The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Laporan Liaison Triwulan IV 2022 KPwBI Provinsi NTT

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by yohanaej, 2022-12-29 02:36:52

Laporan Liaison Triwulan IV 2022 KPwBI Provinsi NTT

Laporan Liaison Triwulan IV 2022 KPwBI Provinsi NTT

Grafik 25. Tren Penerimaan Pokok BBNKB

Sumber: BPAD Provinsi NTT
Berdasarkan penjangkauan volume dan penerimaan PBBKB Januari Agustus 2022, dapat
diinformasikan bahwa Penjangkauan volume PBBKB tertinggi rentan waktu Januari sd September 2022
tertinggi terjadi pada bulan Juli dan Penjangkauan volume PBBKB tertinggi rentan waktu Januari sd
September 2022 tertinggi terjadi pada bulan Agustus sebagaimana tercermin grafik dibawah ini.

Grafik 25. Tren Penjangkauan Volume PBBNKB

Sumber: BPAD Provinsi NTT
Selanjutnya, Penerimaan pokok PBBKB tertinggi rentan waktu Januari sd September 2022 tertinggi
terjadi pada bulan Juli. Penerimaan pokok PBBKB tertinggi rentan waktu Januari sd September 2022
tertinggi terjadi pada bulan Agustus sebagaimana tercermin grafik dibawah ini.

Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 50

Grafik 25. Tren Penjangkauan Pokok PBBKB

Sumber: BPAD Provinsi NTT
Secara umum, target penerimaan pajak daerah sd Desember 2022 sebesar Rp1.486.181.102.244
dengan prognosa capaian sebesar 73% atau sebesar Rp1.087.021.877.868 dengan rincian sebagai
berikut:

• Target PKB tahun 2022 sebesar Rp579.499.665.592 dengan prognosa hingga Desember 2022
yang terbatas pada kisaran 60% atau Rp347.699.799.355.

• Target BBNKB tahun 2022 sebesar Rp239.335.748.560 dengan prognosa hingga Desember
2022 yang terbatas pada kisaran 70% atau Rp167.535.023.992.

• Target PBBKB tahun 2022 sebesar Rp284.240.647.622 dengan prognosa hingga Desember
2022 yang terbatas pada kisaran 80% atau Rp227.392.518.098.

• Target Pajak Rokok tahun 2022 sebesar Rp382.105.040.470 dengan prognosa hingga
Desember 2022 yang terbatas pada kisaran 90% atau Rp343.894.536.423

• Target PAP tahun 2022 sebesar Rp1.000.000.000 dengan prognosa hingga Desember 2022
yang terbatas pada kisaran 50% atau Rp500.000.000

Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 51

Koperasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis

(MPIG)

MPIG merupakan suatu lembaga yang mewakili masyarakat Bajawa yang mendiami suatu kawasan di Pulau
Flores yang tumbuh atas dasar persamaan visi dan misi untuk melestarikan dan meningkatkan kualitas dan
kuantitas produk kopi Arabika Flores Bajawa (ABF). Kelembagaan masyarakat tersebut telah mengusulkan
perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) terhadap produk yang dihasilkan sebagai produk yang
memperoleh perlindungan indikasi geografis sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya saing di
pasaran global. Koperasi berperan menjadi channeling bagi lima koperasi primer (Kaghomasa, Famasa,
Papawiu, Primavera dan Papataki) dalam akses modal untuk meningkatkan skala usaha dan mencari peluang
pasar. Adapun koperasi primer dimaksud bertujuan untuk membeli kopi dari petani, mengolah sesuai
standar mutu. Baik dalam bentuk kopi biji. Kopi biji (green bean atau coffee bean), Kopi sangrai (roasted
bean atau roasted coffee) maupun Kopi bubuk (ground coffee).
Pengembangan komoditas kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) menggunakan varietas Arabika S-795. Dari sisi
proses pembudidayaan diketahuo kelebihan AFB tercemin pada proses yang dilakukan secara organik tanpa
pupuk kimia dengan menggunakan pohon penaung serta intensitas cahata matahari ± 60% guna
menghasilkan mutu dan cita rasa maksimal. Awal proses budidaya AFB di lakukan di atas lahan seluas 6.611
Ha yang tersebar pada 3 kawasan, yakni: Kecamatan Golewa, Kecamatan Golewa Barat dan Kecamatan
Bajawa. Diperkirakan saat ini sebaran luas lahan perkebunan kopi terbatas dikisaran 4.000 hektar hingga
5.000 hektar mengingat tingginya alih fungsi lahan baik untuk tujuan tempat tinggal maupun
pengembangan kawasan hortikultura.
Menurut informasi kontak, bahan baku yang berupa kopi cherry diperoleh dari 1.080 keluarga petani
pembudidaya kopi S 795. Tercatat rata-rata tingkat produktivitas kopi saat ini maksimal terbatas pada 4 kg
per pohon atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada dikisaran 5 hingga 6 kg per pohon.
Hasil panen para anggota cenderung dijual ke koperasi-koperasi primer dan diolah lebih lanjut menjadi:

• Kopi biji - beras (green bean)
• kopi sangrai (roasted bean)
• Kopi bubuk (ground coofe)
Diinformasikan bahwa kegiatan ekspor pertama kali dilakukan pada tahun 2010 dan mengalami
peningkatan signifikan sejak 2015 hingga 2019. Adanya pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan
serapan pasar pada tahun 2020 hingga 2022 seperti tercermin pada Grafik dibawah ini. Adapun tujuan
penjualan pada tahun 2022 adalah Beijing.

Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 52

Grafik 26. Perkembangan Ekspor KMPIG

Ekspor (Ton)

800 700 600 600 700 700 200 230
700 2015 2016 2017 2018 2019
600 2
500 2022
400
300
200
100

0

2020 2021

Sumber : KMPIG

Sebagaimana diketahui bersama, tujuan anggota KMPIG ialah memproduksi kopi arabika yang berkualitas
guna memenuhi permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri secara berkelanjutan perlu
dilakukan beberapa penyempurnaan baik dari sisi proses hingga kelembagaan.
Terdapat 4 tahap dalam roadmap pengembangan UMKM komoditas kopi berorientasi ekspor yakni:

1. Optimalisasi produksi dan pasca panen
2. Kelembagaan dan sertifikasi
3. Ekspor Bersama
4. Eksor Mandiri
Sesuai SOP yang disepakati bersama (AFB) hanya dihasilkan dengan proses pengolahan secara basah. (olah
basah, giling kering, olah basah, giling basah, olah basah kopi madu) guna mempertahankan mutu
sebagaimana tertuang pada Gambar dibawah ini.

Gambar 1. SOP Pengolahan Kopi

Sumber : KMPIG
Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 53

Dalam rangka menghasilkan kopi berorientasi ekspor, terdapat beberapa strategi KMPIG yang
dikelompokan kedalam 3 indikator dibawah ini, yakni:

1. Pengembangan Indikator Teknis
Melakukan pengajuan sertifikasi SPS (Sanitary and Phytosanitary) sebagai syarat ekspor
sesuai dengan kesepakatan SPS Agreement yang merupakan bagian dari kesepakatan WTO
(World Trade Organization) yang berkaitan dengan kesehatan dan perdagangan
internasional.
Sertifikasi SPS sendiri adalah serangkaian proses tindakan karantina tumbuhan yang
dilakukan oleh petugas karantina tumbuhan terhadap komoditas pertanian yang akan
diekspor dalam rangka penerbitan sertifikat kesehatan tumbuhan PC (Phytosanitary
Certificate) oleh Unit Pelayanan Teknis Karantina Pertanian.

• Mengajukan pendaftaran PC ke Balai Karantina Pertanian-Kementerian Pertanian terdekat
di daerah masing-masing

• Memastikan bahwa kualitas biji kopi sesuai dengan indikator kualitas kopi untuk ekspor
• Mempertahankan status sertifikat GAP atau pertanian organik.
• Mendaftarkan PC di Balai Karantina setempat dengan didampingi oleh Penyuluh Balai

Karantina Pertanian, Dinas Pertanian, atau penyuluh atau pendamping lainnya.
• Apabila proses sertifikasi belum dapat diproses karena kekurangan persyaratan maka perlu

dilakukan identifikasi permasalahan dan tindak lanjut.
2. Pengembangan Indikator Sosial Ekonomi dan Lingkungan (SOSEKLING)

• Mengakases permodalan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) maupun
perbankan seperti: BRI, BNI atau BPD NTT.

• Melakukan kerjasama dengan investor individu dari dalam maupun luar negeri atau dengan
mitra pembeli dari luar negeri.

• Mengikuti program-program pemerintah atau lembaga lainnya yang dapat memberikan
bantuan peralatan produksi.

3. Pengembangan Indikator SDM
• Melakukan perekrutan tenaga kerja dengan jumlah yang cukup dan keterampilan yang
memadai sesuai kebutuhan.
• Merekrut tenaga kerja lepas untuk pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian khusus.
• Merekrut tenaga kerja dengan keahlian dan keterampilan khusus (tenaga kerja yang
memahami perizinan ekspor dan transaksi perdagangan internasional).
• Melatih tenaga kerja dengan keterampilan berbahasa Inggris professional.
• Melatihan dan mensertifikasi pekerja dengan keahlian tertentu misalnya Q Grader (ahli cita
rasa kopi) untuk cupping kopi arabika
• Melatih pekerja dengan kemampuan manajerial (produksi, pemasaran, dan keuangan).
• Melatih pekerja dengan pemahaman regulasi yang berlaku secara internasional.

Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 54

Adapun guna mendukung strategi pengembangan Koperasi ke depan, telah dilakukan sinergi dan
kolaborasi yang melibatkan BI, Pemerintah Daerah, dan pihak terkait meliputi:

Strategi Kunci Kegiatan & Waktu Pelaksanaan Hasil yang diharapkan Sinergi dalam pelaksanaan

Pengajuan Sertifikasi SPS ▪ Sosialisasi dan FGD dengan ▪ Ada pemahaman terkait tahapan ▪ BI
Untuk Produk Biji Kopi Pengurus Klaster AFB kopi berorientasi eksport (refleksi ▪ Pemda Ngada
posisi AFB) ▪ MPIG, Koperasi Primer,
▪ RTL dan Peran MPIG, Primer dan
Sekunder ▪ Ada Pembagian peran dan Koperasi Sekunder
tanggungjawab terkait indikator ▪ Ricolto
sosial ekononi dan lingkungan
serta indikator SDM

Peningkatan penjualan sampai ▪ Bantuan teknis pelatihan Si Apik ▪ Manajemen pencatatan keuangan ▪ BI
pada parameter Rp2,5 Milyar dan sosialisasi akses kredit dari koperasi baik primer maupun ▪ MPIG, Koperasi Sekunder

Rp50 Milyar dengan perbankan sekunder menjadi dasar akses MPIG, Koperasi Primer
kebutuhan terhadap aset kredit ▪ Dinas Koperasi dan
sebesar Rp500 juta Rp10 ▪ Ada SDM handal dari setiap
UMKM
Milyar. koperasi terkait pencatatan
keuangan

▪ Data jumlah penjualan, Nilai
transaksi, informasi data tujuan

▪ Jumlah kredit

Pengadaan infrastruktur kopi Dukungan PSBI mesin roaster dan ▪ Jumlah dan mutu kopi sangria ▪ BI
sangrai (roaster ukuran >= 20 rumah kopi Arabika Flores Bajawa ▪ Ada rumah kopi sebagai tempat ▪ Pemda Ngada

kg) promosi dan diskusi dan ▪ Manajemen Klaster AFB
penjualan. ▪ Ricolto

Strategi Kunci Kegiatan & Waktu Pelaksanaan Hasil yang diharapkan Sinergi dalam pelaksanaan

Meningkatkan kemampuan ▪ Membiayai tambahan personel ▪ Ada tenaga penguji kualitas ▪ BI
tenaga kerja terampil dan untuk QGR. bersertifikasi yang dapat ▪ Pemda Ngada
memiliki kemampuan market melakukan pengujuan secara ▪ MPIG, Koperasi Primer,
intelligence ▪ Memperbanyak individu untuk berkala setiap tahun
kontrol kualitas (hulu-hilir) Koperasi Sekunder
▪ Ada tenaga kontrol kualitas ▪ Ricolto
Meningkatkan kemampuan Pemetaan SDM Kopi dan kursus bersertifikasi dari hulu -hilir
berbahasa Inggris secara aktif bahasa Inggris ▪ Pemda Ngada
▪ Ada tenaga terampil yang bisa ▪ MPIG, Koperasi Primer,
berbahasa Inggris di setiap
koperasi (sekunder dan primer) Koperasi Sekunder
▪ Ricolto
▪ Mampu membantu menjelaskan ▪ Asosiasi Guru Bahasa
keseluruhan proses kepada
pembeli dan parapihak yang Inggris Kabupaten
membutuhkan informasi dalam Ngada
bahasa Ingris

Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 55

LAMPIRAN

Profil Contact Liaison

Tabel Daftar Kontak Liaison Triwulan IV – 2022

No Kontak Lapangan Usaha Produk Utama Share PDRB
1 Peternakan Usaha Mandiri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Daging Ayam Ras 28,29%
2 Kristal Hotel Kupang Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Hotel dan MICE 0,62%
3 SMAN 1 Kupang Jasa Pendidikan Sekolah Menengah Atas 9,89%
4 Kelompok Tani Primavera Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Perkebunan Kopi 28,29%
5 Kelompok Tani Moeda Farm Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Tanaman Hortikultura 28,29%
6 PT Pegadaian Persero Cab. Kupang Jasa Keuangan dan Asuransi Jasa Gadai dan Emas 4,22%
7 Perum Bulog Kanwil Provinsi NTT Perdagangan Besar dan Eceran Beras 11,38%
8 PT Mitra Pinasthika Motor Cabang Kupang Perdagangan Besar dan Eceran Sepeda Motor 11,38%
9 Amaris Hotel Kupang Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Hotel dan MICE 0,62%
Jasa Keuangan dan Asuransi Jasa Simpan Pinjam 4,22%
10 Koperasi Swastisari Perdagangan Besar dan Eceran Rokok Kretek 11,38%
11 PT Atri Distribusindo Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Tanaman Pangan 28,29%
12 Kelompok Tani Usaha Bersama Air Sagu Konstruksi Jasa Konstruksi 11,10%
13 PT Nanda Karya Pratama Putra Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Perikanan Tangkap 28,29%
14 UD. Tunas Harapan Administrasi Pemerintahan Dinas 13,76%
15 Badan Pendapatan & Aset Daerah Provinsi NTT Administrasi Pemerintahan Dinas 13,76%
16 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Jasa Keuangan dan Asuransi Kelembagan Petani 4,22%
17 Koperasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Transportasi dan Pergudangan Jasa Bandara 4,57%
18 PT Angkasa Pura I Eltari Kupang

Sebaran Contact Liaison

No Lapangan Usaha Share PDRB 6% Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 28,29% Jasa Keuangan dan Asuransi
2 Administrasi Pemerintahan 13,76% 5% 28% Perdagangan Besar dan Eceran
3 Perdagangan Besar dan Eceran 11,38% 5% 17% Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
4 Konstruksi 11,10% Administrasi Pemerintahan
5 Jasa Pendidikan 9,89% 11% Jasa Pendidikan
6 Transportasi dan Pergudangan 4,57% Konstruksi
7 Jasa Keuangan dan Asuransi 4,22% 11% Transportasi dan Pergudangan
8 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 0,62% 17%
TOTAL 83,81%

Breakdown Likert Scale

Kondisi Saat Ini I 2019 IV I 2020 IV I 2021 IV I 2022 IV
0,07 0,47 0,08 -0,18 0,00 0,43 0,17 0,36
Penjualan Domestik II III 1,00 -0,67 II III -1,00 -0,67 II III 1,00 0,00 II III 1,00
Penjualan Ekspor 0,07 -0,13 -0,22 0,74 -0,29 -0,88 -1,62 -0,59 -0,33 0,33 -0,17 0,71 0,08 0,67 0,62 0,68
-0,29 -1,17 0,38 0,41 0,00 -0,50 -2,00 -0,11 -0,08 0,00 0,50 0,36 0,25 1,33 1,00 0,21
Rata-rata Penjualan 0,17 -0,65 0,08 0,07 0,36 -0,69 -1,81 0,05 -0,09 0,17 0,17 0,15 0,11 1,00 0,81 0,17
Kapasitas Utilisasi 0,13 -0,24 0,00 0,47 0,46 0,00 -1,08 0,00 0,00 0,30 -0,08 0,29 0,25 0,50 0,54 0,21
Persediaan 0,90 0,00 0,19 0,64 0,89 0,57 -0,25 0,60 0,09 0,11 -0,64 0,67 0,44 0,60 0,55 0,82
Investasi 1,14 0,00 0,28 0,63 0,69 0,11 -0,08 0,63 -0,08 0,50 0,17 0,43 0,45 0,25 0,23 0,86
Biaya Bahan Baku 0,92 0,33 1,06 0,65 0,54 0,00 -0,18 0,53 -0,08 0,50 0,09 0,07 0,55 0,70 1,25 0,86
Biaya Tenaga Kerja 0,99 0,82 0,78 0,64 0,71 0,11 -0,31 0,59 -0,02 0,48 0,08 0,39 0,48 0,33 0,54 0,84
Biaya Energi 0,88 0,63 0,56 0,38 0,31 -0,25 0,15 0,26 -0,08 0,20 -0,08 0,36 0,42 0,33 0,69 0,62
-0,43 0,59 0,80 0,00 0,08 -0,05 -0,11 -0,18 -0,08 0,43 0,03 0,21 0,25 0,46 0,83 0,14
Rata-rata Biaya 0,25 0,13 0,41 0,12 0,15 0,13 -0,08 0,08 -0,15 0,09 0,25 0,14 -0,08 0,67 1,00 -0,07
Harga Jual -0,14 0,00 -0,29 -0,83 0,00 -0,25 0,64 0,69
Margin Per Unit Output 0,24 0,33 IV I -0,33 -0,31 IV I 0,08 -0,08 0,00 0,23 IV
Jumlah Tenaga Kerja 0,35 0,08 0,55 0,38 0,36
2019 0,47 0,15 2020 0,27 -0,08 2021 2022 0,57
Proyeksi 1 Tahun ke depan I 0,06 0,46 0,23 0,08 IV I 0,36
0,25 II III 0,29 0,46 II III 0,40 0,15 II III 0,71 0,83 II III 0,36
Perkiraan Penjualan 0,27 0,69 0,71 0,77 -0,29 0,54 0,45 0,00 0,58 0,33 0,57 0,42 0,67 0,54 0,57
Perkiraan Harga Jual 0,00 0,65 -0,14 0,08 0,45 0,33 0,57 0,25 0,42 0,62
Perkiraan Jumlah Tenaga Kerja 0,24 0,06 0,00 0,46 0,18 -0,08 0,21 0,58 0,25 0,15
Perkiraan Investasi 0,25 0,50 0,00 0,08 0,08 0,00 0,21 0,67 0,08 0,31
Perkiraan Biaya Tenaga Kerja 0,94 0,67 1,00 0,77 0,54 0,25 0,73 0,67

Laporan Liaison Triwulan IV - 2022 | KPwBI Provinsi NTT 56


Click to View FlipBook Version