BANDUNG-CIWIDEY, 21-11-2020
MUNGKIN AKAN KAU LUPAKAN,
ATAU UNTUK DIKENANG
OLEH: ANNISA ALMUNFAHANNAH
“Mungkin akan kau lupakan atau untuk dikenang“, adalah
penggalan lirik lagu dari Jikustik yang sepertinya cocok untuk
menggambarkan kondisi beberapa tempat bersejarah yang ada di
Bandung. Salah satunya adalah jalur kereta api yang
menghubungkan antara Bandung dan Ciwidey. Jalur kereta api
Bandoeng-Tjiwidej ini telah ditutup sejak tahun 1982, kini rute
tersebut hanya meninggalkan beberapa kerangka dari jejak
keberadaanya.
Jalur yang diresmikan pada tahun 1921 ini merupakan jalur yang
membuka akses untuk daerah Bandung Selatan. Pembangunan
jalur ini dilakukan melaui dua tahap. Pembangunan pertama
dilakukan pada tahun 1917 untuk menghubungkan antara
Bandung dan Kopo (saat ini menjadi Soreang) dengan melewati
Dayeuhkolot sebagai pusat pemerintahan pada masa itu dan
Banjaran sebagai persimpangan menuju daerah-daerah
perkebunan di Pangalengan, Arjasari, Puntang, dan lainnya.
Dan pembangunan kedua yaitu menghubungkan antara Statiun
Kopo dengan Stasiun Ciwidey. Pembangunan jalur ini cukup berat
dikarenakan topografi wilayah Ciwidey yang merupakan dataran
tinggi. Namun Staatsspoorwegen, perusahaan yang membangun
jalur ini berhasil menaklukan tantangan alam tersebut dan
mendirikan Stasiun Ciwidey pada tahun 1924 di ketinggian 1106
mdpl. Stasiun Ciwidey merupakan pemberhentian terakhir untuk
jalur ini, maka sekitar 800 meter dari stasiun, terdapat sebuah
turntable untuk memutarkan lokomotif kereta.
Turntable yang kini menjadi saluran air kotor, Foto: Komunitas Aleut
Pembukaan jalur ini dilakukan karena alat transportasi yang
digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan pada masa itu
(pedati) dinilai kurang efisien. Biaya perjalanan yang mahal yaitu
15 sampai 18 sen per ton, kemudian waktu tempuh yang lama
mengakibatkan hasil bumi banyak mengalami kerusakan dan tidak
dapat dijual. Selain itu jarak yang jauh serta medan yang berat
membuat banyak hewan yang menarik pedati tersebut kelelahan
dan akhirnya mati, sehingga harga hewan penarik pedati itu naik
hingga berkali-kali lipat.
Jalur ini juga digunakan sebagai moda transportasi bagi
masyarakat. Namun kejadian naas terjadi ketika sebuah lokomotif
yang membawa gerbong melintasi jalur tersebut. Kereta tersebut
terguling dan terjatuh menuju area persawahan di daerah
Cukanghaur sekitar tahun 1970. Kemudian 12 tahun setelah
kecelakaan tersebut jalur ini resmi ditutup. Selain jalur yang sudah
tidak menjadi prioritas, jalur ini pun dianggap sudah tidak
menguntungkan karena kalah bersaing dengan truk dan mobil
pada saat itu.
Bangunan yang berdiri tepat diatas rel (kiri), Lintasan kereta yang sudah menjadi jalan
umum (kanan), Foto: Komunitas Aleut
Ketika menelusuri kembali jalur kereta Bandung-Ciwidey, tidak
begitu banyak yang tersisa. Meskipun bangunan stasiun masih
berdiri dan rel-rel perlintasan kereta masih membentang pada
posisinya, tetapi karena lama terabaikan, lintasan-lintasan kereta
tersebut kini sudah berubah menjadi pemukiman warga. Stasiun
yang sudah tidak difungsikan lagi dimanfaatkan sedemikian rupa
menjadi gudang dan tempat usaha.
Sisa Bangunan Stasiun Dayeuhkolot, Foto: Komunitas Aleut
Stasiun Soreang yang telah menjadi gudang salah satu toko grosir, Foto: Annisa
Almunfahannah
Selain stasiun, beberapa jembatan yang menjadi jalur bagi kereta
Bandung-Ciwidey kini dimanfaatkan untuk menunjang aktifitas
masyarakat seperti Jembatan Sadu, Jembatan Rancagoong dan
Jembatan Cukanghaur. Beberapa lainnya dibiarkan begitu saja
untuk lapuk dan berkarat. Seperti yang terjadi pada Jembatan
Andir yang berada di petak antara Pasir Jambu dan Cukanghaur.
Jembatan Sadu (kanan) Jembatan Rancagoong (kiri) masih digunakan sebagai akses jalan
bagi warga sekitar, Foto: Komunitas Aleut
Jembatan Andir yang sudah tidak digunakan, Foto: Annisa Almunfahannah
Berpuluh tahun masyarakat menempati lokasi
tersebut, bayang-bayang penggusuran selalu
hadir setiap kali orang asing mengunjungi
pemukiman mereka. Terlebih wacana
mengenai reaktivasi jalur yang berada di
bawah rumah-rumah mereka membuat warga
menjadi lebih sensitif mengenai isu tersebut.
Perlu perencanaan yang sangat matang jika
wacana reaktivasi jalur kereta Bandung-
Ciwidey ini akan dilaksanakan. Selain faktor
sosial, faktor urgensi dari pembukaan jalur ini
pun perlu diperhitungkan agar tidak
menimbulkan masalah baru. Satu hal yang
pasti saat ini adalah usianya yang semakin tua
dan semakin sedikit yang mengetahui
riwayatnya.