The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by viriyananda07, 2022-01-19 05:39:25

Kerajaan Bali

Sejarah Kerajaan Bali

Keywords: #sejarah #kerajaan bali

KERAJAAN BALI

A. Lokasi dan sumber sejarah
Prasasti Bali yang tertua berangka tahun 882 M. isinya adalah tentang

pemberian izin kepada para biksu agama Buddha untuk membuat pertapaan di Bukit
cintamani (Kintamani). Dalam prasasti ini tidak di sebutkan nama raja, tetapi disebut
nama kerajaannya: Singhamandawa. Dalam kitab Carita parahyangan disebutkan
kerajaan Bali pernah diserbu kerajaan Mataram (di bawah raja Dyah Balitung) pada
730 M. Hubungan antara penerus Mataram dan kerajaan Bali memang dekat:
Airlangga (raja mataram) adalah putra hasil perkawinan Raja Dharma Udayana
Warmadewa (bali) dan Ratu mahendradatta (putri raja Dharmawangsa dari mataram).
Setelah peristiea pralaya, Airlangga menggantikan Dharmawangsa menjadi Raja.

B. Keadaan sosial-politik kerajaan
Informasi tentang raja-raja yang memerintah Bali ditemukan melalui Prasasti

Sanur (913 M). Prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Bali Kuno ini
di buat oleh raja pertama Bali, Sri Kesarimarwadewa. Di dalamnya disebutkan Raja
Ugrasena (memerintah 915-942 M) yang sezaman dengan pemerintah Mpu Sindok
(Medang Kamulan). Pada masa pemerintahannya, ugrasena membuat beberapa
kebijakan, diantaranya membebaskan beberapa desa dari kewajiban membayar pajak
karena desa desa menjadi penghasil kayu untuk kebutuhan kerajaan. raja setelah
ugrasena adalah tabendra warmadewa. ia membangun pemandian tirta empul di
tampak siring. raja setelah tabendra warma dewa berturut turut adalah jayasingha
warmadewa, jayasadhu marwadewa, sri maharaja, sriwijaya mahadewi, dan dharma
udayana warmadewa (yang menikahi mahendradatta dan melahirkan airlangga).

pada masa pemerintahan udayana, tampak sekali kuatnya pengaruh jawa di
bali karena hampir seluruh prasasti ditulis dalam bahasa jawa kuno atau bahasa kawi.

raja-raja yang memerintah bali berikutnya tidak meninggalkan catatan catatan
yang berarti tentang pemerintahannya, kecuali pada masa pemerintahan anak wungsu
(1049-1077). pada masa pemerintahannya, kerajaan bali memperluas wilayah
kekuasaannya dan ia mengeluarkan sebanyak 28 prasasti yang menceritakan tentang
sejumlah kegiatan yang dilakukannya. anak wungsu tercatat sebagai raja bali dari
dinasti warmadewa yang terakhir karena ia tidak memiliki keturunan. ia meninggal
pada tahun 1080 M dan dimakamkan di gunung kawi, daerah tampak siring.

C. raja-raja bali yang paling banyak meninggalkan keterangan tertulis adalah
udayana, jayapangus, jayasakti, dan anak wungsu. dalam pemerintahan, raja
dibantuoleh suatu badan penasihat pusat, yang disebut panglapuan. badan ini
beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta siwa dan buddha.
dalam prasasti-prasati sebelum masa kekuasaan raja anak wungsu, disebut

beberapa jenis seni. baru pada masa anak wungsu, kita dapat membedakan jenis seni
yang ada kedalam dua kelompok besar: seni keraton dan seni rakyat. terkadang seni
keraton dipertunjukan juga kepada masyarakat di desa-desa, dan bukan monopoli raj
atau keraton.

dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman
megalitikum, sangat kuat. kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan pada pemujaan
roh nenek moyang yang disimbolkan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut
teras piramida atau bangunan berundak-undak. terkadang di atas bangunan

ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang
mereka. pada zaman hindu, hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip punden
berundak-undak. kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang
berasal dari zaman sebelum hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat.

Sejak awal hingga masa pemerintahan Sir Wijaya Mahadewi tidak diketahui
dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dari nama nama biksu yang
memakai unsur nama siwa, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu
adalah

gambar 3.25 pemandian tirta empul, tampak siring, bali.

agama Hindu Siwa. Pada masa pemerintahan Raja Udayana, ada dua aliran agama
besar di bali, Hindu Siwa dan Budhha. Raja terakhir bali adalah Paduka Batara Sri
Artasura atau yang lebih dikenal dengan Raja Bedahulu. Raja ini memiliki dua orang
patih terkenal bernama Kebo Iwa dan Pasunggrigis, yang bersama sama dengan
rajanya berjuang mempertahankan kemerdekaan Bali (meski akhirnya tunduk) dari
ekspansi Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada.

D. Jejak Peninggalan Kerajaan Bali
1. Prasasti Blanjong
Prasasti Blanjong adalah peninggalan bersejarah yang memuat pesan
berbahasa Bali dan dibuat oleh Sri Kesari Warmadewa. Prasasti ini ditemukan di
Sanur Kauh, Denpasar Selatan.

2. Prasasti Panglapuan
Prasasti Panglapuan adalah peninggalan kerajaan Bali yang berisi pesan
tentang para penguasa kerajaan seperti Udayana, Jayapangus dan Anak
Wungsu.

3. Prasasti Anak Wungsu
Prasasti Anak Wungsu adalah peninggalan dari Raja Anak Wungsu yang
berjumlah 28 buah. Selain prasasti, ada Goa Gajah, Pura Gunung Penulisan, dan
Pura Gunung Kawi.

4. Pura Agung Besakih
Pura Agung Besakih merupakan tempat pemujaan yang menjadi cikal bakal
agama Hindu di Bali. Lokasinya di Desa Besakih, Karangasem, Bali.

5. Candi Padas
Candi Padas adalah situs purbakala pada masa pemerintahan Raja Udayana
hingga Raja Anak Wungsu yang letaknya di Sungai Pakerisan, Gianyar, Bali.

6. Candi Mangening

Candi Mangening termasuk peninggalan masa Kerajaan Bali yang ditemukan
pada 1925 di Gianyar. Salah satu arca sakralnya yang masih ada yaitu Lingga
Yoni.

7. Candi Wasan

Jejak peninggalan Kerajaan Bali berikutnya Candi Wasan yang pernah menjadi
tempat spiritual pada masanya dengan bukti ditemukan sejumlah arca, salah
satunya arca Ganesa.


Click to View FlipBook Version