DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
Dongeng I Dempu Awang dan Cerita Pantun Lutung Kasarung Kajian
Sastra Bandingan Nusantanra
Ida Bagus Wahyu Sudhiatmika1*, Windhu Sancaya2
12Program Studi Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana
1[[email protected]], 2[[email protected]]
*Corresponding Author
Abstract
Penelitian Cerita I Dempu Awang dan Pantun Lutung Kasarung kajian sastra bandingan
Nusantara ini sangat menarik, karena kedua cerita tersebut memiliki kemiripan. I Dempu
Awang menceritakan perjalanan seorang pangeran mencari wanita, dan Lutung Kasarung
mengisahkan seorang dewa mencari wanita, mereka menemui halangan dan rintangan,
kemudian pangeran dan dewa berubah wujud menjadi seekor monyet. Penelitian ini
menggunakan teori sastra bandingan oleh Robert Clements dari segi tema dan mitos. Metode
dan teknik yang digunakan adalah: 1) tahap pengumpulan data, menggunakan metode
membaca, dibantu dengan teknik catat dan teknik terjemahan; 2) tahap analisis data
menggunakan metode kualitatif, dibantu dengan teknik deskriptif komparatif; 3) tahap
penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal, dibantu dengan teknik induktif
dan deduktif. Hasil penelitian ini kedua cerita ini memiliki kemiripan dari segi tema dan mitos,
dan di dalamnya ditemukan motif-motif Panji. Pada akhirnya kajian sastra bandingan ini dapat
memberi sumbangan bagi penulisan sejarah Sastra Bali.
Kata kunci: cerita, sastra bandingan, sejarah sastra
The research tales of I Dempu Awang and Pantun Lutung Kasarung the analysis Nusantara
comparative literature much interested on its, because in between both tales were likely similar.
I Dempu Awang explained the adventure of the prince looking for a lady, and Lutung Kasarung
describe the god search a lady, they found a lot of problems and obstacles, than the god and the
prince transformed their self to be monkeys. These research using comparative literature theory
by Robert Clements base on the theme and mythos. The method and technique are as follows: 1)
step of providing data, using method of reading, supported by recording technique and
translation technique; 2) step of analysis data, using method of qualitative, supported by
descriptive comparative technique; 3) step of result data presentation, supported by inductive
technique and deductive technique. The result of research of both tales have the similar theme
and mythos, and both of the tales found motive of Panji. The end of analysis Nusantara
comparative literature could donate to compile the history of Bali literature.
Keywords: tale, comparative literature, history of literature
1. Latar Belakang sendiri (Teeuw, 1982:9). Tidak dapat
Sebagai homo fabula, manusia dipungkiri, dari begitu banyak cerita
yang ada di Nusantara itu sering terdapat
adalah makhluk yang suka akan cerita. kemiripan, salah satunya antara Cerita I
Ada berbagai macam cerita, baik lisan Dempu Awang versi Bali dengan Cerita
maupun tulis yang dihasilkan manusia Pantun Lutung Kasarung dari daerah
sebagai hasil ungkapan pengalaman Jawa Barat.
hidupnya. Hampir semua suku di
Nusantara memiliki tradisi sastranya
108
DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
Dongeng I Dempu Awang
menceritakan petualangan Raden Mantri Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
Koripan yang berubah menjadi seekor
monyet putih untuk dapat menemukan 2. Pokok Pembahasan
cinta sejatinya bernama Raden Galuh (1) Tema apakah yang mendasari
Daha. Sama halnya dengan I Dempu kemiripan antara I Dempu Awang
Awang, Pantun Lutung Kasarung dengan Lutung Kasarung, dan
mengisahkan seorang dewa bernama mitos-mitos apa yang terdapat
Guru Minda yang menerima hukuman pada kedua cerita tersebut?
untuk turun ke bumi dengan menjadi (2) Apakah yang melatarbelakangi
seekor lutung hitam sekaligus mencari kemiripan antara I Dempu Awang
wanita pujaannya bernama Purbasari. dan Lutung Kasarung?
Sebelum keduanya bisa bertemu, mereka
dihadapkan dengan berbagai halangan 3. Tujuan
dan rintangan, hingga akhirnya dapat (1) Tujuan Umum
menikah serta hidup bahagia. Secara umum tujuan dari
Walaupun kedua cerita ini penelitian ini adalah untuk memberi
dituturkan dengan dua bahasa yang sumbangan bagi penulisan sejarah sastra.
berbeda, hidup pada dua wilayah yang Selain itu juga untuk memperkaya
berbeda, dan berada dalam situasi khazanah perkembangan ilmu sastra
kebudayaan berbeda, yaitu Bali dan khususnya dalam bidang sastra
Sunda, keduanya memiliki persamaan bandingan.
yaitu sama-sama menceritakan tentang
pencarian cinta sejati oleh seorang laki- (2) Tujuan Khusus
laki untuk menemukan perempuan yang Secara khusus tujuan dari
memang ditakdirkan untuknya, dan
diakhiri dengan pernikahan. Di dalam penelitian ini, pertama untuk mengetahui
kedua cerita tersebut juga terdapat mitos- tema apa yang mendasari kemiripan I
mitos bagaimana terjadinya kesuburan Dempu Awang dan Lutung Kasarung,
dan kesejahteraan. dan mitos apa yang terdapat pada
keduanya. Kedua untuk mengetahui apa
Apa yang melatarbelakangi yang melatarbelakangi terjadinya
kemiripan tersebut tidak terlepas dari kemiripan di antara keduanya.
adanya motif-motif yang sama maupun
mirip di antara keduannya. Dongeng I 4. Metode Penelitian
Dempu Awang yang digolongkan ke Metode dan teknik penelitian
dalam cerita Panji (Bagus, 1986:27),
jelas terdapat motif-motif sesuai dengan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga
unsur-unsur pokok cerita Panji di tahapan yaitu, 1). tahap pengumpulan
dalamnya. Sementara Lutung Kasarung data; 2). tahap analisis data; 3). tahap
sebagai cerita pantun Sunda, nyatanya penyajian hasil analisis data. Adapun
terdapat motif yang mirip dengan unsur- penjabarannya sebagai berikut:
unsur pokok Panji.
(1) Metode dan Teknik Pengumpulan
Berangkat dari kemiripan itulah Data
penelitian ini dilakukan dengan
membandingkan Cerita I Dempu Awang Tahap awal dalam pengumpulan
dengan Pantun Lutung Kasarung data adalah dengan melakukan penelitian
menggunakan teori sastra bandingan dari perpustakaan (Semi, 1990:8). Dalam
segi tema dan mitos (Damono, 2015:8). merealisasikan penelitian perpustakaan,
dilakukan dengan metode membaca yang
dibantu dengan teknik catat dan teknik
terjemahan. Teknik catat ini dilakukan
untuk mencatat unsur-unsur yang
dibandingkan. Teknik terjemahan ini
109
DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
digunakan untuk menerjemahkan
Dongeng I Dempu Awang dari Bahasa Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
Bali ke Bahasa Indonesia. Teknik
terjemahan juga dilakukan pada Pantun Awang dengan motif hukuman dalam
Lutung Kasarung yang ditranslasikan Lutung Kasarung; 4). terdapat persamaan
dari Bahasa Sunda ke Bahasa Indonesia. motif penyamaran menjadi binatang; 5).
Teknik terjemahan yang digunakan terdapat persamaan motif pertemuan; 6).
adalah teknik terjemahan yang bersifat terdapat persamaan motif percintaan; 7).
gabungan antara harfiah dan idiomatik persamaan dalam motif pernikahan.
(Larson, 1991:17).
5.2 Tema dan Mitos I Dempu Awang
(2) Metode dan Teknik Analisis Data
Setelah data-data didapatkan, dan Lutung Kasarung
dilanjutkan dengan tahap analisis data Berdasarkan motif-motif
yaitu mengolah data menggunakan
metode kualitatif (Semi, 1990:23). tersebut, baik Dongeng I Dempu Awang
Metode kualitatif ini dibantu dengan
teknik deskriptif komparatif, yaitu teknik maupun Pantun Lutung Kasarung
yang dilakukan dengan mendeskripsikan
data-data terlebih dahulu, kemudian memiliki tema yang sama yaitu
dilanjutkan dengan membandingkan
unsur-unsur yang ada (Ratna, 2013:53). bertemakan pernikahan. Pernikahan yang
(3) Metode dan Teknik Penyajian terjadi adalah pernikahan yang memang
Hasil Analisis Data
dikehendaki untuk terjadi oleh Tuhan
Tahap akhir dalam penelitian ini
adalah tahap penyajian hasil analisis data. maupun manusia itu sendiri. Akibat dari
Untuk penyajian hasil analisis data ini
menggunakan metode informal terjadinya pernikahan itu dimitoskan
(Sudaryanto, 1993:145). Metode informal
ini digunakan untuk menyajikan hasil terciptanya kesuburan, kesejahteraan, dan
perbandingan Dongeng I Dempu Awang
dengan Pantun Lutung Kasarung kemakmuran. Perbedaanya, walaupun
menggunakan kalimat-kalimat Bahasa
Indonesia. Penyajian metode informal ini kedua cerita tersebut bertemakan
didukung dengan teknik deduktif dan
induktif. pernikahan yang menciptakan kesuburan,
5. Hasil dan Pembahasan kesejahteraan, tetapi pernikahan maupun
5.1 Kemiripan Motif I Dempu Awang
mitos yang hendak disampaikan
dan Lutung Kasarung
Cerita I Dempu Awang dan tampaknya memiliki perbedaan.
Pantun Lutung Kasarung memiliki tujuh 5.2.1 Tema Pernikahan dalam
motif yang sama maupun mirip, antara
lain: 1). terdapat persamaan motif Dongeng I Dempu Awang
pembuangan; 2). terdapat kemiripan
antara motif sabda dalam I Dempu Pernikahan yang terjadi antara
Awang dengan motif mimpi dalam
Lutung Kasarung; 3). terdapat kemiripan Raden Mantri Koripan dengan Raden
antara motif pelayaran dalam I Dempu
Galuh Daha memang pernikahan yang
ditakdirkan oleh Tuhan maupun manusia
itu sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari
petunjuk melalui sabda yang didapatkan
Raden Mantri Koripan, maupun petunjuk
melalui mimpi yang didapatkan Raden
Galuh Daha. Di samping itu, Raden
Mantri Koripan dan Raden Galuh Daha
sejatinya memiliki ikatan hubungan
kekerabatan, dan keduanya memang
hendak dijodohkan.
Dikaitkan dengan sistem
kemasyarakatan Bali yang menganut
sistem stratifikasi sosial, pernikahan
antara dua putra putri kerajaan tersebut
menggambarkan pernikahan secara sosial
dan budaya pada masyarakat Bali, yaitu
pernikahan yang didasari atas hubungan
110
DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
endogami klen. Pernikahan yang terjadi
hendaknya sederajat dalam hal kasta. Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
5.2.2 Tema Pernikahan dalam Pantun 5.2.4 Lutung Kasarung: Mitos
Lutung Kasarung Pahlawan Sunda; Mitos
Pernikahan antara Guru Minda Kesejahteraan
Pernikahan dalam Lutung
dengan Purbasari juga memang
ditakdirkan untuk terjadi. Hal itu dapat Kasarung tersebut memitoskan tentang
dilihat dari perintah Sunan Ambu tokoh Kerajaan Pajajaran yang mencari
(penguasa dunia) kepada Guru Minda kesucian dan akhirnya membawa
untuk mencari wanita pujaannya di bumi. kesejahteraan bagi masyarakatnya. Atas
Jika dilihat, pasangan ini berasal dari dua hal itulah tokoh ini sering disebut sebagai
status sosial dan dua alam yang berbeda. pahlawan budaya (Kartini, 1984:2). Guru
Guru Minda adalah seorang dewa yang Minda mencari kesucian untuk menjadi
berasal dari Kahyangan (Buana dewa sejati, sementara Purbasari mencari
Nyungcung), sedangkan Putri Purbasari kesucian untuk menaikkan status
adalah seorang putri kerajaan yang spritualnya. Simbol telah didapatkannya
berasal dari bumi (Buana Pancatengah). kesucian itu adalah dengan pernikahan.
Hasil dari penyatuan antara alam atas dan
Sebagaimana dalam cerita bawah tersebut menyebabkan terciptanya
pantun, yang identik menggambarkan kesejahteraan, kemakmuran dalam
tentang kosmologi Sunda (Sumardjo, tatanan yang lebih luas yaitu di jagat
2013b: 65), dapat dikatakan pernikahan raya.
antara Guru Minda dengan Purbasari
tersebut melambangkan penikahan secara 5.3 Latar Belakang Kemiripan I
kosmis, yaitu pernikahan antara alam atas Dempu Awang dan Lutung
dengan alam bawah. Pernikahan secara Kasarung
kosmis tersebut juga diamini oleh Adanya kemiripan dari segi tema
Sumardjo, yang mengatakan bahwa
Pantun Lutung Kasarung bertemakan dan motif antara Dongeng I Dempu
penyatuan dunia atas dengan dunia Awang dan Pantun Lutung Kasarung
manusia (2013:210). tampaknya bukan merupakan suatu
kebetulan. Ada dua faktor yang
5.2.3 I Dempu Awang: Mitos Semara melatarbelakanginya, antara lain:
Ratih; Mitos Kesejahteraan
Pernikahan dalam I Dempu Awang 5.3.1 Adanya Kesamaan antara Cerita
Panji dengan Cerita Pantun
tersebut melambangkan perwujudan Dilihat dari asal ceritanya, I Dempu
Dewa Semara dan Dewi Ratih yang
diturunkan ke dunia dan masuk ke dalam Awang digolongkan ke dalam cerita
sanubari setiap makhluk hidup yang Panji, dan Lutung Kasarung digolongkan
menyebabkan manusia memiliki perasaan ke dalam cerita pantun. Dilihat lebih
saling mencintai. Hasil dari pernikahan jauh, memang sejatinya ada kemiripan
antara anak manusia dengan manusia antara cerita Panji dengan cerita pantun
tersebut menyebabkan terciptanya itu sendiri. Tulisan Tedjowirawan (2004)
kesuburan (kehamilan) pada diri manusia yang mengatakan adanya persamaan
itu sendiri. unsur autochon antara Panji Angreni
dengan Pantun Mundinglaya Dikusumah
sesungguhnya telah menjadi gambaran
awal memang adanya kemiripan di antara
cerita pantun dengan cerita Panji.
Penelitian Tedjowirawan tersebut lebih
melihat dari persamaan yang terjadi dari
111
DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
berbegai segi, antara lain: dari unsur
totemisme, unsur sistem klasifikasi, Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
myte, perkawinan eksogami, hero,
inisisasi (2004:295-299). 5.3.2 Adanya Motif Panji pada
Dongeng I Dempu Awang dan
Selain unsur yang telah dikatakan Lutung Kasarung
Tedjowirawan, sesungguhnya ada Selain memang ada kemiripan
persamaan lain cerita Panji dengan
pantun dilihat dari segi temanya dan antara cerita Panji dengan cerita pantun,
unsur pokok ceritanya. Menilik tema hal lain yang mendasari kemiripan I
Panji yang dikatakan Ras (2014:223), Dempu Awang dengan Lutung Kasarung,
bahwa cerita Panji adalah sebuah yaitu terdapat motif-motif Panji pada
petualangan yang harus dilalui Raden kedua cerita tersebut. Dongeng I Dempu
Panji, putra Koripan sebelum kawin Awang yang digolongkan ke dalam
dengan saudara sepupunya Raden Galuh dongeng Panji (Bagus, 1986:27), jelas
Daha. Dalam cerita pantun, yang menjadi terdapat motif-motif Panji di dalamnya
unsur penggeraknya juga adanya dan jelas mendapat pengaruh dari Panji
petualangan. Menurut Eringa melalui Jawa. Poerbatjaraka mengatakan bahwa
Kartini (1984:2), cerita pantun adalah cerita Panji merupakan cerita asli Jawa
cerita yang mengisahkan petualangan yang berkembang pada zaman Majapahit
raja-raja atau ksatria keturunan Prabu atau lebih tepatnya zaman setelah
Siliwangi, Raja Pajajaran dalam Majapahit, dan kemudian menyebar ke
meluaskan daerah taklukannya atau wilayah lainnya (1968:404). Tema Panji
dalam mencari putri cantik untuk ini menyebar dan berkembang ke
dijadikan permaisuri. Tema menurut berbagai wilayah di Nusantara tidak
Eringa yang kedua bahwa cerita pantun terkecuali ke Bali (Robson, 1971:15).
adalah petualangan dalam mencari putri
cantik untuk dijadikan permaisuri, Sementara Lutung Kasarung
tampaknya memiliki persamaan dengan sebagai bagian dari cerita pantun Sunda
tema cerita Panji. seperti yang telah diklasifikasikan dalam
buku Struktur Cerita Pantun Sunda Alur
Dilihat dari segi unsur-unsur (1984). Di dalamnya terdapat motif-motif
pokok cerita Panji, juga mirip dengan mirip Panji. Hal ini mengasumsikan
unsur pokok dalam cerita pantun. Dalam adanya pengaruh Panji pada cerita
cerita Panji, motif hilangnya Raden Lutung Kasarung. Asumsi ini sangat
Galuh Daha ataupun perginya Raden beralasan karena didukung oleh pendapat
Mantri Koripan untuk mencari kekasih Poerbatjaraka dalam bukunya Tjerita
hatinya memiliki persamaan dengan Panji dalam Perbandingan yang
unsur perpisahan atau perginya tokoh mengatakan bahwa cerita Lutung
utama dalam cerita pantun. Kedua, motif Kasarung ini dapat juga dikatakan
pengembaraan dan penyamaran Raden sebagai sastra Panji Sunda (1968:416).
Mantri Koripan mencari Raden Galuh Hal senada juga dikatakan Shaleh Saidi
Daha dengan berbagai halangan dan bahwa Cerita Lutung Kasarung juga
rintangan, mirip dengan unsur merupakan fragmen dari cerita Panji
ujian/inisiasi dalam cerita pantun. Ketiga, (2003:84). Akan tetapi, baik
motif Raden Galuh dapat ditemukan Poerbatjaraka maupun Saidi tidak
kembali yang diakhiri dengan menyatakan alasan atas dasar apa ia
pernikahan, yang mirip dengan unsur mengatakan Lutung Kasarung sebagai
kembali atau tokoh utama mencapai cerita Panji Sunda.
tujuan dalam cerita pantun.
Adanya kemungkinan pengaruh
tersebut, sejauh ini dapat dijelaskan
dengan pendapat yang dikatakan Baribin.
112
DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
Baribin mengatakan bahwa cerita Panji
dapat berarti kisah tentang Panji Inu Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
Kertapati, dan dapat pula berarti salah
sebuah struktur cerita rekaan (1985:193). pernikahan yang didasari atas hubungan
Struktur cerita rekaan yang dimaksudkan status sosial yang sama (endogami klen).
adalah bagaimana munculnya karya- Pernikahan tersebut menggambarkan
karya sastra yang diilhami oleh tema perwujudan Dewa Semara Ratih yang
Panji, karya sastra tersebut memiliki turun ke bumi menyebabkan terjadinya
struktur yang mirip Panji, tetapi tidak lagi kesuburan (kehamilan) (bhuana alit).
menceritakan tokoh-tokoh ataupun latar Sementara Pantun Lutung Kasarung
cerita Panji. menggambarkan pernikahan secara
kosmis, yaitu pernikahan antara alam atas
Berdasarkan apa yang dikatakan yang diwakili dewa dengan alam bawah
Poerbatjaraka tersebut, Pantun Lutung yang diwakili manusia. Pernikahan
Kasarung sangat mungkin diilhami tersebut menggambarkan pahlawan sunda
secara struktur Panji. Ini dilihat dari yang mencari kesucian. Hasil pertemuan
motif-motif mirip yang telah disebutkan dari alam atas dan alam bawah tersebut
di atas. Lutung Kasarung dengan motif menyebabkan terciptanya kesejahteraan,
Panjinya berkembang di wilayah Sunda, kesuburan, keharmonisan di jagat raya
menyebabkan tokoh-tokohnya sudah (bhuwana agung).
berbeda dan tidak lagi menceritakan
Kerajaan Daha dan Koripan, tetapi Ada dua faktor yang
berubah sesuai dengan faktor geografis melatarbelakangi kemiripan antara I
dan zamannya yang dikaitkan dengan Dempu Awang dengan Lutung Kasarung.
Kerajaan Pajajaran di Sunda. Pada Pertama, jika dilihat dari asalnya,
akhirnya Lutung Kasarung memiliki sejatinya memang ada kemiripan antara
makna sesuai dengan kebudayaannya cerita Panji dengan cerita pantun itu
yaitu memuliakan atau mengharumkan sendiri. Kedua, adanya motif-motif Panji
tokoh Pajajaran dan dianggap suci oleh di dalam kedua cerita tersebut. I Dempu
masyarakat Sunda. Awang dikatakan sebagai cerita Panji
karena menceritakan tentang Raden
Melalui kajian sastra bandingan Mantri Koripan dengan Raden Galuh
ini dapat dilihat bahwa Sastra Bali Daha, dan jelas terdapat motif-motif
mendapat pengaruh dari Sastra Jawa, dan Panji di dalamnya. Sementara Pantun
Sastra Sunda mendapat pengaruh dari Lutung Kasarung memiliki motif-motif
Sastra Jawa. Kajian sastra bandingan ini yang mirip dengan Panji karena diilhami
pada akhirnya dapat memberi sumbangan secara struktur tema Panji.
bagi penulisan sejarah sastra, utamanya
bagi sejarah sastra Bali. Bahwasanya Melalui kajian sastra bandingan
Sastra Bali adalah sastra yang tidak ini pada akhirnya dapat memberi
berdiri sendiri, melainkan mendapat sumbangan bagi penulisan sejarah sastra,
pengaruh dari sastra lainnya dalam hal ini utamanya bagi sejarah Sastra Bali itu
Sastra Jawa. Hal yang sama juga terjadi sendiri.
pada Sastra Sunda.
7. Daftar Pustaka
6. Simpulan Bagus, I Gusti Ngurah. 1986. Dongeng
Berdasarkan pembahasan diatas,
Panji dalam Kesusastraan Bali.
Dongeng I Dempu Awang Jakarta: Depdikbud.
menggambarkan pernikahan secara sosial
dan budaya pada masyarakat Bali, yaitu Baribin, Raminah. 1985. Cerita Panji:
Jejak dan Pengaruhnya dalam
Kesusastraan Indonesia. Dalam
Sulastrin Sutrisno (Eds.). Bahasa
113
DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i01.p16 ISSN: 2302-920X
Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud
Sastra Budaya. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press. Vol 22.1 Pebruari 2018: 108-114
Damono, Sapardi Djoko. 2015. Sastra Yogyakarta: Duta Wacana
Bandingan. Jakarta: Editum. University Press.
Kartini, Tini, dkk. 1984. Struktur Cerita Sumardjo, Jakob. 2013a. Arkeologi
Budaya Indonesia. Yogyakarta:
Pantun Sunda: Alur. Jakarta: Qalam.
Pusat Pembinaan dan _______________. 2013b. Simbol-
Simbol Mitos Pantun Sunda.
Pengembangan Bahasa Bandung: Kelir
Depdikbud. Tedjowirawan, A. 2004. Persejajaran
Unsur-Unsur Autochton dalam
Larson, Mildred L. 1991. Penerjemahan Cerita Panji Angreni dengan
Berdasarkan Makna, Pedoman Cerita Pantun Mundinglaya
untuk Pemadanan Antarbahasa. Dikusumah, Humaniora. Volume
Jakarta: Arcan. 16, Nomor 3, hlm. 290-302.
Luxemburg, J.V. 1992. Pengantar Ilmu Teeuw, A. 1982. Khazanah Sastra
Sastra. Jakarta: PT. Gramedia Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Poerbatjaraka, R.M.NG. 1968. Tjerita __________. 2015. Sastra dan Ilmu
Panji dalam Perbandingan. Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Jakarta: Gunung Agung.
Ras J.J. 2014. Masyarakat dan
Kesusastraan di Jawa. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori,
Metode, dan Teknik Penelitian
Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Robson. S.O. 1971. Waŋbaŋ Wideya. The
Hague: Martinus Nijhoff.
Saidi, Shaleh. 2003. Melayu Klasik
Khazanah Sastra Sejarah
Indonesia Lama. Denpasar:
Larasan Sejarah.
Semi, Atar. 1990. Metode Penelitian
Sastra. Bandung: Angkasa.
Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka
Teknik Analisis Bahasa
Pengantar Penelitian Wahana
Kebudayaan secara Linguistis.
114