DESKRIPSI
Sebagai kota metropolitan Daerah Khusus Ibukota Jakarta terdapat
banyak bangunan dengan berbagai bentuk, rancangan, kualitas serta berbagai
peruntukkan. Bangunan tersebut dapat saja suatu ketika runtuh oleh karena
berbagai sebab yang menimbulkan korban tertimbun, terperangkap, terkena
serpihan dan lain sebagainya yang menimbulkan kepanikkan, terluka, cidera
sampai pada kematian. Selain dari tugas tersebut ( didalam Prov Dki Jakarta )
sebagai petugas operasional juga sering diperbantukan pada misi
penyelamatan terkait operasi pencarian dan penyelamatan pada bangunan
runtuh dan bencana lain di daerah-daerah bencana.
Operasi penyelamatan merupakan tanggung jawab moril setiap orang,
khususnya pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah serta peran seluruh
komponen masyarakat. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan
Provinsi DKI Jakarta mempunyai salah satu tugas serta memberikan
penyelamatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan bangunan runtuh di
Provinsi DKI Jakarta. Tugas tersebut merupakan bentuk tanggung jawab
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, koordinasi Dinas Penanggulangan
Kebakaran dan Penyelamatan bersama dengan Kepolisian Negara Republik
Indonesia untuk tujuan turut serta memberikan respon penyelamatan yang
cepat terhadap korban kecelakaan bangunan runtuh di Provinsi DKI Jakarta.
DASAR // REGULASI
1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana;
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2000 tentang Pencarian dan
Pertolongan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun;
5. Permendagri Nomor 52 Tahun 2011 tentang Standar Operasional Prosedur
di Lingkungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota;
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 1
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
6. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 Tahun
2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Daerah Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
7. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 96
Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Penanggulangan
Kebakaran dan Penyelamatan;
8. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 24
Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Pelaksanaan Standar
Operasional Prosedur.
9. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 264
Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Penanggulangan
Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 2
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
BAB I
Definisi collapsed structure search and rescue ( CSSR )
Pencarian adalah Suatu teknik dan prosedur yang bertujuan untuk
mendapatkan respon atau petunjuk keberadaan korban yang masih hidup
atau sudah meninggal dunia dalam ruang kosong atau dalam timbunan
material didalam bangunan yang runtuh.
Penyelamatan adalah proses atau perbuatan menyelamatkan korban
yang mengalami kecelakaan bangunan runtuh dengan memperhatikan
azas-azas keselamatan petugas dan korban. Prioritas penyelamatan
adalah penyelamatan korban manusia yang masih hidup, sudah
meninggal, dan harta benda korban yang tercatat di TKP kecelakaan
bangunan runtuh.
Pencarian dan penyelamatan pada bangunan runtuh / Collapsed Structure
Search and Rescue (CSSR) adalah suatu operasi untuk melakukan tindakan
pencarian dan penyelamatan yang aman dan efektif, pada saat ada kejadian
bangunan runtuh, yang mengharuskan diperkuat ataupun kerusakan
bangunan yang diperkuat ataupun tidak diperkuat, beton, tilp-up dan konstruksi
kayu berat.
KETENTUAN PELAKSANAAN
Operasi penyelamatan pada kecelakaan bangunan runtuh akan
berjalan dengan lancar, aman, dan efektif, apabila diperhatikan ketentuan-
ketentuan dalam penanganan penyelamatanya. Keberhasilan
penanganan penyelamatan juga tergantung pada perilaku dan kepribadian
tim penyelamat itu sendiri. Perilaku yang harus diperhatikan oleh regu
penyelamat selama melakukan penyelamatan sebagai berikut:
1. Semangat
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 3
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Tim penyelamat harus memiliki semangat yang tulus dalam menjalankan
tugasnya sebagai penyelamat.
2. Motivasi
Tim penyelamat harus siap untuk terus menjalani pelatihan dan
menjalankan penyelamatan sesuai standar yang berlaku.
3. Ketergantungan.
Keselamatan korban dan keselamatan kerja tergantung pada cara-cara
anggota tim penyelamat melakukan penyelamatan yang aman dan
profesional.
4. Berfikir dan Bertindak Terampil.
Setiap situasi penyelamatan adalah unik, karena itu seorang individu
penyelamat harus menerapkan berbagai keterampilan dan pengetahuan
untuk situasi baru.
5. Kerja Sama Tim.
Operasi penyelamatan merupakan kerja sama tim.
6. Ketakutan Berlebihan (Phobia).
Ketua tim penyelamat atau anggota penyelamat lainnya harus
memahami kelemahan setiap anggota/rekan kerjanya atas keadaan-
keadaan dalam kecelakaan bangunan runtuh di Provinsi DKI Jakarta
yang memungkinkan ketakutan berlebihan pada seseorang. Sebagai
contoh, ketakutan pada darah, ketakutan pada ceceran anggota tubuh
korban, ketakutan pada api, dan ketakutan pada ledakan.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 4
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
BAB II
Tahapan pelaksanaan dan operasi CSSR
Penilaian awal ( size up )
Size up merupakan awal dari kegiatan yang dilakukan oleh kepala
regu untuk menentukan aktifitas selanjutnya dengan mengantisipasi segala
kemungkinan terburuk ( hazard / bahaya ) yang mungkin akan terjadi dan
menentukan peralatan beserta metode penyelamatan yang tepat untuk
hasil yang efektiv efisien.
Koordinasi Pra-Penyelamatan
Apabila sudah ada petugas dari instansi lain di TKP, maka melakukan
koordinasi dengan petugas dari departemen lain tersebut, dalam hal:
a) Penilaian dengan melakukan pengumpulan informasi dan gambaran dari
kejadian/ peristiwa tersebut sejauh kurang lebih 10 (sepuluh meter) dari
TKP atau pada lokasi yang diperhitungkan aman dari runtuh lanjutan atau
potensi bahaya lain, antara lain kondisi korban, jumlah korban, lokasi
kejadian, obyek insiden dan jenis/ sifat insiden.
b) Menghubungi/meminta bantuan kendaraan ambulans, apabila belum
dilakukan.
c) Melakukan upaya penyelamatan berdasarkan situasi dan kondisi tempat
kejadian, dengan tahapan sebagai berikut :
FASE OPERASI / PELAKSANAAN
1) Fase 1 : Persiapan (Preparation) (berkelanjutan, sebelum distater)
➢ Pemilihan dari anggota TIM (berdasarkan kualitas yang dimiliki
sesuai kebutuhan)
➢ Pelatihan dari anggota tim
➢ Perlengkapan Proteksi Diri (PPD)
➢ Peralatan dan perlegkapan. Sangat penting untuk menjaga ini dalam
kondisi kerja dan siap untuk dipindahkan ke daerah bencana.
➢ Atur rencana transportasi.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 5
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
2) Fase II: Activation and Mobilisation (ada permintaan)
➢ Minta transportasi (rescue of transport)
➢ Pengepakan dan pemuatan perlengkapan (pack dan loading
equipment)
➢ Beritahukan anggota tim
➢ Minta informasi mengenai bencana. Ini meliputi jenis, lokasi dan
topografi, beratnya kejadian / luas daerah yang terkena, jumlah
orang yang terena, jumlah bangunan terkena, cuaca, rute akses.
➢ Briefing anggota tim mengenai situasi terakhir.
3) Fase III : Operations
Fase operasional berhubungan langsung dengan tugas SAR dan
terbagi dalam 6 tahap dan tahap yang ke dua yakni tahap penilian Awal
terdiri dari 5 langkah.
Berikut tahapan pada fase operasi :
Tahap 1 : Pengamanan TKP ( size up )
Prosedur yang dilakukan untuk memastikan keselamatan yang
maksimal dari penyelamatan, orang – orang disekitar TKP dan korban
(hazard mitigation).
Tahap 2 : Pengkajian Awal (initial statement)
Tahap ini adalah prosedur untuk secara teratur dan sistematis
melakukan analisis kondisi yang akan dihadapi selama pelaksanaan
CSSR. Pada tahap ini harus dipastikan keselamatan maksimal dari
rescuers, masyarakat dan korban (hazard mitigation). Tahapan ini
dimulai saat tahap operasional, dan berakhir sampai berakhirnya
operasi rescue.
Kegiatan penyelamatan melakukan perencanaan dan persiapan operasi
menyelamatan, meliputi :
➢ Mencari dan menetapkan jalur keluar dari reruntuhan.
➢ Membawa korban yang masih bisa berjalan kaki keluar dari wilayah
bencana.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 6
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
➢ Mengidentifikasi apakah ada korban yang terperangkap dalam
reruntuhan
➢ Menandai dengan cat atau bendera ditempat-tempat kemungkinan
ada korban terperangkap / terkubur, dilakukan pencatatan dan
pemetaan. ( C = kritis , S = stabil, m = luka ringan, w = luka yang
dapat berjalan )
Perhatikan......!
1. Bahaya struktuktur / lainnya
2. Jalur masuk ( kotak 60 x 60 Cm , warna oranye )
3. Lokasi korban
Penilain awal terdiri dari 5 langkah :
- Langkah 1 : Di TKP konsul pemerintahan setempat, kumpulkan
data dan lakukan analisis yang dibutuhkan. Konfirmasi dan
perbaharui informasi yang diperoleh saat aktivasi.
- Langkah 2 : Bangun Command post
- Langkah 3 : Bentuk sasaran operasional, seperti :
➢ Akses umum ke TKP
➢ Perencanaa strategis dan prioritas
➢ Alokasi sumber daya dan manusia ke operasi yang sudah
dimulai masyarakat setempat atau organisasi lain.
- Langkah 4 : Tentukan jumlah anggota Tim
- Langkah 5 : Penilaian Ulang situasi dan buat perencanaan
Penyelamatan
Tahap 3 : Search dan Locate
Lakukan pencarian memakai Teknik tertentu untuk mendapatkan
respons atau indikasi adanya korban masih hidup didalam ruangan
kosong dalam bangunan runtuh.
Tahap 4 : Dapatkan akses ke korban
Pindahkan puing – puing, pcahkan dan tembus materi reruntuhan
dan bentuk jalan akses keruang kosong dimana penderita
kemungkinan berada.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 7
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Tahap 5 : Stabilisasi kondisi korban
Lakukan Bantuan Hidup Dasar di tempat, lokasi sebelum melakukan
eksitraksi penderita, untuk memperbaiki kemungkinan hidup
penderita. Korban akan diserahkan ke petugas medis yang lebih
mampu setelah ekstrikasi.
Tahap 6 : Ekstrikasi Penderita
Pemindahan puing – puing sekitar korban, tanpa membuat cedera
lebih lanjut. Topang dimana perlu. Pastikan bahwa yang menekan
penderita tidak akan bertambah karena tindakan kita.
d) Tidak memindahkann barang-barang lainnya yang memungkinkan dapat
menjadi petunjuk sebagai barang bukti.
e) Apabila dipandang perlu memindahkan barang-barang tersebut,
dilakukan pemotretan terlebih dahulu terhadap kondisi barang-barang
tersebut.
f) Penggunaan gabungan personil dan perlengkapan diperlukan untuk
dapat melakukan penyelamatan dengan selamat dan efisien.
g) Memilah barang-barang yang dapat dijadikan sebagai barang bukti untuk
penyidikan oleh Polri.
h) Diksusikan kondisi terakhir dengan seluruh tim penyelamat.
i) Sepakati Kode pluit tim penyelamat :
1 tiupan panjang 3 detik = Operasi penyelamatan
dihentikan
3 tiupan pendek dengan interval = Harap meninggalkan TKP
dan berkumpul
1 tiupan panjang + 1 pendek 8
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
= Operasi penyelamatan
dimulai kembali.
4) Fase IV : Deaktivasi dan Demobilisasi
➢ Yakinkan tidak diperlukan operasi lainnya
➢ Kumpulkan dan teliti semua peralatan dan perlengkapan, dan
persiapan untuk pengiriman pulang.
➢ Pastikan bahwa semua erlengkapan pribadi petuga lengkap
➢ Atura transportasi.
5) Fase V : Kegiatan pasca operasional
➢ Critical Incident Stress Management (CISM)
➢ Pemeriksaan fisik medis untuk petugas rescue
➢ Reparasi peralatan yang rusak
➢ Laporan (After -Action Report) untuk management.
➢ Pengaraha akhir dengan tim rescue.
6) Fase VI : Penyelamatan Tahap 1, berupa kegiatan Persiapan
(Preparation) untuk mengumpulkan informasi dan observasi lapangan,
yaitu : Waktu kejadian
➢ Faktor sekitar kejadian
➢ Perkiraan jumlah korban
➢ Jenis struktur bangunan, dan kapan dibangunnya jika ada
➢
cetak birunya
➢ Bahaya yang ada dan apa saja upaya penangulangan yg
telah dilakukan
➢ Lokasi sumber listrik, air dan gas
➢ Jumlah orang yang berada di Gedung dan bagaimana
mereka keluar menyelamatkan diri
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 9
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
➢ Jumlah orang yang tertimpa reruntuhan dan bagaimana
mereka keluar dari reruntuhan
➢ Bagaimana besarnya kerusakan dan jumlah korban cidera
➢ Keterangan tentang bangunan yang runtuh,
➢ Sumber daya yang tersedia untuk penanganan, antara lain:
peralatan pertolongan, persediaan alat2 kesehatan dan pemadam
kebakaran dan sebagainya.
➢ Jumlah tim penyelamat yang sudah bekerja, yang sedang
dan akan bekerja
➢ Jumlah tim penyelamat yang bisa dipanggil dan
bagaimana caranya.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 10
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
BAB III
Pencarian dan penentuan lokasi operasi pada bangunan runtuh
Adalah Suatu teknik dan prosedur yang bertujuan untuk
mendapatkan respon atau petunjuk keberadaan korban yang masih hidup
di dalam ruang kosong pada bangunan runtuh.
Pengertian teknik penyelamatan adalah cara yang dapat digunakan
dalam strategi untuk keberhasilan penyelamatan korban.
Strategi penyelamatan korban pada bangunan runtuh adalah
merupakan rencana melakukan penyelamatan korban dengan mengikuti
tatanan operasi yang didasarkan prinsip-prinsip dasar tentang apa yang
harus dilakukan, siapa yang melakukan, peralatan yang diperlukan,
dengan mempertimbangkan resiko bahaya, kondisi lingkungan dan
faktor-faktor lainnya.
Langkah-langkah Dalam Pencarian dan Penentuan Lokasi :
1. Mengumpulkan dan menganalisa informasi.
2. Memastikan lokasi aman.
3. Memeriksa dan mengevaluasi bangunan.
4. Menyelamatkan korban yang terlihat.
5. Buat tanda pada bangunan.
6. Buat diagram.
7. Tentukan lokasi pencarian.
8. Tentukan metode pencarian.
9. Lakukan pencarian, letakkan tanda INSARAG dan diagram pada
bangunan.
10. Analisa hasil dan evaluasi.
11. Perawatan pra rumah sakit
12. Pastikan lokasi potensial korban.
Lokasi yang paling memungkin adanya ruang kosong terdapat pada
bagian yang kuat secara structural, yaitu :
Basement
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 11
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Lift
Kamar mandi
Lorong
Tembok beton
Mengenal pola reruntuhan bangunan :
➢ Pancake
➢ Cantilever.
➢ Lean – to
➢ Bentuk V ( V – Shape )
Jenis Pencarian terdiri dari :
1. pencarian cepat ( Primer ) :
➢ Deteksi korban dengan segera.
➢ Penilaian tempat (informasi yang dikumpulkan sebagai hasil
bantuan dalam penilaian masalah penyelamatan).
➢ Menetapkan prioritas-prioritas.
2. pencarian secunder ( extensiv grid )
➢ Pencarian menyeluruh dan sistematis
➢ Pengecekan yang lebih.
➢ Mengizinkan penggunaan sumber daya pencarian alternatif
Metode Pencarian : 12
• Pencarian fisik
• Anjing Pelacak
• Pencarian dengan teknik
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
BAB IV
STANDAR PERALATAN YANG DIGUNAKAN DALAM OPERASI
PENYELAMATAN
1. Memahami Peralatan Penyelamatan
Pada saat melakukan evakuasi penyelamatan, semua anggota
penyelamat wajib memahami peralatan dan pakaian pelindung dalam
hal :
a) Api, material berbahaya, kabel listrik yang hidup, B3 dan penyakit
yang menular.
b) Peralatan dan pakian pelindung wajib dikenakan pada saat
operasional, antara lain helem, sarung tangan, pakaian/jaket overall,
sepatu, kacamata pelindung mata, pelindung telinga, dan sarung
tangan sekali pakai.
2. Menguasai Alat-alat yang Diperlukan
Setelah petugas menerima informasi mengenai jenis objek kejadia yang
mengalami kecelakaan dan sebelum petugas melakukan perjalanan ke
TKP, perlu diperhatikan mengenai pemahaman dan penguasaan alat-alat
yang diperlukan, antara lain:
• Fire-Extinguishers (berisi: air, foam, C02), digunakan untuk
mematikan api yang muncul di lokasi kejadian.
• Tabung air bersih, digunakan untuk mematikan api dengan
menggunakan air dan hal-hal lainnya.
• Tabung oksigen, digunakan untuk memberikan oksigen bagi korban
kecelakaan yang membutuhkan.
• Kapak segala tipe, digunakan untuk memotong kayu dan besi di lokasi
kecelakaan.
• Selimut berbahan wool dan bahan yang tahan api, digunakan untuk
melindungi dan memberikan kehangatan bagi korban .
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 13
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
• Rantai, digunakan untuk menarik, mengangkat alat yang dibutuhkan
dalam lokasi kejadian.
• First Aid, diperlukan untuk melakukan pertolongan pertama untuk
kecelakaan.
• Generator segala tipe, digunakan untuk peralatan yang membutuhkan
tenaga listrik.
• Linggis segala tipe, terbuat dari besi baja yang kuat dan besi biasa,
yang digunakan sebagai alat pengungkit.
• Palu segala tipe, dipergunakan untuk menghancurkan.
• Hand Tools segala tipe, digunakan untuk memisahkan spareparts dari
kendaraan, memotong kabel, dan sebagainya.
• Peralatan hidrolik, dipergunakan untuk mengangkat, memisahkan,
dan memotong.
• Pisau segala tipe, dipergunakan untuk memotong sabuk pengaman,
memotong pakaian, dan sepatu.
• Pisau tipe kaca tabung, dipergunakan untuk memotong kaca
kendaraan.
• Tangga dengan tipe Extention-folding, dipergunakan untuk
menjangkau area-area yang tinggi atau yang rendah.
• Tali segala jenis, dipergunakan untuk mengikat.
• Lighting Equipment segala tipe, dipergunakan untuk mencari dan
menerangi lokasi (terutama di malam hari).
• Pakaian perlindungan (jaket, pelampung, kacamata, pelindung
telinga, sepatu boots).
• Gergaji segala tipe, dipergunakan untuk memotong segala jenis kayu
dan besi.
• Tanda-tanda peringatan dengan tipe lampu, safety cones, kendaraan
dan tanda-tanda, digunakan untuk menandai lokasi kecelakaan.
• Kantong mayat, dipergunakan untuk menutup korban yang meninggal
dunia.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 14
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
BAB V
Komposisi tim pencari dan peralatan dasar yang digunakan
a. TIM Anggota Rescue berjumlah 6 (enam) orang terdiri dari komandan
Regu, Operator , Petugas medis, petugas pelindung dan 2 (dua) anggota
Rescue.
b. Kepala Regu bertugas :
1. Mengkoordinir Pelaksanaan penyelamatan dan evakuasi korban;
2. Berkoordinasi dengan pimpinan operasi penyelamatan, kelompok
pelaksana dan kelompok pendukung;
3. Mengambil keputusan dilapangan yang berkaitan dengan
pelaksanaan operasi penyelamatan;
4. Menginformasikan kondisi dilokasi kejadian dan hasil pelaksanaan
penyelamatan secara bertahap kepada pimpinan operasi
penyelamatan;
5. Melaporkan pelaksanaan penyelamatan selesai dan memerintahkan
agar fasilitas operasi segera dikembalikan ke pos masing- masing.
c. Pengemudi bertugas Operator :
1. Mencatat
2. Distribusi Peralatan
3. Menyiapkan peralatan
d. Petugas medis bertugas :
1. Menjaga ketahanan hidup korban
2. Sebagai Asisten kru Ambulan
3. Perlindungan korban pada saat membongkar
e. Petugas Pelindung bertugas :
1. Pengoperasian alat pemadam dan bahan bakar
2. Memeriksa stabilisasi
3. Menjaga dan membersihkan benda dan objek yang menghambat
pelaksanaan operasi
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 15
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
f. Anggota Operasional Penyelamat bertugas :
1. Membantu pelaksanaan tugas kepala regu;
2. Melakukan identifikasi, penandaan jalur masuk, kondisi dan
keberadaan korban.
3. Melakukan evakuasi korban dari bangunan runtuh
4. Operator Peralatan
SKEMA PENYELAMATAN KORBAN YANG BERADA PADA KONDISI
RERUNTUHAN RINGAN
a. Membatasi (parameter) area kecelakaan, pasang rambu, siapkan alat
pemadam, siapkan petugas medis di area kecelakaan
b. Pengerahan tenaga penyelamat ke lokasi dimana terdapat banyak
korban dan terperangkap dengan kondisi reruntuhan yang ringan.
c. Berdayakan para relawan untuk melakukan penyelamatan, ( Alat kerja :
Tandu, dan beri tanda “S” pada pakaian yg korban pakai depan dan
belakang.
d. Mengingat banyaknya relawan yang akan turut membantu, jelaskan
dan batasi apa saja yang mereka boleh lakukan dan beri tanda
pengenal untuk hal tersebut.
e. Melakukan identifikasi korban dengan Kode triage
Prioritas Kode warna dan Kode Deskripsi
1 kondisi I
2 II Korban luka yg dapat
3 Cidera ringan III berjalan sendiri
4 0
Cidera berat, Stabil, Pengobatan dapat
tidak mengancam ditunda jam
jiwa
Cidera berat, Memerlukan pengobatan
mengancam jiwa segera
Meninggal dunia
Korban sudah meninggal
SKEMA PENYELAMATAN KORBAN YANG BERADA PADA KONDISI
RERUNTUHAN BERAT.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 16
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
a. Menetapkan lokasi yang kemungkinan terdapat korban
terperangkap / tertimbun yang masih selamat ( berdasarkan informasi
yang diterima
b. Membuat Penandaan bangunan runtuh :
Sistem penandaan adalah alat penting yang digunakan dalam operasi
CSSR untuk menampilkan dan berbagi informasi penting antara tim
penyelamat dan personel lapangan lainnya. Mereka juga harus menjadi
mekanisme untuk memperkuat koordinasi dan meminimalkan
duplikasi. Untuk memaksimalkan nilai menggunakan sistem penandaan
dalam suatu acara diperlukan untuk mengidentifikasi dan secara
universal menggunakan satu metodologi umum. Untuk metodologi ini
efektif, harus digunakan oleh semua responden, tetap sederhana untuk
diterapkan, mudah dipahami, efisien dalam penggunaan sumber daya
dan waktu, mengkomunikasikan informasi secara efektif dan diterapkan
secara konsisten.
Sistem Penandaan INSARAG berusaha untuk mencapai hal-hal ini
dan terdiri dari tiga Prinsip Penandaan elemen-elemennya, ini adalah:
Penandaan Tempat Kerja, Penandaan Korban dan Penandaan
Pembersihan Cepat. komponen Ini memberikan rangkaian tampilan
visual yang komprehensif yang menangkap informasi penting untuk
keduanya menginformasikan kesadaran situasional dan mendukung
perencanaan dan koordinasi.
Sistem Penandaan INSARAG digunakan oleh tim sebagai sistem
penandaan default jika tidak ada sistem nasional di negara-negara
tempat operasi dilakukan. Penggunaan sistem penandaan akan
ditentukan oleh OSOCC dalam hubungannya dengan LEMA.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 17
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
PENANDAAN PADA BANGUNAN RUNTUH
Penandaan bangunan runtuh Melliputi :
• Penandaan Area Umum
• Orientasi Struktur
• Tanda Cordon
• Penandaan Tempat Kerja
• Penandaan Korban
• Penandaan Jarak Cepat (RCM)
1. Penandaan Area Umum
Terkadang beberapa penandaan umum diperlukan untuk
diterapkan untuk membantu navigasi dan koordinasi.
Ini harus dibatasi hanya pada informasi penting dan sesingkat
mungkin.
• Penandaan area umum dapat diterapkan menggunakan cat semprot,
krayon pembangun, stiker, kartu tahan air dll sebagai ditentukan oleh
tim.
• Warnanya harus sangat terlihat dan kontras dengan latar belakang.
• Ini mungkin termasuk:
- Alamat atau lokasi fisik
- Nama landmark atau kode (mis bangunan pabrik gula 1)
- Area atau tempat kerja yang ditetapkan adalah untuk diidentifikasi
secara individual (lihat Penandaan Tempat Kerja)
• Jika tidak ada peta yang tersedia, peta sketsa tersedia untuk
diproduksi dan diserahkan ke OSOCC / LEMA.
• Kapan memproduksi peta, utama identifikasi geografis harus menjadi
nama jalan dan nomor bangunan saat ini bisa jadi. Jika ini tidak
memungkinkan, landmark harus digunakan sebagai referensi dan harus
digunakan secara universal oleh semua aktor.
2. Orientasi Struktur 18
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Orientasi struktur mencakup identifikasi eksterior dan interior:
• Identifikasi Eksterior: Sisi alamat jalan (FRONT) struktur harus
didefinisikan sebagai ―1‖. Sisi lain dari struktur harus ditetapkan secara
numerik searah jarum jam cara dari ―1‖ (lihat grafik).
• Identifikasi Interior: Interior struktur akan dibagi menjadi
QUADRANTS. Kuadran seharusnya diidentifikasi secara alfabetis searah
jarum jam dimulai dari sudut tempat Sisi “1“ (DEPAN) dan 2 bertemu.
Kuadran E (lobi pusat, elevator, tangga, dll) berlaku untuk bangunan
dengan banyak lantai. (Lihat grafik).
BELAKANG 3
QUAD B QUAD C
2 QUAD E 4
QUAD A QUAD D
DEPAN 1
Bangunan bertingkat harus mengidentifikasi setiap lantai dengan
jelas. Jika tidak jelas, lantainya harus diberi nomor jika dilihat dari bagian
luar. Lantai bawah akan diberi nama ― “Lantai Dasar” dan, naik ke lantai
berikutnya adalah ―Lantai “1”, dll. Sebaliknya, lantai pertama di bawah
permukaan tanah adalah ― “Basement 1”, yang kedua ― “Basement 2”,
dan seterusnya. (Lihat grafik).
Lantai 3
Lantai 2
Lantai 1
Lantai Dasar
Basement 1
Basement 2
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 19
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
3. Tanda Cordon
Tanda kordon digunakan untuk mengidentifikasi zona kerja operasional
serta area berbahaya untuk membatasi akses dan memperingatkan
bahaya.
- Zona Kerja Operasional
- Zona Bahaya
4. Penandaan Tempat Kerja
Semua hasil penilaian harus dilaporkan ke On-Site Operations Coordination
Centre ( OSOCC ) segera.
Meskipun informasi kunci diperlukan, tim dapat menerapkan kebijaksanaan
dan beradaptasi dengan dampak lingkungan dalam batas-batas ini sambil
tetap mempertahankan sistem penandaan yang umum, efektif dan
konsisten. Itu sistem juga melengkapi LEMA / sistem Nasional dan dapat
diadaptasi untuk bekerja bersama ini sebagai yg dibutuhkan.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 20
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Atas: Contoh sistem penandaan tempat kerja yang telah selesai, dengan
semua pekerjaan yang diperlukan telah diselesaikan.
Hazard/s (if Required)
Horizontal line placed at ASBESTOS Workside ID
competion of all work, when it
is determined on further work B - 26
on site is required
FIN – 1 ASR 2 12 FEB
RUS – 1 ASR 3 12 FEB
rus – 1 ASR 4 13 FEB
A
Triage Category - Team ID
- ASR Level Comleted
- Date (Day/Moth)
5. Metode Penandaan
Penandaan lokasi kerja harus diterapkan selama Asesmen Sektor
ASR Level 2 awal setelah situs selesai dianggap sebagai tempat
kerja. Penandaan harus diterapkan ke depan, (atau sedekat mungkin)
atau utama masuk ke tempat kerja. Metode berikut harus digunakan saat
menerapkan penandaan tempat kerja:
- Gambarlah kotak 1,2 meter x 1,0 meter (kurang-lebih).
- Dapat menggambar panah arah untuk mengkonfirmasi lokasi pasti dari
entri tempat kerja / tempat kerja.
- Di dalam kotak - menampilkan:
➢ ID Tempat Kerja
➢ ID Tim
➢ Level ASR selesai. Dan
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 21
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
➢ Tanggal
- Outside of box - menampilkan:
➢ Bahaya apa pun yang membutuhkan identifikasi misalnya Asbestos
(atas),
➢ Kategori triase (bawah)
- Diperbarui dengan ID Tim, ASR Level selesai dan tanggal sebagai level
pekerjaan lebih lanjut (ASR) lengkap.
- Orang hilang yang diperbarui, korban yang diselamatkan dan korban
yang meninggal dibebaskan saat ini terjadi.
- Material yang digunakan bisa cat spray, builder crayon, stiker, waterproof
card dll sesuai yang ditentukan oleh tim.
- Tinggi ID Tempat Kerja harus sekitar 40cm.
- ID Tim, Tingkat ASR, dan tanggal harus lebih kecil, misalnya sekitar
10cm.
- Warnanya harus sangat terlihat dan kontras dengan latar belakang.
- Setelah semua pekerjaan di tempat kerja telah selesai dan ditentukan
tidak ada pekerjaan selanjutnya diperlukan garis horizontal yang harus
ditarik melalui pusat seluruh marka tempat kerja.
Jika sebuah tim menganggap ada kebutuhan untuk meninggalkan
informasi tambahan penting di tempat kerja, hal ini bisa dilakukan
ditambahkan ke penandaan tempat kerja menggunakan bahasa biasa
dalam tampilan penuh bila diperlukan. Ini dan lainnya
6. Penandaan Korban
Penandaan korban digunakan untuk mengidentifikasi lokasi korban
potensial atau diketahui (Hidup atau Mati) yang tidak jelas bagi penyelamat
misalnya di bawah puing-puing / terkubur.
metode
Metode berikut harus digunakan saat menerapkan penandaan korban :
- Ketika tim (misalnya tim Pencarian) tidak tersisa di situs untuk segera
memulai operasi.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 22
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
- Pada insiden yang melibatkan banyak korban atau kebingungan tentang
lokasi tepatnya dari pencarian operasi dimungkinkan.
- Penandaan dilakukan sedekat mungkin secara fisik dengan titik
permukaan aktual yang diidentifikasi sebagai lokasi korban.
- Material yang digunakan bisa cat spray, builder crayon, stiker, waterproof
card dll sesuai yang ditentukan oleh tim.
- Ukurannya harus kurang lebih 50cm.
- Warnanya harus sangat terlihat dan kontras dengan latar belakang.
- Tidak dimaksudkan untuk digunakan saat operasi penyelamatan selesai.
- Tidak untuk diterapkan ke depan struktur dengan ID Tempat Kerja
kecuali di tempat itu korban berada.
Label Progresif
Keterangan Simbol
“V” besar diterapkan ke lokasi semua calon korban - V
hidup atau Meninggal V
Panah opsional dari “V” untuk mengklarifikasi lokasi
jika diperlukan
Di bawah “V”: V
- Sebuah “L” menunjukkan korban hidup yang
L–1
dikonfirmasi, diikuti dengan a nomor (mis. “2”)
menunjukkan jumlah korban hidup di lokasi itu – “L- V
2,” “L-3” dll. dan / atau
- A “D” menunjukkan korban meninggal dunia, diikuti D–1
dengan a nomor (misalnya “3”) menunjukkan jumlah
orang yang meninggal korban di lokasi itu – “D-3”,
“D-4” dll.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 23
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Pada penghapusan setiap korban, tanda yang V
relevan disilangkan L–2
D–1
keluar dan diperbarui (jika diperlukan) di L–1
bawah; misalnya ―L-2‖ dapat disilangkan
keluar dan ―L-1‖ diterapkan yang menunjukkan
hanya satu korban Hidup
tersisa.
Jika semua tanda ‗ ― L‖ dan / atau ―D‖ dicoret, V
semua diketahui
korban telah disingkirkan. L–1
D–1
Alat kerja :
➢ Headlamp. Lampu sorot
➢ Alat berat untuk memindahkan puing ( crane dan backhoe )
➢ Alat potong dan trencher untuk membuat jalur masuk.
➢ Air lifting bag
➢ Electric Oxygen Plasma Cutter )
➢ Self Contained Breathing Apparatus ( SCBA )
c. Lakukan upaya berkomunikasi dengan korban dengan cara : “panggil
dan dengar “ atau melalui ketukan-ketukkan pada struktur bangunan
yang ada ( tembok, perpipaan dst. ) ( 3 panggilan / isyarat dilanjutkan 1
menit menunggu jawaban )
d. Lakukan pembersihan puing untuk memberikan akses komunikasi yang
lebih jelas.
e. Berdayakan relawan yang terlibat pada tahap 3 , untuk terlibat dalam
tahap 4.
f. Bila ada gunakan alat pengidentifikasi elektonik.
g. Tandai tempat / lokasi yang ememerlukan upaya lebih lanjut dengan
alat berat dan tenaga penyelamat yang lebih ahli.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 24
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
h. Kenali kondisi korban, beri pertolongan pertama hentikan pendarahan
dan awasi jalan nafas korban.
i. Stabilisasi puing / reruntuhan bangunan, dilarang menggerakan puing
,menggoyangkan dan merubah posisi puing yang dapat mencederai
korban.
j. Mulai proses ekstrikasi, dengan petugas medis tetap memantau.
Petugas medis dapat membantu memberi informasi akibat dari tindakan
ekstrikasi, koordinasi keadaan didalam kabin.
k. Angkat dan longgar puing yang menghimpit dengan linggis, dongkrak
atau airbag.
l. Evakuasi korban dari reruntuhan dengan memperhatikan kondisi luka
dan cidera yang dialami korban.
SKEMA PENYELAMATAN DENGAN ALAT BERAT DAN PERALATAN
PENDUKUNG LAINNYA OLEH TIM PENYELAMAT AHLI DAN
TERLATIH. ( REMOVAL )
a. Hanya perkenankan 1 (satua) tim penyelamat bekerja dalam satu
kali waktu.
b. Bersihkan puing-puimg dan buka jalan menuju korban terperangkap /
tertimbun.
c. Peralatan :
APD : Safety helmet dengan V chin strap, Masker, Coverall, Sarung
tangan, Safety shoes.
PASKA OPERASI PENYELAMATAN
Pertimbangkan apakah lokasi yang akan ditinggalkan dalam kondisi
aman ? atau terdapat beberapa peralatan yang tidak bisa di bongkar,
misalnya Air bag, dongkrak dsb.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 25
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
BAB VI
TINDAKAN PRA RUMAH SAKIT
Mengenali Mekanisme cidera dan konsekuensinya
Sangat penting bagi penyelamat (Rescue) untuk tidak melupakan
sasaran utama dari pelaksanaan CSSR. Tanggung jawab mereka adalah
untuk menilai, stabilisasi dana mengeluarkan penderita dengan
kemungkinan sedikit cidera.
a) Remuk atau Tekanan (compression)
Cidera yang dapat terjadi dan konsekuensinya :
➢ Kompartment sindrom
➢ Sindrom remuk (Crush syndrome)
➢ Lebarnya patah tulang
➢ Perdarahan dalam dan luar
b) Jatuh (Falls)
Cedera yang mungkin terjadi dan konsekuensinya :
• Patah tulang dapat alat gerak, kepala dan tulang spinal (spinal
colum)
• Bagian dalam dan luar pendarahan
c) Suhu yang rendah
Cedera yang mungkin terjadi dan konsekuensinya :
• Hypotermia dan bersamaan dengan komplikasi
d) Trauma benda tumpul
Ini dapat disebabkan oleh dampak dari furniture, runtuhnya suatu benda
atau bangunan dari strukturnya (pada kecepatan tinggi dan ledakan)
Cedera yang mungkin terjadi dan konsekuensinya :
• Perdarahan dalam dan luar
• Shock
• Cedera yang ada
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 26
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
• Lebam berat
e) Udara yang terkontaminasi
Pada situasi struktur bangunan runtuh pada umumnya akan
menghadapi debu dalam jumlah yang banyak, dan dalam beberapa
kondisi yang berbahaya dan atau gas yang mudah terbakar, maka
dapat mengakibatkan :
1. Pernafasan sulit
2. Jantung berhenti
3. Henti nafas
4. Masalah saraf
f) Kekurangan air dan makanan
➢ Kehilangan cairan tubuh
➢ Kelaparan
➢ Shock
➢ Ginjal rusak
g) Isolasi yang berkepanjangan dan putus asa
➢ Stress
Syndrome remuk
Definisi : Merupakan komplikasi yang dihasilkan dari racun dalam darah
yang timbul setelah jaringan otot dari ekstermitas telah ditekan dan sirkulasi
mengkompensasi dalam jangka waktu yang lama.
Sindrom remuk dapat dihasilkan saat ekstermitas berada diantara dua
benda, ini seringkali terjadi pada korban yang terperangkap pada bangunan
runtuh. Pembengkakan mungkin masalah yang besar dengan kehilangan
darah bagian distal. Penderita kemungkinan menderita (syok torniket) saat
benda dilepaskan dan racun yang telah ada telah lepas dan mengalir ke
jantung dengan fatal hasil.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 27
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Menurut penelitian pada penderita sindrom remuk, jika mereka
mendapatkan perawatan dalam waktu yang tepat, ada 60 persen
kesempatan dalam hidup. Sindrom remuk tidak perlu terjadi pada korban
dalam setiap kejadian dimana korban terperangkap. Sebagai peraturan
umum, sindrom kemungkinan akan muncul pada kriteria dasar :
➢ Meligkupi massa otot
➢ Lamanya tekanan
➢ Kompensasi sirkulasi
Crush syndrome :
- Terkena tekanan dalam waktu yang Panjang
- Keracunan pada darah
- Akibat yang bom
Contohnya, terperangkapnya tangan tidak langsung seperti sindroma awal.
Waktu kompresi paling cepat kemungkinan satu jam tetapi waktu rata-rata
4-6 jam atau lebih.
Masalah utama yang dihadapi penyelamat saat menghadapi penderita
yang dicurigai dengan cedera hancur adalah lebih menyuruh masyarakat
untuk mencoba memindahkan tekanan (compressive force) daripada
perawatan atau tindakan.
Tanda dan gejala dari sindrom remuk
• Cemas
• Kesulitan bernafas
• Tekanan darah menurun
• Perubahan suhu udara
• Nadi cepat
• Tidak adekuatnya aliran jantung
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 28
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
• Hilangnya kesadaran
• Tidak teraba nadi dan capilary refill pada anggota tubuh bagian distal
• Syok
Sindrom Compartment
Definisi : meningkatnya tekanan pada ruang tertutup pada otot disebabkan
oleh pembengkakan jaringan yang menyebabkan kerusakan jaringan otot
dan saraf.
Sindrom Compartmet biasanya dapat terjadi dalam beberapa jam dan
kemungkinan pada awalnya tidak akan muncul. Dapat disebabkan karna
sindrom remuk, patah tulang terbuka atau tertutup, selama ada tekanan
dalam waktu lama Atau setelah darah yang mengalir kembali tekanan
interitial meningkat, kematian jaringan dapat terjadi. Sindrom Compartment
dapat terjadi pada semua bagian tubuh, yang sering terjadi dengan lengan
bawah, betis dan paha.
Ada dua dasar sindrom compartment dapat terjadi :
• Penutup jaringan yang membatasi ruang yang ada
• Penyebab dari meningkatnya tekanan dalam penutup (kulit)
Tanda dan gejala dari sindrom compartment
• Pembengkakan anggota tubuh pada penderita yang tidak sabar 29
• Nyeri hebat, ketidakseimbangan pada cedera
• Nyeri pada peregangan otot pada compartemen
• Nadi lemah
• Capillary refill jelek
• Berkurangnya sensasi pada ekstremitas yang terkena
• Syok
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
• Dehidrasi
• Hilangnya fungsi pada anggota tubuh
3.2 Tindakan umum pada penderita yang terperangkap
1. Jangan melepaskan tekanan sampai perawatan dimulai
2. Periksa ABC
3. Lindungi penderita dari kemungkinan zat-zat yang berbahaya
yang dihasilkan saat mencoba penyelamatan
4. Pemberian oksigen
5. Imobilisasi kepala dan leher
6. Pertahankan suhu tubuh
7. Lindungi penderita dari lingkungan
8. Monitor keadaan jantung penderita
9. Ijinkan personil medis melakukan penanganan yang dibutuhkan
10. Letakkan penderiadi atas backboard atau stretcher,
immobilisasikan penderita, dan lanjutkan dengan pemindahan
dari tempat semula, menggunakan prosedur di setiap langkah
11. Ingat protap dari kontak dengan penderita dijelaskan pada
materi 6
Tindakan khusus dari sindrom remuk dan sindrom compartment
harus dilakukan oleh petugas media gawat darurat yang terampil.
Konsultasikan buku pentunjuk untuk materi ini.
3.2 Immobilisasi Penderita pada Backboard 30
1. Stabilisasikan kepada penderita
2. Servical corall
3. Pindahkan penderita pada backboard
4. Lihat punggung penderita
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
5. Letakkan penderita di tengah backboard
6. Immobilisasi penderita diats backboard
7. Periksa nadi, fungsi motorik dan sensasi setelah mengimobilisasi
penderita
Immobiliasi yang benar
Salah
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 31
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
PENUTUP
1.1. KETENTUAN LAIN
A. Dalam pelaksanaan penanganan Pencarian dan Penyelamatan personil
dilarang :
1. Menerima segala bentuk imbalan dan atau pungli.
2. Melepas atribut atau perlengkapan yang ada pada perorangan diarea lokasi
kejadian.
3. Bersikap kasar dan arogan.
4. Melakukan tindakan tercela yang dapat merugikan Masyarakat, profesi
dan Kesatuan.
5. Merokok saat melaksanakan tugas.
B. Indikator keberhasilan
1. Waktu Operasi Penanganan Penyelamatan dan evakuasi Kecelakaan
Bangunan runtuh dilakukan selama 6 jam
2. Petugas berhasil mengevakuasi dan menyelamatkan Korban.
3. Petugas berhasil menemukan Korban yang meninggal.
4. Masyarakat merasakan kenyamaan dan kepuasan terhadap petugas yang
bertugas.
5. Zero Complaint.
1.2. TAHAP AKHIR
Perintah untuk mengakhiri misi penyelamatan dilakukan setelah seluruh
korban dan objek dapat di evakuasi dan telah dipindahkan ke tempat yang
aman dan mendapatkan perawatan memadai oleh petugas kesehatan bagi
yang membutuhkan.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 32
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh
Setelah itu merapikan kembali seluruh peralatan yang dipergunakan
selama tugas penyelamatan dan pertanggungjawaban masing-masing
petugas, termasuk mengumpulkan keterangan saksi-saksi, dokumentasi,
dampak personal korban atau perlengkapan yang dipergunakan selama
penyelamatan.
Prosedur yang harus dilakukan ketika memasuki tahap akhir penyelamatan
adalah:
1. Menjaga pertanggungjawaban setiap petugas yang terlibat dalam tugas
penyelamatan pada kecelakaan bangunan runtuh di Provinsi DKI
Jakarta
2. Menjaga dan mengembalikan kelengkapan perlengkapan pada
tempatnya semula
3. Mengumpulkan informasi untuk menyusun bahan laporan kejadian
4. Melakukan pengecekan kembali sebelum meninggalkan TKP
5. Melaksanakan Apel untuk memeriksa Kelengkapan Personil.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 33
Pencarian dan Penyelamatan Pada Bangunan Runtuh