The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 111201206551, 2022-10-06 03:32:28

FIX_Profil Kesehatan 2021

FIX_Profil Kesehatan 2021

| 46

2018 10399 36 10349 35,8 5518 19,1 4122 14,3 2948 10,2
2019 11642 43,1 14,7 2995 11,1
2020 8952 34,5 11498 42,6 5832 21,6 3977 12 2496 9,6
2021 7,470 31.2 10.8 2,183 9.1
8495 32,7 4389 16,9 3107

7,640 31.9 4,822 20.1 2,584

Sumber : Seksi P2TMS Bidang P2P

Imunisasi kontak Lengkap
Secara umum cakupan Imunisasi dasar lengkap tahun 2021 sebesar 99,7%, angka ini

mengalami kenaikan dibanding tahun lalu. Hal ini dipengaruhi oleh semakin baiknya
kesadaran masyarakat mengimunisasikan bayinya dan meningkatnya koordinasi dengan
unit pelayanan swasta dalam pemberian imunisasi.

Gambar 4.7 Grafik Cakupan Imunisasi Dasar Th 2015 – 2021

120

100

80

Axis Title 60

40

20

0 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
94 93 97 108 95.9 98 71.7
HB 0 100 101 101 102.4 99.3 90.5 100.4
BCG 100.7 99.8
DPT-HB 1 101.4 101.9 101.9 102.6 99.4
POLIO 1 100 105 102

Sumber : Seksi P2TMS Bidang P2P

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 47

Gambar 4.8 Grafik Cakupan Imunisasi Lengkap Th 2015 – 2021

110
105

100

Axis Title 95
90

85

80 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
101.4 101.3 102.9 101.5 99.7 89.2 95.6
DPT-HB-HiB 3 102 103.9 103.2 100 100 89.6 96.5
POLIO 4 103.9 101.1 95.3 101 99.7 91.3 99
CAMPAK/MR

Sumber : Seksi P2TMS Bidang P2P

B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN
1. Kunjungan Pelayanan Kesehatan
Cakupan kunjungan pelayanan kesehatan oleh penduduk dapat diperoleh dari data
kunjungan di sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas & Rumah Sakit) baik kunjungan
rawat jalan dan rawat inap. Pada tahun 2021 total kunjungan pasien rawat jalan di
saryankes mencapai 4.648.738 kunjungan. Untuk kunjungan rawat inap mencapai 239.696
kunjungan.
Namun demikian kunjungan pasien di pelayanan kesehatan ini belum bisa
menunjukkan kunjungan khusus warga Kota Semarang karena berbagai macam faktor, dan
belum sarana pelayanan kesehatan di Kota Semarang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada
lampiran tabel 5.

2. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit
Indikator pelayanan kesehatan di rumah sakit dapat dilihat dari angka BOR, LOS, TOI,

GDR, dan NDR. Adapun data pemanfaatan Rumah Sakit di Kota Semarang dapat dilihat
dari beberapa indikator kinerja sebagai berikut:

a. Bed Occupation Rate (BOR), standar yang ideal untuk suatu Rumah Sakit adalah
antara 70% s.d 80%. Manfaat Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR ) adalah untuk
mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur Rumah Sakit. Berdasarkan data yang

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 48

dilaporkan prosentase BOR yang digunakan oleh penderita Rawat Inap di Rumah Sakit
se- Kota Semarang pada tahun 2021 adalah 51,1 %. Adapun jumlah tempat tidur yang
tersedia di tahun 2021 sebanyak 5.087 buah. Capaian angka ini belum dapat
mencapai standar yang ideal untuk Rumah Sakit. Hal ini menunjukkan bahwa
pemanfaatan tempat tidur pada Rumah Sakit di Kota Semarang belum dimanfaatkan
secara optimal dan masih terdapat Rumah Sakit yang belum bisa mengirimkan
datanya sampai dengan tanggal yang telah ditentukan.

b. Length Of Stay ( LOS) adalah rata-rata dalam 1 (satu) tempat tidur dihuni oleh 1
(satu) penderita rawat inap yang dihitung dalam hari dengan standar ideal antara 6 –
9 hari. Manfaat LOS adalah untuk mengukur efisiensi pelayanan Rumah Sakit, dan
untuk mengukur mutu pelayanan Rumah Sakit apabila diterapkan pada diagnosis
tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Berdasarkan
data yang dilaporkan pencapaian LOS RS tahun 2021 adalah 4,7 hari. Cakupan
pencapaian tersebut dapat diartikan bahwa penggunaan tempat tidur di RS di Kota
Semarang untuk tahun 2021 belum memenuhi standar ideal.

c. Turn of Interval (TOI) adalah rata-rata tempat tidur tidak ditempati dengan
standar ideal antara 1 – 3 hari. TOI untuk Kota Semarang pada tahun 2021 adalah 4,5.
Angka ini dapat diartikan bahwa pemakaian tempat tidur di Rumah Sakit pada tahun
ini belum optimal.

d. Gross Death Rate (GDR), adalah angka kematian untuk tiap-tiap 1000 penderita
keluar maksimum adalah 45. Manfaat GDR (Gross Death Rate) untuk mengetahui
mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit. Angka ini bisa untuk menilai mutu
pelayanan jika angka kematian kurang dari 48 jam rendah. Berdasarkan data yang
dilaporkan GDR Kota Semarang pada tahun 2021 adalah 52,1 %.

e. Net Death Rate (NDR), manfaat NDR adalah untuk mengetahui mutu pelayanan
/ perawatan Rumah Sakit. Semakin rendah NDR suatu Rumah Sakit, berarti bahwa
mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit makin baik. NDR yang masih dapat ditolerir
adalah kurang dari 25 per 1000 penderita keluar. Pencapaian NDR di Kota Semarang
pada tahun 2021 adalah 33,7 %. Namun demikian secara keseluruhan pelayanan
rumah sakit di Kota Semarang masih tergolong baik.
PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 49

C. PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan regulasi yang

ada, pelaksanaan Jaminan Kesehatan secara nasional didasarkan pada beberapa dasar hukum
yang ada. Pada perubahan keempat Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945, tujuan Negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat semakn dipertegas yaitu
dengam menngembangkan system jaminan sosial bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Tujuan
tersebut diimplementasikan dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan sejak 1
Januari 2014 program tersebut telah diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) Kesehatan.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakkan mekanisme asuransi kesehatan
sosial yang bersifat wajib (Mandatory) berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial nasional dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar
iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan dengan prinsip
kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati hatian, akuntabilitas, portabilitas, bersifat
wajib, dana amanat dan hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan sebesar besarnya untuk kepentingan peserta. Sebagaimana
yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 12 tahun 2013 dan PERPRES
Nomor 111 tahun 2013 sebagai perubahan atas peraturan presiden nomor 12 tahun 2013
kepesertaan JKN dilaksanakan secara bertahap.

Fasilitas Kesehatan yang dapat memberikan Pelayanan Kesehatan untuk peserta
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdiri dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama baik milik
pemerintah maupun non pemerintah dan Fasilitas Kesehatan tingkat Lanjutan.

Pada tahap awal peserta JKN adalah peserta PBI, Askes PNS, Peserta TNI, POLRI, dan
Peserta JPK Jamsostek. Dalam perkembangannya, mulai pengembangan segmen kepesertaan
dari sektor lainnya. Gambaran kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kota Semarang
tahun 2021 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 50
Gambar 4.9 Cakupan Kepersertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-KIS) Tahun 2021

Sumber data: BPJS Kesehatan KCU Semarang
Adanya Perubahan kebijakan Pemerintah Kota Semarang terkait dengan Program
Jaminan Kesehatan Kota Semarang berupa Integrasi Jamkesmaskot ke Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN)-KIS BPJS Kesehatan pada bulan Maret 2017 dengan target mendaftarkan
50.000 (lima puluh ribu) orang penduduk miskin dan tidak mampu Kota Semarang menjadi
peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan. Melalui Peraturan Walikota Semarang Nomor 43 Tahun 2017
tentang Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Kota Semarang, Pemerintah Kota Semarang
mencanangkan Program Universal Health Coverage (UHC) dengan mendaftarkan penduduk
Kota Semarang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan. Adapun
perkembangan kepesertaan Integrasi dan Universal Health Coverage dapat dilihat pada grafik
di bawah ini.
Gambar 4.10 Kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Program JKN Kota Semarang th 2021

Sumber : Seksi Jaminan & Kemitraan Bidang Yankes
PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 51

D. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
1. Pemberian Tablet Tambah Darah Pada Ibu Hamil (Fe)

Pemberian tablet Fe pada ibu hamil merupakan upaya penanggulangan anemia gizi
besi yang diberikan pada trimester I sampai dengan trimester III. Cakupan ibu hamil mendapat
tablet Fe 90 di Kota Semarang tahun 2015 - 2021 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.11 Cakupan Fe90 Ibu Hamil di Kota Semarang Tahun 2015 – 2021

102 100 100 100
100
97.65 98.59
98 97.05

96 97 97 97.2 97.6 target
94 96 FE 90

91.9

92

90

88

86 2016 2017 2018 2019 2020 2021
2015

Sumber : Seksi PMG Bidang Kesmas

Cakupan pemberian Fe90 pada ibu hamil di tahun 2021 sebesar 100% dari jumlah total ibu
hamil (23.075). Upaya-upaya yang telah dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan tablet Fe
oleh instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Semarang, distribusi tablet Fe saat pemeriksaan
antenatal care (ANC) ibu hamil, serta edukasi/penyuluhan/konseling bagi ibu hamil.

2. Pemberian Kapsul Vitamin A
Salah satu upaya program penanggulangan kekurangan vitamin A adalah pemberian

suplementasi vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) pada ibu nifas. Dosis yang diberikan sebanyak
2 kapsul. Pencapaian pemberian vitamin A ibu nifas di Kota Semarang tahun 2021 sebanyak
22.040 ibu nifas (100%).

3. Pemberian ASI Ekslusif dan IMD (Inisiasi Menyusu Dini)
Pemberian ASI sangat perlu diberikan secara ekslusif sampai umur 6 (enam) bulan dan

dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun. ASI (Air Susu Ibu) merupakan salah
satu makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 52

dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai
pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Walaupun demikian masih terdapat
kendala dalam pemantauan pemberian ASI Ekslusif karena belum ada sistem yang dapat
diandalkan. Selama ini pemantauan tingkat pencapaian ASI Ekslusif dilakukan melalui laporan
puskesmas yang diperoleh dari hasil wawancara pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas.

Berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2021, pemberian ASI Ekslusif pada bayi
umur 0-6 bulan sejumlah 8.381 bayi atau 71,9%. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan
di Kota Semarang telah mencapai target Renstra Kota Semarang (65,60%). Sedangkan jumlah
bayi baru lahir yang mendapatkan IMD sebanyak 18.818 (85,4%) dari 22.030 bayi yang ada.
Hal ini disebabkan karena adanya komitmen petugas kesehatan untuk membantu ibu yang
mengalami kesulitan dalam menyusui, ada peningkatan pengetahuan ibu tentang manfaat
menyusui dan cara menyusui yang tepat dan dukungan dari keluarga, serta dengan adanya
sosialisasi terkait Peraturan Walikota Semarang (Perwal) No. 7 Tanggal 16 Januari 2013
tentang Program Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif di Kota Semarang.

Namun demikian pencapaian dalam program ASI Ekslusif ini harus mendapatkan
perhatian khusus dan memerlukan pemikiran dalam mencari upaya-upaya terobosan serta
tindakan nyata yang harus dilakukan oleh provider di bidang kesehatan dan semua komponen
masyarakat dalam rangka penyampaian informasi maupun sosialisasi guna meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat.

E. PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT (USILA)
Pelayanan kesehatan usila yang dimaksudkan adalah penduduk usia 60 tahun ke atas

yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan baik di
Puskesmas maupun di Posyandu Kelompok Usia Lanjut (Poksila). Cakupan kegiatan pelayanan
kesehatan Usila di Kota Semarang pada tahun 2021 sebesar 100% atau 184.324 orang dari
184.324 lansia yang ada.

F. PELAYANAN KESEHATAN KHUSUS
1. Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat
Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh
masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2021 sebanyak 37 sarana kesehatan (97,37%)
yaitu 20 Rumah Sakit Umum (100%), 1 RS Jiwa (100%), 9 RS Khusus (100%) dan 10
puskesmas perawatan (100%).

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 53

2. Pelayanan Kesehatan Jiwa
Selain menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara umum, sarana kesehatan yang

ada juga memberikan pelayanan terhadap kesehatan jiwa. Berdasarkan data yang berhasil
didapat, pelayanan kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Semarang
pada tahun 2020 menunjukkan 63.684 kunjungan pasien gangguan jiwa. Namun demikian
angka ini juga termasuk kunjungan gangguan jiwa bagi warga di luar Kota Semarang yang
mendapatkan pelayanan di sarana kesehatan Kota Semarang dan belum semua sarana
pelayanan kesehatan melaporkan data kasusnya.

Berdasarkan PP Nomor 2 Tahun 2018 dan Permenkes Nomor 43 Tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota, terdapat 12 indikator yang
pencapaiannya harus 100%. Diantaranya terkait Pelayanan Kesehatan bagi Orang dengan
Gangguan Jiwa Berat.

Di Kota Semarang semua Puskesmas sudah menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa,
sehingga dapat dilakukan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dan orang dengan gangguan
jiwa berat dapat dirujuk dan dilakukan penanganan dengan baik. Pada tahun 2021 terdapat
5.178 pasien orang dengan gangguan jiwa berat yang mendapat pelayanan di Puskesmas.

G. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Lingkungan merupakan salah satu variabel yang perlu mendapat perhatian khusus

dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor perilaku, pelayanan
kesehatan dan genetik, lingkungan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Untuk
menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator - indikator seperti: akses
terhadap air bersih dan air minum berkualitas dan akses terhadap sanitasi layak.
1. Sarana Air Bersih dan Akses Air Minum Berkualitas
a. Penduduk dengan akses berkelanjutan dengan air layak

Air adalah salah satu sumber kehidupan, dan setiap manusia memerlukan air
bersih Oleh karena itu air bersih harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dan
memenuhi syarat kesehatan (syarat fisik, kimiawi, dan bakteriologi). Jumlah sarana air
minum tahn 2021 sebanyak 259.714 sarana, yang dilakukan Inspeksi Kesehatan
Lingkungan (IKL) sebanyak 67.842 sarana (26,1%) dengan tingkat risiko pencemaran
sedang dan rendah sebanyak 62.345 sarana (91,9%). Dari hasil inspeksi kesehatan
lingkungan dengan tingkat resiko sedang dan rendah dilakukan pemeriksaan sampel air

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 54

minum sebanyak 2.231 sampel dengan hasil memenuhi syarat sebanyak 2.152 sampel
(96,5%).
2. Sarana dan Akses Terhadap Sanitasi Dasar
a. Keluarga dengan Jamban Sehat

Jamban Sehat adalah salah satu syarat rumah sehat. Pengelolaan sebuah jamban
yang memenuhi syarat kesehatan diperlukan untuk mencegah terjadinya penularan
penyakit. Akses jamban sehat di Kota Semarang sebesar 100% (510.952 KK). Pelaksanaan
deklarasi ODF Kota Semarang di lakukan pada tanggal 03 Desember 2018. Pada 2021, 100%
akses jamban sehat dengan rincian JSP (Jamban Sehat Permanen) sebanyak 480.190 KK,
JSSP (Jamban Sehat Semi Permanen) sebanyak 15.632 KK dan sharing/komunal 15.140 KK.
Akses kepemilikan atau peningkatan JSSP dan sharing/komunal ke JSP dilakukan dengan
adanya bantuan dari Baznas Kota Semarang dan Pembangunan Dinas Perumahan dan
Kawasan Permukiman.
b. Kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Berkelanjutan dalam rangka
percepatan peningkatan akses terhadap sanitasi dasar di Indonesia. Sebagaimana
tercantum dalam RPJMN tahun 2015-2019 yang diharapkan tersedianya universal access
atau cakupan akses sebesar 100% untuk air minum dan sanitasi yang diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat. STBM melalui pemberdayaan dengan metode pemicuan, untuk sanitasi total
di komunitas dengan pendekatan 5 Pilar STBM, yaitu: 1. Stop Buang Air Besar Sembarangan
(SBS/ Stop BABS); 2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS); 3. Pengelolaan Makanan dan
Minuman Rumah Tangga (PAM-RT); 4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PS-RT); serta
5. Pengamanan limbah cair rumah tangga (PLC-RT). Kondisi di Kota Semarang 100%
kelurahan melaksanakan STBM, dan 96 kelurahan yang sudah terverifikasi STBM.
c. Tempat – Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan (TTU dan TUPM)

Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi tempat
umum yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari
kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menjadi sarang vektor penyakit yang
dapat menimbulkan menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di
sekitarnya. Tempat-tempat umum merupakan tempat kegiatan bagi umum yang
disediakan oleh badan – badan pemerintah, swasta atau perorangan yang langsung
digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap, memiliki fasilitas

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 55

sanitasi (jamban, tempat pembuangan sampah dan limbah) untuk kebersihan dan
kesehatan di lingkungan. Tempat-tempat umum yang sehat berpengaruh cukup besar di
masyarakat karena masyarakat menggunakan fasilitas umum tersebut untuk berbagai
kepentingan.

Pengawasan sanitasi tempat umum meliputi sarana pendidikan, sarana kesehatan,
tempat ibadah dan pasar sejumlah 2.955 TTU. Adapun yang memenuhi syarat kesehatan
dapat digambarkan sebagai berikut;
Gambar 4.12 Grafik Cakupan TTU (%) Yang Memenuhi Syarat Kesehatan Tahun 2021

91.1 88.3 82.3 96.7 89.7 81.4

48.3

SD SMP SLTA PUSKESMAS RSU TEMPAT PASAR

IBADAH

Sumber: Seksi Kesling & Promkes Bidang Kesmas
Sedangkan pengawasan tempat pengelolaan makanan meliputi Jasa boga, rumah
makan/restoran, depot air minum, dan sentra makanan jajanan. TPM yang memenuhi
syarat higiene sanitasi sejumlah 1.810 (82,16%) dari 2.203 TPM yang ada, dengan
komposisi sebagai berikut,

Gambar 4.13 TPM Memenuhi Syarat Higiene Tahun 2021 (%)

83.5

82 81.9
81.6

Jasa boga Restoran DAM Sentra makanan jajanan

Sumber: Seksi Kesling & Promkes Bidang Kesmas

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 56

H. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT
1. Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Perilaku masyarakat adalah faktor penyebab utama permasalahan kesehatan,
sehingga masyarakat sendiri yang dapat menyelesaikan masalahnya dengan
pendampingan/bimbingan pemerintah. Permasalahan kesehatan yang makin kompleks
berbanding terbalik dengan sumberdaya pemerintah yang terbatas namun masyarakat
mempunyai potensi cukup besar untuk digerakkan dalam upaya pencegahan di
wilayahnya.

Upaya pencegahan lebih efektif dan efisien dibanding upaya pengobatan, upaya
pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat yaitu melalui upaya pemberdayaan
masyarakat terutama untuk ber-perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang
atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan-aktif dalam
mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Untuk melihat keberhasilan pembinaan PHBS,
yang diukur atau dievaluasi adalah PHBS Tatanan Rumah Tangga. Evaluasi dilakukan
terhadap dampak pembinaan PHBS, yaitu berupa perubahan perilaku masyarakat di
tatanan rumah tangga dengan cara survei PHBS rumah tangga menggunakan 16 indikator.

2. Posyandu Purnama dan Mandiri
Posyandu memiliki peran yang sangat penting dalam sistem penyelenggaraan

pelayanan kebutuhan dasar dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara
dini serta merupakan lini terdepan dari deteksi dini di bidang kesehatan yang dilakukan oleh
masyarakat. Agar posyandu dapat melakukan fungsi dasarnya, dimana posyandu mempunyai
daya ungkit yang sangat besar terhadap penurunan Angka Kematian Bayi, Angka Kematian
Balita dan Angka Kematian Ibu, maka perlu adanya upaya untuk memantau dan mendorong
tingkat perkembangan posyandu.

Perkembangan Jumlah posyandu di Kota Semarang pada tahun 2021 sebanyak 1.616
posyandu, dengan posyandu aktif sejumlah 1.383 buah (85,6%), Cakupan Posyandu Purnama
tahun 2021 sebesar 36,7% (593) , Sedangkan Posyandu Mandiri di tahun 2021 adalah 48,9%
(790) mengalami kenaikan dibanding tahun 2020. Gambaran perkembangan strata posyandu
terlihat pada grafik dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 57

Gambar 4.14 Grafik Perkembangan Strata Posyandu Kota Semarang

679 808 637 790
540 744 711 593
651 419
308 554 535 555 594 191
194 42
48 341 19 2021
2015 276 262 2020
MANDIRI
5 32 70 156
2016 2017 2018 39
2019
PRATAMA MADYA
PURNAMA

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN | 58
KOTA SEMARANG
BAB
V

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan
pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Pada bab ini, sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan
gambaran keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan, perbekalan kesehatan dan
pembiayaan kesehatan.

A. SARANA KESEHATAN
Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat perlu didukung

oleh adanya sarana kesehatan yang memadai dan memiliki kualitas pelayanan yang baik.
Sarana kesehatan dasar yang ada di Kota Semarang pada tahun 2021 terdiri dari :

Tabel 5.1 Sarana Kesehatan Dasar di Kota Semarang

URAIAN 2017 2018 2019 2020 2021
20 20 22
1. RUMAH SAKIT UMUM: 19 20 9 9 10
2. RUMAH SAKIT KHUSUS 7 7 0 0 0
3. RUMAH BERSALIN 0 0 37 37 37
4. PUSKESMAS 37 37

Terdiri dari : 11 11 10 10 10
26 26 27 27 27
a. PUSKESMAS PERAWATAN 37 37 38 38 38
b. PUSKESMAS NON PERAWATAN 26 29 24 25
5. PUSKESMAS PEMBANTU 40 43 46 49 53
6. LABORATORIUM KLINIK 170 217 229 238 259
7. KLINIK UTAMA 39 11 12 21 39
8. KLINIK PRATAMA 1 1 1 1
9. TOKO OBAT 1
10, INSTALASI FARMASI (IF) 1 1 1 1
11. SARANA REHABILITASI KORBAN 2.952 1
PENYALAHGUNAAN NARKOBA 2.304 2.556 2.771 1.252 3.079
12. DOKTER UMUM PRAKTEK * 1001 1.068 1.155 665 1.355
13. DOKTER SPESIALIS PRAKTEK* 517 572 624 720
14. DOKTER GIGI PRAKTEK * 406 424 429 116
15. APOTEK

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 59

Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan

Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) bertugas untuk menerbitkan perizinan untuk sarana

kesehatan. Berikut data pengajuan ijin sarana kesehatan tahun 2021 yang masuk ke Dinas

Kesehatan Kota Semarang :

Tabel 5.2 Tabel Pengajuan Perijinan Sarana Kesehatan di Kota Semarang th 2021

No Jenis Sarana Kesehatan Jumlah Output dari Dinkes

1. Klinik Pratama dan Utama 80 Rekomendasi Ijin

2. Optik 19 Rekomendasi Ijin

3. Rumah Sakit 5 Rekomendasi Ijin

4. Laboratorium 0 Rekomendasi Ijin

5. Penyelenggaraan kalibrasi alat 0 Rekomendasi Ijin

6. Radiologi 0 Ijin Penyelenggaraan pelayanan

7. Hemodialisa 0 Ijin Penyelenggaraan pelayanan

Jumlah 104

Sumber : Seksi Informasi dan Pengendalian Sarkes, Bidang SDK

B. TENAGA KESEHATAN
Peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) dibidang kesehatan

sangat diperlukan agar penyelenggaraan upaya kesehatan dapat berjalan dengan baik. Oleh
karena itu diperlukan, yang diharapkan mampu bekerja secara profesional dan selalu
berusaha untuk mengembangkan kemampuan secara keilmuan dan ketrampilannya dalam
rangka memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

Informasi tenaga kesehatan diperlukan bagi perencanaan dan pengadaan tenaga
serta pengelolaan kepegawaian. Kesulitan memperoleh data ketenagaan yang mutakhir
disebabkan antara lain karena sifat data ketenagaan yang selalu berubah terus-menerus dan
melibatkan lintas organisasi sehingga sistem pencatatan dan pelaporan belum dapat
ditampilkan secara lengkap, akurat dan sistematis. Sebaran tenaga kesehatan di sarana
pelayanan kesehatan, Rumah Sakit, dan Dinas Kesehatan Kota Semarang dapat dilihat pada
lampiran.

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 60
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Total anggaran kesehatan Kota Semarang pada tahun 2021 sebesar Rp Rp
783.833.488.782,00. Anggaran kesehatan terdiri dari anggaran Dinas Kesehatan Kota
Semarang dan anggaran RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro sebesar 14,83% dari total anggaran
APBD Kota Semarang sebesar Rp 5.286.268.859.568,00. Data secara lengkap dapat dilihat
pada lampiran tabel 19.

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

KESIMPULAN | 61

BAB
VI

Berbagai upaya yang telah dilaksanakan dalam pembangunan kesehatan, antara lain
upaya peningkatan dan perbaikan terhadap derajat kesehatan masyarakat, upaya pelayanan
kesehatan, sarana kesehatan dan sumber daya kesehatan. Hasil-hasil kegiatan pembangunan
kesehatan di semua wilayah kerja Puskesmas yang tersebar di 16 kecamatan di Kota Semarang
selama periode 1 (satu) tahun tergambar dalam Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2021.

Secara umum upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan kesehatan
telah menunjukkan hasil yang cukup baik, namun masih ada beberapa program kesehatan
yang belum mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan maupun kekurangan dalam
pencapaian upaya-upaya pembangunan kesehatan di Kota Semarang selama tahun 2021
adalah sebagai berikut :
1. Jumlah kematian Ibu maternal, berdasarkan laporan Puskesmas dan Rumah Sakit pada

tahun 2021 sebanyak 21 kasus dengan jumlah kelahiran hidup (KH) sebanyak 22.030
orang atau 71,35 per 100.000 KH.
2. Jumlah Kematian Bayi, berdasarkan hasil laporan berbagai sarana pelayan kesehatan
yang terjadi di Kota Semarang Tahun 2021 sebanyak 133 dari 23.825 kelahiran hidup,
sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 6,04 per 1.000 KH.
3. Jumlah Kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2021 Angka Kematian Balita (AKABA)
Kota Semarang diperoleh sebesar 6,95 per 1.000 KH.
4. Jumlah kasus bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) tahun 2021 sebesar 538 bayi
(1,6%)
5. Jumlah kasus gizi buruk balita yang ditemukan tahun 2021 sejumlah 29 kasus.
6. Jumlah penderita TB Paru semua tipe yang ditemukan tahun 2021 sebesar 3.221 kasus
Angka kesembuhan tahun 2020 sebesar 55%.
7. Jumlah kasus HIV yang ditemukan tahun 2021 sebesar 231 orang, sedangkan jumlah
kasus AIDS pada tahun 2021 sebanyak 16 orang, dan 3 kasus yang meninggal.
8. Jumlah kasus pneumonia balita sebanyak 2.817 orang dan 84 diantaranya merupakan
pneummonia berat.
9. Jumlah penderita kusta yang ditemukan tahun 2021 adalah 10 kasus, dengan tipe kusta
MB.

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 62

10. Jumlah kasus diare, tahun 2021 sebanyak 21.765 kasus, sedangkan untuk diare balita
sebanyak 6.030 kasus.

11. Jumlah kasus tetanus neonatorum (TN), tidak ditemukan kasus pada tahun 2020. Dengan
cakupan Td2+ bumil tahun 2021 sebanyak 71,9%.

12. Jumlah kasus difteri tahun 2021 sebanyak 3 kasus, dan tidak ada penderita yang
meninggal.

13. Jumlah kasus campak yang ditemukan pada tahun 2021 sejumlah 5 kasus.
14. Jumlah kasus AFP tahun 2021 sejumlah 3 kasus.
15. Jumlah kasus malaria tahun 2021 sebesar 54 kasus, dengan API sebesar 0,035.
16. Jumlah kasus demam berdarah pada tahun 2021 sebanyak 332 kasus dengan jumlah

meninggal 9 orang. CFR DBD adalah 2,7 %.
17. Jumlah kasus Rabies (GHPR) yang terjadi di tahun 2021 sebanyak 46 kasus.
18. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2021 adalah 22.040 (100%).
19. Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di Kota Semarang pada tahun

2021 adalah 22.040 (100%).
20. Jumlah pelayanan ibu nifas yang mendapat pelayanan kesehatan adalah pada tahun

2021 adalah 22.028 (99,9%).
21. Jumlah pelayanan komplikasi maternal, pada tahun 2021 jumlah kasus komplikasi yang

ditangani sebesar 1.080 kasus.
22. Pelayanan Neonatal komplikasi yang dilayani/ditangani pada tahun 2021 sebesar 1.951

kasus atau 59 % dari total perkiraan 3.305 perkiraan neonatal komplikasi.
23. Cakupan kunjungan neonatus (KN 1) tingkat Kota Semarang tahun 2021 adalah 22.030

atau (100%).
24. Cakupan pelayanan kesehatan bayi di Kota Semarang pada tahun 2021 adalah 22.030

atau 100%.
25. Pelayanan kesehatan balita minimal 8 kali diperoleh cakupan tahun 2021 adalah 100.403

atau 100%.
26. Pelayanan kesehatan pada siswa SD kelas 1 dan sederajat yang dilakukan oleh tenaga

kesehatan puskesmas pada tahun 2021 diperoleh hasil sebanyak 24.157 murid SD
(100%), pada siswa kelas 7 SMP/MTs sebanyak 24.996 (100%), dan pada siswa kelas 10
SMA sebanyak 26.741 (995%) siswa yang mendapatkan pelayanan.
27. Cakupan bayi yang diimunisasi DPT-HB-Hib3 pada tahun 2021 sebesar 22.903 (95,6%),
dengan Cakupan imunisasi MR sebesar 23.717 (99%).

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 63

28. Cakupan kunjungan pelayanan kesehatan pada tahun 2021 total kunjungan tingkat Kota
Semarang pada unit rawat jalan saryankes sebesar 4.648.738 kunjungan, sedangkan
untuk kunjungan rawat inap sebesar 239.696 kunjungan.

29. Pencapaian hasil kinerja Rumah Sakit di Kota Semarang meliputi : BOR (51,1%) ; LOS
(4,7hari) ;TOI (4,5 hari) ; GDR (52,1%) ; NDR (33,7 %) dari data yang ada.

30. Jumlah kepesertaan JKN-KIS BPJS kesehatan sebesar 93,6% dari total penduduk Kota
Semarang.

31. Cakupan pemberian Fe 90 sebesar 100 % dari sasaran bumil 23.075 orang.
32. Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas diperoleh data 100% atau sebanyak 22.040

ibu nifas.
33. Cakupan pemberian ASI Ekslusif pada bayi umur 0-6 bulan sejumlah 8.381 bayi atau

71,9%.
34. Cakupan pelayanan kesehatan Usila di Kota Semarang pada tahun 2021 sejumlah

184.324 (100%) .
35. Pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas dan Rumah Sakit terdapat 63.684 kunjungan,

dan 4.172 pasien orang dengan gangguan jiwa berat yang mendapat pelayanan di
Puskesmas.
36. Jumlah desa/kelurahan siaga yang ada di Kota Semarang Tahun 2021 sebanyak 177
Kelurahan.
37. Jumlah Posyandu tahun 2021 1.616 buah, dengan posyandu aktif sebanyak 1.383
posyandu. Strata posyandu purnama 593 (36,7%), posyandu mandiri 790 (48,9%).
38. Total anggaran Kesehatan Kota Semarang pada tahun 2021 sebesar
Rp.783.833.488.782,- (14,8%) dari total APBD Kota Semarang .

--@@ --

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021

| 64

PROFIL KESEHATAN KOTA SEMARANG 2021


Click to View FlipBook Version