The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by swasabasri, 2022-12-15 01:28:58

[draft] Laporan Purworejo

[draft] Laporan Purworejo

i

ii

iii

iv

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI v
KATA PENGANTAR vii

BAB I PENDAHULUAN 1
8
BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK 22
28
BAB III POTENSI DASAR DAN PERMASALAHAN 38
42
BAB IV ANALISIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN 44

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

v

Tentang SRI

Swasaba Riset Inisiatif (SRI) adalah lembaga pengkajian yang melakukan aktivitas penelitian,
pelatihan dan konsultansi pada berbagai isu strategis pembangunan. Lembaga ini didirikan
oleh para profesional dengan latar belakang akademis dan praktis yang kuat dan memiliki
rekam jejak mengimplementasikan keilmuan dalam berbagai isu pembangunan melalui riset
yang berorientasi kebijakan atau terapan.
Aktivitas SRI diantaranya adalah pada bidang ekonomi dan keuangan daerah, sosial dan
pemerintahan, pertanian dan perikanan, perencanaan dan pembangunan wilayah, konstruksi
dan kerekayasaan, serta transformasi digital.
SRI berkedudukan di Kota Yogyakarta, didukung dengan atmosfer akademik yang kuat sebagai
ikon Kota Pendidikan di Indonesia. Informasi selengkapnya tentang SRI dapat diakses melalui
www.sri.id

vi

KATA PENGANTAR

Yogyakarta, Desember 2022
Tim Peneliti,
Swasaba Research Initiative

vii



Bab I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Potensi sektor pariwisata di Kabupaten Purworejo cukup besar. Selain memiliki wilayah

dengan karakter kepariwisataan yang lengkap, di kabupaten ini juga banyak memiliki aneka ragam
budaya yang tidak kalah dengan kabupaten lain. Kontur wilayah yang lengkap (pegunungan,
dataran rendah, dan pantai) menjadikan kabupaten ini memiliki potensi objek wisata yang dapat
dikembangkan lebih lanjut.

Selain itu, kabupaten Purworejo juga menjadi kabupaten penyangga bagi daerah-daerah
lain yang lebih dulu terkenal sebagai daerah tujuan wisata (DTW). Posisi wilayah yang tidak jauh
dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Magelang, di mana dua wilayah tersebut
sudah terlebih dahulu terkenal sebagai DTW, kabupaten ini sangat memungkinkan untuk tidak
sekadar menjadi wilayah penyangga, tetapi menjadikan Purworejo sebagai DTW baru yang
eksotis dan menarik.

Keberadaan Bandar Udara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang letaknya
berbatasan langsung dengan wilayah Purworejo dan ditetapkannya kawasan Candi Borobudur
menjadi salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas, melahirkan peluang
yang sangat menjanjikan bagi upaya pengembangan kawasan-kawasan di sekitarnya, termasuk
Kabupaten Purworejo. Pada saat ini, Pemerintah Kabupaten Purworejo telah memfokuskan
pengembangan wisata daerah, serta terus memperbaiki pengelolaannya, agar mampu menangkap
peluang yang sudah ada di depan mata.

Kabupaten Purworejo memiliki beberapa objek wisata yang telah dikelola, mulai dari
wisata alam, wisata budaya, dan objek wisata artifisial (buatan). Selain sebagai salah satu sektor
yang diunggulkan untuk menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), sektor pariwisata juga
memiliki dampak ikutan (multiplier effect) yang besar bagi perekonomian masyarakat secara
keseluruhan.

Menyadari pentingnya eksistensi sektor ini, maka Pemerintah Kabupaten Purworejo selalu
memberikan aksentuasi yang kuat atas sejumlah objek wisata. Hal ini ditandai dengan keseriusan
semua pemangku kepentingan (stakeholder) dalam memperhatikan dan membangun sektor
pariwisata. Salah satu tengara dari tingginya perhatian itu adalah besarnya perhatian pihak
legislatif (DPRD). Di mana setiap tahun anggaran selalu dialokasikan dana APBD yang cukup
besar. Namun demikian, di sisi yang lain, pihak eksekutif juga diberikan target pencapaian yang
cukup besar pula.

Selama beberapa tahun, perencanaan pengembangan sektor pariwisata di kabupaten ini
telah dilakukan dengan konsisten. Salah satunya adalah dengan menetapkan target pencapaian
yang didasarkan pada asas-asas incremental dengan menggunakan kaidah-kaidah ekonometrika.
Dengan cara ini, maka target yang dicanangkan akan selalu mengalami kenaikan dari waktu ke
waktu sesuai dengan kecenderungan (trend)-nya.

Secara metodologis, cara semacam ini memang merupakan metode yang paling mudah
dan relatif sederhana. Namun demikian, metodologi ini juga mengandung sejumlah kelemahan
mendasar. Salah satunya adalah cukup rentan terhadap perubahan atas asumsi yang mendasari.
Variabel-variabel eksternal/global yang tidak terduga (epsilon- ­) biasanya menyebabkan
melencengnya tingkat pencapaian dibandingkan dengan target yang ditetapkan.

2

Secara akademis, kelemahan metodologi seperti ini bisa diatasi dengan beberapa cara. Di
antaranya dengan: memperpanjang waktu cakupan data (time series) ke belakang, melakukan
penyandingan (komparasi) data dengan sektor lain (dan atau wilayah lain) yang memiliki
karakter tidak jauh berbeda (cross section). Dengan dua cara tersebut maka titik lemah dapat
diketahui penyebabnya, selain itu titik-titik anomalinya juga akan tergambar jelas dalam kurva.

Selain perhitungan statistik-matematis tersebut, sebenarnya akan jauh lebih akurat lagi
jika perhitungan target juga mempertimbangkan data kualitatif atas kondisi objek di lapangan.
Perubahan-perubahan kondisi yang ekstrem menyebabkan timbulnya anomali, sehingga jika
trend tersebut tidak dilakukan penyesuaian/kalibrasi ulang (adjustment) maka dipastikan
bahwa perencanaan tersebut akan sulit (bisa juga sebaliknya, terlalu mudah) untuk dicapai.

Salah satu faktor yang sudah terbukti sangat “mengganggu” tingkat kepresisian perencanaan
adalah munculnya pandemi Covid-19 (2020-2021). Wabah penyakit ini telah melumpuhkan
hampir semua sendi kehidupan. Terlebih lagi sektor-sektor yang eksistensinya ditopang oleh
mobilitas dan konsentrasi manusia, sebagaimana sektor pariwisata dan transportasi. Objek
wisata yang tiba-tiba kehilangan pengunjung, tentu akan segera diikuti dengan melumpuhnya
semua kegiatan perekonomian yang terlibat di dalamnya.

Kondisi seperti inilah yang terjadi di Kabupaten Purworejo. Target pencapaian yang
dibebankan kepada pihak eksekutif dinilai sudah tidak representatif lagi dengan kondisi objektif
di lapangan. Untuk itu, diperlukan kalibrasi ulang atas sejumlah komponen dalam perencanaan,
sehingga lebih mendekatkan forecasting pada kondisi riil di lapangan.

Dengan menyandingkan data kuantitatif dan kearifan yang diperoleh dari data kualitatif,
maka akurasi perencanaan akan lebih rasional dan objektif. Diraihnya pencapaian di atas target
tidak selalu mencerminkan kinerja yang optimum. Bisa jadi pencapaian tersebut disebabkan
karena terlalu rendahnya target yang diberikan. Sebaliknya, pencapaian yang jauh di bawah
target tidak selalu identik dengan rendahnya kinerja, bisa jadi karena target itu sendiri yang
sesungguhnya terlalu optimis, sehingga mengesampingkan kondisi objektif di lapangan.

Berdasarkan pada deskripsi di atas, maka diperlukan kajian yang mendalam atas tingkat
kewajaran target-target tersebut. Salah satunya dengan cara menghitung kembali potensi atas
suatu objek wisata relatif dengan variabel-variabel lain yang terjadi selama periode waktu
tertentu. Fluktuasi yang diakibatkan oleh anomali akan dapat diketahui setelah cakupan waktu
analisis diperlebar. Akhirnya, penetapan target menjadi lebih rasional, terukur, dan akuntabel.

1.2. Tujuan Kegiatan
Tujuan dari kegiatan Kajian Potensi Penerimaan Retribusi Objek Wisata Kabupaten

Purworejo adalah sebagai berikut:
1) Memaparkan kondisi objektif di lapangan secara deskriptif dan komprehensif.
2) Menghitung potensi objek wisata, terutama yang berkaitan dengan kemampuannya untuk

memberikan pemasukan PAD kepada kas daerah.
3) Memberikan saran dan rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Purworejo dalam

melakukan perencanaan dan pengembangan atas sejumlah objek wisata yang menjadi
objek kegiatan riset ini.

3

1.3. Output Kegiatan
Output dari Kajian Potensi Penerimaan Retribusi Objek Wisata Kabupaten Purworejo

berupa dokumen yang berisi perhitungan angka-angka matematis atas potensi yang dimiliki
oleh sejumlah obyek wisata terpilih, berikut latar belakang yang melingkupinya.

Dokumen tersebut diharapkan akan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam melakukan perencanaan, dan dalam menetapkan target pencapaian pemasukan PAD atas
sejumlah objek wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo.

Selain Dokumen kajian, kegiatan ini juga memiliki keluaran berupa aplikasi Sistem
Informasi Manajemen (SIM) Potensi Penerimaan Retribusi Objek Wisata berbasis web.

1.4. Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup dari kegiatan Kajian Potensi Penerimaan Retribusi Objek Wisata Kabupaten

Purworejo adalah sebagai berikut:
1) Pengumpulan data sekunder, yang terdiri dari data yang bersumber dari instansi resmi

yang relevan dengan objek kegiatan.
2) Pengumpulan data primer yang berasal dari wawancara mendalam dengan responden

di lapangan dengan menggunakan kuesioner dan panduan wawancara. Data primer lain
diperoleh dari diskusi dengan stakeholder yang relevan dengan objek kegiatan.
3) Melakukan analisis data, baik secara kuantitatif menggunakan metodologi terpilih, maupun
secara kualitatif dengan narasi yang mudah dipahami.
4) Memberikan kesimpulan dan rekomendasi atas kegiatan Kajian Potensi Objek Wisata
Kabupaten Purworejo, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai pedoman bagi semua
pihak dalam menyusun perencanaan dan target pencapaian.
5) Lokasi kegiatan terpilih adalah (a). Pantai “Dewa Ruci” Jatimalang, Kecamatan Purwodadi,
(b). Gua Seplawan, Kecamatan Kaligesing, (c). Gedung “Ganeça Convention Hall” di Jl.
Kolonel Sugiono, Kecamatan Purworejo, (d). Kolam Renang “Artha Tirta”, Kecamatan
Purworejo, dan (e). Objek Wisata “Puncak Geger Menjangan” Kecamatan Loano.

1.5. Metodologi
Dalam kegiatan ini, metode pendekatan yang digunakan ada 3 (tiga) cara. Pertama, metode

analisis deskriptif yang disarikan dari data sekunder serta data primer dari kuesioner di lapangan.
Metode ini dipilih untuk menggambarkan secara sistematis, fakta-fakta, serta intensitas hubungan
antarfenomena. Data sekunder didapat dari publikasi resmi yang diterbitkan oleh lembaga yang
memiliki otoritas untuk mengumpulkan data, misalnya Badan Pusat Statistik (BPS), instansi
pemerintah Kabupaten Purworejo yang berhubungan dengan pengelolaan sektor pariwisata.

Kedua, menggunakan metodologi forecasting yang lazim digunakan dalam dunia bisnis dan
manajemen.
1) Teknik kualitatif, menggunakan data subjektif seperti data empiris industri, pengalaman

para pelaku yang langsung terlibat di lapangan, dan pendapat para ahli yang kompeten.
2) Deret waktu dan proyeksi (time series and projection), metode ini berfokus pada perilaku

data historis dan perubahan polanya.

4

3) Model kasual (casual model), yang bergantung data spesifik tentang hubungan antarvariabel.

Ketiga, metode kombinasi satu dan dua di atas (mixed methods). Perhitungan potensi suatu
penerimaan retribusi dilakukan dengan mengalikan tarif retribusi dengan basis retribusi. Secara
khusus, formulasi sederhana perhitungan potensi retribusi adalah.

PPR = TR * BR

di mana: Potensi Penerimaan Retribusi
PPR = Tarif Retribusi
TR = Basis Retribusi
BR =

Tarif retribusi telah ditentukan dalam regulasi (Peraturan Daerah dan atau Peraturan
Bupati). Namun demikian, penentuan basis retribusi cukup kompleks karena basis retribusi
dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Terdapat dua metode untuk menghitung basis retribusi:
a) Analisis data historis
b) Survei lapangan.

Analisis data historis memerlukan data kunjungan di masing-masing objek retribusi.
Analisis data historis menjelaskan tren antarwaktu basis retribusi untuk masing-masing objek
retribusi. Ketersediaan data kunjungan bulanan memberikan kesempatan analisis fluktuasi
kunjungan antarbulan di masing-masing objek retribusi.

Sebagai contoh, berapakah kenaikan kunjungan di akhir pekan dan puncak musim
liburan sekolah? Berapakah kunjungan di periode low-season? Metode survei bertujuan untuk
mendapatkan gambaran terkini atas basis retribusi di masing-masing objek retribusi. Survei
dilakukan untuk tempat wisata dengan fokus pada perhitungan jumlah wisatawan dan jumlah
kendaraan (PSEKP-UGM, 2017).

Diagram 1.1.

Desain Pengumpulan Data

5

Diagram 1. menjelaskan alur kerja tim peneliti dalam melakukan survei dan wawancara
dengan koordinator (contact person) objek wisata dan melakukan observasi langsung. Wawancara
dengan koordinator objek wisata bertujuan untuk mendapatkan informasi dasar terkait dengan
objek wisata tersebut. Informasi tersebut meliputi luas lokasi, jam buka objek wisata, jumlah
wisatawan dan kendaraan dalam beberapa periode musim.

Tabel 1.1.
Matriks Skenario Keramaian
Berdasarkan Jenis Kendaraan

Tim konsultan menyusun matriks untuk mencatat berbagai skenario keramaian di setiap
titik. Seperti ditunjukkan pada Tabel 1, skenario keramaian tersebut meliputi sepi, normal, ramai,
sangat ramai, dan sangat ramai (event khusus atau hari besar).

Tim peneliti melakukan input angka sementara di masing-masing kolom dan baris matriks
berdasarkan wawancara dengan koordinator wisata. Sebagai contoh, wawancara dengan
koordinator wisata mengindikasikan bahwa jumlah wisatawan di situasi sepi adalah sebanyak
100 sedangkan di situasi ramai adalah sebanyak 200 wisatawan. Oleh karena itu, rasio jumlah
wisatawan dalam situasi ramai dan sepi adalah 2.

6

Metode ini digunakan mempertimbangkan kendala waktu dan dana operasional untuk
penelitian lapangan. Data historis juga dapat digunakan untuk menentukan rata-rata pengunjung
di musim sepi, musim normal, musim ramai, dan musim sangat ramai. Statistik tersebut
digunakan untuk verifikasi rasio pengunjung antarwaktu yang berbeda.

Tim peneliti juga menyusun matriks skenario jumlah kendaraan berdasarkan hari dan
waktu. Matriks ini berguna untuk mengakomodasikan perbedaan keramaian antarwaktu
(PSEKP-UGM, 2017). Tim peneliti melakukan wawancara dengan koordinator objek wisata untuk
menanyakan tingkat keramaian tiap blok waktu di setiap hari. Sebagai contoh, berdasarkan
wawancara dengan juru parkir atau penjaga loket, tim peneliti akan memasukkan keterangan
sementara normal (N) di pukul 11:00-13:00 pada hari Senin.

Tabel 1.2.
Matriks Skenario Jumlah Wisatawan

Berdasarkan Hari dan Waktu

7

8

Bab II

GAMBARAN UMUM OBJEK

2.1. Pantai Jatimalang

(1) Deskripsi Umum
Kabupaten Purworejo memiliki garis pantai

sepanjang 22 kilometer yang membentang dari
Sungai Wawar di bagian barat dan Sungai Bogowonto
di bagian timur. Di sepanjang pantai yang menghadap
langsung ke Samudera Hindia ini terdapat beberapa
pantai yang dijadikan objek wisata, baik yang sudah
dikembangkan sedemikian rupa, maupun yang
masih dalam kondisi insitu (genuine) yang belum
mendapatkan sentuhan artifisial.

Selain sebagai objek wisata, kawasan pesisir
tersebut juga digunakan sebagai lahan untuk tambak
udang. Dari muara Sungai Wawar hingga muara
Sungai Bogowonto, terdapat sekitar 11 pantai yang
digunakan sebagai tempat wisata. Berurutan dari
sisi barat, pantai-pantai itu adalah sebagai berikut:
Kertojayan, Genjik, Indahsaka, Munggangsari,
Ketawang, Jetis, Roro Inten, Nusa Plalang, Jatimalang,
Pathuk, dan Jatikontal.

Dari 11 pantai tersebut, Pantai “Dewa
Ruci” Jatimalang merupakan pantai yang telah
dikembangkan dan mendapatkan alokasi dana APBD
Kabupaten Purworejo dalam jumlah yang relatif
besar. Pengembangan pantai ini meliputi prasarana
jalan akses, Taman Dewa Ruci, sarana dan prasarana
sanitasi, pos pengamanan SAR dan Polisi, kios/ruko,
serta Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Taman Dewa Ruci menjadi daya tarik, dibuat
dengan rancang bangun yang baik, dilengkapi dengan
patung Bima yang tengah bergulat dengan Nagabanda.
Patung ini menggambarkan tekad Bima yang begitu
bulat untuk menemukan air kesejatian hidup (tirta
pawitra mahening suci) yang keberadaannya di
Samudera Minangkalbu sebagaimana diamanatkan
oleh sang guru, Begawan Dorna. Patung setinggi
enam meter itu dibuat oleh seniman Muntilan
berdarah Bali, Nyoman Alif. Oleh karena itu, aura
yang timbul dari patung tersebut tidak jauh berbeda
dengan patung-patung di beberapa jalan protokol
kota Denpasar dan sekitarnya.

10

Di pantai ini pula telah dibangun gardu pandang berdinding kaca. Para pengunjung dapat
menikmati pemandangan pantai dari ketinggian. Di ambang senja, jika cuaca cukup baik, dari
gardu pandang ini akan terhampar sajian alam berupa pemandangan matahari terbenam
(sunset). Menyaksikan sang bagaskara tenggelam di horizon laut selatan, adalah sajian alam yang
sungguh mempesona.

Akses jalan menuju ke lokasi ini sudah sangat baik. Terhubung ke jalan raya Daendels
berjarak sekitar satu setengah kilometer. Dari Bandara NYIA, pantai ini hanya berjarak kurang
dari lima kilometer, sehingga akan memudahkan bagi para pengunjung dari luar daerah yang
akan menikmati indahnya Pantai Jatimalang. Dari pusat kota Purworejo berjarak sekitar 20
kilometer, dari Yogyakarta berjarak 45 kilometer, dan dari Taman Wisata Candi Borobudur
berjarak 38 kilometer.

Orientasi jarak ini menjadi penting untuk diungkapkan, mengingat Yogyakarta dan
Borobudur adalah tujuan wisata strategis dan prioritas, yang bisa menjadi serupa induk bagi
pengembangan wisata di Kabupaten Purworejo. Selain akses, untuk memperpanjang masa
tinggal wisatawan, diperlukan juga sarana dan prasarana akomodasi yang layak dan mencukupi.
Di pantai Jatimalang telah ada penginapan-penginapan sederhana, yang masih diperlukan
pembenahan dan peningkatan kualitasnya sesuai dengan standar preferensi pengunjung.

Dengan tersedianya fasilitas akomodasi yang baik, maka diharapkan pengunjung
yang datang bukan hanya wisatawan domestik, tetapi (diharapkan) juga menarik perhatian
wisatawan internasional. Dari pengamatan lapangan, mayoritas pengunjung masih didominasi
oleh wisatawan lokal yang tidak menginap (go show tourist). Sementara itu, wisatawan asing
pun rata-rata hanya menghabiskan waktu beberapa jam di pantai ini, untuk kemudian kembali
bergerak menuju Yogyakarta, Borobudur, atau kota lain via Bandara NYIA.

Pola kunjungan wisatawan berdasarkan logbook atau catatan harian pengelola Pantai
Jatimalang pada hari kerja Senin dan Jumat terbilang masih sangat landai dengan pola kunjungan
perhari dibawah 70 kunjungan, tidak berbeda jauh dengan pola kunjungan saat hari kerja,
kunjungan wisatawan pada hari Sabtu dibawah 100 kunjungan, dan sementara pada hari Minggu
jumlah kunjungan wisatawan mencapai 200 sampai dengan 500 kunjungan. Hari libur nasional
dan hari besar keagamaan juga menjadikan Pantai Jatimalang ramai dipadati pengunjung, dengan
kunjungan diatas 500 orang per hari. Menurut pengelola Pantai Jatimalang, penyelenggaraan
acara juga turut mendatangkan banyaknya kunjungan wisatawan ke Pantai Jatimalang, seperti
Festival Layang-Layang yang pernah diadakan pada tahun 2017 sebelum dibangunnya Bandar
Udara Internasional Yogyakarta, festival ini mendatangkan banyaknya wisatawan dari berbagai
daerah yang datang khusus untuk menyaksikan Festival Layang-Layang.

Tujuan kunjungan wisatawan berdasarkan hasil wawancara lapangan beragam, sebagian
besar wisatawan bertujuan untuk menikmati keindahan Pantai Jatimalang, beberapa diantara
lainnya menikmati kuliner seafood, beberapa lainnya melakukan aktivitas outing atau gathering
yang dapat dilakukan di banyak sisi Pantai Jatimalang, dan tidak sedikit pula wisatawan yang
datang untuk berolahraga pada area jogging track di sisi barat Patung Bima meski belum selesai
dibangun. Kunjungan wisatawan saat ini masih didominasi dengan wisatawan lokal Purworejo
dan Kulon Progo. 

11

(2) Indikator Eksisting
Pantai Jatimalang merupakan objek wisata andalan Kabupaten Purworejo. Ditinjau dari

jumlah kunjungan maupun hasil pemasukan ke kas daerah dalam bentuk Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Selama lima tahun terakhir, jumlah kunjungan menunjukkan tren naik, demikian
pula dengan sumbangan kepada PAD. Namun demikian, terdapat dua tahun kemunduran (crash)
akibat adanya pandemi Covid-19. Selam berbulan-bulan di tahun 2020-2021 semua lokasi obyek
wisata ditutup, sehingga dua tahun tersebut menjadi anomali dan tidak dapat dijadikan sebagai
acuan dalam memprediksi kondisi tahun berikutnya.

Data kunjungan dan besaran perolehan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 2.1.

Jumlah Kunjungan dan Pendapatan Pantai Jatimalang

Tahun Pengunjung Target (Rp) Realisasi (Rp) Pendapatan Lain
-
2018 119.445 581.280.000 553.390.000 -
-
2019 143.400 594.366.000   -
-
2020 130.666 510.800.000 728.375.000

2021 166.956 611.167.000 692.532.000

Su2m0b2e2r:*Dinas Pem22u3d.a7O7l0ah Raga dan Pa  riwisata Purworejo, diolah.
* Januari-September

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi Covid-19 tidak menyebabkan
penurunan jumlah pengunjung, meskipun pendapatan mengalami penurunan.

2.2. Gua Seplawan

(1) Deskripsi Umum
Secara administratif, Gua Seplawan terletak di Desa Donorojo Kecamatan Kaligesing.

Wilayah ini termasuk di kawasan pegunungan Menoreh, yang berbatasan dengan Kabupaten
Magelang di sisi utara, dan Kabupaten Kulon Progo DIY di sisi timur. Jika ditarik garis lurus, gua
ini terletak 13 kilometer sebelah tenggara Purworejo, 21 kilometer barat daya Candi Borobudur,
29 kilometer sebelah barat Kota Yogyakarta.

Lokasi gua ini bisa dijangkau dari beberapa jalur dengan kendaraan roda empat. Yang
paling mudah dan paling umum adalah dari jalur Purworejo atau dari jalur Godean Yogyakarta.
Angkutan umum dapat ditemui dari Pasar Baledono (kota Purworejo) sampai dengan lokasi gua,
namun jadwal dan ketersediaannya masih belum terjadwal. Selain dari dua jalur utama tersebut,
destinasi wisata ini juga bisa dijangkau dari beberapa jalur lain, meskipun harus melalui kondisi
jalan yang lebih sulit dan terjal.

Pegunungan Menoreh adalah jajaran pegunungan kapur (karst) tua di Jawa bagian tengah.
Pegunungan ini berada di tiga kabupaten: Purworejo, Kulon Progo, dan Magelang. Karakter dari
batuan di wilayah ini adalah beraneka rupa, mulai dari aluvial, kapur, serta endapan vulkanik
akibat letusan gunung berapi. Elevasi ketinggian bervariasi, dari 120 mdpl hingga tertinggi 1.200
mdpl. Curah hujan tropis yang tinggi menyebabkan kawasan pegunungan ini menjadi subur

12

dengan pemandangan alam yang eksotis. Pegunungan Menoreh juga menjadi basis perlindungan
utama ketika terjadi Perang Jawa (Java Oorlog) atau dikenal dengan Perang Diponegoro (1825-
1830).

Gua Seplawan terletak di ketinggian 800 mdpl. Pembangunan kawasan sudah dimulai sejak
era Orde Baru, di mana jalan akses menuju gua ini sudah dilakukan pembangunan. Jalan akses ini
juga sekaligus sebagai jalan alternatif penghubung antara Purworejo menuju Yogyakarta. Di era
sekarang, kondisi jalan akses menuju gua ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan masa-
masa awal pengembangan.

Ada beberapa milestone sejarah yang melatarbelakangi gua ini. Salah satu di antaranya
adalah adanya temuan artefak-artefak yang menunjukkan bahwa keberadaan gua ini sudah
diketahui dan dikelola sejak zaman Mataram Kuno. Salah satu artefak zaman Hindu-Budha yang
hingga sekarang menjadi bukti adalah temuan arca emas pada 15 Agustus 1979. Arca setinggi
6 cm dengan berat 2,5 kilogram itu terbuat dari emas 22 karat, yang sekarang disimpan di
Museum Nasional Jakarta. Selain arca emas, ditemukan pula reruntuhan situs Candi Gondoarum,
serta lingga-yoni yang terbuat dari batu andesit, yang menandakan bahwa kawasan gua ini dulu
menjadi tempat suci atau tempat pemujaan para pemeluk agama Hindu.

Pengelolaan gua ini secara intensif menjadi destinasi wisata dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Purworejo pada tahun 1979 bersamaan dengan ditemukannya arca Siwa-Parwati
oleh tim ekspedisi. Pemerintah Kabupaten Purworejo juga melakukan revitalisasi berupa
pemugaran area goa, pembangunan fasilitas umum seperti kios/lapak, kamar mandi, tangga
akses menuju goa, dan gardu pandang yang dapat mendukung pengembangan pariwisata, tanpa
harus mengorbankan keaslian objek dan nilai-nilai sejarah yang melingkupi gua ini. Panjang gua
yang sudah dikembangkan sekitar 750 meter, dan dibuat dengan pola jalur buntu. Artinya, pintu
masuk dan keluar gua ini hanya satu pintu/lubang yang sama.

13

Sebenarnya ukuran gua ini lebih panjang daripada
yang telah dikembangkan. Namun demikian, beberapa
cabang itu tidak cukup aman untuk dijadikan objek wisata karena berujung di jurang dan
kawasan berlumpur atau endapan. Selain itu, beberapa cabang juga berupa terowongan vertikal
yang hanya dapat dijangkau oleh para penelusur gua profesional (spelunkers), atau yang dikenal
dengan objek wisata ekstrem/minat khusus.

Sebagaimana umumnya gua-gua di daerah pegunungan karst, di dalamnya selalu ada aliran
air atau tetesan-tetesan air dari langit-langit sepanjang tahun. Dari tetesan air yang terjadi selama
ribuan tahun inilah akhirnya terbentuk stalaktit dan stalagmit, yang terlihat laksana objek-objek
patung abstrak nan eksotis. Jalan masuk ke dalam gua ini cukup unik, selain sudah dilengkapi
dengan tangga-tangga besi yang memudahkan kunjungan para wisatawan, di dalamnya juga
terdapat celah-celah sempit yang hanya bisa dilalui satu orang secara bergiliran. Setelah melalui
jalur sempit ini, wisatawan akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Di dalam gua juga
sudah dilengkapi dengan lampu-lampu penerangan artifisial warna-warni, yang sesungguhnya
tidak kalah dibandingkan dengan gua Reed Flute yang sangat terkenal di Guilin, China.

14

Salah satu daya tarik yang mengagumkan para wisatawan adalah keberadaan stalagmit
yang membentuk relief menyerupai sirip ikan hiu. Hingga saat ini (2022) belum ada arkeolog
yang dapat menyimpulkan apakah obyek serupa sirip hiu tersebut adalah hasil dari proses alami
atau hasil dari karya tangan manusia.

Meski sudah ada fasilitas di gua tersebut, wisatawan tetap bisa menikmati keaslian
alamnya. Saat masuk ke dalamnya pun masih terlihat keindahan stalaktit dan stalakmit, bahkan
yang masih aktif. Sebelum memasuki gua, wisatawan akan disambut patung emas setinggi tiga
meter. Patung tersebut merupakan replika arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Banyaknya jalan persimpangan di dalam gua memberikan makna tersendiri yang dipercayai
oleh sebagian masyarakat sebagai nasihat. Persimpangan-persimpangan itu mencerminkan
jalan hidup, dan menjadi tawaran pilihan, mau ke nirwana atau ke jurang. Terserah bagi mereka
yang memercayainya. 

Selain wisata tersebut, Gua Seplawan juga menawarkan keindahan lanskap pegunungan
dari bukit di sebelahnya.  Di bukit tersebut telah dibangun gardu pandang berbentuk joglo yang
menyuguhkan pemandangan Pegunungan Menoreh, Kota Magelang, dan Yogyakarta. Saat cuaca
cerah, wisatawan dapat melihat pemandangan lima gunung sekaligus: Merapi, Merbabu, Slamet,
Sindoro, dan Sumbing. DTW Gua ini dibuka mulai pukul 08.00 hingga 16.30 wib. Harga tiket
masuk Gua Seplawan Rp 5.000 per orang.

(2) Indikator Eksisting
Pengaruh pandemi sangat terasa terhadap jumlah kunjungan maupun pendapatan di

Gua Seplawan. Selama beberapa bulan masa pandemi, lokasi ini tertutup total bagi kunjungan
wisatawan. Dengan demikian ada beberapa bulan yang tidak menghasilkan sama sekali.

Selama lima tahun terakhir telah terjadi penurunan jumlah wisatawan, dari 18 ribuan
(2018) menurun tajam hingga angka delapan ribuan (2022). Selain karena pandemi, penurunan
jumlah wisatawan juga ditengarai karena tidak adanya tambahan atraksi yang menjadi daya tarik
lokasi. Dari wawancara dengan pengunjung, rata-rata mereka mengeluhkan akses yang sulit ke
lokasi ini, meskipun sebenarnya ambience yang diperoleh sangatlah berkesan bagi wisatawan.
Selain itu, munculnya beberapa objek wisata di sekitar Gua Seplawan juga menjadi pesaing yang
perlu diantisipasi. Misalnya objek-objek wisata baru di Kabupaten Kulon Progo yang berbatasan
langsung dengan kawasan Gua Seplawan, misalnya Gua Kiskendha yang letaknya tidak jauh dari
Seplawan.

Persaingan antarobjek wisata ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat kemudahan
akses pesaing rata-rata lebih baik. Angkutan umum dari dan ke Gua Seplawan sampai hari ini
masih belum tersedia. Prasarana jalan menuju gua juga masih kalah bagus dibanding dengan
pesaingnya yang berada di perbatasan DIY.

15

Tabel 2.2.
Jumlah Kunjungan dan Pendapatan Gua Seplawan

Tahun Pengunjung Target Realisasi Pendapatan Lain
2018 18.312 82.660.000 87.215.000  
2019 17.265 86.804.000    
2020 12.625 71.600.000 66.350.000  
2021 8.888 58.491.000 33.365.000  
2022* 8.796    
 

Sumber: Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Purworejo, diolah.
* Januari-September

2.3. Geger Menjangan

(1) Deskripsi Umum
Puncak Geger Menjangan adalah objek wisata alam, berupa puncak bukit. Di puncak

bukit ini wisatawan dapat menikmati pemandangan Kota Purworejo dari ketinggian. Terletak
di Desa Trirejo Kecamatan Loano. Di sepanjang jalur pendakian ditemukan beberapa kompleks
permakaman, salah satu di antaranya adalah makam Kyai Imam Puro, seorang tokoh penyebar
agama Islam di Purworejo dan Jawa Tengah bagian selatan. Pada bulan-bulan tertentu, makam
tokoh ini banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah.

16

Kunjungan peziarah terbanyak terjadi pada bulan Ruwah, bulan ke-8 dalam sistem
penanggalan Jawa. Di bulan Ruwah ini terdapat prosesi Nyadran, tradisi masyarakat Jawa dalam
menyambut datangnya bulan suci Ramadan (Pasa) dengan cara berziarah ke makam leluhur
dan melakukan doa bersama di kompleks-kompleks pemakaman. Prosesi Nyadran dimulai sejak
tanggal 15 Ruwah sampai dengan akhir bulan.

Bulan lain yang juga banyak penziarah adalah bulan Sura (Muharram) dan bulan Ruwah
(Syaban). Dalam skala harian, penziarah juga berdatangan pada malam Jumat Kliwon dan Selasa
Kliwon, meskipun jumlahnya tidak sebanyak ketika di bulan Ruwah dan Sura.

Kunjungan peziarah inilah yang meramaikan puncak bukit Geger Menjangan. Untuk
mencapai puncak bukit, dari makam Kyai Imam Puro hanya berjarak sekitar 300 meter, dengan
medan menanjak yang cukup berat. Biasanya para peziarah berjalan kaki dari area parkir
menuju makam, atau bisa juga menggunakan jasa ojek dengan tarif yang cukup murah. Setelah
melakukan ritual ziarah, para pengunjung ini biasanya secara berombongan naik ke puncak,
menikmati pemandangan alam.

Fluktuasi jumlah pengunjung tahunan hanya terkonsentrasi pada dua bulan tersebut di
atas, sehingga di bulan-bulan lain jumlah pengunjung relatif sepi. Apalagi selama masa pandemi
2020-2022, jumlah peziarah menurun sangat signifikan. Menurunnya jumlah peziarah ini identik
dengan penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke puncak Geger Menjangan.

Dari lahan parkir mobil menuju puncak bukit terdapat dua jalur, jalur pejalan kaki dan jalur
sepeda motor/ojek. Pejalan kaki yang naik ke bukit akan melewati gardu pemungutan retribusi,
sedangkan yang naik ojek akan melalui jalan lain yang tidak melewati gardu pungut retribusi.
Ojek akan berjalan memutar dan jalurnya langsung berakhir di depan makam Kyai Imam Puro.
Kompleks makam ini juga menjadi persinggahan bagi mereka yang akan naik ke puncak bukit.

Pada saat survei ini dilakukan (Oktober 2022), jalan setapak menuju puncak bukit
dalam kondisi yang rusak. Paving blok dan tangga semen banyak yang rapuh dan tergerus air
hujan di sana-sini. Tanaman perdu di kanan-kiri jalan juga sangat rimbun, hingga menjulur
merintangi jalur pendakian. Di beberapa titik, paving blok bahkan sudah banyak yang hilang.
Selain mengurangi kenyamanan para pengunjung, jalur pendakian ini juga relatif berbahaya
bagi mereka yang kurang fit kondisi tubuhnya, karena harus melalui beberapa tanjakan ekstrem
dengan kondisi jalan yang rusak.

Sarana dan prasarana juga sangat minim. Peristirahatan pengunjung biasanya dilakukan di
kompleks makam, sambil cuci muka atau melaksanakan salat di masjid. Buruknya jalan setapak
menuju puncak menyebabkan banyak pengunjung yang enggan untuk naik ke puncak. Hanya
mereka yang benar-benar fit dan prima (anak-anak muda) saja yang masih tertarik untuk naik
ke puncak.

Di puncak bukit, telah dibangun sebuah bangunan berbentuk joglo, yang bisa menaungi
pengunjung saat hujan dan panas. Dari joglo ini, pengunjung dapat menyaksikan Kota Purworejo
dari ketinggian. Kondisi joglo juga tampak kotor dan kurang terawat. Demikian juga pepohonan
perdu yang mengelilingi, sehingga mengganggu pandangan pengunjung yang menatap Kota
Purworejo. Di sebelah joglo ini juga didirikan dua tower besi, yang (tampaknya) digunakan
sebagai repeater untuk radio komunikasi militer. Keberadaan dua tower ini sebenarnya cukup

17

mengganggu pemandangan dan estetika, apalagi kawat-kawat spanner dan kabel menjadi sarana
merambatnya tanaman-tanaman liar yang mengganggu.

(2) Indikator Eksisting
Kecilnya pendapatan tiket dari lokasi ini disebabkan karena satu-satunya penyumbang

terbesar adalah dari peziarah yang datang ke makam Kyai Imam Puro. Di hari-hari tertentu
jumlah kunjungan cukup besar (Sura dan Ruwah), di mana pada hari-hari tersebut secara kultural
merupakan saat di mana para peziarah dari berbagai wilayah berdatangan ke makam Kyai Imam
Puro. Di hari biasa, jumlah kunjungan relatif sepi, bahkan kadang kala tidak ada kunjungan sama
sekali.

Hanya ada satu gardu tempat pelayanan tiket masuk, dengan satu orang petugas. Pada saat
ini telah dibangun jalan alternatif (jalur ojek) yaitu jalan selebar tiga meter yang telah dicor
beton. Pada jalur ini tidak terdapat gardu tiket, sehingga pengunjung yang datang ke lokasi
makam melalui jalur ini tidak dikenakan tiket masuk.

Gambaran tentang jumlah pengunjung dan pendapatan dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut.

Tabel 2.3.
Jumlah Kunjungan dan Pendapatan

Puncak Geger Menjangan

Tahun Pengunjung Target Realisasi Pendapatan Lain
2018 14.478 17.370.000 17.390.000
2019 16.791 18.314.000    
2020 1.695 14.500.000 4.671.000  
2021 5.442 14.945.000 10.616.000  
2022* 5.907    
   

Sumber: Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Purworejo, diolah.
* Januari-September

18

2.4. Kolam Renang Artha Tirta

(1) Deskripsi Umum
Kolam renang ini terletak di Jl. Magelang Baledono Kecamatan Purworejo. Ditinjau dari

desain kolamnya, wahana kolam renang ini sebenarnya didesain untuk keperluan olah raga
renang. Hal ini bisa dilihat dari desain fasilitas yang dibangun seperti garis-garis penanda (marking
lane), starting blocks, juga papan loncat (diving board). Kolam utama memiliki kedalaman air
bertingkat, mulai yang terdangkal (1,5 meter) sampai yang terdalam (3,5 meter). Selain kolam
utama, ada pula dua buah kolam tambahan khusus untuk anak-anak dengan kedalaman air
sekitar 0,5 meter.

Selain berfungsi sebagai kolam olah raga renang, untuk mengoptimalkan pemanfaatannya,
maka kolam ini pun juga dapat digunakan sebagai kolam renang rekreasi. Fasilitas rekreasi yang
dibangun antara lain wahana perosotan air untuk anak-anak, dan beberapa wahana bermain
seperti ayunan yang dibangun di sekitar kolam.

Kolam renang ini diapit oleh dua wahana wisata yang dikelola OPD lain. Di sebelah kiri
ada wahana “Taman Cerdas” yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan
sebelah kanan terdapat taman kota “Geger Menjangan” yang dikelola oleh Kementerian
Lingkungan Hidup (KLH) Pusat.

Fasilitas lain yang dibangun di kolam renang ini antara lain kios-kios makanan/minuman,
ruang bilas, ruang ganti, musala, dan toilet. Kolam ini dikelilingi oleh taman dan pepohonan
teduh, sehingga sangat cocok untuk rekreasi keluarga dengan suasana yang nyaman.

Sebelum dikelola oleh Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata, kolam ini pernah mengalami
beberapa kali perpindahan pengelola, baik oleh OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Purworejo maupun dikerjasamakan dengan pihak ke-3. Perubahan pengelola ini mengikuti
perubahan pola nomenklatur SKPD yang terjadi di Pemkab Purworejo. Selama era reformasi,
beberapa kali subdin Pariwisata mengalami perubahan/penggabungan dengan subdin lain.

(2) Indikator Eksisting
Kolam renang Artha Tirta merupakan unit usaha penyumbang terbesar pada Pendapatan

Asli Daerah. Bersama dengan Pantai Jatimalang di Kecamatan Purwodadi, objek wisata ini
memberikan pemasukan dominan dari sektor pariwisata daerah. Sebagai gambaran, jumlah
pemasukan PAD ke kas daerah sejak 2018 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 2.4.
Jumlah Kunjungan dan Pendapatan

Kolam Renang “Artha Tirta”

Tahun Pengunjung Target Realisasi Pendapatan Lain
2018 112.254 700.000.000 892.308.000 Sewa kios
2019 143.218 728.000.000 Sewa kios
2020 20.726 335.555.661   Sewa kios
2021 18.973 330.568.000 66.350.000 Sewa kios
2022* 42.421 33.365.000 Sewa kios
 
 

Sumber: Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Purworejo, diolah.
* Januari-September

19

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pengaruh pandemi terhadap jumlah kunjungan
maupun pendapatan sangatlah signifikan. Selama masa pandemi, objek wisata air sebagaimana
kolam renang ini mengalami penutupan yang cukup ketat dan lama. Dibandingkan dengan
objek-objek lain, pembukaan pasca-Covid 19 termasuk yang terakhir kali setelah objek-objek
lain dilakukan pelonggaran.

Ketika dibuka pun, jumlah kunjungan juga dibatasi sampai dengan 50 persen kapasitas.
Sementara itu, jumlah pemasukan pun juga mengalami kontraksi yang sangat signifikan,
meskipun sedikit tertolong karena pada tahun tersebut terjadi kenaikan tarif sebagaimana
tertuang dalam Perda Purworejo No. 11 tahun 2020.

2.5. Gedung Pertemuan “Ganeça Convention Hall”

(1) Deskripsi Umum
Gedung ini terletak di lokasi yang sangat strategis, yaitu di Jl. Kolonel Sugiono No. 62,

Kepatihan, Purworejo. Sebelum direvitalisasi menjadi “Ganeça Convention Hall”, dahulu gedung
ini dikenal luas sebagai “Gedung Wanita” Purworejo. Gedung ini merupakan aset milik Pemerintah
Kabupaten Purworejo, yang saat ini pengelolaannya dipercayakan kepada Dinas Pemuda Olah
Raga dan Pariwisata (Disporapar).

Revitalisasi gedung ini dilakukan pada tahun 2019 memakan waktu hingga sembilan
bulan (Mei-Desember). Gedung megah ini terdiri dari dua lantai, masing-masing lantai terdapat
ruangan besar (hall) dengan ukuran 45m x 34m. Selain ruang utama, setiap lantai juga dilengkapi
dengan ruang transit/tunggu, ruang rias, toilet, dan beberapa ruang rapat kecil. Selain itu, antara
lantai satu dan lantai dua juga dilengkapi dengan elevator (lift) penghubung untuk memudahkan
akses para pengguna, terutama bagi penyandang difabilitas.

Hingga saat ini (2022) pembangunan fasilitas penunjang masih terus dilakukan. Salah satu
di antaranya adalah lahan parkir yang akan menempati lahan bekas SD Somenggalan. Pada saat
yang sama, dilakukan pula revitalisasi/pembangunan Hotel Ganeça (yang juga merupakan aset
milik Pemkab dan dikelola oleh Perusda Aneka Usaha). Dalam beberapa waktu ke depan, kedua
aset pemerintah kabupaten ini akan disambung di lantai dua. Dengan demikian akan terjadi
integrasi dua unit usaha dalam satu pekarangan yang sama.

Kemegahan bangunan gedung pertemuan ini telah menempatkan Ganeça Convention Hall
sebagai gedung pertemuan yang terbaik yang dimiliki oleh Purworejo. Selain terbaik dari sisi
kualitas bangunan dan fasilitas penunjang, gedung ini juga menjadi gedung pertemuan dengan
kapasitas terbesar di Purworejo. Dua hall utama dapat menampung sampai dengan 2.000 orang
(standing party), masing-masing hall memuat sebanyak 1.000 orang.

Dibandingkan dengan gedung-gedung lain yang sejenis, tarif sewa gedung ini relatif lebih
murah. Untuk penggunaan selama 24 jam, tarif yang dikenakan hanya sebesar Rp 6.000.000.

(2) Indikator Eksisting
Gedung ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk berbagai keperluan. Selain

itu, pengguna di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purworejo pun juga sering menggunakan
gedung ini untuk berbagai acara dinas.

20

Setelah dibangun, gedung pertemuan yang representatif ini cukup sering digunakan
(disewa). Sayangnya, selama masa Pandemi Covid-19 nyaris tidak ada yang menggunakan
karena memang ditutup untuk menghindari kerumunan. Namun demikian, penggunaan gedung
ini pada umumnya sudah terpola sedemikian rupa mengikuti tradisi dan siklus tahunan kegiatan
masyarakat.

Untuk acara-acara pernikahan atau pun acara-acara keagamaan, biasanya mengikuti pola
tradisi masyarakat Jawa, di mana pada bulan-bulan tertentu (misal Muharam dan Ramadan)
hampir tidak ada warga yang menggelar acara pesta pernikahan. Dalam dua bulan itu okupansi
gedung sangat rendah, bahkan nol. Dengan demikian pemasukan dari sewa pun juga nyaris nol.

Secara rinci, data perolehan sewa gedung ini sebagaimana terlihat dalam tabel sebagai
berikut.

Tabel 2.5.

Target dan Realisasi Pendapatan

Gedung “Ganeça Convention Hall”

Tahun Pengunjung Target Realisasi Pendapatan Lain
2018 na 150.000.000 143.500.000 -
2019* na 220.877.600 -
2020 na 127.987.000   -
2021 na 130.000.000 -
2022** na   -
   
 

Sumber: Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Purworejo, diolah.
* Januari-April (masa renovasi Mei-Desember)
** Januari-September

21

22

Bab III

POTENSI DASAR
DAN PERMASALAHAN

3.1. Pantai Jatimalang

1) Permasalahan
Berdasarkan hasil pengamatan Tim Surveyor di lapangan, permasalahan yang dihadapi

obyek wisata Pantai Jatimalang dapat dikelompokkan menjadi dua:
1. Permasalahan tata kelola.
2. Permasalahan sosiokultural.
Permasalahan tata kelola terfokus pada koordinasi antara Dinas Pemuda Olah Raga dan

Pariwisata (Disporapar) dengan Pemerintah Desa setempat dan Pokdarwis. Hingga survei ini
dilakukan, beberapa kewenangan Disporapar sebagaimana tertuang dalam Perda No. 11 tahun
2020 tidak dapat diimplementasikan di lapangan. Misalnya, pengelolaan lahan parkir yang
seharusnya menjadi kewenangan Disporapar telah diambil alih oleh Pemerintah Desa. Dengan
demikian, Disporapar hanya dapat memungut tiket masuk pengunjung (orang), sedangkan
retribusi parkir (kendaraan) dipungut oleh Pemerintah Desa setempat.

Permasalahan tata kelola juga dapat dilihat dalam penanganan bangunan-bangunan “liar”
di dalam kawasan. Dari pengamatan tampak bahwa semakin hari jumlah bangunan liar (gubug,
gazebo, kios, warung) semakin bertambah. Sementara itu, tampak pula beberapa bangunan yang
semula remanen (kayu, tripleks, rumbia) saat ini sudah berubah menjadi semi permanen (lantai
cor semen, dinding batu bata, atap genteng).

Keberadaan bangunan/warung ini tentu mengurangi daya tarik kawasan, sepanjang pantai
terlihat kumuh, sampah berserakan di sembarang tempat. Yang lebih memprihatinkan lagi,
warung-warung itu juga membuang limbah domestiknya ke bibir pantai.

Selain warung, tampak pula beberapa bangunan kolam air tawar untuk menarik wisatawan
anak-anak. Selain terbuat dari bahan terpal, sudah mulai dibangun pula kolam semen dengan
lapisan keramik, yang terletak persis di belakang patung Dewaruci yang menjadi ikon dari Pantai
Jatimalang.

Berdasarkan wawancara Tim dengan beberapa pengelola warung, rata0rata mereka
menyadari bahwa pembangunan warung itu adalah ilegal, tidak memiliki izin, dan melanggar
peraturan. Oleh karena itu, mereka pun menyadari jika suatu saat akan diadakan penertiban oleh
pihak yang berwenang. Alasan utama mereka membangun gubug-gubug di bibir pantai adalah
untuk mendekat kepada pengunjung, juga karena ketatnya kompetisi akibat bertambahnya
jumlah pedagang pascapandemi. Covid-19.

Permasalahan sosiokultural juga sangat terasa di Jatimalang. Secara turun temurun,
penduduk sekitar Jatimalang merasa bahwa pantai itu adalah “milik mereka”, tanah tumpah
darah mereka, sehingga sudah sangat wajar jika mereka diberikan kesempatan untuk ikut
terlibat dalam pengelolaannya.

3.2. Gua Seplawan

1) Permasalahan
Sulitnya aksesibilitas merupakan kendala utama dari pengembangan objek wisata ini.

Sarana maupun prasarana transportasi menuju dan dari lokasi ini relatif sulit. Ketiadaan angkutan
umum dan rendahnya kualitas jalan akses menjadi kendala yang pelik. Hanya wisatawan yang

24

benar-benar tertarik (minat khusus) yang bersedia untuk mengunjungi lokasi ini.
Masalah lain yang muncul adalah persaingan dengan objek sejenis di wilayah lain, misalnya

objek wisata Gua Kiskendo di Kabupaten Kulon Progo. Letak pesaing ini relatif dekat (sekitar 3,5
km) dengan kemudahan akses yang lebih baik dibandingkan dengan Gua Seplawan.

Ditinjau dari tarif tiket masuk, sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun demikian, sebenarnya
Gua Seplawan menawarkan beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh Gua Kiskendo, yaitu
daya tarik historis dan pemandangan alam kawasan. Selain itu, fasilitas pendukung seperti
lampu-lampu, tangga, serta kondisi alam gua, Gua Seplawan sebenarnya jauh lebih baik. Di Gua
Kiskendo, pengunjung harus menyewa lampu senter untuk penerangan ke dalam gua, sementara
di Gua Seplawan sudah tersedia lampu penerangan listrik yang memadai.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah kurangnya personel pengelola. Dengan hanya
dikelola oleh dua orang petugas, maka untuk pemeliharaan (maintenance) objek wisata ini relatif
kekurangan. Misalnya, taman-taman yang telah dibangun banyak ditumbuhi rumput liar akibat
kurangnya pemeliharaan.

3.3. Geger Menjangan

1) Permasalahan
Permasalahan utama dari objek wisata ini adalah jalan akses. Jalan setapak selebar 1,5

meter pada saat ini dalam kondisi yang rusak, terutama jalan setelah melewati kompleks makam
Kyai Imampuro. Jalan setapak dengan paving blok saat ini sudah tidak nyaman lagi dilalui, bahkan
di beberapa titik sudah membahayakan pengunjung.

Selain kondisi jalan yang buruk, pepohonan perdu di sepanjang jalan juga tidak dirawat,
tidak ada tanda-tanda pemangkasan, bahkan beberapa bambu roboh dan merintangi jalan.
Rimbunnya semak belukar di sekitar jalan menyebabkan tertutupnya jalur di beberapa titik. Bagi
pengunjung yang belum pernah naik ke puncak, pasti akan kehilangan orientasi karena jalanan
tertutup semak belukar. Hanya potongan-potongan paving blok yang tersisa yang dijadikan
pemandu.

Kondisi saung joglo di puncak juga tampak kotor. Lantai tidak pernah dibersihkan dan
sarang laba-laba menghiasi plafon. Di sebelah joglo, tanaman-tanaman liar merambat kawat
penyangga tower, merangsak hingga ke atas.

Kesimpulan dari deskripsi ini adalah bahwa obyek wisata ini memerlukan pembenahan
yang besar, terutama akses jalan menuju puncak. Jika tetap dalam kondisi seperti saat ini, maka
daya tarik lokasi ini akan menjadi sangat rendah akibat sulitnya medan. Dengan demikian,
terdapat dua pilihan yang bisa ditempuh, direnovasi total atau dibiarkan mangkrak. Jika pilihan
kedua yang dipilih, maka sebaiknya gardu pemungutan retribusi pun juga dihilangkan. Tentu
saja ini bukanlah pilihan yang bijak, sehingga pilihan pertama yang sebaiknya ditempuh, dengan
konsekuensi biaya yang diperlukan juga tidaklah murah. Dengan direnovasinya jalan setapak ini,
maka mekanisme take and give antara pemerintah dengan pengunjung tetap bisa dilaksanakan.
Di satu pihak, pemerintah telah menyediakan dan merawat sarana dan prasarana bagi wisatawan,
di lain pihak pengunjung juga harus membayar sejumlah tertentu untuk menikmati obyek wisata
ini.

25

3.4. Kolam Renang Artha Tirta

1) Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi dalam mengelola objek wisata ini antara lain jumlah kunjungan

yang belum juga pulih, meskipun kolam renang sudah dibuka 100 persen sebagaimana sebelum
pandemi. Belum pulihnya jumlah kunjungan ini ditengarai antara lain: (a). Belum pulihnya
kondisi perekonomian masyarakat, (b). Munculnya alternatif dan pesaing lokasi wisata lain di
sekitar lokasi, (c). Kondisi properti yang sudah tua, yang mendesak untuk dilakukan renovasi.

Di antara ketiga penyebab tersebut, yang mendesak untuk segera dilakukan pembenahan
adalah masalah yang terakhir. Sejak dibangun, kolam renang ini baru dilakukan renovasi satu kali,
yaitu berupa penambahan kolam renang untuk anak dan wahana bermain air. Setelah itu, belum
lagi dilakukan renovasi. Terlebih lagi selama dalam pengelolaan pihak ke-3, kondisi bangunan
yang rusak tidak dilakukan pembenahan. Akibatnya, setelah habis masa kontrak, pemerintah
daerah mendapati pengembalian aset dalam kondisi yang kurang terawat.

Keadaan ini dapat dilihat mulai dari bangunan gardu petugas tiket. Selain tidak memadai
lagi, rangka atap bangunan ini juga sudah lapuk dan bahkan nyaris runtuh. Keadaan ini tentu
sangat membahayakan bagi para petugas yang ada di dalamnya. Fasilitas lain seperti taman,
ruang ganti, dan bangunan-bangunan lain juga tampak kusam dan kurang terawat.

Salah satu peralatan yang sangat penting adalah pompa yang mengatur sirkulasi air. Dari
dua pompa (2x 10 HP x 3 phase 380 volts), hanya satu pompa yang masih dapat dipergunakan.
Pada saat survei dilaksanakan, satu di antara dua pompa tersebut dalam kondisi rusak dan
tidak ada tanda-tanda dilakukan perbaikan. Kondisi pompa seperti ini tentu akan menurunkan
kualitas air, mengingat kualitas air akan ditentukan oleh kontinuitas dalam melakukan sirkulasi
dan filtering, di mana fungsi pompa air dalam mekanisme ini merupakan hal yang sangat vital.

3.5. Gedung Ganeca Convention Hall

1) Permasalahan
Salah satu permasalahan yang paling mendasar dari pengelolaan gedung ini adalah tenaga

pengelola. Sebagai unit usaha yang diharapkan mendatangkan pemasukan PAD bagi kas daerah,
gedung ini hanya dikelola oleh dua orang. Dua orang inilah yang mengurus semuanya, mulai dari
bersih-bersih, pemeliharaan gedung, menerima tamu, mengelola order dan pelaksanaan. Tentu
saja, dengan keterbatasan itu akan menghasilkan layanan yang tidak optimal.

Sebagai unit usaha, seharusnya gedung ini dikelola oleh sebuah tim manajemen profesional
yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan proses bisnis di dalamnya. Banyak lini
bisnis komplementer yang belum dilakukan karena terbatasnya SDM pengelola. Misalnya, selain
menyewakan ruangan, unit bisnis ini bisa mem-bundle layanan dengan jasa-jasa lain seperti
catering, penginapan, dekorasi, sound system, dan lain-lainnya. Dengan demikian, gedung ini
akan menjadi unit usaha yang menyediakan berbagai keperluan pertemuan (meeting, wedding,
konser, dll), one stop service.

Di samping Tim Manajemen Profesional, perlu pula diperkuat dengan tim teknis yang
melakukan perawatan (maintenance) gedung beserta kelengkapannya. Sepanjang melakukan

26

survei, tim survei menemukan beberapa hal yang dapat menurunkan daya tarik. Misalnya
kondisi kebersihan di lorong-lorong, kebersihan toilet, serta penumpukan barang-barang yang
seharusnya berada di gudang. Beberapa lampu di beberapa ruangan juga tidak menyala.

Permasalahan ke dua adalah kelengkapan gedung yang masih minimalis. Beberapa ruang
meeting nampak kosong, tidak tersedia furniture maupun kelengkapan meeting pada umumnya.
Idealnya, ruang rapat tersebut harus tersedia bangku-bangku dan meja, berpendingin ruangan,
dengan tata lampu dan tata suara yang memadai.

Di toilet pria lantai dua, tim menemukan lampu yang terus menerus berkedip, kran urinoir
yang tidak lancar, tidak tersedia cermin, tidak tersedia keset di depan pintu keluar.

Di luar ruangan, lahan parkir saat ini juga masih sangat terbatas, pada saat digunakan untuk
pertemuan berskala besar, parkir pengunjung akan meluap hingga ke bahu jalan. Tentu saja hal
ini sangat mengganggu dan menyulitkan dalam hal keamanan. Jika lahan parkir di belakang
gedung nanti sudah selesai dibangun, seharusnya permasalahan ini akan dapat diselesaikan.

27

28

Bab IV

ANALISIS POTENSI
DAN PENGEMBANGAN

4.1. Pengantar
Ketersediaan berbagai wahana menarik (attractive) di lokasi wisata akan mampu

meningkatkan jumlah dan durasi kunjungan wisatawan. Menyikapi hal ini, maka Pemerintah
Kabupaten Purworejo sebaiknya memberikan perhatian khusus. Misalnya, menambah dan
meningkatkan kualitas wahana di dua objek wisata andalan: Pantai Jatimalang dan Kolam
Renang Artha Tirta. Dengan melakukan pembenahan di kedua wahana andalan tersebut, maka
pendapatan yang diperoleh pun akan lebih optimal.

Jika Pemkab menghadapi kendala anggaran dalam membangun wahana tersebut, maka
pemerintah dapat menawarkan pengelolaannya kepada investor, atau memberikan insentif dan
menjadi fasilitator bagi pihak swasta yang ingin mengelola wahana wisata di Pantai Jatimalang
dan Kolam Renang Artha Tirta. Khusus untuk Gua Seplawan, akses jalan merupakan kendala
yang paling berat, untuk itu perlu diupayakan sinergi yang baik dengan Dinas PUPR.

Jalan penghubung menuju Gua Seplawan itu tidak semata-mata jalan menuju objek wisata,
tetapi sekaligus juga jalan penghubung alternatif antara Provinsi Jawa Tengah dengan Daerah
Istimewa Yogyakarta. Beberapa objek wisata di DIY yang telah lebih dahulu dikenal, dapat
memberikan nilai positif bagi objek-objek wisata lain di Kabupaten Purworejo. Gua Seplawan
dan sekitarnya memiliki potensi besar untuk dikunjungi para wisatawan, termasuk pengunjung
yang hanya ingin mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan antarprovinsi.

Di sisi lain, pemasaran tempat wisata merupakan variabel yang sangat penting untuk
memperkenalkan sekaligus mendorong wisatawan mengunjungi suatu kawasan wisata. Berbagai
inovasi produk atau pun wahana wisata tidak akan efektif jika tidak dilakukan sosialisasi kepada
publik. Dengan demikian, semestinya Pemerintah Kabupaten Purworejo memberikan perhatian
khusus di bidang pemasaran (marketing) tempat wisata jika ingin mengoptimalkan PAD dari
sektor ini.

Pada umumnya, strategi pemasaran berbagai tempat wisata di Kabupaten Purworejo
dapat dilakukan melalui dua cara: daring (online) dan luring (offline). Perkembangan teknologi
informasi digital yang sedemikian masif harus dimanfaatkan sebagai sarana pemasaran yang
sangat efektif. Berbagai cara dapat dilakukan, mulai dari yang paling sederhana (pengenalan
objek wisata melalui website), optimalisasi pemanfaatan media sosial, sampai dengan yang paling
canggih seperti pembangunan portal e-Commerce. Di samping itu, pemasaran secara konvensional
(baliho, penyebaran flyer, iklan di radio/televisi) masih diperlukan untuk menjangkau kalangan
yang lebih luas.

4.2. Statistik Deskriptif Pantai Jatimalang
Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Purworejo telah memberikan

informasi yang cukup lengkap tentang data kunjungan dan pendapatan dari Pantai Jatimalang.
Data tersebut menjadi dasar untuk pemaparan statistik deskriptif, untuk menggambarkan apa
yang terjadi sekaligus melakukan prediksi terhadap pola kunjungan wisatawan di masa depan.
Jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Jatimalang sangatlah penting untuk ditelaah lebih lanjut,
karena pantai ini telah memberikan sumbangan retribusi terbesar di antara retribusi objek
wisata lainnya.

30

Selain itu variabel pendapatan, pantai ini juga menjadi tempat wisata yang paling banyak
dikunjungi jika dibandingkan tempat wisata lain yang dikelola oleh Pemerintah Daerah. Dengan
demikian, kunjungan wisatawan ke pantai ini (secara statistik) dapat mewakili kondisi umum
kunjungan wisatawan di Kabupaten Purworejo. Secara singkat, gambaran tentang objek wisata
ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Diagram 4.1.
Jumlah Wisatawan, Target dan Realisasi Pendapatan

Pantai Jatimalang, 2018-2023

800.000.000 1 2 3 4 5 6 2024
700.000.000 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2023
600.000.000 119.445 143.400 130.666 166.956 223.770 234.959 2022
500.000.000 581.280.000 594.366.000 510.800.000 611.167.000 641.725.350 673.811.618 2021
400.000.000 553.390.000 600.000.000 728.375.000 692.532.000 2020
300.000.000 2019
200.000.000 2018
100.000.000 2017
2016
0 2015

Tahun
Pengunju ng
Target (Rp)
Realisasi (Rp )

Sumber: Disporapar Kabupaten Purworejo, diolah.

Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa jumlah pengunjung senantiasa meningkat dari
waktu ke waktu, hanya terjadi penurunan pada tahun 2020 ketika wabah Covid-19 mencapai
puncaknya. Penurunan akibat pembatasan jumlah pengunjung ini hanya berpengaruh kecil
terhadap penerimaan, hal ini disebabkan pada saat itu terjadi kenaikan tarif seiring dengan
pemberlakuan Perda No. 11 tahun 2020.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, baik di hari libur maupun hari biasa pasca Covid-19,
terdapat fluktuasi harian yang relatif besar. Di saat hari libur, jumlah pengunjung sangat ramai,
bahkan nyaris menyentuh batas daya tampung lokasi. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan lokasi
dalam menampung jumlah wisatawan. Tempat parkir sangat padat, rumah-rumah makan penuh
pengunjung, demikian pula sepanjang bibir pantai juga penuh dengan pengunjung.

Di hari biasa, kondisi sebaliknya, jumlah pengunjung relatif sepi, lahan parkir dan pantai
cukup lengang. Hanya pada jam makan siang (12:00 – 14:00) jumlah pengunjung mengalami
kenaikan. Dari kedua hari pengamatan tersebut juga terdapat perbedaan motivasi pengunjung.
Di hari libur kebanyakan mereka datang untuk berwisata, menikmati keindahan pantai. Di hari
biasa, kebanyakan pengunjung datang untuk menikmati wisata kuliner, terutama masakan
seafood yang sangat khas dengan harga terjangkau.

31

4.3. Statistik Deskriptif Gua Seplawan
Berdasarkan data sekunder dari Dinporapar Purworejo, di sana tampak bahwa pertumbuhan

pengunjung ke lokasi ini cukup baik, tetapi tidak dalam tren yang stabil. Dari sisi pendapatan ada
kecenderungan menurun, terutama sejak terjadi wabah Covid-19. Pendapatan maupun jumlah
pengunjung menukik tajam (2020-2021). Setelah wabah mereda, ada kecenderungan jumlah
pengunjung meningkat, tetapi tetap belum pulih sebagaimana sebelum pandemi. Kenaikan tarif
masuk yang dikenakan sedikit menolong dari sisi pendapatan, tetapi masih belum berdampak
pada kecenderungan jumlah kunjungan.

Berdasarkan data primer yang dikumpulkan selama survei pun menunjukkan hal yang
sama. Di mana sebagian besar pengunjung menyatakan tertarik dengan lokasi ini setelah
membaca berbagai liputan media online. Kenaikan harga tiket relatif tidak menyurutkan animo
mereka untuk mengunjungi lokasi wisata ini. Hanya saja, beberapa keluhan terkait aksesibilitas
dan fasilitas lain di lokasi ini masih terjadi.

Pada umumnya pengunjung masih merasa nyaman dengan harga tiket yang diterapkan.
Tarif masuk masih terjangkau dan tidak jauh berbeda dengan lokasi-lokasi wisata lain di sekitar
Seplawan. Bahkan beberapa pengunjung mengatakan bahwa Gua Seplawan masih lebih bagus
dan menarik dibandingkan dengan lokasi serupa di sekitarnya.

Berdasarkan pengamatan, penataan dan renovasi beberapa fasilitas sudah saatnya
dilakukan, mengingat fasilitas tersebut sangat dibutuhkan pengunjung, misalnya toilet, area
parkir, gardu pandang, tangga, dan beberapa gazebo yang memerlukan perbaikan. Secara grafis,
deskripsi di atas dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut.

Diagram 4.2.
Jumlah Wisatawan, Target dan Realisasi Pendapatan

Gua Seplawan, 2018-2023

100.000.000 1 2 3 4 5 6 2024
90.000.000 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2023
80.000.000 18.312 17.265 12.625 8.888 8.796 9.236 2022
70.000.000 82.660.000 86.804.000 71.600.000 58.491.000 61.415.550 64.486.328 2021
60.000.000 87.215.000 90.000.000 66.350.000 33.365.000 2020
50.000.000 2019
40.000.000 2018
30.000.000 2017
20.000.000 2016
10.000.000 2015
0

Ta hun
Pengunjung
Ta rge t
Rea lisa si

Sumber: Disporapar Kabupaten Purworejo, diolah.

32

Berdasarkan kondisi objektif tersebut, Tim Konsultan menarik kesimpulan bahwa
lokasi wisata ini termasuk dalam kategori objek wisata minat khusus, yaitu ditujukan kepada
pengunjung yang memiliki ketertarikan dan minat untuk menjelajah gua beserta sejarah yang
melingkupi. Selain karena kondisi fisik objek yang spesial, gua ini juga memiliki latar belakang
sejarah yang dapat dilihat dari artefak-artefak kuno yang pernah ditemukan di dalamnya.

Dua jenis minat ini (susur gua dan sejarah) masih perlu disosialisasikan lebih intens,
terutama sosialisasi secara digital, agar mampu menarik minat kalangan yang lebih luas. Potensi
objek wisata ini cukup besar, mengingat banyaknya komunitas-komunitas speleologi (peminat
susur gua) yang bisa ditemukan di dunia maya.

4.4. Statistik Deskriptif Puncak Geger Menjangan
Di antara objek-objek wisata yang dikelola oleh Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata

Kabupaten Purworejo, lokasi Puncak Geger Menjangan merupakan salah satu objek yang
“dilematis”. Disebut dilematis karena ada beberapa pilihan untuk menyikapi lokasi wisata ini.
Sejak diamanatkan dalam Perda beberapa tahun yang lalu, otomatis pengelolaan lokasi ini
mendapatkan sentuhan langsung dari Pemerintah Kabupaten Purworejo. Konsekuensinya,
Pemkab harus mengalokasikan anggaran untuk lokasi ini.

Dari diagram di bawah dapat dilihat bahwa telah terjadi penurunan jumlah kunjungan yang
sangat besar, terutama pada saat wabah Covid-19 melanda. Selama wabah berlangsung, aktivitas
wisata rohani ke makam ini nyaris lenyap karena lokasi makam untuk sementara ditutup. Dua
kali momentum tahunan (nyadran) tidak dilangsungkan, demikian pula untuk ritual bulan
Muharram pun juga tidak dilaksanakan.

Hilangnya dua agenda besar itu menyebabkan jumlah kunjungan menurun dengan drastis,
yang berdampak langsung pada penerimaan retribusi. Secara detail hal ini dapat dilihat pada
diagram sebagai berikut.

Diagram 4.3.
Jumlah Wisatawan, Target dan Realisasi Pendapatan

Puncak Geger Menjangan, 2018-2023

20.000.000 1 2 3 4 5 6 2024
18.000.000 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2023
16.000.000 14.478 16.791 1.695 5.442 5.907 6.202 2022
14.000.000 17.370.000 18.314.000 14.500.000 14.945.000 15.692.250 16.476.863 2021
12.000.000 17.390.000 18500000 4.671.000 10.616.000 2020
10.000.000 2019
2018
8.000.000 2017
6.000.000 2016
4.000.000 2015
2.000.000

0

Ta hu n
Pengunjung
Targ et
Rea li sasi

Sumber: Disporapar Kabupaten Purworejo, diolah. 33

Banyak hal yang sudah dilakukan Pemkab, antara lain membangun jalan setapak, memasang
lampu-lampu penerangan di sepanjang jalan setapak, membangun tangga berpaving hingga ke
puncak, serta membangun tempat peristirahatan (joglo) di puncak bukit Geger Menjangan. Dari
area parkir hingga ke puncak, terbagi dalam dua segmen. Yang pertama adalah jalur dari parkiran
menuju makam Kyai Imam Puro. Yang kedua jalur dari makam Kyai Imam Puro hingga ke puncak.

Kondisi jalan dari parkiran ke makam relatif bagus, sudah diperkeras dengan paving blok.
Lampu penerangan juga masih terawat dengan baik. Hanya saja, di beberapa penggal jalan terasa
licin karena paving blok yang berlumut. Di beberapa penggal jalan juga sudah dilengkapi dengan
railing bar sebagai pengaman jalan dan pegangan pengunjung.

Sementara itu, kondisi jalan dari makam menuju puncak sangatlah buruk. Paving blok
sudah tercerai-berai di beberapa titik. Selain itu, kondisi sebagian besar jalan pun juga sudah
rusak, sehingga membahayakan bagi pengunjung, rawan tergelincir.

4.5. Statistik Deskriptif Kolam Renang Artha Tirta
Sebagaimana objek wisata yang lain, di saat wabah Covid-19 melanda, objek inilah yang

terlebih dahulu ditutup. Dibandingkan dengan objek yang lain, penutupan kolam renang dilakukan
lebih awal dengan pertimbangan bahwa objek kolam renang ini memiliki risiko penularan yang
lebih besar dibandingkan dengan objek wisata yang lain. Atas pertimbangan itu pulalah kolam
renang ini dibuka kembali setelah objek wisata lain sudah lebih dahulu dibuka.

Konsekuensi dari kebijakan ini adalah bahwa jumlah pengunjung maupun penerimaan
mengalami penurunan yang drastis. Jumlah pengunjung sebelum Covid berkisar di angka 140
ribuan orang per tahun, di masa Covid angka ini menurun drastis menjadi 20 ribuan per tahun.
Dari sisi pendapatan pun juga demikian, sebelum Covid realisasi pendapatan berada di kisaran
angka Rp 900 juta, sementara di masa Covid anjlok menjadi sekitar Rp 60-an juta. Secara grafis
kondisi tersebut dapat dilihat dalam diagram di bawah ini.

Diagram 4.4.

Jumlah Wisatawan, Target dan Realisasi Pendapatan

Kolam Renang Artha Tirta, 2018-2023

1 .00 0 .00 0. 00 0 1 2 3 4 5 6 2024
900.000.000 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2023
800.000.000 112.254 143.218 20.726 18.973 42.421 44.542 2022
700.000.000 700.000.000 728.000.000 335.555.661 330.568.000 347.096.400 364.451.220 2021
600.000.000 892.308.000 900.000.000 66.350.000 33.365.000 2020
500.000.000 2019
400.000.000 2018
300.000.000 2017
200.000.000 2016
100.000.000 2015
0

Tahun
Pengunju ng
Target
Realisasi

34 Sumber: Disporapar Kabupaten Purworejo, diolah.

Permasalahan pengembangan ke depan atas kolam renang ini terbagi dalam dua hal pokok.
Pertama, pengembangan fisik kolam renang agar lebih representatif. Kondisi fisik kolam renang
pada saat survei dilakukan relatif kurang baik. Kondisi properti yang tua menjadikan beberapa
bagian dari bangunan secara keseluruhan memerlukan renovasi. Selain untuk menambah
daya tarik, renovasi fisik yang dilakukan juga akan meningkatkan tingkat kenyamanan dan
keselamatan pengunjung.

Salah satu alat produksi yang vital di kolam renang ini adalah pompa air. Pompa air ini
digunakan sebagai alat sirkulasi air dan sekaligus sebagai jantung bagi kualitas air di kolam
ini. Kondisi pompa air sudah cukup tua, sepanjang pembangunan hingga saat ini belum pernah
dilakukan penggantian (replacement). Akibatnya, kinerja pompa menjadi menurun, konsumsi
listrik semakin boros, dan berakibat langsung pada kualitas air kolam.

Dari dua buah pompa (dengan motor penggerak Hitachi 10 HP 3 phase 4 pole) hanya
berfungsi satu buah. Sementara satu pompa yang lain mengalami kerusakan dan belum ada
tanda-tanda akan dilakukan perbaikan. Dengan hanya mengandalkan satu buah pompa, maka
dikhawatirkan pompa tersebut akan lebih cepat aus dan rusak.

Kedua, pengembangan manajemen pengelolaan. Pengelolaan kolam renang akan lebih
optimal jika dilakukan integrasi dengan objek-objek wisata di sekitarnya, yaitu Taman Cerdas
dan Taman Geger Menjangan. Salah satu alternatifnya adalah dengan menjajaki kemungkinan
menyatukan dalam satu UPT, atau dikelola oleh sebuah Perumda.

Penyatuan pengelolaan tersebut memang bukanlah hal yang mudah, mengingat pada saat
ini terdapat beberapa masalah yang berhubungan dengan alas hukum atas lokasi-lokasi tersebut.
Taman Cerdas masih dikelola oleh OPD lain (Dinas pendidikan dan Kebudayaan), sementara
status kepemilikan lahan di Taman Geger Menjangan masih berada di tangan Kementerian
Lingkungan Hidup.

Untuk itu, diperlukan pendekatan yang intensif guna mengurai permasalahan tersebut.
Sementara waktu, fokus pembenahan bisa diawali dengan pembenahan secara fisik atas kolam
renang yang menjadi andalan sebagai penyumbang PAD sektor pariwisata Kabupaten Purworejo
itu.

4.6. Statistik Deskriptif Gedung Ganeca Convention Hall
Ganeca Convention Hall merupakan gedung serbaguna termegah di Purworejo saat ini.

Gedung ini relatif baru, menggantikan gedung lama (Gedung Wanita) yang telah dirobohkan
dan dibangun ulang. Dalam perkembangannya, setelah delapan bulan masa pembangunan,
gedung ini kembali beroperasi melayani kebutuhan masyarakat akan gedung pertemuan yang
representatif.

Dalam dua tahun terakhir masa operasionalnya, tingkat okupansi gedung ini masih relatif
rendah. Hal ini terjadi karena sepinya event yang dilakukan oleh masyarakat sehubungan
dengan pandemi Covid-19. Belakangan, setelah pandemi mereda, sedikit demi sedikit aktivitas
masyarakat mulai meningkat. Tingkat penggunaan gedung ini pun juga mulai bangkit.

Aktivitas masyarakat seperti resepsi pernikahan, aktivitas partai politik, maupun aktivitas
penyelenggaraan acara yang digelar oleh event organizer (EO) mulai menunjukkan tren positif.

35

Keunggulan gedung ini menjadi daya tarik tersendiri, di antaranya lokasi yang strategis, bangunan
gedung yang masih baru, serta tarif yang relatif murah. Dibandingkan dengan gedung-gedung
sejenis di Purworejo, gedung ini relatif lebih unggul, terutama tarif yang dikenakan relatif dengan
kualitas gedungnya. Kondisi eksisting gedung ini dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut.

Diagram 4.5.
Target dan Realisasi Pendapatan
Gedung Pertemuan Ganeca Convention Hall, 2018-2023

Sumber: Disporapar Kabupaten Purworejo, diolah.

Salah satu kelemahan yang dihadapi adalah belum adanya pengelola gedung yang
profesional. Gedung megah ini hanya dikelola oleh dua orang personel Dinporapar. Dua orang
ini mengurus segala macam hal yang berhubungan dengan keberadaan gedung. Mulai dari
kebersihan, ketertiban, sampai hal-hal yang berkaitan dengan proses bisnis komersial.

Minimnya SDM yang mengelola menyebabkan pengelolaan tidak optimal, yang berujung
pada pendapatan yang tidak optimal pula. Ke depan, gedung ini sebaiknya dikelola oleh UPT
tersendiri, atau digabungkan dengan pengelolaan Hotel Ganeca yang dikelola oleh Perumda
Aneka Usaha Purworejo. Selain menyewakan gedung, unit bisnis ini juga sekaligus dapat
menyediakan komplemennya seperti persewaan meja-kursi, alat pesta, kelengkapan pertemuan
seperti catering, sound system, tata dekorasi, hingga event organizer. Dengan demikian peluang
untuk menjadi unit usaha one stop service dapat meningkatkan pendapatan ke kas daerah.

36

37

38

Bab V

KESIMPULAN
DAN REKOMENDASI

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil survei lapangan dan analisis data (primer dan sekunder) yang

dilakukan oleh Tim, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Dari 5 (lima) objek yang dilakukan survei, masing-masing objek memiliki potensi dan

keunggulan yang berbeda-beda.
2. Potensi yang dihitung adalah “kemampuan objek dalam menghasilkan pendapatan

(revenue)” yang akan memberikan sumbangan kepada kas daerah (PAD).
3. Objek Wisata Pantai Dewaruci Jatimalang merupakan objek yang memiliki potensi terbesar

di antara lima objek yang diteliti.
4. Terdapat beberapa potensi yang belum tergali di Pantai Jatimalang, misalnya: potensi

pendapatan dari sewa kios dan retribusi parkir kendaraan.
5. Objek Wisata Puncak Geger Menjangan merupakan objek yang memiliki potensi terkecil

dibandingkan dengan objek lain yang diteliti.
6. Gedung Pertemuan Ganeca Convention Hall memiliki potensi terbesar untuk pengembangan

lebih lanjut, mengingat tingkat okupansi eksisting gedung ini masih cukup rendah.
7. Kolam Renang Artha Tirta menduduki peringkat ke-2 dalam menghasilkan pendapatan,

sedangkan potensi pengembangan ke depan masih dimungkinkan dengan sejumlah
prasyarat.
8. Gua Seplawan adalah objek wisata yang memiliki potensi besar karena keunggulan
kompetitif (alam dan sejarah), namun untuk pengembangan ke depan diperlukan koordinasi
dengan berbagai pihak (infrastruktur, jalan akses, fasilitas pendukung).
9. Wabah Covid-19 telah menyebabkan penurunan jumlah kunjungan yang signifikan di
hampir semua objek wisata. Hanya Pantai Jatimalang yang relatif tidak terlalu parah.
10. Hingga tahun 2022, di semua objek wisata, masih dalam tahap pemulihan (recovery)
sebagai akibat/dampak dari pandemi. Dari data primer diketahui bahwa kondisi saat ini
(2022) masih jauh di bawah kondisi normal sebelum pandemi Covid-19.

4.1. Rekomendasi
1. Di hampir semua objek memerlukan pembenahan (renovasi) secara fisik, terutama untuk

objek-objek yang memiliki potensi besar seperti Pantai Jatimalang dan Kolam Renang
Artha Tirta.
2. Di semua objek wisata memerlukan pembenahan dan peningkatan yang berkaitan dengan
sanitasi dan kebersihan/kerapian objek. Khusus untuk Pantai Jatimalang juga diperlukan
penertiban kedai-kedai di sepanjang pantai dan di sekitar patung Dewaruci.
3. Selain renovasi fisik, diperlukan pula pembenahan yang bersifat administratif kelembagaan.
Misalnya untuk Pantai Jatimalang diperlukan koordinasi yang lebih baik dengan Pemerintah
Desa maupun dengan Pokdarwis.
4. Diperlukan penyesuaian tarif retribusi, terutama di objek-objek yang tingkat kepadatan
kunjungan serta potensinya besar seperti Pantai Jatimalang dan Kolam Renang Artha Tirta.
5. Secara matematis, penyesuaian (kenaikan) tarif retribusi ini akan menurunkan tingkat
kunjungan, tetapi cukup efektif dalam menaikkan tingkat pendapatan. Selain itu, dengan

40

menurunnya densitas kunjungan, maka akan memberikan kenyamanan lebih bagi
pengunjung.
6. Untuk objek Puncak Geger Menjangan, jika tetap dipertahankan sebagai objek wisata,
maka diperlukan revitalisasi menyeluruh atas obyek ini, mulai dari bangunan fisik sampai
dengan administrasi kelembagaan.
7. Dari perhitungan Tim, secara matematis, Puncak Geger Menjangan sebenarnya tidak
terlalu signifikan untuk dipertahankan sebagai objek wisata. Hal ini disebabkan karena
tingginya fluktuasi jumlah kunjungan yang hanya terkonsentrasi pada bulan Ruwah dan
Sura di setiap tahunnya. Selain itu, juga perlu dipertimbangkan dari sisi keekonomian dan
aspek sosial budaya.
8. Diperlukan pembaruan (updating) atas Perda Kabupaten Purworejo No. 11 tahun 2020,
terutama dalam pasal-pasal yang berkaitan dengan tarif retribusi dan penetapan suatu
objek menjadi tujuan wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo.
9. Untuk Gedung Pertemuan Ganeca Convention Hall diperlukan pengelolaan yang lebih
profesional yang mencakup pengelolaan secara bisnis, pengelolaan fisik bangunan, serta
pengelolaan secara kelembagaan.
10. Untuk objek-objek unggulan juga diperlukan promosi dan sosialisasi yang lebih gencar dan
terarah, terutama untuk menjangkau segmen pengunjung yang lebih luas.
11. Di beberapa objek perlu diagendakan atraksi-atraksi tertentu (budaya, tradisi) secara
rutin yang bertujuan untuk meningkatkan daya tarik (attractiveness) suatu objek wisata.
Tambahan daya tarik ini akan menaikkan animo dan sekaligus menaikkan tingkat
kunjungan. ***

41

DAFTAR PUSTAKA

Damanik, J., H.F Weber, Perencanaan Ekowisata dari Teori Aplikasi, Pusat Studi Pariwisata
(PUSPAR) UGM dan Penerbit Andi Yogyakarta, 2016.

Fabiola, Frida, et-al, “Pengembangan Potensi Wisata Bahari si Desa Jatimalang, Kecamatan
Purwodadi, Kabupaten Purworejo, dalam Diponegoro Journal of Management of Aquatic
Resources, Volume 4 , No. 3., Semarang, 2015.

Soekadijo, R.G., Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai Systematic Linkage, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 2000.

42


Click to View FlipBook Version