The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ongahsyafrizal, 2024-01-12 10:45:50

E-MODUL MENULIS PANTUN TUNJUK AJAR MELAYU

Ok Padek E-MODUL MENULIS PANTUN

Bahasa Indonesia - Modul 7. Puisi Rakyat \\\\\\ MENULIS PANTUN Bermuatan Tunjuk Ajar Melayu E-Modul Bahasa Indonesia Disusun Oleh: Rahma Widiastuti SMP/MTs Kelas VII


i Menulis Pantun Bermuatan Tunjuk Ajar Melayu Disusun untuk: Disusun oleh: SMP/MTs Kelas VII Rahma Widiastuti Jika hendak ke Rokan, Siggah sebentar di istana Raja. Jika ingin menjadi anak menyenangkan, Berbicara jujur dalam berbicara. Tugu Ratik Togak Rohul Ratik Togak di Rokan Hulu, tugunya indah ada maknanya. Kasih sayang ayah dan ibu, Takkan lekang dimakan masa.


ii KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Segala puji hanya milik Allah SWT. Sholawat dan salam selalu terlimpah curahkan kepada nabi besar Muhammad SAW. Berkat limpahan rahmat dan anugerah yang diberikanNya penulis diberikan kemudahan dan pertolongan berupa kesehatan, baik fisik maupun akal pikiran sehingga penulis sabagai makhluk yang lemah ini dapat menyusun sebuah E-Modul Menulis Pantun sebagai Tunjuk Ajar Melayu. Setelah para pelajar membaca E-Modul ini, akan tumbuh minat para pelajar kita untuk mempelajari lebih jauh tentang kekayaan bahasa daerah. Selain itu, pengenalan berbagai butir Tunjuk Ajar Melayu ini dapat pula turut membangun karakter para pelajar melalui pelajaran tentang etika, budi luhur, kearifan lokal, serta juga melalui estetika bahasa yang dimiliki oleh setiap bahasa daerah, khususnya Melayu. E-Modul ini sebagai sarana yang mendukung pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa kelas VII tingkat SMP/MTs. Materi dan tugas belajar dikembangkan agar peserta didik secara terintegrasi mampu menguasai kompetensi dan tujuan pembelajaran. Selain itu, materi dan tugas belajar secara terpadu dirancang untuk dapat menerapkan tunjuk ajar Melayu, terutama pada materi pantun. E-Modul ini dirangkai untuk memudahkan peserta didik dalam belajar mandiri, intensif, dan komunikatif. Sesuai namanya, E-Modul ini menyajikan materi tentang pantun dan contoh-contoh pantun sebagai tunjuk ajar Melayu. Para siswa, khususnya siswa SMP/MTs dapat mempelajari materi pantun secara lebih mendalam dan detail serta disajikan latihan soal tentang pantun. Selain itu, dalam E-Modul ini siswa dapat mengetahui bagaimana cara menulis pantun dengan benar dan mudah. Dalam penyusunan E-Modul ini, banyak hambatan dan rintangan yang penulis hadapi. Namun, dengan penuh kesabaran dan pertolongan dari Allah SWT, juga berkat bantuan, motivasi, dan bimbingan dosen pembimbing, semua kendala yang penulis hadapi teratasi dan akhirnya E-Modul ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ucapka terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Semoga dengan adanyanya E-Modul ini dapat memberikan wawasan dan menjadi referansi bagi siswa, serta sumbangan bahan ajar pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Selanjutnya, E-Modul ini juga dapat sebagai pelestarian, pengembangan pantun itu sendiri, dan pantun tetap menjadi satu wariasan yang merupakan milik Indonesia, yang takkan hilang ditelan zaman. Selamat belajar, utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Bahasa Indonesia untuk Bangsa Indonesia. Generasi Indonesia cinta Bahasa Indonesia, cinta puisi rakyat. Akhir kata, selamat belajar dan salam sukses. WassalamualaikumWarahmatullahi Wabarakatuh Rokan, Oktober 2023 Penulis


iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....................................................................................................... I DAFTAR ISI ..................................................................................................................... II DAFTAR TABEL ............................................................................................................. III DAFTAR GAMBAR......................................................................................................... IV PETA MATERI ............................................................................................................... V PETUNJUK BELAJAR ................................................................................................... VI BUTIR-BUTIR TUNJUK AJAR MELAYU ................................................................... VII GLOSARIUM ................................................................................................................... VIII Kegiatan Pembelajaran 1 .................................................................................................... 1 1. Mengenal Pantun dan Unsur Pembangun Panrun ......................................................... 5 1.1 Sejarah Pantun ....................................................................................................... 6 1.2 Pengertian Pantun Menurut para Ahli .................................................................... 7 1.3 Tunjuk Ajar Melayu .............................................................................................. 7 1.4 Klasisfikasi Pantun ................................................................................................ 8 1.5 Unsur-Unsur Pantun ............................................................................................... 11 Contoh Analisis Unsur-Unsur Pantun ................................................................... 13 Rangkuman ............................................................................................................ 14 Latihan 1 ................................................................................................................ 14 Kegiatan Pembelajaran 2 .................................................................................................... 17 2. Menulis Teks Pantun ................................................................................................... 17 2.1 Struktur Pantun ...................................................................................................... 17 2.2 Kaidah Kebahasaan Pantun ................................................................................... 19 2.3 Langkah-Langkah Menulis Pantun ........................................................................ 19 2.4 Menulis Pantun dengan Teknik Analogi ............................................................... 20 Rangkuman ............................................................................................................ 21 Latihan 2 ................................................................................................................. 22 Uji Kompetensi ................................................................................................................... 26 Kunci Jawaban.................................................................................................................... 27 Daftar Pustaka..................................................................................................................... 28


iv PETA MATERI Kompetensi Inti Pengetahuan Kompetensi Inti Keterampilan 3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata 4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis,membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori Kompetensi Dasar Pengetahuan Kompetensi Dasar Keterampilan 3.13 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang dibaca dan didengar. 4.13 Menyimpulkan isi puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang disajikan dalam bentuk tulis dan lisan. 3.14 Menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang dibaca dan didengar. 4.14 Mengungkapkan gagasan, perasaan, pesan dalam bentuk puisi rakyat secara lisan dan tulis dengan mempertimbangkan struktur, rima, dan penggunaan bahasa. Tabel 1 Peta Materi


v PETUNJUK BELAJAR Sebelum Ananda menggunakan E-Modul ini, terlebih dahulu Ananda baca petunjuk mempelajari E-Modul berikut ini: 1. Pelajarilah E-Modul ini dengan baik. Mulailah mempelajari materi pelajaran yang ada dalam E-Modul di setiap kegiatan pembelajaran hingga Ananda dapat menguasainya dengan baik. 2. Lengkapilah setiap bagian aktivitas dan tugas yang terdapat dalam E-Modul ini dengan semangat dan gembira. Jika mengalami kesulitan dalam melakukannya, catatlah kesulitan tersebut pada buku catatan Ananda untuk dapat mendiskusikannya bersama teman, menceritakannya kepada orang tua, atau dapat menanyakannya langsung kepada Bapak/Ibu Guru pada saat jadwal kegiatan pembelajaran berlangsung. 3. Lengkapi dan pahamilah setiap bagian dalam rangkuman sebagai bagian dari tahapan penguasaan materi E-Modul ini. 4. Kerjakan setiap bagian Kegiatan Belajar sebagai indikator penguasaan materi dan refleksi proses belajar Ananda dengan semangat dan jujur. Ikuti petunjuk pegerjaan dan evaluasi hasil pengerjaannya dengan saksama. 5. Jika Ananda telah menguasai seluruh bagian kompetensi pada setiap kegiatan belajar, lanjutkan dengan mengerjakan uji kompetensi sebagai evaluasi pembelajaran secara sendiri untuk kemudian dilaporkan kepada Bapak/Ibu Guru. 6. Ingat dan tanamkan tunjuk ajar Melayu dalam kehidupan sehari-hari agar materi pelajaran yang telah dipelajari bermanfaat untuk dirimu dan orang lain. 7. Gunakan Daftar Pustaka dan Glosarium yang disiapkan dalam E-Modul ini untuk membantu mempermudah proses belajar Ananda. Selamat belajar dan Tetap Semangat!


vi Teruntuk Bapak/Ibu Orang Tua peserta didik, berkenan Bapak/Ibu dapat meluangkan waktunya untuk mendengarkan dan menampung serta membantu memecahkan permasalahan belajar yang dialami oleh Ananda peserta didik. Jika permasalahan belajar tersebut belum dapat diselesaikan, arahkanlah Ananda peserta didik untuk mencatatkannya dalam buku catatan mereka untuk didiskusikan bersama teman maupun Bapak/Ibu Guru mereka saat jadwal kegiatan pembelajaran berlangsung. Teruntuk Bapak/Ibu Guru, E-Modul ini disusun dengan orientasi teks dan setiap EModul dirancang untuk dapat mencakup satu atau lebih pasangan kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat pada kompetensi inti 3 (pengetahuan) dan kompetensi inti 4 (keterampilan). Setiap peserta didik diarahkan untuk dapat mempelajari E-Modul ini secara mandiri dan mereka juga diharapkan dapat menuliskan setiap permasalahan pembelajaran yang ditemuinya saat mempelajari E-Modul ini dalam buku catatan mereka. Berkenaan dengan permasalahan-permasalahan tersebut, diharapkan Bapak/Ibu Guru dapat membahasnya dalam jadwal kegiatan pembelajaran yang telah dirancang sehingga Ananda peserta didik dapat memahami kompetensi-kompetensi yang disiapkan dengan tuntas.


vii BUTIR-BUTIR TUNJUK AJAR MELAYU Butir-Butir Tunjuk Ajar Melayu terintegrasi dalam proses pembelajaran, pengembangan diri guru, mulai dari membuat perencanaan sampai dengan berakhir proses pembelajaran, kegiatan spontan guru, kegiatan rutin guru, keteladanan, dan kesesuaian dengan warga sekolah dan budaya sekolah. Menurut Effendy (2004) bahwa Butir-Butir Tunjuk Ajar Melayu berisi 29 tema ditambah dengan 10 tema tentang petuah dan amanah. Dua puluh sembilan tema atau butir-butir Tunjuk Ajar Melayu: Gambar 2 Dua Puluh Sembilan Butir-Butir Tunjuk Ajar Melayu 1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 6. Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan 2. Ketaatan kepada Ibu Bapak 7. Ikhlas dan Rela Berkorban 3. Ketaatan kepada Pemimpin 8. Kerja Keras, Rajin, dan Tekun 4. Persatuan dan Kesatuan, Gotong Royong, dan 9. Sikap Mandiri dan Percaya Diri Tenggang Rasa 5. Keadilan dan Kebenaran 10. Bertanam Budi dan Membalas Budi 11. Rasa Tanggung jawab 16. Keberanian 12. Sifat Malu 17. Kejujuran 13. Kasih Sayang 18. Hemat dan Cermat 14. Hak dan Milik 19. Sifat Rendah Hati 15. Musyawarah dan Mufakat 20. Bersangka Baik terhadap Sesama Makhluk 21. Sifat Perajuk 26. Memanfaatkan Waktu 22. Sifat Tahu Diri 27. Berpandangan Jauh ke Depan 23. Keterbukaan 28. Mensyukuri Nikmat Allah 24. Sifat Pemaaf dan Pemurah 29. Hidup Sederhana 25. Sifat Amanah


viii Pembahasan tentang butir- butir Tunjuk Ajar Melayu sangat luas sekali. Jadi, dalam E-Modul ini hanya membahas tentang butir-butir yang secara khusus terkait dengan tunjuk ajar bagi para remaja dan generasi muda. Dengan demikian, para siswa dapat mempelajari dan memahami Tunjuk Ajar Melayu yang sesuai dengan dunia dan zamannya. Meskipun Tunjuk Ajar Melayu ditujukan kepada orang Melayu, makna yang tersirat dari butir-butirnya sangat universal sehingga dapat dipergunakan bagi siapa pun yang membacanya. Dari 29 butir tunjuk ajar Melayu, kita hanya akan membahas tentang 6 butir saja, berikut ini: Gambar 3 Enam Butir Tunjuk Ajar Melayu 1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Ketaatan kepada Ibu Bapak 3. Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan 4. Kerja Keras, Rajin, dan Tekun 5. Sikap Mandiri dan Percaya Diri 6. Memanfaatkan Waktu


ix GLOSARIUM Tunjuk Ajar Melayu : Ungkapan yang bersifat khas, mengandung nasihat, amanah, petuah, nilai-nilai tunjuk ajar, dan keteladanan yang mengajak manusia ke jalan kehidupan yang lebih baik dan mendapat keridaan dari Allah SWT. Butir-Butir Tunjuk Ajar Melayu : Isi kandungan dari Tunjuk Ajar Melayu. Pantun : Bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi. Teks : Satuan lingual yang dimediakan secara tulis atau lisan dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan makna secara kontekstual. Tema : Jiwa dari sebuah tulisan atau dengan pengertian lain pokok pikiran,dasar cerita dalam sebuah tulisan. Larik : sebuah baris yang dapat berupa satu kata saja, dapat difrase, dan dapat pula seperti sebuah kalimat. Bait : Suatu kesatuan dalam puisi yang terdiri atas beberapa baris. Diksi : Pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Rima : Bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata, untuk memperindah puisi serta menggambarkan perasaan pengarang


1 Kompetensi Dasar 3.13 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang dibaca dan didengar. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu: 1. Menyimpulkan ciri pantun pada teks yang dibaca/didengar; 2. Menyimpulkan struktur pantun pada teks yang dibaca/didengar; 3. Mendaftar kata/kalimat yang digunakan dalam pantun pada teks yang dibaca/didengar. A. Identifikasi Teks Pantun Gambar 4 Identifikasi Pantun Terbang rendah burung peragam dari huma terbang ke hutan Budaya daerah beraneka ragam mari bersama kita lestarikan


2 Kamu akan belajar tentang pantun bermuatan tunjuk ajar Melayu. Sebagai generasi muda Indonesia, kita harus bersyukur kepada Allah SWT karena Belajar Mengenal Pantun Gambar 5 Tugu Ratik Togak Rokan Hulu Kamu pasti pernah mendengar dan membaca pantun, bukan? Masyarakat Melayu sudah mengenal pantun sejak nenek moyang kita dahulu kala. Pantun pada saat itu sebagai sarana komunikasi dan adaptasi dalam bahasa keseharian ataupun dalam acara adat. Pantun Melayu berfungsi sebagai sarana ekspresi yang bersifat estetis (mengandung nilai-nilai keindahan). Bahasa estetis ini berbeda dengan bahasa keseharian karena lebih banyak menggunakan metafora dan simbol-simbol. “Takkan Melayu hilang di bumi.” Ungkapan ini merupakan keyakinan masyarakat Melayu Riau akan tradisi dan budayanya. Sifat masyarakat Melayu yang terbuka itu menyebabkan terbentuknya tradisi yang majemuk, jati diri kemelayuan tersebut tidak akan pernah sirna di Bumi Lancang Kuning. Oleh karena itu, pantun adalah warisan budaya Melayu yang harus dipelihara dan dilestarikan oleh generasi Z saat ini. Mari kita pelihara dan lestarikan dengan mempelajarinya! Apersepsi Jika hendak ke Rokan Hulu tugu Ratik Togak jangan dilupa Berbaktilah kepada Ayah dan Ibu agar terhindar dari mala petaka


3 T Apa Itu Tunjuk Ajar Melayu? unjuk ajar Melayu adalah segala jenis petuah, petunjuk, nasihat, amanah, pengajaran, dan contoh teladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam arti seluas-luasnya. Tunjuk ajar Melayu mengandung pesan-pesan kebaikan yang bisa membawa manusia ke jalan yang lurus dan diridai Allah, yang bertujuan menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat (Effendy, 2003). Tunjuk ajar merupakan kata majemuk yang terdiri atas dua kata, yaitu tunjuk dan ajar. Kata tunjuk adalah kata dasar yang berarti 'menunjukkan', sedangkan kata ajar menurut kamus berarti 'petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti'. Tunjukajar Melayu disampaikan dengan bahasa yang indah. Definisi tunjuk ajar menurut Effendy (2004) dalam ungkapan-ungkapan, berbunyi: Gambar 6 Definisi Tunjuk Ajar Menurut Effendy (2004) yang disebut tunjuk ajar, petuah membawa berkah amanah membawa tuah yang disebut tunjuk ajar, tunjuk menjadi telaga budi agar menjadi suluh hati yang disebut tunjuk ajar, menunjuk kepada yang elok mengajar kepada yang benar yang disebut tunjuk ajar, mencelikkan mata menyaring telinga membersihkan hati menyempurnakan budi membaikan pekerti. Pantun Bermuatan Tunjuk Ajar Melayu URAIAN MATERI


4 Dalam ungkapan-ungkapan tersebut, selain dapat diketahui apa itu definisi tunjuk ajar Melayu, sekaligus juga dapat dilihat gambaran tujuan dari tunjuk ajar. Misalnya: 1. Frasa petuah membawa berkah menjelaskan nasihat-nasihat yang baik yang membawa kebaikan pula. 2. Frasa amanah membawa tuah bermakna bahwa tunjuk ajar itu serupa dengan amanah yang wajib disampaikan, sebab amanah itu akan membawa tuah atau kebaikan. 3. Frasa telaga budi menggambarkan bahwatunjuk ajar itu seperti sebuah kitab atau pedoman hidup orang Melayu tentang akhlak, watak dan perilaku yang baik. 4. “Suluh hati” adalah metafora atau simbol yang bermakna bahwa telaga budi itulah yang akan menuntun manusia dan menjadi penerang bagi kegelapan hati dan penenang bagi jiwa 5. “ mencelik-kan mata , menyaringtelinga, membersihkan hati, menyempurnakan budi, membaikkan pekerti" hendak menjelaskan bahwa tujuan tunjuk ajar itu untuk membuka kepekaan indrawi fisik dan jiwa manusia terhadapsegala nasihat kebaikan. Kedudukan dan Manfaat Tunjuk Ajar Melayu Tunjuk Ajar Melayu sangat penting bagi kehidupan orang Melayu. Bahkan, kesejatian orang Melayu itu terletak pada bagaimana seseorang itu telah menjalankan segala tunjuk ajar atau belum. Maka, tunjuk ajar harus dijunjung tinggi agar orang Melayu berbudi luhur, agar hidupnya selamat. Maka, kedudukan yang sangat penting tersebut pasti akan memberi manfaat yang banyak dan mengandung nilai positif bagi orang Melayu yang mengamalkan tunjuk ajar, baik bagi pribadi, bagi hubungan keluarga, bagihubungan antarorang Melayu, juga bagi hubungan sosialdengan masyarakat luas. Manfaat Tunjuk Ajar Melayu dapat pula kita baca dalam ungkapan-ungkapan berikut ini. Gambar 7 Manfaat Tunjuk Ajar Melayu Jadi, manfaat Tunjuk Ajar Melayu itu diibaratkan sebagai pakaian, rumah, dan tulang. Ketiganya berfungsi sebagai pelindung dan penyangga tubuh manusia. Pakaian, selain sebagai pelindung diri, juga berfungsi sebagai gambaran dari citra diri seseorang, sopan santun, etika, dan identitas. Kalau hendak hidup terpuji Tunjuk ajar pakaian diri Kalau hendak hidup bertuah Tunjuk ajar jadikan rumah Kalau hendak hidup terpandang Tunjuk ajar jadikan tulang


5 Begitu pula dengan rumah. Rumah berfungsi melindungi manusia dari cuaca. Bentuk rumah juga menggambarkan karakter penghuninya. Sementara tulang, baik bagi tubuh maupun bagi benda apa pun, tulang selalu identiknya dengan fungsinya sebagai penyangga. Jadi, tunjuk ajar juga bermanfaat untuk menyangga kehidupan orang Melayu untuk bisa tegak lurus menjalankan nasihat dan petuah. Tunjuk Ajar Melayu dalam BentukPantun Bacalah pantun berikut! Mendayung sampan di sungai Rokan sampan berlabuh menjelang malam Rasa syukur kami ucapkan dari hati yang paling dalam Tunjuk Ajar Melayu biasanya dituturkan melalui bentuk-bentuk sastra lisan Melayu, seperti pantun. Apa Itu Pantun? Bermacam bunga yang tumbuh dan berkembang di Taman Sastra Melayu nan rimbun. Warna dan wanginya semerbak sampai ke Eropa, afrika, dan negara Asia lainnya. Namun di antaranya, yang indah dan gemilang ialah pantun. Lahirnya pantun Melayu diawali dengan kebiasaan masyarakat Melayu yang senang menggunakan kiasan untuk menyampaikan maksud. Pantun merupakan salah satu bentuk kiasan yang sering digunakan dalam setiap acara, baik acara kelahiran, pertemuan, pernikahan, maupun acara adat. Dengan demikian, pantun merupakan alat komunikasiyang sangat penting dalam masyarakat Melayu. Oleh karena itu, dahulu pantun dapat dijadikan alat untuk mengukur kepandaian seseorang. Orang yang cakap dalam berpantun dianggap orang yang pandai.” Pantun adalah warisan budaya tak benda Indonesia. Saat ini, UNESCO telah menetapkan Tradisi Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tanggal 17 Desember 2020. Penetapan itu berlangsung pada sidang UNESCO sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis. UNESCO menilai Pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, namun juga kaya akan nilai-nilai yang menjadi panduan moral. Pesan yang disampaikan melalui Pantun umumnya menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antarmanusia. Pantun mengandung makna, nilai moral


6 atau nasihat kehidupan. Melalui pantun inilah para leluhur kita mewariskan nilai-nilai luhur dengan cara menghibur, segar, dan indah. (https://www.kemdikbud.go.id/). Negara Indonesia merupakan sebuah negara besar dan luas yang memiliki beragam khazanah budaya. Pada masyarakat Semenanjung Melayu yang di dalamnya terdapat Negara Indonesia, Negara Malaysia, Brunei Darussalam pasti mengenal sebuah tradisi lisan yang disebut dengan pantun. Dahulu pantun bagian dari proses komunikasi masyarakat dalam menyampaikan hajat atau maksudnya kepada orang lain. Kemudian, digunakan juga dalam adat istiadat perkawinan yang selalu kita dengar. Namun penggunaan pantun dalam kehidupan sehari-hari ternyata lebih luas lagi, bahkan di zaman dahulu ketika ingin mendekati seorang gadis, maka seorang pria akan mengutarakannya lewat pantun. Bahkan, perkelahian seseorang dengan seseorang masih terdengar susunan pantun di dalamnya. Sehingga pantun menjadi sangat dikenal oleh masyarakat di Semenanjung Melayu atau Nusantara. Di alam Melayu, pantun dikarang di Palembang, Jambi, minangkabau, Deli, Aceh, dan Riau selam ribuan tahun. Inilah suatu hayat yang sangat panjang dan subur. Sebenarnya cukup luar biasa dalam sejarah satera dunia. Pantun mengembara ke dalam seluruh hidup manusia Melayu dan menjadi semacam tanda, jati diri, dan lencana yang dibanggakan. Pantun salah satu bentuk sastra lisan yang dulu disenandungkan atau dinyanyikan. Kata pantun berasal dari akar kata tun yang terdapat dalam berbagai bahasa Nusantara ini. Misalnya, dalam bahasa Pampanga, kata tuntun berarti 'teratur'. Dalam bahasa Tagalog, kata tonton berarti 'berbicara menurut aturan tertentu'. Dalam bahasa Melayu, pantun berarti 'kuatren', yakni sajak yang berbaris empat dengan sanjak ab-ab (Zaini, 2018:14). Menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) mengemukakan bahwa kata “pantun” berasal dari kata “pan” yang berarti “sopan/beretika”, dan kata “tun” yang berarti “santun/teratur”. Kata “tun” pada bahasa Melayu berarti “arah/pelihara/bimbingan” seperti kata yang ditunjukkan oleh kata“tunjuk” dan “tuntun”. Menurut Hamidy (Suseno, 2006) mengungkapkan bahwa pantun adalah bahasa terikat yang dapat memberi arah, petunjuk, tuntunan, dan bimbingan. Syafrial (2018) mengungkapkan bahwa pantun merupakan puisi lama yang bersifat lisan disampaikan secara spontan oleh penutur. Namun, dalam perkembangannya pantun sudah bertransformasi kepada bentuk sastra lisan. Pada hakikatnya satu bait pantun terbagi menjadi dua status, separuh pertama berperan sebagai sampiran yang menjadi padanan bunyi akhir untuk separuh berikutnya. Pantun memiliki beberapa aspek di dalamnya yaitu sampiran, isi, dan persajakan atau rima. Menurut Elmustian dan Razak (2021:21) bahwa pantun dimaknai sebagai seni berbicara/menulis untuk menyampaikan maksud kepada orang lain. Pantun dikatakan indah (estetis) karena terdapat persekutuan bunyi baik pada level huruf, suku kata, kata, dan kelompok kata. Persekutuan bunyi lazimnya disebut dengan istilah rima. Pantun semestinya memiliki nilai etika karena isinya bersifat faktual. Menurut Effendy (2005:14) pantun bagi masyarakat Melayu menempati kedudukan yang baik, karena dianggap sangat bermanfaat dalam kehidupan mereka. Manfaat pantun selain sebagai hiburan, juga menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur agama, budaya, serta norma-norma sosial yang dianut masyarakatnya.


7 Karakteristik Pantun Pantun sebagai tradisi lisan, kemudian diperkuat dengan aturan-aturan ketika pantun itu menjadi sebuah karya sastra dalam bentuk tulisan. Hal ini untuk menjaga nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pantun, sehingga pantun tidak menghasilkan sebuah arti yang salah dan pantun ditulis bukan tanpa teknik. Pantun memiliki karakteristik/ciri khas bahasa yang amat kental yang membedakannya dengan jenis puisi lama lainnya. Berikut ini karakteristik/ciri-ciri pantun (Suseno, 2006) : Karakteristik/Ciri-Ciri Pantun Karakteristik/Ciri-Ciri Pantun dan Contoh No Pantun Contoh 1. Pantun memiliki 4 (empat) baris Banyak orang bergelang tangan saya seorang bergelang kaki Banyak orang larang jangan saya seorang turut hati 2. Struktur barisnya adalah : baris 1 (pertama) dan 2 (kedua) disebut dengan sampiran baris 3 (ketiga) dan 4 (keemapat) disebut dengan isi Banyak orang bergelang tangan sampiran saya seorang bergelang kaki Banyak orang larang jangan isi/maksud saya seorang turut hati 3. Memiliki rima bentuk atau persajakan AB-AB Pisang emas bawa bawa berlayar A masak sebiji di atas peti B Hutang emas dapat dibayar A hutang budi dibawa mati B 4. Setiap baris haruslah terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) kata atau dengan bilangan 8 (delapan) hingga 12 (duabelas) suku kata. Bila siang orang berkebun (1) (2) (3) (4) hari gelap naik ke rumah (1) (2) (3) (4) Bila hilang tukang pantun (1) (2) (3) (4) habis lesap petuah amanah (1) (2) (3) (4) Tabel 2 Karakteristik/Ciri-Ciri Pantun


8 Mahayana (2016) memeberikan penjelasan mengenai karakteristik sampiran dan isi pada pantun, sebagaimana dijelasakan pada tabel berikut. Karakteristik/Ciri-Ciri Sampiran dan Isi pada Pantun Sampiran Isi 1. Citra alam dan benda konkrit 1. Perilaku individu dan benda abstrak 2. Hubungan sintaksis dan semantis tak logis 2. Hubungan sintaksis dan semantis logis 3. Makna kalimat sulit dipahami 3. Makna kalimat mudah dipahami 4. Logika bahasa kompleks 4. Logika bahasa sederhana 5. Menyimpang dari konvensi 5. Memperhatikan konvensi Tabel 2 Karakteristik/Ciri-Ciri Sampiran dan Isi pada Pantun Pantun sejatinya memiliki 2 unsur, yaitu sebagai berikut: 1. Unsur intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur yang berasal dari struktur pantun itu sendiri. Unsur intrinsik dalam pantun diantaranya tokoh, tema, amanat/pesan, setting atau latar tempat dan waktu, plot atau alur, dan lain sebagainya. Ciri khas pantun sebagai unsur intrinsik adalah rima. Rima dalam pantun mempunyai akhiran yang serupa sehingga Contohnya: 2. Unsur ekstrinsik pantun Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berasal dari luar struktur pantun. Unsur ekstrinsik ini bisa disebut jugai latar belakang atau sebuah keadaan yangn menjadi penyebab terbentuknya pantun. Unsur ekstrinsik menjadi bagian yang sangat penting yang akan menentukan isi pantun. Unsur ini menjadi penguat diperlukan unsur intrinsik yang . Kalau hendak pergi ke seberang Elokkan perahu dengan bekalnya Kalau hendak menjadi orang Elokkan laku dengan amalnya


9 Klasifikasi Pantun Pantun diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yakni berdasarkan isi, bentuk, dan siklus kehidupan (usia). Supaya lebih jelas lagi, simak pemaparannya berikut ini. a. Pantun Berdasarkan Isi 1. Pantun jenaka Pantun jenaka adalah pantun yang mengandung unsur lucu dan dibuat dengan tujuan untuk menghibur seseorang. 2. Pantun nasehat Pantun nasehat berisikan tentang nasihat moral atau pendidikan. Pantun ini biasanya ditujukan kepada seseorang atau masyarakat umum. 3. Pantun teka-teki Pantun teka-teki mengandung teka-teki yang ditujukan kepada pembaca atau pendengar, mereka kemudian diberi waktu untuk mencoba menebak jawabannya. 4. Pantun kiasan Pantun kiasan berisi tentang peribahasa atau kiasan. Tujuan dibuatnya pantun ini yaitu untuk menyampaikan maksud dengan cara tersirat. b. Pantun Berdasarkan Bentuk 1. Pantun berkait (seloka) yaitu pantun yang selalu berkaitan antara bait satu dengan bait kedua, kemudian bait dua dengan bait ketiga, dan seterusnya. Untuk susunan kaitannya; baris kedua bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait pertama dijadikan baris ketiga pada bait kedua dan seterusnya. 2. Pantun kilat (karmina) yaitu pantun dua seuntai/pantun yang terdiri atas dua baris, di mana baris pertama merupakan sampiran, sedangkan baris kedua merupakan isi. 3. Talibn atau pantun genap, yaitu pantun yang jumlah barisnya 6, 8, 10, dan 12baris. Pantun ini berfungsi sebagai alat penghubungan mesra, misalnya percintaan, berolokolok, berkelakar, nasihat, dan sebagainya. Setiap bait separuhnya sampiran dan separuhnya lagi isi. c. Pantun berdasarkan siklus kehidupan (Usia) 1. Pantun anak-anak Pantun anak-anak biasanya menggambarkan tentang perasaan serta peristiwa yang dialami anak-anak. Perasaan yang dimaksud yaitu biasanya dalam bentuk suka cita dan duka cita. 2. Pantun orang muda (remaja) Pantun orang muda biasanya berhubungan dengan cerita di masa muda. Biasanya bermakna tentang perkenalan, hubungan asrama, hubungan rumah tangga, perasaan (seperti kasih sayang, iri, dan iba), dan nasib diri. 3. Pantun orang tua Pantun orang tua biasanya membahas tentang nasihat, budaya, adat, agama, dan sejenisnya.


10 Contoh Pantun Kalau hendak pergi ke seberang, elokkan perahu dengan bekalnya. Kalau hendak menjadi orang, elokkan laku dengan amalnya. Pantun di atas memiliki Tunjuk Ajar Melayu, pesan nasihatnya banyak sekali mengandung nilai-nilai luhur ajaran Islam yang bertujuan untuk mengajak orang Melayu selalu meningkatkanketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam puisi, rima menjadi salah satu unsur pembangun yang sangat penting dan dibutuhkan keberadaannya. Karena rima membuat puisi terlihat dan terdengar lebih khas. Menurut Samsuddin (2019) rima adalah pengulangan bunyi secara berselang di dalam bait puisi. Bisa juga diartikan bahwa rima adalah persamaan bunyi yang mencakup tiruan bunyi, bentuk pola bunyi, dan pengulangan kata. Jadi, dapat disimpulkan bahwa rima adalah pengulangan bunyi berselang dalam bait puisi, atau bunyi vokal di bagian akhir puisi. Contoh rima pada pantun, sebagai berikut: Pantun Air terjun Kajatan indah dilihat, terlihat indah di pagi hari. Anak jujur jadi sahabat, banyak orang yang menggemari. Pada pantun di atas, kata berima yang digunakan adalah: Baris 1: dilihat (t) Baris 2: hari (i) Baris 3: sahabat (t) Baris 4: menggemari (i) Maka pantun di atas, memili rima sajak dengan pola a-b-a-b (t-i-t-i)


11 Kegiatan 1 Kegiatan 2 Salah Salah Benar Benar Benar Pasangkan pernyataan berikut dengan pilihan yang benar atau salah! 1. Pantun mengandung nilai-nilai tunjuk ajar, nasihat, kesantunan, dan keteraturan. 2. Pantun memiliki dua baris dalam satu bait 3. Pantun bersajak a-a-a-a 4. Karakteristik pantun memiliki sampiran dan isi 5. Rima adalah pengulangan bunyi berselang dalam bait puisi, atau bunyi vokal di bagian akhir puisi Carilah jenis-jenis pantun berdasarkan butir-butir tunjuk ajar Melayu pada kotak berikut! N A S I H A T U V K B S I K H A G J F U G R O H I V I C A N B V I Y O A T I J A E N E S M L J D B M M S U M S Q D T I B G E W C H A D A T A U I L H R J N C D B W R I V N Y R J S W C A A R F X F N U L K A P A I I K T E K A T E K I D N R Y O R A K H V T O P Q V Z V B A C S T I Y P U J I A N T Y Y N L U F H D W G V S A I P L H G M


12 Kegiatan 3 Bacalah pantun berikut dengan saksama! Jalan-jalan ke Lubuk Bendahara singgah sebentar di Bukit Suligi Hati-hati jika berbicara masuk telinga enak di hati Daftarlah kata berima yang terdapat pada pantun tersebut! Baris 1 Baris 2 Baris 3 Baris 4 Selanjutnya, tentukan pola rima pantun tersebut! Pola rima (a-b-a-b)


13 Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu: 1. Merinci makna kata pada teks pantun; 2. Menyimpulkan isi teks pantun. B. Identifikasi Teks Pantun Gambar Kompetensi Dasar 4.13 Menyimpulkan isi puisi rakyat(pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang disajikan dalam bentuk tulis.


14 Pantun sudah melegenda, mengakar, dan membudaya di Nusantara. Pantun sebagai identitas budaya masyarakat Melayu yang bentuk syairnya digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikan pesan yang kaya akan tunjuk ajar Melayu melalui bahasa halus dan sopan. Untuk menyimpulkan isi pantun, kamu perlu mengetahui makna setiap katanya. Baca lah pantun berikut ini! Apa guna berkain batik kalau tidak dengan sujinya buat gambar di sini Apa guna berparas cantik kalau tidak dengan budinya Pantun tersebut memiliki pesan. Bagaimana cara menyimpulkan isi/pesan pantun tersebut? Hal-hal yang harus dilakukan agar dapat menyimpulkan isi pantun: 1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari kata-kata yamg maknanya sulit dipahami, kemudian carilah makna kata tersebut di KBBI. Gambar .. Logo KBBI 2. Setelah memahami maknanya, tuliskan pesan isi pantun tersebut dengan bahasa sendiri. 3. Selanjutnya, sesuaikan lah pantun tersebut dengan tunjuk ajar Melayu. Contoh: Kata berparas Bermakna .... Kata budinya Bermakna .... Pantun tersebut berisi tentang nasihat: bahwa sebagai manusia harus memiliki budi yang baik. Berparas cantik/tampan tetapi tidak memiliki budi yang baik sama saja tidak ada gunanya. Jika Ananda berbudi, maka kecantikan/ketampanan tidak hanya terpancar dari luar tetapi dari dalam juga (hati dan paras).


15 Kegiatan Berdiskusi Bacalah untaian pantun Tunjuk Ajar Melayu berikut! Tentukan lah makna kata sulit dan simpulkan lah isi kedua pantun tersebut! Pantun 1 Petang Jumat duduk mengaji, sesudah adzan tegak sembahyang. Orang beradat tahukan diri, usia mudanya tidak terbuang. Pantun 2 Kalau kuncup bunga di taman, petik sekaki bawa ke rumah. Kalau hidup hendakkan nyaman, berbaik hati ke ayah bunda. Pantun 1 Kata ...................... Bermakna ............... Kata ...................... Bermakna ............... Pantun tersebut berisi tentang ................................................. Pantun tersebut berisi tentang ................................................. Pantun 2 Kata ...................... Bermakna ............... Kata ...................... Bermakna ............... Pantun tersebut berisi tentang ................................................. Pantun tersebut berisi tentang .................................................


16 3.14 Menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang dibaca dan didengar. Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu: 1. Menelaah struktur teks pantun; 2. Menelaah kebahasaan teks pantun. C. Menelaah Struktur dan Kebahasaan Teks Pantun


17 Pantun memiliki aturan struktur dan kaidah kebahasaan. Struktur dan kaidah kebahasaan digunakan sebagai aturan dalam menyusun pantun. Ayo kita pelajari struktur dan kaidah kebahasaan pantun ! Pantun memiliki struktur yang terdiri atas: 1. Sampiran Sampiran berfungsi menyiapkan rima dan irama yang dapat membantu pendengar memahami isi pantun. Pada umumnya sampiran tidak memiliki hubungan dengan isi, tetapi terkadang sampiran dapat memberi bayangan terhadap isi pantun. 2. Isi Isi merupakan bagian inti pantun yang berisi maksud atau pikiran yang akan disampaikan si pembuat pantun. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, fungsi sampiran adalah menyiapkan rima dan irama agar pendengar dapat memahami isi pantun dengan mudah. Ini dapat dipahami karena pada dasarnya, pantun merupakan sastra lisan. Pola rima dan irama pada pantun secara eksplisit menegaskan sifat kelisanan pantun pada budaya Melayu dulu. Gambar... Struktur Pantun Contoh Struktur Pantun •Memiliki sampiran dan isi •Berpola a-b-a-b •Terdiri atas 8-12 suku kata •1 bait terdiri atas 4 baris (larik) Bait Larik Rima Isi


18 Alam ini banyak tanda Sampiran tanda Allah Maha Rahmah Berbakti lah kepada Ayah Bunda Isi doa mereka membawa berkah Pantun Pada pantun di atas, memiliki struktur sebagai berikut: 1. Pantun terdiri atas empat baris (larik) dalam satu bait. 2. Pantun memiliki dua larik sampiran dan dua larik isi. 3. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata: A-lam i-ni ba-nyak tan-da 8 Tan-da Al-lah Ma-ha Rah-mah 8 Ber-bak-ti lah ke-pa-da A-yah Bun-da 11 Do-a me-re-ka mem-ba-wa ber-kah 10 4. Rima akhir berpola a-b-a-b Alam ini banyak tanda a tanda Allah Maha Rahmah h Berbakti lah kepada Ayah Bunda a doa mereka membawa berkah h Rima berbunyi a-h-a-h Pantun di atas memiliki keteraturan dalam banyak hal. Jumlah baris tiap baitnya sama. Rima akhirnya pun berpola tetap. Begitu pula dengan jumlah suku kata untuk setiap lariknya, juga hampir seimbang. Di dalam pantun di atas juga ada yang namanya sampiran dan isi. Demikianlah keteraturan yang dimiliki oleh pantun.


19 Dalam menyusun teks pantun terdapat kaidah kebahasaan yang harus dipenuhi. Kaidah kebahasaan ini diperlukan agar pantun yang dibuat menggunakah bahasa yang sesuai dengan penyampaian maknanya. Kaidah kebahasaan pantun sebagai berikut: 1. Kalimat perintah (Imperatif) Kalimat perintah adalah kalimat yang bermaksud untuk memberikan perintah kepada seseorang. Contoh: Jagalah diri dan batinmu agar hidupmu senantiasa senang Kalimat Jagalah diri dan batinmu merupakan kalimat perintah. 2. Kalimat saran Kalimat saran adalah kalimat yang bermaksud untuk memberikan saran kepada seseorang (biasanya menggunakan kata seyogyanya atau sebaiknya). Contoh: Anak kecil pergi melimpir anak datang ibu menjamu Sebelum bicara sebaiknya dipikir niscaya semua orang menyayangimu Kalimat Sebelum bicara sebaiknya dipikir merupakan kalimat saran. 3. Kalimat ajakan Kalimat ajakan adalah kalimat yang berisi mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu (biasanya menggunakan kata ayo atau mari). Contoh: Dua tiga dan empat lima enam tujuh dan delapan Ayo perbaiki diri jadi orang ma’rifat agar tenang sepanjang zaman Kalimat Ayo perbaiki diri jadi orang ma’rifat merupakan kalimat ajakan. 4. Kalimat seru Kalimat seru merupakan kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan hati. Seperti rasa kagum, senang, sedih, dll. (biasanya menggunakan kata alangkah, betapa, dan bukan main). Contoh: Alangkah indahnya diri dijaga akhlak utama pemandu raga Kalimat Alangkah indahnya diri dijaga merupakan kalimat seru. 5. Kalimat larangan Kalimat larangan adalah kalimat yang berisi larangan agar orang lain tidak melakukan sesuatu (biasanya menggunakan kata jangan atau hindari). Contoh: Janganlah ucapkan kata ah pada ibu bapak agar hidupmu penuh bahagia Kalimat Janganlah ucapkan kata ah pada ibu bapak merupakan kalimat larangan. 6. Kata penghubung (Konjungsi) Kata penghubung yang sering kali digunakan dalam pantun adalah sebagai berikut: a. Kata penghubung tujuan Kata penghubung tujuan merupakan kata yang digunakan untuk menjelaskan tujuan suatu acara atau tindakan (biasanya mengguanakan kata untuk, supaya, agar, atau guna). Contoh: Jagalah diri dan batinmu


20 agar hidupmu senantiasa senang I Kata agar merupakan kata penghubung tujuan. b. Kata penghubung sabab (kausal) Kata penghubung sabab (kausal) adalah kata yang digunakan untuk menjelaskan sebab terjadinya suatu peristiwa atau tindakan (biasanya mengguanakan kata sebab, karena, sebabitu, atau karena itu). Contoh: Mestilah dijaga dalam berpakaian sebab ia pelindung jiwa raga Kata sebab merupakan kata penghubung sabab (kausal). c. Kata penghubung akibat Kata penghubung akibat adalah kata yang digunakan untuk menjelaskan akibat yang terjadi atas suatu peristiwa atau tindakan (biasanya mengguanakan kata akibat, akibatnya, sampai, atau sehingga). Contoh: Ada hal yang Ananda tegakkan senantiasa dilakukan sepanjang zaman Dia adalah bernama sopan sehingga nanti dirimu dijunjungkan Kata sehingga merupakan kata penghubung akibat. d. Kata penghubung syarat Kata penghubung syarat merupakan kata yang digunakan untuk menjelaskan suatu hal yang dapat terjadi apabila terdapat syarat yang terpenuhi (biasanya mengguanakan kata jika, jikalau, kalau, apabila, asalkan, atau bilamana). Contoh: Apabila hendak berbicara maka perhatikanlah bahasa Kata Apabila merupakan kata penghubung syarat. 7. Kalimat majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu subjek dan predikat/tidak dapat berdiri sendiri. a. Kalimat majemuk bertingkat Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari beberapa kalimat tunggal yang kedudukannya tidak setara/sederajat. 1. Kalimat majemuk hubungan syarat merupakan kalimat majemuk bertingkat yang terdiri dari hubungan syarat (biasanya ditandai dengan kata jika, seandainya, asalkan, apabila, dan andaikan) Contoh: Apabila hendak berbicara maka perhatikanlah bahasa Kalimat tersebut termasuk dalam kalimat majemuk hubungan syarat karena terdapat kata apabila. 2. Kalimat majemuk hubungan tujuan merupakan kalimat majemuk bertingkat yang terdiri dari hubungan tujuan (biasanya ditandai dengan kata agar, supaya, dan biar). Contoh: Jagalah diri dan batinmu, agar hidupmu senantiasa senang Kalimat tersebut termasuk dalam kalimat majemuk hubungan tujuan karena terdapat kata agar. 3. Kalimat majemuk konsesif merupakan kalimat majemuk bertingkat yang menyatakan keadaan atau kondisi yang belawanan dengan sesuatu yang dinyatakan (biasanya ditandai dengan kata walaupun, biarpun, meskipun). Contoh: tetaplah bersahaja walaupun serba ada.


21 Kalimat tersebut termasuk dalam kalimat majemuk konsesif karena terdapat kata walaupun yang menunjukkan keadaan/kondisi yang berlawanan. 4. Kalimat majemuk hubungan penyebaban merupakan kalimat yang menunjukkan hubungan sebab akibat dengan ditandai konjungsi sebab akibat (biasanya ditandai dengan kata sebab, karena, dan oleh karena). Contoh: Mestilah dijaga dalam berpakaian sebab ia pelindung jiwa raga Kalimat tersebut termasuk dalam kalimat majemuk hubungan penyebaban dengan ditandai kata sebab.


22 Kegiatan Berdiskusi Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat! Bacalah pantun berikut! Pantun 1 Kakek tua giginya ompong waktu muda makan manisan Rendah hati jauhkan sombong dicintai Allah disayang insan 1. Analisislah struktur teks pantun tersebut! 2. Analisislah kebahasaan teks pantun tersebut! Jawab: ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................................... Pantun 2 Wahai anak baik budi sedari kecil kenali diri Tutup diri dan jaga hati hindari diri dari dengki


23 Banyaklah masa antara masa tidak seelok masa bersuka Meninggalkan sembahyang jadi biasa tidaklah takut api neraka Kompetensi Dasar 4.14 Mengungkapkan gagasan, perasaan, pesan dalam bentuk puisi rakyat secara lisan dan tulis dengan mempertimbangkan struktur, rima, dan penggunaan bahasa. D. Menulis pantun Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, peserta didi diharapkan mampu: 1. Menulis pantun dengan memperhatikan pilihan kata, kelengkapan struktur, dan kaidah kebahasaan pantun 2. Menyajikan pantun dalam bentuk lisan.


24 Pada bagian ini, kamu akan menulis pantun. Pantun yang akan kamu buat adalah pantun yang berisi pesan tunjuk ajar Melayu seperti contoh-contoh pantun pada materi sebelumnya. Untuk menulis pantun mari perhatikan halhal berikut Menulis Pantun dengan Konteks Nilai-Nilai Tunjuk Ajar Melayu Langkah-Langkah Praktis Menulis Pantun Cara membuat pantun yang benar sesuai kaidah kebahasaan tidak hanya mengutamakan kesamaan bunyi, melainkan ada banyak unsur yang harus diperhatikan dalam merangkainya dan sebenarnya tidaklah sulit. Kamu hanya perlu langkah-langkah berikut. 1. Menentukan topik atau tema pantun Tema merupakan gagasan pokok yang diungkapkan dalam puisi. Tema ini biasanya memuat gagasan, perasaan, atau pesan yang ingin diungkapkan kepada pembaca atau pendengar puisi. Tema pantun dapat apa saja, misalnya dari pengalaman pribadi, perasaan hati, peristiwa yang dilihat atau didengar. Misalnya, kamu mengambil tema pantun nasihat bermuatan tunjuk ajar Melayu: a. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. Ketaatan kepada Ibu Bapak; c. Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan; d. Kerja Keras, Rajin, dan Tekun; e. Sikap Mandiri dan Percaya Diri; f. Memanfaatkan Waktu. 2. Menulis dahulu isi pantun, yaitu larik ketiga dan keempat. Tulislah isi pantun sesuai dengan tema yang telah kamu pilih. Isi pantun harus mencerminkan tema. Isi pantun yang kamu tulis dapat digunakan untuk menasihati, menghibur, atau menjelaskan sesuatu. Isi pantun juga bisa merupakan ungkapan perasaan hatimu. Contoh: Tema Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Kalau hendak menjadi orang, elokkan laku dengan amalnya. Tema Ketaatan kepada Ibu Bapak Kalau hidup hendak selamat, ayah dan bunda kita muliakan. Tema Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan Bertuah orang tahu mengaji, kajinya sampai membawa faedah.


25 Tema Kerja Keras, Rajin, dan Tekun Elok kerja banyak manfaatnya, manfaat menjadi tuahnya diri. Tema Sikap Mandiri dan Percaya Diri Mengapa Melayu disebut bertuah, karena percaya kemampuan sendiri. Tema Memanfaatkan Waktu Orang baik ingatkan usia, usia dipakai mencari bekal. 3. Membuat kalimat sampiran. Kamu tentu ingat, bunyi akhir larik pertama sama dengan bunyi akhir larik ketiga. Bunyi akhir larik kedua sama dengan bunyi akhir larik keempat. Jadi, buatlah sampiran dengan bunyi akhir yang sama dengan isi yang telah kamu buat. Kalimat sampiran tidak harus berhubungan dengan kalimat isinya. Sampiran berfungsi untuk menarik orang lain agar membaca pantun. Contoh: Tema Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Kalau hendak pergi ke seberang, Elokkan perahu dengan bekalnya. Tema Ketaatan kepada Ibu Bapak Kalau angin bertiup di darat, ambillah jala turunkan sampan. Tema Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan Buah pinang masak sebiji, pagi hari jatuh ke tanah. Tema Kerja Keras, Rajin, dan Tekun Banyak raja banyak rakyatnya, rakyat melimpah serata negeri. Tema Sikap Mandiri dan Percaya Diri Mengapa kayu lebat bertuah, karena kumbang datang menyari. Tema Memanfaatkan Waktu Orang Rokan menjerat rusa, rusa digulai diberi sambal. 4. Menggabungkan isi dan sampiran pantun yang sudah kamu buat. Ingat, letakkan sampiran di atas isi. Setelah itu, koreksilah pantun buatanmu. Apakah satu larik sudah terdiri atas 8-12 suku kata. Apakah sudah sesuai dengan syarat-syarat pantun. Apakah bunyi akhirnya sudah a-b-a-b. Ingat, larik pertama dan kedua pantun saling berhubungan. Begitu pula larik ketiga dan keempat. Maka, larik pertama dan ketiga diawali huruf kapital dan diakhiri dengan koma. Larik kedua dan keempat diawali dengan huruf kecil dan diakhiri tanda titik.


26 Contoh: Tema Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Kalau hendak pergi ke seberang, elokkan perahu dengan bekalnya. Kalau hendak menjadi orang, elokkan laku dengan amalnya. Tema Ketaatan kepada Ibu Bapak Kalau angin bertiup di darat, ambillah jala turunkan sampan. Kalau hidup hendak selamat, ayah dan bunda kita muliakan. Tema Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan Buah pinang masak sebiji, pagi hari jatuh ke tanah. Bertuah orang tahu mengaji, Kajinya sampai membawa faedah. Tema Kerja Keras, Rajin, dan Tekun Banyak raja banyak rakyatnya, rakyat melimpah serata negeri. Elok kerja banyak manfaatnya, manfaat menjadi tuahnya diri. Tema Sikap Mandiri dan Percaya Diri Mengapa kayu lebat bertuah, karena kumbang datang menyari. Mengapa Melayu disebut bertuah, karena percaya kemampuan sendiri. Tema Memanfaatkan Waktu Orang Rokan menjerat rusa, rusa digulai diberi sambal, Orang rukun ingatkan usia, usia dipakai mencari bekal.


27 Kegiatan Individu 2 Kegiatan Individu 1 Lengkapilah pantun berikut ini dengan isi/pesan bermuatan tunjuk ajar Melayu ! Tema Pantun: Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan Cahaya pagi terasa hangat, sarapan pagi makan ketupat. ............................................. , ............................................. . Tema Pantun: Ketaatan kepada Ibu Bapak Kalau ingin membeli kopiah, tak lupa jubah sepanjang kaki. ............................................ , ............................................ . Kerjakanlah kegiatan berikut ini dengan tepat! 1. Buatlah pantun karya dirimu sendiri dengan memilih salah satu tema dari 6 butir tunjuk ajar Melayu berikut ini: a. Ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa; b. Ketaatan kepada Ibu Bapak; c. Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan; d. Kerja Keras, Rajin, dan Tekun; e. Sikap Mandiri dan Percaya Diri; f. Memanfaatkan Waktu. 2. Bacalah pantun yang sudah kamu buat dalam bentuk vidio, kemudian kirimkan ke wa group kelas! Pergi sekolah penuh semangat Niscaya banyak ilmu didapat. Kalau ingin diberkahi Allah, ayah dan bunda dijunjung tinggi.


28 Uji Kompetensi 1. Menurut Za’ba pantun berasal dari tulisan ... A. Melayu atau tulisan Jawi B. Minang C. Jawa D. Sunda 2. Tradisi pantun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada tanggal ... A. 10 Desember 2020 B. 17 Desember 2020 C. 20 Desember 2020 D. 28 Desember 2020 3. Bacalah pantun berikut! Banyak bulan perkara bulan Tidak semulia ... (1) Banyak Tuhan perkara Tuhan Tidak semulia Tuhan ... (2) Kata-kata yang tepat untuk melengkapi larik pantun tersebut adalah ... A. (1) bulan purnama, (2) Yang Pengasih B. (1) bulan di angkasa, (2) Maha Perkasa C. (1) bulan puasa, (2) Yang Kuasa D. (1) bulan seribu bulan, (2) Maha Penyayang 4. Perhatikanlah larik-larik pantun berikut! (1) Kalau Anda ingin cerdas (2) Pergi ke pasar beli talas (3) Sebelum makan rebus dulu (4) Siang malam baca buku Larik-larik yang acak tersebut akan menjadi pantun bila disusun dengan urutan ... A. 1 – 4 – 3 – 2 B. 2 – 3 – 1 – 4 C. 3 – 2 – 1 – 4 D. 4 – 2 – 1 – 3 5. Hendak ke sekolah makan ketupat Makannya di bawah pohon randu ... Agar menjadi pantun yang baik, larik yang tepat untuk melengkapinya adalah ... A. Janganlah engkau malas-malas Pasti akan menyesal nanti B. Jika kamu giat belajar Cita-citamu pasti akan tercapai C. Belajarlah engkau dengan giat Supaya dapat juara satu D. Jangan sia-siakan waktu muda Menyesal di kemudian hari


29 6. Perhatikan larik pantun yang rumpang berikut. Anak ayam turun sepuluh Mati satu tinggal sembilan ... ... Larik yang tepat untuk melengkapi isi pantun di atas adalah ... A. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh Supaya kamu tidak ketinggalan B. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh Supaya kamu tidak sengsara C. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh Supaya hidupmu bahagia D. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh Supaya selamat dunia akhirat 7. Perhatikan larik pantun yang rumpang berikut. ... Kalau tidak bisa berenang Buat apa berparas cantik Kalau tidak mau sembahyang Larik yang tepat untuk melengkapi sampiran pantun di atas adalah ... A. Buat apa berparas cantik B. Siapa yang banyak duit C. Untuk orang yang saki. D. Buat apa membawa itik 8. Bacalah pantun berikut! Buah kelat di tengah halaman Pagi hari jatuh ke pangkal Bertuah umat karena beriman Bertuah diri karena beramal Makna pantun di atas adalah ... A. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa B. Ketakwaan kepada Ibu dan Bapak C. Ketakwaan kepada pemimpin D. Ketakwaan kepada Bapak/Ibu guru 9. Bacalah pantun berikut! Bertuah parang karena hulunya Hulu dikepal elok terasa Bertuah orang karena ilmunya Ilmu diamalkan hidup sentosa Makna pantun di atas adalah ... A. Pentingnya menjaga diri B. Pentingnya hormat pada Bapak/Ibu guru C. Pentingnya ilmu pengetahuan D. Pentingnya kerja keras


30 10. Bacalah pantun berikut! Asam rumbia dibelah-belah Buah separuh di dalam raga Dunia ikut firman Allah Akhirat dapat masuk surga Jenis pantun di atas adalah ... A. Pantun teka-teki B. Pantun jenaka C. Pantun perkenalan D. Pantun agama


31 Kunci Jawaban Evaluasi 1. A 2. B 3. C 4. B 5. C 6. A 7. D 8. A 9. C 10. D


33 Daftar Pustaka Effendy, Tenas. 2004.Tunjuk Ajar Melayu (Butir-Butir Budaya Melayu Riau). Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya. .......................... 2005. Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu. Yogyakarta: Penerbit Adicita Karya Nusa. Elmustian dan Syafrial. 2022. Menulis Pantun: Bahan Ajar Pengayaan Bahasa Indonesia Berbasis Teks Naratif untuk Kelas XI SMA/MA/SMK. Pekanbaru: Raja Zulkarnain Education Foundation. Kosasih, E. 2014. Jenis-jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK: analisis fungsi, struktur,kaidah serta langkah-langkah penulisannya. Bandung: Yrama Widya. Rosa, Fitria. dkk,. 2017. Karya Sastra Melayu Riau. Yogyakarta: Deepublish. Samsuddin. 2019. Buku Ajar Pembelajaran Kritik Sastra. Sleman: Deepublish. Syafrial, dkk. (2018). 1001 Pantun untuk Anak. Malang: Azizah Publising. Zaini, Marhalim. 2018. Mengenal Tunjuk Ajar Melayu dalam Pantun, Gurindam, dan Syair. Jakarta Timur: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa


Click to View FlipBook Version