The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by disertasi.erni2021, 2022-01-16 06:25:28

PowerPoint Template

Ni Luh Gede Erni Sulindawati


























































TOPIK 12



Analisis Anggaran




i
UNDIKSHA UNDIKSHA
2021
2021

DAFTAR ISI




Halaman Judul
Daftar Isi


Langkah-Langkah Pembelajaran



1. Pendahuluan

2. Pembahasan

2.1. Pengertian Laporan Budget
2.2. Kegunaan Laporan Budget

2.3. Data Dan Informasi Untuk Menyusun Laporan Anggaran
2.4. Bentuk Laporan Budget

3. Rangkuman

4. Soal Latihan

5. Rubrik Penilaian
























UNDIKSHA ii
2021

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN




Pada awalnya pendidik menyampaikan garis besar materi dan penjelasan tentang analisis
anggaran yang meliputi, tahapan analisis anggaran, membandingkan data-data realisasi
anggaran dengan anggarannya untuk setiap item yang sama, menghitung selisih anggaran,
menghitung prosentase tingkat ketercapaian anggaran, dan lakukan analytical procedure
dengan pembuatan rasio-rasio kinerja. Sesudah itu pendidik meminta peserta didik untuk
belajar dari pengalaman individu perihal anggaran kas yang meliputi, pengertian kas, faktor-
faktor yang menentukan besar kecilnya kas minimal, cara menyusun budget kas melalui tanya
jawab dan mengarahkan alur berpikir peserta didik bahwa dalam pemahaman Analisis anggaran
meliputi pengertian laporan budget, kegunaan laporan budget data dan informasi untuk
menyusun laporan anggaran, dan bentuk laporan budget.

Untuk lebih jelasnya pendidik mengajak peserta didik untuk mengamati modul digital materi
analisis anggaran.

1. Menanya:
Mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan anggaran kas yang meliputi, pengertian
kas, faktor-faktor yang menentukan besar kecilnya kas minimal, cara menyusun budget
kas.
2. Mengeksplorasi:
Mengumpulkan data/informasi tentang anggaran kas yang meliputi, pengertian kas,
faktor-faktor yang menentukan besar kecilnya kas minimal, cara menyusun budget kas
dari berbagai sumber yang relevan
3. Mengasosiasi:
Mengamati modul digital dan mengaitkan dengan informasi/data yang diperoleh dari
berbagai sumber
4. Mengomunikasikan:
Menyimpulkan tentang anggaran kas yang meliputi, pengertian kas, faktor-faktor yang
menentukan besar kecilnya kas minimal, cara menyusun budget kas dan memberikan
contoh.

Dengan demikian peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan dalam proses discovery
learning, yaitu: menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis,
mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan tentang pengertian
laporan budget, kegunaan laporan budget data dan informasi untuk menyusun laporan
anggaran, dan bentuk laporan budget dengan mengacu pada tujuan pembelajaran.













UNDIKSHA iii
2021

Sintaks Pembelajaran Topik 12


Fase Aktivitas
Pembelajaran Pendidik Peserta Didik (PD)
Klassikal
Pra Pembe- Menyiapkan dan memotivasi belajar Merapikan kelas, memberi, salam dan
lajaran untuk mengikuti proses menyimak manfaat materi yang akan
pembelajaran diperlajari

Menyampaikan capaian Membaca dan memahami capaian
pembelajaran dan cakupan materi pembelajaran & cakupan materi

Fase I: Pendidik memberi stimulasi untuk Peserta didik mencermati dan
Pemberian belajar dari pengalaman individu menjawab pertanyaan
rangsangan perihal Anggaran kas yang
(Stimulation) meliputi, pengertian kas, faktor-
faktor yang menentukan besar
kecilnya kas minimal, cara
menyusun budget kas melalui
tanyajawab dan mengarahkan alur
berpikir peserta didik, bahwa dalam
menyusun Anggaran kas yang
meliputi, pengertian kas, faktor-
faktor yang menentukan besar
kecilnya kas minimal, cara
menyusun budget kas Setelah itu
mengajukan pertanyaan :
1) Apa yang dimaksud dengan
budget kas?
2) Faktor-faktor apa yang
menentukan kas minimal?
3) Bagaimana cara menyusun
budget kas?

Fase II: Pendidik mengajak peserta didik Pendidik bersama dengan peserta
Pernyataan/ membuat problem statement didik membuat problem statement
Identifikasi tentang perihal Anggaran kas yang tentang hal-hal yang berkaitan dengan
masalah meliputi, pengertian kas, faktor- perihal Anggaran kas yang meliputi,
(Problem faktor yang menentukan besar pengertian kas, faktor-faktor yang
Statement) kecilnya kas minimal, cara menentukan besar kecilnya kas
menyusun budget kas minimal, cara menyusun budget kas












UNDIKSHA iv
2021

Fase Aktivitas
Pembelajaran Pendidik Peserta Didik (PD)
Fase III: Pendidik meminta peserta didik peserta didik mengumpulkan
Pengumpulan mengumpulkan data/informasi data/informasi tentang perihal
data tentang perihal Anggaran kas yang Anggaran kas yang meliputi,
(Data meliputi, pengertian kas, faktor- pengertian kas, faktor-faktor yang
Collection) faktor yang menentukan besar menentukan besar kecilnya kas
kecilnya kas minimal, cara minimal, cara menyusun budget kas
menyusun budget kas seperti membaca literatur


Fase IV: Pendidik meminta peserta didik Peserta didik mengkaslifikasikan hasil
Pengolahan mengolha data dan informasi data yang diperoleh berdasarkan
data (Data dengan cara mengklasifikasikan bidangnya
sesuai bidangnya .
Processing)
Fase V: Pendidik meminta peserta didik Peserta didik melakukan pemeriksaan
Pembuktian melakukan pemeriksanaan secara secara cermat sesuai bidangnya
(Verification) cermat untuk membuktikan benar dengan cara melakukan verifikasi ke
tidaknya hipotesis yang ditetapkan peserta didik yang lain.
tadi dengan temuan alternative,
dihubungkan engan hasil data
processing dengan cara melakukan
verifikasi ke peserta didik yang lain.

Menarik Pendidik meminta peserta didik Peserta didik menggeneralisasi hasil
simpulan/ membuat kesimpulan berdasarkan verifikasi dan merumuskan untuk
generalisasi hasil verifikasi dan merumuskannya menjawab problement statement
untuk menjawab problem stetemetn tentang perihal Anggaran kas yang
(Generalization) tentang perihal Anggaran kas yang meliputi, pengertian kas, faktor-faktor
meliputi, pengertian kas, faktor- yang menentukan besar kecilnya kas
faktor yang menentukan besar minimal, cara menyusun budget kas
kecilnya kas minimal, cara
menyusun budget kas

E-Learning
Fase I Menyiapkan materi pembelajaran Mengakses modul pembelajaran
digital yang diberikan digital yang diberikan

Fase II Membuat topik pembelajaran Memilih topik pembelajaran &
Menyimak tujuan pembelajaran

Fase III Menguplod materi pelajaran Mempelajari materi melalui file
(dokumen, & Presentasi) (dokumen, & Presentasi)

Fase IV Memandu PD melakukan diskusi Memperdalam materi melalui diskusi
On-line (forum, chatting & on-line (forum, chatting & streaming)
streaming)




UNDIKSHA v
2021

Fase Aktivitas
Pembelajaran Pendidik Peserta Didik (PD)
Fase V Memeriksa tugas Peserta Didik Mengupload tugas

Fase VI Logout dari program Logout dari program










































































UNDIKSHA vi
2021

1. Pendahuluan








Anggaran yang sudah dibuat perlu dianalisis dan dievaluasi dengan realisasi yang
terjadi. Analisis anggaran ini perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang sudah
direncanakan sesuai dengan realisasinya, apabila belum sesuai perlu diketahui
penyebabnya untuk perbaikan kegiatan dimasa yang akan datang. Anggaran
disamping sebagai langkah awal perencanaan anggaran juga dapat dipakai untuk
melakukan pengawasan sehingga terhindar dari kerugian yang tidak diinginkan.

Capaian pembelajaran yang diharapakan dalam Topik 12 adalah kemampuan dalam
menganalisis anggaran. Materi yang dibahas adalah pengertian laporan budget,
kegunaan laporan budget data dan informasi untuk menyusun laporan anggaran, dan
bentuk laporan budget
































UNDIKSHA 1
2021

2. Pembahasan



2.1. Pengertian Laporan Budget

Budget Komperhensif mencakup pula tentang Laporan Budget yang harus disusun pada waktu-
waktu tertentu selama periode yang akan datang (perhatikan Topik 1) dimaksudkan dengan
Laporan Budget (budget report) ialah laporan yang sistematis dan terperinci tentang realisasi
pelaksanaan Budget beserta analisis dan evaluasinya, dari waktu ke waktu selama periode yang
akan datang.

Dari pengertian tersebut dapatlah diketahui bahwa Laporan Budget menunjukkan seberapa jauh
apa yang digariskan dalam Budget telah dapatdirealisasikan dalam pelaksanaannya. Dengan
lain perkataan, Laporan Budget menunjukan analisis perbandingan antara angka-angka
tercantum dalam Budget dengan angka-angka realisasi pelaksanaannya yang tercantum dalam
catatan Akuntansi. Analisis perbandingan ini juga menunjukan apakah telah terjadi
penyimpangan-penyimpangan antara Budget dengan realisasi pelaksanaannya; apakah
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi itu bersifat positif (menguntungkan) ataukah bersifat
negatif (merugikan); dan sekali-gus menunjukan pula faktor-faktor apa yang menyebabkan
terjadinya penyimpangan-penyimpangan itu.

Dengan diketahuinya penyimpangan-penyimpangan beserta sebab-sebabnya tersebut,
dapatkah dinilai (evaulasi) apakah kegiatan pelaksanaan Budget dapat dikatakan “berhasil”
ataukah “gagal”, apakah “efisien” ataukah “tidak efesien”. Berdasar hasil analisis dan evaulasi
tersebut tersebut, peminpin perusahaan dapat membuat kebijakan tindak Lanjut (follow up)
untuk menghadapi periode-periode berikutnya. Bilamana penyimpangan- penyimpangan yang
terjadi bersifat positif, maka kebijakan tindak lanjutnya diarahkan agar supaya yang positif itu
akan terulang kembali pada periode-periode berikutnya. sebaliknya , bilamana penyimpangan-
penyimpangan yang terjadi bersifat negatif, maka kebijakan tindak lanjutnya diarahkan untuk
mencegah agar yang negatif itu tidak terulang kembali pada periode-periode berikutnya.

Klik menuju:
Presentasi dalam format Ms. PPt

2.2. Kegunaan Laporan Budget

Sebagaimana telah diutarakan di muka, laporan budget yang berisi tentang analisis dan
evaluasi pelaksanaan Budget, berguna bagi manajemen untuk menyusun kebijakan tindak lanjut
(follow up) agar pada periode periode berikutnya perusahaan dapat berjalan lebih baik.

2.3. Data Dan Informasi Untuk Menyusun Laporan Anggaran
Adapun data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun laporan Budget adalah seluruh
budget yang telah disusun oleh perusahaan, khususnya budget-budget tentang kegiatan
perusahaan selama periode tertentu yang akan datang yang tergabung dalam Budget
Rugi/Laba (operating Budget). Oleh karena Budget Rugi/Laba (profit/loss budget) mencangkup
dua sektor, yaitu sektor penghasilan dan sektor biaya, maka secara garis besar Laporan Budget
juga mencangkup laporan di kedua sektor tersebut. Semua catatan Akuntansi tentang
pelaksanaan Budget-budget yang bersangkutan, baik di sektor penghasilan maupun biaya.




UNDIKSHA 2
2021

2.4. Bentuk Laporan Budget

Sebagaimana halnya dengan bentuk Budget-budget , bagi Laporan Budget juga tidak ada
sesuatu bentuk standar yang harus di pergunakan oleh perusahaan. Ini berarti bahwa tiap- tiap
perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan bentuk serta formatnya, disesuaikan
dengan keadaan perusahaan masing-masing. Yang perlu diingat adalah bahwa Laporan Budget
harus cukup sistematis dan terperinci, sehingga dapat memudahkan manajeman untuk
mengetahui kinerja karyawan, dan mengetahui perkembangan perusahaan, untuk kemudian
dipakai sebagai dasar untuk menyusun kebijakan tindak lanjut (follow up).


Sebagai ilustrasi, berikut ini diberikan beberapa contoh Laporan Budget, sehingga dapat
memberikan gambaran yang lebih jelas:
1. Analisis anggaran Penjualan:

Dari Budget Penjualan yang telah disusun, Perseroan Terbatas “Charisma" dapat mengetahui
bahwa target penjualan pada bulan Januari 2020 untuk Produk "Titan" di daerah perasaran
Jawa Barat ditetapkan sebanyak 35.000 botol dengan harga jual per botol sebesar Rp4.000.00.
Dengan demikian jumlah penjualan selama satu bulan sebesar = 35.000 x Rp4.000.00 =
Rp140.000.000.00.
Pada akhir bulan Januari 2020 (31 Januari 2020), dari catatan Akuntansinya Perseroan
Terbatas "Charisma" dapat mengetahui bahwa realisasi penjualan Produk "Titan" di daerah
pemasaran Jawa Barat selama satu bulan adalah sebanyak 37.200 botol dengan harga jual per
botol sebesar Rp3.800.00. Dengan demikian jumlah penjualan yang direalisasikan selama bulan
tersebut sebesar = 37.200 x Rp3.800.00 = Rp141.360.000.00.
Dengan membandingkan antara Budget Penjualan dengan realisasi penjualan tersebut, dapat
diketahui bahwa telah terjadi penyimpangan yang berupa kenaikan penjualan sebesar =
Rp141.360.000.00-Rp140.000.00000 = Rp1.360.000.00.
Adapun penyimpangan sebesar Rp 1.360.000,00 ini disebabkan karena :
1) Penyimpangan Kuantitas (quantity variance), yaitu penyimpangan yang telah terjadi atas
jumlah satuan Produk "Titan" dari yang direncanakan dalam Budget Penjualan sebanyak
35.000 botol, sedangkan realisasi penjualannya sebanyak 37.200 botol dengan lain
perkataan, telah terjadi kenaikan (peningkatan) jumlah satuan yang terjual sebanyak =
37.200 botol -35.000 = 2.200 botol. Penyimpangan (kenaikan) sebanyak 2,200 botol ini
dinilai dengan harga jual menurut Budget Penjualan, sehingga jumlah Penyimpangan
Kuantitas (quantity variance) adalah sebesar = 2.200 x Rp4.000.00 = Rp8.800.000.00.
Secara matematis, Penyimpangan Kuantitas ini dapat diformulasikan dalam bentuk
rumus, sebagai berikut:

PK = (KR - KB) x HB

Keterangan :
PK= Penyimpangan Kuantitas.
KR= Kuantitas Realisasi.
KB= Kuantitas Budget.
HB = Harga jual (per satuan) Budget.






UNDIKSHA 3
2021

2) Penyimpanan Harga jual (price variance), yaitu penyimpangan yang telah terjadi atas
harga jual per satuan produk “Titan” dari yang direncanakan dalam Budget Penjualan
sebesar Rp 4.000,00 per botol, sedangkan realisasi harga jualnya sebesar Rp 3.800,00
per botol. Atau dengan lain perkataan, telah terjadi penurunan harga jual perbotol
sebesar Rp 4.000,00 – Rp 3.800,00 = Rp 200,00 per botol. Penyimpangan (penurunan)
harga jual sebesar Rp 200,00 per botol ini dikaitkan dengan realisasi jumlah satuan
produk “Titan” yang terjual, yaitu sebanyak 37.200 botol, sehingga jumlah Penyimpangan
Harga jual (price variance) adalah sebesar = Rp 200,00 x 37.200 = Rp 7.440.000,00.

Secara mateematis penyimpangan Harga jual ini dapat diformulasikan dalam bentuk
rumus, sebagai berikut :

PH = (HR – HB) x KR

Keterangan:
PH = Penyimpangan Harga Jual (per satuan).
HR = Harga Jual (per satuan) Realisasi.
HB = Harga jual (per satuan) Budget.
KR = Kuantitas Realisasi.

Dari analisis serta perhitungan di muka dapatlah disimpulkan bahwa Penyimpangan Kuantitas
telah mengakibatkan terjadinya kenaikan penjualan sebesar Rp 8.800.000,00, dan
Penyimpangan Harga jual telah mengakibatkan terjadinya penurunan penjualan sebesar Rp
7.440.000,00. Dengan demikian jumlah penyimpangan (total variance) yang terjadi selama
bulan Januari 2020 adalah sebesar = Rp 8.800.000,00 - Rp 7.440.000,00 = Rp 1.360.000,00.

Berdasarkan data dan perhitungan-perhitungan tersebut, maka pada tanggal 31 Januari 2020
Perseroan Terbatas “XYZ” dapat menyusun Laporan Budget tentang penjualan di daerah
pemasaran Jawa Barat, sebagai berikut:

Perseroan Terbatas “XYZ”
Laporan Budget Penjualan Produk “ABC”
31 Januari 2020
(A) Data:
Keterangan Budget Realisasi
Satuan penjualan 35.000 botol 37.200 botol
Harga jual/satuan Rp 4.000,00 Rp 3.800,00
Jumlah penjualan Rp 140.000.000,00 Rp 141.360.000,00







B. Analisis Data
Terjadi penyimpanan (kenaikan) jumlah penjualan sebesar
= Rp. 141.360.000,00 – Rp. 140.000.000,00 = Rp. 1.360.000,00.
Penyimpanan disebakan oleh karena:
[1] Penyimpana kuantitas
= (KR – KB) x HB
= (37.200 – 35.000) x Rp. Rp. 4.000,00
= Rp. 8.800.000,00 (naik)



UNDIKSHA 4
2021

[2] Penyimpanan Harga Jual = (HR – HB) x KR
= (3.800,00 – 4.000,00) x 37.200
=Rp. 7.440.000,00 (turun)
C. Rekapitulasi :
Penyimpanan kuantitas = Rp. 8.800.000,00 (naik)
Penyimpanan harga jual = Rp. 7.400.000,00 (turun)
Jumlah penyimpanan = Rp. 1.360.000,00 (naik)
D. Kesimpulan:
Telah terjadi penyimpangan kuantitas sebanyak 2.200 botol senilai. Rp8.800.000,00.
Penyimpangan ini menunjukkan kinerja yang bagus dari karyawan Bagian Pemasaran
perusahaan, karena telah mampu memasarkan melebihi jumlah yang ditargetkan di dalam
Budget Penjualan.
Telah terjadi penyimpangan jual sebesar Rp200,00 per botol yang lebih rendah yang ditargetkan
di dalam Anggaran Penjualan, sewingga menurunkan jumlah penjualan sebesar
Rp7.440.000,00. Namun harga jual per botol ditentukan oleh pasar (penawaran dan
permintaan), maka penurunan harga jual per botol ini tidak dapat dijadikan sebagai ukuran bagi
karyawan Bagian Pemasaran perusahaan. Penununan harga jual per botol hanya dapat
memberi tanda bahwa keadaan perekonomian negara sudah meningkat, sewingga terjadi
kecenderungan harga barang di pasar mulai menu berjalan.
Dari Laporan Anggaran Penjualan tersebut nampak bahwa jika di- pandang dari sudut kuantitas,
temyata realisasi penjualan telah menyimpang secara positif atau menguntungkan
(menguntungkan), karena telah meningkatkan penjualan sebesar Rp8.800.000. Pimpinan
tentunya (manajemen) segera mengadakan penelitian tentang faktor-faktor yang mendukung
tersebut, terutama yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran yang dilakukan. oleh Bagian
Pemasaran. Banyak pilihan jumlah satuan yang terjual sangat ditentukan oleh aktivitas
karyawan Bagian Pemasaran. Dengan


2. Tentang Laporan Budget Biaya Bahan Mentah:

Dari Budget Unit Yang Akan Diproduksikan, Budget Unit Kebutuhan Bahan Mnetah, Budget
Pembelian Bahan Mnetah, dan Budget Biaya Bahan Mentah, Perseroan Terbatas “Charisma”
dapat mengetahui bahwa target satuan yang akan diproduksikan pada bulan Januari 2008
sebanyak 120.000 botol Produk “Titan” dengan standar pemakaian Bahan Mentah Jenis (P)
sebanyak 1,8 kilogram per botol. Dengan demikian jumlah pemakaian Bahan Mentah Jenis (P)
yang direncanakan adalah sebanyak = 120.000 x 1,8 kilogram = 216.000 kilogram. Harga beli
diperkirakan sebesar Rp,20,00 per kilogram, sehingga jumlah Biaya Bahan Mentah selama
bulan Januari 2008 direncanakan sebesar = 216.000 x Rp.20,00 = Rp.4.320.000,00.

Pada akhir bulan Januari 2020 dari catatan Akuntansinya Perseroan Terbatas "XYZ" dapat
mengetahui bahwa realisasi produksi Produk "ABC" selama bulan tersebut adalah sebanyak
124.000 botol, dengan menggunakan Bahan Mentah Jenis (P) sebanyak 235.600 kilogram.
Harga beli sebesar Rp18,00 per kilo gram, sehingga realisasi jumlah Biaya Bahan Mentah
sebesar = 235.600 x Rp18,00 = Rp4.240.800,00

Dengan membandingkan antara Budget Biaya Bahan Mentah Jenis (P) dengan realisasi Biaya
Bahan Mentah Jenis (P) tersebut, dapatlah diketahui bahwa telah terjadi penyimpangan yang
berupa penurunan biaya sebesar Rp4.320.000,00 - Rp4.240.800,00 = Rp79.200,00.




UNDIKSHA 5
2021

Adapun penyimpangan sebesar Rp79.200,00 ini disebabkan karena:
1) Penyimpangan kuantitas (quantity variance), yaitu penyimpangan yang telah terjadi atas
pemakaian jumlah satuan Bahan Mentah Jenis (P) dari yang direncanakan dalam Budget
Biaya Bahan Mentah sebanyak 216.000 kilogram, sedangkan realisasi pemakaiannya
sebanyak 235.600 kilo-gram. Atau dengan lain perkataan, telah terjadi kenaikan
(peningkatan) jumlah satuan bahan yang dipakai sebanyak = 235.600 kilogram-216.000
kilogram = 19.600 kilogram.
Sebagian dari kenaikan pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) sebanyak 19.600kilogram
tersebut disebabkan karena memang ada peningkatan jumlah Produk "ABC" dari sebanyak
120.000 botol yang direncanakan, menjadi sebanyak 124.000 botol yang direalisasikan. Ini
berarti bahwa telah terjadi peningkatan jumlah produksi Produk "ABC" sebanyak = 124.000
botol - 120.000 botol = 4.000 botol. Dengan standar pemakaian Bahan Mentah Jenis (P)
sebanyak 1,8 kilogram per botol, maka kenaikan jumlah produksi tersebut secara wajar
tentu akan menaikkan pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) sebanyak = 4.000 x 1,8kilogram=
7.200kilogram Atau dengan lain perkataan, untuk realisasi produksi sebanyak 124.000 botol
Produk “Titan” secara wajar dibutuhkan Bahan Mentah Jenis (P) sebanyak = 216.000
kilogram + 7.200 kilogram= 223.200 kilogram (atau = 124.000 x 1,8 kilogram = 232.200
kilogram).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kenaikan (penyimpangan) pemakaian Bahan
Mentah Jenis (P) sebanyak 19.600kilogram tersebut, yang sebanyak 7.200kilogram
merupakan kenaikan secara wajar karena realisasi Produk "ABC" yang dihasilkan memang
bertambah dengan 4.000 botol dari yang direncanakan. Sedangkan sisanya sebanyak =
19.600 kilogram - 7.200 kilogram = 12.400 kilogram, merupakan penyimpangan
(kenaikan)yang tidak wajar. Penyimpangan yang tidak wajar ini menunjukkan bahwa
selama bulan Januari 2020 telah terjadinya pemborosan penggunaan Bahan Mentah Jenis
(P) yang dilakukan oleh karyawan di Bagian Produksi sebanyak 12.400 kilogram.
Atas dasar analisis tersebut, maka kenaikan pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) sebanyak
19.600 kilogram tersebut dapat dipisahkan menjadi dua macam penyimpangan kuantitas,
yaitu:
1) Penyimpangan Kuantitas (quantity variance), yang merupakan penyimpangan kuantitas
pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) secara wajar sebanyak 7.200 kilogram, karena
memang realisasi produksi mengalami peningkatan sebanyak 4.000 botol.
Penyimpangan (kenaikan) sebanyak 7.200 kilogram ini dinilai dengan harga beli menurut
Budget Pembelian Bahan Mentah, sehingga jumlah Penyimpangan Kuantitas (quantity
variance) adalah sebesar = 7.200 x Rp20,00 = Rp144.000,00.
Secara matematis, Penyimpangan Kuantitas ini dapat diformulasikan dalam bentuk
rumus, sebagai berikut:

PK = (SRS – KB) x HB

Keterangan:
PK = Penyimpangan Kuantitas.
SRS = Satuan Realisasi produksi, dengan Standar pemakaian Bahan Mentah.
KB = Kuantitas Budget.
HB = Harga beli (per satuan) Budget.







UNDIKSHA 6
2021

2) Penyimpangan Efisiensi (efficiency variance), yang merupakan penyimpangan kuantitas
pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) secara tidak wajar sebanyak 12.400 kilogram, yang
merupakan pemborosan penggunaan Bahan Mentah Jenis (P). Penyimpangan
(pemborosan) sebanyak 12.400 kilogram ini dinilai dengan harga beli menurut Budget
Pembelian Bahan Mentah, sehingga jumlah Penyimpangan Efisiensi (efficiency variance)
adalah sebesar = 12.400 x Rp20,00 = Rp248.000,00.
Secara matematis, Penyimpangan Efisiensi ini dapat diformulasikan dalam bentuk rumus,
sebagai berikut:

PE = (KR – SRS) x HB
Keterangan:
PE = Penyimpangan Efisiensi.
KR = Kuantitas Realisasi.
SRS = Satuan Realisasi produksi, dengan Standar pemakaian Bahan Mentah.
HB = Harga beli (per satuan) Budget.

3) Penyimpangan Harga beli (price variance), yaitu penyimpangan yang telah terjadi atas
harga beli per satuan Bahan Mentah Jenis (P) dari yang direncanakan dalam Budget
Pembelian Bahan Mentah sebesar Rp20,00 per kilogram, sedangkan realisasi harga
jualnya sebesar Rp18,00 per kilogram. Atau dengan lain perkataan, telah terjadi
penurunan harga beli per kilogram sebesar = Rp 20,00-Rp18,00 = Rp2,00 per kilogram.
Penyimpangan (penurunan) harga beli sebesar Rp2,00 per kilogram ini dikaitkan dengan
realisasi jumlah satuan Bahan Mentah Jenis (P) yang dipakai untuk produksi, yaitu
sebanyak 235.600 kilogram, sehingga jumlah Penyimpangan Harga beli (price variance)
adalah sebesar =Rp2,00 x 235.600 = Rp471.200,00. Secara matematis, Penyimpangan
Harga beli ini dapat di formulasikan dalam bentuk rumus, sebagai berikut :

PH = (HR - HB) x KR

Keterangan:
PH = Penyimpangan Harga jual (per satuan).
HR = Harga beli (per satuan) Realisasi.
HB = Harga beli (per satuan) Budget.
KR = Kuantitas Realisasi.

Dari analisis serta perhitungan di muka dapatlah disimpulkan bahwa Penyimpangan
Kuantitas telah mengakibatkan terjadinya peningkatan (kenaikan) Biaya Bahan Mentah Jenis
(P) sebesar Rp144.000,00. Penyimpangan Efisiensi telah mengakibatkan terjadinya
peningkatan (kenaikan) Biaya Bahan Mentah Jenis (P) sebesar Rp148.000,00, dan
Penyimpangan Harga beli telah mengakibatkan terjadinya penurunan Biaya Bahan Mentah
Jenis (P) sebesar Rp471.200,00. Dengan demikian jumlah penyimpangan (total variance)
yang terjadi selama bulan Januari 2008 adalah sebesar = (Rp144.000,00 + Rp148.000,00)-
Rp471.200,00 = Rp79.200,00 (turun).
Berdasarkan data dan perhitungan-perhitungan tersebut, maka pada tanggal 31 Januari 2020
Perseroan Terbatas " XYZ" dapat menyusun Laporan Budget Biaya Bahan Mentah Jenis (P).
sebagai berikut:





UNDIKSHA 7
2021

Perseroan Terbatas “XYZ”
Laporan Budget Biaya Bahan Mentah Jenis (P)
31 Januari 2020
(A) Data :
Keterangan Budget Realisasi
Satuan produksi 120.000 botol 124.000 botol
Pemakaian bahan 216.000 kilogram 235.600 kilogram
Harga beli/satuan Rp. 20,00 Rp. 18,00
Jumlah biaya Rp. 4.320.000,00 Rp. 4.240.800,00
Catatan : Standar Pemakaian Bahan Jenis (P) = 1,8 kilogram per botol.

(B) Analisis data :
Terjadi penyimpangan (penurunan) jumlah Biaya Bahan Mentah Jenis (P) sebesar = Rp.
4.320.000,00 – Rp. 4.240.800,00 = Rp. 79.200,00.
Penyimpangan disebabkan karena oleh karena :
[1] Penyimpangan Kuantitas = (SRS – KB) x HB
= (223.200 – 216.000) x Rp. 20,00
= Rp. 144.000,00 (naik).
[2] Penyimpangan Efisiensi = (KR – SRS) x HB
= (235.600 – 223.200) x Rp. 20,00
= Rp. 248.000,00 (naik).
[3] Penyimpangan Harga Beli = (HR – HB) x KR
= (18,00 – 20,00) x 235.600
= Rp. 471.200,00 (turun).
(C) Rekapitulasi :
Penyimpangan kuantitas = Rp. 144.000,00 (naik)
Penyimpangan efisiensi = Rp. 248.000,00 (naik)
Penyimpangan harga beli = Rp. 471.200,00 (turun)
Jumlah penyimpangan = Rp. 79.200,00 (turun)
(D) Kesimpulan
Telah terjadi penyimpangan kuantitas pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) sebanya 7.200
kilogram dengan nilai sebesar Rp. 144.000,00. Penyimpangan ini merupakan penyimpangan
yang wajar dan memang harus terjadi, sebagai akibat terjadinya perningkatan Jumlah realisasi
produksi jika dibandingkan dengan rencana produksinya. Dengan demikian penyimpangan ini
tidak disebabkan oleh baik atau buruknya kinerja karyawan di bagian produksi perusahaan.
Telah terjadi penyimpangan efisiensi pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) sebanyak 12.400
kilogram dengan nilai sebesar Rp 248.000,00. Penyimpangan ini menunjukkan kinerja yang
buruk dari karyawan bagian produksi perusahaan, karena telah memboroskan pemakaian
bahan mentah jenis (P).
Telah terjadi penyimpangan harga beli sebesar Rp 2,00 per-kilogram yang lebih rendah
daripada yang ditargetkan didalam Budget Pembelian Bahan Mentah Jenis (P) sebesar Rp
471.200,00. Namun karena harga beli per-kilogram ditentukan oleh mekanisme pasar
(penawaran dan permintaan), maka penurunan harga beli per-kilogram ini tidak dapat dijadikan
sebagai ukuran bagi kinerja karyawan yang bertugas di bagian pembelian perusahaan.
Penurunan harga beli per-kilogram hanya dapat memberi tanda bahwa keadaan perekonomian
negara sudah semakin membaik, sehingga terjadi kecenderungan harga barang di pasar mulai
menurun.




UNDIKSHA 8
2021

Dari laporan Budget Biaya Bahan Mentah Jenis (P) tersebut tampak bahwa jika dipandang dari
suddut kuantitas, ternyata realisasi pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) telah menyimpang
(meningkat) sebanyak 7.200 kilogram dengan nilai sebesar Rp 144.000,00 dari yang
direncanakan dalam Budget Biaya Bahan Mentah. Namun peningkatan jumlah bahan yang
dipakai tersebut merupakan peningkatan yang wajar karena jumlah realisasi produk “ABC” yang
dihasilkan juga meningkat dari yang direncanakan dalam Budget Unit Yang Akan Diproduksikan.
Dengan demikian, penelitian yang dilakukan oleh pimpinan (manajemen) perusahaan akan lebih
diarahkan pada mencari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah satuan
produksi “ABC” yang dihasilkan dan bukannya diarahkan untuk mencari faktor-faktor yang
menyebabkan bertambahnya pemakaian Bahan Jenis (P).

Dari laporan Budget Biaya Bahan Mentah Jenis (P) tersebut nampak pula bahwa jika dipandang
dari sudut efisiensi kerja, ternyata realisasi pemakaian Bahan Mentah Jenis (P) telah
menyimpang secara negatif atau merugikan (unfavourable), karena terjadi pemborosan
pemakaian bahan sebesar Rp 248.000,00. Tentunya pimpinan (manajemen) perusahaan
segera mengadakan penelitian tentang faktor-faktor yang menyebabkan ketidakefisien tersebut,
terutama yang berkaitan dengan kegiatan produksi yang dilakukan oleh Bagian Produksi.
Banyak sedikitnya jumlah pemakaian bahan sangat di- tentukan oleh aktivitas karyawan Bagian
Produksi. Dengan demikian, positif atau negatifnya penyimpangan mencerminkan kinerja dari
karyawan tersebut. Dengan diketahuinya faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan,
maka dapat disusun kebijakan-kebijakan tindak lanjut (follow up) yang bertujuan untuk
mencegah terulang kembalinya pemborosan pemakaian bahan tersebut, agar pada bulan-bulan
berikutnya penyimpangan negatif itu bisa dihindari.

Dari Laporan Budget Biaya Bahan Mentah Jenis (P) tersebut nampak pula bahwa jika
dipandang dari sudut harga beli per kilogram, ternyata realisasi Biaya Bahan Mentah Jenis (P)
telah menyimpang secara positif atau menguntungkan (favourable), karena telah menurunkan
Biaya Bahan Mentah sebesar Rp471.200,00. Namun demikian penyimpangan harga beli ini
lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat eksternal (di luar lingkungan
perusahaan), seperti misalnya faktor-faktor penawaran, permintaan, persaingan, dan juga
kondisi perekonomian negara pada umumnya. Faktor-faktor eksternal semacam ini bersifat tak
terkendali (uncontrollable), yaitu faktor-faktor yang tidak dapat dipengaruhi atau dikendalikan
sama sekali oleh pimpinan (manajemen) perusahaan. Dengan demikian, positif atau negatifnya
Penyimpangan Harga beli tidak mencerminkan kinerja dari karyawan Bagian Pembelian.
Penyimpangan Harga beli hanya memberikan informasi kepada pimpinan (manajemen)
perusahaan tentang kondisi eksternal. Dengan demikian kebijakan tindak lanjut (follow up) yang
diambil akan lebih banyak ditujukan ke arah bagaimana perusahaan bisa menyesuaikan diri
dengan perkembangan (perubahan) lingkungan eksternalnya.

Dengan cara yang sama Perseroan Terbatas "XYZ" dapat menyusun Laporan Budget Biaya
Bahan Mentah Jenis (P), Biaya Bahan Mentah Jenis (Q) dan Biaya Bahan Mentah Jenis (R)
untuk Produk ABC dari bulan ke bulan selama tahun 2020 yang akan datang.

3. Tentang Laporan Budget Upah Tenaga Kerja Langsung:
Dari Budget Unit Yang Akan Diproduksikan dan Budget Upah Tenaga Kerja Langsung,
Perseroan Terbatas "XYZ" dapat mengetahui bahwa target satuan yang akan diproduksikan
pada bulan Januari 2008 sebanyak 120.000 botol Produk "ABC" dengan standar waktu selama




UNDIKSHA 9
2021

0,2 jam per botol. Dengan demikian jumlah pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung yang
direncanakan adalah sebanyak = 120.000 x 0,2 jam = 24.000 jam. Tarip (rata-rata) upah
ditetapkan sebesar Rp295,20 per jam, sehingga jumlah Upah Tenaga Kerja Langsung selama
bulan Januari 2008 direncanakan sebesar = 24.000 x Rp295,20 = Rp7.084.800,00
.
Pada akhir bulan Januari 2008 (31 Januari 2008), dari catatan Akuntansinya Perseroan
Terbatas "Charisma dapat mengetahui bahwa realisasi produksi Produk "ABC" selama bulan
tersebut adalah sebanyak 124.000 botol, dengan menggunakan jam kerja Tenaga Kerja
Langsung sebanyak 22.320 jam. Rata-rata upah sebesar Rp290,50 per jam, sehingga realisasi
jumlah Upah Tenaga Kerja Langsung sebesar - 22.320 x Rp290,50 Rp6.483.960,00.
Dengan membandingkan antara Budget Upah Tenaga Kerja Lang sung dengan realisasi Upah
Tenaga Kerja Langsung tersebut, dapat. lah diketahui bahwa telah terjadi penyimpangan yang
berupa penu. runan (pengurangan) upah sebesar - Rp7.084.800,00 Rp6.483.960,00 - Rp
600.840,00

Adapun penyimpangan sebesar Rp600.840,00 ini disebabkan karena:
1) Penyimpangan Kuantitas (quantity variance), yaitu penyimpangan yang telah terjadi atas
pemakaian jumlah jam kerja Tenaga Kerja Langsung dari yang direncanakan dalam Budget
Upah Tenaga Kerja Langsung sebanyak 24.000 jam, sedangkan realisasi pema kaiannya
sebanyak 22.320 jam. Atau dengan lain perkataan, telah terjadi penurunan (pengurangan)
jumlah pemakaian jam kerja sebanyak = 24.000 jam - 22.320 jam - 1.680 jam.
Sebagian dari penurunan pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung sebanyak 1.680 jam
tersebut disebabkan karena adanya peningkatan jumlah Produk "Titan" dari seba-nyak
120.000 botol yang direncanakan, menjadi sebanyak 124.000 botol yang di realisasikan. Ini
berarti bahwa telah terjadi peningkatan jumlah produksi Produk "ABC" sebanyak - 124.000
botol - 120.000 botol - 4.000 botol. Dengan standar waktu sebanyak 0,2 jam per botol, maka
kenaikan jumlah produksi tersebut secara wajar tentu akan menaikkan pemakaian jam kerja
Tenaga Kerja Langsung sebanyak - 4.000 x 0,2 jam - 800 jam. Atau dengan lain perkataan,
untuk realisasi produksi sebanyak 124.000 botol Produk "ABC", secara wajar dibutuhkan jam
kerja Tenaga Kerja Langsung sebanyak - 24.000 jam + 800 jam = 24.800 jam (atau =
124.000 x 0,2 jam - 24.800 jam).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seharusnya secara wajar realisasi pemakaian
jam kerja Tenaga Kerja Langsung meningkat sebanyak 800 jam karena realisasi Produk ABC
yang dihasilkan memang bertambah dengan 4.000 botol dari yang direncanakan. Namun
kenyataannya, realisasi pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung justru menurun
sebanyak 1.680 jam Ini berarti bahwa telah terjadi penghematan (efisiensi) pemakaian jam
kerja sebanyak = 800 jam + 1.680 jam 2.480 jam. Dengan sendirinya penghematan sebanyak
2.480 jam ini merupakan pe- nyimpangan (penurunan) yang tidak wajar. Penyimpangan
yang tidak wajar ini menunjukkan bahwa selama bulan Januari 2020 telah terjadinya
penghematan pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung yang dilakukan oleh karyawan di
Bagian Produksi sebanyak 2.480 jam.

Atas dasar analisis tersebut, maka penurunan pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung
sebanyak 1.680 jam tersebut dapat dipisahkan menjadi dua macam penyimpangan kuantitas,
yaitu:






UNDIKSHA 10
2021

1) Penyimpangan Kuantitas (quantity variance), yang merupakan penyimpangan kuantitas
pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung secara wajar, yang berupa kenaikan jam
kerja sebanyak 800 jam, karena memang realisasi produksi mengalami peningkatan
sebanyak 4.000 botol. Penyimpangan (kenaikan) sebanyak 800 jam ini dinilai dengan
tarip (rata-rata) upah menurut Budget Upah Tenaga Kerja Langsung, sehingga jumlah
Penyimpangan Kuantitas (quantity variance) adalah sebesar = 800 x Rp 295,20 = Rp
236.160,00. Secara sistematis, Penyimpangan Kuantitas ini dapat diformulasikan dalam
bentuk rumus, sebagai berikut:

PK = (SRS – KB) x TB

Keterangan:
PK = Penyimpangan Kuantitas.
SRS = Satuan Realisasi produksi, dengan Standar waktu.
KB = Kuantitas Budget.
TB = Tarip (rata-rata) upah per jam Budget.

2) Penyimpangan Efisiensi (efficiency variance), yang merupakan penyimpangan kuantitas
pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung secara tidak wajar, yang berupa
penurunan jam kerja sebanyak 2.480 jam, yang merupakan penghematan (efisiensi)
penggunaan jam kerja Tenaga Kerja Langsung. Penyimpangan (penghematan) sebanyak
2.480 jam ini dinilai dengan tarip (rata-rata) upah menurut Budget Upah Tenaga Kerja
Langsung, sehingga jumlah Penyimpangan Efisiensi (efficiency variance) adalah sebesar
= 2.480 x Rp 295,20 = Rp 732.096,00. Secara matematis, Penyimpangan Efisiensi ini
dapat diformulasikan dalam bentuk rumus, sebagai berikut:

PE = (KR – SRS) x TB

Keterangan:
PE = Penyimpangan Efisiensi.

Telah terjadi penyimpangan efisiensī pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung
sebanyak 2.480 jam dengan nilai sebesar Rp 732.096,00. Penyimpangan ini
menunjukkan kinerja yang bagus dari karyawan Bagian Produksi perusahaan, karena
telah menghemat (efisien) đalam pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung.
Telah terjadi penyimpangan tarif (rata-rata) upah sebesar Rp 4,70 per jam yang lebih
rendah daripada yang ditargetkan di dalam Budget Upah Tenaga Kerja Langsung,
sehingga menurunkan jumlah Upah Tenaga Kerja Langsung sebesar Rp104.904,00.
Namun karena tarip (rata-rata) upah per jam ditentukan oleh mekanisme pasar
(penawaran dan permintaan), maka penurunan tarip (rata-rata) upah per jam ini tidak
dapat dijadikan sebagai ukuran bagi kinerja karyawan yang bertugas di Bagian Sumber
Daya Manusia (SDM) perusahaan. Penurunan tarip (rata-rata) upah per jam hanya dapat
memberi tanda bahwa keadaan perekono mian negara sudah semakin membaik,
sehingga terjadi kecen derungan menguatnya nilai mata uang, yang meningkatkan daya
beli dari upah yang diterima oleh paraTenaga Kerja Langsung, meskipun tarip upahnya
lebih rendah





UNDIKSHA 11
2021

Dari Laporan Budget Upah Tenaga Kerja Langsung tersebut nampak bahwa jika dipandang dari
sudut kuantitas, ternyata realisasi pemakaian jam kerja Tenaga kerja Langsung telah
menyimpang (meningkat) sebanyak 800 jam dengan nilai sebesar Rp236.160,00 dari yang
direncanakan dalam Budget Upah Tenaga Kerja Langsung Namun peningkatan jumlah jam
kerja yang dipakai tersebut merupa kan peningkatan yang wajar karena jumlah realisasi Produk
"Titan" yang dihasilkan juga meningkat dari yang direncanakan dalam Budget Unit Yang Akan
Diproduksikan. Dengan demikian penelitian yang dila kukan oleh pimpinan (manajemen)
perusahaan akan lebih diarahkan pada mencari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
peningkatan jumlah satuan Produk "Titan" yang dihasilkan, dan bukannya diarah kan untuk
mencari faktor-faktor yang menyebabkan bertambahnya pemakaian jam kerja itu sendiri.

Dari Laporan Budget Upah Tenaga Kerja Langsung tersebut nampak pula bahwa jika dipandang
dari sudut efisiensi kerja, ternyata realisasi pemakaian jam kerja Tenaga Kerja Langsung telah
menyim pang secara positif atau menguntungkan (favourable), karena telah terjadi
penghematan pemakaian jam ke sebesar Rp732.096,00. Tentu nya pimpinan (manajemen)
perusahaan segera mengadakan penelitian tentang faktor-faktor yang menyebabkan efisiensi
tersebut terutama yang berkaitan dengan kegiatan produksi yang dilakukan oleh Bagian
Produksi. Banyak sedikitnya jumlah pemakaian jam kerja sangat diten tukan oleh aktivitas
karyawan Bagian Produksi. Dengan demikian positif atau negatifnya penyimpangan
mencerminkan kinerja dari karyawan tersebut. Dengan diketahuinya faktor-faktor penyebab
terjadinya penyimpangan, maka dapat disusun kebijakan-kebijakan tindak lanjut (follow up) yang
bertujuan untuk membuat agar penghematan itu bisa terulang kembalinya pada bulan-bulan
berikutnya.

Dari Laporan Budget Upah Tenaga Kerja Langsung tersebut nampak pula bahwa jika dipandang
dari sudut tarip (rata-rata) upah per jam, ternyata realisasi Upah Tenaga Kerja Langsung telah
menyimpang secara positif atau menguntungkan (favourable), karena telah menurunkan Upah
Tenaga Kerja Langsung sebesar Rp.104.904,00. Namun demikian penyimpangan tarip (rata-
rata) upah per jam ini lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat eksternal (di luar
lingkungan perusahaan), seperti misalnya faktor-faktor penawaran, permintaan, persaingan dan
juga kondisi perekonomian negara pada umumnya. Faktor-faktor eksternal semacam ini bersifat
tak terkendali (uncontrollable), yaitu faktor-faktor yang tidak dapat dipengaruhi atau dikendalikan
sama sekali oleh pimpinan (manajemen) perusahaan. Dengan demikian, positif atau negatifnya
Penyimpangan Tarik (rata-rata) upah per jam tidak mencerminkan kinerja dari karyawan
perusahaan. Penyimpangan Tarip (rata-rata) upah hanya memberikan informasi kepada
pimpinan (manajemen) perusahaan tentang kondisi eksternal. Dengan demikian kebijakan
tindak lanjut (follow up) yang diambil akan lebih banyak ditujukan ke arah bagaimana
perusahaan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan (perubahan) lingkungan
eksternalnya. Dengan cara yang sama dapat menyusun Laporan Budget Upah Tenaga Kerja
Langsung untuk produk dari bulan ke bulan selama tahun 2020 yang akan datang.

Dari ketiga contoh ilustrasi Laporan Budget di muka dapatlah disimpulkan bahwa untuk Laporan
Budget yang berkaitan dengan sektor penghasilan (Budget Penjualan), maka penyimpangan
yang terjadinya disebabkan oleh 2 (dua) faktor, yaitu:
1) Penyimpangan Kuantitas (quantity variance).
2) Penyimpangan Harga jual (price variance).






UNDIKSHA 12
2021

Sedangkan laporan budget yang berkaitan dengan sektor biaya (Bahan Mentah, Upah Tenaga
Kerja Langsung, berbagai Biaya Pabrik Tidak Langsung, berbagai Biaya Administrasi, dan
berbagai Biaya Pemasaran), penyimpangan yang terjadi disebabkan oleh 3 (tiga) faktor, yaitu:
1) Penyimpangan Kuantitas (quantity variance).
2) Penyimpangan Efisiensi (efficiency variance).
3) Penyimpangan Harga beli atau Tarip upah (price/rate variance).













































UNDIKSHA 13
2021

3. Rangkuman



Analisis anggaran dapat berupa Laporan Budget (budget report) ialah laporan yang sistematis
dan terperinci tentang realisasi pelaksanaan Budget beserta analisis dan evaluasinya, dari
waktu ke waktu selama periode yang akan datang. Dengan diketahuinya penyimpangan-
penyimpangan beserta sebab-sebabnya tersebut, dapatkah dinilai (evaulasi) apakah kegiatan
pelaksanaan Budget dapat dikatakan “berhasil” ataukah “gagal”, apakah “efisien” ataukah “tidak
efesien”. Berdasar hasil analisis dan evaulasi tersebut tersebut, peminpin perusahaan dapat
membuat kebijakan tindak Lanjut (follow up) untuk menghadapi periode-periode berikutnya.
Bilamana penyimpangan- penyimpangan yang terjadi bersifat positif, maka kebijakan tindak
lanjutnya diarahkan agar supaya yang positif itu akan terulang kembali pada periode-periode
berikutnya. sebaliknya , bilamana penyimpangan-penyimpangan yang terjadi bersifat negatif,
maka kebijakan tindak lanjutnya diarahkan untuk mencegah agar supaya yang negative itu tidak
terulang kembali pada periode-periode berikutnya Sebagaimana telah diutarakan di muka,
laporan budget yang berisi tentang analisis dan evaluasi pelaksanaan Budget, berguna bagi
manajemen untuk menyusun kebijakan tindak lanjut (follow up) agar pada periode periode
berikutnya perusahaan dapat berjalan lebih baik. Adapun data dan informasi yang diperlukan
untuk menyusun laporan Budget adalah : Seluruh budget yang telah disusun oleh perusahaan,
khususnya budget-budget tentang kegiatan perusahaan selama periode tertentu yang akan
datang yang tergabung dalam Budget Rugi/Laba (operating Budget). Oleh karena Budget
Rugi/Laba (profit/loss budget) mencangkup dua sektor, yaitu sektor penghasilan dan sektor
biaya, maka secara garis besar Laporan Budget juga mencangkup laporan di kedua sektor
tersebut. Semua catatan Akuntansi tentang pelaksanaan Budget-budget yang bersangkutan,
baik di sektor penghasilan maupun biaya.

Sebagaimana halnya dengan bentuk Budget-budget, bagi Laporan Budget juga tidak ada
sesuatu bentuk standar yang harus di pergunakan oleh perusahaan. Ini berarti bahwa tiap- tiap
perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan bentuk serta formatnya, disesuaikan
dengan keadaan perusahaan masing-masing. Yang perlu diingat adalah bahwa Laporan Budget
harus cukup sistematis dan terperinci, sehingga dapat memudahkan manajeman untuk
mengetahui kinerja karyawan, dan mengetahui perkembangan perusahaan, untuk kemudian
dipakai sebagai dasar untuk menyusun kebijakan tindak lanjut (follow up). (1) Analisis anggaran
Penjualan dapat berupa Penyimpangan Kuantitas PK = (KR - KB) x HB, dan Penyimpanan
Harga jual PH = (HR – HB) x KR, (2) Laporan Budget Biaya Bahan Mentah Penyimpangan
Kuantitas ini dapat diformulasikan dalam bentuk rumus, sebagai berikut: PK = (SRS – KB) x HB

Penyimpangan Efisiensi, Penyimpangan Efisiensi ini dapat diformulasikan dalam bentuk rumus
PE = (KR – SRS) x HB, Penyimpangan Harga beli ini dapat di formulasikan dalam bentuk rumus,
PH = (HR - HB) x KR, (3) Tentang Laporan Budget Upah Tenaga Kerja Langsung,
penyimpangan Kuantitas (quantity variance), yaitu penyimpangan yang telah terjadi atas
pemakaian jumlah jam kerja Tenaga Kerja Langsung dari yang direncanakan dalam Budget



UNDIKSHA 14
2021

Upah Tenaga Kerja Langsung. Secara sistematis, Penyimpangan Kuantitas ini dapat
diformulasikan dalam bentuk rumus, PK = (SRS – KB) x TB, dan Penyimpangan Efisiensi
(efficiency variance), yang merupakan penyimpangan kuantitas pemakaian jam kerja Tenaga
Kerja Langsung secara tidak wajar, Secara matematis, Penyimpangan Efisiensi ini dapat
diformulasikan dalam bentuk rumus PE = (KR – SRS) x TB.








































UNDIKSHA 15
2021

4. Soal Latihan




Pertanyaan

1) Jelaskan pengertian laporan budget?
2) Sebutkan dan jelaskan kegunaan laporan budget?
3) Sebutkan dan jelaskan data dan informasi apa saja yang diperlukan untuk menyusun
laporan anggaran?
4) Sebutkan dan jelaskan 2 faktor penyimpangan yang terjadi berkaitan dengan sektor
penghasilan (Budget Penjualan)?
5) Sebutkan dan jelaskan 3 faktor penyimpangan yang terjadi berkaitan dengan
6) sektor biaya (Bahan Mentah, Upah Tenaga Kerja Langsung, berbagai Biaya Pabrik Tidak
Langsung, berbagai Biaya Administrasi, dan berbagai Biaya Pemasaran)?































UNDIKSHA 16
2021

5. Rubrik Penilaian



NO Komponen Bobot Skor (0-4) Indikator
1 Pengertian 2 Kelengkapan Penjelasan Kelengkapan Penjelasan
Laporan Budget pengertian Laporan Budget pengertian pengertian
sangat sesuai =4, sesuai =3, Laporan Budget
kurang sesuai=2, tidak sesuai
=1, tidak menjawab=0
2. kegunaan 2 Kelengkapan Penjelasan Kelengkapan penjelasan
laporan budget kegunaan laporan budget sangat kegunaan laporan budget
sesuai =4, sesuai =3, kurang
sesuai=2, tidak sesuai =1, tidak
menjawab=0
3. Data dan 2 Kelengkapan data dan informasi Kelengkapan penjelasan
informasi yang yang diperlukan untuk menyusun data dan informasi yang
diperlukan untuk laporan anggaran sangat sesuai diperlukan untuk menyusun
menyusun =4, sesuai =3, kurang sesuai=2, laporan anggaran

laporan tidak sesuai =1, tidak
anggaran menjawab=0

4. Faktor 2 Kelengkapan penjelasan faktor Kelengkapan penjelasan
penyimpangan penyimpangan yang terjadi faktor penyimpangan yang
yang terjadi berkaitan dengan sektor terjadi berkaitan dengan
berkaitan penghasilan sangat sesuai =4, sektor penghasilan (Budget
dengan sektor sesuai dan tepat =3, kurang Penjualan)
penghasilan sesuai dan tepat =2, tidak
(Budget sesuai dan tepat =1, tidak
Penjualan) menjawab=0
5. Faktor 2 Kelengkapan penjelasan 3 Kelengkapan penjelasan 3
penyimpangan faktor penyimpangan yang faktor penyimpangan yang
yang terjadi terjadi berkaitan dengan terjadi berkaitan dengan
berkaitan sektor biaya (Bahan Mentah, sektor biaya (Bahan
dengan Upah Tenaga Kerja Langsung, Mentah, Upah Tenaga
sektor biaya berbagai Biaya Pabrik Tidak Kerja Langsung, berbagai
(Bahan Mentah, Langsung, berbagai Biaya Biaya Pabrik Tidak
Upah Tenaga Administrasi, dan berbagai Langsung, berbagai Biaya
Kerja Langsung, Biaya Pemasaran sangat Administrasi, dan berbagai
berbagai Biaya sesuai =4, sesuai dan tepat =3, Biaya Pemasaran
Pabrik Tidak kurang sesuai dan tepat =2,
Langsung, tidak sesuai dan tepat =1, tidak
berbagai Biaya menjawab=0
Administrasi,
dan berbagai
Biaya
Pemasaran)





UNDIKSHA 17
2021


Click to View FlipBook Version