Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung LAPORAN PENELITIAN APLIKASI MODEL ALAT FILTRASI DENGAN METODE AERASIFILTERFLOW SEBAGAI PENYEDIA ALTERNATIF AIR BERSIH Oleh: ANISAH NUR KHOERUNNISA EVANIA LESTARI SMK NEGERI 5 BANDUNG KELURAHAN SUKAPADA, KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL, KOTA BANDUNG JAWA BARAT
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung Laporan Penelitian KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT. Karena atas rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan Laporan Penelitian dengan tepat pada waktu yang sudah ditentukan. Penyusunan laporan penelitian ini berdasarkan pada hasil analisis yang telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan pelaksanaan praktikum di Laboratorium Kimia Analis SMK Negeri 5 Bandung. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan laporan penelitian ini. Semoga laporan penelitian ini dapat memberikan manfaat maupun wawasan baru bagi siapapun yang membacanya. Kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk pembuatan Laporan Penelitian selanjutnya agar lebih baik lagi. Bandung, 21 April 2021 Penulis
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung APLIKASI MODEL ALAT FILTRASI DENGAN METODE AERASIFILTERFLOW SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIA AIR BERSIH Penulis 1: Anisah Nur K, 2: Evania Lestari SMK Negeri 5 Bandung Jalan Bojongkoneng No. 37A, Kota Bandung, JawaBarat ABSTRAK Secara geografis, Menurut e-modul Geografi yang dipublikasikan oleh Kemendikbud, Indonesia berada di antara Benua Australia dan Asia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Hal tersebut menyebabkan Indonesia memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan, Selain itu, karena letaknya yang diapit oleh dua samudera besar, menyebabkan curah hujan di Indonesia menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, sebagian besar daerah di Indonesia berpotensi mengalami curah hujan yang relatif tinggi (sekitar 300-500mm/bulan) pada Januari- April 2021. . Tingginya curah hujan menyebabkan banyak terjadinya bencana alam, salah satu bencana yang seringkali terjadi adalah banjir. Dampak terjadi bencana banjir terhadap masyarakat salah satunya yaitu kesulitan mendapatkan air bersih. Salah satu metode yang tepat untuk menangani permasalahan kesulitan mendapatkan air bersih tersebut dapat dilakukan dengan cara membuat suatu alat yaitu alat penyaring sederhana atau sering disebut alat filtrasi dengan memodifikasi sedikit rangkaian alatnya. Kata kunci : Banjir, Kesulitan air bersih, Filtrasi
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara geografis, Menurut e-modul Geografi yang dipublikasikan olehKemendikbud, Indonesia berada di antara Benua Australia dan Asia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Hal tersebut menyebabkan Indonesia memiliki dua musim, karena dipengaruhi oleh angin muson yang terjadi sebanyak dua kali setahun. Angin ini biasanya terjadi sekitar bulan oktober hingga bulan april. Selain itu, karena letaknya yang diapit oleh dua samudera besar, menyebabkan curah hujan di Indonesia menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, sebagian besar daerah di Indonesia berpotensi mengalami curah hujan yang relatif tinggi (sekitar 300- 500mm/bulan) pada Januari-April 2021. Salah satu daerah yang berpotensi mengalami curah hujan yang tinggi ialah Kota Bandung. Dikutip dari PRFMNEWS 26/12/ 2020, Yuni Yulianti ,Prakirawan Cuaca BMKG Bandung, menyebutkan bahwa curah hujan di Kota Bandung serta Jawa Barat masih cukup tinggi. Menurut Yuni tingginya curah hujan ini diprediksi sampai Maret 2021, hal ini dipengaruhi oleh fenomena La Nina Moderat. La Nina Moderat adalah fenomena menurunnya suhu permukaan laut di timur dan tengah Samudera Pasifik yang berada di dekat khatulistiwa. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatanakumulasi curah hujan hingga 40% dari biasanya. Tingginya curah hujan menyebabkanbanyak terjadinya bencana alam, salah satu bencana yang seringkali terjadi adalah banjir. Banjir Menurut Suripin (2003) adalah suatu kondisi di mana tidak tertampungnyaair dalam saluran pembuang (palung sungai) atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang, sehingga meluap menggenangi daerah (dataran banjir) sekitarnya. Banjir di defenisikan sebagai tergenangnya suatu tempat akibat meluapnya air yang melebihi kapasitas pembuangan air disuatu wilayah dan menimbulkan kerugian fisik, sosial dan ekonomi (Rahayu dkk, 2009). Wilayah Bandung menjadi salah satu daerah yang sering mengalami bencana banjir seperti yang dikutip dari berita Liputan6.com 26/03/2021,
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung Bandung - Banjir melanda lima kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, antara lain Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Baleendah, Kecamatan Bojongsoang, Kecamatan Cicalengka, dan Kecamatan Rancaekek. Banjir dipicu hujan deras selama lebih dari lima jam. Kepala Seksi Pencegahan selaku Manajer Pusat Pengendalian dan Operasi Penanganan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops-PB BPBD) Jawa Barat, Budi Budiman Wahyu mengatakan, ketinggian air akibat banjir itu berada di kisaran 10-110 centimeter sementara di Kelurahan Andir dan Baleendah, Kecamatan Baleendah sebanyak 8.624 KK atau 32.799 terdampak banjir. Jumlah pengungsi sementara 4 KK atau 15 orang. Kemungkinan besar akan terus bertambah. Jumlah bangunan yang terendam di Kecamatan Baleendah mecapai 4.439 rumah, 26 sekolah dan 38 tempat ibadah. Ketinggian air dikisaran 20-110 Centimeter. Dari berita yang dipaparkan diatas, dapat diketahui dampak terjadi bencana banjir terhadap masyarakat salah satunya yaitu kesulitan mendapatkan air bersih sebab pada saat banjir, pasokan air PDAM terhenti karena sebagian besar pompa distribusi air terendam, listrik pun mati ditambah bila penduduk menggunakan sumur gali, maka air sumur gali tersebut bercampur dengan airbanjir. Dengan kondisi seperti ini kebutuhan pasokan air masyarakat akan terganggu. Sehingga mengandalkan bantuan truk-truk PDAM. Untuk keperluan minum dan masakmengandalkan air kemasan/galon yang bila dibeli harganya sangat tidak wajar karena sulitnya kondisi transportasi. Bagi masyarakat yang tidak mampu, ini sangat menjadi kendala (PerMenLH, 2009). Kesulitan mendapatkan air bersih pada saat banjir ataupun paska banjir berdampak pada timbulnya berbagai penyakit, seperti diare, muntaber ataupun penyakit kulit dan gatal- gatal. Maka dari itu diperlukan suatu penanganan air bersih yang baik pada saat maupun paska bencana banjir. Salah satu metode yang tepat untuk menangani permasalahan kesulitan mendapatkan air bersih tersebut dapat dilakukan dengan cara membuat suatu alat yaitu alat penyaring sederhana atau sering disebut alat filtrasi denganmemodifikasi sedikit rangkaian alatnya. Alat filtrasi merupakan suatu sistem pengelolahan air melalui proses pemisahan zat tak larut dengan menggunakan medium berpori untuk menghilangkan zat yang tidak dapat larut dalam air seperti koloid yang tersuspensi, tak hanya itu sistem filtrasi ini dapat mengurangi jumlah bakteri
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung dalam air yang tercemar. Metode filtrasi bermacammacam salah satunya adalah aerasi-filtrasi. (Tryo Nugroho, 2019). Metode aerasi adalah suatu pengolahan air dengan cara penambahan oksigen kedalam air. Penambahan oksigen dilakuan sebagai salah satu usaha untuk menghilangkan konsentrasi zat pencemar yang terkandung di dalam air. Pada prakteknya terdapat dua cara untuk menambahkan oksigen kedalam air yaitudengan memasukkan udara ke dalam air dan atau memaksa air ke atas untuk berkontak dengan oksigen (Sugiharto, 1987). Proses aerasi ini bertujuan agar O2 di udara dapat bereaksi dengan kation yang ada di dalam air olahan/sampel. Sehingga reaksi kation dan oksigen ini akan menghasilkan oksidasi logam yang sukar larut dalam air sehingga dapat mengendap. Manfaat yang didapat dari proses ini ialah menghilangnya rasa serta bau tidak sedap pada air , menghilangnya gas-gas yang tidak dibutuhkan seperti CO2, methane, hydrogen sulfida, karena kadar CO2 dihilangkan maka meningkatkan derajat keasamanair. Selain itu juga dengan proses aerasi ini dapat menurunkan kadar besi (Fe) dan magnesium (Mg). Beberapa metode yang cukup populer digunakan untuk meningkatkan aerasi alami antara lain menggunakan cascade aerator, waterfalls, maupun cone tray aerator. Pada penilitian ini kami menggunakan konsep cone tray aerator karena susunannya sangat sederhana dan tidak mahal serta memerlukan ruangan yang relatif kecil. Jenis aerator ini terdiri atas 4 sampai 8 tray dengan susunan vertikal maupun piramida.( M Fajurahman, 2018). Karena tray yang digunakan pada metode ini cukup banyak, maka dari itu kami berinovasi dengan membuat tray aerator sederhana dengan memanfaatkan barang bekas seperti piring plastik yang dibuat dengan konsep air mancur, agar sedemikian rupa menyerupai piramida Hasil dari proses aerasi ini kemudian di filtrasi dengan metode Teknologi saringan pasir lambat yang telah diterapkan di Indonesia biasanya adalah saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah atau down flow, karena cara ini sangat sesuai untuk pengolahan yang air bakunya mempunyai kekeruhan yang rendah dan relaif tetap. Biaya operasi rendah karena proses pengendapan tanpa bahan kimia. Namun dari pengalaman yang diperoleh ternyata terdapat beberapa kelemahan. Beberapa kelemahan dari
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung sistem saringan pasir lambat konvensiolal tersebut yakni antara lain : • Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter menjadai besar,sehingga sering terjadi kebutuan. Akibatnya selang waktu pencucian filter menjadi pendek. • Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas.(Said, 2005) Untuk menanggulangi masalah tersebut, dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi desain saringan pasir lambat yakni dengan metode Filterflow. Sistem ini merupakan filtrasi sederhana dengan memaanfaatkan media filter seperti ijuk, batu kerikil, pasir silika, karbon aktif, mangan zeolit, dan koral aquarium. Dimana rangkaianalat ini menggunakan pipa paralon sebagai tempat disusunnya media filter tersebut. Filterflow ini mengandalkan gaya gravitasi untuk mengalirkan air dari tempat penampungan air baku menuju filtrasi tahap akhir sehingga dapat menghasilkan air bersih yang diinginkan. Pada penelitian ini kami membuat sebuah inovasi alat pengolahan air yang murah dan mudah dioperasikan serta dapat dipindahkan ke tempatyang lain dengan harapan dapat membantu masyarakat mendapat air bersih dengan mutu yang layak. Air yang dimaksud adalah air bersih yang dapat digunakan untuk keperluan sehari hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416 Tahun 1990. Atas dasar inilah penulis mengambil sebuah judul penelitian “Aplikasi Model Alat Filtrasi dengan Metode Aerasi-Filterflow sebagai Alternatif Penyedia Air Bersih”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas , maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui bagaimana cara pembuatan alat filtrasi dengan metodeaerasi- filterflow sebagai alternatif penyedia air bersih 2. Mengetahui mekanisme kerja dan pengujian alat filtrasi dengan metodeaerasifilterflow sebagai alternatif penyedia air bersih
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan alat filtrasi dengan metodeaerasi-filterflow sebagai alternatif penyedia air bersih 2. Untuk mengetahui mekanisme kerja dan pengujian alat filtrasi dengan metode aerasi-filterflow sebagai alternatif penyedia air bersih 1.4 Manfaat Penelitian Pada penelitian ini kami berupaya untuk menghasilkan suatu inovasi yang bermanfaat dalam pengelolaan air bersih di kawasan bencana banjir .Penelitian ini diharapkan agar : 1. Sebagai alternatif yang dapat digunakan masyarakat untuk mendapatkan air bersih pada saat keadaan darurat. 2. Mengingkatkan kreatifitas masyarakat dalam menghadapi masalah kesulitan air bersih di kawasan bencana banjir
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung BAB II KAJIAN PUSTAKA Air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar terpenting bagi makhluk hidup termasuk manusia, tanpa air kebutuhan hidup manusia tidak dapat terpenuhi. Kebutuhan air dapat dipenuhi dengan cara memanfaatkan sumber air yang tersedia di alam yaitu, air hujan, air permukaan, dan air tanah (Rahmawati, 2005). Menurut Kodoatie (2003), air bersih merupakan air yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti keperluan mencuci, mandi, memasak dan dapat diminum setelah dimasak. Sedangkan Menurut Suripin (2002), yang dimaksud dengan air bersih adalahair yang aman (sehat) dan baik untuk diminum, tidak berwarna, tidak berbau, dengan rasa yang segar. Kualitas air bersih harus memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No.416/PerMenKes/IX/1990, yaitu : (1). Syarat fisik: air harus bersih dan tidak keruh,tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, suhu antara 10o – 25 o C (sejuk), (2). Syarat kimiawi: tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun, tidak mengandung zat- zat kimiawi yang berlebihan, cukup yodium, pH air antara (6,5 – 9,2), (3). Syarat bakteriologi: tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, kolera dan bakteri patogen penyebab penyakit. Air bersih sulit di dapatkan pada saat maupun paska bencana banjir. Menurut Suripin (2003) banjir adalah suatu kondisi dimana tidak tertampungnya air dalam saluran pembuangan (palung sungai) atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang, sehingga air meluap dan menyebabkan terjadinya banjir. Sedangkan menurut Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) adalah aliran yang relatif tinggi sehingga tidak dapat tertampung oleh alur sungai atau saluran. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber-sumber air yang tersedia di alam untuk di proses sehingga dapatmenghasilkan air bersih.
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung Filtrasi adalah proses penyaringan untuk memisahkan zat padat, yang tersuspensidan koloid, serta zat-zat lainya dari fluida dengan melalui suatu media berpori. Tujuan filtrasi adalah untuk menghilangkan partikel yang tersuspensi dan koloid dengan cara penyaringan menggunakan media filter. Selain itu, filtrasi dapat menghilangkan bakteri secara efektif dan juga membantu penyisihan warna, rasa, bau, besi dan mangan (Said, 2005). Aerasi adalah pemambahan oksigen ke dalam air sehingga kadar oksigen yang terlarut di dalam air semakin tinggi. Proses aerasi adalah dengan cara mengontakan air dan udara dengan tujuan meningkatkan kandungan oksigen dalam air tersebut. Dengan meningkatnya oksigen zat-zat dalam air akan mudah menguap seperti hiddrogen sulfide dan metana yang dapat mempengaruhi rasa dan bau serta kandungan karbondioksida dalam air akan berkurang. Mineral yang larut dalam air seprti besi dan mangan akan teroksidasi mementuk endapan yang dapat dihilangkan dengan sedimentasi dan filtrasi. Efektifitas dari aerasi tergantung dari seberapa luas dari permukaan air yang bersinggungan langsung dengan udara (Hartini E, 2012). Filterflow adalah metode filtrasi dengan media penyaring yang dimodifikasi sehingga menjadi alat penyaring sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan filtrasi yang terdiri dari ijuk, karbon aktif, pasir silika, zeolit, dan batu kerikil sebagai medianya. Metode ini menggunakan gaya gravitasi dan ketinggian sebagai acuan mengalirnya air dari atas ke bawah dalam media filtrasi. Dalam prosesnya penyediaan air bersih dengan metode aerasi-filterflow, air baku yang mengenai talang di tampung ke dalam penampung air yang kemudian akan dialirkan menggunakan media pipa paralon menuju proses aerasi, proses aerasi tersebut berfungsi untuk melarutkan oksigen ke dalam air baku dengan tujuan meningkatkan kadar oksigen dalam air tersebut. Selanjutnya air hasil proses aerasi ditampung ke dalam penampung untuk dilakukan proses koagulasi. Menurut (Suharto, 2011) Proses koagulan berfungsi untuk mengikat partikel atau kotoran yang terkandung di dalam air sehingga partikel-partikel yang telah berikatan menjadi gumpalan yang mempunyai ukuran lebih besar yang menyebabkan partikel lebih mudah mengendap. Air baku hasilproses koagulasi di alirkan menuju media filter menggunakan pipa paralon, proses filtrasi tersebut merupakan filtrasi tahap akhir yang berfungsi untuk memisahkan zat-zat padat dalam air baku, hasil proses filtrasi kemudian ditampung menggunakan penampung sebagai hasil akhir air bersih yang diinginkan adalah air golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat Dan Bahan Yang Diperlukan A. Alat yang digunakan No Nama Bahan Jumlah Gambar 1 Pipa PVC 1/2 inchi • 1 inchi • 3 inchi 2 meter 1 meter 80 cm 2 Piring bekas 3 buah terdiri dari diameter 3,5,7 inchi 3 Sok drat luar 1/2 inchi 1 inchi 3 buah 4 Ember bekas cat 20 liter 2 buah 5 Dop pipa 3 inchi 2 buah
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung 6 Knee • 1/2 inchi • 1 inchi 4 buah 1 buah 7 Stop kran air 1 /2inchi 1 inchi 1 buah 1 buah B. Bahan No Nama bahan Jumlah 1 Karbon aktif 10 gr 2 Mangan zeolit 1 kg 3 Pasir silika 1 kg 4 Ijuk 2 ikat 5 Kerikil 1 kg 6 Koral aquarium 10 buah
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung 3.2 Gambar Rangkaian Alat Aerasi-Filterflow
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung Siapkan alat dan Bahan Lubangi piring plastik dengan diameter ½ inch di bagian tengahnya Lubangi piring plastik kecil-kecil menggunakan paku yang dipanaskan Susun piring tersebut menjadi bentuk piramida Lubangi pipa 3 inchi dengan diameter ½ inchi dengan jarak dari pangkal yaitu atas Pasang sok drat luar ½ inchi di lubang yang telah dilubangi tersebut Siapkan alat dan bahan Masukkan media filter dengan susunan sebagai berikut. Koral,ijuk,karbon aktif,pasir silika,batu zeolit,ijuk dan kerikil 3.3 Prosedur Pembuatan Alat Aerasi-Filterflow 1. Membuat bak penampungan air baku 2. Membuat alat aerasi sederhana 3. Membuat alat filterflow Lubangi ember bekas cat 25kg dengan diameter 1 inchi menggunakan bor Pasang pipa 1 inchi sambungkan ke stop kran 1 inchi Pasang sok drat luar 1 inchi Siapkan alat dan bahan
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung 3.3 Penggunaan alat filterflow 1. Air baku ditampung menggunakan bak penampung 2. Masukkan beberapa gram kapur ke dalam bak penampung. 3. Setelah pemberian kapur, kemudian air baku dialirkan menuju proses aerasi yang berbentuk air mancur. 4. Air hasil aerasi ditampung untuk dilakukan koagulasi menggunakan tawas jika air terlihat keruh. Jika tidak, cukup dengan mendiamkannya selama 5 menit agar zat- zat pengotor mengendap didasar bak. 5. Setelah pengendapan air dialirkan menuju filtrasi tahap air yang tersusun dari batu koral, ijuk, pasir silika, karbon aktif, mangan zeolit, kerikil.
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Proses pengolahan air bisa dilakukan dengan berbagai metode salah satunya dengan metode aerasi-filtrasi yang dimana metode ini mengkombinasikan proses aerasi dengan filtrasi. Proses aerasi-filtrasi biasanya terdiri dari aerator, bak pengendap serta filter penyaring. Aerator adalah alat untuk atau mengontakkan oksigen dari udara dengan air agar zat besi atau mangan yang ada di dalam air baku bereaksi dengan oksigen membentuk senyawa ferri (Fe valensi 3) serta mangan oksida yang relatif tidaklarut di dalam air. Kecepatan oksidasi besi atau mangan dipengaruhi oleh pH air. Umumnya makin tinggi pH air kecepatan reaksi oksidasinya makin cepat. Kadang- kadang perlu waktu tinggal sampai beberapa jam setelah proses aerasi agar reaksi berjalan tergantung dari karakteristik air bakunya Metode Aerasi yang digunakan adalah metode tray aerator yang menggunakan nampan berlubang . Jenis aerator ini terdiri atas 4 sampai 8 tray dengan susunan vertikal maupun piramida. Dasar tray berlubang dengan jarak 30-50 cm. Melalui pipa berlubang air dibagi melalui tray, dari bagian ini percikan air turun dengan kecepatan 0,02 m3 /detik per m2 permukaan tray. Tetesan air yang menyebar dikumpulkan kembali pada setiap permukaan tray berikutnya. Selanjutnya air aerasi ditampung di bak pengendap lalu difiltrasi dengan metode downflow. Pada penelitian ini kami membuat suatu inovasi dengan memanfaatkan barangbekas seperti piring bekas dan ember bekas cat. Pada proses aerasi secara traw aeration bahan yang digunakan adalah piring plastik berlubang dengan diameter ½ inch yang disusun dengan konsep pyramida dengan variasi ukuran piring tersebut yaitu berdiameter 3,5, dan 7 inchi. Lalu piring tersebut dirangkai dengan memasangkannya pada pipa ½ inchi, untuk lebih jelasnya sebagai berikut: Keuntungan metode aerasi ini adalah tidak memerlukan bahan dan alat yang mahal serta efektif dalam proses filtrasinya. Kemudian air yang dihasilkan
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung dari hasil aerasi tersebut ditampung di bak pengendap yang fungsinya untuk mengendapkan kotoran yang masih ada di air baku tersebut. Bak pengendap dibuat menggunakan ember bekas cat dengan volume 25 liter yang dilubangi bawahnya dengan diameter ½ inchi. Selanjutnya dialirkan menuju tahap filtrasi dengan metode filterflow. Metode ini merupakan modifikasi dari metode downflow yang dimana prinsipnya yaitu mengalirkan air dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Perbedaan yang mendasar di metode filterflow ini ialah penggunaan bahan untuk merancang alatnya. Pada metode ini digunakan pipa 3 inch dengan panjang 80 cm yang didalam pipa tersebut diisi media filter antara lain: ijuk, karbon aktif, pasir silika, zeolite, dan kerikil. Bahan-bahan tersebut memiliki fungsi sebagai berikut: 1. Pasir silika Pasir Kuarsa/Silika merupakan hasil dari pelapukan bebatuan yang mengandung mineral utama seperti kuarsa dan feldspar. Kegunaan pasir adalah untuk menghilangkan sifat fisik air, seperti kekeruhan/air berlumpur dan menghilangkan bau pada air. Pada umumnya pasir digunakan pada tahap awal sebagai saringan dalam pengolahan air kotor menjadi air bersih (Azkiyah dan Sutrisno,2014) 2. Karbon aktif Pada dasarnya,karbon aktif merupakan sebuah material yang didalamnya terdapat begitu banyak pori-pori yang sangat kecil. Dengan adanya begitu banyak pori-pori tersebut membuat karbon aktif memiliki banyak kemampuan untuk menyerap setiap zat lain yang dekat dengannya. Poripori yang banyak pada
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung karbon aktif tersebut tercipta berkat adanya proses aktifasi. Setidaknya ada 2 carayang bisa dilakukan untuk aktifasi, yang pertama lewat pemanasan yang sangat tinggi, dan yang kedua melalui proses pengolahan bahan-bahan kimia lainnya. 3. Zeolit Zeolit mempunyai beberapa sifat antara lain : mudah melepas air akibat pemanasan, tetapi juga mudah mengikat kembali molekul air dalam udara lembap. Fungsi mangan zeolit adalah untuk menghilangkan kandungan Mangan (Mn2+) dan lapisan atas berminyak di dalam air. Zeolit juga sering disebut sebagai “molecular sieve‟ (saringan melekular ) karena zeolit memiliki pori-pori berukuran molekuler sehingga mampu memisahkan/menyaring molekul dengan ukuran tertentu. 4. Ijuk Ijuk berfungsi sebagai penyaring kotoran yang ukurannya lebih besar. Ijuk digunakan karena memiliki kelenturan sekaligus kepadatan sehingga mudah menyaring kotoran besar pada air (Kumalasari dan Satoto, 2011). 5. Kerikil Kerikil berfungsi sebagai filter kasar untuk menyaring zat-zat pengotor dalam ukuran besar. Pengujian alat dilakukan pada air sebelum filtrasi dan setelah Filtrasi dengan berbagai metode penelitian organoleptis seperti, bau,warna, dan derajat keasaman (pH). 6. Bau Sebelum Filtrasi Setelah Filtrasi Berba u Tidak berbau Bau air dapat memberi petunjuk terhadap kualitas air. Diperoleh hasil penelitian sebelum dan setelah Filtrasi diperoleh bau yang berbeda, namun berdasarkan Permenkes No.492 Tahun 2010, diketahui bahwa syarat air minum yang dapat dikonsumsi manusia adalah tidak berbau. 7. Warna Sebelum Filtrasi Setelah Filtrasi Keruh Jernih
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut. 8. pH Sebelum Filtrasi Setelah Filtrasi 5,11 7,43 pH merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar asam/basa dalam air. Perubahan pH air dapat menyebabkan berubahnya bau, rasa, dan warna. pH sebelum filtrasi netral sedikit asam dan masuk pada acuan, sedangkan untuk setelah filtrasi terjadi kenaikan pH namun tetap masuk pada acuan.
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Alat aerasi-filterflow efektif digunakan sebagai alat penyaring air untuk alternatif air bersih. 2. Parameter organoleptis air seperti warna mengalami perubahan menjadi lebih jernih dari air yang dibandingkan sebelumnya. Tetapi masih ada sedikit bintik hitam yang diakibatkan terlalu banyaknya karbon yang digunakan. 5.2 Saran 1. Sebelum alat filtrasi digunakan, pastikan media filter tercuci secara bersih agartidak mengganggu jalannya proses filtrasi. 2. Aerasi dengan metode traw aeration yang dibuat sedemikian rupa seperti air mancur seharusnya dibuat dengan ketinggian yang lebih tinggi agar air menyebar ke udara sehingga kontak langsung dengan udara semakin efektif.
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung .DAFTAR PUSTAKA Artiyani, A. & Firmansyah, N. H., 2016. Kemampuan Filtrasi Upflow Pengolahan FiltrasiUp Flow dengan Media Pasir Zeolit dan Arang Aktif Dalam Menurunkan Kadar Fosfat dan Deterjen Air. Industri Inovatif. 6(1), pp. 8-15. Irfan Febriary, D., 2016. Efektivitas Aerasi, Sedimentasi, dan Filtrasi Untuk Menurunkan Kekeruhan dan Kadar Besi (Fe) Dalam Air. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. Muhammad Al Kholif, Sugito, P. D. J. S., 2020. Kombinasi Tray Aerator dan Filtrasi untuk Menurunkan Kadar Besi (Fe) dan Magan (Mn) Pada Air Sumur. 14(1), pp. 28-34. Nasution, M. F., 2018. Pengaruh Aerasi dengan Kombinasi Filtrasi Terhadap PenurunanKadar Fe dan Mn Dalam Air Di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan. Volume I, Pp. 1-79. Reynolds, Tom D., 1982, Unit Operations and Processes in Environmental Engineering, Wadsworth. California.
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung LAMPIRAN FOTO 1. Pembuatan alat Gambar 1.1 Proses pembuatan alat aerasi, bak penampung dan filterflow
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung 2. Pengujian alat Gambar 1.2 Memasukkan air baku ke dalam bak penampung Gambar 1.3 Proses aerasi sederhana Gambar 1.4 Proses sedimentasi dan filtrasi
Laboratorium Kimia SMK Negeri 5 Bandung 3. Hasil Pengujian Alat