The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

nurul amelia -cerpen inftk 2

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by na0955307, 2022-10-15 13:40:05

Misteri Perpustakaan

nurul amelia -cerpen inftk 2

vi

Penyusun : Nurul Amelia
Penyunting : Nurul Amelia
Penata letak : Nurul amelia
Ilustrasi : Nurul Amelia
Desain sampul : Nurul Amelia
Judul buku : Misteri perpustakaan
Penulis : Nurul Amelia
Kota Terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2022
Tebal halaman : 37 halaman
Genre buku : misteri

ii

Daftar isi

KATA PENGANTAR .......................................... iv
QUOTES........................................................... v

SEKOLAH BARU ............................................................. 1
DIA BUKAN MANUSIA.................................................... 5
SIAPA MEREKA............................................................... 9
DEVAN KRITIS............................................................... 12
PAKET MISTERIUS....................................................... 16
TRAGEDI PERPUSTAKAAN ....................................... 19
11.31 ................................................................................ 22
TEROR DIMULAI ........................................................... 25
PELAKU TEROR............................................................ 28
KEJADIAN SEBENARNYA........................................... 31
EPILOG............................................................................ 35
Penutup .......................................................... vi
Biografi .......................................................... vii

iii

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nyalah,
sehingga Cerita Pendek Karya saya ini dapat
diselesaikan dengan baik.

Buku ini berisikan wujud cerita pendek
bertemakan “misteri perpustakaan”. Kiranya buku
ini dapat menghibur bagi pembacanya.

Saya menyadari bahwa cerita ini masih jauh
dari kata“sempurna”, oleh karenanya saya
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk perbaikan dimasa yang akan
datang. Akhir kata, saya mengucapkan banyak
terima kasih.

Jakarta, September 2022

Penyusun

iv

QUOTES

“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar
kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap
di sana. Bumi hanya sedang berputar.” – Dee Lestari
“Berimajinasi memang lebih menyenangkan. Tapi
kita harus sadar bahwa yang kita hadapi tak
seindah saat kita berimajinasi.

v

SE SEKOLAH BARU

2 tahun setelah kejadian itu....

Seorang gadis dengan memakai seragam putih abu
sedang berdiri menatap siswa lain yang berpakaian
sama dengan nya di tengah gerbang.

Wajah nya yang cantik, bibir nya begitu pucat
seperti orang yang sedang sakit tetapi itulah ciri
wajah nya selalu pucat karna terlalu putih bukan
pucat karna sakit.
“Sekolah baru lagi?” tanya gadis itu pada dirinya
sendiri, sebenarnya dirinya lelah terus berganti-
ganti sekolah dan harus bisa cepat beradaptasi.

Tinnn!!!

Gadis itu terlonjak kaget lalu segera berlari ke sisi
gerbang, sebuah mobil mewah yang meng-klakson
nya tadi berhenti sebentar perlahan kaca mobil
terbuka.

Terlihat dua cowo yang berada didalam mobil itu
tertawa.
“Lo murid baru ya? Ngapain lo di tengah hah? Lain
kali kalo gak mau ketabrak jangan ngelamun di

1

tengah, ngelamun di WC sono biar gak ada yang
ganggu” Ucap salah satu cowo di dalam mobil itu di
balas tawa oleh yang lain nya. Tidak lama mobil itu
melesat pergi meninggalkan gadis itu yang sedang
di perhatikan hampir semua siswa disana.

Gadis bername tag Alasya Hydra A itu cepat berlari
dengan menutup wajah nya karna terus di pandang
oleh semua siswa yang berada disana.

Asa berjalan menyusuri lorong beberapa kelas
celingak-celinguk mencari ruang kepsek namun
sedari tadi dia belum menemukan nya juga.

Gadis itu memberhentikan langkah nya saat sudah
berada di depan pintu perpustakaan, melihat ke
arah pintu berwarna coklat itu.

Asa berjalan mendekat ke arah pintu, saat sudah
dekat Asa mendengar suara orang yang sedang
berlarian didalam.

“Apa ada siswa lari-larian di dalam perpus?” tanya
Asa kepada dirinya sendiri. Asa berniat tidak peduli
tetapi suara orang yang sedang berlarian tadi
kembali terdengar membuat Asa membalikkan
tubuh nya kembali mendekat ke pintu
perpustakaan.

Perlahan tangan Asa menyentuh engsel pintu dan
sedikit mendorong nya.

“HEYY!!!”

2

Asa terkaget dengan cepat dia melihat kearah
orang yang berteriak tadi, orang itu berjalan berlari
ke arah nya.

“Kenapa ya pak?” tanya Asa sopan kepada lelaki
paruh baya yang sekarang sudah berada di depan
nya.

“Kamu murid baru kan? Biar saya antar ke ruang
kepsek, katanya kamu belum ketemu juga ruang
kepsek nya?” Ujar lelaki itu yang diketahui adalah
satpam disekolah baru nya.

“Iya pak saya belum menemukan ruang kepsek
nya”

“Yasudah, mari” Satpam tadi yang bernama Pak
Joko berjalan terlebih dahulu lalu di susul oleh Asa
di belakang nya.

Asa berjalan di belakang Pak Joko sebelum nya dia
menoleh ke arah dalam jendela perpustakaan
karna merasa ada yang memperhatikan nya.

Asa berusaha untuk tidak peduli lalu menyusul Pak
Joko yang sudah agak jauh di depan nya.

Pak Joko dan Asa telah sampai di depan pintu
ruang kepsek.

“Makasih ya pak udah mau anterin saya” Ucap Asa
dibalas anggukan oleh Pak Joko.

3

“Bapak tau kamu orang baik, jangan pernah jadi
siswa nakal ya nak!” Ujar Pak Joko sebelum benar-
benar pergi dari hadapan Asa.
Asa mengerutkan dahi nya bingung, apa arti dari
ucapan Pak Joko tadi?.

4

BAB 2

DIA BUKAN MANUSIA

Salah satu buku di sisi kiri Asa tiba-tiba
terjatuh tanpa ada yang menjatuhkan, Asa tampak
terkaget dan bingung pasal nya sekarang ditempat
itu hanya ada dirinya sendiri.

Asa membungkukkan tubuh nya memungut buku
yang jatuh tadi, gadis itu melihat sekitar bisa saja
ada orang yang menjahili nya atau sekedar iseng.

Tetapi tidak ada gerak-gerik seorang pun disana,
tanpa berpikir panjang Asa segera mengembalikan
buku yang jatuh tadi.

Saat mengembalikan buku nya di rak, Asa terlonjak
kaget karna ada seseorang di balik rak itu.

Nafas Asa sudah tidak beraturan, orang itu tampak
menunduk hanya bagian kepala nya saja yang Asa
dapat lihat, wajah nya tertutup oleh rambut nya
yang begitu panjang.

Dia tampak tidak bergerak, Asa semakin takut
karna orang itu sepertinya yang menjatuhkan buku
tadi.

5

“K-kamu siapa?” tanya Asa berusaha untuk tetap
berani mengajak nya berbicara.

Tidak ada jawaban dari orang itu, karna Asa
penasaran dia berjalan perlahan ke dekat rak untuk
melihat lebih jelas orang itu.

“Asa!” teriak Devan dari jauh dan berlari ke arah
Asa.

Asa menoleh sebentar lalu kembali melihat orang
yang berada di balik rak tadi, tetapi orang itu sudah
tidak ada. Asa bingung apakah tadi itu manusia?
Jika iya maka Devan juga akan melihat nya
bukan?.

Devan sudah berada di depan Asa “Nyari apa?”
tanya Devan.

“Tadi liat ada orang gak sih disini? ko kayak cewe
gitu rambut nya panjang, tadi bener-bener ada tapi
sekarang kok gak ada ya?” tanya Asa tanpa
menjawab pertanyaan Devan.

“Dia bukan manusia” ujar Devan membuat Asa
mengerutkan kening nya bingung, bahkan Asa saja
tidak memiliki indra keenam lalu kenapa dirinya
bisa melihat mereka yang ghoib.

“Gue bukan anak indigo Devan” Ucap Asa tidak
terima karna ucapan Devan. Asa benar-benar yakin
jika tadi itu adalah manusia sepertinya, hanya saja
dia sedang iseng tadi.

6

“Lupain, ayok pergi!” ajak Devan berlalu terlebih
dahulu lalu di susul Asa yang masih keheranan.

Sosok wanita tadi menampakkan dirinya di
belakang Asa, dia memakai baju seragam putih
abu yang tampak sudah lusuh serta ada darah di
bagian perut nya.

Rambut nya dia biarkan menutupi wajah nya yang
pucat, dia melihat kepergian Asa dan Devan
dengan tatapan berharap.

Asa berjalan sendiri masuk kedalam toilet, dirinya
tadi berpisah dengan Devan di depan perpustakaan
karna Bu Jihan atau guru kelas nya memanggil
Devan untuk dimintai bantuan lelaki itu.

Asa menyalakan keran air lalu mencuci wajah nya
karna merasa hari ini sangat panas membuat wajah
nya menjadi kering.Tiba-tiba lampu toilet mati
begitu saja membuat Asa keheranan apakah
sekolah elit seperti ini bisa mengalami lampu
padam?.

Tidak lama lampu kembali menyala dan betapa
terkejutnya Asa saat melihat ada sesosok wanita
memakai seragam putih abu di sudut toilet.

Asa tidak dapat melihat wajah sosok itu rambut nya
menghalangi wajah pucat nya.

7

“Kamu yang di perpus tadi?” tanya Asa tanpa takut,
sebenarnya hati nya sudah sangat ingin pergi dari
sini tetapi dia juga penasaran siapa sosok itu.
Ceklek

8

BAB 3

SIAPA MEREKA

“Sebentar yah!, ibu bermimpi kalo Dira
bilang pembunuh dia itu adalah kepala sekolah nya
sendiri!” semua nya terkaget termasuk sang suami
yang ikut kaget.
“Sekali lagi saya tegas kan! Kalo minggu depan
kalian kesini lagi saya akan laporkan kalian karna
menuduh saya pembunuh tanpa bukti dan sudah
membuat saya risih padahal anak kalian sudah
tidak bersekolah disini lagi!” kesal sang kepala
sekolah.

Suami dari wanita tadi segera menarik pelan
istrinya keluar dari ruangan itu.
“Udah Bu gak akan ada hasil nya” ucap sang suami
saat sudah menutup pintu ruang kepsek.

Asa yang kaget segera pergi dari tempat itu
menjauh dari ruang kepala sekolah tanpa tau yang
terjadi selanjut nya.

Asa melihat jam di pergelangan tangan nya
ternyata bell sudah berbunyi 10 menit yang lalu,
Asa segera berlari menuju kelas nya. Ternyata

9

benar dugaan nya di kelas sudah ada guru yang
sedang mengajar.

“Ck, baru juga masuk sekolah masa udah dihukum
lagi?” tanya Asa pada dirinya sendiri.

Tok

Tok

Asa mengetuk pintu kelas beberapa kali sampai
guru yang sedang mengajar tadi keluar
menghampiri nya.

“Kamu kenapa baru masuk?” tanya guru itu
terdengar sedang kesal karna waktu mengajarnya
harus terganggu.

Dia Bu Tia guru paling kiler di sekolah dan beliau
paling tidak suka dengan murid yang selalu
mengganggu waktu mengajarnya atau murid yang
terlambat.

“Maaf bu, saya tadi ke toilet dulu” jawab Asa takut,
jujur Asa belum tau dengan siapa guru di depan
nya ini.

“Cepat hormat di lapangan sampai jam istirahat!”
ucap nya penuh penekanan.

Asa cepat mengangguk dari pada nanti hukuman
nya akan di tambah.

Gadis itu berjalan menuju lapangan, ternyata
sedaritadi Devan melihat ke arah pintu

10

memperhatikan Asa yang sedang di beri hukuman
oleh Bu Tia.

11

BAB 4

DEVAN KRITIS

Sudah 3 jam lamanya Asa hormat di tengah
lapangan ditambah cuaca yang sangat panas
membuat gadis itu haus dan merasa sedikit pusing.

Tringgg!!!

Ternyata jam istirahat sudah tiba membuat Asa
melega gadis itu menurunkan tangan nya lalu
berjalan ketepi lapangan dan duduk di bawah
pohon yang ada di pojok lapangan.

Asa mengibas-ngibas kan tangan nya ke arah
wajah nya yang terasa panas dan memerah.
“Nih buat lo” sebuah tangan mengulurkan minuman
dingin kepada Asa.

Asa mendongak melihat siapa si pelaku ternyata
Devan, cowo itu duduk di sebelah Asa lalu kembali
menyodorkan minuman yang belum di terima oleh
Asa tadi.
Asa menerima nya lalu tesenyum tipis “Makasih”
dengan segera gadis itu membuka tutup botol yang
masih tersegel.

Tampak nya Asa kesusahan untuk membuka tutup
botol itu, tentu saja Devan melihat nya lalu

12

mengambil minuman itu dan membuka tutup segel
minuman nya.

“Sekali lagi makasih” ucap Asa di balas anggukan
oleh Devan.

Asa benar-benar haus dia meneguk minuman nya
sampai habis lalu membuang botol bekas nya ke
tempat sampah.

Devan berdiri membuat Asa mendongak “Mau
kemana?” tanya Asa.

“Ke perpustakaan” jawab Devan lalu pergi berlalu
tanpa menunggu lagi.

“Ke perpustakaan mulu deh, emang ada apaan?
Segitu cinta nya sama buku?” Asa menggeleng-
geleng kan kepala nya.

“Saa!” teriak Cantik dan Lista menghampiri Asa.

“Lo gapapa? Gak pingsan kan? Atau haus?”
banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh
Cantik dan Lista karna khawatir dengan Asa.

“Gak kok gue gak pingsan dan gue udah gak haus”
jawab Asa dengan sabar.

“Ada yang ngasih lo minum?” tanya Cantik
penasaran.

“Siapa?” tanya Lista ikut penasaran.

13

“Eumm mau tau aja atau mau tau banget?” tanya
Asa bergurau.

“Ya mau tau banget lah” jawab Cantik dan Lista
bersamaan.

“Sini dong deketan!” titah Asa, akhirnya Lista dan
Cantik mendekat.

“Kuyang” bisik Asa berlalu pergi meninggalkan
Cantik dan Lista yang sedang kesal.

Devan celingak-celinguk ke belakang takut jika ada
yang membuntuti nya.

“Udah aman” ucap nya lalu segera berjalan menuju
sudut perpustakaan yang sedikit gelap karna
kurang penerangan.

Devan meberhentikan langkah nya menarik nafas
dalam lalu membuang nya.

“Kak?” ucap nya ke rak buku yang berada di depan
cowo itu seolah ada seseorang di balik rak itu.

Devan tampak gugup dia kembali menarik nafas
nya lalu membuang nya.

“Plis kak aku mohon maafin orang yang udah bikin
kakak kayak gini, aku mohon kak jangan bikin Ibu
sama Ayah khawatir terus” ujar Devan dengan
nada lemas.

Tidak ada perubahan tetap sama saja sepi dan
sunyi.

14

“Kak? Sekali lagi aku mo-“
Bruk
Salah satu buku yang berada di rak jatuh begitu
saja tanpa ada yang menjatuhkan.
“Kak aku-“
Brakk

15

BAB 5

PAKET MISTERIUS

Air terus berjatuhan membasahi apapun
yang berada dibawah nya diiringi suara petir yang
tiada hentinya menyambar, menimbulkan suara
keras.

Asa duduk di atas kasur kingsize nya, mengetik
sesuatu di laptop berwarna silver pemberian bunda
nya itu.

Tok

Tok
“Asa sayang” terdengar suara bunda dari belik
pintu.

Asa terkaget dan segera menutup laptop nya.
“Iya sebentar Bun” Asa berjalan membuka pintu
kamarnya.
“Ada paket” Bunda menyodorkan sekotak paket
kepada Asa, Asa menerima paket itu dengan
terheran-heran. Pasal nya Asa tidak merasa
memesan apapun.
“Tapi, Asa gak pesen barang apapun Bun” Ujar Asa
membuat Bunda ikutan heran.

16

“Buka aja dulu, kali aja ada surat nya didalam.
Kamu kan murid baru di sekolah ya bisa aja kan
ada yang ngirim kado buat kamu sedangkan kamu
kan cantik” Bunda mengelus kepala Asa.

“Ish Bunda mah, Asa terbang nih dikata cantik” Asa
dan Bunda tertawa renyah.

“Bunda kebawah dulu ya” Asa mengangguk dan
menutup pintu kamarnya.

Gadis itu memperhatikan tulisan yang di tempel di
atas kotak paket yang dia terima, “Pengirimnya,
D?” Asa memutar otaknya apakah saat disekolah
dia menemui orang dengan inisial nama D.

“Perasaan gue gak ketemu sama yang namanya
inisial D, deh” Tanpa pikir panjang Asa membuka
paket itu.Rasa heran Asa semakin menjadi setelah
melihat isi dari paket itu, “Buku?” Asa mengambil
buku itu yang sudah terlihat usang dan kotor.

“Catatan D” Asa membaca tulisan di sampul buku
itu, tulisan pena yang sudah agak memudar.

“D siapa sih?” Saat akan membuka buku catatan
itu, handpone Asa berdering. Alarm yang dia
nyalakan tadi berbunyi.

Asa hampir lupa jika hari ini gadis itu akan
menjenguk Devan, ngomong-ngomong tentang
Devan. Asa ingat jika huruf awal Devan adalah D
“Gue baru inget, Devan huruf awal nya D. Apa

17

Devan yang ngirim paket ini? Tapi buat apa? Cuma
buku kotor gini di buat paket? Aneh banget” .

Tanpa pikir panjang Asa meletakkan buku itu di
atas nakas nya, gadis itu segera mengambil
handphone dan tas nya lalu segera pergi keluar
dari kamarnya.

Bruk

Buku catatan tadi jatuh ke lantai, posisinya yang
berada di tengah nakas membuat siapapun
bingung siapa yang menjatuhkan buku itu.

Asa turun dari tangga dan berjalan menuju dapur
untuk menemui Bunda dan Papah nya.

“Bun, Pah Asa izin keluar bentar ya” Ujar Asa
diambang pintu dapur.

Aditya yang sedang duduk di meja makan menoleh
kebelakang “Mau kemana?” tanya Aditya heran,
pasal nya cuaca hari ini hujan dan Asa akan pergi.

“Mau kemana Sa? Ini hujan loh” Ucap Bunda
menghampiri Asa yang cemberut di pintu dapur.

“Bentar aja Bun, Pah. Kan Asa juga pake mobil jadi
gak bakal kehujanan, Asa keluar juga bukan mau
kemana-mana tapi mau jenguk temen Asa dirumah
sakit yang tadi pingsan di sekolah” Jelas Asa
panjang lebar.

18

BAB 6

TRAGEDI PERPUSTAKAAN

“Hati-hati di jalan pah” Ujar Asa dia balas
anggukan oleh Aditya.

Setelah melihat mobil papah nya melaju dengan
kecepatan sedang, Asa berbalik masuk kedalam
sekolah yang menjadi sekolah barunya beberapa
hari yang lalu.
“Asaa” Asa menoleh, ternyata Lista dan Cantik
yang sedang duduk di kursi taman yang letak nya
tidak jauh dari gerbang.

Asa melambaikan tangan nya, berlari menghampiri
Lista dan Cantik.
“Haii Lis, Can. Gimana semalem? Devan baik-baik
ajakan?” Tanya Asa ikut duduk di kursi putih
panjang itu.
“Devan baik-baik aja kok, dia juga udah sadar”
Jelas Cantik kepada Asa.
Asa mengangguk “Kalian nginep di rumah sakit?”
Tanya Asa lagi.

Lista berdiri dari duduk nya, disusul oleh Cantik dan
Asa “Iyaa Asa cantik, kita baru pulang tadi pagi. Eh

19

btw itu bibir lo pucet banget mau coba pake lipbam
gue gak?” Lista merangkul pundak Asa lalu
memberikan lipbam miliknya kepada Cantik untuk
di oles kan ke bibir Asa yang pucat.

Cantik menerima lipbam milik Lista dan
mengolesnya di bibir Asa “Gilaaaaa, Asa lo terlihat
lebih berwarna” Ujar Cantik berbinar.

Lista memegang kedua bahu Asa dan menarik nya
untuk berhadapan dengan Lista, “Demi apa? Lo
cantik nya pake banget kalo pake lipbam” Seru
Lista histeris.

“Apasih kalian ah, sama aja kok” Asa sebenarnya
risih jika harus memakai lipbam dan semacamnya
ini baru pertama kali Asa mencoba lipbam.

“Weh Asa, lo pake lipbam? Jarang banget tau tua
osis.

“Iya dong kak Yuda, kan Asa harus makin cantik
kalo masuk sekolah ini. Ya gak Sa?” Seru Lista di
balas anggukan malu oleh Asa.

Bukan malu karna di permalukan oleh Lista atau
Cantik, tetapi Asa malu karna di tatap langsung
oleh ketua osis yang dikenal sangat populer di SMA
MELATI.

“Sa, boleh minta nomor telpon lo gak? Biar makin
akrab gitu” pinta Yuda.

20

Belum Asa menjawab Lista sudah merebut
handpone nya dan memberikan nya kepada Yuda.

“Ketik aja nomornya kak Yuda, Asa pasti seneng
banget bisa satu kontak sama kak Yuda” Ujar Lista,
di balas anggukan ragu oleh Asa dan Cantik.

“Beneran Sa?” Tanya Yuda memastikan.

“Iya, bener kok kak hehe” Asa menggaruk tekuk
nya yang tidak gatal, mau menolak tidak enak
rasanya. Tapi tidak apa, toh hanya satu kontak saja
kan? Bukan satu hati.

“Nih Sa, makasih ya. Gue pergi dulu masih ada
yang harus di kerjain, bayy” Yuda memberikan
handpone milik Asa kembali lalu pergi berlalu
meninggalkan ketiga gadis itu.

“Asaaa demi apa? Baru pake lipbam aja lo udah di
mintain nomor sama ketua osis, aaaaa iri deh gue”
Ucap Lista histeris.

Cantik hanya terkekeh melihat Asa yang sepertinya
agak keberatan dengan perilaku Lista, “Eh bentar
lagi bel, masuk kelas aja yuk?” Ajak Cantik kepada
dua teman nya itu.

Asa dan Lista mengangguk setuju lalu berjalan
beriringan dengan Cantik yang berada di tengah-
tengah mereka.

21

BAB 7

11.31

Seluruh siswa siswi SMA MELATI telah
berkumpul di lapangan, menunggu pengumuman
yang membuat mereka harus bediri di bawah terik
nya matahari.
“Cek cek”

Semua siswa mengalihkan pandangan nya ke
depan, udah ada Pak Roland di sana.
“Maaf sebelumnya mengganggu aktifitas kalian
semua, tapi disini saya akan membawakan berita
buruk. Rio....telah meninggal dunia tepat pukul
11.31 beberapa menit yang lalu. Saya turut
berduka cita atas kejadian ini, marilah untuk semua
nya kita berdoa dengan sesuai kepercayaan
masing-masing untuk Rio yang baru saja
meninggalkan kita semua”.
“Berdoa mulai” Lanjut pak Roland.

Semua siswa-siswi yang belum mengetahui berita
itu terkaget bukan main, pasal nya baru tadi pagi
mereka melihat Rio yang sedang membully Chika
murid paling cupu di SMA Melati.

22

Saat yang lain masih berdoa, pandangan Asa
teralihkan ke Yogi. Yogi adalah teman sebaya Rio,
teman yang selalu ada di sisi Rio.

Tapi...kenapa tidak ada raut sedih sedikit pun di
wajah Yogi? Lelaki bernama Yogi itu malah
tersenyum semrik sambil menatap orang-orang
yang sedang berdoa.

Yogi yang sadar telah di perhatikan, melihat ke
arah Asa. Asa segera melanjutkan berdoa nya
gadis itu tidak mau lama lagi menatap Yogi.

Jasad Rio telah di kebumikan, Pak Gatur menolak
jika Rio harus di otopsi entah karna alasan apa.
Polisi tidak bisa memaksa kehendak pak Gatur.

Asa membuka kacamata hitam nya, lagi-lagi Asa
harus bertemu dengan Yogi. Asa tidak sengaja
melihat tingkah Yogi yang kembali tersenyam-
senyum seperti tadi saat berada di lapangan.

“Lo liatin siapa Sa?” Tanya Lista yang berada di
sebelah Asa.

“Eh, enggak kok. Kita pulang sekarang aja
gimana?” Cantik dan Lista mengangguk menyetujui
usul Asa.

“Kok buru-buru?” Ketiga gadis itu memberhentikan
langkahnya, Asa terkaget saat melihat siapa yang
berbicara tadi.

23

Lista dan Cantik ikut terkejut melihat Yogi yang
sudah berada di belakang mereka.
“Terserah kita dong” Ujar Lista sedikit kesal.
“Tumben lo ngajak ngobrol kita? Urus tuh makam
temen lo yang selalu lo puja itu” Sekarang bukan
Lista yang berbicara melainkan Cantik.
“Ngapain juga? Orang udah di dalem tanah kan?
Oh ya, Alasya? Mau pulang bareng gue?” Tawar
Yogi kepada Asa.
Ketiga gadis itu kembali terkejut dengan perilaku
Yogi yang berubah drastis, “Gue gak salah
denger?” Kaget Lista.
“Enggak” Jawab Yogi santai.
“Maaf gak dulu ya, gue mau pulang bareng Lista
sama Cantik” Tolak Asa.
“Kalo hari ini gak dulu? Besok-besok bisa dong? Ah
gausah di pikirin. Gue pulang duluan ya? Oh ya,
gue bukan temen nya si Rio yang udah di tanah
lagi” Yogi pergi berlalu begitu saja.

24

BAB 8

TEROR DIMULAI

Hari sudah gelap, malam ini begitu
mencekam. Hujan turun begitu deras, angin bertiup
kencang, dan suara petir yang saling bersahutan.

Dirumah besar itu ada Lisa, Asa dan ketiga teman
nya yang akan menginap.
“Bunda dimana?” tanya Asa tiba-tiba membuat
Lista dan Cantik terkaget. Terlebih lagi kedua nya
sedang menonton film horor.
“Eh Asa, tadi Tante Lisa izin buat ke kamar” jawab
Cantik diangguki oleh Asa.

Asa duduk di sebelah Cantik dan ikut menonton
film horor itu, “Devan?” tanya Asa lagi disela
menonton nya.
“Didapur” kini Lista yang menjawab.

Asa mengangguk-anggukan kepala nya, kembali
fokus ke film itu.

Prang

Suara kaca pecah membuat ketiga gadis itu
terlonjak kaget. Terlebih lagi, listrik di rumah Asa
tiba-tiba padam. Devan datang dengan terburu-

25

buru dari dapur membawa senter hp nya yang
menyala.

“Ada apa?” tanya Devan panik.

“Gatau, suara nya dipintu depan” ucap Asa
membuat semua menoleh ke pintu depan.

Devan ingin beranjak pergi, namun ketiga gadis itu
mencegahnya.

“Kenapa? Takut? Yaudah gue sendiri” Ujar Devan
sebelum berlalu begitu saja.

Asa membuntuti Devan, Lista dan Cantik saling
pandang. Antara ingin ikut tapi takut.

“Ikut gak?” tanya Lista kepada Cantik yang terlihat
ketakutan.

“Ikut aja yuk, dari pada kita disini berdua kan takut
juga” ucap Cantik.

Lista dan Cantik berlari mengejar Asa dan Devan
yang sudah sampai di pintu depan.

“Apa yang terjadi?” tanya Cantik.

Devan menyorotkan senter hp nya ke lantai, “Awas!
Banyak serpihan kaca,” semua mengalihkan
pandangan nya pada lantai.

“Kalian mending ke kamar, ini biar gue yang
beresin” ucap Devan mendorong tubuh ketiga gadis
itu untuk pergi.

26

Asa, Lista dan Cantik hanya bisa menurut saja dan
pergi menuju kamar Asa di lantai 2 dengan bantuan
senter hp.

Devan beranjak menuju dapur untuk mengambil
sapu dan barang lain nya untuk membereskan
pecahan kaca tersebut.
Devan kembali ke pintu depan, namun.
Duk
Kaki nya menendang sesuatu. Devan berjongkok
dan mengarahkan senter hp nya kepada benda itu.
Batu berukuran sedang yang di baluti kertas putih.
“Apa ini?” Devan membuka kertas tersebut. Lelaki
itu mengerutkan kening nya, tulisan berwarna
merah ini adalah darah yang mengering. Namun,
apa maksud dari tulisan ini?

27

BAB 9

PELAKU TEROR

Asa mengucapkan salam, ia baru saja
pulang sekolah. Asa langsung menemui Lisa dan
menyalami tangan nya.

“Masak apa bun?” tanya Asa.

“Telor bumbu pedas, kesukaan kamu” Asa
tersenyum lalu mengecup pipi Lisa.

“Tumben gak masak sama tante Julia?” tanya Asa
penasaran karna tidak melihat keberadaan Julia,
biasanya sepulang sekolah Julia dan Jordan akan
makan siang bersama di rumah nya.

“Gak tahu, dia biasa nya dateng kesini bantu-bantu
bunda. Tapi hari ini nggak” Asa mengangguk-
anggukan kepala nya.

“Sana ganti baju, terus kita makan bareng” Asa
mengangguk dan pergi kekamar nya untuk
mengganti pakaian.

Setelah makan siang bersama Lisa, Lisa
mengeluarkan sebuah kotak paket. Sudah biasa
setiap pulang sekolah, Lisa selalu memberikan nya
sebuah kotak paket. Ya, paket teror yang selalu
Asa terima. Tanpa pikir panjang Asa mengambil

28

kotak paket itu dan segera keluar untuk membuang
nya.

Seusai dari luar Asa tersenyum kepada Lisa
menandakan jika dia baik-baik saja, Lisa selalu
khawatir dengan Asa. Bahkan sudah beberapa kali
Lisa membujuk Asa agar berhenti sekolah, tetapi
Asa selalu menolak nya dan tetap kukuh untuk
pergi kesekolah.

“Asa keatas dulu ya bun” Lisa mengangguk.

Asa memilih untuk pergi kebalkon agar hati nya
kembali tenang. Jujur, semua ini hanya topeng Asa,
Asa terlihat masih sering tertawa dan tersenyum.
Nyata nya tidak, Asa sangat rapuh dan sakit.

Gadis itu menopang kedua tangan nya di pembatas
balkon, air mata sudah bercucuran. Ini lah Asa
yang sebenarnya, rapuh, sangat rapuh. Sakit?
Tentu saja, apalagi mendengar kenyataan baru jika
Lista yang menyebar poto jasad papah nya, hati
nya bagai ditusuk-tusuk duri. Asa tidak bisa
membayang kan bagaimana jika orang lain yang
ada di posisi nya? Apakah mereka akan memasang
topeng seperti dirinya? Entah lah.

“Papah, Asa rindu” lirih Asa menatap sayu kepada
langit, berharap langit akan memberi tahu papah
nya jika ia sedang tidak baik-baik saja.

29

Asa menghapus jejak air matanya, ia akan kembali
memasang topeng itu, topeng yang penuh dengan
keceriaan dan terlihat baik-baik saja.

Gadis itu menatap sekitar nya, sangat sepi dan
sunyi membuat hati Asa kembali tenang dan
merasa nyaman.

Sayup-sayup orang berbicara dapat Asa dengar,
gadis itu mengedarkan penglihatan nya. Ternyata
Julia, dan seorang tukang paket, seperti tadi subuh.

Asa bingung akhir-akhir ini Julia selalu mengirim
paket entah untuk siapa itu, apakah Julia
berdagang online? Entahlah.

Asa masuk kedalam kamar nya, namun suara Julia
kembali mengalihkan atensi nya. Julia menunjuk
halaman rumah nya kepada sang kurir membuat
Asa mengerutkan kening nya bingung.
“Jangan sampe ketahuan ya!” begitulah ucapan
yang sedikit tidak jelas namun dapat Asa dengar.
“Tante Julia mau ngirim paket kesini?” masih
banyak pertanyaan dari benak Asa, Asa memilih
untuk memasuki kamar nya, gadis itu membuka
handphone dan melihat-lihat akun media sosial
Julia.

30

BAB 10

KEJADIAN SEBENARNYA

Sore ini Asa sedang duduk bertiga di cafe
dekat SMA Melati, Lisa sudah diberitahu oleh Asa
jika dirinya dikeluarkan dari sekolah. Lisa hanya
bisa menerima nya,

karna ini juga yang akan dilakukan Lisa. Lisa
berniat akan membawa pergi Asa dari ibu kota.
“Pak Joko, apa bapak bisa mulai cerita?” tanya Lisa
sesopan mungkin.
Pak Joko mengangguk, “Saya sudah tahu dari lama
tentang Aditya, saat saya pertama kali bertemu
dengan Alasya membuat saya yakin jika hal ini
akan terjadi. Saya sudah bekerja puluhan tahun di
sekolah ini,” Asa dan Lisa tampak terkaget,
ternyata Pak Joko selama ini sudah mengetahui
semua nya.
“Saya akan ceritakan bagaimana saat-saat Aditya
membunuh Dira, saya ada ditempat itu. Tapi maaf,
saya tidak bisa menyelamatkan Dira” lagi-lagi Asa
dan Lisa dibuat terkejut dengan ucapan Pak Joko.
“Waktu itu....”

31

FlashBack On

“Untuk Dira saya mohon kamu ikut dengan saya
karna akan ada yang saya bicarakan soal lomba
puisi besok” ujar Aditya kepada sekumpulan gadis
yang salah satunya adalah Dira.

Dira Hananda Keyfa, anak pertama dari dua
bersaudara. Dia adalah ketua osis disekolahnya.
Dira dikenal sebagai orang yang sangat baik dan
ramah, tidak sedikit pula penghargaan dan
pencapaian sebagai juara pertama yang Dira dapat
membuat nama nya menjadi terkenal di beberapa
sekolah.

“Baik pak” jawab Dira sopan, Dira berpamitan
kepada seluruh teman nya dan membuntuti Aditya
yang baru-baru ini menjabat sebagai kepala
sekolah di SMA Melati.

Aditya membawa Dira menuju ruang kepala
sekolah, disana Dira hanya duduk menunggu
Aditya yang sedang mengotak-atik laptop nya.

Pak Joko yang sedang membereskan laptop-laptop
dan kabel-kabel data yang tidak dipakai disana,
terbingung karna kehadiran Aditya dan Dira.

“Pak Joko, setelah ini tolong bikinin kopi” titah
Aditya dibalas anggukan oleh Pak Joko.

“Eh tunggu, Dira mau minum apa?” tanya Aditya,
dibalas gelengan kepala oleh Dira.

32

“Gausah Pak” tolak Dira sesopan mungkin.

“Oh yaudah, kopi aja satu ya Pak” titah Aditya
kepada Pak Joko.

“Baik Pak” Pak Joko melenggang pergi keluar dari
ruangan itu, saat bertemu dengan teman
sepekerjaan nya Pak Joko menahan dia dan
menyuruh nya membuatkan satu kopi. Karna
merasa curiga dengan Aditya membuat Pak Joko
ingin menguping.

Setelah sang teman pergi, Pak Joko segera
mendekatkan telinga nya dicelah pintu yang sedikit
terbuka.

“Kamu benar anak nya Dika Purnama dan Sarah
Hanandiani?” tanya Aditya dibalas anggukan oleh
Dira. Sebenarnya Dira bingung kenapa kepala
sekolah nya malah menanyakan tentang keluarga
Dira? Bukan kah dia menyuruh Dira untuk ikut
bersama nya karna akan mengobrolkan tentang
lomba puisi besok?

“Saya tidak kenal mereka, tapi saya harus
menjalankan misi ini demi keluarga saya” Dira
mengerutkan kening nya bingung, apa maksud dari
ucapan Aditya barusan? Pikir nya.

“Ah gausah dipikirin, sekarang saya ada ide
bagaimana jika besok lomba nya di tambah jadi

33

ada lomba 17 agustusan gitu, kan Jarang-jarang di
sekolah elit gini ada lomba 17-san?” Usul Aditya
“Boleh juga Pak, tapi mngkin perlengkapan nya
harus disiapkan dari sekarang supaya besok kita
tinggal melaksanakan lomba nya” Aditya
menyetujui usulan Dira, memang ini yang Aditya
inginkan.

34

BAB 11

EPILOG

Bertahun-tahun terlah berlalu, SMA Melati
kembali dengan keadaan seperti dulu. Begitu juga
dengan sifat Devan yang kembali tertutup dan irit
bicara.
Semua telah kembali seperti semula.
Devan duduk di kursi sebuah cafe yang berada di
Pulau Dewata Bali, sudah 2hari ini Devan tinggal di
Bali untuk menjenguk Oma nya yang sedang sakit-
sakitan.
Devan meletakkan laptop nya diatas meja bundar
dan segera membuka nya lalu mengetikkan
sesuatu diatas keyboard.
‘Alasya Hydra Alexsandri’
Pencarian yang Devan ketik dipapan keyboard nya,
selama ini Devan mencari keberadaan Asa, dan
selama itu juga riwayat pencarian diberbagai alat
komunikasinya hanya bertulis nama Asa.

35

Devan sering mengirimi pesan ke nomber Asa yang
dulu, namun tetap saja ceklis satu. Sepertinya Asa
telah benar-benar mengganti nomor nya.

“Huft, dia dimana sih?” Devan tampak putus asa
karna belum menemukan keberadaan Asa. Lelaki
itu akhirnya memilih memesan satu kopi untuk
menemani dirinya yang akan terus mencari
keberadaan Asa.

Namun, Devan tidak tahu jika semua kata kunci
yang dia ketik di keyboard nya tidak akan muncul
wajah Asa sama sekali, karna pada kenyataan nya
Asa bukanlah Asa lagi.

“Ini kopi nya kak” seorang pelayan cafe
memberikan semua cangkir kopi kepada Devan,
Devan menerima nya dan segera meminum kopi
itu.

“Hei, maaf aku terlambat. Tadi aku harus
mengantarkan bundaku ke toko bunga dulu” ujar
seorang barista yang tampak baru datang kedalam
cafe itu, Devan mendongak kala mendengar suara
yang tidak asing baginya.

Devan manatap seorang gadis yang baru datang
itu, rambut nya dikuncir serta dibiarkan beberapa
helai menggantung di sisi pipi nya membuat kesan
menggemas kan yang menarik perhatian Devan,
gadis itu pergi masuk kedalam dapur cafe lalu tidak
lama dia kembali dan siap bekerja sebagai barista.

36

“Muka nya gak asing? Suara nya?” Devan melihat
gadis itu seperti Asa, ya! Sangat mirip dengan Asa.

Devan berdiri dari duduk nya dan berniat
menghampiri gadis yang menurut nya mirip dengan
Asa itu.

“H-hai?” Devan kaget karna gadis itu memang
sangat mirip dengan Asa, sang gadis menatap
Devan dan segera pergi menuju belakang
begitusaja.

Devan hendak mengejar namun seorang kasir
menegurnya, “Kecuali karyawan tidak diperboleh
kan untuk masuk!” tegur kasir cantik itu.

“T-tapi. Ok, saya mau tanya soal gadis yang tadi
masuk kebelakang itu, nama dia Alasya kan?”
tanya Devan kepada sang kasir yang tampak
bingung.

“Alasya? Dia Alea, kamu kenal dia?” Devan tampak
terkejut karna dugaan nya salah, ternyata gadis itu
Alea bukan Alasya.

“Hanya mirip dengan teman saya” Devan segera
membayar kopi nya, membereskan laptop dan
barang lain untuk dimasukkan kedalam tas. Devan
bersiap untuk pergi dari cafe dan menuju rumah
sakit untuk gantian menjaga Oma nya.

37

Gadis tadi menatap kepergian Devan, “Kamu kenal
sama dia Le?” tanya sang kasir yang masih
penasaran.
Alea menggeleng cepat, “Enggak, mungkin dia
punya teman yang mirip aku aja” sang kasir
mengangguk-anggukan kepala nya mengerti,
mereka kembali keposisi awal. Kembali bekerja
seperti biasanya.

Devan telah sampai di RumahSakit, Devan
bergegas membuka pintu kamar rawat Oma nya, ia
melihat banyak sekali bunga dimeja nakas Oma.

“Oma tidur” Devan tersenyum lalu beralih
mengambil salah satu bunga dan menghirup nya
dalam-dalam.
“Ada surat?” Devan mengambil sticnote itu dan
membaca tulisan yang terukir indah.
‘Semoga cepat sembuh ya Oma’
Sebuah kata yang singkat, Devan beralih membaca
nama insta toko bunga itu.
@Aleaflowerstore

38

“Alea?” seketika Devan teringat perkataan Alea
saat baru memasuki Cafe.

“Hei, maaf aku terlambat. Tadi aku harus
mengantarkan bundaku ke toko bunga dulu”

“Apa ini toko bunga Bunda nya?” dengan cepat
Devan mencari insta toko bunga itu, dan dapat.
Terpampang jelas poto Alea didepan sebuah toko
bersama bunga-bunga yang tampak indah di
potingan terakhir insta toko tersebut.

“Cantik, sangat mirip dengan Alasya” ujar Devan,
tidak sengaja dia melihat akun yang di tandai di
postingan itu.

@Aleasndriluv

Segera Devan menekan nama insta itu dan benar
saja, ternyata itu insta pribadi milik Alea. Hanya ada
3 postingan, 2 potingan menampilkan poto Alea
bersama Bunda nya, dan satu postingan terakhir
memposting poto bunga mawar putih.

“Alea Alexsandri? Alasya hydra Alexsandri? Marga
yang sama, apakah kebetulan?” Devan membaca
nama lengkap Alea yang bermarga sama dengan
Asa.

Sulit untuk Devan memutuskan jika itu Asa karna
saat di Cafe pun, gaya bicara nya sangat berbeda,
bahkan Asa biasanya akan membiarkan rambutnya
terurai. Gaya mereka sangat berbeda namun wajah

39

dan suara nya 100% sama. “Semoga itu benar
kamu Sa”

40

Penutup

Buku ini memiliki kelebihan sebagai
penggugah imajinasi yang tinggi bagi para
pembacanya untuk membayangkan setiap kejadian
yang ada untuk divisualisasikan dalam pikirannya.
Karakter dan persahabatan antara para tokoh
dapat dijadikan contoh yang baik terutama dalam
hal saling tolong menolong.

Namun buku ini memiliki cerita yang cukup
berbelit dengan alur yang sulit untuk dipadukan
sehingga membuat para pembaca harus sedikit
lebih berpikir ekstra dalam memahami setiap
kejadian yang tersaji dalam buku.

Namun secara keseluruhan buku ini sangat
cocok dibaca untuk dijadikan sebagai bahan
bacaan untuk menambah kemampuan dalam hal
imajinasi dan sebagai pengisi kegiatan di waktu
luang. negeri dijakarta

vi

Biografi

Nama saya Nurul
Amelia atau biasa dipanggil
Amel , saya lahir di Jakarta 20
Mei 2007,saya tinggal di
Jakarta dan menjadi salah
satu siswa di kelas X, SMK
Negeri 66 Jakarta Jurusan
Perhotelan.

Saya anak sulung dari 2
bersaudara,

Saya memiliki hobi membaca

buku. Bagi Saya dengan

membaca buku kita bisa

memiliki pengetahuan dan

wawasan yg luas.

Nantinya, Saya berencana
untuk melanjutkan kuliah jurusan
Sastra Indonesia di salah satu
perguruan tinggi negeri Jakarta

vii

viii


Click to View FlipBook Version