Ar-Risalah
Jawab: Kalau begitu, Anda telah mewuiskan kepadanya apa yang
tidak diwariskan Allah kepadanya. '2
Tanya: Anda boleh melakukannya, kare, ra Allah berfirman,
+nl6 'ff :rir3;,,re lr;l;; '"1i tr-r; u;$i
4'tit Lt' $i,g A l1i -# +l-ilfi ijili"ia
@&,6,fr
"Orang-orang yang memrynyai hubungan itu sebagiannya
lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat)
di dalam bitab Allah." (Qs.Al Anfaal [8]: 75)
Jawab: Ayat ini turun karena orang-oftmg saling mewarisi atas dasar
perjanjian. Setelatr itu mereka saling mewarisi atas dasar
Islam dan hijrah. Jadi, orang yang hijrah mewarisi orang
yang hijrah lainny4 sedangkan atrli waris yang tidak ikut
hijrah tidak memperoleh warisan, padatral ia lebih dekat dari
yang lain. Oleh karena itu, turunlatr ayat ini.
Asy-Syafi'i di dalam Al Umm fild. tV, hkrr" 6-7) menyebutkan debat
sernacam ini rnengenai perbedaan pendapat dalrm pengembalian sisa warisan.
Pada akhir debat ini Asy-Syaf i menufirrkan perdebatannya dengan beberapa
1 orang: Semua ayat tentang warisan menunjukkan kebalikan dari
pengembalian sisa warisan kepada ahli waris. Lawan debat saya lalu berkata"
"Bagaimana pendapat Anda jika saya katakan bahwa saya tidak memberikan
separuh kepadanya atas dasar warisan?" Saya (Asy-Syafi) menjawab,
"Katakan, apa yang Anda suka?" Ia berkata, "Menurut sa1a, pendapat ini
yang tepat." Saya berkata" "Bagairnen, iika orang lain berpendapat beda dan
memberikannya kepada tetangga yang mernbutuhkan, atau orang asing yang
membutuhkan?" Ia menjawab, "Orang itu tidak berhak berbuat demikian."
Saya berkata, "Tidak pula Anda. f,ehkan, orang ini lebih bisa diterima
alasannya daripa& Anda, karena ia tidak menyalahi hukum Al Qur'an,
melainkan hanya bertentangan dengan pendapat myoritas urnat Islarq karena
mayoritas mereka rnengatakan bahwa sisa uarisan untuk umat Islam."
Ar,Risaldh
Tanya: Kalau begitu, sebutkan dalil pendapat Anda?
Jawab: Firman Allatl "Orang-orang yang mempunyai hubungan itu
sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada
yang kerabat) di dalam bitab Allah, " turun mengenai sesuatu
yang telah ditetapkan untuk mereka. Tidakkah Anda lihat
batrwa di antara kerabat ada yang mewarisi dan ada yang
tidak? Suami adalah orang yang paling banyak warisannya
daripada ahli waris lain. Seandainya Anda menetapkan
warisan hanya berdasarkan hubungan rahim, maka hubungan
rahim antara anak perempuan dengan bapaknya sama seperti
hubungan ratrim anak laki-laki. Jika demikian, maka kerabat
yang memiliki hubungan rahim mewarisi secara bersama-
sarna, dan mereka lebih berhak daripada suami yang tidak
memiliki hubungan rahim.
Seandainya makna ayat tersebut seperti yang Anda
gambarkan, maka Anda telah menyalahi ayat tersebut,
karena Anda telah memberi saudara perempuannya bagian
separuh dan memberi orang-orang yang memiliki hubungan
wala'bagian separuh, padahal mereka bukan orang-orang
yang memiliki hubungan rahim, dan tidak ada nash dalam Al
Qur'an yang menetapkan bagian untuk mereka.
Para ulama juga berbeda pendapat mengenai jatah warisan
untuk kakek. Zaid bin Tsabit berkata: Diriwayatkan dari
IJmar, IJtsman, Ali, dan Ibnu Mas'ud, bahwa saudara laki-
laki diberi warisan bersamaan dengan adanya kakek.
Sementara itu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ibnu Abbas
bAebrdkualtlaat-rjubignaUdtbiraiwha-yabtakhawnadmareireAkiasymahe,ndIbudnuukaZnunbyaair,pdaadna
Ar-Risalah
posisi ayatl, dan menggugurkan bagran unfuk saudara-
saudara mayrt de,ngan adanya kakek.
Tanya: Lalu, bagaimana Anda condong menetapkan warisan untuk
saudara-saudara maylt dengan adanya kakek? Apakatr
dengan dalil dari Al Qur'an atau Sumah?
Jawab: Saya tidak mene,urukan pe,njelasan di dalam Al Qur'an atau
Sunnah.
Tanya: Bukankah khabar-khaba'r yarrg ada itu setara, sedangkan
dalil-dalil qiyas me,ndukung pendapat yang mmernpatkan
kakek pada posisi ayah dan menghalangr bagran saudara-
saudara mayt de,ngan adanya kakek?
Jawab: Mana dalil-dalilnya?
Tanya: Saya menernukan bahwa bapak melekat padanya. Saya juga
mendapati kalian sepakat untuk meniadakan bagian anak
laki-laki seibu dengan adanya kakek. Selain itu, saya
mendapati kalian tidak mengurangi bagran seperenam.
Semua hukum ini sama s€perti hukum bapak.
Jawab: Kami memberikan warisan bukan karena nama bapak saja.
Tanya: Mengapa?
Jawab: Terkadang nama bapak melekat pada kakek, tetapi ia tidak
mendapat warisan.
Tanya: Yang mana?
Jawab: Terkadang kakek hidup bersama dengan bapak, sehingga
kakek tidak mendapatkan warisan meskipun sebutan bapak
melekat padanya Batrkan, sebutan ini juga melekat pada
Adam. Apabila di bawatr kakek ada bapak, maka kakek tidak
Ar-Risdldh
mewarisi. Begitu juga ketika kakek adalah orang kafir dan
pembunuh, ia tidak mewarisi, padahal sebutan bapak tetap
melekat padanya dalam semua kasus ini. Seandainya atas
dasar sebutan bapak saja, maka ia pasti mendapatkan
warisan dalam kondisi-kondisi tersebut.
Mengenai pendapat kami yang meniadakan bagian anak laki-
laki seibu dengan adanya kakek, hal itu didasarkan pada
khabar, bukan karena sebutan bapak. Atas dasar khabar pula
kami meniadakan bagian anak laki-laki seibu dengan adanya
anak perempuan (cucu perempuan) dari anak laki-laki dan
terus ke (generasi) bawah.
Mengenai pendapat kami yang tidak mengurangi bagian
seperenam untuk kakek, kami juga tidak mengurangi bagian
seperenam untuk nenek.
Kami melakukan semua ini karena mengikuti Sunnah, bukan
karena ketika hukum kakek sama dengan hukum ayah dalam
satu aspek maka kami memberlakukannya dalam semua
aspek. Seandainya kesamaan hukum kakek dengan hukum
ayah pada sebagian aspek mengimplikasikan kesamaan
dalam semua aspek, maka anak perempuan dari anak laki-
laki dan terus ke bawatr juga harus disamakan dengan anak
laki-laki. Namun, pada kenyataannya kami menghalangi
bagian warisan keturunan ibu dengan adanya anak laki-laki,
dan menentukan bagian yang sama (seperenam) untuk kakek
dan nenek.
Tanya: Apa alasan Anda menolak pendapat kami yang meniadakan
bagian untuk saudara-saudara mayit dengan adanya kakek?
Jawab: Lantaran jauhnya pendapat kalian dari qiyas.
Ar-Risalch
Tanya: Tetapi, yang kami lihat hanyalah qiyas itu sendiri!
Jawab: Bagaimana pe,ndapat Anda te,lrtang kakek dan saudara laki-
laki? Apakatr masing-masing mengandalkan kekerabatan
dirinya? Atau mengandalkan kekerabatan orang lain?
Tanya: Maksud Anda?
Jawab: Tidakkah kakek berkat4 "Sa)ra ini bapak dari bapaknya
mayit?" Sementara ifu, saudara laki-laki berkata, "Saya anak
dari bapaknya mayit."
Tanya: Benar,lalu?
Jawab: Jadi, keduanya mengandalkan kekerabatan ayah sesuai
posisinya de,ngan mayt.
Tanya: Ya.
Jawab: Katakanlah bapaknya yang mati dan meninggalkan anak dan
bapaknya ftakek), lalu bagaimana keduanya mewarisinya?
Tanya: Anaknya mendapat lima perenam bagian, dan bapaknya
seperenam bagran.
Jawab: Apabila anak lebih berhak memperoleh lebih banyak warisan
daripada bapak, sedangkan saudara laki-laki mengandalkan
kekerabatannya dengan bapak, sama seperti kakek
mengandalkan kekerabatannya dengan bapak, sebagaimana
yang Anda jelaskan, maka mengapa Anda menghalangi hak
saudara laki-laki dengan adanya kakek? Seandainya salatr
satunya terhalang haknya oleh yang lain, maka seharusnya
kakek yang terhalang oleh saudara laki-laki, karena saudara
laki-laki itu lebih berhak atas banyaknya warisan daripada
orang yang keduanya diandalkan kekerabatannya. Atau,
IEl
Ar-Risahh
lebih tepat Anda memberikan saudara laki-laki itu lima
perenam bagran, dan untuk kakek seperenam bagian.
Tanya: Apa yang menghalangi Anda untuk mengikuti pendapat ini?
Jawab: Semua ulama yang berbeda pendapat sepakat bahwa kakek
mendapatkan bagian yang sama dengan saudara laki-laki,
atau lebih banyak darinya Jadi, saya tidak punya argumen
untuk menentang mereka, dan saya tidak beralih kepada
qiyas, karena qiyas justru mengeluarkan semua pendapat
mereka.
Saya berpendapat bahwa pemberian hak waris kepada
saudara-saudara laki-laki dengan adanya ayah merupakan
pendapat yang paling tepat dan sesuai dengan dalil-dalil
yang saya jelaskan dan bersumber dari qiyas. Selain itu,
pendapat yang saya pegang ini adalah pendapat mayoritas
ulama fikih dari berbagai negara, baik masa lalu maupun
sekarang.
Selain itu, warisan untuk saudara laki-laki ditetapkan dengan
Al Qur'an, sementara tidak ada warisan untuk kakek dalam
A1 Qur'an. Warisan untuk saudara laki-laki pun lebih valid
di dalam Sunnah daripada warisan untuk kakek.
13.1 Ucapan-Ucapan Sahabat
Tanya: Saya telah mendengar penjelasan Anda tentang ijma dan
qiyas setelah penjelasan Anda tentang hukum Al Qur'an dan
Sunnah. Apa pendapat Anda tentang ucapan-ucapan para
sahabat Rasulullah SAW apabila mereka berselisih di
dalamnya?
Ar-Riralah
Jawab: Kami berpegang pada pendapat yang sejalan dengan Al
Qur'an, atau Sururah, atau ijma, atau yang lebih shahih
dalam qiyas.
Tanya: Menurut Anda, seandainya seorang sahabat mengeluarkan
pendapat dan sahabat lain tidak tercatat mengeluarkan
pendapat, baik sejalan maupun bertentangan, maka apakatt
Anda menemukan figumen untuk mengikuti pendapat
tersebut di dalam Al Qur'an atau Sunnah, atau tjma
sehingga ia menjadi salatr satu sebab Anda mengeluarkan
pendapat me'lrurut khabar?
Jawab: Saya tidak menemukan suatu ayat atau Sunnatr yang valid
mengenai hal ini. Kami mendapati para ulama sekali waktu
mengambil pendapat seorang sahabat, lalu meninggalkan
pendapatnya pada kesempatan yang lain. Mereka pun
berbeda pendapat dalam sebagian perkara yang mereka
ambil dari para sahabat.
Tanya: Bagaimana dengan sikap Anda sendiri?
Jawab: Saya cenderung mengikuti pendapat seorang sahabat apabila
di dalam Al Qur'an, Sunnah, ijma tidak ditemukan perkara
semakna yang menetapkan hukumnya, atau saat ditemukan
qiyas yang sejalan dengan pendapatnya.
Sedikit sekali ditemukan pendapat seorang sahabat yang
tidak ditentang oleh satrabat lain.
I3.2 Kedudukan Ijma dan Qiyas
Tanya: Anda menetapkan hukum berdasarkan Al Qur'an dan
Sunnah, maka bagaimana mungkin Anda menetapkan hukum
Ar-Risahh
dengan ijma dan qiyas bersamaan dengan adanya dalil dari
Al Qur'an atau Sunnah?
Jawab: Apabila saya menetapkan hukum dengan ijma dan qiyas,
sebagaimana saya menetapkan hukum dengan Al Qur'an dan
Sunnah, maka itu berarti latar belakang perkara yang saya
tetapkan hukumnya berbeda.
Tanya: Bolehkatr dasar-dasar hukum yang berbeda sebabnya
digunakan untuk menetapkan hukum yang sama?
Jawab: Ya. Kami menetapkan hukum dengan Al Qur'an dan Sunnah
untuk hal yang disepakati dan tidak ada perselisihan di
dalamnya, dan kami yakin hukum ini benar secara lahir dan
batin.
Kami menetapkan hukum dengan Sunnah yang diriwayatkan
secara perorangan dan tidak disepakati oleh para ulama,
sehingga kami menganggap benar secara lahir, karena
mungkin terjadi kekeliruan pada orang yang meriwayatkan
hadits.
Kami juga menetapkan hukum dengan ijm4 lalu dengan
qiyas. Memang, hukum ini lebih lemah daripada hukum
sebelumnya, namun tetap memiliki kedudukan yang sangat
penting, karena tidak boleh melakukan qiyas saat ada
khabar, sebagaimana tayamum menghasilkan kesucian
dalam perjalanan saat sulit memperoleh air, tetapi tidak
menghasilkan kesucian saat ada air.
Begitu juga dengan sumber hukum yang berada di bawah
tingkatan Sunnah, bisa menjadi argumen saat tidak
ditemukan Sunnah.
,-.
t_see-I
Ar.Risldh
Saya telah menjelaskan argumen dengan qiyas dan selainnya
sebelum ini.
Tanya: Apakatr Anda menemukan hal yang serupa dengannya?
Jawab: Ya, memutuskan perkara dengan mengalatrkan seseorang
sesuai pengetatruanku, batrwa dakwaan terhadapnya itu
terbukti, atau sesuai pengakuarurya. Apabila saya tidak
mengetahui dan dia tidak mengakui, maka saya putuskan
perkaranya dengan dua saksi. Dua saksi itu bisa saja keliru
dan salatr paham, sehingga pengetahuanku dan
pengakuannya lebih kuat daripada dua saksi. Setelah itu,
saya akan memutuskan perkaranya dengan safu saksi dan
sumpatr, dan ini lebih lemah daripada dua saksi. Setelah itu,
saya akan memutuskan perkara dengan mengalatrkannya
berdasarkan keengganan terdakwa untuk bersumpah dan
kemauan lawannya untuk bersumpatr. Ini lebih lematr
daripada satu saksi dan sumpatr, karena bisa jadi ia menolak
bersumpah karena takut tercemar, menganggap remeh hal
yang disumpahkannya, dan lawan yang bersumpah untuk
memenangkan dirinya itu tidak tepercaya, rakus, serta ahli
maksiat.
Sampai di sini kttab Ar-Risalah. Segala puji bagt Allah.
Semoga Allah melimpatrkan karunia kepada Muhammad SAW.423
423 Penutup ini diambil dari kitab Ar-Risalah dengan redaksi yang sarm.
Sedangkan naskah Ibnu Jama'ah dituhrp dengan kalimat berikut ini, "Ini
adalah atfiir kitab Ar-Risalah, salah satu kitab Imam Abu Abdullah Asy-
Syaf i RA. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alanl dengan sebenar-
benar pujian bagi-Nya. Semoga karunia, keselamatan, dan kermliaan-Nya
terlinpah kepada Muhammad, sebaik-baik makhluk-Nya, beserta keluarga
dan para sahabatnya. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allah
Ar-Ris4hh
Dalam manuskrip lisensi Rabi' bin Sulaiman, Pada akhir
naskahnya tertulis: Rabi' bin Sulaiman, sahabat AsY-SYafi'i,
memberikan izin unluk menyalin kitab Ar-Risalah, pada bulan
Dzulqa,datr tatrun 265H.Rabi' menulis dengan tangannya sendiri.
Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Cukuplah Allah sebagai penolong kami'
dan Dialah sebaik-baik Pelindung." "segala _puji bagi Allah, kitab ini telah
catatan akhirnya ditrilis,
iu1" puau
dikorrparasikan dengan beberapa naskah asli lama'"
ia menulis penyimakkan di.hadapan
dalam beberapa
vtrrtu*r*d bin Jama'ah
TtI+Lalu
iloLbu
p^tavdtuahahmalmamadanAbsdeulellbainhnya
mitu""a*gjeuglit"sf,s2ud5aanaRfyrataajnatrgbqiLtqeiruadnkahn1irk3lp5ma8defanVtt9aanrSgaegtpaatsel mkf Zibtaelhbr a1ifn9ai3rp98a' 5dS6aegHwa'llaktpuu,jAi ,b1ahgari.hAallrai hSaabtatus
taufft-NYa.
Ditulis oieh Abu Asybal Ahmad Muhammad Syakir'