The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini memuat semua materi yang berkenaan tentang bimbingan konseling karir.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fazal Fauzi, 2020-12-16 07:26:51

E book_Fazal Fauzi_1911080310_A_BK KARIR

E-book ini memuat semua materi yang berkenaan tentang bimbingan konseling karir.

Keywords: BIMBINGAN KONSELING KARIR

masalah-masalahnya, terlebih lagi jika manusia belajar menggunakan
kemampuannya.

8. Diri manusia hanya berkembang di dalam masyarakat dan pada hakikatnya
manusia tidak dapat hidup sepenuhnya diluar masyarakat.

9. Manusia ingin mencapai kehidupan yang baik, sebenarnya usaha kearah itupun
sudah menunjukkan dan merupakan kehidupan yang baik.

4. Proses Konseling dalam Teori Trait-Factor

Dari pemahaman teori trait and factor banyak hal yang bias dilakukan oleh
seorang konselor dalam penerapannya dilapangan. Secara garis besar, setidaknya ada
empay langkah yang diterapkan konselor, yaitu:a. Mengenal klien, dengan data yang
akurat dan lengkap sehingga data kien menjadi modal awal bagi konselor untuk
melakukan proses preventif, kuratif dan diploment.b. Mengadakan peninjauan
terhadap berbagai pekerjaan yang ada, dilengkapi dengan pengenalan sifat pekerjaan,
keahlian yang dibutuhkan pekerjaan dan prasyarat lainnya, sehingga seorang konselor
betul memiliki referensi, wawasan luas dan sempurna tentang pekerjaan dan jabatan
yang ada.c. Mencocokan potensi (bakat, minat, kecendrungan, keahlian dan kondisi
objektif lainnya) yang dimiliki oleh klien dengan pekerjaan dan jabatan yang ada.d.
Melakukan konseling dengan klien dan mendiskusikan perihal sehubunggan dengan
data diri dan pekerjaan, untuk melakukan pilihan, keputusan diri dan berbagai solusi
terhadap masalah yang dialami klien. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa
konseling karir mencocokkan kedua factor ini, yaitu diri dan okupasional. Dengan
bertambahnya pengalaman, maka proses penyesuaian menjadi lebih efisien.
Williamson (Issacson 1977: 38), menunjukkan konseling melibatkan enam langkah
antara lain:a. Analisis, mengumpulkan data tentang individu, dapat dilakukan dengan
wawancara, catatan harian, otobiografi dan tes psikologi.b. Sintesis: Merangkum,
menggolongkan dan menghubungkan data yang diperoleh sehingga memperoleh

46

gambaran tentang kelemahan dan kelebihan individu.c. Diagnosis: Masalah dan
sebab-sebabnya dikemukakan. Menarik kesimpulan logis atas dasar gambaran,
pribadi individu yang diperoleh dari hasil analisis dan sintesisd. Prognosis:
kemungkinan keberhasilan setiap pilihan diperiksa.e. Konseling: Konselor membantu
klien untk memahami, menerima dan menggunakan informasi tentang diri dan
okupasi-okupasi.Tindak lanjut: Pengecekan dilakukan mengenai kesesuaian
keputusan-keputusan dan kebutuhan akan bantuan lanjutan.

5. Keunggulan dan Keterbatasan Teori Trait and Factor

Keunggulan
Setiap teori tentu memiliki kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Trait and
Factor Theory memiliki beberapa keunggulan dalam pelaksanaan layanan karir yang
menurut Hadiarni dan Irman, (2009) sebagai berikut:
Konseli mendapatkan data yang akurat dan valid tentang dirinya, yang diperoleh
melalui tes psikologi dan non tes yang dikerjakan oleh konselor secara ilmiah.Konseli
mendapatkan berbagai informasi dunia kerja dan berbagai persyaratan yang mesti
dimiliki untuk dimasuki dunia kerja tersebut.

Dalam teori ini bimbingan karir dapat dilakukan dengan basis data hasil tes sebagai
acuan pemilihan karir, bahkan cenderung direktif sehingga konselor dapat dengan
mudah menangani banyak siswa. Konseli juga memiliki pilihan berdasar anaisis atau
hasil dari tes yang memberikan gambaran pilihan karir ideal untuk dirinya.

Keterbatasan
Trait and factor theory membuat suatu pilihan karir menjadi sederhana dan sangat
praktis. Teori ini memandang bahwa minat dan kemampuan seseorang dapat berubah
dari waktu ke waktu, sebagai pembelajaran baru terjadi sewaktu-waktu. Namun, hal
yang menarik adalah Brown dalam Thomason (1999) trait dalam vocational dianggap
sebagai suatu yang relatif stabil.

47

Tes merupakan salahsatu bantuan yang dapat digunakan dalam pemilihan karir, tetapi
tidak cukup untuk memprediksi apakah individu-individu tertentu akan berhasil
dalam pekerjaan yang tersebutkan dalam tes atau tidak.
Pandangan trait and factor dianggap terlalu optimis karena setiap orang diasumsikan
memiliki satu pekerjaan paling ideal dan tepat untuk dirinya. Meskipun mungkin
benar terdapat pekerjaan yang setiap orang berpotensi memilihnya. Seperti doketer,
tantara, guru, polisi. tetapi ada banyak faktor lain yang membatasi pilihan pada
pekerjaan tersebut. Faktor-faktor seperti pilihan geografis, cacat, tingkat pekerjaan
dan gaji, nilai-nilai pribadi dan kebutuhan, dan sebagainya diabaikan dalam trait and
factor (Thomason, 1999). meskipun begitu keputusan pekerjaan yang akan diambil
tetap sepenuhnya diserahkan pada siswa.

C. Teori Myers-Briggs Type Indicator
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI IB Myers Briggs & KC, 1943/1 976) adalah

instrumen kepribadian dengan berbagai aplikasi. Tipe ini dapat dimanfaatkan dalam
proses konseling karir. MBTl telah terbukti berguna untuk para profesional dalam
konseling dan strategi dengan klien tentang preferensi klien psikologis, keluarga karir
yang optimal, dan peluang pekerjaan yang potensial.

Tipe kepribadian, sebagaimana gaya kognitif, tipe kepribadian juga merujuk pada
konstruk-konstruk yang telah digunakan untuk menjelaskan kesamaan dan pebedaan
dalam modus pemikiran, persepsi dan prilaku yang disukai oleh individu. Pada
dasarnya, tipe-tipe kepribadian adalah kategori-kategori yang dirumuskan oleh
konfigurasi dua atau lebih ciri atau atribut tertentu. Sebagai penjelasan untuk perilaku
manusia, tipologi memiliki sejarah untuk prilaku manusia, tipologi memiliki sejarah
yang panjang. Sistem-sistem tipologi kerap kali memiliki daya tarik populer yang luar
biasa karena sistem-sistem ini menawarkan basis pemahaman yang relatif sederhana
namun kuat dan bisa menjelaskan prilaku seseorang atau orang lain.

48

Salah satu kualifikasi tipologis yang paling bertahan dirancang oleh C.G Jung
(1921-1971). Dimana MBTI Myers-Briggs Type Indicator ini didasarkan pada
pemikiran C.G Jung (1921-1971) mengenai persepsi, judgment dan sikap yang
digunakan oleh setiap tipe yang berbeda dari individu. Persepsi adalah kemampuan
psikologis individu untuk sadar pada hal-hal, orang-orang dan ide-ide. Judgment
melibatkan berbagai cara untuk menyimpulkan apa yang telah dipersepsikan individu
tersebut. Kalau orang berbeda satu sama lain ketika mempersepsikan sesuatu juga
ketika melakukan judgment, maka perbedaan ini juga mempengaruhi minat,
ketrampilan, nilai-nilai serta reaksi mereka.

1. Empat Skala Kecenderungan
MBTI bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan (dikotomis).

Walaupun berlawanan sebetulnya kita memiliki semuanya, hanya saja kita lebih
cenderung / nyaman pada salah satu arah tertentu. Seperti es krim dan coklat panas,
mungkin kita mau dua-duanya tetapi cenderung lebih menyukai salah satunya.
Masing-masing ada sisi positifnya tapi ada pula sisi negatifnya. Nah, seperti itu pula
dalam skala kecenderungan MBTI.

Berikut empat skala kecenderungan MBTI : Extraversion (E) – Introversion (I);
Sensing (S) – Intuition (N); Thinking (T) – Feeling (F); Judgement (J) – Perception
(P)

Extrovert (E) vs. Introvert (I)

Dimensi EI melihat orientasi energi kita ke dalam atau ke luar. Ekstrovert
artinya tipe pribadi yang suka dunia luar. Mereka suka bergaul, menyenangi interaksi
sosial, beraktifitas dengan orang lain, serta berfokus pada dunia luar dan action
oriented. Mereka bagus dalam hal berurusan dengan orang dan hal operasional.
Sebaliknya, tipe introvert adalah mereka yang suka dunia dalam (diri sendiri). Mereka
senang menyendiri, merenung, membaca, menulis dan tidak begitu suka bergaul

49

dengan banyak orang. Mereka mampu bekerja sendiri, penuh konsentrasi dan focus.
Mereka bagus dalam pengolahan data secara internal dan pekerjaan back office.

Sensing (S) vs. Intuition (N)

Dimensi SN melihat bagaimana individu memproses data. Sensing
memproses data dengan cara bersandar pada fakta yang konkrit, praktis, realistis dan
melihat data apa adanya. Mereka menggunakan pedoman pengalaman dan data
konkrit serta memilih cara-cara yang sudah terbukti. Mereka fokus pada masa kini
(apa yang bisa diperbaiki sekarang). Mereka bagus dalam perencanaan teknis dan
detail aplikatif. Sementara tipe intuition memproses data dengan melihat pola dan
hubungan, pemikir abstrak, konseptual serta melihat berbagai kemungkinan yang bisa
terjadi. Mereka berpedoman imajinasi, memilih cara unik, dan berfokus pada masa
depan (apa yang mungkin dicapai di masa mendatang). Mereka inovatif, penuh
inspirasi dan ide unik. Mereka bagus dalam penyusunan konsep, ide, dan visi jangka
panjang.

Thinking (T) vs. Feeling (F)

Dimensi ketiga melihat bagaimana orang mengambil keputusan. Thinking
adalah mereka yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk
mengambil keputusan. Mereka cenderung berorientasi pada tugas dan objektif.
Terkesan kaku dan keras kepala. Mereka menerapkan prinsip dengan konsisten.
Bagus dalam melakukan analisa dan menjaga prosedur/standar. Sementara feeling
adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai yang diyakini ketika
hendak mengambil keputusan. Mereka berorientasi pada hubungan dan subjektif.
Mereka akomodatif tapi sering terkesan memihak. Mereka empatik dan
menginginkan harmoni. Bagus dalam menjaga keharmonisan dan memelihara
hubungan.

Judging (J) vs. Perceiving (P)

50

Dimensi terakhir melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging di sini bukan
berarti judgemental (menghakimi). Judging diartikan sebagai tipe orang yang selalu
bertumpu pada rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur
(tidak melompat-lompat). Mereka tidak suka hal-hal mendadak dan di luar
perencanaan. Mereka ingin merencanakan pekerjaan dan mengikuti rencana itu.
Mereka bagus dalam penjadwalan, penetapan struktur, dan perencanaan step by step.
Sementara tipe perceiving adalah mereka yang bersikap fleksibel, spontan, adaptif,
dan bertindak secara acak untuk melihat beragam peluang yang muncul. Perubahan
mendadak tidak masalah dan ketidakpastian membuat mereka bergairah. Bagus
dalam menghadapi perubahan dan situasi mendadak.

Masing-masing tipe diidentifikasi dengan 4 huruf seperti ENFJ. Metode ini
sangat populer, sehingga dapat menemukannya pada pribadi seseorang. Dengan
menggabungkan dimensi yang berlainan, Myers dan briggs mengidentifikasi 16 jenis
kepribadian yang berbeda, setiap kepribadian dengan kelebihan dan minatnya sendiri.
Dengan menjelaskan sebagai berikut :

ISTJ (Introverted sensing with thinking)

Perasaan introvert dengan berfikir. Mereka ini adalah tulang punggung
kekuatan. Mereka saling berusaha mengubah pasangan atau orang lain. Mereka cocok
menjadi praktisi bank, auditor, akuntan, analis pajak, pengawas perpustakaan, dan
rumah sakit, pebisnis, dan sebagainya.

ISFJ (Introverted sensing with feeling)

Pengindraan introvert dengan perasaan. Orang ini senang melayani dan
pekerja keras. Mereka tidak menyenangi waktu luang dan akan berusaha mencari-cari
masalah apabila tidak ada yang akan dikerjaan. Mereka cocok menjadi perawat, guru,
sekretaris, pustakawan, manager, dan ibu rumah tangga.

INFJ (Introverted intuiting with feeling)

51

Pengintuisian introvert dengan perasaan. Tipe ini adalah pelajar atau pekerja
serius yang benar-benar ingin punya andil. Mereka suka menyendiri dan mudah
tersinggung. Mereka bisa menjadi pasangan yang baik dan seara fisik sangat
menyenangkan. Mereka dianggap mampu memahami aspek kejiwaan orang lain.
Mereka dapat menjadi terapis, pengabdi masyarakat dan menteri yang baik.

INTJ (Introverted intuiting with thinking)

Pengintuisian dengan berfikir. Ini adalah tipe yang paling independen
dibanding tipe-tipe yang lain. Mereka menyenangi logika dan gagasan baru serta mau
terjun kedalam penelitian ilmiah. Tapi tidak jarang diantara mereka menjadi orang
yang picik. Mereka cocok dalam pekerjaan analisis komputer, insinyur, hakim,
pengacara, ilmuwan, ilmuan sosial.

ISTP (Introverted thinking with sensing)

Berpikir introvert dengan mengindra. Orang semacam ini menyenangi
tindakan, tidak memiliki rasa takut dan selalu ingin gembira. Mereka akan sangat
impulsif dan berbahaya apabila dihentikan. Mereka lebih menyenangi perkakas, alat-
alat dan senjata, dan biasanya cocok sebagai ahli teknik. Mereka tidak senang
berkomunikasi dan kerap didiagnosis sebagai orang yang hiperaktif. Biasanya orang
semacam ini tidak pintar disekolah.

ISFP (Introverted feeling with sensing)

Perasaan introvert dengan mengindra. Mereka ini adalah orang yang pemalu
dan cepat lelah, tidak suka bicara tapi senang pekerja fisik. Mereka cocok jadi pelukis,
pematung, komposer, dan penari (seni seara umum), dan mereka mencintai alam.
Mereka ini tidak terlalu peduli dengan komitmen.

INFP (introverted feeling with intuiting)

Perasaan intreovert dengan intuisi. Mereka ini adalah orang-orang yang
idealis, mau mengorbankan dirinya, sangat dingin dan mampu menahan diri. Mereka

52

lebih mementingkan keluarga, tapi dengan cara yang santai. Anda akan menemukan
mereka berkiprah dibidang psikologi, arsitekturm, agama tapi tidak dalam bisnis.

INTP (introverted thinking with intuiting)

Berpikir introvert dengan intuisi. Orang ini dapat dipercaya, selalu berpikir
masak-masak, dan pemaaf serta sangat mencintai buku. Mereka cenderung sangat
hemat dengan bahasa yang dipakai, menyenangi logika dan matematika. Mereka
cocok jadi filosof atau ilmuan teoritis, tapi tidak tepat menjadi penulis atau sales.

ESTP (Extroverted sensing with thinking)

Mengindra extrovert dengan berpikir. Tipe ini adalah orang yang berorientasi
pada tindakan, kadang canggih, kadang sembrono, seperti James Bond. Sebagai
pasangan, orang ini sangat menyenangkan dan hangat, tapi mereka lemah pada soal
komitmen. Mereka dapat menjadi pengusaha atau artis yang baik.

ESFP (Extroverted sensing with feeling)

Mengindra ekstrovert dengan perasaan. Orang ini bersifat impulsif, mereka
tidak tahan dengan kecemasan. Mereka cocok sebagai sosok yang tampil kedepan
karena sangat menyenangi publi relation dan sangat senang dengan telepon. Mereka
tidak akan pernah menyenangi hal-hal akademis, terutama sains. Mereka cocok dalam
pekerjaan penitipan anak, insinyur pertambangan, sekertaris dan supervaisor.

ENFP (Extroverted Intuiting With Feeling)

Pengintuisian extrovert lewat perasaan. Tipe orang ini suka hal-hal yang baru
dan kejutan. Mereka sangat dikuasai oleh perasaan dan ekspresi. Mereka sangat peka
dengan perubahan tubuh dan mempunyai kesadaran diri yang baik. Mereka cocok
menjadi sales, politisi, dan actor.

ENTP (Extroverted Intuiting With Thinking)

53

Pengintuisian ekstrovert dengan berpikir. Tipe ini adalah orang yang hidup
dan bersemangat, tidak cuek, dan tidak pula rapi. Sebagai pasangan, mereka sedikit
tidak menyenangkan, khususnya secara ekonomi. Mereka cocok menjadi analis dan
entertainer. Mereka juga cenderung ingin mengedepankan diri.

ESTJ (Extroverted thinking with sensing)

Berfikir ekstrovert dengan mengindra. Mereka adalah pasangan yang
bertanggung jawab, orang tua yang baik dan pekerja yang loyal. Mereka bersifat
realistis dan menyayangi tradisi yang berlaku. Mereka cocok menjadi administrator,
manajer keuangan, pengawas.

ESFJ (Extroverted Feeling With Sensing)

Perasaan ekstrovert dengan mengindra. Tipe ini adalah orang yang menyukai
harmoni. Mereka bisa tegas untuk menyatakan “ya atau tidak”. Mereka cenderung
tergantung, terutama pada orang tua dan kemudian pada keluarga. Mereka
mengabdikan hati dan hidupnya untuk orang lain. Mereka cocok menjadi pekerja
kesehatan, manajer kantor, sekertaris dan guru.

ENFJ (Extroverted Feeling With Intuting)

Perasaan extrovert lewat intuisi. Tipe orang ini adalah suka bicara. Mereka
cenderung melebih-lebihkan kawannya. Mereka akan menjadi orang tua yang baik,
tapi cenderung membiarkan diri mereka dimanfaatkan oleh orang lain. Mereka cocok
menjadi Ahli terapi, guru, eksekutif perusahaan dan sales.

ENTJ (Extroverted Thinking With Intuiting)

Berfikir ekstrovert dengan intuisi. Tipe kepribadian ini adalah orang yang
suka dirumah dan berkumpul dengan keluarga. Mereka menyenangi organisasi dan
struktur yang tertata. Tipe ini sangat cocok untuk eksekutif perusahaan dan
administrator.

54

Myers-Briggs Type Indicator dapat digunakan bagi pendidik untuk
memahami banyaknya ragam cara yang dapat dilakukan peserta didik untuk
merasakan dan menilai informasi saat belajar.

Di dalam kajian Myers-Briggs Type Indicator, bahwasanya :

“Psychometrics and personality tests can be hugely beneficial in improving
knowledge of self and other people, example : motivations, strengths, weaknesses,
preferred thinking and working styles, and also strengths and preferred styles for
communications, learning, management, being managed, and team-working”

Akan tetapi menurut Jung, sebagian dari kita extraverts (McGuire dan Hull
1997: 213). Ekstravert adalah preferensi Jung. Semua kutipan adalah untuk McGuire
dan Hull, bahwasanya mereka lebih dipengaruhi oleh lingkungan mereka daripada
niat mereka sendiri. ekstravert adalah orang yang pergi oleh pengaruh dunia luar ,
misalnya masyarakat atau rasa persepsi.

Namun hasil-haisl MBTI Myers-Briggs Type Indicator, tidak seperti hasil dari
inventori kepribadian lainnya, terutama dimaksudkan untuk digunakan oleh
responden dan disajikan dalam cara yang tidak menilai. Dua dari premis paling dasar
yang digunakan dalam menaksirkan hasil-hasil MBTI adalah (a) bahwa semua tipe itu
berharga dan niscaya serta memiliki kekuatan dan kelemahan tertentu, (b) bahwa
individu lebih terampil dalam fungsi , proses, dan sikap yang mereka sukai. Ciri-ciri
itu telah meningkatkan popularitas MBTI dan aplikasinya untuk berbagai maksud,
termasuk bimbingan karir, konseling, dan selektif tim serta pengembangan tim.

2. Manfaat MBTI
A. Bimbingan Konseling

55

MBTI sangat berguna di dunia pendidikan dan pengembangan karir. MBTI bisa
digunakan sebagai panduan untuk memilih jurusan kuliah sampai dengan profesi
yang cocok dengan kepribadian.

B. Pengembangan Diri

Dengan MBTI kita bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus
kelemahan (Weakness) yang ada pada diri sendiri. Kita bisa lebih fokus
mengembangkan kelebihan kita sekaligus mencari cara memperbaiki sisi negatif kita.

Memahami Orang Lain Dengan Lebih Baik.

MBTI membantu memperbaiki hubungan dan cara pandang kita terhadap
orang lain. Kita bisa lebih memahami dan menerima perbedaan. Tidak semua orang
berfikir, bersikap dan berperilaku seperti cara kita berprilaku. Jadi terimalah
perbedaan yang ada.

3. Kelebihan dan Kekurangan
• Kelebihan:

Individu lebih mudah dipahami melalui tes kepribadian karena hanya ada 2
pilihan alternatif yaitu “Ya atau Tidak”. Dengan metode ENFJ dalam MBTI
memudahkan individu untuk menyesuaikan pribadinya dengan pekerjaan yang di
sukainya. Individu menggunakan minat, bakat, kemampuan, dan niat dalam dirinya
untuk memilih karir yang sesuai dengan kepribadiannya tanpa ada paksaan dari luar.

Tujuan dari MBTI dibuat untuk mempelajari tipe kepribadian berdasarkan teori
Jung. Individu mencoba menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil
keputusan karirnya berdasarkan fakta yang ada dilingkungannya. Dengan MBTI kita
bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan (Weakness) yang
ada pada diri sendiri.

56

• Kekurangan:

Individu cenderung merasa terpaksa atas pilihannya, karena harus memilih salah
satu pilihan yang keduanya dianggap sesuai dengan kemampuannya. Individu lebih
dituntut atas niat dalam dirinya saja, tanpa melihat faktor pendukung lain yang berada
dilingkungannya.

D. Teori Perkembangan Karier Donald E. Super
1. Konsep Dasar

Petunjuk dasar teori ini adalah penelitian Super di bidang pengembangan karier
beberapa tahun setelah diluncurkannya buku pernyataan pertama teoretisnya. Super
terdorong ke dalam pernyataan pertama teoretisnya oleh upaya berteori dari Ginzberg
dan rekan-rekannya. Menurut Super teori Ginzberg memiliki kelemahan serius, salah
satunya adalah kegagalan untuk memperhitungkan manusia sangat signifikan
terhadap informasi tentang perkembangan pendidikan dan vokasional.

Donald E Super memberikan suatu pandangan bahwa perkembangan karir
merupakan suatu yang luas, karenna mencakup berbagai faktor, baik dalam dirinya
sendiri maupun faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan karir. Faktor
dalam diri yaitu bisa mencakup sifat-sifat kepribadiannya, intelektual dan diluar diri
individu bisa faktor keluarga, sosial serta budaya, tetapi titik berat nya berada pada
faktor dalam diri individu itu sendiri.

Teori Donald E. Super ini lebih menekankan tentang self concept, unsur yang
paling mendasar dari teori Super ini ialah konsep diri atau gambaran diri sehubung
dengan pekerjaan yang akan di lakukannya dan dipegangnya. Gambaran diri ini
merupakan suatu dorongan internal untuk mengantarkan seseorang ke suatu bidang
pekerjaan untuk mencapai kesuksesan dan merasakan kepuasan tersendiri. Dengan

57

gambaran ini maka individu bisa mewujudkan atau mengekspresikan dirinya melalui
suatu pekerjaan tertentu.

Berikut ini beberapa prinsip dasar dari teori Donald Super:

1. Setiap orang mempunyai potensi

2. Setiap orang mempunyai Konsep Dii (Self Concept)

3. Pengembangan kariri adalah kehidupan panjang dan terdiri dari lima
tahapan utama kehidupan: Growth, Exploration, Establishment, Maintence
and Disengagement

4. Ada lima tahapan berurutan. Seseorang melalui siklus dari masing-masing
tahapan ketika mereka mulai memasuki transisi karir

5. Seseorang memainkan peran yang berbeda sesuai dengan kehidupannya
termasuk peran sebagai pekerja.

Dalam sebuah ekstensi yang lebih baru dari teorinya, Super (1963) mengelaborasi
konsep kematangan vokasional. Kematangan vokasional memungkinkan pengamat
untuk menilai laju dan tingkat perkembangan individu sehubungan dengan hal karier.
Hal ini bisa diduga bahwa perilaku vokasional yang matang akan menganggap bentuk
yang berbeda tergantung pada konteks yang diberikan oleh tahap kehidupan individu.
Usia vokasional empat belas tahun yang matang akan peduli dengan penilaian minat
pribadi dan kemampuan untuk mencapai tujuan menentukan rencana pendidikan,
sementara usia vokasional empat puluh lima tahun yang matang akan peduli dengan
cara-cara untuk mempertahankan status karier dalam menghadapi persaingan dari
para pekerja muda.

Hal penting lain dalam teori Super adalah perbedaan antara psikologi pekerjaan
dan psikologi karier. Psikologi pekerjaan terutama didasarkan pada psikologi
diferensial dan pada asumsi bahwa kecocokan individu dan karier bertahan

58

selamanya. Di sisi lain, psikologi karier, yang berasal dari psikologi perkembangan,
bertumpu pada asumsi bahwa perkembangan karier sesuai dengan prinsip-prinsip
umum perkembangan manusia, yang pada dasarnya adalah evolusi. Psikologi
vokasional adalah jangka waktu memilih untuk menyatakan bidang pekerjaan yang
dihasilkan dua aliran pemikiran tersebut. Karena metode dan alat konseling
vokasional saat ini lebih cocok untuk mempelajari psikologi pekerjaan dibanding
psikologi karier, Super menegaskan bahwa yang terakhir telah diabaikan dalam
mendukung sebelumnya.

Teori Super dinyatakan dalam bentuk proposisi. Pada mulanya, tahun 1953, Super
menghasilkan sepuluh (10) proposisi. Kemudian tahun 1957, bersama Bachrach
dikembangkan menjadi dua belas (12) dan tahun 1990 dikembangkan lagi menjadi
empat belas proposisi yaitu:

1. Setiap orang memiliki perbedaan individual dalam kemampuan,
kepribadian, kebutuhan, nilai, minat, sifat, dan konsep diri. Berbagai
karakteristik pribadi sangat bervariasi dalam setiap individu di antara
individu. Walaupun kebanyakan dari kita kurang lebih seperti orang lain
dalam banyak sifat, keunikan setiap orang jelas dalam kombinasi kekuatan
dan kelemahan individual.

2. Berdasarkan karakteristik tersebut, setiap individu masing-masing memiliki
kecakapan untuk sejumlah pekerjaan. Berbagai kemampuan, karakteristik
kepribadian, dan sifat-sifat lainnya begitu luas sehingga setiap orang
mempunyai kemungkinan untuk berhasil dalam dalam banyak bidang
pekerjaan. Penelitian di bidang rehabilitasi telah menunjukkan meskipun
individu penyandang cacat terdapat sejumlah pekerjaan yang dapat
dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan. Untuk orang tanpa gangguan
fisik atau emosional yang serius, terbentang luas kemungkinan untuk berhasil
dalam berbagai jenis pekerjaan.

59

3. Setiap pekerjaan membutuhkan pola karakteristik kemampuan dan
kepribadian yang cukup luas sehingga bagi setiap orang tersedia beragam
pekerjaan dan setiap pekerjaan terbuka bagi bermacam-macam orang. Untuk
setiap kemampuan atau sifat yang diperlukan dalam kinerja suatu pekerjaan
tertentu, orang mungkin berharap untuk menemukan kuantitas modal yang
paling sesuai dengan sifat pekerjaan.

4. Pilihan vokasional dan kompetensi, situasi-situasi di mana orang hidup dan
bekerja, serta konsep diri akan mengalami perubahan karena waktu dan
pengalaman, karena itu membuat pilihan pekerjaan dan penyesuaiannya
merupakan suatu proses yang kontinyu. Seseorang melatih kecakapan-
kecakapan tertentu yang dimilikinya atau mengembangkan ke tingkat yang
lebih tinggi memerlukan penyaluran dalam pekerjaan yang dapat memberikan
kesempatan untuk mempergunakan kecakapannya yang telah berkembang.

5.Proses perkembangan itu dapat kita simpulkan dalam serangkaian tahap-
tahap perkembangan kehidupan manusia, yaitu pertumbuhan, eksplorasi,
pembentukan, pemeliharaan, dan kemunduran, dan dibagi lagi menjadi: (a)
fantasi , fase tentatif, dan realistis dari tahap eksplorasi dan (b) fase uji coba
(trial) dan fase stabil (stable) dari tahap pembentukan.

6.Pola karier seseorang ditentukan oleh tingkat sosial ekonomi orangtua,
kemampuan mental, pendidikan, keterampilan, karakteristik kepribadian
(kebutuhan, nilai, kepentingan , sifat, dan konsep diri), dan kematangan karier
serta kesempatan yang terbuka bagi dirinya.

Semua faktor di belakang pengalaman individu berkontribusi terhadap sikap dan
perilaku. Beberapa faktor jelas berkontribusi lebih signifikan daripada yang lain.

-Perkembangan orang dalam melewati tahap-tahap dapat dipandu dengan bantuan

untuk pematangan kemampuan dan minat dan dengan bantuan untuk melakukan uji

realitas (reality-testing).

60

Individu dapat dibantu untuk bergerak ke arah pilihan pekerjaan yang memuaskan
dalam dua cara: (a) dengan membantu seseorang untuk mengembangkan kemampuan
dan minatnya; (b) dengan membantu seseorang untuk memperoleh pemahaman
tentang kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga dapat membuat pilihan yang
memuaskan.

-Proses perkembangan karier pada dasarnya adalah pengembangan dan
implementasi konsep diri. Konsep diri adalah perpaduan antara kemampuan dasar
yang diwariskan, kesempatan untuk memainkan berbagai peranan dirinya, dan
evaluasi atau penilaian orang lain terhadap usaha memainkan peranan tersebut.
Selama masa pendidikan, sebelum seseorang benar-benar memasuki dunia kerja,
seseorang sudah membayangkan jabatan atau peranan yang kelak akan dilakukan dan
ini merupakan bagian daripada perkembangan konsep dirinya.

-Proses kompromi antara faktor individu dan sosial, antara konsep diri dan
realitas, adalah permainan peranan dalam berbagai latar dan keadaan (pribadi,
kelompok, pergaulan, hubungan kerja). Karena dunia kerja sedemikian kompleks
sifatnya dan persyaratan masuk demikian sukarnya, maka kecil kemungkinannya
untuk mencoba benar-benar berpartisipasi dalam situasi pekerjaan yang
nyata/realistis. Ini menuntut perlunya pencocokan konsep diri dan tuntutan terhadap
pekerjaan yang tawarkan dalam situasi yang pada dasarnya abstrak.

-Kepuasan kerja dan kepuasan hidup tergantung pada sejauh mana individu dapat
menyalurkan kemampuan, nilai, minat, karakter kepribadian, dan konsep dirinya.
Selain itu, bergantung usaha pada jenis pekerjaan, situasi kerja, dan cara hidup di
mana individu bisa memainkan jenis peran pertumbuhan, dan eksplorasi pengalaman.
Individu yang menemukan kenikmatan dan kepuasan melakukannya karena posisi
yang dimiliki memungkinkan orang memainkan peranan yang dinilai cocok dan
patut.

-Kesuksesan dalam menghadapi tuntutan lingkungan dalam setiap tahap
kehidupan karir diberikan tergantung pada kesiapan individu untuk mengatasi

61

tuntutan tersebut (kematangan karir). Super mengidentifikasi kematangan karir
sebagai kelompok karakteristik fisik, psikologis, dan sosial yang merupakan kesiapan
individu dan kemampuan untuk menghadapi dan menangani masalah perkembangan
dan tantangan.

-Kematangan karier adalah konstruksi hipotetis. Penelitian awal Super (Studi Pola
Karier) membahas konsep diri yang terkait dengan karier atau masalah perkembangan
vokasional. Super dan rekan kerja mencari cara untuk mendefinisikan dan menilai
konsep ini.

Dari upaya ini muncul Inventori Perkembangan Karier Super.

Tingkat kepuasan yang diperoleh dari pekerjaan itu selaras dengan penerapan konsep
diri.
Hubungan situasi kerja dengan peran individu harus dianggap dalam arti luas. Profesi
dan posisi manajerial yang lebih tinggi mungkin memberikan peluang terbesar,
seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang, untuk kepuasan intrinsik yang berasal
dari pekerjaan itu sendiri. Tapi banyak individu mendapatkan kepuasan besar dari
pekerjaan yang kelihatannya membosankan dan monoton. Hal ini memberikan
kesempatan untuk menjadi jenis orang yang diinginkan, melakukan hal-hal yang
ingin dilakukan, dan menganggap diri seperti yang dipikirkan .

Bekerja dan pekerjaan merupakan titik pusat organisasi kepribadian bagi kebanyakan
orang, sedangkan

bagi segolongan orang lagi yang menjadi titik pusat adalah hal lain, misalnya
pengisian waktu luang dan kerumah tanggaan. Pada dasarnya, proposisi ini
mengatakan bahwa kebanyakan orang dewasa adalah cerminan dari pekerjaan dan
peran utama yang dilakukan.

2 .Tahapan Perkembangan Karier Donald E. Super

62

Super mengusulkan gagasan bahwa orang berusaha untuk menerapkan konsep
dirinya dengan memilih untuk masuk pekerjaan dianggap yang paling mungkin untuk
memungkinkan ekspresi diri. Pilihan karier adalah soal mencocokkan (matching). Di
dalam irama hidup orang, terjadi perubahan-perubahan dan ini berpengaruh pada
usahanya untuk mewujudkan konsep diri itu. Teori perkembangan menerima teori
matching (teori konsep diri), tetapi memandang bahwa pilihan kerja itu bukan
peristiwa yang sekali terjadi dalam hidup seseorang (misalnya waktu tamat
pendidikan dan mau meninggalkan sekolah). Orang dan situasi lingkungannya
berkembang, dan keputusan karier itu merupakan rangkaian yang tersusun atas
keputusan yang kecil-kecil.

Tahap Perkembangan Karier

Tahap Pertumbuhan (Growth): 0 – 14 tahun

Adanya pertumbuhan fisik dan psikologis. Pada tahap ini individu mulai
membentuk sikap dan mekanisme tingkah laku yang kemudian akan menjadi penting
dalam konsep dirinya. Bersamaan dengan itu, pengalaman memberikan latar belakang
pengetahuan tentang dunia kerja yang akhirnya digunakan dalam pilihan pekerjaan
mulai yang tentatif sampai dengan final.

Tahap Eksplorasi (Exploratory): 15 – 24 tahun

Dimulai sejak individu menyadari bahwa pekerjaan merupakan suatu aspek dari
kehidupan manusia. Pada awal masa ini atau masa fantasi, individu menyatakan
pilihan pekerjaan sering kali tidak realistis dan sering erat kaitannya dengan
kehidupan permainannya.

Tahap Pembentukan (Establishment): 25 – 44 tahun

Berkaitan dengan pengalaman seseorang pada saat mulai bekerja. Pada masa ini
individu dengan cara mencoba-coba ingin membuktikan apakah pilihan dan

63

keputusan pekerjaan yang dibuat pada masa eksplorasi benar atau tidak. Sebagian
masa ini adalah masa try-out. Individu mungkin menerima pekerjaan dengan perasaan
pasti bahwa ia akan mengganti pekerjaan jika merasa tidak cocok. Apabila ternyata
individu mendapat pengalaman yang positif atau keuntungan dari suatu pekerjaan,
pilihannya menjadi mantap, dan dia akan memasukkan pilihan pekerjaan itu sebagai
aspek dari konsep dirinya serta kesempatan terbaik untuk mendapatkan kepuasan
kerja.

Tahap Pemeliharaan (Maintenance): 45 – 64 tahun

Individu berusaha untuk meneruskan atau memelihara situasi pekerjaan.
Pekerjaan yang dilakukan dan konsep diri (self-concept) mempunyai hubungan yang
erat. Keduanya terjalin oleh proses perubahan dan penyesuaian yang kontinyu. Pada
intinya individu berkepentingan untuk melanjutkan aspek-aspek pekerjaan yang
memberikan kepuasan, dan merubah atau memperbaiki aspek-aspek pekerjaan yang
tidak menyenangkan, tetapi tidak sampai individu itu meninggalkan pekerjaan
tersebut untuk berganti dengan pekerjaan yang lain.

Tahap Kemunduran (Decline): di atas 65 tahun

Tahap menjelang berhenti bekerja (preretirement). Pada tahap ini perhatian
individu dipusatkan pada usaha bagaimana hasil karyanya dapat memenuhi
persyaratan out-put atau hasil yang minimal sekalipun. Individu lebih memperhatikan
usaha mempertahankan prestasi kerja daripada upaya meningkatkan prestasi kerjanya.

Kelima tahap ini dipandang sebagai acuan bagi munculnya sikap-sikap dan
perilaku yang menyangkut keterlibatan dalam suatu jabatan, yang tampak dalam
tugas-tugas perkembangan vokasional (vocational developmental tasks).

Tugas Perkembangan Vokasional

Menurut Super dalam Osipow (1983) tugas perkembangan vokasional meliputi:

Kristalisasi (Crystallization): 14 – 18 tahun

64

Kristalisasi dari preferensi vokasional mengharuskan individu untuk merumuskan
ide-ide tentang pekerjaan yang sesuai untuk dirinya sendiri. Hal ini juga
mensyaratkan perkembangan pekerjaan dan konsep diri yang akan membantu
memediasi pilihan vokasional yang bersifat sementara individu dengan cara
pengambilan keputusan pendidikan yang relevan. Sementara tugas kristalisasi dapat
terjadi pada semua usia, demikian juga semua tugas perkembangan vokasional, paling
biasanya terjadi selama 14 – 18 tahun.

Spesifikasi (Specification): 18 – 21 tahun

Spesifikasi dari preferensi vokasional. Di sini, individu diharuskan untuk
mempersempit arah karier umum menjadi satu tertentu dan mengambil langkah yang
diperlukan untuk melaksanakan keputusan tersebut.

Pelaksanaan (Implementation): 21 – 25 tahun

Tugas vokasional ketiga adalah pelaksanaan preferensi vokasional. Tugas ini
mengharuskan individu untuk menyelesaikan beberapa pelatihan dan mulai bekerja
yang relevan. Yang dibutuhkan sikap dan perilaku untuk panggilan tugas, pengakuan
individu akan kebutuhan berguna untuk merencanakan pelaksanaan preferensi dan
pelaksanaan rencana ini.

Stabilisasi (Stabilization): 25 – 35 tahun

Stabilisasi adalah tugas perkembangan karier yang keempat. Tugas ini diwakili
oleh perilaku menetap dalam bidang pekerjaan dan penggunaan bakat seseorang
sedemikian rupa untuk menunjukkan kesesuaian keputusan karier buat sebelumnya.
Hal ini bisa diduga bahwa perubahan posisi individu selama periode stabilisasi ada
tapi jarang perubahan pekerjaan. Sikap yang diperlukan dan perilaku sangat serupa
dengan tugas-tugas pelaksanaan dan stabilisasi.

Adapun menurut Super dalam Munandir (1996) tugas perkembangan vokasional
meliputi:

65

Preferensi pekerjaan (14 – 18 tahun)

Spesifikasi preferensi (18 – 21 tahun)

Implementasi preferensi (21 – 25 tahun)

Stabilisasi dalam suatu pekerjaan (25 – 35 tahun)

Konsolidasi status dan kemajuan (masa akhir usia 30-an dan usia 40-an).

Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karier, Super mengembangkan
konsep kematangan vokasional (career maturity; vocational maturity) yang menunjuk
pada keberhasilan individu menyelesaikan semua tugas perkembangan vokasional
yang khas bagi tahap perkembangan tertentu. Indikasi relevan bagi kematangan
vokasional adalah misalnya kemampuan untuk membuat rencana, kerelaan untuk
memikul tanggung jawab, serta kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal
yang harus dipertimbangkan dalam membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri
dalam suatu jabatan. Beraneka indikasi ini dapat dijabarkan lebih lanjut pada rnasing-
masing tahap perkembangan vokasional, lebih-lebih selama masa remaja dan masa
dewasa muda. Berkenaan dalam rangka meneliti dan menilai kematangan vokasional
telah dikembangkan alat tes yang dikenal dengan nama Career Development
Inventory, Career Maturity Test, dan Vocational Maturity Test.

Konsep kematangan karir yang dikembangkan oleh Super itu mempunyai
implikasi yang besar bagi program pendidikan karir dan konseling karir. Fase-fase
kematangan karir merupakan titik dimana kita dapat mengidentifikasi dan mengakses
sikap dan kompetensi yang terkait dengan pertumbuhan karir yang efektif. Lebih jauh,
gambaran tentang sikap dan kompetensi yang diharapkan dicapai dalam setiap tahap
itu memungkinkan kita menentukan tujuan instruksional dan konseling yang
dirancang untuk membantu perkembangan kematangan karir.

3. Aplikasi Teori Perkembanga Karier dalam Bimbingan dan Konseling

66

Bimbingan karier merupakan salah satu layanan bimbingan yang berusaha
memberikan bantuan kepada peserta didik untuk memecahkan masalah penyesuaian
diri dan pemecahan masalah karier yang dihadapi. Dalam program bimbingan dan
konseling komprehensif, bimbingan karier terdapat dalam perencanaan individual
yaitu layanan yang diberikan konselor untuk membantu peserta didik dalam
mempersiapkan diri memasuki masyarakat yang lebih kompleks.

Teori ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk konseling karier. Tujuan dari
proses konseling karier akan menjadi perkembangan kematangan karier, yang dapat
dipecah menjadi beberapa komponen yang diukur oleh Inventori Pengembangan
Karier (CDI) (Super, Thompson, Jordaan, & Myers, 1984). Ini adalah:

-Perencanaan karier (CP). Kematangan karier individu secara aktif terlibat dalam
proses, perencanaan dan menganggap diri mereka menjadi begitu terlibat. Skala
perencanaan karier adalah skala yang efektif yang mengungkapkan bagaimana orang
menganggap diri mereka dalam kaitannya dengan proses perencanaan.

-Eksplorasi karier (CE). Kematangan individu berhubungan dengan kesediaan
klien untuk terlibat dalam karier eksplorasi, yaitu kesediaan mereka untuk
menggunakan bahan. Skala ini dikombinasikan dengan skala CP untuk menghasilkan
sikap pengembangan karier (CDA) skala.

-Pengambilan keputusan (DM). Kematangan karier individu mengetahui
bagaimana membuat keputusan dan memiliki keyakinan pada kemampuan untuk
melakukannya.

-Informasi dunia kerja. Komponen yang paling jelas dari skala ini melibatkan
informasi yang akurat memiliki tentang pekerjaan. Super percaya bahwa para
pengambil keputusan harus memiliki beberapa pengetahuan tentang waktu,
perkembangan berbicara, di mana orang harus memperoleh informasi penting tentang
pekerjaan.

67

-Pengetahuan tentang pekerjaan yang disukai (PB). Setelah, CDI, 20 orang
memilih pekerjaan dan menjawab pertanyaan tentang pekerjaan dan kualifikasi yang
diperlukan untuk memasukkan pekerjaan tertentu.

D. PEMAHAMAN DIRI: POTENSI DIRI, ARAH PILIH KARIR TEKNIK
PENGUKURAN POTENSI DIRI DAN MENGUKUR KEPUTUSAN KARIR

Pengertian Potensi Diri
Secara harfiah, kata potensi berasal dari bahasa inggris to potent yang berarti keras
atau kuat. Budianto (2004) mengartikan kata potensi berarti kemampuan,kekuatan
daya baik yang belum terwujud maupun yang sudah terwujud tetapi belum optimal.
Dalam kamus bahasa Indonesia dikemukakan bahwa potensi adalah kemampuan –
keampuan atau kualitas – kualitas yang dimiliki seseorang namun belum
dipergunakan secara maksimal

Potensi diri adalah kemampuan, kekuatan yang terpendam pada diri setiap individu
(pribadi) , baik yang belum terwujud maupun sudah terwujud tetapi belum
sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal terkadang membutuhkan
waktu yang lama untuk mengetahui potensi diri individu. Secara umum,potensi dapat
diklasifikasikan sebagai berikut. Kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensi,
kemampuan abstraksi,logika dan daya tangkap , etos kerja seperti
ketekunan,ketelitian,efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan. Kepribadian,
yaitu pola menyeluruh semua kemampuan,perbuatan, serta kebiasaan seseorang, baik
jasmaniah,rohaniah,emosional maupun social yang ditata dalam cara khas dibawah
aneka pengaruh luar.

Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai
berikut : intelegnsi linguistic, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata –
kata, baik lisan maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh
para sastrawan, editor, dan jurnalis. Intelegensi matematik – logis,kemampuan yang

68

lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan pada kepekaan mengenai bentuk dan
benda secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat.
Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para arsitek,decorator dan pemburu.

Secara umum potensi diri yang ada pada setiap manusia dapat dibedakan menjadi 5
macam yaitu

1. Potensi fisik merupakan potensi manusia yang dapat diberdayakan sesuai
fungsinya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
hidup. Misalnya mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, telinga untuk
mendengar dan lain- lain

2. Potensi mental intelektual merupakan potensi kecerdasan yang ada pada otak
manusia (terutama otak sebelah kiri). Fungsi potensi tersebut adalah untuk
merencanakan sesuatu, menghitung dan menganalisis.

3. Potensi social emosional merupakan potensi kecerdasan yang ada pada otak
manusia (terutama otak sebelah kanan) fungsinya antara lain adalah untuk
mengendalikan amarah , bertanggung jawab, motivasi dan kesadaran diri.

4. Potensi mental spiritual merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada
bagian dalam diri manusia yang berhubungan dengan jiwa sadar atau kerifan
diluar ego. Secara umum spiritual merupakan kecerdasan yang berhubungan
dengan keimanan dan akhlak mulia.

5. Potensi daya juang merupakan potensi kecerdasan manusia yang bertumpu
pada bagian dalam diri manusia yang berhubungan dengan
keuletan,ketangguhan, dan daya juang tinggi. Melalui potensi diri, seseorang
mampu mengubah rintangan dan tantangan menjadi peluang

Pentingnya mengenali potensi diri adalah langkah awal dan penting bagi keberhasilan
hidup seseorang . tanpa mengenali potensi diri seseorang mungkin akan menghadapi
masalah seperti : 1. Tidak tahu bahwa dirinya berpotensi 2. Tidak tahu bahwa dirinya
tidak berpotensi di bidang tertentu tetapi berpotensi di bidang lainnya.

69

Manusia yang berhasil adalah manusia yang mampu mengelola dirinya sendiri (self
regulation) karena dia tahu bahwa dirinya berpotensi di bidangnya dan tau bagaimana
cara mengembangkan nya . orang yang tidak mengetahui potensi dirinya biasanya
tidak akan mengamnbil keputusan yang tepat. Cara yang paling efesien untuk
mengenali potensi sejak awal yaitu berinteraksi dengan orang tua disertai sikap
keterbukan untuk menerima umpan balik dari orang lain. Krna dalam proses
berinteraksi itulah manusia dapat menemukan dirinya termasuk potensi yang dimiliki
melalui perasaan ,persepi,pendapat, dan sikap orang lain trhadap kita

Langkah berikutnya setelah kita menerima umpan balik dari orang lain adalah
menyusun kerangka analisis :

1. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki orang dapat mengetahui kekuatannya
setelah ia berbuat dengan sungguh – sungguh dan hasulnya mendapatkan
apresiasi dari orang lain.

2. Menaksirkan dukungan (support), rintangan dan hambatan (barriers) dan
lingkungan yang mungki dapat menghalangi kita. Misalnya seseorang
berbakat dalam melukis dan akan tetapi masyarakatnya tidak menyukai
lukisan nya bahkan mengharamkan. Sikap masyarakat ini merupakan wujud
tidak adanya dukungan dan bahkan menjadi rintangan.

3. Mencari solusi untuk mengatasi kelemahan dirinya, tiadanya dukungan dan
bahkan hambatan dari masyarakat.

Arah pilih karier

Menurut Ali (2013), membangun kesiapan siswa dari sejak SMK merupakan salah
satu aspek penentu terciptanya lulusan yang kompetitif di dalam maupun di luar
negeri. Bimbingan karir memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal
potensi diri dan mengetahui kesempatan kerja yang tersedia di pasar tenaga kerja,
sehingga siswa dapat mulai merencanakan karirnya. Peningkatan kemampuan dalam
mengambil keputusan karir yang merupakan bagian dari proses perencanaan karir

70

merupakan solusi yang akan mendukung siswa mencapai kesiapan kerja sesuai
dengan pilihan karir yang diambilnya, dengan demikian siswa dapat lebih kompetitif
dalam unjuk kerja.

Karir diperoleh melalui sebuah proses pengambilan keputusan yang terjadi
disepanjang rentang kehidupan seseorang dan menjadi bagian dari perkembangan
dirinya. Istilah karir menurut Winkel & Hastuti (2012) merujuk pada pekerjaan atau
jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh
alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidup seseorang.
Karir bukan hanya sekedar pekerjaan yang telah dijabat seseorang, melainkan suatu
pekerjaan atau jabatan yang benar-benar sesuai dan cocok dengan potensi diri,
sehingga seseorang tersebut merasa senang dengan pekerjaan yang dijabatnya dan
akan berusaha semaksimal mungkin meningkatkan prestasi serta mengembangkan
potensi diri. Berdasarkan tujuan bimbingan karir di SMK, siswa SMK dituntut untuk
mulai merencanakan masa depan (Supriatna & Budiman, 2009). Siswa pada tingkat
SMK sudah lebih dekat dengan masa penetapan pilihan pekerjaan atau masa
pencarian pekerjaan (Prayitno & Amti, 2008).

Menurut Persons (dalam Winkel & Hastuti, 2006), ada tiga aspek yang harus
dipenuhi dalam membuat suatu perencanaan karier, yaitu:

1) Pengetahuan dan pemahaman diri sendiri, yaitu pengetahuan dan pemahaman
akan bakat, minat, kepribadian, potensi, prestasi akademik, ambisi, keterbatasa-
keterbatasan dan sumbersumber yang dimiliki;

2) Pengetahuan dan pemahaman dunia kerja, yaitu pengetahuan akan syarat-syarat
dan kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk akses dalam rugian, kompensasi, kesuatu
pekerjaan, keuntungan dan kesempatan dan prospek kerja diberbagai bidang dalam
dunia kerja

3) Penalaran yang realistis akan hubungan pengetahuan dan pemahaman diri sendiri
dengan pengetahuan dan pemahaman dunia kerja, yaitu kemampuan untuk membuat

71

suatu penalaran realistis dalam suatu perencanaan atau memilih bidang kerja dan/
atau pendidikan kelanjutan yang mempertimbangkan pengetahuan dan pemahaman
diri yang dimiliki dengan pengetahuan dan pemahaman dunia kerja yang tersedia.

Teknik Pengukuran Potensi Diri

Cara – cara untuk mengukur potensi diri di antara lain : Penilaian diri yang
dimaksud dengan penilaian diri ini adalah menilai diri sendiri . ada juga yang
mengatakan intropeksi. Sebagian orang mengatakan bahwa dengan cara ini penilaian
yang dilakukan sangat subyektif ,karena orang umum tidak mau melihat kelemahan –
kelemahan yang dimilikinya. Tapi pendapat lain mengatakan bahwa yang paling
kenal diri anda adalah anda sendiri.

Pengukuran diri melalui feedback orang lain (umpan balik) merupakan
komunikasi yang ditujukan kepada seeorang yang akan memberikan informasi
kepada orang yang bersangkutan, bagaimana orang lain terkena dampak
olehnya ,bagaimana kesan yang ditimbulkan pada orang lain dengan tingkah laku
yang ditunjukkannya. Feed back membantu seseorang untuk menelaah dan
memperbaiki tingkah lakunya dan dengan demikian dia akan lebih mudah mencapai
hal – hal yang diinginkan nya. Ffed back terbaik adalah orang tua kita. Sebab, mereka
akan jujur mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan kita.

Tes kepribadian merupakan salah satu instrument untuk pengenalan diri sendiri,
beberapa tes kepribadian untuk pengukuran potensi diri, yaitu : kepercayaan terhadap
diri sendiri , tingkat kehati – hatian, daya tahan menghadapi cobaan , tingkat
toleransi , dan pengukuran ambisi.

Teknik field trip ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke
suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki
sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, bengkel mobil, toko serba ada, peternakan,
perkebunan, lapangan bermain dan sebagainya (Roestiyah, 2001, p. 85). Berbeda
halnya dengan tamasya di mana seseorang pergi untuk mencari hiburan semata, field

72

trip sebagai teknik belajar mengajar lebih terikat oleh tujuan dan tugas belajar.
Sedangkan menurut Sagala (2006, p. 214) teknik field trip ialah pesiar (ekskursi)
yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu
dan merupakan bagian integral dari

Mengukur Keputusan Karier

Upaya dalam meningkatkan kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa
perlu melihat beberapa faktor yang berkontribusi, diantaranya minat jurusan, kualitas
layanan informasi karir, dan pemahaman karir. Hasil penelitian Betz (dalam Liu, dkk,
2014) menunjukkan bahwa minat jurusan memberikan kontribusi terhadap
pengambilan pilihan karir. Menurut Djaali (2012), minat jurusan adalah
kecenderungan seseorang untuk memiliki prospek pekerjaan atau jabatan tertentu
yang sesuai dengan karakteristik kepribadiaannya. Dengan demikian, minat jurusan
membuat siswa terdorong untuk sungguh belajar, mengeksplorasi jurusan tersebut
dengan berusaha mencari informasi dari berbagai sumber melalui berbagai aktivitas
kegiatan, termasuk mencari tahu tentang karir, sehingga diperoleh pemahaman
terhadap karir yang memperkuat kemampuan siswa dalam mengambil keputusan
karir yang relevan ke depannya.

Menurut Gladding (2012), informasi karir yang cukup dan kredibel dapat
mendukung siswa dalam pengambilan keputusan karir. Siswa akan menilai baik
kualitas layanan informasi karir jika layanan yang diberikan melebihi harapan atau
setara dengan yang diharapkan siswa (Tjiptono, 2006). Kualitas layanan informasi
karir didefinisikan sebagai mutu atau kebermanfaatan layanan informasi karir yang
dirasakan oleh siswa sebagai penerima layanan. Penilaian yang baik dari siswa akan
mendorong siswa untuk memanfaatkan layanan informasi karir, sehingga sekolah
dapat mencapai fungsi dan tujuan yang sudah ditetapkan dalam pemberian layanan
informasi karir yaitu menjadikan siswa lebih cermat dalam memilih jurusan dan
memiliki kemantapan dalam pemilihan satu bidang karir masa depannya (Manrihu
dalam Wandari & Satiningsih, 2013). Dengan demikian, kualitas layanan informasi

73

karir yang diberikan oleh sekolah akan berdampak pada kemampuan siswa dalam
mengambil keputusan karir. Gladding (2012) juga berpendapat bahwa keputusan
karir yang bagus tidak dapat dibuat tanpa adanya pemahaman terhadap karir. Hal
tersebut karena pemahaman terhadap karir merupakan gambaran yang kuat tentang
dunia kerja dan tentang informasi pengambilan keputusan karir (Hawkins, dkk dalam
Ferrari, dkk, 2015).

Dengan demikian, pemahaman karir menggambarkan tentang penguasaan siswa
terhadap berbagai informasi karir dan dunia kerja, sehingga pemahaman yang tinggi
tentang karir akan digunakan oleh siswa untuk menunjang kemampuannya dalam
membuat keputusan karir. Berdasarkan uraian tersebut, diharapkan kemampuan
mengambil keputusan karir pada siswa SMK Negeri 4 Semarang merupakan suatu
penawaran bagi sekolah untuk mempersiapkan mutu pendidikan yang lebih baik dan
lebih memadai bagi siswa, dilihat dari segi penjaringan siswa sesuai dengan minat
jurusan, pemberian layanan informasi karir yang berkualitas, dan memfasilitasi
peningkatan pemahaman karir siswa. Melandasi harapan tersebut, tujuan dari
penelitian ini adalah menguji secara empiris di SMK Negeri 4 Semarang tentang 1)
kontribusi minat jurusan, kualitas layanan informasi karir, dan pemahaman karir
secara simultan terhadap kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa, 2)
kontribusi minat jurusan terhadap kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa,
3) kontribusi kualitas layanan informasi karir terhadap kemampuan mengambil
keputusan karir pada siswa, serta 4) kontribusi pemahaman karir terhadap
kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa.

E. PELAKSANAAN BK KARIR DISEKOLAH

Pengertian Bimbingan Konseling Karir Di Sekolah

74

Menurut Sukardi mendefinisikan bimbingan karir adalah layanan
bantuan yang diberikan kepada individu-individu untuk memilih,
menyiapkan, menyesuaikan, dan menetapkan dirinya dalam pendidikan
maupun pekerjaan yang sesuai serta memperoleh kebahagiaan dari padanya.
Sedangkan menurut Sukardi bimbingan karier adalah suatu perangkat, lebih
tepat nya suatu program sistematis, proses, layanan atau lebih tepat nya suatu
layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat
atas dasar pengenalan diri dan pengenalan kesempatan-kesempatan dalam
pekerjaan, pendidikan, waktu luang serta mengembangkan ketrampilan-
ketrampilan mengambil keputusan sehingga yang bersangkutan dapat
menciptakan dan mengelola perkembangan karernya. Berkaitan dengan
sekolah, bimbingan karir dapat di pandang sebagai suatu proses
perkembangan yang berkesinambungan yang membantu terutama dalam hal
perencanaan karir, pembuatan keputusan, perkembangan ketrampilan/
keahlian, informasi karir, dan pemahaman diri.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa bimbingan
konseling karir merupakan suatu aktivitas berupa bimbingan yang dilakukan
oleh konselor terhadap konseli dengan tujuan membantu memecahkan
masalah karier siswa serta memfasilitasi perkembangan karir siswa melalui
pendidikan karir/jabatan baik sekarang maupun masa yang akan datang.
Bimbingan karir bukan hanya memberikan bimbingan jabatan, tetapi
mempunyai arti yang lebih luas, yaitu suatu proses bantuan, layanan,
pendekatan terhadap individu agar dapat mengenal dan memahami dirinya,
mengenal dunia kerja, merencanakan masa depan yang sesuai dengan bentuk
kehidupan yang diharapkannya, mampu menentukan dan mengambil
keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang
diambilnya itu sehingga mampu mewujudkan dirinya secara bermakna.

75

Dasar-Dasar Bimbingan Karir di Sekolah
Dalam pelaksanaan layanan bimbingan karir di sekolah kepada setiap

pendidik di tuntut untuk memahami dengan mendalam dan seksama mengenai
dasar-dasar, atau pokok-pokok pikiran yang melandasi pelaksanaan layanan
bimbingan karir di sekolah.

Dasar-dasar, atau pokok pikiran yang melandasi bimbingan karir di sekolah,
di antaranya:

1. Perkembangan anak didik menuntut kemampuan melaksanakan tugas-
tugas perkembangan.

2. Sebagian besar hidup manusia berlangsung dalam dunia kerja.
3. Bimbingan karir diperlukan agar menghasilkan tenaga pembangunan

yang cukup dan terampil dalam melakukan pekerjaan untuk
pembangunan.
4. Bimbingan karir diperlukan didasarkan bahwa setiap pekerjaan atau
jabatan menuntut persyaratan tertentu untuk melaksanakannya.
Pekerjaan atau jabatan itu pun menuntut persyaratan-persyaratan
tertentu dari individu-individu yang melaksanakannya.
5. Bimbingan karir di laksanakan di sekolah atas dasar kompleksitas
masyarakat dan dunia kerja
6. Manusia mampu berfikir secara rasional.
7. Bimbingan karir di landaskan pada nilai-nilai dan norma-norma yang
tercakup dalam falsafah pancasila.
8. Bimbingan karir menjunjung tinggi nilai-nilai martabat manusia baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Tujuan Bimbingan Karir di Sekolah
Tujuan bimbingan karir adalah membantu individu memperoleh

kompetensi yang diperlukan agar dapat menemukan perjalanan hidupnya dan

76

mengembangkan karir ke arah yang di pilihnya secara optimal dan
memberikan gambaran yang utuh tentang persyaratn suatu jabatan tertentu
sehingga siswa dapat memahami diri, mampu menentukan arah pilihan karir
dan pada akhirnya membantu siswa dalam merancang masa depannya. Selain
itu siswa dapat siap kerja dan memiliki sikap kemandirian yang dapat
diandalkan mampu untuk menghadapi persaingan era globalisasi dan
tantangan masa depan karier serta mencetak tenaga terampil untuk
mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja dengan pemenuhan
kompetensi di berbagai pengembangan. Menurut Abu Ahmadi tujuan Umum
Bimbingan karir di sekolah adalahmembantu peserta didik agar memperoleh
pemahaman dan penyesuaian diri dalam hubungannya dengan masalah-
masalah pekerjaan.

Adapun tujuan khusus dari bimbingan karir untuk Sekolah Menengah
adalah

1. Siswa dapat membedakan lebih terinci sifat-sifat kepribadiannya
(kemampuan, bakat khusus, minat, nilai, dan sifat-sifat kepribadiannya)
dan mampu melihat perbedaannya dengan orang lain. Selanjutnya ia dapat
mengidentifikasikan daerah dan tingkatan pekerjaan yang luas yang
mungkin sesuai dengan dirinya.

2. Siswa dapat membedakan bermacam-macam dunia pendidikan yang
tersedia, yang dapat memberikan latihan persiapan untuk pekerjaan
mendatang. Informasi ini dapat meliputi sifat serta tujuan setiap
pendidikan yang tersedia, kesempatan mendapatkannya, dan perkiraan
tentatif mengenai apa yang tersedia baginya sebagai kemungkinan pilihan
pekerjaannya di kemudian hari.

3. Siswa mampu mengidentifikasikan keputusan mendatang yang harus ia
putuskan dengan maksud untuk mencapi tujuan-tujuan tertentu yang
berbeda

4. Siswa dapat membedakan di antara banyak pekerjaan dalam pengertian:

77

a. Sejumlah jenis pendidikan yang di butuhkan untuk persiapan
memasuki dunia pekerjaan.

b. Isi, alat, letak, produksi atau pelayanan pekerjaan – pekerjaan itu.
c. Nilai pekerjaan itu bagi masyarakat.
5. Siswa dapat memilih atau menyelesaikan pendidikan atau latihan dengan
dasar pilihan karirnya.

Bimbingan Konseling Karir Di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan
Di dalam setting sekolah, bimbingan karir dipandang sebagai proses

perkembangan yang berkelanjutan dalam upaya membantu individu
mempersiapkan karir melalui intrvensi kurikuler yang berkaitan dengan;
perencanaan karir, pengambilan keputusan, pengembangan keterampilan
mengatasi masalah, informasi karir dan pemahaman diri, pemahaman sikap
positif terhadap semua jenis pekerjaan, serta mengembangkan kebiasaan
hidup yang positif.

Pentingnya Pelaksanaan Bimbingan Karir bagi Siswa di Sekolah
Keberadaan bimbingan karir sebagai bagian dari layanan bimbingan

konseling di SMA mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas
konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap siswanya.Peran dan
tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan
pilihan-pilihan karirnya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar
dapat mmahami diri dan lingkungannyadalam rangka perencanaan karir dan
penetapan karir pada kehidupan masa mendatang. Setiap siswa di sekolah
menengah akan sampai pada tingkat kematangan karir yang berbeda melalui
rute yang berbeda (lancar atau tidak lancar) aktivitas bimbingan karir harus
memiliki tiga penekanan: mendorong perkembangan karir, menyediakan
perlakuan,dan membantu penempatan (mengacu kepada perpindahan pelajar

78

ke tingkat pendidikan selanjutnya atau ke kehidupan pekerjaan). Kegiatan
(aktivitas) bimbingan karir pada sekolah menengah harus bisa mengantar
setiap pelajar untuk menanggulangi tugas perkembangan menuju
perkembangan karir, dan membimbing pelajar kepada kreasi dan prestasi dari
seperangkat pilihan dan rencana yang akan ditetapkan.

Penekanan-penekanan utama dalam aktivitas aktivitas bimbingan karir
untuk berbagai individu haruslah didasarkan pada intensitas perencanaan,
kesiapan berpartisipasi dalam kehidupan sebagai pribadi yang independent,
dan keterarahan individu-individu kepada tujuan.

Dengan demikian, dapat direkomendasikan tujuan-tujuan untuk aktivitas-
aktivitas bimbingan karir di sekolah menengah sebagai berikut:

1. Siswa mengembangkan kesadaran akan perlunya implementasi yang lebih
khusus dari tujuan-tujuan karier.

2. Siswa mengembangkan rencana-rencana yang lebih khusus guna
mengimplementasikan tujuan-tujuan karier.

3. Siswa melaksanakan rencana-rencana untuk dapat memenuhi syarat-
syarat memasuki pekerjaan dengan mengambil mata pelajaran di tingkat
sekolah lanjutan, dengan latihan dalam jabatan, atau dengan mengejar
latihan lebih lanjut di perguruan tinggi atau pendidikan pasca sekolah
lanjutan yang mengantar pada kualifikasi-kualifikasi untuk suatu okupasi
khusus (Daku, 2009).

Terdapat empat kegiatan bimbingan karir, yaitu sebagai berikut:

1. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang
hendak dikembangkan

2. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya, khususnya
karir yang hendak dikembangkan

79

3. Pemantapan pengembangan diri untuk pengambilan keputusan pemilihan
karir sesuai dengan potensi yang dimilikinya

4. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh
penghasilan untuk memenuhi kepentingan hidup, orientasi dan informasi
terhadap pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir
yang hendak dikembangkan.

Selain itu terdapat pengenalan diri dan lingkungan serta pengembangan diri
dan karir, di antaranya sebagai berikut:

1. Siswa mengenal dan memahami siapa dirinya
2. Siswa mengenal dan memahami lingkungannya, meliputi lingkungan

keluarga, tetangga, sekolah, sosial, budaya dan masyarakat.
Pengenalan dan pemahaman terhadap diri sendiri dan lingkungan itu dikerahkan
untuk pengembangan diri siswa dalam segenap aspek pribadinya, termasuk
pegembangan arah karir yang hendak diraihnya di masa yang akan datang .

F. INFORMASI DAN PERENCANAAN KARIR: DUNIA KERJA, STUDI
LANJUT, PERENCANAAN KARIR DAN KONSELING KARIR

A. DUNIA KERJA

1. Apa Itu Dunia Kerja
Pengertian Dunia Kerja – Kesiapan adalah segala sesuatu yang harus

dipersiapkan dalam melaksanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk itu
kesiapan memasuki dunia kerja diperlukan pengetahuan tentang gambaran orang-
orang bekerja pada suatu bidang pekerjan tertentu, Smyth dan Cerbner di kutip
Wright (1985) memberikan batasan dunia kerja pada kelompok kerja seperti:
eksekutif bisnis, pejabat, pegawai kantor, guru, hakim, jaksa, pengacara,
wartawan, dokter, ilmuwan, petugas kepolisian, personel militer, artis, mandor,

80

perawat, penjual, pekerja setengah ahli dan tidak memiliki keahlian, penjahit,
penghibur, petani, nelayan, pelayan, dan ibu rumah tangga.

Menurut Harjono (1990:23) mengemukakan bahwa: Kesiapan peserta didik
untuk memasuki dunia kerja adalah segala sesuatu yang harus di siapkan dalam
melaksanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kesiapan lulusan kelompok belajar paket C untuk memasuki dunia
kerja seperti: motivasi kerja, kemampuan kerja, kemampuan beradaptasi dengan
pekerjaan, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, kemampuan
berkomunikasi, penguasaan informasi tentang dunia kerja, persepsi tentang
prospek karir, peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja, dan gambaran
pekerjaan yang dikerjakan di dunia kerja.

2. Pentingnya Informasi Dalam Dunia Kerja
Pokok penting dari pentingnya dunia kerja yaitu pentingnya informasi

pekerjaan, macam-macam informasi pekerjaan, dan ciri-ciri informasi pekerjaan.
Di sekolah-sekolah kita yang mikskin informasi, mutlak perlu adanya bimbingan
karir, khususnya perencanaan karir siswa.

Pemahaman dunia kerja perlu adanya layanan bimbingan dengan informasi
yang andal, lengkap, dan selalu diperbaharui. Perpaduan antara pemahaman diri
dan pemahaman dunia kerja dengan segala sifat dan tuntutannya merupakan syarat
penting bagi siswa dalam membuat rencana pekerjaan. Pemahaman atas kenyataan
lingkungan ini lebih-lebih penting artinya bagi para siswa menengah atas.
Mengingat usia mereka yang pada akhir masa remaja, sedang menginjak
perkembangan yang dituntut kebudayaan untuk lebih peduli dan mulai serius
memikirkan hidup masa depannya. Masa depan berarti kehidupan keluarga,
kehidupan bermasyarakat, dan ini selanjutnya berarti bekerja.

81

Informasi karier dibedakan menjadi dua menurut sifatnya, yaitu informasi
kuantitatif dan informasi kualitatif. Informasi kuantitatif berisi angka atau jumlah,
seperti penyebaran pekerjaan, arah kecenderungan, dan data banyaknya lowongan
pekerjaan. Sedangkan informasi kualitatif bercerita tentang sifat pekerjaan yang
dilakukan, persyaratan yang dituntut pada pekerjaan tertentu, imbalan, keadaan,
dan kondisi kerja. Selain informasi kuantitatif dan kualitatif, bisa juga diadakan
penggolongan atas informasi pokok (kekarieran) dan informasi lain seperti
informasi sosial budaya dimana suatu pekerjaan atau industri bertempat atau
beroperasi.

a) Informasi Kuantitatif
statistik ketenagakerjaan, data ini berisi klasifikasi jabatan dan

informasi mengenai jumlah pekerjaan, jumlah tenaga kerja sekarang, arah
kecenderungan kebutuhan tenaga di waktu yang akan datang, gambaran
mengenai perkembangan penduduk dalam kerangka perkembangan ekonomi
akan memberikan gambaran mengenai dunia kerja dan lingkungan masyarakat
pada umumnya. Adanya informasi pekerjaan yang legkap dan terorganisasi
dengan baik sangat membantu kerja konselor dalam membimbing siswa
menyusun perencanaan kerja.

Dalam pelaksanaan bimbingan dan karier di sekolah, konselor
membutuhkan data statistik ketenagakerjaan. Data ini dapat diperoleh dari
biro statistik, biri sensus, dan Departemen Tenaga Kerja.

Dari Biro Statistik, konselor bisa memperoleh informasi mengenai
penyebaran berbagai tenaga kerja dari tahun ke tahun secara berkala. Dari
statistik seperti itu siswa dapat mempelajari bidang-bidang jabatan yang
memiliki banyak kesempatan, proporsi jumlah ereka, bagaimana arah
kecenderungan diwaktu yang lalu dan prakiraannya diwaktu mendatang.
Bimbingan karier membantu mereka agar memeriksa kembali cita-cita dan
rencananya dengan memperhatikan statitik yang ada. Data yang diterbitkan

82

secara nasional kurang bisa dijadikan pegangan, karena ada perbedaan pada
setiap daerah. Oleh karena itu konselor perlu berusaha memperoleh data
serupa dari kantor Departemen Tenaga kerja atau kantor Statistik daerah
setempat.

Situasi ketenagakerjaan tidak lepas dari situasi kependudukan biro
sensus setempat dapat memberikan data jumlah penduduk dan penyebarannya
menurut sejumlah ciri seperti usia, kelamin, agama, suku, pendidikan,
pendapatan, pekerjaan, dan informasi mengenai kedudukan sosial ekonomi
penduduk. Jika kita mempunyai buku semacam Occupational Outlook
HandBook (OOH) yang diterbitkan oleh Departemen Perburuhan Amerika
maka ini sangat membantu konselor dalam tugasnya membantu siswa dalam
perencanaan kariernya.

b) Informasi Kualitatif
Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI). Di Indonesia Departemen Tenaga

Kerja adalah lembaga yang merupakan sumber utama data dan informasi
mengenai pekerjaan. Biro statistik dan biro sensus menyediakan laporan dari
waktu ke waktu mengenai kependudukan dan juga data ketenagakerjaan.
Departemen Tenaga Kerja telah menyusun satu sistem klasifikasi jabatan.
Sistem klasifikasi itu termuat dalam Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI) yang
berguna untuk referensi ketenagakerjaan. Klasifikasi jabatan ini meliputi
seluruh jabatan baku yang dilakukan oleh tenaga kerja sipil. Struktur
Klasifikasi Jabatan KJI. Klasifikasi disusun menurut persamaan dalam
pelaksanaan pekerjaan berdasarkan tingkatannya (atau tahapannya). Struktur
klasifikasi ini terdiri dari empat tingkatan atau tahapan dan ini merupakan
penyempurnaan dari penstrukturan sebelumnya. Dengan penstrukturan baru
dan pengkodeannya maka ini sangat membantu dan memperjelas untuk
keperluan pelaksanaan bimbingan karier.

83

B. STUDI LANJUT

1. Pengertian Merencanakan Studi Lanjutan
Wajib belajar 9 tahun di Indonesia disosialisasikan sekitar tahun 1995. dan

hanya sampai pada tingkatan menengah pertama atau setelah tamat dan lulus dari
sekolah dasar, akan tetapi bukan tidak mungkin bahwa beberapa siswa yang akan
melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi sehingga mampu menunjang
inteligensi dan kompetensi yang dimilikinya.

Pada zaman globalisasi seperti ini tidak menutup kemungkinan bahwa setiap
pekerjaan membutuhkan tenaga yang profesional di bidangnya, untuk
mewujudkan semua itu maka individu harus memiliki kompetensi yang cukup.
Berbicara tentang pekerjaan tampaknya sulit untuk dipisahkan dari yang namanya
persekolahan, sebab sekolah sebagai wadah untuk mempersiapkan diri masuk pada
kehidupan riil di masyarakat, oleh karena itu sekolah harus bisa mempersiapkan
peserta didiknya sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat.

Oleh karena itu untuk memilih dan menentukan studi lanjutan suatu pekerjaan
maka dipandang perlu untuk melakukan suatu perencanaan, atau dalam suatu
organaisasi biasa disebut dengan planning yaitu merencanakan sesuatu sebelum
suatu kegiatan itu dilakukan. Hal ini dilakukan agar sesuai dengan apa yang
diimpikan dan dicita-citakan. Maka dari itu maksud dari perencanaan studi
lanjutan ialah menyusun dan mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum
memasuki sekoalah pada jenjang selanjutnya.

2. Langkah-langkah Dalam Merencanakan Dan Memilih Studi Lanjutan
Untuk memilih suatu sekolah tak lepas dari prospek masa depan individu

yang dapat menunjang cita-citanya. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ada

84

semacam perbedaan sekolah lanjutan antara sekolah umum dan sekolah kejuruan,
yang mana sekolah umum mempersiapkan siswanya untuk melanjutkan ke
Perguruan Tinggi. Sedangkan sekolah kejuruan mempersiapkan siswanya untuk
masuk dunia kerja atau siap kerja.

Siswa sebagai peserta didik bila ditinjau dari segi usia, mereka tergolong pada
usia remaja, yang mana pada masa tersebut mempunyai karakteristik, kebiasaan,
harapan, cita-cita, kebutuhan tersendiri. Selain itu mengingat pada usia tersebut
biasa disebut dengan masa perkembangan. Kadang kala mereka dirisaukan pada
suatu pilihan tentang pendidikan keberhasilan belajar dan kelanjutan studi dan
pekerjaan setelah mereka tamat.

Untuk mengatasi semua itu diperlukan suatu bimbingan yang biasa disebut
dengan bimbingan karir. Oleh karena itu perlu adanya bimbingan karier di sekolah
agar siswa dapat memperoleh gambaran tentang berbagai jenis pekerjaan yang ada
di masyarakat, serta jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan siswa,
dan mengetahui bagaimana cara menempuh atau memperoleh pekerjaan yang
diinginkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih terlebih dahulu sekolah
lanjutan yang diinginkan dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Pada umumnya bimbingan karier memang diberikan untuk anak sekolah
menengah Atas (SMA), sebagai bimbingan untuk menentukan dan memilih suatu
pekerjaan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa siswa SMP juga
memerlukan adanya bimbingan karier sebagai usaha untuk membantu siswa dalam
memecahkan masalah khususnya untuk sekolah lanjutan, karena dalam
menentukan sekolah lanjutan individu harus memahami sekolah yang akan
dimasuki dengan bakat minat serta cita-citanya.

Oleh sebab itu sudah menjadi tugas konselor untuk menyampaikan informasi
tentang hal tersebut sehingga siswa dapat memilih dan menentukan pilihannya
sesuai dengan dirinya. Dalam hal ini konselor tidak dapat mengerjakan sendiri
karena membutuhkan pemikiran dan waktu yang cukup, sehingga konselor dapat

85

bekerja sama dengan berbagai fihak dalam menyampaikan informasi ini. Karena
itu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa informasi ini sangatlah penting dan
bermanfaat bagi siswa dan orang tua siswa.

Untuk dapat merencanakan studi lanjutan setelah SMP perlu adanya
pertimbangan serta langkah-langkah yang berkaitan dengan keadaan dirinya dan
masa depannya, antara lain :

a) Menyesuaikan dengan bakat minatnya
Dengan siswa menyesuaikan studi lanjutan dengan bakat dan minatnya maka
siswa akan merasa senang dan puas atas segala sesuatu yang mereka impikan.
Dan hasilnya pun akan lebih maksimal dibandingkan dengan pilihan orang
lain yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya.

b) Kemampuan fisik, akademis dan sosial ekonomi
Hal ini dipandang perlu, untuk dapat menentukan pilihan maka siswa harus
bisa memandang keadaan serta kemampuan yang ada dalam dirinya. Misalnya
siswa yang cacat berkeinginan untuk masuk TNI maka hal ini tidak mungkin
karena dalam pendidikan TNI banyak menggunakan gerakan fisik. Sehingga
hal ini perlu untuk melihat dan mempertimbangkan keadaan dirinya, baik
secara fisik, kemampuan dan ekonomi.

c) Keadaan sekolah lanjutan.
Dalam memilih sekolah lanjutan, pasti tidaklah sembarangan. Oleh karena itu
perlu kita melihat keadaan sekolah bukan hanya secara fisik akan tetapi juga
secara administrasi.

d) Kesempatan dan peluang yang tersedia
Kesempatan dan peluang yang tersedia, setelah siswa melihat apakah sekolah
lanjutan yang diinginkan sesuai dengan bakat dan minatnya, maka harus

86

melihat adakah peluang atau adakah program yang siswa inginkan sehingga
benar-benar sesuai dengan yang diinginkan.

e) Prospek ke depan
Sekolah lanjutan merupakan batu loncatan untuk kita meraih masa depan,
sehingga dalam memilih sekolah lanjutan hendaknya yang memiliki prospek
ke depan, yang mendukung masa depan yang dicita-citakan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan studi lanjutan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perencanaan studi lanjutan antara

lain:

Faktor-faktor yang bersumber pada diri sendiri dan Faktor-faktor sosial

a. Faktor-faktor yang bersumber pada diri sendiri
1) kemampuan intelegensi
Secara luas diakui bahwa ada suatu perbedaan kecepatan dalam
memecahkan masalah, sehingga hal itu memperkuat bahwa
seseorang yang memiliki taraf intelegensi yang tinggi akan lebih
cepat dalam memecahkan masalah dibandingkan dengan seseorang
yang memiliki intelegensi yang sedang-sedang saja atau bahkan
intelegensi di bawah rata-rata.

2) Bakat
Bakat adalah suatu kualitas yang dimiliki individu untuk
berkembang di masa yang akan datang. Sehingga perlu adanya
penanaman bakat sejak dini sehingga seseorang dapat berkembang
dengan baik, sesuai dengan bakat yang dimiliki.

3) Minat

87

Minat adalah seperangkat mental yang dimiliki oleh individu
sehingga dapat mengarahkan individu pada pilihan tertentu. Minat
sangat berpengaruh dalam pilihan karier atau sekolah lanjutan.
Karena tidak akan pernah berkembang seseorang apabila mereka
tidak memiliki minat akan suatu pekerjaan. Sama halnya dengan
pemilihan studi lanjut, apabila siswa sudah tidak berminat dengan
sekolah atau jurusan itu maka itu akan membahayakan diri siswa
tersebut.

4) Sikap
Sikap adalah suatu kesiapan individu terhadap hal-hal tertentu.
Dengan sikap yang dimiliki maka individu mempunyai
kecenderungan yang relatif stabil dalam mereaksi terhadap diri
sendiri, orang lain dan lingkungannya.

5) Kepribadian
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dari orang lain,
bahkan tidak ada seorangpun yang sama. Maka dalam memilih
sekolah lanjutanpun akan berbeda dengan kepribadiannya yang
dipengaruhi oleh keadaan fisik maupun psikis, lingkungan
keluarga dan lingkungan masyarakat.

6) Nilai
Nilai sebagai patokan untuk seseorang melakukan tindakan,
individu yang memiliki nilai moral yang tinggi maka akan lebih
bertanggung jawab atas pilihannya dan mengerti konsekuensi dari
pilihannya.

7) Prestasi
Kegemaran pada suatu pelajaran di sekolah akan mempengaruhi
siswa dalam memilih sekolah lanjutan. Misalnya siswa yang
senang pada pelajaran eksak maka dia lebih memilih pada sekolah

88

lanjutan umum, atau siswa yang gemar pada pelajaran sosial yang
berhubungan dengan seseorang maka dia akan memilih sekolah
kejuruan dengan jurusan yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

8) Faktor-faktor sosial
Dalam faktor sosial ini individu dapat di pengaruhi oleh keadaan
keluarga (orang tua, kakak ataupun adik) serta keadaan lingkungan
masyarakatnya.

C. PERENCANAAN KARIR DAN KONSELING KARIR

1. Perencanaan Karir
a. Pengertian perencanaan karir
Perencanaan Karir (career planning) terdiri atas dua suku kata, yaitu
perencanaan dan karir. perencanaan didefinisikan sebagai proses penentuan
rencana atau kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada masa yang akan
datang. sedangkan karir adalah semua pekerjaan yang dilakukan seseorang
selama masa kerjanya yang memberikan kelangsungan, keteraturan dan
nilai bagi kehidupan seseorang.

Karier merupakan suatu rangkaian kata yang sering diungkapkan
untuk menunjukkan posisi atau jabatannya. Homby (dalam Walgito, 2010:
201) menyatakan bahwa “karier adalah merupakan pekerjaan, profesi”.
Seseorang akan bekerja dengan senang, dengan penuh kegembiraan bila
apa yang dikerjakan itu memang sesuai dengan keadaan dirinya, sesuai
dengan kemampuannya, sesuai dengan minatnya.

Winkel (2004: 682) menyatakan bahwa “perencanaan yang baik
disebut juga perencanaan yang matang menuntut pemikiran tentang segala
tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu panjang (long-range

89

goals) dan dalam jangka waktu pendek (short-range goals)”. Parsons
(dalam Winkel & Hastuti, 2004: 626-623) merumuskan perencanaan karier
sebagai proses yang dilalui sebelum melakukan pemilihan karier. Proses ini
mencakup tiga aspek utama yaitu pengetahuan dan pemahaman akan diri
sendiri, pengetahuan dan pemahaman akan pekerjaan, serta penggunaan
penalaran yang benar antara diri sendiri dan dunia kerja.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan
perancanaan karier adalah kecakapan atau kesanggupan siswa dalam
menentukan langkah yang akan dilakukan dalam karier untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan dan persyaratan
yang meliputi pengetahuan dan pemahaman akan diri sendiri, pengetahuan
dan pemahaman akan pekerjaan, serta penggunaan penalaran yang benar
antara diri sendiri dan dunia kerja. Melalui perencanaan karir (career
planning) setiap individu mengevaluasi kemampuan dan minatnya sendiri,
mempertimbangkan kesempatan karir alternative, menyusun tujuan karir,
dan merencanakan aktivitas-aktivitas pengembangan praktis.

b. Tujuan Perencanaan Karier
Menurut Winkel (2004: 682), “perencanaan yang matang menuntut

pemikiran tentang segala tujuan yang hendak dicapai dalam jangka panjang
(long-range goals) dan semua tujuan yang hendak dicapai dalam jangka
pendek (short-range goals)”. Secara ideal, tujuan jangka pendek menjadi
tujuan intermediar yang semakin mendekatkan siswa kepada tujuan jangka
panjang. Gaya hidup (life style) yang ingin dicapai termasuk tujuan dalam
jangka panjang misalnya, dan nilai-nilai kehidupan (values) yang ingin
direalisasikan dalam hidup. Sertifikat, ijazah yang dipersiapkan untuk
memegang suatu rencana pekerjaan di masa depan, termasuk tujuan dalam
jangka pendek.

90

Sedangkan menurut Dillard (1985) memaparkan tujuan perencanaan
karier sebagai berikut:

1) Memperoleh kesadaran dan pemahaman diri (acquiring self
awareness)
Penilaian kekuatan dan kelemahan pada diri siswa merupakan
langkah penting dalam perencanaan karier. Salah satu penilaian
memungkinkan siswa untuk lebih memahami diri sendiri yang
berhubungan dengan tujuan dan rencana karier. Hasil penilaian ini
akan memungkinkan siswa untuk realistis dalam mengevaluasi diri
sendiri dan membantu atau menerapkan karier secara tepat.

2) Mencapai kepuasan pribadi
Mencapai kepuasan karier secara pribadi adalah salah satu

tujuan dalam perencanaan karier. Siswa harus memilih karier yang
menghasilkan keuntungan tertinggi dalam kepuasan pribadi. Siswa
mungkin lebih suka dalam kegiatan karier yang mirip dengan
minat atau yang memberikan perasaan emosional dan kesenangan
fisik. Untuk memperoleh kepuasan, siswa harus memahami
persyaratan karier dan mengenali minat beserta keinginannya.
Ketika siswa merasa puas, siswa akan cenderung untuk
mengekspresikan sikap positif.

3) Mempersiapkan diri untuk memperoleh penempatan dan
penghasilan yang sesuai (preparing for adequate placement)
Selama perencanaan karier, siswa mungkin ingin menghindari
daerah-daerah yang memberikan peluang terbatas atau tidak sesuai
dengan minatnya. Hal ini sama pentingnya untuk
menginvestasikan waktu dan energi ini dengan karier siswa,
mengidentifikasi tanpa melampaui batas kemampuan siswa.
Sepanjang perencanaan karier, fokus perhatian adalah pada karier

91

yang sesuai untuk siswa. Menilai aset dan kewajiban serta
membandingkannya dengan persyaratan untuk berbagai jenis
karier. Pendekatan seperti ini akan membantu siswa menemukan
karier dan siap menerima karier tersebut.

4) Efisiensi usaha dan penggunaan waktu (efficiently using time and
effort)
Tujuan lain perencanaan karier adalah untuk memungkinkan
siswa untuk secara sistematis memilih karier. Perencanaan
sistematis akan membantu menghindari metode uji coba dan
membantu menghabiskan lebih banyak waktu bekerja ke arah
tujuan lain. Siswa dapat menggunakan waktu secara efisien untuk
mempelajari diri sendiri dalam kaitannya dengan berbagai pilihan
karier. Siswa yang telah berpartisipasi dalam perencanaan karier
lebih puas dengan karier mereka dan tetap aktif bekerja lebih lama
daripada mereka yang tidak melakukan perencanaan karier.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan
dari perencanaan karier di masa depan adalah untuk
meminimalkan kemungkinan dibuat kesalahan yang berat dalam
memilih alternatif-alternatif yang tersedia. Seandainya siswa hanya
memikirkan tujuan jangka pendek saja, tanpa jelas
menghubungkan dengan suatu tujuan jangka panjang, terdapat
kemungkinan bahwa suatu tujuan jangka pendek yang telah
dicapai ternyata tidak selaras dengan tujuan jangka panjang.

c. Elemen Utama Perencanaan Karir (Career Planning)
Pada dasarnya perencanaan karir terdiri atas 2 (dua) elemen utama yaitu :

92

1) Perencanaan Karir Individual (Individual Career Planning)
Perencanaan karir individual terfokus pada individu yang meliputi
latihan diagnostic, dan prosedur untuk membantu individu tersebut
menentukan “siapa saya” dari segi potensi dan
kemampuannya.Perencanaan karir individual meliputi :

a) Penilaian diri untuk menentukan kekuatan, kelemahan, tujuan,
aspirasi, preferensi, kebutuhan, ataupunjangka karirnya (career
anchor)

b) Penilaian pasar tenaga kerja untuk menentukan tipe
kesempatan yang tersedia baik di dalam maupun di luar
organisasi

c) Penyusunan tujuan karir berdasarkan evaluasi diri
d) Pencocokan kesempatan terhadap kebutuhan dan tujuan serta

pengembangan strategi karir
e) Perencanaan transisi karir.
2) Perencanaan Karir Organisasional (Organizational Career
Planning)
Perencanaan karir organisasional mengintegrasikan kebutuhan
SDM dan sejumlah aktivitas karir dengan lebih menitikberatkan
pada jenjang atau jalur karir (career path).

Tujuan program perencanaan karir organisasional adalah :

a) Pengembangan yang lebih efektif tenaga berbakat yang
tersedia.

b) Kesempatan penilaian diri bagi karyawan untuk
memikirikan jalur-jalur karir tradisional atau jalur karir
yang baru.

c) Pengembangan sumber daya manusia yang lebih efisien di
dalam dan di antara divisi dan/atau lokasi geografis

93

d) Kepuasan kebutuhan pengembangan pribadi karyawa
e) Peningkatan kinerja melalui pengalaman on the job training

yang diberikan oleh perpindahan karir vertical dan
horizontal
f) Meningkatkan loyalitas dan motivasi karyawan
g) yang dapat menyebabkan berkurangnya perputaran
karyawan Suatu metode penentuan kebutuhan pelatihan
dan pengembangan

d. Tahapan Perjalanan Karir
Secara umum, tahapan perjalanan karir seseorang dapat dikelompokkan ke
dalam 5 (lima) tahapan yang didasarkan pada usia, yaitu :

pertumbuhan (<15 tahun)

1) penjajakan (15-24 tahun)
2) pemantapan (25-44 tahun)
3) pemeliharaan (45-65 tahun)
4) kemunduran (>66 tahun)

e. Langkah- Langkah Perencanaan Karir
Proses atau langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menyusun rencana
karir terdiri atas hal-hal berikut ini :

1) Menilai Diri Sendiri
Hal utama dalam memulai perencanaan karir adalah bertanya atau
memahami diri sendiri. Mengenali peluang-peluang, kesempatan-
kesempatan, kendala-kendala, pilihan-pilihan, konsekuensi-
konsekuensi, keterampilan, bakat dan nilai berhubungan pada
kesempatan karir.

94

2) Menetapkan Tujuan Karir
Setelah orang dapat menilai kekuatan, kelemahan, dan setelah
mendapat pengetahuan tentang arah dari kesempatan kerja, maka
tujuan karir dapat diidentifikasi dan kemudian dibentuk.

3) Menyiapkan Rencana-Rencana
Rencana tersebut mungkin dibuat dari berbagai macam desain
kegiatan untuk mencapai tujuan karir.

4) Melaksanakan Rencana- Rencana
Untuk mengimplementasika satu rencana kebanyakan diperlukan
iklim organisasi yang mendukung. Artinya bahwa manajemen
tingkat atas harus mengajak semua tingkatan dari manajemen untuk
membantu bawahan mereka dalam meningkatkan karir mereka.

2. Konseling Karir
a. Pengertian Konseling Karir
Sebagaian telah diketahui konseling adalah wawancara yang
melibatakan dua pihak, konselor dan konseli, dalam memahami dan
merumuskan masalah mencari jalan keluar dan melaksanakan jalan keluar
tersebut.
Konseling karir merupakan teknik bimbingan karir melalui
pendekatan individual dalam serangkaian wawancara penyuluhan

95


Click to View FlipBook Version