1. Ayah Ayah …. Panggilan singkat penuh makna Ayah …. Sosok pahlawan sebenarnya untukku Ayah …. Sosok pekerja keras dalam keluargaku Dan dia ayah Inspirasi dalam setiap langkah kecilku Ayah …. Betapa mulianya hatimu Kau korbankan jiwa dan ragamu Demi kehidupan anakmu Ayah…. Kini kan kutepati janjiku padamu Kan ku balas semua budimu Dan ku jaga kau sampai akhir hayatku
2. Aku Aku …. Yang terlahir bagaikan kertas putih nan suci Tanpa tau apa itu dosa Tanpa tau apa itu salah Dan tanpa tau apa itu kekhilafan Aku …. Yang akan menuliskan kisah perjalananan hidupku Dengan tinta hitam Dengan tinta merah Atau dengan tinta putih Aku …. Kutakkan pernah tau Bagaimanna Tuhanku Akan menggoreskan kisah hidupku
3. Ibuku Ibuku …. Dia tak berseragam dinas Dia tak duduk dibelakang meja kerja Dia tak memakai sepatu hak tinggi Tapi dia sosok inspirasi Ibuku …. Kaulah pahlawan sejati Ucapanmu bagaikan kamus hidupku Doamu selalu menyertaiku Karena ridha Allah adalah ridhamu Ibuku …. Aku berteduh dalam naungan doamu Kalulah kunci kesuksesanku Terima kasih ibu
4. Suamiku Suami …. Sosok lelaki sejati Pengisi hati Pengusir sepi Suami …. Sebutan yang memiliki arti Yang selalu memberi Tanpa minta untuk diganti Suami…. Tempat sandaran hati Tempatku tuk berbakti Demi medapat ridho Illahi
5. Si kecilku Telah lama ku menunggumu Dengan doa dan harapan Sosok kecil penerang kegelapan Penebar kasih di cela-cela raga Si kecilku …. Tangisanmu bagaikan irama syahdu Dalam relung kalbuku Tawamu hilangkan resah Saat raga terasa lelah Tuhanku Aku bersyukur atas anugerahmu Anugerah terindah dalam hidupku Penuntun jalan menuju ridho-Mu
6. Sekolahku Diujung jalan depan rumahku Berdiri kokoh bangunana nan megah Tempat dimana ku mendapat ilmu Untuk bekal masa depanku Sekolahku …. Tempat dimana aku mendapat pendidikan Tempat dimana aku tau peraturan Dan tempat dimana aku mendapat teman Sekolahku …. Melalui secarik puisi ini Ku ucapkan terima kasihku Untuk semua kenanganmu
7. Guruku Kau bagaikan pelita dalam kehidupan Cahaya dalam kegelapan Harapan dalam menggapai impian Dalam hidup yang penuh tantangan Guruku …. Tutur katamu ilmu dalam jiwaku Motivasimu membangkitkan semangatku Terima kasih atas jasa-jasamu
8. Murid-murid ku Untukmu wahai murid -muridku Kutulis puisi ini untukmu Sebagai ungkapan Curahan hati seorang guru Murid-muridku Kadang kau menjadi anak- anakku Kadang kau menjadi temanku Kadang pula kau menjadi sahabatku Murid-muridku Di kelas ini, ditempat ini Kita ukir sejarah baru Untuk generasi yang lebih maju
9. Tempat Kerjaku Hampir setiap pagi Aku menuju ke tempatmu Meski dengan melawan rasa kantuk Aku tetap datang menyampaikan ilmu Tempat kerjaku…. Saatku merasa tak enak badan Ku tetap terbayang olehmu Karena tugas dan tanggungjawabku Kepada murid-muridku Tempat kerjaku …. Kadang ku merasa penat karenamu Karena tugas yang membuat pusing kepalaku Meski begitu aku tetap bangga padamu
10. Sahabat Sahabat…. Kaulah teman terdekatku Saat senang maupun susah Kaulah yang selalu disampingku Disaat kesepian melanda hatiku Kau yang selalu menemaniku Dan disaat aku resah Kau selalu ada untukku
11. Buku Buku …. Satu kata penuh makna Buku …. Berjuta ilmu ada padamu Imu yang engaku beri Membuka berjuta misteri yang tersembunyi Engkau abadi dalam sunyi Memberi arti yang tiada terganti
12. Kanku Kejar Mimpi Terbayang mimpi dalam tidurku Satu mimpi berjuta harapan Terbingkai indah dalam lukisan Terhampar luas di lautan Kanku kejar mimpi ini Mimpi seorang penghayal muda Demi meraih impian dan harapan Terus berjuang tanpa bimbang Tak ingin hilang Dan akan selalu dikenang Akan kuraih impianku Yang selama ini hanya angan - angan
13. Syukurku Terdengar suara sayu-sayu Dibalik tirai kamarku Bagaikan senandung lagu Yang terdengar sangat merdu Rangkaian kata nan indah Menyebut dan menyeru nama-Mu Rangkaian kata nan indah Menyuruhku untuk bersujud pada-Mu Oh Tuhanku… Terima kasih untuk semua anugerah-Mu Sujud syukurku Untuk semua kasih dan ridho-Mu
14. Intropeksi diri Desir pasir terhempas tiupan angin Terbang mengitari sunyinya hari Tanpa arah dan tujuan yang pasti Hening malam kian berperi Dalam setiap kata yang tersembunyi Kita mungkin tak akan mengerti Ada tutur kata yang menyakiti Yang mungkin takan pernah kita sadari Intropeksi diri Adalah kunci untuk bisa menata diri Agar terhindar dari iri dan dengki Untuk menuju ridho Illahi
15. Cerita Dari Sekuntum Bunga Sekuntum bunga tak pernah bercerita Untuk apa dia tercipta Sekuntum bunga tak pernah bercerita Untuk apa ia sangat memesona Dia hanya selalu menggeluarkan wangi aromanya Begitupun dengan manusia Dia tak perlu bercerita siapa dirinya Dia tak perlu mengumbar apa yang ia punya Cukuplah selalu berbuat baik pada sesama Tuhan maha segalanya Manusia hanya hamba-Nya Janganlah merasa diri digdaya Jika tak ingin kehilangan ridho_Nya
16. Memori Hujan dan Daun Pisang Matahari tanpak enggan memunculkan sinarnya Langit mendung dating bergelombang Suasana kala itu begitu mencekam Haripun berganti malam Suara tetesan air bersahutan Bagaikan ribuan senapan tentara dimedan perang Mengusik secerca ingatan Akan masa kecil yang ingin ku ulang Kala itu …. Sehelai daun pisang Menjadi memori dalam ingatan Menutupi tubuh kecil yang terguyur hujan Marasakan hawa dingin, mengigil dan kedinginan
17. Apa Adanya Hiduplah kau apa adanya Janganlah kau berkata apa – apa Jika yang kau kata Semua penuh dusta Hiduplah kau apa adanya Janganlah kau besar kepala Jika sejatinya kau rasa Apa yang kita lakukan itu sama Hiduplah kau apa adanya Janganlah kau merasa digdaya Karna sesungguhnya Kita semua sama di hadapan-Nya
18. Diamku Di sudut ruangan ini Aku masih saja terdiam Membisu bagaikan sebuah karang Terkenang akan semua kenangan Aku masih saja terdiam Kala suara riuh saling bersahutan Membicarakan aib orang-orang Tanpa merasa diri lebih terhina Aku masih saja terdiam Dan terus diam Tampa mau tau apa kata orang Karna diam membuatku tenang
19. Rapuh Kau datang tanpa terduga Bagai petir disiang hari Yang tak tau kapan datangnya Mungkinkah ini sebuah peringatan? Atau sebuah hukuman Atau malah semua ini kutukan Atas apa yang telah kami lakukan Pada bumi-Mu tersayang Kami yang selalu angkuh, sombong dan serakah Yang berjalan di atas kerasnya zaman Tanpa pernah memperhatikan Kerapukan bumi-Mu diakhir zaman Bumi yang menopang berjuta kehidupan Bumi yang memberi tanpa ingin meminta Oh Tuhan, maafkan Atas apa yang telah kami lakukan
20. Sandaran Hati Saat fajar mulai menyingsih kau langkahkan kaki Saat senja hari kau baru kembali Mandi keringat demi kehidupan anak istri Untuk menuju hidup yang hakiki Aku memohon pada Sang Illahi Berkah keselamatan untuk sandaran hati Jagalah kemanapun ia pergi Demi mencari sesuap rezeki
21. Potret Bumi Betapa indahnya bumi ini Gunung-gunung menjulang tinggi Pepohonan yang kian ribun Serta hutan yang masih sangat asri Kaulah anugerah yang kita miliki Namun itu dulu Sebelum manusia datang Sebelum teknologi berkembang Sekarang …. Bumi ini telah tercemar Limbah pabrik dan polusi kendaraan Membunuh jutaan kehidupan Bumi kian menjerit,merintih dan memohon.. Agar manusia tak merusaknya lagi Kemurkaan- Nya saat ini Menjadi misteri akan kehidupan nanti
22.Kerinduanku Lewat angin malam ini Aku titipkan sebuah kerinduan Saat ku pejamkan mata Tanpa terasa berlinang air mata Oh kekasih…. Andaikan engkau tahu betapa menderita hati ini Aku merindukan saat kau disisi Aku merindukan saat kau temani Bibirku mungkin enggan berkata Namun hatiku berbicara Dimataku terlukis indah wajahmu Disujudku selalu terucap namamu Jiwaku melayang bersama bayanganmu Hati pun dipenuhi rasa rindu Rindu bercampur air mata Yang semaki menambah lara
23.Sepatu Baruku Angan - angan akan kau Selalu muncul dalam ingatanku Impian yang selalu aku tunggu Sebagai ganti milikku yang dulu Malam itu …. Ku dapati gambar sepatu baru di handphoneku Yang hanya bisa tersimpan dimemoriku Berharap kau akan datang padaku Malam itu …. Bunyi pesan masuk ke whatsapp ku Mau kah kau sepatu baru? Tulis pesan dari kekasihku Oh sepatu baruku Kini kau tak hanya jadi anganku Kini kau akan selalu menemaniku Untuk setiap langkah -langkahku
24.Impian Seorang Wanita Desa Termenungku dalam lamunan Menatap sunyinya sudut ruangan Secerca cahaya redup nan remang Menemani lamunan yang kian berkelana Inilah sepenggal kisah Dari seorang wanita desa Yang hidup dengan sederhana Berjuang mewujudkan impiannya Impian akan kehidupan yang bahagia Impian akan kehidupan yang sejahtera Ia terus berusaha dan berdoa Untuk karier dan keluarganya Inilah impian seorang wanita desa Yang tanpa ragu dan lelah selalu berusaha Mengapai mimpi dan cita-citanya Demi masa depan yang ia pinta
25.Apa Yang Kau Sombongkan? Ketika hidup menemukan jati dirinya Ia akan menyadari tentang apa yang dimiliki Ketika hidup menemukan jati dirinya Ia akan menyadari sungguh tiada yang ia punyai Harta, tahta, keluarga semua titipannya semua miliknya Lalu apa yang akan kita sombongkan? Merasa terhormatkah jika sesumbar hartamu? Merasa banggakah kau sesumbar tahtamu? Sungguh sangat kasihan… Segelintir orang yang selalu membanggakan apa yang ia punya Akankah ia lupa semua milik-Nya Hanya milik-Nya Jika Ia berkehendak karena kesombonganmu Maka hilangklah yang kau punya Jika ia berkehendak karna sifat syukurmu Maka akan Ia tambah nikmatmu Lalu apa yang akan kau sombongkan? Jika kau punya cukuplah diam Jika taka ada cukup diam dan berdoalah Jangan kau sesumbarkan kepada sesama Karna sejatinya kau tak memiliki apa-apa
26.Lilin Seberkas sinarmu Menerangi kegelapan di malam ini Engaku bagaikan pelita yang sangat dinanti Ketika listrik rumahku mati Lilin… Kau dibutuhkan saat gelap nan sunyi Kau dicari saat listrik mati Kesetiaanmu dalam menemani Tak akan pernah bisa tertandingi Andai engkau dapat melihat Aku akan tersenyum padamu Andai engaku dapat mendengar Kan ku ucap thank you
27.Lantunan Doa Ibu Ketika matahari kembali ke peraduannya Haripun menjadi gelap gulita Ketika cinta kasih orang tua meninggalkan anaknya Hanya lantunan doa yang jadi pelipur lara Sosok yang ia cinta telah tiada Pergi meninggalkan dunia untuk selamanya Luka lara yang hanya ia rasa Terlantun dalam setiap doa-doanya Setiap hari aku dengarkan Lantunan doa ibu untuk kekasihnya Kekasih yang sangat ia cinta Pergi secara tiba-tiba Hati yang belum ikhlas menerima Menangis, meronta meminta pada-Nya Agar dikembalikan lagi kekasihnya Walau hanya sekejap mata Tapi apalah daya Suratan takdir berkata beda Ia pergi tanpa berkata apa-apa Hanya senyum di wajah tuanya Selamat jalan kekasih ibuku Kekasih yang membesarkanmu Hanya lantunan doa dari dalam kalkbu Yang akan mengiringi kepergianmu 28. Alhamdulillah
Satu kata yang terucap Saat banyaknya nikmat aku dapat Satu kata yang selalu teringat Saat harapan dan keinginan menjadi kenyataan Alhamdulillah …. Begitu banyak nikmat yang Engkau berikan Begitu banyak rahmat yang Engkau curahkan Dan begitu banyak titipan-Mu yang harus ku jaga Ya Allah…. Ku hanya dapat mengucap syukur Atas semua yang engakau beri Tetaplah jaga hati ini tuk selalu mensyukuri nikmat-Mu 29.ASPD
Setiap kali mendengar kata itu Pikiran dan tubuhku selalu bergetar Setiap kali mengucap kata itu Bibir dan hatiku selalu berdebar Kau membuat kami bergetar Kau buat kami ketakutan Kau bagaikan musuh Yang harus kami lawan Kami akan terus berjuang Untuk dapat menghadapimu Akanku buktikan padamu Aku bisa mengalahkanmu Oh ASPD… Bersahabatlah denganku Agar ku dapat lulus darimu Demi cerahnya masa depanku 30. Lantunan Azan
Terdengar suara sayu nan merdu Saat jiwa ini mulai berlabuh Malampun beranjak pergi menemui sang fajar Tergantikan dengan lantunan suara azan Assolatu Khairum minannaum Lantunan yang begitu ranum Terdengar hingga ujung kalbu Memanggil untuk bersujud padamu Waktu shalat telah kemari Bersama hening senja ini Perjalanan hidup dimulai lagi Semoga berkat rahmat Illahi 31. Ruang Kelas Enam
Di sudut sekolah ini Ada satu ruang kelas Yang menjadi saksi bisu Kenangan akan murid-muridku Di sudut sekolah ini Ada satu ruang kelas Yang mengukir berjuta cerita Dari mulut mungil mereka Ruang kelas enam Menjadi saksi kenangan Akan suatu perjumpaan dan perpisahan Akan suatu kebahagiaan dan kesedihan Ruang kelas enam Dari sana aku belajar arti mengajar Dari sana aku belajar arti kebersamaan Dan dari sana aku tau arti tanggungjawab Bangku, meja menjadi saksi Betapa ilmu itu sangat berarti Demi kelak dapat mengabdikan diri Bagi ibu pertiwi 32.Permainya Alam di Pedesaan
Kulihat bentangan alam Berdiri tegak nan gagah diatas sana Diatas bukit nan hijau dan indah Bagai istana nan sangat megah Kulihat bentangan alam Bagaikan zamprut permata Begitu menawan dan sedap dipandang mata Mengagumi akan ciptaan dan kuasa-Nya Inginku sampaikan Rasa terima kasih yang sedalam – dalamnya Pada masyarakat desa Yang selalu menjaga kelestariannya Sungguh indah alam pedesaan Alam yang mengajariku arti sebuah kepedulian Kepedulian untuk menjaga dan merawat Sumber daya dan kekayaan alam 33.Pengorbanan Seorang Ayah
Saat fajar menyingsih kau langkahkan kaki Di senja hari baru kau kembali Mandi keringat membanting tulang Demi memberi sinar bahagia bagi kami Aku memohon kepada Tuhan Berkah keselamatan untuk ayah Memberikan rahmat dan kekuatan Untuk menghadapi sebuah kenyataan Ayah, semoga berakhir derita kita Dengan senyum tawa ria Yang selama ini telah kita rindukan Dan kita nanti- nantikan 34.Putraku
Putraku…. Setiap cucuran keringat yang keluar dari ayah dan ibumu Setiap langkah tanpa lelah dari kedua kaki orang tuamu Adalah tanda rasa cinta kami padamu Putraku …. Tak jarang kami selalu memarahimu Tak jarang kami selalu membentakmu Tapi kami lupa kehadiranmu sangat kami nantikan Putraku …. Bentakan dari orang tuamu Bukan bebarti kami benci padamu Tapi karna kami sayang dan peduli terhadapmu 35.Sang Fana Telah Menangis
Bumi pertiwi bercucuran tangis Melihat kejadian yang sangat mengiris Makhluk Tuhan pun berteriak-teriak Nyawapun berterbangan karenanya Dimanakah kau sang pencerah Mengapa kau goyangkan bumi ini? Seperti hati yang tertusuk duri Melihat bencana yang kau beri Tumpahan tangis membasahi pipi Hati merana melihat bencana ini Mayat bergelimpangan disana-sini Mengingat apa yang terjadi Mungkinkah ini semua terjadi Karena dosa -dosa makhluk bumi Yang tiada mengerti dan peduli Akan ajaran kalam Illahi Robbi 36.Mutiara Hati
Ku lihat senyum kecil diwajahmu Pipi nan merah merona Mata bundar nan indah Bibir kecil nan mungil Oohh… sungguh kau bagai mentari Pelipur lara di dalam hati Ketika jiwa ini sunyi Bersembunyi dari gemerlap duniawi Kau mutiara hati Pemberi semangat dan inspirasi Untuk hidup kini dan nanti Sebagai bekal meraih mimpi 37. Kekagumamku
Saat ku mencoba membuka mata Terlihat hamparan pohon nan rindang Dengar syair dan lagu ku cipta Ku kagumi dengan berdendang Terlihat warna hijau menghiasimu Terucap kata tuk mengagumimu Oh Tuhanku Begitu indan nan elok ciptaan-Mu 38.Secangkir Semangat
Ketika mata tak sanggup lagi tuk terbuka Ketika pikiran tak sanggup lagi tuk bernalar Ketika raga tak sanggup lagi tuk bekerja Saat itulah ku terbersit berfikir Suatu aroma yang menggugah selera Sesruput rasa yang mengoda Terlukis khayalan indah Sebagai pengusir rasa lelah Secangkir kopi pemberi semangat Aroma nan sangat nikat Sebagai pengusir rasa penat Memberi inspirasi dan semangat 39. Baitullah
Aku selalu merindukan suatu tempat Yang membuat hati terpikat Tempat dimana banyak orang bermunajat Agar dengan-Nya semakin dekat Kerinduan ini semakin nikmat Dan ku harap dapat kesana suatu saat Ku yakini dengan sangat Doaku akan terpanjat Didepannya ku bertobat Seraya meminta dibukakakn nikmat Agar terhapus semua dosa berat Semoga terbuka pintu rahmat 40. Kisah Perjuanganku
Sejak awal ku mengenal dunia Sejak itulah ku belajar tentang arti kehidupan Terjalnya kisah perjalanan yang ku lalui Membuatku lebih menghargai diri sendiri Semua kisah hidupku Ku tuliskan dalam buku diaryku Semua kisah hidupku Tak dapat ku lupa dari memoriku Pahit manisnya kehidupan Susah senangnya perjalanan Tersimpan rapat dalam ingatan Yang terukir tuk wujudkan impian Impian yang selama ini ku dambakan Akan memutar roda kehidupan Merubah semua kenangan Tuk jadi sebuah kenyataan