The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pidi Baiq - Dilan 1 (Full)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-01-28 02:15:37

Dilan 1

Pidi Baiq - Dilan 1 (Full)

15. PUTUS DENGAN BENI

Hari itu aku masih tidak sekolah, karena surat izinnya berlaku sampai selama tiga hari.
Aku mendapat telepon dari Dilan. kira-kira saat di sekolah sedang waktunya istirahat.

-Hey||, kusapa dia
—Aku lagi istirahat nih. Capek!||, j a w a b Dilan. suaranya t e r e n g a h - e n g a h begitu
- H a b i s ngapain gitu?||
- B e l a j a r ||
- H a ha ha||
- K e n a p a ketawa?||
- G a apa-apa. Kenapa e m a n g kalau ketawa?||
—Aku senang mendengarnya||
- H e he he kamu sudah makan?||
—Aku tadi sudah makan belum?|| Dilan kayaknya nanya ke orang yang ada di
sebelahnya
- N a n y a ke siapa?||
- I n i , ibu-ibu. yg lagi antri nunggu telepon||
- H a h ? Ha ha ha ngapain? ||. T a n y a k u . Dilan m e m a n g n e l e p o n m e n g g u n a k a n t e l e p o n
umum
- B u , m a u k e n a l a n gak s a m a Lia?||, dia pasti n a n y a lagi s a m a o r a n g y a n g lagi antri
itu,||Enggak katanya! Sombong||, sambung Dilan
- H a ha ha. Bilangin ke dia, nanti m e n y e s a l gitu||
- M a l u ||
- T a d i k a m u gak malu n a n y a - n a n y a dia?||
- O h iya. Bentar. Bu. nanti m e n y e s a l lho||
- H a ha ha ha ha||
- C a n t i k ibu!||
- H a ha ha ha ha||
—Mau n o m o r t e l e p o n n y a gak?!||, dia masih n a n y a ke o r a n g y a n g antri itu.
- H a ha ha jangan dikasihin, Lan, biar dia cari sendiri ||
- E h j a n g a n kenal deh, Bu||
-Kenapa?||, kutanya
—Nanti ibu j a d i cinta||
- H a ha ha ha lesbi||
- S a i n g a n deh s a m a aku||
- H a ha ha ha ha||
- T a p i aku lagi sedih, Bu. dia tiga hari gak sekolah||
- H a ha ha Besok sekolah. Bilangin||
- B i l a n g ke siapa?||
- K e kamu||
- H a ha ha ha ha ha||
Dilan! Aku tahu sebenarnya tidak ada ibu-ibu yang lagi antri di situ. Itu cuma pura-
pura. Tapi gak apa-apa. Dilan. terimakasih. aku senang.
- L i a , udahan dulu ya||
-lya||
- J a n g a n lupa apa?||
- J a n g a n lupa apa?||, aku t a n y a balik
- I n g a t a n ||
- H a ha ha ha ha||
—Sun jauh jangan?||
—Ng...boleh d e h ||
- E h , j a n g a n deh||

www.perpustakaanebook.com

-Kenapa?||

- K e n a p a ya? Malu ngomongnya||

- M a s a Dilan malu?||

- O k e . Jangan sun jauh, nanti aja sun dekat||

- H a ha ha ha ha ha ha. Si ibu itu masih ada?||

-Terbang!

- T e r b a n g ? Kok bisa?||

-Ibunya burung!

—Iiiiihh! Ha ha ha ha||

Habis Dilan nelepon, aku tiduran di kursi. Tadinya aku mau nelpon Beni. tapi dia

pasti sedang sekolah. Nanti saja, nanti sore. Kurebahkan badanku sambil membaca koran

Pikiran Rakyat, dan aku terkejut karena ada kartun di kolom Humor dengan tandatangan

Dilan sebagai pembuatnya!

Aku nyaris tak percaya, sampai membuatku terduduk untuk lebih memastikan

bahwa kartun itu benar-benar karya Dilan. Iya betul itu bikinan dia! Kenapa tidak bilang,

Dilan? Asli, aku terperangah! Aku bawa masuk koran itu ke kamar, sambil telungkup

kulihat lagi kartun itu!

Tiba-tiba terdengar suara telepon rumah berdering. Si Bibi yang ngangkat. katanya

itu dari Beni.

Dengan sangat malas kuterima telepon dia. Ini saatnya aku harus bersikap tegas.

- G i m a n a , Beb?||, Beni nanya

- G u e Milea, Bukan Beb. Gue Pelacur||. jawabku. Heran aku bisa berani bilang gitu.

Heran, biasanya aku bersikap lemah ke dia. Heran, belakangan ini aku selalu merasa

yakin bahwa aku akan aman ada Dilan.

- O k e , j a n g a n dibahas lagi soal itu. Gimana?||, dia nanya

- G i m a n a apa?||

- M a a f i n gue, Lia. gue ngaku gue khilafll

- U d a h gue maafin||

- M a k a s i h . Gue gak bisa pisah dari elo||

- E l o kan laki-laki. masa gak bisa sendiri?||

- H a ha ha maksud gue, gue ingin terus jalan sama elu||

- K a l a u gue ga mau?||

- P l e a s e , tolong mengerti gue. Gue ga ada artinya tanpa elu||

- M a k s u d lu. kalau tanpa gue, lu cowok yang ga ada artinya?!

- I y a . Lia||

- G u e nyari c o w o k y a n g punya arti buat gue||

- L i a , tolong gue||

- G u e butuh laki-laki yang bisa nolong gue. bukan yang minta tolong||

- P l e a s e , Lia, gue gak tau harus gimana, tolong mengerti, gue ||

-Kenapa lo nangis?!

- G u e gak tau. please. terima gue apa adanya||

- M a k s u d lu. gue harus nerima lu apa adanya yang bilang gue pelacur?||

- U d a h j a n g a n bahas itu lagi. Gue nvesel. Gue..gue..||

- L u mau nerima gue apa adanya?||

—Iya, Lia. Gue nerima elu apa adanya||

- N e r i m a gue yang lagi mencintai seseorang di Bandung?|;

- J a d i lu bener sama dia?||

- M a k s u d lu. sama orang yang lu tampar itu?||

-lya?||

- B u k a n dia||

-Siapa?!

- S i a p a pun orang itu, elu mau nerima gue apa adanya yang lagi mencintai

www.perpustakaanebook.com 2 of 3

seseorang? ||
- C a p e k gue!!!! ||
-Istirahat kalau capek! Cuma masalah begini, elu sudah mengeluh||
- E l u j u g a mengeluh dengan sikap gue kan!!??||, Beni mulai keliatan aslinya
- G u e mengeluh karena punya cowok m a c e m elo||
- S e t a n ! ||
- J a n g a n nelepon dengan setan!||
—Anjing!||, Beni menutup teleponnya.
Aku kembali ke kamar dalam tatapan Si Bibi yang ingin tahu ada apa gerangan. Aku

tidak nangis. Aku marah. Sedikit banyak, sekarang semua sudah tahu siapa Beni. mudah-
mudahan jadi maklum, kalau misal harus kupilih Beni atau Dilan, aku akan memilih pergi
dari Beni. Terserah kau mau bilang apa, tapi aku yakin, jika kau adalah diriku, kau akan
bersikap sama denganku!

www.perpustakaanebook.com

16. SUSIANA

Hari itu, aku masuk sekolah lagi bersama pagi yang inclah di Bandung. Selalu begitu
rasanya. Menembus kabut tipis bersama Revi dan Agus, menyusuri jalan untuk menuju
sekolah. Aku menoleh ke belakang untuk suara motor yang datang: Dilan!

Ini jarang terjadi, biasanya Dilan datang ke sekolah, selalu setelah aku sudah sampai
di sekolah.

Motor itu makin mendekat diiringi oleh perasaanku yang senang. Ya senang,
bercampur degdegan. Aku yakin. Dilan akan segera di sampingku bersama motornya
yang dibikin pelan untuk menyamai kecepatanku berjalan.

Aku harus pura-pura tidak tahu bahwa ada dia di belakang, meskipun ujung mataku
sudah siap menunggu untuk memastikan apakah dia sudah ada di sampingku atau
belum. Kurangkai kata-kata untuk menjawab Dilan kalau nanya.

Yes, motor itu sudah ada di sampingku, tapi tidak seperti yang kuduga, dia terus
maju melewati kami. Heh? Kenapa Dilan? Kau tahulah bagaimana rasanya mengetahui
dia lewat begitu saja.

Seolah-olah aku ga ada. Aku nyaris sedih, tapi gak jadi. karena kulihat dia putar balik
motornya dan berjalan di sampingku

- H e y , kamu Milea ya?||
—Ha ha ha ha ha||, aku ketawa, aku tahu harusnya aku tidak ketawa. T a p i gak tahu
kenapa ketawa.
- B o l e h gak aku meramal?||, dia nanya
- H a ha ha ha ha Kita akan berjumpa di kantin?!
- K i t a tidak akan berjumpa di kantin||
- H e he he Jumpa di mana?||
- D i sini||
- H a ha ha ha||
—Pagi. Agus. Revi ||, dia m e n y a p a A g u s dan Revi
-Pagi||, jawab Agus dan Revi
- K e aku enggak?||, tanyaku
- N a n t i di warung bi Eem||
—Kok?||
—Nanti istirahat kuajak kamu ke warung Bi Eem. Jangan mau||
-Kenapa?'
- N a n t i kamu menyesal||
- H a ha ha enggak||
- E n g g a k apa?||
- E n g g a k nolak||
- A k u sudah tahu. Nanti kujemput||
-lya||
Lalu Dilan meminta Agus untuk membawa motornya ke sekolah. Asalnya Agus gak
langsung mau. tapi akhirnya dia mau. Agus ke sekolah bersama Revi naik motor,
meninggalkan aku dan Dilan berjalan berdua menyusuri jalan basah sisa hujan semalam.

www.perpustakaanebook.com

- K a m u tahu gak nama jalan ini sudah kuganti?||
- J a d i jalan apa?|
- J a l a n Milea||
- H a ha ha||
- J a l a n M i l e a dan Dilan||, k a t a n y a
- J a l a n Milea dan Dilan Sang Peramal||
- J a l a n Milea dan Dilan Sang Peramal Yang Semalam Mikirin Milea||
- K e n a p a m i k i r i n aku?||, k u t a n y a
- A k u hanya mikir yang senang-senang||
- K a m u s e n a n g m i k i r i n aku?||
- M a l a h bingung||
—Kenapa? ||
-Bingung bagaimana menghentikannya||
- M e n g h e n t i k a n apa?||
—Mikirin k a m u ha ha ha||
- H a ha ha ha emang ingin berhenti?||

-iyall
—Kenapa?||
—Harus selalu dekat, biar enggak perlu kupikirin||
- H a ha ha ha ha ha||
- K a m u bagus ketavvanya||
- K a m u juga bagus)
-Kita bersaing!
- H a ha ha ha ha||
Tidak berasa, kami sudah sampai di sekolah. Dilan mengantarku masuk kelas,
sampai aku duduk di bangku! Beberapa kawanku tahu itu. juga Nandan yang lagi ngobrol.
Kemudian Dilan pergi, untuk masuk ke kelasnya. Terimakasih. Dilan! Dilanku
Hari itu adalah hari pertama aku jalan kaki berdua dengan Dilan. Banyak
manfaatnya, banyak sekali. Aku jadi tahu nomor telepon rumah Dilan. aku jadi tahu
memang benar dia pembuat kartun yang dimuat di koran Pikiran Rakyat itu. Manfaat
utamanya sih. tentu saja: aku senang!

www.perpustakaanebook.com

Tapi, ada khabar dari Rani, katanya, dua hari lalu dia melihat Susi naik motor dengan
Dilan pas pulang sekolah. Namanya Susiana. anak kelas 2 Sosial 2. Kata Rani Susi
memang pengen ke Dilan. Iya, aku sudah denger cerita itu, sedikit, tepatnya seminggu
yang lalu dan lupa belum kuceritakan soal dia.

Susiana, dia cantik. Katanya anak pemilik toko emas Indah Jaya di Parahyangan
Plaza. Dua kali, aku pernah lihat dia di kantin, berisik bersama teman-temannya
menguasai ruangan. Dilihat dari sikap dan perilakunya, selain dia itu bossy, kukira dia
anak gaul.

Memang iya. Kata Rani, Susi suka main ke sana. ke Stuido East di Cihampelas. atau
ke Lisptick Roller Disco bersama teman-temannya, di Palaguna Plaza (Daerah alun-alun
Bandung). Itu, mungkin semacam tempatnya dugem anak-anak remaja. Rani juga pernah
diajak Susi. lupa ke mana itu. pokoknya daerah Ganesha. ngecengin anak ITB yang lagi
pada ospek.

Aku gak tahu sejauh mana hubungan Dilan dengan Susi. Kupikir hal itu hanya
hubungan biasa saja. Aku merasa tidak perlu lebih jauh untuk tahu. Itu urusan Dilan dan
Dilan bukan pacarku.

Apalagi dengan adanya kasus Beni di Jakarta tempo hari. nyaris tak sempat bisa lagi
kupikirkan.

Tapi dengan adanya berita bahwa Susi naik motor dengan Dilan. terus terang, aku
jadi langsung cemburu. Termasuk jadi ingin tahu sudah sejauh mana hubungan Susi
dengan Dilan. Maksudku, ya, aku tahu. aku memang belum jadi pacar Dilan. tapi kalau
benar Susi pacaran dengan Dilan. ngapain Dilan selalu berusaha mendekatiku?

Api cemburu, yang nyala, langsung bikin aku lemas hari itu. dan aku jadi males
belajar, termasuk jadi merasa males ketemu Dilan lagi. Aku merasa gak perlu bersaing
dengan Susi. Gak perlu. Kalau Dilan mau sama dia, ya sudah, silakan sama dia, apa hakku
melarangnya. Tapi tentu saja aku gak akan lagi meladeni apa pun yang ia lakukan
kepadaku sejak itu.

Aku ingin nanya ke Rani. soal sudah sejauh mana hubungan Susi dengan Dilan. tapi
aku urungkan, pertama: karena kami tidak bisa bebas ngobrol berbanyak-banyak di saat
sedang belajar, kedua aku harus pura-pura bersikap biasa mendengar cerita Rani soal
Susi. Rani gak perlu tahu bagaimana perasaanku.

Jam istirahat sudah tiba, Dilan datang ke kelasku untuk ngajak aku ke warung bi
Eem. Tapi kubilang aku gak bisa, karena ternyata masih lemas. Tentu saja aku bohong.
Iya, ga apa-apa. katanya dan juga bilang, dia akan berdoa di warung Bi Eem bersama
teman-teman atheis, biar aku bisa segera lekas pulih. Atheis? Berdoa? Ah pasti dia
bercanda! Makasih. kataku dan dia pergi.

Dilan pasti kecewa, aku langsung merasa bersalah. Mengapa aku harus menilainya
dengan dasar masih cuma praduga? Mengapa harus menilai dia dengan pengetahuan
yang belum pasti soal fakta yang sebenarnya? Mengapa tidak memilih ikut dengannya, ke
warung Bi Eem. dan tanyakan langsung kepadanya?

Akhirnya aku pergi juga ke warung Bi Eem. Sendiri, di bawah naungan langit
mendung. Di sana ada Anhar yang lagi main gitar, ada Piyan dan beberapa orang lainnya
yang tidak begitu kukenal.

Kutanya Piyan:
—Piyan, ada Dilan? ||
- D i l a n ? Belum ke sini||
—Tadi kukira dia ke sini||
—Belum. Biasanya ke sini. Ada apa. Lia?||
- E n g g a k . Ga ada apa-apa||
- T u n g g u aja||, kata Anhar sambil menghembuskan asap rokoknya
—Aku mau ke kelas lagi aja||
- O h iya||

www.perpustakaanebook.com

—Piyan....||

-iyall tadi aku ke sini....||
-Bilang ke Dilan

- O k e , Lia||

Ketika hujan turun, aku sudah sampai di kelas. Kawan-kawanku masih pada jajan di

kantin.

Sunyi sekali rasanya. Cuma ada aku sendirian, duduk di bangku, merebahkan kepala

berbantal tas sekolah. Suara hujan itu, seperti mewakili perasaanku. Sunyi menguat, dari

mataku, air mengalir, sedikit, pelan melelehi pipiku: Dilan, kamu di mana? Maaf!

Hujan sudah reda. Kawan-kawan berangsur pada masuk ke kelas. Kuambil buku

pelajaran dari dalam tasku, dan kubaca, sekedar untuk menggambarkan bahwa aku

normal-normal saja. seorang Milea yang baru sembuh dari sakit dan memilih tinggal di

kelas untuk menghabiskan waktu jam istirahat dengan membaca.

Nandan menyapaku, juga Rani. Jam istirahat belum habis, masih ada sisa untuk

basa-basi dengan mereka. Ketika sekonyong-konyong aku mendengar raungan motor di

luar pagar sekolah. Pasti jumlahnya cukup banyak, karena sangat ribut sekali, kira-kira

ada 20 motor.

Siswa dan guru pada keluar dari tempatnya, termasuk aku, untuk ingin tahu ada apa

gerangan.

Pak Suripto teriak ke Mang Uung, penjaga pintu gerbang sekolah:

—Tutup, M a n g Uung!||

Mang Uung menutup pintu itu. Terjadi hiruk pikuk tapi sekaligus seperti panik.

-Siapa?||. aku tanya Nandan

- G a tau! ||

Pengendara motor itu, berseragam sekolah dan pada bawa samurai sambil

menggerung-gerungkan motornya. Mereka teriak

—Anhar!!! Kaluar, Anjing!||

Mereka melempari sekolah. Kaca jendela kelas yang dekat pintu gerbang pada pecah

terkena lemparan batu

Nampak guru-guru memerintahkan semua siswa untuk masuk dalam kelas. Aku juga

masuk dan bingung, ada apa ini? Kata Rani, itu gengmotor SM A lain. Mereka mencari

Anhar. Anhar pasti bikin ulah. Heh? Tadi aku lihat Anhar di warung Bi Eem. Dilan, di

mana kamu? Mendadak aku panik.

- L i a mau kemana?!!||, Rani teriak mencegahku yang lari membuka pintu untuk

keluar dari kelas.

- L i a ! ||, b e b e r a p a k a w a n y a n g lain j u g a t e r i a k m e n c e g a h k u .

Ya, aku lari dan masuk kelas Dilan. Tapi di sana tak ada Dilan! Tak ada Piyan!

Kutanya kepada kawannya di mana Piyan? Mereka bilang belum masuk. Mereka pasti

masih di warung Bi Eem!

Para penyerang itu, masih teriak memanggil Anhar, melempar batu dan nabrak-

nabrak pintu gerbang. Serius, aku kuatir ada apa-apa dengan Dilan, dan juga Piyan. Aku

tidak tahu harus gimana. Tanganku sampai berkacak pinggang, seperti ekspresi

campuran antara bimbang dan kesal, sambil memandang mereka dari dalam kelas

bersama siswa lainnya yang pada tegang.

Aku kesal pada mereka yang nyerang itu. Maksudku, mereka pasti akan mengapa-

apakan Dilan, jika berhasil ditemukan, karena Anhar adalah bagian dari Dilan di dalam

satu kelompok.

Imajinasiku berharap aku bisa mudah mennghadirkan ayahku, yang datang bersama

kawan-kawannya, satu kompi, menembaki mereka!

Mereka akhirnya pergi, ya Tuhan, tapi menuju warung Bi Eem! Aku berpikir buruk,

mereka bertemu Dilan di sana. Mengeroyoknya dengan batu dan samurai! Aku terduduk

di bangku, lemas selemas-lemasnya, dan bimbang. Kenapa mereka nyerang sekolah pada

www.perpustakaanebook.com 4 of 7

waktu istirahat?
Kenapa tidak saat pulang sekolah kalau benar nyari Anhar? Kelak, Dilan menjelaskan

kepadaku bahwa mereka melakukan strategi yang salah!
Polisi datang, dua truk, tapi Penyerang sudah hilang. Aku melihat beberapa polisi

masuk ke ruang guru, mungkin untuk meminta keterangan. Belajar diliburkan. Aku baru
saja keluar dari toilet ketika Dilan datang menemuiku di sana. kami bicara sambil berdiri
berhadapan

- T a d i kemana?||, kutanya dia. Aku melihat matanya nampak cemas
- K a m u tidak apa-apa?|| dia balik nanya sambil meraih satu tanganku dan kubiarkan
- T a d i kemana?|| kutanya dia
—Ada ||
—Kemana?!!||, kutanya lagi
- D i belakang gereja||. dia menyandarkan punggungya ke tembok, seperti orang yang
baru selesai dari rasa gelisah.
- K a m u ya? ||
- B u k a n . Bukan aku. Itu Anhar||
- K a m u juga! ||
-Enggak. Lia. Nanti, nanti kujelaskan||
—Aku mau ke kelas||, kataku sambil pergi. Dilan nyusul.
- D i mana Piyan?||, kutanya tanpa m e n o l e h kepadanya
- M a s i h di belakang gereja||
- G e n g s t e r brengsek!||
Kami berjalan menyusuri lorong kelas. Orang-orang sibuk dengan bahasan mereka
tentang apa yang tadi terjadi. Aku merasa sebagian orang memandang kami. terutama ke
arah Dilan. Entah apa dalam pikiran mereka, yang pasti pikiranku bagai melayang tak
karuan. Masih bisa kurasakan sisa-sisa panik, cemas dan kegelisahan.
Dari depan kantor sekolah. Pak Suripto berdiri memanggil Dilan.
- A k u ke sana dulu, Lia||, katanya, tapi tidak kujawab.
- N a n t i pulangnya kuantar||, dia n g o m o n g lagi
- S u d a h sana||
-lya||
Aku merasa, semua mata memandang ke arah Dilan. yang berjalan nemui Pak
Suripto. Aku tidak. Aku terus berjalan dan masuk ke kelas. Rani nanya soal Dilan ketika
aku sudah duduk.
Kubilang gak tahu. Kata Rani. tadi Dilan nemui Rani nanyain aku
—Iya, tadi ketemu Dilan. Sebentar||.
- A p a katanya?||. Rani nanya
- G a ngomong apa-apa||
-Oh||
- A k u gak mau ngebahasnya||
Wati datang bergabung dengan kami:
- I n i si Anhar!||
- E m a n g kenapa sih dia?||. kutanya Wati
—Kemaren dia malak! Ga ngasih. terus dia pukulin anak itu||
- S a m a siapa malaknya?||
-Sama temen-temennya||
—Iya siapa? ||
- T e m e n dia||
- A n a k sekolah sini?||
—Bukan. Gak tahu anak mana||
—Wati tahu dari siapa?||
- S i Piyan. tadi pagi||

www.perpustakaanebook.com

- D i l a n tahu?||
—Mungkin ||
—Bukan. Bagaimana orang itu tahu y a n g malak si A n h a r anak sekolah sini?||
- G a k ngerti||
- S i Anharnya di mana sekarang?||
- G a k tau. Kabur dia||
Dilan tidak mengantar aku pulang. Dia harus ikut ke kantor polisi. Aku pulang
bersama Wati, Rani, Nandan dan Revi sampai ke pertigaan jalan, kemudian berpisah
untuk naik angkot ke arah tujuannya masing-masing. Aku naik angkot bersama Revi.
Itulah hari yang paling menegangkan dalam sejarah hidupku bersama Dilan. Atau
tidak cuma itu.
Masih ada banyak lagi yang lainnya. Aku akan ceritakan semuanya, entah apa
tujuanku, aku cuma ingin cerita, seperti ada yang mendorongku untuk harus.
Suamiku SMS, dia bilang katanya mau tidur di kantor. Ya sudah. Selamat
menjalankan ibadah lembur. Bob Dylan masih nyanyi. Gak capek-capek. Baiklah
kutemani, kebetulan aku masih belum ngantuk bersama kopi yang sudah kubuat barusan
tadi. Oke. aku teruskan ceritanya: Malamnya, Dilan nelepon. Dia jelaskan duduk
persoalannya, persis seperti yang Wati ceritakan.
- T e r u s , apa kata polisi?||. kutanya dia
- M e r e k a bilang aku manis||
—Aku serius||
- M e r e k a bilang j a n g a n terlalu serius||
-Terserah! Kukira kamu ditahan?!
-Jangan ditahan-tahan||
- H a ha ha ha||
- K e n a p a ketawa?||, dia nanya
- G a k boleh?|| aku balik nanya
- K a t a n y a kamu serius?||
- O k e aku serius. Boleh aku nanya serius?'
-Boleh||, katanya
- S i a p a Susi? Susiana?||
- P e r e m p u a n ||
-Pacarmu?!
—Bukan ||
- J u j u r ! ||
- D i a ingin jadi pacarku. Tapi aku gak mau. Dia pernah datang ke rumah, aku
sembunyi dalam lemari besar||
-Terus?!
—Ngobrol sama ibuku, bantu-bantu masak di dapur. Dia mau ambil hati ibuku||
-Terus?!
—Aku pengap dalam lemari||
- H a ha ha terus?||
- I b u masuk kamar. Untung gak buka lemari, lalu dia pergi||
-Terus?!
—Aku ingin pipis?||
- P i p i s dalam lemari?||,
- B u k a n , sekarang, aku ingin pipis||
- O h ha ha sudah sana pipis dulu. Ingat kata polisi, jangan ditahan-tahan||
-Udah||
- U d a h apa? ||
—Pipisnya! ||
- D i situ?||

www.perpustakaanebook.com

—Iya. P a n t o m i m aja. Cukup|j

- H a ha ha ha. Enggak. P o k o k n y a aku tutup! Kamu k e n c i n g dulu||

- O k e . Bentar||

Setelah itu. tak lama nelepon lagi

-Terus?||. kutanya

- S o a l Susi?||

-Iya||

- D i a ngasih aku cokelat. Ngasih aku baju tidur. Ngajak nonton bioskop||

- K a m u mau?||

- M a u apa?||, dia balik n a n y a

— N o n t o n ? ||

- M a u ||

- B e r d u a ? ||

—Iya, terus pas nonton, aku ijin ke toilet, padahal pulang||

—Hah? Ninggalin dia sendirian?||

-lya||

- D i a marah?||

- D i a marah||

-Terus?!

- Y a udah m a r a h aja. Bagus lah||

- K o k bagus? ||

- K a n j a d i gak m a u k e t e m u aku||

- H a ha ha ha kalau aku marah ke kamu?||

- B a g u s l a h ||

-Bagusnya?'

- U j i a n buatku, bisa enggak aku m e m b u a t kamu menjadi tidak marah||

- H e h e h e k a m u pasti bisa||

- T u g a s k u membuat kamu senang||

- K a l a u tidak bisa m e m b u a t aku senang?||, kutanya

-Berarti aku gagal menjadi orang yang menyenangkanmu||

- K a m u b e r h a s i l he he he||

-Berapa nilainya?)

- S e r i b u ! ||

- Y a . Lumayan buat beli gorengan||

- H e h e h e K a t a n y a k a m u naik m o t o r s a m a Susi?||

- T i d a k c u m a Susi||

—Ngapain sama dia? Naik motor? Kemaren?)

—Nganter dia ke rumah sakit, ayahnya dibawa ke rumah sakit. Buru-buru||

- O h Kasian||

-Tidak mencintai, tidak berarti membencinya)

—Iya. Kamu besok kemana?||

- B e s o k m i n g g u ya?||

-iyall
- A k u mau skateboard sama teman ||

- K a m u bisa skateboard?!

—Enggak)

-Terus kenapa main skateboard?)

- B i a r bisa||

- H e h e he||

- K a m u tahu? Aku bisa membuat kamu tidur?!

—Maksudnya?)

—Iya. Aku ingin kamu tidur, biar makin sehat. Jangan begadang, kamu belum pulih)

www.perpustakaanebook.com 7 of

17. KANG ADI

Sekarang aku mau cerita tentang Kang Adi. Namanya Adi Wirawan.Waktu itu. dia masih
mahasiswa ITB. semester lima. Dia anak Pak Alfin, kawan ayahku. Ayah
memperkenalkannya ke aku waktu dia datang ke rumah untuk ada urusan bisnis antara
ayahku dan ayahnya.

Ayah bilang ke Kang Adi, minta membimbing aku belajar. Ayah memang pengen aku
bisa masuk ITB. meskipun aku sendiri sebenarnya ingin ke UNPAD. Kang Adi bilang
boleh, nanti bisa privat seminggu sekali. Aku sih oke-oke aja.

Sejak itu, Kang Adi suka datang ke rumah untuk membimbingku belajar. Dia bisanya
malam minggu. Biar bisa santai katanya. Kami belajar di ruang tamu. kadang-kadang
berdua, kadang-kadang bertiga bersama Airin. dia adikku yang masih kelas 2 SMP waktu
itu. Kadang-kadang berempat, kalau ibu ikut nimbrung.

Selain untuk membimbingku belajar. Kang Adi juga suka ngobrol. Dia cerita tentang
dirinya dan aktivitas kehidupan mahasiswa di kampus ITB. Dia cerita tentang gerakan
mahasiswa ITB. tentang unit-unit kegiatan di ITB. Pokoknya banyak, termasuk cerita
tentang diri dan kehidupannya.

—Kayaknya m e r e k a membutuhkan Kang Adi banget ya||, kataku
- G a tau tuh. Kalau ga ada saya. m e r e k a bilang sih suka gak r a m e he he||
—Emang Kang Adi jabatannya apa di unit itu?||, kutanya
- B e n d a h a r a ||
—Ooh. Pantesan. Pada nunggu uangnya tuh he he he||
-Enggak lah. Ya mungkin mereka nganggap saya bisa menciptakan kondisi jadi lebih
hidup he he he, atau ya ga taulah||
- K i r a i n he he he||
-Pernah pas ada meeting, saya kan ga datang, eh mereka nelepon maksa minta saya
datangi
—Segitunya||
- G a tau kenapa. Kita ini harus luwes. Sedikit nakal lah. Biar gak kaku||
- K a n g Adi nakal?||
-Yaaa...nakal gimana ya? Ya. sekedar untuk mencairkan suasana aja. Nanti deh
kamu saya ajak ke ITB|[
—Kang Adi suka berantem?||
- B u k a n nakal y a n g gitu lah. Nakal-nakal y a n g seru||
- T e m a n - t e m a n Kang Adi orangnya pada seru ya?||
—Gak semua. Banyak juga yang kaku. Waktunya habis dipake belajaaar terus. Gak
menikmati.
Hidupnya kayak robot. Gak suka saya. Makanya kan. kadang-kadang kita juga
belajar, kadang-kadang kita j u g a ngobrol. Ya ngobrol-ngobrol kayak gini lah||
Kalau Kang Adi datang, selalu akan memakai motor dan membawa makanan, untuk
aku, untuk Airin atau untuk ibu. Malam itu, dia datang bawa sweater yang ada tulisan
ITBnya. Katanya dia sengaja beli untukku.
- M a k a s i h . Kang||
- I n i yang mahalnya. Ada j u g a sih yang murah, masa' buat Lia kasih yang murah||
- G a apa-apa yang murah juga, Kang. Hemat ||
- B u k a n soal uangnya. Kang Adi pengen yang berkualitas. Eh. Lia jadi gak ikut ke ITB.
besok?||
- J a m berapa?||
- K a l a u bisa sih pagi-pagi. Biar sekalian sarapan bubur di Gasibu||
-Pagi-pagi?||
- T e r s e r a h , Lia||
- K a l a u bangun ya he he he||

www.perpustakaanebook.com

Aku dengar telepon rumah berdering. Si Bibi yang ngangkat. dari Dilan katanya. Aku
ke sana, setelah pamit ke Kang Adi dan lalu ngobrol dengan Dilan sampai ketawa
terbahak-bahak.Katanya dia habis nangkap nyamuk. Dua ekor. Dimasukin ke botol.
Terus dia namai Bonni dan Kinkan.

- M a u gak?||
- N y a m u k ? ||
—Iya. Kamu satu, aku satu||
- D i sini juga banyak||
- D i situ juga ada? Subhanalloh'
- H a ha ha Ada tujuh ribu!||. kataku
- D i sini m a h sedikit euy. N y a m u k preman. lagi||
- K o k preman?||, kutanya
—Iya. Pada mabuk s e m p o y o n g a n gini||
- H a ha ha minum Baygon?||
- A h m e r e k a mah merk apa aja j u g a oke. Ibuku yang beliin. Baik dia itu||
—Dibeliin gimana?||
—Iya dia yang beli obatnya, ke warung, buat nyamuk. Nyamuk manja. Gak bisa beli
sendiri ||
- H a ha ha ha||
Dilan memang selalu membahas yang gak perlu. Tapi rame. Tapi seru. Habis itu aku
kembali ke ruang tamu, bersama Kang Adi lagi.
—Teman?||, Kang Adi nanya

-iyall
- O h . Teman sekolah?||
- T e m a n apa ya? T e m a n dekat gitu lah||
- P a c a r yaa?||
- D i a itu seru. N a m a n y a Dilan||
- H a t i - h a t i , Lia||
-Hati-hati, kenapa gitu?|
- Y a . dengan siapa pun harus hati-hati lah. Cari kawan yang bisa bimbing. Yang bisa
saling mengingatkan. Yang bisa melindungi||
- H a t i - h a t i termasuk ke Kang Adi juga he he he?||
- Y a a . . e n g g a k lah! Kita kan sudah saling kenal||
—Becanda atuh, Kang||
Setelah Kang Adi pulang, aku ngantuk, gosok gigi dan langsung tidur. Tadinya
pengen nelepon Dilan dulu, tapi takut mengganggu. Besok aja. Sekarang saatnya tidur.
- S e l a m a t tidur juga, Dilan ||
Pagi-pagi. Kang Adi nelepon. Dia nanya jadi enggak pergi ke kampus ITB? Aku bilang
gak bisa.
Nanti aja hari rabu. sepulang sekolah. Iya katanya.
- K i t a belajar aja yuk?||
- H a r i minggu?||
- Y a isilah dengan yang berguna||
- I s t i r a h a t juga berguna. Kang. Saya ingin istirahat||
- O h ya sud. Lagi apa?||
- I s t i r a h a t kan?||
- K a l i , lagi baca buku||
-Enggak||
- K a l a u mau baca buku nanti saya bawain buku. Di rumah banyak||
- G a k usah. Kang||
- S u k a Filsafat gak?||
- N g g . . g a k tuh||

www.perpustakaanebook.com

18. DILAN VS. SURIPTO

Pada saat upacara bendera, Dilan ikut upacara bendera, tapi dia masuk di barisanku,
sejajar denganku. Harusnya dia berada di barisan kawan-kawan sekelasnya. Buat aku sih
gak masalah, justeru menyenangkan, tapi tidak bagi guru yang bernama Suripto. Pasti,
aku yakin.

Kekuatiranku terbukti, pada waktu Kepala Sekolah sedang pidato, diam-diam, dia
ditegur oleh Pak Suripto. karena dianggap tidak berada di barisan yang seharusnya.
Bukan cuma teguran, Pak Suripto menarik baju bagian belakang Dilan, dengan paksa,
untuk memindahkan Dilan ke barisan seharusnya.

Apa yang dilakukan Pak Suripto membuat Dilan nyaris terjengkang. Dilan berseru:
- H e h ? Apa ini?||
- A p a ? Hah? Kamu mau melawan?||. tanya Pak Suripto
- Y a aku melawan!||
Pak Suripto menampar Dilan. Dilan balas menampar Pak Suripto. Pak Suripto mau
menampar lagi, tapi Dilan keburu memukulnya dengan pukulan yang bertubi. Suasana
menjadi ribut, menarik perhatian semua orang untuk memandang.
Pak Suripto lari menuju tengah lapangan upacara. Dilan mengejarnya. Aku melihat
pak Suripto sempat terjatuh, merangkak sebentar untuk kemudian berdiri dan lari. Dilan
mengejar Pak Suripto yang menyelusup di antara guru-guru yang pada baris di depan
kami. Kepala Sekolah berteriak:||Apa ini?!!||.
Upacara bendera menjadi kacau. Terdengar suara hiruk pikuk dari peserta upacara
bendera.
Guru-guru berusaha menahan Dilan. Kepala Sekolah turun dari mimbarnya. Dilan
teriak kepada Pak Suripto yang entah sudah ada di mana:
- S u r i p t o ! Pengecut kau!||
Aku melihat Piyan, Beyi dan beberapa yang lain, pada lari untuk membantu guru
menahan Dilan. Aku juga ke sana berharap bisa membantu untuk membuat Dilan jinak.
Dilan marah.
Beberapa guru menasehati Dilan untuk tenang. Ibu Rini, Guru Geografi, menepuk-
nepuk bahu Dilan, sambil bilang:||Sabar, Dilan, Sabar!||
Syukurlah Dilan kemudian bisa tenang. Terdengar pengumuman upacara bendera
dibubarkan.
Aku, Piyan, Beyi dan beberapa guru, membawa Dilan ke ruang guru. Di sana kami
duduk bersama Ibu Rini, Pak Syaiful, Pak Aslan, dan Ibu Pipi (Pegawai T.U)
- S a b a r , Dilan||, kata Bu Rini
- A k u bukan melawan guru. Bu. Aku melawan Suripto||, kata Dilan. Aku diam terus,
tidak tahu harus berkata apa.
—Iya. Ibu ngerti||, kata Bu Rini.
- I b u k u j u g a guru, kakakku juga guru||, kata Dilan
—Iya. Dilan harus maklum dia m e m a n g begitu||, kata Bu Rini
—Aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu||, j a w a b Dilan
- K a m i j u g a gak suka dengan cara-cara dia||, kata Bu Rini
-Siswa juga manusia), kata Dilan lagi
—Iya, tentu ||
- H o r m a t i l a h orang lain kalau ingin dihormati||, kata Dilan
—Kami mengerti), kata Pak Aslan
- H a r u s tahu, aku tidak melawan guru. Guru buatku, dia mulia. Sebagai guru, aku
hormat ke dia, aku hanya melawan Suripto)
-Iya)
- S i a p a pun dia....), kata Dilan
-Iya)

www.perpustakaanebook.com

- S i a p a pun dia, meskipun guru, jika tidak bisa menghargai orang lain. tak akan
dihargai ||

-Ibu. mengerti kenapa kamu begitu)
-Jangan jabatan guru dijadikan alat kuasa untuk berbuat sewenang-wenang||. kata
Dilan Kepala Sekolah datang, aku berdiri untuk memberi tempat dia duduk. Dia duduk di
samping Dilan.
- A d a apa, Dilan?!||, tanya Kepala Sekolah. Dia nampaknya sedang berusaha bicara
hati-hati, karena kuatir Dilan akan juga menyerangnya
- A k u tidak melawan guru, aku melawan Suripto yang semena-mena||
- K e n a p a dia? ||
—Bapak harusnya tahu bagaimana perilaku dia. Kami tahu||
—Iya, tapi Dilan tidak harus begitu ke dia||
- D i a boleh begitu kepada kami?||, Dilan nanya
- B e g i t u gimana?||
- D i a menjambak bajuku. Kayak ga ada cara lain. Ini bukan cuma ke saya. Sudah
berapa orang kawan saya ditamparnya. Diperlakukan seenaknya!. jawab Dilan. Jaman
dulu. di sekolah, guru menampar siswa kayaknya sudah dianggap sebagai sesuatu yang
lumrah, jauh berbeda dengan sekarang.
- M a a f . mungkin kamu membandel?||, tanya Kepala Sekolah
- G u r u itu digugu dan ditiru, kalau dia mengajariku menampar, aku juga akan
m e n a m p a r ||
- B a p a k bukan mau membela dia. Mungkin Pak Suripto tidak bermaksud begitu||,
kata Kepala Sekolah seperti sedang membela Pak Suripto.
- B a p a k tahu. waktu polisi datang ke sini? Pak Suripto bilang apa? Dia bilang: ini
bukan urusan sekolah. Bawa aja ini, sambil nunjuk ke saya. Dia juga biang kerok.
katanya||
- Y a sudah, kalau begitu nanti kita selesaikan ||, kata Kepala Sekolah
-Bapak harus tahu, dia juga melakukan pelecehan. Ada siswa perempuan yang
ngadu ke saya||
—Iya, iya. kan ini baru sepihak. Nanti kita pertemukan!
—Aku ingin bertemu dia. Kalau tidak, aku datangi rumahnya||
—Iya. Pasti diusahakan bisa ketemu. Bisa damai ||
Habis itu. kami keluar dari Ruangan Guru, untuk masuk ke kelas masing-masing
yang sudah mulai pada belajar. Sebelum pergi ke kelasnya. Dilan bilang:
—Aku bukan jagoan. Aku hanya melawan. Lia||
- Iya ||. j a w a b k u
- M a a f . Lia||
—Iya, Dilan. Aku mengerti!

www.perpustakaanebook.com

19. BUNDA

Seperti yang bisa kuduga, akhirnya Dilan mendapat hukuman skorsing. Dia tidak boleh
sekolah selama seminggu. Hari Rabunya, Ibu Dilan datang ke sekolah. Wati yang
memberitahu bahwa itu ibunya Dilan. Wati bilang mau menemui beliau, aku ingin ikut.
Boleh katanya. Kebetulan jam pelajaran terakhir sedang bebas, karena gurunya tidak
bisa hadir.

Kami terpaksa nunggu di luar. karena Ibunya Dilan sudah keburu masuk Ruangan
Guru. Dia dipanggil untuk menuntaskan masalah Dilan berantem dengan Suripto. Tak
lama kemudian Ibunya Dilan keluar. Wati menyambutnya dengan mencium tangannya
dan aku pun begitu.

- S i a p a ini?||, Ibunya Dilan b e r t a n y a kepadaku
—Milea, Bu||, j a w a b k u
- O h ya?||. dia sedikit terperangah, matanya hampir seperti mau m e m a n d a n g sekujur
tubuhku
—Iya, Bu. Kenapa?||. kutanya
- O h ini....rupanya||, katanya seraya mengacakkan tangannya di atas pinggang
- K e n a p a gitu?||, tanyaku t e r s e n y u m
- A h . kau! Dilan sering cerita soal kamu. tau?||. katanya
- O h he he||, aku bingung harus j a w a b apa. Wati m e m a n d a n g k u sepert i heran.
- P u l a n g n y a kemana, Nak?||, dia nanya
- K e daerah jalan Banteng||, kujawab
- N a i k apa?||, dia nanya
- A n g k o t . Bareng temen ||
- H a r i ini, ikut ibu saja, oke? Wati juga ikut ya?||
—Wati ada janji... ||
- A h . sudahlah, ikut makan dulu. Milea juga. Oke?||
- N g . . h a y u . Wat?||, aku nanya Wati sambil m e n g g o y a n g k a n tanganku ke badannya
- H a y u lah. Jangan lama tapi..|i kata Wati ke ibu Dilan
- B e n t a r , Bu, mau ngambil tas dulu||, kataku
- E n g g a k belajar?||, dia nanya
-Ng...Gurunya gak ada||
- O h ya sudah. Lagi, ini sudah mau bubaran||, katanya sambil m e m a n d a n g j a m
tangannya.
Kami pergi dengan ibunya Dilan yang nyetir sendiri mobil Nissan Patrolnya.
- O h . ini n a m a n y a Milea ya hmm h m m hmmm?||. dia nanya
- H e he iya, Bu||
- D i l a n itu sering cerita soal kamu||
- H e h e j a d i malu||
- Bogoheun tah!—, kata Wati (Dilan cinta t u h )
- C e r i t a apa aja emang?||, kutanya
- A h banyak lah. tapi gak ibu denger. habisnya dia itu suka ngawur||
- Enya—. kata W a t i ( I y a )
- H a ha ha ngawur gimana?||
- K a t a n y a kamu suka makan lumba-lumba. Pasti dia bohong kan?||
- H a ha ha ha enggak||
- D i a bilang apa lagi itu. Katanya kamu berkumis. Orang secantik ini dibilangnya
berkumis||
- H a ha ha ha||
- Kita makan dulu ya||, kata ibu Dilan
-Siap!||, kata Wati
- I y a , Bu||

www.perpustakaanebook.com

Mobil masuk ke halaman salah satu warung makan yang ada di daerah Buah Batu.
Setelah duduk, kami langsung memesan makanan sesuai seleranya masing-masing.
Selagi menunggu makanan datang. Ibu Dilan cerita tentang pertemuannya dengan pihak
sekolah. Tadinya Dilan mau dipecat, tapi setelah terjadi nego, akhirnya diberi
kesempatan untuk tetap sekolah di situ, dengan masa percobaan selama sebulan.

Sambil makan. Ibu Dilan bilang, ya kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu
memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja
tanpa kita memahami kehidupannya. Orangtua yang seharusnya bisa memahami anak-
anak. bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua.
Anak-anak belum mengerti apa-apa, meskipun tentu saja harus kita berikan
pemahaman.

- D i l a n sekarang di rumah?||, kutanya
- D i rumah||
Setelah habis makan. Wati ijin pergi, karena sudah janjian sama Piyan.
—Piyan y a n g pacarmu itu?||, tanya Ibu Dilan. Oh, Wati pacaran sama Piyan?. Aku baru
tahu.
- H e he he iya||
- K e n a p a tidak diajak sekalian?||
- D i a nunggu di sana||
- P e r l u diantar gak?||, Ibu Dilan nanya
- E n g g a k . Deket kok||
Wati pergi, setelah mencium tangan ibu Dilan. Di mobil jadi cuma aku dan ibu Dilan.
Dia bilang: Dilan itu anak keempat dari lima saudara. Ayahnya lagi bertugas di Timor
Timur. Rumah dinasnya sih di Karawang. Tapi ibunya Dilan. bersama anak-anaknya,
harus tinggal di Bandung karena bertugas menjadi Kepala Sekolah di SMA.
- D i l a n manggil apa ke ibu?||
- D i a ? Dia manggilnya Bunda. Kamu manggil apa ke ibumu?||

-M|
- O h ya. itu juga bagus||
- L i a juga mau manggil Bunda. Boleh?'
- K e siapa? Ke ibu?||, dia menunjuk dirinya
-iyall
- Y a boleh. Tapi kalau lagi minta uang, Dilan itu manggilnya suka Bundahara||
—Kok?||
—Iya. Bendahara maksud dia ha ha ha||
- H a ha ha ha ha||
—Dia itu. memang nakal. Tapi ya selama masih wajar, oke lah. Mudah-mudahan tidak
kelewat batas ||
—Iya, Bunda||
- K a t a Dilan kamu pacaranya. Iya betul?||
- O h ? Dia bilang gitu. Bunda?||, aku t e r s e n y u m
- M u n g k i n dia ngaku-ngaku||
- G a apa-apa, Bunda||
- K a m u ini cantik||
- D i l a n juga, dia tampan|j
- Y a . Mungkin karena kamu suka||
- H e he he. Belok Kanan, Bunda||, kataku untuk menunjukkan jalan ke arah rumahku
—Oke||
- B u n d a asli Bandung?||
—Bunda lahir di Aceh, ikut suami ke Indonesia||
- A c e h kan Indonesia. Bunda?||, tanyaku
- H e h e becanda||

www.perpustakaanebook.com

- S e k a r a n g ke kiri, Bunda||

- O k e . Cantik||

Setelah sampai di rumah, aku melihat ada motor Kang Adi di halaman. Aku turun

bergegas, setelah menyapa Kang Adi yang lagi baca buku di ruang tamu, aku langsung

masuk ke dalam rumah untuk mencari ibu. Entah mengapa perasaanku seperti diluapi

oleh rasa gembira.

Bunda masuk, disambut oleh ibuku.

- O h ini ibunya Dilan?||, ibuku m e n y a l a m i n y a

—Iya. Ini, ibu Melia? Waaaaah!||, Bunda nanya

- Iya ||. j a w a b ibuku ||, kata
- A k h i r n y a ketemu. Dilan, anakku, wah suka cerita terus soal Milea ini

Bunda

- P a n g g i l Lia aja, Bunda||, kataku

- O h ya ya. Lia||

- S i l a k a n duduk dulu. Mau nyiapain minuman dulu||, kata ibuku sambil masuk ke

dalam

- G a k usah r e p o t - r e p o t . Sebentar kok||

Di ruang tamu jadi ada aku. Bunda dan Kang Adi.

—Ini?||, tanya Bunda ke Kang Adi

- S a y a pembimbingnya Lia||

—Kuliah?||

- I y a . ITB. Bu||, j a w a b Kang Adi

—Oh. jurusan apa?||

- T e k n i k Industri||

- O h ya? Anak ibu juga ada yang di Teknik Industri ||

- D i ITB?||

—Iya. Kenal Landin?||
- O h Bang Landin? Iya kenal. Bu. Dia senior||

- I t u anak ibu. Kakaknya Dilan, Lia||, kata Bunda sambil m e m a n d a n g k u

- D i sana juga, Bunda?||, tanyaku

-iyall
Tak lama kemudian Ibuku datang membawa minuman, ditemani Si Bibi yang

membawa makanan.

- B a g a i m a n a bisa ketemu Lia?||, tanya ibuku

- D i sekolah. Tadi. Kebetulan||

"Oh||

—Aku tadi ditraktir Bunda ||, kataku kepada ibuku

—Aduh, makasih. Maaf, ngerepotin||, kata ibuku

- G a apa-apa. Seneng kok. Senang akhirnya bisa ketemu langsung sama orang yang

suka diomingin Dilan||, kata Bunda

- Y a sama! Lia juga sama, suka cerita soal Dilan. Seru katanya ha ha. Ngasih yang

aneh-aneh.

Ngasih apa Lia?||

- T T S yang udah dia jawab he he he, cokelat yang dianterin tukang koran,

banyak ||. kataku

- H a ha ha ha ha||, Bunda ketawa. ibuku j u g a

- B a n y a k sekali, Bunda. Seneng|| Kataku. Aku melirik sebentar ke Kang Aldi yang

nampaknya bingung harus ngapain
- D i a itu ya begitu. Di rumah juga ya begitu||, kata Bunda,|(Ya, maaflah kalau dirasa

m e n g g a n g g u ||

- E n g g a k mengganggu. Malah seru||, kataku

Tiba-tiba suara telepon rumah berdering. Si Bibi yang ngangkat. dari Dilan katanya

www.perpustakaanebook.com 3 of 8

kepadaku sambil berbisik. Segera aku kesana meninggalkan kedua ibu yang bicara soal

keluarga dan ketentaraan suaminya.

—Hey!||, kusapa dia

- S u d a h pulang sekolah?||

—Iya. Tadi aku pulangnya ada y a n g ngantar||, kujawab

- D i a n t a r angkot?||

- B u k a n . Oleh orang yang aku suka. Kucintai||

- H e he he pasti kamu senangi

- S a n g a t senang sekali!. N a m a n y a j u g a diantar orang y a n g aku suka||

- H e he he. Pasti akan begitu||

- D i a n t a r siapa coba?||

- D i a n t a r orang yang kau suka kan?||

- C e m b u r u dong? Cemburu gak?|

-Jangan. Nanti merepotkanmu||. jawabnya

- C o b a tebak siapa orangnya?||

- S u r i p t o ? ||

- I h ! Bukan||, j a w a b k u

-Nandan?||

- B u k a a a a n ! ! ! Kamu pikir aku suka ke dia?||

- A k u gak tau. Kan yang punya perasaan kamu||

- E n g g a k ! ! ! Ingin tahu gak siapa?||

- K a m u pasti akan ngasih tahu||

—Iya. Aku...diantar sama Bundaaa! Ibu kamu||

—Hah?||

- H e he he||

—Kok bisa?||

- B i s a dong||

- K e rumahmu? Ngapain?||

—Iya he he he. Nanti deh cerita||

- K e t e m u di mana?||

- D i sekolah. Tadi||

- B o l e h aku bicara dengan Bunda?||

- O k e . Tunggu ya||

Aku pergi ke ruang tengah untuk memberitahu bahwa Dilan ingin bicara di telepon.

Si Bunda ke sana.

- A k u ketemu Lia Akhirnya. Aku ketemu Lia ||, kata si Bunda kepada Dilan,

dengan bicaranya sedikit bernada. Aku tersenyum mendengarnya. Si Bunda bicara

seperti meledek dan ketawa-ketawa seperti puas. Setelah itu dia kembali, katanya Dilan

ingin bicara lagi sama Lia.

Aku ke sana

-Ya?||, tanyaku

- I t u Ibuku, Lia||

—Iya. Aku senang, Dilan||

- B i l a n g ke dia j a n g a n ngegosipin aku||

- S u d a a a a h h ha ha ha ha||

- S u d a h apa?||

- S u d a h digosipin||

- H a ha ha. Bilang apa dia?||

-Katanyaaaaaaaaaaa kamu suka makan lumba-lumba!||

- H a ha ha ha ha ha||

-Katanyaaaaaaaaaaa....kamu berkumis! ||

- H a ha ha ha ha ha||

www.perpustakaanebook.com

-Katanyaaaaaaaaaaa....kamu he he he||

—Apa. ketawa? ||

-Katanyaaaaaa....Aku pacarmu..he he he||

- H a ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!!!

II ||
- Katanyaaaaaaaaaa

" A p a ?||

—Dilan? ||

-Ya?||

-Aku rindu ||

- H e he he||

- B o l e h ? ||

-Rindu ke siapa?'

- K e Dilan||

- S a m a ||

-Makasih||

- A k u j u g a rindu....ke Dilan||, katanya

-Ih!||

- H a ha ha ha ha ha. Iya, aku j u g a rindu ke Lia||

- H e he he he||

- R i n d u sebelum waktunya||

- H e he he he matang sebelum waktunya||

Setelah selesai nelepon dengan Dilan, aku kembali nemui Bunda. Bunda pamit untuk

pulang.

Entah mengapa aku merasa berat membiarkannya pergi dari rumahku.

Bunda bersalaman dengan ibuku dan Kang Adi. Aku salaman dengannya dan

mencium tangannya. Dia tanya:

- B o l e h Bunda menciummu?||

- B o l e h he he||

—Boleh ya, Bu?||, dia nanya ibuku

- B o l e h he he he||, j a w a b ibuku

Bunda mencium keningku, dan kedua pipiku.

- C a n t i k anak ini||, katanya.

- H e he he makasih||, j a w a b ibuku

Habis itu aku memeluknya. Itu refleks. Bunda juga memelukku. Ada lelehan air mata

yang aku tidak tahu mengapa itu ada. Kamu harus jadi aku, aku kesulitan mau

mengatakan perasaanku saat itu. Kamu harus jadi aku, pasti akan melakukan hal yang

sama.

- K e n a p a nangis, Nak?||, tanya Bunda, menatapku sambil m e m e g a n g kedua bahuku.

Kupeluk lagi dan nangis:

-Aku...senang, Bunda||, kataku. Padahal tadinya mau bilang:||Terimakasih sudah

melahirkan Dilan ||. Gak jadi. Malu.

—Iya, Nak!||, kata Bunda sambil m e n e p u k - n e p u k bahuku: - B u n d a pulang ya||,

sambungnya.

—Iya, Bunda. Hati-hati, Bunda||, sambil kuseka sisa air di mataku.

Si Bunda naik ke mobilnya. Sebelum benar-benar pergi, kira-kira baru beberapa

meter berlalu, aku teriak:

-Bundaaa! Salam ke Dilan, Bundaaaaaa||

-Oke!||, jawabnya, sambil melambaikan tangannya.

Aku kembali masuk, bersama ibuku yang bilang:||

- I b u n y a juga r a m e he he||

—He he he. Lia senang||, aku ketawa

www.perpustakaanebook.com

- K a p a n Ibu bisa ketemu Dilan?||. tanya ibuku
—Nanti ya, ya||
Ibuku masuk ke dalam. Aku duduk di ruang tamu untuk meladeni Kang Adi. Tadinya
dia nawarin diri menjemput aku di sekolah, tapi kubilang gak usah. Dia datang ke rumah
untuk mengajak aku pergi ke kampus ITB.
- K a n g , kayaknya Lia ga bisa pergi deh|!
-Kenapa?||
- C a p e k sekali||
- O h ya sudah||
- L a i n kali aja yaj|
—Iya. Atau sekarang belajar aja? Yuk?||
- N a n t i aja deh||
- O h ya udah ||
- A k u n y a capek banget, Kang||
—Iya ga apa-apa. T a d i lihat ibu itu riweuh pisan ya?||, katanya. Riweuh pisan itu
bahasa sunda, kira-kira artinya —repot sekali|| dalam konotasi yang buruk.
—Aku gak suka Kang Adi bilang begitu ke dia||
- B u k a n , maksudnya ibu-ibu banget||
—Aku gak suka Kang Adi bilang begitu ke dia||. Aku mengulang kalimatku. Itu adalah
gaya Dilan kalau sedang menyerang.
—Iya bagus. Ibu-ibu memang harus begitu|!
- K a n g , aku mau tidur dulu kayaknya ya?||
—Oh ya udah. saya pulang aja kalau gitu||

-iyall
Pertemuanku dengan Bunda, adalah hal yang paling membuatku gembira. Lebih dari
itu, bahkan melalui dirinya, pengetahuanku akan Dilan jadi makin bertambah. Tadi siang,
di mobil, aku sempat nanya ke Bunda:
- E m a n g Dilan belum punya pacar. Bunda?'
- H e h ? Bukannya kamu? He he he||
—He he he. Iya kali. Bunda. Tapi. bukannya Susi pacarnya Dilan. Bunda?'
- S u s i a n a itu?||
—Iya he he he||
- S s s t . Susi itu. p e n g e n sama Dilan ha ha ha||
—Oh he he he. Dilannya mau. Bunda?'
- D i l a n n y a ? Kayaknyaaaaa enggak tuh. He he he. Kayaknya sih||.
- H a ha ha ha. Tahunya enggak, Bunda?!
- K a u tahu waktu Susi datang ke rumah? Dilan kemana dia?||
-Kemana. Bunda?!
—Sembunyi dalam lemari ||
- H a ha ha ha Bunda tahu?||
- T a h u laaaaah!||
- H a ha ha ha ha||
Kalau betul Dilan pernah bilang ke Bunda, bahwa aku ini adalah pacarnya, berarti
sejak itu Dilan sudah menganggap aku sebagai pacarnya. Aku senang, tapi sejak kapan
itu mulai? Kenapa tidak ada kesepakatan bersama? Kenapa tidak ada peresmian? Kenapa
tidak ada proklamasi? Atau Dilan menganggap itu gak perlu? Aku bingung.
Setelah shalat isya, aku coba nelepon Dilan, tapi yang ngangkat si Bunda. Dilan
sedang keluar katanya. Aku jadi ngobrol sama Bunda.
- O h , Bunda di IKIP Bandung?||, tanyaku, di tengah-tengah obrolan. IKIP adalah
Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, sekarang UPI, Universitas Pendidikan Indonesia
—Iya, beres kuliah balik lagi ke Aceh)
- N g a m b i l jurusan apa?||

www.perpustakaanebook.com

-Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesiai
—Wah suka sastra dong||
- D i l a n tuh suka sastra||
- O h ya? ||
—Iya dia. Waktu SMP sampai pernah pergi ke Depok, minta anter pamannya, pengen
ketemu Rendra katanya, ke mana itu? Bengkel Teater. Dia itu emang suka Rendra||
—Rendra penyair itu, Bunda?||
—Iya. Waktu SMP, sampe nonton pentas dramanya segala. Apa itu judulnya,
Panembahan Reso kalau gak salah. Dia juga suka bikin puisi ||
- O h ? Pengen baca puisinya he he he||
—Iya, boleh. Lia ke rumah deh||
- P e n g e n . Bunda||
-Kapan?||
- K a l a u diajak Dilan||
—Iya, nanti Bunda bilang ke Dilan suruh ajak kamu ke rumah ya?||
—Asiikk. Bener ya. Bunda||
-lya||
-Pengen baca puisinya)
—Iya boleh. Nanti kalau ke rumah ya? Kayaknya dia memang suka sastra. Makanya
kamu denger deh. gimana kalau Dilan ngomong||
-Kenapa?||
- B a h a s a Indonesianya itu. baku banget||
—Ha ha ha||
- K a u . Aku. Mengapa. Apakah....||
- H e he he he iya. Tapi khas, Bunda'
—Waktu SMP, kakaknya kan guru. Itu. suka bawa buku-buku perpustakaan ke
rumah ||
- B u k u apa, Bunda?!
- I t u , Sutan T a k d i r Alisyahbana, Idrus, Iwan Simatupang. Kau tauk kan?||
- T a h u . Bunda ||
- N a h , Dilan baca semuanya. Bahasanya itu, kayaknya kena pengaruh deh. Bisa juga
mungkin karena keluarganya kan banyak dari Sumatera||
-Dilan suka baca ya, Bunda?!
- P a s ulangtahun dulu, ayahnya ngasih hadiah Tafsir Al-Azhar, langsung dia baca
semuanya)
- I t u buku. Buncla?||
—Iya. Itu buku tafsir. 30 buku, karya Hamka)
-Selain buku, Dilan suka apa, Bunda?!
- S u k a apa ya? Tapi tiap malam, dia itu, main gitar di kamarnya?)
-Dilan bisa gitar. Bunda? Baru tahu)
- P u n y a gitar dia. Katanya punya group banci segala, tapi Bunda ga tau soal itu)
- W a a h Dilan punya group band?||
-Kata adiknya begitu)
- E h , Lia juga pernah lihat kartun Dilan di koran)
—Iya dia suka ngirim. Kau tauk uang honornya dia beli cokelat buat siapa?)
-Buat siapa. Bunda)
- D i a bilang buat kamu ha ha ha ha)
- O h ya?! Dilan gak bilang)
- K e Bunda bilang)
-Jadi terharu, Bunda)
- B u n d a kasih tau ya, Dilan itu suka sama kamu. Lia he he h e )
-Jadi malu. Sehari-harinya gimana sih. Bunda?)

www.perpustakaanebook.com

- S i a p a ? Dilan?||
-lya||
- Y a gitu aja. Teman-temannya suka pada datang ke rumah. Pada kumpul di
kamarnya ||
- P a s t i rame||
- B u k a n rame. Berisik||
- H a ha ha ha||
- D i kamarnya itu, dia pasang poster Ayatullah Khomeini||
- O h . Presiden Iran ya, Bunda?||
- B u k a n . Itu Imam Besar. Imam Besar Iran. Kalau Presidennya kan Bani Sadr||
—Itu idolanya mungkin. Bunda||
—Iya mungkin, dipasang sejajar dengan siapa itu yang ngelel, si Mick Jagger||
—Iya. Mick Jagger. Rolling Stones||
—Iya. Dia itu aneh. Masih SMA padahal, minta ke ayahnya langganan majalah
T e m p o ||
- H e he he. Kalau Lia sih majalah Gadis. Kalau Bunda?||
- K a l a u Bunda sih majalah Kartini||
- I b u Lia juga. Sama||
—Ibu-ibu laaah||
- H e he he iya. Dilan suka makanan apa, Bunda?||
- C u r i g a nih Bunda, nanya-nanya terus soal Dilan||
- H a ha ha ha ha||
—Kamu beneran pacaran yaaaaa?||
- H e he he. Tanya Dilan aja deh, Bunda||
- K e n a p a harus tanya Dilan?||
- H e he he Lia sih terserah Dilan? Takut salah||
—Kok? ||
- B i a r Dilan y a n g menjelaskan ha ha ha||
- K a m u takut sama Dilan?||
- E n g g a k . Bunda. Dia baik||
- Y a syukurlah. Udah, pokoknya, nanti Bunda nyuruh Dilan ajak kamu ke rumah ya?||
—Iya, Bunda. Mau. Mau. Asik||
Bertambah lagi informasiku tentang Dilan. Aku senang. Selama ini Dilan tidak
pernah bilang tentang siapa dirinya. Tadinya aku juga mau nanya pendapat si Bunda soal
Dilan yang jadi anggota geng motor, tapi gak tahu kenapa, rasanya gak enak mau nanya.
Mungkin nanti aja deh di kesempatan yang lain.
Aku jadi merasa makin akrab dengan Bunda. Ingin rasanya ada waktu bisa berdua
dengannya, bicara banyak terutama soal Dilan. Mungkin bisa. kalau aku usahakan. Si
Bunda kayaknya akan selalu siap untuk mau. Ah. kebayang olehku, seandainya aku
benar-benar pacaran dengan Dilan. kepada siapa lagi aku curhat, soal masalah
hubungan, kalau bukan ke dia, ke si Bunda.

www.perpustakaanebook.com

20. JALAN-JALAN

Kamis pagi. pas aku mau sekolah, ada Kang Adi sudah datang ke rumahku. Aku kaget, ada
apa?.

Dia mampir, kebetulan lewat rumah katanya. Kang Adi nawarin aku ikut dia ke
sekolah, sekalian ada perlu katanya, mau ke daerah di dekat sekolahku. Oh? Meskipun
aku males, akhirnya ikut juga.

Sesampainya di sana, aku minta diturunin di pertigaaan jalan, maksudnya biar aku
terusin dengan jalan kaki bersama-kawan-kawanku yang lain. Kang Adi bilang:

- K e n a p a gak sampai sekolah?||
- G a apa-apa||
- T a k u t ada yang cemburu ya? ||
-Siapa?||
—Dilan!?||.
Heh? Aku kaget. Oh. dia tahu soal Dilan. waktu ada si Bunda ke rumahku.
- E n g g a k . Lia h a n y a p e n g e n j a l a n aja||, kataku
- K a l i , t a k u t dia c e m b u r u he he he||
- E n g g a k ||
—Emang dia p a c a r m u ya!?'||
—Kalau iya kenapa? kalau enggak kenapa?):
- G a apa-apa. Cuma n a n y a he he he. Ya, sud, l a n g s u n g ya||, kata Kang A d i p e r m i s i
mau pergi
—Iya. M a k a s i h . Kang||
Kang Adi pergi, aku jalan sendiri dengan pikiran seolah-olah sedang bicara dengan
Kang Adi: Setahuku. Dilan bukan cowok cemburuan. Justeru Kang Adi yang menurutku
sedang cemburu ke Dilan. Dilan itu. Kang Adi. denger ya, bahkan waktu Dilan mengira
aku pacaran sama Nandan. Dilan malah bilang kepada kawan-kawannya: -Jangan
ganggu Milea. dia sudah pacaran dengan Nandan||. Apa kau bisa begitu, kang Adi?
Kang Adi pergi, ingin rasanya aku bilang ke dia, untuk tidak lagi nerusin ngebimbing
aku belajar. Tapi Ayah pasti gak akan setuju. Malah kata Ibu, Ayah sudah terlanjur ngasih
uang ke Kang Adi untuk bayar selama dia membimbing aku belajar.
Aku berjalan ke sekolah, berjalan menyusuri jalan itu, jalan Dilan dan Milea. Jalan
kenangan awal aku berjumpa dengannya. Berjumpa dengan Sang Peramal. Tapi hari itu
aku berjalan dengan enggan, entah mengapa, sedikit kurang semangat, mungkin karena
tahu bahwa sampai hari sabtu, Dilan tak akan ada di sekolah.
Pada waktu jam istirahat, aku pergi ke kantin bersama Wati dan Revi. Kami duduk di
luar kantin menikmati kupat tahu Mang Endang. Datanglah rombongan Susi yang pada
mau masuk kantin.
- E h , VVat, Dilan sehat?||, tanya Susi ke W a t i . K a y a k n y a dia tahu d e h W a t i itu s a u d a r a
Dilan.
Entahlah
- O h , sehat||
- B i l a n g ke dia, salam ya||
—Iya, kalau k e t e m u ya||
- B i l a n g , rindu j a l a n - j a l a n lagi gitu he he||
-iyall
—Emang udah j a d i a n , Sus?||, t a n y a t e m a n n y a
- M a s a ' harus bilang-bilang||, jawab Susi. Aku melihat mata Wati memandangku.
- T r a k t i r siah||. kata t e m a n s a t u n y a lagi.
- K a l e m . M a k a s i h ya. Wat||
-Sama-sama||, jawab Wati. lalu mereka pergi.
- S i Pikaseiibeuleun—, kata W a t i . A r t i n y a : - O r a n g m e n y e b a l k a n '

www.perpustakaanebook.com

- H e he he||, aku ketawa. bersamaan dengan datangnya Piyan
-Hey||, kusapa dia
- H e y , hey. hey||. kata Piyan. Kalau Wati senang ada Piyan. aku j u g a sama
- Y a n , traktir||, kata Wati
- T r a k t i r w a e - , j a w a b Piyan, artinya: —Minta traktir terus||. Aku ketawa.
- G a ada si Dilan mah. kamu ke sini!||, kata Wati
—Aku makan apa ya?|j. tanya Piyan seperti kepada dirinya sendiri, tanpa
menghiraukan omongan Wati. Aku senyum sendiri merhatiin tingkah Piyan dan Wati.
Lucu dan romantisnya sederhana tapi cukup. Aku gak tahu sejak kapan mereka pacaran.
Tapi kayaknya baru deh.
Piyan makan kupat tahu juga. sama seperti kami. Kami makan sambil ngobrol ngalor
ngidul.
Tidak lama kemudian, datang lagi rombongan Susi, yang baru selesai jajan di kantin
dalam.
- Y a n ||
- H e y . Sus!||
— Bisa ngobrol sebentar, Yan?||
—Piyan lagi makan||. j a w a b W a t i
- B e n t a r kok||, kata Susi
- G a apa-apa||, kata Piyan seperti bersiap mau berdiri, tapi tangan Wati meraih
tangan Piyan:
- M a k a n dulu!||. katanya
- B e n t a r kok, Wat||, kata Susi
- K u b i l a n g makan dulu!||. kata Wati lagi ke Piyan dengan nada sedikit tinggi
- A t a u nanti pas pulang. Yan||, Susi bicara lagi
—Iya, Sus||. j a w a b Piyan
- G a k boleh!||, kata Wati sambil makan
- K a m u kenapa Wati?||, tanya Susi
- A p a urusanmu?!||, Wati balik nanya
- E h , kok marah? Urusan apa?||, tanya Susi
- K a l a u aku marah mau apa?||, Wati balik nanya
- U d a h ah. apa sih?||, timpal Piyan. Aku sih no c o m m e n t . Kupandang Susi yang
kebetulan sedang memandangku juga. Matanya seperti menyiratkan perasaan tak suka.
- J a n g a n marah lah. Wat||. kata t e m a n Susi ke Wati
—Apa!!!?||, tanya Wati sambil dia dongakkan kepalanya kepada t e m a n n y a Susi itu
- U d a h . udah. Selesai. Gak boleh berantem||, Piyan berdiri seperti orang yang mau
melerai
- S a b a r . Wat||, kataku sambil kupegang tangannya
- S i a p a lu! Ikut campur?||, tanya Susi kepadaku, tiba-tiba, membuat aku kaget,
kenapa jadi ke aku?
- G a apa-apa||, jawabku
- U d a h , Sus||, kata t e m a n n y a berusaha m e n g a j a k Susi pergi
- L u , yang pengen ke Dilan ya?||
- S u s , udah! ||, kata t e m e n n y a yang lain. Aku mengambil sikap diam. N a m p a k Piyan
masih sedang berdiri, bagai mengatur situasi untuk tidak jadi kacau, sambil terus
memegang tangan Wati.
Syukurlah, kemudian Susi bisa diajak pergi oleh kawannya. Tapi sebelum itu.
sebelum Susi berlalu, dia bilang ke aku:
- A w a s lu! ||
- Naon ngancam-ngancam?||, Wati nanya ke Susi yang mulai berlalu. Artinya:||Apa
ngancam-ngancam?||
-Gandeng!||, j a w a b Susi dari jauh. Artinya: —Berisik||

www.perpustakaanebook.com

- Maneh nu gandeng mah!-, Wati berusaha n g o m o n g ke Susi yang sudah jauh.
Artinya:||Kamu yang justeru berisik||

- K a m u kenapa?||, tanya Piyan ke Wati, sambil duduk
- A k u gak suka Susi!!||, j a w a b Wati, —Awas kamu. kalau nemui dia!!||, sambung Wati.
Kejadian di kantin masih terus saja kepikiran, sampai aku sudah ada dalam angkot
untuk pulang.
Lupa, harusnya tadi aku bilang ke Wati, untuk jangan sampai Dilan tahu soal itu.
Oke. aku harus nelepon Wati kalau sudah sampai rumah.
Di angkot, aku duduk paling belakang, sehingga bisa melihat ada motor, yang melaju
di belakang mobil angkot. Pengendaranya adalah Dilan yang bisa melihatku. Dia
berpakaian bebas dengan jaket jeans lusuhnya, memandangku, sambil telunjuk tangan
kirinya itu digerak-gerakkan ke arah bawah. Kukira itu kode untuk menyuruh aku turun.
Aku bilang —kiri|| untuk m e m i n t a sopir menghentikan angkotnya. Aku turun dan
bayar.
Kudatangi Dilan yang sudah berhenti di tepi jalan.
-Hey||, kusapa dia
—Aku tadi ke sekolah||
-Ngapain?||
—Nyari kamu||
- A k u gak tahu||
- S e k a r a n g tahu||
- H e he he iya||
—Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku. Ingat?||

~ iya II

- B a n t u aku||

- B a n t u apa?||

- Mewujudkannya||

- H a ha ha||

—Mau bantu?||

—Ng...Mau!||

—Aku suruh, atau kau naik sendiri?||

- S u r u h ! ||

—Ikut aku, Lia||

—Kalau gak mau?||

- K a m u ingkar janji||

—Kok?||

- T a d i kamu sudah bilang mau||

- H a ha ha ha||, aku ketawa sambil naik motornya. Sebelum jalan, Dilan nanya:

—Aku bingung, kubawa jalan-jalan dulu. atau langsung kubalikin ke dealer?||

-Siapa?||

- K a m u ||

- H e h ? Emangnya aku kendaraan? ||

- H a ha ha ha. Katanya, perempuan gak suka ditanya. Ya udah. Langsung kubawa

jalan-jalan aja||

—Kemana?'

- J a n g a n tahu. gak perlu, yang penting berdua sama kamu||

- H e he he. Ini mau jalan apa enggak?)

- M a u . tapi kamu j a n g a n meluk||

- E n g g a k ||

- K e c u a l i kau mau||

- H a ha ha mau!!||

Kemudian kami jalan. Itu adalah hari yang kuingat sebagai hari pertama kalinya aku

www.perpustakaanebook.com 3 of 7

naik motor Dilan. Aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk mengungkapkan rasa

senangku, mudah-mudahan kamu bisa tahu bagaimana perasaanku. Berdua dengan

Dilan. menyusuri jalan Buahbatu, lalu belok kanan ke arah jalan Laswi. Enggak tahu mau

dibawa ke mana. Terserah Dilan.

- S u d a h makan?||, Dilan nanya

-Perempuan gak suka ditanya)

- H a ha ha! Oke, kita makan dulu||

—Kemana?||

-Perempuan gak suka ditanya. Lebih suka banyak nanya)

- H a ha ha ha terserah KAU lah, Gengster!!)

- H a ha ha)

Akhirnya, kami milih makan bakso, di —Baso Akung). Itu warung tenda. Dulu

lokasinya di jalan Banda, dekat GOR Saparua. Di sana sedang tak banyak orang,

maksudnya cuma ada tiga orang sedang makan dan bicara berketawa.

Kami masuk dan kuawali dudukku sambil sebentar memandangnya. Memandang

Dilan yang juga mulai akan duduk. Aku nyaris tak percaya bahwa hari itu akan ada: Ah,

aku makan berdua dengan Dilan.

Dilan pesan Bakso Kuah, aku pesan Bakso Yamin.

—Aku suka, mereka bisa mengenang pahlawan dengan bakso), kata Dilan, suaranya

pelan berbisik sambil memajukan mukanya agak sedikit ke arahku

—Caranya?)

- D i a namai Bakso Yamin)

-Kok?)

- A k u jadi inget Muhammad Yamin)

- H a ha ha).

- H e he he)

-Kalau Bakso Kuah?), kutanya dia

- I t u akan membuat aku ingat )

-Ingat apa?)

- A k a n membuat aku ingat, ke kamu. aku pernah makan bakso kuah sama kamu. di

sini)

- H e he he)

Angin berhembus, sedikit agak kencang, memberi kepastian tentang perlunya daun-

daun pohon damar itu berguguran, untuk aku merasa romantis dalam kesenduan.

- K a u lihat orang itu..), kata Dilan sambil memberi kode. dengan mukanya, untuk

aku melihat kepada seorang laki-laki dan wanita berhadapan, yang duduk agak jauh di

sana. Mereka baru usai dari makan, dan ngobrol sambil tangannnya berpegangan. Tapi

sebelum kutahu maksud Dilan. bakso pesanan sudah datang, dan disimpan di depan

kami.

- K e n a p a orang itu?), kutanya dengan suara pelan sambil mulai mengaduk bakso

—Aku suka laki-lakinya||, jawab Dilan sambil mengaduk juga baksonya

-Heh?!)

-Bukan. Laki-lakinya, kayaknya dia gak mau, tangan pacarnya itu hilang)

-Tahunya?), kataku, dengan suara yang sama pelan, sambil senyum ke dia

- M a k a n y a dia pegang terus)

- H a ha ha)

-Heeeh...Jangan ketawa), perintahnya dengan suara pelan lalu menyuapkan

makanan ke mulutnya

-Kenapa?), tanyaku sambil merapikan rambutku.

- N a n t i laki-laki itu jadi suka ke kamu)

-Kenapa emang?), tanyaku sambil menyuapkan makanan, sedikit, karena merasa

kikuk makan di depannya

www.perpustakaanebook.com

—Ketawamu bagus||
—He he ketawa ah||
—Terserah! Nanti aku b e r a n t e m dengan dia||
—Karena? ||
- R e b u t a n ||
- H e he he. Kamu yang menang)
-Karena?||
- A k u ingin kamu yang menang he he he||
Kamu tahu tidak? Saat itulah aku ingin nanya ke Dilan, untuk dapat kepastian,
apakah aku dengannya sudah pacaran atau belum? Mungkin buatmu itu gampang, ya aku
juga sudah lama berencana mau nanya soal itu, kelak, kalau berjumpa dengan dia. Tapi
ketika sudah ada di depannya, kenapa jadi seperti susah kuungkapkan?
Atau sudah tak perlu lagi kutanyakan, tinggal kuanggap sudah. Bisa begitu, tinggal
jalan. Tapi akan lebih afdol lagi kalau resmi. Aku jadi punya hak untuk mengklaim Dilan
sebagai pacarku, dan dia juga begitu. Aku yakin kamu mengerti maksudku.
Dilan berdiri dan bergerak mengambil kerupuk di dalam kalengnya.
—Ini buat kamu||, katanya
—Makasih||
—Awet-awet||
- S a m p a i besok? He he he||
—Sampai malam. Sekarang dimakan setengahnya. Sisanya buat di rumah, makan
malam ||
- H e he he kan bisa beli lagi?||
- E n g g a k , harus itu. Nanti aku minta plastik. dibungkus||
—Serius ini? He he he||

-iyall
- Y a udah||, kupotong kerupuk itu j a d i dua, —Yang ini buat malam he he he||,
sambungku sambil kupandang Dilan. Setengahnya kumakan, setengah lagi kusimpan di
sisi piring pisin.
Sehabis makan, kami pergi. Menelusuri jalan dengan langitnya yang mendung.
Dengan pohon-pohonnya yang rindang, di sepanjang perjalanan. Dengan bunga-
bunganya yang bagus, karena itu Oktober, memang sedang musimnya. Waktu itu,
Bandungnya masih sepi, belum banyak kendaraan. Jalan juga belum lebar dan masih
tentram. Cobalah ke Bandung pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh, kau
akan kecewa dengan keadaan sekarang Aku gak tahu mau dibawa kemana, dan gak mau
tahu, aku hanya ingin berdua dengan Dilan hari itu. Siapa pun. jangan ada yang bilang
tidak boleh, termasuk kamu, juga Susi, juga Beni, Kang Adi. Nandan. Suripto. dan lain-
lain. karena itu pasti akan membuat aku sedih.
Senang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa memberiku penghiburan.
Tenang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa memberiku perlindungan.
Riang sekali rasanya bersama orang yang aku rindukan bisa berdua denganku. Biarkan
aku memilih dan memiliki kesenangan sendiri. Dia adalah Dilanku. jangan diambil.
Motor melaju dengan pelan dijalan Telaga Bodas. Itu saat Dilan akan mengantar aku
pulang
—Itu pohon||, kata Dilan di atas motor, sambil nunjuk satu pohon. Dia m e m a n g
bilang, saat itu, ingin jadi guideku, katanya biar lebih kenal Bandung
—Wow||, j a w a b k u sambil senyum, pura-pura terperangah seolah aku baru tahu
pohon
—Itu langit!||, dia angkat telunjuknya ke atas
—Mendung||
—Iya. Itu Mang Jajang||, Dilan menunjuk tukang dagang di pinggir jalan
- K a m u kenal?||

www.perpustakaanebook.com

- K i t a namai aja Jajang||

- H a ha ha||

—Itu uang! ||, Dilan n u n j u k b a p a k - b a p a k y a n g s e d a n g j a l a n di t r o t o a r

—Mana?|, kutanya

- D i dalam kantongnya||

- T a h u ada uangnya?!

- K i t a anggap begitu||

- K i t a anggap uangnya semilyar||

- J a n g a n , nanti dia kecewa||

—Kenapa? ||

- P a s dirogoh, kantongnya kosong||

- K a n kita lagi a n g g a p - a n g g a p a n ih!?||

- D i a ingin nyata||

- H a ha ha||

—Ini kamu||, dia m e n u n j u k k u d e n g a n m e n g a r a h k a n t e l u n j u k n y a ke b e l a k a n g

- A k u baru tahu||, kataku sambil s e n y u m

- P e m a k a n lumba-lumba||

- H a ha ha kamu beneran bilang begitu ke Bunda?!

-Iya||

- M m m . . . k a m u b e n e r a n bilang aku b e r k u m i s ke Bunda?||

-iyall Kamu beneran bilang aku pacarmu ke Bunda?'
—Mmmm

-Iya||

- E m a n g kita pacaran?||

-iyall

A k u langsung d i a m m e n d e n g a r dia bilang — iya||. Aku l a n g s u n g b i n g u n g g a k tahu aku

harus ngomong apa. Bisakah itu kuanggap Dilan sedang nyatain? Bisakah itu kuanggap

bahwa dengan sendirinya kami resmi pacaran sejak itu? Ih, Dilan!

- K e n a p a diam?||, t a n y a Dilan

- E h ? Enggak. Ga apa-apa||

Waktu tiba di rumahku, ada Bang Faris. pamanku, sedang mengikat satu dus di ujung

belakang jok motornya, entahlah apa isinya. Bang Faris lalu bilang bahwa ibu nanyain

aku. Aku jawab ada acara di rumah teman. Kuperkenalkan Dilan kepadanya.

- M a u masuk dulu gak?||. k u t a n y a Dilan

- L a n g s u n g aja||

- O k e , M a k a s i h ya||

— S a m a - s a m a ||

Setelah permisi ke aku dan Bang Faris. Dilan lalu pergi.

-Pacarmu?||, Bang Faris nanya

-Teman||, jawabku. Ah, kenapa harus bilang Dilan cuma teman? Gak enak rasanya.

—Awas, dia nakal||

- D i a baik||

- K a m u ikut besok?||

-Ke?||

- A c a r a syukuran||

—Syukuran apa?||

- D i r u m a h Adi. A y a h , ibu j u g a ikut||, j a w a b n y a . A d i y a n g dia m a k s u d adalah Kang A d i

- O h ? Besok?||

—Iya, m a l a m ||

—Syukuran a p a sih?||

- I t u , s y u k u r a n b u k a t o k o di BIP||, j a w a b n y a . Bandung Indah Plaza m e m a n g baru

launching bulan Agustus kemaren.

www.perpustakaanebook.com

- K o k baru ngasih tahu?||
- T a n y a ibu deh. Tadi nyari sampai nelepon ke sekolah||
- O h ? Ya udah||
Aku masuk dan kudapati ibu marah karena aku pulang telat. Marah sedikit, tapi itu
juga marah.
Kubilang terus terang bahwa aku habis jalan-jalan sama Dilan. Ibu bilang kalau
pulang telat aku harus kasih khabar dulu ke rumah.
Ibu nanya menyinggung hubunganku dengan Beni. Aku ingin bilang bahwa
hubunganku dengan Beni sudah lama berakhir, tapi gak jadi. gak usah. Jadi kujawab
baik-baik saja. Ibu memang belum tahu. belum kukasih tahu. Maksudku, butuh waktu
yang tepat untuk aku ceritakan.
Malamnya Kang Adi nelepon. dia bilang soal acara syukuran yang akan
diselenggarakan di rumahnya. Dia meminta aku datang, katanya sekalian kenalan
dengan anggota keluarga Kang Adi.
- I n s y a Allah, ya Kang||
- M a u nyiapin makanan khusus buat Lia||
- G a k usah, Kang. Ngerepotin||
- B u a t Lia sih e nggak? |
- G a k usah, Kang||
- P o k o k n y a istimewa. Masakan super istimewa||
—Samain aja dengan yang lain||
—Ini saya lho y a n g masaknya. Gini-gini juga bisa masak he he ho||
—Besok malam ya?', kutanya
—Iya, datang ya. Pokoknya ada makanan istimewa buat Lia||
- M a k a s i h . Insya Allah, ya Kang||
- A t a u mau kujemput?||
- I k u t ayah kayaknya. Kang||
- P o k o k n y a ditunggu. Mama j u g a bilang: Lia ajak ke sini||
—Mama...? M a m a Kang Adi?||
—Iya. M a m a saya||
-Oh||
- Y a . sekalian kenalan lah. Tak kenal maka tak sayang kan?||
—Iya. Insya Allah||
Seusai Kang Adi nelepon. aku pergi ke dapur untuk makan, dengan pikiran dipenuhi
banyak hal tentang Dilan. termasuk jadi ingat kerupuk. Kuambil kerupuk yang tinggal
setengah itu, dari dalam tas sekolahku, dan kumakan bersama makan malamku, sambil
senyum: Aku habiskan ya, Dilan! Terimakasih kerupuknya. Enak.

www.perpustakaanebook.com

21. SYUKURAN

Tadi. di sekolah, aku gak semangat. Selalu begitu sejak sekolah gak ada rasa Dilannya.
Tapi tadi aku ketemu Piyan. di tempat tukang photo copy. dan ngobrol soal Wati yang izin
gak masuk sekolah karena sakit. Juga ngobrol soal Dilan. Pastilah itu.

- P o k o k n y a cuma kamu yang tahu ya aku sama Dilan? Maksudku aku mau sama
Dilan he he he||

- H e he he iya. Dilan kan gak suka kalau pacaran diumum-umumin||
- D i l a n bilang gitu?j|
—Gak perlu kata dia sih. gak perlu o r a n g tahu||
- B i l a n g gitu ke kamu?||
—Iya. Dia m a h c u r h a t n y a ke saya||, j a w a b P i y a n
"Oh||
- S D . S M P . aku b a r e n g s a m a Dilan terus||, kata P i y a n
- O h ya? ||
- D i l a n p e r n a h p a c a r a n gak?||, k u t a n y a
— W a k t u SMP. p e r n a h s a m a Hemi||. j a w a b n y a
- P u t u s kenapa?||
—Tanya langsung Dilan aja. Takut salah)!
—Iya. K a t a n y a suka p a d a k u m p u l ya di r u m a h Dilan?||.

~ i y a II
—Ngapain?||
- P a l i n g gitar-gitaran. Main domino. Jagoan dia[|
— D o m i n o itu apa?||
—Main gaple||
- O h . Aku pengen ikut ngumpul ||
- T a p i kan itu malem||
- K a n bisa izin dulu ke ibu. Bilang nginep di rumahnya Wati he he he. Tetanggaan.
kan? ||
-iyall
—Bikin acara yuk sama Dilan? ||
- M a l a m minggu suka nyate di belakang rumahnya||
- S a t e a y a m ya?||
- A p a aja||
— A y a m n y a dari mana?||
- Y a beli lah||
- K a t a n y a pernah ngambil a y a m ibunya Wati?||
- H a ha ha ha iya, sekali. Kok tahu?||
- K a t a W a t i ha ha ha||
- H e h e he||
- T a h u a y a m n y a diambil, terus apa kata ibunya Wati?||
- Y a , ga apa-apa. Gitu aja. Kan saudaranya||
Oh. waktu SMP Dilan pernah pacaran. Kenapa putus ya? Apakah Dilan nyeleweng?
Siapa tadi namanya? Hemi. Seru enggak ya Dilan pacaran sama Hermi? Sedikit ada
cemburu, meskipun harusnya aku sadar, toh aku juga pernah pacaran dan putus. Iya sih.
Selain itu. tadi juga kami obrolkan soal Susi, tapi kata Piyan: sudah tidak perlu
diambil pusing.
Ya sudah! Yang penting Dilan gak mau sama Susi.
Sorenya, dengan mobil ayahku, aku pergi bersama ayah, ibu, dan adikku, ke
rumahnya Kang Adi. Sopirnya Bang Faris. Kamu pasti tahu, meskipun aku ikut.
sebetulnya aku malas. Kata ibu. mendingan ikut aja. gak enak. Aku nurut. Padahal aku
lebih suka di rumah, dan mungkin akan dapat telepon dari Dilan.

www.perpustakaanebook.com

Kami datang lebih awal, karena Ayahku, yang diwakilkan kepada Bang Faris, adalah
pihak yang menjadi rekan bisnis ayahnya Kang Adi, sehingga otomatis kami menjadi
bagian dari panitia penyelenggara acara syukuran itu.

Sebelum magrib, kami sudah tiba di sana. Ayah ngobrol dengan Ayahnya Kang Adi di
Paviliun, Ibu dan adikku juga. Kang Adi meminta aku untuk membantu ibunya di dapur
yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Aku nurut, kau tahulah, pasti dengan terpaksa.

Di dapur, tidak cuma ada aku. Kang Adi dan ibunya, tapi ada juga tantenya dan
seorang ibu. yang aku gak tahu siapa dia. Pada sibuk nyiapin ini itu. Tugasku menghekter
dus kertas sambil duduk di lantai. Dus itu akan dipakai untuk tempat makanan yang
akan dibawa pulang para tamu. Aku tidak kerja sendiri, tapi ditemani Kang Adi.

=Bu, disimpan di mana ini?||, kutanya ibu Kang Adi sambil berdiri m e m b a w a
beberapa dus kosong.

- D i situ aja, Neng|| kata ibunya Kang Adi sambil nunjuk ke atas meja.
- J a n g a n manggil ibu lah, panggil M i m i h aja||, kata Kang Adi y a n g masih duduk
bersila di tempat yang banyak tumpukan kertas-kertas dus itu.
- Iya||, j a w a b k u sambil menumpukkan dus kosong di atas meja
—Mih, ini tuh Lia, anak Pak Adnan||, kata Kang Adi kepada ibunya yang sedari tadi
berdiri membungkus beberapa makanan di atas meja panjang. Aku senyum kepada
ibunya yang menoleh kepadaku dan bertanya:
-Kelas berapa sekarang?!
- S M A , Bu||, j a w a b k u
- I b u lagi. Panggil Mimih aja||, kata Kang Adi
—Iya, Kang||, j a w a b k u sambil kembali kerja
- T e h , itu mah dipisahin aja kayaknya||, kata Ibunya Kang Adi kepada ibu-ibu yang
disampingnya yang lagi sibuk misah-misahin makanan.
- U d a h besar ya?||, kata ibunya Kang A d i entah kepada siapa.
-Siapa?||, tanya ibu-ibu di sampingnya
- I t u anak Pak Adnan||, j a w a b ibunya Kang Adi. Oh, ke aku.
—Iya, Mih?||, tanyaku
- K a m u udah besar. Kelas berapa?||
- K e l a s dua, Mih||, j a w a b k u
- K e n a l Adi di mana?||, tanya T a n t e n y a yang lagi duduk sambil ngelapin buah-
buahan
- S a y a ngebimbing dia belajar||, j a w a b Kang Adi
- O o o h , kirain pacarnya||, kata Tantenya
—Bukan ||, j a w a b k u
- C a n t i k juga||, kata T a n t e n y a lagi
- M a k a s i h he he||, jawabku. Habis itu permisi untuk mau shalat magrib.
Menjelang acara dimulai, sudah banyak tamu yang datang, tidak semuanya kukenal.
Sebagian besar pada kumpul di ruang tengah, dan aku juga di situ. bergabung bersama
ayah, ibu dan adikku. Kang Adi berdiri di sampingku, sedangkan Bang Faris berdiri
bersama Ayahnya Kang Adi.
Setelah ayah Kang Adi ngasih sambutan, acara disusul oleh dibacanya doa-doa. Baru
kemudian giliran Bang Faris. diberi mandat untuk memotong tumpeng itu. Pucuk
tumpengnya disimpan di atas piring dan kemudian diberikan kepada ayahku. Acara
syukuran pun selesai, ditutup oleh seluruh tamu dipersilakan menikmati hidangan yang
sudah disediakan.
Kang Adi ngajak aku untuk pergi ke Paviliun, dan bilang:||Kenalan sama temen-
temen.
Sebentar||. Aku ke sana dan kudapati ada 4 orang yang sedang duduk di sofa merah.
Semuanya laki-laki. sebaya dengan Kang Adi. Setelah kenalan. Kang Adi menyuruh aku
duduk di bangku yang ada di sampingnya.

www.perpustakaanebook.com

Kelima orang itu semuanya mahasiswa, masing-masing kuliah di tempat berbeda.

Katanya mereka temen Kang Adi waktu dia di S MA. Kang Adi pergi dan tak lama datang

kembali dengan membawa makanan bersama minuman coca-cola.

- S a y a bikin khusus buat Lia nih||, kata Kang Adi

—Wey, enak nih!||, kata t e m a n n y a

- H e h , buat Lia. ini||, kata Kang Adi seolah m e l e d e k t e m a n n y a itu

-Makasih||, kataku

- B a g i ya, Lia?||, pinta t e m e n Kang Adi y a n g satunya lagi

- B a r e n g - b a r e n g aja||, j a w a b k u

- L i a y a n g bagiin dong||. kata Kang Adi

—Aku y a n g banyak ya, Lia. Belum makan dari SD nih||.

- G i m a n a pacaran sama Adi?||, tanya temannya yang pake s w e a t e r

-Pacar apaan?'

- M a a f i n nih. kita-kita emang suka pada ngebodor||, potong Kang Adi

Sebenarnya aku bingung, di situ harus ngapain, selain untuk menikmati makanan

dan ber-ha-ha-he-he mendengar mereka yang masing-masing pada berusaha ngebodor.

- A n j i i i r ha ha ha ha ha terus ceweknya gimana?||, tanya orang yang bernama Rudi

kepada orang yang bernama Diki.

- K e p a n a s a n lah. kan ditanganku ada Rhemasonnya ha ha ha ha ha ha!!||

- H a ha ha ha ha ha ha. parah!||, Rudi ketawa, Gagan juga. Diki juga, Pipin juga, Kang

Adi juga, aku cuma bisa he he he.

- K a l a u udah kumpul kita mah ya gini, Lia. Seru||, kata Kang Adi

—Iya ||, j a w a b k u

- K a m u pernah gak. tali BH nya kamu tarik dari belakang? Ha ha ha ha||. Rudi nanya

ke orang yang bernama Gagan

- H a ha ha ha!!||. h a m p i r semua ketawa. aku cuma bisa he he he.

Saat itu. saat mereka ngebodor itu, pikiranku sedang naruh curiga, jangan-jangan,

tanpa sepengetahuanku. Kang Adi ngaku-ngaku pada mereka bahwa aku adalah

pacarnya dia. Sialan, kau. Tadinya mau kubilang bahwa aku sama sekali bukan pacarnya.

Tapi tak kunjung bisa kuucapkan, mungkin aku merasa ini tak enak bila aku katakan

sedangkan aku berada di rumahnya.

Serius, aku ingin pulang. Atau minimal aku ingin bergabung dengan ayah dan ibuku

di ruang tengah. Serius, selagi aku di situ. iya betul, diriku memang di situ, tapi pikiranku

sepenuhnya pergi ke Dilan! Dilan, di mana kamu? Lagi ngapain? Kamu pasti nelepon ya?

Akunya gak ada ya? Yang ngangkat si Bibi ya? Kasian. Nanti ya, Sayang, akunya lagi

bosan dulu di sini.

Lalu ayah manggil. katanya sudah saatnya untuk pulang. Memang, sebagian besar

tamu juga sudah pada pergi pulang. Aku berdiri dan pamit pada mereka, lalu pergi ke

ruang tengah disusul oleh Kang Adi. Rasanya aku seperti bahagia karena lepas dari

tempat yang bikin aku bosan.

Di ruang tengah sudah tak banyak orang, tinggal keluarga Kang Adi dan keluargaku.

Ada beberapa orang lainnya yang entah siapa mereka aku gak tau.

- I n i , anak saya, Bu||, kata ibuku m e m p e r k e n a l k a n aku kepada ibunya Kang Adi

—Iya, tadi di dapur. Bantu-bantu. Kirain siapa||, j a w a b n y a

- T e r i m a k a s i h , Adi udah mau ngebimbing Lia||, kata ibuku lagi

- G a apa-apa. Senang kok||, j a w a b Kang Adi nyerobot

- A d i itu suka ngebimbing adik-adiknya juga. Kadang-kadang ada anak tetangga

y a n g pada ikut belajar di sini||, sambung ibunya

—Wah bagus itu||, kata ibuku. Sementara ayahku sudah di luar, sedang ngobrol sama

ayahnya Kang Adi dan Bang Faris.

- J a n g a n pacaran dulu||, kata ibu Kang Adi kepadaku

- H e he he. iya, Bu||, kujawab. Lalu dia ngobrol dengan ibuku untuk m e m b a h a s soal

www.perpustakaanebook.com 3 of 4

lain.

Kami pulang, setelah saling bersalaman. Sesampainya di rumah, jam sudah

m e n u n j u k angka 10.

Jaman dulu. jam segitu, sudah dianggap larut malam. Aku langsung cari si Bibi. dia

ada di kamarnya. Kutanya, apakah Dilan nelepon? Iya katanya.

-Bilang apa dia?'

- N g a j a k Bibi ngobrol||, j a w a b si Bibi

- H e h e he. N g o b r o l apa?||

- A p a ya? Itu, katanya dia lagi di atas pohon ||

- H a ha ha ha ha. Terus?'

- A n e h . A p a lagi ya? K a t a n y a kalau diculik, Bibi mau n o l o n g gak?||

- H a ha ha. Kalau dia diculik maksudnya?!

-Iya||

- T e r u s apa kata Bibi?)

- Y a , m a u lah. Diculik apa t a n y a Bibi?||

- D i c u l i k apa katanya, Bi?||, aku nanya

-Diculik semut jahat|

- H a ha ha ha||

—Terus katanya mau ngajarin Bibi suara bencong, buat nyamar||. kata si Bibi

- H a ha ha ha ha. T e r u s Bibi b i l a n g apa?||

- B i b i b i l a n g g a k mau||

- T e r u s apa katanya?||. aku mulai duduk di kasur si Bibi

- D i p a k s a mau, nanti dikasih uang katanya, seribu||

- H a ha ha. Bibi tahu siapa dia?||

-Siapa?!

- J a n g a n b i l a n g - b i l a n g ya?||

-iyall
- D i a p a c a r Lia he he he||

—Oh?||, Si Bibi n a m p a k s e p e r t i o r a n g t e r p e r a n g a h , m u l u t n y a d i t u t u p d e n g a n kedua

tangannya

- I y a . Bi||

- T e r u s Den Beni?||

- S u d a h hilang!||

- H e he he. Eh? Tadi juga ada yang nelepon||

- S i a p a . Bi?||

- S i a p a ya, N a n d a n gitu?||

- O h iya. Apa katanya?!

- B i b i bilang Lianya lagi k o n d a n g a n , t e r u s udah||

- O h , ya udah I

Lalu aku masuk kamar, setelah bersih-bersih dan gosok gigi. Lelah sekali hari itu,

dan langsung pergi tidur, di kasur yang oke untuk tempat rindu Dilan. Setelah baca doa,

seperti biasa aku bilang sambil senyum: —Selamat tidur juga. Dilan.

Dilanku Sayangku ||

www.perpustakaanebook.com

22. RENCANA PENYERANGAN

Hari sabtu. di sekolah, terdengar ada khabar bahwa Dilan, bersama kelompoknya, mau

nyerang SMA lain di Dago. Aku jadi was-was, meskipun belum pasti apakah itu benar

atau tidak.

Kutanya Wati.

- E n g g a k tahu. Iya gitu?||, W a t i balik n a n y a

— K a t a n y a ||

- G a k t a u ah. Itu m a h urusan dia||

Pas pada waktu istirahat, dengan diantar Wati. aku pergi ke warung Bi Eem. Di sana

sudah ada banyak motor. Tidak kuhitung jumlahnya, kutaksir ada lebih dari 30 motor. Di

halaman warung Bi Eem. kudapati banyak orang, sebagiannya lagi pada kumpul di dalam

warung Bi Eem. Itu. semacam ruangan tamu yang biasa dipake oleh mereka untuk

nongkrong.

Dari wajah mereka, ada yang bisa kukenal, karena memang satu sekolah, meskipun

tidak kutahu namanya. Aku nebak, mereka yang tidak kukenal, adalah siswa dari SMA

lain yang ikut bergabung. Tadinya kami berniat balik lagi. Serem ah. kata Wati. Tapi

kecemasanku akan Dilan menguatkan niatku untuk tetap ke sana.

Waktu mau masuk ke sana. aku mendengar obrolan orang-orang yang pada duduk di

atas tembok pagar itu:

- S a h a euy. Geulis euy||. ( S i a p a nih. Cantik e u y ) . Aku y a k i n m e r e k a adalah siswa dari

SM A lain

—Jeung aing ieu mah|| ( B u a t s a y a ini s i h )

- A n j r i t , kudu d i t a n g a n i eiu mah|| ( A n j r i t , h a r u s d i t a n g a n i ini s i h )

- M a u k e m a n a , Cantik?||. Aku tahu dia nanya ke aku. Aku langsung berbalik

menghadap kepada orang yang bertanya:

—Aku pacarnya Dilan ||. kataku

-oh?||

— M a u ke Dilan?||, satu y a n g lain b e r t a n y a

- A d a dia?||, k u t a n y a lagi

- A d a . Di dalam. M a s u k aja||

- M a k a s i h ||

~ i y a ||

Sungguh, aku tadi keceplosan. Enggak sadar bahwa bersamaku ada Wati. Harusnya

Wati kaget dengan pernyataanku bahwa aku pacar Dilan. Atau tidak? Karena dia sudah

tahu dari Piyan. Tapi kalau Dilan tahu, pasti dia gak akan suka. sebab kata Piyan. Dilan

gak mau kalau dia pacaran semua orang pada tahu. Ah. sudahlah, maafkan aku. tadi

cuma refleks saja.

Aku masuk ke warung Bi Eem dan bertemu dengan Dilan yang sedang ngobrol

bersama satu orang yang tidak kukenal. Sedangkan di bangku yang lain. beberapa orang

sedang pada asik ngobrol. Dilan meminta kawannya untuk bergeser, agar aku bisa duduk

di sampingnya, dan Wati duduk di sampingku. Aku heran kenapa Wati diam terus.

- A k u ingin j a l a n - j a l a n s a m a kamu||, kataku pada Dilan

- K a p a n ? ||

-Sekarang||

-Sekarang?||, Dilan kulihat kaget karena tahu ini sangat mendadak

—Iya||. j a w a b k u . A k u lihat Dilan m e m a n d a n g k a w a n n y a itu.

- K a m u kan sekolah?||. tanya Dilan. m e m a n d a n g k u lagi

- A k u mau bolos||

- H e h ? Kamu harus sekolah ||

- A k u bisa ijin||. kataku. Aku lihat Dilan m e n y e r a h k a n k e r t a s y a n g p e n u h c o r e t a n

kepada kawannya itu.

www.perpustakaanebook.com

—Sekarang juga?||. Dilan n a n y a lagi
-lya||
—Gimana kalau b e s o k ? ||
- A k u ingin sekarang!
- K a l a u sekarang, aku ada perlu, m a u pergi||, katanya
- A k u ingin jalan-jalan sama kamu sekarang!, kataku
- K a n b e s o k bisa?||.
- A k u ingin jalan-jalan sama kamu sekarang!. Kataku
- E h ? Kok nangis?||
- A k u ingin jalan-jalan sama kamu sekarang!
—Mmmm. Ya udah, kalau gitu. Langsung?||
- A k u ambil t a s dulu||
—Iya. K u t u n g g u di sini||
Aku dan Wati pergi, meninggalkan warung Bi Eem, untuk mengambil tasku di kelas.
Kepada Wati aku jadi bilang terus terang, bahwa meskipun belum ada pernyataan resmi,
sebenarnya aku merasa sudah pacaran dengan Dilan. Wati hanya menjawab sambil
memandangku:|| Iya. Dia baik||
Setelah selesai kubuat surat ijin, aku langsung pergi untuk kembali ke warung Bi
Eem. Di sana, kudapati beberapa orang siswa dari SMA lain pada pergi dengan motornya.
Di warung Bi Eem, orangnya jadi sedikit, bahkan tak lama kemudian mereka pada pergi
untuk masuk lagi ke kelas.
Aku duduk dengan Dilan di dalam warung Bi Eem. Orang yang tadi ngobrol dengan
Dilan sudah gak ada.
-Jalan-jalan kemana?!, Dilan nanya
- T e r s e r a h kamu||
- K e Singapur?||
-Kalau aku ingin ke rumahmu?!
-Rumahku di mana ya?'
- A k u ingin ketemu Bunda ||
- N a n t i sore baru pulangi
- J a l a n - j a l a n dulu aja||
- O k e . Kita ke ||
- K e Dago yuk?||
- J a n g a n ||, k a t a n y a
- K e m a n a ajal deh. Pokoknya jalan-jalan. Nanti pulangnya ke rumahmu||
—Iya. Sudah makan?!
- P e r e m p u a n gak suka d i t a n y a ha ha ha ha||
- H e he he. Oke. Berti jangan ditanya. Kamu belum makan dan mau makan sama
aku ||

-iyall
—Kamu rindu aku semalam ||
-Kalau enggak?!
- B e r a r t i kamu bohong||
- H a ha ha. Eh kamu nelepon ya tadi malam?)!
-Iya||
- T e r u s ngobrol sama si Bibi?'

-iyall
—Terus mau ngajarin dia ngomong gaya bencong?'
- H a ha ha ha||
- K e n a p a ketawa?||
- B e n e r . P e r e m p u a n lebih suka banyak nanya||
- H e he he he. Tahu gak aku kemana semalam?|

www.perpustakaanebook.com

- K e rumah Kang Adi||

- H a h ? Kok tahu Kang Adi?||

—Bi Asih y a n g bilang||

- I t u . Ada acara syukuran. Aku pergi sama ayah, sama ibu. Kamu tahu gak Kang Adi

siapa? ||.

Tanyaku, mendadak aku takut dia cemburu.

- K a m u akan ngasih tahu||

- D i a yang bimbing aku belajar||

—Iya. Eh, jadi pergi gak?||

—Iya. Hayu. T a p i cari telepon dulu ya, mau ijin ke Ibu||

—Aku yang nelepon||, kata Dilan sambil berdiri

- A k u aja||. kataku, juga sambil berdiri

—Aku y a n g minta ijin. kan aku yang bawa kamu||

- T a p i aku yang ngajak||

- H e he he he||

Tadinya aku mau nanya Piyan. soal benar tidaknya mereka mau nyerang. Tapi

Piyannya gak ada.

Dia gak sekolah. Izin. ada urusan keluarga kata Wati. Sungguh, tadi itu. aku risau,

kebayang dengan resiko yang akan didapat oleh Dilan kalau benar dia nyerang.

Ya, betul. Aku bisa langsung nanya Dilan. Tapi kamu tahu, kalau benar mau nyerang,

mana mungkin Dilan ngaku. Sudah bisa ditebak, jika dia kutanya, jawabannya akan:

-Tidak||. Itu pasti laaah. Dilan j u g a tahu. kalau dia bilang — Iya||, itu bodoh, aku akan

marah dan melarangnya, lalu gagallah rencananya.

Jadi, aku merasa gak perlu nanya lagi. Kuanggap saja itu benar. Lalu kucari akal

bagaimana bisa gagal. Syukurlah, dengan mengajaknya jalan-jalan, cara itu berhasil. Aku

yakin Dilan heran, kenapa juga harus dadakan.

Jangan-jangan, sebetulnya dia tahu, apa tujuan asli dari aku mengajaknya. Sebab

waktu tadi kuajak, ah, sampai ada air mata pula di mataku (habisnya kesel), kulihat dia

senyum, tapi aku yakin dia juga bingung, mana yang harus dipilih, sedangkan teman-

temannya sudah terlanjur pada datang.

Bahwa akhirnya dia lebih memilih mauku. Aku gak tahu. dia bilang apa ke teman-

temannya.

Tapi aku yakin, Dilan bisa menanganinya dengan baik. untuk tidak membuat kecewa

kawan-kawannya. Hanya saja, aku jadi gak enak. sudah membuat Dilan bingung. Sudah

membuat Dilan repot.

Tapi Dilan juga sama! Membuat aku repot! Bikin risau! Bikin cemas! Bahkan gara-

gara soal itu aku jadi gak sekolah. Aku jadi harus jalan-jalan dengannya dan senang he he

he. Kalau kau jadi aku. kau juga akan gitu lah! Percaya deh!

Aku pergi dengan Dilan. menyusuri Buahbatu yang sepi dan lengang, maksudku

bukan Buahbatu yang ada sekarang, tapi Buahbatu yang dulu. Terus belok, ke arah jalan

Laswi. Yaitu Laswi yang dulu, bukan Laswi yang kini besar dipenuhi oleh banyak

kendaraan.

Di daerah jalan Riau, Dilan membelokkan motornya, masuk ke halaman perkantoran

yang lumayan cukup luas dan teduh oleh banyak pohon tumbuh. Aku bingung, gak tahu

mau apa?

Dilan menyuruh aku turun dan lalu duduk di teras halaman kantor itu.

- I s t i r a h a t dulu di sini||, kata Dilan

- I h ! Ngapain?||, kutanya

- S e k a l i a n ngerencanain mau jalan-jalan kemana||

-Biasanya juga gak pernah direncanain||

-Sekarang direncanain||

Tak lama dari itu. sayup-sayup ada suara gemuruh dari jauh. Makin lama suara itu

www.perpustakaanebook.com 3 of 20

makin jelas.

Itu adalah suara motor, saking banyaknya, jadi gemuruh. Dari halaman kantor itu,

aku lihat mereka lewat. Pengendaranya berseragam SMA dan mengacungkan pedang

samurai.

Kamu tidak akan percaya, bahwa jaman dulu, di Bandung, hal itu benar ada.

Anehnya, kondisi macam itu, dulu masih bisa dianggap sebagai hal yang lumrah, tidak

dinilai sebagai satu hal yang menguatirkan. Aku harus bilang apa. untuk kamu bisa ngerti

bahwa gengmotor jaman dulu, jauh berbeda dengan gengmotor jaman sekarang yang

karena sudah menjurus kriminal jadi pantas diberantas.

- S i a p a ? Kawanmu?||, kutanya Dilan yang sedang duduk dengan dagu berbantal

kedua lengan disimpan di kedua lutut kakinya.

- G a k tahu ||

- M e r e k a itu...maunya apa sih? S o k j a g o ! M e n g g a n g g u . M e n y e b a l k a n ! ||, kataku s e p e r t i

ngomong pada diri sendiri.

- A d a banyak orang, Lia. Beda-beda. Ada orang yang kayak mereka. Ada orang yang

kayak aku.

Ada orang yang kayak kamu. Kamu ingin semua orang sepertimu?||, jawab Dilan

tanpa memandangku.

-Tapi mereka mengganggu ||

- A d a yang sudah mengganggu mereka, yang membuat jadi begitu||

—Apa? ||

- A y o j a l a n lagi||

Kami pergi dari halaman kantor itu, kembali ke jalan Laswi dan belok ke jalan Gatsu.

Itu adalah jalan Gatsu yang lengang dan masih tentram, belum ada BSM nya. Terus belok

ke arah gang Warta dan berhenti di pasar tradisional, entah sekarang masih ada atau

tidak.

—Kita belanja||, kata Dilan

-Belanja?||

-lya||

- B u a t apa?||

- M a s a k di rumah. Mau ke r u m a h kan?||

-lya||

Kami belanja ini itu. Jalannya becek, sisa hujan subuh tadi.

- I n i d a e r a h k e k u a s a a n Kang A t o t . A k u kenal. K a m u b o l e h t e r i a k kalau mau||, kata

Dilan sambil jalan menuju ke tempat motor diparkir.

- G a k mau ||. k u j a w a b

- A t a u tidur di pasar, mau?||

- G a k ! ||

- K a m u bisa b i l a n g - A k u s a y a n g kamu|| kalau mau||, k a t a n y a . Aku s e m p e t t e r d i a m

dulu mendengarnya.

- K e siapa?||, k u t a n y a dia

- K e aku||

- K a m u dulu||

- K e siapa?||, dia n a n y a

- K e aku lah||

- B i l a n g apa?||

—Aku s a y a n g kamu||

-Sudah diduluin sama kamu, barusan|

- H a ha ha ha ha ha||

—Dagu kamu itu bagus, aku tadi takut ada y a n g nawar||

- B e r a p a kalau ada y a n g nawar?||, k u t a n y a

-Harganya?||, dia balik nanya

www.perpustakaanebook.com

—Seribu j u g a kemahalan ||

- S e m u r a h itu?||

- A s a l aku yang belinya||

- H e he he||

Selesai dari pasar, kami langsung pergi. Menyusuri jalan Gatsu yang belum lebar

seperti sekarang ini. Terus belok kanan ke jalan Kiaracondong yang sepi. Dilan

menjalankan motornya pelan sekali.

- M a u kemana?||, kutanya

—Bundamu ||

—Asiik! ||

—Nanti ke si Bunda bilang kita baru pulang dari Mesir ya||

—Biar apa? ||

- B i a r gak percaya||

- H a ha ha ha||

- T e r u s nanti kamu pura-pura bisu||. katanya

-Kenapa?||, kutanya

- B i a r nanti si Bunda bilang, kok jadi bisu?||

- T e r u s ? ||

- N a n t i aku jelasin ke si Bunda||

- B i l a n g apa?||. kutanya

- D i a pura-pura. Bunda||

- H a ha ha! T e r u s aku bilang, disuruh kamu||

- T e r u s Bunda bilang, mau-maunya disuruh||

- T e r u s aku j a w a b , dipaksa Dilan, Bunda||

- T e r u s aku j a w a b , Maaf. Bunda||

- T e r u s tidak dimaafkan sama si Bunda||

- A k u dikutuk jadi batu||

- T e r u s batunya dilempar ke sungai||, kataku

- T e r u s hilang||

- T e r u s aku sedih ||

- T e r u s nyari batu itu. Kamu j a d i tukang batu||

- T e r u s ketemu ||, kataku

- M a u diapain?||, dia tanya

-Dibawa kemana-mana||

—Dikantongin aja, biar gak sakit perut||

- H a ha ha ha||

Kamu pernah merindukan satu tempat, dan ingin pergi ke sana, sangat ingin.

Bagaimana perasaanmu ketika suatu hari ternyata kamu betul-betul ada di sana? Saking

senangnya, kamu merasa kesulitan ketika harus diungkap ke dalam kata-kata. Ya. aku

juga begitu, sama, ketika sampai di rumah Dilan.

Setelah turun dari motor, Dilan bilang: -Tunggu||, lalu pergi ke sana, mengetuk

pintu.

-Iya||. jawabku, berdiri di samping motor, menenteng belanjaan yang dibungkus

dalam dua kantong kresek.

Pintu membuka, oleh orang yang keluar dari rumah. Dia adalah anak muda. lebih tua

dari Dilan. berkaus merah, celana pendek. Aku sudah siap untuk senyum kalau dia

memandangku, sambil menebak siapa gerangan orang itu. Mungkin kakaknya, atau

saudaranya.

- Naon, La?i?||, orang itu bertanya, yang artinya:||Ada apa, Lan?||

- Ceuk si eta mah. ieu imah urang ceunah, Wan?||. j a w a b Dilan, sambil mengarahkan

telunjuknya ke aku. Artinya:|| Masa' kata dia. ini rumah aku. Wan?||.

www.perpustakaanebook.com

Aku tidak mengerti bahasa Sunda, tapi aku bisa faham apa yang sedang dibahas.
Sedikit kuhela nafasku merasa sudah dibohongi. Tadi di motor Dilan bilang ke aku: —Ini
mungkin rumahnya||.

Aku jadi seperti malu ketika orang itu ketawa.
- H a ha ha! Saha, Lan?||. Tanya orang itu. Artinya:||Siapa dia. Lan?|
- Baturan TK||. Jawab Dilan. Artinya:||Teman TK||
- Sia mah! Ha ha ha. Masuk heula atuh||. Artinya: —Ah kamu ini. Ha ha ha. Masuk
dulu sini||
- K e n a l i n , W a n ! Sini. Nak!||. Dilan noleh dan memanggil dengan senyuman
menyebalkan.
Suaranya seperti wibawa seorang ayah pada anaknya.
Setelah kusimpan belanjaan di bawah samping motor, kudatangi mereka, sambil
senyum kepada orang itu. Setibanya di sana. Dilan jadi seperti orang meringis, karena
sengaja kuinjak sepatunya. Orang itu ketawa.
-Lia||, kataku, saat berjabat tangan dengannya
—Wawan! Masuk dulu. Lan||
- L a n g s u n g aja, Wan||. j a w a b Dilan
- O h , ya udah. Rumah Dilan mah di sana||, kata W a w a n kepadaku sambil nunjuk ke
arah kanan
- H e he he iya. Belum tahu||. jawabku.
- N u h u n . Wan. Langsung ya||, kata Dilan sambil mulai akan pergi
—Sami-sami||
- Mangga, Kang||, kataku ke W a w a n
- Mangga. Makasih sudah mampir||
- S a m a - s a m a , Kang||
Dilan menaiki motornya sambil senyum-senyum gak jelas. Aku juga naik, sambil
mencari jenis hukuman yang pantas untuk Dilan, karena sudah berhasil menipuku.
Hukumannya adalah: aku gak mau ngomong dengannya sepanjang perjalanan, bahkan
tidak kujawab ketika dia nanya.
- H a ha ha ha||. Dilan ketawa setelah dia sadar aku gak mau ngomong dengannya.
- K a m u benar-benar bisu ini mah. Bukan pura-pura||, katanya lagi, seperti bicara
pada dirinya sendiri. Aku tetap diam dan berharap jangan sampai dia lihat sebenarnya
aku senyum.
Aku terus begitu, gak ngomong-ngomong, sampai tiba di rumah yang ada mobil
Nissan Patrolnya. Itu mobil si Bunda, aku langsung yakin, kalau yang itu adalah asli
rumah Dilan. Ada seekor anjing menggonggong, ketika aku turun dari motor, dan berhasil
dijinakan oleh Dilan.
Anjing itu lalu pergi, kembali, ke tempat di mana dia tadi.
Aku senyum melihat papan kecil yang ditempel pada sebuah batang pohon dengan
tulisan yang diukir: - A W A S . Y A N G P U N Y A A N J I N G GALAK||.
—Hm hm hm hm?||, Dilan ngomong aneh, tapi aku mengerti dari isyarat tangan yang
ia gerakkan sambil memandangku. Artinya kira-kira:||Mau masuk gak?||. Aku ngangguk.
Gak ada senyuman!
Di ruang tamu. aku duduk dan Dilan ke sana:
- B u n d a ! Ada Debt Coliector!||. Dilan teriak. T a k lama Bunda datang, bersamaan
dengan Dilan masuk ke dalam.
-Siapa?||. tanya Bunda sambil jalan menuju ruang tamu
-Bunda!||. panggilku sambil berdiri dari duduk
—Hai!!||, Bunda teriak setelah melihatku. Dia berdiri seperti orang terkejut.
Tangannya berkacak pinggang dengan mata seperti orang terperangah:
- N o n a cantik rupanya!!!||. seraya mendatangiku: —Wah wah wah||.
—Bunda, Lia rindu||, kataku di dalam pelukannya

www.perpustakaanebook.com

—Wow! Sama, Nak. Bunda juga! Selamat datang di rumah Dilan||, kata Bunda sambil

melepas pelukan. Kedua tangannya memegang dua bahuku.

-Iya||

-Kalau kamu yang datang ||, kata Bunda bagai berbsisik

- Y a , Bunda?||

- D i a gak akan masuk lemariiiiiii...||,

- H a ha ha ha ha||

- A p a ini?||, Bunda nanya soal dua kantong kresek yang ada di kursi

- T a d i . belanja ke pasar sama Dilan he he he||

—Okey! A y o kita ke dapur||

—Iya, Bunda||

- M a n a Dilan?||, Bunda nanya seperti pada dirinya sendiri ketika kami berjalan

menuju dapur.

Di dapur ada seorang ibu yang sedang duduk mengiris daun bawang. Dia sedikit lebih

muda dari Bunda. Ibu itu adalah pembantu di rumah Bunda.

—Diah, siapa coba ini?||, tanya Bunda ke orang itu. sambil merangkul bahuku

- S i a p a ya?||. Bi Diah nanya

—Mi..le...a!||, j a w a b Bunda

- O h . T e m e n Dek Dilan ya? Cantik||

- I y a dong||

- H e he he makasih||. kataku.

- J a n g a n s a m p e kena bau bawang atau cabe ya||, kata Bunda ke Bi Diah sambil dia

gerak-gerakkan telunjuknya

- H e he he he. Lia pengen ikut bantu masak, tapi, Bunda||, kataku

- M a u masak buat Dilan yaaa?||, Bunda seperti orang meledek

- H e he he Dilan sukanya apa?||, kutanya Bunda

- D i l a n ? Dilan sukaaa kamu laaah!||, j a w a b Bunda sambil menyentuhkan

telunjuknya ke hidungku

- H a ha ha ha ha, maksud Lia masakan, Bunda, Dilan suka masakan apa? He he he||

- A p a aja y a n g kamu bikin, dia akan su..ka!||

- H a ha ha||

- Y a udah, sini bantu Bunda||. katanya sambil duduk.

—Ini Bunda lagi masak sayur lodeh. Kau suka?||, kata Bunda lagi sambil m e n g g e s e r

kursi untuk tempat aku duduk.

- S u k a . Bunda||

- D i l a n j u g a suka||

- D i l a n mana, Bunda?||

- M u n g k i n di kamarnya. Nanti, Bunda panggil)

-Dalam lemari kayaknya, Bunda?)

- H a ha ha ha ha)

Telepon rumah Bunda berdering. Bunda pergi ke sana untuk mengangkatnya. Lalu

kudengar dia teriak:

-Dilan! Telepon!)

- S i a p a ? ) , tanya Dilan, kayaknya keluar dari kamar

—Anhar!)

Anhar? Mau apa dia? Memang, harusnya hal itu gak perlu kupikirkan. Siapa pun

orangnya bebas mau nelepon. Tapi instingku bicara soal lain, entah mengapa, aku

merasa gak enak. Tadi itu, Anhar ada ikut berkumpul bersama Dilan di warung Bi Eem.

Aku ngobrol dengan Bunda, sedangkan pikiran terus ke Dilan. Maksudku, aku

menduga, bahwa motif Anhar nelepon Dilan. pasti ada sangkut pautnya dengan rencana

penyerangan. Keduanya terus saling berusaha untuk menjalin koordinasi dari jauh.

Dilan datang ke Dapur dengan tangan menenteng jaket. Dia izin ke Bunda untuk

www.perpustakaanebook.com 7of 20

pergi dulu sebentar. Ada perlu katanya.
- L i a , kamu sama Bunda dulu ya?||, katanya kepadaku.
—Kemana?||, kutanya
- A d a perlu. Sebentar. Nanti kembali. Pergi dulu ya?!||, j a w a b Dilan sambil pergi. Lalu

aku pamit ke Bunda, untuk ada yang perlu diomongkan dengan Dilan dan segera
menyusulnya.

Di ruang tamu, aku dan Dilan saling berdiri berhadapan, beradu mata:
- A k u ikut||, kataku dengan suara pelan
- G a usah. Kamu di sini aja. Cuma sebentar||, Dilan menjawab sambil dia pakai
jaketnya
- K a l a u kamu pergi, aku ikut!||, suaraku masih seperti y a n g tadi, takut k e d e n g e r
sama Bunda
—Iya. Tapi cuma ke situ. Sebentar||
-.Aku ikut! ||
- M a u ambil barang di teman||
-.Aku ikut! ||
Tiba-tiba dari luar terdengar ada salam:
—Salamlikum!||
-Kumsalam||, jawab Dilan bersamaan dengan pintu kebuka. Orang yang ngasih
salam itu masuk, dia perempuan berseragam SMP
-Adikku||, kata Dilan ke aku
—Oh||, aku t e r s e n y u m kepadanya, berusaha untuk ramah
—Hey!||. katanya kepadaku, || Aku Disa||
-Lia||, kujabat tangannya sambil senyum
- T a h u gak nama panjangku?||, dia nanya ke aku
- A p a nama panjangnya?||, kutanya
-Disaaaaaaaaaaaaaaaaa!!||
- H a ha ha||, aku ketawa
- P a n j a n g kan?||, dia n a n y a
- H e he he. Iya||
—Aku masuk dulu ya?||, katanya kepadaku
-Iya||, jawab Dilan. Disa masuk dan teriak manggil Bunda:
—Bunbun, Dadaaa. Bunda!!||
Aku senyum, tetapi saat kupandang lagi Dilan, jadi tidak:
—Aku ikut! Kalau kamu pergi, aku ikut!||, kutatap matanya.
- Y a udah. Kalau gitu gak j a d i pergi ||, katanya, sambil membuka lagi jaketnya.
Aku ke sana, duduk di sofa ruang tamu, sambil terus memandangnya yang mulai
akan duduk di sofa yang lain, yang ada di seberang meja, menghadap kepadaku.
- E m a n g mau kemana sih?||, tanyaku denga suara y a n g sudah jadi kalem
- I t u , ke teman||
- A n h a r ? ||
- B u k a n ||
-Kalau mau ke temanmu, nanti aja barengi
—Jam berapa sekarang?||. tanya dia sambil memandang j a m dinding di atas buffet.
Sudah pukul setengah dua.
Tiba-tiba di luar kudengar suara motor, memasuki halaman. Pengendaranya
langsung masuk ke rumah
—Ow. ada tamu||, kata orang itu setelah melihatku
-Abangku||. kata Dilan ke aku
-Oh||. aku senyum sambil lalu berdiri
- K e n a l i n , Bang. Lia||. kata Dilan ke abangnya
- O h ? Banar!||, katanya sambil dia j a b a t tanganku

www.perpustakaanebook.com

-Liafl
—Mana minumnya?), tanya Bang Banar
- U d a h , Bang di dapur||
-0ke||. katanya sambil masuk ke dalam
Habis itu. kupandang lagi Dilan, tapi tanpa bicara. Nampak tangannya, yang kiri,
menggaruk-garuk kepalanya. Di mulutnya ada sedikit senyuman. Lalu datang Disa:
- B o l e h ikut ngobrol?||. tanya Disa dan aku tersenyum kepadanya
—Sini||, kata Dilan sambil m e m e g a n g s o f a di s e b e l a h k i r i n y a
-Oke||, katanya

- S i n i aja||, kataku sambil s e d i k i t m e n g g e s e r . Disa m e m i l i h d u d u k di s a m p i n g k u
- D i s a kelas berapa?||. kutanya
- K e l a s b e r a p a . Bang?||. t a n y a Disa ke Dilan
- K e l a s Bantam||. j a w a b Dilan (Aslinya, waktu itu, Disa kelas 3 S M P )
- K e l a s Bantam, Kak||, k a t a n y a sambil m e n o l e h k e p a d a k u
- H a ha ha ha S e k o l a h tinju?||, t a n y a k u ke Disa
- K a k a k kelas berapa?||, Disa nanya
- T a n y a Abang||, j a w a b k u tanpa m e n o l e h ke Dilan
- K e l a s b e r a p a , Bang?||, t a n y a Disa
- K e l a a a a s s m e n e n g a h ke atas||, j a w a b Dilan. M u n g k i n m a k s u d n y a Sekolah
Menengah Atas.
- M e n e n g a h ke atas katanya||, kataku pada Disa sambil senyum
— W o w ! H a t i - h a t i j a t u h ||, k a t a n y a
- K a n pegangan||, kataku sambil senyum
- Y a . Bagus ||. j a w a b Disa
Tak lama kemudian kami dengar si Bunda manggil. Dia ngajak kami makan. Aku. Disa
dan Dilan pergi ke ruang makan.
—Aku n e l e p o n dulu||, kata Dilan k e p a d a k u sambil p e r g i m e n u j u t e m p a t t e l e p o n .
-Iya|| kujawab. Aku dan Disa langsung gabung dengan Bunda dan Bi Diah yang sudah
duduk menghadap meja makan.
-Silakan, makan sepuasnya||, kata Bunda
- M a k a s i h , Bunda||, j a w a b k u
- M a n a Banar?||
- D i kamarnya||, jawab Disa
—Bunda y a n g m a n g g i l . atau Disa?||, t a n y a Bunda
—Aku aja||. kata Disa sambil k e m u d i a n dia pergi.
—Ayo, Lia||, kata Bunda sambil n y o d o r i n piring y a n g sudah Bunda kasih nasi,||Ini
m a s a k a n duet Bi Diah sama Bunda||, s a m b u n g n y a .
- N u n g g u Dilan. Bunda||. kataku s a m b i l m e r a i h p i r i n g itu
-Dilan!||. Bunda manggil
- B e n t a r ! ||, Dilan m e n j a w a b dari j a u h . Lalu d a t a n g Disa b e r s a m a Bang Banar
- U d a h makan tadi di kampus||, katanya
— A y o laaah. biar rame||, kata Bunda. Lalu Bang Banar j a d i duduk
- S e d i k i t aja||. k a t a n y a
- D i s a j u g a sedikit ya, Bunda?|| kata Disa
-Kenapa?!
- S e d i k i t - s e d i k i t m a k s u d n y a a a a he he he||, j a w a b Disa
-Seremeh-seremeh?||. tanya Bunda lagi
- E n g g a k ah! Lama||
- H a ha ha. Ini Banar. k a k a k n y a Dilan,|| kata Bunda k e p a d a k u sambil m e m e g a n g
bahu Bang Banar,||Ada lagi kakanya Banar: Landin. Tapi belum datang||, kata Bunda lagi.
- K a n lima Bunda?||, t a n y a k u
- Y a . y a n g sulung. A i d a . Dia ikut suami||, j a w a b Bunda.

www.perpustakaanebook.com

- S u d a h punya anak satu. Masih bayi. Lucu..seperti aku. N a m a n y a Beika||. kata Disa
bersamaan datangnya Dilan.

Kata Bunda, tidak biasanya makan bareng, hanya sesekali kalau kebetulan pada
kumpul. Tapi hari itu adalah hari yang paling bahagia buatku, bisa berada di rumah Dilan.
Bisa kumpul dengan Bunda. Bisa kenal dengan Disa, dengan Bang Banar. Bang Landin,
dan Bi Diah.

Sehabis makan, aku, Disa dan Bunda duduk di ruang tamu, membuka-buka album
dan membahas photo yang ada di dalamnya. Juga ngobrol tentang banyak hal yang cukup
berguna untuk membuat kami akrab sampai kemudian Dilan datang bergabung dengan
kami.

Tapi Dilan seperti orang yang sedang gelisah. Seperti ada yang sedang ia pikirkan
mengenai sesuatu yang harus ia urus. Kukira, itu menyangkut soal rencana penyerangan
yang jadi gagal gara-gara muncul aku di luar dugaannya.

Dia pasti heran dengan sikapku kepadanya hari itu, tapi bukan cuma dia. aku sendiri
juga heran, kenapa aku bisa menjadi Milea yang tidak biasanya. Menjadi Milea yang
manja, maksa-maksa Dilan untuk mau jalan-jalan denganku. Jadi Milea yang rewel
merepotkan, melarang dia pergi menemui temannya.

Pasti ada sebuah kekuatan yang sudah mengalahkan kesadaran, yang telah mampu
mendorongku untuk bersikap seperti itu, dan aku tahu kekuatan itu bersumber dari rasa
cemasku pada resiko yang akan dialami oleh Dilan jika benar-benar dia nyerang.

Dalam keadaanku yang normal, dengan keadaanku yang sadar, mana mungkin itu
bisa, bahkan aku tak akan berani meski hanya meminta dia untuk mengantarku ke
tukang photo copy.

Sungguh, di luar dugaanku bahwa itu benar-benar terjadi.
Meskipun tadi pagi sudah kubilang kepada orang-orang yang duduk di tembok pagar
warung Bi Eem, tapi sebetulnya aku bukan pacar Dilan. maksudku aku merasa belum
resmi menjadi pacar Dilan. kalau memang untuk itu dibutuhkan adanya pernyataan dari
kedua belah pihak.
Tapi apakah pernyataan macam itu diperlukan, agar aku dan Dilan tidak cuma
dianggap sebagai sahabat dekat? Meskipun sikapku dan sikap Dilan kepadaku layaknya
seperti orang yang sudah pacaran. Gak tahu. Aku gak ngerti. Aku serahkan semuanya ke
Dilan yang sudah tidur telungkup di atas sofa panjang. Bunda tadi izin pergi, katanya
mau belanja jahe untuk membuat minuman hangat.
- D i kamar Disa ada selimut?||. kutanya Disa
- K e d i n g i n a n ya?||, Disa balik nanya. Ini Oktober, Bandung sedang dingin.
- K a k a k ambil ya?||, kataku
- D i s a ambilin?||
- B i a r Kakak aja||, j a w a b k u dan lalu pergi ke kamar Disa.
Aku datang bawa selimut, itu bukan untuk aku, itu untuk Dilan.
—Kirain buat Kakak ||, kata Disa
- K a s i a n kedinginan||

-iyall
—Disa sayang sama Dilan?||
- B a n g Dilan?||
-lya?||
-Sayang||, kata Disa sambil meletakkan album photo di atas meja. Itu adalah album
photo yang dari tadi kami bahas. Rame dan juga sedih karena katanya Disa rindu
ayahnya yang sedang bertugas di Timor Timur.
—Ayah Disa lagi berjuang. Dia pahlawan||, kataku berusaha menghiburnya
- D i s a takut ayah ditembak musuh||
—Ayah Disa kan sudah latihan. Dia pasti tahu harus gimana||
- K o k sama? Bunda juga bilang gitu||

www.perpustakaanebook.com

- H e h e he||

—Kata Bunda minggu depan ayah pulang)

- O h ya? ||

- K e n a l a n deh sama tentara||

—Iya. P e n g e n ||

- N a n t i d a t a n g ya kalau ada ayah||

—Iya. Asik||

Setelah Dilan kuselimuti, aku duduk lagi.

- K a k a k n g a n t u k ga?||, t a n y a Disa

—Mmm. enggak||

- D i s a ngantuk. T i d u r dulu ya?||

—Iya. T i d u r ya||

- K a k a k di sini?||

-iyall
Disa pergi untuk tidur di kamarnya, meninggalkan aku yang duduk sendiri,

memandang Dilan yang tidur. Yaitu Dilan yang dulu pernah meramal bahwa aku akan

bertemu dia di kantin dan salah.

Dilan yang dulu pernah datang ke rumahku memberi surat undangan untuk datang

ke sekolah dari senin sampai sabtu lengkap disertai nama Kepala Sekolah sebagai orang

yang turut mengundang. Bukan surat cinta, cuma surat undangan yang aneh. tapi ayah

dan ibu ketawa setelah kuceritakan.

Dilan yang pernah ngirim Bi Asih untuk memijit aku agar bisa lekas pulih dari sakit.

Bentuk perhatian macam apa yang bisa menyamai hal itu? Sederhana, tidak semewah Taj

Mahal, tetapi itu lebih baik dari cuma sekedar kata-kata.

Dilan yang pernah nyuruh tukang koran, tukang sayur, tukang pos, sampai petugas

PLN dan tukang nasi goreng, untuk menyampaikan cokelatnya kepadaku. Seolah-olah

semua manusia di dunia, dengan aneka macam profesinya, bersekongkol untuk membuat

aku senang.

Dilan yang pernah ngasih kado berupa buku TTS yang lebih berharga dari boneka

yang termahal sekalipun. Cuma buku TTS. itu murah, tapi kebayang bagaimana dia harus

begadang untuk mengisi jawabannya, seperti sebuah perjuangan yang harus ia tempuh

demi bisa membuat aku merasa istimewa.

Dilan yang pernah berucap dengan aneka macam kata-kata yang selalu bisa

membuatku bahagia, membuatku ketawa. Kata-kata biasa, bahkan cenderung gak

penting, tetapi aku selalu menunggu dia akan meneleponku setiap malam. Betul, bukan

kata-kata cinta, tapi mampu menumbuhkan rasa cinta.

Dilan yang membuat aku merasa dilindungi, bahkan ketika aku sedang berada jauh

darinya. Aku tahu ia bukan Superman, tapi oleh ada dia aku bisa merasa aman. seolah-

olah dia sudah akan langsung datang untuk menghilangkan setiap orang yang berani

menggangguku, yang berani menyakitiku.

Mungkin aku terlalu berlebihan dengan menilai dia begitu, seolah-olah dia itu orang

hebat, seolah-olah dia itu jagoan, seolah-olah tak ada hal buruk darinya. Seolah-olah dia

sempurna.

Tapi kamu harus tahu, ini adalah hak diriku untuk menganggapnya begitu. Mugkin

kamu tidak mencintai dirinya, tidak menyukai dirinya, syukurlah kalau begitu, sehingga

aku tidak perlu bersaing denganmu untuk bisa memilikinya.

Dilan mungkin tidak paham bagaimana seharusnya memperlakukan wanita, tapi dia

tahu bagaimana membuatku merasa istimewa. Tidak perlu berlebihan bagi dia untuk

membuatku merasa lebih. Dia mungkin bukan lelaki sejati, tapi aku butuh lelaki macam

itu. Dia mungkin bukan tipe lelaki yang kamu idamkan, tapi biarlah aku ingin

memilihnya.

Sekarang, mudah-mudahan kamu maklum, mengapa aku cemas, ketika tahu dia

www.perpustakaanebook.com 11 of 20

akan menyerang SM A lain. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya. Meskipun dia pasti
akan selalu di hatiku tetapi aku juga tak ingin dia hilang dari muka bumi ini, kalau iya,
nanti aku sunyi, nanti aku sedih.

Jadi ingat dengan apa yang pernah Dilan katakan di telepon:
- K a m u pernah nangis?||, kutanya
- W a k t u bayi. pengen minum||.
- B u k a n ih! Pas udah besar. Pernah nangis?||
- K a m u tahu caranya supaya aku nangis?||, dia n a n y a
-Gimana?||
—Gampang||
—Iya gimana?||
- M e n g h i l a n g l a h kamu dari bumi||
Sekarang Dilan sedang tidur. Aku harus tetap di sini, kalau perlu mungkin sampai
magrib.
Pokoknya jangan sampai aku pergi, supaya bisa nahan Dilan jangan sampai dia pergi.
Tadi, sudah kutelpon si Bibi, tolong bilang ke ibu, Lia ada urusan, baru magrib bisa
pulang.
Nyatanya aku baru pulang pukul tujuh. Tapi ga apa-apa. karena bunda sudah
nelepon ibuku. Aku pulang diantar Dilan. naik motor dan pake jaket Army Korea punya
Dilan. Menyusuri jalan Ciwastra yang sepi. Melewati Pasar Gordon yang masih banyak
orangnya. Melewati terminal bemo Sekelimus. Melewati Buah Batu yang bau wangi oleh
sebuah pohon kemuning yang ada tumbuh di pinggir jalan di daerah sebelum apotik.
Pohon itu, mudah-mudahan masih ada Sebelum pukul delapan kami sudah sampai di
rumahku. Di ruang tamu sudah ada Kang Adi. lagi ngajarin Airin. Kami masuk setelah
memberi salam. Airin yang buka pintu.
—Kenalin, Kang! Dilan||. kata saya ke Kang Adi. terus duduk. Airin juga duduk lagi di
sampingku
-Hey!||. seru Dilan. bergegas nyamperin Kang Adi untuk ngajak salaman:
-Dilan!||. sambungnya.
-Adi||. kata Kang Adi. sambil masih tetap duduk:||Silakan duduk||. kata Kang Adi lagi.
-Makasih||. kata Dilan sambil duduk:
- I n i pasti Melati?||, kata Dilan lagi sambil nunjuk Airin
- B u k a n ! ! he he he||, kata Airin
- I n i , namanya Airin||, kataku sambil meluk Airin:||Jago main piano. Lan||.
—Wow. Keren! ||. seru Dilan
-Sedikit||, kata Airin
- K i t a nyanyi oke?||, ajak Dilan
- D i l a n kan bisa gitar. Nah. main bareng. Dilan yang ngegitarnya||, kataku
- A d a gitar?||, tanya Dilan
- A d a . Gitar ayah. Nanti kuambil ||. kataku
- T a p i harus belajar dulu. Lia juga||. kata Kang Adi.
—Ini Dilan yaaa?||, tiba-tiba ibu datang
- L a n . ini Ibu Lia||. kataku
—Eh?||, Dilan berdiri dari duduknya. || Iya. Bu||
—Akhirnya ketemu Dilan ya||, kata ibu senyum
- H e he he kayak yang pernah hilang||, j a w a b Dilan
- H e he he. Bukaaan! Lia kan suka cerita kamu. Penasaran kayak gimana sih?||, kata
Ibu
- K a y a k gini aja. Masih orsinil. Belum dimodif||. jawab Dilan
- H e he he||
—Tadi Lia ketemu Bunda. Bu||. kataku ke ibu
—Iya. T a d i Bunda nelepon. Dilan mau minum apa?||, tanya Ibu ke Dilan

www.perpustakaanebook.com

- A p a ya? Gak usah repot-repot. Air z a m - z a m aja, Bu||, kata Dilan
- H a ha ha ha ha Itu merepotkan!||. aku ketawa. Bunda juga. Airin juga. Kang Adi
kulihat dia tidak.
- A p a dong?||, tanya Dilan seperti bingung
- A t a u bikin sendiri? Ayo?||. t a n y a Ibu
—Iya. Bikin sendiri aja||, j a w a b Dilan
—Iya silakan||, kata Ibu
- A k u bantuin! Tapi ganti baju dulu||, kataku sambil lalu berdiri.
- M a n d i dulu||, kata Ibu
-lya||.
- K a n g . mau dibikinin? Spesial||, tanya Dilan ke Kang Adi sambil berdiri
- G a k . Ga usah. Nanti bikin sendiri||. j a w a b n y a
- K e dapur aja ya||. kata Ibu sambil dia pergi masuk. Aku dan Dilan nyusul.
Di kamar, aku cuma ganti baju. Mandinya nanti aja. gak sabar ingin ke dapur bantuin
Dilan. Pas ke sana sudah ada si Bibi. Ibuku dan Dilan. sedang pada ketawa sambil
membuat minuman jahe.
Perasaan, di jaman dulu. kalau gak salah, di tahun 90an. di rumah-rumah di
Bandung, orang-orang masih pada suka membuat minuman jahe. Juga masih ada tukang
Bandrek. Sekoteng dan Bajigur yang suka lewat depan rumah. Entah kalau sekarang.
- B i . ini Dilan||. kataku ke si Bibi
- H e he he. Udah. tadi, kenalan||. kata Dilan yang sedang duduk di kursi dan malah
mainin jahe yang ada di atas meja, bukannya ngebantuin
- I n i , Bu. Dilan suka ngajak ngobrol si Bibi nih||, kataku ke si Ibu sambil duduk di
kursi berhadapan dengan Dilan. ikut mainin jahe
- H e he he. Ngobrol apa?||, t a n y a Ibu
- N g o b r o l apa, Bi?||, tanyaku ke si Bibi y a n g lagi numbukin j a h e y a n g sudah dibakar
oleh ibu dengan api dari kompor
- B a n y a k hi hi hi. Mau ngajarin Bibi ngomong bencong. Ngajarin tidur kayak ikan.
A n e h - a n e h he he he||, kata si Bibi
- H a ha ha. Tuh ajarin!||, kataku ke Dilan
- B i k i n apa?||, tanya Airin yang datang ke dapur
-Jahe||, kata Ibu, || Udah kamu belajar aja||
-Bosen||, kata Airin sambil seperti mau bantuin si Bibi
—Ibu?||, tiba-tiba Dilan nanya
- Y a , Dilan?||, tanya Ibu
- K e n a p a anak ibu cantik-cantik?||, tanya Dilan
—Iya dong. Kan ibunya j u g a cantik he he||, j a w a b Ibu
- H e he he Iya||. Dilan ketawa
- I t u y a n g namanya Kang Adi||, bisikku ke Dilan. Aku kuatir dia cemburu. Atau tidak.
Entahlah.
—Iya. Ganteng||, j a w a b Dilan
- I h ! Kamu suka?||, tanyaku
- K a l a u dia mau. Oke||, j a w a b Dilan
- H a ha ha ha mau ke kamu maksudnya?||, tanyaku lagi
- M u d a h - m u d a h a n mau|j. j a w a b Dilan
—Kenapa? ||, tanyaku
- B i a r enggak ke kamu||, kata Dilan
- H a ha ha. Dia pengen ke aku||, kataku ke Dilan masih dengan suara berbisik
—Aku p e n g e n ke dia||, kata Dilan
- I h . serius||, kataku
- K a l a u ada yang mau ke kamu. udah biasa kan? Banyak. Gak usah diceritain||
- T a p i aku gak mau ke dia||. kataku

www.perpustakaanebook.com

- K a l a u ada yang gak mau ke dia. udah biasa kan? Banyak||, kata Dilan
- H e he he kamu kan mau?||, tanyaku
- K e n a p a kamu gak mau?||. Dilan balik nanya
- G a k mau aja||
- M a u n y a ke siapa?||, tanya Dilan lagi
-Ke...Iiiiiih. Perempuan gak suka ditanya||, kataku masih bersbisik
- K a m u maunya ke aku||, kata Dilan dengan santai
- H e he he||
—Apa ini pada ketawa gak ngajak-ngajak||. kata si Ibu, sepertinya minuman jahe
sudah siap disajikan
- B u , kayaknya Lia gak belajar ah malam ini?||, kataku ke Ibu
- Y a bilang dong ke Kang Adi||. kata Ibu
- Iya ||, j a w a b k u
Si Bibi membawa minuman jahe ke ruang tamu. Ibu juga pergi ke sana bersama Airin.
Aku masih duduk dengan Dilan di dapur. Kedua tangan Dilan tiba-tiba memegang dua
tanganku.
- D o a i n , Lia||, katanya
- D o a i n apa?||, tanyaku setelah sekilas tadi melihat gerakan tangan Dilan mengelus
jemariku.
Mendadak perasaanku seperti dilanda sesuatu yang sungguh sulit kuungkapkan.
- D o a i n , Kang Adi gak mau ke aku....||, j a w a b Dilan dengan suara berbisik. Kedua
tangannya masih memegang kedua tanganku. Dia lakukan dengan sikap seolah-olah
baginya, itu adalah hal biasa, padahal sungguh, demi Tuhan, baru malam itu ia lakukan
dan aku nyaris gak percaya.
- I h ! Katanya tadi mau?||, kataku, dengan isi kepala y a n g terus mikirin tangan Dilan
yang masih megang tanganku
—Udah berubah... ||, kata Dilan
- D i l a n ! Lia!||. Ibu manggil kami dari ruang tamu
—Iya, Bu. Bentar||. aku teriak m e n j a w a b n y a
- G i m a n a kalau kang Adi mau ke aku? Aku takut! ||, tanya Dilan berlagak seperti
orang yang ketakutan. Kedua tangannya masih mengelus dua tanganku. Sungguh, aku
bingung. Serius. Ini apa? Di saat tangannya begitu mesra memegang tanganku, tapi yang
ia bahas justeru malah soal Kang Adi.
-Liiiiiiaaaa||, Ibu manggil lagi
—Iya, Bu! Ke sana yuk?||, ajakku ke Dilan
- T a k u t , ada Kang Adi||, kata Dilan berbsisik, tangannya masih m e m e g a n g tanganku
- B i a r , sekarang giliran aku melindungimu he he he||
—Jadi tenang||. kata Dilan
- H a haha||
Aku dan Dilan berlekas pergi dari dapur dengan tangan saling bergandengan, dan
lalu dilepas sebelum sampai ke ruang tamu.
- L i n d u n g i aku, Lia||, bisik Dilan seperti orang m e r e n g e k
-Siap!|. jawabku sambil senyum memandang matanya. Lalu kami duduk bersama
Airin. Ibu dan kang Adi yang nampak bingung dia harus bagaimana.
- K a n g . Lia gak belajar ah malam ini||, kataku ke Kang Adi, sambil menuangkan
minuman jahe ke gelas
—Irinjuga||, kata Airin
- E h , kenapa?||, tanya ibu
- M a l a m ini aja||, j a w a b Airin
- G a apa-apa. Besok sore aja ya? Kang Adi besok santai kok||, kata Kang Adi sambil
dia beresin buku di atas meja itu
- Y a udah. Malam ini. karena ada Dilan. belajarnya libur dulu||, kata Ibu

www.perpustakaanebook.com

- T i a p malam minggu ya belajarnya?), tanya Dilan sambil memegang gelas dengan
kedua tangannya

—Iya. Tiap malam minggu), jawab Ibu
-Kalau tiap malam minggu aku ke sini. nanti gak belajar-belajar he he he), kata
Dilan
- Y a belajar dong. Ayo. ikut belajar sama Adi), kata Ibu,)Adi, ayo diminum jahenya),
sambung Ibu ke Kang Adi
- I y a ) , jawab Kang Adi sambil membaca buku. Air jahenya masih utuh karena belum
diminum.
- I b u ke dalam dulu ya), kata ibu sambil lalu dia pergi. Di ruang tamu jadi cuma
berempat. Aku duduk dengan Airin di sofa yang panjang. Kang Adi duduk di sofa yang ada
di sebelah kanan Airin. Dilan duduk di sofa yang ada di samping kiriku.
Tak lama dari itu. telepon rumah berdering. Ibu yang ngangkat. katanya itu dari
Bunda buat Dilan. Dilan ke sana untuk ngobrol dengan Bunda di telepon.
—Diminum, Kang), kataku
-Kurang suka jahe), kata Kang Adi sambil masih juga baca bukunya. Itu adalah buku
Novel yang dia pernah janji mau dikasihin ke aku
—Ooh), kataku sambil mereguk minumanku
- H a r u semangat belajar. Airin). kata Kang Adi sambil menyimpan buku yang sedang
ia baca.
Aku merasa, dia bilang begitu, seolah-olah juga untukku.
-Jangan belajar terus ah, Kang Adi), jawab Airin.
- K a n cuma malam minggu. Gak tiap hari), kata Kang Adi
- I y a ) , jawab Airin
- I n i novelnya), kata Kang Adi, menyerahkan novel itu ke aku sambil memandangku.
- O h , makasih. Kang), kataku sambil kupandang buku itu
-Bagus novelnya! Kang Adi sukanya novel-novel yang mikir gitu). kata Kang Adi
-Bahasa Inggris?), tanyaku sambil masih kulihat-lihat buku itu
—Iya lah). Jawab Kang Adi
- K a k . Irin mau ke ibu dulu), kata Airin sambil beranjak dari duduknya.
—Iya), kataku.
Beberapa detik setelah Airin pergi. Kang Adi pindah tempat duduknya, ke tempat di
mana tadi Airin duduk, yaitu di sampingku. Asli, aku merasa risih, tapi gak tahu harus
gimana. Kutolak gak enak. Bersikap menjauh juga gak enak. Ya sudah lah. Mudah-
mudahan, Kang Adi bukan bermakusd ingin membuat Dilan panas, tapi kurasa iya.
- I n i deh. Pas bagian ini lucu), kata kang Adi sambil meraih buku di tanganku. Sikap
tubuhnya, bisa kubaca, seperti orang yang ingin mendekat. Aku berusaha merhatiin
bagian buku yang ditunjukkan oleh Kang Adi dengan badan yang kujaga untuk tidak
mendekat kepadanya, meskipun tetap dalam sikapku yang santai. Tapi kurasa dia tahu.
Dari tempat Dilan nelepon. dia ngomong ke aku sambil masih memegang gagang
telepon, katanya Bunda ingin ngobrol sama aku.
-Bentar ya. Kang), kataku pada Kang Adi sambil mulai berdiri dari duduk. Kang Adi
tidak menjawab. Dia masih membaca bagian buku yang katanya lucu.
- G i m a n a aku?), tanya Dilan ketika berpapasan denganku
-Gimana apa?),
-Lindungi aku. Please)
- H a ha ha ha. Gengster kok minta dilindungi! Lawan sendiri!), jawabku berbisik
sambil berlalu.
Dan Dilan kembali ke ruang tamu.
Aku angkat telepon dan langsung kusapa Bunda:
—Hei, Bunda!!)
—Hei, Cantik)

www.perpustakaanebook.com

- H e he he makasih||

- T a h u gak, kenapa Bunda tahu ada Dilan di situ?||.

-Karena....Bunda tadi nelepon he he he|| j a w a b k u s e n y u m

—Iya. Pintar kamu. Bunda pengen ke situ. Liaaa ||

—Iya sini. Bunda||,

- K a t a n y a lagi makan sate kelinci ya? Emang Lia suka ya?||,

- H a h ? Ha ha ha ha ha enggak. Bunda! Dilan bilang gitu?||

- A s t a g f i r u l l a h a l a d z i i i i i i i m . Dia itu yaaa!||. Si Bunda seperti orang yang kesel

- H a ha ha ha ha ha. Cuma minum jahe. Bunda||.

- D i a bilang lagi nyate kelinci||.

- H a ha ha enggak||

- D a s a r ! Jahe lagi? Tadi di rumah Bunda. Jahe. Sekarang j a h e lagi||

—Iya. Mabuk jahe. Bunda||.

- T a d i . Bunda kira, beneran nyate kelinci||.

- H a ha ha. gak suka||

- S a m a laah||

- S i n i . Bunda||. kuajak

- P e n g e n . M e m a n g n y a kau punya m o n y e t ya? Bunda kok gak lihat waktu ke situ?||.

—Monyet apa? Gak punya m o n y e t . Bunda||.

- N g a r a n g lagi tuh dia!||

- D i l a n bilang ya?||.

—Iya. Katanya judes. Mana ada m o n y e t judes||. kata Bunda

- H a ha ha ha ha! Gak punya Bunda||

- B i l a n g n y a gitu ke Bunda, tadi itu. dia!||

- B i l a n g punya monyet? Ha ha ha||.

—Iya. Segala minta dilindungi sama kamu. Katanya takut sama monyetnya||. kata

Bunda

- H a ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha||

—Iya! Masa sampai takut gitu||.

- H a ha ha ha ha ha ha ha ha||

- N g a r a n g terus dia itu. A w a s kalau dia pulang!||.

- H a ha ha ha ha ha ha Mau bilang ah ke Dilan. Jangan pulang. Mau dimarah Bunda.

Biar tidur di sini he he he||

—Itu. dia orang, suka ngarang kalau ngomong||.

- G a apa-apa. Bunda. Lia suka||.

—Iya. Makasih! Makasih sudah suka sama Dilan|| kata Bunda pelan

- L i a j u g a makasih. Bunda sudah ngelahirin Dilan he he he||, akhirnya kubilang j u g a

- S a m a - s a m a . Bunda juga senang Dilan sukanya sama kamu||

—Iya Bunda. Lia juga suka||. aku gak tahu, mendadak susah mau ngomong

- I t u , tadi Bunda telepn Dilan, ada tamu di rumah. Katanya mau ke Dilan||, kata

Bunda

- O h ? Siapa, Bunda?||.

- A h ! Siapa itu namanya? Oh. Anhar ya?||

- O h ? Iya! Sendiri. Bunda?||.

- B e r t i g a ||

Setelah beres dengan Bunda, aku ke ruang tamu. Tapi gak ada Dilan. Hanya ada Kang

Adi yang sedang baca buku.

- M a n a Dilan. Kang?||, kutanya Kang Adi

- G a k tau....|| j a w a b n y a . Aku pergi keluar.

- B i a r i n atuh. p e n g e n di luar||, kata Kang Adi

- B e n t a r . Kang||, kataku sambil kubuka pintu. Rupanya dia sedang duduk di bangku

yang ada di bawah pohon jambu itu. Aku ke sana dan duduk di sampingnya.

www.perpustakaanebook.com

—Kirain kemana?||, tanyaku
- G a k ada kamu. Takut||
- S a m a monyet?||, tanyaku
- H a ha ha ha haf|
—Iya sih! ||.
- H a ha ha ha ha||
—Aku tadi dicakarnya nih!||, kata Dilan. Lengan tangannya dia tunjukkan
-Mana?||, kataku sambil kupegang tangannya
—Aaahh!!!||, Dia seperti nahan jeritan, seolah-olah benar luka. yang sakit kalau
disentuh
- G a k ada!||
- T a d i sih ada||, katanya, sambil melihat lengan tangannya
- L a n g s u n g sembuh||.
Tiba-tiba, tangan kanannya, memegang tangan kiriku, sambil ia tatap mataku dan
senyum. Aku juga sama begitu. Dan itu. senyuman yang mewakili kata-kata, ketika sudah
saling mengerti, tak perlu lagi diungkap.
- M a s u k yu?||. kuajak Dilan sambil m e m a n d a n g m a t a n y a
-lya||
- G a k enak nganggurin m o n y e t ha ha ha ha ha||. kataku
—Heh! Gak boleh gitu ahk!||.
—Kamu yang duluan! ha ha ha|| kataku
- H a ha ha! Gak sengaja. Terlalu j u j u r ||.
- E h . Bentar. Ngapain A n h a r ke rumah?||. tanyaku.
- M u n g k i n ada perlu||. j a w a b n y a sambil terus ia pegang tanganku
- A k u gak suka Anhar||. kataku sambil kupandang lagi dia
—Iya. Ga apa-apa||
- N g a p a i n dia ke rumah?||. kutanya dia
- M u n g k i n cuma main||
- A k u ingin kamu jujur||. kataku
—Jujur gimana?||.
- K a m u kemaren mau nyerang?||
- K a n seharian sama kamu terus?||, katanya
-Kubilang: Mau. Kalau enggak kuajak. Kamu pasti nyerang||
- M o n y e t suka j a m b u gak?||, tanya dia sambil m e m a n d a n g ke atas pohon j a m b u
- A k u gak suka kamu nyerang-nyerang||, kataku
- A k u ambil j a m b u dulu ya, buat dia?||, tanya dia
- K a m u denger aku gak?||, tanyaku
—Iya he he he||
- A k u gak suka kamu nyerang-nyerang||.
- I y a . Lia. Enggak||.
—Janji? ||.
- I y a . Janji ||
- M o n y e t suka j a m b u gak?|| tanya dia memandangku.
—Tanya ke dia!||, kataku seperti orang y a n g kesel
-Bentar||, kata Dilan sambil beranjak dari duduknya, melepas tanganku dan pergi
-Heh?!||, aku teriak dengan suara yang pelan, bagai sedang menahan dia pergi
-Bentar|| katanya, sambil terus berlalu dan dia buka pintu:
- K a n g , suka jambu?||, tanya Dilan ke Kang Adi sambil berdiri di pintu dengan tangan
masih memegang handelnya.
- O h . Ini. lagi ngambilin jambu. Kang||, Kata Dilan sambil dia tutup pintu itu, lalu
duduk kembali denganku. Aku tebak, tadi Kang Adi jawab: ||Tidak||
- N g a p a i i i i i n n n heh??!!!! Hi hi hi||, kataku seperti orang m e n j e r i t y a n g ditahan

www.perpustakaanebook.com


Click to View FlipBook Version