The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun (b3)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pusdiklat.learning, 2021-09-02 03:04:15

Dasar-dasar B3

Modul Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun (b3)

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 1
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

Kata Pengantar

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat dan hidayahNYA sehingga penyusunan Modul Materi
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Pendidikan dan Pelatihan Fire Rescue
ini dapat terselesaikan dengan baik. Modul ini bertujuan memberikan
tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan guna peningkatan kompetensi
sumber daya manusia di bidang penanggulangan kebakaran dan
penyelamatan.

Bahan Berbahaya dan Beracun merupakan salah satu jenis material
yang menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia dan
lingkungan. Diperlukan penanganan yang tepat ketika terjadi kecelakaan
yang berhubungan dengan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sehingga
dapat meminimalisir dampak pada petugas dan lingkungan dalam
penanganannya.

Kami menyadari bahwa modul ini masih memiliki kekurangan,
untuk itu kririk dan saran terhadap penyempurnaan modul ini sangat
diharapkan. Semoga modul ini dapat memberikan manfaat khususnya
bagi para peserta didik dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan kontribusi dalam penyusunan modul ini.

Jakarta, Agustus 2021

Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Penanggulangan Kebakaran dan
Penyelamatan Provinsi DKI
Jakarta

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 2
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian
Pengertian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) berdasarkan Peraturan

Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3) adalah bahan yang karena sifat atau konsentrasinya dan
atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat
membahayakan lingkungan hidup manusia serta mahkluk hidup lainnya.

B. Dasar Hukum
1. Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
2. Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan
Berbahaya Dan Beracun.
3. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 8 tahun 2008 tentang
Pencegahan Dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran.

C. Jenis/Klasifikasi B3

Menurut Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2008

tentang Pencagahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran, pada pasal 6

dijelaskan bahwa Bahan Berbahaya terdiri dari :

1. Bahan berbahaya mudah meledak (explosives);

2. Bahan gas bertekanan (compressed gases);

3. Bahan cair mudah menyala (flammable liquids);

4. Bahan padat mudah menyala (flammable solids) dan/atau mudah

terbakar jika basah (dangerous when wet);

5. Bahan oksidator, peroksida organik (oxidizing sustances);

6. Bahan beracun (poison);

7. Bahan radio aktif (radio actives);

8. Bahan perusak (corrosives); dan

9. Bahan berbahaya lain (miscellaneous). 3

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

BAB II
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN RESIKO

A. Pengertian
Identifikasi adalah kegiatan mengelompokkan potensi berdasarkan

kriteria bahan/produk.
Bahaya adalah sumber, situasi kejadian yang berpotensi sebagai

penyebab terjadinya kecelakaan. Identifikasi bahaya merupakan suatu
proses yang dapat dilakukan untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian
yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang mungkin timbul di tempat kerja (Tarwaka, 2008).

Risiko menyatakan kemungkinan terjadinya kecelakaan/kerugian pada
periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu (Tarwaka, 2008).
Identifikasi resiko adalah upaya yang dilakukan guna mengetahui
kemungkinan terjadinya kecelakaan/kerugian pada periode waktu
tertentu.

B. Potensi Bahaya dan Resiko
1. Potensi Bahaya
Potensi bahaya Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada manusia,
peralatan dan lingkungan dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Bahaya Kesehatan;
b. Bahaya kebakaran; dan
c. Bahaya lingkungan.
Berdasarkan kemampuan bahan yang dapat menimbulkan cidera,
dibagi menjadi tiga meliputi :
a. Bahaya racun;
Bahaya B3 yang berdampak pada saluran pernafasan
(asphyxiants, irritans dan allergens), kulit (primary irritans,
photosensitizers, allergicsensitizers) dan mata.
b. Bahaya kimia; dan
c. Bahaya fisik.
Bahaya fisik dari B3 yang meliputi explosive, flammability,
reaktifitas, oksidasi, korosif dan radio aktif.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 4
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

2. Potensi Resiko
Pengaruh yang timbul akibat bahan berbahaya dan beracun dapat
dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :
a. Operasi;
b. Lokasi; dan
c. Lingkungan.

C. Tanda-tanda Dasar Pengenalan B3
Tanda dasar pengenalan B3 meliputi :
a. Lokasi atau tempat kerja;
b. Bentuk kontainer atau wadah;
c. Bau; dan
d. Label.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 5
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

BAB III
MENGELOLA INSIDEN BAHAN BERBAHAYA DAN

BERACUN DENGAN AMAN DAN EFEKTIF

1. Dispatching Hazardous Material Incidents (Pengiriman Personil
Pada Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun)
Memahami sifat suatu peristiwa dapat memberi informasi yang
cukup untuk menjadi dasar tindakan awal bagi First Responder (tim
respon awal) dan juga memastikan tanggapan yang memadai dan
tepat dari pihak berwenang dan personil penyelamat di lapangan.
Tahapan yang harus dilakukan first responder (tim respon awal)
setelah ada perintah pengiriman personil pada insiden B3 di lokasi
kejadian, meliputi :
a. Penilaian awal;
b. Identifikasi jenis B3;
c. Bahaya paparan bahan kimia; dan
d. Keakuratan informasi.

2. Response and Arrival At The Scene (Respon dan Kedatangan di
Lokasi Kejadian)
Untuk menghindari menjadi bagian dari masalah selama insiden B3,
tim respon awal harus ingat bahwa selalu ada bahan berbahaya yang
perlu diwaspadai. Petugas tidak boleh lengah dan harus waspada
terhadap petunjuk-petunjuk di lokasi kejadian. Setiap kecelakaan
bahan berbahaya dan beracun berpotensi melepaskan bahan kimia
berbahaya dari kontainer yang mungkin ada di bagasi mobil, bagian
belakang truk pickup, atau area kargo truk dan ada juga potensi
bahaya dari tumpahan bensin atau solar. Langkah-langkah yang
harus dilakukan petugas saat tiba pertama kali di lokasi kejadian
meliputi :

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 6
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

a. Waspadai adanya kebocoran/paparan bahan saat mendekati area
B3;

b. Mencari informasi nama atau jenis dari B3 di area/lokasi kejadian;
c. Waspadai bau yang mencurigakan di lokasi kejadian;
d. Komunikasi dengan pemilik bangunan atau kendaraan yang

terindikasi terdapat B3; dan
e. Mencari lembar MSDS (Material Safety Data Sheet) didalam kabin

kendaraan dengan syarat lokasi aman untuk didekati.

3. The Material, The Container and The Environment (Bahan,
Tempat/Wadah dan Lingkungan)
Tim respon awal (petugas pertama) dapat menghindari menjadi
bagian dari masalah selama insiden bahan berbahaya dengan
membuat penilaian bahaya secara menyeluruh. Penilaian bahaya ini
mencakup beberapa faktor, meliputi :
a. Bahan
Penilaian bahan berbahaya dan beracun yang ada di lokasi
kejadian harus mempertimbangkan efek kesehatan dan potensi
kebakaran atau ledakan. Efek kesehatan termasuk efek dari
menghirup gas dan uap berbahaya, kontak kulit, dan
kemungkinan tertelan. Bahaya dari kontak kulit meliputi bahan
yang dapat merusak kulit serta dapat diserap melalui kulit utuh.
Tim respon awal (Petugas pertama) harus ingat bahwa luka,
seperti luka dan lecet, juga dapat menyebabkan bahan kimia
masuk ke dalam tubuh. Ancaman kebakaran dapat mencakup
ledakan, yang mengakibatkan cedera akibat luka bakar dan
trauma fisik akibat puing-puing yang beterbangan. Begitu tiba di
tempat kejadian, ledakan dan kebakaran dapat terjadi tanpa
peringatan. Aspek lain dalam menilai bahan berbahaya adalah
keadaan fisiknya, keadaan fisik suatu material akan menentukan
apakah akan menyebar melawan arah angin sebagai gas, uap,
atau debu, atau mungkin diserap ke dalam tanah sebagai cairan.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 7
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

b. Tempat/wadah
Pentingnya menilai bahaya tempat/wadah sebagian besar
didasarkan pada apakah tempat/wadah tersebut bertekanan atau
tidak. Kontainer bertekanan dengan gas cair atau nonliquefied
terkompresi dapat menimbulkan bahaya dan potensi untuk
meledak. Tempat/wadah yang pecah dapat menyebarkan puing-
puing ke segala arah yang dapat melukai petugas dan orang-
orang yang berada di sekitar. Sebagai aturan umum, wadah
bertekanan akan menghadirkan bahaya yang lebih besar kepada
petugas daripada wadah yang tidak bertekanan. Namun, wadah
tidak bertekanan dengan cairan atau padatan bisa berpotensi
menjadi wadah bertekanan saat mengalami pemanasan atau
tekanan kimia. Petugas yang gagal menyadari potensi bencana
kegagalan wadah tidak bertekanan dalam keadaan ini
kemungkinan besar akan mengalami cedera serius atau
kematian.

c. Lingkungan
Penilaian lingkungan pada insiden B3, menentukan kondisi yang
mungkin terpapar akibat bahan berbahaya yang dilepaskan dan
menentukan taktik/cara yang dapat digunakan oleh petugas
untuk menghindari dari paparan ini. Misalnya, tumpahan bahan
berbahaya di kawasan perumahan yang mungkin pada awalnya
tampak memiliki eksposur/paparan kecil, sampai petugas
mengetahui bahwa tumpahan telah memasuki saluran air
terdekat. Selain itu, mungkin telah mencemari sungai dan sumber
air bawah tanah yang berfungsi sebagai sumber air minum bagi
masyarakat sekitar. Bahan berbahaya yang terbawa udara, baik
sebagai debu, gas, uap, atau kabut, memerlukan tindakan
petugas untuk mengontrol uap dengan aliran kabut. Petugas perlu
mengevakuasi warga atau mungkin menyarankan mereka yang
terkena dampak paparan bahan berbahaya dan beracun untuk
tetap berada di dalam gedung sampai kondisi dinyatakan aman.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 8
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

4. Stages of a Hazardous Material Incidents (Tahapan insiden

Bahan Berbahaya dan Beracun)

Menurut buku Hazardous Materials Incidents karangan Chris Hawley,

tahapan insiden bahan berbahaya dan beracun dapat dilihat pada

tabel dibawah ini :

Tabel 3.1 Tahapan Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

Tindakan 8 Tahapan Proses Taktik Sasaran Strategi Hazmat
Mendeteksi keberadaan Manajemen dan kontrol Isolasi
bahan berbahaya lokasi Mengumpulkan informasi
Memperkirakan Evakuasi
kemungkinan bahaya Mengidentifikasi masalah Memperkirakan
kemungkinan arah dan Pemberitahuan
Menentukan responsif tujan Mengidentifikasi bahaya bahaya
dan resiko Menentukan tujuan Identifikasi produk
Mengidentifikasi tindakan Pilih pakaian dan alat strategis Menentukan
pelindung diri Menilai opsi taktik dan dekontaminasi alat proteksi
Melakukan tindakan terbaik sumber daya diri yang sesuai
yang bisa dilaksanakan Manajemen informasi dan Merencanakan dan Dekontaminasi
koordinasi sumber daya melaksanakan Tindakan Kontrol tumpahan dan
Mengevaluasi capaian yang diputuskan kebocoran
Menerapkan respon
tujuan Evaluasi

Dekontaminasi Review

Menghentikan insiden Penghentian

Sumber : Hazardous Materials Incidents, By Chris Hawley, 2008.

5. Containers That Have Released Their Contents
(Tempat/wadah yang dirilis dengan isi bahan)
a. Setiap insiden yang melibatkan tempat/wadah berisi bahan kimia
yang sudah dirilis dalam plakat harus memperhatikan adanya
potensi kebocoran pada level bukaan wadah.
b. Petugas pertama yang tiba di TKP harus mengambil keputusan
dengan cepat tentang berapa banyak bahan kimia yang tumpah
dan memastikan bahwa setiap area tumpahan dapat dilokalisir
dengan aman.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 9
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

c. Petugas juga harus memastikan jenis bahan kimia yang tumpah
sehingga dapat diambil tindakan penanganan sesuai jenis bahan
kimia yang tumpah.

d. Petugas juga harus mewaspadai bahaya paparan dari bahan
kimia yang tumpah.

6. Containers With an Ongoing Release (Tempat/wadah dengan isi
bahan yang akan dirilis)
Insiden B3 yang melibatkan tempat/wadah yang sedang dirilis isi
bahan kimianya, mengharuskan petugas tetap waspada terhadap
beberapa ancaman yang signifikan. Petugas perlu memperkirakan
jumlah total bahan kimia yang bocor sehingga dapat menentukan
strategi penanganan yang tepat.

7. Containers That Have Not Released Their Contents
(Tempat/wadah yang belum dirilis dengan isi bahan)
Berurusan dengan tempat/wadah yang belum diketahui isi bahan
kimia didalamnya sangat beresiko tinggi. Tempat/wadah ini mungkin
tertekan oleh panas, reaksi kimia, atau kerusakan fisik. Petugas
perlu memprediksi situasi bahaya yang dapat mengancam
keselamatan jiwa. Ada banyak situasi di mana hal ini dapat terjadi:
- Drum yang berisi cairan mudah terbakar.
- Tangki yang berisi cairan korosif memiliki lapisan yang rusak,
sehingga tempat/wadah dapat terkena efek korosi.
- Tangki yang berisi gas kimia dapat terkompresi adanya panas
sinar matahari dan suhu cuaca terik.

8. Defensive Actions (Tindakan Defensif)
a. Petugas wajib menggunakan APD lengkap.
b. Petugas mengumpulkan informasi secara lengkap terkait tumpahan
bahan kimia dari pemilik ataupun pihak yang berwenang.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 10
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

c. Petugas mengambil tindakan dengan melokalisir bahan kimia
sehingga tidak akan bereaksi dengan bahan berbahaya lain yang
dilepaskan.

d. Petugas mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri dan
personel dari kontaminasi di tempat kejadian.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 11
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

BAB IV
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

SECARA TEPAT DAN AMAN

Untuk dapat melakukan pengelolaan B3 yang tepat dan aman perlu
adanya informasi dan petunjuk penyimpanan dan penanganan.
Sedangkan untuk meminimalkan resiko dalam terjadinya insiden
penyimpanan bahan berbahaya dan beracun harus dilakukan penataan
yang tepat sesuai ketentuan karena ada bahan yang boleh dicampur
penempatannya dan ada yang tidak boleh dicampur / dipisah.
1. Lokasi dan Bangunan Penyimpanan B3

Tempat penyimpanan yang sesuai dengan persyaratan adalah suatu
tempat tersendiri yang dirancang sesuai dengan karakteristik B3,
dapat menampung jumlah B3 yang akan disimpan dan memenuhi
persyaratan teknis keamanan, kesehatan dan perlindungan
lingkungan. Antara lain yang harus diperhatikan :
a. Lokasi dan Bangunan.
b. Pembatas/Pagar.
c. Akses ke Lokasi dan di Bangunan.
d. Dinding.
e. Pintu Darurat.
f. Pembuangan (drainage).
g. Ram.
h. Atap dan Ventilasi.
i. Proteksi Kebakaran.
j. Alat/Peralatan yang Diperlukan.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 12
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

2. Penyimpanan dan Penanganan B3
Untuk mengurangi bahaya yang ditimbulkan oleh B3 perlu
memperhatikan hal-hal berikut :
a. Asumsikan semua bahan kimia yang tidak anda kenal berbahaya.
b. Ketahuilah bahwa bahaya akibat bahan kimia pasti ada.
c. Pertimbangkan bahaya setiap melakukan pencampuran bahan
kimia.
d. Jangan pernah menggunakan bahan kimia yang tidak punya label.
e. Ikuti petunjuk penggunaan bahan kimia sesuai MSDS.
f. Gunakan selalu pakaian pelindung.

2.1 Gas yang Dimampatkan (Compressed Gases)
a. Penyimpanan :
• Karena mempunyai tekanan yang sangat tinggi, disimpan
dalam area yang sejuk, kering, mempunyai ventilasi yang
baik, jauh dari sumber panas (termasuk nyala api, pipa
panas, sinar matahari langsung).
• Temperatur tidak boleh lebih dari 52 °C.
• Dipisahkan dari bahan mudah menyala, racun, korosif dan
pengoksidasi.
• Seluruh tabung yang mempunyai tekanan harus
diletakkan posisi tegak.
• Tabung harus diberi label yang sesuai dan jelas.
• Tabung yang kosong harus dipisahkan dari yang berisi dan
harus dalam keadaan tertutup rapat.
b. Penanganan :
• Hanya orang yang terlatih dan mengerti yang boleh
menangani tabung yang bertekanan.
• Jangan dijatuhkan tabung walaupun telah kosong karena
tabung yang kosong masih mempunyai tekanan,
pemindahan harus dilakukan hati-hati.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 13
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

• Proses yang menggunakan gas korosif, pengoksidasi,
racun, atau mudah menyala sebaiknya dilakukan pada
ruang tersendiri.

• Jangan hanya memperhatikan warna tabung, karena
masing-masing produsen belum tentu menggunakan
warna yang sama, selalu yang diperhatikan adalah label.

• Yang penting diingat semua gas yang bertekanan selalu
berpotensi menimbulkan bahaya yang signifikan.

Contoh :
• Gas mudah menyala : hidrogen, acetylen, butana, methana,

propane.
• Gas Pengoksidasi : oksigen, chlorine, ozon, nitrogen dioksida.
• Gas beracun : karbon monoksida, hidrogen sulfida, chlorine,

sulfur dioksida, formaldehid.
• Gas korosif : nitrogen dioksida.
• Inert Gas : Helium.
2.2 Bahan Bahan berbahaya kena air
a. Penyimpanan :

• Penyimpanan bahan dalam wadah harus dengan minyak
dan jangan sampai kontak dengan air.

• Penyimpanan bahan yang berbahaya kena air harus jauh
dari bahan kimia lainnya.

• Ruang penyimpanan harus dingin, kering, dan mempunyai
ventilasi yang baik.

• Ruang penyimpanan tidak boleh dilengkapi dengan sistem
sprinkler.

• Ruang penyimpanan sebaiknya tahan api dan tahan air.
• Tanda peringatan bahan berbahaya kena air harus diberi

dengan posisi mudah dilihat dan sesuai dengan ketentuan.
• Penyimpanan dalam jumlah sedikit dapat diatur sesuai

dengan Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 14
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

b. Penanganan :
• Bahan ini tidak boleh kontak dengan air, jangan
memegang atau menangani bahan ini dalam kondisi tubuh
berkeringat.
• Sebaiknya jangan memindahkan bahan ini dari wadah
aslinya kedalam wadah lain.
• Penaganan dalam jumlah sedikit dapat diatur sesuai
dengan Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).

Contoh : Sodium metal, Potasium metal, kalsium oksida,
lithium.

2.3 Bahan Pengoksidasi
a. Penyimpanan :
• Ruang penyimpanan harus sejuk, kering, mempunyai
ventilasi yang baik, jauh dari sumber panas dan
penyalaan, pipa panas, sinar matahari langsung.
• Harus dipisah dengan gas yang dimampatkan, bahan
berbahaya kena air, korosif.
• Bahan pengoksidasi harus ditempatkan pada rak atau
lemari dengan bahan yang tidak dapat terbakar.
• Untuk mencegah terjadinya tekanan didalam wadah
penyimpanan dapat diberi katup pada tutup wadah.
• Untuk penyimpanan dalam jumlah sedikit sesuai petunjuk
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).
b. Penanganan :
• Jangan memindahkan bahan dari wadah aslinya kedalam
wadah lain.
• Jangan sampai bahan ini bercampur dengan senyawa
organik.
• Hati-hati memindahkan bahan karena kebanyakan bahan
pengoksidasi sensitif terhadap goncangan.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 15
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

Contoh : Iodine, Sodium dikromat, Sodium hipoklorit, Hidrogen
peroksida, Kalsium hipoklorit, Potasium permanganat,
Benzoil peroksida.

2.4 Bahan mudah menyala
a. Penyimpanan :
• Penyimpanan harus dipisah dari bahan pengoksidasi,
korosif, bahan berbahaya kena air, racun dan gas yang
dimampatkan.
• Untuk bahan yang dapat menyala sendiri harus dipisah
dari semua bahan mudah menyala.
• Jika memungkinkan antara bahan organik dan anorganik
sebaiknya dipisah.
• Ruang penyimpanan harus sejuk, kering, mempunyai
ventilasi yang baik, jauh dari sumber panas (termasuk
nyala api terbuka atau percikan bunga api), dan sinar
matahari langsung.
• Wadah penyimpanan harus dalam keadaan tertutup rapat.
• Ruang penyimpanan harus mudah diakses dan dilengkapi
dengan alat pemadam api, sprinkler dan system alarm.
• Pada ruang penyimpanan diberi tulisan ”Dilarang
Merokok” atau larangan lainnya yang jelas dan mudah
dilihat.
• Untuk penyimpanan dalam jumlah sedikit sesuai petunjuk
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).
b. Penanganan :
• Penggunaan / pemakaian bahan harus jauh dari sumber
panas, sumber penyalaan, percikan api di peralatan listrik
atau peralatan lainnya.
• Jika pemakaian bahan perlu untuk dipanaskan maka
pemanasan tidak boleh langsung dari nyala api.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 16
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

• Karena uap bahan yang terkumpul di ruangan dapat
terbakar (konsentrasi maksimal 10%) maka ventilasi
harus baik.

• Untuk pemindahan cairan dari tangki dalam jumlah
banyak harus dipasang electrical grounding untuk
mencegah listrik statis.

• Penanganan untuk masing-masing bahan sesuai petunjuk
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).

Contoh : asam pikrat, acetone, alkohol, benzene, ethyl ether,
nafta, toluena, turpentine, belerang, phosphor.

2.5 Bahan Korosif
a. Penyimpanan :
• Penyimpanan harus dipisah antara asam dan basa.
• Dijauhkan dari bahan mudah menyala, bahan berbahaya
kena air dan pengoksidasi.
• Asam organik dapat disimpan dengan bahan organik
mudah menyala.
• Ruang penyimpanan harus sejuk, kering, mempunyai
ventilasi yang baik, jauh dari sumber panas (termasuk
nyala api terbuka atau percikan bunga api).
• Rak penyimpanan harus dari bahan yang tidak mudah
rusak.
• Wadah penyimpanan dapat rusak oleh bahan, maka
secara berkala apabila dibutuhkan dapat diganti.
• Label harus selalu diperiksa karena juga dapat rusak.
b. Penanganan :
• Penanganan harus memakai pelindung untuk mencegah
bahan kontak dengan kulit.
• Pemakaian sebaiknya dalam lemari asam atau ruangan
dengan sistem ventilasi yang sesuai.
• Apabila dilarutkan dalam air jangan langsung
menambahkan air kedalam bahan terutama asam.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 17
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

• Membuka tutup wadah bahan korosif dilakukan dengan
perlahan.

• Penanganan untuk masing-masing bahan sesuai petunjuk
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).

Contoh :
- Asam anorganik : asam nitrat, asam sulfat.
- Asam organik : asam asetat, asam format.
- Basa : Sodium hidroksida, ammonia.
2.6 Bahan Beracun
a. Penyimpanan :

• Bahan beracun harus disimpan secara terpisah.
• Ruang penyimpanan harus sejuk, kering, mempunyai

ventilasi yang baik, jauh dari sumber panas (termasuk
nyala api terbuka atau percikan bunga api).
• Ventilasi ruang penyimpanan bahan beracun harus
dirancang khusus.
• Tanda peringatan bahan beracun harus dipasang dengan
tulisan yang jelas dan mudah dilihat.
• Penyimpanan dalam jumlah sedikit sesuai petunjuk
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).
b. Penanganan :
• Penanganan harus dengan hati-hati jangan sampai kontak
dengan kulit dan terhirup.
• Selalu mencuci tangan selesai menggunakan bahan.
• Penanganan masing-masing bahan sesuai petunjuk
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS).
Contoh : Sianida, Chromat, Chloroform, Hidrogen chlorida,

Hidrogen sulfida, Phenol, Benzena.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 18
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

3. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan dan
penanganan B3 :
a. Periksa MSDS sebelum menyimpan atau memindahkan bahan.
b. Simpan bahan B3 pada ruangan atau area dengan temperatur yang
sesuai.
c. Atur ruang penyimpanan terutama untuk bahan yang tidak
bersesuaian.
d. Tutup rapat wadah apabila bahan tidak dipergunakan.
e. Jangan menggunakan wadah yang tidak mempunyai label.
f. Periksa wadah penyimpan bahan secara teratur.
g. Jangan menyimpan bahan B3 yang berdasarkan urutan abjad.
h. Jangan halangi akses pintu darurat atau peralatan proteksi
kebakaran lainnya dalam ruang penyimpanan.

4. Pengangkutan B3
Dasar Hukum dalam penyelenggaraan Angkutan B3 untuk
mewujudkan lalu lintas dan angkutan B3 yang selamat, aman, lancar,
tertib dan teratur adalah :
A. Undang Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan; Pasal 40 : Pengangkutan bahan berbahaya,
barang khusus, peti kemas, dan alat berat diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
B. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan
Jalan Pasal 13 ayat 2 : Pengangkutan barang terdiri dari barang
umum, barang berbahaya, barang khusus, peti kemas, dan alat
berat;
C. Keputusan Presiden Nomor 21 tahun 2003 tentang pengesahan
protocol 9 Dangerous goods (protokol 9 barang berbahaya);
Merupakan hasil kesepakatan antara negara 9 (sembilan negara),
yaitu : Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia,
Myanmar, Philipina, Singapura, Thailand dan Vietnam;

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 19
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

D. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 69 Tahun 1993 tentang
Penyelenggaraan Angkutan Barang di Jalan; Sesuai dengan pasal
12 pengangkut bahan berbahaya wajib mengajukan permohonan
persetujuan kepada Dirjen Perhubungan Darat sebelum
pelaksanaan pengangkutan.

5. Tata Cara Pengangkutan B3
a. Pengepakan barang-barang berbahaya, seperti drum baja, drum
plastik, kantung plastik, dan berbagai macam kotak, dirancang
dengan seksama dan dibuat untuk memastikan bahwa isi benar-
benar aman selama perjalanan angkutan darat.
b. Silinder gas sangat kuat, yang memungkinkan benda itu menahan
tekanan gas dengan aman dibagian dalam, namun untuk alasan ini,
silinder gas tersebut juga sangat berat. Yang terbaik barang
diangkut tegak lurus di rak yang ada pada kendaraan, di tempat
penyimpanan (crib) atau rangka yang bisa buka-tutup.
c. Satu masalah khusus dengan pengangkutan barang-barang
berbahaya adalah beberapa bahan bisa bereaksi bahaya dengan
lainnya jika mereka secara tak sengaja bercampur. Misalnya, asam
bisa bereaksi dengan garam logam untuk menghasilkan gas
dengan kadar racun tinggi.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 20
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun
DAFTAR PUSTAKA

Hawley, Chris. Hazardous Materials Incidents, 2008. Thompson Delmar
Learning, Canada.

M. De Lisi, Steven. Hazardous Materials Incidents : Surviving The Initial
Response, 2006. Penn Well Corporation, Oklahoma, USA.

Ahmadi, ZB, Prinsip-prinsip Keselamatan Muatan Angkutan Barang
Berbahaya dan Beracun (B3),
http://www.hubdat.go.id/pustaka/ensiklopedia/
llaj/angkutanb3.pdf ditelusuri tanggal 25 Juli 2005.

Classification Of Dangerous Goods, http://www.mineral.csiro.au/safety/
saferes.htm, ditelusuri 31 Maret 2006.

Course manual, Integrated programs of Hazardous materials, Hazardous
Waste and Emergency Management, Jakarta 1996.

Department of Transportation (DOT) Dangerous Goods Classifications,

Oklahoma State University,

http://www.pp.okstate.edu/ehs/ Training.htm. ditelusuri

31 Maret 2006.

Essentials of Proper Chemical Storage, www.aphis.usda.gov/mrpbs/
safety_security/library/essentials_of_proper_chemical_st
orage.pdf , ditelusuri tanggal 15 Juli 2006.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 21
Provinsi DKI Jakarta

Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun

Kementerian Lingkungan Hidup, Status Lingkungan Hidup Indonesia
2004, http://www.menlh.go.id/i/bab8 b3 dan limbah
b3.pdf ditelusuri 25 Juli 2006.

Kementerian Lingkungan Hidup,2006, Bahan Berbahaya Beracun dan
Limbah B3, Draft SLHI 29 April 2006,
http://www.menlh.go.id/i/8.Draft%20B3%20dan%20LB3
.pdf?PHPSESSID=8ac59154220e1214ad0ee05ab456accd
ditelusuri 10 Juni 2006.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan 22
Provinsi DKI Jakarta


Click to View FlipBook Version