RESUME
“KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN”
DOSEN PENGAMPUH : Ibu Siti Choirul Dwi Astuti, M. Tr. Keb
DISUSUN
OLEH
HERLINA PUTRI HAPULU
751540120047
PRODI DIII KEBIDANAN
JURUSAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
GORONTALO
TAHUN 2021
1
RESUME KELOMPOK 3
A. PENGERTIAN
Resusitasi (respirasi artifisialis) adalah usaha dalam
memberikan ventilasi yang kuat, pemberian oksigen dan curah jantung
yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak, jantung, dan alat-
alat vital lainnya.
Resusitasi juga dapat diartikan sebagai upaya untuk mengurangi
afiksia intrauteria, dengan mengurangi gangguan retroplasenter dan
tekanan langsung pada tali pusat serta meningkatkan PO2.
Resusitasi adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk
mengembalikan keadaan henti nafas atau henti jantung ke fungsi
optimal guna mencegah kematian biologis (Ghofar,2012).
Resusitasi jantung paru pada dewasa adalah tindakan pertolongan
medis sederhana yang dilakukan pada penderita yang mengalami henti
jantung sebelum diberikan tindakan pertolongan medis lanjutan.
RJP atau yang dalam bahasa Inggrisnya CPR, biasanya dilakukan
kepada orang-orang yang mengalami henti jantung serta tidak mampu
bernapas secara normal. RJP perlu dilakukan pada mereka yang tidak
bernapas atau denyut nadinya terhenti setelah mengalami kecelakaan,
tenggelam, atau serangan jantung. Untuk melakukan RJP, seseorang
disarankan sudah pernah menjalani pelatihan yang memadai.
B. PERSIAPAN KELUARGA
Sebelum melakukan tindakan resusitasi, penolong harus
melakukan informed consent pada keluarga, jelaskan pula
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
C. PERSIAPAN TEMPAT
Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat
Nresusitasi:
2
• NGunakan ruangan yang hangat dan kering
• Tempat resusitasi hendaknya datar, rata, keras, bersih, kering dan
hangat misalnya meja, dipan atau diatas lantai beralas tikar.
Sebaiknya dekat pemancar panas dan tidak berangin (jendela atau
pintu yang terbuka).
• Lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm
• Menutup pintu dan jendela
D. PERSIAPAN ALAT
Sebelum menolong persalinan, selain menyiapkan alat-alat
persalinan juga harus dipersiapkan alat-alat resusitasi dalam keadaan
siap pakai, yaitu:
1. Kain ke-1 : untuk mengeringkan bayi
2. Kain ke-2 : untuk menyelimuti bayi
3. Kain ke-3 : ganjal bahu bayi
4. Alat penghisap lendir DeLee atau bola karet
5. Tabung dan Sungkup/Balon dan Sungkup
6. Kotak Alat resusitasi
7. Sarung Tangan
8. Jam atau pencatat waktu.
E. ASUHAN PASCA RESUSITASI
Setelah tindakan resusitasi, dilakukan stabilisasi dan pemantauan
khusus dalam 2 jam pertama.
Asuhan pasca resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan BBL
setelah menerima tindakan resusitasi dan dilakukan pada keadaan :
1. Resusitasi berhasil : Bayi menangis dan atau bernafas normal
sesudah langkah awal atau sesudah ventilasi
a. Pemantauan dan perawatan tali pusat.
b. Pencegahan Hipertermi
c. Pemberian Vit K
3
d. Pencegahan infeksi
e. Pemeriksaan fisik
f. Pencatatan dan pelaporan
Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus. Usaha agar
mencatat secara lengkap dan jelas :
Nama ibu, tempat, tanggal melahirkan dan waktunya kondisi
janin/bayi :
• Apakah terjadi kegawatan janin sebelumnya
• Apakah bayi cukup bulan
• Apakah bayi menangis atau bernafas
• Apakah tonus bayi
• Apakah air ketuban bercampur mekonium
• Waktu mulai
• Langkah resusitasi yang dilakukan
• Hasil resusitasi
Jika persalinan dilakukan dirumah pasien, sebaiknya
bidan tinggal ersama keluarga bayi untuk memantau kondisi
bayi minimal 2 jam pertama pasca persalinan.
2. Resusitasi tidak berhasil
Bila bayi tidak bernafas setelah resusitasi selama 10 menit dari
denyut jantung 0, pertimbangan untuk menghentikan resusitasi.
Biasanya bayi tersebut tidak tertolong dan meninggal.
Konseling :
Dukungan moral :
a. Bicaralah dengan ibu bayi dan keluarganya tentang tindakan
resusitasi dan kematian bayinya. Jawablah setiap pertanyaan
yang diajukan. Berikan asuhan pada ibu bayi dan keluarganya
dengan tetap memperhatikan nilai budaya/kebiasaan setempat.
Tunjukan keperdulian atas kebutuhan mereka. Postpartum atau
pasca persalinan. Bila mungkin, asuhan pasca persalinan
sebaiknya dilakukan dirumah ibu.
4
Pencatatan dan pelaporan :
Buatlah pencatatan selengkapnya mengenai identitas ibu,
kondisi bayi, semua tindakan yang dilakukan secara rinci dan
waktunya. Kemudian laporkan pula bahwa resusitasi tidak berhasil
dan sebab tidak berhasil. Laporkan kematian bayi melalui RT atau
RW kelurahan. Simpanlah catatan sebagai dokumen untuk
pertanggung jawaban .
5
LAPORAN HASIL DISKUSI
KELOMPOK 3
(MATERI RESUSITASI)
Moderator: Ni Luh Sulistiani
Pemateri:
1. Rosita hasan
2. Rahmayani r. ajiji
3. Meilia septi nurohmah
Tanya jawab
1. Penanya : Cindriwati rahman
Pertanyaan : Tindakan apa yg akan dilakukan apabila bayi baru lahir
tetap tidak bisa bernafas meski telah mendapatkan resusitasi?
Menjawab : Rahmyani r. ajiji
Jawaban : Jika bayi baru lahir tetap tidak dapat bernapas spontan
meski telah mendapatkan resusitasi, dokter akan melakukan tindakan
intubasi pada bayi untuk memberikan napas bantuan. Setelah itu, bayi
perlu menjalani perawatan di ruang NICU, terutama jika kondisinya
melemah dan tidak stabil setelah dilakukan resusitasi. Dokter juga dapat
melakukan tindakan penyedotan cairan atau mekonium dari mulut bayi,
terutama pada bayi yang dicurigai mengalami gangguan atau henti napas
akibat tersedak atau asfiksia mekonium. Resusitasi bayi baru lahir
merupakan tindakan yang penting dilakukan oleh dokter anak atau dokter
umum guna menolong bayi baru lahir yang mengalami kesulitan bernapas.
Jika masih memiliki pertanyaan seputar tindakan resusitasi bayi baru lahir,
6
Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penjelasan lebih
lanjut.
2. Penanya : Herlina Putri H. Hapulu
Pertanyaan : Bagaimana cara menentukan kebutuhan resusitasi pada
bayi yang baru lahir?
Menjawab : Ditya kasim
Jawaban : Untuk menentukan kebutuhan resusitasi pada bayi yang
baru lahir, digunakan Neonatal Resuscitation Algorithm. Persiapan dimulai
dari sebelum bayi lahir yakni dengan menilai risiko perinatal. Komponen
dari Neonatal Resuscitation Algorithm adalah:
* Apakah kehamilan aterm?
* Apakah bayi memiliki tonus otot yang baik?
* Apakah bayi bernapas atau menangis?
Tiga komponen ini dinilai dalam 30 detik pertama kelahiran bayi. Jika bayi
butuh resusitasi, skor APGAR kemudian digunakan untuk menilai respons
bayi terhadap resusitasi. Pedoman dari Neonatal Resuscitation Program
menyatakan bahwa jika skor APGAR berjumlah di bawah 7 setelah menit
ke-5, penilaian dengan skor APGAR perlu diulang setiap 5 menit sampai
menit ke-20. Skor APGAR yang menetap di angka 0 setelah menit ke-10
dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan atau menghentikan
resusitasi. Sangat sedikit bayi dengan skor APGAR 0 setelah menit ke-10
dapat bertahan hidup tanpa kelainan neurologis. Pedoman resusitasi
neonatus dari American Heart Association tahun 2015 menyatakan jika
dapat dikonfirmasi bahwa tidak ada denyut jantung setelah paling tidak 10
menit, resusitasi dapat dihentikan.
3. Penanya : Nurmila e. yassin
7
Pertanyaan : Apakah kondisi ibu bisa menyebabkan masalah pada bayi
sehingga bayi memerlukan resusitasi?
Menjawab : Rosita hasan
Jawaban : Iya, kondisi ibu sangat berisiko dan dapat menyebabkan
masalah pada bayi, diantaranya:
1. Memiliki infeksi dan penyakit tertentu.
2. usia ibu di atas 40 atau di bawah 16 tahun.
3. masalah plasenta, seperti solusio plasenta atau plasenta previa.
4. memiliki kehamilan berisiko sebelumnya.
5. mengalami perdarahan berat selama kehamilan.
6. ketuban pecah dini,
7. diabetes gestasional.
4. Penanya: Selina biya
Pertanyaan: Apa saja penyebab bayi baru lahir sehingganya memerlukan
resusitasi?
Menjawab: Meilia septi nurrohmah
Jawaban:
1. Bayi yang kondisinya dipengaruhi oleh gangguan kehamilan,
seperti terlilit tali pusar dan solusio plasenta
2. Bayi yang lahir prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37
Minggu
3. Bayi lahir sungsang
4. Bayi kembar
5. Bayi lahir dengan gangguan pernapasan, misalnya akibat
aspirasi meconium
8
RESUME KELOMPOK 4
A. PENGERTIAN RESUSITASI
Resusitasi adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk
mengembalikan keadaan henti nafas atau henti jantung ke fungsi optimal
guna mencegah kematian biologis (Ghofar,2012). Langkah-langkah
resusitasi bayi baru lahir/neonatus.
1. Langkah awal resusitasi- pengelolaan jalan nafas dan pencegahan
hipotermi.
2. Penggunaan balon dan sungkup resusitasi- pemberian nafas
buatan.
3. Kompris dada-pemberian nafas buatan dan kompresi dada ( pijat
jantung luar).
4. Intubasi endotrakea-untuk pembersihan jalan nafas, nafas buatan
lebih efektif dan pemberian obat darurat jika jalur intravena tidak
atau belum ada.
5. Pemberian obat-obatan- epinefrin, cairan penambah volume
darah, nalokson HCL natrium bikarbonas.
B. STABILITAS AWAL
Langkah-langkah stabilitas awal yaitu :
1. Melakukan langkah stabilisasi awal (memberikan kehangatan
,membuka jalan nafas,membersikan jalan nafas jika
diperlukan,mengeringkan,merangsang).
2. Melakukan ventilasi
3. Melakukan kompresi
4. Melakukan pemberian epinefrin dan cairan penambah volume.
C. VENTILASI TEKANAN POSITIF (VTP)
Ventilasi tekanan positif merupakan langkah paling penting dan efektif
dalam presentasi kardiopulmoner pada bayi baru lahir yang
membutuhkan bantuan nafas.Peralatan:
9
1. Balon Tidak Mengembang Sendiri (Balon Anestesis)
Keuntungan balon tidak mengembang sendiri yaitu:
a. Memberikan oksigen 100% setiap saat
b. Mudah mengetahui apakah lekatan sungkup pada muka
bayi baik/tidak bocor.
c. Kekakuan paru terasa bila balon diremas
d. Dapat digunakan untuk memberikan oksigen aliran
bebas 100%
Kerugian balon tidak mengembang sendiri yaitu:
a. Membutuhkan lekatan ketat antara sungkup dan muka
bayi untuk mempertahankan balon tetap mengembang.
b. Membutuhkan sumber gas untuk mengembangkan.
c. Umumnya tidak mempunyai katup pelepas tekanan
untuk pengamanan.
2. Balon Mengembang Sendiri
Balon mengembang sendiri biasanya dilengkapi katup pelepas
tekanan yang akan diindikasi oleh ventilasi tekanan positif:
a. pernafasan tersengal-sengal atau apneu
b. Frekuensi frekuensi denyut jantung kurang 100/menit
c. Sianosis Sentral menetap atau saturasi lebih rendah dari
target waktunya, meskipun telah diberikan terapi
oksigen.
Berikut merupakan teknik ventilasi tekanan positif:
1. Lekatkan sungguh menutupi hidung, mulut dan dagu.
jangan menekan jaringan lunak di bawah dagu.
2. Lakukan ventilasi tekanan positif dengan frekuensi 40 - 60
kali/menit, selama 30 detik.
3. Ventilasi tekanan positif awal untuk bayi yang belum
menangis saat lahir 30-40 cmH2O, selanjutnya hanya
perlu tekanan 15-20 cmH2O.
4. Ventilasi tekanan yang efektif Dinilai dari:
10
a. Inspeksi-dada terangkat secukupnya
b. Auskultasi – terdengar suara nafas yang simetris
didada kiri dan kanan.
5. Jika dada tidak terangkat, lakukan langkah-langkah koreksi
sebagai berikut:
a. Bentukan letak dan lekatan sungkup agar tidak
bocor.
b. Reposisi kepalasedikit ekstensi, Bila perlu ganjal
bahu.
c. Bersihkan faring dari Secret, darah dengan
menghisapnya.
d. Tingkatkan tekanan secara bertahap hingga
sekitar 20-40 cmH2O.
e. Pasang jalan nafas orofaring, sungkup larynxatau
intubasi orotrakeal
6. Jika ventilasi tekanan positif efektif, maka kondisi bayi
akan membaik ditandai oleh:
a. Peningkatan frekuensi denyut jantung.
b. Warna kulit kemerahan dan alat saturasi oksigen
di atas 90%.
c. Pernapasan spontan/menangis.
D. KOMPRESI DADA
Kompresi dada adalah penekanan yang bertenaga dan ritmis pada
setengah bawah tulang dada. Kompresi ini menyebabkan Aliran darah
dengan cara meningkatkan tekanan intratorakal dan penekanan langsung
pada jantung. Pengembangan dada kembali yang tidak adekuat selama
kompresi dada berhubungan secara signifikan dengan, peningkatan
tekanan intratorakal dan pemburukan hemodinamik diantaranya
penurunan perfusi koroner, cardiac index, perfusi otot jantung.Dan
perfusi ke otak
11
LAPORAN DISKUSI
KELOMPOK 4
(MATERI LANGKAH RESUSITASI)
Moderator: Herlina Putri H.Hapulu
1. Penanya : Niluh Sulistiani
Menjawab : Siti Nuraina Tuliabu
Mengapa kita perlu mempelajari teknik resusitasi jantung ?
Jawaban : karena kita harus mempelajari melakukan pelatihan
resusitasi jantung paru atau memiliki pengetahuan tentang hal ini, sangat
penting. Karena bisa saja kemampuan sederhana tersebut diperlukan
untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Resusitasi jantung paru (RJP)
juga merupakan langkah pertolongan medis untuk mengembalikan
fungsi napas dan atau sirkulasi darah didalam tubuh yang terhenti.
Resusitasi jantung paru bertujuan menjaga darah dan oksigen tetap
beredar keseluruh tubuh.
2. Penanya : Yuni Agustriani
Menjawab : Desvita makuta
menjelaskan bahwa Ventilasi tekanan positif merupakan langkah paling
penting dan efektif dalam presentasi kardiopulmoner pada bayi baru
lahir yang membutuhkan bantuan nafas. Pertanyaan sya yg dimaksud
presentasi kardopulmoner itu sprti apa?
Jawaban : kardiopulomer adalah usaha untuk mengembalikan fungsi
pernapasan dan atau sirkulasi serta penanganan akibat terhentinya fungsi
pernapasan dan atau denyut jantung
3. Penanya : Nurlaela ali
12
Menjawab : Mutiara Aksara
Jika cukup banyak oksigen masuk lambung ventilasi akan terhambat
selain itu timbul bahaya/regurgitasi yang dapat menyebabkan aspirasi.
Pertanyaan saya bagaimna cara mencegah cukup banyak oksigen masuk
ke lambung?
Jawaban :
a. Benahi postur tubuh
b. Rajin olahraga
c. Ubah pola makan
d. Rutin latihan pernapasan dalam
e. Tingkatkan kualitas udara
f. Terapi oksigen
4. Penanya : Riyani Oka
Menjawab : Yeni Eka Musdalifa
Jelaskan bagaimana tindakan tenaga kesehatan dalam mengembalikan
keadaan henti nafas atau henti jantung pada bayi yang baru lahir?
Jawaban : Selama melakukan observasi, dokter akan memeriksa
pernapasan, pergerakan, tingkat kesadaran, dan perubahan warna kulit
bayi. Jika dari hasil pemantauan ditemukan bahwa kondisi bayi
memerlukan resusitasi, misalnya jika nilai APGAR bayi tersebut rendah,
maka akan dilakukan beberapa tindakan berikut ini:Pemberian stimulasi
atau rangsangan untuk memancing bayi bernapas sendiri Pemberian
bantuan napas buatan melalui hidung dan mulut bayi .Kompresi atau
menekan dada bayi secara konsisten untuk merangsang kerja jantung
dan melancarkan sirkulasi darah bayi Pemberian obat-obatan untuk
membantu memulihkan kondisi bayi, jika diperlukan,Jika bayi baru lahir
tetap tidak dapat bernapas spontan meski telah mendapatkan resusitasi,
dokter akan melakukan tindakan intubasi pada bayi untuk memberikan
13
napas bantuan. Setelah itu, bayi perlu menjalani perawatan di ruang
NICU, terutama jika kondisinya melemah dan tidak stabil setelah
dilakukan resusitasi.Dokter juga dapat melakukan tindakan penyedotan
cairan atau mekonium dari mulut bayi, terutama pada bayi yang
dicurigai mengalami gangguan atau henti napas akibat tersedak atau
asfiksia mekonium.
14