B.
Bab I
PENDIDIKAN TINGKAT SEKOLAH DASAR
A. TUJUAN SEKOLAH DASAR
Secara formal dan institusional,sekolah dasar masuk pada kategori Pendidikan dasar.
Pendidikan dasar menurut Undang-Undang Sistem Prndidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
Pasal 17 ayat 1 dan 2 merupakan jenjang Pendidikan yang dilandasi jenjang menengah ;
Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasash ibtidaiyah (MI) atau bentuk
lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs)
atau bentuk lain yang sederajat.
Jadi, Pendidikan dasar yang dimaksudkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tersebut adalah Pendidikan yang berbentuk sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah dan
sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah .pendidikan dasar tersebut tidak hanya
Pendidikan dasar disekolah saja ,tetapi juga pada sekolah menengah pertama. Dengan kata
lain, yang dimaksud Pendidikan dassar dalam Undang-Undang tersebut adalah Pendidikan
wajib 9 tahun, yakni sejak sekoklah dasar sampai sekolah menengah pertama, atau sejak
maddrasah ibtidaiyah sampak madrasah tsanawiyah. Dengan demikian, sekolah dasar masuk
pada kategori Pendidikan dasar.
Adapun apabila dilihat dari tujuan pendidikan sekolah dasar menurut Mirasa dkk. (2005)
dimaksudkan sebagai proses pengembangan kemampuan yang paling mendasar setiap siswa,
dimana setiap siswa belajar secara aktif karena adanya dorongan dalam diri dan adanya
suasana yang memberikan kemudahan (kondusif) bagi perkembangan dirinya secara
optimal.
Dengan demikian sekolah dasar atau Pendidikan dasar tidak semata-mata membekali anak didik
berupa kemampuann membaca, menulis dan berhitung semata, tetapi harus mengembangkan
potensi pada siswa baik potensi mental, sosial dan spiritual. Sekolah dasra memiliki visi
mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
B. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Suatu hal yang juga tidak boleh di lupakan oleh guru Pendidik di sekolah dasar ini adalah guru
hendak memahami karakteristik siswa yang akan diajarkannya. karena anak yang berada di
sekolah dasar masih tergolong anak usia dini terutama di kelas awal,adalah anak yang berada di
rentangan anak usia dini.oleh karena itu,pada masa saat ini anak perlu didorongkan sehingga
akan berkembang secara optimal.
Adapun pertumbuhan dan perkembangan siswa merupakan bagian dari pengetahuan yang harus
dimiliki oleh guru.pentingnya mempelajari perkembangan perserta didik bagi guru ,sebagai
berikut:
Kita akan memperoleh ekspetasi yang nyata tentang anak dan remaja.
Pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak membantu kita untuk merespons
sbagimana mestinya pada perilaku tertentu pada seorang anak
Pengetahuan tentang perkembangan anak akan membantu mengenali berbagai penyimpangan
dari perkembangan yang normal.
Dengan memperlajari perkembangan anak akan membantu memahami diri sendiri.
Setiap manusia secara psikologis memahamin tahap pertumbuhan dan
perkembangan.bagaimana pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah
anak.perkembangan pada anak meliputi aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik dan
mental.pertembang mental meliputi perkembangan intektual,emosi,Bahasa,sosial,dan moral
keagamaan.
Fase perkembangan anak,menurut santrok dan yussen terdiri dari lima fae,yaitu:
1. Fase prenatal,saat dalam kandungan dari masa pembuahan sampai dengan masa kelahiran
2. Fase bayi,yaitu saat perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai usia 18 atau 24 bulan.
3. Fase kanak-kanak awal,fase perkembangan yang berlangsung sejak kira kira umur lima atau
enam tahun
4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir,fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur
enam dan sampai sebelas tahun.
5. Fase remaja,masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa awal.
Menurut havighurst dalam juntika (2007:93),pada masa kanak-kanak akhir dan anak
sekolah,yaitu usia enam hingga dua belas tahun,memiliki tugas-tugas perkembangan sebagai
berikut:
1. Belajar keterampilan fisik untuk pertandingan biasa sehari-hari
2. Membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sebagai organisme yang sebagai tumbuh
kembang.
3. Belajar bergaul dengan teman yang seusianya.
4. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari
5. Belajar peran sosial yang sesuai dengan pria atau Wanita.
6. Mengembangkan kata hati,moralitas,dan atau skala nilai-nilai.
7. Mengembangkan kebebasan pribadi
8. Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok dan instrusi sosial.
Selanjutnya havighurst mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada
saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang jika berhasil akan
menimbulkan rasa bangga dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas
berikut.
a. Perkembangan Intelektual.
Pada usia sekoalh dasar (usia 6-12 tahun) anak sudah dapat merekaksikan rangsangan
intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual
atau kemampuan kognitif, seperti membaca, menulis, dan menghitung. Menurut Syamsu
Yusuf (2004: 178). Pada anak usia 6-12 tahun ini ditandai dengan ketuga kemampuan atau
kecakapan baru, yaitu mengkelarifikasikan (mengkelompokan), menyusun, dan
mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan. Disamping
itu, pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem
solving) yang sederhana. Menurut Piaget, kadang-kadang anak usia 5-7 tahun memasuki
tahapoperasi konkret (concrete operations), yaitu pada waktu itu anak dapatberfikir secara
logis mengenai segala sesuatunya.
b. Perkembangan Bahasa.
Bahasa merupakan simbol-simbol sebagai sarana untuk komunikasi dengan orang lain.
Menurut Syamsu Yusuf (2007:138), Perkembangan bahasa mencangkup semua cara untuk
berkomunikasi, yaitu dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan,
isyarat, atau mengerakan dengan mengguanakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar
atau tulisan.
Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenall dan
memguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Menurut Abin Syamsyddin, pada awal masa
ini ( usia 6-7 tahun), anak sudah menguasai sekitae 2.500 kata, dan pada masa akhir (usia 11-
12 tahun), anak telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata.
Sedangkan, Menuruut Syamsu Yusuf (2005:180), terdapat dua faktor yang memperngaruhi
perkembangan bahasa, yaitu:
Proses jadi matang, yaitu anak menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk
berkata-kata.
Proses belajar, yaitu anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain
dengan jalan mengimitasi atau menipu ucapan/ perkata yang di dengarnya.
Perkembangan bahasa itu, minimal dapat menguasai tiga kategori, yaitu:
Dapat membuat kalimat yang lebih sempurna
Dapat membuat kalimat majemuk, dan
Dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.
c. Perkembangan Sosial.
Perkembangan sosial sebagai mana proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-
norma kelompok, tradisi, dan moral keagamaan. Menurut Charlotte Buhler, pekembangan
sosisal sebagai sequence dari perubahan yang berkesinambungan dalam perilaku individu
untuk menjadi mahkluk sosial yang dewasa. Proses perkembangan sosial berlangsung secara
berirama. Pada masa anak sekolah masuk pada masa objektif, dimana perkembangan ini pada
anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adannya perluasan hubungan, disamping dengan
keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman yang sebaya (peer group) atau
teman sekelasnya.
Pada anak usia sekolah mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris)
kepada sikap bekerja sama (kooperatif), dan sikap peduli atau mau memperlihatkan
kepentingan orang lain (sosiosentris).
d. Perkembangan Emosi
Emosi adalah perasaan yang terefleksasikan dalam bentuk perbuatan atau Tindakan nyata
kepada orang lain atau pada diri sendiri untuk menyatakan suasana batin atau jiwanya. Emosi
seseorang akan tercermin dalam segala Tindakan dan perilakunya yang terwujud dalam
perkataan dan perbuatan serta sikap yang ditunjukkannya.
Menurut Juntika Nurikhsan (2007:153),emosi adalah suatu suasana yang kompleks (a
complex feeling state)dan getaran jiwa (a stride up state)yang menyertai atau muncul sebelum
atau sesudah terjadinya perilaku.
Dalam implementasinya,emosi pada anak sekolah sudah mulai menyadari bahwa
pengungkapan emosi tidak boleh sembarangan,mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi
secara kasar misalnya,tidaklah diterima di masyarakat. Menurut Syamsu Yusuf (2007:153),pada
usia sekolah dasar ini anak mulai belajar mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya.
Syamsu juga mengatakan bahwa karakteristik emosi yang stabil(sehat)ditandai dengan teman
secara baik.dapat berkonsentrasi dalam belajar,bersifat respek(mengkhargai)terhadap diri sendiri
dan orang lain.
e. Perkembangan Moral
Perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar adalahbahwa anak dapat mengikuti
peraturan atau tuntutan dari orangtua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini(usia 11 atau
12 tahun),anak sudah dapat memahami alas an yang mendasari suatu peraturan. Disamping
itu,anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar salah atau
baik buruk.
Sebagaimana dikemukakan oleh Piaget(1950),yang menyatakan bahwa setiap tahapan
perkembangan kognitif tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda yang secara garis
besarnya dikelompokkan kepada empat tahap,yaitu:
1. Tahap sensori motor(usia 0-2 tahun),pada tahap ini belum memasuki usia sekolah.
2. Tahap pra-operasional(usia 2-7 tahun),pada tahap ini kemampuan skema kognitifnya masih
terbatas.peserta didik suka meniru perilaku orang lain.
3. Tahap operasional konkret(usia 7-11 tahun),pada tahap ini peserta didik sudah mulai
memahami aspek-aspek kumulatif materi,misalnya volume dan jumlah;mempunyai kemampuan
memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yang bervariasi tingkatannya.selain
itu,peserta didik sudah mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa
yang konkret.
4. Tahap operasional formal (usia 11-15 tahun),pada tahap ini peserta didik sydah menginjak
usia remaja,perkembangan kognitif peserta didik pada tahap ini telah memiliki kemampuan
mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif baik secara simultn(serentak)maupun
berurutan. Misalnya, kapasitas merumuskan hipotesis dan menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
Selanjutnya,Piaget menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam
menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya,setiap anak memiliki
struktur kognitif yang disebut schemata,yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai
hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya.
Dengan mengacu pada teori pemahaman perkembangan kognitif Piaget tersebut,maka dapat
diketahui bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret (usia 7-11
tahun). Dimana pada rentang usia ini anak mulai menunjukkan perilaku belajar yang
berkembang,yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Anak mulai memandang dunia secara objektif,bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain
secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak
b. Anak mulai berpikir secara operasional,yakni mampu memahami aspek-aspek kumulatif
materi,seperti volume,jumlah,berat,luas,Panjang,dan pendek. Anak juga mampu memahami
tentang peristiwa-peristiwa yang konkret.
c. Anak dapat menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasi benda-benda yang
bervariasi beserta tingkatannya.
d. Anak mampu membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan-aturan,prinsip
ilmiah sederhana,dan menggunakan hubungan sebab akibat.
e. Anak mampu memahami konsep substansi,volume zat
cair,Panjang,pendek,lebar,luas,sempit,ringan,dan berat.
C. STANDR KOMPETENSI LULUSAN SEKOLAH DASAR
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun 2006 diberlakukan bahwa
Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan ( SKL-SP) pada sekolah dasar atau madrasah
ibtidaiyah, sebagai barikut:
1.Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak.
2.Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3.Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
4.Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi dilingkungan
sekitarnya.
5.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis dann kreatif.
6.Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru atau
pendidik.
7.Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
8.Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana didalam kehidupan sehari-hari.
9.Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial dilingkungan sekitar.
10.Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
11.Menunjukkan kecintaan dan kebangsaan terhadap bangsa, negara dan Tanah Air Indonesia.
12.Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.
13.Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman memanfaatkan waktu luang.
14.Berkomunikasi secara jelas dan santun.
15.Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan
keluarga dan teman sebaya.
16.Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.
17.Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca,menulis dan berhitung.
Sedangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) terbaru tahun 2012, bahwa
standar kompetensi lulusan di SD/MI menetapkan bahwa mutu lulusan merupakan bagian
penting dalam pemenuhan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yaitu: Standar Kompetensi
Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar
Sarana dan Prasarana, Stanadar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan, Standar Penilaian
Pendidikan. Tinggi rendah mutu lulusan ditentukan oleh tinggi rendahnya sumber daya
manajemen. Manajemen dalam menentukan kurikulum, pendidik, proses pembelajaran,
penilaian, sarana dan prasarana yang diperlukan oleh sekolah dapat menunjang keberhasilan
mutu lulusan yang tinggi.
Oleh karena itu, Kepala sekolah selayaknya mampu menciptakan sekolah yang efektif untuk
mengelola sumber daya yang ada, sehingga sekolah dapat mewujudkan tujuan mutu lulusan yang
tidak lebih rendah dari standar nasional pendidikan. Sekolah harus memiliki patokan pengarah
yang baku yaitu menggunakan SKL sebagai standar penentuan target seluruh kegiatan
pemenuhan yang terstruktu dan sistematis.
Adapun Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI tahun 2012 adalah meliputi lima
aspek yang meliputi: a) iman-takwa, b) belajar berinovasi, c) seni dan budaya, d) keterampilam
hidupdan karir, dan e) wawasan kebangsaan. Kelima aspek SKL tersebut secara rinci dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Iman – Takwa
Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak
Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri
Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dilingkungan
sekitarnya.
2. Belajar dan Berinovasi
Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif
Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan Guru/Pendidik
Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya
Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari
Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar
Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis
Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
3. Seni dan Budaya
Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal
4. Keterampilan Hidup dan Karir
Mematuhi aturan-aturan sosial yan berlaku dalam lingkungannya
Berkomunikasi secara jelas dan santun
Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong,dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan
keluarga dan teman sebaya.
5. Wawasan Kebangsaan
Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Adapun menurut peraturan UU yang terbaru, yaitu Berdasarkan Permendiknas No.
20 Tahun 2016. Dalam Lampiran Permendiknas No.20 Tahun 2016 dijelaskan bahwa: “ Standar
Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan”. Berdasarkan SKL tersebut, setiap lulusan satuan
pendidikan dasar diharapkan memiliki kompetensi pada tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Tujuan utama ditetapkan Permendiknas No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) agar SKL tersebut digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar-
standar ikutan lainnya. Standar-standar lainnya meliputi standar isi, standar proses, standar
penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana,
standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.
Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang
diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan dasar terdiri dari tingkat kompetensi Sekolah
Dasar dan SMP.Untuk tingkat kompetensi Sekolah Dasar, kompetensi yang diharapkan ketika
siswa lulus sekolah dasar berdasarkan masing-masing dimensi dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Dimensi Sikap SD/MI/SDLB/Paket A
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:
1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME
2. berkarakter, jujur, dan peduli
3. bertanggungjawab
4. pembelajar sejati sepanjang hayat
5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara
B. Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/Paket A
1. memiliki pengetahuan factual, konseptual, procedural, dan metakognitif
a. Memiliki pengetahuan factual
Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
b. Memiliki pengetahuan konseptual
Pengetahuan konseptual merupakan terminologi/ istilah yang digunakan, klasifikasi,
kategori, prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni
dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan
alam sekitar, bangsa, dan negara.
c. Memiliki pengetahuan procedural
Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau
kegiatan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait
dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa
dan negara.
d. Memiliki pengetahuan metakognitif
Pengetahuan metakognitif merujuk pada pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan
diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi, seni
dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan
alam sekitar, bangsa dan negara. berkenaan dengan:
1. ilmu pengetahuan,
2. teknologi,
3. seni, dan
4. budaya.
2. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
C. Dimensi Ketrampilan SD/MI/SDLB/Paket A
SKL yang diharapkan dari lulusan SD/MI/SDLB/Paket A sudah mengadopsi ketrampilan yang
diharapkan dari pembelajaran berciri Abad 21. Lulusan pada tingkat Sekolah Dasar
diharapkan memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:
1. kreatif,
2. produktif,
3. kritis,
4. mandiri,
5. kolaboratif, dan
6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap perkembangan anak yang
relevan dengan tugas yang diberikan
dari uraian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa tujuan pedidikan disekolah dasar adalah
dimaksudkan untuk membentuk manusia yang memiliki karakter serta kepribadian yang mulia,
kreatif, kritis, santun, taat beragama, peduli terhadap sesama manusia dan lingkungan alam
sekitar, bekerja sama, dan saling menolong, yang dalam bahasa undang-undang disebut sebagai
“manusia Indonesia seutuhnya”.
Tujuan dari proses pendidikan di sekolah dasar adalah agar siswa mampu memahami
potensi diri, peluang dan tuntutan lingkungan serta merencanakan masa depan melalui
pengambilan serangkaian keputusan yang paling mungkin bagi dirinya. Tujuan akhir pendidikan
dasar ialah diperolehnya pengembangan pribadi anak didik yang membangun dirinya dan ikut
serta bertanggung jawab terhadap pengembangan bangsa, mampu melanjutkan ke tingkat
pendidikan yang lebih tinggi atau pada jenjang pendidikan selanjutnya, dan mampu hidup di
masyarakat, dan mampu mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan
lingkungan.
Untuk mencapai tujuan pendidikan seutuhnya atau yang paripurna itu, maka sekolah
merupakan salah satu tempat yang tepat bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi diri
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Adapun fungsi dari pendidikan dasar adalah dalam rangka mengembangkan kemampuan
dan meningkatkan kualitas kehidupan, harkat, dan martabat manusia masyarakat Indonesia
dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Bab II
“ Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar”
1. Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Pendidikan adalah upaya yang terorganisasi, Berencana dan berlangsung secara terus-
menerus sepanjang hayat untuk membina anak didik menjadi paripurna, dewasa, dan
berbudaya. Untuk mencapai pembinaan ini asas pendidikan harus berorientasi pada
pengembangan seluruh aspek potensi anak didik, diantaranya aspek kognitif, efektif, dan
berimplikasi pada aspek psikomotorik.
Bagi peserta didik, belajar merupakan proses interaksi antara berbagai potensi diri siswa,
(Fisik, nonfisik, emosi dan intelektual), Interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa
lainnya, serta lingkungan dan konsep fakta, interaksi dari berbagai stimulus dengan berbagai
respon terararh untuk melahirkan perubahan.
Untuk mengambangkan potensi siswa harus perlu menerapkan sebuah model
pembeljaran yang inovatif dan konstruktif. Dalm mempersiapkan pembelajaran, para
pendidik harus memahami karakteristik materi pembeljaran, karakteristik murid atau peserta
didik serta memahami metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran kan lebih
variatif,inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan
implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik.
Ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, berkenaan dengan upaya yang
mewujudkan proses pembelajaran yang variatif, inovati, dan konstruktif yaitu :
Situasi kelas yang dapat merangsang anakmelakukan kegiatan belajar secara bebas
Peran guru sebagai pengarah dalm belajar
Guru berperan sebagai peyedia fasilitas
Guru berperan sebagai pendorong, dan
Gruru berperan sebagai penilai proses dan hasil belajar anak.
2. Prinsip-Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6
hingga kira-kira usia 11 atau 12 tahun. Sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar
yang suka bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah terpengaruh oleh lingkungan
dan gemar membentuk kelompok sebaya. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar di
usahakan untuk terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan. Untuk itu, guru perlu
memperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan agar terciptanya suasana
yang kondusif dan menyenangkan tersebut. Beberapa prinsip pembelajaran tersebut dapat
diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1. Prinsip Motivasi adalah upaya guru untuk menumbuhkan dorongan belajar, baik dari
dalam diri anak atau dari luar diri anak, sehingga anak belajar seoptimal mungkin sesuai
dengan potensi yang dimilikinya.
2. Prinsip Latar Belakang adalah upaya guru dalam proses belajar mengajar
memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki anak agar tidak
terjadi pengulangan yang membosankan.
3. Prinsip Pemusatan Perhatian adalah usaha untuk memusatkan perhatiannya dengan
jalan mengajukan masalah yang hendak dipecahkan lebih terarah untuk mencapai tujuan
yang hendak dicapai.
4. Prinsip Keterpaduan, merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Oleh karena
itu, guru dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok bahasan
dengan pokok bahasan lain atau sub pokok bahasan dengan sub pokok bahasan lain agar
anak mendapat gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.
5. Prinsip Pemecahan Masalah adalah situasi belajar yang dihadapkan pada masalah
masalah hal ini dimaksudkan agar anak peka dan juga mendorong mereka untuk mencari
memilih dan menentukan pemecahan masalah sesuai dengan kemampuannya.
6. Prinsip Menemukan adalah kegiatan menggali potensi yang dimiliki anak untuk
mencari, mengembangkan hasil perolehan nya dalam bentuk fakta dan informasi. Untuk
itu, proses belajar mengajar yang mengembangkan potensi anak tidak akan menyebabkan
kebosanan.
7. Prinsip Belajar Sambil Bekerja, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan berdasarkan
pengalaman untuk mengembangkan dan memperoleh pengalaman baru. Pengalaman
belajar yang diperoleh melalui bekerja tidak mudah dilupakan oleh anak. Dengan
demikian, proses belajar mengajar yang memberi kesempatan kepada anak untuk bekerja,
berbuat sesuatu akan memupuk kepercayaan diri, gembira dan puas karena
kemampuannya tersalurkan dengan melihat hasil kerjanya.
8. Prinsip Belajar Sambil Bermain, merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan
suasana menyenangkan bagi siswa dalam belajar, karena dengan bermain pengetahuan
keterampilan, sikap dan daya fantasi anak berkembang. Suasana demikian akan
mendorong anak aktif dalam belajar.
9. Prinsip Perbedaan Individu, yakni upaya guru dalam proses belajar mengajar yang
memerhatikan perbedaan individu dari tingkat kecerdasan, sifat dan kebiasaan, atau latar
belakang keluarga. Hendaknya guru tidak memperlakukan anak seolah-olah sama semua.
10. Prinsip Hubungan Sosial adalah sosialisasi pada masa anak yang sedang tumbuh yang
banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kegiatan belajar hendaknya dilakukan secara
berkelompok untuk melatih anak menciptakan suasana kerja sama dan saling menghargai
satu sama lainnya.
Memerhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran di atas sangat mendesak
untuk dilakukan oleh setiap guru yang melakukan proses pembelajaran di sekolah dasar. Tanpa
itu, pembelajaran hanya mampu menyentuh aspek ingatan dan pemahaman saja. Karena guru
yang masih cenderung mendominasi pengajaran, merupakan salah satu penyebab rendahnya
hasil belajar yang dicipta oleh siswa. Hasil belajar optimal harus dicapai oleh siswa, karena
untuk saat ini hasil belajar dijadikan patokan keberhasilan siswa serta dijadikan tolak ukur
tercapainya tidaknya tujuan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan melihat hasil
belajar, maka bisa diukur ketercapaian Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Sasar (KD), serta
bisa dijadikan patokan untuk menentukan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).
3. Tujuan Pembelajaran di Sekolah Dasar
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai tonggak awal peningkatan sumber daya
manusia, banyak pihak menaruh perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan bagi upaya
peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetensi dalam Skala regional
maupun internasional. Di samping itu juga, sekolah dasar merupakan landasan bagi pendidikan
selanjutnya. Mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada dasar
kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu
pendidikan yang baik di tingkat Sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara
sistematik mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, pada tingkat
sekolah dasar sangat memungkinkan Untuk dikembangkan usaha dalam perubahan mutu
pendidikan, hal ini dilakukan melalui penataan kelembagaan, pengelolaan, dan peningkatan mutu
pendidikan. Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang
sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kawasan Asia Tenggara (ASEAN), seperti:
Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia lebih baik dibanding dengan negara Indonesia. Di
Indonesia, minat baca masyarakat masih rendah, yang otomatis berakibat pada sumber daya
manusia yang rendah pula. Padahal, minat itu merupakan kunci utama dalam belajar, termasuk
minat membaca. Pendeknya, tidak akan ada proses belajar atau membaca tanpa minat (ro
learning without interest). Problematika rendahnya minat membaca juga terlihat dari produk
buku yang dipublikasikan baik secara kuantitas maupun kualitas.
Ini sangat berkaitan dengan minat membaca masyarakat kita yang secara logika akan
berimbas kepada kultur membaca dan tentu saja berakibat pula kepada kemampuan membaca itu
sendiri, bahkan selanjutnya sangat berpengaruh terhadap minat menulis. Pemahaman terhadap
bacaan dapat dipandang sebagai suatu proses yang bergulir terus-menerus dan berkelanjutan,
Membaca pemahaman sebagai proses memercayai bahwa upaya memahami bacaan sudah terjadi
ketika kita belum membaca buku apa pun. Kemudian, pemahaman itu menapaki tahapan yang
berbeda dan terus berubah saat baris demi baris, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf
dari bacaan itu, yakni ketika menutup buku, novel, atau apa saja. Apakah pemahaman sampai di
sini? Belum. Proses pemahaman terus berlangsung bahkan setelah proses membaca telah selesai.
Agar peningkatan pemahaman dalam diri siswa itu terjadi, guru perlu menciptakan kondisi yang
memungkinkan interaksi beberapa pihak dapat terjadi. Untuk itu, guru harus membuat
perencanaan yang mantap.
Tuntutan lain selain optimalnya hasil belajar siswa adalah tuntutan sebagaimana yang
diamanatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun 2003
yang menghendaki upaya pengembangan potensi diri dan keterampilan siswa. Dua aspek ini
akan tercapai jika guru membangun kemampuan kreativitas siswa. Dengan kreativitas yang
tinggi, maka potensi dan keterampilan diri siswa akan berkembang. Amanat tersebut juga
sekaligus mengisyaratkan bahwa pembentukan sumber daya manusia berkualitas merupakan
prioritas pandidikan di Indonesia. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pendidikan masih
diabdikan untuk menghasilkan manusia berkualitas untuk menjadi insan yang berpengetahuan
dan berakhlakul karimah (akhlak mulia).
Rendahnya minat baca menjadi problem utama yang dihadapi bangsa kita. Hal ini terlihat
dari tertinggalnya kualitas SDM kita oleh negara-negara tetangga, dan ini menunjukkan kualitas
pendidikan kita lebih rendah dibanding mereka.
Peran Guru dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai toggak awal peningkatan SDM,banyak
pihak menaruh Perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan bagi upaya peningkatan
pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetensi dalam skala regional maupun
internasional.di samping itu juga,sekolah pendidikan dasar Merupakan landasan bagi pendidikan
selanjutnya.mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada dasar
kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu pendidikan
yang baik di tingkat sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara sistematik mutu
pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutya. Oleh karena itu, pada tingkat sekolah dasar
Sangat memungkinkan untuk di kembangkan usaha dalam perubahan mutu pendidikan, dan
peningkatan mutu pendidikan.
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang
sangat berpengaruh Dalam proses pembelajaran. kepiawaian dan kewibawaan guru sangat
menentukan kelangsungan proses belajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus
pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak di capai. Ada beberapa hal yang
membentuk kewibawaan guru, antara lain penguasaan materi yang di ajarkan,metode mengajar
yang sesuai dengan situasi siswa maupun antarsesama guru dan unsur lain yang terkait dalam
proses pendidikan seperti administrasi,kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya,
pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.
Namun sayangnya, sebagimana dilaporkan oleh Solihatin-Raharjo (2007), menyebutkan
bahwa dalam pembelajaran di sekolah dasar saat ini, guru masih menganggap siswa sebagai
objek, bukan sebagai subjek dalam pembelajaran,sehingga guru dalam proses pembelajaran
masih mendominasi aktivitas belajar. Siswa hanya menerima informasi dari guru secara pasif.
Selanjutnya,Solihatin menyebutkan Kelemahan-kelemahan di lapangan, antara lain ditemukan
sebagai berikut
a.Model pembelajaran konvensional/Ceramah.
b.Siswa hanya di jadikan objek pembelajaran.
c.Pembelajaran yang berlangsung cenderung tidak melibatkan pengembangan pengetahuan
siswa, karena guru selalu mendominasi Pembelajaran (teacher centered),akibatnya proses
pembelajaran sangat terbatas, sehingga kegiatan pembelajaran hanya di arahkan pada
mengetahui (learning to know), Ke arah pengembangan aspek kognitif dan mengabaikan
aspek afektif serta psikomotor.
d.Pembelajaran bersifat hafalan semata sehingga kurang bergairah dalam belajar
e.Dalam proses pembelajaran proses interaksi searah hanya dari guru ke siswa.
Salah satu upaya mengatasi permasalahan ini,guru harus mampu merancang model
pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru harus kreatif dalam mendesain model
pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpartisipasi,aktif, kreatif, terhadap materi yang
di ajarkan. Dengan cara demikian diharapkan siswa dapat memahami materi yang diberikan dan
mencapai Pembelajaran bermakn
Pentingnya merancang model pembelajaran yang bermakna ini karena fungsi setiap
matapembelajaranyangbermakna ini karena fungsi utama setiap mata pelajaran disekolah
dasar,yaitu mengembangkan pengetahuan, nilai,dan sikap, serta keterampilan sosial yang di
hadapi sehari hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap perkembangan masyarakat
Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, Sedangkan tujuannya agar siswa mampu
mengembangkan pengetahuannya, nilai dan sikap serta keterampilan sosial agar siswa merasa
bangga sebagai bangsa Indonesia.
Pembelajaran Terpadu
Dunia anak adalah dunia nyata dan tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dari
tahap berpikir nyata dalam kehidupan sehari-hari yang memandang objek yang ada di
sekelilingnya secara utuh. Untuk itu, pembelajaran hendaknya dari lingkungan terdekat, yaitu
mulai dari diri sendiri kemudian dikembangkan kepada keluarga dan sekolah. Di pihak lain,
proses pembelajaran di kelas masih tampak adanya pemisahan antara mata pelajaran satu dengan
mata pelajaran lainnya sehingga anak akan merasa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pembelajaran terpadu. memungkinkan serta ilustrasi pembelajaran yang dapat mencapai
beberapa target konsep yang ada dalam beberapa mata pelajaran (Fogarty, 1991).
Gambaran di atas sesuai dengan landasan pemikiran pembelajaran terpadu seperti yang
dikembangkan oleh Tim Pengembangan PGSD (1997) yang mengemukakan bahwa
pembelajaran terpadu dikembangkan dengan landasan pemikiran, sebagai berikut:
1. Progresivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pembelajar an seharusnya berlangsung secara alami, tidak
artifisial. Pembelajaran di sekolah harus dapat mengakomodasi keadaan dalam dunia nyata
sehingga dapat memberikan makna kepada kebanyakan siswa.
2. Konstruktivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pengeta huan dikonstruksi sendiri oleh individu dan pengalaman
merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya
dengan mendengarkan ceramah atau dengan membaca buku tentang pengalaman orang lain.
Memahami sendiri merupakan kunci utama kebermaknaan dalam pembelajaran.
3. Landasan normatif
Aliran ini menghendaki bahwa pembelajaran terpadu hendaknya dilaksanakan berdasarkan
gambaran ideal yang ingin dicapai oleh tujuan-tujuan pembelajaran.
4. Landasan praktis
Aliran ini mengharapkan bahwa pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan memerhatikan
situasi dan kondisi praktis yang berpengaruh terhadap kemungkinan pelaksanaannya mencapai
hasil yang optimal.
5. Developmentally Appropriate Practice (DAP)
yaitu prinsip yang menyatakan bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan
usia dan individu yang meliputi perkembangan kognitif, emosi, minat, dan bakat siswa.
Teori-teori lain yang sangat mendukung tentang pentingnya pembelajaran terpadu Ini
antara lain:
1. Teori Perkembangan Jean Plaget
Jean Piaget menyatakan bahwa seorang anak maju melalui empat tahap perkembangan
kognitif sejak lahit hingga dewasa, yaitu: tahap sensori motor, pra-operasional, operasi konkret,
dan operasi formal. Kecepatan perkembangan tiap individu melalui urutan tiap tahap ini berbeda
dan tidak ada individu yang melompati salah satu tahap ini.
2. Teori Belajar Konstruktivisme
Teori belajar konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama,
dan merevisinya apakah aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Menurut Slavin dalam Trianto
(2007:26), agar siswa benar benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus
memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berusaha dengan susah
payah dengan ide-ide.
Pada dasarnya, pendekatan konstruktivisme menghendaki bahwa pengetahuan dibentuk
sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar
bermakna tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau dengan membaca
buku tentang pengalama orang lain.
3. Teori Vigotsky
Vigotsky mengatakan bahwa, pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkan
kemampuannya, atau tugas-tugas tersebut berada dalam zone proximal development
(Trianto:2007).
Ada dua implikasi utama teori Vigotsky dalam pembelajan sains pertama,
dikehendakinya suasana kelas, berbentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa, sehingga siswa
dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi pemecahan
masalah yang efektif di dalam masing-masing zone of proximal development mereka. Kedua,
dalam pembelajaran menekankan scaffolding sehingga siswa semakin lama semakin bertanggung
jawab terhadap pembelajarannya sendiri.
4. Teori Bandura
Menurut Bandura bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara
selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Seseorang belajar menurut teori ini dilakukan
dengan mengamati tingkah laku orang lain (model), hasil pengamatan ini kemu dian
dimantapkan dengan cara menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya
atau mengulang-ulang kembali.
5. Teori Brunner
Jerome Brunner, adalah seorang ahli psikologi Harvard adalah salah seorang pelopor
pengembangan kurikulum terutama dengan teori yang dikenal dengan pembelajaran penemuan
(inkuiri). Teori Brunner selanjutnya disebut pembelajaran penemuan, adalah suatu model
pengajaran yang menekankan pentingnya pemahaman tentang struktur materi dari suatu ilmu
yang dipelajari perlunya belajar secara aktif sebagai dasar dari pemahaman sebenarnya, dan nilai
dari berpikir secara induktif dalam belajar.
Menurut Brunner, belajar akan lebih bermakna bagi siswa jika mereka memusatkan
perhatian untuk memahami struktur materi yang dipelajarinya.
Pengembangan Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan mengenai sesuatu dengan cara baru
yang tidak biasa dan menampilkan cara pemecahan masalah yang unik. Kreativitas dan
kecerdasan bukan hal yang sama. Sternberg (1999) memperkenalkan kreatifitas dalam teori
mengenai kecerdasan, mengatakan bahwa banyak individu-individu yang kecerdasannya tinggi
yang menghasilkan karya karya besar tetapi tidak selalu karya-karya baru. Dia juga percaya
bahwa orang orang yang kreatif menentang pendapat orang banyak, sedangkan orang yang
kecerdasannya tinggi tapi tidak kreatif seringkali berusaha untuk menyenangkan orang banyak.
Orang-orang yang kreatif cenderung berpikir divergen (Guildford, 1967). Berpikir divergen,
menghasilkan berbagai jawaban terhadap sebuah pertanyaan. Sebaliknya, cara berpikir yang
dipersyaratkan dalam berpikir konvensional, adalah berpikir konvergen. Misalnya, pertanyaan
“berapa lembar uang seribuan yang akan kamu dapat, bila kamu menukarkan selembar uang
sepuluh ribuan ? ”Untuk pertanyaan ini hanya ada satu jawaban yang benar. Berbicara mengenai
kecerdasan dan kreativitas, kebanyakan orang kreatif memang benar-benar cerdas, tetapi tidak
semua orang cerdas kreatif.
1. Bagaimana membimbing anak agar kreatif?
Ada beberapa cara yang harus dilakukan :
a. Libatkan anak dalam kegiatan Brainstorming, sehingga menghasilkan sebanyak mungkin
ide
Brainstorming adalah sebuah kegiatan yang memberikan kebebasan anak untuk
mengutarakan pikiran-pikirannya secara bebas mengenai sebuah ide tertentu. Brainstorming ini
merupakan sebuah teknik dimana anak didorong untuk berani mengutarakan ide-ide (kreatif) nya
dalam sebuah kelompok, menyajikannya bersama ide-ide orang lain, dan mengatakan apa yang
ada dalam pikirannya. Teman-teman yang mendengarkan disarankan untuk menahan diri untuk
tidak menyampaikan kritik, paling tidak hingga akhir presentasi. Hal ini perlu dilakukan agar
anak berani mengemukakan ide-idenya, apapun idenya. Kesempatan-kesempatan untuk
mengeluarkan ide-ide itu perlu dijadwalkan agar anak mau mengeluarkan sebanyak-banyak
idenya walaupun ide tersebut tidak kreatif. Pablo Picasso, pelukis Spanyol yang terkenal, telah
membuatkan sebanyak 20.000 karya seni. Dari karya-karya yang dia hasilkan tersebut, yang
tergolong karya besar hanya beberapa. Hal ini menunjukkan bahwa untuk bisa menghasilkan
karya seni yang benar-benar karya besar, tidak bisa sekali jadi. Makin banyak ide yang
dikeluarkan oleh anak, maka makin besar kemungkinan dia mengkreasikan sesuatu yang unik.
Anak yang kreatif tidak takut untuk gagal dan tidak takut melakukan kesalahan. Mereka
mungkin saja memasuki 20 kali jalan buntu sebelum dia bisa mengutarakan/ menemukan sebuah
ide yang inovatif. Anak harus berani menghadapi risiko tersebut, sebagaimana dialami oleh
Picasso.
b. Buatlah lingkungan sedemikian rupa, agar bisa menstimulasi (merangsang) kreativitas
anak.
Setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang alami. Guru yang ingin mengembangkan
kreatifitas anak bisa mengandalkan rasa ingin tahu pada anak tersebut sebagai sebuah sarana agar
anak bisa bebas berpikir. Untuk itu sebaiknya guru melakukan kegiatan-kegiatan yang justru
membuat anak mencari jawaban-jawaban yang muncul dari pikiran anak sendiri, tidak
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus dihafal, yang ada dalam benak guru
atau dalam pikiran guru. Guru bisa juga merangsang kreatifitas dengan cara mengajak anak-anak
ketempat-tempat dimana kreativitas ditampilkan, misalnya di museum (untuk anak-anak ), di
galeri-galeri yang menampilkan proses-proses fisika atau penemuan-penemuan ilmiah (Museum
Ilmiah di SABUGA ITB).
c. Hindari mengendalikan anak secara berlebihan.
Hindari mengendalikan anak secara berlebihan. Hasil penelitian mengungkapkan
bahwa mengajarkan pada anak hal apa saja yang harus dilakukan, membuat mereka beranggapan
bahwa hal yang original itu salah, buruk, dan bahwa kegiatan menjelajah (eksplorasi) itu adalah
perbuatan yang sia-sia. Memberi kesempatan pada anak untuk memilih sesuatu hal sesuai
minatnya dan mendukung minatnya tersebut yang mungkin berbeda dari anak lain, akan
meningkatkan rasa ingin tahunya. Hal ini akan lebih baik, dari pada guru mendiktekan aktivitas-
aktivitas mana yang harus mereka kerjakan. Bila orangtua atau guru terus menerus menunggui
anak maka anak akan merasa bahwa dia (pekerjaannya) selalu diawasi. Bila anak merasa diawasi
terus maka semangat untuk berpetualang, maupun keberanian untuk mengambil risiko
melakukan kreatifitas bisa menjadi surut, dan mereda. Hal lain yang bisa merusak kreatifitas
anak adalah harapan atau tuntutan yang terlalu tinggi agar anak menunjukkan prestasi kerja, dan
agar dia melakukan segala sesuatu secara sempurna.
d. Kembangkan motivasi yang ada dalam diri anak.
Kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan anak secara bebas, menimbulkan
sebuah kesenangan tersendiri bagi anak. Oleh karena itu, penggunaan hadiah yang terlalu eksesif
(misalnya mainan, uang atau benda-benda lain) bisa menghambat kreatifitas. Karena kesenangan
yang muncul sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan kreatif itu sendiri menjadi pudar oleh
hadirnya iming-iming hadiah. (Amabile dan Hennessey, 1992, dari Santrock, 2004).
e. Kembangkan cara berpikir fleksibel, dengan cara yang menyenangkan.
Seorang pemikir yang kreatif pada saat menghadapi masalah, dia bersikap fleksibel dan
cenderung mengolah masalah. Dalam proses ini akan sering muncul paradoks (hal-hal yang
bertentangan). Usaha untuk berpikir kreatif akan berjalan lancar bila siswa menghadapinya
dengan senang hati. Dalam bahasa sederhananya, humor bisa menjadi pelumas dari roda-roda
kreatifitas. Pada saat anak “bercanda ria” mereka cenderung menampilkan pemecahan-
pemecahan masalah yang tidak biasa, yang unik. Bersenang-senang dan bergurau, akan
membantu melepaskan sensor dalam diri yang biasanya “memarahi, mengutuk, melarang“ ide-
ide bebas anak sebagai sebuah hal yang kurang baik.
f. Kalau mungkin undang orang-orang yang kreatif sehingga anak bisa mendapat
pengalaman kreatif.
Minta mereka menerangkan pada anakanak hal apa atau pengalaman apa yang membuat
mereka menjadi orang yang kreatif. Bisa juga tokoh yang kreatif itu diminta menampilkan
kemampuan kreatifnya. Guru bisa mengundang penulis yang kreatif, penyair, musikus, ilmuwan
atau siapa saja, bisa membawa barang-barang yang dia miliki atau hasil-hasil karyanya ke dalam
kelas, sehingga kelas menjadi semacam podium/ teater yang menyajikan kreatifitasnya pada
anak-anak. Salah satu pengarang yang terkenal di USA (Richard Lewis, 1997 dari Santrock
2004) mengunjungi salah satu kelas yang mengundangnya. Dia membawa sebuah kelereng kaca
yang besar, dia pegang diatas kepalanya, sehingga setiap anak bisa melihat spectrum warna yang
ada dalam kelereng kaca tersebut. Dia bertanya, “Siapa yang bisa melihat apa yang sedang
terjadi dalam bola kaca ini?” Lalu dia minta anak-anak menuliskan, apa yang mereka masing
masing lihat dalam kelereng tersebut. Seorang siswa menulis, bahwa ia melihat pelangi sedang
terbit, ada matahari sedang bergerak terus, lalu dia lihat matahari itu tidur dengan bintang-
bintang. Dia juga melihat hujan turun ke tanah, lalu dia lihat ranting-ranting patah, buah apel
berjatuhan dari pohonnya dan melihat angin meniup daun-daunan.
Sikap Kreatif
1. Definisi Kreatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Kreatif adalah kemampuan untuk
menciptakan atau daya cipta, kreativitas juga dapat bermakna sebagai kreasi terbaru dan orisinil
yang tercipta, sebab kreativitas suatu proses mental yang unik untuk menghasilkan sesuatu yang
baru, berbeda dan orisinil.” Pembicaraan tentang kreatif tidak dapat terlepas dari pembahasan
tentang sikap kreatif. Menurut Carin dan Sund (1975: 303), orang-orang kreatif memiliki
karakteristik tertentu. Mereka memiliki rasa ingin tahu, banyak akal, mempunyai keinginan
menemukan, memilih pekerjaan sulit, senang menyelesaikan masalah, mempunyai dedikasi
terhadap pekerjaan, berpikir luwes, banyak bertanya, memberikan jawaban yang lebih baik dari
yang lainnya, mampu menyintesis, mampu melihat implikasi baru, mempunyai semangat tinggi
untuk menyelidik, dan mempunyai pengetahuan yang luas.
Adapun Russefendi (1991: 238) mengemukakan bahwa manusia yang kreatif ialah
manusia yang selalu ingin tahu, fleksibel, awas, sensitif terhadap reaksi dan kekeliruan,
mengemukakan pendapat dengan teliti dan penh keyakinan tidak bergantung pada orang lain,
berpikir ke arah yang tidak diperkirakan, berpandangan jauh, cakap menghadapi persoalan, tidak
begitu saja menerima suatu pendapat, dan kadang susah diperintah.
2. Bentuk – Bentuk Kreatif
Di dalam kehidupan di dunia ini, sikap kreatif dapat diwujudkan melalui berbagai hal.
Bentuk-bentuk kreatif itu sendiri meliputi:
a. Ide Kreatif
Pemikiran kreatif akan memicu munculnya ide unik yang tidak terpikir sebelumnya, Ide
adalah pemikiran yang dapat menciptakan solusi dari permasalahan yang terjadi di tengah
masyarakat.
b. Produk Kreatif (Barang dan Jasa)
Produk kreatif dihasilkan dari ide-ide yang muncul. Jadi, bisa dikatakan jika produk
adalah tangan panjang dari ide. Ide yang diejawantahkan dalam bentuk produk tertentu akan
sangat berguna bagi masyarakat dan konsumen. Tanpa ada proses kreatif, maka produk yang
dihasilkan tidak bisa sesuai dengan kebutuhan zaman.
c. Gagasan Kreatif
Kreatif dapat juga diwujudkan dalam bentuk gagasan. Gagasan ini dapat dikemukakan
langsung atau melalui tulisan. Banyak media yang dapat digunakan untuk mengeluarkan gagasan
kreatif.
3. Contoh Sikap Kreatif
Memanfaatkan drum menjadi bangku cantik untuk ruang tamu. Drum ini dicat ulang dan
diberi beberapa ornamen sehingga membuatnya menjadi bangku yang indah untuk
menemani orang-orang yang bertamu di rumah Anda.
Buku bekas tebal yang sudah tidak terpakai bisa Anda gunakan sebagai pot tanaman.
Pada bagian tengah buku, silakan dilubangi lantas diberi media tanam seperti tanah dan
kemudian Anda tanami bunga atau tanaman hias. Pot buku tebal bisa ditaruh sebagai
hiasan cantik di sudut ruangan!
Gantungan baju dari roda sepeda. Bagi orang-orang yang kreatif, benda yang rusak pun
bisa memiliki nilai fungsi yang tinggi. Contohnya adalah roda sepeda tak terpakai. Benda
ini dapat digantung pada tiang yang tinggi untuk menjemur baju-baju Anda.
Vertical Garden dari botol Aqua bekas. Dikarenakan lahan yang sempit, banyak orang
yang menjadikannya dalih untuk tidak melakukan penghijauan. Namun, beda dengan
orang kreatif. Mereka akan membuat vertical garden dari barang bekas yakni botol aqua.
Dengan menggantungkan botol tersebut dengan susunan vertikal, lantas dilubangi pada
bagian tengahnya sebagai media tanam, maka taman vertikal di rumah Anda pun akan
tampak cantik.
Gelang warna yang terbuat dari manik-manik dan peniti. Pengerjaan dari produk kreatif
ini relatif mudah serta akan memiliki nilai seni yang tinggi. Meskipun hasilnya bagus,
tapi tetap saja membutuhkan kesabaran ekstra untuk membuatnya.
4. Teori Pembentukan Sikap Kreatif
Banyak teori yang membahas tentang pembentukan sikap atau pribadi kreatif, Munandar
(2009: 32) misalnya memaparkan teori-teori pembentukan pribadi kreatif menurut pandangan
teori psikoanalisis dan teori humanistis yang digunakan sebagai landasan pendidikan anak
berbakat, antara lain:
a. Teori Psikoanalisis
Pertama, menurut teori Freud, yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) adalah
tokoh utama yang menganut pandangan bahwa kemampuan kreatif merupakan ciri kepribadian
yang menetap pada lima tahun pertama dari kehidupan. la menjelaskan proses kreatif dari
"mekanisme pertahanan", yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran
mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima. Karena mekanisme
pertahanan mencegah pengamatan yang cermat dari dunia dan karena menghabiskan energi
psikis, mekanisme pertahanan biasanya merintangi produktivitas kreatif. Meskipun kebanyakan
mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi justru merupakan
penyebab utama dari kreativitas.
Kedua, teori Kris dari Ernest Kris (1900-1957) yang menekankan bahwa mekanisme
pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan, jika perilaku
sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan) juga sering muncul dalam tindakan kreatif.
Jika seseorang mampu untuk regress ke kerangka berpikir atau pola perilaku seperti anak,
rintangan antara alam pikiran sadar dan tidak sadar menjadi kurang, dan bahan yang tidak
disadari yang sering mengandung benih kreativitas dapat menembus ke alam kesadaran. Orang-
orang kreatif adalah mereka yang paling mampu memanggil bahan-bahan dari alam pikiran tidak
sadar, dengan demikian mereka dapat melihat masalah-masalah serius dalam kehidupan dengan
cara yang segar dan inovatif.
Ketiga, teori Jung dari Carl Jung (1857-1961) yang mengemukakan bahwa ketidaksadaran
memainkan peranan yang sangat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran yang
tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi.
2. Teori Humanistis
Berbeda dengan teori psikoanalisis, teori humanistis melihat kreativitas sebagai hasil dari
kesehatan psikologis tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup, dan tidak terbatas pada
lima tahun pertama. Di antara tokoh-tokoh yang termasuk kategori teori humanistis ini ialah teori
Maslow, yang ditokohi oleh Abraham Maslow (1908-1970), pendukung utama dari teori
humanistis. Menurutnya manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai
kebutuhan, di mana kebutuhan tersebut harus dipenuhi dalam urutan tertentu.
Tokoh berikutnya yang termasuk teori humanistis ini ialah teori Rogers, dari Carl Rogers
(1902-1987). Rogers mengemukakan tiga kondisi dari pribadi kreatif, yaitu: keterbukaan
terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi seseorang
(internal locus of evaluation), dan kemampuan untuk bereksperimen.
Berfikir Kreatif
Setelah membahas apa itu kreatif ? dan bagaimana proses pembentukan sikap kreatif
tersebut?. Pada sub materi kali ini melanjutkan pembahasan tersebut mengenai apa iru berfikir
kreatif ? dan penerapannya pada pembelajaran di sekolah dasar. Telah dijelaskan, kreativitas
adalah kemampuan untuk mengungkapkan hubungan-hubungan baru, melihat sesuatu dari sudut
pandang baru dan membentuk kombinasi baru dari dua konsep atau lebih yang dikuasai
sebelumnya. Kreativitas ini juga bersifat spontan, terjadi karena adanya arahan yang bersifat
internal, dan kepberadaanya tiak terprediksi. Secara garis besar, maka berpikir kreatif dapat
dimaknai dengan berpikir yang dapat menghubungkan atau melihat sesuatu dari sudut pandang
yang baru.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering mengalami dan menghadapi
permaslaahan. Baik masalah yang muncul berulang (routine problems) atau juga permasalahan
baru yang belum pernah terjadi sebelumnya (nonroutine problems). Maka dari itu diperlukan
cara yang efektif dan efisien dalam memecahkan masalah-masalah tersebut, salah satu solusinya
dengan kemampuan berfikir kreatif. Torrance dalam Filsaime (2008 : 20) menganggap berfikir
kreatif merupakan sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur orisinalitas, kelancaran,
fleksibelitas, dan elaborasi.
Dikatakan lebih jelas, berfikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah adalah sebuah
proses menjadi sensitif atau sadar terhadap masalah-masalah, kekurangan, dan celah-celah di
dalam pengetahuan yang didalamnya tidak ada solusi yang dipelajari, membawa informasi yang
aad di dalam memori atau sumber-sumber eksternal, mendefinisikan kesulitan, mencari solusi-
solusi, menduga, menciptakan alternatif-alternatif yang mungkin untuk menyelesaikan masalah
tersebut, menguji kembali alternatif yang sebelumnya sudah ditemukan, menyempurnakannya
dan pada akhirnya mengomunikasikan hasil-hasilnya.
Definisi berfikir kreatif ini dikemukakan oleh Ennis (1981), dapat dimanifestasikan
kedalam 5 kelompok keterampilan berfikir, yaitu :
a. Memberikan penjelasan sederhana (elemtary clarification)
b. Membnagun Keterampoilan Dasar (basic support)
c. Menyimpulkan (inference)
d. Memberi penjelasan lanjut (advanced clarification)
e. Mengatur Strategi dan taktik (strategy and tactics)
Dari berfikir kretaif ini dapat menumbuhkan ketekunan dan disiplin penuh. Yang
didalamnya dapat melibatkan aktivitas mental, seperti :
a. Mengajukan pertanyaan
b. Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pemikiran
terbuka
c. Membangun keterkaitan, khususnya di hal-hal yang berbeda
d. Menghubungkan berbagai hal yang bebas
e. Menerapkan imajinasi di setiap situasi untuk menghasilkan hal baru dan berbeda
f. Mendengarkan intuisi
Selanjutnya, ada komponen-komponen berfikir kreatif yang dikemukakan oleh Munandar
(1999), berikut ini penjelasannya :
a. Keterampilan berfikir lancar (fluency)
Ciri- Cirinya :
1. Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau
pertanyaan.
2. Memberikan banyak cara atau saran dlam melakukan berbagai hal.
3. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Mengajukan banyak pertanyaan.
2. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
3. Memiliki banyak gagasan cara penyelesaian masalah.
4. Lancar dalam mengungkapkan gagasannya.
5. Bekerja lebih cepat dan melakukan hal lebih banyak dari anak-anak lain.
6. Cepat melihat dan mendeteksi kesalahan atau kekurangan dari suatu objek
atau situasi.
b. Keterampilan berfikir luwes (flexibelity)
Ciri- Cirinya :
1. Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi.
2. Dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
3. Mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda.
4. Mampu dengan mudah mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Memeriksa aneka ragam penggunaan yang tidak lazim dari suatu objek
2. Memberi macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar,
cerita, atau masalah.
3. Menerapkan suatu konsep atau asa dengan cara yang berbeda-beda.
4. Memberikan pertimbangan terhadap situasi yang berbeda dari orang lain.
5. Dalam pembahasan atau mendiskusikan situasi selalu mempunyai posisi yang
berbeda atau bertentangan dengan mayoritas kelompok.
6. Memikirkan penyelesaian yang bermacam-macam dan berbeda-beda terhadap
suatu masalah.
7. Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda-beda
8. Mampu mengubah arah berfikir secara spontan.
c. Berfikir orisinil (originality)
Ciri- Cirinya :
1. Mampu mengungkapkan hal yang baru dan unik.
2. Memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
3. Mampu mebuat kondisi yanh tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-usur.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Memikirkan masalah-masalah dan hal-hal yang tidak pernah tepikir oleh
orang lain.
2. Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara-cara
yang baru.
3. Memilih asimetri dalam gambar atau membuat desain.
4. Memiliki cara berfikir yang lain dari yang lain.
5. Mencari pendekatan baru.
6. Setelah gagasan-gagasan bekerja untuk menemukan penyelesaian baru, lebih
senang menyintesis daripada menganalisis situasi.
d. Keterampilan memerinci (elaboration)
Keterampilan memerinci atau mengelaborasi adalah kemampuan atau
keterampilan memperkaya dan mengembangan suatu gagasan sehingga lebih menarik.
Ciri- Cirinya :
1. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.
2. Menambah atau mengembangkan suatu gagasan atau produk.
3. Menambah atau memerinci secara detail dari suatu objek, gagasan, ataupun
situasi sehingga lebih menarik.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah
dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci.
2. Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
3. Mencoba atau menguji secara detail untuk melihat arah yang akan ditempuh.
4. Mmepunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan penampilan
yang kosong dan sederhana.
5. Membuat garis-garis, warna-warna dan detail-detail tethadap gambarnya
sendiri ataupun gambar orang lain.
Selanjutnya, pembahasan mengenai alasan pentingnya belajar kreatif. Menurut Treffinger
dalam Munandar (1984:37) :
a. Belajar kreatif membantu anak menjadi lebih berhasil-guna jika kita tidak bersama
mereka.
Belajar kreatif adalah aspek penting dari upaya kita membantu siswa agar mereka
lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri. Dengan
pesatnya perubahan masyarakat dan teknologi, kita tidak mungkin mengajarkan
anak-anak sesuatu yang harus mereka tahu untuk hari depan mereka. Kita pun tidak
hanya mengajarkan agar anak-anak dapat mengulang kembali ide-ide. Kita
mengharapkan anak-anak dapat belajar hal-hal yang berharga dan bermanfaat bagi
dirinya sehingga mereka mampu dan siap menghadapi masalah-masalah pada waktu
kita tidak bersama mereka.
b. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-
masalah yang tidak mampu kita ramalkan, yang timbul di masa depan.
Dunia kita cepat sekali berubah. Pada sepuluh tahun terakhir ini kita saksikan
perkembangan yang cepat di segala bidang: teknologi, ekonomi, sosial, pendidikan,
dan sebagainya. Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang ini sangat berbeda
dengan masalah-masalah yang kita hadapi dua puluh tahun yang lalu.
c. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita.
Banyak pengalaman belajar kreatif yang lebih daripada sekedar hobi atau hiburan
bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan
mengubah karir dan kehidupan pribadi kita. Di samping itu, belajar kreatif dapat
menunjang kesehatan jiwa dan kesehatan jasmani kita.
d. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Dengan belajar kreatif memungkinkan timbulnya ide-ide, cara-cara, dan hasil-hasil
baru sebagai sumbangan yang berharga pada pembangunan nasional.
Berfikir kreatif adalah suatu cara emmbangun ide yang dapat diterapkan dalam
kehidupan. Proses kreatif ini muncul jika ada stimulus. Berikut berbagai langkah dalam
melakukan proses kreatif, melalui 5 tahap yaitu :
1. Stimulus
Konteks stimulus pada kaitanya, diartikan sebagai rangsangan atau awalan yang
diberikan oleh guru untuk memancing dan memicu siswa untuk menantangnya berfikir
akan suatu permasalahan atau objek.
2. Eksplorasi
Sebelum membuat atau mengambil suatu keputusan , siswa dibantu untuk
memperhatikan alternatif-alternatif pilihan yang ada. Untuk berfikir kreatif, siswa harus
menginvestigasi secara lanjut. Teknik-teknik perlu dilakukan untuk meningkatkan range
dan kualitas dari ide yang dikumpulkan. Teknik ini meliputi :
a. Different Thinking, jenis berpikir yang membangun, banyak jawaban yang berbeda, dan
tidak terbatas.
b. Differing Judgement, prinsip berpikir sekarang lalu mempertimbangkannya. Prinsip ini
berguna saat siwa bekerja secara individu atau memikirkan ide-ide dalam suatu kelompok.
c. Extending Effort, Memperluas upaya siswa perlu diberi kesempatan, dukungan, minat,
pertanyaan, dan stimulus dari orang dewasa.
d. Allowing Time, memberi siswa waktu yang cukup untuk membangun ide-ide dengan
tahapan penting dalam proses kreatif.
e. Encourading Play, melihat seberapa jauh ide dapat diperluas, dengan memberikan siswa
kesempatan untuk membangunnya, mempresentasikan nya, dan mengujinya dalam aksi dan
tindakannya.
3. Perencanaan
Merencanakan berbagai rencana atau strategi dalam pemecahan masalah. Dari
strategi dan rencana yang ada, diambil beberapa yang paling tepat sebagai solusi.
4. Aktivitas
Berpikir kreatif dituangkan dengan aksi dan aktivitas siswa.
5. Review
Siswa perlu melakukan evaluasi dan meninjau kembali pekerjaannya dengan
menggunakan judgement dan imajinasi mereka.
Adapun upaya guru dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif ini dapat ditempuh
dengan langkah-langkah sebagaimana dikemukakan oleh Filsaime (2008:25) berikut ini :
1. Menghilangkan penghalang-penghalang daya berfikir kreatif dari siswa.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghalangi ekspresi-ekspresi kretaif siswa
(seperti, ketakutan akan kegagalan) dan menemukan cara yang tepat dalam mengatasi
ketakutan tersebut.
2. Membuat mereka sadar akan asal-usul berpikir kreatif.
Guru membantu lebih lanjut siswa untuk mengetahui apa itu berpikir kreatif.
Dengan cara memperkenalkan dan menjelaskan secara detail tahap demi tahap dari teori-
teori dan model berpikir kreatif. Sehingga membuat siswa yakin bahwa mereka juga
dapat berpikir kreatif.
3. Mengenalkan dan mempraktekan strategi-strategi berpikir kreatif.
Memperkenalkan dan menjelaskan strategi untuk berpikir kreatif. Membantu
siswa untuk menerapkannya ke dalam proses pembelajaran yang mereka lakukan.
4. Menciptakan sebuah lingkungan kreatif.
Guru memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan daya berpikir kreatif
mereka
Bakat kreatif pada hakikatnya ada pada setiap orang. Namun dalam pendidikan, yang
lebih penting adalah bahwa bakat kreatif ini dapat dipupuk dan dikembangkan. Berkaitan dengan
ini, menurut Munandar (1984:11) adapun kondisi lingkungan yang dapat memupuk kreativitas
anak, yaitu :
a. Keamanan Psikologis, dapat diciptakan dengan langkah-langkah :
1. Pendidik dapat menerima sebagaimana adanya, tanpa syarat, tanpa melihat
kelebihan dan kelemahannya, tetap memberikan kepercayaan kepada siswa bahwa
mereka mampu.
2. Proses pendidikan mengusahakan suasana dimana anak merasa tidak dinilai oleh
orang lain.
3. Pembelajaran dilakukan guna memberikan pengertian, memahami pikiran,
perasaan dan perilaku anak dengan menempatkan diri dalam situasi dan sudut
pandang anak.
b. Kebebasan Psikologis,
Kebebasan psikologis ini bukan hanya peran guru namun orang tua juga ikut turut
serta. Namun adapun langkah yang harus dilakukan guru dalam menciptakan kebebasan
psikologis bagi siswanya, sebagai berikut :
1. Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan anak.
2. Memberi waktu kepada siswa untuk memikirkan dalam pengembangan gagasan
kreatifnya.
3. Menciptakan suasana yang saling menghargai dan menerima sesama.
4. Dorong kegiatan berpikir divergen dan jadilah narasumber.
5. Ciptakan suasana yang hangat dan mendukung, serta memberi keamanan dan
kebebasan untuk berpikir eksploratif.
6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan dalam mengambil
keputusan.
7. Mengusahakan setiap siswa turut serta dalam pengambilan keputusan dan
pemecahan suatu masalah bersama atau dalam menjalankan suatu proyek.
8. Bersikap positif terhadap kegagalan, membantu siswa menyadari kegagalan dan
kelemahan dan tetap membimbingnya untuk kembali mencoba.
Berpikir Kritis
Berpikir tidak terlepas dari aktivitas manusia, karena berpikir merupakan ciri yang
membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Berpikir pada umumnya
didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuan Keterampilan
berpikir dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir tingkat
tinggi. Berpikir ternyata mampu mempersiapkan peserta didik berpikir pada berbagai disiplin
serta dapat dipakai untuk pemenuhan kebutuhan intelektual dan pengembangan potensi peserta
didik.
Berpikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara berpikir tentang ide atau gagasan yang
berhubung dengan konsep yang diberikan atau masalah yang dipaparkan. Berpikir kritis juga
dapat dipahami sebagai kegiatan menganalisis idea atau gagasan ke arah yang lebih spesifik,
membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji, dan mengembangkannya ke
arah yang lebih sempurna. Berpikir kritis berkaitan dengan asumsi bahwa berpikir merupakan
potensi yang ada pada manusia yang perlu dikembangkan untuk kemampuan yang optimal.
Menurut Ennis (1981), berpikir kritis adalah suatu berpikir dengan tujuan membuat
keputusan masuk akal tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Berpikir kritis merupakan
kemampuan menggunakan logika. Logika merupakan cara berpikir untuk mendapatkan
pengetahuan yang disertai pengkajian kebenaran berdasarkan pola penalaran tertentu.
Selanjutnya, Ennis menyebutkan ada enam unsur dasar dalam berpikir kritis, yang disingkat
dengan FRISCO, yaitu Focus (fokus), Reason (alasan), Inference (menyimpulkan), Situation
(situasi), Clarity (kejelasan), dan Overview (pandangan menyeluruh).
Menurut Halpen (1966), berpikir kritis adalah member kan keterampilan atau strategi
kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan,
mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran. Berpikir kritis merupakan bentuk
berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan
kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika
menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat.
Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi, mempertimbangkan kesimpulan yang
akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan.
Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang
akan dituju.
Pendapat senada dikemukakan juga Oleh Angelo ( 1955 : 6), bahwa berpikir kritis adalah
mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis,
mensintesis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Menurut Tapilouw (1997), berpikir kritis merupakan cara berpikir disiplin dan
dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini mengikuti alur logis dan rambu-rambu pemikiran
yang sesuai dengan fakta atau teori yang diketahui. Tipe berpikir ini mencerminkan pikiran yang
terarah.
Berpikir kritis dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara. Fister (1995) misalnya,
mengemukakan bahwa proses berpikir kritis adalah menjelaskan bagaimana sesuatu itu
dipikirkan. Belajar berpikir kritis berarti belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, dan apa
metode penalaran yang dipakai. Seorang siswa hanya dapat berpikir kritis atau bernalar sampai
sejauh ia mamPU menguji pengalamannya, mengevaluasi pengetahuan, ide-ide, dan
mempertimbangkan argumen sebelum mencapai suatu justifikasi yang seimbang. Menjadi
seorang pemikir yang kritis juga meliputi pengembangan sikap-sikap tertentu, seperti keinginan
untuk bernalar, keinginan untuk ditantang, dan hasrat untuk mencari kebenaran.
Pada prinsipnya, orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja
menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganalisis, dan mengevaluasi
informasi sebelum menentukan apakah mereka menerima atau menolak informasi. Jika belum
memiliki cukup pemahaman, maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan mereka
tentang informasi itu. Dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu
yang tepat untuk menguji kehandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi masalah serta
kekurangannya.
Baron dan Sternberg (1987; 10), mengemukakan lima kunci dalam berpikir kritis, yaitu:
praktis, reflektif, masuk akal, keyakinan, dan tindakan. Proses berpikir dapat dikelompokkan
dalam berpikir dasar dan kompleks. Berpikir dasar merupakan gambaran dari proses berpikir
rasional yang mengandung sejumlah langkah dari sederhana menuju yang kompleks. Aktivitas
berpikir rasional, meliputi menghafal, membayangkan, mengelompokkan, menggeneralisasi,
membandingkan, mengevaluasi, menganalisis, mensintesis, mendeduksi, dan menyimpulkan.
Fisher (1995) membagi strategi berpikir kritis ke dalam tiga jenis, yaitu: strategi afektif,
kemampuan makro, dan keterampilan mikro. Ketiga jenis strategi in satu sama lain saling
berkaitan. Pertama, strategi afektif bertujuan untuk Apa yang saya meningkatkan berpikir
independen dengan sikap menguasai atau percaya diri; misalnya, saya dapat mengerjakannya
sendiri. Siswa harus didorong untuk mengembangkan kebiasaan self-questioning seperti: Apa
yang saya yakini? Bagaimana saya dapat meyakininya? Apakah saya benar-benar menerima
keyakinan ini? Untuk mencapainya, siswa perlu suatu pendamping yang mengarahkan pada saat
mengalami kebuntuan, memberikan motivasi pada saat mengalami kejenuhan dan sebagainya,
misalnya guru.
Kedua, kemampuan makro adalah proses yang terlibat dalam berpikir, mengorganisasikan
keterampilan dasar yang terpisah pada saat urutan yang diperluas dari pikiran, tujuannya tidak
untuk menghasilkan suatu keterampilan-keterampilan yang saling terpisah, tetapi terpadu dan
mampu berpikir komprehensif.
Ketiga, keterampilan mikro adalah keterampilan yang menekankan pada kemampuan
global. Guru dalam melakukan pembelajaran harus memfasilitasi siswa dalam mengembangkan
proses berpikir kritis, melakukan tindakan yang merefleksikan kemampuan, dan disposisi seperti
yang direkomendasikan.
Klasifikasi berpikir kritis menurut Ennis dibagi ke dalam dua bagian, yaitu aspek umum
dan aspek yang berkaitan dengan materi pelajaran. Pertama, yang berkaitan dengan aspek umum,
terdiri atas:
1. Aspek kemampuan (abilities), yang meliputi: (a) memfokuskan pada suatu isu spesifik;
(b) menyimpan maksud utama dalam pikiran; (c) mengklasifikasi dengan pertanyaan-pertanyaan;
(d) menjelaskan pertanyaan-pertanyaan; (e) memerhatikan pendapat siswa, baik salah maupun
benar, dan mendiskusikannya; (f) mengkoneksikan pengetahuan sebelumnya dengan yang baru;
(g) secara tepat menggunakan pernyataan dan simbol; (h) menyediakan informasi dalam suatu
cara yang sistematis, menekankan pada urutan logis; dan (i) kekonsistenan dalam pertanyaan-
pertanyaan.
2, Aspek disposisi (disposition), yang meliputi: (a) menekankan kebutuhan untuk
mengidentifikasikan tujuan dan apa yang harus dikerjakan sebelum menjawab; (b) menekankan
kebutuhan untuk mengidentifikasikan informasi yang diberikan sebelum menjawab; (c)
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi yang diperlukan; (d)
memberikan kesempatan kepada Siswa untuk menguji solusi Yang diperoleh; dan (e)
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan informasi dengan menggunakan
tabel, grafik, dan Iain-Iain.
Kedua, aspek yang berkaitan dengan materi pelajaran, meliputi: konsep, generalisasi, dan
algoritme, serta pemecahan masalah. Berikut ini merupakan indikator-indikator dari masing-
masing aspek berpikir kritis yang berkaitan dengan materi pelajaran, yaitu:
1. Memberikan penjelasan sederhana, yang meliputi; (a) memfokuskan pertanyaan;
(b) menganalisis pertanyaan; dan (c) bertanya dan menjawab tentang suatu penjelasan atau
tantangan.
2. Membangun keterampilan dasar, yang meliputi: (a) mempertimbangkan apakah
sumber dapat dipercaya; (b) mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.
3. Menyimpulkan, yang meliputi: (a) mendeduksi dan mempertimbangkan hasil
deduksi; (b) menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi; dan (c) membuat dan
menentukan nilai pertimbangan.
4. Memberikan penjelasan lanjut, yang meliputi: (a) mendefinisikan istilah dan
pertimbangan definisi dalam tiga dimensi; (b) mengidentifikasi asumsi.
5. Mengatur strategi dan taktik, yang meliputi: (a) menentukan tindakan; (b)
berinteraksi dengan orang lain.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis yang optimal mensyaratkan adanya kelas yang
interaktif. Agar pembelajaran dapat interaktif, maka desain pembelajarannya harus menarik
sehingga Siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran yang
mengembangkan keterampilan berpikir kritis lebih melibatkan Siswa sebagai pemikir, bukan
seorang yang diajar. Adapun pengajar berperan sebagai mediator, fasilitator, dan motivator yang
membantu siswa dalam belajar dan bukan mengajar.
Keterampilan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam diri siswa karena melalui
keterampilan berpikir kritis, siswa dapat lebih mudah memahami konsep, peka akan masalah
yang terjadi sehingga dapat memahami dan menyelesaikan masalah, dan mampu
mengaplikasikan konsep dalam situasi yang berbeda. Pendidikan perlu mengembangkan peserta
didik agar memiliki keterampilan hidup, memiliki kemampuan bersikap dan berperilaku adaptif
dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif. pengembangan
keterampilan berpikir kritis dalam proses pembelajaran memerlukan keahlian guru. Keahlian
dalam memilih media Yang tepat merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan
Model pembelajaran yang selama ini dilakukan secara konseptual dapat dikembangkan
untuk Iebih menekankan pada peningkatan menumbuhkan kemampuan siswa dalam kritis yang
sesuai dengan tingkat perkembangan usianya. Menurut Sutisyana (1997), kemampuan berpikir
kritis siswa dapat ditumbuhkembangkan melalui proses membandingkan, mengelompokkan,
data. menafsirkan, menyimpulkan. menyelesaikan masalah. dan mengambil keputusan.
Dalam proses pembelajaran, misalnya dalam pembelajaran IPS, dapat dijadikan sarana
yang tepat dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa. Karena dalam pembelajaran
IPS banyak konsep atau masalah yang ada di lingkungan siswa, sehingga dapat dijadikan suatu
objek untuk dapat menumbuhkan cara berpikir kritis siswa.
Untuk dapat menumbuhkan berpikir kritis siswa dapat diterapkan suatu bentuk latihan-
latihan yang mengacu pada pola pikir siswa. Latihan-latihan ini dapat dilakukan secara kontinu,
intensif, serta terencana sehingga pada akhirnya siswa akan terlatih untuk dapat menumbuhkan
cara berpikir yang Iebih kritis.
Memang, sesungguhnya upaya untuk menumbuhkan berpikir kritis siswa merupakan suatu
kewajiban yang harus dilakukan guru. Dalam proses pembelajaran guru harus dapat melahirkan
cara berpikir yang Iebih kritis pada siswa. Guru dapat memberikan kesempatan dan dukungan
kepada siswa untuk dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritisnya dengan memberikan
metode pembelajaran yang sesuai diharapkan dapat membantu siswa menumbuhkan
pengetahuan keterampilan nalar yang nantinya dapat berpengaruh pada kemampuan untuk
berpikir kritis. Guru harus dapat mengembangkan suasana kelas dimana siswa berpartisipasi
selama proses belajar berlangsung. Kegiatan kelas yang mengacu pada aktivitas siswa adalah
dengan mengisi lembar kerja atau dengan mengadakan tanya jawab yang dikembangkan guru.
Hal ini dapat berupa mengingat kembali informasi yang telah disampaikan. Pemahaman secara
luas atau mendalami tersebut dapat melatih siswa dalam mengembangkan berpikir kritisnya.
Dalam kaitannya dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa, hakikat
pembelajaran yang dilakukan guru berarti interaksi langsung antara guru dengan siswa, guru
dalam pembelajaran dapat berperan sebagai mediator antara siswa dengan apa yang
dipelajarinya. Guru bukan hanya memberi informasi saja tetapi juga dapat memberi petunjuk
agar siswa dapat berpikir secara kritis sehingga siswa mampu menyelesaikan setiap
permasalahan yang muncul dalam kehidupannya. Savage dan Amstrong mengembangkan empat
pendekatan yang dapat mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis
dalam pembelajaran, yaitu: 1) kemampuan berpikir kreatif (creative thinking); 2) kemampuan
berpikir kritis (critical thinking); 3) kemampuan memecahkan masalah (problem solving); clan
4) kemampuan mengambil keputusan (decision making).
Upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dapat
dikembangkan melalui pembelajaran yang bersifat student-centered, yaitu pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa ini, guru memberikan
kebebasan berpikir dan keleluasaan bertindak kepada siswa dalam memahami pengetahuan serta
dalam menyelesaikan masalahnya. Guru tidak mendoktrin siswa untuk menyelesaikan masalah
hanya dengan cara yang telah ia ajarkan, namun juga memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada siswa untuk menemukan cara-cara baru. Dalam hal ini, siswa diberi kesempatan untuk
mengkonstruksi pengetahuan oleh dirinya sendiri, tidak hanya menunggu transfer dari guru.
Untuk mengajarkan atau melatih siswa agar mampu berpikir kritis harus ditempuh melalui
beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Arief (2004), yaitu:
1. Keterampilan menganalisis, yaitu suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke
dalam komponen komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut. Dalam
keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara
menguraikan atau memerinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan
terperinci. Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, di
antaranya: menguraikan, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, dan memerinci.
2. Keterampilan mensintesis, yaitu keterampilan yang berlawanan dengan keterampilan
menganalisis, yakni keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentuk atau
susunan yang baru, Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua
informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang
tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya
3. Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah merupakan keterampilan aplikatif
konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami
bacaan dengan kritis sehingga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap
beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu membuat sebuah konsep. Tujuan keterampilan
ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam
permasalahan atau ruang lingkup baru.
4. Keterampilan menyimpulkan, yaitu kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan
pengertian atau pengetahuan yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian atau
pengetahuan (kebenaran) baru yang Iain. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu
menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula
baru yaitu sebuah simpulan.
5. Keterampilan mengevaluasi atau menilai. Keterampilan ini menuntut pemikiran yang
matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai
menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan
menggunakan standar tertentu.
Yang perlu diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir kritis ini adalah bahwa
keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan
kognitif anak. Suprapto (2008) mengemukakan tahapan tersebut, sebagai berikut:
1. Identifikasi komponen-komponen prosedural, yakni sis_ erkenalkan ada keterampilan
dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan
keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk
menuntun pemikiran siswa.
2. Instruksi dan pemodelan langsung, yakni guru memberikan instruksi dan pemodelan
secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan
pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang
sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.
3. Latihan terbimbing, yakni dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada anak agar
nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini, guru
memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.
4. Latihan bebas, yaitu dengan cara guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga
siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah (PR).
Latihan mandiri (PR) tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat
melatih keterampilan yang telah diajarkan.
Antara kemampuan berpikir kreatif, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan
memecahkan masalah saling berhubungan satu sama lain. Dengan adanya kemampuan berpikir
kreatif akan melahirkan ide-ide baru dalam menghadapi masalah. Adapun untuk menguji
kebenaran diperlukan keterampilan berpikir kritis. Dalam memecahkan masalah yang dihadapi
diperlukan keterampilan berpikir kreatif dan kritis, sehingga dapat mengambil keputusan secara
reflektif. Pengambilan keputusan yang dilakukan dapat bermanfaat bagi kehidupan dalam
masyarakat, bangsa, dan negara serta komunitas.
Penguasaan Materi Pelajaran Oleh Guru
Penguasaan materi pembelajaran dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam
memberikan materi pembelajaran dalam bentuk tema tema dan topik-topik, sehingga dapat
membentuk kompetensi tertentu pada peserta didik. Kemampuan ini diharapkan dimiliki oleh
guru untuk 5 (lima) bidang studi inovatif yang terdiri dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA,
IPS, PKN, dan Matematika.
Penguasaan materi pembelajaran oleh guru adalah kemampuan yang dimiliki guru dalam
menerapkan sejumlah fakta, konsep, prinsip dan keterampilan untuk menyelesaikan dan
memecahkan soal-soal atau masalah yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diajarkan.
Materi pembelajaran merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk
perencanaan dan penelitian implementasi pembelajaran. Materi pembelajaran adalah segala
bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar di kelas. Oleh sebab itu, materi pembelajaran adalah seperangkat materi yang
disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang
memung-kinkan siswa untuk belajar.
Penguasaan materi pembelajaran bagi guru merupakan hal yang sangat menentukan
khususnya dalam proses pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan
kualitas pembelajaran dalam kelas. Maka dari itu, untuk dapat mengajar dengan baik, seorang
guru harus menguasai bahan/materi yang akan diajarkan.
Kinerja adalah kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan efisien
dan efektif melalui penggunaan seluruh sumber daya yang terdapat dalam lingkungan kerja,
sehingga pada akhirnya akan meng-hasilkan mutu kerja optimal. Guru yang kurang menguasai
materi ajar dapat memicu kehilangan motivasi untuk mengajar, dan akibatnya kinerja guru
menurun. Oleh karena itu, diduga ada pengaruh langsung positif penguasaan materi
pembelajaran terhadap kinerja guru SD.
Materi pelajaran merupakan isi atau bahan yang akan dipelajari oleh siswa harus
dipersiapkan dengan baik untuk disampaikan kepada siswa. Mata pelajaran harus disusun secara
sistematis berdasarkan frekuensinya serta melihat rancangan program pembelajaran (RPP) untuk
mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam proses pelaksanaan penyampaian materi harus
diperhatikan sumber belajar yang menunjang terhadap pengembangan kemampuan siswa.
Pembahasan tentang peserta didik akan dilakukan pada kesempatan lain. Kali ini akan akan
diulas tentang penguasaan materi pelajaran oleh sang guru. Apa itu materi ajar? Bagaimana
syarat menguasai materi ajar? Bagaimana indikator guru yang menguasai materi ajar akan
dibahas dibawah ini? Dalam tinjauan klasik, mengajar adalah menyampaikan materi ajar. Guru
dituntut menguasai bidang keilmuannya secara detail dan bersifat tetap. Dengan demikian guru
dituntut untuk menguasai dengan cara menghafal semua materi ajar seperti halnya ensiklopedia
yang berjalan.Seiring dengan perkembangan teknologi tentu tuntutan di atas tidak lagi relevan.
Karena ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan cepat sekali perkembangannya. Dengan demikian
penguasaan materi dengan cara menghafal seluruh informasi sering kali tidak diperlukan. Dalam
kaitannya dengan pembelajaran yang perlu dikuasai guru adalah materi ajar. Materi ajar artinya
materi yang disusun oleh guru sehingga bisa disajikan kepada siswa dengan penuh
pemahaman.Suatu materi keilmuan bisa menjadi materi ajar apabila guru menguasai tiga hal
berikut ini:
Pertama, menguasai gambar besar dari materi yang diajarkan
Guru perlu mengetahui apa saja dan berapa jumlahnya standar kompetensi
dan kompetensi dasar yg diajarkan dalam satu semester dan satu tahun. Guru juga telah
memiliki rancangan kapan dan berapa lama materi itu akan disampaikan kepada siswa.
Kedua, menguasai prinsip dasar pengembangan ilmu yang diajarkan
Ilmu pengetahuan alam contohnya, akan memiliki objek berupa kajian benda nyata,
pendekatannya pengamatan dan percobaan, hasilnya untuk mendapatkan generalisasi atau teori.
Berbeda dengan ilmu pengetahuan sosial, objek kajiannya masyarakat, pendekatannya
pengamatan dan hasilnya untuk memperoleh gambaran umum.
Ketiga, mampu menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ditulis di papan tulis merupakan pemandu materi ajar. Dengan
demikian sang guru perlu memilah dan memilih materi-materi yang perlu disajikan atau tidak
disajikan. Dengan demikian hanya materi yang sesuai dengan tujuan belajar saja yang
disajikan.Sama seperti menyajikan makanan, menyajikan materi ajar juga perlu aturan
tertentu. Beberapa aturan yang perlu dilakukan untuk menyajikan materi kepada siswa
adalah sebagai berikut:
1. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan
Pastikan materi ajar memiliki kaitannya dengan materi sebelumnya, materi yang akan
datang dan materi pada ilmu-ilmu lain
2. Mengaitkan materi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pastikan materi ajar merupakan bagian dari perkembangan iptek dengan demikian jika
menguasainya akan dapat ikut andil dengan pengembangan iptek
3. Mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
Kaitkan materi yang dipelajari dengan dunia sehari-hari di lingkungan siswa, dunia yang
nyata, benda-benda yang nyata
4. Menyajikan materi secara simpel dan sistematis
Sajikan materi ajar dengan bahasa yang mudah dipahami siswa, atur intonasi yang tepat
dan dengan ujaran yang runtut. Jika bahan ajar perlu dituangkan dalam bentuk visual buatlah
dengan gambar yang sederhana yang mudah dimengerti siswa. Selain itu, penyajian materi yang
sistematis dan berkesinambungan penting agar antara bahan yang satu dengan bahan berikutnya
ada hubungan fungsional, dimana bahan yang satu menjadi dasar untuk bahan berikutnya.
Sementara dalam menentukan materi pelajaran perlu memasukkan bahan yang faktual dan
sifatnya konkret dan mudah diingat, serta bahan yang sifatnya konseptual berisikan konsep-
konsep abstrak.
5. Menyajikan materi mudah ke sulit
Sajikan materi dari hal-hal mudah ditingkatkan secara berurutan tingkat kesulitannya
6. Menyajikan materi konkrit ke abstrak
Ambillah benda-benda yang konkrit untuk disajikan di awal pembelajaran dilanjutkan
dengan ilustrasi gambar dan kemudian membuat konsep
7. Menyajikan materi umum ke khusus
Mulanya sampaikan beragam aktivitas umum bisa dilakukan sendiri maupun kelompok
selanjutnya diakhiri penyimpulan bersama Dengan demikian penguasaan materi ajar tidak
sekedar penguasaan secara statis akan tetapi penguasaan yang dinamis sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran siswa.
Dengan melihat kenyataan dan tuntunan seperti di atas, menuntut guru untuk menguasai
materi pelajaran dengan baik. Mustahil, guru dapat merencanakan pembelajaran, memfasilitasi
pembelajaran hingga pada tahap evaluasi pembelajaran jika guru tidak menguasai materi
pembelajaran. Sebagai perencana pengajaran, sebelum proses pembelajaran guru harus
menyiapkan berbagai hal yang diperlukan, seperti mata pelajaran apa yang harus disampaikan,
bagaimana cara menyampaikannya dan media apa yang harus digunakan.
Oleh karena itu, untuk menjadi guru atau pendidik yang profesional, menurut Raka Joni
(2007), guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yaitu : kompetensi kepribadian,
pedagogis, sosial, dan professional. Seluruh kompetensi profesi yang dituntut dari seorang guru,
semata-mata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya dapat dinilai dari
proses dan hasil belajar.
Jadi, dapat ditegaskan lagi disini, bahwa kemampuan menguasai materi pelajaran oleh guru
menjadi prasyarat penting bagi tercapainya keberhasilan proses belajar mengajar. Adanya buku
paket pelajaran yang dapat dibaca oleh siswa tidak mengandung arti bahwa guru tidak perlu
menguasai bahan. Memang guru tidak mungkin serba tahu, tetapi mata pelajaran yang
diembannya menjadi tanggung jawab guru bersangkutan. Yang menjadi persoalan ialah konsep-
konsep manakah yang harus dikuasai oleh guru sehubungan dengan pelaksanaan proses belajar
mengajar. Menurut Udin, secara jelas dan tegas sesungguhnya konsep-konsep tersebut telah ada
dalam kurikulum, khususnya RPP bidang studi yang dipegangnya.
Bab III
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SEKOLAH DASAR
1 . HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai disiplin ilmu
sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam rangka
memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik,khususnya di
tingkat dasar dan menengah.Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan yang
beraspek majemuk baik hubungan sosial,ekonomi,psikologi,budaya,sejarah,maupun politik.
Menurut Zuraik dalam Djahari (1984) hakikat IPS adalah harapan untuk mampu
membina suatu masyarakat yang baik di mana para anggotanya berkembang sebagai insan
sosial yang rasional dan penuh tanggung jawab,sehingga oleh karenanya diciptakan nilai-
nilai. Hakikat IPS di sekolah dasar memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai
media pelatihan siswa sebagai warga negara sedini mungkin.
Jadi, hakikat IPS adalah untuk mengembangkan konsep pemikiran yang berdasarkan
realita kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa, sehingga dengan memberikan
pendidikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga Negara yang baik dan bertanggung
jawab terhadap bangsa dan negaranya.Nilai-nilai yang wajib dikembangkan dalam
pendidikan IPS yaitu: nilai-nilai edukatif, praktis, teoritis, filsafat, dan kebutuhan.
Dalam kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1993, disebutkan bahwa IPS adalah mata
pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi,
ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan tata Negara.Tujuan utamanya adalah
membantu mengembangkan kemampuan dan wawasan siswa yang menyeluruh
(komprehensif) tentang berbagai aspek ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (humaniora).
Secara spesifik, forum komunikasi II HISPIPSI Tahun 1991 di Yogyakarta membagi
rumusan pengertian pendidikan IPS kedalam dua bagian, yaitu pengertian pendidikan IPS
menurut versi pendidikan dasar dan menengah, dan pengertian IPS menurut versi pendidikan
tinggi atau perguruan tinggi, yang bernaung dibawah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial (FPIPS). Pertama, menurut versi pendidikan dasar dan menengah, pendidikan IPS
adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta
kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan. Kedua, menurut versi di perguruan tinggi,
pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu dan humaniora serta kegiatan manusia
yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.
Menurut Banks, pendidikan IPS atau yang dia sebut social studies, merupakan bagian
dari kurikulum di sekolah yang bertujuan untuk membantu mendewasakan siswa supaya
dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai dalam rangka
berpartisipasi di dalam masyarakat, negara, bahkan dunia. Pendidikan IPS menurut
Jarolimek (1982: 78), yang menyatakan bahwa pada dasarnya pendidikan IPS berhubungan
erat dengan pengetahuan, keterampilan,sikap, dan nilai-nilai yang memungkinkan siswa
berperan serta dalam kelompok masyarakat dimana ia tinggal. Selanjutnya Buchari Alma
(2003: 148) pengertian IPS sebagai suatu program pendidikan yang merupakan suatu
keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik,
maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu sosial:
geografi,sejarah,ekonomi,antropologi,sosiologi, politik, dan psikologi. Menurut Fraenkel
(1980: 34) pendidikan IPA ini dapat membantu para siswa menjadi lebih mampu
mengetahui tentang diri mereka dan dunia dimana mereka hidup.
Secara historis, pendidikan IPS sebagai bidang studi dalam kurikulum sekolah mulai
diajarkan di Indonesia sekitar tahun 1975 sebagai bidang studi IPS dalam kurikulum
SD,SMP, Dan SMA.
Definisi pendidikan IPS yang diberikan oleh NCSS pada prinsipnya menjelaskan bahwa
pendidikn IPS adalh suatu kajian terpadu dari ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan
untuk meningkatkan kemampuan kewarganegaraan (civic competence).
TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
Lebih jauh lagi dalam Pendidikan IPS di kembangkan 3 aspek atau 3 ranah pembelajaran,
yaitu:
Aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tiga aspek
ini merupakan acuan yang berorientasi untuk mengembangkan pemilihan materi, strategi, dan
model pembelajaran.
Tujuan Pendidikan ilmu sosial dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa Pendidikan ilmu
– ilmu sosial dikembangkan atas dasar pemikiran suatu disiplin ilmu, sehingga tujuan
Pendidikan nasional dan tujuan institusional menjadi landasan pemikiran mengenai tujuan
Pendidikan ilmu nasional.
Tujuan utama pembelajaran IPS ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif
terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah
yang terjadi sehari – hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa
masyarakat.
Secara rinci, Mutakin (1998) merumuskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah, adalah sebagai
berikut :
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya,melalui
pemahaman terhadap nilai – nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi
dari ilmu – ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah –
masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model – model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk
menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu dan masalah sosial, serta mampu analisis yang kritis,
selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar
survive dan kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
Nurhadi (1997: 13) menyebutkan bahwa ada 4 tujuan pendidikan IPS, yaitu: Knowledge,
skill, attitude, dan value.
1. Knowledge, yaitu sebagai tujuan utama dari pendidikan IPS yaitu membantu para siswa
sendiri untuk mengenal diri mereka sendiri dan lingkungannya, dan mencakup geografi,
sejarah, politik, ekonomi, dan sosiologi psikologi.
2. Skill, yang mencakup keterampilan berpikir (thinking skill).
3. Attitudes, yang terdiri atas tingkah laku berpikir (intelektual behavior) dan tingkah laku
sosial (sosial behavior).
4. Value, yaitu nilai yang terkandung didalam masyarakat yang diperoleh dari lingkungan
masyarakat maupun Lembaga pemerintahan, termasuk didalamnya ia kepercayaan,nilai
ekonomi, pergaulan antar bangsa, dan ketaatan terhadap pemerintah dan hukum.
Tujuan utama Pendidikan IPS, sebagaimana disebutkan oleh Nurhadi di atas adalah untuk
mengenal diri mereka sendiri dan lingkungannya, untuk membentuk dan mengembangkan
pribadi warganegara yang baik (good citizenship) yang secara umum dapat digambarkan
sebagai warga negara yang mempunyai ciri-ciri,seperti yang dikemukakan Barth and Shermis
sebagai berikut:
1. Memiliki sifat patriotisme, yaitu cinta tanah air ,bangsa, dan negara.
2. Mempunyai penghargaan dan perhatian terhadap nilai-nilai, peraata, dan praktik kehidupan
kemasyarakatan.
3. Memiliki sifat integritas sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.
4. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya atau tradisi yang
diwariskan oleh bangsanya.
5. Mempunyai motivasi untuk turut serta secara aktif dalam pelaksanaan kehidupan demokratis.
6. Memiliki kesadaran (tanggap akan) masalah sosial.
7. Memiliki ide, sikap, dan keterampilan yang diharapkan sebagai seorang warga negara.
8. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap sistem ekonomi yang berlaku.
Secara khusus, tujuan Pendidikan IPS di sekolah dapat dikelompokkan menjadi 4 komponen,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Chapin dan Messick (1992) yaitu
1. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan
bermasyarakat pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
2. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk mencari dan mengolah atau
memproses informasi.
3. Menolong siswa untuk mengembagkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan masyarakat.
4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berperan serta dalam kehidupan sosial.
Hamid Hasan (1996 :98) membagi tujuan Pendidikan ilmu sosial dalam 3 kategori sebagai
berikut :
1. Pengembangan kemampuan intelektual siswa yag berorientasi pada pengembangan
kemampuan pengembagan intelektual yang berhubungan dengam diri siswa dan kepentingan
ilmu.
Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir dan memahami ilmu
sosial serta kemampuan proses dalam mencari informasi.
2. Pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa
berorientasi pada pengembangan diri siswa dan kepentingan masyarakat yang dinamakan
kemampuan sosial. tujuannya mengembangkan kemampuan partisipasi dalam kegiatan-
kegiatan masyarakat dan bangsa termasuk tanggung jawab sebagai warga dunia selain itu juga
mengembangkan pemahaman dan sikap positif siswa terhadap nilai,norma, dan moral yang
berlaku di masyarakat.
3. Pengembangan diri sebagai pribadi berorientasi pada pengembangan pribadi siswa baik untuk
kepentingan dirinya masyarakat,maupun ilmu. Tujuannya berkenaan dengan pengembangan
sikap nilai, norma, moral,yang menjadi panutan siswa dalam pembentukan kebiasaan positif
untuk kehidupan pribadinya serta sikap positif terhadap diri untuk memacu perkembangan diri
sebagai pribadi.
Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran dapat memberikan wawasan
pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun Global sehingga mampu hidup
bersama-sama dengan masyarakat lainnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sekolah Dasar
sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu
melahirkan manusia yang andal baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya.
Tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar berdasarkan kurikulum sekolah dasar 1945 pada
kepentingan siswa ilmu dan sosial (masyarakat). Tujuan pembelajaran IPS yang tercantum
dalam kurikulum,adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti, tujuan
pendidikan IPS bukan hanya sekedar membekali siswa dengan berbagai informasi yang
bersifat hafalan kognitif saja akan tetapi pendidikan IPS harus mampu mengembangkan
keterampilan berpikir, agar siswa mampu mengkaji berbagai kenyataan sosial beserta
permasalahannya. Tujuan yang harus dicapai oleh siswa sekolah dasar harus disesuaikan
dengan taraf perkembangannya, yang dimulai dari pengenalan dan pemahaman lingkungan
sekitar menuju lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dimulai dari lingkungan terdekat
menuju lingkungan yang lebih luas.
Demikian pula dalam kaitannya dengan KTSP, pemerintah telah memberikan arah yang jelas
pada tujuan dan ruang lingkup pembelajaran IPS,yaitu:
1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang
majemuk, ditingkat lokal, nasional, dan global.
Pembelajaran IPS mempunyai misi utama yang sangat mulia sebagaimana dikemukakan oleh
djahiri (1996 : 36) yang memanusiakan manusia dan masyarakat secara fungsional dan penuh
rasa kebersamaan serta rasa tanggung jawab hendaknya Mampu menampilkan harapan-
harapan, sebagai berikut :
1. Mampu memberikan pembekalan pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk
kehidupannya dalam astra kehidupan.
2. Membina kesadaran keyakinan dan sikap pentingnya hidup bermasyarakat dan penuh rasa
kebersamaan bertanggungjawab dan manusiawi.
3. Kondisi kehidupan masyarakat sekitar masa kini dan kelak yang diharapkan.
4. Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah yang tentunya mampu dijangkau dan
diperakan siswa kini dan kelak dikemudian hari.
5. Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa dari negara Indonesia.
Adapun tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar menurut Munir (1997 :132), sebagai
berikut:
1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelak di
masyarakat.
2. Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun
alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
3. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat
dan bidang keilmuan serta bidang keahlian.
4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif, dan keterampilan
keilmuan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan
tersebut.
5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS
sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Tujuan lain secara eksplisit, dengan mempelajari kondisi masyarakat Seperti yang dimuat
dalam pendidikan IPS ini, maka siswa akan dapat mengamati dan mempelajari norma norma
atau peraturan serta kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku dalam masyarakat tersebut,
sehingga siswa mendapat pengalaman langsung adanya hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi antara kehidupan pribadi dan masyarakat dalam pendidikan IPS tersebut,
siswa akan memperoleh pengetahuan dari yang sederhana sampai yang lebih luas (expanding
community), yakni siswa akan mulai diperkenalkan dengan diri sendiri (self) kemudian
keluarga, tetangga, lingkungan RT dan RW, kelurahan atau desa, kecamatan, kota/kabupaten,
provinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia.
Pengetahuan anak secara pasti akan berkembang Namun karena anak memiliki berbagai
potensi yang masih laten maka mereka memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu
dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari potensi dirinya kemudian belajar, akan
menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan
mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya.
Maka dari itu, pendidikan IPS merupakan salah satu upaya yang akan membawa kesadaran
terhadap ruang ,waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak, khususnya dalam hal ini adalah
siswa sekolah dasar.
Pendidikan IPS di sekolah dasar harus memperhatikan kebutuhan anak yang berada pada
usia berkisar antara 6- 7 tahun sampai 11 atau 12 tahun. Masa usia ini, menurut Piaget (1963)
berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitif nya pada tingkatan konkret
operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun
yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan ialah masa
sekarang (konkret) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak) padahal
bahan materi pendidikan IPS adalah dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak .Konsep seperti
waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan,ritual agama,
akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai,peranan, permintaan atau kelangkaan adalah konsep-
konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus diajarkan kepada siswa sekolah dasar
tersebut.
Oleh karena itu, berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan
konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978 : 4) misalnya memberikan
pemecahan berbentuk jembatan Bailey untuk mengkonkretkan abstrak yaitu dengan enactive,
iconic, dan symbolic, melalui bertentangan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik,
lambang, keterangan lanjut atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah
sebabnya pendidikan IPS di sekolah dasar bergerak dari yang konkret menuju ke yang abstrak
dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment
approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari
yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat menuju ke yang jauh, dan seterusnya.
METODE PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
Metode secara harfiah diartikan cara. Dalam pemakaian yang umum diartikan sebagai
cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan faktor
dan konsep-konsep secara sistematis. Metode dapat dianggap sebagai suatu prosedur atau
proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan segala sesuatu.
Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan
suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya
dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Sedangkan mengajar
diartikan sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses
belajar. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa metode mengajar adalah cara atau alat
yang dipakai oleh seorang pendidik dalam menyampaikan bahan pelajaran sehingga bisa
diterima oleh siswa dan juga tercapainya tujuan yang diinginkan, atau bagaimana teknisnya
pelaksanaan proses belajar mengajar.
Metode Pembelajaran IPS berpijak pada aktivitas yang memungkinkan siswa baik secara
individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip
IPS secara holistis dan autentik. Melalui pembelajaran IPS, peserta didik dapat memperoleh
pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan
memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa
terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan metode yang akan diterapkan dalam
proses pembelajaran :
Dalam pemilihan atau penetapan metode yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran,
maka hendaknya memperhatikan faktor faktor yang dapat mempengaruhinya, sebagaimana
yang dikemukakan oleh Subiyanto (1990 : 71) berikut:
1. Metode hendaknya sesuai dengan tujuan. Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai
dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun metode dengan tujuan saling berhubungan. Artinya,
metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Bila tidak, maka akan sia-sialah
perumusan tujuan tersebut.
2. Metode hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran. Metode pengajaran untuk mata
pelajaran yang satu berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Bahan pelajaran dapat dianggap
sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru untuk menentukan metode mengajar yang akan
digunakan.
3. Metode hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan siswa. Menyesuaikan metode mengajar
dengan kemampuan siswa, didasarkan pada tingkat atau jenjang pengajaran. Metode dalam
mengajarkan perkembangan untuk siswa sekolah dasar akan berbeda dengan siswa sekolah
menengah. Selain itu juga, penyesuaian metode mengajar itu menyangkut pemilihan media
yang dimanfaatkan. Seyogianya guru memanfaatkan media yang berbeda dalam mengajar di
sekolah dasar, karena terdapat perbedaan kematangan siswa yang bervariasi mempengaruhi
pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
2. Metode Pengajaran dalam IPS di Sekolah Dasar
Metode pengajaran IPS dapat dibagi dua klasifikasi yaitu metode yang interaksi
edukatifnya berlangsung di dalam kelas misalnya metode ceramah, tanya jawab, diskusi,
demonstrasi, eksperimen, sosiodrama, role playing, dan tugas atau resitasi serta kerja
kelompok dan interaksi yang edukatif yang berlangsung di luar kelas misalnya metode
karya wisata dan observasi.
1. Metode Interaksi Edukatif Dalam Kelas
a. Metode ceramah
Menurut Tjipto Utomo & Ruitjen : 1982, metode ceramah merupakan bentuk
pengajaran dimana guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar siswa dengan
cara yang utama bersifat verbal atau kata-kata.
b. Metode tanya-jawab
Metode tanya jawab adalah suatu format interaksi antara guru dengan siswa melalui
kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respon lisan dari siswa,
sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa.
c. Metode Diskusi atau Metode Musyawarah
Metode diskusi dalam pembelajaran IPS adalah suatu cara penyajian materi pelajaran
dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah, baik berupa pernyataan maupun
berupa pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas atau dipecahkan oleh siswa
secara bersama-sama.
d. Metode Penugasan (Pemberian tugas)
Metode penugasan adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru
memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan
laporan sebagai hasil dari tugas yang dihasilkannya.
e. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok merupakan format belajar mengajar yang menitikberatkan
kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu
kelompok, guna menyelesaikan tugas secara bersama-sama.
f. Metode Demonstrasi
Demonstrasi merupakan format belajar mengajar yang sengaja mempertunjukan atau
memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain
kepada seluruh atau sebagian siswa.
g. Metode Eksperimen (Percobaan)
Eksperimen adalah format interaksi belajar mengajar yang melibatkan logika induksi
untuk menyimpulkan pengamatan terhadap proses atau hasil percobaan.
h. Metode Simulasi
Simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam pengajaran IPS yang
didalamnya menampakan adanya perilaku pura-pura (simulasi) dari orang yang terlibat
dalam proses pembelajaran atau suatu peniruan situasi tertentu, sehingga siswa dapat
memahami konsep, prinsip-prinsip keterampilan, nilai dan sikap dari sesuatu dari yang
sedang disimulasikan.
i. Metode Inkuiri dan Discovery
Metode Inkuiri dan Discovery dalam pembelajaran merupakan suatu prosedur yang
menekankan belajar secara individual dimana siswa berusaha melakukan aktivitas
sendiri untuk mencari dan meneliti sesuatu sebelum menarik suatu kesimpulan.
2. Metode Interaksi Edukatif di Luar Kelas
a.Metode Karyawisata
Metode karyawisata merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dimana siswa dibawa
ke suatu objek di luar kelas untuk mengkaji atau mempelajari suatu masalah yang
berhubungan dengan materi pelajaran atau dengan kata lain karyawisata merupakan
suatu upaya mendekatkan atau membawa diri siswa kepada kehidupan nyata yang
menjadi sumber belajar bagi para siswa.
b. Metode Observasi
Merupakan kelanjutan atau alat yang diperlukan pada saat pelaksanaan karyawisata.
Metode observasi adalah format pembelajaran di mana siswa dibawa ke luar kelas untuk
mengamati suatu objek atau peristiwa kemudian merekamnya dengan menggunakan
lembar pengamatan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
3. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memilih metode pembelajaran IPS
di sekolah dasar
Dalam memilih metode pembelajaran IPS di sekolah dasar, berdasarkan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru diharapkan memperhatikan prinsip-prinsip
berikut:
1. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik
menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran
tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu
bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensi.
2. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam kompetensi dasar dan
standar kompetensi tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap,
pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.
3. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap siswa.
Siswa memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena
itu, dalam kelas dengan jumlah siswa tertentu, guru perlu memberikan layanan individu
agar dapat mengenal dan mengembangkan siswanya.
4. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus-menerus menerapkan prinsip
pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan.
Siswa yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas
diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.
5. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga siswa menjadi
pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh
karena itu, guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan
kehidupan atau konteks kehidupan siswa dan lingkungan.
6. Pembelajaran dilakukan dengan multistrategi dan multimedia sehingga memberikan
pengalaman belajar yang beragam bagi peserta didik.
7. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber.
Jadi, metode pembelajaran IPS yang dikembangkan hendaknya memperhatikan
karakteristik siswa yang memberikan ruang kepada siswa untuk dapat secara terbuka
menganalisis dan menjelaskan nilai-nilai yang berhubungan dengan masyarakat,
memutuskan tindakan, dan mengambil tindakan dengan keputusan yang reflektif.
TEMA-TEMA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah mulai dari sekolah dasar
sampai sekolah menengah dengan menyajikan materi yang mengkaji seperangkat
peristiwa,fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu-isu sosial.
Secara garis besar, tema- tema pendidikan IPS di sekolah dasar dapat diklasifikasikan menjadi
3 bagian besar, yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, yaitu :
1. Pendidikan IPS sebagai pendidikan nilai (value education) , yakni :
- Mendidikkan nilai- nilai yang baik, yakni merupakan norma-norma keluarga dan
masyarakat
- Memberikan klasifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa
- Nilai-nilai inti atau nilai utama (core values) seperti menghormati hak-hak perorangan,
kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of man and work), sebagai upaya
membangun kelas yang demokratis.
2. Pendidikan IPS sebagai pendidikan multikultural ( multicultural education ), yakni :
- Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar
- Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa
- Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas
3. Pendidikan IPS sebagai pendidikan Global ( global education ), yakni :
- Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan perbedaan di dunia
- Menanamkan kesadaran ketergantungan antarbangsa
- Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di
dunia
- Mengurangi kemiskinan, kebodohan, perusakan lingkungan
Ruang lingkup materi pelajaran IPS di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yang tercantum
dalam kurikulum, Menurut Depdiknas ( 2006 ), sebagai berikut :
1. Madrasah,tempat, dan lingkungan.
2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
3. Sistem sosial dan budaya.
4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
PEMBELAJARAN IPS DALAM STRUKTUR KURIKULUM
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL pada pendidikan sekolah
dasar untuk IPS, sesuai petunjuk dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23
Tahun 2006, sebagai berikut:
1. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
2. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di
lingkungan sekitarnya.
3.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
4. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru
5. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
6. Menunjukkan gejala alam dan sosial di lingkungan sekitarnya.
7. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
8. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan Tanah Air
Indonesia.
9. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
Dari berbagai standar kelulusan tersebut di atas dapat dipahami bahwa program pendidikan
IPS bertujuan untuk menciptakan lulusan atau siswa yang memiliki sikap, etika, kepribadian,
serta pengetahuan dan keterampilan yang paripurna, yang tidak hanya terampil tangannya
saja, tetapi juga lembut hatinya, dan cerdas otaknya.
Bab IV
ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH DASAR
A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam, yang sering disebut juga dengan istilah pendidikan sains,
disingkat menjadi IPA. IPA merupakan salah satu mata pembelajaran pokok dalam
kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Mata pelajaran
IPA merupakan mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit oleh sebagian besar peserta
didik, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Anggapan sebagian besar
peserta didik yang menyatakan sulit adalah benar terbukti dari hasil perolehan Ujian Akhir
Sekolah (UAS) yang dilaporkan oleh Depdiknas masih sangat jauh dari standar yang
diharapkan. Ironisnya, justru semakin tinggi jenjang pendidikan, maka perolehan rata-rata
nilai UAS pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya
pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Proses Pembelajaran
yang terjadi selama ini kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.
Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada
kemampuan siswa untuk menghafal informasi,otak siswa dipaksa hanya untuk mengingat
dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh
untuk menghubungkan dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini juga menimpa pada pembelajaran IPA, yang hanya memperlihatkan bahwa
selama ini proses pembelajaran sains di sekolah dasar masih banyak yang dilaksanakan
secara konvensional. Para guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif
dan kreatif dalam melibatkan siswa serta belum menggunakan berbagai pendekatan/strategi
pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter materi pelajaran.
Dalam proses belajar mengajar,kebanyakan guru hanya terpaku pada buku teks
sebagai satu-satunya sumber belajar mengajar. Hal lain yang menjadi kelemahan dalam
pembelajaran IPA adalah masalah teknik penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan
menyeluruh. Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan
pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif sebagai alat
ukurnya. Dengan cara penilaian seperti ini, berarti pengujian yang dilakukan oleh guru baru
mengukur penguasaan materi saj dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah-
rendah. Keadaan semacam ini merupakan salah satu indikasi adanya kelemahan
pembelajaran di sekolah.
Penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut adalah karena kebanyakan guru
tidak melakukan kegiatan pembelajaran dengan memfokuskan pada pengembangan
keterampilan proses sains anak. Pada akhirnya, keadaan semacam ini yang menyebabkan
kegiatan pembelajaran dilakukan hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks
saja. Keadaan seperti ini juga mendorong siswa untuk berusaha menghafal pada setiap kali
diadakan tes atau ulangan harian atau tes hasil belajar, baik ulangan tengah semester (UTS),
maupun ulangan akhir semester(UAS).
Padahal, untuk anak jenjang sekolah dasar, menurut Marjono (1996), hal yang harus
diutamakan adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya berpikir kritis
mereka terhadap suatu masalah.
Sains atau IPA adalah usaha manusia memahami alam semesta melalui pengamatan
yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran
sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.Dalam hal ini diharapkan mengetahui dan mengerti
hakikat pembelajaran IPA, sehingga dalam pembelajaran IPA guru tidak kesulitan dalam
mendesain dan melaksanakan pembelajaran dalam mendesain dan melaksanakan
pembelajaran. Siswa yang melakukan pembelajaran juga tidak mendapat kesulitan dalam
memahami konsep sains.
Hakikat pembelajaran sains yang didefinisikan sebagai ilmu tentang alam yang dalam
bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan, dapat diklasifikasikan menjadi tiga
bagian, yaitu: ilmu pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap. Dari ketiga
komponen IPA ini, Sutrisno (2007) menambahkan bahwa IPA juga sebagai prosedur dan
IPA sebagai teknologi. Akan tetapi, penambahan ini bersifat pengembangan prosedur dari
proses,sedangkan teknologi dari aplikasi konsep dan prinsip-prinsip IPA sebagai produk.
Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah sikap ilmiah. Jadi, dengan
pembelajaran IPA di sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan sikap ilmiah seperti
seorang ilmuwan. Adapun jenis-jenis sikap yang dimaksud, yaitu: sikap ingin tahu, percaya
diri, jujur, tidak tergesa-gesa, dan objektif terhadap fakta.
Pertama, ilmu pengetahuan alam sebagai produk,yaitu kumpulan hasil penelitian yang
telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan
empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk antara lain: fakta-fakta, prinsip,
hukum, dan teori-teori IPA. Jadi ada beberapa istilah yang dapat diambil dari pengertian IPA
sebagai produk, yaitu :
1. Fakta dalam IPA, pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar
ada,atau peristiwa-peristiwa yang benar terjadi dan mudah dikonfirmasi secara
objektif.
2. Konsep IPA merupakan suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA. Konsep
merupakan penghubung antara fakta-fakta yang ada hubungannya.
3. Prinsip IPA yaitu generalisasi tentang hubungan di antara konsep-konsep IPA.
4. Hukum-hukum alam (IPA), prinsip-prinsip yang sudah diterima meskipun juga
bersifat tentatif (sementra, akan tetapi karena mengalami pengujian yang berulang-
ulang maka hukum alam bersifat kekal selama belum ada pembuktian yang lebih
akurat dan logis.
5. Teori Ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta, konsep, prinsip
yang saling berhubungan.
Kedua, ilmu pengetahuan alam sebagai proses,yaitu untuk menggali dan memahami
pengetahuan tentang alam.Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan konsep, maka IPA
membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang digeneralisasi oleh
ilmuwan.Adapun proses dalam memahami IPA disebut dengan keterampilan proses sains
(science process skills) adalah keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan, seperti
mengamati, mengukur, mengklasifikasi, dan menyimpulkan.
Mengamati (observasi) adalah mengumpulkan semua informasi dengan panca
indra. Adapun penarikan kesimpulan (inferensi) adalah kesimpulan setelah melakukan
observasi dan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Disamping kedua
komponen ini sebagai keterampilan proses sains masih ada komponen lainnya seperti
investigasi dan eksperimen. Akan tetapi, yang menjadi dasar keterampilan proses adalah
merumuskan hipotesis dan menginterpretasikan data melalui prosedur-prosedur tertentu
seperti melakukan pengukuran dan percobaan.
Ketiga, ilmu pengetahuan alam sebagai sikap. Sikap ilmiah harus dikembangkan
dalam pembelajaran sains. Hal ini sesuai dengan sikap yang harus dimiliki oleh seorang
ilmuwan dalam melakukan penelitian dan mengkomunikasikan hasil penelitiannya.
Menurut Sulistyorini (2006), ada Sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dala
pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja
sama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab, dan kedisipilinan
diri.
Sikap ilmiah itu dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan siswa dalam
pembelajaran IPA pada saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek
lapangan. Pengembangan sikap ilmiah di sekolah dasar memiliki kesesuaian dengan tingkat
perkembangan kognitifnya. Menurut Piaget, anak usia sekolah dasar yang berkisar 6 atau 7
tahun sampai 11 atau 12 tahun masuk dalam kategori fase operasional konkret. Fase yang
menunjukkan adanya sikap keingintahuannya cukup tinggi untuk mengenali lingkungannya.
Dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan sains, maka pada anak sekolah dasar siswa harus
diberikan pengalaman serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan
bersikap terhadap alam, sehingga dapat mengetahui rahasia dan gejala-gejala alam.
Lebih lanjut, IPA juga memiliki karakteristik sebagai dasar untuk memahaminya.
Karakteristik tersebut menurut Jacobson & Bergman (1980), meliputi :
1. IPA merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori.
2. Proses ilmiah dapat berupa fisik dan mental, serta mencermati fenomena alam,
termasuk juga penerapannya.
3. Sikap keteguhan hati, keingintahuan, dan ketekunan dalam dalam menyingkap
rahasia alam.
4. IPA tidak dapat membuktikan semua akan tetapi hanya sebagian atau beberapa
saja.
Keberanian IPA bersifat subjektif dan bukan kebenaran yang bersifat objektif.
Dari uraian hakikat IPA di atas, dapat dipahami bahwa pembelajaran sains merupakan
pembelajaran berdasarkan pada prinsip-prinsip, proses yang mana dapat menumbuhkan
sikap ilmiah siswa terhadap konsep-konsep IPA. Oleh karena itu, pembelajaran IPA
disekolah dasar dilakukan penyidikan sederhana dan bukan hafalan terhadap kumpulan
konsep IPA. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut pembelajaran IPA akan mendapat
pengalaman langsung melalui pengamatan, diskusi, dan penyelidikan sederhana.
Pembelajaran yang demikian dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa yang diindikasikan
dengan merumuskan masalah, menarik kesimpulan, sehingga mampu berpikir kritis melalui
pembelajaran IPA.
B. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Pembelajaran sains di sekolah dasar dikenal dengan pembelajaran ilmu pengetahuan
alam (IPA). Konsep dasar Ipa di sekolah dasar merupakan konsep yang masih terpadu
seperti mata pelajaran kimia, biologi, dan fisika.
Adapun tujuan pembelajaran sains di sekolah dasar dalam Badan Nasional standar
Pendidikan (BSNP, 2006) dimaksud untuk:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa berdasarkan,
keberadaan, keindahan, keteraturan alam ciptaan Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan
yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses, untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan
masalah, dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan
melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturan sebagai salah
satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke SMP.
C. Pembelajaran IPA Berbasis INKUIRI
Dalam kurikulum 2004 dan Standar isi BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)
mencantumkan inkuiri sebagai proses maupun sebagai produk yang diterapkan secara
terintegrasi di kelas.
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dalam meliputi kegiatan-
kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan relevan, mengevaluasi buku dan sumber-
sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, me-review
apa yang telah diketahui ,melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan
alat untuk memperoleh data,menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi
dan mengkomunikasikan hasilnya.
Tujuan Utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National Research Council
(NRC, 2000), sebagai berikut:
1. Mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep
sains.
2. Mengembangkan keterampilan Ilmiah siswa sehingga mampu bekerja seperti layaknya
seorang ilmuwan
3. Membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan
Tujuan di atas dapat dicapai dengan mengikuti sintaks yang ada dalam pembelajaran inkuiri.
Joyce & Well (1996) mengemukakan bahwa sintaks inkuiri sains terdiri atas 4 fase yaitu:
A). Fase investigasi dan pengenalan pada siswa
B). Pengelompokan masalah oleh siswa
C). Identifikasi masalah dalam penyelidikan
D). Memberikan kemungkinan mengatasi kesulitan/ masalah
Pembelajaran inkuiri dapat dimulai dengan memberikan pertanyaan dan cara
bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Melalui pernyataan tersebut siswa dapat dilatih
melakukan observasi terbuka, ber hipotesis, bereksperimen yang akhirnya dapat menarik
suatu kesimpulan.
Pembelajaran dengan metode inkuiri memiliki lima komponen yanh umum yaitu:
bertanya, keterlibatan siswa, kerja sama, untuk kerja (perform task), dan sumber-sumber
yang bervariasi.
Pembelajaran inkuiri yang masyarakat keterlibatan siswa aktif terbukti dapat
meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains. Metode ini dapat membantu
perkembangan, antara lain: literasi sains dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan
perbendaharaan kata (vocal bulary), dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap
positif. Inkuiri merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk
menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu.
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topic masalah,
sumber masalah atau pertanyaan bahan, prosedur atau rancangan kegiatan, pengumpulan
analisis serta pengambilan kesimpulan. Dari komponen-komponen ini, Bonnstetter (2000)
mengklasifikasi tipe inkuiri ini kedalam 4 tingkat yaitu: 1) Praktikum (traditional hands-on);
2) pengalaman sains terstruktur (structured science experiences); 3) inkuiri siswa mandiri
(student directed inquiry); dan 4) penelitian siswa (Student research).
Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan siswa dalam menemukan dan
merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarah pada kegiatan
penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan. Dalam proses pembelajaran
melalui kegiatan inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan keterampilan-
keterampilan inkuiri atau keterampilan proses sains sehingga pada akhirnya dapat
menghasilkan sikap Ilmiah, seperti menghargai gagasan baru, berpikir kritis, jujur dan
kreatif.
Menurut Nasional Science Educational Standard (NRC,1996) perancangan pengajaran
inkuiri dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut :
1. Mengembangkan kerangka kerja jangka panjang (setahun) dan tujuan-tujuan jangka
pendek bagi siswanya.
2. Memilih kontens sains, mengadaptasi dan merancang kurikulum yang memenuhi
minat, pengetahuan, pemahaman, kemampuan, dan pengalam siswa.
3. Memilih strategi mengajar dan penilaian yang mendukung pengembangan pemahaman
siswa dan memberikan damapak rigan terhadap masyarakat pemelajaran sains
4. Berkerja sama sebagai kolega di dalam disiplin, juga lintas disiplin dan jenjang kelas.
Tahap pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran sains atau IPA di sekolah dasar dapat
dikelompokan dalam lima tahap, yaitu:
1. Adanya kegiatan merumuskan pertanyaan yang dapat diteliti melalui percobaan
sederhana.
2. Adanya perumusan hipotesis atau membuat prediksi.
3. Merencanakan dan melaksanakan suatu percobaan sederhana.
4. Mengkomunikasikan hasil pengamatan dan menggunakan data serta peralatan yang
digunakan dalam percobaan sederhana.
5. Menyimpulkan hasil pengamatan dan eksperimen yang telah dilakukan.
Tahap kegiatan diatas merupakan kegiatan pembelajaran inkuiri yang disedrhanakan
brdasarkan sintaks yang ada dalam pembelajaran inkuiri.
Sintaks dapat dijadikan sebagai aspek evaluasi dari pembelajaran tersebut. Aspek-
aspek dapat dilihat dari soal-soal yang diberikan guru sebagai bentuk evaluasi. Tujuannya
adalah mengukur nilai kemampuan seorang siswa serta menjadi rujukan untuk
pengembangan pembelajaran selanjutnya.
Adapun bentuk soal yang yang berbasis inkuiri dapat berupa, seerti dikemukakan oleh
Hodgson & Scanlon (1985),sebagai berikut:
1. Tes untuk kerja (performance task), dengan ketentuan:
a. Tes dilaksanakan dengan melakukan investigasi;
b. Tes dilaksanakan dengan melakukan observasi;
2. Tes tulis, dengan ketentuan-ketentuan yang meliputi
a. Merencanakan suatu investigasi;
b. Menjelaskan suatu informasi dengan mengaplikasikan konsep sains melalui data
pengamatan atau data hasil investigasi;
c. Melalui hipotesis
d. Menggunakan tabel, grafik atau chart dalam menjelaskan konsep sains;dan
e. Membuat kesimpulan sebagai hasil pengamatan yang dapat membangun pemahaman
siswa terhadap konsep-konsep sains.
Ditinjau dari aspek inkuiri, kriteria pembuatan soal-soal diatas merupakan langkah-
langkah yang terdapat dalam langkah-langkah yang terdapat dalam tahap pembelajaran
inkuiri. Evaluasi yang diberikan akan sesuai dengan konsep pembelajaran yang telah
dilaksanakan serta sesuai dengan hakikat sains. Sebaiknya evaluasi dilakukan atau
direncanakan dalam pembelajaran.
D. Tugas Utama Guru Dalam Pembelajaran IPA Di Sekolah Dasar
Pada umumnya, tugas-tugas guru sekolah dasar, baik yang mengajar IPA ataupun
sains maupun pelajaran lainnya adalah sama. Ditinjau dari pengertian guru menurut Undang-
Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik, baik pada jenjang pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah serta di perguruan tinggi.
Jelas bahwa tugas utama guru sebagaimana yang dikemukakan dalam undang-undang
guru tersebut adalah bahwa guru mempunyai tugas sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,
pengarah, pelatih, penilai, dan pemberi evaluasi kepada peserta didik, baik yang mengajar di
tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar, maupun sekolah menengah. Tugas ini
sejalan dengan definisi guru yang dikemukakan oleh Hasbullah (2006), bahwa guru adalah
orang yang berfungsi sebagai pembimbing untuk menumbuhkan aktivitas peserta didik dan
sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan. Guru tidak
hanya mengajar dan memberikan informasi saja pada siswa, akan tetapi guru juga
mempunyai tugas melatih, membimbing, serta mengarahkan siswa kepada materi pelajaran
sehingga siswa mampu belajar dan bersikap sebagai manusia yang terdidik secara akademis.
Guru sebagai profesi pendidik diharapkan memiliki kemampuan dalam
mengembangkan dirinya guna memenuhi tugas-tugas di lembaga pendidikan. Guru diminta
untuk memenuhi beberapa kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Ada dua unsur pokok
dalam kecakapan atau kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh guru, yaitu: 1)
menguasai bidang pengetahuan; dan 2) menguasai keterampilan pedagogis atau kepiawaian
dalam mengajar.
Pengembangan pengertian kompetensi disini, yaitu kompetensi pedagogik,
professional, pribadi, dan sosial. Lebih luas lagi bagaimana yang dijelaskan dalam Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20 Tahun 2003, ada sepuluh kompetensi
yang harus dimiliki oleh guru dalam mengajar dan bersikap, yaitu:
1. Memiliki kepribadian ideal sebagai guru
2. Penguasaan landasan kependidikan
3. Menguasai bahan pembelajaran
4. Kemampuan menyusun program pembelajaran
5. Kemampuan melaksanakan program pembelajaran
6. Kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
7. Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
8. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
9. Kemampuan bekerja sama dengan sejawat dan masyarakat
10. Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pembelajaran.