SDA DAN KEARIFAN LOKAL NOVIA P.R PENGELOLAAN S U M B E R D A Y A A L A M GEOMAGAZINE VOL. 01
PENDAHULUAN Alam pada dasarnya mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan itu. Semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam non hayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam bersifat terbatas. Sumber daya alam ialah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan, hewan, udara, air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan mikroba (jasad renik). Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk cukup besar dan potensi sumber daya alam melimpah. Letaknya yang berada di garis tropis membuat Indonesia memiliki banyak sekali sumber daya alam, baik biotik maupun abiotik.
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM NOVIA PR Pemanfaatan sumber daya alam memiliki tujuan utama untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat tetapi apabila SDA dimanfaatkan secara terus menerus maka berkemungkinan besar sumber daya alam tersebut akan habis. Hal ini tentu berdampak bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengelolaan secara berkelanjutan untuk menjaga sumber daya alam. Sumber daya alam yang kita miliki harus dikelola dengan sebaik-baiknya, karena berkaitan dengan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya untuk generasi selanjutnya. Tujuan pengelolaan sumber daya alam yang baik dan bijak adalah untuk melestarikan dan menjamin risiko ketersediaan sumber daya. Menyelaraskan hubungan manusia dengan lingkungan hidup sebagai salah satu bagian dari tujuan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan terkendali. Membentuk manusia Indonesia yang mencintai dan berperan sebagai Pembina lingkungan hidup. Menjamin kesinambungan pembangunan berwawasan lingkungan demi kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Melindungi negara dari berbagai pengaruh luar yang dapat merusak dan mencemarkan lingkungan. Namun yang paling utama adalah untuk meningkatkan dan melestarikan mutu kehidupan Tujuan pengelolaan sumber daya alam adalah sebagai berikut :
Kearifan lokal harus dilestarikan dalam suatu masyarakat guna menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya air dengan lingkungan dan sekaligus upaya pelestariannya. Tradisi masyarakat dalam mengelola SDA harus terus dipertahankan, menyeimbangkan dan menyelaraskan hubungan antara kehidupan sosial ekonomi dan preservasi sumber daya alam di lingkungan sekitarnya. Dengan adanya keyakinan bahwa manusia akan selalu bergantung pada alam, manusia akan berusaha untuk menjaga kelestarian alam agar kehidupan mereka juga selalu tercukupi. Masyarakat memiliki sudut pandang tersendiri terhadap alam dan lingkungannya. Masyarakat mengembangkan cara-cara tersendiri untuk memelihara keseimbangan alam dan lingkungannya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan melalui pengembangan kearifan lokal memiliki kelebihan tersendiri. Selain untuk memelihara keseimbangan sumberdaya alam dan lingkungannya, kebudayaan masyarakat setempat pun dapat dilestarikan. Menurut Jim Ife, kearifan lokal adalah nilainilai yang diciptakan, dikembangkan, dan dipertahankan dalam kehidupan masyarakat lokal serta karena kemampuannya untuk bertahan dan menjadi pedoman hidup masyarakatnya KEARIFAN LOKAL KEARIFAN LOKAL BERKAITAN ERAT DENGAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN. KEARIFAN LOKAL
Bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat menurut Aulia dan Dharmawan (2010) dapat berupa nilai, norma, kepercayaan, dan aturan aturan khusus. Bentuk yang bermacam-macam ini mengakibatkan fungsi kearifan lokal menjadi bermacam-macam pula. Fungsi kearifan lokal tersebut antara lain untuk: (1) konservasi dan pelestarian sumber daya alam; (2) mengembangkan sumberdaya manusia; (3) pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan; serta (4) petunjuk tentang petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan. Selain itu, ditambahkan oleh Sartini (2004) yang mengemukakan fungsi dan makna kearifan lokal diantaranya: (1) berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam; (2) berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate; (3) berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara Saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji; (4) berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan; (5) bermakna sosial, misalnya upacara integrasi komunal/kerabat; (6) bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur; serta (7) bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client. KEARIFAN LOKAL SDA DAN
MENJAGA SUMBER DAYA LAUT MALUKU DENGAN TRADISI SASI MALUKU Maluku adalah salah satu provinsi yang memiliki kekayaan alam melimpah. Sejak abad ke-17 Maluku yang disebut "The spices island" oleh bangsa Eropa diburu karena kekayaan rempah pala dan cengkeh yang berlimpah. Tapi itu dulu, saat harga pala dan cengkih lebih mahal dari emas dan berlian. Saat ini rempah-rempah sudah tidak dilirik karena harganya yang anjlok di pasaran serta kualitasnya kalah dari daerah maupun negara lain. Kekayaan Maluku tidak semata-mata yang dikandung di daratan yang hanya seluas tujuh persen dari keseluruhan wilayah Maluku seluas 712.480 km persegi, sedangkan sisanya 93 persen lebih adalah laut yang menyimpan berbagai sumber daya alam (SDA) melimpah dan menjanjikan masa depan. Laut yang begitu luas dan kaya beragam sumber daya hayati, sudah seharusnya menjadi sumber utama penggerak seluruh sektor pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Maluku, yang tergolong miskin ke-4 di Tanah Air itu. Laut Maluku yang kaya berbagai sumber daya perikanan tentu tidak terlepas dari budaya “Sasi”, sebuah pranata sosial untuk menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir yang telah dilakukan turun-temurun sejak jaman leluhur. Sasi merupakan salah satu upaya dalam mengelola wilayah konservasi yang berbasis masyarakat di Indonesia dan mengelola sumber daya pesisir laut. Sasi adalah upaya untuk melestarikan sumber daya alam darat maupun laut oleh masyarakat Malaku kemudian menyebar kebeberapa daerah di Papua Barat (Ummanah, 2013). Sasi merupakan sistem dalam mengatur waktu atau periode kapan suatu sumber daya dapat dipanen, dan merupakan kearifan lokal yang dapat membantu upaya konservasi. Sasi berasal dari kata “sanksi” yang artinya larangan. Larangan yang terkandung dalam sasi adalah larangan dalam pemanfaatan sumber daya alam di darat maupun di laut dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk pemenuhan kepentingan ekonomi masyarakat. Selain itu sasi dapat didefinisikan sebagai larangan dalam mengambil ataupun merusak sumber daya alam dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk kelestaraian sumber daya alam (Kusumadinata 2015). Sasi memiliki aturan dan tata cara pelaksanaan, dan pemanfaatan serta pemeliharaan dan pengawasan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam agar keduanya dapat dimanfaatkan terus sampai ke generasi berikutnya. Sasi merupakan hukum adat yang mengajarkan bagaimana manusia mempertahankan kelangsungan hidup dan tidak menggunakan sumber daya alam secara berlebihan untuk menciptakan keseimbangan alam. Sasi memiliki norma dan aturan dalam cara, kebiasaan, tata kelakuan yang didalamnya terdapat unsur etika dan norma (Sofyaun 2012) by Novia Putri Ramadhita
Bentuk kearifan lokal yang sudah dijalankan masyarakat Seloto tersebut yaitu budaya Mali (pamali). Pamali (mali) adalah suatu aturan atau norma yang mengikat kehidupan Masyarakat desa. Budaya mali dianggap sebagai kearifan tradisional atau kearifan lokal karena berasal dari warisan leluhur yang telah berlaku secara turun-temurun. Setiap orang yang melanggarnya selalu mendapat balasan, pelanggaran terhadap mali (pamali) dapat menyababkan terjadinya musibah bukan saja melanda kepada pelanggar tapi juga untuk seluruh penduduk desa. Bentuk-bentuk musibah yang dating dapat bermacam-macam seperti penyakit, kesialan kecil seperti jatuh dari motor, perahu pecah, kehilangan sesuatu, serangan hama tanaman, tanah longsor, angin kencang, banjir bahkan kematian. Desa Seloto memiliki sumber daya alam yaitu Danau Rawa Taliwang atau dikenal dengan istilah Lebo atau Danau Lebo. Danau Lebo merupakan danau yang unik karena dipenuhi oleh tumbuhan yang mengapung di air, yang bisa bergerak ke mana saja sesuai kemana arah angin bertiup masyarakat Desa Seloto menyebutnya dengan istilah Pruyu. Pruyu-pruyu ini menjadi tempat hidup ikan dan sekaligus menjadi sumber makanan bagi ikan dan juga berfungsi sebagai tempat persembunyian ikan dari para pemburu. Masyarakat Desa Seloto yang menangkap ikan di danau Lebo terikat oleh awiga-wigat aturan yang telah ada sejak dahulu dan menjadi acuan dalam menangkap ikan dan mengelola danau Lebo itu sendiri. Selain larangan menangkap ikan malam Jum’at, adapula kearifan yang lainnya yaitu Bauanurango, lepasanuodena. Artinya kita hanya menangkap ikan yang besar saja, apabila ada ikan kecil yang sengaja tertangkap maka akan dilepaskan kembali. Sementara itu ada juga kearifan yang masyarakat menyebutnya Bulan Buntar atau dikenal dengan istilah bulan terang atau bulan purnama, ini sebenarnya merupakan bulan dimana para nelayan tidak menangkap ikan karena mereka percaya pada saat bulan purnama hasil tangkap anakan sangat sedikit. Selain budaya mali, pemerintah desa juga mengatur pengelolaan dan pelestarian sumber daya alam tersebut dalam peraturan desa tentang pelestarian lingkungan hidup yaitu pada pasal 5 yang berbunyi setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan pada pasal 6 berbunyi setiap orang berkewajiban memelihara fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. KearifanLokalMasyarakatDesaSelotodalam PengelolaanSumberdayaAlamDiDanauLebo di Desa Seloto ditemukan kearifan local yaitu budaya mali atau pamali, budaya mali tersebut diantaranya larangan menangkap ikan malam juam’at (No Roa Tu Bau Empa Petang Jemat), larangan menangkap ikan kecil (Bau Anu Rango Lepas Anu Ode) dan di bulan purnama (Bulan Buntar). Sementara di desa Air Suning dan Meraran memiliki kearifan local berupa kepercayaan kepada mahluk gaib penguasan perairan (Dea Bide). Kearifan lokal masih tetap dijalankan sampai saat ini karena sifatnya amanah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan main yang ada di Desa Seloto. Bentuk kearifan lokal yang sudah dijalankan masyarakat Seloto tersebut yaitu budaya Mali (pamali). Pamali (mali) adalah suatu aturan atau norma yang mengikat kehidupan Masyarakat desa. Budaya mali dianggap sebagai kearifan tradisional atau kearifan lokal karena berasal dari warisan leluhur yang telah berlaku secara turun-temurun. Di Desa Seloto, prinsip tradisional tersebut masih berlaku aturan sosial masyarakat yang dapat mengendalikan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam maupun dengan sesama manusia. by Novia Putri Ramadhita
Masyarakat Bali mempunyai suatu pandangan yang berbeda terkait dengan masyarakat yang kental dengan nilai-nilai leluhur. Keunikan yang ada di Bali tidak hanya alam yang indah dan keberagaman penduduk.nya Keunikan yang lain yaitu budaya. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Jadi, budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu nilai luhur budaya yang ada di Bali adalah Awig awig krama desa yang berlandaskan Tri Hita Karana. KONDISI KEHUTANAN DI WILAYAH BALI UMUMNYA TIDAK TERLEPAS DARI SETIAP ANCAMAN TERHADAP PERMASALAHAN YANG TERJADI SEPERTI DEFORESTASI, PERBURUAN SATWA LIAR, PERAMBAHAN EKOLOGI DAN KEBAKARAN HUTAN. NAMUN, KEKHASAN YANG ADA PADA MASYARAKAT BALI ADALAH TERDAPATNYA SUATU SISTEM ATAU HUKUM ADAT AWIG-AWIG KRAMA DESA YANG MENGATUR POLA PRILAKU MASYARAKAT DAN BATASAN BATASAN DALAM MENGELOLA TATANAN KEHIDUPAN. Di Bali, awig-awig merupakan aturan aturan yang dibuat oleh Krama Desa melalui Paruman Desa adat dan umumnya banyak yang tidak disuratkan. Aturan-aturan tersebut mengatur keseluruhan tatanan sosial kemasyarakatan termasuk dalam kaitannya dalam pengelolaan sumberdaya perairan. Dalam perkembangannya, dewasa ini telah berhasil disuratkan awig-awig tersebut sebagai pedoman bagi pengurus desa adat dalam melaksanakan kewajibannya maupun bagi warga, dan di dalam awigawig tersebut kita jumpai sanksi-sanksi bagi warga desa yang melanggarnya. Di dalam awig-awig desa ini dapat dilihat perbuatan atau tindakan yang dilarang serta sanksi sanksinya, baik sanksi yang dijatuhkan kepada warga atau keluarganya atau dibebankan kepada masyarakat desa sendiri PENGELOLAAN SUMBER DAYA HUTAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA MASYARAKAT BALI N O V I A R A M A D H I T A
Sedangkan pranata hukum pada lubuk larangan yang terdapat di pedalaman Padang Sidimpuan tepatnya di Desa Pardomuan diwujudkan dalam bentuk kepatuhan masyarakat untuk tidak mengeksploitasi ikan sebelum ada pengumuman lubuk larangan dinyatakan dibuka secara umum. Ada beberapa kemungkinan mengapa masyarakat tidak berani mengambil ikan sebelum event lubuk larangan dibuka, sebagai berikut Takut kena denda sebanyak Rp. 1.000.000, Takut kena tuah pawang lubuk larangan Kesadaran masayarakat yang sudah tumbuh. di Sumatera Utara LUBUK LARANGAN Novia Putri Ramadhita 06.06.2023 Di Sumatera Utara lubuk larangan merupakan bentangan sungai yang jernih penuh dengan ikan, sangat menggoda untuk diambil baik secara memancing, menjala atau menembak. Sungguh sangat luar biasa ikan yang jumlahnya begitu banyak dan kelihatan dengan jelas, tidak ada yang berani mengambilnya, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Kearifan lokal berupa lubuk larangan telah berkembang hampir di seluruh wilayah yang bertopografi paparan sungai-sungai, meliputi wilayah Kabupaten Mandailing dan Padang Sidempuan. Di Sungai Batang Gadis (Mandailin), mulai dari hulu di kawasan Pekantan, Kecamatan Muara Sipongi hingga ke hilir di Kecamatan Kotanopan hingga ke Penyabungan banyak didapati lubuk larangan, demikiam juga di Sungai Batang Natal. Penetapan daerah lubuk larangan di mana masyarakat melepaskan ikan dan kemudian diambil pada waktu tertentu biasanya 6-12 bulan secara bersamaan. Hasilnya akan digunakan untuk berbagai keperluan desa. Tapi bila ada yang mengambil ikan di luar jadwal yang telah ditentukan, maka ia akan dikenai sanksi desa ataupun kampung
N o v i a P . R Salah satu kearifan lokal yang terdapat di Jawa yaitu Pranoto Mongso. Pranoto Mongso atau aturan waktu musim digunakan oleh para petani pedesaan yang didasarkan pada naluri dari leluhur dan digunakan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Pranoto Mongso dapat memberikan arahan pada petani untuk bercocok tanam mengikuti tanda tanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti air dan saluran irigasinya. Melalui perhitungan pranoto mongso maka alam dapat terjaga keseimbangannya. Pranoto Mongso dipelopori oleh raja Surakarta Pakubuwono VII dan mulai dikembangkan sejak 22 Juni 1856. Pranoto Mongso.
Pada hampir semua daerah di Jawa, dan beberapa wilayah lain di Indonesia, terdapat budaya menganggap suatu tempat dengan pohon besar (misal beringin) adalah tempat yang keramat. Kearifan lokal ini memberikan dampak positif bagi lingkungan dimana jika suatu tempat dianggap keramat misal terdapat pohon beringin, maka hal ini merupakan salah satu bentuk konservasi karena dengan memelihara pohon tersebut menjaga sumber air, dimana beringin memiliki akar yang sangat banyak dan biasanya di dekat pohon tersebut ada sumber air. Salah satu contoh nyata kearifan lokal ini nampak pada masyarakat di Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul. Hasil penelitian Alanindra (2012) menunjukkan bahwa masyarakat di desa Beji, memiliki hutan adat Wonosadi dimana di dalamnya terdapat mata air Wonosadi. Berbagai potensi baik flora, fauna, maupun sumberdaya air di mata air ini sangat terjaga dengan baik sebagai tempat resapan air hujan. Hal ini menyebabkan di hutan Wonosadi terdapat tiga mata air yang mengalir sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar desa Beji. Terjanyanya kelestarian hutan adat ini tidak lepas dari kearifan lokal yang sampai saat ini dipertahankan oleh masyarakat yang salah satunya diwujudkan dalam pembentukan kelompok “Jagawana” JAGAWANA MERUPAKAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG BERTUGAS UNTUK MENJAGA DAN MEMELIHARA VEGETASI DI DAERAH TANGKAPAN AIR MATA AIR WONOSADI. MASYARAKAT TIDAK PERNAH MENGAMBIL KAYU DAN MERUSAK ANEKA TUMBUHAN LANGKA. POHON-POHON YANG MATI TERSAMBAR PETIR TIDAK DITEBANG MELAINKAN DIBIARKAN MENJADI HUMUS. JAGAWANA POHON KERAMAT BY NOVIA PUTRI RAMADHITA
Komunitas adat Karampuang memiliki beberapa cara tersendiri yang merupakan bagian dari sistem budaya dalam mengelola hutan dan sumberdaya alam. Hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan alam sehingga untuk menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya terdapat aturan dan norma yang harus dipatuhi oleh semua warga masyarakat. Dewan adat Karampuang sebagai simbol penguasa tradisional, sepakat untuk mengelola hutan adat yang ada dengan menggunakan pengetahuan yang bersumber dari kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Karampuang. Kearifan lokal tersebut diwujudkan dalam bentuk larangan dan sanksi. Salah satu contoh kearifan lokal dalam bentuk larangan yaitu “Aja’ muwababa huna nareko depa na’oto adake, aja’ to muwababa huna nareko matarata’ni manuke” yang artinya “jangan menyadap enau di pagi hari dan jangan menyadap enau di petang hari”. KEARIFAN LOKAL KOMUNITAS ADAT KARAMPUANG DI SULAWESI BY NOVIA PUTRI RAMADHITA
BADUY DALAM B Y N O VIA R A M A D HIT A 2 0 2 3 Masyarakat Baduy memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah orang pertama yang diciptakan sebagai pengisi dunia dan bertempat tinggal di pusat bumi. Segala tingkah laku masyarakat Baduy harus berpedoman kepada buyut yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhuh. Seseorang tidak berhak dan tidak berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku turun temurun. Beberapa pikukuh yang harus ditaati oleh masyarakat Baduy atau masyarakat luar yang berkunjung ke Baduy antara lain: (1) dilarang masuk hutan larangan (leuweung kolot) untuk menebang pohon, membuka ladang, atau mengambil hasil hutan lainnya; (2) dilarang menebang sembarang jenis tanaman, misalnya buah buahan, dan jenis jenis tertentu; (3) dilarang menggunakan teknologi kimia seperti pupuk dan pestisida untuk meracuni ikan; serta (4) berladang harus sesuai dengan ketentuan adat.