The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Shofiyahaliza25, 2020-12-14 08:52:51

makalah kelompok 5

makalah kelompok 5

MAKALAH FILSAFAT DAN NILAI BUDAYA PENDIDIKAN
ALIRAN IDEALISME

Dosen Pengampu:

Disusun Oeh:

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2020

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt,karena dengan rahmat dan
karunianya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Aliran
Idealisme”.Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat dan
nilai budaya pendidikan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembibing kami yaitu Dr.Ahmad
Hariyadi Sos I,S.Pd,M.Pd. yang telah memberikan pengarahan dan penjelasan
tentang bagaimana pembuatan makalah ini dan kami juga mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat
kami selesaikan tepat pada waktunya .Makalah ini belum pantas bila dikatakan
sempurna.Oleh karena itu, kami selaku penyusun makalah ini akan sangat
menerima kritik dan saran yang bersifat membantu ,karena dengan adanya kritik
dan saran dari pembaca sangat berguna bagi kami untuk memperbaiki kesalahan
dalam menyempurnakan makalah kami,semonga dengan dibuatnya makalah ini
dapat meberikan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan
wawasan dan meningkatkan ilmu pemgetahuan bagi kita semua.

Pati 23,September 2020
Ketua kelompok,

(Tika Novitasari)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophos”, philo berarti cinta

dan sophos berarti kebijasanaan. Jadi, filsafat adalah cinta kebijasanaan atau
kebenaran. Menurut bentuk kata, seorang philosophos adalah seorang
pecinta kebijasanaan. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan
hidup. Filsafat merupaan induk atau sumber dari segala ilmu karena filsafat
mencakup segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.

Sesuai dengan pengertian di atas maka kita selaku masyarakat ilmiah
harus berfilsafat. Berfilsafat tidak sama dengan berpikir. Orang yang
berpikir belum tentu berfilsafat, tetapi orang yang berfilsafat sudah pasti
berpikir. Berfilsafat merupakan kegiatan berpikir yang disertai dengan
analisis menggunakan rasio dalam menemukan sebuah kebenaran sedangkan
berpikir hanya merupakan kegiatan memikirkan hal-hal tertentu yang belum
tentu berakhir dengan penemuan sebuah kebenaran.
Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran seseorang atau beberapa ahli filsafat
tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah
terdapat perbedaan di dalam penggunaan cara pendekatan,hal ini melahirkan
kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang
dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh faktor-faktor lain
seperti latar belakang pribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi
dan alam pikiran manusia di suatu tempat. Ajaran filsafat yang berbeda-beda
tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori
tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa
yang disebut aliran filsafat. Aliran-aliran tersebut antara lain adalah aliran
materialisme, yang mengajarkan bahwa hakikat realitas kesemestaan
termasuk makhluk hidup dan manusia ialah materi. Aliran
idealisme/spiritualisme, yang mengajaran bahwa idea tau spirit manusia
yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Dan aliran realism yang
menggambarkan bahwa ajaran materialis dan idealism yang bertentangan
itu, tidak sesuai dengan kenyataan. Sesungguhnya, realitas kesemestaan,

terutama kehidupan bukanlah benda ( materi) semata-mata. Realitas adalah
perpaduan benda materi dan jasmaniah dengan yang nonmateri (spiritual,
jiwa, dan rohani).

Perbedaan dari bebagai aliran tersebut jangan dijadian sebagai objek
pertikaian atas kesalahpahaman tetapi dapat kita jadikansebagai pilihan
dalam menyikapi berbagai permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan.
Kebijakan kitalah yang kembali mengambil tindakan dalam memanfaakan
aliran-aliran tersebut sesuai dengan fungsi dan tujuanya masing-masing.
Oleh karena perbedaan tersebutlah maka penulis membuat makalah ini yang
membahas uraian mengenai salah satu aliran filsafat, yaitu filsafat idealisme.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang kami sampai, rumusan masalahnya adalah:
a. Apakah pengertian aliran idealisme?
b. Siapakah tokoh aliran idealisme dan bagaimana pandangan mereka?
c. Adakah pembagian aliran dalam filsafat idealisme?
d. Apa saja konsep filsafat menurut aliran idealisme?

1.3 Tujuan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah kami sampaikan, tujuan dari

pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian aliran idealisme.
2. Mengetahui tokoh aliran idealisme.
3. Mengetahui pembagian aliran dalam filsafat idealisme.

Mengetahui konsep filsafat menurut aliran idealisme

BAB II
PEMBAHASAN

1 Pengertian Aliran Idealisme

Aliran idealisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa
pengetahuan dan kebenaran ialah ide. Aliran ini merupakan lawan dari
realisme. Dimana idealisme menganggap bahwa segala bentuk realita
adalah manifestasi ide. Secara pentingnya filsafat idealisme dalam
pendidikan karena peserta didik dapat meningatkan kemampuan atau bakat
terpendamnya melalui akal atau ide yang kemudian direalisasikan.
Keberadaan ide tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang
asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan
idealisme adalah gambaran idealisme adalah gambaran dari dunia ide,
sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimasud dengan ide
adalah hakikat murni dan asli. Keberadaanya sangat absolut dan
kesempurnaanya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada
kenyataanya, ide digambarkan dengan dunia yang tidak bertubuh yang
dikatakan dunia idea.
2.2 Tokoh Aliran Idealisme:
1. Plato

Konsep ilmu pengetahuan menurut plato dibedakan menjadi dua
macam, yaitu indrawi dan kejiwaan. Indrawi ini sifatnya tidak tetap artinya
berubah –ubah dan hanya sementara. Sedangkan kejiwaan yang
menghasilkan nilai yang tidak berubah dan kebijasanaan.

2. Aristoteles (384 – 322 SM).
Aristoteles menyatakan bahwa mahluk-mahluk hidup didunia ini terdiri atas dua
prinsip :
1. Prinsip formal, yakni bentuk atau hakekat adalah apa yang mewujudkan mahluk
hidup tertentu dan menentukan tujuannya.
2. Prinsip material, yakni materi adalah apa yang merupaakn dasar semua mahluk.
Sesudah mengetahui sesuatu hal menurut kedua prinsip intern itu pengetahuan
tentang hal itu perlu dilengkapi dengan memandang dua prinsip lain, yang berada
diluar hal itu sendiri, akan tetapi menentukan adanya juga. Prinsip ekstern yang
pertama adalah sebab yang membuat, yakni sesuatu yang menggerakan hal untuk
mendapat bentuknya. Prinsip ekstern yang kedua adalah sebab yang merupakan
tujuan, yakni sesuatu hal yang menarik hal kearah tertentu. Misalnya api adalah

untuk membakar, jadi membakar merupakan prinsip final dari api. Ternyata
pandangan tentang prisnip ekstern keuda ini diambil dari hidup manusia, dimana
orang bertindak karena dipengaruhi oleh tujuan tertentu, pandangan ini diterapkan
pada semau mahluk alam. Seperti semua mahluk manusia terdiri atas dua prinsip,
yaitu materi dan bentuk.
Materi adalah badan, karena badan material itu manusia harus mati, yang
memberikan bentuk kepada materi adalah jiwa. Jiwa manusia mempunyai
beberapa fungsi yaitu memberikan hidup vegetatif (seperti jiwa tumbuh-
tumbuhan), lalu memberikan hidup sensitif (seperti jiwa binatang) akhirnya
membentuk hidup intelektif. Oleh karena itu jiwa intelektif manusia mempunyai
hubungan baik dengan dunia materi maupun dengan dunia rohani, maka
3. William R. Dennes. (Filsuf Modern)
Beberapa pandangan pandangannya menyatakan bahwa:
a. Kejadian dianggap sebagai ketegori pokok, bahwa kejadian merupakan hakekat
terdalam dari kenyataan, artinya apapun yang bersifat nyata pasti termasuk dalam
kategori alam
b. Yang nyata ada pasti bereksistensi, sesuatu yang dianggap terdapat diluar ruang
dan waktu tidak mungkin merupakan kenyataan dan apapun yang dianggap tidak
mungkin ditangani dengan menggunakan metode-metode yang digunakan dalam
ilmu-ilmu alam tidak mungkin merupakan kenyataan
c. Analisa terhadap kejadian-kejadian, bahwa faktor-faktor penyusun seganap
kejadian ialah proses, kualitas, dan relasi
d. Masalah hakekat terdalam merupakan masalah ilmu, bahwa segenap kejadian
baik kerohanian, kepribadian, dan sebagainya dapat dilukiskan berdasarkan
kategorikategori proses, kualitas dan relasi
e.. Pengetahuan ialah memahami kejadian-kejadian yang saling berhubungan,
pemahaman suatu kejadian, atau bahkan kenyataan, manakala telah mengetahui
kualitasnya, seginya, susunanya, satuan penyusunnya, sebabnya, serta akibat-
akibatnya.
4. J.G. Fichte (1762-1814 M)

Johan Gottlieb Fichte adalah filosof Jerman. Ia belajar teologi di Jena

pada tahun 1780-1788. Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari

satu prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran,

moral, bahkan seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di

dalam etika. Bukan teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang

disekitarnya kehidupan diatue. Unsure esensial dalam pengalaman adalah

tindakan, bukan fakta.

Menurut Fichte, dasar kepribadian adalah kemauan bukan kemauan

irasional seperti pada Schopenhauer, melainkan kemauan yang dikontrol

oleh kesadaran bahwa kebebasan diperoleh hanya dengan melalui
kepatuhan pada peraturan. kehidupan moral adalah usaha. Manusia
dihadapkan kepada rintangan-rintangan, dan manusia digerakkan oleh rasa
wajib bahwa ia berutang pada aturan moral umum yang
memungkinkannya mampu memilih yang baik. Idealisme etis Fichte
diringkaskan dalam pernyataan bahwa dunia actual hanya dapat dipahami
sebagai bahan dari tugas-tugas ita. Oleh karena itu, filsafat bagi Fichte
adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral idealisme
dan moral materialisme. Substansi materialisme menurut Fichte ialah
naluri, kenikmatan tak bertanggung jawab, bergantung pada keadaan,
sedangkan idealism ialah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri.
5. F.W.J. Shelling (1775-1854 M)
Friedrich Wilhelm Joseph Schelling sudah mencapai kematangan sebagai
filosof pada waktu ia masih amat muda. Pada tahun 1789, ketia usiannya
baru 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai
akhir hidupnya pemikiranyya selalu berkembang.

Seperti Fichte, Scelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan
dilalui intelek dalam proses mengetahui, semacam epistemology. Fichte
memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai
basis kebebasan moral. Schelling membahas realitas lebih objektif dan
menyiapkan jalan bagi idealisme absolute Hegel. Dalam pandangan
Schelling, realitas adalah proses rasional evolusi dunia menuju realisasinya
berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Kita dapat mengetahui dunia
sempurna dengan cara melacak proses logis perubahan sifat dan sejarah
masa lalu. Tujuan proses itu adalah suatu keadaan kesadaran diri yang
sempurna. Schelling menyebut proses ini identitas absolute, Hegel
menyebut ideal.
Idealisme Schelling agak lebih objektif, karena menurut dia bukan-aku
(objek) ini sungguh-sungguh ada. Objek ini bukan hanya pertentangan
belaka, melainkan mempunyai nilai yang positif. Bagi Schelling, yang
menjadi dasar kesungguhan dan bepikir itu ialah aku. Dunia ini muncul
daripada aku: dunia yang tak terbatas itu sebabnya tidak lain daripada
produksi dan reproduksi dari ciptaan aku.
2.3 Jenis Aliran Idealisme

Idealisme mempunyai 2 aliran, yaitu idealism subjektif dan idealisme
objektif.
a. Idealisme Subjetif

Idealisme subjetif adalah filsafat yang berpandang idealis dan bertitik
tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini
tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi dialam
atau dimasyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau
idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah
sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia. Seorang idealis
subjetif akan mengatakan bahwa akal, jiwa, dan persepsi-persepsinya
atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Objek pengalaman
bukanlah benda material; objek pengalaman adalah persepsi. Oleh
karena itu benda-benda seperti bangunan dan perpohonan itu ada, tetapi
hanya ada dalam akal mempersepsianya.
Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah seorang uskup inggris
yang bernama George Berkeley(1684-1753 M), menurut Berkeley
segala sesuatu yang tertangkap oleh sensasi/perasaan kita itu bukanlah
materi yang rill dan ada secara obyektif.
Pandangan-pandangan idealisme subyektif dapat kita lihat dalam
kehidupan sehari-hari misalnya tidak jarang kita temui perkataan-
perkataan seperti ini;
1. “Baik buruknya keadaan masyarakat sekarang tergantung pada

orang yang menerimanya,ialah baik bagi mereka yang
mengganggapnya bai dan buruk bagi mereka yang menganggapnya
buruk.
2. “kekacauan sekarang timbul karena orang yang duduk
dipemerintahan tidak jujur, kalau mereka diganti dengan orang-
orang yang jujur maka keadaan akan menjadi baik.”
3. “aku bisa,kau harus bisa juga,”dsb.
b. Idealisme Objektif
Idealisme objektif adalah idealisme yang bertitik tolak pada ide di luar
ide manusia. Idealisme objektif ini dikatakan bahwa akal menemukan
apa yang sudah terdapat dalam susunan alam.
Menurut idealisme objektif segala sesuatu baik dalam alam atau
masyarakat adalah hasil dari ciptaaan ide universal. Padangan filsafat

seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materi, yang
ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materi itu ada
sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala
pikiran dan perasaanya.
Pikiran filsafat idealisme obyektif ini dapat kita jumpai dalam
jehidupan sehari-hari dengan berbagai macam bentu. Perwujudan
paling umum antara lain adalah formalisme dan doktriner-isme.
2.4 konsep filsafat menurut aliran idealisme
1. Metafisik-idealisme
Secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan
rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat
fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rphaniah yang lebih dapat berperan.
2. Humanologi-idealisme
Jiwa dikaruniai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya
kemampuan memilih.

3. Epistemologi-idealisme
Pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan
kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai
oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang
sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat berpendapat,dan
4.Aksiologi-idealisme
Kehidupan manusia diatur oleh kewajiiban-kewajiban moral yang
diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat memeti esimpulan sebagai beriut:
a. Idealisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa akal dan nilai

spiritual adalah hal yang fundenmental yang ada didunia ini. Ia adalah
suatu suatu eseluruhan dari duinia itu sendiri. Idealisme memandang
ide itu primer kedudukannya, sedangkan materi seunder. Ide itu timbul
atau ada lebih dahulu, baru kemudian materi. Segala sesuatu yang ada
initimbul sebagai hasil yang diciptaan oleh ide atau pikiran, karena idea
tau pikiran itu timbul lebih dulu, baru kemudian sesuatu itu ada.
b. Tokoh-tokoh aliran idealism antara lain Plato, Aristoteles (384 – 322
SM), J.G. Fichte (1762-1814 M), F.W.J. Shelling (1775-1857 M)
c. Idealisme mempunyai dua aliran, yaitu idealisme subjektif yaitu filsafat
yang berpandang idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide
sendiri dan idealisme objetif yaitu idealisme yang bertiti tolak pada ide
diluar ide manusia.
d. Konsep filsafat terdiri dari, Metafisik-idealisme, Humanologi-
idealisme, Epistemologi-idealisme, dan Aksiologi-idealisme.

3.2 Saran
Setelah kita memiliki pemahaman mengenai filsafat idealisme
dan juga filsafat lain yang berkaitan dengan aktivitas
berfilsafat atau aktivitas dalam menemukan kebenaran, maka
kita harus bisa menggunakan atau memanfaatkan filsafat
tersebut dalam kehidupan kita agar kita bisa menjadi individu
yang berpengetahuan dan dapat menemukan suatu kebenaran
sesuai kenyataan, bukan kebenaran dari mulut ke mulut yang
masih diragukan kepastiannya. Perbedaan aliran-aliran filsafat
tersebut jangan kita jadikan sebagai bahan pertikaian yang
memicu perselisihan dan saling merendahkan yang aan
menimbulkan perpecahan. Sebagai individu berpendidikan
mari kita gunakan perbedaan sebagai jalan persatuan dam
saling menghargai karena tanpa perbedaan hidup ini tidak
berwarna.

DAFTAR PUSTAKA

kan-dan--filsafat-https://www-kompasiana-
com.cdn.ampproject.org/v/s/www.kompasiana.com/amp/denishabwi0135/5e86bc3
471d6960bed1149e2/pengertian-idealisme-pada-filsafat-pendidikan-dan-tokoh-
filosofi-tokoh-filsafat-
idealisme?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=1
6009310555179&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%2
0%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.kompasiana.com%2Fdenishabw
i0135%2F5e86bc3471d6960bed1149e2%2Fpengertian-idealisme-pada-filsafat-
pendidi tokoh-filosofi-tokohidealisme


Click to View FlipBook Version