PENGANTAR ILMU BAHASA KONSEP DASAR TENTANG FON, FONEM, ALOFON, GRAFEM, DAN FONOTAKTIK Disusun Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Pengantar Ilmu Bahasa Dosen Pengampu: DR. Ahmad Syaeful Rahman M. Pd Oleh Kelompok 2: 1. Ahmad Maulana NIM: 1232120034 2. Arribah Auliani NIM: 1232120005 3. Farhan Rafi Mulki NIM: 1232120033 4. Resti Kusmiati NIM: 1232120027 5. Syahrani Khoirunnisa NIM: 1232120014 PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INDONESIA (A) FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2023
i KATA PENGANTAR Alhamdulillah puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat membuat dan menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Konsep Dasar Fon, Fonem, Alofon, Grafem, Fonotaktik” ini dengan baik. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, masih banyak kekurangan baik dari segi isi, penulisan, maupun kata-kata yang kami pergunakan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis butuhkan untuk dijadikan pedoman dalam penulisan ke arah yang lebih baik lagi. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam membantu dan menyusun makalah ini. Akhirnya, penyusunan makalah ini telah selesai, kami curahkan semua kemampuan, meskipun dalam penyusunannya kami menyadari bahwa hasil penyusunan makalah kami jauh dari sempurna, dikarenakan keterbatasan data referensi maupun kemampuan kami. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas kekurangannya, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Bandung, 02 November 2023 Penyusun
ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...................................................................................i DAFTAR ISI.................................................................................................ii BAB I............................................................................................................. 1 PENDAHULUAN......................................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2 C. Tujuan Penulisan................................................................................ 2 BAB II ........................................................................................................... 3 PEMBAHASAN ........................................................................................... 3 A. Konsep Dasar Fon.............................................................................. 3 B. Konsep Dasar Fonem......................................................................... 5 C. Konsep Dasar Alofon......................................................................... 7 D. Konsep Dasar Grafem........................................................................ 8 E. Konsep Dasar Fonoktaktik................................................................. 9 BAB III........................................................................................................ 12 PENUTUP................................................................................................... 12 A. Simpulan .......................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 14
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa memungkinkan kita untuk berkomunikasi, mengungkapkan pemikiran, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam studi bahasa, terdapat konsep-konsep penting yang membentuk dasar pemahaman tentang bagaimana bahasa bekerja. Beberapa konsep ini meliputi fon, fonem, alofon, grafem, dan fonotaktik. Pemahaman yang baik tentang konsep-konsep ini sangat penting dalam bidang linguistik dan pengajaran bahasa. Didalam pakar linguistik Fon-fon ini berperan penting dalam membentuk kata-kata dalam bahasa dan memiliki peran penting dalam pengucapan yang benar. Pemahaman tentang fonem membantu dalam analisis fonologis dalam suatu bahasa. Pemahaman tentang alofon membantu menjelaskan variasi dalam pengucapan yang terjadi dalam bahasa sehari-hari. Memahami perbedaan antara grafem dan fonem penting dalam bidang linguistik dan ejaan bahasa. Dan fonotaktik mencakup aturanaturan tentang bagaimana fonem-fonem dapat disusun dalam bahasa tersebut, termasuk urutan konsonan dan vokal, serta konstrain lainnya dalam struktur kata. Kajian tentang konsep-konsep dasar seperti fon, fonem, alofon, grafem, dan fonotaktik memiliki dampak yang signifikan dalam berbagai bidang, termasuk linguistik, pengajaran bahasa, dan pengembangan sistem pengenalan suara. Pemahaman yang baik tentang konsep-konsep ini membantu dalam analisis dan pengajaran bahasa yang efektif. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas lebih dalam konsep-konsep tersebut, dan menjelaskan peran serta implikasinya dalam pemahaman bahasa dan komunikasi.
2 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian dari Fon dan bagaimana konsep dasar Fon? 2. Apa pengertian dari Fonem dan bagaimana konsep dasar Fonem? 3. Apa pengertian dari Alofon dan bagaimana konsep dasar Alofon? 4. Apa pengertian dari Grafem dan bagaimana konsep dasar Grafem? 5. Apa pengertian dari Fonotaktik dan bagaimana konsep dasar Fonotaktik? C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan makalah ini sebagai berikut: 1. Mengetahui pengertian dan konsep dasar Fon. 2. Mengetahui pengertian dan konsep dasar Fonem. 3. Mengetahui pengertian dan konsep dasar Alofon. 4. Mengetahui pengertian dan konsep dasar Grafem. 5. Mengetahui pengertian dan konsep dsar Fonotaktik.
3 BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Fon Fon adalah akar kata asal dari kata Fonologi, yaitu fon berarti bunyi bahasa, dan logos artinya ilmu. Maka pengertian harfiah fonologi adalah “ilmu bunyi”. Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi pertama adalah bunyi bahasa (fon) atau disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya.1 1. Fonetik dan Fonemik Bunyi bahasa dibedakan menjadi dua yaitu, bunyi-bunyi yang tidak membedakan makna yang disebut dengan fon dan dikenal dengan sebutan fonetik. Dan bunyi-bunyi yang membedakan makna yang disebut dengan fonem atau fonemik. 1) Fonetik Abdul Chaer mendefinisikan bahwa fonetik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut Ahmad Muaffaq bahwa fonetik adalah ilmu yang mengkaji bunyi bahasa, yang mencakup produksi, tranmisi, dan presepsi terhadapnya, tanpa memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna. Sedangkan Marsono mendefinisikan bahwa fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan berusaha merumuskan secara teratur tentang hal ihwal bunyi bahasa, bagaimana cara membentuknya, berapa frekuensinya, intensitas, timbernya sebagai getaran udara, dan bagaimana bunyi diterima oleh telinga. Secara umum dapat dikatakan bahwa fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa baik itu prosesi terbentuknya, dan bagaimana bunyi 1 Gani, S. (2019). Kajian teoritis struktur internal bahasa fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik). A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 7(1), 1-20.
4 diterima oleh telinga pendengar, tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Kemudian, menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, bedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris. • Fonetik artikulatoris Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, yaitu mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi- bunyi itu diklasifikasikan. • Fonetik akustik Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya. • Fonetik auditoris Fonetik audiotoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik aritikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkinan linguistik juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu. 2) Fonemik Menurut Abdul Chaer fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Menurut Ahmad Muaffaq bahwa fonemik adalah cabang studi fonologi yang menyelidiki dan mempelajari bunyi ujaran/bahasa atau sistem fonem suatu bahasa dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Istilah fonemik dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan
5 makna. Kalau dalam fonetik, misalnya, kita meneliti bunyi-bunyi [al yang berbeda pada kata-kata seperti lancar, laba, dan lain; meneliti perbedaan bunyi [i] seperti yang terdapat pada kata-kata ini, intan, dan pahit; maka dalam fonemik kita meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, maka bunyi tersebut kita sebut fonem, dan jika tidak membedakan makna adalah bukan fonem.2 B. Konsep Dasar Fonem Banyak pakar ahli bahasa yang berpendapat tentang pengertian fonem. Salah satunya yaitu, menurut Abdul Chaer, fonem adalah satu kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan arti suatu kata.3 Dari definisi yang disampaikan Chaer dapat disimpulkan bahwa jika kata tidak dapat membedakan arti suatu kata maka bukan disebut fonem. Menurut Masnur Muchlis, fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang memiliki fungsi untuk membedakan makna4 . Pendapat ini tidak jauh berbeda dengan pendapat Chaer. Sedangkan menurut Harimurti Kridalaksana, meyampaikan hal yang berbeda bahwa fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna.5 Menurut L Bloomfield dalam pernyataannya menjelaskan bahwa fonem adalah satuan bunyi yang berfungsi sebagai pembeda suatu arti6 . Dari berbagai pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi terkecil yang memiliki fungsi untuk membedakan arti sebuah kata. Pengertian ini memberikan bukti bahwa terdapat perbedaan yang kontras antar kata yang satu dengan lainnya. Sehingga apabila bunyi-bunyi bahasa itu berbeda, maka otomatis jenis katanya pun berbeda. 2 Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: PT RINEKA CIPTA. 3 Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia . Jakarta: Rineka Cipta. 4 Muslich, Masnur. 2007. Fonologi Bahasa Indonesia (Tinjauan Deskriptif sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 5 Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 6 Bloomfield, Leonard. (1961). Language: Bahasa. (terjemahan: I. Soetikno). Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
6 Dalam bahasa indonesia banyak ditemui bentuk-bentuk linguistik seperti kata [palaŋ] ‘palang’. Bentuk ini bisa dibagi menjadi lima bentuk linguistik yang lebih kecil lagi, yaitu [p], [a], [l], [a], dan [ŋ]. Kelima bentuk linguistik ini tidak mempunyai arti jika salah satu bentuk linguistik terkecil tersebut (misalnya [p]) diganti dengan bentuk linguistik terkecil lain (misalnya diganti [k], [t], [j], [m], [d], [g], maka arti dari bentuk linguistik kata [palaŋ] akan mengalami perubahan. Seperti contoh dalam kata berikut : [kala ] ’sangga’ƞ [mala ] ‘celaka’ƞ [tala ] ‘sejenis ikanƞ [dala ] ‘pembawa cerita wayang’ƞ [jala ] ‘liar’ ƞ [gala ] ‘nama orang’ƞ Berdasarkan contoh diatas dapat disimpulkan bahwa bentuk linguistik terkecil [p] memiliki fungsi untuk membedakan sebuah arti terhadap bentuk linguistik yang lebih besar, yaitu [palaŋ], walaupun [p] jika berdiri sendiri tidak dapat memberikan arti. Bentuk linguistik terkecil yang berfungsi membedakan makna inilah yang disebut dengan fonem. Jadi, bunyi[p] adalah realisasi dari fonem /p/. Cara lain dalam menentukan apakah kata itu termasuk fonem atau bukan dengan penafsiran ekafonem dan dwifonem. Atau dapat juga dengan menggunakan cara memperhatikan variasi alofonemisnya. Fonem pada bahasa Indonesia memiliki jumlah jenis lafal yang terikat oleh tempat fonem pada suatu kata atau suku. Misalnya : fonem /t/ jika posisinya ada di awal kata atau suku kata pertama, diucapkan secara bebas. Misal, pada kata [to#pi], fonem /t/ diucapkan secara bebas. Tapi, misal tersebut hendak berselisih apabila fonem /t/ berada di akhir kata, seperti pada kata [pa#hit] fonem /t/ tidak diucapkan secara bebas. Fonem dapat dibagi menjadi dua bagian yakni fonem vokal dan fonem konsonan. Sementara itu, kedua anggota itu seperti yang terletak di rangkaian alfabetis bisa dibedakan kembali berdasarkan posisi fonem itu. Selanjutnya fonem-fonem yang berada di bahasa Indonesia sudah mencapai jumlah wujud integrasi atau penyatuan dari bahasa asing. Wujud fonem tidak sekadar berwujud bunyi-bunyi segmental baik vokal ataupun konsonan, tapi bisa juga seperti unsurunsur suprasegmental mau itu berupa nada,tekanan,durasi ataupun jeda. Meskipun
7 ada unsur suprasegmental ini, unsur, tidak dapat dilepas oleh bunyi-bunyi segmental, sewaktu itu dapat dipastikan dengan empiris sebagai unsur yang dapat membedakan arti, yang berarti fonem. C. Konsep Dasar Alofon Alofon adalah varian pelafalan dari suatu fonem yang terjadi berdasarkan posisi dalam kata. Alofon dapat dipertukarkan dengan alofon lainnya dalam posisi yang sama, sedangkan fonem tidak. Alofon bukanlah fonem, melainkan realisasi dari fonem. Alofon tidak bersifat fungsional dan tidak merubah makna, sedangkan fonem bersifat fungsional dan dapat merubah makna. Alofon dapat diidentifikasi ketika bunyi alofon dirangkai dengan bunyi lain, dan jika bunyi asli terpengaruh oleh bunyi yang lain maka itu adalah alofon. Fonem dan alofon merupakan konsep dasar dalam fonologi, yang mempelajari bunyi bahasa. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna dalam bahasa, sedangkan alofon adalah variasi bunyi dari fonem yang tidak membedakan makna. Contoh: Fonem: /a/ pada kata "kaca", /i/ pada kata "kiri", /u/ pada kata "kuku" Alofon: /t/ pada kata "tulisan" (dilafalkan [t]), /k/ pada kata "kucing" (dilafalkan [kʰ]), /p/ pada kata "pulang" (dilafalkan [pʰ]). Alofon-Alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya, kalau kita melihat dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer, mungkin juga bersifat bebas. Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau yang disebut juga distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan meskipun dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Umpamanya, kalau bunyi [ o] dan [ ɔ ] adalah alofon dari fonem /O/. maka ternyata pada kata obat dapat dilafalkan /obat/ dan bisa juga (ɔbat). Begitu juga kata orang dapat dilafalkan [oraɳ,] tetapi bisa juga [ɔraɳ].
8 Dalam hal distribusi bebas ini ada oposisi bunyi yang jelas merupakan dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, tetapi dalam pasangan yang lain temyata hanya merupakan varian bebas. Misalnya, bunyi [o] dan bunyi (u), identitasnya sebagai dua buah fonem dapat dibuktikan dari pasangan kalung : kalong atau lolos : lulus; tetapi dalam pasangan kantung: kantong, lubang : lobang, atau telur: telor hanya merupakan variasi bebas. Kalau diperhatikan bahwa alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu. Dengan kata lain, yang konkret, atau nyata ada dalam bahasa adalah alofon itu, sebab alofon atau alofon-alofon itulah yang diucapkan.7 D. Konsep Dasar Grafem Menurut Edward Sapir (1884-1939), Grafem adalah tanda tertulis yang mengacu pada fonem-fonem dalam bahasa, dan mereka memungkinkan kita untuk merepresentasikan pikiran dan ide dalam bentuk tertulis. Adapun konsep dasar grafem sebagai berikut : 1. Unit Penulisan: Grafem adalah unit terkecil dalam sistem penulisan suatu Bahasa. Mereka merupakan karakter atau huruf yang digunakan dalam penulisan. 2. Representasi Bunyi: grafem digunakan untuk merepresentasikan bunyi atau fonem dalam suatu bahasa. Setiap grafem berkorelasi dengan satu atau lebih fonem Bahasa. 3. Sewenang-wenang : Hubungan grafem dan fonem bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan hakiki antara bentuk tulisan dengan bunyi yang diwakilinya. Hubungan ini ditentukan oleh konvensi bahasa tertentu. 7 Chaer, Abdul, (2014). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
9 4. Membedakan makna : Grafik mempunyai kemampuan membedakan makna Bahasa. Perubahan penggunaan grafem pada suatu kata dapat mengubah makna kata tersebut. 5. Kombinasi: Kata dalam suatu bahasa sering kali terdiri dari kombinasi grafem yang membentuk suku kata, kata, kalimat, dan teks yang lebih panjang. 6. Alfabet: Bahasa tertulis biasanya menggunakan alfabet atau aksara, yang terdiri dari sekumpulan diagram yang dapat digunakan untuk mengeja kata dalam bahasa tersebut. 7. Variasi Bahasa: Konsep grafik mungkin berbeda dalam berbagai bahasa. Bahasa yang berbeda memiliki alfabet dan aturan penulisan yang berbeda. Grafik merupakan elemen penting dalam sistem penulisan suatu bahasa, dan pemahaman tentang grafem membantu seseorang memahami struktur penulisan dan bagaimana kata-kata direpresentasikan dalam bahasa tertulis. E. Konsep Dasar Fonotaktik Menurut Chaiyanara, 2007:205 Fonem atau bunyi bahasa yang dianggap sebagai unit yang paling kecil dalam bahasa itu sebenarnya tidak dapat diujarkan kecuali apabila vokal dan konsonan bersama-sama bergabung untuk membentuk suku kata. Dengan berlakunya penggabungan antara vokal dan konsonan inilah bermulanya bunyi bahasa dapat didengarkan. Setiap bahasa mempunyai ketentuan sendiri yang berkaitan dengan kaidah kebahasaannya, termasuk di dalamnya kaidah deretan fonem. Kaidah yang mengatur deretan fonem mana yang terdapat dalam bahasa dan mana yang tidak terdapat dalam bahasa dinamakan fonotaktik. Pola fonotaktik adalah kaidah pergeseran bunyi dalam pelafalan kata, baik kata dasar atau kata turunan akibat pengaruh bunyi yang ada dilingkungannya (baik sebelum dan sesudahnya).
10 Setiap bahasa memiliki bentuk dan struktur suku kata yang berbedabeda sebab memiliki kaidah pembentukan yang berbeda pula. Di dalam studi fonologi pembentukan suku kata sangat dipengaruhi oleh kaidah fonotaktik yang berlaku di dalam suatu bahasa. Michael Dobrovolskyand William DO'Grady menulis (1997:56) “Phonotactis, the set of constraints on how sequence of segments pattern, forms part of a speaker’s knowledge of the phonology of his or her language”. Artinya “Fonotaktik, serangkaian aturan tentang urutan pola segmen, merupakan bagian dari pengetahuan pembicara tentang fonologi bahasanya”. Sedangkan Kentjono dan Sunarto (1990:34) mendefiniskan fonotaktik sebagai deretan atau urutan fonem yang dimungkinkan di dalam suatu bahasa serta diakui oleh penutur bahasa tersebut. Setiap bahasa memiliki kententuan-ketentuan fonotaktik yang berbeda dan dengan sendirinya akan memengaruhi pembentukan suku kata dalam bahasa tersebut. Menurut Abdul Chaer (2009:57) Pembentukan suku kata dimulai dengan mencari puncak kenyaringan atau sonoritas dalam sebuah kata, puncak kenyaringan dalam suatu kata biasanya adalah sebuah bunyi vokal. Bunyi vokal ini disebut sebagai puncak silabel. Satu kata bisa saja memiliki satu, dua atau lebih puncak kenyaringan yang menandakan bahwa kata tersebut terdiri dari satu, dua atau lebih suku kata. Misalnya kata “botol” yang memiliki lebih dari satu bunyi vokal. Adapun langkah-langkah untuk menentukan batas suku kata seperti yang akan dijelaskan dalam uraian dan gambar di bawah ini berlaku untuk semua bahasa (Dobrovolsky Michael and William DO' Grady menulis 1997:73), tetapi pembatasan deretan konsonan dan vokal untuk setiap silabel semua itu diatur berdasarkan kaidah fonotaktik yang diterima dalam bahasa yang hendak menjadi objek kajian.
11 ∑ = suku kata Onset (O) Rima (R) Nukleus (N) Koda (K) B A N Dapat dipahami bahwa suatu suku kata terdiri dari dua bahagian utama, yakni, onset (pembuka) dan rima (rhyme). Rima terdiri dari nukleus (nucleus) dan koda (coda). Suatu suku dapat memiliki ketiga-tiganya: onset, nukleus, dan koda. Dalam suatu suku kata yang wajib ada adalah nukleusnya sedangkan onset atau kodanya bersifat opsional. Contoh: Ban : /b/ = onset, /a/ = nukleus, /n/ = koda Tong : /t/ = onset, /o/ = nukleus, /ŋ/ = koda Tri : /tr/ = onset, /i/ = nukleus As : /a/ = nukleus, /s/ = koda Si : /s/ = onset, /i/ = nukleus O : /o/ = nukleus Fonotaktik merupakan satu prosedur penemuan dan penentuan tata urut dan tata hubung fonem- fonem dalam sebuah bahasa yang berpedoman pada distribusi (awal, tengah, dan akhir kata) sehingga yang dibicarakan dalam fonotaktik adalah pola urutan bunyi. Fonotaktik memiliki sebelas pola silabel atau suku kata, beberapa diantaranya; V a-yam KV ba-gi, ti-ba,
12 VK am-bil, ung-kap KVK ak-bar, am-bil, pak-sa, ter-bit KKV pla-za KVKK teks-til, kon-teks KKVK plan KKKV stra-tegi KKKVK struk-tur, kon-struk-si KKVKK kom-pleks KVKKK korps
13 BAB III PENUTUP A. Simpulan Fonologi, sebagai cabang ilmu bahasa, berpusat pada kajian bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya, dan perubahannya. Dalam bidang ini, terdapat dua aspek utama yang dibedakan, yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi bahasa tanpa mempertimbangkan apakah bunyi-bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna. Ini mencakup produksi, transmisi, dan persepsi bunyi, serta aspek teknis seperti frekuensi, amplitudo, intensitas, dan timbre. Ada tiga jenis fonetik, tetapi fonetik artikulatoris yang berfokus pada mekanisme pembentukan bunyi manusia adalah yang paling relevan dalam konteks linguistik. Sementara fonetik akustik lebih berhubungan dengan fisika, dan fonetik auditoris dengan kesehatan. Di sisi lain, fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempertimbangkan peran bunyi sebagai pembeda makna. Dalam fonemik, satuan bahasa terkecil yang memengaruhi makna disebut fonem, dan perbedaan bunyi yang berpengaruh pada arti suatu kata dikenal sebagai fonem, sementara yang tidak berpengaruh tidak dianggap fonem. Jadi, fonetik dan fonemik adalah dua pendekatan penting dalam kajian fonologi. Kesimpulan dari berbagai pandangan ahli tersebut adalah bahwa fonem adalah satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti kata, menunjukkan perbedaan kontras antara kata-kata. Fonem dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu fonem vokal dan fonem konsonan. Selain itu, fonem-fonem dalam bahasa Indonesia juga mencakup unsur-unsur suprasegmental seperti nada, tekanan, durasi, dan jeda. Meskipun unsur-unsur ini tidak dapat dilepaskan dari bunyi-bunyi segmental, mereka memiliki peran penting dalam membedakan arti, yang menjadikan mereka juga sebagai bagian dari fonem. Dengan demikian, fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang memiliki peran penting dalam membedakan makna dalam bahasa.
14 Alofon adalah variasi pelafalan dari sebuah fonem yang tergantung pada posisinya dalam kata. Alofon dapat digunakan secara saling menggantikan dalam posisi yang sama tanpa mengubah makna, yang berbeda dengan fonem yang bisa mengubah makna dalam bahasa. Distribusi alofon bisa bersifat komplementer, di mana alofon hanya muncul dalam konteks tertentu, atau bersifat bebas, di mana alofon-alofon dapat digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Dalam distribusi bebas, ada beberapa pasangan minimal yang menunjukkan bahwa dua alofon adalah dua fonem yang berbeda, seperti "kalung" dan "kalong," sementara di pasangan lain, alofon hanya merupakan variasi bebas, seperti "kantung" dan "kantong." Sebagai varian pelafalan, alofon adalah realisasi konkret dari fonem yang bersifat abstrak. Jadi, alofon adalah yang diucapkan dalam bahasa, sementara fonem adalah konsep abstrak yang membentuk dasar untuk pemahaman makna dalam bahasa. Menurut Edward Sapir (1884-1939), grafem adalah tanda tertulis yang mengacu pada fonem-fonem dalam bahasa, dan mereka memungkinkan kita untuk merepresentasikan pikiran dan ide dalam bentuk tertulis. Grafem merupakan unit terkecil dalam sistem penulisan suatu bahasa, yang terdiri dari karakter atau huruf yang digunakan dalam penulisan. Grafem digunakan untuk merepresentasikan bunyi atau fonem dalam suatu bahasa, dan setiap grafem memiliki korelasi dengan satu atau lebih fonem bahasa tersebut. Pentingnya grafem adalah bahwa hubungan antara grafem dan fonem bersifat sewenang-wenang, yang berarti tidak ada hubungan hakiki antara bentuk tulisan dengan bunyi yang diwakilinya, yang ditentukan oleh konvensi bahasa tertentu. Fonotaktik merupakan satu prosedur penemuan dan penentuan tata urut dan tata hubung fonem- fonem dalam sebuah bahasa yang berpedoman pada distribusi (awal, tengah, dan akhir kata) sehingga yang dibicarakan dalam fonotaktik adalah pola urutan bunyi.
15 DAFTAR PUSTAKA Chaer, A. (1994). Linguistik Umum. Jakarta. PT.Rineka Cipta Chaer, A. (2009). Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA. Gani, S. (2019). Kajian teoritis struktur internal bahasa fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik). A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 7(1), 1-20. Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka. Muslich, M. (2007). Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Utama. Bloomfield, Leonard. (1961). Language: Bahasa. (terjemahan: I. Soetikno). Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. Evi Martika D. Kasiahe FONOTAKTIK DAN PEMBENTUKAN SUKU KATA BAHASA SANGIR Elvi Syahrin DESKRIPSI FONOTAKTIK BAHASA SUNDA
16