The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alyaputri, 2024-03-24 05:09:13

Muatan Lokal Daerah Palembang "Batik Jumputan Khas Palembang"

Bahan Ajar Disusun Oleh Kelompok 11 Seni Budaya dan Prakarya Fase C/ Kelas 5 Batik Jumputan Khas Palembang


Cover......................................................................1 Daftar Isi.................................................................2 Kata Pengantar........................................................3 Tujuan Pembelajaran................................................4 Pengertian Batik Jumputan .......................................5 Ragam Motif Batik Jumputan.....................................7 Teknik Membuat Batik Jumputan...............................10 Cara Membuat Batik Jumputan Palembang.................11 Manfaat Membuat Batik Jumputan.............................13 Kesimpulan.............................................................14 Daftar Pustaka........................................................15 DAFTAR ISI 2


Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas semua kehendaknya, saya berhasil menyelesaikan “Bahan Ajar Seni Budaya” dengan tepat waktu. Penyusunan Bahan Ajar ajukan untuk memberikan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Penulis berharap, pemaparan dalam isi materi sederhana ini bisa mempermudah pembaca untuk memahami materi “Batik Jumputan Khas Palembang”. Penulis menyadari bahwa penyusunan bahan ajar yang dibuat masih jauh dari kata sempurna, dan memiliki kekurangan dari berbagai aspek. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan bahan ajar ini. Semarang, 23 Maret 2024 Kelompok 5 KATA PENGANTAR 3


Peserta didik mampu mengeksplorasi budaya dan kearifan lokal daerah khususnya dalam pembelajaran ini, yaitu Melestarikan Batik Jumputan Sebagai Khasanah Kekayaan Kebudayaan Nasional (C2). 1. Peserta didik mampu menerapkan sikap kreatif terhadap kearifan lokal (C3). 2. Peserta didik mampu menyimpulkan konsep serta nilai-nilai kearifan lokal daerah (C4). 3. Peserta didik mampu menciptakan kerajinan berbasis kearifan lokal, yaitu “Batik Jumputan” (P5). 4. Tujuan Pembelajaran 4


Alat pengikat yang digunakan telah berubah. Dahulu mengunakan daun lontar dan saat ini menggunakan tali rafia. Pada dasarnya keseluruhan tali pengikat haruslah menggunakan bahan kedap air. Hanya menggunakan zat pewarna yang kemudian disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Proses pembuatannya dengan mengikat kain dan pencelupan pada zat warna maka akan tercipta kain jumputan. Kain jumputan biasa ditampilkan tekstur motif dari berbagai material, misalnya biji-bijian, batu-batuan dan kayu. Batik jumputan adalah suatu batik yang dibuat dengan cara ikat celup, yaitu diikat dengan tali yang dicelupkan ke dalam warna. Batik ini tidak menggunakan malam, tetapi kainnya diikat atau dijahit dan dikerut menggunakan sebuah tali. Jumputan merupakan teknik menghias kain dengan cara menjumput kain kemudian diisi dengan benda tertentu (biji-bijian, kelereng, kacang, batu, manik-manik) dengan pola tertentu yang diikat, dijahit, dikerut dan dicelupkan kedalam pewarna. Alat dan bahan yang biasa digunakan dalam celup ikat terdiri dari kain, pewarna, tali rafia, serta alat bantu lainnya untuk proses pencelupan. Pengertian Batik Jumputan 5


Alat pengikat yang digunakan telah berubah. Dahulu mengunakan daun lontar dan saat ini menggunakan tali rafia. Pada dasarnya keseluruhan tali pengikat haruslah menggunakan bahan kedap air. Hanya menggunakan zat pewarna yang kemudian disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Proses pembuatannya dengan mengikat kain dan pencelupan pada zat warna maka akan tercipta kain jumputan. Kain jumputan biasa ditampilkan tekstur motif dari berbagai material, misalnya biji-bijian, batubatuan dan kayu. Jumputan merupakan teknik menghias kain dengan cara menjumput kain kemudian diisi dengan benda tertentu (biji-bijian, kelereng, kacang, batu, manik-manik) dengan pola tertentu yang diikat, dijahit, dikerut dan dicelupkan kedalam pewarna. Alat dan bahan yang biasa digunakan dalam celup ikat terdiri dari kain, pewarna, tali rafia, serta alat bantu lainnya untuk proses pencelupan. Pengertian Jumputan 6


Corak dan motif batuk jumputan berbeda di tiap provinsi, berikut ini motif jumputan yang ada di Palembang. Motif Geometris, Bentuk geometris adalah bentuk segi tiga, segi empat, lingkaran dan lain-lain. Pada bentuk ini biasanya digunakan untuk mengatur bentukbentuk motif dari jumputan. 1. Motif Dekoratif, Bentuk dekoratif adalah bentuk yang sudah diubah dari bentuk asli melalui proses stilasi atau stilir yang masih ada ciri khas bentuk aslinya. Bentuk dekoratif dapat berupa ragam hiasan pada tenunan, bentuk ini sering digunakan dalam bentuk dekoratif atau hias pada kain jumputan. 2. Motif Naturalis, Bentuk naturalis atau bentuk organik bentuk ini adalah bentuk-bentuk dari alam. Contoh dari bentuk natural adalah tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bentuk- bentuk alam lainnya. Bentuk ini biasanya digunakan pada motif batik yang disebut dengan motif flora dan fauna. 3. Motif Abstrak, Bentuk abstrak adalah bentuk yang tidak terikat pada bentuk apapun, tetapi tetap mempertimbangkan prinsip- prinsip desain. 4. Pada kain celup ikat atau kain jumputan biasanya memakai ragam hias dekoratif. Ragam Motif Batik Jumputan 7


Ragam Motif Batik Jumputan Gambar 2. Motif bunga teratai, atau bintik Sembilan Terdapat beberapa nama corak kain celup ikat atau kain jumputan di Nusantara, disetiap daerah memiliki nama corak yang berbeda- beda. Beberapa macam corak yang dihasilkan dari teknik kain celup ikat atau kain jumputan, antara lain: ombak sinapur karang, naga balimbur, pelangi, bunga teratai, atau bintik Sembilan, matahari bersinar. 8 Gambar 1. Motif Ombak Sinapur Karang Gambar 3. Motif Pelangi Keragaman motif jumputan dapat diperoleh dengan cara melipat, menjerat atau menyimpul kain, serta ikatan yang berbeda-beda. Secara umum corak jumputan dapat dibagi menjadi 5 jenis ragam hias yaitu hias penuh, jelujur, lubang, lompatan, dan bungkusan. Ragam hias alami terdiri dari unsur-unsur alam dan ragam hias non alami yang merupakam hasil kreativitas pencipta, baik yang bentuknya mendekati unsur alam maupun lepas dari unsur alam.


Ragam Motif Batik Jumputan Gambar 5. Motif Sasirangan Terdapat beberapa nama corak kain celup ikat atau kain jumputan di Nusantara, disetiap daerah memiliki nama corak yang berbeda- beda. Beberapa macam corak yang dihasilkan dari teknik kain celup ikat atau kain jumputan, antara lain: ombak sinapur karang, naga balimbur, pelangi, bunga teratai, atau bintik Sembilan, matahari bersinar. 9 Gambar 4. Motif Naga Balimbur Gambar 6. Motif Mawar Ganda Gambar 7. Motif Matahari Bersinar


Ada dua teknik membuat batik jumputan yaitu teknik ikat dan teknik jahitan. Teknik ikat adalah membuat pola batik jumput dengan cara mengikat kencang kain dengan karet atau tali raffia sehingga warna tidak masuk ke kain. 1. Teknik jahitan adalah membuat pola terlebih dahulu pada kain lalu dijahit dengan menggunakan tusuk jelujur pada garis warnanya dengan menggunakan banang, lalu benang ditarik kuat sehingga kain berkerut serapat mungkin. Pada waktu dicelup, benang yang rapat akan menghalangi warna masuk ke kain. Benang yang digunakan sebaiknya benang yang tebal dan kuat seperti benang plastik atau sintesis, benang jins, atau benang sepatu. Hasil jumputan teknik jahitan ini berupa titik-titik yang agak menyambung membentuk pola 2. 10 Teknik Membuat Batik Jumputan


Alat dan Bahan Praktikum Peserta Didik Membuat “Batik Jumputan” Berikut alat dan bahan yang dibutuhkan. 1.Baju kaos putih polos Karet gelang, Tali (boleh tali rafia), atau benang nilon 2. 3.Beberapa butir kelereng atau batu (Optional ) 4.Zat pewarna tekstil (wantek) / remasol 5.Gelas plastik 6.Botol plastik 7.Alas plastik 8.Ember 9.Air 10.Garam Cara Membuat Batik Jumputan Palembang 11 AYO PRAKTIKUM !


Cara Membuat Batik Jumputan: Buka lebar baju kaos, kemudian mulai buat motif dengan cara melipat baju kaos menjadi bentuk yang diinginkan. Ikat kain dengan kencang dan kuat menggunakan karet. 1. Masukkan zat pewarna ke dalam gelas plastik, kemudian tambahkan air dan 2 sendok teh garam lalu aduk hingga rata, setelah itu masukkan ke dalam botol yang telah diberi lubang di tutupnya. 2. Siapkan kain, kelereng, dan tali rafia untuk membuat pola. Ikat kelereng pada beberapa kain dengan karet sekencang mungkin dan variatif untuk pembuatan pola jumputan. 3. Siapkan ember berisi air, kemudian masukkan baju kaos yang telah diikat ke dalam ember, celupkan sampai membasahi seluruh bagian kaos. 4. Siapkan alas plastik kemudian berikan pewarna tekstil pada kaos yang sudah dibasahi sesuai dengan pola yang diinginkan. 5. Setelah semua warna sudah diberikan bungkus kaos menggunakan plastik, kemudian diamkan selama 15 menit agar warna menyerap serat kain. 6. Setelah itu buka pengikat dan jemur kaos di tempat yang tidak terkena matahari langsung, tunggu hingga mengering. 7. Setelah kering cuci kaos seperti biasa sampai warna air berubah menjadi bening. 8. 9.Jemur kaos yang telah direndam air dan jemur dibawah matahari. 10.Batik jumput siap digunakan. Cara Membuat Batik Jumputan Palembang 12 AYO PRAKTIKUM !


Manfaat MEMBUAT BATIK JUMPUTAN Melalui kegiatan praktikum membuat batik jumputan peserta didik dapat mengeksplorasi budaya dan kearifan lokal daerah khususnya dalam pembelajaran ini, yaitu Melestarikan Batik Jumputan Sebagai Khasanah Kekayaan Kebudayaan Nasional. 1. Dapat menumbuhkan kreativitas karena peserta didik bebas menuangkan ide motif yang ingin dibuat dan menuangkan warna sesuai dengan imajinasi mereka. 2. Selain itu pembuatan baik ini dilakukan secara berkelompok, peserta didik harus bekerjasama dengan anggota kelompok saling bertukar pikiran membagi tugas bahkan menunbuhkan sikap saling menghargai. 3. Menimbulkan rasa bangga, puas dan percaya pada diri sendiri. 4. Dengan berbagi langkah yang panjang peserta didik dilatih untuk bersabar dan menghargai setiap proses yang telah dilalui. 5. 13


KESIMPULAN Batik jumputan adalah suatu batik yang dibuat dengan cara ikat celup, yaitu diikat dengan tali yang dicelupkan ke dalam warna. Batik ini tidak menggunakan malam, tetapi kainnya diikat atau dijahit dan dikerut menggunakan sebuah tali. Jumputan merupakan teknik menghias kain dengan cara menjumput kain kemudian diisi dengan benda tertentu (biji-bijian, kelereng, kacang, batu, manikmanik) dengan pola tertentu yang diikat, dijahit, dikerut dan dicelupkan kedalam pewarna. Alat dan bahan yang biasa digunakan dalam celup ikat terdiri dari kain, pewarna, tali rafia, serta alat bantu lainnya untuk proses pencelupan. Motif yang dihasilkan dari teknik kain celup ikat atau kain jumputan, antara lain: ombak sinapur karang, naga balimbur, pelangi, bunga teratai, atau bintik Sembilan, matahari bersinar. Banyak seklai manfaat dari kegiatan praktikum membuat batik jumputan yakni melatih kemandirian, kerjasama, kreativitas, dan rasa percaya diri peserta didik. 14


DAFTAR PUSTAKA Nurhayati, N. 2016. Melestarikan Budaya Seni Kain Jumputan Palembang. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 2(1), 10-15. Sadiman. Buku Pendidikan Muatan Lokal Sumatera Selatan untuk Sekolah Dasar Kelas V. Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 38 Tahun 2015. Yudhistira: Jakarta https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/16156/JUMPUTANPALEMBANG.html#:~:text=Ada%20lebih%20dari%2050%20motif,lima% 2C%20dan%20bintik%2Dbintik. (Diakses pada 23 Maret 2023) 15 Handayani, N. T. (2016). Kain Jumputan Karya H. Udin Abdillah di Palembang (Doctoral dissertation, INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA). Rapanie. 2010. Tekstil Pembuatan dan Penggunaannya. Palembang: : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sumatera Selatan. Setyowulan, D. (2016). Pengaruh Pemanfaatan Metode Demonstrasi Jumputan dan Metode Demonstrasi Membatik terhadap Kreativitas Anak Usia Dini. E-Jurnal Skripsi Program Studi Teknologi Pendidikan, 5(3). Handoyo, Dwi Joko. 2008. Batik dan Jumputan. Yogyakarta: Erlangga Depdikbud. 2012. Ensiklopedia Nasional Indonesia. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka. Depdiknas. 2000. Tenun Tradisional Sumatera Selatan. Palembang: Depdiknas. Dinas kebudayaan Prov. SumSel. 2012. Kebudayaan Sumatera Selatan. Palembang: Depdikbud.


Click to View FlipBook Version