Kumpulan Cerpen
Untuk Anak Usia
Sekolah Dasar
Selamat Membaca !!
Loly
(Faustine Fiona Eka Farah Dewi)
Sinar mentari menyelinap masuk di antara celah-celah jendela kamar Fio, menandakan
harinya sudah harus dimulai. Fio bangun dan tersenyum. Dia siap memulai hari.
“Selamat pagi, Bunda”, sapa Fio yang kini sudah duduk manis di meja makan dengan
seragam sekolahnya.
Bunda menghampiri Fio ke meja makan sembari menyerahkan segelas susu, “Selamat pagi
sayangnya Bunda.”
Dari arah lain, Ayah Fio datang menuju meja makan dan mereka bertiga sarapan bersama.
Fiona Nafisya, teman-teman lebih akrab memanggilnya sebagai Fio. Fio seorang gadis cantik
dan periang. Saat ini dia duduk di kelas III sekolah dasar dan merupakan murid berprestasi
di sekolah.
Di sekolah, Fio berteman dengan teman-teman sekelasnya tanpa mau membeda-bedakan.
Dea dan Isa adalah sahabat Fio sejak mereka berumur 3 tahun, karena kebetulan mereka
juga tinggal di satu komplek yang sama.
Suatu hari, Fio sedang bermain bersama Dea dan Isa
di taman komplek.
Tiba-tiba, “miaww...miaww...”, Fio mendengar
suara kucing. Kemudian Fio langsung bergegas
mencari sumber suara itu, dan betapa terkejutnya
Fio saat menemukan seekor kucing kecil yang
tercebur ke selokan. Tanpa berpikir panjang Fio
langsung mengambil kucing itu dari selokan dan membawanya menghampiri Dea dan Isa yang
sedang asik bermain.
“Fio, apa itu?” tanya Isa yang penasaran karena Fio membawa sesuatu di tangannya.
“Iya, apa yang kamu bawa itu Fio?” tanya Dea yang juga penasaran.
Mereka langsung menghampiri Fio.
“Ini aku tadi nemuin kucing kecil ini di selokan sana.” Kata Fio sambil mengelus-elus kucing
yang ada di tangannya itu agar kotoran yang menempel di kucing itu hilang.
“Iihh ngapain kamu ambil, kucingnya itu kan kotor,” protes Dea yang merasa jijik dengan
kucing yang sekarang dalam keadaan sangat kotor itu.
“Dea, jangan gitu, kucing kan juga ciptaan Allah, jadi kita juga harus menolongnya,” jelas
Isa pada Dea. “Fio, ayo kita bersihkan dengan air keran itu,” Isa dan Fio langsung
membawanya ke keran yang ada di ujung taman. Dea yang kini menjadi kasihan dengan
kucing tadi langsung mengikuti Isa dan Fio.
Mereka bertiga pun membersihkan kucing itu dengan air keran. Setelah selesai, betapa
terkejutnya mereka karena kucing yang Fio temukan tadi sangat cantik dan imut dengan
bulu berwarna putih dan cukup tebal. Dea pun yang semula merasa jijik kini menjadi gemas
dengan kucing itu.
Akhirnya, Fio pulang bersama Lolly setelah mereka puas bermain bersama Dea dan Isa di
taman. Ya, kucing kecil yang Fio temukan tadi telah mereka beri nama Lolly.
Sesampainya di rumah, Fio langsung menelfon dan meminta Ayahnya yang masih di kantor
untuk membelikan rumah dan makanan untuk Lolly. Fio menceritakan kepada Bunda
bagaimana dia menemukan Lolly. Bunda tidak marah, justru Bunda sangat bangga karena
Fio mau menolong kucing kecil yang terjatuh ke selokan. Kemudian Bunda membantu Fio
untuk membersihkan Lolly lagi agar Lolly menjadi lebih cantik dan bersih.
Ayah Fio akhirnya pulang dengan membawa rumah dan makanan untuk kucing sesuai
pesanan Fio.
“Terima kasih Ayah, Fio sayang Ayah,” Fio memeluk sang Ayah dan mengambil rumah kucing
itu dari tangan Ayah. Kemudian Fio langsung membawanya ke taman belakang yang sudah
Ia dan Bunda siapkan untuk Lolly.
Dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya, Fio menata tempat tinggal Lolly
sedemikian rupa dan Lolly juga tampak sangat menyukainya.
.
Pagi-pagi sekali, setelah bangun dari tidur, Fio langsung menuju ke taman belakang untuk
melihat Lolly, namun kucing kecil itu masih tertidur di tempatnya. Fio tersenyum dan
kembali masuk ke rumah untuk mandi dan sarapan.
.
“Ting tong.. ting tong..” bel rumah Fio berbunyi.
“Dea, Isa,” panggil Fio bergantian, mereka pun berpelukan. Ternyata Dea dan Isa yang
datang, dan mereka mau bermain dengan Loly.
“Ayok kita ke belakang, Lolly aku buatkan tempat tinggal di taman belakang.” jelas Fio pada
Dea dan Isa.
Sesampainya di taman belakang, mereka langsung bermain bersama Lolly, memberi makan
Loly, mendandani Lolly, dan menghias rumah Lolly menjadi lebih cantik. Mereka bertiga
menghabiskan waktu seharian di rumah Fio, karena hari ini adalah hari Ahad, jadi mereka
libur sekolah.
“Lucu banget sih Lolly,” ucap Dea gemas sambil menggendongi Lolly. “Maafin Dea ya, waktu
itu Dea nggak suka sama Lolly karena Lolly kotor banget” sambung Dea. Isa dan Fio pun
tersenyum melihat Dea yang serius meminta maaf dan Lolly yang seolah-olah mengerti
dengan ucapan Dea.
“Tuh kan De, Isa bilang juga apa. Bunda Isa juga ngajarin Isa kalo kita harus menolong dan
membantu siapapun yang membutuhkan bantuan kita, sekalipun itu adalah hewan maupun
tumbuhan, karena hewan dan tumbuhan juga kan ciptaan Allah yang harus kita jaga dan
sayangi juga, hehe” ujar Isa sambil mengusap-usap bulu Lolly yang sangat lembut.
Kemudian Fio, Isa, dan Dea pun berpelukan dengan Lolly yang masih dalam gendongan Dea.
Fio sangat senang karena telah menemukan Lolly dan membawanya pulang ke rumah, jadi
dia tidak merasa kesepian lagi saat di rumah. Dea dan Isa pun jadi lebih sering bermain dan
mengerjakan tugas sekolah di rumah Fio karena mereka juga menyukai Lolly.
- selesai-
Kura-Kura dan Kelinci
(Lestari Nur Rahmawati)
Di tepi Sungai di suatu hutan, hiduplah sekumpulan binatang. Binatang-binatang itu
tinggal di Desa Animal. Desa tersebut di huni oleh kura-kura,kelinci,gajah, tupai dan hewan-
hewan lainnya. Suatu saat, kura-kura bersama gajah sedang berjalan menyusuri hutan
sembari mencari makan. Tepat nya mereka berdua akan pergi ke kebun makanan milik
gajah. Gajah dan kura berjalan bersama sambil bercanda ria, namun setengah perjalanan
kura-kura merasa lelah karena perjalanan yang jauh dan kura yang jalannya sangat lambat.
“ ayo lah kura lama sekali kamu” ucap gajah yang tidak menghiraukan kura yang sedang
kelelahan. “ aku lelah sekali gajah apakah kebun mu masih jauh?” sahut kura sambil
bernafas terengah-engah. “ masih sedikit lagi..ayolah kura sebentar lagi!!” jawab gajah
dengan nada keras,sambil menunggu kura yang tengah berhenti karena lelah.
Setelah lama mereka beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan nya ke tempat
kebun buah milik gajah. Pohon pisang sudah terlihat di mata gajah yang sebenarnya masih
jauh sekali dilihat oleh kura yang badannya kecil dari gajah. “ wah sudah hampir sampai
kura, ayo cepat!!” seru gajah kepada kura yang jalannya masih dibelakang gajah. Gajah
tidak bisa menunggu kura yang sangat lambat jalannya. Lalu, gajah berjalan lebih dulu untuk
sampai ke kebunnya. Gajah terkejut saat sampai di kebun pisang miliknya itu, tkarena
seluruh pisang telah habis dimakan oleh tupai dan kelinci yang sangat rakus. “ ayo tupai
habiskan semua pisang ini,sebelum gajah datang!” ucap kelinci kepada tupai sambil
mengendap-endap. Gajah sangat marah ketika seluruh pisang nya habis “ ha apa ini mengapa
pisang ku habis semua” ucap gajah yang sangat sedih. Kura-kura akhirnya sampai dikebun
pisang milik gajah itu. “ada apa gajah mengapa kau menangis,bukan kah ini kebun mu ayo
kita makan ”ajak kura yang tidak tahu bahwa seluruh pisang telah habis. ”apa kau tidak
lihat seluruh pisang ku habis” sahut gajah dengan nada sedih dan menangis. “ maafkan aku
gajah,ini karena kau menungguku berjalan sangat lambat dan akhirnya kebun mu sudah
hancur” ucap kura dengan sedih.
Akhirnya setelah kenyang merampas seluruh pisang milik gajah, kelinci dan tupai pun
keluar dari kebun itu dan melihat gajah yang sedang menangis. “ hahaha, terimakasih ya
gajah, aku sudah kenyang” ucap kelinci yang rakus sambil membawa pisang yang belum
dimakannya itu. “ wah iya aku juga kenyang terimakasih ya gajah, kebun pisang mu ini
sangat luas buah nya juga manis”, tambah tupai dengan licik. Gajah tidak menyangka bahwa
buah pisang miliknya dirampas oleh kelinci dan tupai. “jahat sekali kau tupai,kelinci, ini
kebun milikku”, seru gajah dengan nada tinggi. “ jahat sekali kalian merampas kebun gajah”
tambah kura dengan nada kecewa. “ ini semua karena kalian lambat, apalagi kamu kura
lambat sekali jalannya” seru kelinci yang mengejek kura. Gajah tidak tega melihat kura
yang dihina oleh kelinci, “ hey jangan seperti itu, dia tidak licik sepertimu kelinci!!” sahut
gajah yang membela kura. “kalau aku jalannya lambat memang kenapa?” jawab kura dengan
penuh percaya diri. Kelinci dan Tupai yang sangat licik itu mengajak kura-kura untuk
bertanding lari, karena kelinci tahu bahwa kelinci yang akan menang. “Bagaimana kalau kita
lomba lari saja kura,Pasti kau takut kan? Ahaha” ajak Kelinci penuh dengan kesombongan.
“siapa takut, aku terima tantanganmu”, jawab kura dengan penuh percaya diri. “ kalau aku
menang kebun gajah jadi milikku, dan jika kau yang menang maka aku tak akan merampas
kebun mu”, ujar tegas kelinci. Gajah dengan lantang menjawab “baiklah jika itu maumu,
jangan kau hina sahabatku lagi” tegas gajah yang sangat dendam kepada kelinci.
Tiba saatnya perlombaan dimulai, kura,kelinci,tupai, gajah dan penghuni desa
animal lainnya sudah ditempat garis start lari. Kelinci dengan sombong mengatakan
“sudahlah kura menyerah saja”, “tidak akan!” tegas kura. “ayo kelinci kau pasti bisa” seru
tupai yang licik itu. Gajah yang menghitung perlombaan itu “1..2..3...”. Kura dan Kelinci
mulai berlari dan ditengah lomba,kelinci yang sombong itu berhenti sejenak karena kura-
kura yang tidak kunjung menyusul kelinci. “ lama sekali kura-kura itu,lebih baik aku istirahat
dan tidak mungkin dia bisa menang” ucap sombong Kelinci. “ aku pasti menang, aku pasti
menang” ucap kura sambil kelelahan. Kura-kura melihat kelinci yang sedang tidur dibawah
pohon, “ sombong sekali kau kelinci,lihat saja aku pasti menang” akhirnya kura-kura
selangkah lagi sampai garis finish, dan kelinci terbangun mendengar gajah dan hewan
lainnya teriak histeris melihat kura. Kelinci yang sombong itu berlari sangat kencang
mengejar kura, tetapi kura berhasil menginjak garis finish. Kura-kura menang dan kelinci
dan juga tupai mereka saling menepati janjinya yang tidak akan merampas kebun pisang
milik gajah. Akhirnya Gajah, Kura, Kelinci dan Tupai menjadi akur dan bersahabat.
Si Kuning Ceria
(Annisa Nur Aulia Arrazaq)
Di suatu pedesaan, yaitu desa Kembang terdapat sebuah perkebunan yang asri dan
indah. Kebun itu memiliki banyak jenis tumbuhan dan bunga-bunga yang bermekaran.
Pemilik perkebunan itu ialah keluarga bapak Hendra. Banyak orang yang selalu berkunjung
di kebun itu untuk melihat berbagai jenis bunga. Dari orang asli desa itu sendiri maupun
orang-orang dari kota. Hingga akhirnya perkebunan itu dijadikan sebuah tempat wisata.
Ketika ada pengunjung yang bukan asli desa itu dan hendak masuk ke kebun tersebut,
mereka harus membayar dengan uang sebanyak sepuluh ribu untuk biaya perawatan
perkebunan.
Banyaknya jenis tanaman dan bunga yang ada di kebun tersebut membuat banyak
orang berdatangan untuk melihat secara langsung. Terutama pada bagian jenis bunga-bunga
yang indah dan juga ada berbagai jenis bunga yang jarang ditemui, seperti bunga mawar
hitam, bunga Anggrek ungu, bunga Lilac, bunga Lavender, bunga Melati, bunga Mawar
dengan berbagai jenis dan warna serta yang tak pernah sepi dikunjungi ialah bunga Matahari.
Petak bunga Matahari ini sangat ramai dikunjungi karena bunganya yang mekar indah dan
warna kuning yang cerah memberikan kesan kebahagiaan.
Suatu hari, perkebunan pak Hendra dikunjungi oleh anak-anak dari sekolah dasar
kota Jakarta untuk berpariwisata. Di perkebunan itu anak-anak melihat berbagai macam
tanaman dan diajarkan untuk berlatih cara menanam serta merawat tanaman/bunga yang
baik dan benar. Anak-anak tersebut memperhatikan pak Hendra dengan baik cara menanam
bunga Matahari. Dalam menanam bunga Matahari ini, pak Hendra menjelaskan bahwa ada
beberapa tahap, “Baik anak-anak, supaya bunga Matahari yang kita tanam dapat tumbuh
dengan baik, maka kita juga harus menanamnya dengan benar.” “Pertama, kita harus
siapkan dahulu bahan peralatannya. Ada pot, sekop, tanah, dan bibit bunga Matahari tentu
saja. Kedua, masukkan tanah menggunakan sekop kedalam pot. Tetapi jangan sampai full,
cukup setengah pot saja. Kemudian, langkah ketiga masukkan bibit bunga Matahari itu dan
terakhir tambahkan lagi tanah ke dalam pot hingga penuh agar bunga Matahari itu dapat
berdiri tegak dan tumbuh dengan baik. Dan jangan lupa untuk menyiram bunga Matahari ini
dua hari sekali, bisa dilakukan pagi hari ataupun sore hari.”penjelasan pak Hendra.
Anak-anak mempraktikan cara menanam bunga Matahari itu dengan baik, kemudian
ada salah satu anak yang menjadi pusat perhatian pak Hendra. Anak itu bernama Dita.
Setelah mengamati cara menanam bunga Matahari, eskpresi dari wajah Dita berubah. Dari
yang awalnya tampak ceria, tiba-tiba ekspresi wajahnya menjadi sedih dan lebih banyak
diam. Hingga akhirnya, pak Hendra mendekati Dita dan bertanya, “apakah kamu mengalami
kesulitan dalam menanam bunga ini, nak?”. Dita terkejut dan menjawab, “Oh tidak pak.
Saya bisa melakukannya.”. “Jika kamu bisa melakukannya, mengapa raut wajahmu seperti
merasakan kesedihan?” tanya pak Hendra. “Ketika saya melihat bunga Matahari ini, saya
teringat oleh kakek saya. Dulu kakek pernah memberikan bunga Matahari yang indah untuk
saya. Tetapi sayangnya bung aitu sekarang sudah rusak dan mati karena tidak saya jaga
dengan baik. Sebab itulah saya menjadi sedih.” Jelas Dita. “Oh jadi begitu.. Jangan bersedih
Dita.. Tenang saja, setelah kamu selesai menanam, bunga Matahari ini akan jadi milikmu”
jawab pak Hendra dengan tersenyum. “Bapak serius? Apakah saya harus membayar bunga
ini? Jika iya, berapa harga bunga ini, pak?” tanya Dita dengan kegirangan. “Hahaha kamu
tidak perlu membayar. Bunga ini bapak berikan kepadamu gratis tanpa biaya apapun.. tetapi
kamu harus janji kepada bapak.” Penjelasan pak Hendra. “Janji ap aitu pak?”tanya Dita.
Kemudian pak Hendra menjawab, “Kamu harus berjanji untuk merawat bunga Matahari ini
dengan baik dan benar. Tidak lupa untuk memberi pupuk, membasmi hama serta
menyiramnya sesuai dengan langkah-langkah yang bapak jelaskan tadi. Bagaimana, setuju
tidak?”. Dengan rasa bahagia Dita menjawab, “Baik pak, siappp.. saya akan merawat bunga
ini dengan sangat baik. Saya berjanji tidak melakukan kesalahan yang sama..”. “Oke
baiklah.. Kalau begitu selesaikan dulu itu menanam bunganya..” kata pak Hendra. “Iya pak,
siap. Terima kasih pak Hendra, Terima kasih atas pemberian bunga Matahari ini..” kata Dita
yang terharu dan bahagia. “Iya sama-sama.. Nah, begitu dong ceria kembali.. Sama seperti
bunga Matahari ini yang cantik dan ceria seperti kamu, nak”. Dita pun tersenyum dan tersipu
malu. “Yasudah lanjutkan. Kamu sudah hampir tertinggal dari teman-temanmu” kata pak
Hendra. “Baik pak, siap” jawab Dita. Setelah acara penanaman itu selesai, Dita dan teman-
temannya kembali ke Bus untuk pulang. Ekspresi Dita tidak berubah setelah diberi bunga
Matahari oleh pak Hendra, ceria dan bahagia.
Daisy
(Musfiroh Suci Masyudah)
Aqueena daisy yang biasa dipanggil Daisy adalah seorang remaja yang pekerja keras yang
berimpi memiliki rumah sendiri.Dia wanita terhormat dengan perbuatan baik. Dia sangat
menyukai bunga Aster atau bunga daisy karena mirip dengan namanya.
Suatu hari, kerang aneh membawanya kedunia yang berbeda .
Daisy terkejut saat membuka kedua matanya, saat ini dia sedang bersandar dan setengah
berbaring dikursi santai, dihadapannya terdapat pemandangan taman bunga yang indah dan
sangat megah diman disekelilingnya terdapat gerbang tinggi dengan keamanan yang beitu
ketat.
Terdapat juga kolam renang yang begitu luas yang berada ditengah-tengah taman, terlihat
anjing yang begitu lucu dengan warna putih bercampur abu-abu yang berada didalam
kandang tak jauh dari tempat kolam renang. Daisy terduduk dan bingung dengan situasi saat
ini.
Menatap sekelilingnya dengan penuh tanda tanya, dimana ini? Tempat apa ini?bangunan
terlihat seperti mansion bak istana kerjaan.Apakah dia sedang bermimpi? Apakah dia berada
disurga?Daisy mengernyit heran dia ingat betul sebelum sampai ketempat ini dia sedang
membantu menanam bunga dirumah nenek.
Daisy menundukan arah padangnya dan menatap kearah tubuhnya.Rambut coklat
panjang,kulit putih tubuh yang putih mulus.Daisy berpikir apakah dia sedang
bertransmigrasi? Seperti cerita-cerita yang ia baca. Tapi melihat sekitar dan dengan
penampilan seperti ini, itu berarti dia menjadi orang kaya??.
“tunggu-tunggu pakaian ini terlihat lebih berkelas dan sangat mahal.” Ucap Daisy berbicara
sendiri.
Entah mengapa daisy merasa ada yang aneh saat ini,seminggu yang lalu ia meminta cuti
selama 3 hari karena libur nasional dan ia sedang membantu menanam bunga dirumah
nenek.
Setelah kerja keras, akhirnya impiannya tercapai,akhirnya impiannya tercapai untuk
membeli sebuah rumah.meskipun yang dibeli tidaklah terlalu besar. Untuk merayakan
rumah barunya daisy memilih pergi ke rumah neneknya untuk membantu menanam bunga .
Hari pertama liburan dia menemukan cangkang keong ditanah dekat dengan rumput-rumput
ilalang kebetulan dia akan membersihkan rumput-rumput itu.Daisy berencana membawanya
untuk dijadikan aksesoris dikamarnya namun saat dia mengambil cangkang ia merasakan
bahwa badannya ikut terseret kedalam cangkang dan berakhir ditempat ini.
Ahh, Daisy pusing sekarang. Terlalu banyak kejuta. Dia tidak bisa menikmati liburanya malah
pindah kedunia aneh ini.Huh! rumah yang baru dibayar lunas malah tidak ditempati.Ingin
rasanya Daisy menangis sekarang, untung saja ada maid yang datang menghampiri Daisy.
Daisy masuk kedalam kamar lagi-lagi ia terkejut menatap ruangan yang ada didalam kamr
yang begitu mewaah lebih luas dari rumah barunya yang ada didunianya.
Tak terasa daisy sudah tinggal ditempat ini selama 6 bulan. Daisy rindu dengan teman-teman
dan nenek nya mesipun bukan nenek kandung. Akhirnya Daisy meutuskan untuk pergi
kepantai. Setelah sampai dipantai Daisy berenang dipantai naas saat berenang kaki Daisy
kram dan tiba-tiba ia tenggelam.
Saat terbangun Daisy berada dibawah pohon beringin yang begitu rindang. Yaa Daisy kembali
kedunia asalnya.
Daisy tersenyum melihat kehidupan yang pernah ia rasakan ia sangat bersyukur bisa
merasakan rumah yang ia impikan
-selesai-
KISAH ADI DAN SEORANG PENGEMIS
(Alifia Nugrahaning Saputri)
Disebuah desa kecil yang jauh dari kota-kota besar, tinggallah seorang laki-laki yang
bernama Adi bersama keluarga kecilnya. Adi memiliki seorang istri dan dua anak yang harus
adi nafkahi. Sayangnya saat itu sedang terjadi hujan yang terjadi beberapa hari berturut-
turut yang menyebabkan adi kesulitan untuk mencari uang demi memberi makan istri dan
kedua anaknya. Persediaan makanan pun dirumah sudah habis dan tidak cukup untuk hidup
dihari esoknya.
Kemudian istri adi menghampiri adi dengan membawa 5 singkong yang didapatnya dari
kebun belakang. Dan istri adi pun berkata bahwa persediaan bahan makanan habis, hanya
tersisa 5 buah singkong ini yang diambilnya dikebun belakang rumah. Adi menyuruh sang
istri intuk memasak singkong tersebut agar anak-anaknya bisa makan terlebih nanti, adi
memikirkan bagaimana caranya agar adi mendapatkan uang untuk membelikan makan
keluarganya. Adi memutuskan keluar untuk mecari uang dan membeli bahan makanan
walaupun sedang hujan.
Ketika hendak keluar membuka pintu rumah, tiba-tiba ada seorang pengemis yang mengetuk
pintu rumah adi. Melihat pengemis yang sudah tua dan
renta serta kelaparan membuat adi tidak tega dan
memberikan 5 buah singkong yang sudah dimasak sang istri
kepada seorang pengemis tersebut, pengemis menerima 5
buah singkong dan mengembalikan 2 buah singkong kepada
adi. Seorang pengemis meminta adi untuk memberikan 2
buah singkong tersebut untuk dimakan oleh kedua
anaknya.
Setelah seorang pengemis tersebut berterimakasih dan
pergi meninggalkan adi, secara ajaib 2 buah singkong yang
dipotong tersebut yang setiap potongnya menghasilkan 5
buah singkong yang baru begitupun seterusnya. Alhasil keluarga adi tidak lagi kekurangan
bahan makanan untuk kehidupan sehari-harinya, bahkan adi bisa menanam sisa singkong
untuk dijadikan bahan panen adi nanti, dan sisanya adi berikan kepada tetangga dan orang
yang kurang mampu.
Dari kejadian tersebut adi mengajarkan kepada anak-anaknya betapa indahnya berbagi
kepada sesama apa lagi kepada orang yang membutuhkan. Bahkan disaat sedang kesusahan
pun jika membatu orang lain pasti akan mendapatkan balasan yang berkali lipat dalam
bentuk apapun yang tidak ketahui dan tidak kita duga. Oleh karena itu adi selalu
mengajarkan kepada keluarganya untuk jangan segan membantu orang lain yang sedang
kesusahan dan berusaha untuk membantu sebisa mungkin sesuai dengan kemampuan yang
kita miliki.
KISAH SEEKOR ANGSA YANG BURUK RUPA
(Heni Nur Hayati)
Pada pagi hari yang cerah terdapat ibu itik yang sedang mengerami telur-telurnya, karena
hari sudah pagi ibu itik meninggalkan telur-telurnya untuk mencari makan.Selepas mencari
makan dan kembali ke kandang ternyata telur-telurnya pun sudah menetas dan anak itik
semuanya menghampiri induknya, ibu itik sangat senang sekali melihat anak-anaknya sudah
menetas namun terdapat satu telur yang di erami nya masih juga belum menetas. Kemudian
ibu itik kembali mengerami telur tersebut sambil berharap agar telurnya cepat menetas,
tak lama kemudian telur tersebut akhirnya menetas juga dan apa yang terjadi? Itik yang
menetas terakhir tersebut berbeda dengan itik yang lainnya, itik tersebut memiliki postur
tubuh yang lebih besar dan warnanya juga kehitam-hitaman. Saudara itik lainnya pun
mengejek saudaranya sendiri dengan sebutan “ Itik buruk rupa” dan ibu itik pun juga merasa
kebingungan mengapa anaknya berbeda sendiri bentuknya dengan saudara-saudaranya.Akan
tetapi ibu itik tetap memberikan kasih sayang ke semua anak-anaknya tanpa pilih kasih.
Kemudian, ibu itik beserta anak-anaknya bersama-sama mencari makanan. Disetiap
perjalanan ketika ibu itik dan anak-anaknya bertemu dengan hewan yang lainnya, semua
hewan mengejek salah satu dari anaknya. “ hey ibu itik,kenapa salah satu anakmu itu buruk
rupaa hahaha jelek sekali warnanya tidak cocok untuk jadi seekor itik” “ Kata Sapi”. Ibu itik
hanya terdiam dan selalu menenangkan anaknya yang buruk rupa agar tidak sedih. Ketika
hari sudah larut malam itik buruk rupa selalu meyendiri dan selalu menangis sendiri tanpa
sepengetahuan ibu itik karena selalu di ejek oleh hewan lainnya.
Keesokan harinya, ibu itik mencari makanan sendiri di tepi sungai tiba-tiba sekelompok
pemburu datang untuk memangsa itik yang sedang mencari makanan, itik-itik sudah
berusaha meyelamatkan diri akan tetapi ibu itik pun tertembak. Hari sudah menjelang
malam itik si buruk rupa merasa khawattir kenapa ibunya belum kembali, kemudian ia
memutuskan untuk mencari ibunya sambil tanya dengan hewan yang lain.Namun tidak ada
satu pun yang tahu keberadaan ibu itik. Hari telah berganti musim saat itu sedang musim
salju itik buruk rupa sudah tidak sanggup untuk berjalan, tiba-tiba ada seorang kakek yang
menemukan itik buruk rupa lalu menolongnya dan merawatnya hingga besar. Kakek merawat
itik buruk rupa dengan tulus. Beberapa tahun kemudian ketika itik buruk rupa sudah besar,
itik tersebut dilepaskan oleh kakek.Ketika berada di sebuah sungai itik buruk rupa kaget
sekali karena paras tubuhnya berubah menjadi putih,indah sekali,ia tak menyangka ternyata
ia sebenarnya tidak buruk rupa. Pada waktu itu ternyata itik buruk rupa bukan dari telur itik
akan tetapi dari telur angsa yang jatuh dari sarangnya kemudian jatuh di sarang itik.
Kemudian ia merasa sudah tidak malu lagi dan ingin menunjukkan kepada semua hewan yang
dulu megejeknya bahwa ia memiliki paras tubuh yang indah. Ketika sedang menuju arah
pulang, angsa tersebut bertemu dengan segerombolan angsa putih lainnya dan mereka
mengajak angsa tersebut untuk ikut dengan gerombolannya dan mereka sekarang sudah
hidup bahagia.
Semut dan Burung Merpati
(Putri Eka Puspitasari)
Pada suatu hari didalam hutan semut sedang berjalan-jalan mencari makan. Saat sedang
mencari makan semut merasa kehausan. Semut pun berjalan menuju sungai untuk minum.
saat sedang minum semut terpeleset kesungai. “tolong” teriak semut, tetapi daerah sekitar
sungai sangat sepi tidak ada binatang lain disekitar. Semut terbawa arus sungai sambil terus
berteriak.
Dari kejauhan diatas sebuah pohon seekor burung merpati melihat semut yang terbawa arus.
Saat semut sudah dekat dengan pohon burung merpati menjatuhkan sebuah daun dan
berkata “semut naiklah keatas daun” mendengar perkataan burung merpati semut pun
berusaha menggapai daun tersebut. Setelah kerja keras semut akhirnya ia dapat menaiki
daun. Daun pun menepi dan semutkan dapat selamat. “ terimakasih merpati” ucap semut.
Merpati pun terbang mendekati semut “sama-sama semut, lain kali hati-hati ya. Aku pergi
dulu” balas merpati yang langsung terbang.
Beberapa hari kemudian seorang pemburu datang kehutan. Di tengah perjalanan sang
pemburu melihat seekor burung merpati yang sedang hinggap diatas pohon. Tanpa merpati
sadari sang pemburu sudah mengarahkan pistol kepadanya. Namun beruntung, dari balik
pohon semut melihat kejadian tersebut. Semut pun langsung berlari mendekati yang
pemburu kemudian semut mengigit kaki sang memburu. Pemburu pun berteriak kesakitan
”aarrghhh” sambil memegang kakinya. Mendengar teriakan tersebut merpati terkejut dan
terdasar bahwa pemburu sedang mengincarnya. Merpati langsung terbang menjauh. Semut
sangat gembira karena dapat membalas budi kepada burung merpati. Setelah kejadian
tersebut semut dan burung merpati menjadi sahabat yang akan selalu bersama baik dalam
suka maupun duka dan akan saling melindnyngi satu sama lain.
Dari cerita semut dan burung merpati kita dapat belajar untuk saling menolong bila melihat
orang kesusahan, jangan lupa mengucapkan terimakasih setelah diberi sesuatu oleh orang
lain, serta dila ada kesempatan balaslah budi orang yang telah menolong kita dengan
kemampuan yang kita miliki.
Bangau Sang Penghianat
(Marlina Rizky Suryaningsih)
Dahulu kala hiduplah seekor bangau yang memiliki sahabat seekor gagak dan kepiting di
tengah hutan. Gagak dan kepiting sangat mempercayai bangau. Suatu ketika bangau
menemui gagak untuk diajak mencari makan, namun datanglah seekor monyet yang
menyapa mereka sambil mengatakan bahwa gagak memiliki tubuh yang cantik, putih, dan
mengkilat. Ketika monyet memberikan pujian terhadap gagak, bangau merasa iri terhadap
pujian yang diberikan oleh monyet kepada gagak. Bangau tidak terima dan mengatakan
bahwa dirinya juga tidak kalah cantik, namun monyet lebih menyukai gagak. Bangau pun
bertanya kepada gagak ramuan apakah yang membuat dirinya bisa memiliki tubuh yang
cantik dan putih. Karena gagak memiliki sifat yang baik, ia pun memberikan resep ramuan
tersebut kepada bangau.
Sesampainya di rumah, bangau mencoba ramuan yang diberikan oleh gagak. Resep ramuan
tersebut merupakan resep yang digunakan gagak untuk mempercantik dirinya. Keesokan
harinya, bangau merasa ada perubahan pada dirinya. Ia merasa bahwa tubuhnya semakin
putih dan mengkilat. Ia menggunakan ramuan tersebut selama beberapa hari agar tubuhnya
semakin cantik. Terbesit dalam pikiran bangau untuk tidak akan mengembalikan resep
tersebut agar dirinya menjadi yang tercantik di hutan tersebut. Beberapa hari kemuadian,
gagak menghampiri ke rumah bangau untuk meminta ramuan pemutih kembali. Setelah
dipanggil gagak berulang kali, bangau baru menampakkan dirinya. Gagak takjub dengan
perubahan yang dialami oleh bangau. Gagak meminta kembali ramuan pemutih kembali,
tetapi ketika bangau mengambilkan ramuan ternyata ramuan tersebut sudah dicamur
dengan ramuan lainnya dan disiramkan kepada gagak sehingga tubuh gagak berubah menjadi
hitam. Gagak tidak terima akan pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabatnya, ia pun
mengejar bangau hingga pergi jauh.
Setelah kejadian pengkhiatan kepada gagak, bangau pergi mencari makan ke danau. Ia
sangat kesal karena ikan-ikan yang hidup di danau sangat sulit ditangkap. Tiba-tiba ada
seekor kepiting yang menghampiri bangau yang ternyata sahabatnya dahulu sebelum ia
bersahabat dengan gagak. Kepiting mengatakan bahwa ikan-ikan yang ada di danau adalah
teman-temannya. Pemikiran licik bangau kembali, ia berpikiran untuk menipu kepiting. Ia
mengatakan kepada kepiting bahwa akan mencarikan tempat yang lebih luas dan memiliki
pemandangan indah. Kepiting memikirkan pendapat dari bangau dan membicarakannya
kepada ikan-ikan. Mereka pun menyetujuinya.
Keesokan harinya, bangau kembali ke danau untuk memindahkan ikan-ikan tersebut ke
tempat yang sudah disetujui dengan membawanya satu persatu. Namun, seekor kancil tidak
sengaja menemukan tulang-tulang ikan yang berserakan di hutan dan ia tidak sengaja
mendengarkan pembicaraan tersebut. Kancil pun ke danau ia mendapati kepiting dan
bertanya mengenai ikan-ikan yang dibawa oleh bangau. Kepiting menjelaskan semuanya
yang terkait, kemudian kancil menjelaskan semuanya kepada kepiting mengenai
pengkhianatannya bangau. Akan tetapi, kepiting tidak memercayainya dan ingin
membuktikannya sendiri. Paginya, kepiting menanyakan keberadaan teman-temannya
apakah dalam keadaan baik-baik saja. Ia pun meminta kepada bangau untuk membawa
menemui ikan, ditengah perjalanan kepiting melihat tulang ikan berserakan. Kepiting tidak
segan-segan menggigit ekor bangau sehingga jatuh ke tanah. Sayap bangau hingga patah
akibat gigitan kepiting dan tidak ada yang menolong. Dari sini dapat diambil hikmahnya
bahwa jadi orang harus setia kawan, bertanggung jawab, dan memiliki hati yang baik
janganlah merusak kepercayaan orang lain demi kepentingan sendiri.
KEONG EMAS
(Rizky Cahyaningtyas)
Pada zaman dahulu kala ada seorang Raja yang mempunyai dua orang putri. Putri itu
bernama Galuh Ajeng dan Candra Kirana. Suatu hari, raja hendak menikahkan Candra Kirana
dengan Raden Inu Kertapati. Mendengar hal itu, Galuh Ajeng menjadi marah. Ternyata,
diam-diam Galuh Ajeng juga menyukai Raden Inu. Karena kesal, Galuh Ajeng meminta
penyihir mengubah Candra Kirana menjadi keong emas. Lalu, Galuh Ajeng membuang keong
tersebut ke laut. Hari demi hari berlalu. Keong emas tanpa sengaja tersangkut di jala
nelayan. Nelayan itu ternyata seorang nenek, “Wah, keong ini cantik sekali. Aku akan
membawanya pulang,” pikir si nenek. Sesampainya di rumah, keong emas diletakkan di atas
tempayan. Keesokan harinya, nenek itu kembali mencari ikan. Ketika pulang, alangkah
terkejutnya si nenek. Di meja makan sudah tersedia berbagai makanan lezat. Hal yang sama
terus berulang. Setiap kali si nenek pulang dari laut, di meja makan selalu tersedia
makanan. Akhirnya, si nenek pura-pura pergi ke laut. Sebenarnya, dia bersembunyi dan
mengintip di luar rumah. Dia sangat terkejut melihat keong emas berubah menjadi seorang
gadis yang cantik. Gadis itu sedang memasak. “Siapakah engkau sebenarnya, gadis cantik?”
tanya si nenek sambil masuk ke rumah.“Aku adalah putri yang dikutuk menjadi keong emas,”
kata Candra Kirana yang kaget melihat si nenek.
Sementara itu, Raden Inu terus mencari Candra Kirana. Setelah berjalan jauh, akhirnya dia
tiba di sebuah desa nelayan. Raden Inu merasa sangat haus. Dia pun mendatangi sebuah
rumah untuk minta minum. Dari balik jendela, dia melihat Candra Kirana sedang memasak.
Akhirnya, kutukan Candra Kirana hilang. Kutukan tersebut hilang karena dia sudah
ditemukan oleh kekasihnya yaitu Raden Inu. Raden Inu lalu membawa pulang Candra Kirana.
Sesampainya di Kerajaan, mereka akhirnya melangsungkan acara pernikahan dan hidup
bahagia.
Si Jambul
(Luthfi Khairunisa)
Aldo melamun di depan toples berisi seekor ikan cupang. Rendi sahabat terbaiknya, baru
saja pindah rumah. Sebelum pindah rumah Rendi menitipkan ikan cupang itu sebagai
perpisahan. “Jambul” panggil Aldo pada ikan kesayangan Rendi itu, “kapan ya, aku bisa
main kelereng sama Rendi lagi”? Sebenarnya, Aldo tidak rela Rendi pindah. Sudah sedari
kecil mereka bertetangga dan selalu bermain bersama. Bahkan saat Rendi akan berangkat,
Aldo menangis kencang. Dia merajuk agar diperbolehkan ikut ke rumah baru Rendi.
Beberapa hari kemudian, air di dalam toples si Jambul sudah terlihat keruh. Aldo
memindahkan si Jambul ke dalam gayung berisi air bersih. Lalu,dia menyikat toples si
Jambul hingga bersih dan mengkilat, kemudian mengganti semua air keruh di dalamnya.
Aldo senang si Jambul berenang kembali di dalam toples yang bersih. Aldo bertambah
gembira karena mendapat pesan dari Rendi “Aku akan mampir kerumahmu hari Minggu ini,
sekalian mau kerumah Kakek,” tulis Rendi pada sebuah pesan singkat.
Hari Minggu yang ditunggu-tunggu tiba. Begitu bangun Aldo langsung menengok si Jambul.
Namun sesuatu yang tidak diharapkan terjad. “JAMBUL” pekik Aldo. Wajahnya langsung
berubah memucat. Dia sangat terkejut melihat si Jambul sudah mengambang dipermukaan.
HUHUHUHU…! Serunya sedih.
Menjelang siang, Rendi datang ke rumah Aldo. Begitu dia tiba, Aldo langsung mengulurkan
tangan dengan muram.“Maafkan aku, Ren. Si Jambul …. mati…,” ucapnya lirih.Rendi
terdiam dan terlihat sedih, Dia juga merasa sedikit marah. “Kenapa bisa mati, ikan
kesayanganku?” tanya Rendi.“Maaf, Ren”. Ujar Aldo lagi. Dia menyerahkan sebuah kantong
penuh kelereng pada Rendi. Rendi membuka isi kantongnya. “ini kan… emua kelereng
milikmu, Do”. Akhirnya mereka berpelukan, menangisi kematian si Jambul dan
menguburkanya bersama. Itulah peremanan sejati, selalu bergandeng tangan untuk
menghadapi suka duka bersama.
Kancil dan Siput
(Nova Dwi Suwanto)
Suatu hari di sebuah hutan, ada seekor siput yang yang sedang mencari makan. Dia sudah
berkeliling cukup lama, dan akhirnya dia menemukan sebuah pohon jambu yang buahnya
sangat banyak. Siput itu menunggu dibawah pohon jambu, berharap ada buah yang jatuh.
Setelah cukup lama, ada buah jambu yang jatuh dan letaknya jauh dari siput. Saat siput
berjalan mendekati buah, buah tersebut sudah diambil oleh burung. Siput merasa kesal,
tapi apalah daya, ia memang berjalan sangat lambat. Kemudian siput menunggu lagi, dan
ada buah jambu yang jatuh, tapi hal itu terulang lagi dan kali ini diambil oleh seekor kura-
kura. Siput merasa sangat marah. Kemudian dia menunggu lagi sambil waspada dan berusaha
mengingatkan hewan lain bahwa itu adalah buah miliknya. Setelah beberapa saat siput
melihat buah jambu yang akan jatuh, dan bersamaan dengan itu, siput melihat seekor kancil
yang berjalan mengarah ke buah jambu yang akan jatuh. Siput berteriak “heii kancil, itu
buahku jangan kau makan” kata siput sekuat tenaga. Tapi kancil tidak mendengarnya,
akhirnya siput menggelundungkan tubuhnya kearah jambu dan jambu tersebut malah
menancap di cangkang siput. Siput berusa memanggil kancil agar tidak memakan jambu
tersebut, karena ada cangkangnya yang menancap. Tapi kanciltidak bisa mendengarnya,
akhirnya kancil menggigit buah jambu dan cangkang siput tapi. Siput berteriak sangat keras,
dan kancil langsung melepaskan gigitannya. Cangkang siput itu berlubang karena gigitan
kancil, kemudian siput marah-marah.
“ Hai kancil, apakah kau tidak mendengarku? Lihat cangkangku jadi berlubang karena mu.
Aku dari tadi di sini menunggu buah jatuh untuk ku makan tapi semuanya diambil oleh
hewan-hewan itu dan mengataiku labat” (ujar siput sambil menangis)
“ Maaf siput, aku tidak bisa mendengarmu, tapi kenapa kau harus marah kau kan memang
lambat”. (ujar kanci sambil tersenyum)
“ Oh, kau mengataiku lambat, kalau begitu aku akan menantang mu untuk berlomba lari
besok di tengah hutan”. (ujar siput sambil berteriak dengan perasaan marah)
“Kau menantangku lomba lari? Apakah kau yakin, tapi aku akan menerima tantanganmu”.
(ujar kancil sambil tertawa)
Keesokan harinya semua penghuni hutan datang untuk melihat pertandingan lomba antara
kancil dan siput. Kemudian mereka bersiap-siap dan langsung berlari. Saat itu siput
menggelundungkan tubuhnya lagi, dan kancil sampai kewalahan karena siput ternyat begitu
cepat. Sampai di dekat garis finish, kancil keheranan kenapa siput bisa begitu cepat dan
dengansekuat tenaga kancil berlari tapi siput berhasil memenangkan pertandingan itu.
Kancil sangat bingung dan kecewa karena diabisa kalah dengan siput yang mencari makan
saja berkali-kali di ambil oleh hewan lain karena begitu lambat.
Kemudian kelinci yang menjadi wasit ingin memberikan hadiah kepada siput, tapi kelinci
bingung harus menancapkan rangkaian bunga itu dimana. Kemudian kancil bilang kepada
kelinci bahwa dicangkang siput ada lubang dan bisa ditancapi rangkaian bungaitu. Kelinci
kebingungan lubang yang mana, dicangkang siput tidak ada lubang. Kemudian kancil
mengeceknya, ternyata benardi cangkang siput tidak ada lubang, padahal kancil ingat betul
kalau cangkang siput itu berlubang karena gigitannya. Kemudian kancil meminta kelinci
tidak memberikan hadiah itu dulu. “Itu bukan siput yang menantangku lomba, siput yang
menantangku lomba memiliki lubang dicangkangnya”, ujar kancil. Kemudian kancil
mengintrograsi siput, ternyata saat berlomba lari tadi siput tidak sendiri, dia meminta
bantuan teman-temannya dan berpencar di sepanjang perlintasan lomba lari. Siput
melakukan itu semua karena tidak ingin menjadi ejekan hewan-hewan lain dan mereka juga
ingin mendapatkan makanan seperti hewan lain. Setelah mendengar semua kata-kata siput,
seluruh binatang di hutan itu bisa hidup berdampingan lagi, hewan-hewan lain juga sering
membantu siput saat mengambil makanan.
Mimo Si Pembuat Onar
(Nilam Pritami Nur Azizah)
Suatu hari di sebuah hutan yang rimbun tinggallah seekor monyet yang bernama Mimo.
Diantara beberapa temannya Mimo adalah monyet yang sangat agresif, lincah, jail dan suka
membuat keributan kepada teman-temannya. Hampir semua menjauhi Mimo karena mereka
sudah bosan dengan perilakunya yang suka membuat keributan dihutan setiap hari. Suatu
hari Mimo sedang berjalan-jalan sambil memegang perutnya yang tengah kelaparan dia
mencari-cari makanan namun tidak dapat saat itu, keadaan hutan sedang kemarau dan
tumbuhan dihutan sedang kering tidak ada tumbuhan yang berbuah. Suatu ketika Mimo
melihat kebun yang berisi berbagai macam buah-buahan dan sayur-sayuran yang banyak
hampir semua macam buah dan sayur ada dikebun itu. Mimo berinisiatif ingin mengambil
buah-buah yang ada dikebun itu tanpa sepengetahuan pemiliknya secara diam-diam karena
perutnya sudah lapar seharian belum makan Mimo tanpa berpikir panjang mengendap-
ngendap mencuri buah pisang yang ada dikebun itu. Lalu keesokan harinya pemilik kebun
Bu Kelinci yang akrab dipanggil Buci itu memeriksa kebunnya yang sudah 2 hari tidak
dilihatnya sekaligus ingin memanen beberapa buah yang sudah matang. Buci kaget saat
melihat buah-buah yang ada dikebunnya sudah habis tidak tersisa “ lho kemana semua buah-
buahku ini kok tiba-tiba habis padahal 2 hari lalu masih ada”. Kata Buci dalam hati. Lalu
Buci memberitahu Pak kura yang akrab dipanggil
Pakur teman terdekat Buci mengenai kondisi kebunya
saat itu. Buci sambil menangis menceritakan
semuanya karena itu adalah peserdiaan makanan
dimasa kemarau ini. Sampai suatu ketika cerita
tersebut terdengar oleh Mimo yang kebetulan
mendengar berita itu tidak kehabisan akal Mimo
membuat cerita palsu untuk menutupi kesalahannya
itu dengan menuduh Pakur yang mencuri semua buah-
buah yang ada dikebun Buci. Dengan menyebarkan
gosip berita yang tidak benar Mimo mengumpulkan
teman-teman yang ada dihutan lalu memulai aksinya membuat berita palsu “hey teman-
teman kalian tahu nggak siapa yang mencuri buah buahan di kebun Buci?” tanya Mimo
kepada teman-temannya. “ belum tahu Mimo pelakunya” jawab Keong mas. Kasian ya Buci
padahal itu adalah persediaan makanan yang sudah dipersiapkan sebelum musim kemarau
datang” teman-teman di hutan merasa kasihan kepada Buci. “ sudah-sudah aku tahu siapa
pelakunya.” Jawab Mimo yang merasa tidak bersalah. Emang siapa Mimo yang sudah mencuri
buah-buahan di kebunya Buci?. Tanya Gajah kepada Mimo. “Yang sebenarnya mencuri itu
adalah teman terdekat Buci yaitu Pakur.(Pak Kura).” Jawab Mimo dengan lantang dan keras.
Hah…? kok bisa..? bagaimana ceritanya sampai Pakur bisa mencuri dikebun Buci? Padahalkan
Pakur teman terdekatnya Buci.” Teman-teman dihutan bertanya- tanya tentang apa yang
dikatakan Mimo itu. “ Itu tidak mungkin Mimo aku tahu Buci dan Pakur sudah berteman lama
tidak mungkin Pakur pelakunya toh hubungan mereka baik-baik saja sejak dahulu.” Jawab
tegas Burung Jalak. “Nah justru itu teman terdekat adalah yang mematikan.” Balas Mimo
dengan meyakinkan teman-teman dihutan. “eh iya ya bisa jadi orang terdekat yang tahu
semuanyakan ya, benar juga yang dikatakan Mimo.” Kata Semut merah.
Semua yang ada dihutan mulai memandang sinis Pakur dan tidak ingin berbicara dengannya.
“mengapa semua memandangku seperti itu ya? Apakah aku punya salah kepada mereka?”
kata Pakur dalam hati. Pakur yang saat itu belum menyadarinya mengenai berita palsu yang
dibuat Mimo itu masih bersikap biasa saja dan tak ingin tahu mengapa mereka memandang
sinis kepadanya. Sampai dirumah seperti biasa Pakur mebersihkan rumahnya yang
berantakan karena daun-daun jatuh berserakan dihalamannya. Buci yang awalnya
berhubungan baik dengan Pakur seketika marah besar kepada Pakur karena telah mendengar
berita yang dibuat Mimo itu. “Hey Pakur kalau kamu ingin buah yang ada dikebunku bilang
saja tidak usah mencuri dan berpura-pura baik kepadaku selama ini!!!.” Kata Buci dengan
nada tinggi hingga menimbulkan suasana yang tegang.“ Apa yang kamu katakan Buci selama
ini kita berteman baik dan kamu tahu aku bagaimana orangnya bagaimana bisa kamu
menuduhku seperti itu tanpa bukti yang jelas.” Jawab Pakur dengan sabar. Itu buktinya
“Mimo melihatmu mencuri buah-buahan yang ada di kebunku.” Jawab Buci. Setelah
kejadian itu hubungan Pakur dan Buci menjadi renggang dan tidak saling menyapa satu sama
lain. Mimo terus menghasut Buci supaya membenci Pakur sehingga ia bisa mengambil buah-
buahan yang ada dikebunnya Buci. Suatu ketika tengah malam gelap gulita Mimo merasa
lapar sehingga ia berinisiatif untuk mencuri buah-buahan yang ada di kebun Buci tanpa
berpikir panjang dan ditengah malam pasti keadaan hutan sepi dan yang lain sudah pada
tidur, nah disitulah rencana Mimo mulai beraksi. Ketika itu Pakur juga sudah berencana
untuk menjebak Mimo yang sudah membuat cerita buruk tentang dirinya sehingga dibenci
semua penduduk dihutan dan Buci. Pada saat Mimo sedang asyik makan buah Pakur
memergokinya “ Hey Mimo sedang apa kau disini?” tanya Pakur. “E …e…. akuu… lagi bersih
–bersih dikebun Buci” jawab Mimo dengan rasa takut dan terbata-bata. “oh ternyata kamu
ya pelakunya selama ini. Kamu sudah membuat cerita buruk tentangku sehingga aku dibenci
oleh semua penduduk di hutan ini.” Pakur berbicara. Buci di dalam rumahnya yang tidak
jauh dari kebun mendengar suara keributan lalu Buci keluar dan mendapati Pakur dan Mimo
saling berbicara. “ Kalian sedang apa dikebunku? Dan mengapa buah-buahan habis?” tanya
Buci. “ Ini pelaku yang menghabisi semua buah-buahan yang ada di kebunmu Buci.” Jawab
Pakur. “Oh ternyata kamu Mimo yang sudah membuat cerita jelek tentang Pakur sehingga
hubungan kami menjadi tidak baik.” Kata Buci dengan penuh emosi. Seketika itu Mimo
langsung pergi lari dengan cepat.Ppada saat itu keadaan gelap gulita Mimo terjebak
diperangkap pemburu sehingga ia tidak bisa keluar dan akhirnya Mimo dibawa Si Pemburu
entah kemana semua penduduk hutan tidak mengetahuinya. Dengan tidak adanya Mimo
suasana di hutan kembali tentram, aman dan sejahtera.
MONYET BERBULU PUTIH
(Stenly Adinda Putri Budiyanto)
Dahulu kala disebuah hutan yang lebat jauh dari pemukiman penduduk, hiduplah beraneka
macam hewan didalamnya. Ada singa sang raja hutan, harimau, kancil, gajah, si cantik
angsa, monyet, dan masih banyak lagi. Mereka semua hidup rukun berdampingan dengan di
pimpin oleh sang raja hutan yakni Maharaja Singa yang perkasa dan bijaksana.
Suatu hari monyet, angsa, kancil, gajah, dan harimau sedang bermain bersama di lembah
hutan, mereka sangat bergembira saat kancil sedang mendongengkan cerita kepada mereka.
Karena kancil sedang bercerita burung merak yang sangat cantik parasnya maka gajah pun
dengan spontan berbicara bahwa burung merak yang diceritakan sang kancil itu sama
cantiknya dengan si cantik angsa. Mendengarkan perkataan tersebut monyet yang merasa
dirinya juga cantik layaknya burung merak yang diceritakan oleh kancilpun ikut menanggapi
ucapan gajah “Wahai gajah yang kau katakan itu benar memang angsa itu cantik, tetapi ada
yang lebih cantik dari angsa di hutan ini”. Ucap sang monyet kepada gajah. Lantas gajahpun
menganggapi ucapan sang monyet “Siapakah itu monyet hewan yang lebih cantik dari angsa
di hutan ini?”. Mendengar pertanyaan dari sang gajah lalu monyet pun tersipu malu dan
segera menjawab dengan percaya diri dan dengan suara yang lantang “AKULAH ORANG
TERCANTIK DI HUTAN INI” dan tak lupa diakhiri dengan senyuman bangga yang
menyertainya. Mendengar ucapan dari monyet semua orang yang ada di sana tertawa
terbahak-bahak terutama sang gajah, bahkan gajah juga berkata “Wahai monyet sadarlah,
jangan terlalu percaya diri kau itu, jelas-jelas dihutan ini yang paling cantik itu adalah si
cantik angsa. Lihatlah bulu angsa yang putih bersih cantik, bukan seperti rambutmu yang
hitam dan sangat jelek itu”. Mendengar perkataan dari gajah maka monyet sangat sedih
hatinya bagai tersayat-sayat beribu pisau di hatinya, dan dengan menangis akhirnya monyet
pergi meninggalkan teman-temannya. Melihat hal tersebut kancil merasa bersalah dan
kasihan dengan sang monyet karena ceritanya monyet jadi bahan olok-olok teman-
temannya. Sendangkan gajah dan teman-teman lainnya tetap saja masih menertawakan
ucapan dari monyet tadi.
Monyet disepanjang jalan terus menangis memikirkan ucapan dari sang gajah tadi yang
sangat menyakitkan untuk dirinya. Sudah lelah berjalan akhirnya sang monyet berhenti dan
tetap menangis sesenggukan, dan dia tertelap tidur karena kecapekan menangis sepanjang
jalan. Ke esokan harinya saat monyet membuka mata dia dibuat kaget karena tibatiba
dihadapannya ada kancil yang sedang memandangi dirinya. Melihat hal tersebut kancil
tertawa dan segera meminta maaf kepada monyet, dan sebagai ucapan maaf kancil akan
membantu monyet selama sehari full ini. Mendengar hal tersebut monyet tersenyum dan
mendapatkan ide bahwa dia akan meminta kancil mencarikan batu gamping yang telah
ditumbuk halus untuk kemudian ditaburkan dirambut sang monyet agar rambut monyet
berubah warna menjadi putih dan dapat cantik seperti angsa. Kancil hendak menolak
permintaan gila dari monyet tetapi karena dia sudah berjanji untuk membantu monyet
sehari full ini jadi dia dengan pasrah menyetujui dan segera mencari batu gamping.
Setelah sudah menyiapkan batu gamping halus sesuai dengan permintaan monyet, akhirnya
kancil membantu menaburkan batu gamping halus tadi ke rambut sang monyet. Setelah
selesai sang monyet begitu senang dan segera berlalu meninggalkan kancil tak lupa smabil
berterimakasih kepada kacil. Karena tingkah monyet yang mencurigakan akhirnya kancil
menyusul monyet. Ternyata monyet pergi keteman-temannya yang kemarin
menertawakannya dan menganggapnya jelak itu, seraya berkata “Hai teman-teman lihatlah
sekarang rambutku sudah berwarna putih dan cantik seperti angsa” ucapnya. Lantas hal
tersebut tentu saja kembali mengundang tawa dan ejekan dari teman-temannya pasalnya
monyet jadi seperti badut yang tiba-tiba berubah menjadi putih. Melihat hal tersebut
monyet kembali menangis dan kancilpun segera menghampiri monyet untuk
menengangkannya.
Ternyata dari kejauhan sang Maharaja Singa melihat dan memantau anak-anak remaja itu,
dan segera menghampiri mereka. “Kenapa kalian senang sekali mengejek monyet sampai
dia menangis seperti itu, tidakkah kalian lihat bahwa monyet itu sudah cantik dengan bulu
hitamnya yang menawan. Ingat bahwa setiap hewan itu diciptakan dengan bentuk yang
berbeda-beda dan bentuk yang sempurna sehingga kita tidak boleh mengejek atau
mengolok-olok bentuk tubuh hewan lainnya, sampai sini paham?” Ucap sang Maharaja Singa
kepada segerombolan anak-anak remaja itu yang diangguki oleh semuanya. Lalu teman-
teman monyet yang tadi mengejeknya meminta maaf kepada monyet dan dimaafkan dengan
senang hati oleh monyet.
Kisah Kakek dan Leo
(Zanuar Prastiwi)
Terik matahari yang begitu panas membuat seorang kakek meneduh di bawah pohon pisang.
Namanya Kakek Susanto. Setiap hari Kakek Susanto mencari kayu bakar dan dijual di pasar
ke esok harinya. Kakek Susano hidup sebatang kara, istrinya meninggal dua tahun yang lalu.
Sedangkan ankanya sudah menikah dan tidak pernah mengunjunginya lagi.
Kakek Susanto tinggal di gubug reyot yang setiap hujan atap rumah selalu bocor. Maklum
saja, atap rumahnya hanya terbuat dari daun kelapa yang dianyam. Seperti biasa kakek
pergi ke hutan untuk mencari kayu pada siang hari. Setelah beberapa lama mencari kayu,
tiba-tiba kakek mendengar suara jeritan hewan. Kemudian ia mencari kesana-kemari tetapi
tidak ketemu.
Setengah jam mencari, akhirnya kakek menemukan seekor anjing yang kakinya terjepit
diantara tumpukan kayu. Kakek bergegas untuk menolongnya. Dengan susah payah kakek
membongkar tumpukan kayu dan mengeluarkan kaki anjing. Anjing tersebut sudah lemah
tidak berdaya. Kemudian kakek menggendong dan membawanya pulang ke rumah.
Setelah sampai rumah kakek memberi obat agar
kaki anjing bisa cepat sembuh. Setelah
beberapa minggu di rawat oleh kakek, anjing
tersebut bisa sembuh dan sudah bisa berjalan.
Kemudian kakek memberi nama untuk anjing
dengan nama Leo. Hari-hari kakek
menyenangkan setelah kehadiran Leo. Setiap
sore, Leo menunggu kakek di teras depan sambil
berlari kesana-kemari. Terkadang jika kakek
pulang terlambat, Leo menunggu sampai
ketiduran.
Seperti biasa setelah dari pasar untuk berjualan kayu bakar, kakek melanjutkan
pekerjaannya dengan pergi ke hutan pada siang hari. Tak lupa kakek membawa gerobak
dan sabit untuk mencari kayu. Siang ini lumayan panas, dan kebetulan kayu-kayu kering di
hutan begitu banyak hingga membuat kakek kewalahan. Kayu-kayu yang sudah dikumpulkan
dimasukkan ke dalam gerobak untuk dibawa pulang. Kakek pulang dengan wajah bahagia
karena kayu yang dikumpulkan hari ini begitu banyak.
Kakek menarik gerobaknyya pelan-pelan, tiba-tiba di jalan tanjakan gerobak tidak bisa
berjalan, kakek menjadi panik. Ia berteriak meminta tolong kepada warga sekitar tetapi
tidak ada satupun warga yang lewat. Disisi lain, Leo menunggu kakek seperti biasa. Tetapi
kali ini belum ada tanda-tanda kakek datang padahal hari sudah menjelang magrib. Karena
Leo khawatir dengan kakek, Leo langsung bergegas menuju hutan.
Sayup-sayup Leo mendengar sebuah teriakan, ia berlari semakin kencang, dan ternyata
benar itu adalah kakek. Kakek dalam kesulitan, ban gerobak kakek kempes membuat
beberapa kayu yang tertumpuk rapi menjadi berantakan di jalan. Dengan keadaan letih,
kakek memungut satu-persatu kayu dan dimasukkan ke dalam gerobak. Tiba-tiba kakek
terkaget melihat kedatangan Leo.
Kakek kaget bercampur terharu, ada seseorang yang bisa membantunya walaupun seekor
hewan. Dengan semangat, Leo mendorong gerobak kakek dari belakang hingga sampai depan
rumah. Sampai rumah Leo di beri daging yang besar sebagai imbalan.
Semut dan Belalang
(Nita Nur Eka Wati)
Pada Zaman Dahulu saat musim panas penuh dengan penuh dengan bunga yang mekar,
hewan dihutan burung dan serangga paling menikmati musim ini karena tak kesulitan dalam
mencari makanan. Itu juga hari biasa bagi belalang pemalas, ia memakan akar tanaman
herbal yang ia ambil sambil memainkan biola dan bernyanyi “Ooo Sungguh hari yang indah
lalala ku akan bermain dan bernyayi dengan biolaku”. Setelah selesai menyanyi sepuasnya
ia mendengar suara berisik dan mencoba mencari asal suara itu. Dan belalang melihat jejak
semut di kejahuan mereka berbaris seperti tentara dengan susah payah para semut
membawa biji-bijian dan buah kering yang jatuh dari pohon. Belalang melompat ketanah
dan kebingungan sambil melihat barisan semut itu menghilang. “Aku tak pernah melihat
semut ini mereka selalu bekerja” ujar belalang. Dia melihat seekor semut mendatanginya
semut itu membawa biji yang lebih besar dari badannya. Saat akan melewati belalang semut
itu menjatuhkan biji yang ia bawa, sebenarnya ia perlu istirahat dan belalang menatapnya
dengan mata hampa.
“Apakau pindah ke suatu tempat” tanya Belalang “bukan” jawab Si Semut. “Kalau begitu
boleh ku tanya kau sedang apa” tanya Si Belalang. “Kami membawa makanan ke sarang
kami” jawab semut. “Ooh begitu kalian psti menunggu banyak tamu malam ini” tanya Si
belalang. “Emm kami menyimpan makanan untuk musim dingin” jawab semut. “Kau
menyimpan makanan untuk musim dingin untuk apa? Dan selain itu kenapa buru-buru, musim
dingin masih lama bersenang-senanglah nikmati saja musim panas ini” Ujar Belalang.
Semut itu sudah muak mendengar omong kosong belalang dan mencobaa menggendong biji
yang dibawanya. “Aku harus mengejar teman-temanku apa kau mau bantu taruhkan biji ini
kepunggungku” semut meminta tolong ke belalang. “ penyanyi dan seniman sepertiku tidak
boleh membawa beban berat” jawab belalang. Setelah mendengar jawaban belalang semut
menatap belalang dengan heran dan teru mencoba menggendong biji itu. Dan akhirya
belalang belalang membantu semut dan mengangkatkan biji yang besar itu dari tanah dan
menaruhnya di punggung semut, semut berterimakasi dan melanjutkan perjalanannya.
Belalang melanjutkan berbaring di bawah pohon setelah memaakaan sesuatu ia melanjutkan
bermain biola. Musim panas berlanjut dan para semut terus membawa makanan ke sarang
mereka. Sementara itu belalang terus makan, berjalan-jalan, bermain biola dan bernyanyi.
Akhirnya musim dingin tiba, suatu pagi saat semut bangun mereka melihat keluar sarang
dan melihat semunya tertutupi salju. Sebuah semut kecil menghawatirkan hewan lain yang
kedinginan membeku dan lapar. Disamping itu karna semua tanaman tertutup salju belalang
belum makan apapun selama berhari- hari ia mengigil tenaganya hilang dan tidak bisa main
biola atau bernyanyi. Dengan susah payah dia berjalan di atas salju, tiba-tiba dia berfikir
tentang hari-hari dimusim panas. Saat itu dia mengingat semut dia membawa makanan ke
sarangnya sepanjang musim panas kemudian dia menyadari kalau dia tidak suka ide. Dia
mengejek semut selama musim panas, dia bertanya-tanya apa semut bisa membantunya.
Dan sekarang cuaca terlalu dingin untuk berjalan. Ia berjalan lurus ke sarang semut ia berdiri
didepan pintu dan berteriak.
“Apa ada orang disana tolong bantu aku” ujar Belalang. “siapa itu” tanya semut.
“Temanku semut ini aku belalang tolong biarkan aku masuk” jawab belalang dengan sisa
tenaga.
Setelah mendengar keributan itu ratu semut mendekati semut kecil. “ ada apa siapa yang
butuh bantuan” tanya Ratu semut. “ hanya belalang pemalas yang duduk bernyanyi
sepanjang hari ratuku, kupikir dia lapar dan minta bantuan” jawab semut kecil. Ratu dan
semua semut lain mendekati pintu depan sarang dan membukaknya. Belalang terbaring
disalju karena sudah sangat lemah. Para semut segera mengangkat belalang dan
membawanya kedalam sarang, dan belalang sehat kembali berkat kehangatan sarang semut.
Mereka memberikan air dan makanan dan sekarang dia merasa jauh lebih baik. Belalang
berterima kasih kepada ratu dan berjalan ke arah semut kecil.
“Aku sangat tidak adik kepadamu saat kau bekerja sepanjang musim panas aku duduk dan
hanya bernyanyi dan sebenarnya kau mengingaatkan mu tapi aku tidak menganggap serius
aku menyesalinya” Ujar belalang dengan rasa menyesal. “Ini harusnya jadi pelajaran besar
untuk mu kami juga ingin bersenang-senang selama musim panas, tapi kami harus
memikirkan masa depan juga jika kami tidak mengumpulkan selama musim panas kami
mungkin ada di posisimu sekarang” nasehat dari semut.
Belalang tinggal di sarang semut selama beberapa waktu ia kini lebih baik dan lebih sehat.
Saat tiba waktunya pergi semut memberi makanan kepada belalang. “ Terima kasih atas
segalanya kLIn menyelamatkanku dan aku tak akan melupakannya dan aku tidak akan tak
akan bermalas-malasan sekrang”Ujar Belalang. Belalang dan Semut pun berpelukan dan
menjadi teman baik.
SELESAI....
Anak Kecil Dan Keranjang Sampah
(Aminah Nur Hanifah)
Pada suatu desa ada seorang anak kecil yang hidup bersama kakeknya. Ia anak yang baik
hati tetapi teman-temannya selalu mengejek dan menghinanya,hingga pada suatu hari ia
lelah menjadi orang baik ia marah ia melampiaskan kekesalannya kepada kakeknya. Lalu
kakeknya berkata mengapa kamu marah marah seperti itu nak. Aku lelah kek kenapa orang
orang selalu jahat kepadaku padahal aku selalu berbuat baik kepada mereka aku selalu
membantu mereka tetapi tidak ada balasan untukku jadi untuk apa aku berbuat baik. Lalu
kakeknya menjawab "apakah kamu ingin tau jawabannya"
"Ya kek aku ingin tau"
"Akan kakek jawab tetapi kamu harus melakukan satu hal yang akan kakek perintah kan
selama satu bulan"
"Apa itu kek"
"Ambillah air di sungai menggunakan keranjang sampah tersebut dan bawa pulang"
Lalu anak tersebut menjawab "keranjang itu memiliki banyak lubang kek mana bisa aku
membawa air sampai kerumah"
"Lakukan saja apa yang kakek perintahkan"
Lalu anak kecil tersebut pergi ke sungai dengan membawa keranjang sampah yang
berlubang-lubang mengisinya dengan air dan membawanya pulang ke rumah,karena
keranjang sampah tersebut berlubang maka air yang dibawa dari sungai kerumah tinggal
sedikit bahkan hampir tidak tersisa tetapi ia tetap melakukannya sampai satu bulan
kedepan.
Setelah satu bulan anak kecil tersebut berkata kepada kakeknya "sudah satu bulan kek jadi
apa jawabannya"
"Apa yang kamu dapat selama satu bulan membawa air dengan keranjang sampah"
"Tidak ada yang aku dapat kek karena keranjang tersebut memiliki banyak sekali lubang
airnya habis ketika sampai dirumah"
"Cobalah lihat keranjang sampah itu yang awalnya sangatlah kotor menjadi bersih karena
secara tidak sadar kamu mencucinya dan lihatlah rumput di jalan yang kamu lewati setiap
hari yang awalnya kering sekarang menjadi subur dan hijau karena terkena air yang kamu
bawa setiap perbuatan yang kamu lakukan akan ada balasan nya akan ada akibat nya
meskipun kamu tidak menyadari itu jadi tetaplah berbuat baik karena itu sama hal nya kamu
berbuat baik untuk dirimu sendiri nak. Jadi bagaimana sekarang"
"Maafkan aku kek aku akan tetap berbuat baik kepada siapapun. Terimakasih kakek suda
mengingatkan aku untuk menjadi orang yang baik"