SISTEM IMUN
A. Pengertian Sistem Imun
Sistem imun adalah suatu sistem yang bekerja sama dan berfungsi memerangi factor asing
yang berasal dari lingkungan atau dari dalam tubuh sendiri. Pengaruh dari dalam tubuh dapat
berupa kanker yang terjadi akibat mutasi, sedangkan pengaruh dari luar berupa virus, bakteri,
paparan zat kimia, jamur, cacing, dan lain-lain.
Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan terhadap benda asing dan patogen yang
disebut sebagai sistem imun. Respon imun timbul karena adanya reaksi yang dikoordinasi sel-
sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya. Sistem imun terdiri atas sistem
imun alamiah atau non spesifik (natural/innate/native) dan didapat atau spesifik
(adaptive/acquired). Baik sistem imun non spesifik maupun spesifik memiliki peran masing-
masing, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan namun sebenarnya ke dua sistem
tersebut memiliki kerja sama yang erat. Simak video berikut :
Video 1
(dicantumkan ketika dalam flipbook)
B. Fungsi Sistem Imun
1) Melindungi tubuh dari serangan benda asing atau bibit penyakit yang masuk ke dalam
tubuh.
2) Menghilangkan jaringan sel yang mati atau rusak (debris cell) untuk perbaikan jaringan.
3) Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.
4) Menjaga keseimbangan homeostatis dalam tubuh.
C. Jenis-Jenis Imunitas
Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, imunitas dibedakan menjadi dua,
yaitu imunitas nonspesifik dan imunitas spesifik. Adapun berdasarkan cara memperolehnya
dibedakan menjadi kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Berikut ini akan dibahas jenis-jenis
kekebalan satu persatu dan proses pembentukan antibodi. Tabel 1.1 di bawah ini akan
memperjelas tentang lapisan pertahanan yang dilakukan oleh tubuh.
Imun Nonspesifik Imun Spesifik
Pertahanan Pertama Pertahanan Kedua Pertahanan Ketiga
Kulit Sel fagosit
Membran mukosa dan Protein antimikroba Limfosit
cairan sekresinya Reaksi peradangan Antibodi
Tabel 2.1 beberapa lapis pertahanan (imun)
1) Sistem Pertahanan Tubuh Non Spesifik
Sistem pertahanan tubuh non spesifik merupakan pertahanan tubuh yang tidak
membedakan mikrobia patogen satu dengan yang lainnya. Ciri-cirinya :
▪ Tidak selektif
▪ Tidak mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya
▪ Eksposur menyebabkan respon maksimal segera
▪ Memiliki komponen yang mampu menangkal benda untuk masuk ke dalam tubuh
Sistem pertahanan ini diperoleh melalui beberapa cara, yaitu :
➢ Pertahanan yang Terdapat di Permukaan Tubuh
a. Pertahanan Fisik
Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh, yaitu kulit dan membran
mukosa, yang berfungsi menghalangi jalan masuknya patogen ke dalam tubuh. Lapisan terluar
kulit terdiri atas sel-sel epitel yang tersusun rapat sehingga sulit ditembus oleh patogen. Lapisan
terluar kulit mengandung keratin dan sedikit air sehingga dapat menghambat pertumbuhan
mikrobia. Sedangkan membran mukosa yang terdapat pada saluran pencernaan, saluran
pernapasan, dan saluran kelamin berfungsi menghalangi masuknya patogen ke dalam tubuh.
b. Pertahanan Mekanis
Pertahanan secara mekanis dilakukan oleh rambut hidung dan silia pada trakea. Rambut
hidung berfungsi menyaring udara yang dihirup dari berbagai partikel berbahaya dan
mikrobia. Sedangkan silia berfungsi menyapu partikel berbahaya yang terperangkap dalam
lendir untuk kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh.
c. Pertahanan Kimiawi
Pertahanan secara kimiawi dilakukan oleh sekret yang dihasilkan oleh kulit dan membran
mukosa. Sekret tersebut mengandung zat-zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan
mikrobia. Contoh dari sekret tersebut adalah minyak dan keringat. Minyak dan keringat
memberikan suasana asam (pH 3-5) sehingga dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme
di kulit. Sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa (mukus) mengandung enzim
lisozim yang dapat membunuh bakteri dengan cara menghidrolisis dinding sel bakteri hingga
pecah sehingga bakteri mati.
d. Pertahanan Biologis
Pertahanan secara biologi dilakukan oleh populasi bakteri tidak berbahaya yang hidup di
kulit dan membran mukosa. Bakteri tersebut melindungi tubuh dengan cara berkompetisi
dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi.
2) Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik
Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik merupakan pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu
yang masuk ke dalam tubuh. Sistem ini bekerja apabila patogen telah berhasil melewati sistem
pertahanan tubuh non spesifik. Ciri-cirinya :
▪ Bersifat selektif
▪ Tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing
▪ Mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya
▪ Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia (antibodi)
▪ Perlambatan waktu antara eksposur dan respons maksimal
Sistem pertahanan tubuh spesifik terdiri atas beberapa komponen, yaitu:
➢ Limfosit
a) Limfosit B (Sel B)
Proses pembentukan dan pematangan sel B terjadi di sumsum tulang. Sel B berperan dalam
pembentukan kekebalan humoral dengan membentuk antibodi. Sel B dapat dibedakan menjadi:
1. Sel B plasma, berfungsi membentuk antibodi.
2. Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh
serta menstimulasi pembentukan sel B plasma jika terjadi infeksi kedua.
3. Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat.
b) Limfosit T (Sel T)
Proses pembentukan sel T terjadi di sumsum tulang, sedangkan proses pematangannya
terjadi di kelenjar timus. Sel T berperan dalam pembentukan kekebalan seluler, yaitu dengan
cara menyerang sel penghasil antigen secara langsung. Sel T juga membantu produksi antibodi
oleh sel B plasma. Sel T dapat dibedakan menjadi :
1. Sel T pembunuh, berfungsi menyerang patogen yang masuk dalam tubuh, sel tubuh
yang terinfeksi, dan sel kanker secara langsung.
2. Sel T pembantu, berfungsi menstimulasi pembentukan sel B plasma dan sel T lainya
serta mengaktivasi makrofag untuk melakukan fagositosis.
3. Sel T supresor, berfungsi menurunkan dan menghentikan respons imun dengan cara
menurunkan produksi antibodi dan mengurangi aktivitas sel T pembunuh. Sel T
supresor akan bekerja setelah infeksi berhasil ditangani.
LATIHAN 1
1. Jelaskan fungsi sistem imun beserta pengertiannya!
2. Berdasarkan cirinya apa yang membedakan sistem pertahanan tubuh non spesifik
dan spesifik?
D. Mekanisme Pertahanan Tubuh
1. Imunitas Nonspesifik
Pertahanan tubuh terhadap serangan (infeksi) oleh mikroorganisme telah dilakukan sejak
dari permukaan luar tubuh yaitu kulit dan pada permukaan organ-organ dalam. Tubuh dapat
melindungi diri tanpa harus terlebih dulu mengenali atau menentukan identitas organisme
penyerang. Imunitas nonspesifik didapat melalui tiga cara berikut.
a. Pertahanan yang Terdapat di Permukaan Organ Tubuh
Tubuh memiliki daerah-daerah yang rawan terinfeksi oleh kuman penyakit berupa
mikroorganisme, yaitu daerah saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Saluran pencernaan
setiap hari dilewati oleh berbagai macam makanan dan air yang diminum. Makanan tersebut
tidak selalu terbebas dari kuman penyakit baik berupa jamur maupun bakteri sehingga
terinfeksi melalui saluran pencernaan kemungkinannya tinggi.
Setiap organ tubuh seperti paru-paru, lambung, ginjal, mempunyai kulit dan membran
mukosa sebagai pembatas mekanis agar mikrobia tidak masuk ke dalam organ tersebut. Setiap
kulit dan membran mukosa pada organ-organ tubuh memiliki cara tersendiri untuk melindungi
diri dari kuman penyakit.
Sebagai contoh, pada kulit terdapat kelenjar minyak Saliva Dapat Membunuh
yang mengandung bahan kimia dan dapat melemahkan
bahkan membunuh bakteri di kulit. Mikroorganisme Mikroorganisme
yang berada pada bahan makanan sebagian besar sudah
dimatikan oleh saliva yang mengandung lisosom. Di Cairan ludah atau saliva ternyata
dalam perut, mikroorganisme yang masih hidup juga
dimatikan dengan adanya asam-asam. Di dalam usus tidak hanya berfungsi dalam
terdapat enzim-enzim pencernaan yang juga dapat
pencernaan secara kimiawi saja,
tetapi juga berperan dalam
membunuh mikroorganisme yang
masuk bersama makanan. Di
dalam saliva terkandung lisosom.
Lisosom inilah yang dapat
membunuh mikroorganisme
tersebut.
membunuh mikroorganisme yang merugikan.
Demikian juga dengan saluran pernapasan. Hal ini
disebabkan udara yang dihirup melalui hidung mengandung partikel-partikel asing (berupa
debu) maupun mikroorganisme (termasuk spora jamur). Spora jamur dapat tumbuh dan
berkembang biak jika berada di tempat (lingkungan) yang sesuai. Pada trakea terdapat sel-sel
bersilia yang dapat menyapu lendir serta partikel-partikel berbahaya yang terselip di antara
kerongkongan agar dapat keluar bersama air ludah.
b. Pertahanan dengan Cara Menimbulkan Peradangan (Inflamatori)
Mikroorganisme yang telah berhasil melewati pertahanan di bagian permukaan organ
dapat menginfeksi sel-sel dalam organ. Tubuh akan melakukan perlindungan dan pertahanan
dengan memberi tanda secara kimiawi yaitu dengan cara sel terinfeksi mengeluarkan senyawa
kimia histamin dan prostaglandin. Senyawa kimia ini akan menyebabkan pelebaran pada
pembuluh darah di daerah yang terinfeksi. Hal ini akan menaikkan aliran darah ke daerah yang
terkena infeksi. Akibatnya daerah terinfeksi menjadi berwarna kemerahan dan terasa lebih
hangat.
Apabila kulit mengalami luka akan terjadi peradangan yang ditandai dengan memar,
nyeri, bengkak, dan meningkatnya suhu tubuh. Jika luka ini menyebabkan pembuluh darah
robek maka mastosit akan menghasilkan bradikinin dan histamin. Bradikinin dan histamin ini
akan merangsang ujung saraf sehingga pembuluh darah dapat semakin melebar dan bersifat
permeabel.
Kenaikan permeabilitas kapiler darah menyebabkan neutrofil berpindah dari darah ke
cairan luar sel. Neutrofil ini akan menyerang bakteri yang menginfeksi sel. Selanjutnya,
neutrofil dan monosit berkumpul di tempat yang terluka dan mendesak hingga menembus
dinding kapiler. Setelah itu, neutrofil mulai memakan bakteri dan monosit berubah menjadi
makrofag (sel yang berukuran besar). Makrofag berfungsi fagositosis dan merangsang
pembentukan jenis sel darah putih yang lain.
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.1 Mekanisme pertahanan tubuh dengan respon inflamatori
Perhatikan Gambar 2.1 Berdasarkan gambar tersebut, sistem pertahanan tubuh dapat
dijelaskan sebagai berikut.
1) Jaringan mengalami luka, kemudian mengeluarkan tanda berupa senyawa kimia yaitu
histamin dan senyawa kimia lainnya. Makrofag yang teraktivasi dan sel-sel tiang tempat
luka melepaskan molekul-molekul pensinyal yang bekerja pada kapiler-kapiler di
dekatnya.
2) Terjadi pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) yang menyebabkan bertambahnya aliran
darah, menaikkan permeabilitas pembuluh darah. Selanjutnya terjadi perpindahan sel-sel
fagosit.
3) Sel-sel fagosit (makrofag dan neutrofil) memakan pathogen dan sisa-sisa sel di tempat
tersebut, dan jaringan pun akan sembuh.
Rasa nyeri dan pembengkakan yang menyadarkan bahwa ada serpihan kayu di bawah
kulit merupakan hasil dari respon peradangan (inflammatory response) lokal, perubahan-
perubahan yang disebabkan oleh molekul-molekul pensinyal yang dilepaskan saat terjadi luka
atau infeksi. Salah satu molekul pensinyal peradangan yang penting adalah histamin, yang
disimpan dalam sel tiang (mast cell), sel-sel jaringan ikat yang menyimpan zat-zat kimia dalam
granula-granula untuk sekresi. Pada gambar 2.1 merangkum perkembangan peristiwa-
peristiwa dalam inflamasi lokal, dimulai dengan infeksi akibat serpihan kayu. Histamin
dilepaskan oleh sel-sel tiang di tempat-tempat kerusakan jaringan memicu pembuluh-
pembuluh darah di dekatnya untuk berdilatasi dan menjadi lebih permeable. Makrofag-
makrofag yang teraktivasi dan sel-sel lain melepaskan molekul-molekul pensinyal tambahan
yang semakin mendorong aliran darah ke tampat yang terluka. Peningkatan suplai aliran
darah lokal yang dihasilkan akan menyebabkan kemerahan dan panas yang khas dari inflamasi.
Kapiler-kapiler yang membengkak karena terisi darah kemudian bocor ke jaringan- jaringan
tetangga, sehingga menyebabkan pembengkakan.
Selama inflamasi, siklus pensinyal dan respons mengubah
Histamin dikeluarkan tempat yang terinfeksi. Aliran darah yang ditingkatkan ke tempat
oleh sel sebagai tanda luka membantu mengantarkan protein-protein antimikroba. Protein-
telah terjadi infeksi. protein komplemen yang teraktivasi mendorong pelepasan histamin
lebih lanjut dan membantu memikat fagosit. Sel-sel endotelial di
dekatnya menyekresikan molekul-molekul pensinyal yang menarik
neutrofil dan makrofag. Dengan memanfaatkan permeabilitas
pembuluh yang ditingkatkan untuk memasuki jaringan yang
terluka, sel-sel ini melaksanakan fagositosis
tambahan dan inaktivasi mikroba. Hasilnya adalah akumulasi nanah (pus), cairan kaya sel-sel
darah putih, mikroba mati, dan sisa-sisa sel.
Luka kecil menyebabkan inflamasi lokal, namun kerusakan jaringan atau infeksi parah
bisa menimbulkan respons yang sistemik (seluruh tubuh)-seperti produksi sel darah putih yang
ditingkatkan. Sel-sel dalam jaringan yang terluka atau terinfeksi seringkali menyekresikan
molekul- molekul yang merangsang pelepasan neutrofil tambahan dari sumsum tulang. Pada
infeksi yang parah, seperti meningitis atau usus buntu, jumlah sel darah putih dalam darah bisa
meningkat beberapa kali lipat dalam beberapa jam.
Respons peradangan sistemik yang lain adalah demam. Beberapa toksin yang
dihasilkan oleh patogen, serta zat- zat yang disebut pirogen (pyrogen) yang dilepaskan oleh
makrofag teraktivasi, dapat menyetel ulang termostat tubuh ke suhu yang lebih tinggi. Manfaat
dari demam yang dihasilkan masih menjadi subjek perdebatan. Satu hipotesis menyatakan
bahwa suhu tubuh yang naik bisa meningkatkan fagositosis dan, dengan mempercepat reaksi-
reaksi kimiawi, mempercepat perbaikan jaringan.
Infeksi-infeksi bakteri tertentu dapat menginduksi respons peradangan sistemik
berlebihan, menyebabkan kondisi yang mengancam nyawa, disebut syok septik (septic shock).
Dicirikan oleh demam yang sangat tinggi, aliran darah yang rendah, dan tekanan darah rendah,
syok septik terjadi paling sering pada orang yang sangat tua dan sangat muda. Syok septik
berakibat fatal pada sepertiga kasus.
Sinyal kimia yang dihasilkan oleh jaringan yang luka akan menyebabkan ujung saraf
mengirimkan sinyal ke sistem saraf. Histamin berperan dalam proses pelebaran pembuluh
darah. Makrofag disebut juga big eaters karena berukuran besar, mempunyai bentuk tidak
beraturan, dan membunuh bakteri dengan cara memakannya. Seperti cara makan pada amoeba,
seperti itulah cara makrofag memakan bakteri.
Bakteri yang sudah berada di dalam makrofag kemudian dihancurkan dengan enzim
lisosom. Makrofag ini juga bertugas untuk mengatasi infeksi virus dan partikel debu yang
berada di dalam paru-paru. Sebenarnya di dalam tubuh keberadaan makrofag ini sedikit, tetapi
memiliki peran sangat penting.
Setelah infeksi tertanggulangi, beberapa neutrofil akhirnya mati seiring dengan matinya
jaringan sel dan bakteri. Setelah ini sel-sel yang masih hidup membentuk nanah. Terbentuknya
nanah ini merupakan indikator bahwa infeksi telah sembuh. Jadi reaksi inflamatori ini sebagai
sinyal adanya bahaya dan sebagai perintah agar sel darah putih memakan bakteri yang
menginfeksi tubuh. Selain sel monosit yang berubah menjadi makrofag juga terdapat sel
neutrofil yang akan membunuh bakteri (mikroorganisme asing lainnya).
c. Pertahanan Menggunakan Protein Pelindung
Interferon adalah protein-protein yang memberikan pertahanan bawaan melawan infeksi
virus. Sel-sel tubuh tang terinfeksi oleh virus menyekresikan interferon, menginduksi sel-sel
tak-terinfeksi di dekatnya untuk menghasilkan zat-zat yang menghambat reproduksi virus.
Dengan cara ini, interferon membatasi penyebaran virus dari sel-ke-sel di dalam tubuh,
membantu mengontrol infeksi virus seperti pilek dan influenza. Beberapa jenis sel- sel darah
putih menyekresikan tipe interferon berbeda yang membantu mengaktivasi makrofag, sehingga
meningkatkan kemampuan fagositiknya. Perusahaan-perusahaan farmasi kini memproduksi
interferon secara massal melalui teknologi DNA rekombinan untuk menangani infeksi- infeksi
virus tertentu, misalnya hepatitis C.
Sistem komplemen (complement system) terdiri dari sekitar 30 protein dalam plasma darah
yang berfungsi bersama-sama untuk memerangi infeksi. Protein-protein ini bersirkulasi dalam
kondisi inaktif dan teraktivasi olen zat-zat pada permukaan banyak mikroba. Aktivasi
menghasilkan serangkaian reaksi-reaksi biokimiawi berurutan yang menyebabkan lisis
(meletus) pada sel-sel yang menyerang. Komplemen ini dapat melekat pada bakteri
penginfeksi. Setelah itu, komplemen menyerang membran bakteri dengan membentuk lubang
pada dinding sel dan membran plasmanya. Hal ini menyebabkan ion-ion Ca+ keluar dari sel
bakteri, sedangkan cairan serta garam-garam dari luar sel bakteri akan masuk ke dalam tubuh
bakteri. Masuknya cairan dan garam ini menyebabkan sel bakteri hancur. Mekanisme
penghancuran bakteri oleh protein komplemen dapat di amati pada gambar 2.2
Sumber: Biology, Raven dan Johnson
Gambar 2.2 Mekanisme penghancuran bakteri oleh protein komplemen
1. Imunitas Spesifik
Imunitas spesifik diperlukan untuk melawan antigen dari imunitas nonspesifik. Antigen
merupakan substansi berupa protein dan polisakarida yang mampu merangsang munculnya
sistem kekebalan tubuh (antibodi). Mikrobia yang sering menginfeksi tubuh juga mempunyai
antigen. Selain itu, antigen ini juga dapat berasal dari sel asing atau sel kanker. Tubuh kita
seringkali dapat membentuk sistem imun (kekebalan) dengan sendirinya. Setelah mempunyai
kekebalan, tubuh akan kebal terhadap penyakit tersebut walaupun tubuh telah terinfeksi
beberapa kali. Sebagai contoh campak atau cacar air, penyakit ini biasanya hanya menjangkit
manusia sekali dalam seumur hidupnya. Hal ini karena tubuh telah membentuk kekebalan
primer. Kekebalan primer diperoleh dari B limfosit dan T limfosit.
Fakta-fakta dasar sistem kekebalan yang diperoleh dapat dirangkum dengan serangkaian
pernyataan berikut. Setiap sel B dan sel T memiliki banyak protein reseptor di permukaannya
yang masing-masing dapat mengikat molekul asing tertentu. Protein-protein reseptor pada
suatu limfosit tunggal semuanya sama, namun ada jutaan limfosit di dalam tubuh yang berbeda
dalam molekul-molekul asing yang dikenali oleh reseptornya. Ketika seekor hewan terinfeksi,
sel-sel B dan T dengan reseptor-reseptor yang dapat mengenali mikroba diaktivasi untuk
menjalankan peran-peran tertentu di dalam respons kekebalan. Dalam proses aktivasi, sel-sel
B dan T berinteraksi dengan fragmen-fragmen mikroba yang ditampilkan di permukaan sel-
sel. Limfosit-limfosit yang teraktivasi mengalami pembelahan sel, dengan sekumpulan sel-sel
anakan yang disisihkan untuk memerangi infeksi yang akan datang dari inang akibat mikroba
yang sama. Sebagian sel T membantu dalam mengaktivasi limfosit- limfosit yang lain. Sel-sel
T lain mendeteksi dan membunuh sel-sel inang yang terinfeksi. Sel-sel B yang terspesialisasi
menyekresikan protein-protein reseptor terlarut yang menyerang molekul- molekul dan sel-sel
asing yang bersirkulasi dalam cairan tubuh.
Walaupun paragraf sebelumnya merupakan rangkuman yang cukup bagus tentang
kekebalan yang diperoleh, paragraf tersebut menimbulkan banyak pertanyaan: bagaimana
jutaan reseptor yang berbeda dibuat? Bagaimana infeksi mengaktivasi limfosit yang tepat untuk
memerangi infeksi itu? Bagaimana sistem kekebalan membedakan dirinya dari bukan dirinya?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini dan yang lain akan menjadi jelas saat kita
mengeksplorasi kekebalan yang diperoleh secara lebih detail, dimulai dengan proses
pengenalan.
Molekul asing apa pun yang dikenali secara spesifik oleh limfosit dan memicu respons dari
limfosit disebut antigen. Sebagian besar antigen merupakan molekul-molekul besar, baik
protein atau polisakarida. Beberapa antigen, misalnya toksin yang disekresikan oleh bakteri,
dilepaskan ke dalam cairan ekstraselular. Banyak antigen yang lain menonjol dari permukaan
patogen atau sel-sel asing yang lain. Sel B dan sel T mengenali antigen menggunakan reseptor
spesifik-antigen yang tertanam dalam membran-membran plasmanya (gambar 2.3). Satu
limfosit B atau T memiliki sekitar 100.000 reseptor antigen (antigen receptor) pada
permukaannya. Sel-sel B terkadang memunculkan sel plasma yang menyekresikan bentuk
reseptor antigen terlarut. Protein hasil sekresi ini disebut antibodi (antibody), atau
imunoglobulin (immunoglobulin, Ig).
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.3 Reseptor-reseptor antigen pada limfosit
Reseptor antigen dan antibodi mengenali hanya sebagian kecil antigen yang dapat diakses
dan disebut epitop (epitope), atau determinan antigenik (antigenic determinant). Satu antigen
biasanya memiliki beberapa epitop yang berbeda, masing-masing mampu menginduksi respons
dari limfosit yang mengenali epitop itu (gambar 2.4).
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.4 Epitop (determinan antigenik)
Semua reseptor-reseptor antigen pada satu limfosit tunggal adalah identik; dengan kata lain,
mereka mengenali epitop yang sama. Setiap limfosit tubuh akan menunjukkan kespesifikan
(specificity) untuk epitop tertentu. Konsekuensinya, setiap limfosit mempertahankan tubuh
terhadap patogen apa pun yang menghasilkan molekul-molekul yang mengandung epitop
tersebut.
Adapun imunitas spesifik dapat di peroleh melalui pembentukan antibodi. Antibodi
merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh sel darah putih. Apakah Anda tahu bagaimana
kuman penyakit dapat terbunuh di dalam tubuh? Semua kuman penyakit memiliki zat kimia
pada permukaannya yang disebut antigen. Antigen sebenarnya terbentuk atas protein. Tubuh
akan merespon ketika tubuh mendapatkan penyakit dengan cara membuat antibodi. Jenis
antigen pada setiap kuman penyakit bersifat spesifik atau berbeda-beda untuk setiap jenis
kuman penyakit. Dengan demikian diperlukan antibodi yang berbeda pula untuk jenis kuman
yang berbeda. Tubuh memerlukan macam antibodi yang banyak untuk melindungi tubuh dari
berbagai macam kuman penyakit. Anda pasti tahu bahwa dalam kehidupan sehari-hari tubuh
tidak dapat selalu berada dalam kondisi terbebas dari kotoran dan mikroorganisme (steril).
Antibodi dibedakan menjadi lima tipe seperti pada tabel di bawah ini.
No. Tipe Antibodi Karakteristik
Pertama kali dilepaskan ke aliran darah pada saat terjadi infeksi
1. IgM
yang pertama kali (respons kekebalan primer)
Paling banyak terdapat dalam darah dan diproduksi saat terjadi
2. IgG infeksi kedua (respons kekebalan sekunder). Mengalir melalui
plasenta dan memberi kekebalan pasif dari ibu kepada janin.
Ditemukan dalam air mata, air ludah, keringat, dan membran
mukosa. Berfungsi mencegah infeksi pada permukaan epitelium.
3. IgA
Terdapat dalam kolostrum yang berfungsi untuk mencegah
kematian bayi akibat infeksi saluran pencernaan
Ditemukan pada permukaan limfosit B sebagai reseptor dan
4. IgD
berfungsi merangsang pembentukan antibodi oleh sel B plasma.
Ditemukan terikat pada basofil dalam sirkulasi darah dan cell
5. IgE mast (mastosit) di dalam jaringan yang berfungsi memengaruhi
sel untuk melepaskan histamin dan terlibat dalam reaksi alergi.
Tabel 2.2 tipe-tipe antibodi beserta karakteristiknya
Tubuh dapat dengan cepat merespon infeksi suatu kuman penyakti apabila di dalam tubuh
sudah terdapat antibodi untuk jenis antigen tertentu yang berasal dari kuman. Bagaimana
antibodi dapat terbentuk dalam tubuh?
a. Cara Mendapatkan Antibodi
Berdasarkan cara mendapatkan imun atau kekebalan, dikenal dua macam kekebalan, yaitu
kekebalan aktif dan pasif.
1) Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif terjadi jika seseorang kebal terhadap suatu penyakit setelah diberikan
vaksinasi dengan suatu bibit penyakit. Jika kekebalan itu diperoleh setelah orang mengalami
sakit karena infeksi suatu kuman penyakit maka disebut kekebalan aktif alami. Sebagai
contohnya adalah seseorang yang pernah sakit campak maka seumur hidupnya orang tersebut
tidak akan sakit campak lagi.
Sumber: www.popmama.com
Gambar 2.5 Vaksinasi dengan cara disuntik
Apakah Anda ingat bahwa pada saat masih kecil mendapatkan imunisasi polio? Sekarang
ini di Indonesia sudah dilaksanakan imunisasi polio untuk anak-anak balita. Hal ini dilakukan
agar Indonesia terbebas dari virus polio. Apa sebenarnya yang terkandung di dalam vaksin?
Vaksin mengandung bibit penyakit yang telah mati atau dinonaktifkan, dimana pada bibit
penyakit tersebut masih mempunyai antigen yang kemudian akan direspon oleh sistem imun
dengan cara membentuk antibodi.
Sel B dan sel T (sel limfosit) ikut berperan dalam menghasilkan
Apakah kamu sudah antibodi. Sel B (B limfosit) membentuk sistem imunitas humoral,
diimunisasi polio yaitu imunitas dengan cara membentuk antibodi yang berada di
pada waktu balita? darah dan limfa. Sel B berfungsi secara spesifik mengenali antigen
asing serta berperan membentuk kekebalan terhadap infeksi bakteri,
seperti Streptococcus, Meningococcus, virus campak, dan
Poliomeilitis. Antibodi ini kemudian melekat pada antigen dan
melumpuhkannya. Sel B ini juga mampu membentuk sel pengingat
(memory cell). Sel ini berfungsi untuk
membentuk kekebalan tubuh dalam jangka panjang. Sebagai contoh jika terdapat antigen yang
sama masuk kembali ke dalam tubuh maka sel pengingat ini akan segera meningkatkan
antibodi dan membentuk sel plasma dalam waktu cepat. Sel plasma adalah sel B yang mampu
menghasilkan antibodi dalam darah dan limfa.
Sel T membentuk sistem imunitas terhadap infeksi bakteri, virus, jamur, sel kanker, serta
timbulnya alergi. Sel T ini mengalami pematangan di glandula timus dan bekerja secara
fagositosis. Namun T limfosit tidak menghasilkan antibodi. T limfosit secara langsung dapat
menyerang sel penghasil antigen. Sel T kadang ikut membantu produksi antibodi oleh sel B.
Sel T dan sel B berasal dari sel limfosit yang diproduksi dalam sumsum tulang. Sel limfosit
yang melanjutkan pematangan selnya di sumsum tulang akan menjadi sel B.
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.6 Tempat pembentukan sel T dan sel B
Baik sel B maupun sel T dilengkapi dengan reseptor antigen di dalam plasma membrannya.
Reseptor antigen pada sel B merupakan rangkaian membran molekul antibodi yang spesifik
untuk antigen tertentu. Reseptor antigen dari sel T berbeda dari antibodi, namun reseptor sel T
mengenali antigennya secara spesifik. Spesifikasi dan banyaknya macam dari sistem imun
tergantung reseptor pada setiap sel B dan sel T yang memungkinkan limfosit mengidentifikasi
dan merespon antigen. Saat antigen berikatan dengan reseptor yang spesifik pada permukaan
limfosit, limfosit akan aktif untuk berdeferensiasi dan terbagi menaikkan populasi dari sel
efektor. Sel ini secara nyata melindungi tubuh dalam respon imun. Dalam sistem humoral, sel
B diaktifkan oleh ikatan antigen yang akan meningkatkan sel efektor yang disebut dengan sel
plasma. Sel ini mensekresi antibodi untuk membantu mengurangi antigen.
2) Kekebalan Pasif
Setiap antigen memiliki permukaan molekul yang
Tuberculosis unik dan dapat menstimulasi pembentukan berbagai
Sebenarnya pada saat tipe antibodi. Sistem imun dapat merespon berjuta-juta
imunisasi BCG, ke dalam tubuh anda jenis dari mikroorganisme atau benda asing. Bayi dapat
telah dimasukkan jenis bakteri dari memperoleh kekebalan (antibodi) dari ibunya pada saat
galur Mycobacterium boris yang masih berada di dalam kandungan. Sehingga bayi
telah dihilangkan sifat patogennya. tersebut memiliki sistem kekebalan terhadap penyakit
Imunisasi ini bertujuan untuk seperti kekebalan yang dimiliki ibunya.
mencegah terjangkitnya penyakit
tuberculosis. Penyakit tuberculosis Kekebalan pasif setelah lahir yaitu jika bayi terhindar
telah membunuh sekitar 3 juta orang dari penyakit setelah dilakukan suntikan
pada tahun 1995. Penyakit ini harus
diwaspadai sehingga imunisasi harus
terus dilakukan.
dengan serum yang mengandung antibodi, misanya ATS (Anti Tetanus Serum). Sistem
kekebalan tubuh yang diperoleh bayi sebelum lahir belum bisa beroperasi secara penuh, tetapi
tubuh masih bergantung pada sistem kekebalan pada ibunya. Imunitas pasif hanya berlangsung
beberapa hari atau beberapa minggu saja.
b. Struktur Antibodi
Setiap molekul antibodi terdiri dari dua rantai polipeptida yang identik, terdiri dari rantai
berat dan rantai ringan. Struktur yang identik menyebabkan rantai-rantai polipeptida
membentuk bayangan kaca terhadap sesamanya. Empat rantai pada molekul antibodi
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan disulfida (–s–s–) membentuk molekul bentuk Y.
Dengan membandingkan deretan asam amino dari molekul-molekul antibodi yang berbeda,
menunjukkan bahwa spesifikasi antigen-antibodi berada pada dua lengan dari Y. Sementara
cabang dari Y menentukan peran antibodi dalam respon imu
Sumber: Biology, Raven dan Johnson
Gambar 2.7 Model struktur antibodi
c. Cara Kerja Antibodi
Cara kerja antibodi dalam mengikat antigen ada empat macam. Prinsipnya adalah terjadi
pengikatan antigen oleh antibodi, yang selanjutnya antigen yang telah diikat antibodi akan
dimakan oleh sel makrofag. Berikut ini adalah cara pengikatan antigen oleh antibodi.
1) Netralisasi
Antibodi menonaktifkan antigen dengan cara memblok bagian tertentu antigen. Antibodi
juga menetralisasi virus dengan cara mengikat bagian tertentu virus pada sel inang. Dengan
terjadinya netralisasi maka efek merugikan dari antigen atau toksik dari patogen dapat
dikurangi.
2) Penggumpalan
Penggumpalan partikel-partikel antigen dapat dilakukan karena struktur antibodi yang
memungkinkan untuk melakukan pengikatan lebih dari satu antigen. Molekul antibodi
memiliki sedikitnya dua tempat pengikatan antigen yang dapat bergabung dengan antigen-
antigen yang berdekatan. Gumpalan atau kumpulan bakteri akan memudahkan sel fagositik
(makrofag) untuk menangkap dan memakan bakteri secara cepat.
3) Pengendapan
Prinsip pengendapan hampir sama dengan penggumpalan, tetapi pada pengendapan antigen
yang dituju berupa antigen yang larut. Pengikatan antigen-antigen tersebut membuatnya dapat
diendapkan, sehingga selsel makrofag mudah dalam menangkapnya.
4) Aktivasi Komplemen
Antibodi akan bekerja sama dengan protein komplemen untuk melakukan penyerangan
terhadap sel asing. Pengaktifan protein komplemen akan menyebabkan terjadinya luka pada
membran sel asing dan dapat terjadi lisis.
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.8 Reaksi antibodi pada antigen dan sel asing dalam penonaktifan antigen
Sistem imun dapat mengenali antigen yang sebelumnya pernah dimasukkan ke dalam
tubuh, disebut memori imunologi. Dikenal respon primer dan respon sekunder dalam sistem
imun yang berkaitan dengan memori imun. Berikut ini adalah gambaran respon primer dan
sekunder.
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.9 Memori primer dan sekunder pada sistem imun
Gambar 2.9 menunjukkan bahwa setelah injeksi antigen A yang kedua, respon imun
sekunder jauh lebih besar dan lebih cepat daripada respon primer. Dengan demikian respon
sekunder sebenarnya lebih penting peranannya dalam sistem imun.
E. Faktor yang Mempengaruhi Imunitas
Selain faktor genetik, terdapat sejumlah factor yang dapat mempengaruhi mekanisme
imun seperti: faktor metabolik, lingkungan, gizi, anatomi, fisiologi, umur dan mikroba
(Bellanti, 1985; Subowo 1993; Roitt dkk.,1993).
1. Faktor Metabolik
Beberapa hormon dapat mempengaruhi respons imun tubuh, misalnya pada keadaan
hipoadrenal dan hipotiroidisme akan mengakibatkan menurunnya daya tahan terhadap infeksi.
Demikian juga pada orang-orang yang mendapat pengobatan dengan sediaan steroid sangat
mudah mendapat infeksi bakteri maupun virus. Steroid akan menghambat fagositosis, produksi
antibodi dan menghambat proses radang. Hormon kelamin yang termasuk kedalam golongan
hormone steroid, seperti androgen, estrogen dan progesterone diduga sebagai faktor pengubah
terhadap respons imun. Hal ini tercermin dari adanya perbedaan jumlah penderita antara laki-
laki dan perempuan yang mengidap penyakit imun tertentu.
2. Faktor lingkungan
Kenaikan angka kesakitan penyakit infeksi, sering terjadi pada masyarakat yang taraf
hidupnya kurang mampu. Kenaikan angka infeksi tersebut, mungkin disebabkan oleh karena
lebih banyak menghadapi bibit penyakit atau hilangnya daya tahan tubuh yang disebabkan oleh
jeleknya keadaan gizi.
3. Faktor Gizi
Keadaan gizi seseorang sangat berpengaruh terhadap status imun seseorang. Tubuh
membutuhkan enam komponen dasar bahan makanan yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan
dan pemeliharaan kesehatan tubuh. Keenam komponen tersebut yaitu : protein, karbohidrat,
lemak, vitamin, mineral dan air. Gizi yang cukup dan sesuai sangat penting untuk berfungsinya
system imun secara normal. Kekurangan gizi merupakan penyebab utama timbulnya
imunodefisiensi.
4. Faktor Anatomi
Garis pertahanan pertama dalam menghadapi invasi mikroba biasanya terdapat pada kulit
dan selaput lender yang melapisi bagian permukaan dalam tubuh. Struktur jaringan tersebut,
bertindak sebagai imunitas alamiah dengan menyediakan suatu rintangan fisik yang efektif.
Dalam hal ini kulit lebih efektif dari pada selaput lender. Adanya kerusakan pada permukaan
kulit, atau pada selaput lender, akan lebih memudahkan timbulnya suatu penyakit.
5. Faktor Fisiologis
Getah lambung pada umumnya menyebabkan suatu lingkungan yang kurang
menguntungkan untuk sebagian besar bakteri pathogen. Demikian pula dengan air kemih yang
normal akan membilas saluran kemih sehingga menurunkan kemungkinan infeksi oleh bakteri.
Pada kulit juga dihasilkan zatzat yang bersifat bakterisida. Didalam darah terdapat sejumlah
zat protektif yang bereaksi secara non spesifik. Faktor humoral lainnya adalah properdin dan
interferon yang selalu siap untuk menanggulangi masuknya zat-zat asing.
6. Faktor Umur
Berhubung dengan perkembangan sistem imun sudah dimulai semasa dalam kandungan,
maka efektifitasnya juga diawali dari keadaan yang lemah dan meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur. Walaupun demikian tidak berarti bahwa pada umur lanjut, sistem imun
akan bekerja secara maksimal. Malah sebaliknya fungsi sistem imun pada usia lanjut akan
mulai menurun dibandingkan dengan orang yang lebih muda, walaupun tidak mengalami
gangguan pada sistem imunnya. Hal tersebut, selain disebabkan karena pengaruh kemunduran
biologik, secara umum juga jelas berkaitan dengan menyusutnya kelenjar timus. Keadaan
tersebut akan mengakibatkan perubahan-perubahan respons imun seluler dan humoral. Pada
usia lanjut resiko akan timbulnya berbagai kelainan yang melibatkan sistem imun akan
bertambah, misalnya resiko menderita penyakit autoimun, penyakit keganasan, sehinggaakan
mempermudah terinfeksi oleh suatu penyakit.
7. Faktor Mikroba
Berkembangnya koloni mikroba yang tidak pathogen pada permukaan tubuh,baik diluar
maupun didalam tubuh, akan mempengaruhi sistem imun. Misalnya dibutuhkan untuk
membantu produksi natural antibody. Flora normal yang tumbuh pada tubuh dapat pula
membantu menghambat pertumbuhan kuman pathogen. Pengobatan dengan antibiotika tanpa
prosedur yang benar, dapat mematikan pertumbuhan flora normal, dan sebaliknya dapat
menyuburkan pertumbuhan bakteri pathogen.
F. Kelainan atau Gangguan pada Sistem Imun
1. Alergi
Alergi adalah respons-respons yang berlebihan (hipersensitif) terhadap antigen-antigen
tertentu yang disebut alergen (allergen). Alergi yang paling umum melibatkan antibodi dari
kelas IgE. Hay fever, misalnya, terjadi ketika sel-sel plasma menyekresikan antibodi IgE yang
spesifik terhadap antigen di permukaan serbuk polen (Gambar 2.10). Beberapa dari antibodi
ini melekat dengan menggunakan bagian dasarnya ke sel tiang dalam jaringan ikat.
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.10 Sel tiang, IgE, dan respon alergi
Belakangan, ketika serbuk polen kembali memasuki tubuh, serbuk polen tersebut melekat
ke situs pengikatan antigen IgE di permukaan sel tiang. Interaksi dengan serbuk polen yang
besar akan menaut-silangkan molekul-molekul IgE yang bersebelahan, sehingga menginduksi
sel tiang untuk melepaskan histamin dan agen-agen peradangan yang lain dari granula
(vesikel), suatu proses yang disebut degranulasi (degranulation). Ingatlah kembali bahwa
histamin menyebabkan dilatasi dan permeabilitas pembuluh darah kecil yang ditingkatkan.
Perubahan-perubahan vaskular semacam itu memunculkan gejala-gejala alergi yang khas:
bersin-bersin, hidung berair, mata berair, dan kontraksi otot polos yang dapat menyebabkan
kesulitan bernapas. Obat-obatan yang disebut antihistamin mengurangi gejala- gejala alergi
(dan inflamasi) dengan memblokir reseptor untuk histamin.
Respons alergi yang akut terkadang menyebabkan syok anafilaktik (anaphylactic shock),
reaksi seluruh tubuh yang mengancam jiwa dan dapat terjadi dalam beberapa detik setelah
paparan terhadap suatu alergen. Syok anafilaktik berkembang ketika degranulasi sel tiang yang
menyebar akan memicu dilatasi pembuluh darah perifer secara tiba- tiba, sehingga
menyebabkan penurunan tekanan darah secara mendadak. Kematian bisa terjadi dalam
beberapa menit. Respons alergi terhadap bisa lebah atau penisilin dapat menyebabkan syok
anafilaktik pada orang-orang yang sangat alergi terhadap zat-zat ini. Serupa dengan itu, orang-
orang yang sangat alergi terhadap kacang, ikan, atau makanan lain dapat meninggal karena
menelan sedikit saja alergen-alergen ini. Orang-orang dengan hipersensitivitas yang parah
seringkali membawa alat suntik berisi hormon epinefrin, yang melawan respons alergi ini.
2. Penyakit-penyakit Autoimun
Pada beberapa orang, sistem kekebalan menyerang molekul-molekul tertentu dalam tubuh,
menyebabkan penyakit autoimun (autoimmune disease). Hilangnya toleransi-diri ini dapat
hadir dalam berbagai bentuk. Dalam eritematosus lupus sistemik (systemic lupus
erythematosus), sering disebut lupus, sistem kekebalan menghasilkan menyerang histon dan
DNA yang dilepaskan melalui pemecahan normal sel-sel tubuh. Antibodi-antibodi yang
reaktif terhadap diri sendiri ini menyebabkan ruam-ruam kulit, demam, artritis, dan gangguan
ginjal. Penyakit autoimun yang diperantarai antibodi lainnya, artritis rematoid (rheumatoid
arthritis). Menyebabkan kerusakan dan inflamasi yang menyakitkan di kartilago dan tulang-
tulang persendian (Gambar 2.11). Pada diabetes melitus Tipe 1, sel-sel beta penghasil insulin
di pankreas merupakan target dari sel T sitotoksik autoimun. Gangguan saraf kronis yang
paling umum di negara-negara maju adalah penyakit autoimun-sklerosis multipel (multiple
sclerosis). Pada penyakit ini, sel-sel T menembus sistem saraf pusat, sehingga menyebabkan
penghancuran selubung mielin yang mengelilingi bagian-bagian dari banyak neuron.
Sumber: www.academia.edu
Gambar 2.11 Pindaian sinar X tangan yang cacat akibat artritis rematoid
Jenis kelamin, genetika, dan lingkungan semuanya memengaruhi kerentanan seseorang
terhadap gangguan autoimun. Misalnya, anggota keluarga tertentu menunjukkan kerentanan
yang lebih tinggi terhadap gangguan autoimun tertentu. Selain itu, banyak penyakit autoimun
yang lebih sering memengaruhi perempuan daripada laki-laki. Perempuan memiliki
kemungkinan dua sampai tiga kali lebih besar menderita sklerosis multipel dan artritis
rematoid daripada laki-laki dan sembilan kali lebih mungkin mengidap lupus. Telah ada
kemajuan yang penting di bidang penelitian autoimunitas. Misalnya, kini kita tahu bahwa sel-
sel T regulator biasanya membantu mencegah serangan oleh limfosit yang reaktif
terhadap diri sendiri yang masih fungsional pada orang dewasa. Meskipun demikian, masih
banyak yang perlu dipelajari tentang gangguan-gangguan yang sering berakibat buruk ini.
3. Penyakit AIDS
AIDS merupakan sekumpulan penyakit sebagai dampak dari melemahnya sistem
kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh dapat melemah karena mendapat serangan dari HIV
(Human Immunodeviciency Virus). Virus ini mampu menyerang dan merusak sel darah putih
sehingga kemampuan tubuh dalam memerangi kuman penyakit menjadi berkurang. Orang
yang terinfeksi virus HIV tidak selalu dikatakan positif mengidap penyakit AIDS tetapi bisa
saja hanya sebagai pembawa (karier).
Sumber: New Understanding Biology, Glenn dan Susan Toole
Penggunaa kondom Gambar 2.12 Struktur virus HIV
HIV dapat ditularkan oleh penderita ke orang lain melalui
npada saat berhubungan
darah atau semen (sperma) dan cairan vagina. Apabila orang
seks tidak menjamin yang sehat melakukan hubungan seksual dengan orang karier
HIV maka besar kemungkinan akan tertular virus HIV. Selain
100% terhindar dari virus dengan hubungan seksual, virus HIV juga dapat menular dari
HIV.
ibu yang terinfeksi kepada bayi yang dikandungnya melalui
plasenta.
Jarum suntik yang dipergunakan secara sembarangan juga
berpotensi menjadi sarana penularan virus HIV. Hal ini dapat
terjadi apabila seorang pengidap virus HIV menggunakan
jarum suntik yang selanjutnya digunakan kembali oleh orang lain. Biasanya ini terjadi pada
orang-orang pengguna obat-obat terlarang yang menggunakan jarum suntik secara
bersamasama. Jarum suntik yang telah dipakai dapat terkena darah orang yang memakainya,
sedangkan darah dapat menjadi sarana penularan virus HIV.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai kondom saat berhubungan seks, selalu
menggunakan jarum suntik yang steril dan berhati-hati pada saat melakukan transfusi darah.
HIV menginfeksi sel yang permukaannya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor. Infeksi
dimulai ketika glikoprotein pada HIV membentuk tempelan ke reseptor CD4. Virus masuk ke
sel dan memulai replikasi (memperbanyak diri). Sel terinfeksi dapat menghasilkan bentuk virus
yang baru. Sel T menjadi target utama dari virus ini, sehingga efek utamanya adalah pada
sistem imun. Selanjutnya sel-sel lain yang memiliki CD4 (beberapa makrofag), subklas sel B,
juga dapat terinfeksi.
Sumber: Biologi, Campbell (2008)
Gambar 2.13 Penurunan konsentrasi sel T seiring dengan bertambahnya waktu infeksi HIV
Sebenarnya pada awal-awal terjadi infeksi, sistem imun masih bekerja dengan baik
sampai beberapa tahun. Akan tetapi sistem imun dalam tubuh menurun seiring dengan
terakumulasinya varian baru dan antigen yang berbeda.
Gambar 2.14 Infeksi HIV pada sel T
HIV menempel ke reseptor CD4 pada permukaan sel T dan masuk sel secara endositosis,
kemudian memperbanyak diri. Selanjutnya keluar dari sel T dengan cara melisiskan sel atau
dapat juga dengan cara eksositosis. Setelah masa delapan tahun terinfeksi maka
penderita HIV dapat menderita AIDS, dan mudah terserang penyakit jenis lainnya,
seperti tuberculosis, kanker, melemahnya ingatan, dan kehilangan sistem
koordinasi tubuh.
Mengapa orang yang terinfeksi virus HIV baru dapat mengetahuinya setelah
beberapa tahun? Hal ini karena selama kurang lebih 8 tahun setelah terinfeksi HIV,
penderita tidak merasakan gejala sakit. Virus HIV bersifat dorman dalam tubuh
manusia, tetapi apabila berhubungan seks dengan orang lain, maka virus ini akan
tertular pada orang lain. Seseorang dapat mengetahui apakah terinfeks atau tidak
dengan melakukan tes darah dan cairan tubuh. Harus diperhatikan juga bahwa HIV
tidak ditularkan melalui kontak fisik. Virus HIV akan cepat mati apabila berada di
luar tubuh manusia, sehingga untuk dapat menular pada manusia lain, sperma,
cairan vagina, dan darah harus segera berpindah pada tubuh orang lain tersebut.
LATIHAN 2
1. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi sistem imun!
2. Jelaskan penyebab penyakit autoimun!
Kegiatan Diskusi
Diskusikan video berikut secara berkelompok lalu analisis dan buat
rangkuman dari video tersebut!
Video 2
(dicantumkan ketika dalam flipbook)
Rangkuman
1. Sistem imun diperlukan dalam menjaga tubuh agar tidak
terinfeksi oleh kuman penyakit. Sistem imun pada manusia
terbagi menjadi sistem imun spesifik dan nonspesifik.
2. Imun secara spesifik dengan pembentukan antibodi oleh sel B
dan sel T yang secara langsung menyerang sel penghasil antigen.
3. Imun nonspesifik terdiri dari pertahanan di permukaan tubuh
atau organ, inflamatori, dan protein komplemen.
4. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah mengalami sakit atau
dengan pemberian vaksin. Kekebalan pasif dapat diperoleh sejak
dalam kandungan (berasal dari sistem imun ibu) dan dari
kolostrum.
5. Mikroorganisme penyebab penyakit dapat dikenali dari antigen
yang terdapat pada membran selnya dan dapat dimatikan dengan
pembentukan antibodi.
6. HIV dapat menyerang sistem imun manusia dan dalam jangka
waktu yang lama akan menimbulkan penyakit AIDS.
7. HIV dapat ditularkan melalui darah, cairan vagina, dan sperma
yang terjadi pada saat transfusi darah dan hubungan seks.