Kata Pengantar
Dengan Rahmat Allah SWT, kita bersyukur atas penerbitan Publikasi
”Pemerataan Pendapatan dan Pola Konsumsi Penduduk Kota Semarang
Tahun 2012”.
Bahasan pada publikasi ini memuat gambaran tingkat ketimpangan
pendapatan dan pola konsumsi penduduk di Kota Semarang. Untuk keperluan
tersebut, selain menggunakan hasil survei tahun 2012 juga dilengkapi dengan data
lain yang terkait dengan pokok bahasan.
Publikasi ini terwujud berkat kerjasama antara Badan Pusat Statistik Kota
Semarang dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang.
Kami telah mengupayakan untuk menyajikan publikasi ini sebaik-baiknya,
namun disadari mungkin masih terdapat kekurangan, untuk itu tanggapan serta
saran-saran dari semua pihak sangat diharapkan.
Semoga publikasi ini bermanfaat bagi evaluasi dan perencanaan
pembangunan di Kota Semarang.
Semarang, 2013
KEPALA BAPPEDA KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK
KOTA SEMARANG KOTA SEMARANG
BAMBANG HARYONO ENDANG RETNO SRI SUBIYANDANI, S.Si
Pembina Utama Muda Pembina Tk. I
NIP. 19580410 198603 1 010
NIP. 19641023 198802 2 001
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ..................................................................................................... i
Daftar Isi .............................................................................................................. ii
Daftar Gambar ..................................................................................................... iv
Daftar Tabel ......................................................................................................... v
BAB I Pendahuluan ....................................................................................... 1
1.1. Latar belakang ........................................................................... 1
1.2. Tujuan ........................................................................................ 2
1.3. Sistematika Penulisan ................................................................ 2
BAB II Tinjauan Pustaka ................................................................................ 3
2.1. Teori Pareto ............................................................................... 3
2.2. Indeks Theil dan Indeks-L ......................................................... 4
2.3. Teori Gini Ratio ........................................................................ 5
2.4. Kriteria Bank Dunia .................................................................. 8
BAB III Metodologi ......................................................................................... 10
3.1. Sumber Data .............................................................................. 10
3.2. Konsep dan Definisi .................................................................. 10
3.3. Teknik Analisis ......................................................................... 11
BAB IV Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Kota Semarang .................... 14
4.1. Gambaran Umum Perekonomian Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012 .................................................................... 14
4.2. Pola Konsumsi Rumahtangga ................................................... 16
4.3. Kesenjangan Distribusi Pendapatan .......................................... 23
a. Koefisien Gini ....................................................................... 23
b. Relatif Inequality (Kriteria Bank Dunia) .............................. 28
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 ii
BAB V Penutup ............................................................................................... 32
5.1 Kesimpulan ................................................................................ 32
5.2. Saran .......................................................................................... 33
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 iii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Komposisi Konsumsi Penduduk Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012 ........................................................................ 18
Gambar 2. Rata-rata Pendapatan Per-kapita Sebulan Dirinci
Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2012 ................ 20
Gambar 3. Pola Konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 ................ 21
Gambar 4. Koefisien Gini Kota Semarang Tahun 2012 ................................. 23
Gambar 5. Perkembangan dan Level Gini Ratio Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012 ........................................................................ 25
Gambar 6. Koefisien Gini Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2008 – 2012 ........................................................................ 28
Gambar 7. Ketimpangan Pendapatan di Kota Semarang Berdasarkan
Kriteria Bank Dunia Tahun 2008 – 2012 ...................................... 25
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 iv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto (Juta Rupiah) Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012 .......................................................................... 15
Tabel 2. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
Kota Semarang Tahun 2008 – 2012 ................................................ 15
Tabel 3. Produk Domestik Regional Bruto Perkapita (Rupiah)
Kota Semarang Tahun 2008 – 2012 ................................................ 16
Tabel 4. Rata-rata Pengeluaran perkapita Sebulan dan Komposisi
Konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2008 – 2012 .............. 17
Tabel 5. Pola Konsumsi Makanan dan Non Makanan Penduduk
Kota Semarang Tahun 2012 ............................................................ 22
Tabel 6. Koefisien Gini Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2008 – 2012 .......................................................................... 24
Tabel 7. Peringkat Gini Ratio Kab./Kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2008 – 2012 .......................................................................... 26
Tabel 8. Ketimpangan Pendapatan di Kota Semarang Berdasarkan
Kriteria Bank Dunia Tahun 2008 – 2012 ........................................ 29
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 v
BAB I PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengetahui keadaan
perekonomian di suatu wilayah, adalah pertumbuhan ekonomi dengan melihat
pertumbuhan PDRB. Secara lebih rinci sering pula diulas faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Menurut Sukirno, pertumbuhan Ekonomi
adalah suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu
perekonomian dalam satu tahun tertentu dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Karena pendapatan regional adalah nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh
seluruh pelaku ekonomi dalam suatu wilayah, maka besar atau kecilnya pendapatan
regional dapat dilihat sebagai gambaran tentang tingkat kesejahteraan masyarakat di
wilayah yang bersangkutan. Namun demikian pertumbuhan ekonomi yang hanya
diukur dengan pendapatan regional belum tentu berkorelasi positif dengan
kesejahteraan masyarakatnya atau dapat dikatakan bahwa besarnya tingkat
pertumbuhan ekonomi, tidak memberikan gambaran bahwa seluruh penduduk yang
ada di wilayah tersebut meningkat kesejahteraannya. Sangat mungkin terjadi, ekonomi
meningkat pesat tetapi jumlah penduduk miskin juga meningkat.
Pengukuran atau evaluasi hasil pembangunan dirasa belum cukup apabila hanya
di ukur dengan pertumbuhan ekonomi melalui PDRB, diperlukan parameter lain yang
mampu menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat terkait dengan distribusi
hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Publikasi ini memuat parameter penunjang
indikator pertumbuhan ekonomi dan akan memberikan gambaran tentang: pemerataan
pendapatan (mengukur seberapa besar kesenjangan pendapatan antar penduduk)
sekaligus melihat perubahan pola konsumsi masyarakatnya di Kota Semarang tahun
2012.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 1
BAB I PENDAHULUAN
1.2. Tujuan
Publikasi ini, bertujuan untuk memberikan gambaran pemerataan pendapatan dan
pola konsumsi penduduk di Kota Semarang pada tahun 2012. Series data dari publikasi
ini diharapkan dapat menjadi bahan monitoring dan evaluasi distribusi pendapatan di
Kota Semarang.
1.3. Sistematika Penulisan
Tulisan ini disusun dalam 5 (lima) Bab, yaitu :
Bab I Pendahuluan,
Berisi latar belakang, tujuan dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka,
Berisi penjelasan beberapa teori tentang distribusi pendapatan.
Bab III Metodologi,
Mencakup sumber data, konsep dan definisi serta teknik analisis yang
digunakan dalam penulisan ini.
Bab IV Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kota Semarang 2012,
Berisi uraian ringkas tentang distribusi pendapatan dan Pola konsumsi di Kota
Semarang.
Bab V Penutup,
Berisi kesimpulan dan saran.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ketimpangan distribusi pendapatan tidak terlepas atau sangat erat hubungannya
dengan kemiskinan. Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua
negara di dunia. Menurut Kuncoro (1997), kemiskinan dapat ditinjau dari 2 sisi, yaitu :
pertama, kemiskinan absolute, dimana dengan pendekatan ini di identifikasikan jumlah
penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tertentu. kedua, kemiskinan relatif,
yaitu pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing golongan
pendapatan. Dengan kata lain, kemiskinan relatif amat erat kaitannya dengan masalah
distribusi pendapatan.
Badan Pusat Statistik dalam "Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan
2012", untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan tersebut telah muncul
beberapa teori maupun ukuran yang digunakan, antara lain :
2.1. Teori Pareto
VilfredoPareto (1897) dalam Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan
2009 (BPS, 2009), setelah melakukan penelitian mengenai distribusi pendapatan di
Eropa, mendapatkan bentuk kurvanya (untuk setiap negara) tidaklah mengikuti
distibusi normal, tapi mengikuti perumusan sebagai berikut:
A = Jumlah penduduk yang mempunyai pendapatan lebih besar daripada X
X = Tingkat pendapatan tertentu dari keluarga atau individu yang
bersangkutan
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
N = Jumlah penduduk total
b = Parameter yang nilainya antara 1 dan 2
Berdasarkan hasil tersebut, Pareto, menyatakan bahwa akan selalu ditemui
ketimpangan dalam setiap negara, dimana kelompok penduduk yang terkaya
mendapatkan porsi yang terbanyak dari pendapatan nasional negaranya. Penemuannya
ini selanjutnya dikenal sebagai Pareto Law, yang menyatakan bahwa 20 persen
kelompok penduduk terkaya menikmati 80 % dari pendapatan nasional negaranya.
2.2. Indeks Theil dan Indeks -L
Ada sejumlah ukuran ketimpangan yang memenuhi semua kriteria bagi sebuah
ukuran ketimpangan yang baik. Diantaranya yang paling banyak digunakan adalah
Indeks Theil dan Indeks-L (ukuran deviasi log rata-rata). Kedua ukuran tersebut
masuk dalam famili ukuran ketimpangan "generalized enthropy". Rumus "generalized
enthropy" secara umum dapat ditulis sebagai berikut:
( ) ( )* ∑ (̅) +,
̅ adalah rata-rata pendapatan (pengeluaran).
Nilai GE bervariasi antara 0 dan ∞ dengan 0 mewakili distribusi yang merata dan
nilai yang lebih tinggi mewakili tingkat ketimpangan yang lebih tinggi. Parameter α
dalam kelompok ukuran GE mewakili penimbang yang diberikan pada jarak antara
pendapatan pada bagian yang berbeda dari distribusi pendapatan. Untuk nilai α yang
lebih rendah, GE lebih sensitif terhadap perubahan pada ekor bawah dari distribusi
(penduduk miskin), dan untuk nilai α yang lebih tinggi GE lebih sensitif terhadap
perubahan yang berakibat pada ekor atas dari distribusi (penduduk kaya).
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Nilai α yang paling umum digunakan adalah 0 dan 1.
a) GE (1) disebut sebagai indeks Theil, yang dapat ditulis sebagai berikut:
GE(1) = ∑ ( ̅ ) ( ̅ )
b) GE (0), juga dikenal dengan indeks-L, disebut ukuran deviasi log rata-rata
(mean log deviation) karena ukuran tersebut memberikan standar deviasi dari
log (y):
GE(0) = ∑ (̅)
2.3. Teori Gini Ratio
Koefisien gini adalah salah satu ukuran yang paling sering digunakan untuk
mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Rumus koefisien gini
adalah sebagai berikut :
∑( )
G = Gini Ratio
Pi = Persentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i
Qi = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i
Qi-1 = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i-1
k = Banyaknya kelas pendapatan
Oshima menetapkan sebuah kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah
pola pengeluaran suatu masyarakat ada pada ketimpangan taraf rendah, sedang atau
tinggi.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Untuk itu ditentukan kriteria sebagai berikut :
a. Ketimpangan taraf rendah, bila G < 0,35
b. Ketimpangan taraf sedang, bila G antara 0,35 - 0,5
c. Ketimpangan taraf tinggi, bila G > 0,5
Nilai indeks Gini ada diantara 0 dan 1. Semakin tinggi nilai Indeks Gini
menunjukkan ketidakmerataan pendapatan yang semakin tinggi. Jika nilai Indeks
Gini adalah nol maka artinya terdapat kemerataan sempurna pada distribusi
pendapatan, sedangkan jika bernilai satu berarti terjadi ketidakmerataan pendapatan
yang sempurna. Untuk publikasi resmi Indonesia oleh BPS, baik ukuran
ketidakmerataan pendapatan versi Bank Dunia maupun Indeks Gini, penghitungannya
menggunakan data pengeluaran.
Kurva Lorez
Keterangan: 6
- Sumbu OA menyatakan persentase jumlah penduduk
- Sumbu OC menyatakan persentase pendapatan
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Titik K pada kurva OKLB menunjukkan 40 persen jumlah penduduk menerima
pendapatan sebesar 10 persen total pendapatan. Sedang titik M pada kurva OMNB
menggambarkan bahwa 40 persen jumlah penduduk menerima bagian pendapatan
sebesar 17 persen dari total pendapatan. Berarti distribusi pendapatan yang digambarkan
oleh kurva OMNB lebih merata dari pada distribusi pendapatan yang ditunjukkan oleh
kurva OKLB.
Kelemahan Gini Ratio adalah besarnya nilai gini ratio tidak bisa menjelaskan
letak ketimpangannya. Penjelasan ini dapat diilustrasikan dengan membuat kurva
OMNB yang nilai Gini Rationya dibuat sama dengan kurva OKLB. Dalam kurva (yang
diarsir) golongan bawah lebih menderita dibandingkan kurva OMNB karena persentase
yang diterima oleh 40 persen penduduk hanya 10 persen pendapatan, sedang pada kurva
OKLB 40 persen penduduk menerima bagian 17 persen dari total pendapatan. Untuk
mengatasi kelemahan ini para pakar menganjurkan agar ukuran ini dilengkapi dengan
ukuran lain seperti Kriteria Bank Dunia, sehingga diketahui keadaan penduduk kelas
bawah atau kelas atas yang timpang.
Daimon dan Thorbecke (1999-5) dalam Analisis dan Penghitungan Tingkat
Kemiskinan 2009 (BPS, 2009) berpendapat bahwa penurunan ketimpangan (perbaikan
distribusi pendapatan) selalu tidak konsisten dengan bertambahnya insiden kemiskinan
kecuali jika terdapat dua aspek yang mendasari inkonsistensi tersebut.
a. Pertama, variasi distribusi pendapatan dari kelas terendah meningkat secara
drastis sebagai akibat krisis.
b. Kedua, merupakan persoalan metodologi berkaitan dengan keraguan dalam
pengukuran kemiskinan dan indikator ketimpangan.
Beberapa kriteria bagi sebuah ukuran ketimpangan yang baik misalnya:
a. Tidak tergantung pada nilai rata-rata (mean independence). Ini berarti bahwa
jika semua pendapatan bertambah dua kali lipat, ukuran ketimpangan tidak akan
berubah. Koefisien Gini memenuhi syarat ini.
b. Tidak tergantung pada jumlah penduduk (population size independence). Jika
penduduk berubah, ukuran ketimpangan seharusnya tidak berubah, jika kondisi
lain tetap (ceteris paribus). Koefisien Gini juga memenuhi syarat ini.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
c. Simetris. Jika antar penduduk bertukar tempat tingkat pendapatannya,
seharusnya tidak akan ada perubahan dalam ukuran ketimpangan. Koefisien Gini
juga memenuhi hal ini.
d. Sensitivitas Transfer Pigou-Dalton. Dalam kriteria ini, transfer pandapatan dari
si kaya ke si miskin akan menurunkan ketimpangan. Gini juga memenuhi
kriteria ini.
Ukuran ketimpangan yang baik juga diharapkan mempunyai sifat:
a. Dapat didekomposisi
Hal ini berarti bahwa ketimpangan mungkin dapat didekomposisi (dipecah)
menurut kelompok penduduk atau sumber pendapatan atau dalam dimensi lain.
Indeks Gini tidak dapat didekomposisi atau tidak bersifat aditif antar kelompok.
Yakni nilai total Koefisien Gini dari suatu masyarakat tidak sama dengan jumlah
nilai Indeks Gini dari sub-kelompok masyarakat (sub-group).
b. Dapat diuji secara statistik
Seseorang harus dapat menguji signifikansi perubahan indeks antar waktu. Hal
ini sebelumnya menjadi masalah, tetapi dengan teknik bootstrap interval (selang)
kepercayaan umumnya dapat dibentuk.
2.4. Kriteria Bank Dunia
Bank Dunia, dalam upaya mengukur ketimpangan pendapatan, membagi
penduduk menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok 40 persen penduduk berpendapatan
rendah, kelompok 40 persen penduduk berpendapatan menengah, dan kelompok 20
persen penduduk berpendapatan tinggi. Ketimpangan pendapatan ditentukan
berdasarkan besarnya jumlah pendapatan yang diterima oleh kelompok 40 persen
penduduk berpendapatan rendah, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Bila persentase pendapatan yang diterima oleh kelompok 40 persen penduduk
berpendapatan rendah lebih kecil dari 12 persen, maka dikatakan terdapat
ketimpangan pendapatan tinggi.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
b. Bila persentase pendapatan yang diterima oleh kelompok 40 persen penduduk
berpendapatan rendah antara 12 persen sampai dengan 17 persen, maka
dikatakan terdapat ketimpangan pendapatan moderat/sedang/menengah.
c. Bila persentase pendapatan yang diterima oleh kelompok 40 persen penduduk
berpendapatan rendah lebih besar dari 17 persen, maka dikatakan terdapat
ketimpangan pendapatan rendah.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 9
BAB III METODOLOGI
BAB III
METODOLOGI
3.1. Sumber Data
Distribusi pendapatan penduduk 2012 dihitung berdasarkan data hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2012 yang pengumpulan datanya
dilakukan melalui wawancara tatap muka antara petugas survei dengan responden.
3.2. Konsep dan Definisi
Konsep dan definisi yang dipakai pada Susenas 2012 yang terkait diantaranya :
Rumah tangga
Rumah tangga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami
sebagian atau seluruh bangunan fisik/sensus dan biasanya tinggal bersama serta makan
dari satu dapur dalam pengertian bahwa kebutuhan sehari-hari diurus bersama-sama
menjadi satu.
Anggota Rumah Tangga / Penduduk
Anggota Rumah Tangga (ART) / penduduk adalah orang yang biasanya tinggal
di suatu rumah tangga, baik yang berada di dalam rumah tangga waktu pencacahan
maupun sementara tidak ada. Yang bepergian walaupun kurang dari enam bulan
tetapi dengan tujuan pindah/akan meninggalkan rumah enam bulan atau lebih, tidak
dianggap sebagai ART. Orang yang telah tinggal di rumah tangga enam bulan atau
lebih atau yang telah tinggal di dalam rumah tangga kurang dari enam bulan tetapi
berniat tinggal enam bulan atau lebih dianggap sebagai ART.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 10
BAB III METODOLOGI
Pengeluaran
Pengeluaran rumah tangga sebulan adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan
rumah tangga untuk konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumahtangga dibedakan
menjadi dua kelompok yaitu konsumsi makanan dan bukan/non makanan (perumahan,
aneka barang dan jasa, pendidikan, kesehatan, pakaian, barang tahan lama, pajak dan
asuransi, dan keperluan untuk pesta dan upacara). Konsumsi tersebut tanpa
memperhatikan asal barang (membeli atau hasil sendiri atau pemberian) dan terbatas
pada pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga saja, tidak termasuk
konsumsi/pengeluaran untuk keperluan usaha rumah tangga atau diberikan kepada
pihak lain.
Pendapatan
Pendapatan adalah penerimaan berupa uang maupun barang yang diterima atau
dihasilkan. Namun disadari, bahwa informasi pendapatan ini tidak seperti yang
diharapkan, dimana banyak responden cenderung memberikan informasi pendapatan
yang tidak sebenarnya.Oleh sebab itu, data pendapatan sendiri diperkirakan dari data
pengeluaran dengan asumsi bahwa pengeluaran masyarakat merupakan gambaran
dari pendapatan mereka.
3.3. Teknik Analisis
Teori atau ukuran-ukuran yang digunakan dalam tulisan ini adalah Teori Gini
Ratio dan Kriteria Bank Dunia. Sedangkan untuk data pendapatan didekati dengan data
pengeluaran (konsumsi) rumah tangga.
Gini Ratio
Angka Gini Ratio terletak antara 0 - 1 dan apabila angka ini makin mendekati 0
(nol) berarti semakin rendah tingkat ketimpangannya. Sebaliknya apabila angka ini
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 11
BAB III METODOLOGI
semakin mendekati 1 (satu) berarti semakin tinggi tingkat ketimpangan (jurang
pemisah antara si kaya dan si miskin lebar).
Secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
0,00 < G < 0,35 → pemerataan tinggi / ketimpangan rendah
0,35 < G < 0,50 → pemerataan / ketimpangan sedang
G > 0,50 → pemerataan rendah / ketimpangan tinggi
Kriteria Bank Dunia
Pada prinsipnya Kriteria Bank Dunia membagi penduduk ke dalam 3 (tiga)
kelompok pendapatan yaitu 40 persen kelompok penduduk berpendapatan rendah, 40
persen kelompok penduduk berpendapatan sedang dan 20 persen kelompok
berpendapatan tinggi. Pengelompokan seperti ini pada dasarnya sama dengan
menggunakan cara desil (decile) yaitu 40 persen pertama sama dengan desil ke-4; 40
persen kedua sama dengan desil ke-8 dan 20 persen terakhir adalah desil ke-10.
Dalam menentukan besarnya desil ke-i digunakan rumus :
( ) ( )
( )
i = 1, 2, 3, ... 10
ni = Persentase ke-i
Di = Desil ke-i
Qb = Persen kumulatif dari kelas pendapatan sebelum Di
Qa = Persen kumulatif dari kelas pendapatan sesudah Di
Pb = Persen kumulatif dari jumlah penduduk sebelum Di
Pa = Persen kumulatif dari jumlah penduduk sesudah Di
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 12
BAB III METODOLOGI
Kriteria ketimpangan diukur berdasarkan bagian pendapatan yang
diterima kelompok berpendapatan rendah. Jika bagian pendapatan yang diterima
kelompok ini:
Kurang dari 12 persen → pemerataan rendah / ketimpangan tinggi
12 persen - 17 persen → pemerataan / ketimpangan sedang
Di atas 17 persen → pemerataan tinggi / ketimpangan rendah
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 13
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
BAB IV
KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
KOTA SEMARANG
4.1. Gambaran Umum Perekonomian Kota Semarang Tahun 2008 – 2012
Salah satu konsekuensi dari pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan
adalah ketimpangan distribusi pendapatan.
Dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto pada tahun 2012 mencapai
54.384.654 juta rupiah dan Pertumbuhan ekonomi selama lima tahun (2008 – 2012)
mampu tumbuh dengan rata-rata di atas 5 % (lihat Tabel 1 dan 2) maka dapat dikatakan
ekonomi makro kota semarang menunjukan perkembangan yang cukup baik selama
lima tahun tersebut.
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian Kota Semarang,
pendapatan masyarakat yang terlihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per
kapita juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun . Tercatat PDRB per kapita
pada tahun 2012 mencapai 34.787.877,69 juta rupiah atau 11,85% lebih tinggi dari
tahun 2011 yang mencapai 31.101.850,41 juta rupiah.
Ketersediaan data pendapatan perkapita untuk daerah di Indonesia secara umum
dapat dikatakan tidak tersedia, oleh karena itu pengukuran kesejahteraan masyarakat
suatau wilayah umumnya didekati dengan dua pendekatan pendapatan yaitu Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita dan Pengeluaran Konsumsi Perkapita.
Walaupun kedua nilai tersebut tidak menggambarkan pendapatan riil penduduk akan
tetapi secara empiris terbukti dapat memberikan gambaran pendapatan penduduk untuk
dapat menjadi indikator kesejahteraan masyarakat suatu wilayah.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 14
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Tingkat pendapatan suatu wilayah selain dari kemampuan ekonomi wilayah
tersebut juga tergantung jumlah penduduk yang bermukim di wilayah tersebut,jadi
wilayah yang mempunyai nilai PDRB tinggi belum tentu memiliki PDRB perkapita
yang tinggi bila jumlah penduduk wilayah tersebut besar jumlahnya.
Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto (Juta rupiah) Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012
Tahun Atas Dasar Atas Dasar
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
Tahun 2008
Tahun 2009 34.541.219 19.156.814
Tahun 2010 38.465.017 20.180.578
Tahun 2011 43.398.191 21.365.818
Tahun 2012 48.461.410 22.736.136
54.384.654 24.196.487
Tabel 2. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012
Tahun Atas Dasar Atas Dasar
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
Tahun 2008
Tahun 2009 14,62 5,98
Tahun 2010 11,36 5,34
Tahun 2011 12,83 5,87
Tahun 2012 11,67 6,41
12,22 6,42
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 15
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Gambar 1. Grafik Laju Pertumbuhan PDRB Kota Semarang Atas Dasar
Harga Berlaku dan Atas Harga Konstan Tahun 2008 – 2012
25,00 5,98
20,00
5,87 6,41 6,42
15,00 14,62 5,34 12,83 11,67 12,22
10,00 11,36
5,00
0,00 2009 2010 2011 2012
2008
PDRB adh Berlaku PDRB adh Konstan 2000
Tabel 3. Produk Domestik Regional Bruto Perkapita (Rupiah)Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012
Tahun Atas Dasar Atas Dasar
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
Tahun 2008 34,787,877.69
Tahun 2009 25.010.837,45 15,477,609.72
Tahun 2010 27.891.154,90 13.121.875,16
Tahun 2011 31.101.850,41 13.731.386,57
Tahun 2012 34.787.877,69 14.591.731,86
15.477.609,72
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 16
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
4.2. Pola Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi perkapita dapat digunakan sebagi pendekatan pendapatan perkapita
sehingga informasi mengenai Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator
yang dapat memberikan gambaran keadaan kesejahteraan penduduk. Semakin tinggi
pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran untuk makanan ke
pengeluaran bukan makanan.
Konsumsi perkapita dapat digunakan sebagi pendekatan pendapatan perkapita
sehingga informasi mengenai Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator
yang dapat memberikan gambaran keadaan kesejahteraan penduduk. Semakin tinggi
pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran untuk makanan ke
pengeluaran bukan makanan.
Pergeseran pola pengeluaran terjadi karena elastisitas permintaan terhadap
makanan pada umumnya rendah, sebaliknya elastisitas permintaan terhadap barang
bukan makanan pada umumnya lebih tinggi. Keadaan ini jelas terlihat pada kelompok
penduduk yang tingkat konsumsi makanannya sudah mencapai titik jenuh, sehingga
peningkatan pendapatan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan barang bukan
makanan, ditabung atau di investasikan. Dengan demikian, pola pengeluaran dapat
dipakai sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk, dimana
perubahan komposisinya digunakan sebagai petunjuk perubahan tingkat kesejahteraan.
Secara umum pergerakan yang terjadi dari tahun 2008 ke tahun 2012 terlihat
bahwa konsumsi non makanan mendominasi struktur konsumsi penduduk Kota
Semarang. Bila melihat komposisi pola konsumsi masyarakat Kota Semarang Tahun
2008 – 2012 terlihat bahwa pengeluaran konsumsi untuk makanan tahun 2008 ke tahun
2012 bergerak dari 43,45 persen menjadi 43,36 persen dan konsumsi non makanan
bergerak dari 56,55 persen menjadi 56,64 persen, secara teoritis komposisi pola
konsumsi dapat dikatakan bahwa masyarakat Kota Semarang mengalami peningkatan
kesejahteraan.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 17
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Tabel 4. Rata-rata Pengeluaran Perkapita Sebulan dan Komposisi Konsumsi
Penduduk Tahun 2008 – 2012
Tahun Rata-rata Pengeluaran Persentase
Per-kapita sebulan (Rp) Makanan Non Makanan
Tahun 2008
Tahun 2009 605.051 43,45 56,55
Tahun 2010 619.672
Tahun 2011 654.535 42,50 57,50
Tahun 2012 749.403
760.649 43,42 56,58
40,75 59,25
43,36 56,64
Gambar 2. Persentase Komposisi Konsumsi Penduduk Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012
100,00 56,55 57,50 56,58 59,25 56,64
90,00
80,00 43,45 42,50 43,42 40,75 43,36
70,00
60,00 Tahun Tahun
50,00 2008 2012
40,00
30,00
20,00
10,00
0,00
Tahun Tahun Tahun
2009 2010 2011
Makanan Non Makanan
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 18
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Bila dilihat dari nominalnya rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk
kota semarang pada tahun 2008 mencapai 605.051 rupiah bergerak secara signifikan
mencapai lebih dari seratus ribu rupiah pada tahun 2012 yaitu 760.649 rupiah. Komoditi
„Perumahan dan fasilitas rumah tangga‟ dan komoditi „aneka barang dan jasa lainnya‟
mendapat porsi tertinggi masing-masing 36% dan 18% di tahun 2012. Disusul biaya
pendidikan 8 %, makanan dan minuman jadi 7%, kesehatan dan barang tahan lama
masing-masing 5%. Sedangkan pengeluaran untuk kebutuhan yang lain dibawah 3%.
Pengeluaran perkapita kota semarang pada tahun 2012 sebesar Rp 760.649
terbagi sebesar Rp. 329.819 untuk pengeluaran makanan dan Rp. 430.831 untuk
pengeluaran non makanan. Makanan dan minuman jadi mendapat porsi terbesar 35,33
% dari rata-rata pengeluaran makanan. Empat komoditas dengan porsi terbesar
selanjutnya padi-padian ( 12,54 % ), tembakau dan sirih ( 9,12 % ), telur dan susu ( 7,18
% ), dan buah-buahan sebesar 5,75 %.
Sedangkan rata-rata pengeluaran non makanan dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan perumahan dan fasilitas rumah tangga sebesar 40,50 %. Selanjutnya
dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan aneka barang dan jasa 38,74 %, dan barang
tahan lama 6,05 %, sisanya pajak, pungutan dan asuransi, pakaian, alas kaki dan tutup
kepala, juga keperluan pesta dan upacara masing-masing kurang dari 5 %.
Dibandingkan dengan kabupaten atau kota lain di Provinsi Jawa Tengah maka
rata-rata pendapatan per kapita sebulan kota semarang menduduki peringkat ke tiga
setelah Kota Salatiga dan Kota Magelang, sedangkan peringkat keempat dicapai Kota
Surakarta.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 19
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Gambar 3. Rata-rata Pendapatan Per-kapita sebulan dirinci menurut
Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2012
Prov. Jawa Tengah 506.974,54
Kota Tegal 564.128,45
Kota Pekalongan 442.724,64
Kota Semarang 760.648,58
Kota Salatiga 926.616,76
Kota Surakarta
Kota Magelang 685.220,87
Kab. Brebes 822.561,45
Kab. legal
Kab. Pemalang 448.397,69
492.395,97
Kab. Pekalongan
Kab. Batang 333.656,19
Kab. Kendal 485.938,24
Kab. Temanggung 432.757,83
Kab. Semarang 582.351,39
Kab. Demak
Kab. Jepara 419.669,62
Kab. Kudus 661.907,71
Kab. Pati
Kab. Rembang 503.444,37
Kab. Blora 528.983,35
Kab. Grobogan
Kab. Sragen 488.490,74
438.309,30
Kab. Karanganyar
Kab. Wonogiri 472.521,15
Kab. Sukoharjo 399.226,13
Kab. Klaten
Kab. Boyolali 500.563,97
Kab. Magelang 554.821,62
643.036,49
Kab. Wonosobo
Kab. Purworejo 459.558,49
Kab. Kebumen 583.952,25
Kab. Banjarnegara
Kab. Purbalingga 556.938,69
Kab. Banyumas 566.722,41
372.409,84
Kab. Cilacap 552.525,45
470.637,23
0,00 458.024,69
382.285,69
465.080,45
500.049,94
464.011,48
200.000,00 400.000,00 600.000,00 800.000,00 1.000.000,00
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 20
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Gambar 4. Pola Konsumsi Makanan dan Non Makanan Penduduk
Kota Semarang Tahun 2012
Pajak, Pungutan dan Keperluan Pesta dan Padi-padian, 5,44
Asuransi, 2,49 Upacara/Kenduri, 2,17 Umbi-umbian, 0,10
Ikan/udang/cumi/keran
Pakaian, Alas kaki dan Barang g, 2,47
Tutup Kepala, 2,37 Tahan
Lama, 4,70 Daging, 2,49
Telur dan Susu, 3,11
Aneka Barang dan Jasa Sayur-sayuran, 2,46
Lainnya, 12,17
Kacang-kacangan, 1,44
Pendidikan, 3,58
Kesehatan, 3,58 Buah-buahan, 2,49
Minyakdan
Lemak, 1,69
Bahan
Minuman, 0,81
Bumbu-
bumbuan,
0,52
Makanan dan Minuman Konsumsi
Jadi, 15,32 Lainnya,
1,08
Perumahan dan Fasilitas Tembakau
Rumahtangga, 22,94 dan sirih,
3,95
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 21
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Tabel 5. Pola Konsumsi Makanan dan Non Makanan Penduduk
Kota Semarang Tahun 2012
Jenis Pengeluaran Persen Jenis Pengeluaran Non Persen
Makanan Makanan
(2) (4)
(1) (3)
12,54 40,50
Padi-padian Perumahan dan Fasilitas 38,78
0,22 Rumahtangga
Umbi-umbian 5,69 Aneka Barang dan Jasa 6,32
Ikan / udang / cumi / kerang 5,74 - Kesehatan 10,99
Daging 7,18 - Pendidikan 21,48
Telur dan Susu - Lainnya
5,67 Pakaian, Alas kaki dan Tutup 4,19
Sayur-sayuran Kepala 8,29
3,32 Barang Tahan Lama 4,39
Kacang-kacangan Pajak, Pungutan dan 3,84
5,75 Asuransi
Buah-buahan Keperluan Pesta dan Upacara 100,00
3,90 / Kenduri
Minyak dan Lemak
1,87
Bahan Minuman 1,20
Bumbu-bumbuan 2,48
Konsumsi Lainnya 35,33
Makanan dan Minuman Jadi 9,12
Tembakau dan sirih
100,00
Total
Rata-Rata Pengeluaran Rata-Rata Pengeluaran 444,056
Makanan (Rp.) 305,346 Non Makanan (Rp.)
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 22
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
4.3. Kesenjangan Distribusi Pendapatan
a. Koefisien Gini (Gini Ratio)
Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang penting
karena pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan relatif. Tingginya
ketimpangan pendapatan atau kemiskinan relatif, berarti kebijakan pembangunan
belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah salah satu parameter yang digunakan untuk
menilai ketimpangan distribusi pendapatan. Koefisien Gini bernilai antara 0 sampai
dengan 1 yang merupakan rasio antara luas area antara kurva Lorenz dengan garis
kemerataan sempurna dengan luas area di bawah kurva Lorenz.
Gambar 5. Koefisien Gini Kota Semarang Tahun 2012
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 23
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Koefisien Gini berikut ini didasarkan data SUSENAS mengenai pengeluaran
rumah tangga di Kota Semarang tahun 2008 – 2012.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh angka Koefisien Gini untuk seluruh
rumah tangga sampel pada tahun 2008 sebesar 0,2649. Hal ini berarti bahwa
ketimpangan distribusi pendapatan di Kota Semarang pada tahun 2008 dikategorikan
sebagai tingkat “ ketimpangan rendah ”. Hal ini berarti bahwa dari sampel rumah tangga
penerima pendapatan, memperoleh sekitar 26,49 persen dari total pendapatan daerah
tahun 2008. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka distribusi pendapatan di Kota
Semarang pada tahun 2008 termasuk kategori ketimpangan rendah.
Tabel 6. Koefisien Gini Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2008 – 2012
Tahun Kota Semarang Jawa Tengah
Tahun 2008 0,2649 0,3033
Tahun 2009 0,3710 0,2833
Tahun 2010 0,3224 0,2908
Tahun 2011 0,3545 0,3462
Tahun 2012 0,3518 0,3554
Selanjutnya Pada tahun 2008 indeks gini di Kota Semarang merupakan Indeks
Gini terendah selama kurun waktu lima tahun terakhir. Bahkan dilihat dari rangking Kota
semarang menduduki peringkat 16 dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.
Peringkat terbaik bagi Kota Semarang selama kurun waktu 2008 – 2012. Berbeda dengan
tahun berikutnya, pada tahun 2009 Indeks Gini tercatat sebesar 0,3710 yang merupakan
nilai terbesar dalam kurun lima tahun terakhir. Hal ini berarti tingkat ketimpangan
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 24
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
distribusi pendapatan Kota Semarang menembus batas ketimpangan sedang. Peringkat
dari Indeks Gini pada tahun 2009 tercatat terendah yaitu ke 35 dari seluruh
kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, hal ini mengulang kejadian seperti pada tahun
2007. Sedangkan Indeks Gini pada tahun 2010 hingga 2012 berfluktuasi, berturut-turut
tercatat sebesar 0,3224; 0,3545; dan 0,3518. Dimana pada tahun 2010 ketimpangan
distribusi pendapatan Kota Semarang menurun kembali pada level ketimpangan rendah,
namun di tahun 2011 dan 2012 kembali menembus level ketimpangan sedang. Rangking
indek gini yang dicapai pada dua tahun terakhir ini ternyata lebih rendah dari tahun 2009,
yaitu 29 dan 23 dari 35 kabupaten/kota se Provinsi Jawa Jengah.
Gambar 6. Perkembangan dan Level Gini Kota Semarang
Tahun 2008 – 2012
1,00
0,90
0,80
0,70
0,60
0,50
0,40 0,3224 0,3518
0,30 0,2694 0,3710 2010 0,3545 2012
0,3014 2008 2009 2011
0,20
0,10
0,00
2007
Perkembangan dan Level Gini Kota Semarang
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 25
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Hasil perhitungan Koefisien Gini Kota Semarang selama periode 2008 – 2012
menunjukkan bahwa Indeks Gini di Kota Semarang selalu lebih tinggi dibandingkan
Provinsi Jawa Tengah kecuali pada tahun 2008 dan 2012. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa selama periode 2008 – 2012 kesenjangan distribusi pendapatan di Kota Semarang
relatif lebih tinggi dibandingkan Provinsi Jawa Tengah. Selanjutnya pada periode 2009,
2011 dan 2012, tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di Kota Semarang dalam
tingkat “ketimpangan sedang”. Sementara distribusi pendapatan di Provinsi Jawa Tengah
tahun 2008 hingga 2011 tetap berada dalam tingkat ketimpangan rendah. Fluktuasi
Indeks Gini yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah selama lima tahun terakhir cenderung
mengalami peningkatan walaupun masih dalam level ketimpangan distribusi pendapatan
rendah, kecuali tahun 2012 yang mencapai ketimpangan sedang. Namun hal ini
selayaknya menjadi perhatian bagi pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya dalam
memperhatikan jumlah penduduk miskin. Konsekuensi yang sama juga berlaku untuk
Kota Semarang, dimana Indeks gini yang telah mencapai level ketimpangan distribusi
pendapatan sedang.
Tabel 7. Peringkat Nilai Gini Ratio Kabupaten/Kota di wilayah
Provinsi Jawa Tengah
Rangking Rangking Rangking Rangking Rangking
Kabupaten/Kota Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
(1) 2012 2011 2010 2009 2008
1 Kab. Cilacap (2) (3) (4) (5) (6)
2 Kab. Banyumas
3 Kab. Purbalingga 7 8 14 25 4
4 Kab. Banjarnegara
5 Kab. Kebumen 18 28 34 34 35
6 Kab. Purworejo
7 Kab. Wonosobo 11 6 8 24 6
8 Kab. Magelang
9 Kab. Boyolali 16 30 16 17 27
20 21 4 9 19
5 31 28 30 20
32 25 13 10 29
10 11 12 19 30
34 32 19 21 25
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 26
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Rangking Rangking Rangking Rangking Rangking
Kabupaten/Kota Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
(1) 2012 2011 2010 2009 2008
10 Kab. Klaten (2) (3) (4) (5) (6)
11 Kab. Sukoharjo
12 Kab. Wonogiri 14 12 15 7 31
13 Kab. Karanganyar
14 Kab. Sragen 24 16 29 14 3
15 Kab. Grobogan
16 Kab. Blora 8 27 27 31 23
17 Kab. Rembang
18 Kab. Pati 35 34 26 33 26
19 Kab. Kudus
20 Kab. Jepara 29 24 21 12 22
21 Kab. Demak
22 Kab. Semarang 25 13 24 8 15
23 Kab. Temanggung
24 Kab. Kendal 33 19 17 15 34
25 Kab. Batang
26 Kab. Pekalongan 13 2 1 2 32
27 Kab. Pemalang
28 Kab. Tegal 3 7 11 20 28
29 Kab. Brebes
30 Kota Magelang 17 26 10 13 2
31 Kota Surakarta
32 Kota Salatiga 26 14 2 3 21
33 Kota Semarang
34 Kota Pekalongan 19 10 9 5 5
35 Kota Tegal
28 17 22 18 18
22 35 20 27 11
27 33 18 28 12
4 3 23 23 9
25617
11341
6 4 30 22 10
9 20 5 6 14
31 22 31 29 13
30 18 33 26 17
21 23 35 32 33
23 29 32 35 16
12 9 25 16 8
15 15 7 11 24
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 27
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Gambar 7. Koefisien Gini Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2008 – 2012
Th. 2012 0,3554
Th. 2011 0,3518
Th. 2010
Th. 2009 0,3462
Th. 2008 0,3545
0,2908
0,3224
0,2833
0,3710
0,3033
0,2649
0,0000 0,0500 0,1000 0,1500 0,2000 0,2500 0,3000 0,3500 0,4000
Provinsi Jawa Tengah Kota Semarang
b. Relatif Inequality (Kriteria Bank Dunia)
Pola distribusi pendapatan masyarakat yang didasarkan pada hasil perhitungan
indeks gini hanya bisa menggambarkan tingkat pemerataan pendapatan secara umum,
tetapi belum menjelaskan besarnya porsi yang diterima oleh kelompok berpendapatan
rendah/miskin dari keseluruhan pendapatan wilayah. Dengan menggunakan ukuran yang
dikembangkan oleh Pusat Penelitian Bank Dunia dan Lembaga Studi Pembangunan
Universitas Sussex, kita akan mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai masalah
ketidakadilan (inequality) melalui indikator yang disebut relative inequality atau biasa
disebut dengan kriteria Bank Dunia. Relative Inequality diartikan sebagai ketimpangan
dalam distribusi pendapatan yang diterima oleh berbagai golongan masyarakat.
Berdasarkan hasil penghitungan ketimpangan distribusi pendapatan Kota
Semarang berdasarkan pendekatan Kriteria Bank Dunia, menunjukkan bahwa secara
umum tingkat kesenjangan distribusi pendapatan di Kota Semarang selama lima tahun
terakhir yaitu dari tahun 2008 – 2012 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah
(low inequality). Ini ditunjukan oleh porsi pendapatan yang diterima oleh kelompok
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 28
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
40 % dari penduduk berpendapatan rendah, berkisar antara 18,24 persen hingga 24,68
persen, yang berarti lebih tinggi dari ambang batas 17 persen pendapatan, dan berada
dalam kriteria low inequality dalam kriteria Bank dunia.
Dengan memperhatikan adanya perubahan porsi pendapatan yang diterima oleh
40 persen kelompok rumah tangga berpendapatan rendah selama periode 2008 – 2012
menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Tahun 2008 kelompok ini menikmati sekitar 24,68
persen dari bagian pendapatan regional. Sementara tiga tahun berikutnya ( 2009 – 2012 ),
porsi pendapatan yang dinikmati oleh golongan rumah tangga berpendapatan rendah ini
semakin menurun. Hal ini berarti bahwa meskipun tingkat ketimpangannya masih dalam
kategori rendah, namun dari tahun ketahun menunjukkan kecenderungan peningkatan
ketimpangan pendapatan masyarakat. Kondisi ini harus mendapat perhatian serius dari
pemerintah daerah, bila ada keinginan untuk menurunkan proporsi penduduk miskin
dimasa depan. Masalah ketimpangan distribusi pendapatan antar waktu dan antar wilayah
akan selalu menjadi perhatian dan menarik untuk diamati, karena merupakan bagian dari
konsekuensi pertumbuhan ekonomi disuatu wilayah yang tidak akan pernah hilang.
Tabel 8. Ketimpangan Pendapatan di Kota Semarang Berdasarkan Kriteria
Bank Dunia Tahun 2008 – 2012
Kriteria Bank Dunia
Tahun 40 % Rendah 40 % Menengah 20 % Tinggi
38,45
Tahun 2008 24,68 36,87 46,73
Tahun 2009 43,19
Tahun 2010 18,81 34,46 45,58
Tahun 2011 45,60
Tahun 2012 21,68 35,13
18,15 36,27
18,24 36,16
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 29
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Dengan kriteria Bank Dunia secara umum tidak terlihat adanya ketimpangan
pendapatan dikota semarang, hal ini ditunjukkan oleh persentase pendapatan kelompok
40% berpendapatan terendah yang berada di atas 17 %. Namun terjadi kecenderungan
penurunan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 (24,68 - 18,24). Kondisi yang
sama diperlihatkan oleh koefisien Gini yang menunjukkan ketimpangan yang semakin
meningkat dari Tahun 2008 sampai dengan 2012. Hal ini ditunjukkan Koefisien Gini dari
0,2469 pada tahun 2008 dan terus meningkat hingga mencapai 0,3518 pada tahun 2012.
Berarti secara total kedua ukuran ini memberikan hasil dengan kecenderungan yang
hampir sama, yaitu sejak tahun 2008 ketimpangan distribusi pendapatan di kota
semarang selama periode lima tahun terakhir cenderung meningkat, namun masih pada
level yang rendah. Tetapi ukuran Gini Ratio periode 2009 dan 2011 berada pada level
sedang. Untuk kota semarang kedua ukuran ketimpangan ini hampir tidak
memperlihatkan perbedaan yang berarti, namun Koefisien Gini cenderung fluktuatif pada
level ketimpangan pendapatan yang rendah hinga sedang. Untuk Provinsi Jawa Tengah,
ukuran koefisien gini berfluktuatif, levelnya masih dalam posisi ketimpangan rendah
namun secara perlahan bergerak pada posisi menuju ketimpangan distribusi pendapatan
sedang yang dimulai pada tahun 2009 sampai dengan 2012. Hasil pengukuran tersebut
menunjukkan ketimpangan yang tetap rendah dan berada dalam posisi yang belum
menghawatirkan, namun indikasi kecenderungannya selama periode 2008 – 2012 perlu
untuk lebih dicermati.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 30
BAB IV KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Gambar 8. Ketimpangan Pendapatan di Kota Semarang Berdasarkan
Kriteria Bank Dunia Tahun 2012
110,00 45,60
100,00
36,16
90,00 18,24
80,00
70,00 Kumulatif Pendapatan (persen)
60,00
50,00
40,00
30,00
20,00
10,00
0,00
40 % I (Rendah) 40 % II (Sedang) 20 % III (Tinggi)
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 31
BAB V PENUTUP
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan :
1. Koefisien Gini Kota Semarang selama kurun waktu lima tahun terakhir
( 2008 – 2012 ) mengalami fluktuasi dari posisi ketimpangan distribusi
pendapatan rendah hingga sedang.
2. Koefisien Gini Provinsi Jawa Tengah selama kurun waktu lima tahun
terakhir ( 2008 – 2012 ) relatif stabil dalam posisi ketimpangan distribusi
pendapatan rendah.
3. Koefisien Gini Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah selama kurun
waktu lima tahun terakhir ( 2008 – 2012 ) mengalami fase dari posisi
ketimpangan distribusi pendapatan rendah menuju ketimpangan distribusi
pendapatan sedang. Hal ini berarti terjadi kesenjangan distribusi pendapatan
yang semakin melebar.
4. Menurut kriteria bank dunia persentase pendapatan yang diterima oleh
kelompok 40% berpendapatan terendah kota semarang berada di atas 17 %,
namun tetap memiliki fase yang tidak berbeda dengan apa yang ditunjukan
oleh koefisien gini.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 32
BAB V PENUTUP
5.2. Saran-saran
1. Pertumbuhan ekonomi kota semarang yang terus meningkat tetapi tidak
diimbangi dengan kecenderungan tingkat pemerataan pendapatan yang
tinggi atau ketimpangan distribusi pendapatan yang cenderung meningkat
terutama dalam empat tahun terakhir perlu diwaspadai. Progaram-program
pengentasan kemiskinan harus terus dilanjutkan dan diperketat
pengawasannya. Hal ini untuk menghindari kebocoran /tidak tepat sasaran.
2. Jumlah penduduk miskin dan kantong kemiskinan di kota semarang harus
mendapat perhatian khusus. Dengan memperhatikan dan memetakan potensi
sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada didaerah tersebut
akan mempercepat proses pengentasan kemiskinan yang pada akhirnya akan
memperkecil tingkat kesenjangan distribusi pendapatan.
Pemerataan Pendapatan dan Pola konsumsi Penduduk Kota Semarang Tahun 2012 33