The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sheerenfahira, 2022-05-23 22:15:52

578-1409-1-SM

578-1409-1-SM

Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon

BENTUK, MAKNA DAN FUNGSI
SENI KERAJINAN BATIK CIREBON

Wuri Handayani
Program Studi Tata Rias dan Busana
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung
e-mail: [email protected]

ABSTRACT

Art Cirebon batik as Indonesian cultural heritage of the past presence of cultural reflection derived
form has its own peculiarities in terms of both the creation and development aspects. It is important to
conduct research aimed at identifying the internal and external factors that influence the development
of Batik Cirebon, change of batik Cirebon products. This study uses a qualitative method by applying
a multidisciplinary approach, an aesthetic approach, approach history and sociology approach. The
results showed that the dynamics of the development of Batik Cirebon due to internal factors, namely
creativity and innovation as well as artists and creative leaders and influenced by external factors
such as government, cultural institutions, tourism, people, and technology and media information. In a
further development, batik Cirebon then not only as an object that reflects the cultural values of craft,
but also have an economic value and impact of social and cultural life of the community.

Keywords: Development, Arts Crafts, Cirebon Batik

ABSTRAK

Seni kerajinan batik Cirebon merupakan warisan budaya bangsa Indonesia masa lampau yang
kehadirannya berawal dari bentuk refleksi kebudayaan yang memiliki kekhasan tersendiri baik
ditinjau dari aspek-aspek penciptaannya maupun aspek-aspek perkembangannya. Maka perlu
kiranya dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi perkembangan batik Cirebon, perubahan bentuk, makna dan fungsi, produk batik
Cirebon. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan menerapkan pendekatan multidisiplin,
yaitu pendekatan estetis, teori pendekatan sejarah dan pendekatan sosiologi. Hasil penelitian
menunjukan bahwa dinamika perkembangan batik Cirebon terjadi karena adanya faktor internal
yaitu kreativitas dan inovasi perajin serta adanya tokoh yang kreatif serta dipengaruhi faktor ekternal
seperti pemerintah, lembaga budaya, pariwisata, masyarakat, dan teknologi serta media informasi.
Pada perkembangan lebih lanjut, batik Cirebon kemudian tidak sekedar sebagai benda kriya yang
merefleksikan nilai-nilai budaya, akan tetapi juga memiliki nilai ekonomis dan berdampak pula pada
kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Kata Kunci: Perkembangan, Seni Kerajinan, Batik Cirebon

PENDAHULUAN berakhiran “tik”, berasal dari kata menitik
yang berarti menetes yaitu menitikkan malam
Batik merupakan salah satu bentuk dengan canting sehingga membentuk corak yang
ekspresi kesenian tradisi yang dari hari ke hari terdiri atas susunan titikan dan garisan (Anas
semakin menapakkan jejak kebermaknaannya et al., 1997, h. 14). Menurut terminologinya,
dalam khasanah kebudayaan Indonesia. Secara batik adalah gambar yang dihasilkan dengan
etimologi istilah batik berasal dari kata yang menggunakan alat canting atau sejenisnya

58 Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

Wuri Handayani terus berkembang dan pada akhirnya menjadi
kerajaan Cirebon. Demikian pula dengan
dengan bahan lilin sebagai penahan masuknya terjadinya migrasi penduduk dari Jawa Tengah
warna. Batik sebagai kata benda merupakan ke Cirebon untuk mencari penghidupan baru.
hasil penggambaran corak di atas kain dengan Hal ini menambah semarak dan beragamnya
menggunakan canting sebagai alat gambar dan masyarakat yang bermukim di wilayah Cirebon.
malam sebagai zat perintang. Artinya bahwa
secara teknis batik adalah suatu cara penerapan Salah satu asimilasi dari berbagai pengaruh
corak di atas kain melalui proses celup tersebut dapat terlihat dalam perwujudan
rintang warna dengan malam sebagai medium seni batik Cirebon. Secara visual batik Cirebon
perintangnya. memiliki banyak ragam dan corak yang
menggambarkan betapa banyaknya pengaruh
Mengamati sejarah perkembangan seni dari luar, baik mancanegara maupun daerah
batik di Jawa, Provinsi Jawa Barat adalah salah sekitar yang memiliki hubungan erat dengan
satu daerah yang memiliki seni membatik. Jawa Cirebon. Pengaruh dari luar yang tampak pada
Barat sebagai tempat lahir dan berkembangnya batik Cirebon berasal dari Cina, Arab (dunia
kebudayaan Sunda memiliki beberapa sentra Islam) dan India (mitologi Hindu), Di antara
batik yaitu Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, tiga budaya tersebut, seni rupa Cina memiliki
Garut dan Ciamis. Masing-masing daerah pengaruh yang sangat besar. Hubungan erat
memiliki ciri khas sesuai dengan alam dan antara Cirebon dengan Cina terjadi karena para
lingkungan, yang memperkaya corak batik Jawa saudagar dari Cina sering tinggal dan menetap
Barat. Cirebon merupakan salah satu daerah di daerah ini. Selain itu banyak di antara orang
penghasil batik di Jawa Barat yang memiliki Cina yang menikah dengan penduduk setempat.
kekuatan dalam penggambaran setiap motifnya. Demikian pula dengan menikahnya Sunan
Hal ini disebabkan sejarah batik di Cirebon Gunungjati dengan Oeng Tien, seorang putri
terkait erat dengan proses asimilasi budaya dari kekaisaran Cina (Abdurachman et al., 1982,
serta tradisi ritual religius. Sejarah batik Cirebon h. 38) memiliki dampak yang sangat besar pada
dimulai ketika Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) bidang seni dan arsitektur di Cirebon. Hal ini
menjadi tempat persinggahan pedagang misalnya, dapat dilihat dengan adanya ragam
Tiongkok, Arab, Persia, dan India, dengan adanya hias awan dan bebatuan (megamendung dan
persinggungan budaya yang berlainan tersebut, wadasan) yang terdapat di keraton Kasepuhan
akhirnya banyak melahirkan pembauran baik dan Taman Sunyaragi . Hal serupa terdapat pula
asimilasi maupun interkulturasi yang satu pada motif kain batik, yang di antaranya pada
sama lain saling mempengaruhi (Sondari & batik motif Taman Arum.
Yusmawati, 1999/2000, h. 6). Secara geografis,
Cirebon merupakan wilayah setrategis yang Hubungan Cirebon sebagai daerah
letaknya berada di pesisir pantai utara Jawa, kota pelabuhan dengan daerah-daerah lainnya
ini merupakan tempat bertemunya berbagai dengan para pendatang dari berbagai negeri
kebudayaan. yang membawa tata-nilai seni budaya telah
menjadikan Cirebon mengalami suatu
Dalam buku Purwaka Caruban Nagari pembauran budaya baik secara internal dan
yang ditulis pada tahun 1720 disebutkan pula, eksternal. Hubungan perdagangan yang erat
bahwa berbagai bangsa sering mengunjungi antara Cirebon dengan negeri Cina, Arab, India
pelabuhan Cirebon yang mula-mula, yaitu: (Hindu), telah pula menyebabkan kultur Cirebon
“orang Cina, Arab, Parsi, India, Malaka, Tumasik, berpadu dengan kultur-kultur asing tersebut
Pasai, Jawa Timur, Madura dan Palembang” (Julianita et al., 1996/1997). Perpaduan budaya
(Atja, 1986, h. 30). Awal mula penduduk Cirebon tersebut pada akhirnya telah membuahkan
konon merupakan masyarakat pendatang dari corak-corak cultural yang beragam pada
kerajaan Galuh Pakuan, yang menetap dan kebudayaan Cirebon umumnya. Batik Cirebon
mendirikan sebuah perkampungan nelayan.
Kondisi perkampungan tersebut semakin lama 59

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

memiliki keunikan dan kekuatan dalam Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon
penggambaran desain motifnya yang telah
diakui masyarakat pencinta batik. Batik Cirebon kebutuhan sandang dan lainnya, beberapa
sendiri termasuk golongan batik Pesisir, namun pengrajin telah mengembangkan produk batik
sebagian lain juga termasuk dalam kelompok lebih bervariatif dan mengikuti perkembangan.
batik Keraton. Apabila dilihat dari sisi ragam
hiasnya, maka batik Cirebon memiliki dua ragam METODE
hias, yakni batik pesisiran yang dipengaruhi
Cina dan batik Keraton yang banyak dipengaruhi Batik Cirebon mempunyai peranan
oleh agama Hindu dan Islam. yang sangat penting bagi kelangsungan dan
usaha-usaha pelestarian serta pengembangan
Cirebon merupakan salah satu sentra nilai-nilai budaya masyarakatnya, oleh karena
batik di pulau Jawa yang memiliki perjalanan itu perlu diperhatikan berbagai faktor yang
panjang. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari peran mempengaruhi terhadap perkembangan
pusat pemerintahan (Keraton Cirebon) dan dan perubahan produk batik tersebut, baik
lingkungan sosial masyarakat penyangga tradisi dalam bentuk, makna dan fungsi. Berdasarkan
membatik, seperti beberapa tempat produksi pada permasalahan yang diajukan tentang
batik, yakni Kenduruan, Paoman, Trusmi, dan perkembangan batik Cirebon kajian bentuk,
Kalitengah. Dari beberapa sentra seni kerajinan makna dan fungsi, maka penelitian ini digunakan
batik tersebut hanya di desa Trusmi yang masih metode kualitatif.
bertahan hingga saat ini. Pengrajin batik Trusmi
merupakan pemasok batik untuk memenuhi Selain menggunakan metode kualintatif
kebutuhan Keraton. Motif batik untuk keperluan penelitian ini menggunakan pendekatan
ini memiliki makna filosofis. Di samping itu multidisiplin, Soerdarso (1999, h. 192)
pengrajin batik Trusmi juga memproduksi batik menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin
gaya pesisiran untuk memenuhi kebutuhan sangat dianjurkan dalam penelitian seni rupa.
masyarakat. Gaya ini lebih dinamis dalam Pendekatan multidisiplin dalam penelitian
mengikuti selera pasar tanpa harus memiliki sangat mungkin diterapkan, karena seni juga
makna filosofis. berkaitan langsung dengan masyarakat sebagai
pelaku, dan penyangga yang menghasilkan
Pertumbuhan dan perkembangan batik produk batik Cirebon, yang digunakan oleh
Cirebon yang memiliki kedua klasifikasi masyarakat. Penelitian kualitatif dengan
yaitu batik Pesisiran dan batik Keratonan. pendekatan multidisiplin ini dilakukan untuk
Perkembangan batik Cirebon dalam kurun menjawab persoalan tentang fenomena, dengan
waktu 10 tahun belakangan ini cukup melonjak tujuan mendeskripsikan dan memahami
dari sisi jumlah (Data Yayasan Batik Jawa Barat). objek dari beberapa sudut pandang untuk
Ketika batik diakui oleh UNESCO sebagai World dikolaborasikan untuk kajian objek yang sama.
Heritage (Warisan Dunia) pada tahun 2009,
berbusana batik menjadi mode dan batik HASIL DAN PEMBAHASAN
Cirebon kembali berkembang lagi dengan
hasil dari produksi yang awalnya hanya berupa Latar Belakang Sejarah Cirebon
kain, berkembang menjadi aneka ragam bentuk
dan jenisnya dari bahan dan barang jadi yang Pemukiman awal yang kemudian bernama
beraneka ragam, dari busana dan aksesoris Cirebon diyakini awalnya adalah sebuah wilayah
yang semua bermotif ciri khas Cirebonan. pedukuhan di kaki Gunung Sembung dan bukit
Dahulu batik Cirebon umum digunakan untuk Amparijati di pantai utara Jawa, di sebelah utara
kain sinjang (jarik) berupa lembaran-lembaran tempat tersebut (di pesisir utara Cirebon) sudah
kain yang menggunakan warna dan motif-motif ada beberapa tempat kegiatan manusia. Tempat
tradisional, kini juga berfungsi untuk memenuhi
Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018
60

Wuri Handayani dimaksud kegiatan ritualistik adalah meliputi
berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang
yang dimaksud adalah Muhara Jati, tempat tersimpun dari rukun Islam. Bagi orang Jawa,
ini merupakan pemukiman nelayan sekaligus hidup ini penuh dengan ritual atau upacara.
sebagai pelabuhan. Pemukiman yang semula Secara luwes agama Islam memberikan warna
bernama Caruban berada di bagian pedalaman, baru dalam upacara yang biasanya disebut
sebelah barat dari pantai, sehingga disebut kenduren atau selamatan. Membahas masalah
Caruban Girang (Atja, 1975, h. 86). budaya, maka tak lepas pula dengan seni, Cirebon
memiliki beberapa tradisi ataupun budaya dan
Asal-usul Cirebon juga dapat ditemukan kesenian yang hingga sampai saat ini masih
dalam historiografi tradisional yang ditulis terus berjalan dan masih terus dilakukan oleh
dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis masyarakatnya. Salah satunya adalah upacara
pada abad ke-18 dan ke-19. Diantara naskah- tradisional Maulid Nabi Muhammad SAW
naskah yang memuat sejarah awal Cirebon yang telah ada sejak pemerintahan Pangeran
adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cakrabuana, dan juga Upacara Pajang Jimat dan
Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad lain sebagainya.
Walangsungsang, dan lain-lain. Pada naskah
Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada Seni Kerajinan Batik Cirebon
tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera
Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai Cirebon merupakan daerah yang terletak
perantara para Bupati Priangan dengan VOC di tempat strategis. Hal ini menjadikan wilayah
antara tahun 1706-1723 (Hardjasaputra et al., itu dengan mudah mendapat banyak pengaruh
2011, h. 19). Dalam naskah itu pula disebutkan dari luar. Selain itu daerah Cirebon juga
bahwa asal mula kata Cirebon adalah sarumban, memiliki Keraton sebagai pusat pemerintahan
lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi yang kini telah berubah menjadi pusat budaya.
Caruban. Kata ini mengalami proses perubahan Hal itu mendorong batik yang berkembang di
lagi menjadi Carbon, berubah menjadi kata Cirebon memiliki keunikan tersendiri, yakni
Cerbon, dan akhirnya menjadi kata Cirebon. masuk dalam dua kategori batik yang ada yaitu
pesisiran dan pedalaman. Batik Keratonan
Terdapat pula sumber yang memberitakan Cirebon sangat kental dengan makna simbolis
mengenai Cirebon adalah catatan perjalanan yang berhubungan dengan kosmologi Cirebon.
Tomo Pires (orang portugis) ke kawasan Asia Artinya, batik bukan sekedar ungkapan estetis
yang dibukukan pada Tahun 1513-1515 berjudul yang visual, akan tetapi di dalamnya memuat
Suma Oriental (Cortesao, 1944, h. 179). Ia datang sistem nilai tertentu yang diyakini dan dihidupi
ke Pulau Jawa setelah mengunjungi Malaka, masyarakat khususnya Keraton yang ada di
untuk membeli rempah-rempah. Tome Pires Cirebon. Oleh karena itu kemudian motif batik
dalam catatannya menyebut Cirebon dengan Keratonan biasanya menyimpan atau memiliki
Choroban dan menulisan Cirebon adalah kota makna simbolis. Batik pesisiran cenderung
pelabuhan yang baik dan ramai oleh kegiatan memiliki pola dinamis dan warna-warna cerah
perdagangan, sedangkan dalam sumber Belanda, yang dihasilkan oleh para pengrajin untuk
Cirebon ditulis Charabaon, kemudian berubah memenuhi kebutuhan masyarakat luar.
menjadi Tjerbon dan Cheribon. Masyarakat
setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini Fakta sejarah menunjukkan, Seiring
kemudian berubah pengucapannya menjadi berjalannya waktu yang membawa perubahan
“Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”. tatanan masyarakat, pemerintahan, dan pasang
Grage berasal dari kata glagi yang berarti udang surutnya perekonomian, pusat-pusat perbatikan
kecil yang telah kering (Hardjasaputra et al., di Cirebon banyak yang tidak lagi berproduksi,
2011: 19).
61
Kondisi Budaya Kerajaan Cirebon
mengajarkan agar para pemeluknya agar
melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik. Yang

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

bahwa sejak dekade tahun 1940-an, beberapa Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon
sentra batik banyak yang sudah tidak terdengar
lagi denyutnya. Di Keraton Kasepuhan dan kreativitas perajin untuk beradaptasi terhadap
Kanoman sudah tidak ada lagi aktivitas perubahan yang muncul dalam masyarakat, dan
membatik, begitu pula di Kenduruan dan bermanfaat sebagai solusi atas tekanan serta
Plumbon (Desa Gombang). Pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan hidup yang ditopang
perkembangan batik Cirebon yang menunjukkan melalui usaha pembatikan.
denyut signifikan adalah yang terjadi di Trusmi
dan desa tetangganya Kalitengah. Akan tetapi, Para perajin batik Cirebon membuat
pada perkembangan selanjutnya yang lebih pengembangan dengan inovasi pembuatan batik
dikenal adalah batik Trusmi. Batik Trusmi-lah yang mulai disesuaikan dengan selera konsumen
satu-satunya sentra perbatikkan Cirebon yang dan perkembangan zaman namun masih
merupakan representasi batik Cirebon yang memegang kuat unsur kekhasan batik Cirebon,
merangkum seluruh perkembangan batik yang perkembangan batik Cirebon sebagai budaya
ada di Cirebon disamping terus berkontak tradisional Cirebon dari perangkat ritual adat,
budaya dengan sentra- sentra perbatikan kebentuk produk-produk praktis dan ekonomis
lainnya di Indonesia. ternyata membawa perkembangan terhadap
bentuk visual yang baru dan berbeda dengan
Berkaitan dengan perkembangan sebelumnya. komersialisasi batik Cirebon
batik Cirebon, di satu sisi kelangsungan adalah suatu bentuk seni yang pengerjaannya
produksinya merujuk pada ketekunan di sesuaikan dengan kecepatan waktu dan
aktivitas yang berkelanjutan dengan produk daya beli masyarakat. Perubahan produk batik
yang diilhami oleh jenis-jenis bentuk tradisi tersebut dapat dilihat pada fungsi, gaya dan
yang pernah dilakukan, di sisi lain perubahan strukturnya. Perkembangan zaman sejalan
terjadi dengan memunculkan bentuk-bentuk dengan perubahan aktivitas manusia saat
baru. Bentuk produk baru yang dimaksud ini yang semakin kompleks dan memerlukan
tidak hanya menunjuk pada produk yang kepraktisan dalam segala hal, baik aktivitas
sebelumnya pernah dilakukan perajin, akan sehari-hari maupun bekerja. Batik dengan fungsi
tetapi baru dalam pengertian perubahan itu kain panjang dan sarung dianggap sebagian
menampilkan citra kebaruan. Perkembangan masyarakat tidak relevan dikenakan untuk
yang terjadi pada batik Cirebon karena adanya beraktivitas di zaman modern. Perubahan tata
peran elemen perubahan sebagai motif cara berpakaian dan gaya hidup mengakibatkan
dominan yang berpengaruh, dan muncul dari terjadinya perubahan kebutuhan jenis pakaian.
luar (eksternal) dan dari dalam (internal). Para perajin dengan kreativitasnya menciptaan
Elemen perubahan tersebut adalah lembaga produk batik Cirebon dengan melihat
budaya, perancang mode, masyarakat, media perkembangan kebutuhan masyarakat.
informasi, pariwisata, yang telah mengubah
pandangan para perajin terhadap aktivitas Pengaruh zaman telah menjadikan batik
usaha perbatikannya. Elemen pembaharu Cirebon mengalami perkembangan. Pengaruh
yang datangnya dari luar member kontribusi juga disebabkan oleh pengaruh yang masuk dan
ilmu pengetahuan, teknik, keterampilan, dan diterima dengan baik oleh para perajin batik
gagasan yang dipindahkan kepada para perajin Cirebon. Berdasarkan pengertian diatas gaya
sebagai penemuan baru. Melalui beberapa seni batik Cirebon tidak terlepas dari bentuk
perajin menyebar pada satu komuntas perajin, yang ditampilkan. Gaya setidaknya sangat
dari satu komunitas menyebar ke komunitas membantu untuk membaca apa yang ada pada
perajin batik Cirebon lainnya. Penemuan baru produk seni, baik bahasa rupa maupun makna
yang diperoleh mempengaruhi pandangan para dari suatu karya seni. Meninjau gaya seni batik
perajin. Perubahan perkembangan ini memicu Cirebon mencerminkan kurun waktu dan daerah
memerlukan penjelasan yang sangat rumit, dan
62 tidak terlepas kaitannya dengan kesenian yang
berpusat di Keraton. Kusnadi menjelaskan

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

Wuri Handayani Tidak ada perbedaan kuat antara ragam
hias batik Keraton dan batik rakyat (pesisir)
bahwa seni yang berpusat di Keraton (istana), seperti di Jawa Tengah, di mana Keraton selalu
perkembangannya didukung oleh kebudayaan menerapkan pengaruh yang kuat. Keraton-
istana. Maka lahirnya kesenian (seni lukis, seni Keraton Cirebon tidak pernah menetapkan
kriya, seni batik dan lainnya) dalam bentuk pembatasan atau perlakuan ketat dalam
klasik, yang dituntut oleh segala pedoman dan pemakaian corak, meskipun secara umum
peraturan seni yang tidak dapat dilepaskan diakui bahwa setiap corak mencerminkan
dari tugas-tugas kegunaanya, sebagai benda kebijaksanaan serta falsafah tertentu, sehingga
kebesaran perangkat istana dalam upacara beberapa corak batik dianggap lebih cocok
adat, untuk mendukung perayaan peristiwa- untuk upacara-upacara tertentu.
peristiwa yang berkaitan dengan kepercayaan
atau keagamaan. Sesuai dengan perubahan Ramainya kegiatan pariwisata tampaknya
zaman dan perkembangan ekonomi, terjadilah turut memberikan andil bagi pertumbuhan dan
persinggungan antara kegiatan seni istana perkembangan batik Trusmi pada kurun waktu
dengan seni yang berkembang di kalangan pertengahan ‘90-an hingga saaat ini. Kedatangan
masyarakat di luar istana. maka bergeserlah nilai turis domestik dan mancanegara maupun
seni dari benda-benda upacara menjadi benda kebutuhan event-event pameran yang sering
pakai yang dipengaruhi oleh perkembangan diselenggarakan oleh lembaga pemerintah
ekonomi. dan pihak swasta kembali membangkitkan
dinamika perbatikan Trusmi Cirebon. Produksi
Merujuk pendapat di atas, dalam batik tulis tampaknya kembali muncul ke
memberikan penjelasan gaya seni batik Cirebon permukaan. Ditambah lagi dengan adanya
mencerminkan kurun waktu dan daerah perlu kecenderungan mode yang kembali menengok
peninjauan kembali ke masa lalu, berkaitan keunikan tradisi, maka mulailah kembali geliat
dengan karya seni (artefak) hasil para perajin, batik Trusmi Cirebon. Pada kondisi ini ditandai
seniman, atau kriyawan. Seni kerajinan batik dengan maraknya penggunaan bahan sutera
Cirebon memiliki gaya lama atau tradisional dan untuk batik. Penggunaan bahan mori primisima
gaya masa kini yang masing-masing menunjukan atau sima terdesak oleh bahan sutera, baik
ciri khasnya. Produk Seni kerajinan batik Cirebon yang diproduksi secara masinal seperti jenis
yang dikategorikan ke dalam gaya tradisional sutera biasa, sutera super (permukaannya
adalah produk batik Cirebon yang mencirikan mengkilap), sutera timbul (permukaannya
ragam hias khas Cirebon yang luwes, memiliki bertekstur berbentuk motif baik abstrak atau
kerumitan yang cukup tinggi dan mencapai stilasi flora), maupun sutera yang produksi
tingkat kesempurnaan yang menghasilkan karya oleh alat tenun bukan mesin (sutera ATMB).
batik yang bermutu tinggi. Bilamana dilihat Bahkan penggunaan serat nanas dan bahan
dari sisi ragam hias tradisionalnya, maka batik tekstil berkualitas tinggi yang hasil eksperimen
Cirebon memiliki dua ragam hias, yakni batik pun kini dijadikan bahan baku batik Trusmi.
Pesisir yang dipengaruhi Cina dan batik Keraton Harga sutera yang lebih mahal, terutama jenis
yang banyak dipengaruhi oleh agama Hindu dan ATBM jelas menunjukkan konsumennya yang
Islam. Batik Pesisir, motifnya banyak ditandai kelas menengah ke atas. Meskipun demikian
dengan flora dan fauna, seperti binatang laut bahan mori/sima dan primisima masih tetap
(ikan, kerang, ganggang) dan binatang darat digunakan baik untuk batik tulis ataupun cap.
(kijang, kancil, kuda, sing), juga termasuk
pepohonan, daun–daunan. Sedangkan batik Konsumen pada periode ini (‘90-an hingga
Keraton motifnya cenderung berupa ornamen 2000-an) lebih memilih batik yang merupakan
batu–batuan (batu cadas), bangunan (artefak) desain baru dengan warna-warna yang adaptif
yang ada disekitar Keraton misalnya Kereta dengan dunia mode. Para perajin di tuntut
Singa Barong, Naga Seba, Taman Arum, Singa mengikuti selera pasar, hal ini mendukung
Payung, dan Taman Sunyaragi.
63
Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon

Gambar 1. Motif Paksi Naga Liman Gambar 2. Motif Mega Mendung
(Sumber: dok. Prodi DI ITB, 2013) (Sumber: Penulis, 2013)

Gambar 3. Motif Piring Salampad Gambar 4. Motif Ganggengan
(Sumber: dok. Prodi DI ITB, 2013) (Sumber: Penulis, 2013)

kreativitas perajin untuk selalu mencari batik Cirebon adalah berupa: kain panjang
pola-pola baru, namun berkembangnya pola- (tapi), sarung, selendang, ikat kepala (iket),
pola tersebut masih berpijak pada seni batik baju, kerundung, sapu tangan, hiasan dinding,
terdahulu. Desain-desain baru hasil kolaborasi taplak meja, dan sarung bantal. Setiap produk
dari berbagai motif yang sudah ada tersebut batik tersebut memiliki struktur pola desainnya
pada umumnya tidak bernama. Secara otomatis sendiri-sendiri. Setiap motif batik dibentuk oleh
batik periode 2000-an tidak memperdulikan lagi beberapa unsur pembentuk motif tersebut yang
pakem warna pada batik Trusmi Cirebon. Makna khas dan menjadi penanda dari nama sebuah
simbolis dari setiap motif baru itu kemudian motif batik. Pada batik Cirebon unsur-unsur
tidak mungkin ada. Persoalannya, konsumen desain pembentuk motif tersebut terdiri dari:
hanya membeli desain yang corak motifnya kepala kain (yang terdapat pola kain panjang,
bernuansa Cirebon tetapi tata warnanya adaptif sarung, dan selendang), hiasan pokok, hiasan
untuk kebutuhan fashion. pembantu, hiasan pengisi, hiasan pinggir, dan
tata warna. Motif batik klasik (Keraton) Cirebon
Struktur batik Cirebon pada umumnya dapat dilihat pada Gambar 1-4.
mempunyai banyak persamaan dengan batik
yang dihasilkan oleh daerah perbatikan Tata Warna Batik Cirebon
sepanjang Pesisir Jawa. Kenyataan ini diduga
karena didukung oleh adanya komunikasi antara Tata warna batik seringkali menunjukkan
daerah-daerah pesisir tersebut, baik kontak kekhasan suatu ragam hias batik. Setiap sentra
sosial, kontak dagang, bahkan kontak budaya. batik di Nusantara pada umumnya memiliki
Meskipun demikian karya kriya batik Cirebon kekhasan dari tata warnanya, di samping
tetap tampil dengan gayanya tersendiri, baik- tentu dari motif-motifnya yang menyimpan
batik Keratonan, maupun batik Pesisiran. Jenis
kain batik yang dihasilkan oleh para perajin Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

64

Wuri Handayani proses yang lama dan warna yang dihasilkannya
pun terbatas.
simbol dan nilai-nilai budaya. Pada batik-
batik Keratonan, penggunaan warna biasanya Teknik pewarnaan alam lambat laun
memiliki makna simbolis, Hal ini tidak terjadi seiring perkembangan zaman kurang sesuai
pada batik-batik Pesisiran yang rnenempatkan dengan kebutuhan pasar yang ingin segera
warna hanya untuk pemenuhan kebutuhan dipenuhi dan menuntut variasi warna yang
estetis yang cenderung dipengaruhi selera pasar. lebih kaya. Maka kemudian para perajin batik
Warna merupakan bagian panting bagi desain di Cirebon kemudian mengenal penggunaan
motif hias batik. Warna muncul bersama-sama warna-warna kimia. Zat warna yang digunakan
dengan unsur-unsur lainnya. Warna berfungsi pada umumnya buatan Jerman (zat-zat warna
untuk memberikan nuansa keindahan terhadap yang memiliki merk yang berakhiran sol).
karya batik. Perajin batik Cirebon di Trusmi menyebutnya
dengan istilah warna sol. Selain itu pula perajin
Ciri lain batik Cirebon adalah bahwa batik di daerah Cirebon mcnggunakan pewarna
batik itu dapat dibedakan karena warna-warna batik naphtol yang berasal dari Jepang. Pewarna
khusus yang dipakai sebagai dasar. Cirebon ini dikenal dengan sebutan obat jawo (casta et al.,
memiliki warna dasar kuning gading atau kuning 2007:121). Singgungan dan benturan terhadap
muda yang biasanya disebut putih Cirebon atau pengaruh kebudayaan luar mengakibatkan batik
kuning Cirebon. Ini untuk membedakannya dari Cirebon memiliki tata warna yang bervariasi
kuning tua (kuning oker) yang terdapat pada seperti: tata warna biron, babar mas, bangbiru,
batik Banyumas, atau putih bersih pada batik sogan, dan tiga negerian.
Yogyakarta. Batik Cirebon juga biasa memakai
warna batik tradisional yaitu warna coklat soga, Media dan Teknik Batik Cirebon
tetapi sedikit sekali digunakan variasi warna-
warna coklat tua yang biasa terdapat pada Meninjau seni kerajinan batik Cirebon
batik-batik Solo. Ciri lain batik Cirebon adalah dari segi teknik, tidak terlepas dari cara
campuran warna yang digunakan, di mana mewujudkan sebuah karya sebagai rujukan.
warna-warna utama dibagi ke dalam beberapa Teknik berdasarkan cara menorehkan lilin
nada warna, mulai dari warna yang sangat untuk membuat motif dengan cara tulis dan
muda sampai ke warna yang tua, misalnya cap. Pengerjaan batik dengan menggunaan
warna merah muda lalu kemerah mayar sampai canting (alat untuk menggambar batik pada
ke merah anggur. Penggunaan nada warna kain) diperlukan ketelitian, kesabaran dan
khususnya pada motif-motif awan dan batu- waktu yang lebih lama. Teknik tulis dilakukan
batuan membuat corak tersebut menjadi lebih perajin untuk membuat motif utama dan
semarak, awan dan karang-karang tampaknya isen-isen agar diperoleh motif yang variatif
bergerak-gerak. dan mempertahankan sentuhan tangan yang
menjadi kekuatan daya tarik batik. Selain batik
Penggunaan warna batik di setiap daerah yang dibentuk dari torehan canting, motif batik
perbatikan di Nusantara terdapat perbedaan. juga bias digambar dengan cap yang dibentuk
Perbedaan itu dipengaruhi oleh teknik, selera, dari lempengan tembaga. Teknik cap digunakan
dan bahan pewarna yang tersedia. Warna untuk mempermudah penerapan motif pada
batik dapat dipengaruhi pula oleh kondisi susunan berulang-ulang untuk membentuk
alam, letak geografis, adat istiadat daerah bentuk motif yang sama dan beraturan, namun
setempat, dan selera pasar. Pewarnaan batik demikian cap hanya dipergunakan untuk
Cirebon pada mulanya menggunakan bahan- klowongan, isen-isen tetap menggunaan canting
bahan warna alam. Warna-warna tersebut tulis. Pembuatan cap mempertimbangkan
diperoleh dari bahan pohon pace (mengkudu)
yang menghasilkan warna merah. Warna 65
biru dihasilkan dari tumbuhan tom (tarum).
Penggunaan bahan pawarna ini mernerlukan

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

efektivitas dan efisiensi, karena motif yang Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon
dibuat harus dapat digunakan dalam jangka
waktu yang lama dan tidak sementara, atau mori menentukan harga sehelai kain batik. Satu
mempercepat proses kerja karena pesanan lembar (piece) mori dapat dijadikan 14 helai
dalam jumlah yang sangat banyak dengan motif kain panjang atau 17 helai kain sarung. Menurut
yang sama. para perajin Cirebon (wawancana dengan dedi,
trusmi April 2013) Kain diperoleh langsung dari
Tahapan pembuatan batik sangat suplier atau importir yang ada di Pekalongan
diperhatikan oleh perajin batik Cirebon untuk dan sutera dari Garut, Sutera Garut merupakan
menghasilkan batik dengan kualitas prima, komoditas unggulan karena kualitasnya sangat
mulai dari tahap persiapan yaitu pemilihan baik dan dikembangkan dengan pola tradisional
kain, pemotongan kain, merendang, mengetel, dan ditenun secara manual.
mengkanji, mengeplong, tahap pembuatan
seperti tahap tingkes, mereng-reng, mengisen- Teknik-teknik tersebut diterapkan oleh
isen, menembok dan mengentus, hingga perajin dalam proses pembuatan batik untuk
pewarnaan dan pelorodan. Berdasarkan tenik menghasilkan efek visual yang estetis dan
pewarnaan dilakukan dengan cara celup dan menghasilkan karya yang mencirikan kekhasan
colet. Teknik pewarnaan celup digunakan untuk ragam hias batik Cirebon. Seni kerajinan batik
mewarnai kain dengan cara dicelup di bak Cirebon ditinjau dari segi teknik masih tetap
celup, menghasilkan warna yang sama dan rata menggunakan teknik tradisional, yaitu teknik
dalam satu kali proses celup. Pewarna batik tulis yang diwariskan oleh pendahulunya secara
dimulai dengan pewarna yang lebih muda lebih turun-temurun dan dikembangkan sesuai
dulu. Kemudian ditutup dengan malam untuk dengan perkembangan zaman.
menghambat warna pada kain yang sudah
diwarnai sebelumnya dengan menggunakan Dampak Perkembangan Seni Kerajinan Batik
malam yang mencair saat dipanaskan, sehingga Cirebon Terhadap Kehidupan Ekonomi,
pencelupan dilakukan menggunakan pewarna Sosial, Budaya Masyarakat
celup dingin. Proses tersebut diteruskan dengan
pewarna yang lebih gelap. Perwarnaan colet Industri Kerajinan Batik Cirebon telah
diterapkan untuk mewarnai bidang dalam berkembang menjadi salah satu bentuk industri
bidang yang kecil atau sempit. Pewarna pada kerajinan rakyat, yang mampu menopang
batik Cirebon didapat baik dari pewarna alami kehidupan perekonomian masyarakat
maupun pewarna buatan. Satu lembar batik pendukungnya. Munculnya produk baru dari
dapat berwarna lebih dari tiga warna, bahkan batik, tertuang dalam bentuk produk yang
pada Mega mendung dapat mencapai dua belas bersifat komersial untuk memenuhi minat
tingatan warna gradasi. masyarakat luas. Trusmi dikenal sebagai “Sentra
Batik Cirebon”, hal ini dikarenakan Trusmi
Media batik sebetulnya bisa diseluruh mempunyai potensi besar dalam pembatikan
bahan dasar serat alam seperti katun, sutera, dan telah berkembang begitu pesat, baik
wool, bambu, rami juga pada media non kain dalam skala kecil maupun besar. Kemampuan
seperti kayu dan kulit. Namun yang paling lazim masyarakat Trusmi mengembangkan batik
adalah batik dilakukan di atas kain. Sebagai merupakan aspek positif yang tercermin dari
media, kain harus diolah dulu agar menghasilkan kemampuan perajin dalam mengerjakan segala
batik yang baik. Kain yang biasa digunakan bidang pekerjaan yang berkaitan dengan proses
perajin Batik Cirebon adalah mori, yaitu kain pembatikan tersebut. Hasil produksi Trusmi
yang terbuat dari bahan katun. Berdasarkan juga menjadi salah satu penopang perekonomian
kualitasnya, mori terdiri dari tiga macam, yaitu kota Cirebon. Corak dan warna yang khas dari
primisima (kualitas halus), prima (kualitas batik Cirebon menjadi daya tarik tersendiri bagi
sedang) dan mori biru (kualitas kasar). Kualitas para pecinta batik.

66 Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

Wuri Handayani yang berkaitan dengan ekonomi pasar, baik
yang berhubungan dengan industri pariwisata
Industri batik Cirebon adalah salah maupun bidang perdagangan global. Perubahan
satu mata pencaharian utama masyarakat sikap dan perilaku hidup para perajin ternyata
Trusmi. Industri kerajinan batik Trusmi telah mengantar batik Cirebon ke dalam babak
tergolong kedalam industri padat karya, karena baru kehidupan modern. Kain batik mulai
membutuhkan cukup banyak tenaga kerja ditawarkan ke seluruh belahan dunia melalui
manusia dengan beberapa keahlian khusus, teknologi media informasi dan paket wisata.
telah menberikan kontribusi bagi Kabupaten Pengemasan produk batik Cirebon sekarang
Cirebon dengan membuka lapangan pekerjaan ini tidak terlepas dari usaha promosi untuk
dan kesempatan kerja bagi penduduk dari meningkatkan pemasaran produk batik Cirebon.
dalam desa tempat industri itu berada, maupun
angkatan kerja dari luar daerah. Perkembangan Perkembangan batik Cirebon dalam kurun
industri batik Trusmi Cirebon telah menjadikan waktu 10 tahun belakangan ini cukup melonjak
daerah ini sering dikunjungi oleh wisatawan dari sisi jumlah. Pertumbuhan showroom-
baik dalam maupun luar negeri. Melalui usaha showroom batik di sekitar desa Trusmi pada saat
seni kerajinan batik, masyarakat merasa sekarang sungguh luar biasa, walaupun dalam
kebutuhan hidup mereka lebih terpenuhi, kenyataannya dengan semakin bertambahnya
kehidupan perekonomian masyarakat menjadi showroom batik tidak berarti berbanding
lebih baik dengan munculnya usaha masyarakat lurus dengan peningkatan kesejahteraan para
yang medukung industri batik seperti usaha perajinnya serta pelestarian terhadap batik-
transportasi, toko maupun rumah makan yang batik tradisional Cirebonan. Hal ini disebabkan
dibangun di wilayah Trusmi. karena kondisi perdagangan batik Cirebonan
yang ada sekarang ini khususnya di wilayah
Masyarakat Desa Trusmi adalah tergolong, Trusmi telah dibanjiri dengan batik-batik
masyarakat pekerja dengan mobilitas yang dari Pekalongan, serta kondisi perang harga
tinggi. Mengelilingi wilayah desa ini akan yang tidak sehat, akibatnya para perajin batik
didapat kenyataan bahwa penduduknya kecil turut terkena dampaknya dan mereka
adalah masyarakat yang wekel gegulat pangan mendapatkan keuntungan yang kurang berarti.
(rajin mencari untuk makan). Sulit ditemui Kemudian perkembangan batik Cirebon pada
suasana penduduknya yang pada siang hari tahun 2008 menjadi terganggu kelangsungan
bersantai-santai tanpa kegiatan yang pasti. Pada usahanya, saat krisis perekonomian dan arus
umumnya mereka terkonsentrasi pada kegiatan globalisasi, serta beredarnya batik ilegal ke
di bidang industri kerajinan batik, meskipun pasar Indonesia. Produk selundupan yang
ada juga yang bergerak di subsektor pertanian sebagian besar berasal dari Cina menguasai
tanaman pangan dengan jumlah yang tidak pasar Indonesia, Kedatangan batik asing ini
begitu siginifikan. Hal ini disebabkan karena langsung mengambil alih pangsa pasar batik
lahan pertanian itu sendiri letaknya jauh dari yang selama ini menjadi tumpuan penghasilan
perkampungan mereka dan sektor industri pengusaha lokal, termasuk pengusaha batik
tampaknya lebih menjanjikan. Hanya berkisar Trusmi Cirebon.
294 penduduk yang bergerak di subsektor
pertanian tanaman pangan, selebihnya adalah Namun permasalahan tersebut tidak
penduduk yang bergerak di subsektor industri menjadikan perajin Trusmi menyerah dan
kecil dan sedang serta perdagangan dan jasa. menerima keadaan dengan apa adanya, banyak
perajin mulai mengembangkan kreativitas
Faktor ekonomi perdagangan merupakan berkarya dan pengembangan produk dengan
faktor yang berperan memberi dorongan tujuan batik Cirebon tetap dapat menjaga
produktif bagi perajin batik Cirebon. eksistensinya menjadi salah satu identitas
Perkembangan batik Cirebon yang mengarah Indonesia khususnya daerah Cirebon dan
pada produk komersil, berawal dari pemikiran
baru terhadap kondisi dan tuntutan zaman 67

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

menjadikan sektor pembatikan semakin Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon
berkembang sebagai pekerjaan andalan
yang mampu bertahan dan berjalan dengan sata satunya sentra batik Cirebon yang dalam
baik dalam mencukupi kebutuhan ekonomi. perkembangannya sekarang sudah merangkum
Kenyataan ini dapat dilihat dari keberadaan seluruh pertumbuhan dan perkembangan
batik Cirebon yang masih bertahan hingga saat batik Cirebon. Bahkan di desa ini diproduksi
ini. Perkembangan batik Cirebon sebagai urat juga motif-motif batik dari daerah lain seperti
nadi perekonomian masyarakat, dan keputusan Indramayu, Lasem, dan Pekalongan. Pengaruh
masyarakat memilih sektor kerajinan ini untuk batik Cina begitu kuat pada perbatikan Trusmi,
dikembangkan merupakan salah satu bentuk baik dari pewarnaan maupun motifnya. Di
usaha masyarakat. Perubahan-perubahan yang samping itu di Trusmi berkembang pula batik
terjadi pada seni kerajinan batik Cirebon tidak Keratonan Cirebon seiring dengan sudah tidak
hanya berpengaruh terhadap kehidupan yang adanya aktivitas membatik di Keraton Cirebon.
ada di sekitar sentra industri saja, tetapi juga Para perajinnya kerap mendapat pesanan
pada masyarakat lain yang bersentuhan dengan motif-motif batik Keratonan dari keluarga
proses dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Keraton. Hal inilah yang menyebabkan selain
batik pesisiran di Trusmi berkembang pula batik
Seni kerajinan Batik Cirebon merupakan Keratonan Cirebon.
warisan dari nenek moyang, yang diajarkan
secara turun temurun dan tetap bertahan Sesuai dengan kondisi masyarakat
hingga sekarang. semua ini menunjukan budaya Cirebon, sistem pencampuran budaya menjadi
yang masih berkembang, dan merupakan sesuai untuk dikembangkan oleh masyarakat
bentuk pelestarian budaya tradisi yang masih perajin dalam mempertahankan eksistensi dan
terjadi di daerah Cirebon. Apa yang diwujudkan kontinuitas seni kerajinan batik Cirebon. Bentuk
dalam seni kerajinan batik Cirebon merupakan kerjasama yang terjalin pada kegiatan seni
bentuk akulturasi budaya yang dimiliki sehingga kerajinan batik Cirebon merupakan manifestasi
dapat dipertahanan. Pada perkembangannya kehidupan gotong royong, yang semata-mata
masyarakat Trusmi terbuka terhadap pengaruh- bukan karena kemampuan dapat bertahan pada
pengaruh yang datang dari luar, selama batas monopoli pasar. Batik Cirebon mengalami
pengaruh tersebut berdampak positif bagi perkembangan karena adanya hubungan seni
berkembangnya seni kerajinan batik Cirebon. kerajinan batik Cirebon dengan pihak lain yang
Kemampuan para perajin batik Cirebon untuk meliputi produk, penguasaha, perajin, pedagang,
beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap konsumen,lembaga budaya, pemerintah, dan
kompleksitas kondisi perkembangan dunia swasta yang memberikan kontribusi serta
globalisasi saat ini, telah menunjukan tingkat pengaruh terhadap membaiknya seni kerajianan
perkembangan industri Kerajinan batik Cirebon. batik Cirebon. Fenomena ini kini tampak di
daerah trusmi sebagai kondisi keterbukaan bagi
Berkembangnya usaha seni kerajinan siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam proses
batik Cirebon saat ini tidak dapat dilepaskan dari produksi batik maupun pemasaran produk yang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat
antara faktor lingkungan dan sistem hubungan untuk melestarikan kegiatan tersebut karena
sosial budaya, yang dilandasi adat-istiadat. keterkaitan dengan sistem ekonomi maupun
Pada umumnya penduduk Desa Trusmi sangat sistem hubungan sosialnya.
terikat secara sosial oleh figur sentralnya,
yaitu Ki Buyut Trusmi. Figur itulah yang secara Dilihat dari karakteristik kebudayaannya,
nyata merupakan perekat integrasi sosial di Cirebon sebagai sebuah kebudayaan nyatanya
Trusmi. Batik yang berkembang di Trusmi memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.
diyakini penduduknya sebagai warisan dari Kekayaan kebudayaannya telah memiliki jatidiri
leluhurrnya, Ki Gede Trusmi. Batik Trusmi kini yang menjadi identitas sebagai hasil pergulatan
dan percarian yang panjang dengan berbagai
68 strategi adaptifnya dalam berinteraksi dengan

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

Wuri Handayani Gambar 5. Bentuk Kemeja Mega Mendung dan
Sandal dan tas tangan wanita dengan Motif Mega mendung
berbagai subkultur secara kreatif. Cirebon
yang lahir dari persilangan kebudayaan dari Karya Batik Komar
berbagai kebudayaan itu kemudian bukannya (Sumber: Penulis, 2013)
tanpa identitas yang jelas. Sebagai sebuah
entitas kebudayaan, kebudayaan Cirebon budaya dapat melahirkan budaya baru yang
justru kemudian menjadi sangat khas. Unsur- ada di masyarakat, dalam konteks pariwisata
unsur kebudayaan lama dan sudah dihayati, dan budaya, seni kerajinan merupakan
dimiliki, kemudian bersentuhan dengan unsur aktivitas-aktivitas yang mengkrontribusikan
kebudayaan baru tanpa harus meninggalkan kesejahteraan material bagi masyarakat dan
unsur kebudayaan yang selama ini dimiliki. perajin, juga berfungsi positif bagi ketahanan
kebudayaan. Dengan segala kelebihan perajin
Komersialiasi seni budaya terkadang baik keterampilan dan kemampuan adaptasi,
membawa dampak negatif terhadap telah mampu menyerap berbagai masukan ide-
perajin. Kemajuan ekonomi dengan watak ide baru. Kegiatan para perajin yang kreatif dan
komersialisme dan individualisme, sering inovatif dalam melakukan penganekaragaman
dianggap dapat mendistorsikan estetika. bentuk produk, dapat menjaga kualitas produk
Seperti halnya pada batik Keratonan, pada agar mampu bersaing dipasaran. Perkembangan
mulanya penggunaan batik jenis Keratonan bentuk dan fungsi batik Cirebon dapat dilihat
hanya digunakan untuk kalangan bangsawan pada gambar 5.
pada acara-acara ritual tertentu serta sebagai
pakaian kebesaran, kemudian masa Kolonial PENUTUP
kemampuan Keraton untuk menjaga segala
pernik-penik seremonialnya secara ketat Cirebon merupakan salah satu daerah
kemudian makin pudar. Terlebih pada masa penghasil batik di Jawa Barat yang memiliki
pra dan setelah kemerdekaan, peran keraton kekuatan sejarah dan pemaknaan dalam
Cirebon hanya sebagai pewaris budaya yang penggambaran setiap ragam hiasnya. Hal ini
menjaga dan melestarikan peninggalan leluhur. disebabkan sejarah batik di Cirebon terkait erat
Inilah salah satu sebab mengapa penggunaan dengan proses asimilasi budaya serta tradisi
batik Keratonan tidak begitu ketat, artinya ritual religius. Seni kerajinan batik Cirebon
motif-motif Keratonan digunakan pula oleh sebagai warisan budaya bangsa masa lampau
rakyat biasa tanpa ada rasa sungkan karena kehadirannya berawal dari bentuk refleksi
bagi mereka motif itu telah menjadi bagian dari kebudayaan yang memiliki kekhasan tersendiri
kehidupan keseharian. baik ditinjau dari aspek-aspek penciptaannya.
Pada perkembangan lebih lanjut, batik Cirebon
Pada perkembangannya kehidupan kemudian tidak sekedar sebagai benda kriya
masyarakat Trusmi yang telah dipengaruhi yang merefleksikan nilai-nilai budaya, akan
oleh datangnya wisatawan yang memberikan tetapi juga memiliki nilai ekonomis. Berbagai
pengaruh pada kebudayaannya, termasuk
produksi batik yang dihasilkan para perajin. 69
Awalnya batik merupakan bentuk warisan
budaya leluhur dan dipergunaan untuk sebagai
sarana pemenuhan kebutuhan Keraton sendiri,
maka sesuai perkembangannya produk batik
dipakai pula untuk sebagai bahan pembuatan
pakaian dengan berbagai macam model yang
dapat dipakai masyarakat luas. Perkembangan
masyarakatdaritradisionalkemodernmembawa
dampak perubahan kebutuhan di segala sisi.
Seni kerajinan Batik Cirebon sebagai karya

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

penemuan baru yang menghasilkan ide-ide baru Bentuk, Makna dan Fungsi Seni Kerajinan Batik Cirebon
telah mewarnai perkembangan batik Cirebon,
perubahan-perubahan tersebut terjadi pada begitu cepat menimpa masyarakat dan kemajuan
unsur seni yaitu gaya dan corak yang dapat ilmu pengetahuan serta teknologi, pada akhirnya
ditelusuri dari bentuk, subjek matter, wujud turut menentukan sejarah pembentukan,
dan teknik. Fungsi batik juga berubah terutama pertumbuhan, dan perkembangan batik Cirebon.
pada fungsi fisiknya.
Seiringdenganfungsinyayangberkembang
Produk batik Cirebon menjadi berkembang sebagai benda estetik, batik Cirebon tidak hanya
dan meluas penggunaannya dalam kehidupan diproduksi dalam bentuk dan fungsi kain panjang
masyarakat, dan telah dikonsumsi oleh banyak (jarik), selendang dan sarung, perkembangan
orang. Adanya pendorong perubahan yaitu batik Cirebon menghasilan produk batik yang
faktor internal bersumber dari diri individu bervariatif secara visual, bentuk dan fungsi yang
dan kreativitas perajin itu sendiri atau terkait menjadikan batik memiliki nilai tukar tersendiri
dengan sumber daya manusia dan faktor yang berdimensi ekonomis. Batik Cirebon di
eksternal yaitu pengaruh yang datang dari samping sebagai media ekspresi estetik simbolik
luar seperti pemerintah, lembaga budaya, masyarakat pendukungnya nyatanya juga dapat
pariwisata, konsumen, teknologi, dan media memberikan ladang kegiatan ekonomis sebagai
informasi menjadian batik Cirebon sebagai salah satu bentuk mata pencaharian penduduk.
industri kreatif dalam arti yang sesungguhnya,
industri batik dituntut untuk dapat selalu Pada akhirnya fungsi pelestarian simbol-
menghadirkan produk-produk baru dan inovasi- simbol budaya, pemenuhan kebutuhan estetis,
inovasi baru, baik dalam bahan baku, peralatan, dan pemenuhan kebutuhan ekonomi seringkali
proses, maupun pengelolaan. Pengembangan berjalan seirama dalam denyut pertumbuhan
kreativitas merupakan hal yang sangat mutlak dan perkembangan batik Cirebon. Pemakaian
diperlukan di industri ini. kain batik yang semula dipandang sebagai
salah satu unsur busana tradisional, sebagai
Mulai tahun 2000-an seni kerajinan salah satu sarana kegiatan ritual, seremonial,
batik Cirebon menjadi sistem industrial yang dan merupakan simbol status sosial, kini
memproduksi batik Cirebon untuk keperluan telah bergeser hingga difungsikan untuk
perdagangan dan lebih diarahkan untuk berbagai pemenuhan kebutuhan yang tidak
memenuhi kebutuhan massa kini atau lebih memperhatikan nilai-nilai yang terkandung di
bersifat komersial. Secara teknis, perkembangan dalamnya. Masuknya peran modal (industri)
seni kerajinan Cirebon dalam masyarakat dalam perbatikan semakin menguatkan
saat ini, berhubungan dengan pengetahuan pencitraan batik Cirebon.
dan orientasi budaya atau peningkatan ide
dalam menciptakan karyanya. Produksi batik ***
tidak banyak lagi mempersoalkan masalah-
masalah yang mengikat dengan tradisi, karena Daftar Pustaka
yang menjadi pertimbangan adalah selera
konsumen dan pasar. Para perajin batik Cirebon Abdurachman, P. R. (1982). Cerbon. Yayasan
memodifikasi seni dan produk batik sehingga Mitra Budaya Indonesia dan Penerbit
produk bernilai ekonomi serta menunjang Sinar Harapan, Jakarta.
pariwisata. perkembangan bentuk, fungsi
dan makna batik Cirebon tidak terlepas dari Anas, B. (1997). Indonesia Indah: Batik. Yayasan
dukungan lembaga budaya, pemerintah, media Harapan Kita/ PB 3 TMII, Jakarta.
informasi, dan perajin sebagai masyarakat
pembuat atau masyarakat yang memproduksi Atja. (1986). Purwaka Tjaruban Nagari, Karya
batik. Perubahan sosial budaya yang terjadi Sastra Sebagai Sumber Pengetahuan
Sejarah, Proyek Pengembangan
70 Permuseuman Jawa Barat, Bandung.

Casta dan Taruna. (2007). Batik Cirebon, Badan
Komunikasi Kebudayaan dan Pariwisata

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018

Wuri Handayani

Kabupaten Cirebon, Sumber.
Cortesao, A. (1944). The Suma Oriental Of Tome

Pires. vol.2, The Hakluyt Society, London.
Hardjasaputra, A. S. dan Haris, T. (2011).

Cirebon Dalam Lima Abad, Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi
Jawa Barat, Bandung.
Soedarso, S.P. (1990). Tinjauan Seni: Sebuah
Pengantar Untuk Apresiasi Seni, Saku
Dayar Sana, Yogyakarta.
Sondari, K dan Yusmawati. (1999). Album Seni
Budata Batik Pesisiran. Departemen
Pendidikan Nasional, Jakarta.

Webtografi

http://www.cirebonkota.go.id/static/khas/
produk/batik/php

www. wongtrusmi.blogspot.com
www. cherbonart.blogspot.com

Jurnal ATRAT V6/N1/01/2018 71


Click to View FlipBook Version