JURNAL DWI MINGGUAN MODUL 1.4. BUDAYA POSITIF
REFLEKSI MODEL 4P (PERISTIWA, PERASAAN, PEMBELAJARAN, PENERAPAN KE DEPAN)
ANSORYADI
CGP A7 Kelas 297 Kab. Sumenep
PERISTIWA (FACT)
Sesuai dengan materi modul 1 adalah modul 1.4. tentang penerapan budaya positif di Sekolah. Jika membahas tentang budaya
maka yang bisa membentuk sebuah budaya di sekolah ditentukan oleh semua pihak yang ada di sekolah, mulai dari kepala sekolah,
guru, siswa, TU, satpam sampai pada penjual kantin yang ada di sekolah. Budaya positif ini bisa dimulai dari adanya kebijakan-
kebijakan kepala sekolah yang mendukung dalam proses terbentuknya budaya positif. Guru da karyawan lain juga memahami apa itu
disiplin positif dan menerapkannya kepada dirinya dan siswa.
Membentuk sebuah budaya positif diawali dengan adanya pemikiran yang sama, akan memotivasi semua pihak untuk bersikap
dan berperilaku dengan menggunakan teori disiplin positif dengan memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal yang dipahami dan
dikaji bersama agar semua warga sekolah memiliki motivasi intrinsik dalam berperilaku tertentu. Tahap selanjutnya adalah penerapan
teori, pertama bagaimana kita memahami kebutuhan-kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi pada diri siswa untuk memahami dibalik
alasan kenapa siswa berperilaku tertentu sehingga kita lebih bijak menyikapinya dan membimbingnya untuk bisa menyelesaikan
permasalahannya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam proses pendampingan siswa diperlukan pemahaman tentang teori
posisi kontrol agar mampu mendidik siswa lebih efektif dan efisien.
Budaya positif di sekolah kami masih perlu dikaji ulang dengan cara guru bersikap reflektif untuk mengetahui apa yang selama
ini berada pada posisi kontrol yang mana, misalnya ada yang guru masih menerapkan posisi kontrol yang pertama (hukuman)
sehingga siswa kurang respek pada gurunya. Kedua ada juga guru yang masih posisi pembuat merasa bersalah karena guru yang
sering melihat pelanggaran dari siswa, ditegur oleh kepala sekolah, pekerjaan banyak terkadang guru terkesan agar siswa
mengasihaninya sehingga siswa merasa tidak berharga karena membuat orang lain menderita gara-gara dirinya. Ketiga, posisi sebagai
teman akan membuat siswa bergantung pada guru-guru tertentu dan membuat anak kurang respek pada guru lain dan tidak mandiri.
Keempat, posisi sebagai pemantau membuat siswa merasa akan berperilaku positif saat ada pengawasan dari guru, dan membuat siswa
kurang mandiri dan bergantung pada pengawasan orang lain. Kelima, posisi sebagai manager akan membuat siswa mandiri karena kita
hanya perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong siswa untuk berfikir secara mandiri dan mengalisis perilakunya
apakah sesuai dengan prinsip atau keyakinan, kemudian bagaimana seharusnya yang bisa siswa lakukan agar sesuai dengan kebajikan
universal yang diyakininya.
Proses berfikir secara mandiri inilah yang akan memunculkan motivasi intrinsik pada siswa agar siswa perubahan perilakunya
ke arah yang lebih positif karena keinginan dirinya agar perubahannya lebih permanen. Budaya positif di sekolah akan sulit diperoleh
saat guru belum bisa refleksi dan masih ada beberapa guru yang menerapkan teori kontrol posisi yang tidak atau kurang mendukung
pada terbentuknya budaya positif. Hal ini masih banyak guru yang belum memahami dan menerapkan teori kontrolposisi yang
memandirikan siswa. Baik karena belum memahami konsep atau belum membiasakan diri untuk melakukan kontrol atau
pembimbingan siswa yang berpusat pada siswa sehingga siswa memiliki kreatifitas berfikir karena kemandirian berfikirnya. Hal ini
yang lebih kita kenal dengan segitiga restitusi. Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam
penerapan budaya positif. Langkahnya: menstabilkan identitas (stabilize identity), validasi Tindakan yang salah (validation of
unbehaviour), dan menanyakan keyakinan (seek the belief).
PERASAAN (FEEL)
Persaaan kami dalam membersamai siswa selama ini mengira bahwa reward itu sudah cukup baik, kami mengira dengan
reward bisa mendorong siswa walaupun awalnya karena berharap reward, lama-lama terbiasa dengan disiplin positif. Kami baru sadar
untuk usia remaja justru reward ini bisa membentuk pribadi siswa yang kurang mandiri, dan saat posisi sebagai teman dan pemantau
sebagaimana banyak terjadi di sekolah justru akan membunuh kreativitas siswa karena kemandirian berfikirnya tidak terlatih dengan
baik. Dan ternyata untuk siswa sekolah menengah pertama siswa sudah mulai diajak untuk berfikir lebih dalam untuk melakukan
refleksi terhadap perilakunya sendiri dan langkah selanjutnya dapat merencanakan langkah-langkaha apa yang bisa direncanakan
untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
Namun ada beberapa siswa yang belum siap sehingga posisi kontrol bisa dilakukan dibawahnya seperti pemantau dan teman,
dan secara perlahan-lahan bisa menggunakan posisi kontrol manager dengan tetap mendapakan bimbingan guru. Pengetahuan tentang
5 posisi kontrol menjadikan kami sebagai pendidik memiliki wawasan baru untuk bisa melatih posisi manager dalam proses
membersamai siswa, dan jika kondisi-kondisi tertentu dimulai dari posisi pemantau atau teman.
PEMBELAJARAN (FIND)
Seorang pendidik dapat belajar dari filososi Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa,
“…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan
seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah,
memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan
lain sebagainya.” Jadi, seorang pendidik dapat belajar dari seorang petani yang begitu hati-hati memperhatikan dan memperlakukan
tanaman-tanamannya agar bisa tumbuh kembang dengan baik dan bisa memetik hasil panen sesuai dengan harapan.
Memahami siswa dengan mempelajari perilaku siswa yang dilakukan karena ada kebutuhan yang ingin dipenuhinya walaupun
terkadang pemenuhan kebutuhannya kurang tepat atau kurang positif, disini peran guru untuk membimbing agar siswa dapat
memenuhi kebutuhannya dengan hal-hal atau sikap dan perilaku yang positif. Selain itu juga bagaiamana membimbing siswa untuk
bisa mencari solusi pada setiap persoalan dalam hidupnya yang dapat mengganngu aktivitas sehari-harinya termasuk belajarnya
dengan langkah-langkah yang memandirikan siswa dan diperoleh berdasarkan hasil analisis yang baik, sehingga siswa memiliki
pengalaman positif yang membuat siswa memiliki harga diri yang positif, percaya diri, dan kreatif. Posisi ini yang kita kenal dengan
teori kontrol posisi manager dapat membentuk karakter positif pada siswa.
PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
Pola pikir kita yaitu bagaimana cara kita berfikir dapat mempengaruhi kita dalam bersikap dan bertindak sehari-hari. Hal ini
sangat bisa dipengaruhi oleh wawasan yang kita miliki dan kita pahami, dengan adanya materi ini akan berpengaruh pada pola pikir
kita. Namun untuk penerapan dibutuhkan pembiasaan dengan belajar untuk mempraktekkan teori kebutuhan dengan menerapkan teori
segitiga restitusi untuk membentuk karakater siswa yang dimulai dengan menjadi guru yang berkarakter.
Kemudian bagaimana pemahaman yang kami peroleh ini juga bisa dipahami oleh semua elemen yang ada di sekolah untuk
mendukung terciptanya budaya positif di sekolah. Agar ada visi misi yang sama untuk menyiapkan generasi bangsa yang mandiri,
tanggung jawab, percaya diri, kreatif dan bijaksana. Hal ini bisa diawali dengan pemahaman konsep, refleksi dan evaluasi, motivasi
dan pembiasaan semua pihak terutama kepala sekolah dan guru yang bisa mempengaruhi yang lain untuk menerapkan disiplin positif
di sekolah.