The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Presentasi Kelompok 2 (Pemikiran KHD) modul 1.1. Merupakan tugas mengenai pemikiran KHD yang berhubungan dengan nilai sosio cultural dalam pendidikan anak

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by betakristina87, 2023-06-13 00:29:45

Presentasi Kelompok 2 (Pemikiran KHD) modul 1.1

Presentasi Kelompok 2 (Pemikiran KHD) modul 1.1. Merupakan tugas mengenai pemikiran KHD yang berhubungan dengan nilai sosio cultural dalam pendidikan anak

KELOMPOK 2 Fasilitator : Lalu Mohammad Rossyhul Iman Pengajar Praktik : Muryanik, S.Pd. PPEEMMIIKKIIRRAANN K KII H HAAJJAARR D DEEWWAANNTTAARARA Beta Kristina (201501991295) Ratna Etriana (201502323589) Widya Pujiastuti (201502996833) Triningsih (201503785712) Anik Solikah (201511678159) Anggota: 1. 2. 3. 4. 5.


Indonesia memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Kekuatan sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman dalam mendidik (menuntun kekuatan kodrat anak). Kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samarsamar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untnuk menjadi manusia seutuhnya. Pengertian Sosio-Kultural


Sosio-kultural adalah gagasan atau sistem yang mengatur tingkah laku manusia. Ki Hajar Dewantara (KHD) dalam pemikirannya menjelaskan bahwa pendidikan dan pengajaran di Indonesia merupakan upaya yang dilakuakan sebagai usaha bersama dalam mempersiapkan dan menyediakan kebutuhan hidup manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbudaya. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah untuk mempersiapkan pelajar Indonesia sebagai masyarakat global namun sesuai dengan Pancasila dan kearifan lokal. Oleh sebab itu tujuan utama dari pendidikan nasional harus sejalan dengan pemikiran KHD.


Apa Kekuatan konteks sosio-kultural di daerah anada yang sejalan dengan pemikiran KHD? Bagaimana pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuaikan dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks lokal sosial budaya di daerah anda? Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang dapat di terapkan untuk menebalkan laku murid di kelas atau sekolah anda sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di daerah anda yang dapat diterapkan. 1. 2. 3. Tugas Kelompok


Kebiasaan sopan santun dalam adat jawa 1. 2. Tarian daerah (Seni Barongan) Apa Kekuatan konteks sosio-kultural di daerah anada yang sejalan dengan pemikiran KHD? 1. 3. Kerajinan daerah (batik lasem)


Pembiasaan baik berupa 3s (senyum, salam, sapa), ramah tamah, tegur sapa, masyarakat kita terkenal ramah tamah, senyum ketika bertemu, bersalaman dan saling menyapa. Tegur sapa menjadi sesuatu yang sangat kental bagi warga sekitar kita. Jika bertemu, mereka akan langsung bertegur sapa dengan cara khas daerahnya. Misalnya: ketika bertemu orang yang lebih tua, kita di jawa membiasakan diri dengan menyapa dengan bahasa krama apalagi lewat didepan orang tua kita terbiasa dengan menundukkan kepala untuk menyapa/lewat didepan orang tersebut, hal ini menunjukkan bahwa ada nilai kesopanan didalamnya. a. Kebiasaan (sopan santun dalam adat jawa)


Barongan sendiri merupakan topeng kepala yang dibuat menyerupai singo barong atau singa besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas. Seni Barong biasanya ditampilkan dalam bentuk tarian kelompok. Didalam seni barong tercermin sifat-sifat masyarakat, seperti spontanitas dalam gerakan, kekeluargaan, gotong royong dalam menyiapkan perlengkapan, kesederhanaan gerak, keras dan kompak dalam gerakan tari, dan keberanian yang dilandasi kebenaran. Sehingga Pembelajaran dengan mengangkat ektrakurikuler ‘Tari’ terutama Seni Barongan merupakan kegiatan yang diangkat oleh sekolah dalam konteks sosio-culture yang mendekatkan kita dengan masyarakat. b. Tarian Daerah (Seni Barongan)


Batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia. Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah dan terkenal dengan produksi batik. Daerah ini memiliki banyak penghasil batik terbaik di Jawa dengan ciri khas batik pesisir yang indah melalui pewarnaan yang berani. Batik lasem trediri dari banyak motif antara lain latohan, watu pecah (watu kricak), gunung ringgit, kupu-kupu, kilin dan lain sebagainya. Pembuatan batik diterapkan di sekolah-sekolah melalui pembelajaran mulok, hal itu di lakukan agar murid tidak melupakan nilai-nilai budaya local dan dapat menerapkan sikap gotong royong, dan peduli lingkungan. c. Kerajinan Daerah (Batik Lasem)


2. Bagaimana pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuaikan dengan nilainilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks lokal sosial budaya di daerah anda?


3. Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang dapat di terapkan untuk menebalkan laku murid di kelas atau sekolah anda sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di daerah anda yang dapat diterapkan. Setelah melakukan diskusi kami menyepakati satu kekuatan yaitu Kerajinan Daerah (Batik Lasem). Karena banyak nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya yang sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Selain itu batik juga merupakan hasil karya bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia. Dalam pembuatan batik diterapkan di sekolah-sekolah melalui pembelajaran mulok, hal itu di lakukan agar murid tidak melupakan nilai-nilai budaya local dan dapat menerapkan sikap gotong royong, kreativitas, peduli lingkungan, nasionalisme, kesopanan dan lain sebagainya.


Macam - Macam Motif Batik Lasem Latohan Watu Pecah


1. Sri Endah Wati Bagaimana cara menanamkan program 6 S di mana saja dan kapan saja? -Menerapkan pemikiran KHD tentang budi pekerti di rumah dan sebagai pembiasaan. -Kolaborasi orang tua dan guru untuk selalu mengingatkan dan memberi contoh pada anak 2. Ambar Retnowati Mengapa dalam Pendidikan perlu perspektif sosio-kultural? Apakah penting dan apa manfaatnya? - Untuk menyiapkan peserta didik terjun ke masyarakat -Sangat penting agar tidak kehilangan jati diri -Membentuk karakter anak 3. Bu Muji Bagaimana cara agar anak bisa berbahasa jawa (krama) di era digital saat ini? -Komunikasi dengan orang tua agar membiasakan berbahasa jawa di rumah. -Mengadakan program menggunakan bahasa jawa di sekolah. -Pembiasaan 5 kalimat dalam 1 bulan dengan Bahasa Jawa. 4. Siti Khoifah Bagaimana cara menumbuhkan gotong-royong pada anak? -Dengan memberikan contoh, tidak hanya sekedar perintah. -Pemasangan poster tentang gotong-royong -Membiasakan kita ikut dalam kegiatan gotong-royong. Sesi Tanya Jawab


Belum selesai pemberian karakter yang kita berikan kepada anak sehingga karakter sopan santunnya tidak bisa tertanam. Sebagai pendidik kita harus punya suatu keunikan agar diingat anak-anak. Pendidikan tata krama endingnya adalah pada peningkatan karakter anak. 1. 1. 2. 3. Kesimpulan Diskusi


Terima Kasih Semoga Bermanfaat


Click to View FlipBook Version