REKONSILIASI FISKAL 1
REKONSILIASI FISKAL
A. Pengertian
Rekonsiliasi fiskal merupakan salah satu cara untuk dapat mencocokkan adanya
beberapa perbedaan yang terdapat dalam laporan keuangan komersial yang telah
disusun berdasarkan sistem keuangan akuntansi dan dengan laporan keuangan yang
juga telah disusun berdasarkan penyusunan sistem fiskal. Pengertian lebih sederhana
dituturkan oleh Setiawan dan Musri (2006:421) yang menerangkan bahwa rekonsiliasi
fiskal adalah penyesuaian ketentuan menurut pembukuan secara komersial atau akuntansi
yang harus disesuaikan menurut ketentuan perpajakan.
Laporan keuangan ini pada umumnya dibuat dengan berdasarkan standar
akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia yang umumnya pun belum tentu sama
dan sesuai dengan peraturan/ketentuan perpajakan yang ada di Indonesia.
Sedangkan dalam perpajakannya, rekonsiliasi fiskal ini dilakukan untuk menyusun
laporan keuangan suatu perusahaan dimana harus sesuai dengan peraturan fiskal yang
ada dan kemudian akan dijadikan dasar untuk pembuatan SPT PPh suatu perusahaan
yang akan dilaporkan kepada kantor pajak. Rekonsiliasi fiskal yang terdapat dalam
perpajakan memang berbentuk lampiran SPT tahunan PPh badan yang di dalamnya
berisi tentang penyesuaian antara laba rugi komersial yang dihitung sebelum adanya
pajak dengan laba rugi yang sudah dihitung dengan ketentuan perpajakannya, yang
disusun atas keseluruhan pengeluaran atau beban dan pendapatan.
Pembukuan atau laporan keuangan komersial sendiri digunakan dalam penilaian kinerja
ekonomi serta keadaan finansial sektor swasta, sementara laporan keuangan fiskal
digunakan dalam perhitungan pajak. Karena itu, bentuk dari dokumen rekonsiliasi fiskal
adalah berupa lampiran SPT tahunan PPh badan berupa kertas kerja yang berisi
penyesuaian antara laba rugi komersial sebelum pajak dengan laba rugi berdasarkan
ketentuan perpajakan.
Rekonsiliasi fiskal diterapkan pada keseluruhan penyusunan laporan laba rugi yang
mencakup pengeluaran atau beban, serta pendapatan. Tepatnya, rekonsiliasi dijalankan
pada pos-pos biaya serta penghasilan dalam laporan keuangan komersial, yang
diantaranya:
REKONSILIASI FISKAL 2
Rekonsiliasi penghasilan dikenakan PPh Final.
Rekonsiliasi penghasilan bukan objek pajak
Wajib Pajak mengeluarkan biaya yang tidak menjadi pengurang penghasilan bruto.
Wajib Pajak menggunakan metode pencatatan yang berbeda dengan ketentuan
pajak.
Wajib Pajak mengeluarkan biaya agar mendapat pendapatan yang sudah dikenakan
PPh Final dan pendapatan dikenakan PPh Non Final.
B. Jenis Rekonsiliasi
Rekonsiliasi fiskal dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan perbedaan secara
komersial dan fiskal, yakni rekonsiliasi beda waktu dan rekonsiliasi beda tetap.
1. Rekonsiliasi Beda Tetap
Rekonsiliasi beda tetap disebabkan oleh adanya transaksi yang diakui oleh Wajib
Pajak sebagai penghasilan atau biaya yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
Rekonsiliasi beda tetap membedakan laba kena pajak dan laba akuntansi sebelum pajak
yang timbul karena transaksi yang mengacu pada UU Perpajakan dan tidak akan terhapus
dengan sendirinya pada periode lain. Dimana dalam beda tetap, rekonsiliasi yang terjadi
disebabkan karena adanya transaksi yang sudah diakui oleh wajib pajak sebagai
penghasilan atau biaya yang sudah sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang
berlaku. Beda tetap merupakan perbedaan pengakuan baik penghasilan maupun biaya
antara akuntansi komersial dengan ketentuan Undang-undang PPh yang sifatnya permanen
artinya koreksi fiskal yang dilakukan tidak akan diperhitungkan dengan laba kena pajak.
Contohnya: sumbangan, entertain (tanpa daftar nominatif), pengeluaran yang tidak ada
kaitannya dengan kegiatan perusahaan dan penghasilan bunga deposito.
2. Rekonsiliasi Beda Waktu
Rekonsiliasi beda waktu disebabkan karena adanya beda waktu antara sistem
akuntansi dan sistem perpajakan. Jadi, transaksi yang menurut akuntansi komersial dan
pajak sama, namun terdapat perbedaan yang terletak pada waktu alokasi biaya.
Beda waktu merupakan perbedaan pengakuan baik penghasilan maupun biaya
antara akuntansi komersial dengan ketentuan Undang-undang PPh yang sifatnya sementara
artinya koreksi fiskal yang dilakukan akan diperhitungkan dengan laba kena pajak.
Contohnya: biaya penyusutan, biaya sewa dan pendapatan laba selisih kurs.
REKONSILIASI FISKAL 3
Berdasarkan Pasal 28 ayat (7) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 mengenai Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) disampaikan bahwa proses pembukuan
setidaknya terdiri dari catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan
biaya, serta pembelian dan penjualan sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang
terutang.
Laporan keuangan komersial disusun berdasarkan standar akuntasi keuangan yang
belum tentu sama dan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Maka dari
itu, dibutuhkan penyesuaian dengan melakukan koreksi fiskal atau sering disebut
dengan rekonsiliasi fiskal. Rekonsiliasi fiskal dapat didefinisikan sebagai cara untuk
dapat mencocokkan perbedaan dalam laporan keuangan yang disusun berdasarkan
sistem keuangan akuntansi (komersial) dengan laporan keuangan yang disusun
berdasarkan sistem pajak (fiskal).
C. Tujuan Rekonsiliasi Fiskal
Sebagai metode atau cara untuk mengetahui perbedaan yang ada pada laporan keuangan,
rekonsiliasi fiskal memiliki beberapa tujuan yang meliputi:
1. Memeriksa Draf Laporan Keuangan
Tujuan pertama dari dilakukannya rekonsiliasi fiskal adalah agar perusahaan dapat
memeriksa kembali draf laporan keuangannya sebelum nantinya diserahkan ke Dirjen
Pajak. Perusahaan dapat meneliti draf laporan keuangan tersebut berdasarkan pada data
yang sudah ada dan dengan memperhatikan segala bentuk transaksi, lalu melakukan
penyesuaian di antara penghasilan dan pengeluaran.
2. Meminimalisir Terjadinya Kesalahan Perhitungan Pajak
Direktorat Jenderal Pajak telah mengeluarkan peraturan dan regulasi pada Wajib Pajak.
Karena itu, penting untuk melakukan rekonsiliasi fiskal agar tidak ada kesalahan atau
kerancuan pada laporan keuangan yang telah dibuat.
Jika memang ada kesalahan yang muncul, artinya ada kekeliruan saat melakukan
penghitungan besar nominal pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Inilah yang
membuat fungsi dari rekonsiliasi fiskal menjadi sangat penting.
3. Meminimalisir Adanya Kesalahan Hitung
Rekonsiliasi fiskal juga dilakukan untuk menghindari dan menekan kemungkinan kesalahan
perhitungan pajak. Pasalnya, nominal angka yang salah bisa menyebabkan kerugian yang
REKONSILIASI FISKAL 4
fatal. Karena itu, rekonsiliasi fiskal harus dilakukan untuk membuat laporan keuangan dan
perhitungan besar pajak yang lebih tepat, serta membantu Dirjen Pajak untuk menghitung
pajak yang sesuai dengan perusahaan terkait.
Penyebab Perbedaan Laporan Keuangan Komersial dan Fiskal
1. Perbedaan Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi berdasaarkan standar akuntansi yang telah diakui secara umum tetapi
tidak diakui secara fiskal, antara lain:
b. Prinsip Konservatisme
Penilaian persediaan akhir berdasarkan metode terendah antara harga pokok dan nilai
realisasi bersih serta antara penilaian piutang dan nilai taksiran realisasi bersih, diakui
dalam akuntansi komersial, tetapi tidak diakui dalam akuntansi Fiskal.
c. Perbedaan Prinsip Harga Perolehan
Menurut prinsip harga perolehan, penentuan harga perolehan untuk barang yang
diproduksi sendiri menurut akutansi komersial boleh memasukkan unsur biaya tenaga
kerja yang berupa natura. Sementara itu dalam akuntansi fiskal, pengeluaran bentuk
natura tidak diakui sebagai beban.
d. Prinsip penandingan biaya manfaat
Menurut prinsip penandingan biaya man-faat, akun tansi komersial mengakui biaya
penyusutan padasaat aset tersebut meng-hasilkan. Sementara dalam akuntansi fis-
kal,penyusut andapat dimulai walaupun be lum menghasilkan.
2. Perbedaan Metode Dan Prosedur Akuntansi
Perbedaan penggunaan metode dan prosedur akuntansi antara akuntansi komersial dan
akuntansi fiskal.
a. Metode Penilaian Persediaan
Akuntansi komersial memperbolehkan memilih beberapa metode penentuan harga
perolehan persediaan, contohnya: Avarage, FIFO, LIFO, Pendekatan laba bruto,
pendekatan harga jual eceran dan lain lain.
Sementara itu, akuntansi fiskal hanya memperbolehkan memilih dua metode yaitu rata rata
(average) atau masuk pertama keluar pertama (first in first out).
REKONSILIASI FISKAL 5
b. Metode Penyusutan dan Amortisasi
Pemilihan metode penyusutan akuntansi fiskal lebih terbatas yaitu metode garis lurus dan
saldo menurun untuk kelompok aset berwujud jenis non bangunan, dan untuk aset berwujud
bangunan dibatasi pada metode garis lurus saja.
Akuntansi komersial dan fiskal adalah bahwa dalam akuntansi komersial manajemen
membuat tafsiran umur ekonomis suatu aset, sedangkan dalam fiskal umur ekonomis
ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Keuangan.
Akuntansi komersial memperbolehkan mengakui nilai residu, sedangkan akuntansi fiskal tidak
memperbolehkan mengakui nilai residu dalam menghitung penyusutan.
c. Metode penghapusan piutang
Penghapusan piutang akuntansi komersial ditentukan berdasarkan metode cadangan.
Sementara itu penghapusan piutang pada asuransi fiskal dilakukan pada saat piutang tidak
ditagih dengan syarat tertentu yang diatur dalam peraturan perpajakan. Pembentukan
cadangan dalam fiskal hanya diperbolehkan untuk industri tertentu, misalnya bank, sewa
guna usaha dengan hak opsi, usaha asuransi dan usaha pertambangan dengan jumlah yang
dibatasi dengan peraturan perpajakan.
3. Perbedaan Perlakuan dan Pengakuan Penghasilan dan Biaya
Perbedaan penghasilan dan beban/ pengeluaran menurut akuntansi dan menurut fiskal dapat
dikelompokkan menjadi perbedaan tetap atau perbedaan permanen dan perbedaan sementara
atau perbedaan waktu.
a. Perbedaan tetap terjadi karena transaksi pendapatan dan beban diakui menurut akuntansi
komersial tetapi tidak diakui menurut fiskal yang mengakibatkan laba/rugi bersih menurut
akuntansi. Berbeda (secara tetap) dengan penghasilan (laba) kena pajak menurut fiskal.
Perbedan tetap meliputi hal hal sebagai berikut:
Penghasilan yang pajaknya bersifat final. Contohnya bunga bank, deviden, sewa tanah dan
bangunan serta penghasilan lain.
Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak. Contohnya dividen yang diterima oleh PT,
koperasi, BUMN/ BUMD, bunga yang diterima oleh perusahaan reksa dana, dan
penghasilan lain.
Beban/ pengeluaran yang tidak diperbolehkan sebagai pengurangan penghasilan
bruto.Contohnya pembayaran imbalan dalam bentuk natura, sumbangan, biaya/
pengeluaran untuk kepentingan pribadi pemilik, dana cadangan, pajak penghasilan, dan
REKONSILIASI FISKAL 6
biaya atau pengurangan lain yang tidak diperbolehkan (non deductible expenses menurut
fiskal.
b. Perbedaan waktu terjadi karena perbedaan waktu pengurangan sementara pendapatan dan
beban dalam menghitung laba. Contohnya suatu biaya atu penghasilan telah diakui
menurut akuntansi komersial tetapi belum diakui menurut akuntansi fiskal atau sebaliknya.
Perbedaan ini bersifat sementara karena akan tertutup pada periode berikutnya. Perbedaan
sementara meliputi pengakuan piutang tidak tertagih, penyusutan aset berwujud, amortisasi
aset tidak berwujud atau hak penilaian perseduaan dan lain lain
4. Perbedaan lain dari Penghasilan
a. Kerugian suatu usaha diluar negeri.
Dalam akuntansi komersial kerugian tersebut mengurangi laba bersih, sedangkan dalam
fiskal, kerugian tersebut tidak boleh dikurangkan dari total penghasilan kena pajak.
b. Kerugian usaha dalam negeri tahun sebelumnya.
Dalam akuntansi komersial kerugian tersebut tidak berpengaruh dalam perhitungan laba
bersih tahun sekarang, sedangkan daalam fiskal, kerugian tahun sebelumnya dapat
dikurangkan dari penghasilan kena pajak tahun sekarang selama belum lewat waktu 5
tahun.
c. Imbalan dengan jumlah yang melebihi kewajiban. Imbalan yang diterima atas pekerjaan
yang dilakukan oleh pemegang saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa
dengan jumlah yang melebihi kewajaran.
D. Jenis-Jenis Rekonsiliasi Fiskal
Dalam sebuah rekonsiliasi fiskal terdapat koreksi fiskal negatif dan koreksi fiskal
positif. Di mana penjelasan untuk keduanya adalah sebagai berikut.
1. Koreksi Fiskal Negatif
Koreksi fiskal negatif merupakan koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal
berkurang atau rugi fiskal bertambah. Sehingga, laba fiskal akan lebih kecil dari laba
komersial atau rugi fiskal lebih besar dari rugi komersial.
Koreksi negatif biasanya disebabkan oleh beberapa hal, seperti:
Adanya selisih komersial di bawah penyusutan fiskal
Penghasilan yang dikenakan PPh Final dan penghasilan yang tidak termasuk objek
pajak namun termasuk dalam peredaran usaha
REKONSILIASI FISKAL 7
Penyusutan fiskal negatif lain
2. Koreksi Fiskal Positif
Koreksi fiskal positif merupakan koreksi yang mengakibatkan laba fiskal bertambah
atau rugi fiskal berkurang. Sehingga, laba fiskal menjadi lebih besar dari laba komersial atau
rugi fiskal lebih kecil dari rugi komersial.
Umumnya, koreksi positif bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:
Biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi wajib pajak
Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
Dana cadangan
Jumlah melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pihak yang mempunyai
hubungan istimewa sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan
Pajak penghasilan
Harta yang dihibahkan
Gaji yang dibayarkan kepada pemilik
Sanksi administrasi
Selisih penyusutan/amortisasi komersial
Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dikenakan
PPh Final
Penyesuaian fiskal positif lain yang tidak berasal dari hal-hal yang telah disebutkan
Teknik Rekonsiliasi Fiskal
Jika suatu penghasilan diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui menurut fiskal,
rekonsiliasi dilakukan dengan mengurangkan sejumlah penghasilan tersebut dari
penghasilan menurut akuntansi, yang berarti mengurangi laba menurut akuntansi.
Jika suatu penghasilan tidak diakui menurut akuntansi tetapi diakui menurut
fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan menambahkan sejumlah penghasilan tersebut
pada penghasilan menurut akuntansi, yang berarti menambah laba menurut
akuntansi.
Jika suatu biaya atau pengeluaran diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui
sebagai pengurang penghasilan bruto menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan
mengurangkan sejumlah biaya atau pengeluaran tersebut dari biaya menurut
akuntansi, yang berarti menambah laba menurut akuntansi.
Jika suatu biaya atau pengeluaran tidak diakui menurut akuntansi tetapi diakui
sebagai pengurang penghasilan bruto menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan
REKONSILIASI FISKAL 8
menambahkan sejumlah biaya atau pengeluaran teersebut pada biaya menurut
akuntansi yang berarti mengurangi laba menurut akuntansi.
Koreksi fiskal sangat erat kaitannya dengan persiapan dan penghitungan pajak terutang
selama satu tahun, terutama bagi wajib pajak badan. Karena itu pemahaman atas
rekonsiliasi fiskal ini sangat penting terutama untuk memudahkan dalam pengisian SPT PPh
Badan yang jatuh tempo setiap tanggal 30 April.*
Tahapan dalam Rekonsiliasi Fiskal
Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam upaya melakukan rekonsiliasi fiskal adalah:
1. Mengenal terlebih dahulu penyesuaian fiskal yang diperlukan
2. Mengidentifikasi elemen-elemen penyesuaian untuk menentukan pengaruhnya
terhadap laba usaha kena paja
3. Mengoreksi fiskal dengan melakukan koreksi fiskal positif dan negatif
4. Melakukan penyusunan laporan keuangan secara fiskal sebagai lampiran SPT
Tahunan Pajak Penghasilan
Kesimpulan
Rekonsiliasi fiskal adalah suatu upaya yang memungkinkan perusahaan untuk dapat
mengoreksi dan melakukan penyesuaian atas laporan keuangan agar sesuai dengan sistem
akuntansi keuangan dan peraturan perpajakan yang belaku. Dengan menerapkan
rekonsiliasi fiskal, perusahaan juga dapat memeriksa kembali draf laporan keuangan yang
telah dibuat sebelum nantinya diberikan kepada Dirjen Pajak. Koreksi fiskal adalah koreksi
perhitungan pajak yang diakibatkan oleh adanya perbedaan pengakuan metode, manfaat,
dan umur, dalam menghitung laba secara komersial atau dengan secara fiskal.
Koreksi fiskal dibedakan menjadi 2 yaitu koreksi fiskal positif dan koreksi fiskal negatif.
Koreksi fiskal positif akan menyebabkan laba kena pajak akan bertambah, sedangkan
Koreksi negatif akan menyebabkan laba kena pajak berkurang. Dengan demikian, untuk
keperluan perpajakan wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan ganda, melainkan
cukup membuat satu pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan
pada waktu mengisi SPT Tahunan PPh terlebih dahulu harus dilakukan koreksi-koreksi
fiskal.
REKONSILIASI FISKAL 9