepsi tersebut, dan ada masalah saat
menggunakan kontrasepsi tersebut atau tidak. (Walyani, Elisabeth,
2015).
5) Pola kebiasaan sehari- hari
a) Nutrisi
Data ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan
bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai
dengan masa awal persalinan. (Sulistyawati, 2011). Untuk memenuhi
tambahan kebutuhan zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur
diperlukan tambahan konsumsi makanan sehari – hari.
b) Eliminasi
(1) BAB
Dikaji frekuensinya (BAB nya teratur atau tidak, jika
mengatakan terlalu sering dan feses cair bisa dicurigai mengalami
diare, dan jika terlalu jarang BAB serta feses kering dan keras,
dicurigai klien mengalami konstipasi), warnanya (normalnya
warna feses berwarna kuning kecoklatan) (Walyani, Elisabeth,
2015).
(2) BAK
Dikaji frekuensinya (seberapa sering ia berkemih dalam
sehari. Meningkatnya frekuensi berkemih dikarenakan
meningkatnya jumlah cairan yang masuk, atau juga karena adanya
tekanan dinding vesika urinaria. Apabila ternyata wanita hamil
kesulitan berkemih berarti bidan harus segera mengambil
tindakan,misal memasang kateter),warna urine (normalnya urine
berwarna bening, jka urine berwarna keruh dicurigai klien
menderita DM karena urin keruh disebabkan adanya penumpukan
glukosa), bau urine (bau urine normalnya seperti bau Amonia
(NH3) (Walyani, Elisabeth, 2015)
c) Personal Hygine
Kebersihan jasmani sangat penting karena saat hamil banyak
berkeringat terutama di daerah lipatan kulit. Mandi 2-3x sehari
membantu kebersihan badan dan mengurangi infeksi. Pakaian
sebaiknya dari bahan yang dapat menyerap keringat, sehingga badan
selalu kering terutama di daerah lipatan kulit. (Manuaba, 2012)
Rambut harus sering dicuci. Gigi, harus benar-benar mendapat
pemeliharaan karena kerusakan gigi dapat mengakibatkan komplikasi
seperti nefritis, septicemia, sepsis puerpuralis oleh karena infeksi
dirongga mulut. (Manuaba, 2012),
Kebersihan alat genetalia juga harus ditingkatkan karena saat
hamil frekuensi berkemih menjadi sering sehingga menyebabkan
situasi basah dan jamur mudah tumbuh dan menyebabkan rasa gatal.
Kebersihan bisa dijaga dengan memakai celana dalam yang selalu
bersih. (Manuaba, 2012).
d) Hubungan Seksual
Dikaji pola hubungan seksual, frekuensi berhubungan, kelainan
dan masalah seksual dan lain-lain. Pada umumnya coitus
diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati – hati
(Hani, Ummi, dkk, 2010).
e) Istirahat
Jadwal istirahat perlu diperhatikan karena istirahat dan tidur yang
teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk
perkembangan dan pertumbuhan janin (Manuaba, 2012).
f) Aktifitas Fisik
Data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas
yang biasa dilakukan pasien di rumah. Aktivitas yang terlalu berat
dapat menyebabkan abortus dan persalinan prematur. Olahraga sangat
bermanfaat bagi ibu hamil karena tubuh akan meningkatkan volume
darah, meningkatkan volume sekuncup, memperkuat otot jantung, dan
meningkatkan vaskularisasi sehingga memperbesar hantaran oksigen
dan nutrisi (Manuaba, 2012).
6) Riwayat Psikologi-Spiritual
a) Riwayat Pernikahan
Ditanyakan :
1) Menikah
Ditanya status klien, apakah sudah menikah atau belum,
pernikahan yang keberapa dan istri keberapa dengan suami
sekarang. Penting dikaji untuk mengetahui status kehamilan
tersebut apakah dari hasil pernikahan resmi atau tidak atau hasil
dari kehamilan yang tidak diinginkan. Status pernikahan
berpengaruh pada psikologis ibu saat hamil.
2) Usia saat menikah
Ditanyakan untuk mengetahui apakah klien menikah di usia
muda atau tidak. Jika klien menikah usia muda dan saat kunjungan
ke bidan tidak lagi usia muda dan merupakan kehamilan pertama,
kemungkinan kehamilan ini sangat diharapkan. Hal ini akan
berpengaruh pada bagaimana asuhan kehamilannya
(3) Lama pernikahan
Ditanyakan sudah berapa lama menikah, jika klie
mengatakan sudah lama menikah tapi baru bisa mempunyai
keturunan, kemungkinan kehamilan ini sangat diharapkan
(Walyani, Elisabeth, 2015)
b) Respon dan Dukungan keluarga
Dukungan keluarga lain terhadap kehamilan, hal ini perlu
ditanyakan karena keluarga selain suami klien juga sangat berpengaruh
besar bagi kehamilan klien. Tanyakan bagaimana respon dan dukungan
keluarga lain, misalnya anak, orang tua, serta mertua.
c) Pengambilan keputusan
Pengambil keputusan perlu ditanyakan karena untuk mengetahui
siapa yang diberi kewenangan klien mengambil keputusan apabila ada
hal kegawat-daruratan.
d) Menanyakan data spiritual:
Data spiritual klien perlu ditanyakan apakah keadaan rohaninya
saat itu sedang baik ataukah sedang stress karena suatu masalah.
Apabila sadang stress, bidan harus pintar memberikan konseling untuk
membantu memecahkan masalah kleien tersebut dan meminta suami
klien terus memberikan dukungan. Mengingat, wanita yang sedang
hamil dan keadaan rohaninya sedang tidak stabil, hal ini sangat
berpengaruh terhadap kehamilanya.
e) Menanyakan data sosial budaya:
Tradisi yang mempengaruhi kehamilan, hal ini ditanyakan karena
bangsa Indonesia mempunyai beraneka ragam suku bangsa yang
tentunya dari setiap suku bangsa mempunyai tradisi khusus bagi wanita
hamil. Tugas bidan mengingatkan tradisi-tradisi tersebut diperbolehkan
selagi tidak merugikan kehamilnnya.
f) Data Pengetahuan
Perlu dikaji dengan berbekal pengetahuan maka pasien akan lebih
mudah diajak memecahkan masalah yang mungkin terjadi. (Hani,
Ummi, dkk, 2010).
2. Data Obyektif
Pengkajian data obyektif dilakukan melalui pemeriksaan inspeksi,
palpasi, auskultasi, dan perkusi. Langkah-langkah pemeriksaannya adalah
sebagai berikut:
2. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum
Data ini didapat dengan mengamati keadaan pasien secara
keseluruhan. Hasil pengamatan yang dilaporkan kriterianya adalah
sebagai berikut :
a) Baik
Jika pasien memperlihatkan respons yang baik terhadap
lingkungan dan orang lain serta secara fisik pasien tidak
mengalami ketergantungan dalam berjalan. (Sulistyawati, 2011)
b) Lemah
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau
tidak memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan
oang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan
sendiri. (Sulistyawati, 2011)
2) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita
dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari
keadaan komposmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan
koma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2011)
3) Tanda vital
a) Tekanan darah
Tekanan darah pada ibu hamil tidak boleh mencapai 140
mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik. Perubahan 30 mmHg
sistolik dan 15 mmHg diastolik diatas tensi sebelum hamil,
menandakan toxaemia gravidarum (keracunan kehamilan).
(Hani, Ummi,dkk 2009)
b) Nadi
Denyut nadi meternal sedikit meningkat selama hamil sejak
usia kehamilan 4 minggu sekitar 80-90x/menit, kondisi ini
memuncak pada usia 28 minggu (Sulistyawati, 2011).
c) Pernafasan
Pernafasan normal pada ibu hamil adalah 16-24x/menit.
Tujuan menghitung pernafasan pada ibu hamil adalah untuk
mendeteksi secara dini adanya penyakit yang berhubungan
dengan pernafasan yang kemungkinan sebagai penyulit
kehamilan dan diprediksi akan membahayakan keselamatan ibu
dan janin selama kehamilan dan menghambat jalannya
persalinan(Sulistyawati, 2011).
d) Suhu
Peningkatan hormon progesteron yang disertai dengan
peningkatan metabolisme tubuh ibu hamil, jumlah panas yang
juga dihasilkan juga meningkat. Ibu hamil mengalami
peningkatan suhu tubuh sampai 0,5% meskipun pada tubuh ibu
hamil sudah ada upaya kompensasi seperti pengeluaran panas
lewat pernafasan dan keringat. Suhu tubuh ibu hamil normalnya
35,80C-370C, jika lebih dari 37,50C dikatakan demam, hal ini
mungkin ada infeksi dalam kehamilan(Sulistyawati, 2011).
e) Berat Badan
Kenaikan berat badan selama hamil rata-rata : 9 – 13,5 kg.
Kenaikan BB selama TM I : min 0,7-1,4 kg
Kenaikan BB selama TM II : 4,1 kg
Kenaikan BB selama TM I : 9,5 kg
(Pantiawati, Ika, 2010)
f) Tinggi Badan
Tinggi badan kurang dari rata-rata merupakan faktor
resiko bagi ibu hamil/ibu bersalin, jika tinggi badan kurang dari
145 cm kemungkinan sang ibu memiliki panggul sempit. Tujuan
pemeriksaan tinggi badan adalah untuk mengetahui tinggi badan
ibu sehingga bisa mendeteksi faktor resiko. Faktor resiko
terhadap kehamilan yang sering berhubungan dengan tinggi
badan adalah keadaan rongga panggul. Sering dijumpai pada ibu
yang pendek, rongga panggulnya sempit. Ada juga ibu hamil
yang pendek tapi rongga panggulnya normal. (Sulistyawati,
2011)
g) LILA
Tujuan pemeriksaan LILA adalah untuk mengetahui
ukuran lingkar lengan atas untuk mengetahui status gizi ibu
hamil. Normalnya 23,5-25 cm, bila kurang dari 23,5 cm
merupakan indikator kuat untuk status gizi yang kurang/buruk.
Ibu beresiko untuk melahirkan anak dengan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR), sedangkan bila LILA di atas 25 cm, indikasi
adanya janin besar karena obesitas (Sulistyawati, 2011)
h) IMT
IMT untuk memprediksi derajat lemak tubuh dan
pengukurannya direkomendasikan federal untuk mengklarifikasi
kelebihan berat badan dan obesitas. Cara mengukur IMT dihitung
dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat
tinggi badannya dalam meter (kg/m2) ( Manuaba, 2012 ).
b. Status Present
1) Kepala
Dikaji ukuran, bentuk, kontur, kesimetrisan kepala,
kesimetrisan wajah, lokasi struktur wajah (Sinclair, 2009)
2) Rambut
Dikaji warna, kebersihan, mudah rontok atau tidak
(Sulisyawati, 2011)
3) Telinga
Dikaji ada pembesaran atau tidak, ketajaman pendengaran,
letak telinga di kepala, bentuk, ada tonjolan atau tidak, ada rabas
pada aurikula dan autium atau tidak, edema atau tidak, ada lesi
atau tidak, adanya sumbatan atau benda asing pada saluran
pendengaran eksterna atau tidak (Sinclair, 2009)
4) Mata
Dikaji kelopak mata edema atau tidak, ada tanda-tanda
infeksi atau tidak, warna konjungtiva, warna sklera, ukuran dan
bentuk serta kesamaan pupil (Sulistyawati, 2011).
5) Hidung
Dikaji ada nafas cuping hidung atau tidak, kesimetrisan,
ukuran, letak, rongga hidung bebas sumbatan atau tidak, ada polip
atau itak, ada tanda-tanda infeksi atau tidak (Sulistyawati, 2011).
6) Mulut
Dikaji :
a) bibir (warna dan integritas jaringan seperti lembab / kering )
b) lidah (warna, kebersihan)
c) gigi (kebersihan, karies, gangguan pada mulut) (Sulisyawati,
2011)
7) Leher
Dikaji kesimetrisan, ada/tidaknya nyeri tekan, ada/tidaknya
pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran kelenjar limfe, dan
ada/tidaknya bendungan vena jugularis (Sulisyawati, 2011)
8) Ketiak
Dikaji tentang ada/tidaknya pembesaran kelenjar limfe.
(Sulisyawati, 2011)
9) Dada
Dikaji bentuk, simetris atau tidak, bentuk dan keimetrisan
payudara, bunyi/denyut jantung, ada/tidaknya gangguan
pernafasan (auskultasi) ( Sulisyawati, 2011).
10) Ekstremitas
Dikaji adakah kelainan atau tidak, adakah edema dan varises
serta reflek patella pada kaki kanan dan kaki kiri(Hani,Ummi, dkk,
2010)
11) Genitala eksterna
a) Lihat adanya tukak/luka, varises, cairan (warna, konsistensi,
jumlah,bau)
b) Uretra dan skene : adakah cairan atau nanah.
c) Kelenjar Bartholini adakah: pembengkakan, massa, atau kista,
dan cairan (Hani,Ummi, dkk, 2010)
12) Anus
Dikaji ada /tidaknya hemoroid dan kebersihan. (Sulisyawati,
2011)
c. Pemeriksaan Obstetrik
1) Muka
Dilihat ada/tidaknya edema dan cloasma gravidarum
(Manuaba,2012).
2) Mammae
(a) Inspeksi: hiperpigmentasi areola dan puting susu, glandula
montgomery menonjol.
(b) Palpasi: tidak teraba massa, kolostrum keluar setelah 32 minggu
(Sulisyawati, 2011)
3) Abdomen
a. Inspeksi
Dilihat pada perut tampak membesar, ada/tidaknya linea
nigra, linea alba, striae gravidarum. (Hani, Ummi, dkk, 2010)
4) Palpasi leopold
(a) Leopold I
Tujuannya untuk menentukan umur kehamilan
(berdasarkan TFU) dan untuk menentukan bagian apa yang
terdapat di fundus. (Hana,Ummi, dkk, 2010). Pengukuran TFU
terutama > 20 minggu. Tinggi fundus yang normal sama dengan
usia kehamilan (Saifuddin, 2011).
(b) Leopold II
Tujuannya untuk menentukan bagian apa yang ada di
bagian kanan dan kiri perut ibu (Saifuddin, 2011).
(c) Leopold III
Bertujuan untuk menentukan bagian apa yang terdapat
di bawah dan apakah bagian bawah janin sudah atau belum
terpegang oleh pintu atas panggul (Saifuddin, 2011).
(d) Leopold IV
Bertujuan untuk menentukan berapa masuknya bagian bawah ke
dalam rongga panggul.
5) Auskultasi
Frekuensi DJJ rata – rata sekitar 140 denyut per menit (dpm)
dengan variasi normal 20 dpm diatas atau dibawah nilai rata – rata.
Nilai normal denyut jantung janin antara 120 – 160 dpm.(Saifuddin,
2011)
Jantung janin mulai berdenyut sejak awal minggu keempat
setelah fertilisasi, tetapi baru pada usia 20 minggu bunyi jantung jain
dapat terdeteksi dengan fetoskop. Dengan mengggunakan teknik
ultrasound atau system Doppler, bunyi jantung janin dapat didengar
lebih awal (12 -20 minggu usia kehamilan) (Saifuddin, 2011)
Tujuan pemeriksaan DJJ adalah untuk mengetahui bayi hidup
atau mati . Untuk menentukan area terdengarnya denyut jantung
janin yang keras, (puntum maximum) sehingga dapat dipastikan
presentasi janin dalam kandungan, apakah berada dibagian bawah
kepala atau bokong atau janinnya melintang. Disamping itu untuk
mengetahui janin didalam kandungan tunggal atau ganda
(Manuaba,2012)
6) Pemeriksaan Penunjang
a) PP Test/Urine test
b) Pemeriksaan laboratorium:
(1) Pemeriksaan urine digunakan untuk mengetahui kadar urine
protein dan kadar glukosa
(2) Pemeriksaan darah untuk mengetahui faktor rhesus, golongan
darah, Hb, dan penyakit rubella.
(3) Pemeriksaan Rontgen
Digunakan untuk mengetahui kepastian kehamilan,
menentukan hamil kembar, menentukan kelainan pada anak,
menentukan bentuk dan ukuran panggul. Pemeriksaan
rontgen sebaiknya dilakukan pada kehamilan yang sudah
agak lanjut karena sebelum bulan ke-4 rangka janin belum
tampak dan pada hamil muda pengaruh rontgen terhadap
janin lebih besar.
(4) Pemeriksaan USG
Digunakan untuk mendiagnosis dan konfirmasi awal
kehamilan, penentuan umur gestasi dan penafsiran ukuran
fetal, mengetahui adanya IUFD, mengevaluasi pergerakan
janin dan detak jantung janin, dll (Hani, Ummi, dkk, 2010).
3. Analisa
Data yang telah dikumpulkan pada tahap pengkajian kemudaian
dianalisa dan diinterpretasikan untuk dapat menentukan diagnosa dan
masalah ibu.
a. Diagnosa kebidanan dan masalah
Dalam bagian ini yang dikumpulkan oleh bidan antara lain
sebagai berikut :
1) Paritas
Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang
berkaitan dengan kehamilannya (jumlah kehamilan, dibedakan
menjadi primigravida (hamil pertama kali) dan multigravida
(hamil yang kedua atau lebih). (Sulistyawati, 2011)
2) Usia kehamilan dalam minggu
3) Keadaan janin
4) Normal atau tidak normal (Sulistyawati, 2011)
B. Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan
“diagnosa”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa
masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap
perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh.
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu
mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati, 2011)
C. Diagnosa potensial dan antisipasi tindakan
Berdasarkan diagnosa potensial yang telah dirumuskan, bidan
secepatnya melakukan tindakan antisipasi agar diagnosis potensial
tidak benar – benar terjadi (Sulistyawati, 2011)
D. Identifikasi Perlunya Tindakan Segera, Konsultasi, Kolaborasi
Berdasarkan diagnosa potensial yang telah dirumuskan,
bidan secepatnya melakukan tindakan antisipasi agar diagnose
diagnose potensial tidak benar – benar terjadi (Sulistyawati, 2011)
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan asuhan yang dilakukan sesuai dengan apa yang sudah
teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan,
dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut, apa yang akan
terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konsseling, dan apakah
perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan
sosial ekonomi, kultural, atau masalah psikologis. Dengan kata lain,
asuhan terhadap wanita tersebut harus mencakup setiap hal yang berkaitan
dengan semua aspekasuhan kesehatan. (Hana,Ummi, dkk, 2010)
DAFTAR PUSTAKA
Afni, R. (2016). Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Trimester I dengan Kejadian
Abortus di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Komunitas,
3(2), 79–82. https://doi.org/10.25311/keskom.vol3.iss2.107
Ai Yeyeh, Rukiyah dkk. 2012. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Jakarta : Trans
Info Media
Andriani, D. (2016). Optimalisasi Perilaku Pemenuhan Nutrisi Pada Ibu Hamil
Trimester Satu Melalui Penyuluhan. Adi Husada Nursing Journal, 2(2), 17.
https://doi.org/10.37036/ahnj.v2i2.48
Coxon, K et al. (2020). The Impact of the Coronavirus (COVID-19). Pandemic on
Maternity Care in Europe. Elsevier Public Health Emergency Collection.
Dashraath, P et al. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic and
Pregnancy. Am J Obstetrics Gynecology Vol. 202. No. 6 Elsevier Public
Health Emergency Collection.
Dewi, V. H. L. (2011) Asuhan Kebidanan Untuk Kebidanan. 1st edn. Jakarta:
Salemba Medika.
Fradkin, R. (2020). Providing Antenatal Care during COVID-19. PHN North
Western Melbourne an Australia Government Initiative.
Handayani. 2013. Pola Konsumsi Pangan Dan Konsumsi Susu Serta Status Gizi
Ibu Hamil Di Kota Bogor
Handayani, S. R., & Mulyati, T. S. (2017). Dokumentasi Kebidanan. Kementerian
Kesehatan RI.
Hani, Ummi, dkkk. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis. Jakarta:
Salemba Medika
Harahap, R. F., Alamanda, L. D. R., & Harefa, I. L. (2020). Pengaruh Pemberian
Air Rebusan Jahe Terhadap Penurunan Mual dan Muntah Pada Ibu Hamil
Trimester I. Jurnal Ilmu Keperawatan, 8 (1), 84–95.
http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/ JIK/article/download/18089/12857
Kemenkes RI (2010). Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan
Anak (PWS-KIA), Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bina
Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Kesehatan Ibu, p. 1 of 76.
Mangkuji, B. et al. (2012) Asuhan Kebidanan 7 Langkah Soap. Jakarta: EGC.
Manuaba (2012) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta: EGC
LAMPIRAN 3 : JOURNAL READING
JUDUL JURNAL
Untuk memenuhi persyaratan Stase Holistik Masa Remaja dan Pranikah
Oleh:
NAMA MAHASISWA
NIM P000000000000
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
JURUSAN KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES MATARAM
TAHUN 2022
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan Stase Fisiologis Holistik Kehamilan Asuhan Kebidanan
Kehamilan Fisiologis Kunjungan Awal di ………………… Kota ……………..
telah diperiksa dan disahkan pada tanggal September 2021.
Mataram, September 2022
Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi
_________________________________ ____________________________
NIP NIP
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan
rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga tim penyusun dapat menyelesaikan “Buku
Pedoman Praktik Asuhan Kebidanan Holistik Pada Remaja, Pranikah,
Prakonsepsi, Perencanaan kehamilan Sehat Tingkat I Semester I Prodi Profesi
Kebidanan Tahun 2022.
Tujuan penyusunan pedoman ini adalah untuk memudahkan kader dalam
melaksanakan penilaian pertumbuhan dan perkembangan balita. Buku ini dapat
diselesaikan dengan baik berkat dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada
kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
6. Bapak Awan Dramawan, SP.d., M.Kes Selaku Direktur Poltekkes
Kemenkes Mataram
7. Ibu Syajaratuddur Faiqah, Selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Mataram
8. Ibu Bq. Iin Rumintang, SST, M.Keb Selaku ketua program studi profesi
bidan Poltekkes Mataram.
9. ...................................... selaku pembimbing lahan Puskesmas .......
dan seterusnya
10. .......................................selaku pembimbing pendidikan...... dan
seterusnya
11. Seluruh dosen dan staff jurusan kebidanan Poltekkes Kemenkes
Mataram yang telah membantu secara tidak langsung dalam
penyusunan buku pedoman ini
12. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang
juga telah banyak membantu sehingga Buku pedoman ini terselesaikan
tepat pada waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan ini masih jauh dari
kesempurnaan, Kami mengharapkan masukan dari berbagai pihak
untuk kesempurnaan b uku ini.
Mataram, September 2022
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .........................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................................
DAFTAR ISI .....................................................................................................
BAB I ISI JURNAL ....................................................................................
A. Judul ........................................................................................
B. Abstrak .....................................................................................
C. Pendahuluan ............................................................................
D, Metode ......................................................................................
E. Hasil .........................................................................................
F. Pembahasan ............................................................................
G. Kesimpulan ..............................................................................
H. Referensi ............................................................................
BAB II ...........................................................................................................
A. ..................................................................................................
B. ..................................................................................................
C. ..................................................................................................
BAB III ..........................................................................................................
A. ..................................................................................................
B. ..................................................................................................
BAB IV ..................................................................................................
Daftar Pustaka ............................................................................................... 35
Lampiran
BAB I ISI JURNAL
Judul jurnal Nama Penulis
Instansi/institusi/korespodensi
Pada BAB I mahasiswa melaporkan isi jurnal berdasarkan satu jurnal yang
telah dibaca. Laporan ini bukan memindahkan isi jurnal tetapi membuat
rangkuman isi jurnal menurut pemahaman yang telah dibaca mahasiswa
meliputi:
A. Judul Jurnal
B. Abstrak
C. Pendahuluan
D. Metode
E. Hasil
F. Pembahasan
G. Kesimpulan
H. Referensi
BAB II TELAAH JURNAL
Pada BAB II mahasiswa melakukan telaah jurnal. Telaah jurnal bisa
menggunakan metode-metode dalam melakukan telaah kritis misalnya
STROBE, PICOD atau lainnya.
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
Pada BAB III mahasiswa menuliskan tinjauan pustaka sesuai topik jurnal
yang dibahas. Tinjauan pustaka berisi teori teori dari topik yang dibahas pada
jurnal ini. Misal membahastentang anemia maka dapat dibahas mulai definisi,
etiologi, epidemiologi, klasifikasi, gambaran klinis, penatalaksanaan, wewenang
bidan dalam kasus tersebut dan lain sebagainya. Referensi tinjauan pustaka bisa
dari buku, sumber terpercaya lainnya dan jurnallain yang terkait.
BAB IV PENUTUP
Mahasiswa melakukan kesimpulan secara keseluruhan tentang jurnal ini.
DAFTAR PUSTAKA
(Menggunakan van couver, diusahakan menggunakan Mendeley atau program
lain sejenis)
LAMPIRAN:
JURNAL YANG DIBAHAS
LAMPIRAN 4 : MORNING REPORT
Nama mahasiswa MORNING REPORT
NIM
Tempat Praktik : ………………………………………………………………………………………………
Stase : ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
NO Hari/ MASALAH EVALUASI TINDAK
tanggal LANJUT
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik Mahasiswa
(_ ) (_ _________________) (______________)
87
Nama mahasiswa MORNING REPORT
NIM
Tempat Praktik : ………………………………………………………………………………………………
Stase : ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
NO Hari/ MASALAH EVALUASI TINDAK
tanggal LANJUT
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik Mahasiswa
(_ ) (_ _________________) (______________)
88
Nama mahasiswa MORNING REPORT
NIM
Tempat Praktik : ………………………………………………………………………………………………
Stase : ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
NO Hari/ MASALAH EVALUASI TINDAK
tanggal LANJUT
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik Mahasiswa
(_ ) (_ _________________) (______________)
89
Nama mahasiswa MORNING REPORT
NIM
Tempat Praktik : ………………………………………………………………………………………………
Stase : ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
: ………………………………………………………………………………………………
NO Hari/ MASALAH EVALUASI TINDAK
tanggal LANJUT
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik Mahasiswa
(_ ) (_ _________________) (______________)
90
LAMPIRAN 5 : LAPORAN REFLEKSI KASUS
REFLEKSI KASUS/ ESSAY REFLEKSI
A. Tujuan Melakukan Refleksi Kasus :
1. Meningkatkan praktek dimasa yang akan datang
2. Jujur terhadap diri dan penampilan yang dimiliki
3. Selalu mencari pertolongan/bantuan kepada teman (Tim) jika diperlukan
4. Meyakini bahwa praktek yang dilakukan berdasarkan penelitian yang up
to date
5. Dengan menggunakan critical thinking meningkatkan diri untuk
menghadapi tantangan.
6. Meningkatkan kepercayaan
7. Selalu berusaha menggali dan mencari pembenaran yang rasional dari
tindakan yang dilakukan
B. Enam Langkah Refleksi Kasus dengan Gibbs Reflective Cycle:
1. Deskripsi : Apa yang terjadi?
Jelaskan secara rinci, apa yang terjadi ?
Termasuk : di mana anda berada, siapa lagi yang ada di sana, mengapa
Anda berada di sana, apa yang anda lakukan, apa yang orang lain lakukan,
apa konteks kejadian ini, apa yang terjadi, apa hasilnya.
2. Emosi pribadi terhadap kasus : Apa yang anda pikirkan dan anda
rasakan?
Cobalah untuk mengingat dan mengeksplorasi apa yang terjadi di dalam
pikiran anda, Termasuk : bagaimana anda merasa ketika kejadian ini
terjadi, apa yang anda pikirkan saat itu, bagaimana perasaan anda,
bagaimana perasaan orang lain, bagaimana perasaan anda dari apa yang
terjadi, apa yang anda pikirkan tentang hal itu sekarang.
3. Evaluasi : Apa yang baik dan apa yang buruk tentang kejadian yang
dijalani?
Cobalah untuk mengevaluasi atau membuat keputusan tentang apa yang
telah terjadi, Pertimbangkan apa yang baik tentang pengalaman dan apa
yang buruk tentang pengalaman,
4. Analisis : Apakah hal lain yang dapat dialkukan terhadap situasi tersebut?
“Apa analisis anda dalam situasi ini? Bawalah ide-ide dari luar pengalaman
untuk membantu Anda.” Apa yang sebenarnya terjadi?” “Apakah
pengalaman orang yang berbeda akan sama atau berbeda ?
5. Kesimpulan : Apa yang telah dilakukan?
“Apa yang bisa disimpulkan, dalam pengertian umum, dari pengalaman
dan analisis yang telah dilakukan?” “Apa yang bisa disimpulkan tentang diri
sendiri yang spesifik, unik terkait situasi pribadi atau cara kerja?”
6. Tindak Lanjut : Apabila bertemu kasus serupa, apa yang akan dilakukan?
“Apa yang akan anda lakukan secara berbeda pada situasi semacam ini
waktu berikutnya?” “Langkah-langkah apa yang akan anda ambil atas
dasar apa yang telah anda pelajari?”
91
LAPORAN REFLEKSI KASUS
NAMA MAHASISWA : ..............................................................................................
NIM : ..............................................................................................
HARI/TANGGAL : ..............................................................................................
KASUS : ..............................................................................................
1. Deskripsi : ………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
2. Emosi Pribadi terhadap Kasus :………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
3. Evaluasi :………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
4. Analisis :………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
5. Kesimpulan : ………………………………………………………………………………………………………………
92
6. Tindak lanjut ………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
: ………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Mahasiswa
(_ __________ )
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik
(_ ____________) (_ __________)
93
LAPORAN REFLEKSI KASUS
NAMA MAHASISWA : ..............................................................................................
NIM : ..............................................................................................
HARI/TANGGAL : ..............................................................................................
KASUS : ..............................................................................................
7. Deskripsi : ………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
8. Emosi Pribadi terhadap Kasus :………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
9. Evaluasi :………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
10. Analisis :………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
11. Kesimpulan : ………………………………………………………………………………………………………………
94
12. Tindak lanjut ………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
: ………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Mahasiswa
(_ __________ )
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik
(_ ____________) (_ __________)
95
LAMPIRAN 6 : LEMBAR KEGIATAN HARIAN
JURNAL KEGIATAN HARIAN PRAKTIKAN/ MAHASISWA
Tempat praktek : ………………………………………………………
Ruangan : ……………………………………………………….
STASE : ……………………………………………………….
NO HARI/ TANGGAL KEGIATAN TANDA TANGAN
Pemb. Lahan
(_________________)
Pemb. Pendidikan
(_________________)
96
JURNAL KEGIATAN HARIAN PRAKTIKAN/ MAHASISWA
Tempat praktek : ………………………………………………………
Ruangan : ……………………………………………………….
STASE : ……………………………………………………….
NO HARI/ TANGGAL KEGIATAN TANDA TANGAN
Pemb. Lahan
(_________________)
Pemb. Pendidikan
(_________________)
97