The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by felia.ayu, 2021-09-22 03:50:10

Namanya, Bosscha.

Kisah tentang Bosscha

Keywords: sejarah,bandung

Namanya,
Bosscha.

Ditulis oleh:
Inas Qori Aina

Setiap kali mendengar nama Bosscha, yang terlintas di pikiran
saya hanyalah peneropongan bintang atau observatorium yang
terletak di kawasan Lembang. Bosscha lebih dari sekadar nama
itu, melainkan nama sosok yang punya cukup banyak peran bagi
kemajuan Kota Bandung dan tanah Priangan.

Begini kisahnya:

Nama lengkapnya Karel Albert Rudolf Bosscha. Laki-laki kelahiran
s-Gravenhage (Den Haag), 15 Mei 1865 ini merupakan anak
terakhir dari enam bersaudara. Ayahnya Prof. Dr. J. Bosscha,
seorang fisikawan Belanda yang kemudian menjadi direktur
Sekolah Tinggi Teknik Delft. Ibunya bernama Paulina Emilia
Kerkhoven, putri seorang pemilik salah satu perkebunan teh
tertua di Jawa. Trah Kerkhoven inilah yang nantinya membawa
Bosscha sampai di tanah Priangan.

Ke Hindia Belanda

Bosscha sempat mengenyam pendidikan dengan berkuliah Teknik
Sipil di Politeknik Delft. Pada suatu waktu, Bosscha berselisih
dengan dosennya hingga akhirnya Bosscha memilih untuk
meninggalkan pendidikannya. Tahun 1887 ia memutuskan untuk
pergi ke Hindia Belanda, usianya saat itu baru 22 tahun. Ia
hendak ke perkebunan teh di Sinagar Sukabumi milik pamannya,
Eduard Julius Kerkhoven. Di sinilah awal Bosscha mempelajari
teknik budidaya teh.
Sesampainya di Hindia Belanda, Bosscha tidak lantas menjadi
pengusaha perkebunan. Ia sempat pergi menyusul salah satu
kakaknya yaitu dr. Jan Bosscha yang bekerja sebagai ahli
geologi di Kalimantan. Beberapa tahun Bosscha bersama
kakaknya melakukan eksplorasi penambangan emas di Sambas
Kecil. Namun pada tahun 1892 Bosscha kembali lagi ke pamannya
di Sinagar.

“ Jan Bosscha di Sambas,
Kalimantan Barat.
Foto: KITLV. ”

Mengelola Perkebunan Malabar

Perjalanannya menjadi seorang pengelola kebun teh dimulai pada
tahun 1896. Pamannya, Kerkhoven, mempercayakan Bosscha untuk
menjadi pengelola atau administratur perkebunan teh Malabar di
Pangalengan. Perkebunan teh Malabar terletak di ketinggian 1.550
mdpl dan memiliki luas hingga 2.022 hektar. Bosscha menerapkan
teknik modern dalam melakukan pengelolaan teh di perkebunannya
yang dilengkapi dengan adanya pabrik, laboratorium, dan pusat
listrik tenaga mikrohidro.

Bibit yang digunakan untuk menanami lahan di perkebunan teh
Malabar berasal dari daerah Assam, India. Kepiawaian Bosscha
dalam mengelola perkebunan teh Malabar membuahkan hasil.
Pada tahun 1901, produksi teh dari Perkebunan Malabar terus
berkembang pesat. Teh yang berasal dari perkebunan Malabar
pada saat itu merupakan salah satu teh dengan kualitas terbaik di
dunia dan mampu bersaing dengan teh dari Cina, India dan
Srilangka. Dividen saham yang dihasilkan dari penjualannya naik
secara drastis, dari yang hanya 9% menjadi 80% di tahun 1907.
Kesuksesan Bossha dalam mengembangkan produk teh Malabar
membuat ia dijuluki sebagai Raja Teh Priangan. Bosscha menjadi
seorang yang kaya raya namun tetap dermawan dan baik hati.
Bosscha adalah seorang boss yang sangat memerhatikan
kesejahteraan para karyawannya.

Bosscha mendirikan bedengbedeng bagi para karyawannya serta
mendirikan sekolah dasar yang diberi nama Vervoolog Malabar
pada tahun 1901. Sekolah ini merupakan sekolah setingkat SD yang
didirikan bagi kaum pribumi, khususnya anak-anak karyawan dan
buruh perkebunan teh Malabar.Bosscha mendirikan rumah di
tengah kawasan perkebunan. Rumah besar dengan bergaya
arsitektur Eropa dengan hamparan halaman yang luas. Di
sekelilingya ditumbuhi pohon-pohon besar dan rindang serta
berbagai tanaman yang indah. Di rumahnya, ia banyak
menghabiskan waktu untuk berkeliling berkebun dan menunggang
kuda.

“ Rumah Bosscha di
tMenalgaabharP.eFrkoteob:uKnaITn LV.”

Peran dalam Berbagai Bidang

Pada tahun 1895, Bosscha mendirikan Perusaahaan Telepon
Preanger (de Preangers Telefoons Maatschappij) di Bandung.
Posisinya di perusahaan itu terus mengalami kenaikan dari mulai
direktur, komisaris utama hingga pada tahun 1902 ia diangkat
sebagai penasehat teknik oleh pemerintah. Tidak hanya mengenai
urusan teh, Bosscha juga aktif pada berbagai bidang lain seperti
menjadi pengurus pada usaha pertanian, perkebunan, industri dan
organisasi sosial. Setelah mendirikan Perusahaan Telepon Priangan
di tahun 1895, selanjutnya Bosscha pada tahun 1915 mendirikan
Pabrik karet Hindia Belanda di Bandung (de Nederlandsch Indische
Caoutchouc Fabriek).

Dia juga ikut bekerja dalam pembentukan Perusahaan Listrik
Bandung (de Bandoengsche Electriciteits Maatschappij),
Perusahaan Impor Mobil (de Automobiel Import Maatschappij),
Bursa Dagang Tahunan Hindia (de Nederlandsch-Indisch Bandoeng
Jaarbeurs), Lembaga Kanker Hindia Belanda (het Nederlandsch
Indisch Kanker Instituut), Rumah sakit Kota (het Stedelijk
Ziekenhuis), dan Sekolah Tinggi Teknik (deTechnische
Hoogeschool; ITB sekarang. Selain itu, dia menjadi anggota Dewan
Perwakilan Daerah Priangan (Gewestelijke Raad der Preanger
Regentschappen) dan Dewan Perwakilan Rakyat (de Volksraad).

“ Monumen Bosscha di
kawasan observatorum
Bosscha, Lembang.
Foto: KITLV. ”

Tempat Favorit

Di sela sekian banyak kesibukan, Bosscha kadang menyempatkan
diri beristirahat di salah satu lokasi di tengah Perkebunan Malabar,
yaitu Gunung Nini. Melihat bentuknya, mungkin lebih cocok disebut
bukit saja. Ketinggian Gunung Nini sekitar 1616 mdpl, tidak berselisih
jauh dengan ketinggian umum kawasan perkebunannya yang sekitar
1550 mdpl. Dari atas Gunung Nini, Bosscha Bosscha dapat bersantai
sambil memerhatikan para pegawai perkebunannya ketika bekerja
dengan menggunakan teropong yang ia bawa. Suatu ketika Bosscha
dalam perjalanan menuju Gunung Nini. Di tengah perjalanan
Bosscha terjatuh dari kuda yang ditungginya. Kakinya terluka dan
berujung pada infeksi yang mengakibatkan Bosscha terserang
tetanus. Pada 26 November 1928 di usianya yang ke 63 tahun
Bosscha menghembuskan nafas terakhirnya.

Selama 32 tahun menjadi pengelola perkebunan teh termasyhur,
Bosscha telah mendirikan beberapa perkebunan dan pabrik teh, di
antaranya Pabrik Teh Malabar, yang kini bangunannya digunakan
untuk Gedung Olahraga Dinamika, dan juga Pabrik Teh Tanara yang
saat ini menjadi Pabrik Teh Malabar. Kini, Bosscha bersemayam di
bawah rimbunan pohon di tengah perkebunan teh Malabar. Sesuai
dengan wasiat terakhirnya sebelum ia wafat, ia ingin dimakamkan di
lokasi favoritnya tempat ia menenangkan diri. Di sebuah hutan kecil
bernama Leuleuweungan.


Click to View FlipBook Version