The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2015 ETIKA BERBICARA DALAM BUTIR SOPAN SANTUN TUNJUK AJAR MELAYU KARYA TENAS EFENDY-terkunci

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ROZIAH BURHAN, 2023-11-19 21:55:12

2015 ETIKA BERBICARA DALAM BUTIR SOPAN SANTUN TUNJUK AJAR MELAYU KARYA TENAS EFENDY-terkunci

2015 ETIKA BERBICARA DALAM BUTIR SOPAN SANTUN TUNJUK AJAR MELAYU KARYA TENAS EFENDY-terkunci

33 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 ETIKA BERBICARA DALAM BUTIR-BUTIR TUNJUK AJAR SOPAN SANTUN BUDAYA MELAYU KARYA TENAS EFFENDY Roziah, S.Pd., M.A. [email protected] ABSTRAK Peranan dan tugas bahasa merupakan hal penting dalam mendidik anak, karena bahasa merupakan alat mencurahkan segala perasaan yang ada pada orang tua sehingga anak yang dididik mempunyai karakter yang baik. Penggunaan bahasa yang baik oleh Tenas dalam karyanya dalam permainan bunyi dan pilihan kata (diksi) dalam mendidik anak membuat penulis tertarik menganalisis masalah Etika Berbicara dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian kepustakaan melalui metode deskriptif. Teori yang digunakan stilistika yang dikemukanan oleh Nurgiantoro (2014), Ratna (2009) dan Semi (2005). Etika berbicara yang ditemukan adalah (a) Berbicara Lembut tanpa Menyergah; (b) Berbicara Hal yang Layak Dibicarakan; (c) Bermulut Manis Berbicara Senonoh; (d) Berbicara Ingat Amanah; (e) Berkata Lurus, Benar dan Jujur tanpa Berdusta; dan (f) Pantang Mencerca dan Mengumpat. Kata kunci: etika, berbicara, Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu I PENDAHULUAN Tenas Effendy lahir di Pelalawan 9 November 1936. Ia belajar di Sekolah Rakyat dan Sekolah Guru (SGB dan SGA). Laki-laki baik ini, bergelimang dalam pengkajian budaya Melayu selama 35 tahun. Tulisannya melingkupi masalah adat istiadat, karya sastra, bahasa, sejarah, pendidikan, arsitektur, dan kesenian. Ia sudah melahirkan 67 judul karya tulis, 17.500 buah ungkapan dan koleksi pantun yang berisi lebih dari 10.000 bait pantun Melayu. Karena berbagai karya dan aktivitasnya di bidang kebudayaan Melayu, beliau dianugrahi gelar Doktor Kehormatan (Dr. Hc) oleh Institusi Alam dan Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia pada Majlis Konvokesyen ke-36 7 September 2005. Karyanya yang sangat fenomenal adalah Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu.Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu adalah segala jenis petuah, petunjuk, nasihat, amanah, pengajaran, dan suri teladan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Melayu. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk membawa manusia ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah, yang bermakna menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Adapun tujuan dari Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu adalah yaitu untuk memberi pemahaman budaya Melayu kepada manusia yang bersifat Islami. Kemudian Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu juga bertujuan memberi contoh yang senonoh dan teladan kepada kita agar kehidupan kedepannya menjadi lebih baik. Kegunaan dari Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu yaitu untuk bekal hidup


34 Etika Berbicara Dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy Roziah kedepannya yang mengacu kepada kehidupan nilai Islami. Peranan bahasa untuk menyampaikan nilai islami dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu sangat penting. Bahasa menjadi alat untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran Tenas, dan bahasa juga menjadi media ekspresi jiwa orang Melayu tersebut. Penggunaan bahasa yang baik oleh Tenas dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu membantu orang tua untuk mudah mendidik anak dalam berbicara. Alasan inilah yang mendorong penulis untuk meneliti Etika Berbicara dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy II MASALAH Masalah yang diteliti adalah bagaimanakah etika berbicara dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu karya Tenas Effendy? III LANDASAN TEORETIS Ilmu stilistika dipentingkan untuk meneliti etika berbicara yang terdapat dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu. Sikana (1990:51-57) menyebutkan stilistika sebagai salah satu metode kritik sastra. Pusat perhatian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan pengarang untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. (Sudjiman, 1993:13). Ratna (2007: 232) menjelaskan, “Gaya (style) adalah cara, bagaimana segala sesuatu diungkapkan. Menurut Endraswara (2011:72) “Penelitian stilistika sebenarnya hendak mengungkap aspek-aspek estetik pembentuk kepuitisan karya sastra.” Toolan (2005: 373) menyatakan stilistika juga suatu kajian terhadap keseluruhan karya yang berpusat kepada penggunaan bahasa”. Kajian tersebut bertujuan untuk memperlihatkan keberhasilan seorang Tenas mengolah bahasa yang sesuai sebagai penerapan karya sastra yang kreatif, imajinatif, figuratif, simbolik, dan memiliki unsur estetika. Berbagai pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa selain terfokus pada unsur stilistika itu sendiri, stilistika juga memiliki unsur estetika. Endraswara (2011:74) menyatakan ada dua pendekatan analisis stilistika yaitu Pertama, dimulai dengan analisis sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, dan dilanjutkan ke interprestasi tentang ciri-ciri sastra, interprestasi diarahkan ke makna secara total. Kedua, mempelajari sejumlah ciri khas yang membedakan satu sistem dengan sistem lain, di sini metodenya ada pengkontrasan. Analisis stilistika hendaknya sampai pada titik puncak kehebatan penulis menggunakan gaya bahasa sastra. Semakin banyak memainkan stilistika dan penuh daya pikat, tentu boleh dikatakan bahwa karya tersebut memiliki bobot khusus. Bagaimana kemampuan penulis mengekspresikan kreativitas penggunaan gaya bahasa adalah pangkal tolak analisis. Selanjutnya, langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam kajian stilistika adalah sebagai berikut; Pertama, bisa menetapkan unit analisis misalnya berupa bunyi, kata, frase, kalimat, bait, dan sebagainya. Kedua, dalam puisi memang analisis dapat berhubungan dengan pemakaian aliterasi, asonansi, rima, dan variasi bunyi yang digunakan untuk mencapai efek estetika. Ketiga, analisis diksi memang sangat penting karena ini tergolong wilayah kesastraan yang


35 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 sangat mendukung makna dan keindahan bahasa. Kata dalam pandangan simbolis tentu akan memuat lapis-lapis makna. Kata akan memberikan efek tertentu dan menggerakkan pembaca. Keempat, analisis kalimat ditekankan pada variasi pemakaian kalimat dalam setiap kondisi. Kelima, kajian makna gaya bahasa juga perlu mendapat tekanan tersendiri. Kajian makna hendaknya sampai pada tingkat majas, yaitu sebuah figuratif language yang memiliki makna bermacam-macam. (Endraswara, 2011: 75 ). Unsur stilistika yang terdapat di dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu karya Tenas memang sangat menarik untuk diteliti. Nurgiantoro (2014: 112) menyatakan ketepatan bunyi berfungsi untuk memebangkitkan efek persajakan dan suasana terkonotasikan adalah unsur stilistika. Jika dilihat dari perkembangan kesusastraan sekarang ini Tenas memiliki ciri khas tersendiri dalam menghasilkan bunyi. Kekhasan yang digunakan Tenas dalam ButirButir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu adalah nilai agama dan sosial. Unsur stilistika yang ada di dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu ini bervariasi. Maka dari itu, susunan setiap unsur stilistika tersebut tidak mengubah nilai estetik dari bahasa yang digunakan. Pilihan kata (diksi) yang yang bervariasi, semakin membuat tujuk ajar layak diteliti dengan ilmu stilistika. VI METODELOGI PENELITIAN Sumber data dalam penelitian ini adalah bab 1, 2 dan 5 dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu karya Tenas Effendy. Buku yang memiliki 9 bab dengan 291 halaman ini diterbitkan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru dan Lembaga Adat Melayu Riau tahun 2004. Teknik hermeneutik yaitu teknik baca, catat, dan simpulkan diperlukan dalam mengumpulkan data penelitian ini. Menurut Hamidy (2003:24) hermeneutik bertujuan untuk memahami dan mengumpulkan data untuk kajian sastra. Teknik yang penulis gunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah membaca data Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu dengan cermat sambil mencari tulisan yang berkaitan dengan etika berbicara. Selanjutnya, penulis mencari makna katanya di dalam Kamus Dewan Malaysia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Data yang sudah dikumpulkan, kemudian diklasifikasikan dan diolah dengan menggunakan teori-teori yang tercantum dalam kerangka teoretis penelitian ini. Selanjutnya, data tersebut disajikan bersama analisisnya dalam bab dan sub bab tertentu. Terakhir penulis menyimpulkan hasil analisis dalam bentuk makalah. V ANALISIS DATA Etika Berbicara dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu adalah sebagai berikut: 5.1 Berbicara Lembut tanpa Menyergah Perhatikan data 01 berikut! (01) Kalau memberi petuah amanah Maniskan muka lembutkan lidah


36 Etika Berbicara Dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy Roziah Niat semata karena lillah Mohonkan ampun bila tersalah Jangan menyombong menggagah-gagah Jangan bercakap yang tak semenggah (Tenas Effendy, 2004:10) Baris kedua pada prosa liris tersebut tergambar tentang etika berbicara. Orang Melayu adalah orang yang arif budiman dan pandai bergaul. Bahasa yang baik dan sopan mestilah digunakan oleh orang Melayu dalam bergaul. Tenas mengajarkan orang Melayu untuk berbicara lembut dengan orang lain. Berbicara lembut ini harus dilakukan dalam setiap hal. Kelembutan dalam berbicara bukanlah berarti orang Melayu itu penurut dalam hal yang tidak baik. Lembut bicara dalam hal ini adalah untuk menjalankan kebaikan di manapun berada. Baris keenam dari data 01, tertulis Jangan bercakap yang tak semenggah. Semenggah berarti layak, patut dan senonoh. (Depdiknas, 2008: 1262). Tak semenggah berarti tidak layak, tidak patut dan tidak senonoh. Maksud yang tampak dari baris keenam tersebut adalah, orang Melayu dalam berbicara harus menggunakan perkataan yang baik-baik. Selain itu, pesan berbicara lembut juga tampak pada baris 6 data 2 berikut yaitu pelihara lidah, tegakkan tuah. (02)Wahai anak dengarlah amanah Peliharalah nama, jagalah marwah Peliharalah budi, luruskan hati Pelihara agama, tegakkan sunnah Peliharalah sifat, tegakkan adat Peliharalah lidah, tegakkan tuah Peliharalah laku, tegakkan ilmu Peliharalah iman, tegakkan kebenaran (Tenas Effendy, 2004:18) Memelihara lidah bukanlah pekerjaan yang mudah. Menjaga lidah termasuk ke dalam perbuatan baik yang bermarwah. Berbuat baik adalah hal yang diutamakan dalam Islam. Akan sempurna diri seseorang apabila perbuatan baiknya dilengkapi dengan perkataan yang lembut. Berkata lembut juga harus diterapkan kepada siapa saja. Golongan miskin maupun kaya. Bahasa lembut sudah tentu tidak keras dalam bahasa Melayu dikenal dengan sergah. Menyergah dalam bahasa Melayu memiliki arti marah-marah dengan suara dan tekanan nada yang tinggi. Tenas melarang orang Melayu menyergah orang lain dalam hal apapun, termasuk dalam bersedekah. Larangan tersebut tertuang dalam data (03) berikut: (03)Bila memberi jangan mencaci Bila berbudi jangan memaki Bila bersedekah jangan menyergah Bila berinfak jangan melagak (Effendy, 2004:9) Tenas memilih kata “menyergah” pada data (03) karena Tenas ingin apa yang disampaikannya bisa dimengerti jelas oleh pembaca. Dilihat artinya di dalam (Kamus Dewan, 2007:1470) kata menyergah adalah memeranjatkan orang dengan suara yang keras, membentak, mengherdik, sedangkan di dalam Depdiknas (2008:1286) kata menyergah yaitu mengejutkan dengan bersuara keras (misalnya membentak atau


37 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 menghentakkan kaki). Adat melarang orang Melayu menyergah. Hal ini disebabkan oleh Kata “menyergah” pada bahasa Melayu merupakan ungkapan marah yang tinggi dengan mata melotot. Tenas sengaja melarang orang Melayu menyergah di dalam bersedekah. Hal ini karena harta adalah titipan Allah. Dalam kerdipan mata saja bisa berpindah ke tangan orang lain, jika Allah menginginkannya. 5.2 Berbicara Hal yang Layak Dibicarakan Perhatikan data 04 berikut! (04)Kalau duduk dalam gelanggang Jagalah kaki elokkan lenggang Kalau duduk berpatut-patut Jagalah lidah peliharalah mulut (Effendy, 2004:19) Tenas memberitahu kepada masyarakat kalau mahu duduk di gelanggang hendaklah duduk dengan fungsinya, karena fungsi gelanggang itu sendiri untuk tempat berolahraga. Jangan sekali-kali gelanggang dijadikan tempat kumpul-kumpul untuk saling berbicara yang tidak baik. Maksudnya masyarakat tidak tahu fungsi dan kegunaan gelanggang untuk tempat berolah raga bukan tempat untuk mencerca. Selain memuat tentang etika berbicara, Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu sangat berguna untuk menambah ilmu agama yang pada akhirnya akan mengantarkan umat manusia ke jalan yang baik. Berbicara yang layak untuk dibicarakan juga tampak pada data 05 berikut: (05) Apalah adat orang menumpang Berkata jangan sembarangsembarang Berbuat jangan main belakang Adat istiadat lembaga dituang Dalam bergaul tenggang menenggang (Tenas Effendy, 2004: 34) Pesan Tenas dalam berbicara tampak pada kutipan 05 baris kedua yaitu berkata jangan sembarangsembarang. Maksud yang disampaikan penulis adalah tidak dibenarkan berbicara sesuka hati seenak mulut di depan orang lain. Untuk hal yang diragukan kebenarannya juga tidak harus diucapkan. Hal ini disebabkan oleh keraguan itu bisa memalsukan berita yang didengar atau dibicarakan. Berita palsu itu pasti adalah fitnah. Fitnah adalah hal yang di larang. Sesuai dengan firman Allah dalam QS AlBaqarah: 217 yang artinya “ … Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Orang Melayu harus berbicara hal yang layak untuk dibicarakan saja. Perkataan yang layak dikeluarkan pada pendengar. Misalnya, pendengar adalah anak-anak, maka tidak dibenarkan berbicara hal orang dewasa seperti seksual. Selain itu, di depan orang yang kurang mampu (miskin) tidak dibenarkan berbicara tentang kekayaan. Orang tersebut perasaannya sangat sensitif. Hal ini tentu akan menyinggung perasaannya. Ibu yang sedang hamil misalnya, punya perasaan yang sangat sensitif, perlu berhati-hati berbicara dengannya. Akibat yang ditimbulkan, bukanlah terhadap dirinya sendiri, tetap juga janin di dalam kandungannya. Pesan Tenas yang penting buat orang Melayu adalah berbicara hal yang layak untuk dibicarakan dan bercakap jangan sembarang-sembarang.


38 Etika Berbicara Dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy Roziah 5.3 Bermulut Manis Berbicara Senonoh Perhatikan data (06) berikut! (06) Apabila sifat kawan sejati Pertama simiskin banyak beremas Biarpun hidup miskin dan papa Mulut manis cakapnya lemak Budi halus kasihnya banyak Dada lapang akalpun bijak Membela kawan menahan asak (Tenas Effendy, 2004:36) Tenas mengajak untuk bermulut manis pada setiap orang. Mulut manis akan menjadikan seseorang disayangi banyak orang. Mulut yang manis cakapnya lemak bermaksud perkataan yang dihasilakan hendaklah enak didengar dan nyaman di hati. Selain itu, mulut manis juga bermakna tidak segan untuk memuji orang lain agar orang senang dengan pembicara. Bercakap lemak juga memberikan pesan untuk selalu berterima kasih apabila telah menerima kebaikan dari orang lain. Senonoh bermakna sopan. (Depdiknas, 2008: 1274). Orang Melayu dituntut bebicara sopan pada siapa saja ia berbica. Berbicara yang sopan mestilah menggunakan perkataan yang baik dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Peringatan Allah sangat jelas tentang menjaga lisan, karena setiap kata yang kita ucapkan akan dicatat oleh malaikat. Hal ini tertuang dalam Al-Quran surah Qaff ayat 18 yaitu “Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. Berbicara yang senonoh juga diamanahkan oleh Tenas pada data 07 berikut: (07) Kalau duduk dengan orang tua Jagalah mulut elokkan perangai Kalau duduk dengan orang banyak Jagalah sikap elokkan akhlak Kalau duduk dalam kampung Jangan sekali asung mengasung (Tenas Effendy, 2004:19) Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu berisi tentang petuah amanah dari orang tua kepada sesamanya. Data 07 ditujukan oleh orang tua kepada anaknya. Penggunaan diksi tertentu yang sengaja dipilih oleh Tenas yang bermaksud untuk membuat karyanya terlihat puitis sebanarnya bertujuan untuk menampakkan tentang Etika berbicara seorang anak kepada orang tua, baik itu ayah dan Ibunya maupun orang yang lebih tinggi usianya. Penggunaan diksi ini memberikan berpengaruh baik terhadap terhadap akhlak orang Melayu. Melalui pilihan kata yang baik maka suatu karya akan bagus, kebagusan etika berbicara dalam ButirButir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu sejalan dengan Sabda Rasulullah “Hendaklah ia berkata baik atau diam.” Maksud ini sejalan dangan yang diungkapkan oleh Tenas jagalah mulut elokkan perangai. Perkataan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Menjaga mulut sangat dituntut dalam adat Melayu. Baik itu berbicara pada orang tua, teman sebaya dan anak kecil. Apabila marah, maka kita disuruh diam oleh Tenas. Berkata baik dalam menyampaikan ajaran Allah dan rasulNya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu,


39 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. 5.4 Berbicara Ingat Amanah Apa itu anmanah akan tampak pada data 08 berikut: (08)Maka seperti kata orang tua-tua Sebelum melangkah pegang petuah Sebelum berjalan amanah dipadan Untuk bekal anak berjalan (Effendy, 2004:6) Tenas banyak menggunakan kata-kata yang indah yang bersifat perumpamaan. Dengan perumpamaan itu pembaca akan cepat mengerti dan bisa mengambil makna dari Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu tersebut. Bekal adalah persediaan yang dibawa dalam perjalanan seperti makanan uang dan ilmu. (Depdiknas, 2007:157) bekal adalah sesuatu yang disediakan (seperti makanan, uang) untuk digunakan dalam perjalanan. Kata “bekal”, dipilih Tenas agar setiap anak yang ingin berjalan jauh atau merantau hendaklah harus mengambil “bekal” dan nasehat yang banyak agar hidup kedepannya berjalan baik dan aman. Tenas ingin setiap orang membawa “bekal” hidup yang berguna untuk hidupnya kelak. Nasehat yang disampaikan Tenas diibaratkan dengan makanan, kalau tidak ada “bekal” hidup sama saja kehilangan arah dan tujuan. Kalau makanan tidak ada maka tidak akan bisa makan. Begitulah keterikatan yang kuat antara “bekal” yang disamakan dengan makanan. Berbicara ingat amanah akan tampak pada data 09 berikut: (09)Wahai ananda dengarlah amanah Sebelum berjalan tengoklah pelangkah Sebelum berbuat kenang petuah Sebelum berkata ingat amanah Sebelum terlanjur elokkan langkah Sebelum tersesat ingatlah sumpah (Tenas Effendy, 2004:20) Kata “ananda” biasanya digunakan pada penulisan surat, itu dikarenakan pengirim ingin terlihat lebih sopan kepada siapa surat tersebut dikirimkan. Kemudian kata “ananda” juga bisa digunakan pada golongan tertentu saja misalnya, pada golongan bangsawan dan kerajaan. Hal itu disebabkan oleh golongan bangsawan dan kerajaan memiliki sikap dan sifat yang harus baik agar bisa dicontoh oleh masyarakatnya. Kata “ananda” dengan kata anakku memiliki makna yang sama hanya kegunaannya yang berbeda. Tenas memilih kata “ananda” dari pada kata anakku, itu disebabkan karena kata “ananda” akan terasa lebih santun, sopan dan merasa lebih akrab kepada pembacanya. Tenas adalah seorang bangsawan Melayu yang terpandang dan disegani oleh banyak orang. Oleh karena itu, seorang bangsawan yang disegani oleh orang lain harus menggunakan bahasa yang sopan, yang bisa ditiru oleh masyarakat luas. Dengan bahasa yang baik orang akan segan dan akan menganggap diri ini orang yang berpengetahuan tinggi. Kelembutan dan kebermaknaan kata ananda itu berkait dengan pesan Tenas terhadap orang Melayu untuk selalu ingat amanah sebelum mengucapkan kata. Amanah yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dipesan oleh orang lainharus disampaikan apa adanya. Informasi


40 Etika Berbicara Dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy Roziah tidak boleh dikurangi atau ditambah. Hal ini menimbulkan kekacauan pesan pada pemberi pesan dan penerima pesan. Akibat lain yang ditimbulakan adalah adu domba anatara pemebei pesan dan penerima pesan. Penggunaan kata ananda bermaksud agar orang Melayu bisa menyematkan pesan itu dalam hati dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya. Pesan Tenas tentang ingat amanah dalam berbicara tergambar dalam data 10 berikut: (10)Salah tunjuk kepala pesuk Salah nasehat mulut berulat Salah suruh hidup bergaduh Salah larang mata terbuntang (Effendy, 2004:212) Pesuk yaitu lubang kemik, lekuk (pada talam) atau bocor, tembus (pada atap, tikar). (Kamus Dewan, 2007:1199. Tenas lebih memilih kata “pesuk” yang biasa digunakan oleh orang Melayu yang mengatakan pesuk itu untuk panci dan alat-alat dapur. Dengan begitu pembaca sudah bisa mengartikan baris 1 data.. yang bertulis “Salah tunjuk kepala pesuk” adalah kalau salah dalam menunjukkan sesuatu kepada orang lain maka harus bersiap untuk mendapatkan balasan dari orang tersebut. Makanya dalam memberi tahu sesuatu hal kepada orang lain harus yang benar jangan yang salah. Tetapi inilah kelebihan Tenas yang bisa menempatkan kata sehingga terlihat puitis dan enak di dengar oleh pembaca. Salah nasehat mulut berulat. Kesalahan dalam memberikan nasehat juga akan buruk padahnya. Tujuannya baik, maka akan terlihat tidak baik jika orang yang dinasehati tidak menerima nasehat tersebut. Orang yang bersalah, tidak mudah untuk mengakui kesalahannya. Hal ini akan menimbulkan sakit hati pada orang yang dinasehati. Selain itu memberikan nasehat mestilah menggunakan katakata yang baik. Salah suruh hidup bergaduh. Menyuruh haruslah pada orang yang tepat. Orang tua misalnya, menyuruh anaknya membeli rokok. Hai ini sebuah kesalahan, karena tanpa sengaja orang tua memperkenalkan rokok pada anaknya tersebut. Kejadiaan ini akan menciptakan kegaduhan terhadap anaknya. Orang tua tentu tak bisa marah apabila anaknya kelak akan merokok. Salah larang mata terbuntang. Pesan yang bisa dipetik dari kalimat tersebut adalah melarang perbuatan jahat harus hati-hati. Pelarang yang salah akan menimbulkan kesalahan. Misalnya, Dilarang membuang sampah di sini. Orang berpikir sampah yang ada di tempat tersebut dilarang dibuang. Lama kelamaan sampah tersebut akan bertumpuk. Inilah yang dimaksud dengan salah larang, bisa mata terbuntang. 5.5 Berkata Lurus, Benar dan Jujur tanpa Berdusta Perhatikan data berikut! (11)Bercakap lurus berkata benar Pepat di luar pepat di dalam Putih di luar putih di dalam Manis di luar manis di dalam Lidah disampai dengan adat Hati disampai dengan syarak (Tenas Effendy, 2004:44) Betapa piawainya Tenas dalam berbahasa bagian berbicara. Bercakap lurus bermakna perkataan yang tidak diucapkan harus tertuju pada apa yang dimaksudkan dalam hati. Apabila yang


41 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 diucapkan pepat, maka di dalam hati mestilah pepat. Putih di hati, mak harus diucapkan putih. Manis kata-kata harus manis juga yang tersembunyi di dada. Adat Melayu tidak membenarkan kebohongan. Lidah di sampai dengan adat. Hal ini sejalan dengan hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. HR Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47 Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah. Perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia. Sebuah peribahasa Melayu mengingatkan bahwa telajak perahu bisa diundur, telajak kata buruk padahnya. Peribahsa tersebut sejalan dengan Tenas. Orang Melayu hendaklah berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan perkataan. Diperlukan ilmu yang dalam dan pengetahuan yang luas tentang sesuatu yang ingn diucapkan. Pesan Tenas tentang menjaga perkataan tersebut tampak pada data 12 berikut! (12) Maka sebelum engkau melangkah Terimalah petuah dengan amanah Supaya tidak salah langkah Supaya tidak terlanjur lidah (Tenas Effendy, 2004: 31) Bercakap lurus berkata benar juga bisa diartikan tuntutan terhadap orang Melayu untuk jujur di dalam berbicara dan menghilangkan dusta. Tuntutan tersebut tercantum dalam kutipan 13 berikut: (13) Kalau anak dituakan orang Pandai-pandai dalam menenggang Bersikap adil berdada lapang Hati ikhlas fikiran panjang Berbuat jangan sewenangwenang Berkata lurus muka belakang (Tenas Effendy, 2004:10) Tenas begitu arif memilih kata perintah untuk berlaku jujur dalam berbicara. Tenas juga menggunakan kata yang terhormat untuk melarang manusia melakukan dusta. Berkata jujur tan dusta tampak pada baris keenam data... yaitu “Berkata lurus muka belakang”. Takrifan yang dapat diambul dari baris keenam tersebut tentang ketaatan Tenas terhadap perintah Allah dalam berbicara. Hal ini memebuktikan tenas telah menjalankan sabda Rasulullah dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim “kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang


42 Etika Berbicara Dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy Roziah senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” Adat Melayu sangat mendahulukan kejujuran. Seorang hamba Allah hendaklah selalu jujur. Kejujuran adalah sifat yang mulia dan bagian dari akhlak karimah yang wajib dimiliki oleh orang beriman. Antonim dari jujur adalah dusta yang merupakan sifat tercela dan bagian dari sifat munafik yang harus dijauhi. Barangsiapa yang berusaha`untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta maka dusta menjadi karakternya. Junjungan kita Nabi Muhammad Saw., bersabda: Sesungguhnya berlaku jujur itu memberi petunjuk kepada kebaikan. Sedang kebaikan itu memberi petunjuk kepada taman surga. Seorang yang gemar pada kebenaran akan dicatat pada sisi Allah sebagai seorang shiddiq (seorang yang membenarkan agama dengan penuh keyakinan). Orang Melayu hendaklah berlaku jujur. Katakanlah kebenaran walau terkadang jujur itu pahit, tapi tetaplah untuk jujur dalam perkataan agar setiap ucapan kita terpercaya. Jujur hanya karena Allah. Ingin senantiasa mendapatkan ridho dari Allah. Berkata jujur dalam segala termasuk bercanda. Pernah penulis ditanya tentang makna sebuah kalimat yang sama yang pernah diujarkan oleh seorang kiyai. “Apa maksud kalimat ‘Berkata jujurlah meskipun bercanda?’ Sebenarnya hati dan pikiran penulis berdebat ketika itu. Pertanyaan masih belum terjawab meskipun hati dan otak ini sudah berdiskusi. Susah mahu jujur dalam becanda. Kalau jujur tentu informasi yang disampaikan tidak bernilai humor. Kalau bercanda pasti menggunkan kata sindiran. Tapi pernah menerima pesan dari seorang kiyai ‘Kalau mahu masuk surga, berkata jujurlah meskipun bercanda’. Jaminan surga untuk orang yang jujur dan menjaga lisannya. Sampai saat ini, sangat sulit untuk mempraktikkan hal itu. Sebagai pendidik dan peserta didik, kita dituntut untuk bersabar untuk mengetahui dan memberitahu tentang jawaban sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Begitu juga dalam mempraktikkan hal yang sepele tapi mempunyai kesan tersendiri. Seperti jujur dalam bercanda. Sudahkah pendidik mengatakan “Maaf nak ibu belum tahu tentang hal itu.” Kenapa pendidik masih saja berhelah dengan menanyakan hal yang sama pada peserta didik yang lain untuk mendapatkan jawaban? Kenapa pendidik selalu menjadi yang terhebat di depan kelas dengan keberhasilan menjawab pertanyaan? Apakah benar pendidik setuju dengan pendapat Arif Doeiz tanpa mencerna pesan ini “Batang Pohon tak pernah memaksa ranting menjadi dirinya. Begitu pula ‘pengajar’ yang bijaksana. Tidak menjadikan muridnya memasuki batang kebijaksanaannya. Namun, membimbing menjadi ranting yang kelak mampu menjadi batang pohon pikirannya sendiri. Kenapa juga peserta didik tidak berusaha berpikir dan mencari jawaban sendiri sebelum bertanya kepada pendidik. Bukan ilmu sudah diujung jari. Tinggal tanya saja pada mbah google. Kenapa harus mencontek dalam ujian. Kenapa juga pendidik memberikan contekan ketika Ujian Nasional? Kenapa pemerintah membiarkan ini? Kenapa pendidik harus memberikan nilai rendah pada peserta didik yang tidak mampu


43 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 menjawab, padahal kita belum tentu bisa menjawab semua hal? Tidak perlu kita menyalahkan sesiapun yang berperan sebagai pendidik dan peserta didik. Al-Quran telah mengajarkan kita untuk bersabar dan jujur. Marilah kita bersama-sama bersabar dan jujur dalam mencari dan menyampaikan ilmu pengetahuan. Jujur saat ini, penulis ingin menghabiskan secangkir kopi panas berubah dingin, sejak tadi tersaji di meja belajar pemberian Pangeran Syurgaku dengan mengakhiri tulisan penulis dan berpesan “Berkata Jujurlah meskipun bercanda, apatah lagi dalam bersabar.” Tenas kembali mengingatkan kita untuk berbicara hal yang tidak benar dalam data berikut! (14)Jangan sampai terlanjur cakap Terlanjur cakap badan mengidap (Effendy, 2004:41) Depdiknas (2008:5160) kata mengidap berarti menderita sakit lama atau sering sakit-sakitan. Tenas menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa dalam mengeluarkan perkataan hendaklah berpikir dahulu, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan percecokan mulut nantinya. Kalau berbicara sembarangan orang akan tersinggung dengan omongan yang tidak baik itu, kalau orang sudah sakit hati maka orang tersebut akan balas dendam dengan cara yang tidak baik nantinya, rambut sama hitam kalau hati belum tentu sama, maka dari itu untuk menghindari seperti itu, kita harus berbicara dengan sopan dan hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 5.5 Pantang Mencerca dan Megumpat Perhatikan data 15 berikut! (15) Kepada ibu bapak hendaklah taat Jasanya besar wajib diingat Jangan durhaka dengki khianat Jangan dicerca pantang mengumpat Jangan berkata tidak beradat (Tenas Effendy, 2004:15) Cerca adalah celaan yang keras. (Depdiknas, 2008: 262), sedangkan umpat berarti perkataan yang keji yang diucapkan ketika marah. Adat Melayu tidak membenarkan orang mencerca dan mengumpat. Apapun yang dilakukan oleh orang lain terhadap manusia, orang Melayu tidak dibenarkan untuk mencerca dan mengumpat orang lain. Orang Melayu hanya boleh berbicara hal yang patut sahaja. Patut bermakna 1. layak, pantas; 2. Sesuai dan sepadan; masuk akal; sudah seharusnya. (Depdiknas, 2008: 1032). Orang yang patut dalam berkata adalah orang yang menjaga lisannya dengan aturan dan adat istiadat. Etika yang tergambar dari makna kata patut dalam berbicara adalah perkataan yang pantas saja mesti dikatakan pada pendengar. Selain itu, perkataan yang diucapkan mestilah masuk akal, dalam artian maknanya harus bisa diterima oleh orang lain. Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda: “Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya” Beliau juga bersabda: “Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan


44 Etika Berbicara Dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Karya Tenas Effendy Roziah mencegah kemungkaran”. Larangan mencerca dan mengumpat tampak pada data (16) berikut: (16)Yang sahabat jangan diumpat Yang saudara jangan dicerca Yang kawan jangan dilendan Yang teman jangan dimakan Yang keluarga jangan dilaga Yang kerabat jangan dikhianati Yang saudara mara jangan didera Yang tetangga jangan dihina (Effendy, 2004:14) Cercaan dan umpatan akan membuat keluarga berlaga. Seperti yang diketahui biasanya kata “dilaga” itu digunakan pada binatang, sedangkan pada manusia yang bersosial biasanya menggunakan kata adu domba. Kata dilaga pada data (16) dibuat karena Tenas tidak ingin manusia berperilaku seperti binatang, karena sebagai manusia diberi otak untuk berpikir mana yang baik dan mana yang buruknya karena cerca dan umpat. Begitu juga halnya di dalam keluarga, kalau sudah berkeluarga janganlah sekali-kali suka mengadu domba orang lain dengan umpat dan cerca yang nantinya akan timbul perkelahian diantara keluarga tersebut. Maka dari itu, pergunakan petuah amanah yang sudah didapat sebagai pembenteng diri agar tidak terpengaruh atas perilaku orang lain yang tidak baik. Kalau mengikuti petuah amanah yang sudah didapat dari orang-orang terdahulu, harus didengar dan digunakan sebaikbaiknya di dalam kehidupan kita, karena petuah amanah adalah pedoman di dalam menjalani hidup ini yang lebih baik kedepannya. Tenas juga melarang orang Melayu mengumpat dalam menjalankan amanah. Hal ini tercantum dalam data 17 berikut: (17) Memberi petuah jangan menyalah Memberi amanah jangan bertingkah Memberi nasehat jangan menyesat Memberi petunjuk jangan mengeruk Memberi amanah jangan mengumpat Memberi pesan jangan menyemam (Tenas Effendy, 2004:11) VI SIMPULAN Etika berbicara yang ditemukan dalam Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu karya Tenas Effendy adalah (a) Berbicara Lembut tanpa Menyergah; (b) Berbicara Hal yang Layak Dibicarakan; (c) Bermulut Manis Berbicara Senonoh; (d) Berbicara Ingat Amanah; (e) Berkata Lurus, Benar dan Jujur tanpa Berdusta; dan (f) Pantang mencerca dan Mengumpat. DAFTAR PUSTAKA Al-Quran Arif Doeiz. 2013. Kalendar. Yogyakarta: Graha Ilmu Atmazaki. 2005. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Citra Budaya Indonesia. Effendy, Tenas. 2004. Butir-butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau. Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologi,


45 GERAM, Volume 8 , Nomor 1, September 2015 Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: CAPS. Hamidy, UU. 1983. Pembahasan Fiksi dan Puisi. Pekanbaru: Unri Press. Hamidy, UU. 2003. Metode Penelitian Disiplin Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press. Kamus DewanEdisi keempat. 2007. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Leech dan Short. 1993. Gaya dalam Cereka Penerapan Linguistik dalam Prosa Cereka Inggeris. Terjemahan. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia. Nurgiantoro, Burhan. 2014. Stilistika. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. Sikana, Mana. 1990. Pendekatan Kesusasteraan Moden. Selangor Darul Ehsan: Karyawan Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti. Shomary, sudirman. 2005. Butir-Butir Tunjuk Ajar Sopan Santun Budaya Melayu Tenas Effendy: Kajian Bentuk Karya dan Stilistika. Riau: Lembaga Adat Melayu Tukan. P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia Sekolah Menengah Atas Kelas X. Jakarta: Yudhistira. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan, Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: PT. Gramedia. Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.


Click to View FlipBook Version