The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Laporan Praktikum Fisika Pengukuran

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by afiaalthaffauziah, 2022-11-04 02:35:39

Flipbook fisika

Laporan Praktikum Fisika Pengukuran

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mengukur ketebalan koin dan diameter pulpen.
2. Menghitung hasil pengukuran tunggal, ketidakpastian pengukuran berulang, dan

ketidakpastian relatif menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup.

B. LANDASAN TEORI

Fisika adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam,
khususnya interaksi antara materi (zat) dan energi. Gejala-gejala alam dan interaksi
yang bisa diungkapkan biasanya dapat pula dirumuskan dalam. besar-besaran fisika.
Diantara besar-besaran fisika tersebut terdapat besar-besaran yang dapat diukur secara
langsung. Oleh karena itu, pengukuran merupakan satu bagian penting dalam fisika.

Fisika diawali dengan mengamati alam. Tetapi, hanya duduk dan menyaksikan gejala
alam, tidaklah cukup. Pengamatan gejala alam harus disertai dengan data kuantitatif
yang diperoleh dari hasil pengukuran. Lord kelvin, seorang fisikawan berkata “Bila kita
dapat mengukur apa yang sedang kita bicarakan dan menyatakan dengan angka-angka
berarti kita mengetahui apa yang sedang kita bicarakan itu.

>Jangka sorong
Alat ukur ini dapat untuk mengukur diameter dalam, diameter luar, serta kedalaman
suatu benda yang akan diukur. Terdiri dari skala utama, skala nonius, rahang pengatur
garis tengah dalam, rahang pengatur garis tengah luar, dan pengukur kedalaman,
Rahang pengatur garis tengah dalam dapat digunakan untuk mengukur diameter bagian
dalam sebuah benda dan rahang pengatur garis tengah luar dapat digunakan untuk
mengukur diameter bagian luar sebuah benda. Sepuluh skala utama memiliki panjang 1
cm, sedangkan 10 skala nonius memiliki Panjang 0,9 cm, Beda satu skala nonius dengan
satu skala utama adalah 0,1 cm – 0,09 cm = 0,01 cm atau 0,1 mm. Jadi, skala terkecil
jangka sorong adalah 0,01 cm atau 0,1 mm. ketelitian jangka sorong adalah setengah
dari skala terkecilnya, Jadi, ketelitian jangka sorong adalah
½ x0,1 mm=0,05 mm. Dengan ketelitian 0,1 mm, jangka sorong dapat digunakan untuk
mengukur diameter kelereng atau tebal keping logam dengan lebih teliti.

>Mikrometer Sekrup.
Mikrometer dapat digunakan untuk mengukur ketebalan benda-benda yang tipis seperti
kertas dan rambut. Hal ini sesuai dengan sifat mikrometer yang memiliki ketelitian lebih
besar dari jangka sorong. Mikrometer memiliki ketelitian hingga 0,01 mm, ketelitian ini
dirancang dari rahang putar yang memuat 50 skala. Hasil pengukurannya juga memiliki
angka pasti dan angka taksiran seperti jangka sorong. Rumusnya sebagai berikut.
X= (x0+∆x.0,01) mm
Dengan:
X= hasil pengukuran.
X0= sakala utama sebelum batas rahang putar.
∆x= skala nonius yang segaris dengan garis tengah skala utama.

>Pengukuran Berulang
Pengukuran berulang adalah pengukuran yang dilakukan tidak hanya sekalt melainkan
berulang-ulang supaya mendapatkan ketelitian yang maksimal dan akurat Pengukuran
berulang digunakan ketika dalam proses mengukur, Anda mendapatkan hasil yang

berbeda-beda dari segi pandang, baik dari segi pengamat (pengukur) maupun dari segi
objek yang diukur. Ketika Anda melakukan pengukuran tunggal, ketelitian atau
ketidakpastian yang diperoleh adalah setengah dari skala terkecil.
Dalam pengukuran berulang, pernyataan ini tidak berlaku melainkan menggunakan
simpangan baku (Sx). Hasil pengukuran panjang suatu benda dapat berbeda-beda jika
dilakukan berulang-ulang Laporan hasil pengukurannya berupa rata-rata nilai hasil
pengukuran dengan ketidakpastian yang sama dengan simpangan bakunya. Sebagal
contoh, hasil pengukuran panjang sebuah benda sebanyak n kali adalah pengukuran
pertama, kedua dst. Nilai rata ratanya yaitu:
dengan n adalah jumlah data yang diukur dan x adalah nilai rata-rata hasil pengukuran.
Simpangan bakunya dapat ditulis sebagai berikut.Oleh karena itu, hasil pengukuran
dapat ditulis menjadi ketidakpastian pengukuran berulang sering dinyatakan dalam
persen atau disebut ketidakpastian relatif. Secara matematis dituliskan sebagai berikut:
∆x = ketidakpastian.
x0 = data hasil pengukuran.

>Pengukuran Tunggal
Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan satu kali saja. Pengukuran
tunggal umumnya dilakukan apabila besaran yang diukurnya tidak berubah-ubah
sehingga hasil diukur dianggap akurat. Contohnya pengukuran tunggal yaitu mengukur
pensil. Pengukuran tunggal juga dilakukan apabila kesempatan untuk melakukan
pengukuran hanya sekali saja sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan
pengukuran berulang.
Ketidakpastian pada pengukuran tunggal ditentukan dari setengah skala terkecil dari
alat ukur yang digunakan. Secara matematis, dapat ditulis:
∆x = ½ x skala terkecil

Kekurangan dalam pengukuran tunggal yaitu pengukuran tunggal memberikan hasil
yang kurang teliti dikarenakan hanya melakukan pengukuran sekali saja.
Dalam pengukuran tunggal, penentuan hasil ukurnya tidak ada aturan tertentu (tidak
harus ½ Nilai Skala Terkecil) dan hasil ukurnya ditentukan oleh keprofesionalitas si
pengukur itu sendiri yang dilakukan secara logis dan rasional berdasarkan intuisi dan
pemahaman yang dikuasainya.

>Ketidakpastian Berulang
Untuk mendapatkan nilai ketidakpastian pengukuran berulang, dapat menggunakan
persamaan standar deviasi yang dinyatakan sebagai berikut:

Keterangan:
x0 = hasil pengukuran yang mendekati nilai benar
∆x = ketidakperluan pengukuran
Σ = jumlah keseluruhan hasil pengukuran
N = jumlah pengukuran

>Ketidakpastian Relatif

Nilai ketidakpastian relatif menentukan banyaknya angka yang boleh disertakan pada
laporan hasil pengukuran. Aturan banyaknya angka yang dapat dilaporkan dalam
pengukuran berulang adalah sebagai berikut:

 Relative 10% berhak atas 2 angka
 Relative 10% berhak atas 3 angka
 Relative 10% berhak atas 4 angka

C. ALAT dan BAHAN = 1 buah
= 1 buah
1. Jangka sorong = 1 buah
2. Mikrometer sekrup = 1 buah
3. Koin = secukupnya
4. Pulpen = secukupnya
5. Pensil = secukupnya
6. Penghapus
7. Kertas

D. PROSEDUR PRAKTIKUM

Langkah-langkah percobaan:
1. 4 orang siswa mengukur diameter pulpen dan ketebalan koin dengan menggunakan

jangka sorong dan mikrometer sekrup secara bergantian.
2. Ulangi masing-masing mendapatkan satu kali mengukur dan catat pada table data

pengamatan.
3. Lengkapilah tabel pengamatan yang tersedia pada data pengamatan.

E. DATA PERCOBAAN Althaf

Nabil

Mar ah

Farah

Mikrometer sekrup (Ketebalan koin)

Percobaan Nama siswa yang
ke- mengukur X1 12
1. Farah 1,74mm 3,02
2. Mar’ah 2,38mm 5,66
3. Althaf 1,89mm 3,57
4. Nabil 2,42mm 5,85
8,43mm 18,1
Dijumlahkan

Jangka sorong (Diameter pulpen)

Percobaan Nama siswa yang 1−2
ke- mengukur X1
1. Farah
2. Mar’ah 1,08cm 1,16
3. Althaf
4. Nabil 2,94cm 8,64

Dijumlahkan 0,98cm 0,96

1,095cm 1,199

6,095cm 11,959

F. ANALISIS DATA

a. Ketebalan koin (Mikrometer sekrup)

Percobaan Nama siswa yang
ke- mengukur X1 12
1. Farah 1,74mm 3,02
2. Mar’ah 2,38mm 5,66
3. Althaf 1,89mm 3,57
4. Nabil 2,42mm 5,85
8,43mm 18,1
Dijumlahkan

 X0 = Σ



= 8,43 = 2,1075

4

 ∆x = 1 √ .Σ. 12−(ΣX1)2

−1

= 1 √4.18,1−(8,43)2

4 4−1

= 1 √72,4−71,06

43

= 1 √1,34

43

= 1 √0,446666667
4

= 0,167

 Ketelitian Relatif = ∆X x 100%

0

= 0,167 x 100%

2,1075

=0,079 x 100 = 7,9 %
 Ketelitian = 100% - 7,9%

= 92,1 %

b. Diameter Pulpen (Jangka sorong)

Percobaan Nama siswa yang 1−2
ke- mengukur X1
1. Farah
2. Mar’ah 1,08cm 1,16
3. Althaf
4. Nabil 2,94cm 8,64

Dijumlahkan 0,98cm 0,96

1,095cm 1,199

6,095cm 11,959

 X0 = Σ



= 6,095 = 1,52375

4

 ∆x = 1 √ .Σ. 12−(ΣX1)2

−1

= 1 √4.11,959−(6,095)2

4 4−1

= 1 √47,836−37,14

43

= 1 √10,69

43

= 1 √3,563333333

4
= 0,471

 Ketelitian Relatif = ∆X x 100%

0

= 0,471 x 100%

1,52375

=0,309 x 100 = 30,9 %
 Ketelitian = 100% - 30,9%

= 69,1 %

3.5 Mar'ah Althaf Nabil
3 Koin Pulpen

2.5
2

1.5
1

0.5
0
Farah

G. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dam analisis data praktikum kami sebelumnya, di dapatkan

kesimpulan bahwa:

1. Masing-masing orang yang melakukan pengukuran secara bergantian akan

mendapatkan hasil pengukuran yang berbeda-beda.

2. Pada praktikum jangka sorong, kami mendapatkan:

- x0 = 1,52375
- ∆x = 0,471

- ketidakpastian relatif = 30,9%

- ketelitian = 69,1%

3. Pada praktikum mikrometer sekrup, kami mendapatkan:

- x0 = 2,1075
- ∆x = 0,167

- ketidakpastian relatif = 7,9%

- ketelitian = 92,1%

DAFTAR PUSTAKA

https://www.siswapedia.com/pengukuran-tunggal-dan-pengukuran-berulang/
https://www.temukanpengertian.com/2013/09/pengertian-pengukuran-tunggal.html
Modul pembelajaran fisika

Modul pembelajaran fisika

DOKUMENTASI KEGIATAN


Click to View FlipBook Version