The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Gedung yang dikenal dengan sebutan "Gedung Setan" ini seringkali menarik stigma negatif di kalangan masyarakat awam. Nama yang terkesan mistis itu membuat banyak orang mengasosiasikannya dengan hal-hal gaib atau supranatural sehingga tak ayal takut mendekatinya. Namun, di balik nama yang kontroversial itu, gedung setan menyimpan kisah panjang tentang kehidupan warga etnis Tionghoa yang singgah di sana selama beberapa dekade, bahkan abad.

Berangkat dari sana, kami tertarik untuk menapak tilas cerita-cerita di balik tembok-tembok tua itu. Dengan upaya-upaya kolektif menghimpun berbagai perspektif, kami berusaha menangkap esensi dari kehidupan warga Tionghoa yang turun menurun merawat gedung itu.

Buletin ini kami sajikan untuk bebas diakses oleh khalayak umum sebagai bagian yang peduli terhadap eksistensi di gedung setan. Selamat membaca dan mari sebarluaskan seperti udara yang mengisi segala ruang!

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by unesagema, 2024-06-02 01:19:40

Buletin LPK Gema x LPM Arrisalah 2024

Gedung yang dikenal dengan sebutan "Gedung Setan" ini seringkali menarik stigma negatif di kalangan masyarakat awam. Nama yang terkesan mistis itu membuat banyak orang mengasosiasikannya dengan hal-hal gaib atau supranatural sehingga tak ayal takut mendekatinya. Namun, di balik nama yang kontroversial itu, gedung setan menyimpan kisah panjang tentang kehidupan warga etnis Tionghoa yang singgah di sana selama beberapa dekade, bahkan abad.

Berangkat dari sana, kami tertarik untuk menapak tilas cerita-cerita di balik tembok-tembok tua itu. Dengan upaya-upaya kolektif menghimpun berbagai perspektif, kami berusaha menangkap esensi dari kehidupan warga Tionghoa yang turun menurun merawat gedung itu.

Buletin ini kami sajikan untuk bebas diakses oleh khalayak umum sebagai bagian yang peduli terhadap eksistensi di gedung setan. Selamat membaca dan mari sebarluaskan seperti udara yang mengisi segala ruang!

Keywords: Gedung Setan,Status Hukum,Akulturasi Budaya

MENJELAJAHI MISTERI GEDUNG SETAN: KISAH HANTU, SEJARAH KELAM, DAN PRINSIP SALING MENGHORMATI “Suratnya dibawa pemilik. Di sini hanya ada penyerahan pengurusan kepada ayah Bu Erni. Gedung ini hanya diserahlan secara lisan untuk diurus. Ada peraturan pemerintah yang menyebutkan jika rumah ini ditempati lebih dari 50 tahun dan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), orang lain tidak bisa menggugatnya,” LIPUTAN KOLABORASI DILEMA HUKUM STATUS GEDUNG SETAN Hal 1 ● Hal 13 “Ada juga sosok noni-noni Belanda, tapi warga disini tidak pernah dilihatkan dengan hal itu. Ada juga yang sosok anak kecil lari-lari gitu di atas lantai dua yang dijadikan gereja itu. Hantu-hantu disini yang paling serem ya Genderuwo besar hitam seperti raksasa,” Hal 6 JEJAK KULTUR GEDUNG SETAN: SEJARAH DAN TRANSFORMASI "Disini itu banyak campuran Madura. Cina Madura, Cina Ambon, Cina Jawa, Cina Batak juga ada." GEDUNG SETAN @UNESAGEMA @LPM_ARRISALAH persgema.com/ www.arrisalahpers.com BULETIN INI DAPAT DIAKSES MELALUI: anyflip.com/homepage/rfpnx atau pindai kode QR berikut


Liputan Kolaborasi i LPK Gema X LPM Arrisalah TIM REDAKSI LPK GEMA ● Muhadzib Zaky Fadhilah (Pimpinan Umum) ● Nadiva Ariandy (Pemimpin Redaksi) ● Yulandita Ayunda ● Aulia Sarah Masitha ● Irma Izzatul Rachmah ● Savira Fikolbi ● Kharisma Mayresti Wijaya ● Fitri Puspitaningrum ● Irsyad Izzuddin Arrauf ● Susi Laksmita Pratiwi ● Naswa Aqilah Fairuz Zahra ● Dheysavina Dwi Syahputri LPM ARRISALAH ● Aisyah Aulia Rahma (Pimpinan Umum) ● Alfian Muslim Pris Firdaus (Pemimpin Redaksi) ● M. Firman Effendy ● Akmal Nashrillah ● Najma Fatihul 'Athiyah ● Rasika Santoso ● Muhammad Ali Hasan Abdurahman ● Zahirah Nadiatus Salsabila


Daftar Isi Liputan Kolaborasi ii LPK Gema X LPM Arrisalah Halaman utama Tim Redaksi i Daftar Isi ii Sapaan Redaksi iii Dilema Hukum Status Gedung Setan 1 Jejak Kultur Gedung Setan: Sejarah dan Transformasi 6 Menjelajahi Misteri Gedung Setan: Kisah Hantu, Sejarah Kelam, dan Prinsip Saling Menghormati 13


merupakan output dari kunjungan kerja sesama pers mahasiswa yang menjadi program kerja (proker) utama LPK Gema Universitas Negeri Surabaya. Dalam pelaksanaannya, kami berkolaborasi dengan LPM Arrisalah Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa). Sistematika kunjungan kerja yang kami lakukan tak jauh dari pembahasan seputar iklim atau ekosistem, program kerja, keunikan, struktur organisasi, dan produk jurnalistik yang telah dirilis tiap-tiap pers mahasiswa. Menurut kami, rasa-rasanya sangat disayangkan jika proker kunjungan kerja sesama pers mahasiswa hanya sebatas bertukar informasi mengenai keorganisasian. Seolaholah angin lalu, datang kemudian pergi. Kami tidak sepakat dengan metafora seperti itu! Guna merawat keberlangsungan, serta menciptakan produk jurnalistik yang nantinya akan jadi fosil-fosil peninggalan dan rekam jejak bagi para penerus, kami pun bersiasat untuk menghasilkan output berupa produk jurnalistik. Mitra liputan kami ialah warga Gedung Setan, Surabaya. Jika ditinjau dari nama yang ditafsirkan oleh orang awam, gedung tersebut seolah memunculkan Pimpinan Umum LPK Gema Unesa 2024 Muhadzib Zaky Fadhilah stigma ‘berhantu’ atau memiliki tingkat ‘magis’ yang tinggi sehingga membuat orang awam enggan mendekati. Berangkat dari kerisauan itulah, kami kemudian ingin mengulik lebih dalam bagaimana kehidupan warga Gedung Setan melalui beberapa perspektif mengingat gedung tersebut berusia lebih dari satu abad lamanya, dari era perdagangan VOC yang kemudian beralih ke tindakan imperialisme dan kolonialisme oleh Belanda. Gedung tersebut merupakan saksi sejarah yang kemudian menjadi sumber kehidupan etnis Tionghoa selama sekian dekade atau bahkan abad. Oleh karena itu, kami melakukan kerja-kerja kolektif untuk mengabadikan sebuah landscape tentang warga Gedung Setan, Surabaya. Semoga kawan-kawan bisa menikmati karya kami. Karya buletin kami bebas akses dan tidak dimonetisasi. Maka, siapapun bebas menyebarsebarluaskan seperti udara! Liputan Kolaborasi Liputan Kolaborasi iii LPK Gema X LPM Arrisalah


Dilema Hukum Status Gedung Setan Gedung Setan, salah satu bangunan bersejarah yang berdiri di tengah hirukpikuk kawasan Banyu Urip, Surabaya, menyimpan segudang cerita yang tak terlihat dari luar. Dindingnya yang kusam, cat yang mengelupas, dan lumut yang menjalar di seluruh bangunan membuatnya tampak tak terurus dan menimbulkan kesan angker bagi siapa saja yang lewat. Penduduk setempat yang mengenal baik setiap kota ini menjulukinya dengan nama yang menyeramkan itu, meyakini bahwa gedung tersebut adalah sarang makhluk halus. Namun kenyataannya, gedung ini adalah rumah bagi lebih dari 200 jiwa yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh warna. Bangunan ini menyimpan sejarah panjang sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi Tionghoa selama empat generasi semenjak 1948 silam. Konon, dulunya bangunan ini merupakan tempat bekas Kantor Gubernur Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Jawa Timur. Di dalam bangunan tersebut, terdapat rumah para warga yang disekat dengan ukuran sama rata menggunakan papan tripleks. Edi Sanjaya, penghuni asli gedung setan menuturkan bahwa mereka tidak memiliki surat kepemilikan yang sah. Sebab setelah bubarnya VOC kala itu, Gedung Setan sempat berpindah tangan kepemilikannya kepada seorang Dokter bernama Teng Sioe Hie. Namun, Dokter tersebut maupun keluarganya tidak menjadikannya tempat tinggal dan justru menitipkan pesan kepada orang tua dari salah satu penghuni Gedung Setan untuk merawatnya dan menggunakannya sebagai tempat pengungsian etnis Tionghoa pada saat itu. Penghuninya hanya memiliki hak eigendom, sebuhan istilah dalam hukum perdata Barat. Hak Eigendom sendiri merupakan istilah yang berasal dari bahasa Belanda “ eigen” yang berarti milik sendiri dan “dom” yang berarti hak. Menurut hukum adat Belanda, hak eigendom merupakan hak milik atas tanah yang paling kuat dan absolut. Keberlakuan hak eigendom di Indonesia diatur dalam Pasal 570 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Liputan Kolaborasi 1 LPK Gema X LPM Arrisalah


“Hak milik adalah hak untuk menikmati suatu barang secara lebih leluasa dan untuk berbuat terhadap barang itu secara bebas sepenuhnya, asalkan tidak bertentangan dengan undangundang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh kuasa yang berwenang dan asal tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu tidak mengurangi kemungkinan pencabutan hak demi kepentingan umum dan penggantian kerugian yang pantas, berdasarkan ketentuanketentuan perundang-undangan.” Ketika ditanya mengenai surat kepemilikan, salah satu penghuni mengungkapkan, ”Suratnya dibawa pemilik. Di sini hanya ada penyerahan pengurusan kepada ayah Bu Erni. Gedung ini hanya diserahlan secara lisan untuk diurus. Ada peraturan pemerintah yang menyebtukan jika rumah ini ditempati lebih dari 50 tahun dan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), orang lain tidak bisa menggugatnya, ” Dikarenakan mereka tidak memiliki bukti yang kuat dalam kepemilikan gedung tersebut, sempat ada beberapa orang yang berusaha untuk merebut Gedung Setan. “Ir. Sony, orang Madura, pernah berusaha merebut kepemilikan ini sampai ke meja hijau. Tapi, aLiputan Kolaborasi 2 LPK Gema X LPM Arrisalah khirnya sana kalah, sini menang, ” tutur Pak Edi dengan bangga. Beliau juga mengatakan bahwa penghuni Gedung Setan bisa menunjukkan bukti pembayaran PBB selama bertahun-tahun sebesar Rp 3.000.000 yang dibayar secara bersama-sama dalam bentuk iuran sebagai langkah apabila ada pihak lain yang ingin merebut kepemilikan Gedung Setan. Selain Pak Edi, kami juga bertemu Pak Juan yang mengaku sudah tinggal di Gedung Setan selama 63 tahun. Beliau mengungkapkan bahwa, awal mula penamaan Gedung Setan ini sebenarnya bukan karena horror, melainkan karena pemilik Gedung ini yang bernama Teng Sioe Hie. “Jadi, awal mula nama gedung setan itu karena kebetulan pembelinya itu namanya Teng Sioe Hie. Setelah VOC jatuh, akhirnya dibeli, karena namanya ada ‘Teng Sioe’ tadi, sama penduduk digabung menjadi ‘Setan’ , jadi bukan dari horror, ” jelas Pak Juan. Gedung Setan ini telah diusulkan oleh penduduk setempat untuk menjadi cagar budaya ketika tahun 2009. Lalu, pada tahun 2013, Gedung Setan diresmikan oleh Pemerintah Kota Surabaya menjadi Bangunan Cagar Budaya sesuai dengan SK.WALIKOTA SURABAYA/No. 188.45/362/436.1.2/2012. Namun, meskipun Gedung Setan telah menjadi cagar budaya, nyatanya tidak ada aksi apapun dari pemerintah terhadap gedung tersebut. “Pemerintah yo ngono tok, disuruh mbangun yo emoh. Ya itu tadi, prosesnya digodok (tidak ada kemajuan). Justru yang membantu adalah orang dari Yayasan Buddha Indonesia, bantu benerin atap, ” ungkap Pak Edi. Kami bertanya juga mengenai bantuan yang diberikan pemerintah kota atas Gedung Setan dan menurut penuturan Pak Edi, tidak ada bantuan dari pemerintah. Justru ada donasi dari yayasan. Pak Edi mengungkapkan bahwa pada


Liputan Kolaborasi 3 LPK Gema X LPM Arrisalah Ketiadaan subsidi dari pemerintah menciptakan tantangan tambahan bagi penghuni dalam menjaga kondisi gedung yang sudah tua. Mereka harus mengandalkan iuran dan bantuan dari yayasan untuk perbaikan dan pemeliharaan, yang sering kali tidak mencukupi untuk kebutuhan besar. Meskipun diliputi ketidakpastian hukum dan finansial, penghuni Gedung Setan tetap optimis. Mereka berharap pemerintah akan lebih perhatian dan memberikan solusi agar mereka bisa hidup dengan tenang dan legal. Keberadaan mereka di gedung ini bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga tentang mempertahankan sejarah dan identitas komunitas yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Masa depan Gedung Setan tergantung pada bagaimana pemerintah dan masyarakat lebih luas merespons kebutuhan dan perjuangan penghuni. Dengan pengakuan hukum dan bantuan yang memadai, Gedung Setan bisa menjadi contoh keberhasilan mempertahankan warisan budaya dan memberikan hunian yang layak bagi komunitas yang telah berakar di sana. zaman dulu terdapat yayasan asal China bernama Chongwa Chongwe yang memberikan jatah makanan berupa bubur dan menyuplai bahan makanan. Jumlah penghuni tetap ketika kami melakukan penelusuran terkait Gedung Setan ini totalnya sebanyak 53 Kartu Keluarga. Bagi orang luar ingin tinggal di Gedung Setan tidak perlu ada perizinan. Namun, harus memiliki struktur kekeluargaan atau hubungan keluarga dengan penghuni gedung tersebut. “Nek gak ada struktur kekeluargaan disini, yo gak isok, ” ucap Pak Edi. Percakapan kami dengan Pak Edi semakin dalam dan serius. Kami menanyakan tentang adanya langkah penghuni Gedung Setan untuk mendapatkan status atau pengakuan hukum yang jelas dan terlindungi atas gedung tersebut. “Pernah, tapi justru orang sekitar Gedung Setan (yang seharusnya wilayah milik Gedung Setan) yang bisa dapat HGB (Hak Guna Bangunan), sedangkan Gedung Setan tidak bisa, mboh lapo, ” ujar Pak Edi. Di dalam bangunan yang lantainya terlihat ringkih dan kusam ini, terdapat harapan yang kuat dari para penghuninya kepada pemerintah untuk membantu menyelesaikan masalah status hukum dan revitalisasi gedung sebagai cagar budaya yang seharusnya dijaga kelestariannya karena gedung tersebut dapat dikatakan sebagai bagian dari sejarah, meskipun mereka tidak sepenuhnya berharap kepada pemerintah. “Nek aku se, (berharap) Gedung Setan iki dijogo dirawat, gak pindah gapopo. Dibantu gak dibantu wes awakdewe, mosok kate nuntut pemerintah, ” pungkas Pak Edi.


Liputan Kolaborasi 4 LPK Gema X LPM Arrisalah Beberapa dokumentasi dari depan Gedung Setan


Liputan Kolaborasi 5 LPK Gema X LPM Arrisalah Tampak dalam Gedung Setan


Jejak Kultur Gedung Setan: Sejarah dan Transformasi Saksi bisu perjalanan panjang setiap masa, Gedung Setan masih berdiri kokoh tak termakan usia. Cerita tentang budaya menjadi pola padu membangun sebuah narasi tentang bagaimana gedung ini bisa ada. Mulai dari bangunan Belanda hingga bagaimana tempat ini bisa menyatu dan berkaitan erat dengan masyarakat Tionghoa. Untaian kata demi kata diceritakan oleh penghuni disana, bagaimana mereka menyambut kami dengan tangan terbuka. Tak khayal, tempat ini selalu menjadi wadah tempat menggali cerita masa lalu yang belum pernah terdengar sebelumnya. Daun-daun menyelinap melalui atap dari gedung yang mulanya berwarna putih, kini hendak berubah menjadi kelabu. Gedung yang setengah rapuh, tetapi mampu untuk melindungi banyak jiwa di dalamnya. Gedung Setan menjadi tempat iconic di tengah hiruk pikuk kota Surabaya dengan sisi kebudayaan yang belum banyak dimengerti oleh masyarakat. Gedung yang berlokasi di Banyu Urip, Sawahan, Kota Surabaya ini memiliki berbagai cerita dari berbagai sisi. Dari sudut pandang kultur atau budaya, gedung ini menjadi saksi akan perkembangan budaya itu sendiri dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Liputan Kolaborasi 6 LPK Gema X LPM Arrisalah Mulanya, Gedung Setan menjadi kantor bagi Gubernur VOC pada abad ke-19. Saat masih menjadi kantor Gubernur VOC, gedung ini digunakan untuk meletakkan barang-barang perdagangan, seperti palawija dan rempahrempah. Setelah menjadi kantor Gubernur VOC, Gedung Setan beralih kepemilikan pada orang dari etnis Tionghoa. Tahun 1948, gedung ini dialih fungsikan menjadi tempat pengungsian bagi masyarakat yang berasal dari etnis Tionghoa karena pada saat itu di Pulau Jawa tengah gencar akan kerusuhan dan pembantaian yang bersangkut paut dengan unsur SARA termasuk


Adanya berbagai macam campuran etnis atau suku di dalam gedung ini menunjukkan bahwa masyarakat di gedung setan memiliki akulturasi budaya tersendiri. Di Gedung Setan, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa atau bahasa arek, akrab dengan sebutan bahasa Suroboyoan. Selain bahasa Jawa, masyarakat di Gedung Setan tentunya juga menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Terkadang mereka menggunakan bahasa campuran ketika berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Banyak kami berbicara dengan masyarakat disana, berbagai cerita kami dengar bahkan dari berbagai sudut pandang setiap penghuninya. Hal yang menggelitik kami terima, Bahasa Mandarin juga bahasa yang asing bagi mereka. Gelegar tawa menyelimuti kepada etnis Tionghoa. Gedung dengan arsitektur kolonial sebagai ciri khasnya ini sempat menjadi tempat persemayaman sementara sebelum akhirnya dijadikan tempat penampungan bagi masyarakat etnis Tionghoa dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Hingga saat ini, generasi dari etnis Tionghoa yang berada di gedung setan masih terus berlanjut. Cerita masa lalu masih banyak dikenang disini, tempatnya yang masih dipertahankan untuk anak cucu mereka nanti. Akulturasi budaya tak membuat mereka pergi, melainkan menjadi sebuah ilusi titah untuk terus diceritakan setiap waktunya. Termasuk bagaimana gedung ini pernah menjadi sebuah toko roti yang berjaya di Surabaya, saat orang tak banyak mengerti darimana mereka mendapatkan tepung untuk hasil produksi mereka. Sebuah kebanggaan sendiri saat mereka menceritakan kepada kami, sayang cerita kejayaan masa lalu hanya bisa dikenang karena tak mampu bersaing dengan produksi kapitalis zaman sekarang. “Babat Alas” merupakan istilah yang tak asing bagi masyarakat Surabaya. Babat alas sendiri merupakan bagaimana perjuangan para pejuang dalam meraih kemerdekaan. Masyarakat Tionghoa juga memiliki peran dalam babat alas Surabaya, termasuk di daerah Banyu Urip. Di Gedung Setan, terdapat suatu perayaan, yakni Haul Kramat Dewo. Dipercaya bahwa agenda perayaan tersebut dilakukan untuk mengenang dan mendoakan sesepuh yang melakukan babat alas di Banyu Urip, Surabaya. "Disini itu banyak campuran Madura. Cina Madura, Cina Ambon, Cina Jawa, Cina Batak juga ada, " ucap Pak Edi, salah satu penduduk asli di Gedung Setan. Liputan Kolaborasi 7 LPK Gema X LPM Arrisalah


Di Gedung Setan saat ini, pernikahan tidak terikat pada persamaan etnis atau suku. Sehingga memunculkan istilah-istilah seperti singkek dan ampyang. Singkek merupakan orang yang murni dari keturunan Cina, sedangkan ampyang merupakan orang dengan campuran keturunan Cina dan Jawa. Pernikahan saat ini bebas dilakukan, baik dengan orang Cina sendiri, maupun dengan Pribumi. Sedangkan pada generasi terdahulu, pernikahan hanya bisa dilakukan dengan etnis atau suku yang sama, yakni etnis Tionghoa. “Sekarang bebas mau menikah dengan keturunan Pribumi atau asli. Yang penting masih ada garis keturunannya (Cina).” Imbuh Pak Edi. Akulturasi budaya seperti sudah melekat pada bangunan dengan umur ratusan tahun ini. Tidak hanya dalam bahasa namun juga agama. Gedung Setan dikenal dengan penghuninya yang mayoritas berasal dari etnis Tionghoa, namun saat ini dominasi agama di Gedung Setan adalah agama Kristen dan sebagian lagi memeluk agama Islam. Saat perayaan Imlek, euforia pun tercipta. Secara kompak penghuni gedung setan merayakannya. Begitupun saat hari raya Idul Fitri, warga yang beragama Islam juga bermudik ke kampung halaman masingmasing. wawancara kami saat sebuah pertanyaan kami ajukan mengenai bahasa sehari-hari. Meskipun dominasi masyarakat Tionghoa yang besar atas gedung ini, hanya segelintir orang yang menggunakan bahasa Mandarin untuk kehidupan sehari-hari. “Orang sini ini ya nggak pakai bahasa Mandarin. Paling ya bahasa campur aduk. Ngerti lah kita bahasa Mandarin, tapi ya nggak semua, ” ujar Pak Edi. Terdengar sahutan dari seberang tempat kami berbincang. “Iya, kurang lebih seperti itu lah mbak. Jadi, ya campuran bahasa Surabaya-an sama bahasa Indonesia. Justru kalau kita ngomong bahasa Mandarin, ya malah bingung juga kita.” Imbuh Bu Erna, begitu kami akrab menyapanya. Selain itu, penghuni di Gedung Setan juga berbaur dengan lingkungan yang secara keseluruhan umumnya menggunakan bahasa Jawa, sehingga mereka secara otomatis berbaur dengan lingkungan itu sendiri dan menggunakan bahasa lokal untuk berkomunikasi. Di zaman kakek buyut dari salah satu penghuni Gedung Setan ini, bahasa Mandarin masih sering digunakan. Seperti ketika berbicara dengan orang dari suku yang sama, maka mereka akan berbicara menggunakan bahasa dari suku mereka sendiri. Dimana hal tersebut berbeda dengan masyarakat dari etnis Tionghoa di gedung setan saat ini yang secara keseluruhan menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama saat berkomunikasi. Liputan Kolaborasi 8 LPK Gema X LPM Arrisalah


Liputan Kolaborasi 9 LPK Gema X LPM Arrisalah Memegang terus warisan leluhur, perayaan hari besar Imlek masih terus dilakukan. Hiasan lampion-lampion turut serta dipamerkan. Namun, ternyata hal ini tidak sedari dulu mereka lakukan. Rezim orde baru saat kepemimpinan Presiden Soeharto melarang masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek. Peralihan masa kepemimpinan ke Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, mulailah masyarakat Tionghoa terutama penghuni Gedung Setan lebih leluasa untuk merayakan hari besarnya. “Dulu masih belum begini, begitu Gus Dur sudah (menjabat), Imlek sudah dimasukkan liburan, kita bisa merayakan lebih leluasa, ” jelas Bu Erna sore itu. Masyarakat memiliki kenangan masa kecil di Gedung Setan yang kini menjadi sebuah cerita. Tahun 1948 misalnya, saat itu di area Gedung Setan belum terdapat bangunan-bangunan rumah seperti saat ini. Hal itu memiliki ruang tersendiri di ingatan warga Gedung Setan sebagai suatu kenangan. Redupnya lampu kuning yang setia menemani malam dan suara langkah lari menuju suatu tempat demi menikmati tontonan langka di layar kaca, juga membekas di ingatan masyarakat Gedung Setan. “Apalagi kalau pas nonton video, ayo seketan (lima puluh) bayar. Film-film, video, kan masih kaset ya. Karena belum banyak yang punya, beberapa orang aja, nonton ramai-ramai gitu bayar lima puluh, seket seketan itu tadi, ” ujar Bu Erna dengan semangat saat menceritakan kenangan masa mudanya. Masyarakat di Gedung Setan tentunya memiliki harapan untuk kehidupan mereka sendiri di tempat tersebut. Mereka merasa tidak masalah untuk tinggal di Gedung Setan. Warga disana menyatakan bahwa yang terpenting Gedung Setan akan selalu terawat, meskipun perawatan Gedung Setan sendiri belum bisa maksimal karena usianya yang tua dan kondisi finansial yang kurang memungkinkan. Namun, merawat gedung yang berada di tengah keramaian kota Surabaya itu akan selalu diusahakan oleh penghuni di dalamnya. Terlebih masyarakat di Gedung Setan sendiri tidak ingin pindah dari tempat tersebut. “Kalau orang sini sendiri, pantangan mau bikin rumah di luar. Kami sudah tinggal disini, ditolong kok malah leluhure kok dibabati rumah bikin rumah (dibantu leluhur membuat rumah). Yang berani cuma orang-orang luar aja, ” ucap Pak Edi.


Liputan Kolaborasi 10 LPK Gema X LPM Arrisalah Masyarakat di Gedung Setan tentunya memiliki harapan untuk kehidupan mereka sendiri di tempat tersebut. Mereka merasa tidak masalah untuk tinggal di Gedung Setan. Warga disana menyatakan bahwa yang terpenting Gedung Setan akan selalu terawat, meskipun perawatan Gedung Setan sendiri belum bisa maksimal karena usianya yang tua dan kondisi finansial yang kurang memungkinkan. Namun, merawat gedung yang berada di tengah keramaian kota Surabaya itu akan selalu diusahakan oleh penghuni di dalamnya. Terlebih masyarakat di Gedung Setan sendiri tidak ingin pindah dari tempat tersebut. “Kalau orang sini sendiri, pantangan mau bikin rumah di luar. Kami sudah tinggal disini, ditolong kok malah leluhure kok dibabati rumah bikin rumah (dibantu leluhur membuat rumah). Yang berani cuma orang-orang luar aja, ” ucap Pak Edi. “Pokoknya yang sudah tinggal disini nggak mau keluar. Udah kenyamanen disini, ” imbuh Bu Erna. Masyarakat di Gedung Setan memilih untuk tidak meninggalkan gedung tersebut dan menetap disana meskipun sudah beberapa kali berganti generasi karena menghargai leluhur mereka yang dianggap telah membantu dalam menemukan tempat tinggal. Selain itu, mereka juga sudah merasa nyaman untuk tetap tinggal di Gedung Setan.


Liputan Kolaborasi 11 LPK Gema X LPM Arrisalah Pintu masuk ke Gedung Setan Bukti Surat Bangunan Cagar Budaya


Liputan Kolaborasi 12 LPK Gema X LPM Arrisalah Gereja di dalam Gedung Setan Anak-anak sedang menyanyikan lagu rohani


Menjelajahi Misteri Gedung Setan: Surabaya, Jawa Timur - Di tengah hiruk pikuk Kota Pahlawan, tepatnya di Jalan Banyu Urip Wetan, berdiri kokoh sebuah bangunan tua yang menyimpan segudang misteri. ‘Gedung Setan’ , demikianlah penduduk setempat menyebutnya. Dibangun pada era kolonial, ‘Gedung Setan’ memancarkan aura antik yang memikat. Dindingnya yang kusam, penuh coretan lumut dan cat mengelupas serta sarang laba-laba yang menetap di setiap sudut ruangan, membuat aura kemistisannya semakin terasa pekat. Bangunan itu seolah menjadi saksi bisu akan kisah kelam yang ada dibaliknya. Tempat ini selain menjadi tempat etnis Tionghoa, juga telah lama menjadi hunian bagi berbagai makhluk gaib, mulai dari hantu Jawa yang misterius hingga hantu Belanda yang berkeliaran. Konon, keberadaan mereka hanya terlihat oleh para pendatang baru. Sebutan "Gedung Setan" melekat erat pada bangunan tua ini bukan tanpa alasan. Dahulu, Orang-orang di sekitar sini juga menyebutnya sebagai “Gedung Adiyasa” , tempat penitipan mayat orang-orang dari luar kota yang kemudian dibakar habis. “Dulu, ada yang bilang tempat ini dijadikan tempat persemayaman sementara. Orang-orang dulu itu cerita tempat ini itu seperti adiyasa, orang-orang dari luar kota jauh-jauh, ditaruh disini mayatnya dianya tinggal di atas (lantai dua) di kamarnya masing-masing untuk sementara terus mayatnya dibakar. Terus, lama tidak ditempati karena adanya gejolak di Indonesia. Lalu, akhirnya VOC bangkrut, ” tutur bapak Edi Sanjaya, salah satu warga Gedung Setan. Edi menambahkan bahwa di halaman Gedung ini dulunya adalah kuburan, sehingga banyak orangorang yang takut ketika lewat sini. Tak heran, aura mistis dan hawa dingin yang menyelimuti Gedung Setan mampu membuat bulu kuduk berdiri. Banyak warga yang enggan mendekati tempat ini, teringat oleh cerita-cerita seram dan sejarah kelam yang menyelimuti. Kisah-Kisah Mistis dari Para Penghuni Berbagai penampakan hantu dilaporkan terjadi di Gedung Setan. Salah satu warga menceritakan pengalamannya bertemu genderuwo besar dan suster di tangga. Konon katanya, Seorang anak indigo pun mengaku pernah melihat sosok genderuwo besar di sana. Liputan Kolaborasi 13 LPK Gema X LPM Arrisalah Kisah Hantu, Sejarah Kelam, dan Prinsip Saling Menghormati


Liputan Kolaborasi 14 LPK Gema X LPM Arrisalah Bu Erni, yang juga warga Gedung setan mengatakan, “kemaren juga ada anak dari SMP 21 itu orang nya kesini, itu juga indigo, bisa melihat sosok genderuwo besar hitam gitu disini, ” Tak hanya itu, penampakan lain seperti suster Belanda, noni-noni Belanda, sosok anak kecil yang berlari-lari di lantai dua, dan bahkan pocong juga dikabarkan sering terlihat. Konon, genderuwo adalah yang paling seram, sedangkan tidak ada setan Tionghoa yang pernah terlihat. “Ada juga sosok noni-noni Belanda, tapi warga disini tidak pernah dilihatkan dengan hal itu. Ada juga yang sosok anak kecil larilari gitu di atas lantai dua yang dijadikan gereja itu. Hantu-hantu disini yang paling serem ya Genderuwo besar hitam seperti raksasa, ” Salah satu warga disana juga ikut menambahkan. Disini itu ada banyak macam hantu. Bahkan, pocong pun juga ada disini, jadi bukan hanya hantu-hantu Belanda aja yang ada tapi hantu Jawa juga ada, ” Tutur Bu Erni lagi. Prinsip Saling Menghormati dan Ketakutan yang Berkelanjutan Meskipun seram, hantu-hantu di Gedung Setan konon tidak mengganggu. Mereka memiliki prinsip "kamu jangan ganggu aku, maka aku tidak akan ganggu kamu." Hal ini mungkin terdengar aneh, namun banyak warga yang meyakini prinsip ini. Namun, bagi para penakut, lebih baik hindari tempat ini, terutama saat malam hari. Ketakutan dan rasa penasaran akan misteri Gedung Setan masih terus berkelanjutan, menarik para pencari sensasi dan penggemar cerita horor untuk menjelajahi tempat ini.


Liputan Kolaborasi 15 LPK Gema X LPM Arrisalah Potret anak-anak bermain di sore hari


Liputan Kolaborasi 16 LPK Gema X LPM Arrisalah Pemandangan dari dalam Gedung Setan Foto anak-anak yang tinggal di sekitar gedung


Click to View FlipBook Version