The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

ASPEK ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT TENTANG PERILAKU SEHAT - SAKIT PADA INDIVIDU DAN KELUARGA (oke)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dina Rosidatul Husna, 2020-11-06 11:27:37

ASPEK ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT TENTANG PERILAKU SEHAT - SAKIT PADA INDIVIDU DAN KELUARGA (oke)

ASPEK ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT TENTANG PERILAKU SEHAT - SAKIT PADA INDIVIDU DAN KELUARGA (oke)

ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM
MASYARAKAT TENTANG
PERILAKU SEHAT-SAKIT

PADA INDIVIDU DAN KELUARGA

ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM
MASYARAKAT TENTANG
PERILAKU SEHAT-SAKIT

PADA INDIVIDU DAN MASYARAKAT

DISUSUN OLEH :

1. Anorraga Parahita (P17321201001)
2. Miftaqul Jannah (P17321201010)
3. Yolanda Mayraissa Tristanti (P17321203015)
4. Dina Rosidatul Husna (P17321203020)
5. Deva Salvana Andrianingsih (P17321203025)
6. Bella Novellia Putri (P17321203030)
7. Nuriul Mulkil Aliyah (P17321203035)
8. Nurmadaning Ragilia Sani (P17321204040)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Berkat rahmat daan petunjuknya
dapat menyelesaikan penyusunan modul untuk pemenuhan tugas Sosio Antropologi. Dalam
modul ini akan dibahas tentang “Aspek-Aspek Sosial Budaya Dalam Masyarakat Tentanng
Perilaku Sehat dan Sakit pada Individu dan Keluarga”. Diharapkan modul ini memberikan
manfaat besar untuk meningkatkan pengetahuan kepada khususnya mahasiwa kesehatan.
Kamu ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses
penyelesaian modul ini. Modul ini memang dirasakan jauh dari lengkap dan sempurna,
keterangan detail tetap dianjurkan untuk membaca buku-buku kepustakaan yang tercantum
dalam daftar referensi. Akhirnya guna penyempurnaan modul ini, kami mengharapkan
masukan, kritik, saran yang membangun agar nantinya terwujud sebuah modul yang lebih
baik, informatif, dan menjadi rujukan dalam memahami konsep perencanaan dan evaluasi.

Kediri, 6 November 2020

Tim Penyusun

ii

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Sebelum anda mempelajari modul ini, sebaiknya anda membaca terlebih dahulu petunjuk
penggunaan berikut ini.
1. Dalam modul ini disediakan peta konsep yang mengambarkan hubungan kasualitas materi

dalam kegiatan belajar yang satu dengan yang lainnya. Dengan peta konsep tersebut akan
memudahkan Anda dalam memahami kompetensi apa saja yang harus dikuasai agar tercapai
standar kompetensi yang diinginkan.
2. Adanya pembagian kegiatan belajar dalam setiap materi yang terdapat dalam
modul.Pembagian kegiatan belajar tersebut telah disesuaikan dengan alur implementasinya
sehingga pemahaman satu materi akan sangat penting sebagai modal Anda dalam memahami
kegiatan belajar berikutnya.
3. Di setiap akhir bagian kegiatan belajar terdapat tes sumatif yang disediakan guna menguji
tingkat pemahaman Anda setelah memperoleh pengajaran.Jawablah setiap pertanyaan dalam
tes tersebut, dan nilai yang anda peroleh agar dijadikan sebagai umpan balik untuk menilai
lagi apakah materi dalam kegiatan belajar sudah Anda kuasai dengan baik atau belum.
4. Guna memudahkan Anda dalam memahami materi dalam modul ini,Pengajar nantinya akan
banyak melakukan simulasi atau latihan selama proses pembelajaran berlangsung.

Petunjuk Bagi Mahasiswa
Untuk memperoleh prestasi belajar secara maksimal, maka langkah-langkah yang perlu
dilaksanakan dalam modul ini antara lain:
1. Bacalah dan pahami materi yang ada pada setiap kegiatan belajar. Bila ada materi yang belum

jelas, mahasiswa dapat bertanya pada pengajar.
2. Kerjakan setiap tugas diskusi terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan

belajar.
3. Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar

sebelumnya atau bertanyalah kepada pengajar.

Petunjuk Bagi Pengajar
Dalam setiap kegiatan belajar,pengajar berperan untuk:
1. Memotivasi mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal latihan untuk melatih kemampuan

penguasaan pengetahuan konseptual dan pengaplikasiaan sebuah materi
2. Membimbing mahasiswa yang merasa kesulitan menyelesaikan tugas

iii

3. Mengarahkan mahasiswa untuk menemukan konsep melalui kegiatan diskusi dan praktikum
4. Membantu mahasiswa dalam merencanakan proses belajar
5. Membimbing mahasiswa dalam memahami konsep, analisa, dan menjawab pertanyaan siswa

mengenai proses belajar dengan kritis.
6. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok.

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL .............................................................................. iii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... v
BAB I KONSEP SEHAT SAKIT .........................................................................................1

A. Pendahuluan....................................................................................................................1
a. Tujuan Instruksional Umum...................................................................................... 1
b. Tujuan Instruksional Khusus..................................................................................... 1

B. Materi Pembelajaran .......................................................................................................1
1. Pengertian Konsep Sehat dan Ciri - Ciri Sehat......................................................... 1
2. Pengertian Konsep Sakit dan Ciri - Ciri Sakit.......................................................... 3
3. Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Individu..................................................... 5
4. Konsep Sehat Sakit dalam Aspek Sosial................................................................... 6
5. Konsep Sehat Sakit Menurut Budaya Masyarakat.................................................... 7

RINGKASAN .........................................................................................................................10
LATIHAN SOAL BAB I .......................................................................................................13
BAB II ASPEK - ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT YANG

MEMPENGARUHI KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN ............16
A. Pendahuluan..................................................................................................................16

a. Tujuan Instruksional Umum.................................................................................... 16
b. Tujuan Instruksional Khusus................................................................................... 16
B. Materi Pembelajaran .....................................................................................................16
1. Aspek Sosial yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan....... 16
2. Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.... 17
RINGKASAN .........................................................................................................................19
LATIHAN SOAL BAB II......................................................................................................20

v

KUNCI JAWABAN ...............................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................24

vi

BAB I

KONSEP SEHAT SAKIT
A. PENDAHULUAN

Materi ini merupakan mata kuliah lanjut yang menekankan pada pemahaman
mengenai konsep sehat dan sakit. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui
mengenai pengertian, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi sehat dan sakit
pada seseorang, serta mengetahui tentang sehat sakit dalam aspek social budaya
masyarakat. Sehingga dalam hal ini, dapat dilakukan upaya intervensi terhadap
kejadian sakit atau penyakit di masyarakat.

Tujuan Instruksional:

a. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan tentang
konsep sehat dan sakit.

b. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan:

1) Pengertian konsep sehat dan ciri-ciri sehat

2) Pengertian konsep sakit dan ciri-ciri sakit

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan individu

4) Konsep sehat sakit dalam aspek sosial

5) konsep sehat sakit menurut budaya masyarakat

B. MATERI PEMBELAJARAN
1. PENGERTIAN KONSEP SEHAT DAN CIRI-CIRI SEHAT
Pengertian sehat menurut WHO adalah “Health is a state of complete physical,
mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity”.
Sehat adalah kondisi normal seseorang yang merupakan hak hidupnya. Sehat
berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan berupa
udara segar, sinar matahari, santai, kebersihan serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup

1

yang baik. Selama beberapa dekade terakhir, pengertian sehat masih dipertentangkan
oleh para ahli dan belum ada kata sepakat dari para ahli kesehatan maupun tokoh
masyarakat dunia. Akhirnya WHO membuat definisi universal yang menyatakan
bahwa pengertian sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan
sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau
kecacatan.

Menurut WHO, ada 3 komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam
definisi atau cirri-ciri sehat yaitu :
a. Sehat Jasmani

Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa
sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir
rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik,
tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
b. Sehat Mental
Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah
kuno “Jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat” (Men Sana In Corpore
Sano).
c. Sehat Spritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada pengertian sehat oleh WHO dan
memiliki arti penting dalam kahidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu
perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur,
mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan
lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak
monoton.Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh
sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit.
Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.Kesehatan
mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yaitu pikiran,emosional, dan spiritual.
a. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
b. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk

mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan
sebagainya.
c. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa
syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam

2

fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat
dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
d. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan
orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras,
suku,agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya,
serta saling toleran dan menghargai.
e. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif,
dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat
menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial.
Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut
(pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi
kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni
mempunyai kegiatan yang
berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau
mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan
lainnya bagi usia lanjut.
2. PENGERTIAN KONSEP SAKIT DAN CIRI-CIRI SAKIT
Pengertian sakit pada umumnya diartikan suatu keadaan yang tidak normal atau
lazim pada diri seseorang. Misalnya bila seseorang mempunyai keluhan tanda gejala
sakit gigi yang tidak tertahankan, demam, dan lain sebagainya ini yang dikatakan
dengan sakit atau bahkan mengalami penyakit bila telah didiagnosis oleh dokter atau
pun medis Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial,
perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan
terjadinya proses penyakit. Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit. Sebagai
contoh klien dengan Leukemia yang sedang menjalani pengobatan mungkin akan
mampu berfungsi seperti biasanya, sedangkan klien lain dengan kanker payudara
yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalani operasi mungkin akan merasakan
akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik. Sakit sebagai suatu keadaan yang
tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga seseorang menimbulkan
gangguan aktivitas sehari-hari baik itu dalam aktivitas jasmani, rohani dan
sosial. (Perkins). Menurut (Pemons, 1972) Sakit adalah gangguan dalam fungsi
normal individu sebagai totalitas termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis
dan penyesuaian sosialnya. Sakit sebagai suatu keadaan dari badan atau sebagian dari
organ badan dimana fungsinya terganggu atau menyimpang.

3

Pengertian sakit dapat juga ditinjau dari beberapa aspek antara lain:
a. Pendekatan biologis

Sakit dinyatakan dalam hubungannya dengan tubuh yang melaksanakan fungsi
biologis, dapat dibedakan dengan jelas antara sakit dan sehat. Pengalaman hidup
seseorang disini tak berperan pada suhu tubuh 38°C, maka terjadilah sakit yaitu
demam, tetapi tergantung orang yang bersangkutan, merasa sakit atau tidak.
b. Pendekatan Medis
Pengertian sakit seseorang secara badaniah, rohaniah dan secara sosial memiliki
kemampuan untuk mengembangkan diri dan memanfaatkannya. Manusia akan
berfungsi secara baik. Jika disbanding dengan cara biologis masalah ini lebih luas.
Sakit bukan hanya penyimpangan badaniah tapi gangguan dalam memfungsikan
manusia secara total
c. Pendekatan Antropologis
Pendekatan kesehatan dari segi antropologi adalah memandang kesehatan
berdasarkan pengalaman manusia dalam arti kata yang seluas-luasnya.
Antropologi Kesehatan adalah disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada
aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama
tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan
manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit dengan pendekatan
antropologis secara jelas dikemukakan, bahwa manusia tidak mutlak hanya dari
badaniah, rohaniah dan sosial saja. Secara sendiri manusia sebagai sesuatu yang
total terdiri dari aspek- aspek sosial dan kultural yang secara terus menerus saling
berpengaruh dan tak dapat dilihat terpisah satu dari yang lainnya.
Berikut ini merupakan cirri-ciri perilaku yang ditunjukan orang sakit :

a. Adanya perasaan takut
Perilaku ini dapat terjadi pada semua orang, yang ditadai dengan munculnya
perasaan takut sebagai dampak dari sakit yang dialami.

b. Menarik diri
Seorang yang sakit maka ia akan merasa cemas yang berlebihan yang kemudian
berdampak pada penaikan diriya dari lingkungan, sebagai contoh ia akan malu
untuk bergaul dll.

c. Egosentris

4

Pada saat seorang sakit maka ia cenderung menjadi pribadi yang egois,
kebanyakan orang sakit tidak mau mendengarkanorang lain, ia cenderung ingin
orang lain untuk mendengarkan ceritanya.
d. Sensitif
Seorang yang mengalami sakit akan menunjukkan perilaku yang aneh, misalnya ia
akan mudah untuk mengomel sendiri, serta mempersoalkan hal-hal yang kecil.
e. Reaksi emosioal tinggi
Pada saat seseorang sakit, maka ia akan cenderung bersifat agresif, ia akan mudah
marah, mudah tersinggung atau menangis karena dia ingin menuntut perhatian
dari orang disekitarnya.
f. Perubahan persepsi
Pada saat seseorang mengalami sakit maka orang tersebut akan mempercayakan
kesehatannya untuk disembuhkan oleh orang yang dia anggap mampu, misalnya
dokter, perawat dan sebagainya.
g. Berkurangnya minat
Dalam hal ini orang yang mengalami sakit akan merasa stres terhadap
penyakitnya, serta akan menurunnya kemamuan dalam beraktifitas.
3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN INDIVIDU
Faktor yang mempengaruhi diri seseorang tentang sehat.
a. Status perkembangan: Kemampuan mengerti tentang keadaan sehat dan
kemampuan berespon terhadap perubahan dalam kesehatan dikaitkan dengan usia.
Contoh: Bayi dapat merasakan sakit, tapi tidak dapat mengungkapkan dan
mengatasinya.
b. Pengaruh sosiokultural: Masing-masing kultur punya pandangan tentang sehat
yang diturunkan dari orang tua pada anaknya. Contoh: Orang Cina, sehat adalah
keseimbangan antara Yin dan Yang; Orang dengan ekonomi rendah memandang
flu sesuatu yang biasa dan merasa sehat
c. Pengalaman masa lalu: Seseorang dapat merasakan nyeri/sakit atau disfungsi
(tidak berfungsi) keadaan normal karena pengalaman sebelumnya; Membantu
menentukan defenisi seseorang tentang sehat
d. Harapan seseorang tentang dirinya: Seseorang mengharapkan dapat berfungsi
pada tingkat yang tinggi baik fisik maupun psikososialnya jika mereka sehat.
Berikut ini adalah bagan yang menunjukkan faktor yang mempengaruhi status

5

kesehatan seseorang, yaitu keturunan 5%, lingkungan 40%, pelayanan kesehatan
20% serta perilaku 35%
4. KONSEP SEHAT SAKIT DALAM ASPEK SOSIAL
Konsep sehat dan sakit dari aspek sosial kesehatan (antropologi kesehatan,
sosiologi kesehatan), dalam berbagai analisis para ahli sosialogi mereka berpandangan
bahwa walaupun manusia secara biologis termasuk kategori mamalia, namun manusia
secara kualitatif dianggap berbeda dengan binatang. Satu kemampuan yang ada pada
manusia, yang dianggap oleh pakar manusia yang membedakan dengan makhluk-
makhluk lain di muka bumi, yaitu kemampuannya menggunakan, menciptakan,
memahami, dan menggunakan simbol-simbol dalam kehidupan mereka .
Simbol adalah obyek atau peristiwa apapun yang menunjuk pada sesuatu. Semua
simbol melibatkan tiga unsur, simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih, dan
hubungan antara simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini merupakan dasar bagi semua
makna simbolik. Simbol itu sendiri meliputi apapun yang dapat dirasakan atau
dialami. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa simbol bersifat sosial yang
dikembangkan dan diberi makna dalam kehidupan individu manusia sebagai warga
dari suatu antar individu. Beberapa simbol yang membentuk suatu sistem yang
terintegrasi secara fungsional serta menjadi suatu sistem yang logico meaningful,
yang kini biasa disebut sebagai kebudayaan. Kebudayaan dewasa ini biasa diartikan
sebagai jaringan simbol yang dipakai oleh manusia untuk menafsirkan dan
memahami lingkungan fisik, maupun non fisik, serta untuk membimbing
mewujudkan perilaku yang sesuai agar dapat merasa bahagia berada dalam
lingkungan tersebut. Bila mana suatu perilaku seseorang tidak dapat membuat
bahagia, maka orang tersebut akan berusaha untuk mengubah perilakunya. jika usaha
tersebut tetap tidak berhasil,walaupun telah dilakukan berkali-kali, maka dia akan
mempengaruhi atau mengubah lingkungan tersebut. Jika langkah ini belum juga
berhasil, maka dia akan pindah ke tempat atau lingkungan, lain dimana dia akan dapat
merasakan kebahagiaan inilah yang terkait erat dengan soal kesehatan dalam sosial
kesehatan tidak hanya diartikan secara fisik,atau biomedis, tetapi juga secara
sosial dan budaya, bahkan kejiwaan.

Dalam alam Azwar, (1992) mengemukakan bahwa sehat atau tidaknya sesorang
sangat bergantung pada keseimbangan relatif dari bentuk dan fungsi tubuh, yang
terjadi sebagai hasil kemampuan penyesuaian secara dinamis terhadap berbagai
tenaga atau kekuatan yang mengganggunya. Artinya, kesehatan seseorang bergantung

6

pada faktor lingkungan, pejamu dan bibit penyakit. Berangkat dari pengertian inilah
dalam perkembangannya mendasari timbulnya ilmu kesehatan lingkungan. Batasan
tentang sehat dan kesehatan yang digunakan oleh para dokter di rumah sakit, pada
dasarnya hanya salah satu dari sekian banyak cara mendefinisikan gejala tersebut dan
cara ini berakar pada sudut pandang filosofis
tertentu yang berasal dari dunia barat. Batasan ini tentu saja dapat dan sangat mungkin
berbeda, dengan batasan yang diberikan oleh para tabib yang menggunakan cara lain
untuk melakukan penyembuhan, atau dengan batasan yang diberikan oleh seseorang
dukun. Kemampuan mengerti tentang keadaan sehat dan kemampuan merespon
terhadap perubahan dalam kesehatan dikaitkan dengan usia.: Contoh Bayi dapat
merasakan sakit, tapi tidak dapat mengungkapkan dan mengatsainya. Pengetahuan
perawat tentang status perkembangan individu memudahkan untuk melaksanakan
pengkajian terhadap individu dan membantu mengantisipasi perilaku-perilaku
selanjutnya.
5. KONSEP SEHAT SAKIT MENURUT BUDAYA MASYARAKAT

Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, sosial dan pengertian profesional
yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya
dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat
harus dilihat dari berbagai aspek.WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu
keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang.
Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya? Oleh para ahli
kesehatan, antropologi kesehatan dipandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi
perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia,
terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan
manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit.Penyakit sendiri ditentukan oleh
budaya, hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak
dapat menjalankan peran normalnya secara wajar.

Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan
dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan
juga dapat menimbulkan penyakit.Masyarakat dan pengobat tradisional atau biasanya
dikenal dengan istilah tabib menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu penyebab
naturalistik dan personalistik, Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang
menderita sakit akibat pengaruh

7

lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam
tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit
bawaan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan
dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap
sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan
sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas
sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.Sedangkan konsep Personalistik
menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif
yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau
makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).

Hasil penelitian kualitatif dan kuantitatif atas nilai - nilai budaya di Kabupaten
Soppeng, dalam kaitannya dengan penyakit kusta (Kandala,dalam bahasa bugis.) di
masyarakat Bugis menunjukkan bahwa timbul dan diamalkannya leprophobia
secara ketat karena menurut salah seorang tokoh budaya, dalam nasehat perkawinan
orang-orang tua di sana, kata kandala ikut tercakup di dalamnya. Disebutkan bahwa
bila terjadi pelanggaran melakukan hubungan intim saat istri sedang haid, mereka
(kedua mempelai) akan terkutuk dan menderita kusta/kaddala. Ide yang bertujuan
guna terciptanya moral yang agung di keluarga baru, berkembang menuruti proses
komunikasi dalam masyarakat dan menjadi konsep penderita kusta sebagai
penanggung dosa.Pengertian penderita sebagai akibat dosa dari ibu-bapak merupakan
awal derita akibat leprophobia. Rasa rendah diri penderita dimulai dari rasa rendah
diri keluarga yang merasa tercemar bila salah seorang anggota keluarganya menderita
kusta. Dituduh berbuat dosa melakukan hubungan intim saat istri sedang haid bagi
seorang fanatik Islam dirasakan sebagai beban trauma psikosomatik yang sangat
berat. Orang tua, keluarga sangat menolak anaknya didiagnosis kusta. Pada penelitian
Penggunaan Pelayanan Kesehatan Di Propinsi Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara
Barat (1990), hasil diskusi kelompok di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa anak
dinyatakan sakit jika menangis terus, badan berkeringat, tidak mau makan, tidak mau
tidur, rewel, kurus kering. Bagi orang dewasa, seseorang dinyatakan sakit
kalau sudah tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, tidak enak badan, panas dingin,
pusing, lemas, kurang darah, batuk-batuk, mual, diare. Sedangkan hasil diskusi
kelompok di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari
keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya

8

panas, batuk pilek, mencret, muntah-muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning,
kaki dan perut bengkak.Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan
kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai. masalah sakit-
sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-
tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat
bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran
atau istirahat saja. Pada penyakit batin tidak ada tanda-tanda di badannya, tetapi bisa
diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya
lincah, kuat bekerja, suhu badan normal, makan dan tidur normal, penglihatan terang,
sorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit-sakit badan.
Sudarti (1987) dalam Soejoeti, Sunanti Z, (2009) menggambarkan secara deskriptif
persepsi masyarakat beberapa daerah di Indonesia mengenai sakit dan penyakit;
masyarakat menganggap bahwa sakit adalah keadaan individu mengalami serangkaian
gangguan fisik yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Anak yang sakit ditandai
dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan tidak nafsu makan. Orang dewasa
dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu makan, atau “kantong
kering” (tidak punya uang). Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit
ke dalam 3 bagian yaitu ; Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh
manusia, Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin dan
akibat Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain- lain). Untuk mengobati sakit
yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obat-obatan,
ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan makan, dan bantuan tenaga kesehatan.
Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-
lain. Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan
mereka terhadap penyebab sakit.

9

RINGKASAN
KONSEP SEHAT SAKIT

• PENGERTIAN KONSEP SEHAT DAN CIRI-CIRI SEHAT

WHO membuat definisi universal yang menyatakan bahwa pengertian sehat adalah
suatu keadaan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu
kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

Menurut WHO, ada 3 komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam
definisi atau cirri-ciri sehat yaitu :

a) Sehat Jasmani
b) Sehat Mental
c) Sehat Spiritual
• PENGERTIAN KONSEP SAKIT DAN CIRI-CIRI SAKIT

Sakit merupakan proses dimana fungsi individu dalam suatu atau lebih dimensi yang
ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingakan dengan kondisi
individu sebelumnya.

Pengertian sakit dapat juga ditinjau dari beberapa aspek antara lain:

a) Pendekatan biologis
b) Pendekatan Medis
c) Pendekatan Antropologis

Perilaku yang ditunjukan oleh seseorang yang sakit adalah :

a) Adanya perasaan takut
b) Menarik diri
c) Egosentris
d) Sensitif
e) Reaksi emosioal tinggi
f) Perubahan persepsi
g) Berkurangnya minat
• FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN INDIVIDU

Faktor yang mempengaruhi diri seseorang tentang sehat.
10

a) Status perkembangan
b) Pengaruh sosiokultural
c) Pengalaman masa lalu
d) Harapan seseorang tentang dirinya
• KONSEP SEHAT SAKIT DALAM ASPEK SOSIAL

Konsep sehat dan sakit dari aspek sosial kesehatan (antropologi kesehatan, sosiologi
kesehatan), dalam berbagai analisis para ahli sosialogi mereka berpandangan bahwa
walaupun manusia secara biologis termasuk kategori mamalia, namun manusia secara
kualitatif dianggap berbeda dengan binatang. Satu kemampuan yang ada pada
manusia, yang dianggap oleh pakar manusia yang membedakan dengan makhluk-
makhluk lain di muka bumi, yaitu kemampuannya menggunakan, menciptakan,
memahami, dan menggunakan simbol-simbol dalam kehidupan mereka.

Beberapa simbol yang membentuk suatu sistem yang terintegrasi secara fungsional
serta menjadi suatu sistem yang logico meaningful, yang kini biasa disebut sebagai
kebudayaan. Kebudayaan dewasa ini biasa diartikan sebagai jaringan simbol yang
dipakai oleh manusia untuk menafsirkan dan memahami lingkungan fisik, maupun
non fisik, serta untuk membimbing mewujudkan perilaku yang sesuai agar dapat
merasa bahagia berada dalam lingkungan tersebut. Bila mana suatu perilaku
seseorang tidak dapat membuat bahagia, maka orang tersebut akan berusaha untuk
mengubah perilakunya. jika usaha tersebut tetap tidak berhasil,walaupun telah
dilakukan berkali-kali, maka dia akan mempengaruhi atau mengubah lingkungan
tersebut. Jika langkah ini belum juga berhasil, maka dia akan pindah ke tempat atau
lingkungan, lain dimana dia akan dapat merasakan kebahagiaan inilah yang terkait
erat dengan soal kesehatan dalam sosial kesehatan tidak hanya diartikan secara
fisik,atau biomedis, tetapi juga secara sosial dan budaya, bahkan kejiwaan.

• KONSEP SEHAT SAKIT MENURUT BUDAYA MASYARAKAT

Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya, hal ini karena penyakit merupakan
pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara
wajar. Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan
dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan
juga dapat menimbulkan penyakit.Masyarakat dan pengobat tradisional atau biasanya
dikenal dengan istilah tabib menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu penyebab

11

naturalistik dan personalistik, Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang
menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan
hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin
seperti masuk angin dan penyakit bawaan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan
yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan
gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang
menyenangkan, bahkan dirasakan
sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas
sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.Sedangkan konsep Personalistik
menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif
yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau
makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).

12

LATIHAN SOAL BAB I
1. "komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang

berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi,
berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan
seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal." Dari kutipan tersebut merupakan
pengertian dari?

a. Sehat Jasmani
b. Sehat Mental
c. Sehat Spiritual
d. Sehat Sakit
e. Sehat Rohani
2. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan
emosinya, misalnya seperti apa?
a. Takut
b. Gembira
c. Kuatir
d. Sedih
e. Jawaban a, b, c, dan d benar
3. "Sakit dinyatakan dalam hubungannya dengan tubuh yang melaksanakan fungsi
biologis, dapat dibedakan dengan jelas antara sakit dan sehat. Pengalaman hidup
seseorang disini tak berperan pada suhu tubuh 38°C, maka terjadilah sakit yaitu
demam, tetapi tergantung orang yang bersangkutan, merasa sakit atau tidak." Kutipan
tersebut merupakan pengertian sakit menurut?
a. Pendekatan biologis
b. Pendekatan medis
c. Pendekatan antropologi
d. Pendekatan sosiologis
e. Pendekatan sosial budaya
4. Apa saja perilaku yang ditunjukan oleh seseorang yang sakit? Kecuali
a. Adanya perasaan takut
b. Sensitif
c. Sangat senang
d. Menarik diri
e. Egosentris

13

5. Pada saat seseorang sakit, maka ia akan cenderung bersifat agresif, ia akan mudah
marah, mudah tersinggung atau menangis karena dia ingin menuntut perhatian dari
orang disekitarnya. Hal tersebut termasuk perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang
yang sakit pada apa?
a. Adanya perasaan takut
b. Sensitif
c. Menarik diri
d. Reaksi emosional tinggi
e. Egosentris

6. Apa saja faktor yang mempengaruhi diri seseorang tentang sehat?
a. Status perkembangan
b. Pengaruh sosiokultural
c. Pengalaman masa lalu
d. Harapan seseorang tentang dirinya
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

7. Bayi dapat merasakan sakit, tapi tidak dapat mengungkapkan dan mengatasinya.
Termasuk dalam faktor yang mempengaruhi diri seseorang tentang sehat bagia apa?
a. Status perkembangan
b. Pengaruh sosiokultural
c. Pengalaman masa lalu
d. Harapan seseorang tentang dirinya
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

8. Orang Cina, sehat adalah keseimbangan antara Yin dan Yang; Orang dengan ekonomi
rendah memandang flu sesuatu yang biasa dan merasa sehat. Termasuk dalam faktor
yang mempengaruhi diri seseorang tentang sehat bagia apa?
a. Status perkembangan
b. Pengaruh sosiokultural
c. Pengalaman masa lalu
d. Harapan seseorang tentang dirinya
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

9. "Sehat atau tidaknya sesorang sangat bergantung pada keseimbangan relatif dari
bentuk dan fungsi tubuh, yang terjadi sebagai hasil kemampuan penyesuaian secara
dinamis terhadap berbagai tenaga atau kekuatan yang mengganggunya." Kutipan
tersebut menurut pendapat ahli siapa?

14

a. Sudarti (1987)
b. Soejoeti
c. Sunanti Z
d. Azwar, (1992)
e. Penggunaan Pelayanan Kesehatan Di Propinsi Kalimantan Timur dan Nusa

Tenggara Barat (1990)
10. Seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan),

kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas
dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan. Merupakan penyebab bersifat?

a. Penyebab bersifat personalistic
b. Penyebab bersifat naturalistik
c. Penyebab bersifat takut
d. Penyebab bersifat kebiasaan
e. Penyebab bersifat menarik diri

15

BAB II

ASPEK - ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN

A. PENDAHULUAN
Materi ini merupakan mata kuliah lanjut yang menekankan pada pemahaman

mengenai aspek sosial serta budaya yang mempengaruhi status kesehatan dan perilaku
kesehatan dimasyarakat. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai aspek sosial budaya
dalam bidang kesehatan masyarakat.

Tujuan Instruksional:

a. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan
tentang aspek sosial serta budaya yang mempengaruhi status kesehatan dan perilaku
kesehatan masyarakat.

b. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan:

1) Aspek sosial apa saja yang mempengaruhi status kesehatan dan perilaku kesehatan

2) Aspek budaya apa saja yang mempengaruhi status kesehatan dan perilaku
kesehatan

B. MATERI PEMBELAJARAN
1. Aspek Sosial Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan

Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku
kesehatan:
a. Self concept

Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau ketidakpuasan yang kita
rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin memperlihatkan diri
kita kepada orang lain. Apabila orang lain melihat kita positip dan menerima apa
yang kita lakukan, kita akan meneruska perilaku kita, begitu pula sebaliknya.
b. Image kelompok

16

Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai contoh,
anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan orang-orang
dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan
lingkungan medis, dan besar kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi
dokter.
Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan antara lain:
a. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit berdasarkan
golongan umur. Misalnya balita lebih banyak menderita penyakit infeksi, sedangkan
golongan usila lebih banyak menderita penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit
jantung koroner, kanker, dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya
dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan laki-laki
banyak menderita kanker prostat.
c. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya dikalangan
petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja yang banyak dilakukan
disawah dengan lingkungan yang banyak cacing. Sebaliknya buruh yang bekerja
diindustri, misal dipabrik tekstil banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan
karena banyak terpapar dengan debu
d. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya penderita
obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat yang berstatus ekonomi
tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak ditemukan dikalangan masyarakat
yang status ekonominya rendah.
2. Aspek Budaya Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan
Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan antara lain:
a. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi didalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap
kesehatan masyarakat. Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat
berpengaruh negatif terhadapkesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah
terjadi wabah penyakit kuru.penyakit inimenyerang susunan saraf otak dan
penyebabnya adalah virus. Penderita hamya terbatas padaanak-anak dan wanita.

17

Setelah dilakukan penelitaian ternyata penyakit ini menyebar karenaadanya tadisi
kanibalisme.
b. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contoh:
Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik) yang beragama
islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir,
sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan
bagi anaknya yang sakit.
c. Sikap ethnosentris
Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan
dengan kebudayaan pihak lain.
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya.
Contoh: Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan tertentu, menolak
untuk makan daun singkong walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi.
Setelah diselidiki ternyata masyarakat bernaggapan daun singkong hanya pantas
untuk makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat
disamakan dengan kambing.
e. Pengaruh norma
Contoh: upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami
hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang
memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna pelayanan.
f. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi
terhadap perilaku kesehatan
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada
seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang biasa makan nasi sejak
kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa.
g. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan
Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan
masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi
jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh pada
perubahan, dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan
perubahan tersebut.

18

RINGKASAN
ASPEK-ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN
• Aspek Sosial Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan
Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku
kesehatan:
a. Self concept
b. Image kelompok
Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan antara lain:
a. Umur
b. Jenis Kelamin
c. Pekerjaan
d. Sosial ekonomi
• Aspek Budaya Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan
Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan antara
lain:
a. Pengaruh tradisi
b. Sikap fatalistis
c. Sikap ethnosentris
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya.
e. Pengaruh norma
f. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi

terhadap perilaku Kesehatan
g. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan

19

LATIHAN SOAL BAB II
1. Mana yang termasuk faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku kesehatan Menurut

H.Ray Elling (1970)?
a. Self concept
b. mage kelompok
c. Umur
d. Sosial ekonomi
e. Jawaban a dan b benar

2. Anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan orang-orang
dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan
lingkungan medis, dan besar kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi
dokter. Hal tersebut merupakan faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku
kesehatan apa?
a. Self concept
b. Image kelompok
c. Umur
d. Sosial ekonomi
e. Jawaban a dan b benar

3. Mana yang termasuk aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan?
a. Umur
b. Pekerjaan
c. Sosial ekonomi
d. Jenis kelamin
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

4. Penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat yang berstatus
ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak ditemukan dikalangan
masyarakat yang status ekonominya rendah. Hal tersebut termasuk aspek sosial yang
mempengaruhi status kesehatan apa?
a. Umur
b. Pekerjaan
c. Sosial ekonomi
d. Jenis kelamin
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

20

5. Balita lebih banyak menderita penyakit infeksi, sedangkan golongan usila lebih
banyak menderita penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner,
kanker, dan lain-lain. Hal tersebut termasuk aspek sosial yang mempengaruhi status
kesehatan apa?
a. Umur
b. Pekerjaan
c. Sosial ekonomi
d. Jenis kelamin
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

6. Dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja yang banyak
dilakukan disawah dengan lingkungan yang banyak cacing. Sebaliknya buruh yang
bekerja diindustri, misal dipabrik tekstil banyak yang menderita penyakit saluran
pernapasan karena banyak terpapar dengan debu. Hal tersebut termasuk aspek sosial
yang mempengaruhi status kesehatan apa?
a. Umur
b. Pekerjaan
c. Sosial ekonomi
d. Jenis kelamin
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

7. Manakah yang termasuk aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan menurut G.M.
Foster (1973) ?
a. Sikap fatalistis
b. Pengaruh tradisi
c. Pengaruh norma
d. Sikap ethnosentris
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

8. Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik) yang beragama
islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir,
sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan
bagi anaknya yang sakit. Hal tersebut termasuk dalam aspek budaya dapat
mempengaruhi kesehatan pada bagian apa?
a. Sikap fatalistis
b. Pengaruh tradisi
c. Pengaruh norma

21

d. Sikap ethnosentris
e. Jawaban a, b, c, dan d benar
9. Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan tertentu, menolak untuk makan
daun singkong walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki
ternyata masyarakat bernaggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan
kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan
dengan kambing. Hal tersebut termasuk dalam aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan pada bagian apa?
a. Sikap fatalistis
b. Pengaruh tradisi
c. Pengaruh norma
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
e. Jawaban a, b, c, dan d benar
10. Manusia yang biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya
setelah dewasa. Hal tersebut termasuk dalam aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan pada bagian apa?
a. Sikap fatalistis
b. Pengaruh tradisi
c. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses

sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
e. Jawaban a, b, c, dan d benar

22

KUNCI JAWABAN
KUNCI JAWABAN SOAL BAB 1
1. a 6. e
2. e 7. a
3. a 8. b
4. c 9. d
5. d 10. b
KUNCI JAWABAN SOAL BAB II
1. e 6. b
2. b 7. e
3. e 8. a
4. c 9. d
5. a 10. c

23

DAFTAR PUSTAKA
Husaini, dkk. 2018. Buku Ajar Antropologi Sosial Kesehatan. Banjarbaru: CV. Zukzez

Ekspress
Irwan. 2017. Etika dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: CV. Absolute Media

24


Click to View FlipBook Version