The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by felia.ayu, 2021-10-10 22:50:25

R. Adipati Wiranatakusuma II

R. Adipati Wiranatakusuma II

Keywords: sejarah

The Quest of
R. Adipati
Wiranatakusuma II
mencari
"Paguyangan
Badak Putih"

Oleh
Gan-gan Jatnika R

R.A.Wiranatakusumah II adalah Bupati ke 6 Kabupaten Bandung,
yang menjadi Bupati berdasarkan Besluit tertanggal 20 Oktober
1794 hingga tahun 1829. Dia yang memindahkan ibukota
Kabupaten Bandung dari Krapyak di daerah Dayeuh Kolot ke dekat
Jalan Raya Pos saat ini. Setelah keluarnya surat perintah Gubernur
Jenderal H.W. Daendels tertangal 25-05-1810, bisa di lihat pada
“Plakaatboek” Mr. Van der Chijs jilid XV, yang memerintahkan pada
Wiranatakusumah II selaku Bupati untuk memindahkan ibukota
Kabupaten Bandung. Karena ibu Kota Kabupaten saat itu
Krapyak/Dayeuh Kolot letaknya 11km ke arah selatan Jalan Raya
Pos, Wiranatakusumah II diperintahkan memindahkannya ke dekat
Jalan Raya Pos di dekat Cikapundung. Surat perintah ini berlaku
juga bagi Bupati Kabupaten Parakanmuncang.

Tempat pertama yang di pilih adalah Kampung Cikalintu di daerah
Bojonagara ,letaknya saat ini tak jauh dari Masjid Kaum Cipaganti.
Mengapa Wiranatakusumah II memilih Kampung Cikalintu? Tentu
ada alasanya tertentu. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari
pemilihan tersebut :

1.Daerah Selatan Bandung atau yang sekarang dikenal daerah di
sebelah selatan rel kereta api, pada awal aband 19, masih
berupa rawa-rawa dan tanahnya basah yang tak sehat
lingkungan dan daerahnya. Hal tersebut dijelaskan oleh Dr.
Andreas de Wilde seorang geologis.

2.Pada masa itu letak perkampungan-perkampungan awal
memang letaknya di daerah sebelah utara seperti : Desa
Balubur, Kampung Dago, Gadog, Gergerkalong Girang dan
Babakan Bogor. Hal itu diketahui karena penduduk yang
tekena kerja “rodi” membangun Jl. Raya Pos di ambil dari
penduduk-penduduk di kampung-kampung tersebut.

Kepercayaan orang saat itu, percaya bahwa daerah yang
baik untuk di tinggali adalah bekas tempat berkubang Badak
Putih/”Paguyangan Badak Putih”. Itulah mengapa pertama
kaliWiranatakusumah II memilih Kampung Cikalintu karena tak
jauh dari kampung tsb,ada bekas tempat Badak berkubang
yaitu daerah Ranca Badak/Rawa Badak (R.S.Hasan Sadikin) saat
ini.

Namun sebenarnya apa yang di maksud degan "Paguyangan
Badak Putih" bukanlah dalam artian harfiah tempat berkubang
Badak putih, namun yang di maksud adalah “Sumber Air” baik itu
yang berupa sungai ataupun mata air. Tapi karena dataran tinggi
Bandung adalah Cekungan bekas Danau purba yang mengering
ribuan tahun yang lalu, tentu banyak memiliki cekungan berair di
sana sini. “Paguyangan Badak putih” saat itu banyak terdapat di
daerah Bandung, seperti di daerah Cisitu yang letaknya di belakang
kampus ITB dan di daerah Pamoyanan di mana Badak
berseliweran mencari kubangan.

Kembali ke Kampung Cikalintu, juga memiliki beberapa mata air di
antaranya di batas utara Kampung terdapat ‘pancuran tujuh” di
Cikendi/daerah Hegarmanah saat ini dan beberapa mata air alami
di daerah Ledeng/ Jalan Setiabudhi sekarang. Wiranatakusumah II
menyadari jika Kampung Cikalintu letaknya masih agak jauh dari
Jalan Raya Pos sehingga dia mencari lahan pengganti (“CiPaganti”)
dan memilih tempat lain yaitu daerah Babakan Bogor/Kampung
Bogor (daerah Kebon Kawung saat ini). Babakan Bogor di pilih juga
karen di daerah ini terdapat “Paguyangan Badak Putih” yaitu mata
air yang tidak pernah surut airnya sepanjang tahun, yang bernama
mata air Ciguriang.

Mata air ini sangat terkenal khususnya bagi tukang dobi alias
binatu (“wasserij”) dari seluruh penjuru Bandung datang ke mata
air ini. Saking ramainya jika malam hari hingga hari menjelang
subuh di daerah Kebon Kawung kita dapat mendengar sayup-
sayup nyanyian Sunda yang di tingkahi bunyi plak blung para
binatu yang sedang membating cuciannya di atas batu,dengan
diterangi cahaya obor. Mata air ini mengering sekitar tahun 1982
seiring dibangunnya sport hall di daerah tersebut.

Namun ternyata daerah Babakan Bogor di rasa masih tidak
memenuhi syarat untuk mendirikan bangunan pendopo
Kabupaten dan Alun-alun. Wiranatakusumah II kembali mencari
daerah yang tempat untuk membangun ibukota kabupaten yang
baru. Selama menunggu mencari lahan baru yang
tepat,Wiranatakusumah II tinggal dan membangun rumah di
Babakan Bogor, itulah mengapa Wiranatakusumah II ketika
hidupnya dikenal dengan sebutan “Dalem Bogor". Letak
pesanggrahan “Dalem Bogor” adalah di Kampung Balubur Hilir,di
sekitar Balai Kota sekarang. Di manakah letak Babakan Bogor?
Sekarang ini daerah tsb lebih di kenal degan sebutan Kebon
Kawung. Mengapa daerah tsb di sebut Babakan Bogor/ Kebon
Kawung? Daerah tsb pada saat itu di penuhi pohon Aren (“Arenga
Pinnata”)/Kawung. Kata Bogor dalam bahas Sunda adalah sebutan
bagi pohon Aren yang sudah tidak lagi mengeluarkan air nira atau
sudah tidak dapat di sadap lagi.

Akar pohon aren yang punya daya serap tinggi, sangat cocok untuk
melestarikan sumber air. Setelah mencari akhirnya pilihan jatuh
pada derah di sebelah barat tepian Cikapundung, inilah lokasi yang
paling ideal, karena memenuhi baik syarat teknis dan juga
memenuhin syarat mistis. Paguyangan Badak putih tadi, di sekitar
daerah ini di temukan mata air, yang terkenal adalah mata air yang
di sebut "Sumur Bandung".

"Sumur Bandung" adalah "sumur sepasang"/”mata air sepasang”
yang letaknya satu berada di Gedung PLN saat ini, yang satu lagi di
Gedug bekas firma De Kock Sparkes&Co (Bank Exim). Sebenarnya
ada satu mata air lagi yang letaknya di bawah Gedung Miramar di
sebalah timur Alun- alun. Mata air di gedung firma De Kock
Sparkes&Co. di timbun pada saat pembangunan gedung tsb di
awal abad XX. Pada saat awal pembangunan gedung tsb “Meneer”
yang ingin membangun gedung tsb sampai harus menyembelih
bebrapa ekor kerbau untuk ‘’permisi” dan “meminta ijin” menutup
mata air tsb. Menurut kepercayaan masyarakat saat itu “tabu” atau
“pamali” menutup sebuah mata air.

Kembali ke pemilihan daerah di sebelah barat Cikapundung.
Daerah ini secara letak tempatnya mirip"garuda ngumpluk,tanah
hade,bahe ngaler ngetan,deukuet Paguyangan Badak putih" artinya
Daerahnya mirip burung Garuda yang sedang membentangkan
sayap,t anahnya Bagus, membentang barat timur serta dekat
dengan bekas kubangan Badak putih. Pemilihan lokasi pusat kota
Bandung pada suatu dataran yang di kepung/di lingkung Gunung,
seperti burung Garuda yang sedang membentangkan sayap,
menurut orang Jawa di sebut “kawula katubing bala” yang artinya
kota tersbut akan memiliki/membawa kemakmuran duniawi serta
bakal menjadi kota yang ramai.

Daerah ini pun secara Feng Shui, bagus dan memenuhi patokan
"pei shan mien shui" artinya "d balik pegunungan menghadap air".
Sesuai dengan daerah Bandung yang berada di balik Gunung
Tangkuban Prahu dan menghadap Danau Bandung Purba/”Situ
Hiang”. Masyarakat Bali juga memiliki aturan tat bumi seperti Feng
Shui yang di sebut dengan “Asta Bumi” dan “Asta Griya”.

Cerita mengenai pemilihan tempat untuk membangun bangunan
pendop Kabupaten, konon pada suatu malam Wiranatakusumah II,
melihat seberkas sinar yang jatuh di lokasi di mana saat ini
bangunan Pendopo Kabupaten Bandung berdiri. Tempat itulah
kemudian yang oleh Wiranatakusumah II di pilih sebagai tempat
Pendopo Kabupaten. R.A.Wiranatakusumah II wafat 1829, dan
dimakamkan di belakang Masjid Agung Kaum Bandung, karena
itulah beliau juga di kenal dengan sebutan "Dalem Kaum".

R. Adipati Wiranatakusuma II


Click to View FlipBook Version