Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ya?"
"Dia sudah bertunangan. Aku malah hadir waktu pesta peresmiannya," ujar Handoko.
Anton menutup album itu.
"Mahasiswa mana tunangannya?"
"Dulu indekos di rumahnya. Lulus Fakultas Tehnik. Sekarang di Jerman." "Wah."
"Memang 'wah'," kata Handoko sambil senyum.
Anton pun tersenyum, tetapi sumbang. "Sudah berapa lama dia ditinggal?"
"Entah berapa lama. Pokoknya lamaaa sekali."
"Siiip. Kalau begitu, dia sedang kesepian."
“Kau mau menerobos?”
"Apa salahnya?"
"Tentu saja salah. Biadab namanya kalau kau sudah tahu dia punya tunangan, tapi masih kauganggu.”
"Kenapa biadab? Itu malah perlu sebagai penguji mental gadis itu. Apa betul dia mencintai tunangannya.”
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Kalau betul-betul cinta?"
"Tentu saja aku tersingkir. Logis toh?"
"Kalau kau diterima?"
“Go ahead.”
"Kau serius nih?"
Anton mengangguk.
"Kalau aku jadi kau," kata Handoko, "kenyataan bagaimanapun akan tidak menyenangkan bagiku.
Kalau keras cintanya pada tunangannya, aku akan kecewa. Kalau dia menerima cintaku, aku pun
kecewa sebab mendapat gadis yang sebenarnya berhati lemah."
"Logikamu ngawur." Anton mengangkat bahu.
Dia mengedikkan kepala untuk mengembalikan rambut ke belakang. "Sekarang, antar aku ke
rumahnya," lanjutnya tak acuh.
"Ya, ampun. Jangan aku."
"Kenapa ?"
"Kalau pertunangan mereka putus karena kau, bagaimana pertanggungjawabanku kepada tunangannya,
Usman? Sebelum berangkat dulu, dia titip pesan padaku agar aku melihat-lihat Erika."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ha, kalau begitu, kau optimis aku akan mendapatkan gadis itu. Siapa nama tunangannya? Usman? Ha,
Usman. Bagus. Tentunya temperamennya berbeda dengan aku. Apa bintangnya?"
"Entahlah," kala Handoko lesu.
"Ayolah, sore ini juga kita harus mengunjunginya. Napoleon bilang, serangan yang cemerlang biasanya
dilakukan dengan mendadak."
"Sorry, Anton. Aku tak mau terlibat."
"Alaaa, gampang. Nanti kukasih surat tidak terlibat peristiwa ini."
"Betul-betul, Anton, aku dulu sempat berjanji pada tunangannya untuk melihat-lihat."
"Melihat-lihat, apa pula beratnya? Nanti pun kau bisa melihat dia. Lihat bagaimana sikapnya di depanku.
Bandingkan keadaannya dengan sewaktu di depan tunangannya dulu."
"Aku merasa berdosa kalau membawa seseorang yang akan mengganggu pertunangan mereka.”
"Wah, sucinya kau. Setelah jadi Ketua Rukun Kampung, kau bisa jadi Santo."
Handoko tak menjawab. "Betul-betul kau tak mau membantu?"
"Mintalah yang lain, Anton. Jangan soal yang menyangkut gadis itu. Ibu Erika tahu pesan Usman tempo
hari. Apa dia bilang kalau melihat aku membawamu pula ke situ?"
"Toh bisa kau karang cerita. Aku teman kuliah anaknya. Datang untuk tentir kek, pinjam buku kek.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Pokoknya banyak alasan. Toh kau sudah pengalaman mengakali ibu-ibu asrama selama ini."
"Iya, tapi bagaimana kalau hubungannya dengan Usman sampai putus?" Anton bersiul.
"Kalau begitu, kau sudah melihat rapuhnya hubungan mereka. Lalu, kenapa kau begitu takut kalau aku
datang lantas hubungan mereka akan terganggu?"
"Siapa tahu, Anton. Siapa tahu? Minimalnya aku tak mau dianggap membantu kau. Soalnya,
tunangannya itu baik sekali. Sopan sekali. Tak ada alasan untuk tidak menyenanginya. Ibu Erika sangat
sa yang padanya. Usman sudah dianggap anaknya. Dan, Erika pun senang padanya. Mereka
bertunangan. Semua orang mengharapkan kebahagiaan mereka."
"Pokoknya dia anak yang baik," kata Anton. "Anak yang sayang ibu. Tapi, apakah kau mengira bahwa
lelaki-lelaki yang baik, kesayangan ibu, sopan, dan segala macam embel-embel yang bagus itu akan
menjamin dia sebagai kekasih yang patut dicintai? Ada penyelidikan psikologis yang bilang: bahwa
lelaki-lelaki yang asalnya dari anak-anak manis dan gampang menimbulkan simpati ibu-ibu, lebih banyak
yang gagal sebagai kekasih atau suami."
"Mungkin kau benar," kala Handoko.
"Itu bukan pendapatku. Itu hasil penelitian. Kalau teruji secara universal, bisa jadi teori."
"Ya, ya, ya, tapi untuk lelaki yang satu ini aku berharap janganlah kita berbuat dosa."
"Dosa hanya kesalahan dalam hubungan kita dengan Tuhan."
"Ya,.ya, ya. Apa pun katamu, Anton, aku tak berani mengantarmu."
"Ah, itu tak punya solidaritas namanya."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Kalau kau kenal lelaki itu, Anton, kau akan mengerti sikapku ini. Dia teramat baik. Setahuku dia tak
pernah menyakiti hati siapa pun. Bahkan hati kucing pun kukira tidak. Bayangkan, dia tidur sebelum jam
sebelas, bangun setiap jam enam. Kalau tak kuliah, dia di rumah saja membaca buku-buku tekniknya.
Malam Minggu dia hanya keluar kalau diajak Erika, dan mereka pulang sebelum jam sepuluh. Dia tak
mengetahui dunia lain kecuali bidang studinya. Demonstrasi, resolusi, protes, atau semacamnya, tak
pernah dikenalnya. Cobalah pikir, apakah dia tak patut mendapat kasih sayang dari seorang ibu atau
kekasih?"
Anton berdecak dan menggeleng-geleng.
"Bukan main, bukan main. Aku tak bisa membayangkan ada lelaki sedingin itu dunianya. Aku tak bisa
membayangkan bagaimana seorang perempuan tahan berdampingan dengan robot seperti itu.”
"Robot atau apa pun namanya, sekarang kuharap kau bisa mengerti perasaanku. Dia tetanggaku.
Sebagai tetangga yang baik, aku tidak akan menggunting dalam lipatan."
"Baiklah," kata Anton dalam senyum yang samar. "Aku tidak akan memaksa. Aku hanya akan
menanyakan beberapa hal. Sekadar informasi yang sifatnya umum, aku kira bukan suatu pengkhianatan.
Oke?"
Handoko mengangguk.
"Di mana rumahnya?"
"Nomor tiga pada deretan jalan ini."
"Astaga! Begitu dekat? Di mana kuliahnya? Tingkat berapa?"
"Farmasi, tingkat dua."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Apa hobinya?"
“Tak tahu. Mungkin membaca. Dia sering membeli novel-novel."
"Good. Aktivitas kesenian apa yang diikutinya?"
"Menari. Dia latihan balet dan tari Jawa."
"Hebat. Musik macam apa yang disukainya?"
"Klasik. Plat lagu-lagu itu banyak di rumahnya."
"Bintang film kesayangannya?"
"Itu aku tak tahu. Tapi, dia senang filmLord Jim danGuess Who's Coming to Dinner . Tak suka
film-film Indonesia."
"Dia suka mode?"
"Mode? Tunggu dulu," kata Handoko seraya memikirkan sesuatu.
"Apa yang kaupikirkan ?"
"Pakaiannya, ya cukup up to date. Tapi, tak pernah terseret mode gila-gilaan."
"Bukan main, bukan main! Dia sempurna sebagai perempuan!"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Puas?" kata Handoko.
"Untuk sementara cukup."
“Lalu, apa rencanamu?”
"Ke rumahnya," kata Anton. "Sekarang.Now or never ." Masih senyum-senyum Anton berdiri.
"Jangan bilang-bilang bahwa informasi tentang dia kau peroleh dari aku," kata Handoko.
"Beres."
"Sebenarnya informasi yang kauperoleh itu bisa dijual untuk majalah."
"Itulah yang kupikirkan sekarang."
"Maksudmu?" Mata Handoko terketap-ketip menyelidik.
"Tenang-tenang sajalah. Dalam tempo dekat ini, kau akan kukabari."
***
Anton meneliti rumah berpagar hijau. Bunga-bunga di depan rumah itu bermekaran dalam sungkupan
udara cerah. Pintu pagar tak terkunci. Anton mendorongnya pelahan, tetapi kenyataannya menimbulkan
bunyi keras. Mengejutkan ibu Erika yang duduk di teras. Perempuan tua itu mengangkat kepala dari
bacaannya. Dia menatap kepala berambut gondrong, ke celana jean biru, kembali ke kepala, turun lagi
ke kaki celana yang pudar warnanya. Dan, dia mengernyitkan alis, heran atas kemunculan tamu yang tak
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
punya kehalusan yang selayaknya dimiliki seorang tamu.
Anton mencoba tersenyum, tetapi ibu Erika tak sedikit pun mengendorkan urat-urat wajahnya. Senyum
Anton sumbang jadinya. .
"Selamat sore, Bu. Saya teman Erika."
Sebagai perempuan Indonesia lazimnya, ibu Erika menyambut, "Ya, silakan. Duduk dulu, akan saya
panggil."
Anton mengedarkan pandangan. Di pilar teras menjalar rambatan anggur. Buahnya bergayutan.
Pandangan dari teras adalah keteduhan jalan raya di bawah pohon mahoni. Bunga-bunga di halaman
bergoyang-goyang dielus angin. Bunga matahari dengan kuningnya yang terang menunggui pojok
halaman. Di dekat teras itu, bunga-bunga dahlia memekarkan kelopak-kelopak warna merah tua. Aroma
harum mengambang. Harum bunga sedap malam mengatasi aroma segalanya.
Di dalam, ibu Erika mendekati anaknya.
"Ada temanmu datang."
"Siapa, Ma?"
"Mama tak kenal."
"Ah, siapa ya? Bukan teman kuliah Ika?"
"Belum pernah kemari."
Erika masih merapikan buku di mejanya.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Bagaimana orangnya?"
"Gondrong."
"Ih! Ika tak punya teman gondrong."
"Mama juga heran dia bilang teman Ika. Lagi, dia pakai kaos hitam."
"Kayak geng, Ma?"
"Celananya kayak koboi."
"Siapa ya?" kata Erika pada dirinya sendiri.
"Pergilah lihat. Di teras."
Erika menduga-duga sambil berjalan. Dan, 'selamat sore' Anton tak bisa dijawabnya. Sesaat dia
memaksa ingatannya, siapa lelaki muda itu. Dan, setelah ingat, dia menjadi kikuk.
"Sibuk?" tanya Anton.
Erika memikir-mikir jawaban yang tepat. Namun, sebelum menemukannya, Anton melanjutkan,
"Mungkin aku cuma mengganggu. Tapi, kalau menunda lebih lama, aku akan bersalah. Soalnya begini."
Anton berhenti bicara dan mengawasi Erika. Bukan main, bukan main jernihnya mata gadis itu, pikirnya.
"Tak mengganggu waktumu kalau kuteruskan?" kata Anton.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Tidak. Tidak mengganggu," kata Erika. Bukan main, bukan main lembutnya suara gadis ini, dan lekuk
bibirnya alangkah indah, pikir Anton.
"Begini. Ada temanku, dia wartawan majalah ibukota. Dia pernah melihat Erika. Tapi, tunggu dulu!
Bagaimana aku harus menyebut namamu? Eri atau Ika?"
"Ika," kata Erika. Dia tetap berpikir-pikir, kenapa lelaki ini begitu berani.
"Ya, dia pernah melihat Ika. Entah dalam perayaan apa, dia melihat Ika menari."
"Eh, kapan ya?"
"Kapan? Tentu saja aku tak tahu. Tapi, begitulah. Dia ingin mewawancarai Ika."
"Ah!"
"Kenapa 'ah'? Dia sungguh-sungguh. Majalah membutuhkan gadis-gadis semacam Ika. Prototipe gadis
medern, tetapi tetap punya kepribadian."
"Ah!"
"Kebanyakan gadis-gadis sekarang berlagak modern, tetapi apresiasinya tetap kampungan."
"Itu berlebih-lebihan," kata Erika.
"Begitulah kenyataannya. Lihat saja isi majalah-majalah dan surat-surat kabar. Melulu gambar gadis
cantik, yang hanya ditonjolkan seksnya. Bodinya yang ukuran sekian-sekian. Pokoknya hanya fisiknya.
Bagaimana dia sebagai pengemban kebudayaan umat manusia, sama sekali tak bisa ditonjolkan. Sebab,
memang tak ada yang bisa diperlihatkan. Jadinya, peradaban kita sekarang ini hanya diisi oleh
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
kebudayaan seks. Seluruh aktivitas manusia ditujukan untuk seks, yang titik utamanya pada fisik.
Manusia tak pernah lagi memperhatikan nilai yang dipunyai menusia. Kalau bahasa filsafatnya, kita
melalaikan substansi manusia. Kalau bahasa pewayangan, kita tercekam pada wadah, lupa pada isi.
Akibatnya, kita cuma memperhatikan yang cantik, lupa pada yang indah."
Erika termangu-mangu. Pikirnya, si Gondrong yang mirip anggota geng ini lumayan juga.
"Lalu, apa hubungannya dengan saya?" tanyanya hati-hati.
"Erat sekali hubungannya. Ika akan ditonjolkan sebagai gadis yang membersihkan image gadis-gadis
sekarang. Sebelum masyarakat tercekam lebih dalam pada kebiasaan yang sekarang, kita orbitkan Ika
untuk mengatakan kepada mereka, 'Ini Iho gadis yang sesungguhnya perempuan!’."
"Ah, itu mengada-ada." Mata Erika berkedip-kedip.
"Kita akan ekspose sesuatu yang ada pada diri lka. Bukan terbatas pada sesuatu yang sifatnya fisik,
melainkan lebih tinggi dari itu. Walaupun kita tidak mengingkari bahwa lka cantik."
"Ah!"
"Yang kita tonjolkan adalah keindahan," kata Anton.
"Saya kira anda salah menilai."
"Biasanya aku tepat dalam menilai."
"Saya bukanlah seperti yang Anda kira."
"Aku sudah lama memperhatikan Ika."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ah!"
"Kok dari tadi ah-ah saja?"
"Habis, situ memuji terus sih."
"Apakah aku memuji? Ah, kalau begitu aku telah melanggar petuah nenekku. Mau tahu apa dia bilang?"
Tawa Erika bukan sopan-santun lagi. Matanya tambah berseri.
"Nenekku mengutip dari ajaran Konfusius: Janganlah memuji kecantikan seorang rupawan sebab itu tak
akan abadi. Tapi, pujalah keindahan, kerena itu adalah pencerminan Illahi."
"Ah, itu bukan ajaran konfusius."
"Kenapa tidak?"
"Masak pakai Illahi? Mestinya 'kan Thian."
"Iya, ya? Mungkin nenekku salah."
Dan, senja yang merangkak kian terasa singkat. Sebab, percakapan kian mengalir. Di dalam rumah, ibu
Erika terheran-heran sebab mendengar tawa ceria anaknya dari teras dibawa angin merayap ke seluruh
penjuru rumah.
Sebuah moment telah ditembus Anton. Ketika Maghrib membayang, mereka berdiri di pintu pagar. Dari
tatapan mata gadis itu terkesan bahwa gadis itu juga merasa waktu terlalu tergesa. Erika tak sadar ketika
berkata, “Jangan bosan datang."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Anton mengangguk tegas-tegas, khawatir tak terlihat dalam keremangan Maghrib. Dan, senyum Erika
menyelinap-nyelinap dalam pikiran Anton. Matanya yang hitam dan jernih, ah! Barangkali, mata
semacam ini yang dimaksud lagu lama Hampir Malam di Jogya itu. Memang hampir malam, dan Anton
berjalan pelan-pelan membelai kesepian jalanan di depan gereja besar. Lonceng gereja
berdentang-dentang.
***
Kerumunan mahasiswa kian bertambah. Di rerumputan yang dinaungi tujuh pohon cemara, di Kampus
Gadjah mada itu duduk para mahasiswa. Mereka membuat lingkaran besar. Ada acara Poetry Reading,
pembacaan puisi-puisi.
Anton melongok-longok di sela-sela mahasiswa, mencari tempat luang di depan. Dia lihat Penyair Umbu
Landu Paranggi sudah siap dengan lembar-lembar puisinya. Anton mendesak ke depan. Dan, dia melihat
Penyair Darmanto JT. Lumayan acara kali ini, pikir Anton. Tetapi, untuk bisa mencapai depan sana harus
melewati beberapa lapis lagi. Padahal minat mahasiswa membuat jejalan itu makin sulit ditembus.
Anton menatap berkeliling. Tak usah ke depan! Sebab, Erika berdiri di bawah pohon cemara, di pinggir.
Pelan-pelan Anton mundur dan mengambil jalan memutar, mendekati Erika.
"Hallo," katanya kepada Handoko yang berdiri di samping Erika. "Apa kabar, Ika?" lanjutnya menoleh
kepada Erika.
"Sudah kenal rupanya?" kata Handoko.
"Terang dong. Kaukira cuma kau yang boleh mengenal gadis-gadis cantik?"
Erika cuma tersenyum.
Penyair-penyair itu mulai membacakan puisi- puisi mereka. Suasana menjadi sepi. Matahari sangat cerah
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
di lengkungan langit biru. Tetapi, di bawah cemara yang berjejer tujuh batang itu, udara tetap sejuk.
Apalagi angin bertiup sepoi dari arah selatan, dan sesekali meluruhkan daun-daun cemara kering.
Erika memuntir-muntir daun cemara yang runcing melidi. Anton mengawasi tengah arena. Pembacaan
puisi tetap berlanjut. Sekelebatan Anton mengedarkan pandang. Anton bersyukur tidak menemukan
Marini. Gadis itu memang tak pernah tertarik pada kesenian. Baik puisi maupun drama. Kecillah
kemungkinan bertemu dalam acara semacam ini.
Anton mengalihkan tatapannya kepada Erika. Kebetulan gadis itu sedang menatapnya. Handoko sedang
mengomentari pembacaan puisi, dan pacarnya mendengarkan komentar itu.
"Ada film bagus," kata Anton.
"Oh, ya?" Cuma itu jawab Erika. Anton tak bisa menangkap kesan dingin atau antusias.
"Sidney Poitier yang main," kata Anton.
Mata Erika bersinar.
"Biasanya film-filmnya bagus," lanjut Anton.
"Ya," jawab Erika.
"Kita nonton, nanti?"
"Koko, ada film Sidney Poitier," kata Erika. Handoko menghentikan pembicaraannya dengan Lusi.
"Kalau begitu kita nonton," kala Lusi. Handoko melirik Anton.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Kita berempat," kata Anton.
Handoko tak menjawab.Blitzkrieg , pikirnya. Serangan kilat. Belum tiga hari. Tapi, biarkan saja.
Pokoknya aku tak terlibat.
Handoko melirik pacarnya. Lusi sedang mengawasi Erika. Gadis ini pun agaknya melihat kegembiraan di
mata Erika. Dia tersenyum kepada Handoko.
Anton tersenyum tak acuh. Erika kembali mengikuti puisi-puisi yang sedang dibacakan. Handoko
mendekati Anton dan memberi isyarat agar Anton menjauhi tempat itu. Ketika Lusi melihat dengan
pandang bertanya, Handoko berkata, "Kami beli rokok sebentar."
Semakin jauh dari lingkaran manusia itu, suara puisi yang dibacakan melayang dibawa angin.
"Kau sudah berhasil," kata Handoko.
"Belum," jawab Anton.
"Iya, tapi sudah nampak tanda-tanda. Tipu apa yang kaumainkan ?"
"Apa tampangku kayak penipu?"
"Alaaa, aku tahu isi perutmu. Otak di bawah rambutmu yang kusut itu banyak akalnya."
"Aku tidak menipu. Cuma, ya sedikit aku berbohong. Aku bilang, aku disuruh wartawan yang
menanyakan kesediaannya diwawancarai."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Begitu saja ?"
"Ya, tak lebih."
“Lalu?”
"Dia tak mau diwawancarai. Aku bujuk-bujuk, tetapi dia tetap tak suka publikasi. Akhirnya aku bilang,
sebenarnya aku bukan disuruh wartawan. Aku datang dengan inisiatif sendiri karena melihat pribadinya.
Aku ingin mengeksposenya buat mengejek kecenderungan masyarakat sekarang. Aku bilang,
masyarakat sekarang sedang sakit. Terlalu tercekam pada aktivitas komersil. Pemilihan ratu ini-itu
semuanya dinilai dengan selera seks. Nah, apa pula yang kutipu?"
"Ya, baiklah," kata Handoko lunak.
"Dan, kau. Kenapa sibuk mengurusnya?"
"Kalau kau pakai cara-cara yang tidak baik, itu aku tak bisa mentolerir!"
"Ya, tapi kenapa? Kau mencintainya?"
"Uf, gila kau!" Handoko menatap kelompok Lusi.
"Jadi, kenapa kau begitu memperhatikannya? Dia bukan adik kau."
"Ya bukan adikku. Tapi, masih ada hubungan famili alakadarnya. Yang penting, dia sangat baik dan
dimanjakan orang tuanya. Kasihan kalau terjadi sesuatu yang tak baik terhadapnya. Lalu, walau tak
penting untuk disebut, Usman, tunangannya itu anak pamanku."
Anton terlongong. Rokok yang terselip di bibirnya, yang hampir dinyalakannya, hampir jatuh. Akhirnya
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Handoko mengambil korek api dari tangan Anton dan menyalakan rokok mereka.
"Jadi, kalian masih tali-bertali punya hubungan keluarga?" kata Anton. Dan, dia ingat wajah ibu Erika
yang beku.
Handoko cuma mangangkat bahu. Lalu katanya, "Sudahlah, tak usah kita persoalkan lagi."
Anton melontarkan pandang ke tengah kelompok mahasiswa yang mengelilingi pembacaan puisi itu.
Dan, ah, di tengah-tengah mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik itu, Erika tetap menampilkan
pesonanya.
***
Pemilik rumah tempat mondok Anton me-ngerek perkututnya ke puncak tiang. Belasan tiang bambu
menjulang menyangga sangkar berisi perkutut yang berbunyi sahut-sahutan. Dari jendela, Anton
memperhatikan pak tua yang asyik bersiul-siul menggoda perkutut-perkututnya. Anton pun ikut bersiul.
Rumah yang dikitari tembok tinggi itu selamanya teduh. Pohon-pohon sawo merimbuni halaman.
Manggung perkutut tak henti-hentinya terdengar. Tetapi, pagi itu diganggu oleh derum motor yang
memasuki pekarangan.
Anton bangkit. Kusno tergesa men-standard motornya.
"Gawat, gawat, gawat," katanya.
"Cintamu ditolak lagi?"
"Bajingan! Soal fakultas kita. Berapa hari kau tak ke sekolah ?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ya, berapa hari? Mungkin lima hari atau seminggu."
"Nah, itulah soalnya."
"Fakultas kita bubar lantaran aku tak datang?" kata Anton disertai tawa mengakak.
"Ini serius! Di fakultas ada corat-coret clan plakat-plakat."
"Good. Soal apa?"
"Nah, di sini gawatnya. Mungkin kau akan disidangkan."
"Eh, apa-apaan ini?" Senyum Anton menghilang.
"Aku dapat keterangan dari boss-ku," kata Kusno.
Anton ingat Pak Gunawan. Kusno asistennya.
"Kau dituduh jadi dalang aksi carat-caret itu," lanjut Kusno.
"Gila! Siapa bilang?"
"Killer kita."
"Bu Yusnita? Apa pula soalnya?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Nah, itulah. Dengar dulu, baru kita pikirkan cara-cara mengatasinya. Pak Gunawan menyuruh aku
menemui kau."
"Lalu, Dekan ?"
"Aku belum ketemu dia. Tapi, seperti biasa, tentunya dia ingin cuci tangan. Cari jalan yang paling damai."
Anton menggigit-gigit bibirnya. Memang dulu dia biasa menjadi penggerak aksi mahasiswa. Tetapi, masa
sekarang ini tak ada alasan untuk bergerak.
"Apa isi corat-coret itu?" ujarnya.
"Menuntut agar dosen killer dipecat."
"Uf, gila!"
"Lebih gila lagi, plakat itu sangat tidak sopan. Ada yang bertuliskan: Carikan Suami untuk Perawan Kita!
Perawanku Sayang, Perawanku Terbuang. Dan, macam-macam lagi."
"Ah, itu keterlaluan."
"Ya. Makanya Pak Gunawan tak percaya kau dalangnya," kata Kusno.
"Lalu, bagaimana keadaan fakultas?"
"Bu Yusnita mendesak agar dewan dosen berapat. Dia menuntut agar kau dipecat. Dan, mahasiswa
banyak yang mau memanfaatkan situasi ini. Yang membenci Bu Yusnita mulai membuat move
menentangnya.”
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ah gawat! Bagaimana sikap dosen-dosen?"
"Yang jelas kuketahui cuma Pak Gunawan. Yang lain tak tahulah. Tapi, situasi fakultas panas sekarang.”
Anton terdiam. Untuk beberapa saat dia berpikir-pikir. "Repotnya, biaya untuk riset fakultas kita baru
saja datang kemarin. Seharusnya kita segera berangkat," kata Kusno. "Dan sekarang, aku tak tahu
apakah kau masih bisa jadi ketua pelaksana teknis seperti yang direncanakan."
Anton tetap termangu-mangu.
"Pendapatmu bagaimana?" katanya kemudian. Kusno mengangkat bahu.
"Barangkali mahasiswa akan berdemonstrasi. Banyak yang mau ambil kesempatan melawan Bu Yusnita
yang sejak lama mereka benci itu."
"Andainya kita bisa menemukan siapa pemasang plakat itu," kata Anton. “Mungkin persoalannya akan
lebih jelas."
"Tapi, sementara kita mengusutnya, kalau Bu Yusnita berhasil membawa soal ini ke dalam rapat fakultas,
kau tak bisa ditolong."
"Seharusnya rapat itu diusahakan agak lambat, sampai kita bisa menemukan pemasang plakat itu."
"Ya, dengan adanya proyek riset ini aku kira kita bisa mengulur waktu."
"Asal mereka masih mengizinkan aku menjadi ketua pelaksana teknis."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Itu wewenang dekan."
"Kalau begitu, mari kita ke fakultas. Akan aku hadapi secara jentelmen apa pun yang terjadi," kata
Anton.
Mereka keluar rumah. Kusno men-start motornya.
Sementara memperbaiki letak duduknya di boncengan, Anton berkata, "Gila! Aku sedang asyik pacaran
selama beberapa hari ini, kok dituduh kerja yang bukan-bukan."
"Aku pernah ketemu Marini. Mukanya murung nampaknya," kata Kusno sembari menekan kopling dan
memasukkan gigi dua.
Anton tak menanggapi.
Di tengah deruman motor yang meninggi itu, Kusno melanjutkan, "Kaubilang, kau asyik pacaran?
Masakan dia kelihatan murung." Mereka melaju di Jalan Mataram yang telah diperlebar, membelah Kota
Yogyakarta, menuju utara.
"Kasihan Marini. Dia gadis baik. Kenapa kautinggalkan dia?"
"Siapa bilang kutinggalkan? Aku cuma cari variasi," kata Anton.
"Kau memang bajingan!"
"Kau mau sama dia?"
"Ah, gila kau!" teriak Kusno melawan angin yang menerpa.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Anton tersenyum. Dia mengenangkan Marini. Gadis yang lembut, patut dicintai. Dia tak perlu dilepaskan
sebab siapa tahu tunangan Erika datang. Dan, Anton tak mau menjadi Lebai Malang. Yang di tangan
telanjur lepas, yang dikejar milik orang.
Corat-coret dan plakat-plakat di dinding fakultas telah dibersihkan. Pak Gunawan memberi isyarat agar
Anton mengikutinya. Dia menunjukkan plakat-plakat yang telah dilepas dari dinding.
"Kau kenal tulisan ini?" tanya Pak Gunawan. Anton menggeleng. Dia meneliti plakat-plakat yang telah
dilepas dari dinding itu.
"Mana Bu Yusnita?" tanyanya.
"Sudah pergi."
"Saya mau ketemu Dekan."
"Baik. Di kamar kerjanya," kata Pak Gunawan.
Dekan itu mengeluh halus ketika Anton muncul di depannya.
"Apakah Bapak percaya tuduhan-tuduhan itu?" Anton menerima tatapan lekat dari dekan itu. Lalu lelaki
separo baya itu menggeleng.
"Apakah ini akan mempengaruhi rencana riset kita, Pak?"
"Aku sudah bicara dengan Drs. Gunawan. Riset tetap berjalan sebagai direncanakan. Tanpa perubahan
apa pun. Soal-soal intern fakultas kita tunda sampai riset ini selesai."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Tak berkedip mata Anton menatap dekan itu. Samar-samar matanya terasa hangat. Matanya mulai
mengaca. Dia melihat kebijaksanaan di wajah dekan itu sebagai kebijaksanaan filosof tua dari Yunani
Lama.
"Terima kasih, Pak. Teman-teman saya akan mengusut plakat-plakat itu. Saya percaya mereka akan
berhasil. Saya berharap, sepulang dari riset soal ini akan jelas."
"Ya, kuharap juga begitu. Tapi, selama riset, aku ingatkan agar kau jangan menyinggung perasaan Bu
Yusnita. Adanya dia dalam rombongan itu sama halnya gunung berapi yang menahan lava. Dendamnya
padamu tinggal menunggu saat meledak saja."
***
Bus yang akan membawa rombongan fakultas itu telah siap. Anton telah mengatur tempat duduk bagi
pengikut riset. Marini ikut dalam rombongan itu. Wajahnya cerah. Bu Yusnita, seperti biasa, berwajah
angker. Matanya tak acuh mengawasi kesibukan orang-orang di sekelilingnya. Dia tak mau selintas pun
menyinggahkan pandang matanya ke tubuh Anton. Dia tak bersuara ketika Anton mempersilakannya
duduk di bus.
Rombongan fakultas itu akan mengadakan riset ke Dataran Tinggi Dieng. Mereka akan meneliti
akibat-akibat industri yang didirikan di daerah itu terhadap pola berpikir masyarakat setempat.
Bus telah bergerak meninggalkan Yogya. Anton duduk berdampingan dengan Kusno di deretan kursi
bus paling belakang.
"Tolong urus Marini selama riset ini," kata Anton.
"Apa kau terlalu sibuk sampai tak sempat mengurusnya?" ujar Kusno.
"Bukan begitu. Kau toh tahu kebiasaan mahasiswa.kalau riset. Yang pacaran semakin asyik. Aku
khawatir kalau dia bermanja-manja padaku di depan Bu Yusnita. Bisa berabe aku. Kau mengerti?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Kusno mengangguk paham.
"Ceritakanlah kepada Marini seluruh kesulitanku. Bilang sama dia, selama ada Bu Yusnita, jangan
menampakkan tanda-tanda bercintaan."
"SebenarnyaKiller itu menarik. Waktu dekat dia tadi, parfumnya bukan main harumnya. Mungkin lima
atau sepuluh ribu harga sebotolnya," kata Kusno.
"Tapi sayang, tak ada yang menciumnya. Padahal, lihatlah. Dari belakang pun dia kelihatan cantik.
Lehernya yang kuning, wah! Halus. Mukanya pun halus. Cuma, di pinggir matanya kelihatan kerutan
sedikit."
BusMercedez itu menderum membelah pagi, mengarah ke Magelang. Nanti, setelah dari Magelang, bus
akan melaju ke Wonosobo, dan akhirnya mendaki Dataran Tinggi Dieng.
Anton terguncang-guncang. Kusno terkantuk- kantuk. Beberapa mahasiswa menyanyi.
"Kus!" Anton menggoyang tubuh Kusno.
Kusno membuka matanya.
"Killermenyanyi," bisik Anton.
Kusno menegakkan kepalanya.
"Bagus juga suaranya," balasnya berbisik.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Suara Bu Yusnita tersaring di antara suara para mahasiswa yang menyanyi itu.
"Suaranya bagus, wajahnya cantik. Apa yang kurang lagi?" kata Anton.
"Sebenarnya bukan kurang. Malahan lebih."
"Lebih?"
“Umurnya.”
"Itu sekarang. Dulu, waktu dia mahasiswa? Kenapa tak pacaran ya?"
"Pak Gunawan pernah cerita. Mereka satu angkatan. Waktu Bu Yusnita kuliah dulu, teman-temannya
takut padanya. Sudah cantik, otaknya brilian lagi. Dia tak segan-segan mendonder teman- temannya
dalam diskusi, 'Goblok, otakmu di mana sih? Ilmu kau cuma di buku ya? Makanya otakmu kosong!'.
Kalau ada yang berani pacaran sama dia, bukan mustahil, ini Pak Gunawan yang cerita, bisa jadi
impoten. Terus-menerus digoblok-goblokkan, siapa yang tahan ?"
"Repot juga punya wajah cantik dan otak yang terang. Mending mahasiswi bodoh tapi cantik. Berebut
mahasiswa membantunya. Akibatnya, laris jadi pacar," kata Anton.
"Ada untungnya, ada juga ruginya," kata Kusno. "Coba kalau dia agak lunak sedikit saja, aku kira dia
akan mendapat pasangan yang setimpal. Lelaki tampan, pinter, dan berkedudukan baik."
"Tak ada yang mencoba?"
"Di sinilah anehnya. Dia tak suka lelaki pinter ."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Lho?"
"Iya. Dia tak mau bergaul dengan temannya yang pinter. Pak Gunawan kabarnya waktu kuliah dulu
termasuk mahasiswa brilian. Tak bisa akur dengan Bu Yusnita. Bu Yusnita tak pernah mau kalah.
Padahal dalam ilmu tak seorang pun yang bisa benar mutlak. Dia lebih suka menerima pendapat yang
salah agar dia mendapat kesempatan untuk menunjukkan kepintarannya. Pak Gunawan kadang-kadang
lebih dulu membaca buku-buku baru, jadi bisa lebih dulu mengemukakan teori-teori baru. Bu Yusnita
sangat marah kalau keduluan orang lain. Akibatnya, mereka jor-joran membaca buku. Akibatnya yang
lebih parah lagi, mereka kelewat pinter, dan kelewat jauh dari dunia teman- temannya yang lain."
"Romantis juga riwayat Pak Gunawan kita," kata Anton.
"Apanya yang romantis? Hidup cuma untuk buku, dari kamar ke perpustakaan, bahkan ke WC.
Betul-betul kutu buku."
"Tapi, Pak Gunawan tetap simpatik. Biar masih membujang sampai sekarang, tak tampak gejala
kelainan jiwa seperti yang biasa dialami bujang tua. Lain dengan Killer."
"Sejak semuIa, Killer itu memang punya kelainan. Lucunya, dia sendiri tidak bisa menyembuhkan dirinya
padahal ilmunya segunung."
"Soalnya, dia sendiri tak kenal dirinya," kata Anton.
"Makanya Socrates bilang, 'KenaIiIah dirimu'. Ya?”
"Kaukira apa yang menyebabkan dia begitu?"
"Bagaimana aku tahu? Aku tak pernah akrab dengannya.”
"Sekadar analisa psikologis 'kan bisa kaulakukan?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Wah, ilmuku mati," kata Kusno.
"Dugaan saja."
Keduanya mengawasi Bu Yusnita di de pan sana. Para mahasiswa sudah berhenti menyanyi. Mungkin
sudah haus. Atau mungkin mereka mulai mengantuk. Bu Yusnita juga mulai mengantuk. Kepalanya yang
semula tergoyang-goyang kini mulai terkantuk-kantuk.
"Menurut kau?" Kusno menggamit Anton.
"Menurut dugaanku, dia itu anak yang sangat dimanjakan. Mungkin orang tuanya kaya dan selalu
memuji-muji dia. Dia tak pernah kekurangan moril maupun materiil. Dia merasa dirinya putri kahyangan.
Maka dia merasa lelaki yang dapat menjadi pasangannya haruslah bagaikan pangeran- pangeran sakti,
yang punya keampuhan-keampuhan teruji dalam menyelamatkan sang putri. Di dunia mahasiswanya, dia
menunggu lelaki yang bisa melebihi dia. Semacam superman, begitulah."
"Wah, wah, wah, harus lebih pintar dari dia? Tapi Pak Gunawan cukup pintar. Lulus dari tingkat ke
tingkat dengancum-laude ."
"Tapi, dia membutuhkan satu hal lagi:gallantry . Keluwesan seorang jentelmen. Mungkin bisa
mengalahkannya dalam saat-saat tertentu dalam soal ilmu. Tetapi, kalau tak kenal selahnya, permusuhan
malah tambah parah. Dia harus didekati seperti sebagaimana seorang putri didekati seorang pangeran
dalam dongeng-dongeng. Jangan sampai sang putri kehilangan harga dengan membuka pintu
menaranya!”
"Jadi, kaukira Pak Gunawan mencintai Bu Yusnita?"
"Ah, dalam laut dapat diduga, sedang dalam hati, lebih-lebih hati seorang dosen psikologi, siapa yang
tahu?"
Untuk beberapa saat mereka diam. Bus menderum mengeluarkan asap yang memusingkan kepala.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Untunglah pemandangan di luar menolong menyegarkan orang-orang dalam bus. Kebun-kebun sayur
kubis berhamparan luas. Sesekali nampak sawah menguning. Sesekali pula diselingi kehijauan perdu teh.
Lagi pula, angin menerobos lewat jendela. Di jalan yang berliku, di punggung daerah pegunungan itu,
sopir melarikan busnya dalam kecepatan yang dapat mengkesiurkan angin.
"Lalu, persoalan kau dengan Bu Yusnita, bagaimana analisa psikologismu?"
tanya Kusno.
"Itulah yang tak bisa kupecahkan. Betul-betul aku tak tahu apa yang menyebabkan dia membenciku,"
kata Anton lemah.
"Mungkin lantaran kau pintar?"
"Aku tak pernah mendebat-debat dia.. Kalaupun aku tak puas pada kuliahnya, selamanya kucari
kelengkapan dari literatur. Pokoknya selama kuliahnya, aku selalu ingat nasihat Pak Gunawan. Tidak
pernah aku membuatnya tersinggung."
"Atau soal pribadimu?"
"Soal apa ?"
"Ke-playboy-anmu?"
"Ah, masak itu diketahuinya! Dia selamanya tak acuh pada aktivitas mahasiswa."
"Yah, memang rumit. Mudah-mudahan Handoko dan teman-teman kita bisa
mengusut plakat- plakat gelap di fakultas itu, biar urusanmu bisa diselesaikan."
Kota Wonosobo telah mereka lalui. Kini jalan lebih menanjak dan sempit-berliku. Bus meraung- raung
mendaki lereng pegunungan. Di samping kanan, jurang menganga. Pemandangan di kejauhan adalah
hutan pinus menyelimuti punggung bukit dan bekas-bekas kawah yang memutih. Pemandangan ini yang
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
membuat penumpang bus lupa pada goncangan yang tak henti-hentinya pada setiap kelokan jalan.
Sesekali tampak atap rumah yang berderet. Penumpang bus melekatkan pandangan ke rumah-rumah itu
dan menaksir-naksir berapa saat lagi akan mereka lalui. Anak-anak kecil telanjang berdiri di pinggir
jalan, melambai-lambaikan tangan.
Kusno membalas lambaian tangan anak-anak kecil itu.
"Puluhan tahun lagi, siapa tahu ada di antara anak-anak itu yang jadi menteri," katanya.
"Atau Rektor Gadjah Mada," balas Anton disertai tawa. Dia terus melambai-lambai sampai kerumunan
anak kecil itu lenyap di balik tikungan jalan.
Hawa semakin dingin.
Mereka tiba di tujuan. Di kejauhan terlihat candi-candi dan pohon-pohon pinus. Masyarakat setempat
menonton rombongan mahasiswa yang turun dari bus. Sangat kontras antara pakaian yang menonton
dengan yang ditonton. Orang-orang desa itu berpakaian kumal, dan anak-anak kecil berkerobong
sarung. Mereka memperhatikan cut-bray, slack, yang aneka warna.
Marini menjinjing tasnya. Wajahnya letih. Tetapi, matanya bersinar gembira. Kusno membantu
membawakan kopornya. Rambut Bu Yusnita kusut. Dia menyusut rambut itu dengan jarinya. Tetapi,
angin masih memberaikannya. Dia sibuk sebab kedua tangannya harus memegang tas. Lalu tas-tas itu
ditarik seseorang, dan terdengar suara, "Mari saya bawakan."
Bu Yusnita menoleh. Anton berdiri di sampingnya. Bu Yusnita tak menjawab. Sebuah tas besar
dibiarkan pindah ke tangan Anton. Sempat pula mereka bersenggolan tangan. Ah, halusnya, pikir Anton.
Mereka berjalan menuju penginapan, di rumah beberapa pengetua desa.
Batu-batu kerikil berserakan di jalan. Bekas pengaspalan. Bu Yusnita agak kikuk melangkah dengan
sepatu yang bertumit hampir empat jari tingginya.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Pusing, Bu?" tanya Anton dengan suara takut- takut.
"Hmmm." Sepi sesaat. Mungkin Bu Yusnita merasa kelakuannya kurang pantas. Maka kemudian dia ber
kata, "Ya, agak pening."
'Sebentar, kalau minum kopi akan hilang pusingnya. Ibu biasa minum kopi?"
"Tidak," kata Bu Yusnita.
"Kalau begitu, teh saja. Teh di daerah ini sangat sedap. Saya baru tahu waktu, survey pendahuluan
kemarin tempo hari. Aroma teh di sini sangat segar, dan betul-betul bisa menyegarkan. Orang bilang,
sekali minum teh daerah ini, seumur hidup tak akan bisa lupa."
Bu Yusnita membisu. Di depan mereka, berjarak kira-kira dua puluh meter, Kusno memanggul tas-tas
besar. T entunya dia sudah menyampaikan pesan-pesan Anton kepada Marini. Sebab, ketika menengok
ke belakang, Marini tersenyum tanpa isi khusus, tanpa nada cinta dan semacamnya. Senyum hormat
untuk Bu Yusnita. Anton tak disinggahi pandangan matanya. Anton menarik napas dalam-dalam.
***
Erika diam. Ibunya menatap mata gadis ini. Wajah mereka rapat sehingga setiap kedipan, betapapun
halusnya, akan tertangkap oleh penglihatan perempuan tua itu.
"Bagaimana, Ika?" desak perempuan tua itu.
"Pokoknya Ika cuma menganggap persahabatan. Pun."
"Ya kalau dia juga menganggap begitu, selesailah soalnya. Tetapi, kalau dia punya niat yang lebih dalam,
dan Usman datang, apakah kau akan mengecewakannya?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Erika membisu. Pelan-pelan dia mengalihkan pandangannya yang menerawang tak acuh lewat jendela ke
wajah ibunya.
"Cobalah pikir, Ika. Mama tak senang pada pemuda gondrong itu. Tapi, kalau dia mengira mendapat
angin darimu, kemudian kecewa, Mama pun tak senang. Mama ingin kau jadi gadis yang baik. Bukan
perempuan yang mempermainkan lelaki."
"Kami tak pemah menyinggung-nyinggung soal cinta," kata Erika hampir tak terdengar.
"Sepantaranmu, Ika, sulit orang membayangkan istilah persahabatan dalam arti yang netral, yang tak
menyangkut cinta lelaki-perempuan."
"Tapi, begitulah kenyataannya. Kami tak pernah menyinggung-nyinggung soal cinta."
"Terus teranglah, Ika. Kalau cuma persahabatan, ini betul-betul mengherankan Mama. Beberapa sore
kau menanti kedatanganriya. Dan, sejak dia tak datang, kau termenung-menung. Apakah begitu itu
persahabatan?"
"Ika butuh teman ngobrol."
"Toh kau bisa menelepon Handoko atau Retno, biar mereka datang."
"Mereka tak bisa bicara soal novel-novel Pasternak, Solvenitzyn, Thomas Mann, atau Sartre. Mereka
cuma membaca majalah-majalah hiburan ringan saja. Ika senang mendiskusikan nilai-nilai yang terdapat
dalam novel-novel yang pernah Ika baca. Atau soal musik. Dengan dia, Ika bisa bicara soal Simfoni
Kesembilan Beethoven, dan riwayat lahirnya karya-karya agungnya. Bisa bicara tentang terciptanya
simfoni-simfoni Mozart. Kesemuanya membuat perasaan Ika lebih dekat pada karya- karya klasik itu.
Dan, teman-teman yang Mama bilang itu? Ika memang senang bergaul dengan mereka, tetapi mereka
cuma bisa bicara soal Titiek Sandhora atau Emilia Contessa. 'Kan Mama tahu, Ika tak suka lagu-lagu
kosong Pop Indonesia. Toh Mama sendiri yang memberi Ika plat-plat lagu klasik. Selama ini Ika cuma
mendengarkan. Tapi, dia lebih dari mendengar. Selama ada dia, Ika lebih bisa meresapi musik klasik itu."
Erika menatap ibunya.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ya, Mama mengerti," kata perempuan tua itu sambil masih tetap merangkul anak gadisnya.
"Cuma persahabatan," kata Erika.
"Tapi, itu berbahaya. Sebenarnya, kau bukan membutuhkan itu. Kau sebenarnya membutuhkan pengusir
kesepian. Ya, kau kesepian, Ikaku Sayang.”
"Ah, tak tahulah, Ma," kata Erika. Dia merapatkan wajahnya ke leher ibunya.
Perempuan tua itu mencium pipi anaknya.
"Toh kau tidak akan mengkhianati Usman, bu kan?"bisiknya.
Tubuh Erika mengejang sesaat. Dia mengangkat kepalanya dan menatap ibunya. Kemudian perlahan dia
berkata, "Tentu saja tidak."
"Ya, terima kasih, Anakku Sayang. Pukulan terberat bagi Mama adalah jika kau membelot dari Usman.
Dia kelewat baik. Semua orang menganggap begitu. Pastilah orang-orang akan menyalahkan Mama.
Mereka akan menuduh Mama tak mampu mendidikmu kalau kau mengkhianati Usman.”
"Ya, Mama," kata Erika. Tetapi, hatinya dingin. Sebeku badan yang terendam dalam kolam sepanjang
subuh.
Hati Erika tawar dan rusuh lantaran tak ada kehangatan untuk membayangkan Usman. Atau
membayangkan sebutan untuk sebagai Nyonya Erika Usman. Tawar, setawar kening Usman jika sedang
merenungi buku-buku tekniknya.
"Dan, kau sependapat dengan Mama bahwa hubungan kau dengan pemuda gondrong itu lebih banyak
bahayanya ketimbang kebaikannya, bukan?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ya, Mama." Tak bersemangat Erika menjawab.
"Dan, sepantasnya diputuskan. " Erika membisu.
"Sebelum berkembang lebih lanjut," tambah perempuan tua itu.
Erika tetap membeku. Dia membenamkan wajahnya ke bahu ibunya.
"Sebelum dia merasa kau memberinya hati. Sebelum kau lebih telanjur membutuhkan dia," kata ibunya
lagi.
Bukan soal 'telanjur', bukan soal 'sebelum', melainkan Ika memang membutuhkan lelaki itu. Tetapi, Erika
tak berucap apa pun.
"Bagaimana, Sayang? Kau akan menurut apa yang Mama bilang?" Erika merasakan tepukan-tepukan
pelahan di punggungnya. Dia ingin menangis. Dia ingat masa kecilnya, masa ditepuk dan didendangkan.
Tiba-tiba saja dia ingat kesendiriannya setelah dewasa. Sendiri di tengah keluarga yang cuma ada Papa
yang kelewat sibuk dengan bisnisnya, dan Mama. Saudara tak punya. Saudara satu-satunya, kakaknya,
lenyap di hutan Irian Barat. Kakak yang gagah, yang suka membentak, tetapi suka membujuk pula
manakala Erika cemberut.
Ibunya pun bisa merasakan kesendirian Erika meski dalam dekapannya. Perempuan tua ini hanya
memikirkan kebahagiaan anak semata wayangnya. Dia berharap Erika mendapat jodoh lelaki yang baik.
Tentang ukuran baik ini, dia menggunakan ukuran-ukurannya sendiri dalam menilai. Baginya, lelaki yang
baik adalah yang memenuhi persyaratan seperti ini: ulet, rajin, betah di rumah, dan yang terutama sopan,
serta mengabdi kepada orang tua.
"Cobalah, Ika, lupakan seluruh kesan pada pemuda itu. Jangan biarkan hatimu menyediakan simpati
pada lelaki mana pun. Peliharalah cintamu kepada Usman sampai nanti dia datang. Tak lama lagi,
Sayang."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Cinta? Apakah aku mencintai Usman? Ah! Erika mengeluh tanpa suara. Aku memang tak pernah
membencinya. Tetapi, aku juga tak punya alasan untuk tidak menyenanginya. Dan, apakah cinta
sesederhana itu?
Erika mencoba membayangkan kembali pesta pertunangan mereka waktu itu. Tangan Usman
memasangkan cincin di jari Erika. Apakah artinya itu? Suatu ikatan. Itulah saja? Ya, lain tidak.
Selebihnya hambar. Tak ada kesan apa-apa.
Lalu Erika membongkar dirinya, apa yang menyebabkan dia mengiyakan permintaan ibunya waktu itu.
Apa sebenarnya yang menyebabkan dia tidak menolak pertunangan itu? Dia tidak mencintai Usman.
Tetapi, dia juga tidak sedang mencintai lelaki mana pun. Cinta belum singgah di hati remajanya. Lalu,
ketika orang tua Usman datang melamar dan orang tuanya menerima lamaran itu, Erika tak punya
bayangan lain kecuali menerima. Dia tidak bisa mengucapkan kala 'tidak' yang tentunya akan menyakiti
hati Usman. Usman kelewat baik untuk disakiti. Cuma, seorang yang baik toh tidak berarti bisa
mendatangkan cinta.
Begitulah pertunangan Erika dengan Insinyur Usman dilangsungkan dengan tergesa untuk mengejar
keberangkatan Usman ke Jerman.
Lima tahun Usman mondok di rumah orang tua Erika. Selama itu, tak sekalipun Usman membuat marah
si empunya rumah. Tiga tahun di Jerman, Usman selalu mengirim surat walau cuma menampung kabar
selintas. Usman hanya menceritakan kesibukan-kesibukannya. Atau tentang Muenchen, tempatnya
tinggal. Itu pun dengan gaya cerita yang hambar. Lebih hangat tertangkap dari gambaran di novel-novel.
Lain dengan pemuda gondrong itu. Seminggu Anton menyerbu membuat Erika tertawa ceria. Mereka
juga terlibat perdebatan seru. Mereka sama-sama menertawakan dunia. Erika cemberut karena
pendapatnya dibantah, tetapi cepat-cepat Anton membujuk. Jika Anton mendongkol sebab
kekeraskepalaan Erika, cepat-cepat Erika menetralisasi. Gadis ini khawatir jika Anton pulang dengan
membawa kedongkolan.
Seminggu yang aneh. Meraka berdua berbicara dari bab obat-obatan sampai pada penyakit rakyat
Afrika. Mulai dari puisi sampai pada polusi. Mulai dari Titus-Titus agama sampai pada kapitalisme. Mulai
dari hadiah nobel sampai pada silat Cina. Mulai dari nilai manusiawi sampai pada kamp di Siberia. Segala
macam hal mereka bicarakan pada senja-senja yang terasa singkat.
Dan, itu semua harus dianggap embun. Segera lenyap setelah matahari terbit. Tetapi, mungkinkah?
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Mungkinkah? Harus! Harus! Demi nama baik keluarga yang harus dipelihara!
***
Riset rombongan mahasiswa di Dataran Tinggi Dieng masih berlanjut seminggu lagi. Mereka telah
melakukan serangkaian wawancara dengan masyarakat setempat. Seharian mereka berjalan dari desa
yang satu ke desa yang lain untuk mengumpulkan data. Desa-desa itu bertebaran di pelosok gunung.
Anton mengiringkan langkah Bu Yusnita berjalan di bawah matahari. Panas matahari yang bersinar
penuh itu tak terasa oleh mereka sebab dinginnya hawa di daerah itu. Tetapi, kulit Bu Yusnita telah
berwarna kemerahan. Wajahnya sumringah, rambutnya melambai-lambai diterpa angin. Kulitnya seperti
tomat segar: merah dan licin.
Mereka berjalan tanpa suara. Anton tahu bahwa Bu Yusnita pastilah sudah letih. Jika di-reken- reken,
mereka berjalan hampir dua puluh kilometer. Di jalan yang berbatu dan menanjak-turun pula.
"Siapa yang memimpin kelompok riset ke desa sana?" Tiba-tiba Bu Yusnita menunjuk kumpulan rumah
di seberang lembah, di kejauhan.
"Pak Murtejo," kala Anton. "Kelihatannya jalan ke sana sukar."
"Ya, cuma jalan setapak. Untung musim kering. Kalau hujan, jalan itu gawat."
"Siapa yang ikut kelompok itu ?"
"Kusno, Zulkifli, Herman, Fauzi, Marini... ."
"Marini?" tanya Bu Yusnita seraya melirik.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Anton tak menjawab. Dia menahan napas.
"Kenapa dia diikutkan kelompok itu, padahal tahu daerah itu sulit dicapai." Ada nada tidak senang
dalam suara Bu Yusnita.
"Sejak semula dia memang anggota kelompok itu. Kebetulan saja kelompok itu kebagian daerah yang
sulit. Bukan disengaja," kata Anton cepat-cepat.
"Seharusnya yang ke desa itu lelaki saja."
"Tapi, dia bersemangat pergi."
"Ya, tapi kalau dia sakit akan merepotkan rombongan.”
Anton diam. Langkah mereka terseret-seret di antara bongkah batu dan tanah liat kering.
"Besok hari istirahat kita," kata Anton. "Ibu mau melihat tempat-tempat indah di daerah ini?"
"Saya ingin betul-betul istirahat. Tak mau ke mana-mana.”
"Sayang kalau kesempatan ini dilewatkan. Di daerah ini banyak telaga indah. Telaga Warna misalnya.
Airnya kelihatan berwarna-warni. Atau Telaga Pengilon. Permukaannya jernih sekali sampai kita bisa
becermin. Dan, masih banyak lagi telaga lain bertebaran di daerah ini. Coba Ibu bayangkan. Tak jarang
di pinggir telaga itu bermain burung belibis. Seperti dalam dongeng saja. Pokoknya, pemandangan di sini
hanya bisa ditandingi oleh mimpi."
"Ah, kau memang pintar ngomong!"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Tidak. Bukan cuma omong. Waktu survey pendahuluan dulu, saya sudah mengunjungi tempat-tempat
indah itu. Saya juga melihat kawah-kawah yang masih bekerja. Ditambah lagi dengan benda-benda
purbakala. Candi-candi yang tegak di padang rumput sungguh membuat daerah ini layak ditempati
dewa-dewi. Saking terpesonanya, saya ingin tinggal di sini. Saya ingin bertapa. Di sini ada gua yang biasa
dikunjungi orang-orang yang mencari ketenangan batin."
"Ngecap-mu lumayan juga. Tapi, sayang badanku kelewat letih. Malah agak meriang rasanya. Kayak
mau demam," kata Bu Yusnita.
"Kalau begitu, Ibu harus berobat nanti. Ibu lebih suka obat modern atau tradisionil? Nanti di penginapan
akan saya usahakan."
Mereka tiba di penginapan. Bu Yusnita terduduk lemas. Dia mengusap peluh di dahinya. Sepatunya
terlepas dan menggeletak di lantai.
"Bu Nita mau dipijit? Akan saya panggil tukang pijit. Di desa ini ada perempuan tua yang pintar memijit."
Anton bersemangat.
"Baik juga," kala Bu Yusnita lemah.
Sebentar kemudian Anton menghilang. Baik juga hati anak muda ini, pikir Bu Yusnita. Telaten dan penuh
perhatian. Bu Yusnita masih ingat bagaimana Anton penuh perhatian dalam mengatur
keperluan-keperluannya. Selama bergaul di daerah pegunungan itu, kekakuan Bu Yusnita sekelumit demi
sekelumit mulai pudar.
Anton muncul diiringkan seorang perempuan tua. "Dia biasa memijit Bapak dan Ibu Lurah desa ini," kata
Anton memperkenalkan.
"Apa yang kaubawa itu?" tanya Bu Yusnita. "Akar-akaran. Nanti di-godog, dan air godogannya setelah
suam-suam kuku buat merendam kaki Bu Nita sebelum tidur. Besok pagi, saya jamin Bu Nita sesegar
bayi yang sehat."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Bu Yusnita tersenyum. kemudian dia masuk ke kamar diiringi perempuan yang akan memijitnya. Di
pintu, dia menoleh dan tersenyum lagi.
Senyum yang kesembilan, pikir Anton. Bukan main! Senyumnya bukan main bagusnya. Kenapa tidak
sejak dulu dia memperlihatkan senyum itu? Alangkah sayangnya, senyuman semanis itu tersembunyi
sekian lama.
Berkali-kali Anton menarik napas panjang ketika meninggalkan tempat itu. Setelah berbaring di
kamarnya, baru dia merasakan betapa lunglai badannya. Sendi-sendi serasa mau copot. Tetapi, dalam
keletihan itu, dia tetap tersenyum. Jalan kian terbuka, pikirnya. Sejak belakangan ini, Bu Yusnita tidak
lagi menyebutnya dengan panggilan formal. Bukan dengan 'Saudara', melainkan dengan 'kau'. Ini
kemajuan yang patut dipandang sebagai rahmat dewa-dewa di candi-candi Dieng itu. .
***
Matahari yang muncul dari balik gunung mulai membuyarkan embun yang menyaputi Dataran Tinggi
Dieng. Di tanah terlihat kristal-kristal embun yang membeku selama dinginnya malam. Beberapa orang
mahasiswa telah keluar dari kamarnya. Tetapi, dinginnya udara membuat mereka tetap berkerudung
sarung, meniru penduduk setempat yang suka berjongkok di tanah sembari menyedot rokok lintingan.
Suasana gunung itu membuat penduduk biasa bermalas-malasan di waktu pagi hari.
Anton telah kembali dari pancuran tempat mandi. Dia mengintai kamar Kusno lewat jendela. Kusno
masih bergelung dalam selimut. Lewat Maghrib rombongan Kusno baru menyelesaikan tugas di desa
yang jauh itu. Rupa-rupanya dia masih kecapekan.
Bu Yusnita telah berjemur di bawah matahari yang cerah. Wajahnya berseri.
"Betul-betul manjur obatmu itu," katanya ketika Anton mendekatinya. "Selera makanku bertambah. Aku
khawatir berat badanku pun bertambah kalau kit a terlalu lama berada di gunung ini."
"Saya jamin tidak," kata Anton. "Tanpa diit, gadis-gadis gunung bagaimanapun banyak makan, mereka
selalu berbadan singset. Hawa yang segar dan mendaki bukit merupakan obat kecantikan yang manjur.
Tambah lama di sini, kecantikan Bu Nita akan tambah terpelihara."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Bu Yusnita tak menjawab, tetapi pipinya merona merah.
"Jadi kita ke telaga?" tanyanya kemudian tanpa menatap Anton.
"Kalau. Bu Nita mau," jawab Anton.
"Ayolah."
“Berdua saja?"
“Mana yang lain?”
"Saya panggil?"
Bu Yusnita menoleh sekejap. Kemudian menatap pucuk-pucuk pinus di kejauhan.
"Tak usah." Dia melangkah. Anton menjejeri langkah yang berayun di sampingnya.
Bu Yusnita mengenakanpullover warna biru dan bercelana panjang wama kuning. Angkasa adalah langit
biru dan awan mengapas putih. Kejauhan adalah padang rumput, bunga-bunga liar berwarna putih,
kuning, dan merah.
Sesekali Anton menatap yang indah di sampingnya, juga yang indah di tempat jauh. Bu Yusnita berjalan
menunduk dengan kedua tangan di punggung.
"Agak jauh kita nanti berjalan," kata Anton.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Tak jadi soal." Suara Bu Yusnita lunak.
Anton mengomentari tempat-tempat yang mereka lalui. Dan, Bu Yusnita menjadi pendengar yang baik.
Cerita Anton mengasyikkannya. Cerita tentang penduduk setempat yang menyangkut
peninggalan-peninggalan alam.
Tak terasa mereka tiba di tujuan. Bintik-bintik keringat muncul di ujung hidung Bu Yusnita. Andainya
pacarku, pikir Anton, alangkah senangnya mengusap hidung yang bangir ini. Hidung yang berada di atas
bibir mungil, basah, dan merah tanpa lipstik.
Bu Yusnita duduk di rumput. Di depan mereka terhampar telaga yang permukaannya berwarna-warni.
Pengaruh vulkanis, mungkin, makanya telaga itu merefleksikan aneka warna.
"Nah, betul yang saya bilang," kata Anton hampir berbisik, sembari menunjuk.
Sekelompok belibis putih mulus bermain-main di pinggir telaga. Bu Yusnita bernapas hati-hati sebab
khawatir mengejutkan burung-burung itu. Matanya nanap memperhatikan panorama di depannya.
"Bukan main," desahnya.
Anton tersenyum-senyum. Serombongan belibis lain hinggap di seberang telaga. Bunga-bunga liar
bergoyang terkena sambaran sayap burung-burung itu. Seekor burung minum di pinggir telaga.
"Bu Nita haus?"
"Wah, kita lupa bawa minuman," kata Bu Yusnita.
"Saya bawa ini," kata Anton seraya mengeluarkan beberapa buah jeruk manis dari kantong jaketnya.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Lumayan." Lekuk bibir Bu Yusnita berseri.
Untuk beberapa saat mereka menikmati jeruk itu. Lalau Anton berkata, "Di daerah ini banyak
tempat-tempat keramat. Masyarakat percaya bahwa Kerajaan Amarta yang disebut-sebut dalam
Mahabarata itu berada di sekitar daerah ini. Ada kawah namanya Candradimuka. Orang-orang percaya
bahwa di situlah Gatotkaca direndam sampai jadi sakti."
"Memang tempat ini agak meyakinkan kalau disangkut-pautkan dengan legenda-legenda."
"Sampai sekarang banyak orang bertapa di sini." ,
"Biar sakti?"
"Memperluhur batin."
"Kau percaya soal-soal begitu?"
"Percaya sih tidak. Tapi, untuk tidak percaya, juga tidak ada gunanya. Itu soal keyakinan sih. Sulit
memperdebatkannya."
"Tapi, apakah keyakinan itu realistis?"
"Banyak hal yang tidak realistis tetapi dipercaya orang. Soal ramalan misalnya. Sulit menilainya dari
ukuran-ukuran realita, tapi banyak yang percaya.”
“Kau juga?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ya, tapi tidak setiap ramalan. Saya tidak percaya pada ramalan-ramalan buntut. Kalau astrologi,
bolehlah. Apa bintang Bu Nita?"
"Ah, itunonsense !" kata Bu Yusnita.
"Sering juga tepat. Atau ramalan lewat rajah tangan. Saya pernah belajar membaca rajah tangan."
"Iya?"
"Coba, mari tangan Bu Nita. Biar saya lihat." Bu Yusnita masih ogah-ogahan, tetapi Anton menarik
tangannya dan menelentangkan telapak tangan perempuan itu. Pelan-pelan Anton mengikuti garis telapak
tangan perempuan itu. Keningnya berkerut, dan kening Bu Yusnita pun ikut berkerut. Sebentar mata Bu
Yusnita hinggap di telapak tangannya, sebentar beralih ke wajah Anton. Anton serius memperhatikan
gurat-gurat telapak tangan yang dipegangnya. Cuma, pikirannya bukan pada gurat-gurat itu, melainkan
pada: alangkah halusnya tangan ini. Andainya dicium, aduhai! Andainya dicium, aduhai!
"Bagaimana?" tanya Bu Yusnita.
"Ah, ya! Begini. Garis ini menunjukkan bahwa umur Bu Nita panjang. Artinya, Bu Nita akan berkeluarga
besar dan suami Bu Nita akan meninggal lebih dulu pada usia tua."
"Ah, gila kau!"
"Lho, kok gila? Ini lagi. Keturunan Bu Nita akan ban yak yang jadi orang besar."
"Ah, kau mengada-ada. Brengsek!" Bu Yusnita menarik tangannya, tetapi Anton menahan. Bu Yusnita
menggeliat untuk melepaskan tangannya, tetapi cekalan Anton terlalu kuat. Dan, memang rontaan itu
tidak terlalu kuat.
"Lalu, semua itu akan Bu Nita dapatkan setelah melalui saat yang meminta pengorbanan."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
" Ah, bohong!"
"Betul ini. Saya lihat dari garis ini. Nah, ini garis yang memotong dari mars dengan venus. Saya teruskan
?"
"Sudahlah. Tambah banyak nanti among kosongmu."
"Alaaa, lantaran Bu Nita takut kalau saya tambah melihat rahasia-rahasia Bu Nita."
"Uh!" Mulut Bu Yusnita cemberut. Tetapi, itulah permulaan senyum.
Dia tidak menarik tangannya, dan Anton tak melepaskannya. Mereka duduk berhadapan. Angin sepoi
menerpa rambut Bu Yusnita sehingga bagian depannya menutup kening. Angin yang sama menguakkan
gondrong Anton pada bagian muka. Anton merapikan rambut yang menutup kening Bu Yusnita. Bu
Yusnita terpana sesaat. Kemudian tangannya terulur untuk merapikan rambut Anton yang terberai ke
muka.
Mereka bertatapan. Pipi Bu Yusnita kian merona merah. Dia menggigit bibir dan menunduk. Tangan
Anton yang tadi menggenggam pergelangan, kini pindah ke jari. Anton meremas jari-jari yang
digenggamnya membuat Bu Yusnita mengangkat kepala. Mereka kembali bertatapan.
Berdebur-debur jantung Bu Yusnita menahan genggaman tangan hangat di tengah keheningan alam itu.
Di tengah alam yang berbisik-bisik dibelai angin gunung itu, dia bukanlah seorang dosen. Dia adalah
seorang gadis yang sedang merasakan debaran dadanya. Maka dia menunduk, dia menatap
rumput-rumput hijau.
Dan, jantungnya menyentakkan darah panas ketika terasa ada sentuhan di pipinya. Dia melirik tangan
yang memegang wajahnya, lalu ke pemilik tangan. Tatapan Anton membuatnya gemetar. Bibirnya yang
basah-merah juga bergetar.
Suasana semacam itu tak pernah ditemukannya dalam buku. Suasana yang menimbulkan jalaran-jalaran
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
halus dan hangat di seantero telapak kakinya, dan mengalir di sepanjang urat-urat darahnya. Usapan
tangan pemuda itu cuma dibalasnya dengan pejaman mata. Begitu pula ketika lelaki itu menciumnya. Dia
menggigil. Sekejap terpana. Lalu, pelan-pelan tangannya belajar membalas pelukan lelaki itu.
Rumput dan daun perdu gemersik diterpa angin.
***
Mereka memakan coklat bawaan Anton. Matahari beringsut melangkahi puncak-puncak pinus. Sesekali
pandang mata mereka bentrok. Dan, senyum Bu Yusnita mengembang.
"Kalau saya tahu sejak dulu Bu Nita sebaik ini," kata Anton diiringi tawa renyah.
"Dan kalau aku pun tahu kau tidak sebrengsek yang kuduga." Bu Yusnita menimpali dengan cubitan.
"Dan, sekarang?" Anton memijit jari Bu Yusnita. Bu Yusnita balas memijit. Lalu mereka saling meremas.
"Kenapa dulu Bu Nita menganggap saya brengsek?" tanya Anton.
"Ya karena kau brengsek."
"Apa salah saya?"
"Kesalahanmu segerobak."
"Kapan saya membuat kesalahan itu?"
"Mula-mula sedikit. Tapi, karena berbunga maka bertambah banyak."
"Apa sih salah saya?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Betul-betul kau tak tahu?"
"Sungguh mati! Sampai hari ini saya tidak tahu apa kesalahan saya pada Bu Nita. Seingat saya, tak
pernah saya menyakiti hati Bu Nita."
"Betul?"
"Berani sumpah!"
"Tak usah sumpah," cepat-cepat Bu Yusnita memutus.
"Iya, bilanglah."
"Hmmm, kau bajingan!"
"Ah!"
Bu Yusnita tertawa mengikik.
Anton meremas jari perempuan itu kuat-kuat. "Aduh, kasarnya tanganmu."
"Habis, kalau tak mau bilang saya... ."
“Kauapakan…..?”
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
“Ciu…..”
"Hus!" Bu Yusnita merentakkan tangannya dari genggaman tangan Anton. "Mulai kurang ajar kau!"
"Bilanglah apa salah saya."
"Kau ingat waktu kuliahku yang pertama?"
"Ya? Waktu Bu Nita pakai rok warna merah tua dan blus kuning?"
"Ha? Itu yang kauingat?"
"Dan, betis Bu Nita yang bagus."
"Bah, bajingan! Dengar dulu. Kau ingat, hari itu apa pertanyaanmu?"
" Apa saya bertanya waktu itu?"
"Iya, waktu kutanya ‘siapa yang mau bertanya', kau terus mengangkat tangan. lalu kau menanyakan teori
Freud."
"Lantas?"
"Itulah salahmu."
"Lho, kok salah?"
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Sebab, kau menanyakan itu."
Anton terlongong-longong. Bu Yusnita menonjok hidung Anton pelahan.
"Teori Freud, faktor seks menentukan tindak-tanduk seseorang."
Wajah Anton tetap terheran-heran.
"Karena kau menanyakan itu, bukankah sengaja mengejekku?"
"Kok mengejek?"
"Karena kau ganteng, kau diperhatikan gadis-gadis, kau playboy. Siapa yang tak tahu itu?"
“Jadi?”
"Padahal kau tahu aku masih single. Hidupku sepi. Faktor seks sama sekali jauh dari kehidupanku.
Duniaku hambar ."
"Tapi, Pak Gunawan mencintai Bu Nita."
"Ah, siapa bilang?" sahut Bu Yusnita cepat.
"Saya tahu."
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Ah, kau mengada-ada. Dia orang yang paling sombong yang pernah kukenal."
“Tapi, dia sering membicarakan Bu Nita."
"Masak iya?"
"Sungguh!"
"Tentunya dia mengejek-ejekku," ujar Bu Yusnita.
"Sama sekali tidak. Malahan dia sering menyesali dirinya karena merasa dirinya terlalu serius dalam
kuliah dulu. Dan, dia sadar bahwa banyak tindakannya yang sebenarnya cuma untuk memuaskan
gengsinya saja, sedang akibatnya ditanggungkannya selama bertahun-tahun ini."
"Dia bilang begitu ?"
Anton cuma mengangguk. Dia tak berani mengulang dusta itu.
Bu Yusnita merenungi rumput hijau. Anton membiarkannya di sungkup senyap yang diciptakannya.
Lama mereka diam.
Sampai akhirnya Bu Yusnita mengulurkan tangan dan berkata, "Ayo, kita pulang."
Anton menyambut tangan itu dan menariknya bangkit. Bu Yusnita meloncat berdiri.
Ketika mereka berhadapan, Bu Yusnita mencium pipi Anton cepat dan selintasan.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Hidup ini sebenarnya indah ya, Anton?" katanya.
Anton cuma mengangguk.
“Asal kita pandai menikmatinya. 'Kan begitu?" lanjut Bu Yusnita.
Anton cuma mengangguk lagi.
Bu Yusnita menggandeng tangan Anton dan menariknya berlalu meninggalkan telaga itu. Dia merangkul
tangan Anton dan langkahnya ringan merambahi belukar. Dia menggumamkan nyanyian. Dia cuma
setinggi bahu Anton. Maka kepalanya tersandar di dada lelaki muda itu.
***
Bu Yusnita tak lagi sekaku dulu. Rombongan mahasiswa itu merasakan perubahan itu. Dia bukan lagi
Tuan Putri yang mengasingkan diri.
Hari itu, bu Yusnita kepingin mandi di pancuran. Anton mengantarkannya. Sementara Bu Yusnita Mandi,
Anton menjauhi pancuran itu. Dia mendaki bukit, melewati belukar-belukar. Ketika melewati gerumbul
semak,.langkahnya terhenti. Darahnya terhenti mengalir. Tubuhnya gemetar. Tetapi, langkah yang terhenti
mendadak itu tak sengaja menendang kerikil. Kerikil bergulir ke bawah dan menimbulkan suara 'kresek'
di semak-semak. Pelukan merenggang. Marini me- lepaskan diri dari pelukan Kusno. Keduanya terpana
menatap Anton yang tertegak kaku di atas bukit. Berganti pias dan merah wajah Marini. Kusno
canggung. Sesekali dia memandang Anton, tetapi lebih sering menghunjamkan pandangan ke tanah.
Sehelaan demi sehelaan napas berlalu. Lalu, Anton berbalik meninggalkan puncuk bukit itu. Kembali dia
ke pancuran.
Bu Yusnita telah mengemasi pakaiannya. Dia memperhatikan wajah Anton yang beku.
http://rajaebookgratis.wordpress.com
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Kenapa mukamu masam?" tanyanya.
"Ah, tidak," jawab Anton. Dia membantu membawakan tempat sabun Bu Yusnita.
"Jangan cepat-cepat, Anton!" seru Bu Yusnita.
Anton memperlambat langkahnya.
"Ada apa sih? Kok langkahmu kayak dikejar setan ?"
Anton tetap membisu.
"He, bilanglah, ada apa?"
"Tidak. Tak apa-apa."
"Tak apa-apa, tapi datang-datang wajahmu kecut, langkahmu kayak berlari."
Anton diam. Bu Yusnita mencubit lengan Anton. Anton menoleh. Rambut Bu Yusnita tersanggul belum
rapi. Tetapi, senyumnya rapi mengelopak mawar. Anton pun menyeringai.
"Nah, apa yang terjadi, Anton?"
Anton berpikir sesaat. Lalu katanya, "Dari atas bukit itu, tak sengaja saya jadi Jaka Tarub, melihat
bidadari mandi, Bu Nita mandi."
"Ow, kurang aj...." Bu Yusnita mencubit lebih keras.
http://rajaebookgratis.wordpress.com