KONEKSI ANTAR MATERI
MODUL 1.4.a.8 BUDAYA POSITIF
Nurul Sholikhah, S.Pd
SMA Negeri 1 Sragen
CGP Angkatan 7
Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan
di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang
kritis, penuh hormat dan bertanggungjawab. Menciptakan budaya positif di sekolah tidak
dapat dilaksanakan secara instan, disini perlu pembiasaan (tuntunan) dan keteladanan
kita sebagai seorang guru karena sejatinya guru adalah suri teladan bagi murid –
muridnya. Guru harus menjadi contoh yang baik sehingga murid sebagai pengamat akan
mengikuti apa yang kita lakukan.
Dari modul 1.1 sampai dengan modul 1.4 ini sangat erat kaitannya dan saling
mendukung antara satu dengan yang lainnya. Budaya positif dilaksanakan sesuai
dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat
yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat
memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Oleh karena itu menurut KHD, pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih
kebudayaan.
Guru diibaratkan sebagai seorang petani yang mengelola dan menuntun siswa
untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi sesuai kodrat alamnya dan budaya
positif agar dapat menjadi murid yang berprofil pelajar Pancasila (beriman dan bertaqwa
terhadap Tuhan YME, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan berkebinekaan
global). Dalam menyusun program budaya positif juga diperlukan kolaborasi dengan
murid. Sehingga murid tidak merasa terbebani dalam melaksanakan budaya positif.
Murid diajak membuat suatu kesepakatan yang berpihak pada murid. Hal ini merupakan
implementasi dari “Merdeka Belajar”. Selain itu, guru juga perlu menguasai dan
mengaplikasikan nilai dan peran guru penggerak dalam melaksanakan budaya positif di
sekolah. Antara lain: mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.
Budaya positif merupakan bagian dari visi guru penggerak. Budaya positif harus
dikembangkan sehingga mampu untuk mewujudkan visi guru penggerak yang nantinya
juga akan lebih luas lagi menjadi visi sekolah. Yaitu “Terwujudnya merdeka belajar dan
murid yang berprofil pelajar Pancasila”. Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan
adanya kolaborasi kekuatan positif yang ada baik dari luar maupun dari dalam sekolah
(pemetaan kekuatan). Dalam hal ini dapat dilakukan melalui suatu pendekatan yaitu
pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran,
Gali impian, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Inkuiri Apresiatif adalah suatu pendekatan
berbasis kekuatan positif.
Dari sinilah, peran guru penggerak sangat penting dalam menularkan kebiasaan baik
kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah. Antara lain:
1. Guru penggerak harus mampu menjadi teladan
2. Menjalin kolaborasi dengan rekan guru lain dan seluruh warga sekolah dalam
melaksanakan budaya positif
3. Menggerakkan komunitas praktisi yang ada di sekolah
4. Menjadi coach bagi guru lain serta mampu menjadi pemimpin dalam
pembelajaran yang berpihak pada murid
Guru penggerak harus bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya
positif di sekolah dan menjadi visi di sekolah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara :
1. Memulai dari diri sendiri dalam menumbuhkan budaya positif di kelas dan menajdi
teladan bagi seluruh warga sekolah
2. Mensosialisasikan dan berkolaborasi dengan rekan guru serta Kepala Sekolah
3. Penuh kesabaran, keuletan, dan positif thinking terhadap penolakan ide dan
pelanggaran
4. Terus melakukan refleksi dan perbaikan
Membentuk disiplin positif di lingkungan kelas diperlukan keyakinan kelas.
Keyakinan kelas dibentuk dengan kesepakatan bersaman anggota kelas yang di dasarkan
atas nilai-nilai Kebajikan universal dan menekankan pada keyakinan diri sesrta
memotivasi dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk
menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan
tertulis tanpa makna.
Disiplin positif bertujuan membentuk tanggung jawabnya. Melalui disiplin positif
pengajar menuntun anak didik buat mempunyai perilaku tanggung jawab dan berdasarkan
tindakan atau nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila yaitu nilai beriman, bertaqwa pada Tuhan
yg Mahaesa & berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri,
bernalar kritis & kreatif. Inilah tujuan akhir berdasarkan pendidikan disiplin positif. Disiplin
positif tidak menggunakan sanksi atau paksaan namun lebih membentuk pencerahan diri
akan tanggung jawab diri menjadi warga sosial.
Dalam penerapanya pendidik akan dihadapkan pada konflik yang ada di
lingkungan.oleh karenanya pendidik perlu membekali diri dengan Kontrol diri. Diane
Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998)
mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-
ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan,
dan memandirikan murid, teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5
posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan
kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah,
Teman, Pemantau dan Manajer.
Posisi Kontrol yang direkomendasikan untuk digunakan dalam proses budaya
disiplin yaitu posisi control Manajer . posisi kontrol manager memberikan kebebasan
kepada siswa untuk menemukan diri mereka sendiri, bertanggung jawab atas masalah
yang mereka hadapi dan menemukan solusi terbaik. Sehingga nilai-nilai guru seperti
kemandirian, inovasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpihak pada siswa sangat sesuai
dalam mendukung dengan posisi kontrol manajer. Guru dengan kualitas manajerial berarti
dapat menerapkan nilai-nilai dan peran guru yang baik di kelas, sekolah, dan masyarakat.
Untuk dapat memantapkan diri dalam posisi kontrol manager dan sebagai
administrator yang handal guru juga di harapkan mampu memahami berbagai kebutuhan
dasar manusia. Kebutuhan dasar manusia adalah kelangsungan hidup, cinta dan
kepemilikan, kebebasan, kesenangan dan kekuasaan. Dengan memahami kebutuhan
dasar manusia akan memberikan langkah-langkah yang mudah untuk melakukan
pembimbingan kepada murid karena kebutuhan setiap murid memiliki kebutuhan yang
berbeda. Guru sebagai pendidik juga diharapkan mampu mempraktekkan Segitiga
Restitusi untuk menyelesaikan setiap permasalahan murid. Restitusi adalah proses
menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka
bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)
Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari
solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang
mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom
Gossen, 1996). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif,
dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana
berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun
tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka
percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita
memiliki motivasi intrinsik.
Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara
yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat
mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga
dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah
berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi
menangmenang.
Sebagai guru saya dapat memberikan dampak positif pada teman sejawat dan
mampu memberikan dampak positif pembelajaran di kelas. Mampu bersosialisasi
dilingkungan sekolah dan selanjutnya membimbing dan mendukung program perubahan
paradigma pendidikan di Indonesia yang saat ini masih belum sepenuhnya berpihak pada
murid.
Salam Guru Penggerak !!!