Antologi Puisi
Rahasia Rasa
Sely Nursita
Rahasia Rasa
SELY NURSITA
TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, antologi puisi berjudul “Rahasia Rasa”
akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Untuk kedua orangtua, keluarga, teman, dan kamu
terima kasih atas segala bentuk dukungan dan semangat yang selama ini kalian berikan. Ibu
dosen Dyah Prabaningrum dan Ibu Wati Istanti yang telah membimbing dan membersamai
belajar ekspresi tulis puisi selama satu semester ini. Terima kasih tak terhingga.
Antologi puisi ini berisi dua puluh puisi dengan tema kehidupan, cinta, dan perempuan
yang dikemas ke dalam sebuah antologi Rahasia Rasa. Kehidupan ini tidak luput dengan
namanya cinta. Perempuan hadir sebagai makhluk istimewa yang harus selalu dicintai dan
disayangi. Bumbu-bumbu persoalan pelik dengan manusia lain seharusnya mampu
menguatkan bukan merobohkan.
Untuk kamu, pembaca tersayang yang bersedia membaca antologi puisi ini. Selamat
membaca. Semoga kamu akan selalu menemukan kebahagiaan. Semoga pelan-pelan kamu
mampu mengungkapkan rahasia rasa yang selama ini terpendam dan kamu simpan sendirian.
Wonosobo, Juni 2022
Sely Nursita
SENJA
Sely Nursita
Senja…
Darimu aku belajar
Tentang arti sebuah keikhlasan
Akan pahit manisnya kehidupan
Yang tak mungkin terelakkan
Layaknya lentera penyejuk
Hadirmu mampu membuatku tenang
Untuk menyikapi segala hal yang masih terasa gamang
Misteri yang selalu memenuhi ilusi
Senja…
Darimu aku mengerti
Bahwa yang hilang akan terganti
Dan yang berarti bisa kapanpun pergi
Tanpa permisi menggores hati
Entah akan ada berita baik ataupun buruk di masa depan
Namun, aku percaya itu rencana terbaik dari-Nya
Pahamilah…
Layaknya senja yang mengintip di balik gerimis
Yang akan memekarkan tawa setelah tangis
Semua akan kembali baik.
RINDU
Sely Nursita
Di bawah rintik hujan yang sendu
Aku termanggu di balik jendela kamarku
Menyaksikan angin yang berhempus perlahan
Menembus kalbu….
Riuh suara hujan, mengingatkanku akanmu
Bahwa ternyata hanya kamulah satu-satunya
Yang selalu aku tunggu
Dan yang selalu aku rindu
Sungguh…
Bersamamu adalah hal terindah
Canda tawamu adalah pelerai rasa gundah
Dan pelukanmu adalah pelepas rasa lelah
Meskipun jarak menghalangi
Semoga kau tetap mengerti dan memahami
Bahwa ada yang selalu rindu di sini
Menantimu untuk pulang lagi dan lagi
Pada angin yang dingin kutitipkan sebuah rindu
Semoga sampai padamu
Pada malam yang sunyi kusematkan doa
Semoga kau baik-baik saja
KENANGAN
Sely Nursita
Untukmu…
Yang pernah singgah
Namun perlahan berubah
Yang pernah menjadikanku rumah
Ketika kau kehilangan pusaran arah
Yang pernah menitip rindu
Karena sekatan temu yang tak menentu
Sayang rasanya
Ketika kebahagiaan mulai dirajut
Harus ada benang-benang kusut
Yang tak reda menyusut, melainkan menghasut
Menghasut untukmu berkelana
Mencari singgahsana
Dengan mahkota yang lebih sempurna
Deretan rencana-rencana
Nyatanya harus terpaksa
Diluluhlantahkan semesta
Seperti gulungan ombak
Yang tak pernah menyisakan jejak
Namun bisa mendekat
Dan dengan mudahnya berjarak
Tanpa adanya ruang sekat
Untukmu…
Terima kasih telah hadir
Meskipun hanya sekedar mampir
Layaknya putaran arloji berkarat
Lambat dan begitu singkat
Namun yang pasti, kenangan bersamamu
Seperti candunya kopi
Pahit manis yang akan selalu memikat
Ilusi ingatan yang tak akan ada obat
SELAMAT JALAN
Sely Nursita
Riuh suara orang-orang
Yang akhir-akhir ini
Meneriakkan hati-hati di jalan
Melepaskan sesaknya batin
Perihal kesendirian dan kepergian
Tak apa, hidup tak harus berjalan satu arah
Melainkan bisa saja berlawanan arah
Terutama tentang mimpi
Yang tak bisa dimanipulasi
Tentang keinginan, yang tak mengenal kata menyudahi
Layaknya sebuah kompas
Perjalanan dicari, untuk menemukan tujuan yang berarti
Tak apa, untuk kisah yang belum sampai pada kata “bersama”
Teruslah menggapai mimpi
Karena satu persatu alasan yang memberatkan hati
Sudah mulai perlahan pergi
Hati-hati di jalan…
Ku lambaikan tangan dengan senyuman
Terakhir kali ku katakan
Ku kira kita sejalan
PERIHAL MANUSIA
Sely Nursita
Hiruk pikuk dunia
Seakan memenjarakan manusia
Akan rasa pada sesama
Entahlah…
Fatamorgana kehidupan terasa begitu kejam
Manusia bengis hadir dengan segala tindakan
Yang tak memanusiakan
Hadir dengan segala perkataan
Yang mengiris perih naluri perasaan
Harusnya kita paham
Bahwa roda kehidupan akan terus berputar
Tidak selamanya bulan akan terus bersinar dan
Bintang akan terus tersenyum dengan mata berbinar
Lalu apa lagi yang perlu dibanggakan?
Adakah lagi yang perlu dibandingkan?
Ada yang jauh lebih penting…
Menjujung tinggi nilai kemanusiaan
Dengan berhenti membandingkan
Memberikan arti kebaikan dan kebersamaan
Adalah sebuah keharusan
Sebagai bentuk pengabdian
Akan hakikat dan predikat sebagai makhluk Tuhan
Tumbuhlah tinggi bersama indahnya pelangi
Jadilah mekar dengan lapangnya berbagi
Perihal mengasihi, menyayangi, dan mengayomi
Hingga kita kembali tertutup mati
Ingatlah… Semua akan kembali ke tanah
Untuk itu mulailah terus berbenah
Tanpa banyak berkeluh kesah
Tanpa menindas dan menginjak batin manusia lain
ARTI SYUKUR
Sely Nursita
Elegi pagi ini
Disambut riuh nyanyian burung kecapi
Yang teriak kesana kemari
Tubuh terasa dipeluk angin yang terasa sejuk
Mampu menjadi obat akan rasa kalut
Oksigen yang masih bisa dihembuskan teratur
Seharusnya mampu menandai adanya rasa syukur
Perihal kenikmatan yang tak dapat diukur
Sekalipun terkadang sering membuat kufur
Elegi pagi ini diawali
Tatapan sinar Mentari yang mulai menampakkan diri
Menandai hari baik akan dimulai
Dan masa lalu tidak perlu diulangi apalagi ditangisi
Melainkan harus disyukuri dengan penuh kelapangan hati
Menjadi manusia yang terus berproses, dirasa lebih penting
Terus bertumbuh dikala rasa rapuh, dirasa lebih bijak
Hidup dengan penuh ketangguhan dan kebaikan
Sungguh, elegi pagi ini…
Mampu memikat semangat
Antara jiwa dan raga yang harus terikat
Menyongsong masa depan
Dengan kegembiraan, bukan kecemasan
PERBEDAAN NASIB
Sely Nursita
Awan hitam menggumpal berdesakan
Menahan beban yang begitu berat
Dan kalau tidak kuat
Akan menyisakan tangis terisak
Keadaan semakin suram
Ketika tangisan orang-orang kolong jembatan
Seakan tidak pernah didengarkan
Rengekan anak jalanan
Pun ikut diasingkan
Apalagi di sudut kota Jakarta yang metropolitan
Dengan kesibukan sejuta umat tanpa sekat
Miris rasanya ketika melihat
Para elit tersenyum gembira
Sementara, derita jelata kian menjerit
Dengan berbagai persoalan pelik
Semesta terlalu bercanda
Menghadirkan manusia tanpa rasa
Tanpa sadar…
Gumpalan awan hitam yang berat
Perlu dikuatkan untuk perlahan,
Mereda tangisan dengan sinar kegembiraan
MENCINTAI DIRI SENDIRI
Sely Nursita
Hujan deras dan angin kencang
Mulai menerpa jiwa kosong
Yang penuh keraguan dan kecemasan
Perihal memenuhi ekspektasi orang lain
Yang tak kunjung berkesudahan
Dengan beribu alasan
Suara badai yang menyambar
Seharusnya mampu menyadarkan
Ada raga yang terombang ambing dalam kehampaan
Ada pikiran yang terus berselam demi sebuah pengakuan
Yang ternyata terasa melelahkan
Mulai sadar dan bangunlah
Bahwa hidup dijalani untuk menemukan jati diri
Bukan untuk memenuhi ekspektasi di lain sisi yang sukar dicari
Jadilah pelangi dengan indahnya warna warni
Mewujudkan berbagai ekspektasi
Tanpa pernah melupakan perihal mencintai diri sendiri
IBU, CAHAYAKU
Sely Nursita
Akulah sang pengukir mimpi
Dengan segala ilusi yang berharap jadi
Yang hanyut oleh rasa gelisah
Dan didekap rasa gundah
Perihal teka-teki masa depan
Yang masih sebatas bayangan
Namun hadirmu mampu menenangkan
Raga yang terikat kecemasan
Kau menyinari hidupku
Dengan lentera cahayamu
Membuat terang dalam gelap
Membuat mekar dalam redup
Kau yang menyakinkan
Bahwa masa depan adalah perihal kepastian
Yang harus ditantang
Dengan penuh kesungguhan
Aku berteduh dalam naungan doamu
Mendekap dalam hangatnya pelukmu
Aku percaya…
Bahwa ridho Allah ada pada ridhomu
Bahwa perjalananku akan menemukan titik temu
Karena restu darimu
Terima kasih, Aku bersyukur memilikimu, Ibu…
BANGKIT
Sely Nursita
Jadilah tangguh
Tanpa perlu banyak mengeluh
Jadilah mekar
Dengan segala rasa sabar
Jadilah kuat
Untuk segala sesak yang memikat
Perjalanan hidup memang tak mudah
Akan ada perihal bahagia dan terluka
Tangis dan kecewa
Namun…percayalah
Akan ada pelangi yang indah
Setelah gerimis singgah
Menangislah jika itu
Mampu membuatmu tenang
Yakinlah bahwa semuanya
Akan kembali baik dan menemui titik
Kau perempuan hebat
Yang akan menemui banyak bahagia
Pada masa dan waktunya
PEREMPUAN DARI SUDUT KATANYA
Sely Nursita
Miris sekaligus prihatin rasanya
Ketika masih terdengar jelas di telinga
Bisikan suara dengan goresan kata
Yang membuat batin perih terluka
Katanya perempuan itu menempati posisi terbelakang
Selalu menempati ruang sempit
Di sudut yang terhimpit
Katanya perempuan berpendidikan itu salah
Anggapan kodrat perempuan hanya di dapur
Menjadi opini yang sulit terhenti
Padahal perempuan tidak seharusnya tertinggal
Opini bodoh perlu diluruskan
Segala bentuk “katanya” yang menggema
Tidak perlu lagi diusik berisik
Sadarlah…
Bahwa perempuan mampu seimbang
Mengimbangi jalan tanpa harus terjungkal
Bahwa perempuan itu kuat dan berani
Mengubah dunia dengan lembutnya hati
Mengukir masa depan dengan ruang bebas
Tanpa sekat, tanpa batas
DEFINISI CANTIK SESUNGGUHNYA
Sely Nursita
Tidak harus cantik secara fisik
Tapi harus baik dari segala titik
Memiliki hati selembut sutera
Menggema dengan suara gemulai
Memberikan senyuman sehangat mentari
Meneduhkan pandangan dengan sinar kebaikan
Begitulah perempuan
Definisi fisik cantik
Tak perlu menjadi perdebatan sengit dan berisik
Segala sesuatu ada karena tindakan nyata
Bukan perkara gaya apalagi rupa
Miris rasanya
Gemuruh suara selalu meneriakkan
Bahwa perempuan dengan fisik cantik
Selalu menempati barisan terdepan
Tidak peduli dengan berbagai sisi
Mengedepankan pandangan semata
Mengabaikan perasaan hingga logika
Mau jadi apa dunia ini
Jika penduduk bumi sibuk mengurusi
Perihal memperbaiki kecantikan diri
Bukan kecantikan hati
Jadilah perempuan hebat dengan berbagai bakat
Jadilah perempuan cerdas tanpa menindas
Jadilah perempuan cantik dari segala titik
Teruslah memperbaiki dan berbenah diri
Menyongsong masa depan dengan prestasi
Membawa aroma wangi bak melati
Yang akan selalu dinanti
Ketika bahagia maupun tangis menghampiri
TUMBUHLAH UTUH
Sely Nursita
Terima kasih sudah mau bertahan
Melewati badai dan kerikil kehidupan
Terima kasih untuk tidak mengeluh
Di tengah goresan luka yang menganga
Terima kasih telah berdiri tegak di atas kaki sendiri
Mengilhami berbagai persoalan pelik yang menghampiri
Aku tahu tubuhmu butuh istirahat
Kakimu butuh direbahkan
Matamu juga butuh dipejamkan
Namun aku yakin kamu lebih paham akan itu
Kamu lebih tahu apa yang kamu butuh
Meskipun tidak semuanya membuatmu utuh
Rentetan peristiwa berjuta makna
Menjelma menjadi petuah yang berharga
Nyaris semuanya mampu kamu buktikan
Yang membuat semua orang diam
Riuh tepuk tangan cukup menjadi bukti
Bahwa kamu berhasil menjadi arti
Kamu mampu membuktikan
Bahwa perempuan tidak untuk diremehkan
Perempuan harus dihargai dengan sepenuh hati
Dicintai dengan penuh kesungguhan
Mendekap raga dengan penuh kebebasan
Hilangkan kata arti menyempitkan bagi perempuan
Melainkan luaskan kata bebas tanpa batas
Untuk perempuan bisa menembus cakrawala
Menggapai asa sesuai keinginannya
Manaklukkan dunia dengan bahagia
Menghembuskan oksigen dengan lega
Biarkan perempuan tumbuh dengan utuh
MEMBEKAS
Sely Nursita
Memori dua tahun lalu masih sangat terasa
Tumbuh penuh dan utuh dalam raga
Berkeliaran mengelilingi isi kepala
Menyisakan gairah di dada
Bahagia…
Satu kata yang sangat bermakna
Dan itulah yang aku rasakan
Ketika kamu singgah dan berjanji untuk tidak meninggalkan
Deburan ombak menjadi saksi
Kisah klasik ini dimulai
Berpetualang mencari arti kehidupan
Bersama dengan orang tersayang
Menghirup kebebasan alam
Dengan langkah beriringan dan satu tujuan
Satu hal yang pasti
Hadirmu mampu meneduhkan
Hati dan jiwa yang hampir meranggas
Terima kasih sayang
Cerita cinta klasik ini akan selalu membekas
Semoga bukan tentang persoalan luka, melainkan
Jejak-jejak kebahagiaan yang akan selalu tertanam
PERCAYA, CINTA ITU ADA
Sely Nursita
Layaknya goresan bayangan
Ragamu seolah selalu mendekap
Menyertai setiap derap langkah
Mengikuti jejak ilusi yang terpatri, untuk selalu menjaga hati
Agar tidak ada persimpangan kejam yang menghampiri
Kita telah berjanji untuk saling percaya
Meskipun jarak membuat kita tidak bisa saling tatap
Meskipun kita harus selalu tersiksa demam rindu
Yang selalu menggema dan menderu
Yang terkadang membuatku bimbang
Masih adakah aku dihatimu?
Maaf untuk segala resah yang terkadang meresahkanmu
Maaf untuk segala tuduhan yang terdengar kurang nyaman
Bukan aku tak percaya
Aku hanya takut kehilanganmu
Aku takut akan ada kata pergi tanpa permisi
Namun setidaknya ada satu hal yang aku pahami
Yang cukup meyakinkan akan segala kebimbangan
Yang mampu menguatkan ketika banyak yang ingin mematahkan
Hal itu perihal cinta dan setia
Bahwa jutaan mil jarak yang sudah kamu tempuh
Bahkan tersesat sekalipun
Aku percaya, cinta sejati akan membawamu kembali
MULAI LELAH
Sely Nursita
Mulai lelah dengan kata mengalah
Mulai lelah dengan opsi kalah
Lelah dengan definisi pura-pura indah
Lelah, yang tak kunjung mengenal kata sudah
Pahamilah tidak semua orang harus dibahagiakan
Tidak semua jejak harus diikuti
Dan tidak semua tanda harus dipatuhi
Apakah kau tidak lelah?
Sibuk berekspektasi tinggi hingga lupa diri
Sibuk menyuarakan suara orang hingga tanpa sadar
Menghiraukan isi hati yang meminta dikasihani
Harusnya kau menyadari betul
Bahwa kaulah nahkoda di dermaga kehidupan ini
Kau yang memegang kendali
Atas apa yang selalu disemogakan sebagai mimpi
Yakinkanlah niat bulatkan tekad
Melangkah tanpa keraguan dan kebimbangan
Berjalan tegak tanpa kepala mendongak
Ingatlah, opsi dari orang hanya akan membuat gamang
Jangan takut sendiri, tapi coba lebih cintai diri sendiri
Kita memang tidak bisa hidup tanpa manusia lain
Tapi bukan berarti kita harus selalu ada untuk manusia lain
Bukan begitu?
MENCINTAI DALAM DIAM
Sely Nursita
Aku memilih mengagumimu dari jauh
Karena beberapa diksi tidak bisa terucap dengan penuh
Aku memilih diam di ruang terbatas
Karena sadar kehadiran ini tidaklah pantas
Mengenalmu adalah sebuah ilusi
Berharap suatu saat nanti ada kata jadi
Senyumanmu mampu meneduhkan jiwa
Seolah persoalan pelik menjadi baik
Aku tak kuasa melihat tatapan indah darimu
Layaknya kedipan bintang yang membuat hati ini melayang
Satu hal yang harus kamu tahu, bahwa
Bayanganmu akan selalu menjadi teman terbaikku
Meski memilikimu adalah ketidakmungkinan untukku
Namun, namamu masih menjadi favorit di sepertiga malamku
Aku tidak akan terlalu berharap apapun
Tidak ada gerak lebih melaju mendekatimu
Berbahagialah dengan riang gembira
Meski terkadang dalam sendu, aku suka merindu
Untuk segala aksara yang tidak bisa terbaca
Untaian doa tanpa titik dan koma, nyata adanya
Cukuplah aku dan Tuhan yang mengetahui kebenaran
Bahwa aku mecintaimu dalam diam
MEMATAHKAN RAGU
Sely Nursita
Berhentilah menyesali, mulailah mensyukuri
Berhentilah meragukan, dan mulailah melakukan
Untaian diksi ini mungkin cukup membuatmu paham
Bahwa tak perlu menduga-duga
Tuhan akan membantu, bahkan dengan cara di luar logika manusia
Percayalah….
Meski dengan langkah berat, kamu harus tetap melangkah
Menerjang ombak dengan tetap berdiri tegak
Tahan ketika ditimpa angin, yang hanya membuat ragamu dingin
Berhentilah menangis, karena akan ada pelangi setelah gerimis
Petiklah bunga itu di surut yang baru
Gapai mimpimu dengan penuh keyakinan
Karena keberhasilan menang harus menemui banyak kegagalan
Ingat, fase kehidupan yang begitu singkat
Jangan gunakan waktumu untuk merenungi sesuatu yang tak berarti
Belajar untuk menguburnya, dan bangkit untuk membuktikan
Membiarkannya hanyut bersama waktu tanpa menggerutu
Jadilah kuat dengan segala yang membuatmu patah
Mesikupun aku paham,
Perpisahan adalah luka yang paling kejam.
AIR MATA
Sely Nursita
Menangislah selagi bisa mengeluarkan air mata
Menangislah jika mampu membuat jiwa lega
Daripada terus hidup bersandiwara dalam duka
Air mata akan menyadarkanmu
Bahwa luka tidak perlu dipelihara, ia harus diobati
Tidak perlu bersusah payah berdiri di tengah hujan lebat
Meneduhlah, cari sandaran ternyaman untuk menangis
Cukup jujur pada diri sendiri di sudut yang sunyi dan sepi
Aku tahu, kamu hanya perlu dimengerti
Di dekap oleh raga tanpa dibantah “karena”
Dihargai dan dicintai seutuhnya
Bayangan hidup sempurna akan nampak adanya
Bulan siaga akan menyinari langkahmu
Teruslah melangkah dari segala hal yang membuatmu patah
Tinggalkan segala jejak yang membuatmu mati tak bergerak
Nantikan senja setelah air mata
Percayalah, akan ada hangatnya tawa setelah gerimis tiba
AKHIR YANG BAHAGIA
Sely Nursita
Aku hampir patah arang merangkai diksi ini
Ku jelajahi di seluruh hati yang ku miliki
Ku mencoba menarik memori tentang rasa ini
Memulai dengan goresan pena di atas kanvas putih
Aku ingat ketika bait awal terciptakan
Ada bayanganmu memenuhi ujung penaku
Senja menjadi diksi terfavorit dalam khayalan yang tak berkesudahan
Gairah rasa rindu mengalir membasahi kalbu
Melahirkan ilusi yang tak kunjung bertepi
Kehadiran hujan nyatanya sangat meneduhkan
Raga dan jiwa yang selalu dihantui akan keraguan
Pada goresan rima terakhir kali ini
Aku mencoba merangkai barisan kata
Yang semoga masih bisa menuntun rasa yang bermakna
Meskipun aku tahu, kau hampir mati rasa
Pada kehilangan yang kesekian, kau akhirnya sadar
Bahwa hidup bukan tentang keinginan
Melainkan tentang bagaimana manusia menerima kenyataan bukan?
Selalu sabar dan tahu, bahwa bulan butuh waktu untuk menjadi purnama
Pun kamu…
Perlu jeda untuk menemui kisah akhir yang bahagia
Selamat berproses dan selamat bertumbuh menjadi manusia utuh.
Kehidupan ini tidak luput dengan namanya cinta dan persoalan pelik. Perempuan
hadir sebagai makhluk istimewa yang harus selalu dicintai dan disayangi. Bumbu-
bumbu persoalan pelik dengan manusia lain seharusnya mampu menguatkan
bukan merobohkan.
Lewat antologi puisi ini, semoga kamu akan selalu menemukan kebahagiaan.
Semoga pelan-pelan kamu mampu mengungkapkan rahasia rasa yang selama ini
terpendam dan kamu simpan sendirian.
Sely Nursita