PEDOMAN
PELAKSANAAN
KEGIATAN
“PEMANFAATAN LIMBAH BONGGOL JAGUNG
SEBAGAI MEDIA BUDIDAYA JAMUR KONSUMSI”
A. AJIM P., RAHMAT K., NUSAIBAH A., WAHYU S.,
DAN LUKMAN A.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PENGABDIAN MASYARAKAT
2021
Indonesia adalah salah satu Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Bonus
demografi seperti sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) harus dikelola dengan
baik untuk kemajuan bangsa dimasa mendatang. Pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam
media Kompas.com (2020) menyatakan bahwa pemerintah telah memprediksikan bahwa Indonesia
akan mendapatkan puncak bonus demografi pada tahun 2030. Pada masa-masa tersebut, jumlah
masyarakat usia produktif di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat usia tidak
produktif (Afandi, 2017). Dampak dari bonus demografi untuk Indonesia sangat besar, salah satunya
akan berdampak pada sektor perekonomian. Hal terebut menjadi perhatian pemerintah hingga saat ini.
Pemerintah Indonesia terus berusaha melakukan persiapan menyambut bonus demografi dengan
beberapa cara, seperti pemerataan dan meningkatkan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, hingga
mempercepat pembangunan infrastruktur. Sayangnya, pada tahun 2020 yang lalu data menunjukkan
bahwa angka Index Modal Manusia (IMM) Indonesia masih berkisar 0,53 dimana menempatkan
Indonesia berada pada urutan ke 87 dari 157 negara lainnya (Pratama, 2019). Permasalahan sosial
seperti kemiskinan, pengangguran, kelaparan, kekurangan gizi, stunting khususnya pada masyarakat
pedesaaan merupakan faktor yang membuat Indonesia berada pada urutan tersebut (Misdawita and
Sari, 2013).
Indonesia masih memiliki 14.000 desa tertinggal dengan permasalahan sosial yang berat dimana
desa-desa tersebut tersebar diseluruh daerah termasuk di provinsi Nusa Tenggara Barat (Agusta,
2007). Desa Tolo’Oi merupakan salah satu desa terdalam di NTB dimana desa ini merupakan satu
dari 165 desa termiskin yang ada di kabupaten Sumbawa (Antaranews, 2020). Desa Tolo’Oi terletak
di ujung timur perbatasan antara kabupten Sumbawa dan Dompu dengan akses infrastruktur yang
buruk. Hampir seluruh masyarakatnya merupakan petani jagung dengan keterbatasan pendidikan.
Namun dibalik keterbatasan tersebut, desa Tolo’Oi memiliki keberagaman suku, budaya dan agama
yang terjalin harmonis dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000 orang.
Hasil utama pertanian di desa Tolo’Oi berupa jagung dimana menghasilkan limbah bonggol
yang melimpah. Limbah bonggol jagung akan menumpuk disetiap rumah tanpa ada penanganan dan
pemanfaatan secara optimal. Saat ini, limbah tersebut hanya digunakan sebagai pengganti kayu bakar
oleh masyarakat. Selain asap hasil pembakaran tidak baik untuk pernapasan, bahan bakar dengan
menggunakan bonggol jagung juga menyumbang pencemaran udara dilingkungan (Djen, Gaspar and
Costa, 2014). Berdasarkan hasil penelitian Febriati et al. (2019), bonggol jagung mengandung nutrisi
yang baik sehingga dapat menjadi alternatif pengganti media tanam. Beberapa jenis budidaya telah
berhasil dilakukan dengan menggunakan media bonggol jagung seperti budidaya anggrek, jamur
tiram dan jenis jamur konsumsi lainnya.
Jamur merupakan jenis tanaman yang mudah dibudidayakan. Pertumbuhan jamur sangat
bergantung dengan kelembapan lingkungan dan nutrisi media. Selain itu, jamur merupakan bahan
pangan yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Menurut Rahmawati (2020) jamur masuk dalam 5
dari 10 bahan pangan yang mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan. Selain itu, jamur
mengandung beberapa senyawa bioaktif, sumber protein nabati serta serat yang baik untuk membantu
menstimulasi imunitas tubuh (Widyastuti, 2019; Astari and Roziaty, 2020).
Dengan adanya peluang-peluang tersebut, peran masyarakat khusunya pemuda sangatlah
penting dalam upaya meyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi dan budaya (Merang and Robert,
2019). Pemuda desa memiliki peran dalam menciptakan kemajuan dan kemandirian desa. Sekitar
40% dari masyarakat Desa Tolo’Oi merupakan pemuda yang aktif dalam berkegiatan untuk
membangun desa. Kolaborasi antara Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian
Masyarakat (PKM-PM) Universitas Teknologi Sumbawa dengan pemuda desa Tolo’Oi untuk
memanfaatkan limbah bonggol jagung menjadi media budidaya jamur Merang dipercaya mampu
menciptakan pemuda desa yang kreatif, inovatif, unggul dan mandiri.
Adapun rumusan masalah pada program ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana meningkatkan kapasitas kelompok Karang Taruna desa Tolo‟ Oi dalam memanfaatkan
limbah bonggol jagung sebagai media budidaya jamur Tiram dan Merang?
Tujuan pada program ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari program ini adalah meningkatkan kapasitas pemuda Karang Taruna desa
Tolo‟Oi untuk memanfaatkan limbah bonggol jagung sebagai media budidaya jamur Tiram dan
Merang.
2. Tujuan Umum
• Meningkatkan kapasitas pemuda Karang Taruna desa Tolo‟ Oi dalam optimalisasi budidaya dan
penanganan pasca panen jamur.
• Menciptakan metode-metode inovatif dan kreatif untuk meningkatkan kemandirian pemuda
Karang Taruna desa Tolo‟ Oi.
• Mendorong terbentuknya program satu desa satu produk sesuai dengan Indeks Desa Mandiri
yang di tetapkan oleh Badan Pembangunan Nasional Republik Indonesia.
• Mendorong terbentuk dan terbinannya pemuda-pemudi berwawasan wirausaha guna
mengurangi pengangguran sebagai salah satu dukungan mempersiapkan bonus demografi 2030.
Lokasi kegiatan PKM-PM Universitas Teknologi Sumbawa dilaksanakan di Desa Tolo’Oi,
Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2021.
Peserta kegiatan program ini adalah masyarakat desa Tolo’Oi berusia produktif (17-30 tahun) tanpa
ada batasan jenis kelamin dan pekerjaan.
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan PKM-PM ini adalah demonstrasi. Metode
demonstrasi adalah pemberian teori kepada peserta diimbangi dengan praktik secara langsung.
Sebelum peserta kegiatan PKM-PM melaksanakan praktik, materi pengantar dan buku diberikan
kepada peserta sehingga peserta dapat mengikuti dan memahami materi baik dari media pembelajaran
pemateri maupun buku yang diberikan.
Sosialisasi dilaksanakan sebelum kegiatan PKM-PM dilaksanakan. Kegiatan sosialisasi
diberikan dengan tujuan mengenalkan seluruh rangkaian kegiatan, PKM-PM, target peserta dan
luaran yang ingin dicapai kepada peserta kegiatan. Sosialisasi dilaksanakan bersama dengan
perangkat desa Tolo’Oi, Kabupaten Sumbawa seperti kepala desa, kepala dusun, ketua RT dan RW
serta masyarakat umum.
Pemberian materi pada kegiatan PKM-PM ini melibatkan pemateri dengan bantuan media
pembelajaran interaktif seperti power point dan video. Pemateri menyajikan 5 materi seperti
informasi umum dan proses terbentuknya media budidaya limbah bonggol jagung, proses pasca panen
jamur untuk meningkatkan daya simpannya, karakteristik produk olahan jamur, jenis pengemas dan
label produk pangan padat dan perkembangan metode marketing era digital 4.0. Setelah semua materi
diberikan, selanjutnya pelatihan secara langsung (praktik) dilaksanakan secara bersama-sama oleh
peserta dengan didampingi oleh pemateri.
Indonesia adalah salah satu negara pertanian terbesar dunia, dimana jagung adalah salah satu
hasil pertanian utamanya setelah padi. Hingga saat ini, produksi jagung terus meningkat dari tahun ke
tahun. Berdasarkan Kementerian Pertanian Indonesia (2021, produktivitas jagung nasional dari tahun
ke tahun mengalami tren peningkatan, angka sementara BPS menunjukkan bahwa produksi jagung
Nasional tahun 2015 sebesar 19,61 juta ton, mengalami peningkatan sebesar 3,17% atau lebih tinggi
0,61 juta ton dibanding produksi tahun 2014 sebesar 19 juta ton. Dan ditahun 2016, Kementerian Pe
Pertanian memproyeksikan produksi jagung naik menjadi 24 juta ton atau diharapkan
meningkat sebesar 8,8%. Selama ini, biji jagung adalah bagian yang dimanfaatkan oleh banyak pihak
untuk berbagai keperluan industri baik pangan maupun non pangan. Bonggol jagung adalah bagian
yang tidak dimanfaatkan secara optimal hingga saat ini.
Bonggol jagung memiliki kandungan serat kasar 46,52% dimana sisanya adalah protein (<5%),
lemak (<3%), karbohidrat (<5%) dan bahan organik lainnya (<35%). Berdasarkan hal tersebut,
bonggol jagung dengan pengolahan dan penambahan bahan-bahan bernutrsi dapat dimanfaatkan
sebagai media budidaya jamur konsumsi. Jamur merupakan salah satu organisme heterotrofik yang
dapat tumbuh di permukaan media tanam dengan suasana lingkungan yang lembab. Beberapa jamur
aman dimakan manusia bahkan beberapa dianggap berkhasiat obat, dan beberapa yang lain beracun.
Contoh jamur yang bisa dimakan: jamur merang (Volvariela volvacea), jamur tiram (Pleurotus), jamur
kuping (Auricularia polytricha), jamur kancing atau champignon (Agaricus campestris), dan jamur
shiitake (Lentinus edulis).
Jamur mempunyai peranan penting dalam ekosistem. Jamur merupakan decomposer (pengurai
dan menjadi penyeimbang keanekaragaman jenis jamur mampu menguraikan bahan organik seperti
selulosa, hemiselulosa, lignin, protein dan senyawa pati dengan bantuan enzim. Jamur menguraikan
bahan organic menjadi senyawa yang diserap dan digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan
(Hasanudin 2014).
Kegiatan PKM-PM diawali dengan proses pelatihan pengolahan limbah bonggol jagung yang
didapatkan secara mudah disekitar lingkungan desa Tolo’Oi. Sebelumnya, tempat budidaya jamur dari
bambu, kayu balok yang dilapisi oleh terpal telah disiapkan untuk proses budidaya jamur. Sebanyak
~60 kg limbah bonggol jagung (6 karung) ditata di dalam tempat budidaya dan ditambahkan beberapa
bahan lain seperti bekatul, urea dan ragi tape masing-masing sebanyak 7.1, 7.1 dan 0.35 % dari total
berat bahan.
Semua bahan yang digunakan dalam tahap ini dicampur secara merata dengan menggunakan
air. Setalah itu, media akan ditutup dengan terpal untuk proses fermentasi dan menghindari kontak
cahaya matahari langsung. Kelembaban udara media dan lingkungan sekitar diatur hingga jamur
merang tumbuh. Jamur akan tumbuh setelah 14 hari setelahnya dimana penyiraman dilakukan setiap
pagi dan sore selama waktu tersebut.
Bonggol jagung merupakan salah satu limbah lignoselulosa yang umumnya digunakan sebagai
pakan ternak, dibuang atau dibakar untuk mengurangi penumpukan sampah. Menurut Assan 2014
mengatakan bahwa bonggol jagung memiliki proporsi selulosa, hemiselulosa dan lignin yang tepat
untuk laju pertumbuhan miselium. Bonggol jagung mengandung nitrogen bebas 53,5%, protein 2,5%
dan serat kasar 32%. Sedangkan fosfor banyak terkandung saat awal pembungaan. Jamur tiram putih
memerlukan pupuk TSP dan NPK dalam pertumbuhannya. Unsur N dan P dapat diperoleh melalui
limbah bonggol jagung, sedangkan unsur K dapat diperoleh melalui bekatul (Purnamasari, 2013).
Hal ini terbukti dari penelitian Anik Setyaningsih (2015) bahwa dengan penambahan serbuk
bonggol jagung pada media tanam akan meningkatkan hasil yang signifikan. Pada konsentrasi media
tanam 60% bahan baku jamur ditambahkan 40% serbuk bonggol jagung mengahasilkan berat basah
yang terbaik.
Jamur merupakan jenis tanaman yang mudah di budidayakan. Pertumbuhan jamur sangatlah
tergantung dengan kelembapan lingkungan dan nutrisi media. Selain itu, jamur merupakan bahan
pangan yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Menurut Rahmawati (2020) jamur masuk dalam 5
dari 10 bahan pangan yang mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan. Selain itu, jamur
mengandung beberapa senyawa bioaktif, sumber protein nabati serta serat yang baik untuk membantu
menstimulasi imunitas tubuh metode pembudidayaan dengan media bonggol jagung ini akan lebih
maksimal dalam meningkatkan jumlah hasil produksi jamur tiram dan merang pada saat panen. Media
budidaya dari limbah bonggol jagung lebih mudah untuk ditambahkan bahan-bahan nutrisi
pendukung lainnya, seperti urea dibandingkan dengan media plastic bag yang saat ini umum
digunakan.
Secara umum limbah tanaman jagung yaitu limbah hasil panen tanaman jagung yang
ditinggalkan setelah bonggol atau buah jagungnya dipetik yang terdiri dari batang, daun, tongkonl dan
kulit jagung Proses pretreatment pengolahan limbah bonggol jagung agar bisa di manfaatkan sebagai
media tanam jamur adalah dengan cara menambahkan bekatul, ragi, air dan pupuk urea pada bonggol
jagung yang telah di sediakan, dengan kondisi yang lembap dan menghindari cahaya matahari secara
langsung.
9
Pengemasan produk merupakan salah satu cara untuk melindungi atau mengawetkan produk
pangan maupun non-pangan. Kemasan adalah suatu wadah atau tempat yang digunakan untuk
mengemas suatu produk yang dilengkapi dengan label atau keterangan – keterangan termasuk
beberapa manfaat dari isi kemasan. Pengemasan mempunyai peranan dan fungsi yang penting dalam
menunjang distribusi produk terutama yang mudah mengalami kerusakan.
Fungsi Kemasan
1. Sebagai wadah atau tempat yaitu untuk memudahkan penyimpanan produk yang berupa tepung
– tepungan, butiran, cairan dan gas agar tidak berserakan dan memudahkan pekerjaan bila akan
dipindahkan atau diangkut.
2. Sebagai pelindung Disamping sebagai pelindung bagi produk yang dikemas, kemasan juga
berfungsi untuk melindungi lingkungan sekitar produk. Bahan kemas yang akan dipilih
tergantung dari sifat – sifat produk serta kemampuannya untuk melindungi produk yang akan
dikemas. Bahan dan bentuk kemasan yang tidak memenuhi persyaratan akan menurunkan
kualitas produk yang dikemas dan bila terjadi kebocoran dapat menimbulkan malapetaka
seandainya produk yang dikemas adalah racun atau produk yang mudah terbakar. Untuk
melindungi produk dari air/udara, misalnya produk kering seperti Calsium karbida, maka kadar
airnya harus rendah untuk menghindarkan terjadinya reaksi – reaksi kimia atau kerusakan yang
ditimbulkan oleh mikroba dan bahan kemasan yang digunakan harus kedap air agar uap air
tidak bebas keluar masuk kemasan.
3. Sebagai alat persaingan dalam pemasaran Langkah pertama dalam memasarkan suatu produk
adalah menarik perhatian konsumen. Cara menarik ini diantaranya dengan menempelkan
sesuatu yang menarik pada kemasan produk tersebut, misalnya gambar bayi yang sehat dan
komposisinya bila yang dipasarkan makanan bayi. Bila langkah pertama telah berhasil, maka
peluang untuk memenangkan persaingan sudah menjadi lebih besar, selanjutnya tergantung
pada produk itu sendiri, apakah harganya terjangkau, keadaanya sesuai dengan selera
konsumen, kualitasnya baik sesuai dengan informasi/label yang telah diberikan.
Label merupakan suatu bagian dari sebuah produk yang membawa informasi verbal tentang
produk atau penjualnya. Menurut Tjiptono label merupakan bagian dari suatu produk yang
menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual. Sebuah label biasa merupakan bagian dari
kemasan, atau bisa pula merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantelkan pada produk. Sedangkan
Kotler menyatakan bahwa label adalah tampilan sederhana pada produk atau gambar yang dirancang
dengan rumit yang merupakan satu kesatuan dengan kemasan. Label bisa hanya mencantumkan
merek atau informasi.
Di samping itu ada beberapa macam label secara spesifik yang mempunyai pengertian berbeda
antara lain:
1. Label produk (product label) adalah bagian dari pengemasan sebuah produk yang mengandung
informasi mengenai produk atau penjualan produk.
2. Label merek (brand label) adalah nama merek yang diletakkan pada pengemasan produk.
3. Label tingkat (grade label) mengidentifikasi mutu produk, label ini bisa terdiri dari huruf, angka
atau metode lainya untuk menunjukkan tingkat kualitas dari produk itu sendiri.
4. Label diskriptif (descriptive label) mendaftar isi, menggambarkan pemakaian dan mendaftar
ciri-ciri produk yang lainya. Pemberian label (labeling) merupakan elemen produk yang sangat
penting yang patut memperoleh perhatian seksama dengan tujuan untuk menarik para
konsumen.
Fungsi label
1. Menurut Kotler, fungsi label adalah:
2. Label mingidentifikasi produk atau merek
3. Label menentukan kelas produk
4. Label menggambarkan beberapa hal mengenai produk (siapa pembuatnya, dimana dibuat, kapan
dibuat, apa isinya, bagaimana menggunakannya, dan bagaimana menggunakan secara aman)
5. Label mempromosikan produk lewat aneka gambar yang menarik. Pemberian label dipengaruhi
oleh penetapan, yaitu:
6. Harga unit (unit princing); menyatakan harga per unit dari ukuran standar.
7. Tanggal kadaluarsa (open dating); menyatakan berapa lama produk layak dikonsumsi. ‘
8. Label keterangan gizi (nutritional labeling); menyatakan nilai gizi dalam
Pelatihan panen jamur dilakukan setelah jamur tumbuh dengan tinggi 5 cm dengan warna putih
tanpa bercak hitam. Jamur yang memiliki bercak hitam menandakan lewat panen dan jamur telah
mengalami kerusakan. Jamur dipanen tanpa menggunakan bantuan alat dan/atau menggunakan alat
sederhana seperti gunting. Jamur yang telah dipanen kemudian dicuci dengan air bersih yang
mengalir hingga dipastikan tidak ada kotoran yang menempel pada jamur. Proses penyimpanan agar
jamur tetap segar adalah dengan melakukan penyimpan suhu rendah (<8˚C) dan untuk metode lain
adalah proses pengeringan dengan cahaya matahari.
Kegiatan PKM-PM memfasilitasi peserta untuk mendapatkan pelatihan langsung pembuatan
produk olahan jamur seperti mie jamur, bakso goreng (BASRENG) dan jamur crispy. Selain itu,
peserta juga mendapatkan praktik menentukan titik kritis kegagalan pengolahan produk serta cara
mengatasi permasalahannya.
Mengetahui cara budidaya jamur jangge sangat disarankan guna mendapatkan penghasilan
tambahan. Budidaya jamur sangat populer di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar.
Jamur janggel merupakan makanan yang menyehatkan. Jamur tjanggel mengandung kalori yang
rendah dan hampir tak memiliki lemak. Vitamin D dan B12 juga terkandung dalam jamur ini dan
sangat cocok untuk dikonsumsi.
Berikut cara budidaya jamur janggel dan perawatannya:
1. Pertama-tama buka terlebih dahulu kayu dan terpal penutup tanaman. Bila lantai terbuat dari
tanah, lakukan penyiraman untuk menambah kelembapan.
2. Setelah itu, lakukan penyiraman seriap hari pagi dan sore untuk menjaga kelembapan tanaman.
3. Lakukan penyiraman dengan sprayer. Penyiraman sebaiknya membentuk
4. kabut, bukan tetesan-tetesan air. Makin sempurna pengabutan, akan makin baik. Anda bisa
menyiramnya 2 kali sehari, tergantung suhu dan kelembapan. Anda tetap perlu menjaga suhu
pada kisaran 16-24 derajat celsius.
Hal-hal yang harus di hindari pada saat proses perawatan dan penyeriman jamur
1. Tetap menjaga kelembapan media dengan menyiram setiap hari
2. Menghindari cahaya matahari secara langsung
3. Menutup media dengan plastik atau terpal untuk menjaga kelembapan dan menghindari hama
4. Pemakaian air yang kotor
5. Suhu harus di selalu dijaga
6. Kebersihan ruang pertumbuhan dijaga untuk mencegah timbulnya hama dan penyakit. Adanya
hama dan penyakit dapat menurunkan kualitas produk dan jumlah produksinya.
Proses pasca panen adalah pemisahan bagian yang diinginkan (buah, batang, tangkai, umbi,
dsb) dari pohonnya. Panen adalah rangkai bentuk kegiatan dalam pengambilan budidaya berdasarkan
umur, waktu dan cara sesuai dengan sifat atau karakter produk. Biasanya dilakukan oleh individu atau
dengan bantuan mesin sederhana. Metode dan waktu yang tepat akan menghasilkan kriteria bahan
dengan kualitas atau mutu yang baik
Adapun faktor penentu waktu panen yaitu dapat dilihat dari kematangan tanaman, cuaca,
ketersediaan alat panen, pemetik, fasilitas pengekapan dan penyimpanan, transportasi merupakan
pertimbangan penting. Kriteria panen yang harus diperhatikan adalah waktu pemanenan yang tepat
(keterangan jam dan hari),
indeks kematanagn produk untuk dipanen, standard mutu untuk pemasaran, peralatan dan bahan
penolong yang bias dipakai, cara memetik, memotong, memisah/split, membongkar, mewadahi,
mengumpulakan, dan menyimpan sementara, cara perekrutan dan pelatihan pekerja, ;arangan
peringatan, petunjuk
Komputasi (ranah bidang ilmu budidaya tanaman) yaitu yang dihitung adalah jumlah dari suhu
rata-rata harian selama satu siklus hidup tanaman (derajat harian) mulai dari penanaman sampai
masak fisiologis, pada dasarnya terdapat korelasi positif antara suhu lingkungan dan pertumbuhan
tanaman, bisa diterapkan baik pada komoditas buah maupun sayuran
Sebelum proses pasca panen kita harus mengetahui jamur yang sudah siap dipanen, biasanya
panennya berkisar setelah 14 hari setelah tahap penanaman. Hal yang pertama yang harus dilakukan
yaitu melukakan penyortiran dan membersihkan kotoran-kotoran yang menempel. Cara
membersihkannya adalah dengan memotong akar dan pangkal tubuh buah nya kemudia lakukanlah
sortasi untuk pemisahan jamur yang terkadang terdapat yang rusak.
Untuk pemanenan jamur yang baik dapat menggunakan pisau cutter atau pisau lainnya yang cukup
tajam, serta siapkan keranjang khusus untuk menampung hasil panen. Setelah jamur disortir
kemudian lakukanlah proses pemasakan dan bisa juga disimpan dalam lemari pendingin agar tahan
lebih lama.
Setelah Jamur berhasil dipanen maka penyortiran adalah langkah selanjutnya yang harus
dilewati. Dimana proses penyortiran ini berguna untuk memisahkan jamur janggel kualitas baik
dengan jamur janggel yang tidak terlalu baik.
Pangan atau bahan pangan pada umumnya harus diproses atau diolah lebih dahulu sebelum
dikonsumsi. Pengolahan, selain itu untuk mendapatkan keanekaragaman jenis, bentuk, dan cita rasa
pangan yang berasal dari 1 atau lebih dari bahan pangan, juga dimaksudkan untuk memperpanjang
umur simpannya. proses pengolahan pangan sangat tergantung padaa karakteristik bahan. Demikian
pula proses pengolahan juga berpengaruh terhadap komponen yang terkandung dalam bahan, baik
nutrisi maupun karakteristik sensori yang diakibatkannya.
Prinsip dasar pengolahan pangan diawali dengan penanganan terhadap bahan-bahan mentah,
khususnya proses pemisahan atau penyortiran, pemilihan (sortasi), pengklasan mutu (grading),
pemisahan atau pemilahan berdasarkan kualitasnya dan penyimpanan bahan baku.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada pengolahan pangan:
1. Cara penanganan bahan entah yang tidak sesuai atau tepat.
2. Rancang bangun container yang tidak tepat.
3. Kerusakan medis.
4. Human eror yaitu kerusakan yang di akibatkan oleh operator (kurang ahli dalam bidangnya).
Proses pengolahan terdiri dari operasi yang dilakukan setelah ekstraksi mineral yang berlanjut
sampai mineral terkonsentrasi di produksi.Tahapan- tahapannya termasuk; fragmentasi, proses
graining, penggilingan, klasifikasi dan pengkonsentratan. Teknik penanganan yang baik akan
memberikan keuntungan diantaranya akan meningkatkan produktifitas, kualitas produk dan
meningkatkan kinerja. Penanganan dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan peningkatang tenaga
kerja, mesin dan ruang penyimpanan, mengurangi baha-bahan yang bersifat limbah, meningkatkan
daya control dan daya rotasi stok, meningkatkan kondisi kerja serta meningkatkan kelelahan operator
Macam-macam pengolahan jamur yang dapat dibuat sebagai produk atau makanan yaitu pepes
jamur merang, tumis jamur saus tiram, sup jamur bumbu pedas, cah jamur tahu, bola nasi isi jamur.
Setelah proses pemanenan sampai proses pembersihan jamur, maka poses selanjutnya yaitu proses
pembuatan jamur menjadi produk makanan.
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan jamur crispy yaitu ½ kg jamur janggel,jamur
tiram dan jamur merang, tepung kentacki, tepung yang sudah dicampur air, telur yang sudah dikocok,
air secukupnya, merica bubuk secukupnya, garam secukupnya, minyak goreng dan mentega,
penyedap rasa, aneka saos dan sambal sebagai tambahan. Kemudian alat-alat yang dibutuhkan dalam
pembuatannya yaitu baskom, wajan, piring, pisau pengiris, nampan, peniris/penyaring minyak, kertas
nasi dan tissue, kompor, sendok penggoreng
Langkah-langkah proses pembuatan Jamur Crispi :
1. Jamur yang sudah dipilih dalam keadaan sudah dicuci ditaruh didalam baskom, disiram dengan
air es/ air dingin supaya bentuk dan rupanya tetap segar.
2. Tiriskan jamur yang sudah direndam.
3. Masak air sampai 60ºc atau 70ºc, kemudian siramkan pada jamur tersebut.
4. Diamkan selama 15 menit, lalu bolak-balik jamur yang direndam dengan air panas tersebut
kemudian airnya di buang.
5. Kemudian suir-suir jamur dengan tangan.
6. Campurkan tepung dengan merica bubuk, garam, dan air.
7. Masukkan jamur yang sudah di suir-suir tadi ke telur lalu angkat.
8. Masukkan ke tepung yang basah.
9. Angkat dan masukkan ke tepung yang kering.
10. Panaskan minyak goreng terlebih dahulu.
11. Lalu jamur yang sudah dicampur dengan tepung masukkan ke wajan yang berisi minyak goreng
yang sudah dipanaskan.
12. Tunggu sampai jamur tersebut terlihan seperti warna keemasan (agak garing) lalu angkat dan
tiriskan.
13. Siapkan nampan yang dilapisi kertas nasi/tissue lalu jamur crispi renyah siap di sajikan.
14. Supaya lebih enak sajikan dengan berbagai saos/sambal.
15. Kemas jamur crispi dengan berbagai ukuran kemasan 25 gr, 50 gr, 75 gr, 100 gr, dan 125 gr.
Kemasan plastik dan label printed sticker telah disipankan untuk pelatihan tahap ini. Peserta
melakukan secara langsung proses pengemasan produk dan penempatan sticker yang baik. Setelah itu
peserta juga mempraktekkan bagaimana melakukan proses sealing menggunakan alat sealer biasa dan
vakum.
Setelah semua tahapan selesai, peserta melakukan praktik pembuatan beberapa akun
marketplace yang ada di Indonesia seperti shopee, instagram dan facebook marketplace. Setelah
proses pembuatan akun selesai, tim PKM-PM telah menyiapkan foto dari produk-produk kegiatan
sehingga peserta dapat praktik upload foto produk, menentukan harga jual dan membuat deskripsi
yang menarik disertai kata kunci.
17
Kegiatan PKM-PM dengan memanfaatkan limbah bonggol jagung sebagai media budidaya
jamur memiliki dampak yang besar untuk masyarakat khususnya peserta kegiatan di Desa Tolo’Oi,
Kabupaten Sumbawa. Hampir seluruh peserta kegiatan mengalami peningkatan kapasitas dalam hal
keilmuan mengolah limbah bonggol jagung di lingkungan mereka. Selain itu, peserta juga memahami
tentang penanganan pasca panen jamur, pengolahan produk olahan jamur, pengemasan dan pelabelan,
dan media marketing digital untuk produk yang akan dijual. Saran untuk kegiatan Pengabdian
Masyarakat kedepan adalah membuat lokasi pembuangan limbah bonggol jagung di Desa Tolo’Oi
yang terpusat sehingga masyarakat akan lebih mudah dalam mengolahnya.