The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku pedoman ini menjelaskan mengenai detail dari pelaksanaan Program Bedah Jamban.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 01-19-Shesa Ratna Suryaning Putri, 2020-10-26 01:12:27

Gerakan Bedah Jamban untuk Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan di Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang

Buku pedoman ini menjelaskan mengenai detail dari pelaksanaan Program Bedah Jamban.

Keywords: #BABS #ODF #BedahJamban

i

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Puji syukur selalu kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat
dan nikmatNya yang melimpah, penulis dapat menyelesaikan Buku Pedoman ini
yang berjudul “Gerakan Bedah Jamban untuk Bebas dari Buang Air Besar
Sembarangan di Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang”. Buku Pedoman ini disusun
untuk memenuhi laporan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang
Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) yang diselenggarakan oleh Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi tahun 2020. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung, memberikan bantuan, dan
memberikan saran guna menyukseskan program ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
Buku Pedoman ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan masukan
untuk perbaikan. Semoga Buku Pedoman ini dapat bermanfaat baik bagi penulis
maupun bagi pembaca.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Surakarta, 29 September 2020

Tim Penulis

ii

DAFTAR ISI i

HALAMAN JUDUL ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI iv

DAFTAR GAMBAR v

DAFTAR TABEL 1

PENDAHULUAN 1
2
A. Latar Belakang 2
B. Tujuan
C. Potret, Profil, dan Kondisi Sasaran 4

PELAKSANAAN KEGIATAN 4
4
A. Logo Program Bedah Jamban 12
B. Kegiatan Program Bedah Jamban
C. Indikator Keberhasilan program 13

STANDAR FASILITAS JAMBAN UMUM 13
13
A. Standar Fasilitas Jamban Umum 14
B. Syarat Jamban Bersih dan Sehat 15
C. Rencana Denah Ruang Jamban Umum di RW 20 16
D. Rincian Anggaran Dana Fasilitas Jamban Umum
E. Rincian Anggaran Dana Jamban Keluarga Per Rumah 17

PENUTUP 18

Daftar Pustaka

iii

DAFTAR GAMBAR 3
Gambar 1. Contoh Jamban Sungai atau “Helikopter” 4
Gambar 2. Logo Program Bedah Jamban 5
Gambar 3. Tahapan Kegiatan Program 14
Gambar 4. Contoh Jamban Bersih dan Sehat 14
Gambar 5. Denah Ruang Jamban Umum

iv

DAFTAR TABEL 9
Tabel 1. Rangkuman Kegiatan Program Bedah Jamban

v

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sanitasi yang memadai adalah hak asasi manusia (COHRE, 2008).
Namun, 25 milyar orang (atau sekitar 64% penduduk dunia) yang tidak
memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik pada akhir 2011.
Masalah tersebut menjadi salah satu tujuan pembangunan yang belum
tercapai dan masuk dalam tujuan Sustainable Development goals (SDG’s)
poin nomor 6, yaitu air bersih dan sanitasi yang cukup dan merata bagi
semua orang serta. Selain hygiene, sanitasi yang tidak memadahi merupakan
faktor risiko penyakit diare (WHO, 2009). Melalui keputusan Menteri
Kesehatan (Kepmenkes) nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 yang kemudian
diperkuat menjadi Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 3
tahun 2014, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dikukuhkan
sebagai strategi nasional pembangunan sanitasi di Indonesia. Pada
Permenkes ini, dalam Bab II pasal 3 ayat (2) huruf a, salah satu pilar dalam
menyelenggarakan Stop Buang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
secara mandiri yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan untuk memutus
mata rantai penularan dan keracunan. Hal tersebut kemudian ditegaskan
kembali dalam pasal berikutnya yaitu pasal 4 ayat (1) yang intinya perilaku
Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) tersebut diwujudkan
melalui kegiatan membudayakan perilaku buang air besar sehat serta
menyediakan dan memelihara sarana buang air besar yang memenuhi
standar dan persyaratan. Selain itu,program ini juga didasari oleh adanya
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV tahun
2020-2024 membahas mengenai terpenuhinya 0% BABS.

Perilaku buang air besar sembarangan (BABS/Open defecation)
termasuk salah satu tindakan tidak sehat yang membuang kotoran atau tinja
di ladang, hutan, semak-semak, sungai, pantai atau area terbuka lainnya dan
dibiarkan menyebar mengontaminasi lingkungan, tanah, udara dan air
(Murwati, 2012). Program pemberian jamban oleh pemerintah Indonesia
sudah dilakukan, namun kegiatan ini belum merata di seluruh daerah
terpencil.

Beberapa program ini juga kurang berhasil di beberapa tempat
karena kurangnya sosialisasi, pendekatan kepada masyarakat serta
persediaan air di jamban yang dibangun. Tahun 2019 sudah terdapat 23
kabupaten/kota di Jawa Tengah yang sudah melaksanakan deklarasi bebas
buang air besar sembarangan/ Open Defecation Free (ODF), akan tetapi
masih ada 12 kabupaten/kota yang belum mendeklarasikan diri termasuk
salah satunya yaitu Kabupaten Pemalang (Portal Berita Jateng, 2020).

Berdasarkan data dari Puskesmas Mulyoharjo tahun 2019 per bulan
Desember, Kelurahan Mulyoharjo memiliki 4.649 KK sudah terverifikasi
ODF akan tetapi 295 KK masih melakukan BABS di sungai, 212 KK belum

1

mempunyai jamban keluarga, dan 472 KK sudah memiliki jamban namun
belum memiliki septic tank (pembuangannya masih di sungai). Berdasarkan
data Kelurahan Mulyoharjo terdapat 25 rumah belum ODF dan sebagian
besar terpusat di RW 20 Kelurahan Mulyoharjo dengan jumlah ODF
terendah (10 rumah belum ODF).

Faktor rendahnya ekonomi, akses air bersih dan pengetahuan
masyarakat mempengaruhi perilaku dan taraf kesehatan masyarakat
setempat. Dari pihak Kelurahan Mulyoharjo dan Puskesmas Mulyoharjo
berupaya keras memberantas BABS, namun tingkat kesadaran masyarakat
mengenai ODF masih sangat kurang. Berdasarkan data Kelurahan
Mulyoharjo menyebutkan bahwa di tahun 2019 terdapat 11 orang yang
mengeluhkan diare baik pada orang tua maupun balita. Masyarakat belum
sadar bahwa hal ini dapat diakibatkan karena buang air sembarangan. Oleh
sebab itu, perlu adanya stimulus kepada masyarakat agar bisa mendorong
masyarakat ODF secara mandiri dan berkelanjutan. Hal tersebut mendorong
tim PKM-M untuk melakukan suatu program Bedah Jamban demi
mendukung program pemerintah yaitu STBM dan Stop Buang Air Besar
Sembarangan (Stop BABS) khususnya di Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang.

Buku pedoman bedah jamban ini berisikan tata cara laksana
program bedah jamban dari, oleh dan untuk masyarakat yang bersifat
mandiri dan berkelanjutan sehingga diharapkan dapat menjadi pedoman
pelaksanaan jika diterapkan di lokasi lain untuk mencapai ODF nasional.
B. Tujuan

Tujuan dari program ini yaitu untuk memberikan gambaran dan
petunjuk pelaksanaan program bedah jamban bagi masyarakat secara mandiri.
C. Potret, Profil, dan Kondisi Sasaran

Sebelum melaksanakan program, tim penggerak program wajib
mengetahui kondisi masyarakat sasaran. Masyarakat Kelurahan Mulyoharjo
yang menjadi target kegiatan sebagian besar merupakan masyarakat lokal asli
wilayah Pemalang, bermata pencaharian pedagang dan buruh. Berdasarkan
hasil wawancara didapatkan informasi bahwa di RW 20 terdapat aliran sungai
yang mana warga menggunakan sungai tersebut menjadi tempat BABS dan
diantara 24 RW yang ada di Kelurahan Mulyoharjo, RW 20 lah yang masih
melaksanakan buang air besar di sungai. Pada tahun 2019 per bulan
Desember, warga RW 20 juga tercatat memiliki kasus diare paling banyak di
tahun 2019.

Daerah tersebut masih kurang memahami mengenai pentingnya
buang air besar sesuai dengan tempatnya. BABS ini ternyata disebabkan
beberapa rumah yang ada di daerah setempat tidak memiliki jamban yang
memadai, serta tidak adanya fasilitas jamban umum di sekitar daerah tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara tim bedah jamban dengan pihak
terkait, jamban yang terdapat di sungai tersebut atau yang biasa mereka sebut

2

dengan sebutan “helikopter”, digunakan oleh warga yang tidak memiliki
jamban, termasuk anak berusia di bawah 5 tahun. Menurut hasil wawancara
dengan pihak Kelurahan Mulyoharjo, ternyata sudah ada upaya untuk
menangani kasus tersebut, yaitu dengan cara pengedukasian oleh kader
kesehatan kepada masyarakat tentang bahaya melakukan BABS. Namun,
kesadaran masyarakat saja masih tidak cukup. Perlu adanya fasilitas fisik
yang menunjang BAB sehat namun bersifat mandiri yaitu dari, oleh, dan
untuk masyarakat.

Gambar 1. Contoh Jamban Sungai atau “Helikopter”

3

PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Logo Program Bedah Jamban

Berikut adalah logo dari kegiatan Program Bedah Jamban.

Gambar 2. Logo Program Bedah Jamban
Logo tersebut memiliki makna:
1. Bedah Jamban, merupakan nama program dari kegiatan PKM-M ini.
2. Animasi WC jongkok, merupakan gambaran pendukung untuk BAB di

jamban yang seharusnya
3. Topi pekerja, menggambarkan semangat kata “Bedah” yang dapat

diartikan sebagai membedah kebiasaan BABs dan proyek pembangunan
jamban seara bergotong royong.
4. Sikat WC, melambangkan WC harus dalam keadaan yang selalu bersih
dan sehat agar nyaman digunakan oleh pengguna WC umum tersebut.
5. Tanda plus melambangkan kesehatan, dimana jika WC tersebut sehat,
maka lingkungan di sekitarnya akan ikut sehat karena kebersihan WC
merupakan salah satu faktor kesehatan dari masyarakat.
6. Dari kita, yang artinya kemauan dan upaya dari diri sendiri, serta di
dalam kegiatan program Bedah Jamban, terdapat kegiatan bernama Arisan
Jamban. yang biayanya berasal dari masyarakat itu sendiri.
Oleh kita, menunjukkan program ini adalah bentuk gotong royong
masyarakat serta biaya hasil dari Arisan Jamban diswakelolakan oleh
masyarakat itu sendiri.
Untuk kita, yang artinya manfaat yang didapat akan berdampak pada
seluruh masyarakat karena hasil dari Arisan Jamban dimanfaatkan untuk
masyarakat itu sendiri.
B. Kegiatan Program Bedah Jamban

Kegiatan program Bedah Jamban ini terdiri dari beberapa sub-
program (lihat gambar 3).

4

Gambar 3. Tahapan Kegiatan Program

1. Pelatihan Kader
Tujuan pelaksaan ini adalah untuk menyatukan persepsi tentang

BABS antara kader, tim PKM-M dan kolaborasi penyusunan materi
penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan
dengan tidak melakukan buang air besar sembarangan dan dampak yang
ditimbulkan dari buang air besar sembarangan. Pelaksanaan kegiatan
berupa pengumpulan dan pemberian materi selama 3 hari di ruangan
multimedia Kelurahan Mulyoharjo. Sub tema yang tim PKM-M pilih
yaitu pengertian BABS dan ODF, pengaruh BABS bagi kesehatan
manusia, bakteri yang terkandung dalam tinja, upaya pencegahan, syarat
jamban sehat, dasar hukum, program bedah jamban serta peran dan
tanggungjawab para pihak, seperti kecamatan, kelurahan, RT/RW, dan
kader. Indikator keberhasilan kegiatan ini yaitu para kader diharapkan
dapat memahami 90% materi mengenai ODF, agar mereka dapat dengan
mudah dalam menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai
program bedah jamban. Adanya pre test dan post test akan menjadikan
indikator keberhasilan program ini pada sebelum adanya pelatihan dan
setelah adanya pelatihan. Jika skor post test kader adalah 90/100, maka
dapat dikatakan program pelatihan kader ini dapat berjalan maksimal.
Keberlanjutan dari tahapan dengan memberikan buku pedoman pada
kader agar pemahaman program tidak terputus apabila kader berganti.

2. Sosialisasi Masyarakat
Tujuan sosialisasi masyarakat

untuk meningkatkan pengetahuan
masyarakat akan bahaya BABS dan
masyarakat siap dalam menerima
program bedah jamban. Pelaksanaan
berupa pemberian materi oleh kader
kesehatan RW 20 yang tentunya
mengenai bahaya BABS dan pentingnya
masyarakat ODF. Target dari program ini yaitu masyarakat pelaku
BABS, masyarakat sekitar RW 20 dan RW lain yang antusias. Indikator
keberhasilan kegiatan ini yaitu peningkatan pemahaman masyarakat

5

yang ditandai dengan adanya pretest dan posttest , dengan target postest
mencapai 80/100. Selain itu, juga stakeholder seperti kepala desa, bidan
desa, dan kader kesehatan mendukung sepenuhnya program ini.
Keberlanjutan dari tahapan sudah termasuk dalam program kesehatan
desa yaitu sosialisasi mengenai ODF yang dikoordinasi bidan desa.

3. Pembangunan Jamban Umum
Tujuan tahapan ini adalah untuk meminimalisir kejadian BABS

di sungai. Pelaksanaan beupa pembangunan jamban dengan ukuran 1,5
x 1,5 meter di tempat yang sudah disepakati oleh pihak kelurahan, pihak
RW, para kader, dan tim PKM-M bedah jamban. Indikator
keberhasilan dari program ini yaitu diharapkan minimal 95% warga di
RW 20 yang tidak memiliki fasilitas jamban keluarga yang memadahi
dapat menggunakan jamban umum secara rutin dalam kurun waktu
sekitar 1 minggu sejak sosialisasi kepada masyarakat. Keberlanjutan
dari program ini yaitu jamban umum dapat digunakan oleh masyarakat
RW 20 yang tidak memiliki jamban keluarga yang layak.

4. Perobohan Jamban Sungai atau “Helikopter”
Tujuan kegiatan ini agar tidak
ditemukannya lagi masyarakat yang
BABS di sungai. Pelaksanaan
kegiatan ini yaitu adanya perobohan
jamban di sekitar sungai yang dibantu
oleh Karang Taruna RW 20, ketua

RW 20, masing-masing Ketua RT di RW 20, serta beberapa masyarakat
RW 20. Tentunya, kegiatan ini juga akan adanya pengawasan oleh tim
PKM-M. Indikator keberhasilan dari program ini minimal 90% dari
warga yang tidak memiliki jamban keluarga yang layak, tidak lagi
melakukan BABS di sungai. Keberlanjutan dari program ini yaitu
masyarakat tidak melakukan BABS di sungai lagi.

5. Pembentukan Piket Harian
Tujuan dari kegiatan ini untuk perawatan dan pembersihan

jamban umum yang dilakukan oleh warga RW 20 agar tetap bersih,
sehat, dan nyaman digunakan. Pelaksanaan program ini yaitu jamban
umum dapat dibersihkan 2 kali seminggu oleh piket harian yang telah
dibentuk. Indikator keberhasilan dari program ini yaitu jamban umum
dapat dibersihkan seminggu 2 kali untuk perawatan yang dananya
diambil dari iuran kas RW yang sudah melalui koordinasi oleh ketua RW
20. Keberlanjutan program ini yaitu jamban umum dapat digunakan
secara bersih, sehat, dan nyaman digunakan.

6

6. Pemantauan oleh Kader dan Tim PKM-M
Tujuan dari kegiatan ini agar mengetahui siapa saja yang rutin

buang air besar di jamban umum tersebut, nantinya akan ada pembuatan
jamban pribadi bagi seseorang yang rutin buang air besar di jamban
umum dan tidak melakukan BABS di sungai lagi yang dimaksudkan
untuk menumbuhkan motivasi masyarakat dalam menggunakan dan
merawat fasilitas jamban umum tersebut. Pelaksanaan program ini yaitu
pemantauan oleh tim PKM-M dan kader yang akan dilakukan seminggu
2 kali. Indikator keberhasilan program ini yaitu tidak ditemukan lagi
BABS di sungai, jamban umum digunakan secara baik dan rutin, jamban
umum dibersihkan secara rutin, dan program arisan jamban berjalan
lancar. Keberlanjutan dari program ini yaitu kader kesehatan akan
dibekali buku pedoman mengenai syarat ODF sebagai penunjang
kemandirian kader dalam pemantauan jamban umum, serta reward
berupa jamban keluarga bagi seseorang yang rutin BAB di jamban umum
sebagai stimulus program agar warga lain lebih bersemangat BAB di
jamban.

7. Pembuatan Program Arisan Jamban
Tujuan dari kegiatan ini yaitu

untuk menunjang keberlanjutan program
dan untuk pembentukan jamban keluarga
setiap rumah. Pelaksanaan kegiatan ini
yaitu penarikan uang sebesar Rp50.000
setiap bulan/rumah yang dibantu oleh
Karang Taruna RW 20 guna membangun
jamban keluarga bagi setiap rumah,
dimana pembuatan jamban keluarga ini per
rumah membutuhkan dana sekitar Rp3.000.000,00. Pembangunan ini
akan dilaksanakan setiap 6 bulan sekali. Indikator keberhasilan dari
program ini yaitu 100% masyarakat di RW 20 sudah dinyatakan ODF 4
tahun ke depan sesuai dengan RPJMN IV tahun 2020-2024, yaitu
terpenuhinya 0% BABS dan 100% ODF. Adapun rincian penarikan dana
sebesar Rp50.000 setiap bulan/rumah adalah sebagai berikut:
a. Jumlah rumah di RW 20 yang belum ODF : 10 rumah
b. Penarikan Arisan Jamban
1) Jika perbulan : @Rp50.000/rumah
2) Jika perhari : @Rp2.000/rumah
c. 1 bulan : Rp50.000 x 10 rumah = Rp500.000
d. 6 bulan : Rp500.000 x 6 bulan = Rp3.000.000
e. 1 tahun : Rp500.000 x 12 bulan = Rp6.000.000

7

Pembuatan jamban keluarga ini, per rumah membutuhkan dana
kurang lebih Rp2.000.000. Perhitungan Rp3.000.000 tersebut merupakan
sudah termasuk kemungkinan kenaikan harga di tahun berikutnya. Dengan
perhitungan demikian, maka dalam 1 tahun, RW 20 Kelurahan
Mulyoharjo dapat membangun 2 hingga 3 jamban keluarga, sehingga
apabila berjalan lancar maka kegiatan dapat membebaskan 10 rumah dari
BABS dalam waktu 4 tahun. Keberlanjutan dari program ini yaitu di
tahun 2024 dapat terpenuhinya masyarakat ODF yang mendapatkan 1
rumah 1 jamban keluarga.

8

Tabel 1. Rangkuman Kegiatan Program Bedah Jamban

No Kegiatan Tujuan Metode dan Media

1. Pelatihan Penyatuan persepsi Metode : ceramah,
Kader oleh kader kesehatan diskusi, pre test dan
di RW 20 Kelurahan post test,
Mulyoharjo dan tim
PKM-M Media :
Laptop, LCD
proyektor, power
point, handout
materi, buku
pedoman, alat tulis

2 Sosialisasi Meningkatkan Metode : pre test da

Masyarakat pengetahuan post test, ceramah,

masyarakat tentang dan diskusi

bahaya BABS dan

pentignya ODF, serta Media :

mempersiapkan Laptop, LCD

stakeholder dan proyektor, handout

masyarakat untuk materi, alat tulis

mendukung

pelaksana program

secara berlanjut.

3 Pembangun Untuk mengurangi Jamban Umum

an Jamban kejadian BABS di dibangun dengan

Umum sungai. ukuran 1,5 x 1,5

meter; bahan

Jamban umum bangunan jenis

Lokasi dan Indikator Keberlanjutan
a Penanggung Keberhasilan

jawab Kader mampu Pembekalan buku
Ruangan memahami 90% pedoman dan buku log
n multimedia materi pada post book kepada kader
Kelurahan test. kesehatan.
Mulyoharjo
oleh tim PKM M
Bedah Jamban

an Ruangan Stakeholder di Masyarakat akan dibekali
multimedia RW 20 handout materi sebagai
Kelurahan mendukung penunjang kemandirian
Mulyoharjo sepenuhnya masyarakat.
oleh tim PKM-M program ini.
Bedah Jamban
Peningkatan Jamban Umum dapat
Di lahan kosong pemahaman digunakan oleh
tanpa sengketa masyarakat masyarakat RW 20 yang
dan titik tengah dengan target tidak memiliki jamban
wilayah RW 20 post test 80/100. keluarga layak.
yang rumahnya Minimal 95%
warga yang
tidak memiliki
jamban keluarga
yang memadahi

9

No Kegiatan Tujuan Metode dan Media

digunakan oleh galvalum dan baja
warga RW 20 yang ringan; pengairan
tidak memiliki menggunakan pomp
jamban keluarga air listrik; dan
yang layak. penerangan
menggunakan listrik

4 Perobohan Untuk mengurangi Jamban sungai
dirobohkan dengan
Jamban kejadian BABS di bantuan Karang
Taruna RW 20 dan
Sungai atau sungai ketua RW 20,
“Helikopter masing-masing



5 Pembentuka Perawatan dan Jamban umum

n Piket pembersihan jamban dibersihkan 2 kali

Harian umum yang seminggu secara

dilakukan oleh warga rutin dan berkala.

RW 20 yang telah Dana perawatan

dibentuk piket jamban umum akan

kebersihan per diambil dari kas RW

minggunya agar 20.

jamban umum

Lokasi dan Indikator Keberlanjutan
a Penanggung Keberhasilan

jawab

tidak memiliki dapat

jamban keluarga menggunakan

pa yang memadahi. jamban umum

Penanggungjawab ini.

: ketua RW 20,

k ketua masing-

masing RT di RW

20, dan tim PKM-

M.

Helikopter di Minimal 90% Masyarakat tidak

bantaran sungai dari warga yang melakukan BABS di

RW 20 Kelurahan tidak memiliki sungai lagi.

Mulyoharjo, jamban keluarga

Pemalang. yang layak,

tidak lagi

Penanggungjawab melakukan

: ketua RW 20 BABS di sungai.

dan tim PKM-M.

Lokasi: di Jamban umum Jamban umum dapat

bangunan jamban dapat digunakan secara bersih,

umum yang telah dibersihkan 2 nyaman, dan tidak

dibangun. kali seminggu menimbulkan bau tak

Penanggungjawab agar bersih dan sedap.

: nyaman

W Ketua RW 20 digunakan.

10

No Kegiatan Tujuan Metode dan Media

digunakan dengan

nyaman.

6 Pemantauan Mengetahui siapa Dilakukan seminggu
2 kali.
oleh Kader saja yang rutin

dan Tim buang air besar di

PKM-M jamban umum

tersebut.

Akan adanya
pembuatan jamban
keluarga bagi
seseorang yang rutin
buang air besar di
jamban umum.

7 Pembentuka Adanya Penarikan dana

n Arisan keberlanjutan kepada masyarakat

Jamban program Bedah sebesar Rp50.000

Jamban untuk setiap bulan/rumah,

pembentukan jamban atau Rp2.000 setiap

keluarga setiap hari/rumah.

rumah..

Lokasi dan Indikator Keberlanjutan
a Penanggung Keberhasilan

jawab

u Di lokasi jamban Minimal 90% Kader kesehatan akan

umum. masyarakat dibekali buku pedoman

tidak ditemukan mengenai syarat ODF

Penanggungjawab lagi BABS di sebagai penunjang

: kader kesehatan sungai, jamban kemandirian kader dalam

RW 20 dan tim umum pemantauan jamban

PKM-M digunakan umum.

secara baik dan

rutin, jamban Reward berupa jamban

umum keluarga bagi seseorang

dibersihkan tersebut sebagai stimulus

secara rutin, dan program agar masyarakat

program arisan lebih bersemangat

jamban berjalan

lancar.

Oleh Karang 100% Masyarakat di RW 20

Taruna RW 20 masyarakat di Kelurahan Mulyoharjo

Kelurahan RW 20 sudah Kabupaten Pemalang

Mulyoharjo dinyatakan ODF telah memiliki jamban

Kabupaten 4 tahun ke keluarga yang bersih,

Pemalang depan. sehat, dan layak

digunakan.

11

C. Indikator Keberhasilan Program
Indikator keberhasilan program dari Open Defecation Free (ODF)

untuk menilai sejauh mana standar dan sasaran program telah direalisasikan.
Sesuai dengan program Stop BABS, maka suatu lokasi dikatakan ODF
apabila:
1. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban dan membuang tinja /

kotoran bayi hanya ke jamban.
2. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
3. Tidak ada bau tidak sedap akibat pembuangan tinja / kotoran manusia.
4. Ada peningkatan kualitas jamban yang ada supaya semua menuju jamban

sehat.
5. Ada mekanisme monitoring peningkatan kualitas jamban.
6. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk

mencegah kejadian BAB di sembarang tempat.
7. Analisa kekuatan kelembagaan di Kabupaten untuk menciptakan

kelembagaan dan mekanisme pelaksanaan kegiatan yang efektif dan
efisien sehingga tujuan masyarakat ODF dapat tercapai.

12

STANDAR FASILITAS JAMBAN UMUM

A. Standar Fasilitas Jamban Umum
Standar dan persyaratan kesehatan bangunan jamban yang telah di

tetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Sanitasi Total Berbagsis Masyarakat (STBM) yaitu
diantaranya:
1. Bangunan Atas Jamban

Atap jamban bertujuan untuk melindungi pemakainya dari
gangguan seperti cuaca, terik matahari, hujan dan lainnya.
2. Bangunan Tengah Jamban

Bangunan tengah jamban memiliki 2 (dua) bagian yaitu:
a. Lubang pembuangan kotoran (tinja dan urin) yang diengkapi dengan

konstruksi leher angsa. Pada desain sederhana, lubang dapat dibuat
tanpa adanya leher angsa namun harus diberi tutup.
b. Lantai Jamban dibuat dari bahan yang kedap air, tidak licin, dan
memiliki saluran untuk pembuangan air bekas ke Sistem Pembuangan
Air Limbah (SPAL).
3. Bangunan Bawah Jamban

Bangunan bawah jamban adalah bangunan yang berfungsi untuk
menampung, mengolah dan mengurai kotoran untuk mencegah adanya
kontaminasi. Pada bagian ini terdapat 2 macam bentuk yaitu:
a. Tangki Septik, yaitu bak kedap air yang berfungsi sebagai tempat

penampungan kotoran. Bagian padat dari kotoran manusia akan
mengendap dan bagian cairnya akan diresapkan melalui sumur
resapan atau filter untuk mengolahnya.
b. Cubluk, yaitu lubang galian untuk menampung limbah manusia dan
akan menyerap cairan limbah tersebut ke dalam tanah dengan tidak
mencemari air tanah dan bagian padat akan diuraikan dengan cara
biologis.
B. Syarat Jamban Bersih dan Sehat

Syarat jamban bersih dan sehat yang ditetapkan oleh Departemen
Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 yaitu diantaranya:
1. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum

dengan lubang penampungan minimal 10 meter)
2. Tidak berbau
3. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus
4. Tidak mencemari tanah disekitarnya
5. Mudah dibersihkan dan aman digunakan
6. Dilengkapi dengan dinding dan atap pelindung
7. Penerangan dan ventilasi udara cukup
8. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai

13

9. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih.

Gambar 4. Contoh Jamban Bersih dan Sehat
C. Rencana Denah Ruang Jamban Umum di RW 20

Berdasarkan permasalahan yang terdapat di RW 20 tersebut, jika
dihubungkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomo 3 Tahun 2014 yang telah disebutkan sebelumnya, maka tim PKM-M
memiliki rancangan denah ruang pembuatan jamban umum sebagai berikut :

Gambar 4. Denah Ruang Jamban Umum
Jamban umum tersebut akan dibuat dengan ukuran 5x5 meter dengan
bahan jenis galvalum dan baja ringan. Kloset yang terdapat di jamban umum
tersebut akan dibuat dalam bentuk WC jongkok yang dilengkapi dengan bak
mandi berisi air. Septic tank yang akan digunakan berbentuk septic tank
tabung yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu tempat pembuangan bagian padat

14

dari sisa kotoran manusia dan tempat pembuangan limbah manusia yang cair
yang dilengkapi dengan pipa resapan.

D. Rincian Anggaran Dana Fasilitas Jamban Umum

No. Rincian Penggunaan Volume Satuan Harga Jumlah (Rp)
1. Herbel 1,5 3 Satuan
900.000
(Rp) 100.000
600.000 600.000

2. Perekat herbel 1 Sak 100.000 200.000
3. Galvalum dan Baja 150.000
4 2 150.000 80.000
ringan atap 60.000
110.000
4. Closet 1 Buah 200.000 240.000
125.000
5. Bata merah 150 Buah 1.000 50.000
10.000
6. Roster 4 Buah 20.000 10.000
100.000
7. Semen pasir 1 Gerobak 60.000 10.000
80.000
8. Semen 2 Sak 55.000 5.000
25.000
9. Keramik 4 Dus 60.000 100.000

10. Pintu alumunium 1 Buah 125.000 1.000.000
50.000
11. Ember 1 Buah 50.000 10.000
30.000
12. Gayung 1 Buah 10.000 20.000
880.000
13. Kran air 1 Buah 10.000 Rp4.945.000
Rp5.000.000
14. Pipa pralon air 1,5 inch 2 Buah 50.000 Lima juta
riupiah
15. Lem pralon 1 Buah 10.000

16. Kabel 20 Meter 4.000

17. Viting lampu 1 Buah 5.000

18. Bohlam lampu 10 watt 1 Buah 25.000

19. Pralon septic tank 5 1 Lonjor 100.000
inch

20. Kluwung 4 Buah 250.000

21. Besi cor 6 mm 1 Buah 50.000
22. Kawat bendrat
23. Batu split 1⁄2 Kg 20.000

3 Karung 10.000

24. Tutup kluwung 1 Buah 20.000

25. Tukang + kuli 4 Hari 220.000

TOTAL

DIBULATKAN

TERBILANG

15

E. Rincian Anggaran Dana Jamban Keluarga Per Rumah

No. Rincian Penggunaan Volume Satuan Harga Jumlah
1. Kluwung 4 Buah Satuan (Rp)

(Rp) 1.200.000
300.000 250.000
200.000
2. Kloset jongkok 1 Buah 250.000 150.000
120.000
3. Pralon 5 inch 2 Batang 100.000 200.000
30.000
4. Bata merah 150 Buah 1.000 20.000
50.000
5. Semen 2 Sak 60.000 10.000
6. Pasir 660.000
7. Batu split 1⁄2 Pick up 400.000 Rp2.890.000
Rp3.000.000
3 Karung 10.000 Tiga Juta
Rupiah
8. Tutup kluwung 1 Buah 20.000

9. Besi cor 6 mm 1 Buah 50.000
10. Kawat bendrat
11. Tukang + kuli 1⁄2 Kilo 20.000

3 Hari 220.000

TOTAL (Rp)

DIBULATKAN

TERBILANG

16

PENUTUP
Gerakan Program Bedah Jamban ini sangat bermanfaat untuk masyarakat
yang kondisinya serupa dengan masyarakat di RW 20 Kelurahan Mulyoharjo
Kabupaten Pemalang. Program Bedah Jamban terdiri dari 7 kegiatan, antara lain
pelatihan kader, sosialisasi masyarakat, pembangunan jamban umum, perobohan
jamban sungai atau “helikopter”, pembentukan piket harian, pemantauan kegiatan
oleh kader dan tim PKM-M, dan pembuatan program Arisan Jamban. Program ini
memicu kemandirian masyarakat dan bersifat keberlanjutan dengan motto “Dari
Kita, Oleh Kita, dan Untuk Kita”. Dengan adanya Program Bedah Jamban ini,
diharapkan masyarakat di RW 20 Kelurahan Mulyoharjo Kabupaten Pemalang
dapat mencapai 100% ODF di tahun 2024 dan dapat diterapkan di RW atau
daerah lainnya.

17

DAFTAR PUSTAKA
Admin Desa. 2017. ODF (Open Defecation Free) atau Stop Buang Air Besar

Sembarangan. https://pegiringan.desa.id/odf-open-defecation-free-atau-
stop-buang-air-besar-sembarangan/. (10 Oktober 2017).
COHRE, WaterAid, SDC and UN-HABITAT. 2008. Sanitation: A Human Rights
Imperative. Geneva : Centre on Housing Rights and Evictions.
Depkes RI. 2007. Rumah Tangga Sehat dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan.
Murwati. 2012. Faktor Host Dan Lingkungan Yang Mempengaruhi Perilaku
Buang Air Besar Sembarangan. [Tesis]. Semarang : Program
Pascasarjana Undip.
Peraturan Menteri Kesehatan RI. 2014. PerMenKes No.3/MenKes/Per/2014
Potal Berita Jateng. 2020. Pemalang Kejar Target 100% Stop BABS.
https://jatengprov.go.id/beritadaerah/pemalang-kejar-target-100-stop-
babs/ . (4 Maret 2020).
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV 2020-2024.
WHO. 2009. Global Health Risks: Mortality and Burden of Disease Attributable
to Selected Major Risks. Geneva: World Health Organization.

18


Click to View FlipBook Version