The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

SIFAT-SIFAT GEREJA

Nama : Fidelis Charitas I.P
Kelas : XI IPS 2

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by charitasfidelis, 2022-07-30 03:06:17

SIFAT-SIFAT GEREJA BY FIDELIS CHARITAS I.P

SIFAT-SIFAT GEREJA

Nama : Fidelis Charitas I.P
Kelas : XI IPS 2

Keywords: Sifat sifat gereja

Sifat Sifat Gereja

FIDELIS CHARITAS I.P
XI IPS 2 / 15

SIFAT SIFAT GEREJA

01 Gereja itu “satu” karena Roh Kudus yang
02 mempersatukan para anggota jemaat
03 satu sama lain dengan para kepala atau
04 pimpinan jemaat (uskup) baik partikular
maupun universal (Paus) yang
berkedudukan di Vatikan.
Gereja itu “kudus” karena berkat Roh
Kudus yang menjiwai-Nya, Gereja
bersatu dengan Tuhan, satu-satunya
yang dari diri-Nya sendiri kudus.
Gereja itu “katolik”, “menyeluruh”, “am”
atau “umum” karena tersebar di seluruh

dunia sehingga mencakup semua.

Gereja itu “apostolik” karena warganya
dikatakan “anggota umat Allah” jika
bersatu dengan pusat-pusat Gereja
yang mengakui diri sebagai tahta para
Rasul (apostoloi).

1. Gereja itu “satu” karena Roh Kudus yang mempersatukan para
anggota jemaat satu sama lain dengan para kepala atau pimpinan
jemaat (uskup) baik partikular maupun universal (Paus) yang
berkedudukan di Vatikan.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) menjelaskan bahwa Gereja itu satu,
karena tiga alasan. Pertama, Gereja itu satu menurut asalnya, yang adalah
Tritunggal Mahakudus, kesatuan Allah tunggal dalam tiga Pribadi – Bapa,
Putra dan Roh Kudus. Kedua, Gereja itu satu menurut pendiri-Nya, Yesus
Kristus, yang telah mendamaikan semua orang dengan Allah melalui
darah-Nya di salib. Ketiga, Gereja itu satu menurut jiwanya, yakni Roh
Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, yang menciptakan persekutuan
umat beriman, dan yang memenuhi serta membimbing seluruh Gereja
(KGK art.813).
“Kesatuan” Gereja juga kelihatan nyata. Sebagai orang-orang Katolik, kita
dipersatukan dalam pengakuan iman yang satu dan sama, dalam perayaan
ibadat bersama terutama sakramen-sakramen, dan struktur hierarkis
berdasarkan suksesi apostolik yang dilestarikan dan diwariskan melalui
Sakramen Tahbisan Suci. Sebagai contoh, kita ikut ambil bagian dalam
Misa di Surabaya, Larantuka, Alexandria, San Francisco, Moscow,
Mexico City, Etiopia atau di manapun, Misanya sama; bacaan-bacaan, tata
perayaan, doa-doa, dan lain sebagainya terkecuali bahasa yang
dipergunakan dapat berbeda – dirayakan oleh orang-orang percaya yang
sama-sama beriman Katolik, dan dipersembahkan oleh Imam yang
dipersatukan dengan Uskupnya, yang dipersatukan dengan Bapa Suci,
Paus, penerus tahta St. Petrus.
Gereja yang satu memiliki kemajemukan yang luar biasa. Umat beriman
menjadi saksi iman dalam panggilan hidup yang berbeda-beda dan
beraneka bakat serta talenta, tetapi saling bekerjasama untuk meneruskan
misi Tuhan kita. Keanekaragaman budaya dan tradisi memperkaya Gereja
kita dalam ungkapan iman yang satu. Pada intinya, cinta kasih haruslah
merasuki Gereja, sebab melalui cinta kasihlah para anggotanya saling
dipersatukan dalam kebersamaan dan saling bekerjasama dalam persatuan
yang harmonis.

2. Gereja itu “kudus” karena berkat Roh Kudus yang
menjiwai-Nya, Gereja bersatu dengan Tuhan, satu-satunya
yang dari diri-Nya sendiri kudus

Gereja katolik meyakini diri kudus bukan karena tiap anggotanya sudah kudus tetapi lebih-
lebih karena dipanggil kepada kekudusan oleh Tuhan, “Hendaklah kamu sempurna
sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).Perlu diperhatikan juga
bahwa kategori kudus yang dimaksud terutama bukan dalam arti moral tetapi teologi,
bukan soal baik atau buruknya tingkah laku melainkan hubungannya dengan Allah. Ini
tidak berarti hidup yang sesuai dengan kaidah moral tidak penting. Namun kedekatan
dengan yang Ilahi itu lebih penting, sebagaimana dinyatakan, “kamu telah memperoleh
urapan dari Yang Kudus (1Yoh 2:20),yakni dari Roh Allah sendiri (bdk. Kis10:38).
Diharapkan dari diri seorang yang telah terpanggil kepada kekudusan seperti itu juga
menanggapinya dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan kaidah-kaidah moral
(lihat LG. Art.26).Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai pengudusan
oleh Roh Kudus (lih. 1Ptr 1: 2). Dikuduskan karena terpanggil (lih. Rm 1:7). Dari pihak
manusia, kekudusan (kesucian) hanya berarti tanggapan atas karya Allah, terutama dengan
sikap iman dan pengharapan. Sikap iman dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan
kehidupan yang serba biasa. Kesucian bukan soal bentuk kehidupan (seperti menjadi
biarawan), melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari.Kekudusan itu
terungkap dengan aneka cara pada setiap orang. Kehidupan Gereja bukanlah suatu sifat
yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian
dalam satu kekudusan Gereja, yang berasal dari Kristus. Kesucian ini adalah kekudusan
yang harus diperjuangkan terus-menerus. Sumber dari mana Gereja berasal adalah kudus.
Gereja didirikan oleh Kristus. Gereja menerima kekudusannya dari Kristus dan doa-Nya.
“Ya Bapa yang kudus,… kuduskanlah mereka dalam kebenaran … (lih. Yoh 17: 11).
Tujuan dan arah Gereja adalah kudus. Gereja bertujuan untuk kemuliaan Allah dan
penyelamatan umat manusia.Tuhan kita Sendiri adalah sumber dari segala kekudusan:
“Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita
dalam tubuh-Nya, yakni Gereja” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, #14). Kristus
menguduskan Gereja, dan pada gilirannya, melalui Dia dan bersama Dia, Gereja adalah
agen pengudusan-Nya. Melalui pelayanan Gereja dan kuasa Roh Kudus, Tuhan kita
mencurahkan berlimpah rahmat, teristimewa melalui sakramensakramen.
Oleh karena itu, melalui ajarannya, doa dan sembah sujud, serta perbuatan-perbuatan baik,
Gereja adalah tanda kekudusan yang kelihatan.

2. Gereja itu “kudus” karena berkat Roh Kudus yang

menjiwai-Nya, Gereja bersatu dengan Tuhan, satu-satunya
yang dari diri-Nya sendiri kudus

“Uskup mempunyai kepenuhan sakramen Tahbisan, maka ia menjadi “pengurus
rahmat imamat tertinggi” terutama dalam Ekaristi, yang dipersembahkannya sendiri
atau yang dipersembahkan atas kehendaknya, dan yang tiada hentinya menjadi
sumber kehidupan dan pertumbuhan Gereja” (LG.art.26). Masing-masing kita
sebagai anggota Gereja, telah dipanggil kepada kekudusan. Melalui Sakramen
Baptis, kita telah dibebaskan dari dosa asal, dipenuhi dengan rahmat pengudusan,
dibenamkan ke dalam misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan, dan
dipersatukan ke dalam Gereja, “umat kudus Allah”. Dengan rahmat Tuhan, kita
berjuang mencapai kekudusan. Konsili Vatican II mendesak, “Segenap umat
Katolik wajib menuju kesempurnaan Kristen, dan menurut situasi masing-masing
mengusahakan, supaya Gereja, ke hari makin dibersihkan dan diperbaharui,
sampai Kristus menempatkannya di hadapan Dirinya penuh kemuliaan, tanpa
cacat atau kerut” (Dekrit tentang Ekumenisme, #4).
Gereja kita telah ditandai dengan teladan-teladan kekudusan yang luar biasa
dalam hidup para kudus sepanjang masa. Tak peduli betapa gelapnya masa bagi
Gereja kita, selalu ada para kudus besar melalui siapa terang Kristus dipancarkan.
Kita manusia yang rapuh, dan terkadang kita jatuh dalam dosa; tetapi, kita bertobat
dari dosa kita dan sekali lagi kita melanjutkan perjalanan di jalan kekudusan.
Dalam arti tertentu, Gereja kita adalah Gereja kaum pendosa, bukan kaum yang
merasa diri benar atau merasa yakin akan keselamatannya sendiri. Salah satu doa
terindah dalam Misa dipanjatkan sebelum Tanda Damai, “Tuhan Yesus Kristus,
jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu.” Meski
individu-individu warga Gereja rapuh dan malang, jatuh dan berdosa, Gereja terus
menjadi tanda dan sarana kekudusan.

3. Gereja itu “katolik”, “menyeluruh”, “am” atau
“umum” karena tersebar di seluruh dunia sehingga
mencakup semua.

Katolik makna aslinya berarti universal atau umum. Arti universal dapat dilihat secara
kwantitatif dan kualitatif. Gereja itu katolik karena Gereja dapat hidup di tengah segala
bangsa dan memperoleh warganya dari semua bangsa. Gereja sebagai sakramen Roh
Kudus mempunyai pengaruh dan daya pengudus yang tidak terbatas pada anggota Gereja
saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia. Dengan sifat katolik ini dimaksudkan
bahwa Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri untuk berkiprah ke seluruh
penjuru dunia.
Gereja itu katolik karena ajarannya dapat diwartakan kepada segala bangsa dan segala
harta kekayaan bangsa-bangsa dapat ditampungnya sejauh itu baik dan luhur. Gereja
terbuka terhadap semua kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat yang luhur tanpa
kehilangan jati dirinya. Sebenarnya, Gereja bukan saja dapat menerima dan merangkum
segala sesuatu, tetapi Gereja dapat menjiwai seluruh dunia dengan semangatnya. Oleh
sebab itu, yang katolik bukan saja Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya,
sebab dalam setiap jemaat hadirlah seluruh Gereja. Setiap jemaat adalah Gereja yang
lengkap, bukan sekedar “cabang” Gereja universal. Gereja setempat merupakan seluruh
Gereja yang bersifat katolik.Gereja bersifat katolik berarti terbuka bagi dunia, tidak
terbatas pada tempat tertentu, bangsa dan kebudayaan tertentu, waktu atau golongan
masyarakat tertentu. Kekatolikan Gereja tampak dalam: Rahmat dan keselamatan yang
ditawarkannya.Iman dan ajaran Gereja yang bersifat umum, dapat diterima dan dihayati
oleh siapa pun juga. Kekatolikan Gereja tidak berarti bahwa Gereja meleburkan diri ke
dalam dunia. Dalam keterbukaan itu, Gereja tetap mempertahankan identitas dirinya.
Kekatolikan justru terbukti dengan kenyataan bahwa identitas Gereja tidak tergantung pada
bentuk lahiriah tertentu, melainkan merupakan suatu identitas yang dinamis, yang selalu
dan dimana-mana dapat mempertahankan diri, bagaimanapun juga bentuk pelaksanaannya.
Kekatolikan Gereja bersumber dari firman Tuhan sendiri.
Gereja itu bersifat dinamis. Maka Gereja dapat dikembangkan lebih nyata atau diwujudkan
dengan cara: Bersikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adatistiadat, bahkan agama
bangsa mana pun. Bekerja sama dengan pihak mana pun yang berkehendak baik untuk
mewujudkan nilai- nilai yang luhur di dunia ini. Berusaha untuk memprakarsai dan
memperjuangkan suatu dunia yang lebih baik untuk umat manusia. Terlibat dalam
kehidupan bermasyarakat, sehingga kita dapat memberi kesaksian bahwa “katolik” artinya
terbuka untuk apa saja yang baik dan siapa yang berhendak baik.

4. Gereja itu “apostolik” karena warganya dikatakan “anggota
umat Allah” jika bersatu dengan pusat-pusat Gereja yang
mengakui diri sebagai tahta para Rasul (apostoloi).

Gereja yang apostolik berarti Gereja yang berasal dari para Rasul dan tetap
erpegang teguh pada kesaksian iman mereka, yang mengalami secara dekat
peristiwa Yesus. Kesadaran bahwa Gereja dibangun atas dasar para Rasul
dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru sudah ada sejak zaman Gereja
Perdana. Hubungan historis antara Gereja para Rasul dan Gereja sekarang tidak
boleh dilihat sebagai semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar
bagaikan sebuah tongkat dari Rasul-Rasul tertentu diteruskan sampai kepada
para uskup sekarang. Yang disebut apostolik bukanlah para Uskup, melainkan
Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam
segala bidang dan pelayanannya. Gereja bersifat apostolik berarti Gereja
sekarang mengaku diri sama dengan Gereja Perdana, yakni Gereja para Rasul.
Hubungan historis itu jangan dilihat sebagai pergantian orang, melainkan
sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.
Gereja yang apostolik tidak berarti bahwa Gereja terpaku pada Gereja Perdana.
Gereja tetap berkembang di bawah bimbingan Roh Kudus dan tetap berpegang
pada Gereja para Rasul sebagai norma imannya. Hidup Gereja tidak boleh
bersifat rutin, tetapi harus dinamis. Gereja disebut apostolik karena Gereja
berhubungan dengan para rasul yang diutus oleh Kristus. Hubungan itu tampak
dalam: Legitimasi fungsi dan kuasa hierarki dari para Rasul. Fungsi dan kuasa
hierarki diwariskan dari para rasul. Ajaran-ajaran Gereja diturunkan dan
berasal dari kesaksian para rasul.Ibadat dan struktur Gereja pada dasarnya
berasal dari para rasul. Gereja sekarang sama dengan Gereja para rasul. Bahkan
identitas Gereja sekarang mempunyai kesatuan dan kesamaan fundamental
dengan Gereja para rasul.
Keempat sifat Gereja itu saling kait mengait, tetapi tidak merupakan rumus
yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri
dengan karya Roh Kudus di dalam dirinya. Gereja itu Ilahi sekaligus insani,
berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Gereja itu bersifat dinamis,
tidak sekali jadi dan statis, oleh karena itu sifat-sifat Gereja tersebut harus
selalu diperjuangkan.

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melain
kan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-
anggota keluarga Allah,yang dibangun di atas dasar para rasul dan
para nabi,dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.Di dalam Dia
tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang
kudus,
di dalam Tuhan.Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menja
di tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”

Efesus 2:19-22


Click to View FlipBook Version