0 200 400 600 800ToyotaDaihatsuMitsubishi MotorsHyundai – HMMISuzukiHondaIsuzuWulingHinoDFSKMitsubishi Fuso167110886219168176515510 5 10 15 20 25 30 35Mitsubishi MotorsHyundai – HMMISuzukiWulingDFSK31.8667.8016.61232.000Berdasarkan data ekspor mobil Indonesia sepanjang 2024 mengalamipenurunan. Total ekspor mobil CBU mencapai 472.194 unit, turun 6,5%dibanding tahun sebelumnya 505.134 atau turun 32.940 unit dari tahunsebelumnya sebanyak 505.134 unit. Toyota menjadi merek denganekspor terbesar, mencapai 166.531 unit, naik 21% dibanding 2023. Di sisilain, ekspor CKD mengalami penurunan signifikan sebesar 29,6%, hanyamencapai 46.311 set dibandingkan 65.781 set pada tahun sebelumnya.Mitsubishi Motors menjadi pabrikan dengan ekspor CKD terbesar(31.866 set), diikuti Hyundai (7.801 set) dan Suzuki (6.612 set).https://www.gaikindo.or.id/indonesian-automobile-industry-data/FTA-SC NEWSLETTEREkspor Mobil CBU dan CKD Indonesia ke Vietnam Terganjal Regulasi baru Overseas Vehicle TypeApproval (VTA) dan Vietnam belum mengadaptasi tarif 0% untuk Produk Otomotif CKD sesuaidengan kesepakatan ATIGA.untuk produk CKD sebesar 0%. Namun Vietnam malah menghapus tarif untuk produk CKD danpenetapan pos tarifnya didasarkan bukan pada kesatuan produk utuhnya, melainkan perkomponen. Akibatnya, proses mendapatkan tarif preferensi ekspor CKD dibebani denganpenyiapan dokumen preferensi per komponen CKD.Ekspor Mobil CBU dan CKD Indonesia Terganjal Regulasi di VietnamEKSPOR MOBIL CBU TAHUN 2024 EKSPOR MOBIL CKD TAHUN 2024Sumber: GaikindoPenurunan ekspor ini menjadi perhatian serius bagi industriotomotif Indonesia, terutama dalam upaya meningkatkan dayasaing di pasar ASEAN. Upaya negosiasi dengan Vietnamdiharapkan dapat memberikan dampak positif dalammendorong peningkatan ekspor CKD ke negara tersebut.Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMI), salah satu eksportir utama dalam industriotomotif Indonesia, selama bertahun-tahun telah mengekspor kendaraan dan komponenotomotif ke berbagai negara. Salah satu tujuan ekspor utama adalah Vietnam, yangmenjadi pasar signifikan bagi produk TMMIN, termasuk Toyota Fortuner dan komponenToyota Kijang Innova dalam bentuk Completely Knocked Down (CKD).
Sejak awal tahun 2018 ekspor ke Vietnam mengalamikendala akibat pemberlakuan kebijakan Overseas VehicleType Approval (VTA) yang mengharuskan setiap unitkendaraan yang masuk ke Vietnam melalui PengujianTipe. Dalam praktiknya, dari setiap pengiriman ribuan unitkendaraan, satu unit akan dijadikan sampel untuk diuji.Jika kendaraan tersebut tidak lolos uji, maka seluruhpengiriman dapat dikembalikan ke negara asal, yangberpotensi menimbulkan kerugian besar bagi eksportirseperti TMMIN. Akibat dari regulasi ini, TMMIN menundapengiriman produk mereka ke Vietnam. Padahal, sebelumregulasi ini diterapkan, Vietnam merupakan pasar yangmenyerap hingga 12.000 unit kendaraan per bulan dariIndonesia.1. Ekspor Toyota Indonesia Terganjal Regulasi di VietnamRegulasi yang diterapkan Vietnam ini menjadi tantangan bagi industri otomotif Indonesia, yang selamaini mengandalkan ekspor sebagai salah satu pilar pertumbuhan. Jika tidak ada kejelasan dalamregulasi, eksportir seperti TMMIN harus menghadapi risiko pengembalian produk dan hambatan tarifyang memperburuk daya saing produk Indonesia di pasar Vietnam.HAMBATAN EKSPOR PRODUK MOBIL CKD INDONESIA KE VIETNAMDAMPAK BAGI INDUSTRI OTOMOTIF INDONESIAEkspor Mobil CKD Indonesia ke Vietnam belummendapatkan tarif 0% sesuai dengan kesepakatanharmonisasi tarif itu sudah berlaku sejak 2009Perdagangan Barang ASEAN (ASEAN Trade in GoodsAgreement/ATIGA) diberlakukan.Vietnam juga beralasan tidak pernah mengenal ketentuanpos tarif untuk istilah CKD dalam \"ASEAN HarmonizedTariff Nomenclature\" (AHTN). AHTN bisa dikatakan bukupanduan pos tarif yang disepakati negara-negara ASEAN.Selama ini, ekspor CKD dari Indonesia masih harusmelewati proses yang berbelit-belit karena Vietnam tidakmengkategorikan satu tarif 0% berdasarkan ATIGA untukkesatuan komponen kendaraan terurai (CKD). Masingmasing komponen dalam kendaraan terurai CKD yangmasuk ke Vietnam memiliki pos tarif masing-masing.2. Ekspor Toyota Indonesia Terganjal Regulasi Baru
DESAKAN INDONESIA TERHADAP TRANSPARANSI TARIF CKD DI VIETNAMPemerintah Indonesia diharapkan dapat terus memperjuangkan transparansikebijakan ini dalam forum-forum ASEAN, sehingga perdagangan CKD dapat berjalanlebih lancar dan mendukung industri otomotif nasional. Pemerintah Indonesia jugamendesak Vietnam untuk lebih transparan dalam penetapan tarif CKD. Beberapa poinutama yang menjadi perhatian Indonesia adalah:1.Transparansi Pos Tarif CKD: Indonesia menilai Vietnam kurang transparan dalammenetapkan pos tarif untuk kendaraan CKD, yang menjadi hambatan dalamliberalisasi perdagangan ASEAN.2.Pengenaan Tarif Per Komponen: Vietnam tidak lagi menerapkan tarif CKD secarakeseluruhan, tetapi mengubahnya menjadi tarif per komponen, yangmenghambat proses mendapatkan preferensi tarif ekspor CKD.3.Permintaan Solusi Transparansi: Menteri AFTA dari Indonesia, Kamboja, Vietnam,dan Singapura mendesak Vietnam untuk memberikan kejelasan mengenaikebijakan tarif CKD agar tidak menghambat perdagangan di kawasan ASEAN.KESIMPULANDengan adanya regulasi VTA dan ketidaktransparanan tarif CKD di Vietnam, industriotomotif Indonesia menghadapi tantangan besar dalam ekspor kendaraan dankomponen. Pemerintah Indonesia bersama pelaku industri harus terus melakukandiplomasi perdagangan agar hambatan-hambatan ini dapat diselesaikan, demimenjaga pertumbuhan ekspor dan daya saing industri otomotif nasional di pasarASEAN.Pemerintah Indonesia kembali mendesak Vietnam untuk memastikan pemberlakuantarif 0% bagi ekspor kendaraan terurai (completely knocked-down/CKD) mengingatkesepakatan harmonisasi tarif itu sudah berlaku sejak 2009 saat KesepakatanPerdagangan Barang ASEAN (ASEAN Trade in Goods Agreement/ATIGA) diberlakukan.