Ki Hadjar Dewantara
Nama:Faturrahman aspian.a
Kelas:X-TITL2
No.Abs:11
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas membuat E-Book ini.
Adapun tujuan dari saya membuat ini adalah untuk memenuhi nilai simulasi
digital. Selain itu, ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Jendral
Soedirman bagi para pembaca dan juga bagi saya sendiri sebagai penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Habibah, selaku guru pada
bidang Tehnik instalasi tenaga listrik pelajaran Simulasi Digital yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan
sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan ini.
Saya menyadari, yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran ibu yang akan membangun saya nantinya agar lebih
bagus.
Balikpapan,7 Mei 2021
Faturrahman aspian.a
DAFTAR ISI
kata pengantar…
daftar isi…
BAB I PENDAHULUAN
1.Biodata Ki Hadjar Dewantara
2.Masa kecil Ki Hadjar Dewantara
BAB II Masa perjuangan
1.Latar Belakang Perjuangan Ki Hadjar
Dewantara Dalam Memperjuangkan
Pendidikan Nasional
2.Taman Siswa & Warisan Perjuangan Ki Hajar
Dewantara
Daftar pustaka…
Bab 1
A.Biodata Ki Hadjar Dewantara
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EBI: Suwardi
Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar
Dewantara, EBI: Ki Hajar Dewantara, beberapa
menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar
Dewantoro; lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 –
meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur
69 tahun;[1] selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi"
atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan
Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan
bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan
Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa,
suatu lembaga pendidikan yang memberikan
kesempatan bagi para pribumi untuk bisa
memperoleh hak pendidikan seperti halnya para
priyayi maupun orang-orang Belanda.
B.Masa kecil Ki hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara yang nama kecilnya Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, lahir
di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Beliau putera dari Pangeran Soerjaningrat
dan cucu dari KGPAA Paku Alam III, salah seorang bangsawan Pakualaman di
Yogyakarta.
Sebagaimana lazimnya anggota keluarga bangsawan, Ki Hadjar Dewantara kecil
tinggal bersama keluarga dalam lingkungan bangsawan Pakualaman di Yogyakarta
yang serba mewah dan berkecukupan. Berangsur-angsur sesuai tingkat usianya, Ki
Hadjar Dewantara kecil diberi pelajaran mengaji, menari, memukul gamelan
(karawitan), membaca buku-buku sastra Jawa dan perang-perangan. Sesekali oleh
pengasuhnya diajak keliling untuk memahami keadaan di dalam dan di luar
lingkungan kebangsawanan yang situasinya sangat berbeda.
Ki Hadjar Dewantara memang dilahirkan dengan bakat cerdas, berperasaan halus
dan berkemauan keras. Melalui belajar mengajinya beliau memiliki keimanan dan
ketaqwaan yang tinggi terhadap Tuhan Yang Maha Esa, di samping itu beliau juga
dapat bersikap jujur, adil dan selalu mendambakan kebenaran. Melalui pelajaran
menari dan karawitan, beliau bersikap santun (etis) dan senang akan keindahan
(estetis). Melalui pelajaran kesusasteraan Jawa, beliau mempunyai wawasan hias
tentang kebudayaan. Dan melalui belajar perang-perangan beliau dapat
menanamkan jiwa sportif yang konsisten dan konsekuen.
Khusus mengenai pengamatannya terhadap lingkungan dalam dan luar keraton, Ki
Hadjar Dewan tara kecil mendapatkan kesan tersendiri. Beliau selalu menanyakan
kepada pengasuhnya, siapa-siapa saja yang berada di luar lingkungan keraton dan
mengapa mereka berbeda. Atas jawaban yang obyektif dari para pengasuhnya,
timbullah perasaan ingin mengangkat derajat rakyat banyak (masyarakat). Ingin
menyejahterakan dan membahagiakan semua masyarakat secara bersama-sama.
Bab 2
A.Bentuk Perjuangan Ki Hajar Dewantara
Di bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, pada 3 Juli 1922.
Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik, agar
mencintai bangsa dan Tanah Airnya, serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Prasarana Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan Nasional dan penyelenggaraan/pembinaan
perguruan nasional, diterima oleh Kongres Perkumpulan Partai-partai Politik Kebangsaan
Indonesia (PPKI) di Surabaya. Dalam kongres yang berlangsung 31 Agustus 1928 tersebut, Beliau
mengemukakan perlunya pengajaran nasional sebelum bangsa Indonesia mempunyai
pemerintahan nasional sendiri.
Di bidang pers, bagi Ki Hadjar Dewantara majalah atau surat kabar merupakan wahana yang
sangat penting bagi suatu lembaga untuk menyebarkan cita-citanya kepada masyarakat. Oleh
karena itu, beliau menerbitkan brosur dan majalah "Wasita" (tahun 1928-1931), selanjutnya
menerbitkan majalah "Pusara" (1931). Di samping kedua majalah tersebut, Ki Hadjar Dewantara
juga menerbitkan Majalah "Keluarga" dan "Keluarga Putera" (1936).
Sedangkan di bidang kesenian, Ki Hadjar Dewantara mengarang buku methode/notasi nyanyian
daerah Jawa "Sari Swara", diterbitkan tahun 1930 oleh JB. Wolters. Dari buku tersebut, Ki Hadjar
Dewantara menerima royalty, untuk membeli mobil Sedan Chevrolet. Sebelumnya, beliau pada
tahun 1926 menciptakan lagu/gendhing Asmaradana "Wasita Rini" diperuntukan bagi para
anggota Wanita Tamansiswa.
B.Pendirian Taman Siswa
Pendirian Taman Siswa merupakan bentuk perlawanan Ki Hadjar Dewantara terhadap
deskriminasi pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Dalam buku Munculnya Elite Modern Indonesia (2009) karya Robert Van Niel, pada masa Politik
Etis (1901-1916), Belanda menerapkan sistem pendidikan bertingkat sesuai dengan status sosial
masyarakat Indonesia.
Baca juga: Dampak Kolonialisme dan Imperialisme di Bidang Pendidikan
Rakyat jelata hanya diberikan pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD), sedangkan kaum priyayi
dan bangsawan Eropa diperbolehkan untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan, banyak kaum
priyayi yang mendapat akses untuk berkuliah di Eropa.
Dengan kondisi sosial dan pendidikan yang seperti itulah, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman
Siswa sebagai sarana perjuangan melawan kolonialisme Belanda.
C.Ajaran Taman Siswa
Organisasi Taman Siswa mengajarkan tentang dasar-dasar kemerdekaan bagi masyarakat
pribumi Indonesia.
Ajaran kemerdekaan yang dimaksud Taman Siswa adalah kemerdekaan yang berasal dari diri
sendiri.
Pendidikan di Taman Siswa selalu menekankan kepada siswanya untuk tidak bergantung kepada
orang lain dan tetap berpegang teguh pada prinsip berdikari (berdiri di kaki sendiri).
Baca juga: Biografi Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Bangsa
Pada perkembangannya, ajaran Taman Siswa menjadi dasar bagi kaum pribumi Indonesia untuk
melakukan perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme Belanda.
1.https://repository.uinjkt.ac.id
2.https://id.wikipedia.org
3.https://news.detik.com
Terimakasih