Koneksi Antar Materi
Modul 2.3
Coaching Untuk
Supervisi Akademik
Saya Ruli Wahyu Utami
CGP Angkatan 6
dari SMAN 1 Poto Tano
Bersama Fasilitator saya
Bapak Rendy Novan Saputra
Dan Pengajar Praktek saya
Bapak Subki
Tujuan Pembelajaran Khusus
"CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan
materi yang diperoleh dan membuat refleksi
berdasarkan pemahaman yang dibangun selama
modul 2 dalam berbagai media"
REFLEKSI
MATERI PEMBELAJARAN MODUL 2.3
COACHING
Sebuah Proses kolaborasi yang berfokus pada
solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas
performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi
dari coachee
PARADIGMA BERFIKIR
COACHING
Fokus pada coachee yang akan
dikembangkan
Bersikap terbuka dan ingin tahu
Memiliki kesadaran diri yang kuat
Mampu melihat peluang baru dan masa
depan
Prinsip Coaching
KEMITRAAN
Dalam coaching posisi coach terhadap
coacheenya adalah mitra. Itu berarti setara,
tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih
rendah
PROSES KREATIF
Proses kreatif ini dilakukan melalui
percakapan dua arah, memicu proses
berfikir coachee, memetakan dan menggali
situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide
baru
MEMAKSIMALKAN POTENSI
Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan
rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan
suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh
rekan yang dikembangkan
Coaching Dalam Konteks
Pendidikan
FILOSIOFI KI HAJAR
DEWANTARA
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran
antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan
untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik
sebagai "pamong" dalam memberi tuntunan dan
memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak
kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa
membahayakan dirinya
Sistem Among
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing
Madya Mangun Karso, Tut Wuri
Handayani, menjadi semangat
yang menguatkan keterampilan
komunikasi guru dan murid
dengan menggunakan
pendekatan coaching serta
memberikan kekuatan dalam
pendekatan proses coaching
dengan memberdayakan
semua kekuatan diri pada
murid
KOMPETENSI INTI
COACHING
KEHADIRAN
PENUH/PRESENCE
kemampuan untuk bisa hadir
utuh bagi coachee sehingga
badan, pikiran, hati selaras
saat sedang melakukan
percakapan coaching
MENDENGARKAN AKTIF
Seorang coach yang baik akan
mendengarkan lebih banyak dan
sedikit bicara. Fokus dan pusat
komunikasi adalah pada diri
coachee, yakni mitra bicara
MENGAJUKAN PERTANYAAN
BERBOBOT
Pertanyaan yang
diajukan dapat memicu
orang untuk berfikir,
menstimulus pemikiran
coachee, memunculkan
hal-hal baru dan
mengungkapkan emosi
Percakapan Berbasis
Coaching Dengan Alur
Tirta
T
Tujuan
Coach perlu mengetahui I
apa tujuan yang hendak
dicapai coachee dari sesi Identifikasi
coaching
RApa lagi yang lain? Proses menggali semua
Rencana Aksi hal yang terjadi pada
diri coachee
Coach membantu coachee
dalam memilah dan TABagaimana akhirnya?
memilih hasil pemikiran Tanggung jawab
selama sesi yang nantinya
akan dijadikan sebuah
rancangan aksi
Komitmen coachee
dalam membuat sebuah
rencana aksi dan
menjalankannya
Supervisi Akademik
Dengan Paradigma
Berpikir Coaching
supervisi akademik perlu
dimaknai secara positif sebagai
kegiatan berkelanjutan yang
meningkatkan kompetensi guru
sebagai pemimpin pembelajaran
dalam mencapai tujuan
pembelajaran yakni pembelajaran
yang berpihak pada anak
Beberapa prinsip-prinsip supervisi
akademik dengan paradigma
berpikir coaching meliputi :
kemitraan, konstruktif, terencana,
reflektif, objektif,
berkesinambungan dan
komperhensif
Siklus dalam supervisi klinis pada
umumnya meliputi 3 tahap yakni :
Pra-observasi, Observasi dan
Pasca Observasi
Pengalaman
refleksi terkait
pengalaman
belajar
Emosi yang dirasakan Yang sudah baik
Tergugah untuk lebih giat dan yang perlu
belajar dan mendapatkan
pemahaman yang baik tentang diperbaiki
coaching untuk supervisi
akademik Mendapatkan pemahaman
Tertantang untuk materi coaching dan
memperbanyak praktik sudah dipraktekkan
coaching dengan murid dan Yang perlu diperbaiki
rekan guru agar mendapatkan terkait dengan kompetensi
keterampilan yang baik menjadi coach yang baik
sehingga kedepannya bisa terutama untuk
melakukan coaching supervisi mengajukan pertanyaan
akademik berbobot kepada coachee
Keterkaitan terhadap kompetensi
dan kematangan diri pribadi
Menambah dan mengoptimalkan kekuatan diri
sebagai seorang pendidik dan juga orang tua yang
dapat menjadi seorang coach bagi orang-orang
disekitar
ANALISIS UNTUK IMPLEMENTASI
DALAM KONTEKS GURU
PENGGERAK
Analisis Terkait Topik Modul 2.3
BAGAIMANA PENERAPAN COACHING
UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Melalui supervisi akademik, kegiatan pemberdayaan
dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka
peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan
pembelajaran, coaching dibutuhkan sebagai
peningkatan motivasi atau komitmen diri seorang
guru, sehingga kualitas pembelajaran meningkat
seiring meningkatnya motivasi kerja para guru
COACHING SEBAGAI KOMPETENSI
MEMBANGUN KEMITRAAN
Kemitraan dalam menjalani proses coaching
dapat terbangun dan membuka peluang
akselerasi kesadaran yang mendorong tindakan
aksi manakala dilandasi kepercayaab coachee
kepada coach. Dalam prosesnya, kita tidak perlu
memandang kesenjangan jabatan, karena dalam
supervisi akademik terjadi proses kolaboratif
antara supervisor dan guru
APA TANTANGAN IMPLEMENTASI
COACHING DISEKOLAH
Sering kali supervisi akademik dilihat sebagai sebuah
proses yang bersifat satu arah. Apalagi jika supervisi
akademik ini hanya terjadi satu tahun sekali menjelang
akhir tahun pelajaran. Supervisi menjadi sebuah tagihan
atau kewajiban para pemimpin sekolah dalam tanggung
jawabnya mengevaluasi para tenaga pendidik
BAGAIMANA ALTERNATIF SOLUSI
UNTUK TANTANGAN YANG ADA
Pada proses coaching seorang coach lebih
menekankan menjadi seorang pendengar aktif
dengan sedikit mendominasi pembicaraan,
seorang coach hanya melontarkan beberapa
pertanyaan yang merangsang ide melalui
jawaban dari seorang coachee. Dibutuhkan
sebuah keterampilan berkomunikasi yang lebih
untuk melakukan coaching sebab dalam
coaching lebih menekankan temuan komitmen
untuk menyelesaikan masalah sehingga pada
masa depan dapat lebih baik
LET´AS CBWREOTERTALETDRE
Keterkaitan Antar
Modul
MODUL 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada 3
pemetaan yaitu : minat, kebutuhan belajar
siswa dan profil belajar siswa. Pemetaan ini
digunakan seorang coachee sebagai data
dalam proses coaching, sehingga mampu
mengoptimalkan potensi yang ada dalam
dirinya untuk menemukan solusi terbaik
MODUL 2.3
Coaching Untuk Supervisi Akademik
MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam KSE
antara lain : kesadaran diri, pengelolaan diri,
kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan
pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. KSE
digunakan seorang pendidik sebagai coach dalam
proses coaching, agar terjadi pengendalian diri dan
emosi untuk coach dan coachee serta menimbulkan
rasa empati dan rasa sosialisasi serta mengambil
keputusan yang tepat
Peran sebagai seorang coach
di sekolah dan keterkaitannya
dengan materi sebelumnya
modul 2.1 dan 2.2
Didalam kompetensi
coaching dan TIRTA
sebagai alur percakapan
coaching, mewajibkan
kita sebagai coach untuk
dapat melakukan
kehadiran penuh salah
satunya dengan kegiatan
STOP dan mainfullness
yang telah dipelajari pada
modul 2.2 pembelajaran
sosial dan emosional
Salah satu prinsip
coaching adalah
memaksimalkan potensi
dan memberdayakan
rekan sejawat,
percakapan perlu diakhiri
dengan suatu rencana
tindak lanjut yang
diputuskan oleh rekan
yang dikembangkan,
yang paling besar
kemungkinan berhasilnya.
Karena potensi coachee
beragam maka
keterampilan sosial
emosionalnya diperlukan
untuk memaksimalkan
potensi coachee
Keterhubungan
koneksi pembelajaran
modul 2.3
Keterhubungan
Mengintegrasikan Pembelajaran poker or kelas memberikan
pondasi yang kuat bagi murid untuk dapat sukses dalam
berbagai area kehidupan mereka, termasuk kesejahteraan
psikologis (well-being) secara optimal, hal ini dapat dilakukan
dengan menerapkan proses coaching, coaching bertujuan untuk
membiasakan murid mandiri, mengelola memantau,
memodifikasi diri sendiri agar bisa menjadi pribadi yang lebih
berpotensi dan bertanggung jawab
Keterhubungan
Pembelajaran Sosial dan Emosional dapat dilakukan melalui
penerapan tehnik STOP guna menghadirkan mindfulness pada
saat percakapan coaching berlansung sehingga dapat
menuntun coachee menemukan Solusi atas permasalahannya.
Penerapan
apabila saya melakukan coaching dan berperan sebagai
coach saya akan menerapkan kompetensi inti coaching seperti
akan fokus (presence) dan aktif mendengar apa yang menjadi
pembahasan coachee, dan berusaha menuntun coachee
menemukan solusinya dengan pertanyaan terbuka dan
berbobot. Salah satu penerapan coaching dapat dilakukan
saat dilaksanakannya supervisi akademik
Praktik baik
Bagaimana merancang pembelajaran yang berpihak pada murid.
pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan murid yaitu penerapan
pembelajaran berdiferensias, saya menganggap pembelajaran ini sebagai
praktik baik saya. karena saya dapat menuntun murid dalam belajar sesuai
kebutuhan belajarnya. berdasarkan pemetaaan di awal pembelajaran
Sehingga tujuan pembelajaranpun tercapai
Sumber Lain
Saya tetap berusaha mencari ide-ide untuk penerapan
pembelajaran yang kreatif. variatif dan menyenangkan dan
tentunya menyajikan pembelajaran yang menarik yang dapat
meningkatkan minat belajar murid Salah satunya dengan
memanfaatkan teknologi dan media sosial dalam menambah
informasi