The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KELOMPOK 6
- CALISTA DWI ARI ELLA
- RISKA PUTRI YANUARI
- DANDY DARMAWAN
- ARIEF PAHLEPI BUMI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by riskaaputt, 2022-04-07 03:10:59

KONFLIK RWANDA

KELOMPOK 6
- CALISTA DWI ARI ELLA
- RISKA PUTRI YANUARI
- DANDY DARMAWAN
- ARIEF PAHLEPI BUMI

KONFLIK RWANDA

LATAR BELAKANG

Genosida Rwanda adalah sebuah pembantaian 800.000 suku Tutsi dan Hutu moderat oleh sekelompok
ekstremis Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe yang terjadi dalam periode 100 hari pada tahun 1994.
Rwanda sendiri adalah sebuah negeri berpenduduk 7,4 juta jiwa dan merupakan negara terpadat di
Afrika Tengah.

Peristiwa ini bermula pada tanggal 6 April 1994, ketika Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana menjadi
korban penembakan saat berada di dalam pesawat terbang. Beberapa sumber menyebutkan Juvenal
Habyarimana tengah berada di dalam sebuah helikopter pemberian pemerintah Prancis. Saat itu,
Habyarimana yang berasal dari etnis Hutu berada dalam satu heli dengan Presiden Burundi, Cyprien
Ntarymira. Mereka baru saja menghadiri pertemuan di Tanzania untuk membahas masalah Burundi.
Sebagian sumber menyebutkan pesawat yang digunakan bukanlah helikopter melainkan pesawat jenis
jet kecil Dassault Falcon 50.

Disinyalir, peristiwa penembakan keji itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap rencana Presiden
Habyarimana untuk masa depan Rwanda. Habyarimana berencana melakukan persatuan etnis di
Rwanda dan pembagian kekuasaan kepada etnis-etnis itu. Rencana itu telah disusun setahun
sebelumnya, seperti tertuang dalam Piagam Arusha (Arusha Accord) pada tahun 1993. Untuk diketahui,
Habyarimana menjadi Presiden Rwanda sejak tahun 1993. Sebelumnya ia menempati posisi sebagai
Menteri Pertahanan Rwanda.

Pada tahun 1990-an Habyarimana merintis suatu pemerintahan yang melibatkan tiga etnis di Rwanda
yakni Hutu (85%), Tutsi (14%) dan Twa (1%). Habyarimana mengangkat Perdana Menteri Agathe
Uwilingiyama dari suku Tutsi. Pengangkatan dari suku berbeda jenis ini jelas tidak diterima oleh
kelompok militan yang ingin mempertahankan sistem pemerintahan satu suku.

Kekhawatiran sekaligus kekecewaan berlebihan inilah yang akhirnya memuncak menjadi tindak
pembunuhan terhadap presiden sendiri. Habyarimana akhirnya dibunuh bersama Presiden Burundi oleh
kelompok militan penentangnya ketika mereka berada di dalam pesawat (atau helikopter) pemberian
Presiden Prancis Francois Mitterand.

PENYEBAB

Pada 6 April 1994, Habyarimana dan rekannya, Presiden Burundi Cyprien Ntaryamira, tewas setelah
pesawat yang mereka tumpangi ditembak jatuh di Kigali. Tidak diketahui siapa dalang tragedi tersebut.
Beberapa menyalahkan ekstremis Hutu, sementara lainnya menuduh para pemimpin RPF. Disinyalir,
peristiwa penembakan ini merupakan bentuk protes terhadap rencana Habyarimana, yang hendak
menyatukan etnis Hutu dan Tutsi.

Kejadian ini kemudian dijadikan dalih oleh suku Hutu untuk menyerang etnis Tutsi. Beberapa jam
setelah tragedi itu, Pengawal Kepresidenan bersama anggota angkatan bersenjata Rwanda (FAR) dan
kelompok milisi Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe dan Impuzamugambi, mulai membantai Tutsi
dan Hutu moderat.

Theoneste Bagosora, yang saat itu merupakan tokoh senior di Kementerian Pertahanan Rwanda,
mendesak rakyat untuk menyingkirkan Tutsi. Suku Hutu juga mendirikan stasiun radio serta
menerbitkan koran-koran untuk menyuarakan propaganda kebencian mereka terhadap suku Tutsi.
Nama-nama orang Tutsi yang akan disingkirkan dibacakan melalui stasiun radio yang sudah didirikan.
Dalam beberapa jam, seluruh tempat di Rwanda berhasil diblokade.

Di antara korban pertama Genosida Rwanda adalah Perdana Menteri Hutu moderat Agathe
Uwilingiyimana dan 10 penjaga perdamaian Belgia. Kejahatan kemanusiaan ini menciptakan kekosongan
politik. Setelah itu, pasukan penjaga perdamaian Belgia, pun ditarik dan PBB memerintahkan agar
mereka hanya membela diri. Pembunuhan massal di Kigali dengan cepat menyebar ke seluruh Rwanda.
Bahkan, para pejabat menghadiahi para pembunuh dengan makanan, minuman, obat-obatan, dan uang.
Dalam waktu tiga bulan, ratusan ribu korban terus berjatuhan. Di saat yang sama, RPF juga melakukan
perlawanan. Genosida Rwanda berakhir ketiga RPF berhasil menguasai Kigali pada awal Juli 1994.

UPAYA PENYELESAIAN

Pada Oktober 1994, Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda (ICTR), yang terletak di Tanzania
dengan mandat untuk mengadili kejahatan genosida. Pada 1995, ICTR mulai mendakwa dan mengadili
sejumlah orang berpangkat tinggi yang diduga terlibat dalam Genosida Rwanda. Prosesnya cukup sulit,
karena keberadaan tersangka banyak yang tidak diketahui. Dalang Genosida Rwanda, Theoneste
Bagosora, akhirnya ditangkap dua tahun kemudian setelah peristiwa ini.

Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh ICTR. Namun, tiga tahun setelahnya, hukuman Bagosora
dikurangi menjadi 35 tahun penjara. Theoneste Bagosora dipenjara di Koulikoro Mali, bersama dengan
para pelaku lainnya yang juga ikut terlibat dalam Genosida Rwanda. Namun, Theoneste Bagosora
meninggal di penjara pada 26 September 2021, dalam usia 80 tahun.

DAMPAK

Dalam 100 hari, sejak 6 April 1994, sebanyak 800.000, yang sebagian besar orang Tutsi, menjadi korban
Genosida Rwanda. Sedangkan lebih dari 2 juta orang, hampir semuanya Hutu, melarikan diri dari
Rwanda, memadati kamp-kamp pengungsi di negara-negara tetangga.

Sementara itu, setelah kemenangannya menduduki Kigali, RPF membentuk pemerintahan koalisi seperti
yang disepakati Habyarimana di Arusha pada 1993. Pasteur Bizimungu, seorang Hutu, dipilih sebagai
presiden, dan Paul Kagame, seorang Tutsi, sebagai wakil presiden dan menteri pertahanan.


Click to View FlipBook Version